Posts

,

SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT SEBELUM MENINGGALKAN RUMAH DAN KETIKA PULANG

SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT SEBELUM MENINGGALKAN RUMAH DAN KETIKA PULANG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT SEBELUM MENINGGALKAN RUMAH DAN KETIKA PULANG
 
Terdapat anjuran shalat sunah sebelum keluar dan masuk ke dalam rumah. Dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi ﷺ bersabda:
 
إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ
 
“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat, yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.”
 
Status Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar no. 8567, ad-Dailami dalam Musnadnya (1/108), dan Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Akhbar as-Shalah (1/68).
 
Dalam as-Silsilah as-Shahihah dinyatakan:
 
وهذا إسناد جيد رجاله ثقات رجال البخاري، وفي يحيى بن أيوب المصري كلام يسير لا يضر. وقال الهيثمي في زوائد البزار: ” ورجاله موثقون “. وقال المناوي في ” الفيض “: ” قال ابن حجر: حديث حسن، ولولا شك بكر لكان على شرط الصحيح
 
Hadis ini sanadnya Jayyid, perawinya tsiqah (terpercaya), perawi Shahih Bukhari. Ada sedikit komentar tentang nama perawi Yahya bin Ayub al-Mishri, namun tidak mempengaruhi keabsahan hadis. Al-Haitsami dalam Zawaid al-Bazzar mengatakan, ‘Perawinya dinilai tsiqqah.’ Sementara al-Munawi dalam Faidhul Qadir menukil keterangan Ibnu Hajar, ‘Hadis Hasan. Andai bukan karena keraguan Bakr tentu sesuai syarat hadis shahih.’ [As-Silsilah as-Sahihah, no. 3/315]
 
Kesimpulannya, hadis ini statusnya Hasan. Di antara yang bisa kita simpulkan dari hadis di atas:
 
> Pertama, makna tekstual dalam hadis ini adalah anjuran melaksanakan shalat sunah ketika hendak keluar rumah atau masuk rumah. Terlebih keluar rumah ketika hendak safar, karena manusia lebih membutuhkan penjagaan dan keamanan selama perjalanan.
 
> Kedua, shalat dua rakaat ini bentuknya bebas, artinya tidak harus shalat sunah khusus. Karena itu bisa dikerjakan dalam bentuk shalat sunah, atau shalat wajib. Misalnya, dia berangkat setelah Subuh, kemudian dia shalat Subuh di rumah. Maka hal ini sudah dianggap mendapat keutamaan hadis di atas.
 
Al-Munawi mengatakan:
 
إذا خرجت من منزلك أي أردت الخروج من بيتك فصل ندبا ركعتين خفيفتين وتحصل بفرض أو نفل
 
’Apabila kamu keluar dari rumahmu’, artinya jika kamu ingin keluar rumah, lakukanlah shalat sunah ringan dua rakaat. Anjuran ini bisa dilaksanakan dalam bentuk shalat wajib atau shalat sunah. [Faidhul Qadir, 1/334]
 
> Ketiga, bahwa anjuran shalat sunah dalam hadis di atas adalah DIKERJAKAN DI RUMAH dan bukan di masjid. Ini sangat jelas dinyatakan dalam kalimat: ”Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat.”
 
> Keempat, bahwa anjuran ini berlaku dalam setiap rumah, baik untuk safar maupun sekadar keluar rumah untuk kegiatan yang lainnya. Baik safar ibadah atau untuk kegiatan murni dunia. Baik safar sehari, atau hingga memakan waktu berhari-hari.
 
Hanya saja untuk safar lebih ditekankan, karena resiko dan peluang terjadinya hal yang tidak diinginkan, lebih besar dibandingkan ketika diam di rumah.
 
Wallahu a’lam.
 
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Sumber: https://konsultasisyariah.com/23469-shalat-sunah-di-masjid-sebelum-berangkat-haji.html
 
Catatan Tambahan:
  • Apabila kita safar ke luar kota dan menginap di suatu hotel selama berhari-hari, maka kita tidak perlu melaksanakan shalat sunnah ini setiap kita keluar dari hotel dan kembali pulang ke hotel. Hal ini adalah karena anjuran shalat sunah dalam hadis di atas adalah DIKERJAKAN DI RUMAH kita (dan bukan di hotel, yang memang bukan rumah kita -pen).

  • Apabila kita tiba di rumah dan berniat melaksanakan shalat sunnah ini, maka kita dianjurkan untuk segera melaksanakannya begitu kita tiba di rumah dan tidak menunda-nundanya.
  • Apabila kita berniat melaksanakan shalat sunnah ini ketika kita kembali ke rumah, namun misalnya kita terlupa atau ketiduran dan baru ingat beberapa waktu kemudian, maka kita tidak perlu meng-qadha shalat ini.
Wallahu a’lam.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#shalat, #sholat, #salat, #solat #sunnah, #dua rakaat, #2 rakaat, #rokaat, #sebelummeninggalkanrumah, #sebelumpergi, #pulang, #waktupulang, #masukrumah, #rumah, #bukanmasjid, #bukanhotel #shalatsunnahyangterlupakan #banyakdilupakan #sifatsholatNabi #hukum #tatacara #cara
, ,

SUNNAH BERJABAT TANGAN BISA MENGGUGURKAN DOSA

SUNNAH BERJABAT TANGAN BISA MENGGUGURKAN DOSA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SUNNAH BERJABAT TANGAN BISA MENGGUGURKAN DOSA
 
Ada sunnah mulia yang bisa menggugurkan dosa antara dua orang, yaitu sunnah berjabat tangan.
 
Dari Al Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah dua Muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” [HR. Abu Daud no. 5212, Ibnu Majah no. 3703, Tirmidzi no. 2727. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadis ini Dhaif. Adapun Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadis ini Shahih]
 
Berjabat tangan yang dimaksud di sini adalah bagian dalam tangan seseorang diletakkan pada bagian dalam telapak tangan yang lainnya. Berjabat tangan ini dilakukan ketika bertemu setelah seseorang mengucapkan salam.
 
 
Sumber: Rumaysho.Com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sunnah, #adab,#adabakhlak, #jabattangan, #berjabattangan, #jabatan, #salaman, #gugurkan, #menggugurkan, #dosadosa #diampunidosa, #ampunandosa, #sebelumberpisah #sebelumpisah
,

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH
 
Sebelum puasa Ramadan diwajibkan, puasa hari Asyura adalah puasa wajib kaum Muslimin. Hal tersebut diterangkan dalam hadis Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:
 
أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: ” أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ
 
“Nabi ﷺ memerintahkan seorang lelaki dari Bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia:
‘Siapa saja yang telah makan, hendaknya dia berpuasa (dengan) menyempurnakan sisa harinya. Siapa saja yang belum makan, silakan dia berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyura`.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]
 
Kemudian hukum tersebut TERHAPUS, dan puasa hari Asyura hanya DISUNNAHKAN sebagaimana dalam penjelasan hadis-hadis yang telah berlalu. Juga diterangkan dalam hadis Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبِ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنْ شَاءَ، فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ، فَلْيُفْطِرْ
 
“Ini adalah hari Asyura. Allah tidak mewajibkannya sebagai puasa terhadap kalian, (tetapi) aku (tetap) berpuasa. Siapa saja yang berkehendak, silakan dia berpuasa, sedang siapa saja yang berkehendak, silakan dia berbuka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#SifatPuasaNabi, #PuasaAsyura, #HariAsyura, #BulanMuharram, #Sunnah, #Puasa, #PuasaAsyuro, #Asyuro, #Suro, #Syuro, Syura, #BulanHaram

 

JANGAN REMEHKAN PERKARA YANG SUNNAH DAN MAKRUH

JANGAN REMEHKAN PERKARA YANG SUNNAH DAN MAKRUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
JANGAN REMEHKAN PERKARA YANG SUNNAH DAN MAKRUH
 
Jangan remehkan perkara yang sunnah dan makruh. Karena pada perkara sunnah ada perintah untuk melaksanakannya, dan perkara makruh ada perintah untuk meninggalkannya, meskipun tidak sekuat perkara yang wajib dan yang haram.
 
—–
 
Sumber: @kemuslimahan_ypia

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

AS SUNNAH BAGAIKAN PERAHU NABI NUH

AS SUNNAH BAGAIKAN PERAHU NABI NUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama

AS SUNNAH BAGAIKAN PERAHU NABI NUH

As Sunnah itu bagaikan perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya, ia akan selamat. Barang siapa menyelisihinya, ia akan tenggelam. [Imam Malik bin Anas, dalam Al Fatawa (4/57)]

 

Sumber: https://muslimah.or.id/6159-as-sunnah-bagaikan-perahu-nabi-nuh.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai. [Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja. [Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sujud Sahwi ketika shalat sunnah sama halnya dengan shalat wajib, yaitu sama-sama disyariatkan. Karena dalam hadis yang membicarakan Sujud Sahwi menyebutkan umumnya shalat, tidak membatasi pada shalat wajib saja.

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan: “Sebagaimana dikatakan dalam hadis ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ

“Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya.” Hadis ini menunjukkan, bahwa Sujud Sahwi itu disyariatkan pula dalam shalat sunnah, sebagaimana disyariatkan dalam shalat wajib (karena lafal dalam hadis ini umum). Inilah yang dipilih oleh Jumhur (Mayoritas) Ulama yang dulu dan sekarang. Karena untuk menambal kekurangan dalam shalat, dan untuk menghinakan setan, juga terdapat dalam shalat sunnah, sebagaimana terdapat dalam shalat wajib.” [Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 3/144, Idarotuth Thoba’ah Al Muniirah]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
,

HUKUM PUASA TARWIYAH 8 DZULHIJJAH

HUKUM PUASA TARWIYAH 8 DZULHIJJAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#SifatPuasaNabi
HUKUM PUASA TARWIYAH 8 DZULHIJJAH
 
Pertanyaan:
Apa itu hari Tarwiyah? Adakah puasa hari Tarwiyah?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Hari Tarwiyah adalah pada 8 Dzulhijjah. Istilah Tarwiyah berasal dari kata Tarawwa [Arab: تَرَوَّى] yang artinya membawa bekal air. Karena pada hari itu, para jamaah haji membawa banyak bekal air Zam-zam untuk persiapan Arafah dan menuju Mina. Mereka minum, memberi minum untanya, dan membawanya dalam wadah.
 
Ibn Qudamah menjelaskan asal penamaan ini:
 
سمي بذلك لأنهم كانوا يتروون من الماء فيه، يعدونه ليوم عرفة. وقيل: سمي بذلك؛ لأن إبراهيم – عليه السلام – رأى ليلتئذ في المنام ذبح ابنه، فأصبح يروي في نفسه أهو حلم أم من الله تعالى؟ فسمي يوم التروية
 
Dinamakan demikian, karena para jamaah haji, mereka membawa bekal air pada hari itu, yang mereka siapkan untuk hari Arafah. Ada juga yang mengatakan: Dinamakan hari Tarwiyah, karena Nabi Ibrahim ’alaihis salam pada malam 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi menyembelih anaknya. Di pagi harinya, beliau Yarwi (berbicara) dengan dirinya, apakah ini mimpi kosong ataukah wahyu Allah? Sehingga hari itu dinamakan hari Tarwiyah. (al-Mughni, 3/364).
 
Puasa Tarwiyah
 
Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa di hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah). Hadis itu menyatakan:
 
مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ
 
”Siapa yang puasa sepuluh hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah, seperti puasa dua tahun.”
 
Hadis ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara Marfu’.
 
Para ulama menegaskan bahwa hadis ini adalah HADIS PALSU. Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengatakan:
 
وهذا حديث لا يصح . قَالَ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ : الطبي كذاب . وَقَالَ ابْن حِبَّانَ : وضوح الكذب فِيهِ أظهر من أن يحتاج إِلَى وصفه
 
Hadis ini TIDAK SHAHIH. Sulaiman at-Taimi mengatakan: ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan.’ [al-Maudhu’at, 2/198].
 
Keterangan serupa juga disampaikan as-Syaukani (wafat 1255 H). Ketika menjelaskan status hadis ini, beliau mengatakan:
 
رواه ابن عدي عن عائشة مرفوعاً ولا يصح وفي إسناده : الكلبي كذاب
 
Hadis ini disebutkan oleh Ibn Adi dari A’isyah secara Marfu’. Hadis ini TIDAK SHAHIH. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Kalbi, seorang pendusta. [al-Fawaid al-Majmu’ah, 1/45]
 
Keterangan di atas, cukup bagi kita untuk menyimpulkan, bahwa hadis di atas adalah HADIS YANG TIDAK BISA JADI DALIL. Karena itu, tidak ada keutamaan khusus untuk puasa Tarwiyah.
 
Bolehkah Puasa Tarwiyah?
 
Keterangan di atas tidaklah melarang kita untuk berpuasa di hari Tarwiyah. Keterangan di atas hanyalah memberi kesimpulan, bahwa tidak ada keutamaan khusus untuk puasa Tarwiyah.
 
Kita tetap dianjurkan untuk memerbayak puasa selama tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Dan tentu saja, hari Tarwiyah masuk di dalam rentang itu. Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ melaksanakan puasa Asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. [HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani)]
 
Demikian pula hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi ﷺ bersabda:
 
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
 
“Tidak ada hari di mana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari Jihad fi sabilillah? Nabi ﷺ menjawab: “Termasuk lebih utama dibanding Jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satu pun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” [HR. Ahmad, Bukhari, dan Turmudzi].
 
Kemudian syariat memberikan keutamaan khusus untuk puasa 9 Dzulhijjah (hari Arafah), di mana puasa pada hari ini akan menghapuskan dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده
 
“…puasa hari Arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” [HR. Ahmad dan Muslim].
 
Namun keutamaan semacam ini tidak kita jumpai untuk puasa 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyah). Karena hadis yang menyebutkan keutamaan puasa tariwiyah adalah HADIS PALSU.
 
Kesimpulannya, kita disyariatkan melaksanakan puasa Tarwiyah, mengingat adanya anjuran memperbanyak puasa selama 9 hari pertama Dzulhijjah. Namun kita tidak boleh meyakini ada keutamaan khusus untuk puasa pada 8 Dzulhijjah.
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
 
, ,

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
 
Pertanyaan:
Bolehkah menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Dilihat dari latar belakang disyariatkannya ibadah, para ulama membagi ibadah menjadi dua:
 
Pertama, ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut, sehingga ibadah ini harus ada secara khusus. Semua ibadah wajib, shalat wajib, puasa wajib, dst, masuk jenis pertama ini.
 
Termasuk juga ibadah yang disyariatkan secara khusus, seperti shalat Witir, shalat Dhuha, dst.
 
Termasuk jenis ibadah ini adalah ibadah yang menjadi Tabi’ (Pengiring) ibadah yang lain, seperti shalat Rawatib. Dan sebagian ulama memasukkan puasa Enam Hari Syawal termasuk dalam kategori ini.
 
Kedua, kebalikan dari yang pertama, ibadah yang Laisa Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah itu BUKAN merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut. Tujuan utamanya adalah yang penting amalan itu ada di kesempatan tersebut, apapun bentuknya.
 
Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui apakah ibadah ini termasuk Maqsudah Li Dzatiha ataukah Laisa Maqsudah Li Dzatiha, adalah dengan memahami latar belakang dari dalil masing-masing ibadah. [Liqa’ al-Bab al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, volume 19, no. 51]
 
Kita akan lihat contoh yang diberikan ulama, untuk lebih mudah memahaminya.
 
Contoh Pertama: Shalat Tahiyatul Masjid
 
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ، فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
 
Apabila kalian masuk masjid, jangan duduk sampai shalat dua rakaat. [HR. Bukhari 1163]
 
Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ menyarankan agar kita shalat dua rakaat setiap kali masuk masjid sebelum duduk. Artinya, yang penting jangan langsung duduk, tapi shalat dulu. Tidak harus shalat khusus Tahyatul Masjid. Bisa juga shalat Qabliyah atau shalat sunah lainnya. Meskipun boleh saja jika kita shalat khusus Tahiyatul Masjid.
 
Dari sini, shalat keberadaan ibadah shalat Tahiyatul Masjid itu bukan merupakan tujuan utama. Tapi yang penting ada amal, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid, apapun bentuk shalat itu.
 
Contoh Kedua: Puasa Senin-Kamis
 
Ketika Nabi ﷺ ditanya mengapa beliau rajin puasa Senin Kamis, beliau ﷺ mengatakan:
 
ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
 
Di dua hari ini (Senin Kamis), amalan dilaporkan kepada Allah, Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya dilaporkan, saya dalam kondisi puasa. [HR. Ahmad 21753, Nasai 2358, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]
 
Dalam hadis ini, siapapun yang melakukan puasa di hari Senin atau Kamis, apapun bentuk puasanya, dia mendapatkan keutamaan sebagaimana hadis di atas. Amalnya dilaporkan kepada Allah, dalam kondisi dia berpuasa, baik ketika itu dia sedang puasa wajib, atau puasa sunah lainnya. Meskipun boleh saja ketika dia melakukan puasa khusus pada waktu Senin atau Kamis.
 
Menggabungkan Niat Dua Ibadah
 
Para ulama menyebutnya ”at-Tasyrik fin Niyah” atau ”Tadakhul an-Niyah” (Menggabungkan niat).
 
Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat:
 
إذا اتحد جنس العبادتين وأحدهما مراد لذاته والآخر ليس مرادا لذاته؛ فإن العبادتين تتداخلان
 
Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu Maqsudah Li Dzatiha dan satunya Laisa Maqsudah Li Dzatiha, maka dua ibadah ini MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. [’Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais, hlm. 17]
 
Dari kaidah di atas, beberapa amal bisa digabungkan niatnya jika terpenuhi dua syarat:
  • Pertama: Amal itu jenisnya sama, misalnya shalat dengan shalat, atau puasa dengan puasa.
  • Kedua: Ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha TIDAK boleh lebih dari satu. Karena tidak boleh menggabungkan dua ibadah yang sama-sama Maqsudah Li Dzatiha.
Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Senin Kamis
 
Dari keterangan di atas, puasa Syawal termasuk ibadah Maqsudah Li Dzatiha, sementara Senin Kamis Laisa Maqsudah Li Dzatiha, sehingga niat keduanya MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. Dan insyaaAllah mendapatkan pahala puasa Syawal dan puasa Senin Kamis.
 
Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
 
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [Muttafaq ’alaih]
 
Karena dia menggabungkan kedua niat ibadah itu, mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
 
Artikel www.KonsultasiSyariahcom
 

SEDERHANA DALAM SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BIDAH

SEDERHANA DALAM SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BIDAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah

SEDERHANA DALAM SUNNAH LEBIH BAIK DARIPADA BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BIDAH

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya ia berkata:

اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة

“Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bidah.” [HR. ad-Darimi (223), al-Lalika’i (1/55, 88) dan yang selainnya. Atsar ini Shahih]

Dari Sa’id bin al-Musayyib, bahwa ia melihat seseorang shalat setelah fajar lebih dari dua rakaat. Ia memerbanyak pada shalat dua rakaat itu rukuk dan sujud. Maka ia (Sa’id) melarangnya. Orang itu berkata: “Wahai Aba Muhammad, apakah Allah akan mengazabku karena shalat?” Ia (Sa’id) menjawab: “Tidak. Akan tetapi Allah akan mengazabmu karena engkau menyelisihi sunnah.” [HR. al-Khotib dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (1/147)]

 

 

,

KEUTAMAAN YANG BESAR SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

KEUTAMAAN YANG BESAR SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi

KEUTAMAAN YANG BESAR SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi ﷺ terus menerus menjaganya. ‘Aisyah berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum Fajar (shalat sunnah Qabliyah Subuh -pent)” [HR. Muslim no. 724]

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah Qabliyah Subuh adalah hadis dari ‘Aisyah, di mana Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (shalat sunnah Qabliyah Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [HR. Muslim no. 725]. Jika keutamaan shalat sunnah fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Subuh itu sendiri?!

Dalam lafal lain, ‘Aisyah berkata, bahwa Nabi ﷺ berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar Subuh:

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Dua rakaat shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” [HR. Muslim no. 725]

Silakan di-share, InsyaAllah bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-shubuh.html