Posts

,

TIGA SUMBER KEBERUNTUNGAN

TIGA SUMBER KEBERUNTUNGAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#MutiaraSunnah

TIGA SUMBER KEBERUNTUNGAN

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Telah beruntung siapa yang berislam, diberi rezeki sekedar mencukupinya, dan Allah memberinya sifat Qona’ah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya.” [HR. Muslim]

, , ,

BAGAIMANAKAH CARA MENGOBATI ORANG YANG TERKENA PENYAKIT ‘AIN?

BAGAIMANAKAH CARA MENGOBATI ORANG YANG TERKENA PENYAKIT 'AIN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#DoaZikir

BAGAIMANAKAH CARA MENGOBATI ORANG YANG TERKENA PENYAKIT ‘AIN?

Memandikan Pelaku ‘Ain

1. Jika telah diketahui pelaku ‘Ain-nya, maka perintahkanlah ia (si pelaku ‘ain -penj) agar mandi, kemudian air yang dipakai mandi tersebut diambil dan disiramkan kepada orang yang terkena ‘Ain dari arah belakangnya.

عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف أن أباه حدثه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج وساروا معه نحو مكة حتى إذا كانوا بشعب الخرار من الجحفة أغتسل سهل بن حنيف وكان رجلا أبيض حسن الجسم والجلد فنظر إليه عامر بن ربيعة أخو بني عدي بن كعب وهو يغتسل فقال ما رأيت كاليوم ولا جلد مخبأة فلبط فسهل فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقيل له يا رسول الله هل لك في سهل والله ما يرفع رأسه وما يفيق قال هل تتهمون فيه من أحد قالوا نظر إليه عامر بن ربيعة فدعا رسول الله صلى الله عليه وسلم عامرا فتغيظ عليه وقال علام يقتل أحدكم أخاه هلا إذا رأيت ما يعجبك بركت ثم قال له أغتسل له فغسل وجهه ويديه ومرفقيه وركبتيه وأطراف رجليه وداخلة إزاره في قدح ثم صب ذلك الماء عليه يصبه رجل على رأسه وظهره من خلفه ثم يكفئ القدح وراءه ففعل به ذلك فراح سهل مع الناس ليس به بأس

Dari Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasannya ayahnya telah menceritakan kepadanya: Bahwa Rasulullah ﷺ pergi bersamanya menuju Makkah. Ketika sampai di satu celah bukit Kharar di daerah Juhfah, maka Sahl bin Hunaif mandi. Ia adalah seorang yang yang berkulit sangat putih dan sangat bagus. Maka ‘Amir bin Rabi’ah – kerabat Bani ‘Adi bin Ka’b – memandangnya ketika ia sedang mandi. ‘Amir berkata: ‘Aku belum pernah melihat seperti sekarang, juga tidak pernah melihat kulit wanita perawan bercadar’. Maka tiba-tiba Sahl jatuh terguling. Maka datang Rasulullah ﷺ dan dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, apa kira-kira yang terjadi pada Sahl? Ia (Sahl) tidak bisa mengangkat kepalanya dan sekarang ia belum juga sadar”. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya: “Apakah ada seseorang yang kalian curigai?”. Mereka berkata: “Amir bin Rabi’ah telah memandangnya”. Kemudian Rasulullah ﷺ memanggilnya, lalu memarahinya dan bersabda: ‘Mengapa salah seorang di antara kalian hendak membunuh saudaranya? Mengapa ketika kamu melihat sesuatu hal yang menakjubkanmu, kamu tidak memberkahi?” Kemudian beliau ﷺ berkata kepadanya: “Mandilah untuknya!”. Kemudian ‘Amir mencuci mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya, jari-jari kedua kakinya, dan bagian dalam kainnya di dalam bejana. Kemudian (air bekas mandi itu) disiramkan kepadanya (Sahl) oleh seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya. Kemudian bejana terebut ditumpahkan isinya di belakangnya. Maka setelah hal itu dilakukan, Sahl kembali bersama orang-orang dalam keadaan tidak kurang suatu apa (sehat kembali). ” [HR. Ahmad 3/486 no. 16023, Malik 2/938 no. 1678, dan Nasa’i dalam Al-Kubraa 4/380 no. 7616; dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam dalam Ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad dan Al-Albani dalam Shahihul-Jaami’ no. 4020].

2. Bisa juga pelaku ‘Ain cukup berwudhu saja dan kemudian air bekas wudhunya dipakai mandi oleh orang yang terkena ‘Ain.

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان يؤمر العائن فيتوضأ ثم يغتسل منه المعين

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhu ia berkata: “Orang yang melakukan ‘Ain diperintahkan agar berwudhu, kemudian orang yang terkena ‘Ain mandi dari air (bekas wudhu tadi).” [HR. Abu Dawud no. 3880; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/467].

Meletakan tangan ke atas kepala penderita ‘Ain dengan membaca:

بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ، مِنْ كُلِ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

BISMILLAH ARQIKA MIN KULLI SYA-IN YU’DZIKA, MIN SYARRI KULLI NAFSIN AW ’AINI HASIDIN. ALLAHU YASYFIKA.
BISMILLAH ARQIKA.

Artinya:
“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari setiap sesuatu yang menyakitimu dan dari kejelekan (kejahatan) setiap jiwa atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu” [HR. Muslim no. 2186].

بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَمِنْ شَرِّ ذِيْ عَيْنٍ

Artinya:

“Dengan nama Allah, mudah-mudahan Dia membebaskanmu, dari setiap penyakit. Mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari kejahatan orang dengki, jika dia mendengki, dan dari kejahatan setiap orang yang memunyai ‘Ain (mata dengki)” [HR. Muslim no 2185].

Meletakkan tangan di bagian atas yang sakit dan meruqyah dengan QS. Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas [Muttafaqun ‘alaih].

Penulis: Abul-Jauzaa’ Al-Bogory

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/05/al-ain-pandangan-mata.html

 

, , ,

BAHAYA PENYAKIT ‘AIN (PENGARUH PANDANGAN MATA DENGKI ATAU TAKJUB)

BAHAYA PENYAKIT ‘AIN (PENGARUH PANDANGAN MATA DENGKI ATAU TAKJUB)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#AdabAkhlak

BAHAYA PENYAKIT ‘AIN (PENGARUH PANDANGAN MATA DENGKI ATAU TAKJUB)

Di antara dalil-dalil yang ada tentang al-‘Ain adalah sebagai berikut:

عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن العين لتولع بالرجل بإذن الله تعالى حتى يصعد حالقا ثم يتردى منه

Dari Abi Dzarr radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: Sesungguhnya Al-‘Ain dapat memerdaya seseorang dengan ijin Allah, sehingga ia naik ke tempat yang tinggi, lalu jatuh darinya [Yaitu, sesungguhnya Al-’Ain dapat menimpa seseorang, kemudian memengaruhinya hingga (jika) orang itu naik ke tempat yang tinggi, kemudian jatuh dari atas, karena pengaruh Al-’Ain]” [HR. Ahmad 5/146 no. 21340, 6/13 no. 5372, Al-Bazzar 9/386 no. 3972, dan Al-Haarits dalam Bughyatul-Bahits 2/603 no. 566; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul-Jaami’ no. 1681].

عن جابر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم العين تدخل الرجل القبر و تدخل الجمل القدر

Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Al-‘Ain adalah haq (benar). Dapat memasukkan seseorang ke dalam kuburan, dan dapat memasukkan unta ke dalam kuali [Maksudnya: Sesungguhnya Al’Ain dapat menimpa seseorang hingga membunuhnya lalu mati, dan dikuburkan ke dalam kuburan. Dan bisa menimpa unta hingga nyaris mati, dan disembelih pemiliknya kemudian dimasak di dalam kuali]” [HR. Ibnu ‘Adi 6/407 biografi no. 1890 dari Mu’awiyyah bin Hisyam Al-Qashshaar, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 7/90, Al-Khathiib 9/244, Al-Qadlaa’I 2/140 no. 1059; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’ no. 4144].

عن جابر ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أكثر من يموت من أمتى بعد قضاء الله وقدره بالأنفس يعنى بالعين

Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Kebanyakan orang yang meninggal dari umatku setelah qadha dan qadar Allah, adalah karena Al-‘Ain” [HR. Ath-Thayalisi hal. 242 no. 1760, Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir 4/360, no. 3144, Al-Hakim 3/46 no. , Al-Bazzar dalam Kasyful-Istaar 3/403 no. 3052, Ad-Dailami 1/364 no. 1467, dan Ibnu Abi ‘Ashim 1/136 no. 311; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’ no. 1206].

Ibnul-Qayyim berkata:

فَأَبْطَلَتْ طَائِفَةٌ مِمّنْ قَلّ نَصِيبُهُمْ مِنْ السّمْعِ وَالْعَقْلِ أَمْرَ الْعَيْنِ وَقَالُوا: إنّمَا ذَلِكَ أَوْهَامٌ لَا حَقِيقَةَ لَهُ وَهَؤُلَاءِ مِنْ أَجْهَلِ النّاسِ بِالسّمْعِ وَالْعَقْلِ وَمِنْ أَغْلَظِهِمْ حِجَابًا وَأَكْثَفِهِمْ طِبَاعًا وَأَبْعَدِهِمْ مَعْرِفَةً عَنْ الْأَرْوَاحِ وَالنّفُوسِ . وَصِفَاتِهَا وَأَفْعَالِهَا وَتَأْثِيرَاتِهَا وَعُقَلَاءُ الْأُمَمِ عَلَى اخْتِلَافِ مِلَلِهِمْ وَنِحَلِهِمْ لَا تَدْفَعُ أَمْرَ الْعَيْنِ وَلَا تُنْكِرُهُ وَإِنْ اخْتَلَفُوا فِي سَبَبِ وَجِهَةِ تَأْثِيرِ الْعَيْنِ .

“Sekelompok orang yang tidak banyak mendengar dan berfikir menolak masalah (hakikat) Al-‘Ain mengatakan: “Itu hanyalah khayalan yang tidak memunyai hakikat”. Mereka ini termasuk orang yang paling bodoh, karena tidak banyak mendengar dan berfikir. Termasuk orang-orang yang paling tebal dinding penutupnya, paling keras tabiatnya, dan paling jauh pengetahuannya tentang ruh dan jiwa. Padahal, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan, dan pengaruh-pengaruh Al-‘Ain itu – demikian pula orang-orang yang berakal sehat di kalangan umat dari berbagai aliran dan madzhab – tidak menolak dan tidak mengingkari masalah Al-‘Ain ini, sekalipun mereka berselisih pendapat tentang sebabnya dan bagaimana pengaruh Al-‘Ain itu” [Zaadul-Ma’ad 4/152].

Perbedaan Antara Al-‘Ain (Mata Kedengkian) dan Kedengkian [Lihat Al-‘Ainu haqq hal. 28]

  1. Orang yang dengki lebih umum daripada orang yang memunyai ‘Ain. Orang yang memunyai ‘Ain adalah orang dengki jenis tertentu. Setiap pelaku ‘Ain adalah pendengki, akan tetapi tidak setiap pendengki adalah pelaku ‘Ain. Oleh sebab itu disebutkan isti’adzah (memohon perlindungan) di dalam QS. Al-Falaq itu adalah dari kedengkian. Jika seorang Muslim ber-isti’adzah dari kejahatan orang yang mendengki, maka sudah termasuk di dalamnya (isti’adzah kepada) pelaku ‘Ain. Ini adalah termasuk kemukjizatan dan balaghah Alquran.
  2. Kedengkian muncul dari rasa iri, benci, dan mengharapkan lenyapnya nikmat. Sedangkan Al-‘Ain disebabkan oleh kekaguman, kehebatan, dan keindahan.
  3. Kedengkian dan Al-‘Ain (mata kedengkian) memiliki kesamaan dalam hal pengaruh, yaitu menimbulkan bahaya bagi orang yang didengki dan dipandang dengan ‘Ain. Keduanya berbeda dalam soal sumber penyebab. Sumber penyebab kedengkian adalah terbakarnya hati, dan mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki, sedangkan sumber penyebab Al-‘Ain adalah panahan pandangan mata. Oleh sebab itu, kadang-kadang menimpa orang yang tidak didengki, seperti benda mati, binatang, tanaman, atau harta. Bahkan bisa jadi menimpa dirinya sendiri. Jadi, pandangannya terhadap sesuatu adalah pandangan kekaguman, dan pelototan disertai penyesuaian jiwanya dengan hal tersebut, sehingga bisa menimbulkan pengaruh terhadap orang yang dipandang.
  4. Orang yang mendengki bisa saja mendengki sesuatu yang diperkirakan akan terjadi (belum terjadi). Sedangkan pelaku ‘Ain tidak akan melayangkan pandangan matanya, kecuali pada sesuatu yang telah terjadi.
  5. Orang tidak akan mendengki dirinya atau hartanya sendiri, tetapi bisa jadi dia menatap keduanya (yaitu kepada dirinya dan hartanya itu) dengan ‘Ain (sehingga terjadilah sesuatu pada dirinya).
  6. Kedengkian tidak mungkin muncul kecuali dari orang yang berjiwa buruk dan iri. Tetapi Al-‘Ain kadang-kadang terjadi dari orang yang saleh, ketika dia mengagumi sesuatu tanpa ada maksud darinya untuk melenyapkannya. Hal ini sebagaimana yang dialami oleh ‘Amir bin Rabi’ah, ketika tatapannya menimpa Sahl bin Hunaif. Padahal ‘Amir radliyallaahu ‘anhu termasuk generasi awal, bahkan termasuk Mujahidin Badr. Di antara ulama yang membedakan antara kedengkian dan Al-‘Ain (mata kedengkian) adalah Ibnul-Jauzi, Ibnul-Qayyim, Ibnu Hajar, An-Nawawi dan lainnya.

Oleh karena itu, setiap Muslim yang melihat sesuatu yang menakjubkan, dianjurkan agar mendoakan keberkahannya, baik sesuatu itu miliknya, ataupun milik orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis Sahl bin Hunaif: “Mengapa kamu tidak memberkahinya?” Yaitu mendoakan keberkahannya, karena doa ini bisa mencegah Al-‘Ain.

Cara Pengobatan Mata Kedengkian

Memandikan Pelaku ‘Ain

  1. Jika telah diketahui pelaku ‘Ain-nya, maka perintahkanlah ia (si pelaku ‘ain -penj) agar mandi, kemudian air yang dipakai mandi tersebut diambil dan disiramkan kepada orang yang terkena ‘Ain dari arah belakangnya.

عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف أن أباه حدثه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج وساروا معه نحو مكة حتى إذا كانوا بشعب الخرار من الجحفة أغتسل سهل بن حنيف وكان رجلا أبيض حسن الجسم والجلد فنظر إليه عامر بن ربيعة أخو بني عدي بن كعب وهو يغتسل فقال ما رأيت كاليوم ولا جلد مخبأة فلبط فسهل فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقيل له يا رسول الله هل لك في سهل والله ما يرفع رأسه وما يفيق قال هل تتهمون فيه من أحد قالوا نظر إليه عامر بن ربيعة فدعا رسول الله صلى الله عليه وسلم عامرا فتغيظ عليه وقال علام يقتل أحدكم أخاه هلا إذا رأيت ما يعجبك بركت ثم قال له أغتسل له فغسل وجهه ويديه ومرفقيه وركبتيه وأطراف رجليه وداخلة إزاره في قدح ثم صب ذلك الماء عليه يصبه رجل على رأسه وظهره من خلفه ثم يكفئ القدح وراءه ففعل به ذلك فراح سهل مع الناس ليس به بأس

Dari Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasannya ayahnya telah menceritakan kepadanya: Bahwa Rasulullah ﷺ pergi bersamanya menuju Makkah. Ketika sampai di satu celah bukit Kharar di daerah Juhfah, maka Sahl bin Hunaif mandi. Ia adalah seorang yang yang berkulit sangat putih dan sangat bagus. Maka ‘Amir bin Rabi’ah – kerabat Bani ‘Adi bin Ka’b – memandangnya ketika ia sedang mandi. ‘Amir berkata: ‘Aku belum pernah melihat seperti sekarang, juga tidak pernah melihat kulit wanita perawan bercadar’. Maka tiba-tiba Sahl jatuh terguling. Maka datang Rasulullah ﷺ dan dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, apa kira-kira yang terjadi pada Sahl? Ia (Sahl) tidak bisa mengangkat kepalanya dan sekarang ia belum juga sadar”. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya: “Apakah ada seseorang yang kalian curigai?”. Mereka berkata: “Amir bin Rabi’ah telah memandangnya”. Kemudian Rasulullah ﷺ memanggilnya, lalu memarahinya dan bersabda: ‘Mengapa salah seorang di antara kalian hendak membunuh saudaranya? Mengapa ketika kamu melihat sesuatu hal yang menakjubkanmu, kamu tidak memberkahi?” Kemudian beliau ﷺ berkata kepadanya: “Mandilah untuknya!”. Kemudian ‘Amir mencuci mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya, jari-jari kedua kakinya, dan bagian dalam kainnya di dalam bejana. Kemudian (air bekas mandi itu) disiramkan kepadanya (Sahl) oleh seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya. Kemudian bejana terebut ditumpahkan isinya di belakangnya. Maka setelah hal itu dilakukan, Sahl kembali bersama orang-orang dalam keadaan tidak kurang suatu apa (sehat kembali). ” [HR. Ahmad 3/486 no. 16023, Malik 2/938 no. 1678, dan Nasa’i dalam Al-Kubraa 4/380 no. 7616; dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam dalam Ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad dan Al-Albani dalam Shahihul-Jaami’ no. 4020].

  1. Bisa juga pelaku ‘Ain cukup berwudhu saja dan kemudian air bekas wudhunya dipakai mandi oleh orang yang terkena ‘Ain.

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان يؤمر العائن فيتوضأ ثم يغتسل منه المعين

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhu ia berkata: “Orang yang melakukan ‘Ain diperintahkan agar berwudhu, kemudian orang yang terkena ‘Ain mandi dari air (bekas wudhu tadi)” [HR. Abu Dawud no. 3880; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/467].

Meletakan tangan ke atas kepala penderita ‘Ain dengan membaca:

بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ، مِنْ كُلِ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

BISMILLAH ARQIKA MIN KULLI SYA-IN YU’DZIKA, MIN SYARRI KULLI NAFSIN AW ’AINI HASIDIN. ALLAHU YASYFIKA.

BISMILLAH ARQIKA.

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari setiap sesuatu yang menyakitimu dan dari kejelekan (kejahatan) setiap jiwa atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu” [HR. Muslim no. 2186].

بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَمِنْ شَرِّ ذِيْ عَيْنٍ

 “Dengan nama Allah, mudah-mudahan Dia membebaskanmu, dari setiap penyakit, mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari kejahatan orang dengki, jika dia mendengki, dan dari kejahatan setiap orang yang memunyai ‘Ain (mata dengki)” [HR. Muslim no 2185].

Meletakkan tangan di bagian atas yang sakit dan meruqyah dengan QS. Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas [Muttafaqun ‘alaih].

 

Penulis: Abul-Jauzaa’ Al-Bogory

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/05/al-ain-pandangan-mata.html

, ,

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#MuslimahSholihah

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

Pertanyaan:

Benarkah puasanya wanita yang tidak berhijab tidak diterima?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita meyakini amal saleh di bulan Ramadan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar, bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan Ramadan, dosanya juga dilipat gandakan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menyatakan:

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah:

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/430).

Orang yang melakukan maksiat di bulan Ramadan, dia melakukan dua kesalahan:

  • Pertama, melanggar larangan Allah
  • Kedua, menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.

Karena itulah, Rasulullah ﷺ memberi ancaman keras orang yang masih rajin bermaksiat ketika puasa. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” [HR. Bukhari 1903, Turmudzi 711 dan yang lainnya].

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan keterangan dari Ibnul Munayir:

هو كناية عن عدم القبول ، كما يقول المغضب لمن رد عليه شيئا طلبه منه فلم يقم به : لا حاجة لي بكذا . فالمراد رد الصوم المتلبس بالزور وقبول السالم منه

Ini merupakan ungkapan TIDAK DITERIMANYA PUASANYA. Seperti orang yang sedang marah, ketika dia menyuruh orang lain, tapi tidak dilakukannya, kemudian dia mengatakan, “Aku nggak butuh itu.” Sehingga maksud hadis, menolak puasa orang yang masih aktif berbuat dosa, dan tidak menerima dengan baik darinya. [Fathul Bari, 4/117]

Buka Aurat, Menebar Dosa

Ketika wanita memamerkan auratnya, yang terjadi, dia sedang menjadi sumber dosa. Dosa bagi setiap lelaki yang melihat dirinya. Itulah para wanita yang menjadi sebab banyak lelaki melakukan zina mata. Para wanita yang mengobral harga diri dan auratnya di depan umum, tanpa rasa malu.

Karena itu, cara memahaminya bukan sekali memamerkan aurat, sekali berbuat dosa, bukan demikian. Tapi juga perlu diperhatikan berapa jumlah lelaki yang terkena dampak dari dosa yang dia lakukan.

Karena itu, wajar jika Nabi ﷺ memberikan ancaman sangat keras untuk model manusia semacam ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan harumnya Surga, padahal bau harum Surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).

Puasanya Tidak Diterima

Jika puasa seseorang menjadi tidak bernilai gara-gara dosa yang dia kerjakan, apa yang bisa Anda bayangkan, ketika ada orang yang menjadi sumber dosa?? Layakkah dia berharap puasanya diterima? Bahkan karena sebab dia, banyak lelaki yang pahala puasanya berkurang.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25088-puasa-wanita-yang-tidak-berjilbab-tidak-diterima.html

,

AMALAN YANG BISA DILAKUKAN WANITA HAID

AMALAN YANG BISA DILAKUKAN WANITA HAID

#WanitaSholihah

AMALAN YANG BISA DILAKUKAN WANITA HAID

Pertanyaan:

Amalan-amalan apa saja yang bisa dilakukan oleh wanita yang sedang haid?

Jawaban

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Islam tidaklah melarang umatnya untuk beribadah, selama tidak melanggar aturan. Karena setiap manusia dituntut untuk menjalankan ibadah selama hayat masih dikandung badan. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu, sampai datang kepadamu Al-Yaqin.” (QS. Al-Hijr: 99)

Para ulama tafsir sepakat, bahwa makna Al-Yaqin pada ayat di atas adalah kematian.

Tak terkecuali wanita haid. Islam tidaklah melarang mereka untuk melakukan semua ibadah. Sekalipun kondisi datang bulan, membatasi ruang gerak mereka untuk melakukan amalan ibadah. Wanita haid masih bisa melakukan amalan ibadah, selain amalan yang dilarang dalam syariat. Di antara amalan yang DILARANG untuk dilakukan ketika haid adalah:

Pertama: Shalat

Dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

“Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79)

Kedua: Puasa

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Said radhiyallahu ‘anhu di atas.

Ketiga: Thawaf Di Kakbah

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengalami haid ketika berhaji. Kemudian Nabi ﷺ memberikan panduan kepadanya:

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji, selain dari melakukan Thawaf di Kakbah hingga engkau suci.” (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

Keempat: Menyentuh Mushaf

Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) tidak boleh menyentuh Mushaf seluruhnya ataupun hanya sebagian. Inilah pendapat para ulama Empat Madzhab. Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya, kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Dalil lainnya adalah sabda Nabi ﷺ:

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Alquran, kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih)

Kelima: I’tikaf

Inilah adalah pendapat mayoritas ulama dari Madzhab Maliki, Syafii, dan Hambali. Sementara Madzhab Hanafi menyatakan, bahwa i’tikaf wanita haid tidak sah, karena mereka memersyaratkan orang yang I’tikaf harus dalam keadaan puasa di siang harinya. Sementara wanita haid, tidak boleh puasa.

Pendapat yang berbeda dalam hal ini adalah Madzhab Zahiriyah.

Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa wanita haid tidak boleh melakukan I’tikaf. Dalilnya, firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُباً إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan., (Jangan pula hampiri mesjid), sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…(QS.  An-Nisa: 43).

Keenam: Hubungan Intim

Allah Ta’ala berfirman:

فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

“Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita, di waktu haid.” (QS. Al Baqarah: 222).

Selain enam jenis ibadah di atas, masih banyak amalan ibadah yang bisa dilakukan wanita haid. Di antaranya:

  1. Membaca Alquran tanpa menyentuh lembaran Mushaf. InsyaaAllah, ini pendapat yang lebih kuat. Penjelasan selengkapnya bisa kita pelajari di: Hukum Wanita Haid Membaca Alquran: https://konsultasisyariah.com/892-bolehkah-wanita-haid-membaca-al-quran.html
  2. Boleh menyentuh ponsel atau tablet yang ada konten Alqurannya, karena benda semacam ini tidak dihukumi Alquran. Sehingga, bagi wanita haid yang ingin tetap menjaga rutinitas membaca Alquran, sementara dia tidak memiliki hapalan, bisa menggunakan bantuan alat, komputer, atau tablet atau semacamnya.
  3. Berzikir dan berdoa. Baik yang terkait waktu tertentu, misalnya doa setelah azan, doa seusai makan, doa memakai baju atau doa hendak masuk WC, dll.
  4. Membaca zikir mutlak sebanyak mungkin, seperti memerbanyak tasbih (Subhanallah), tahlil (La ilaha illallah), tahmid (Alhamdulillah), dan zikir lainnya. Ulama sepakat, wanita haid atau orang junub boleh membaca zikir. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 25881)
  5. Belajar ilmu agama, seperti membaca membaca buku-buku Islam. Sekalipun di sana ada kutipan ayat Alquran, namun para ulama sepakat, itu tidak dihukumi sebagaimana Alquran, sehingga boleh disentuh.
  6. Mendengarkan ceramah, bacaan Alquran atau semacamnya.
  7. Bersedekah, infak, atau amal sosial keagamaan lainnya.
  8. Menyampaikan kajian, sekalipun harus mengutip ayat Alquran. Karena dalam kondisi ini, dia sedang berdalil, dan bukan membaca Alquran.

Dan masih banyak amal ibadah lainnya yang bisa menjadi sumber pahala bagi wanita haid. Karena itu, tidak ada alasan untuk bersedih atau tidak terima dengan kondisi haid yang dia alami.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/18741-amalan-wanita-haid.html

 

 

,

BAGIAN KEDUA: RINGKASAN TABLIGH AKBAR “PILAR-PILAR STABILITAS KEAMANAN NEGARA”

BAGIAN KEDUA: RINGKASAN TABLIGH AKBAR “PILAR-PILAR STABILITAS KEAMANAN NEGARA”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

BAGIAN KEDUA: RINGKASAN TABLIGH AKBAR “PILAR-PILAR STABILITAS KEAMANAN NEGARA”

Asy-Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahumallah

Dua Macam Manusia dalam Fitnah ‘Kekacauan’

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ؟ قَالَ: فَسَكَتُوا، فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ رَجُلٌ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا، قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Maukah kalian aku kabarkan, siapa orang yang paling baik dan paling buruk di antara kalian? Mereka pun diam (karena segan), sampai Nabi ﷺ bertanya tiga kali. Maka berkatalah seseorang: Tentu wahai Rasulullah. Kabarkanlah siapa orang yang terbaik dan terburuk di antara kami? Beliau ﷺ bersabda: Sebaik-baik kalian adalah orang yang dapat diharapkan kebaikannya, dan aman dari kejelekannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak dapat diharapkan kebaikannya, dan tidak aman dari kejelekannya.” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 2603]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

“Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang membuka pintu kebaikan, serta menutup pintu kejelekan. Dan ada pula orang-orang yang membuka pintu kejelekan, serta menutup pintu kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu kebaikan melalui dirinya, dan celakalah orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu kejelekan melalui dirinya.” [HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1332]

Sumber Keburukan dan Dampaknya

  • Keburukan itu bersumber dari dua hal: Setan dan hawa nafsu yang memerintahkan kepada kejelekan.
  • Dampaknya juga bisa menimpa dua pihak: Diri sendiri dan orang lain.

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ berdoa di pagi dan petang hari, serta ketika akan tidur:

اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

“Ya Allah Pencipta langit dan bumi, yang Maha Mengetahui semua yang gaib dan yang nampak, tidak ada yang berhak disembah selain Engkau, Rabb dan Pemilik segala sesuatu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan diriku, dan dari kejelekan setan dan ajakannya kepada dosa syirik, dan dari berbuat kejelekan terhadap diriku, atau aku menimpakannya kepada seorang Muslim.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Bakr radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2763]

Taat Kepada Pemerintah Termasuk Pilar Utama Keamanan

Keamanan tidak akan bisa diraih, kecuali dengan berjamaah (bersatu). Dan tidak ada persatuan tanpa pemerintah. Dan tidak ada pemerintah tanpa mendengar dan taat. Maka hendaklah kita tunduk dan patuh kepada pemerintah, dalam kebaikan.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

Bagian Kedua: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/755643357918482:0

Bagian Pertama: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/754675854681899:0

Ringkasan Tabligh Akbar Sebelumnya: “Mencintai Wali-wali Allah” di Masjid Istiqlal, Jakarta Indonesia, 25 Jumadal Akhirah 1437 / 3 April 2016.

Link: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/592089984273821:0

,

AHLI IBADAH YANG BODOH DAN AHLI ILMU YANG GEMAR MAKSIAT

AHLI IBADAH YANG BODOH DAN AHLI ILMU YANG GEMAR MAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

AHLI IBADAH YANG BODOH DAN AHLI ILMU YANG GEMAR MAKSIAT

Kita diperintahkan untuk berilmu sebelum beramal. Dan kalau punya ilmu seharusnya diamalkan. Namun di antara dua kelompok ini ada yang berilmu, namun sayangnya masih suka maksiat, sehingga menjadi contoh tidak baik bagi orang banyak. Ada pula yang ahli ibadah, namun tidak didasari ilmu, sehingga orang pun mengira ia pantas dicontoh, padahal ia membangun ibadahnya di atas kejahilan. Inilah dua golongan manusia yang amat berbahaya bagi orang awam.

Ibnu ‘Uyainah berkata:

احذروا فتنة العالم الفاجر والعابد الجاهل فإن فتنتهما فتنة لكل مفتون ومن تأمل الفساد الداخل على الأمة وجده من هذين المفتونين

“Waspadalah dengan bahaya ahli ilmu yang suka maksiat dan ahli ibadah yang jahil (alias: bodoh). Bahaya keduanya adalah bahaya bagi orang banyak. Siapa yang merenungkan bahaya yang menimpa umat ini, maka asalnya dari kedua golongan ini” (Ighotsatul Lahfan, 1: 229).
Semoga Allah menjauhkan kita dari kedua sifat ini: banyak ibadah namun tanpa ilmu dan berilmu namun enggan beramal.

Wallahu waliyyut taufiq.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/2434-ahli-ibadah-lagi-bodoh-dan-alim-lagi-gemar-maksiat.html

,

BERHATI-HATILAH DALAM MEMILIH GURU AGAMA KITA

BERHATI-HATILAH-DALAM-MEMILIH-GURU-AGAMA-KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BERHATI-HATILAH DALAM MEMILIH GURU AGAMA KITA

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Tidak semua orang yang berbicara, layak dijadikan sumber ilmu. Karena ilmu itu bagian dari agama, sehingga mengambil sumber ilmu, berarti mengambil sumber agama. Seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin mengatakan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Ilmu ini agama. Karena itu perhatikanlah, dari mana kalian mengambil agama kalian. (HR. Muslim 26 & ad-Darimi 427)

Karena itulah para ulama di masa silam memahami, bahwa mengambil guru termasuk tindakan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Kita bisa lihat, pernyataan Imam as-Syafi’i, ketika beliau memuji gurunya Imam Malik rahimahumallah. Beliau mengatakan:

رضيت بمالك حجة بيني وبين الله

“Aku ridha Malik sebagai hujjah, antara aku dengan Allah.” (at-Tahdzib, 8/10)

Untuk itu, saatnya kita lebih hati-hati dalam memilih sumber ilmu. Terlebih di zaman manusia jauh dari ilmu, sementara media liberal lebih berkuasa mengendalikan pola pikir mereka. Sehingga ustad yang dipilih harus memenuhi kriteria media liberal itu. Ini persis seperti yang pernah disabdakan Nabi ﷺ:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ

“Akan datang kepada manusia, masa-masa penuh kedustaan. Pendusta dianggap jujur dan orang jujur dianggap pendusta. Pengkhianat dianggap amanat, dan orang amanat dianggap pengkhianat.” (HR. Ibnu Majah 4036 dan dishahihkan dalam Shahih al-Jami’)

Wallahu ta’ala a’lam.

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25986-hukum-memilih-pemimpin-kafir.html

,

YANG SEPERTI APA, BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH DIHUKUMI KAFIR & MURTAD?

YANG SEPERTI APA, BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH DIHUKUMI KAFIR & MURTAD?

YANG SEPERTI APA, BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH DIHUKUMI KAFIR & MURTAD?

  • Tidak Semua Orang Yang Berhukum Dengan Selain Hukum Allah Itu Dihukumi Kafir

Sebagian orang terjerumus dalam kesalahan dalam menyikapi penguasa Muslim yang melakukan kekeliruan. Mereka menganggap demokrasi adalah haram, bahkan termasuk kemusyrikan. Karena di dalam konsep demokrasi rakyat menjadi sumber hukum dan kekuasaan ditentukan oleh mayoritas. Mereka bermudahan dan serampangan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada orang lainnya. Biasanya mereka berdalil dengan ayat (yang artinya):

“Barang siapa yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. al-Ma’idah: 44).

Anggaplah demikian, bahwa mereka, yaitu pemerintah, telah berhukum dengan selain hukum Allah, meskipun sebenarnya pernyataan ini harus dikaji lebih dalam. Namun ada satu hal penting yang perlu diingat, dan perkara inilah yang mereka lalaikan, bahwa TIDAK SEMUA ORANG YANG BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH ITU DIHUKUMI KAFIR! Mereka juga berdalih dengan ucapan para ulama yang menyatakan ‘Setiap orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka dia adalah thaghut’ (lihat al-Qaul al-Mufid [2/74]).

Berdasarkan itulah mereka menyebut pemerintah negeri ini sebagai rezim thaghut dan kafir. Kemudian, sebagai imbas dari keyakinan tersebut, mereka pun mencaci-maki penguasa dan menuduh orang-orang yang menyerukan ketaatan kepada penguasa sebagai kelompok penjilat. Bahkan mereka pun tidak segan-segan menggelari para ulama dengan julukan Ulama Salathin, alias kaki tangan pemerintah. Allahul musta’aan.

Maka untuk menjawab kerancuan ini, dengan memohon taufik dari Allah, berikut ini kami ringkaskan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan isi Kitab at-Tauhid:

Yang dimaksud dengan berhukum dengan selain hukum Allah yang dihukumi kafir dan murtad, sehingga layak untuk disebut sebagai thaghut, adalah dalam tiga keadaan:

[1] Apabila dia meyakini bahwa berhukum dengan selain hukum Allah -yang bertentangan dengan hukum Allah- itu boleh, seperti contohnya: meyakini bahwa zina dan khamr itu halal.

[2] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah itu sama saja (sama baiknya) dengan hukum Allah.

[3] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah lebih bagus daripada hukum Allah. Lalu, dia bisa dihukumi zalim -yang tidak sampai kafir- apabila dia masih meyakini hukum Allah lebih bagus dan wajib diterapkan namun karena kebenciannya kepada orang yang menjadi objek hukum maka dia pun menerapkan selain hukum Allah.

Demikian juga ia dikatakan fasik -yang tidak kafir- apabila dia menggunakan selain hukum Allah dengan keyakinan bahwa hukum Allah yang benar, namun dia melakukan hal itu -berhukum dengan selain hukum Allah- karena faktor dorongan hawa nafsu, suap, nepotisme dsb.

 

Sumber: http://abumushlih.com/kewajiban-menaati-ulil-amri.html/

 

, , ,

BOLEHKAH TERIMA SUMBANGAN ORANG KAFIR UNTUK PEMBANGUNAN MASJID?

BOLEHKAH TERIMA SUMBANGAN ORANG KAFIR UNTUK PEMBANGUNAN MASJID?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

BOLEHKAH TERIMA SUMBANGAN ORANG KAFIR UNTUK PEMBANGUNAN MASJID?

  • Jika Ada Orang Kafir Infak Masjid

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya jika ada non-Muslim menyumbang dalam pembangunan masjid?

Jawaban:

Dari beberapa fatwa ulama, menunjukkan BOLEHNYA menerima sumbangan dari orang kafir untuk pembangunan masjid. Di antaranya adalah:

Pertama: Fatwa dari Syaikh Sulaiman Al-Majid, anggota Majlis Syura Arab Saudi

Dibolehkan bagi orang kafir untuk membangun atau ikut andil dalam membangun masjid, karena hukum asalnya adalah halal. Adapun firman Allah ﷻ yang artinya:

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. Taubah: 54)

Makna ayat ini terkait diterimanya amal mereka di sisi Allah dan TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan keabsahan dan bolehnya infak untuk masjid. Dua hal ini jelas berbeda.

Sedangkan yang dilakukan Nabi ﷺ menghancurkan Masjid Dhirar yang dibangun oleh orang munafik, latar belakangnya adalah untuk menghancurkan konspirasi orang munafik untuk menyerang kaum Muslimin. Allahu a‘lam.

Fatwa Syaikh Sulaiman Al-Majid, no. 4600.

Kedua: Keterangan beliau ini juga diaminkan oleh Dewan Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. Ketika ditanya tentang hukum menggalang dana untuk pembangunan masjid yang diambil dari orang kafir, mereka menyatakan:

“TIDAK ADA MASALAH meminta sumbangan dari orang kafir dalam bentuk materi, kemudian digunakan untuk membangun masjid. Demikian juga dibolehkan menerima pemberian orang kafir tanpa melalui permintaan. Terlebih jika kalian (kaum Muslimin) tidak mampu membangun masjid, sementara kalian sangat membutuhkannya. Dan tidak ada kewajiban untuk mencari tahu sumber harta mereka, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalur yang haram. Akan tetapi, jika kalian tahu persis bahwa uang yang diberikan orang kafir itu adalah uang haram, maka tidak boleh diterima dan tidak boleh digunakan untuk membangun masjid.”

(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 75831 )

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/10451-hukum-non-Muslim-ikut-infak-pembangunan-masjid.html