Posts

,

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH
 
Sebelum puasa Ramadan diwajibkan, puasa hari Asyura adalah puasa wajib kaum Muslimin. Hal tersebut diterangkan dalam hadis Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:
 
أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: ” أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ
 
“Nabi ﷺ memerintahkan seorang lelaki dari Bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia:
‘Siapa saja yang telah makan, hendaknya dia berpuasa (dengan) menyempurnakan sisa harinya. Siapa saja yang belum makan, silakan dia berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyura`.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]
 
Kemudian hukum tersebut TERHAPUS, dan puasa hari Asyura hanya DISUNNAHKAN sebagaimana dalam penjelasan hadis-hadis yang telah berlalu. Juga diterangkan dalam hadis Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبِ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنْ شَاءَ، فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ، فَلْيُفْطِرْ
 
“Ini adalah hari Asyura. Allah tidak mewajibkannya sebagai puasa terhadap kalian, (tetapi) aku (tetap) berpuasa. Siapa saja yang berkehendak, silakan dia berpuasa, sedang siapa saja yang berkehendak, silakan dia berbuka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#SifatPuasaNabi, #PuasaAsyura, #HariAsyura, #BulanMuharram, #Sunnah, #Puasa, #PuasaAsyuro, #Asyuro, #Suro, #Syuro, Syura, #BulanHaram

 

JANGAN REMEHKAN PERKARA YANG SUNNAH DAN MAKRUH

JANGAN REMEHKAN PERKARA YANG SUNNAH DAN MAKRUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
JANGAN REMEHKAN PERKARA YANG SUNNAH DAN MAKRUH
 
Jangan remehkan perkara yang sunnah dan makruh. Karena pada perkara sunnah ada perintah untuk melaksanakannya, dan perkara makruh ada perintah untuk meninggalkannya, meskipun tidak sekuat perkara yang wajib dan yang haram.
 
—–
 
Sumber: @kemuslimahan_ypia

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

AS SUNNAH BAGAIKAN PERAHU NABI NUH

AS SUNNAH BAGAIKAN PERAHU NABI NUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama

AS SUNNAH BAGAIKAN PERAHU NABI NUH

As Sunnah itu bagaikan perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya, ia akan selamat. Barang siapa menyelisihinya, ia akan tenggelam. [Imam Malik bin Anas, dalam Al Fatawa (4/57)]

 

Sumber: https://muslimah.or.id/6159-as-sunnah-bagaikan-perahu-nabi-nuh.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai. [Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja. [Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sujud Sahwi ketika shalat sunnah sama halnya dengan shalat wajib, yaitu sama-sama disyariatkan. Karena dalam hadis yang membicarakan Sujud Sahwi menyebutkan umumnya shalat, tidak membatasi pada shalat wajib saja.

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan: “Sebagaimana dikatakan dalam hadis ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ

“Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya.” Hadis ini menunjukkan, bahwa Sujud Sahwi itu disyariatkan pula dalam shalat sunnah, sebagaimana disyariatkan dalam shalat wajib (karena lafal dalam hadis ini umum). Inilah yang dipilih oleh Jumhur (Mayoritas) Ulama yang dulu dan sekarang. Karena untuk menambal kekurangan dalam shalat, dan untuk menghinakan setan, juga terdapat dalam shalat sunnah, sebagaimana terdapat dalam shalat wajib.” [Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 3/144, Idarotuth Thoba’ah Al Muniirah]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
,

HUKUM PUASA TARWIYAH 8 DZULHIJJAH

HUKUM PUASA TARWIYAH 8 DZULHIJJAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#SifatPuasaNabi
HUKUM PUASA TARWIYAH 8 DZULHIJJAH
 
Pertanyaan:
Apa itu hari Tarwiyah? Adakah puasa hari Tarwiyah?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Hari Tarwiyah adalah pada 8 Dzulhijjah. Istilah Tarwiyah berasal dari kata Tarawwa [Arab: تَرَوَّى] yang artinya membawa bekal air. Karena pada hari itu, para jamaah haji membawa banyak bekal air Zam-zam untuk persiapan Arafah dan menuju Mina. Mereka minum, memberi minum untanya, dan membawanya dalam wadah.
 
Ibn Qudamah menjelaskan asal penamaan ini:
 
سمي بذلك لأنهم كانوا يتروون من الماء فيه، يعدونه ليوم عرفة. وقيل: سمي بذلك؛ لأن إبراهيم – عليه السلام – رأى ليلتئذ في المنام ذبح ابنه، فأصبح يروي في نفسه أهو حلم أم من الله تعالى؟ فسمي يوم التروية
 
Dinamakan demikian, karena para jamaah haji, mereka membawa bekal air pada hari itu, yang mereka siapkan untuk hari Arafah. Ada juga yang mengatakan: Dinamakan hari Tarwiyah, karena Nabi Ibrahim ’alaihis salam pada malam 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi menyembelih anaknya. Di pagi harinya, beliau Yarwi (berbicara) dengan dirinya, apakah ini mimpi kosong ataukah wahyu Allah? Sehingga hari itu dinamakan hari Tarwiyah. (al-Mughni, 3/364).
 
Puasa Tarwiyah
 
Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa di hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah). Hadis itu menyatakan:
 
مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ
 
”Siapa yang puasa sepuluh hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah, seperti puasa dua tahun.”
 
Hadis ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara Marfu’.
 
Para ulama menegaskan bahwa hadis ini adalah HADIS PALSU. Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengatakan:
 
وهذا حديث لا يصح . قَالَ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ : الطبي كذاب . وَقَالَ ابْن حِبَّانَ : وضوح الكذب فِيهِ أظهر من أن يحتاج إِلَى وصفه
 
Hadis ini TIDAK SHAHIH. Sulaiman at-Taimi mengatakan: ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan.’ [al-Maudhu’at, 2/198].
 
Keterangan serupa juga disampaikan as-Syaukani (wafat 1255 H). Ketika menjelaskan status hadis ini, beliau mengatakan:
 
رواه ابن عدي عن عائشة مرفوعاً ولا يصح وفي إسناده : الكلبي كذاب
 
Hadis ini disebutkan oleh Ibn Adi dari A’isyah secara Marfu’. Hadis ini TIDAK SHAHIH. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Kalbi, seorang pendusta. [al-Fawaid al-Majmu’ah, 1/45]
 
Keterangan di atas, cukup bagi kita untuk menyimpulkan, bahwa hadis di atas adalah HADIS YANG TIDAK BISA JADI DALIL. Karena itu, tidak ada keutamaan khusus untuk puasa Tarwiyah.
 
Bolehkah Puasa Tarwiyah?
 
Keterangan di atas tidaklah melarang kita untuk berpuasa di hari Tarwiyah. Keterangan di atas hanyalah memberi kesimpulan, bahwa tidak ada keutamaan khusus untuk puasa Tarwiyah.
 
Kita tetap dianjurkan untuk memerbayak puasa selama tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Dan tentu saja, hari Tarwiyah masuk di dalam rentang itu. Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ melaksanakan puasa Asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. [HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani)]
 
Demikian pula hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi ﷺ bersabda:
 
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
 
“Tidak ada hari di mana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari Jihad fi sabilillah? Nabi ﷺ menjawab: “Termasuk lebih utama dibanding Jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satu pun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” [HR. Ahmad, Bukhari, dan Turmudzi].
 
Kemudian syariat memberikan keutamaan khusus untuk puasa 9 Dzulhijjah (hari Arafah), di mana puasa pada hari ini akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده
 
“…puasa hari Arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” [HR. Ahmad dan Muslim].
 
Namun keutamaan semacam ini tidak kita jumpai untuk puasa 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyah). Karena hadis yang menyebutkan keutamaan puasa tariwiyah adalah HADIS PALSU.
 
Kesimpulannya, kita disyariatkan melaksanakan puasa Tarwiyah, mengingat adanya anjuran memperbanyak puasa selama 9 hari pertama Dzulhijjah. Namun kita tidak boleh meyakini ada keutamaan khusus untuk puasa pada 8 Dzulhijjah.
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
 
, ,

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
 
Pertanyaan:
Bolehkah menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Dilihat dari latar belakang disyariatkannya ibadah, para ulama membagi ibadah menjadi dua:
 
Pertama, ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut, sehingga ibadah ini harus ada secara khusus. Semua ibadah wajib, shalat wajib, puasa wajib, dst, masuk jenis pertama ini.
 
Termasuk juga ibadah yang disyariatkan secara khusus, seperti shalat Witir, shalat Dhuha, dst.
 
Termasuk jenis ibadah ini adalah ibadah yang menjadi Tabi’ (Pengiring) ibadah yang lain, seperti shalat Rawatib. Dan sebagian ulama memasukkan puasa Enam Hari Syawal termasuk dalam kategori ini.
 
Kedua, kebalikan dari yang pertama, ibadah yang Laisa Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah itu BUKAN merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut. Tujuan utamanya adalah yang penting amalan itu ada di kesempatan tersebut, apapun bentuknya.
 
Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui apakah ibadah ini termasuk Maqsudah Li Dzatiha ataukah Laisa Maqsudah Li Dzatiha, adalah dengan memahami latar belakang dari dalil masing-masing ibadah. [Liqa’ al-Bab al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, volume 19, no. 51]
 
Kita akan lihat contoh yang diberikan ulama, untuk lebih mudah memahaminya.
 
Contoh Pertama: Shalat Tahiyatul Masjid
 
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ، فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
 
Apabila kalian masuk masjid, jangan duduk sampai shalat dua rakaat. [HR. Bukhari 1163]
 
Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ menyarankan agar kita shalat dua rakaat setiap kali masuk masjid sebelum duduk. Artinya, yang penting jangan langsung duduk, tapi shalat dulu. Tidak harus shalat khusus Tahyatul Masjid. Bisa juga shalat Qabliyah atau shalat sunah lainnya. Meskipun boleh saja jika kita shalat khusus Tahiyatul Masjid.
 
Dari sini, shalat keberadaan ibadah shalat Tahiyatul Masjid itu bukan merupakan tujuan utama. Tapi yang penting ada amal, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid, apapun bentuk shalat itu.
 
Contoh Kedua: Puasa Senin-Kamis
 
Ketika Nabi ﷺ ditanya mengapa beliau rajin puasa Senin Kamis, beliau ﷺ mengatakan:
 
ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
 
Di dua hari ini (Senin Kamis), amalan dilaporkan kepada Allah, Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya dilaporkan, saya dalam kondisi puasa. [HR. Ahmad 21753, Nasai 2358, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]
 
Dalam hadis ini, siapapun yang melakukan puasa di hari Senin atau Kamis, apapun bentuk puasanya, dia mendapatkan keutamaan sebagaimana hadis di atas. Amalnya dilaporkan kepada Allah, dalam kondisi dia berpuasa, baik ketika itu dia sedang puasa wajib, atau puasa sunah lainnya. Meskipun boleh saja ketika dia melakukan puasa khusus pada waktu Senin atau Kamis.
 
Menggabungkan Niat Dua Ibadah
 
Para ulama menyebutnya ”at-Tasyrik fin Niyah” atau ”Tadakhul an-Niyah” (Menggabungkan niat).
 
Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat:
 
إذا اتحد جنس العبادتين وأحدهما مراد لذاته والآخر ليس مرادا لذاته؛ فإن العبادتين تتداخلان
 
Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu Maqsudah Li Dzatiha dan satunya Laisa Maqsudah Li Dzatiha, maka dua ibadah ini MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. [’Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais, hlm. 17]
 
Dari kaidah di atas, beberapa amal bisa digabungkan niatnya jika terpenuhi dua syarat:
  • Pertama: Amal itu jenisnya sama, misalnya shalat dengan shalat, atau puasa dengan puasa.
  • Kedua: Ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha TIDAK boleh lebih dari satu. Karena tidak boleh menggabungkan dua ibadah yang sama-sama Maqsudah Li Dzatiha.
Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Senin Kamis
 
Dari keterangan di atas, puasa Syawal termasuk ibadah Maqsudah Li Dzatiha, sementara Senin Kamis Laisa Maqsudah Li Dzatiha, sehingga niat keduanya MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. Dan insyaaAllah mendapatkan pahala puasa Syawal dan puasa Senin Kamis.
 
Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
 
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [Muttafaq ’alaih]
 
Karena dia menggabungkan kedua niat ibadah itu, mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
 
Artikel www.KonsultasiSyariahcom
 

SEDERHANA DALAM SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BIDAH

SEDERHANA DALAM SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BIDAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah

SEDERHANA DALAM SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BIDAH

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya ia berkata:

اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة

“Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bidah.” [HR. ad-Darimi (223), al-Lalika’i (1/55, 88) dan yang selainnya. Atsar ini Shahih]

Dari Sa’id bin al-Musayyib, bahwa ia melihat seseorang shalat setelah fajar lebih dari dua rakaat. Ia memerbanyak pada shalat dua rakaat itu rukuk dan sujud. Maka ia (Sa’id) melarangnya. Orang itu berkata: “Wahai Aba Muhammad, apakah Allah akan mengazabku karena shalat?” Ia (Sa’id) menjawab: “Tidak. Akan tetapi Allah akan mengazabmu karena engkau menyelisihi sunnah.” [HR. al-Khotib dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (1/147)]

 

 

,

KEUTAMAAN YANG BESAR SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

KEUTAMAAN YANG BESAR SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi

KEUTAMAAN YANG BESAR SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi ﷺ terus menerus menjaganya. ‘Aisyah berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum Fajar (shalat sunnah Qabliyah Subuh -pent)” [HR. Muslim no. 724]

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah Qabliyah Subuh adalah hadis dari ‘Aisyah, di mana Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (shalat sunnah Qabliyah Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [HR. Muslim no. 725]. Jika keutamaan shalat sunnah fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Subuh itu sendiri?!

Dalam lafal lain, ‘Aisyah berkata, bahwa Nabi ﷺ berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar Subuh:

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Dua rakaat shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” [HR. Muslim no. 725]

Silakan di-share, InsyaAllah bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-shubuh.html

, ,

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BirrulWalidain

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

Pertanyaan:

Ketika saya kecil mereka mengatakan kepadaku: “Kalau kamu memulai shalat, kemudian mendengar salah seorang dari orang tua memanggilmu, maka putuskan shalat secara langsung, dan pergi untuk memenuhi panggilan. Kemudian kembali mengulangi shalat. Apakah perkataan ini ada sisi benarnya?

Jawaban:

Alhamdulillah

Kalau seorang Muslim menunaikan shalat wajib, maka dia TIDAK BOLEH memutuskan shalat untuk memenuhi panggilan bapak atau ibunya. Akan tetapi memberi isyarat peringatan kepada orang yang memanggilnya, bahwa dia sedang sibuk shalat, baik dengan bertasbih, atau mengeraskan suara dengan bacaan, atau semisal itu.

Dianjurkan juga memercepat shalatnya. Ketika selesai, maka penuhi panggilannya. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, (707) dari Abu Qatadah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

“Sungguh saya menunaikan shalat, saya ingin memanjangkannya. Kemudian saya mendengar tangisan bayi. Maka saya persingkat shalatku, khawatir memberatkan ibunya.”

Hal ini menunjukkan dianjurkannya memersingkat dan memercepat dalam shalat, karena ada sesuatu yang tiba-tiba ada mengganggu konsentrasi orang shalat.

Kalau shalat sunah, kalau dia mengetahui bahwa ayah atau ibunya tidak mengapa baginya untuk menyempurnakan shalatnya, maka sempurnakan. Kemudian menjawabnya setelah selesai. Kalau dia mengetahui bahwa keduanya tidak menyukai baginya untuk menyempurnakan (shalat)nya dan memerlambatnya, maka harus diputus,dan menjawab untuk keduanya. Hal itu tidak mengapa, kemudian MENGULANGI shalat dari awal.

Diriwayatkan Bukhori, (3436) dan Muslim, (2550) redaksi darinya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi ﷺ, sesungguhnya beliau bersabda:

كَانَ جُرَيْجٌ يَتَعَبَّدُ فِي صَوْمَعَةٍ فَجَاءَتْ أُمُّهُ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ كَلِّمْنِي . فَصَادَفَتْهُ يُصَلِّي فَقَالَ : اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ ، فَرَجَعَتْ ثُمَّ عَادَتْ فِي الثَّانِيَةِ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ فَكَلِّمْنِي . قَالَ اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ . فَقَالَتْ : اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا جُرَيْجٌ وَهُوَ ابْنِي وَإِنِّي كَلَّمْتُهُ فَأَبَى أَنْ يُكَلِّمَنِي ، اللَّهُمَّ فَلَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ الْمُومِسَاتِ . قَالَ : وَلَوْ دَعَتْ عَلَيْهِ أَنْ يُفْتَنَ لَفُتِنَ … (الحديث)

“Dahulu Juraij berdibadah di tempat ibadahnya. Kemudian ibunya datang dan memanggilnya seraya mengatakan: “Wahai Juraij, saya ibumu, tolong bicara denganku. Bertepatan saat itu, dia dalam kondisi shalat. Maka dia berkata dalam hati: “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Maka dia memilih shalatnya. Kemudian (ibunya) kembali, dan balik lagi pada yang kedua seraya mengatakan: “Wahai Juraij, saya ibumu tolong bicara denganku.” Dia mengatakan: “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Dan dia memilih shalatnya. Kemudian ibunya mengatakan: “Ya Allah, sesunggunya adalah anaku, sungguh saya memanggilnya dan dia enggan berbicara denganku. Ya Allah, jangan engkau wafatkan sebelum diperlihatkan wanita pelacur.” Beliau (Nabi) berkata: “Kalau dia berdoa agar terkena fitnah, maka dia akan terfitnah. Alhadits.

An-Nawawwi rahimahullah membuat bab ‘Bab Taqdim Birrul Walidaini ‘Ala Tatowwu’ Bis Shalat Wa Goiruha (Bab Mendahulukan Bakti Kedua Orang Tua Dibandingkan dengan Shalat Sunah dan Lainnya).

An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘Yang benar baginya adalah menjawabnya, karena ia dalam shalat sunah. Melanjutkan shalat sunah itu tidak diwajibkan, sementara menjawab ibu dan berbakti kepadanya itu wajib. Dan durhaka kepadanya itu haram. Atau memungkinkan baginya memersingkat shalat dan menjawabnya, kemudian kembali menunaikan shalatnya.” [Silakan lihat ‘Fathul Bari’ karangan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah. (Al-Mausu’ah Fiqhiyan, 20/342)].

Terdapat dalam ‘Dur Mukhtar, dari kitab Hanafiyah (2/54), “Kalau salah satu dari kedua orang tua memanggilanya dalam shalat wajib, maka tidak menjawabnya, kecuali kalau meminta pertolongan.” maksudnya meminta pertolongan dan bantuan.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Kedua orang tua, kalau memanggil Anda, maka seharusnya menjawabnya. Akan tetapi dengan syarat, bukan shalat wajib. Kalau dalam shalat wajib, TIDAK BOLEH menjawabnya. Akan tetapi kalau sunah, boleh menjawabnya. Kecuali kalau keduanya dapat memerkirakan urusannya, bahwa keduanya mengetahui Anda dalam shalat dan memberi uzur kepada Anda, maka di sini Anda memberi isyarat kepadanya, bahwa Anda dalam shalat, baik dengan berdehem, atau mengucapkan Subhanallah, atau meninggikan suara Anda dari ayat yang dibacanya, atau doa yang dibacanya, agar orang yang memanggil merasakan, bahwa Anda dalam kondisi shalat. Sementara kalau selain itu yang tidak memberikan uzur dan menginginkan ucapannya itu yang didahulukan, maka putuskan shalat dan berbicaralah dengannya. Adapun kalau shalat wajib, maka tidak boleh seorang pun memutuskannya, kecuali dalam kondisi terpaksa. Seperti Anda melihat seseorang khawatir binasa terjatuh di dalam sumur atau di sungai atau api. Disini Anda memutus shalat Anda karena terpaksa. Sementara selain itu, tidak dibolehkan memutus shalat wajib.” [Syarh Riyadus Sholihin, hal. 302 dengan diringkas] Wallahu a’lam

Silakan merujuk jawaban soal no. 65682.

 

Sumber:  https://islamqa.info/id/151653

PENJELASAN DAN BANTAHAN SALAH KAPRAH BID’AH HASANAH

PENJELASAN DAN BANTAHAN SALAH KAPRAH BID’AH HASANAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#StopBidah, #SayNoToBidah, #TidakAdaBidahHasanah

PENJELASAN DAN BANTAHAN SALAH KAPRAH BID’AH HASANAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang membuat sunnah dalam Islam ini, Sunnah Hasanah, maka baginya berhak atas pahala, dan pahala orang yang mengamalkannya (sunnah tersebut) setelahnya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang membuat Sunnah Sayyi’ah (sunnah yang buruk) dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” [HR Muslim dalam Kitab Zakat, Bab Motivasi Untuk Bershadaqah Walaupun dengan Sebutir Kurma no. 1017]

Penjelasan Hadis Sunnah Hasanah di Atas

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

“Yang dimaksud dengan “من سن في الإسلام سنة حسنة” ialah MEMELOPORI SUATU AMAL YANG TELAH ADA, BUKAN MEMBUAT AMALAN BARU.

Karena barang siapa yang mengada-adakan suatu amalan yang tidak ada asalnya dalam Islam, maka amalan tersebut tertolak, dan bukan sebuah amalan yang baik. Yang dimaksud ialah sebagaimana laki-laki dari kalangan Anshar tersebut, radhiyallahu ‘anhu, yang membawa kurma sebanyak satu shurrah. Hal ini menjadi dalil, bahwa barang siapa yang meniru perbuatan semisal dengan apa yang dilakukan pelopor sunnah ini, maka tercatat bagi si pelopor sunnah tersebut, pahala, baik ia masih hidup maupun telah meninggal” [Syarh Riyadh As Shalihin].

Bantahan Telak Bagi Pelaku Bid’ah Hasanah

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullahu menjelaskan:

“TIDAKLAH MUNGKIN maksud Nabi ﷺ dalam hadis tersebut (yaitu hadis tentang Sunnah Hasanah) merupakan pembolehan beliau atas praktik bid’ah dalam agama, atau menjadi pintu bagi apa yang disebut oleh sebagian orang dengan “Bid’ah Hasanah”, dilihat dari beberapa alasan berikut ini:

Pertama: Nabi ﷺ berulangkali bersabda:

كلّ محدثة بدعة وكلّ بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Tiap perbuatan yang mengada-ada itu bid’ah, tiap bid’ah itu sesat, dan tiap kesesatan tempatnya di Neraka’ [HR An Nasa’i, HR Ahmad dari jalur Jabir radhiallahu ‘anhu, HR Abu Daud dari jalur ‘Irbadh bin Sariyah, HR Ibnu Majah dari jalur Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu]

Begitu pula Nabi ﷺ dalam khutbahnya bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

‘Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara ialah perkara baru yang diada-adakan dalam agama, dan setiap bid’ah itu sesat” [HR Muslim no 867].

Maka jika tiap bid’ah itu sesat, bagaimana dapat dikatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah dalam Islam?! Ini adalah perkara yang teramat jelas yang telah disampaikan berulangkali oleh Nabi ﷺ dan diperingatkan akan bahayanya.

Kedua: Nabi ﷺ telah mengabarkan, bahwa barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama, amalnya tertolak dan tidak diterima oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dari Aisyah radhiallahu ‘anha:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

‘Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami (yaitu dalam Islam), yang tidak ada asalnya, maka amalannya tertolak’ [HR Bukhari no 2967]

Maka bagaimana bisa dikatakan, bahwa beliau ﷺ membolehkan seseorang untuk memraktikkan suatu bid’ah?!

Ketiga: Sesungguhnya setiap Mubtadi’, orang yang membuat-buat perkara bid’ah dalam agama, yang ia sandarkan amalan tersebut kepada agama ini, berkonsekuensi atas beberapa hal:

  • Dia telah menuduh agama ini kurang sempurna, padahal Allah ta’ala sendiri yang telah berfirman:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Ku-sempurnakan bagi kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam adalah agama bagi kalian” [QS. Al Maidah: 3]

  • Dia telah menuduh Nabi ﷺ dengan salah satu dari dua tuduhan:

>> Pertama, bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui (jahil, dan Nabi ﷺ yang mulia lepas dari tuduhan ini -pent) akan adanya Bid’ah Hasanah ini, atau kedua, Nabi ﷺ mengetahuinya, namun menyembunyikannya dari umat beliau ﷺ dan tidak menyampaikannya!

>> Bahwa Nabi ﷺ para shahabat, dan Salafusshalih telah luput dari pahala amalan Bid’ah Hasanah ini, namun kemudian muncullah para Mubtadi’ ini, dan merekalah yang pada akhirnya mendapat pahala atas praktik bid’ah ini. Hendaknya mereka ini mengatakan pada diri mereka sendiri sebuah perkataan:

” لو كان خيرا لسبقونا إليه”

Seandainya itu baik, tentulah mereka telah mendahului kami dalam mengerjakannya.“

  • Sesungguhnya membuka pintu bagi Bid’ah Hasanah, akan membuka pintu bagi adanya pengubahan terhadap agama, dan membuka pintu bagi hawa nafsu dan pendapat yang berdasarkan semata akal (ra’yu). Karena setiap Mubtadi’ berkata lewat perbuatan mereka, bahwa apa yang mereka kerjakan adalah perkara kebaikan. Namun mereka sendiri berlepas diri jika ditanya, dari mana mereka mengambil amalan tersebut?
  • Sesungguhnya amalan bid’ah akan menyebabkan peremehan terhadap sunnah-sunnah, sebagaimana apa yang dipersaksikan oleh Al Waqi’:

“Tidaklah suatu bid’ah dihidupkan, melainkan mati bersamanya suatu sunnah”.

Hal ini juga berlaku sebaliknya (Perkataan beliau “hal ini berlaku sebaliknya”, memberi kita faidah, bahwa salah satu jalan untuk mematikan bid’ah, ialah dengan menghidupkan sunnah. Wallahu a’lam -pent, penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dapat dilihat di website beliau http://islamqa.info/ar/ref/864]

 

Dinukil dari tulisan berjudul “Sunnah Hasanah atau Bid’ah Hasanah?” yang ditulis oleh: Yhouga Pratama dari: http://muslim.or.id/11416-sunnah-hasanah-atau-bidah-hasanah.html