Posts

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT

INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
INI RAHASIANYA KENAPA IBLIS LEBIH MENYUKAI PELAKU BIDAH DARIPADA PELAKU MAKSIAT
 
Jangan menjadi orang yang dicintai oleh IBLIS.
Dan apa RAHASIANYA, amalan BID’AH itu LEBIH disukai oleh IBLIS daripada MAKSIAT ?
 
Perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
 
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول: البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
 
Ali bin Ja’d mengatakan, bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata, bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata:
  • BID’AH itu lebih disukai IBLIS dibandingkan dengan MAKSIAT biasa.
  • Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat.
  • Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22]
Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertobat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan, tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah.
 
Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertobat ketika dia tidak merasa bersalah? Bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan. Itulah rahasianya kenapa IBLIS suka sekali dengan pelaku BID’AH.
 
Allah berfirman:
 
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
 
“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap BAIK pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?” [QS. Fathir:8]
 
Sufyan ats Tsauri mengatakan:
“Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertobat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertobat.”
 
Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) Iblis berkata:
“Kubinasakan anak keturunan Adam dengan DOSA, namun mereka membalas membinasakanku dengan ISTIGHFAR dan ucapan La ilaha illallah.
Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca:BID’AH).
Akhirnya mereka berbuat dosa namun TIDAK MAU BERTOBAT, karena mereka merasa sedang berbuat BAIK.” [Lihat al Jawab al Kafi 58, 149-150 dan al I’tisham 2/62]
 
Oleh karena itu secara umum bid’ah itu lebih BERBAHAYA dibandingkan maksiat. Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah itu MERUSAK agama. Sedangkan pelaku maksiat sumber kesalahannya adalah karena mengikuti keinginan yang terlarang. [Al Jawab al Kafi hal 58 dan lihat Majmu Fatawa 20/103]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 

#alasan, #iblis, #setan, #syaithan, #syaithon, #lebihsuka, #lebihmenyukai, #bidah, #pelakubidah, #pelakumaksiat, #maksiat, #maksiyat, #tobat, #taubat, #bertobat, #bertaubat #lebihmudahbertobat, #sulitbertobat #aparahasianya, #inirahasianya

, ,

CARA MEMBUAT SETAN MUNTAH

CARA MEMBUAT SETAN MUNTAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
CARA MEMBUAT SETAN MUNTAH
>> Lupa Membaca Bismillah Di Awal Makan

 

Membaca Bismillah di awal makan adalah perintah Rasul ﷺ. Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah ﷺ, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

“Wahai Ghulam, bacalah “Bismillah.” Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. [HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022]

Bagaimana Jika Lupa Membaca Bismillah di Awal Makan?

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

“Jika seseorang meninggalkan membaca “Bismillah” di awal karena sengaja, lupa, dipaksa, tidak mampu mengucapkannya karena suatu alasan, lalu ia bisa mengucapkan di tengah-tengah makannya, maka ia dianjurkan mengucapkan “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu” [Al Adzkar, hal. 427, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah]

Dari Umayyah bin Mihshon -seorang sahabat Nabi ﷺ-, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يَأْكُلُ فَلَمْ يُسَمِّ حَتَّى لَمْ يَبْقَ مِنْ طَعَامِهِ إِلاَّ لُقْمَةٌ فَلَمَّا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ فَضَحِكَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ « مَا زَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ فَلَمَّا ذَكَرَ اسْمَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اسْتَقَاءَ مَا فِى بَطْنِهِ »

“Rasulullah ﷺ pernah duduk dan saat itu ada seseorang yang makan tanpa membaca Bismillah hingga makanannya tersisa satu suapan. Ketika ia mengangkat suapan tersebut ke mulutnya, ia mengucapkan: “Bismillah awwalahu wa akhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).” Nabi ﷺ pun tertawa dan beliau ﷺ bersabda: “Setan terus makan bersamanya hingga ketika ia menyebut nama Allah (Bismillah), setan memuntahkan apa yang ada di perutnya.” [HR. Abu Daud no. 3768, Ahmad 4: 336 dan An Nasai dalam Al Kubro 10113. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan. Al Hakim menshahihkan hadis ini dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Al Mutsanna bin ‘Abdurrahman mengatakan hadis ini hasan dan memiliki berbagai penguat. Lihat Majma’ Az Zawaid, 5: 22]

Hadis terakhir di atas menunjukkan, bahwa setan itu berserikat pada makanan yang TIDAK disebut nama Allah (membaca: Bismillah) saat dimakan. Lalu jika seseorang mengingat Allah (mengucap Bismillah) di tengah-tengah makan, walau makanan tersisa sedikit, maka diharamkan pada setan apa yang telah dimakan sebelumnya. Juga hadis di atas menunjukkan, bahwa setan bisa muntah. Lihat Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly, 2: 48.

Hadis-hadis di atas pun jadi dalil, bahwa jika seseorang lupa membaca Bismillah di awal makan dan baru teringat di tengah-tengah makan, maka ucapkanlah “Bismillah awwalahu wa akhirohu” atau “Bismillah fii awwalihi wa aakhirihi“.

 

Sumber: https://rumaysho.com/3712-lupa-membaca-Bismillah-di-awal-makan.html

 

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#DoaZikir, #do’a, #doa, #zikir, #dzikir, #sebelummakan, #setan, #syaithon, #syaithan, #syetan, #ikutanmakan, #setanmuntah, #carabikin, #caramembuat, #tipstips #Bismillah, #awwalahu, #waakhirohu, #fiiawwalihi, #waaakhirihi #lupamembacabismillahdiawalmakan #lupamembacabismillah #diawalmakan

,

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai. [Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja. [Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sujud Sahwi ketika shalat sunnah sama halnya dengan shalat wajib, yaitu sama-sama disyariatkan. Karena dalam hadis yang membicarakan Sujud Sahwi menyebutkan umumnya shalat, tidak membatasi pada shalat wajib saja.

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan: “Sebagaimana dikatakan dalam hadis ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ

“Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya.” Hadis ini menunjukkan, bahwa Sujud Sahwi itu disyariatkan pula dalam shalat sunnah, sebagaimana disyariatkan dalam shalat wajib (karena lafal dalam hadis ini umum). Inilah yang dipilih oleh Jumhur (Mayoritas) Ulama yang dulu dan sekarang. Karena untuk menambal kekurangan dalam shalat, dan untuk menghinakan setan, juga terdapat dalam shalat sunnah, sebagaimana terdapat dalam shalat wajib.” [Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 3/144, Idarotuth Thoba’ah Al Muniirah]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:

MANFAAT BANGUN SUBUH

MANFAAT BANGUN SUBUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

MANFAAT BANGUN SUBUH

Apa ada keutamaan bangun Subuh? Kita tahu setiap Muslim punya kewajiban untuk bangun Subuh, karena ada shalat fardhu yang mesti ditunaikan kala itu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada, akhirnya setan terus membisikkan atau merayu, supaya orang yang tidur tetap terus tidur dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:
(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah
(2) Kemudian berwudhu
(3) Mengerjakan shalat
Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-shubuh.html

,

SETAN SENANTIASA MENAKUTI DENGAN KEMISKINAN

SETAN SENANTIASA MENAKUTI DENGAN KEMISKINAN
بسم الله الرحمن الرحيم
#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

SETAN SENANTIASA MENAKUTI DENGAN KEMISKINAN

Untuk membeli keperluan rumah seharga 100 atau 200 Dirham, tidak sedikit pun terlintas keraguan pada dirinya. Akan tetapi ketika dia ingin berinfak setara dengan yang ia belanjakan untuk keperluan rumah itu, tiba-tiba dia ingat anak-anaknya, ia takut kekurangan, takut ditimpa sakit.

Maka sungguh benar Allah ta’ala dalam firman-Nya:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ

“Setan itu selalu menjanjikan kemiskinan”. [Al Baqarah: 268]

 

[Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA. Courtesy @twitulam]

Telegram @IslamDiarie

, ,

JANGAN HERAN, SETAN MEMANG TIDAK MAU DENGAR AZAN

JANGAN HERAN, SETAN MEMANG TIDAK MAU DENGAR AZAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#Mutiara_Sunnah

JANGAN HERAN, SETAN MEMANG TIDAK MAU DENGAR AZAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ ، وَلَهُ ضُرَاطٌ ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

“Apabila azan sholat dikumandangkan, maka setan akan lari, sambil terkentut-kentut, agar dia tidak mendengar azan…” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Apa yang Dimaksud Setan Kentut?

Para ulama menyebutkan kemungkinan dua makna:

1. Makna secara hakiki, yaitu setan benar-benar kentut.

  1. Makna kiasan, yaitu setan sangat takut mendengar azan, lalu dia menyibukkan dirinya dengan suara lain, agar tidak mendengar azan. [Lihat Fathul Bari, 2/406]

Apabila mendengar azan saja setan sangat benci, apalagi melakukan sholat. Sudah tentu setan tidak sholat, dan akan selalu mengajak para pengikutnya untuk tidak sholat. Dan yang sholat akan diganggu, agar sholatnya buruk. Jangan jadi setan atau pun pengikutnya…!

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/796264163856401:0

,

SOLUSI DARI NABI BAGI YANG KEHILANGAN KEKHUSYUAN

SOLUSI DARI NABI BAGI YANG KEHILANGAN KEKHUSYUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

SOLUSI DARI NABI BAGI YANG KEHILANGAN KEKHUSYUAN

Khusyu’ merupakan ruh dari ibadah shalat. Telah diketahui, bahwa pahala ibadah shalat yang dikerjakan seseorang hanyalah tercatat pada saat-saat dia khusyu saja.

Mengingat pentingnya perkara khusyu dalam shalat, maka Nabi Muhammad ﷺ pun tentu tidak akan membiarkan begitu saja umatnya terbawa oleh was-was yang dilemparkan oleh setan.

Oleh karenanya, di saat ada seseorang yang mengadu pada beliau ﷺ seraya berkata:

 إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي يلبسها عَلَيَّ

“Sesungguhnya setan telah menghalangi antara aku dan shalat, serta bacaanku (dalam shalat), hingga membuat aku kacau.”

Nabi ﷺ pun memberikan solusi pada orang ini:

 ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَِنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلَاثًا

“Sesungguhnya itu ialah setan yang disebut dengan Khanzab. Apabila kau merasakan kehadirannya, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari gangguannya, serta meludah kecillah ke arah kirimu sebanyak tiga kali.” [HR. Muslim, no. 2203]

Makna menghalangi antara aku dan shalat serta bacaanku ialah: Setan mengacaukan dan menghalangiku dari nikmatnya shalat, juga mencegahku sampai pada kekhusyuan. [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim, XIV/190]

Sehingga dari hadis ini kita dapatkan faidah, bahwa dianjurkan bagi yang terganggu shalatnya untuk melakukan dua hal:

  1. Berlindung diri kepada Allah, yakni dengan membaca: A-’udzu billaahi minasysyaithonirrojiim 

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

  1. Setelah itu meludah kecil ke arah kiri sebanyak tiga kali.

Dan benar saja, manfaat dari pada dua hal ini benar-benar dirasakan oleh sahabat yang bertanya ini ketika shalatnya terganggu. Beliau menyatakan:

 فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي

“Aku pun melakukannya, hingga Allah menghilangkan gangguan itu dari shalatku.” [al-Hadits]

Wallahu a’lam wa huwa waliyyut taufiiq..

 

Penulis: Ustadz Pupus

Sumber: http://www.nasehatetam.com/read/82/solusi-dari-nabi-bagi-yang-kehilangan-kekhusyuan#sthash.Z0k2UtYP.dpuf

,

DOA AGAR TIDAK MATI MENGERIKAN

DOA AGAR TIDAK MATI MENGERIKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA AGAR TIDAK MATI MENGERIKAN

Amalkan doa yang sangat bermanfaat ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا

ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAT TARODDI WAL HADMI WAL GHOROQI WAL HARIIQI, WA A’UUDZU BIKA AN-YATAKHOBBATHONISY SYAITHOONU ‘INDAL MAUTI, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA FII SABIILIKA MUDBIRON, WA A’UDZU BIKA AN AMUUTA LADIIGHO.

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan (terjatuh), kehancuran (tertimpa sesuatu), tenggelam, kebakaran. Dan aku berlindung kepada-Mu dari dirasuki setan pada saat mati, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan tersengat.

[HR. An-Nasa’i, no. 5531. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]

Yang dimaksud dengan beberapa kalimat dalam doa:

  • At-taroddi artinya jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
  • Al-hadm artinya tertimpa bangunan.
  • Al-ghoroq artinya tenggelam dalam air.
  • Al-hariq artinya terbakar api.
  • An-yatakhobbathonisy syaithoonu ‘indal mauti artinya dikuasai oleh setan ketika akan meninggal dunia, sehingga setan menghalanginya untuk bertaubat.
  • Al-ladhiiga artinya mati dalam keadaan terkena racun dari kalajengking dan ular.

Kenapa sampai kita berdoa meminta perlindungan dari hal-hal di atas, padahal yang disebutkan dalam doa menyebabkan seseorang mendapatkan kesyahidan, sebagaimana disebutkan dalam hadis?

Imam Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan, bahwa hal-hal yang disebutkan asalnya adalah musibah. Adapun mengharapkan kesyahidan dari musibah tersebut, perlu dipahami, bahwa memang setiap musibah sampai pun duri yang menusuk akan mendapatkan pahala.

Kata Imam Ath-Thibi, antara syahid di medan perang dengan syahid karena musibah di atas sangat berbeda. Karena syahid di medan perang itu diharap-harap. Sedangkan syahid dengan jatuh dari tempat tinggi, terbakar, dan tenggelam, itu tidak dicari-cari. Kalau seseorang berusaha bunuh diri dengan cara-cara tadi, malah dihukumi berdosa.

Penjelasan di atas diambil dari Muro’ah Al-Mafatih, dinukil dari ahlalhdeeth.com.

Semoga Allah mudahkan untuk mengamalkan doa di atas. Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15114-doa-agar-tidak-mati-mengerikan.html

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita:

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita, begitu besar.” [Yusuf: 28]

Allah ta’ala berfirman tentang godaan setan:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah.” [An-Nisa: 76]

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

“Ayat yang mulia ini (An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (Yusuf: 28), maka hasilnya adalah penjelasan, bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibanding tipu daya (godaan) setan.” [Adhwaul Bayan, 2/217]

As-Si’di rahimahullah berkata:

والكيد: سلوك الطرق الخفية في ضرر العدو، فالشيطان وإن بلغ مَكْرُهُ مهما بلغ فإنه في غاية الضعف

“Tipu daya yang dimaksudkan di sini adalah menempuh cara-cara yang samar dalam membahayakan musuh. Maka setan, meskipun tipu dayanya telah sedemikian rupa, akan tetapi ia sangat lemah.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 187]

Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

An-Nawawi rahimahullah berkata:

“Ulama berkata: Makna hadis ini adalah peringatan bahaya hawa nafsu, dan bahaya ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait keindahan dengan mereka. Maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan, dengan bisikannya dan tipuannya.

Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak). Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan, tidak boleh melihat pakaiannya, dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 9/178]

Maka sungguh dahsyat godaan wanita, walaupun setan sudah mengerahkan segenap “potensi” yang ada pada dirinya untuk menyesatkan anak Adam. Namun ternyata godaannya tidak bisa sejajar, apalagi melebihi godaan wanita. Akan tetapi sayang seribu sayang, ternyata setan pun bisa memanfaatkan wanita sebagai kaki tangannya untuk menjerumuskan kaum lelaki dalam dosa, entah sang wanita sadar atau tidak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya. Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafal ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

أَيْ زَيَّنَهَا فِي نَظَرِ الرِّجَالِ وَقِيلَ أَيْ نَظَرَ إِلَيْهَا لِيُغْوِيَهَا وَيُغْوِيَ بِهَا

“Maknanya adalah, setan menghiasi wanita di mata laki-laki. Juga dikatakan maknanya adalah setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya, dan menyesatkan laki-laki dengannya.” [Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]

 

Sumber:

👠 ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?➡ Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita,إِنّ…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 25 Maret 2017

 

 

 

 

,

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah. Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap Muslim. [HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]

Dan agama adalah apa yang telah difirmankan oleh Allah di dalam kitab-Nya, Alquranul Karim, dan disabdakan oleh Rasul-Nya ﷺ di dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah, termasuk kesalahan yang sangat berbahaya adalah berbicara masalah agama TANPA ilmu dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Sebagai nasihat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:

  1. Hal Itu Merupakan Perkara Tertinggi yang Diharamkan oleh Allah

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” [Al-A’raf:33]

 

Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rahimahullah berkata:

“Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah. Bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Allah mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Dan berbicara tentang Allah tanpa ilmu meliputi: Berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukum-Nya, syariat-Nya, dan agama-Nya. Termasuk berbicara tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syariat-Nya, dan agama-Nya.” [Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Termasuk Dusta Atas (Nama) Allah

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. [QS. An-Nahl [16): 116]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Kesesatan dan Menyesatkan Orang Lain

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya sekaligus. Tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. [HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya]

Hadis ini menunjukkan, bahwa “Barang siapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya, sehingga mengharamkan apa yang Allah halalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya, sehingga dia sesat dan menyesatkan. [Shahih Jami’il Ilmi Wa Fadhlihi, hal: 415, karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, diringkas oleh Syeikh Abul Asybal Az-Zuhairi]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Sikap Mengikuti Hawa-Nafsu

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Barang siapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun [Al-Qashshash:50]” [Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Sikap Mendahului Allah dan Rasul-Nya ﷺ

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Hujuraat: 1]

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini memuat adab terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepadanya. Allah telah memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, dengan konsekwensi keimanan terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, yaitu: Menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Allah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ di dalam seluruh perkara mereka. Dan agar mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Allah berkata. Dan janganlah mereka memerintah, sampai Allah memerintah”. [Taisir Karimir Rahman, surat Al-Hujurat:1]

  1. Orang Yang Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Menanggung Dosa-Dosa Orang-Orang yang Dia Sesatkan

Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu adalah orang sesat dan mengajak kepada kesesatan. Oleh karena itu, dia menanggung dosa-dosa orang-orang yang telah dia sesatkan. Rasulullah ﷺ:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala, sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa, sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun. [HSR. Muslim no:2674, dari Abu Hurairah]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Akan Dimintai Tanggung-Jawab

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. [QS. Al-Isra’:36]

Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: Bahwa Allah Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” [Tafsir Alquranul Azhim, surat Al-Isra’:36]

  1. Orang yang Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Termasuk Tidak Berhukum dengan Apa Yang Allah Turunkan

Syeikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami menyatakan: “Fashal: Tentang Haramnya Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu, Dan Haramnya Berfatwa Tentang Agama Allah Dengan Apa Yang Menyelisihi Nash-nash”. Kemudian beliau membawakan sejumlah ayat Alquran, di antaranya adalah firman Allah di bawah ini:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [QS. 5:44]

9. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Menyelisihi Jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menyatakan di dalam aqidah Thahawiyahnya yang masyhur: “Dan kami berkata: “Wallahu A’lam (Allah Yang Mengetahui)”, terhadap perkara-perkara yang ilmunya samar bagi kami”. [Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

  1. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Merupakan Perintah Setan

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. [QS. 2:169]

Keterangan ini kami akhiri dengan nasihat: Barang siapa yang ingin bebicara masalah agama, hendaklah dia belajar lebih dahulu. Kemudian hendaklah dia hanya berbicara berdasarkan ilmu.

WAllahu a’lam bish showwab. Al-hamdulillah Rabbil ‘alamin.

 

Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

[Artikel www.Muslim.or.id]

Sumber: https://Muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html