Posts

INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN

INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN
 
Muqaddimah
 
Kebanyakan kaum Muslimin membiasakan membaca Surat Yasin, baik pada malam Jumat, ketika mengawali atau menutup majelis taklim, ketika ada atau setelah kematian, dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya Surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan Alquran itu hanyalah berisi Surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan Surat Yasin dari hadis-hadis yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.
 
Alquran yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Alquran. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Alquran setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. [HR Bukhari, Muslim dan lainnya]
 
Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini adalah dengan membahas masalah ini BUKAN berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca Surat Yasin.
 
Sebagaimana surat-surat Alquran yang lain, Surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan Surat Yasin kepada Nabi ﷺ.
 
Selain itu untuk menegaskan, bahwa tidak ada tauladan dari Nabi ﷺ membaca Surat Yasin setiap malam Jumat, setiap memulai atau menutup majelis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.
 
Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Alquran serta mengamalkannya.
 
Kelemahan Hadis-Hadis Tentang Fadhilah Surat Yasin
 
Kebanyakan umat Islam membaca Surat Yasin karena, sebagaimana dikemukakan di atas, fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadis-hadis yang menerangkan fadhilah Surat Yasin, penulis dapati SEMUANYA ADALAH LEMAH.
 
Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil, maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad ﷺ, sebab ancamannya adalah Neraka. [HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya]
 
Hadis Dhaif dan Maudhu
 
Adapun hadis-hadis yang semuanya Dhaif (Lemah) dan atau Maudhu (Palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah Surat Yasin di antaranya adalah sebagai berikut:
 
Hadis 1
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jumat, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” [Ibnul Jauzi, Al-Maudhuat, 1/247]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Ibnul Jauzi mengatakan, hadis ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadis ini adalah tukang memalsukan hadis. [Periksa: Al-Maudhuat, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944]
 
Hadis 2
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin pada malam hari karena mencari keridaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia Munkarul Hadis. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). [Periksa: Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I: 464-465]
 
Hadis 3
Artinya: “Siapa yang terus menerus membaca Surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati syahid.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadis. [Periksa: Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II: 159-160, Lisanul Mizan III: 44-45]
 
Hadis 4
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari), maka akan diluluskan semua hajatnya.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadis ini tidak pernah bertemu Nabi ﷺ. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.
[Periksa: Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22]
 
Hadis 5
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Alquran dua kali.” [HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
[Lihat Dhaif Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani]
Hadis 6
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Alquran sepuluh kali.” [HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
[Lihat Dhaif Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani]
 
Hadis 7
Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Alquran itu ialah Surat Yasin. Siapa yang membacanya, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Alquran sepuluh kali.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 304 8) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata: Aku mendapati hadis ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya. [Periksa: Silsilah Hadis Dhaif no. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’ berkata: Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i: Muqatil bin Sulaiman sering dusta.
 
[Periksa: Mizanul I’tidal IV:173]
 
Hadis 8
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin di pagi hari, maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari), maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Hadis ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadis ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar: Ia banyak memursalkan hadis dan banyak keliru. [Periksa: Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283]
 
Hadis 9
Artinya: “Bacakanlah Surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Di antara yang meriwayatkan hadis ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadis ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadis ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadis ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).
 
Hadis 10
Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I:188. Dalam sanad hadis ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia Munkarul Hadis. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadis. [Periksa: Mizanul I’tidal IV: 90-91).
 
 
Penjelasan:
Abdullah bin Mubarak berkata:
Aku berat sangka, bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadis-hadis tentang fadhilah surat-surat tertentu).
 
Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:
Semua hadis yang mengatakan, barang siapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADIS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadis-hadis itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadis-hadis palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Alquran) dan menjauhkan mereka dari isi Alquran yang lain, juga kitab-kitab selain Alquran. [Periksa: Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dhaif, hal. 113-115).
 
Kesimpulan:
Dengan demikian jelaslah, bahwa hadis-hadis tentang fadhilah dan keutamaan Surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadis-hadis tersebut TIDAK dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadis-hadis Shahih tentang keutamaan surat Alquran selain Surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu a’lam.
 
 
***
 
 
Penyusun: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#QSYasin #fadhilah #keutamaan #hadisfadhilahmembacaSuratYasinpalsulemah #SuratYasin #Yasinan #tidakadayangshahih #membacaSuratYasin #hadispalsu #hadislemah #tidakadayangshahih #bidah

, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
 
Ingatlah, pendakwah hanya menyampaikan, sedangkan pemberi hidayah adalah Allah.
 
Mari kita ambil pelajaran dari bahasan surat Yasin berikut, yang rata-rata sudah dihafalkan oleh kaum muslimin di negeri kita.
 
Tafsir Surah Yasin Ayat 13-17
 
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)
 
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.”
Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”
Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui, bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.”
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” [QS. Yasin: 13-17]
 
Penjelasan Ayat
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan permisalan suatu negeri yang diutus dua orang utusan (rasul). Mereka berdakwah untuk mengajak manusia supaya bisa beribadah pada Allah semata, dan mengikhlaskan ibadah pada-Nya. Mereka pun berdakwah untuk melarang dari kesyirikan dan maksiat.
 
Ada dua orang yang telah diutus, lalu diutus lagi rasul yang ketiga, jadilah ada tiga utusan. Tetap saja dakwah ditolak. Malah kaum yang didakwahi berkata: “Kami juga manusia semisal kalian.” Maksud mereka, apa yang membuat para rasul lebih unggul daripada mereka, padahal sama-sama rasul juga manusia. Namun para Rasul mengatakan pada umatnya:
 
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
 
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” [QS. Ibrahim: 11]
 
Kaum tersebut intinya masih mengingkari wahyu yang diturunkan, dan mereka pun mendustakan para rasul yang diutus. Namun rasul ketiga mengatakan: “Rabb kami Maha Tahu, kalau kami adalah utusan untuk kalian.” Maksudnya, kalau para rasul itu berdusta, tentu mereka akan mendapatkan siksa.
 
Tugas setiap utusan (rasul) hanyalah memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya sesuai yang diperintahkan. Sedangkan untuk memberikan hukuman bukanlah tugas para rasul. Jika yang dijelaskan itu diterima, maka itu adalah taufik dari Allah. Jika tidak diterima dan yang didakwahi tetap dalam keadaan belum mendapat hidayah, maka rasul utusan tidak bisa bertindak apa-apa.” [Tafsir As-Sa’di, hlm. 734-735]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
يقولون إنما علينا أن نبلغكم ما أرسلنا به إليكم، فإذا أطعتم كانت لكم السعادة في الدنيا والآخرة، وإن لم تجيبوا فستعلمون غِبَّ ذلك ،والله أعلم.
 
“Utusan itu berkata: Sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan Akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” [Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 333]
 
Pelajaran lain yang bisa diambil dari ayat di atas:
 
1. Baiknya memberikan perumpamaan ketika memberikan penjelasan. Dalam ayat yang dibahas dijelaskan, bahwa kalau Nabi Muhammad ﷺ ditolak dakwahnya. Mmaka itu juga terjadi untuk rasul atau utusan yang lain.
 
2. Orang kafir sama miripnya dilihat dari zaman dan tempat, sama-sama sulit menerima kebenaran.
 
3. Orang kafir telah diberikan peringatan dan penjelasan. Jika menolak, mereka akan mendapatkan siksa. [Aysar At-Tafasir, 4:370]
Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.



 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kewajibankitahanyamengingatkan, #tugasmuhanyamenyampaikan, #kewajibanhanyamenyampaikan, #pendakwah, #bukanlahpekerjaan, #petunjukhanyaMilikAllah #hidayahhanyamilikAllah, #faidahsuratYasin, #pendakwahhanyamenyampaikan #hidayahmilikAllah #taufik #taufiq #milikAllahsaja #faedahsuratYasin #faidah #faedah #tukangdakwah #jurudakwah #ustadz #hidayahbukanmilikkita #Islam #sunnah #Islam #Alquran #SuratYasin #QSYasi