Posts

, ,

LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH

LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH
 
Larangan berbuat kerusakan, secara jelas kita dapatkan pada hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
حَرَّمَ اللَّهُ مَكَّةَ فَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَلَا لِأَحَدٍ بَعْدِي أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ لَا يُخْتَلَى خَلَاهَا وَلَا يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا
 
Allah telah mengharamkan kota Makkah. Maka tidak dihalalkan buat seorang pun sebelum dan sesudahku melakukan pelanggaran di sana, yang sebelumnya pernah dihalalkan buatku beberapa saat dalam suatu hari. Di Makkah tidak boleh diambil rumputnya, dan tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh diburu hewan buruannya. [HR Bukhari]
 
Allah juga mengkisahkan doa Nabi Ibrahim dalam Al Baqarah ayat 126:
 
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
 
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian.
 
Juga dalam surat Ibrahim: 35:
 
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ} [ابراهيم: 35]
 
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
 
Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al Badr menjelaskan:
 
Allah menyeru dalam kitab-Nya hal penjagaan keamanan negeri tersebut ( Makkah ). Dan Allah memperingatkan dengan keras, bagi siapa saja yang berupaya untuk merusak keamanan dan mengganggu ketenangan di negeri tersebut, atau berupaya membuat ketakutan, kepanikan, kecemasan pada penduduk dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
 
Bahkan Allah azza wa jalla menjadikan keamanan di negeri tersebut termasuk kepada binatang-binatang ternak, hewan-hewan dan termasuk juga tanaman-tanaman. Tidak boleh berburu dan tidak boleh mengganggu (membuat lari), juga tidak boleh asal memotong pohon-pohon. Dan semua tindakan di atas adalah upaya menjaga keamanan negeri tersebut. Sebagaimana firman Allah:
 
و من دخله كان ءامنا
 
“Dan barang siapa memasukinya, amanlah dia” [QS Ali Imron 97]
 
Dan ayat-ayat mengenai perkara menjaga keamanan (Makkah) sangat banyak, di antaranya firman Allah:
 
{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} [الحج: 25]
 
Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. [QS Al Hajj: 25]
 
Bahkan ayat tersebut menjelaskan, Man yurid, siapa yang sekadar berniat, mempunyai keinginan di hati untuk berbuat penyimpangan, kejahatan, diancam oleh Allah dengan siksa yang pedih.
 
وقال الثوري ، عن السدي ، عن مرة ، عن عبد الله قال: ما من رجل يهم بسيئة فتكتب عليه
 
Sufyan Ats Tsauri telah meriwayatkan dari As Saddi, dari Murrah, dari Abdullah Ibnu Mas’ud yang mengatakan, bahwa tiada seorang yang berniat akan melakukan suatu perbuatan jahat (di Tanah Suci), melainkan dicatatkan baginya niat jahatnya itu [Lihat tafsir ibnu Katsir].
 
Kembali lagi, berhati-hatilah untuk sekadar menghalau atau mengusir burung-burung merpati di Tanah Haram, karena dalam Shahih Bukhari, disebutkan lebih detail lagi hadis di atas:
 
وَعَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ هَلْ تَدْرِي مَا لَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا هُوَ أَنْ يُنَحِّيَهُ مِنْ الظِّلِّ يَنْزِلُ مَكَانَهُ
 
Dan dari Khalid dari ‘Ikrimah: “Apakah kamu mengerti yang dimaksud dengan dilarang memburu binatang buruan? Yaitu menyingkirkannya dari tempat berlindung yang dijadikannya tempat bersinggah”.
 
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:
 
لو رأَيْتُ الظِّباءَ بالمدينةِ تَرتَعُ ما ذَعَرْتُها، قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ما بينَ لابَتَيْها حَرامٌ
 
Seandainya aku melihat seekor rusa berkeliaran di Madinah, aku tidak akan membuatnya terkejut (mengganggunya). Sebab Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Antara dua kawasan berbatu hitam (Madinah) adalah Tanah Haram” [HR Bukhari]
 
Semua hal ini berlaku untuk Makkah dan Madinah, sebagaimana sabda nabi ﷺ:
 
إنَّ إبراهيمَ حرَّم مكةَ ، و دعا لها ، و إنِّي حرَّمتُ المدينةَ ، كما حرَّم إبراهيمُ مكةَ ، و دعوتُ لها في مُدِّها و صاعِها مثلَ ما دعا إبراهيمُ لمكةَ .
 
Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah serta berdoa untuknya. Dan aku telah mengharamkan Madinah, sebagaimana Ibrahim mengharamkan Makkah. Dan berdoa untuknya, agar mud dan sho’nya diberkahi, sebagaimana Ibrahim berdoa untuk Makkah. [HR Bukhari].
 
Nah, berhati-hatilah. Bahkan hanya sekadar berniat untuk berbuat suatu maksiat, kezaliman atau kejahatan… Naudzubillahi min dzalik.
 
 
– Amnu Bilad, Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr, penjelasan dari ustadz Aris Munandar
– Tafsir Ibnu Katsir
– Fathul Bari, Ibnu Hajar Asqolaniy.

JANGANLAH ANGGAP DIRI TELAH SUCI

JANGANLAH ANGGAP DIRI TELAH SUCI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#TazkiyatunNufus

JANGANLAH ANGGAP DIRI TELAH SUCI

Allah ta’ala berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” [QS. An Najm: 32]

Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Si’di menerangkan, bahwa terlarangnya orang-orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci, dengan bentuk suka memuji-memuji dirinya sendiri. [Taisir Karimir Rahman].

 

Rasulullahﷺ pernah bersabda:

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

Janganlah kalian merasa diri kalian suci. Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik di antara kalian” [HR. Muslim].

 

Sumber: https://muslim.or.id/22354-diantara-tipu-daya-setan-merasa-diri-suci.html

,

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

MASIH SUKA SIBUK WAKTU "BANDING-BANDINGKAN" DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

Kita lihat disekitar kita,

Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang masih suka “ngurusin+banding-bandingin” orang lain. Setiap bertemu temannya, dia membicarakan temannya yang lain. Setiap bertemu saudaranya, dia membicarakan saudara yang lain. Dimulai dari cerita ini itu, berdalih dengan alasan ini itu, hingga sering tanpa sadar dia jatuh dan larut, bagai garam di dalam air, ke dalam hal-hal yang diharamkan Allah, seperti hasutan, ghibah dan namimah. Bahkan terlampau sering tazkiyah terucap bagi diri sendiri. Subhanallah..

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Berbangga diri, sampai-sampai dikhayalkan, “Bahwa engkau lebih baik dari pada saudaramu”. Padahal bisa jadi engkau tidak mampu mengamalkan sebuah amalan, yang mana dia mampu melakukannya. Padahal bisa jadi dia lebih berhati-hati dari perkara-perkara haram dibandingkan engkau, dan dia lebih suci amalannya dibandingkan engkau.” (Hilyatu al-Auliya’ juz 6, 391)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat 11)

Ingatlah wahai saudaraku,

Sesungguhnya Allah mengetahui semuanya. Dan tidak ada yang lepas dari perhitungan Allah, meskipun sebesar zarrah. Semua dicatat, meskipun dalam bisikan-bisikan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf 16-18)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat ini:

“Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara, kecuali dalam hal yang bermanfaat”. Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291)

Oleh karenanya, benarlah sabda Rasulullah ﷺ saat menjelaskan salah satu tanda baiknya keislaman kita:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976) Shahih oleh Syaikh Al Albani.

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan kejelekan amal perbuatan kami.” (HR. Nasa’i III/104, Ibnu Majah I/352/1110. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal. 144-145)

Nasihat bagi saya pribadi khususnya dan semoga bermanfaat bagi saudara sekalian.

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#FaidahTafsir

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [An-Nur: 30]

“Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [An-Nur: 31]

#BEBERAPA_PELAJARAN:

1) Larangan bagi kaum yang memiliki iman, laki-laki maupun perempuan, untuk melihat yang diharamkan, yaitu:

  • Aurat sesama jenis,
  • Lawan jenis yang bukan mahram,
  • Anak laki-laki yang “cantik”, haram bagi laki-laki melihatnya,
  • Orang-orang yang dapat memunculkan fitnah (godaan),
  • Perhiasan dunia yang menggoda dan menjerumuskan dalam dosa.

2) Perintah bagi kaum Mukminin laki-laki dan perempuan untuk menjaga kemaluan, yaitu:

  • Tidak melakukan hubungan badan yang haram, baik melalui jalan depan maupun belakang, atau selain itu,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal berhubungan badan dengannya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal menyentuhnya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal melihatnya.

3) Menjaga pandangan dan kemaluan lebih menyucikan dan memerbaiki diri, karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan Allah gantikan dengan yang lebih baik darinya. Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Barang siapa menahan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan menyinari penglihatan hatinya. Dan karena seorang hamba, apabila ia menjaga kemaluan dan pandangannya dari yang haram dan pengantar-pengantarnya, padahal syahwatnya mendorong untuk melakukannya, maka ia lebih dapat menjaga anggota tubuhnya yang lain dari perbuatan yang haram.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 566]

4) Kata (من) dalam ayat di atas menunjukkan makna “Sebagian”, yaitu sebagian pandangan diharamkan. Berarti ada sebagian pandangan yang dibolehkan, contohnya:

  • Melihat sebagai saksi,
  • Pekerjaan yang mengharuskan untuk melihat lawan jenis (sesuai kadar yang diperlukan),
  • Melamar calon istri, dan lain-lain. Maka dilakukan sebatas kebutuhan tanpa disertai syahwat.

5) Larangan terkait perhiasan dan pakaian wanita:

Pertama: Tidak boleh menampakkan perhiasan wanita (sama saja apakah secara langsung atau melalui foto dan video), yaitu:

  • Pakaian yang indah,
  • Berbagai macam perhiasan yang dikenakan,
  • Seluruh tubuh wanita adalah perhiasan. Dan bukan berarti setelah ditutup lalu boleh diperlihatkan. Tetap saja tidak boleh, baik secara langsung maupun melalui foto dan video. Maka termasuk kesalahan besar sebagian orang yang menjadikan wanita sebagai model pakaian yang diperdagangkan, baik pakaian yang sesuai syariat, apalagi yang tidak sesuai syariat.

Kedua: Diperkecualikan adalah pakaian luar yang memang harus dikenakan wanita dengan syarat tidak menggoda, yaitu kerudung yang menutup dari kepala sampai ke dada, dan jilbab yang menutupi seluruh tubuh, sesuai dengan syarat-syarat pakaian wanita yang disyariatkan.

Ketiga: Kemudian diberikan pengecualian orang yang boleh melihat seluruh perhiasan wanita, yaitu suaminya.

Keempat: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan mahramnya:

  • Bapaknya, kakeknya dan seterusnya ke atas,
  • Anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah,
  • Anak suaminya (anak tiri), cucu suaminya dan seterusnya ke bawah,
  • Saudara kandung; sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja,
  • Keponakan (anak saudara laki sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja),
  • Keponakan (anak saudara perempuan sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja).

Kelima: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan selain mahramnya:

  • Sesama wanita atau maknanya sesama wanita beriman (ada perbedaan pendapat ulama. Yang benar insya Allah adalah sesama wanita, walau kafir, maka batasan auratnya sama).
  • Budak-budak yang dimiliki secara penuh.
  • Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai syahwat sama sekali terhadap wanita, tidak pada kemaluannya, tidak pula hatinya.
  • Anak-anak yang belum mumayyiz, yang belum mengerti tentang aurat wanita, yang tidak muncul syahwatnya tatkala melihat wanita.

Keenam: Ayat yang mulia ini juga menjelaskan batas aurat dan perhiasan wanita saat bersama mahramnya atau sesama wanita, adalah tempat-tempat perhiasannya. Disebutkan dalam fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia:

أما ما يجوز للمرأة أن تبديه من زينتها لمحارمها غير زوجها فهو وجهها وكفاها وخلخالها وقرطاها وأساورها وقلادتها ومواضعها ورأسها وقدماها

“Adapun perhiasan yang dibolehkan bagi wanita untuk menampakkannya kepada mahramnya selain suaminya adalah: Wajahnya, dua telapak tangannya, perhiasan di pergelangan kakinya, gelang tangannya, kalung lehernya, semua anggota tubuh tempat perhiasan tersebut, kepalanya dan dua kakinya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 17/296 no. 2923]

[Disarikan disertai tambahan dari Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiril Kalaamil Mannan karya Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, hal. 566-567]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

Dikatakan oleh mereka yang menuhankan Yesus:

  • Nabi Isa mengetahui kapan Hari Kiamat, bisa menciptakan burung, menghidupkan orang mati.
  • Dalam suatu hadis, Nabi Muhammad ﷺ berkata, bahwa nyawanya berada di tangan Yesus Kristus.
  • Apakah Allah pernah bicara dan memberikan wahyu langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ?

Syubhat:

Hanya pada Allah pengetahuan Hari Kiamat [Surat Luqman ayat 43]  > Isa mengetahui Hari Kiamat [Surat Az- Zukhruf  ayat 61] > Siapakah Isa?? Muhammad saja tidak tahu kapan Hari Kiamat.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda mengutip [Surat Az- Zukhruf ayat 61] untuk dijadikan dalil Isa alaihi salam sebagai Tuhan?? Tidakkah Anda baca secara utuh, sejak ayat sebelumnya yaitu [Surat Az- Zukhruf  ayat 59]:

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba, yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian), dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel.”

Begitu jelas pada ayat tersebut, Allah menyebut Isa alaihi salam sebagai hamba-Nya dan nabi-Nya.

Di antara akidah keyakinan Islam adalah DIANGKATNYA Isa alaihi salam ke langit, dan dia akan TURUN ke bumi pada akhir zaman, menjelang Hari Kiamat. Dia akan menjadi imam dan hakim yang adil, serta MEMBUNUH BABI dan MENGHANCURKAN SALIB.

Mujahid yang hidup di generasi sesudah sahabat Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan [Surat Az- Zukhruf  ayat 61]:

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang Hari Kiamat.” Bahwa TANDA Kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum terjadinya Kiamat,yakni turunnya Isa alaihi salam ke bumi, merupakan PERTANDA telah dekatnya Hari Kiamat.

Sebagai tambahan, bahwa seluruh nabi dan rasul sudah memeringatkan umatnya akan datangnya Hari Kiamat. Bahkan Rasulullah Muhammad ﷺ telah menyebutkan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat, dan apa saja yang akan terjadi pada saat itu. Namun tidak seorang nabi pun yang tahu, kapan hari terjadinya Kiamat, TIDAK JUGA Nabi Isa alaihi salam.

Syubhat:

> Isa bisa menciptakan burung [Surat Ali Imran ayat 49]

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Lagi-lagi Anda gegabah dalam membaca ayat. Baiklah saya tampilkan [Surat Ali Imran ayat 49] tersebut:

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung DENGAN SEIZIN ALLAH. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya, dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah…”

Perhatikan bahwa semua itu ATAS SEIZIN ALLAH.

Setiap Rasul diberi oleh Allah mukjizat, sebagai tanda dan bukti kebenaran bagi umatnya, atas apa yang mereka bawa dari Allah. Di antara mukjizat para Rasul adalah membelah laut dan tongkat menjadi ular seperti Nabi Musa, membelah bulan dan keluar air dari jari jemari seperti Nabi Muhammad ﷺ, tidak terbakar saat dibakar kaumnya, seperti Nabi Ibrahim, dan menghidupkan orang mati dengan seizin Allah seperti Nabi Isa alaihimus salam.

Tidakkah Anda tahu, bahwa Nabi Isa bukan satu-satunya yang Allah izinkan menghidupkan orang mati? Pada [Surat al-Baqarah ayat 267-273] diceritakan kisah menghidupkan orang mati pada kaumnya Nabi Musa, yaitu pada kisah sapi betina. Juga Dajjal bisa menghidupkan orang mati untuk menipu orang-orang yang lemah imannya, agar mengakui dia sebagai Tuhan. Mengapa Anda tidak menuhankan Dajjal??

Syubhat:

Hadis Mutiara III No. 425 berbunyi “Muhammad bersabda: Nyawaku di tangan Dia anak putra Maryam. > Muhammad yang di agung-agungkan saja menyerahkan nyawanya ke tangan ISA-Yesus Kristus.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda ini mengarang hadis palsu?? Bisa sebutkan teks aslinya dan terdapat di kitab hadis mana? Atau barangkali Anda membeo kata pendeta-pendeta Anda, tanpa recek kebenarannya? Hmm … Barangkali tidak mengherankan, semacam ini sudah disinyalir dalam Alquran: “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kalian menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia dari sisi Allah,” padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedangkan mereka mengetahui.” [Surat Ali Imran ayat 78].

Al-Kitab saja berani mereka ubah-ubah, apalagi hadis Nabi …

Syubhat:

> Boleh dibuka Alquran, dan cari, apakah ada pernah Allah berbicara dan memberikan wahyu langsung kepada Muhammad ﷺ??? Jawabannya tidak ada, boleh dicek. Yang ada semua itu dari malaikat Jjibril… Pertanyaannya, siapa itu malaikat Jibril????

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Apa yang musti dipermasalahkan dengan ini? Rasulullah Muhammad ﷺ memang Nabi dan Rasul-Nya. Berkaitan dengan berbicara langsung, pernahkah Anda mendengar peristiwa Isra Mi’raj? Yaitu ketika Rasulullah ﷺ diangkat ke langit untuk menghadap Allah dan Allah berbicara langsung mengenai perintah melaksanakan shalat lima waktu? Namun kami kaum Muslimin tidak lantas mengagungkan Rasulullah ﷺ secara berlebihan, melebihi kedudukan beliau sebagai hamba dan rasul-Ny,a seperti halnya kaum Nasrani sekarang yang menuhankan Isa alaihi salam. Allah juga berkata secara langsung kepada Nabi Musa. Apakah karena alasan ini Anda juga akan menuhankan Musa??

Siapakah malaikat Jibril?

Dia adalah Ruhul Qudus. “Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Alquran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [QS 16: 102]

Dia adalah Ruhul Amin (Yang terpercaya karena membawa tugas menyampaikan wahyu Allah kepada para rasul-Nya. Dia tidak akan khianat akan tugasnya). “ Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril)” [QS 26: 193]

Dia yang diutus kepada Maryam. “Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” [QS 19: 19] “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia, (yang semasa dengan kamu).” [QS 3: 42]

Dia yang diutus kepada Nabi Zakaria. “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di Mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” [QS 3: 39]

Apakah Anda benci kepada malaikat Jibril seperti kaum Yahudi dahulu? Ini diberitakan Alquran [Surat Al Baqarah ayat 97]:  “Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Syubhat:

> Isa berasal dari Kalimatulah Allah… Kalimatulah artinya Firman = mulut Allah… Adakah di Alquran Allah berkata Muhammad bersal dari Kalimatulah Allah??? Jawabannya NO.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda ini asal komen. Sudah Anda baca artikel di atas?

Syubhat-syubhat dari orang-orang seperti Anda banyak menggunakan ayat Alquran sepotong-sepotong atau menggunakan ayat-ayat mutasyabihat yang kurang tegas maknanya, lalu ditafsiri sesuka hati. Semacam ini sudah Allah peringatkan dalam Ali Imran ayat 7: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Alquran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang Muhkamaat itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang Mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya), melainkan orang-orang yang berakal.”

Mengapa Anda tidak mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang begitu jelas dan tegas seperti [QS 4: 171]: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari memunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.”

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS 5: 72]

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://alhilyahblog.wordpress.com/2012/04/20/ayat-al-quran-menjadi-dalil-bagi-ketuhanan-nabi-isa-alaihis-salam/

 

, ,

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#DoaZikir
#MutiaraSunnah

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN

Adakah zikir yang ringan di lisan, namun berat di timbangan amalan?

Ada. Zikir tersebut adalah bacaan SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Keutamaannya disebutkan dalam hadis berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda:

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman. Ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan), yaitu SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” [HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694]

Penjelasan:

Hadis ini termasuk hadis mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan.

Beberapa faidah dari hadis di atas:

1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘Al Kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu.

2- Zikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan zikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadis ini Hasan).

Namun zikir yang lebih sempurna adalah zikir dengan hati dan lisan.

3- Allah mencintai kalimat yang Thoyyib (yang baik).

4- Penetapan sifat cinta (Mahabbah) bagi Allah.

5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia).

6- Adanya mizan (timbangan), dan amalan manusia akan ditimbang pada Hari Kiamat.

7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya.

8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘Subhana’ (Maha Suci).

9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘Subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘Subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya.

10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘Al Hamdu’.

11- Lafal zikir itu beraneka ragam. Dalam hadis ini disebut dua macam zikir sekaligus. Pertama, SUBHANALLAH WA BIHAMDIH. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni, walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan zikir kedua, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Kalimat ini ada, jika bersambung dengan kalimat lainnya, sebagaimana yang ada dalam hadis ini.

12- Keutamaan dua kalimat: SUBHANALLAH WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Hadis ini menunjukkan kita diperintah memerbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadis nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya.

13- Zikir SUBHANALLAH WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM sudah mengandung bacaan zikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya, yaitu menauhidkan Allah, yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘Laa ilaha illallah’.

14- Meraih keutamaan suatu amalan, tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya.

15- Boleh menggunakan kalimat bersajak, selama tidak menyusah-nyusahkan diri.

16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan, sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut.

17- Ada suatu kalimat yang berisi berita, namun berisi ajakan atau perintah, seperti yang ada dalam hadis ini, yang berisi ajakan untuk berzikir.

18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya ia awali dengan hadis niat, yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadis ini untuk menunjukkan, bahwa penutup kehidupan adalah dengan zikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik.

Wallahu a’lam.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berzikir pada-Nya.

Catatan:

Faidah tauhid di sini adalah kumpulan dari faidah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10273-faedah-tauhid-9-zikir-ringan-namun-berat-di-timbangan-amalan.html

HADIS-HADIS PALSU TENTANG KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA RAJAB

HADIS-HADIS PALSU TENTANG KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA RAJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBid’ah

HADIS-HADIS PALSU TENTANG KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA RAJAB

Penulis: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Di bawah ini akan saya berikan contoh hadis-hadis palsu tentang keutamaan shalat dan puasa di bulan Rajab.

Hadis Pertama

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ.

“Rajab bulan Allah, Syaban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku.

Keterangan: Hadis ini (مَوْضُوْعٌ) Maudhu’

Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): “Hadis ini Maudhu’.” [Lihat Maudhu’atush Shaghani (I/61, no. 129)]

Hadis tersebut memunyai matan yang panjang. Lanjutan hadis itu ada lafal:

لاَ تَغْفُلُوْا عَنْ أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ فَإِنَّهَا لَيْلَةٌ تُسَمِّيْهَا الْمَلاَئِكَةُ الرَّغَائِبَ…

“Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jumat pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaa-ib…”

Keterangan: Hadis ini (مَوْضُوْعٌ) Maudhu’

Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): “Hadis ini diriwayatkan oleh ‘Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin Sa’id al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin ‘Abdullah as-Shan’any, dari Humaid ath-Thawil dari Anas, secara marfu’. [Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha’if (no. 168-169)]

Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): “Hadis ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham. Mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata: “Rawi-rawi hadis tersebut adalah rawi-rawi yang Majhul (tidak dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka.” [Al-Maudhu’at (II/125), oleh Ibnul Jauzy]

Imam adz-Dzahaby berkata: “’Ali bin ‘Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadis.”

Kata para ulama lainnya: “Dia dituduh membuat hadis palsu tentang shalat ar-Raghaa-ib.”

Periksa: Mizaanul I’tidal (III/142-143, no. 5879).

Hadis Kedua

فَضْلُ شَهْرِ رَجَبٍ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ وَفَضْلُ شَهْرِ شَعْبَانَ كَفَضْلِي عَلىَ سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ، وَفَضْلُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى سَائِرِ العِبَادِ.

“Keutamaan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan Alquran atas semua perkataan, keutamaan bulan Syaban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan Ramadan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.”

Keterangan: Hadis ini (مَوْضُوْعٌ) Maudhu’

Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadis ini palsu.”

Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Hadisil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H).

Hadis Ketiga:

مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا عِشْرِيْنَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدُ مَرَّةً، وَيُسَلِّمُ فِيْهِنَّ عَشْرَ تَسْلِيْمَاتٍ، أَتَدْرُوْنَ مَا ثَوَابُهُ ؟ فَإِنَّ الرُّوْحَ اْلأَمِيْنَ جِبْرِيْلُ عَلَّمَنِيْ ذَلِكَ. قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ: حَفِظَهُ اللَّهُ فِيْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَأُجِيْرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَازَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ.

“Barang siapa shalat Maghrib di malam pertama Rajab, kemudian shalat sesudahnya dua puluh rakaat, setiap rakaat membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari azab kubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.’”

Keterangan: Hadis ini (مَوْضُوْعٌ) Maudhu’

Kata Ibnul Jauzi: “Hadis ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah Majhul (tidak dikenal biografinya).”

Lihat al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89), oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq

Al-Kinani (wafat th. 963 H).

Hadis Keempat

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍٍ وَصَلَّى فِيْهِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ مِائَةَ مَرَّةٍِ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَ فِي الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ مِائَةَ مَرَّةٍِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد, لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ يُرَى لَهُ.

“Barang siapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat rakaat, di rakaat pertama baca ‘Ayat Kursiy’ seratus kali, dan di rakaat kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga, atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati).

Keterangan: Hadis ini (مَوْضُوْعٌ) Maudhu’

Kata Ibnul Jauzy: “Hadis ini palsu, dan rawi-rawinya Majhul serta seorang perawi yang bernama ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadis.” [Al-Maudhu’at (II/123-124)]

Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah rawi yang lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)]

Hadis Kelima

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ عَدَلَ صِيَامَ شَهْرٍ.

“Barang siapa puasa satu hari di bulan Rajab, (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan.”

Keterangan: Hadis ini (ضَعِيْفٌ جِدًّا) Sangat Lemah

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu’.

Dalam sanad hadis ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin as-Saa-ib. Dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat al-Fawaa-id al-Majmu’ah (no. 290)]

Kata Imam an-Nasa-i: “Furaat bin as-Saa-ib Matrukul hadis.” Dan kata Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: “Para Ahli Hadis meninggalkannya, karena dia seorang rawi Munkarul Hadis, serta dia termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni.”

Lihat adh-Dhu’afa wa Matrukin oleh Imam an-Nasa-i (no. 512), al-Jarh wat Ta’dil (VII/80), Mizaanul I’tidal (III/341) dan Lisaanul Mizaan (IV/430).

Hadis Keenam

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْراً يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضاً مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ العَسَلِ، مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْماً وَاحِداً سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ.

“Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan ‘Rajab’. Airnya lebih putih dari susu, dan lebih manis dari madu. Barang siapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab, maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari air sungai itu.”

Keterangan: Hadis ini (بَاطِلٌ) Bathil

Hadis ini diriwayatkan oleh ad-Dailamy (I/2/281) dan al-Ashbahany di dalam kitab at-Targhib (I-II/224) dari jalan Mansyur bin Yazid al-Asadiy telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Imran, ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, …”

Imam adz-Dzahaby berkata: “Mansyur bin Yazid al-Asadiy meriwayatkan darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan Rajab. Mansyur bin Yazid adalah rawi yang tidak dikenal dan khabar (hadis) ini adalah batil.” [Lihat Mizaanul I’tidal (IV/ 189)]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Musa bin ‘Imraan adalah Majhul dan aku tidak mengenalnya.”

Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 1898).

Hadis Ketujuh

مَنْ صَامَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ كُتِبَ لَهُ صِيَامُ شَهْرٍ وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ أَغْلَقَ اللهُ عَنْهُ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ مِنَ النَّارِ وَمَنْ صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبٍ فَتَحَ اللهُ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ صَامَ نِصْفَ رَجَبَ حَاسَبَهُ اللهُ حِسَاباً يَسِيْراً.

“Barang siapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan. Barang siapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka. Barang siapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya delapan pintu dari pintu-pintu Surga. Dan barang siapa puasa Nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.”

Keterangan: Hadis ini (مَوْضُوْعٌ) Palsu

Hadis ini termaktub dalam kitab al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits al-Maudhu’ah (no. 288). Setelah membawakan hadis ini asy-Syaukani berkata: “Suyuthi membawakan hadis ini dalam kitabnya, al-Laaliy al-Mashnu’ah, ia berkata: ‘Hadis ini diriwayatkan dari jalan Amr bin al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu’.’”

Dalam sanad hadis tersebut ada dua perawi yang sangat lemah:

  1. ‘Amr bin al-Azhar al-‘Ataky.

Imam an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul Hadis.” Sedangkan kata Imam al-Bukhari: “Dia dituduh sebagai pendusta.” Kata Imam Ahmad: “Dia sering memalsukan hadis.”

Periksa, adh-Dhu’afa wal Matrukin (no. 478) oleh Imam an-Nasa-i, Mizaanul I’tidal (III/245-246), al-Jarh wat Ta’dil (VI/221) dan Lisaanul Mizaan (IV/353).

  1. Abaan bin Abi ‘Ayyasy, seorang Tabi’in shaghiir.

Imam Ahmad dan an-Nasa-i berkata: “Dia Matrukul Hadis (ditinggalkan hadisnya).” Kata Yahya bin Ma’in: “Dia matruk.” Dan beliau pernah berkata: “Dia rawi yang lemah.”

Periksa: Adh Dhu’afa wal Matrukin (no. 21), Mizaanul I’tidal (I/10), al-Jarh wat Ta’dil (II/295), Taqriibut Tahdzib (I/51, no. 142).

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Abu Syaikh dari jalan Ibnu ‘Ulwan dari Abaan. Kata Imam as-Suyuthi: “Ibnu ‘Ulwan adalah pemalsu hadis.” [Lihat al-Fawaaidul Majmu’ah (hal. 102, no. 288)]

Sebenarnya masih banyak lagi hadis lain tentang keutamaan Rajab, shalat Raghaa-ib dan puasa Rajab, akan tetapi karena semuanya sangat lemah dan palsu, penulis mencukupkan tujuh hadis saja.

 

Penulis: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Disalin dari kitab Ar-Rasaail (Kumpulan Risalah Fikih & HukuM) Jilid-1, Penulis Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas ~ Artikel almanhaj.or.id

https://almanhaj.or.id/1523-hadis-hadis-palsu-tentang-keutamaan-shalat-dan-puasa-di-bulan-rajab.html

, ,

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahdanManhaj

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

Memang benar, keutamaan bulan dalam kalender hijriyah itu bertingkat-tingkat, begitu juga hari-harinya. Misalnya, Ramadan lebih utama dari semua bulan, Jumat lebih utama dari semua hari, malam Lailatul Qadar lebih utama dari semua malam, dan sebagainya. Namun harus kita pahami bersama, bahwa timbangan keutamaan tersebut hanyalah syariat, yakni Alquran dan hadis yang shahih, bukan hadis-hadis dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu).

Di antara bulan Islam yang ditetapkan kemuliaannya dalam Alquran dan as-Sunnah adalah Rajab. Namun sungguh sangat disesalkan beredarnya riwayat-riwayat yang dha’if dan palsu seputar Rajab, serta amalan-amalan khusus Rajab, di tengah masyarakat kita. Hal ini dijadikan senjata oleh para pecandu bid’ah untuk memromosikan kebid’ahan-kebid’ahan ala jahiliyah di muka bumi ini.

Rajab, Definisi dan Keutamaannya

“Rajab” secara bahasa diambil dari kata:

« رَجَبَ الرَّجُلُ رَجَبًا »

Artinya: mengagungkan dan memuliakan. Rajab adalah sebuah bulan. Dinamakan dengan “Rajab” dikarenakan mereka dahulu sangat mengagungkannya pada masa jahiliyah, yaitu dengan tidak menghalalkan perang di bulan tersebut [Al-Qamus al-Muhith 1/74 dan Lisanul Arab 1/411, 422].

Tentang keutamaannya, Allah telah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلاَتَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. at-Taubah: 36)

Imam Thabari berkata: “Bulan itu ada dua belas, empat di antaranya merupakan bulan haram (mulia), di mana orang-orang jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada bulan tersebut. Hingga seandainya ada seseorang bertemu dengan pembunuh bapaknya, dia tidak akan menyerangnya. Bulan empat itu adalah Rajab Mudhar, dan tiga bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Demikianlah dinyatakan dalam hadis-hadis Rasulullah.” [Jami’ul Bayan 10/124-125].

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya 4662 dari Abu Bakrah bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Sesungguhnya zaman itu berputar, sebagaimana keadaannya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram. Tiga bulan berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada (akhir) dan Syaban.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Rajab sangat diagungkan oleh manusia pada masa jahiliyah adalah riwayat Ibnu Abi Syaibah [al-Mushannaf 2/345. Atsar shahih, dishahihkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 25/291 dan al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 957)] dari Kharasyah bin Hurr, ia berkata: “Saya melihat Umar memukul tangan-tangan manusia pada bulan Rajab, agar mereka meletakkan tangan mereka di piring, kemudian beliau (Umar) mengatakan: ‘Makanlah oleh kalian, karena sesungguhnya Rajab adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyah.’”

Wallahu a’lam

 

Sumber: http://abiubaidah.com/ensiklopedi-amalan-bulan-rojab.html/

,

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

Haid wanita dimulai dengan keluarnya darah haid, baik berupa bercak, ataupun darah kental, dan diakhiri dengan tanda suci haid. Jika telah muncul tanda suci, wanita tersebut berkewajiban melaksanakan shalat, puasa dan perintah agama lainnya.

Apa Saja Tanda Suci Haid?

Para ulama menegaskan bahwa tanda suci haid ada dua:

  1. Jufuf (kering): Yaitu, jika diletakkan kain atau kapas di kemaluan wanita, tidak akan dijumpai darah. Kapas tetap kering dan bersih. (Shahih Fiqh Sunnah 1/207,  Syarh Mumti’ 1/433, Mukhtashar Khaliil, 2/502)

2. Qashshatul Baidha. Apa itu Qashshatul Baidha?

أن يخرج من فرج المرأة ماء كالجير فالقصة من القص وهو الجير لأنها ماء يشبهه وقيل يشبه العجين وقيل شيء كالخيط الأبيض

وروى ابن القاسم كالبول وعلي كالمني قال بعضهم : يحتمل اختلافها باعتبار النساء وأسنانهن والفصول والبلدان إلا أن الذي يذكره بعض النساء يشبه المني

Yaitu cairan putih seperti kapur, yang keluar dari kemaluan wanita. Ada yang berpendapat, qashshah itu mirip adonan (tepung). Pendapat lain mengatakan: qashshah adalah cairan seperti benang putih.

Diriwayatkan dari Ibnul Qasim, bahwa qashshah seperti halnya kencing. Dan diriwayatkan dari Ali, cairan itu seperti mani. Sebagian ulama Malikiyyah menjelaskan, bahwa bisa jadi cirinya berbeda, melihat kondisi tiap wanita dan usianya, iklim cuaca, dan lingkungan tempat tinggal. Hanya saja disebutkan sebagian wanita, bahwa qashshah itu cairan mirip mani. (Syarh Mukhtashar Khalil, 2/502)

Lalu Tanda Suci Mana yang Harus Dipakai?

Pada umumnya, tanda seorang wanita telah selesai dari haid, dengan keluarnya cairan putih (Qashshatul Baidha). Kecuali jika kebiasaaanya tidak keluar cairan putih, maka yang menjadi acuan adalah al-Jufuf (kering).

Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu Alqamah, beliau berkata:

Dahulu ada beberapa wanita menemui ibunda kaum Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu’anha, dengan membawa kapas yang terdapat cairan kekuningan (shufrah), yang berasal dari darah haid. Mereka bertanya tentang hukum shalat, tatkala keluar cairan tersebut. Beliau radhiyallahu’anha menjawab:

لا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنَ الْحَيْضَةِ.

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci), sampai kalian melihat Qashshatul Baidha’ (Cairan Putih) sebagai tanda suci dari haid.” (HR. Abu Dawud 307, An Nasai 1/186, Ibnu Majah 647)

Wanita yang tidak mengalami keluarnya cairan putih tatkala haid berhenti, maka tanda sucinya dengan jufuf. Keterangan ini dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, di mana beliau mengatakan:

“Suatu yang diketahui oleh para wanita, adalah keluarnya cairan putih ketika haid telah berhenti. Akan tetapi sebagian wanita tidak keluar cairan ini. Maka tatkala itu ia tetap dalam kondisi haid, karena tidak melihat cairan putih. Dan tanda suci wanita tersebut dengan cara meletakkan kapas putih di kemaluannya, sementara kapas tidak berubah (tetap kering dan bersih).” (Syarhul Mumti’ 1/433)

Tanda Suci Wanita Tergantung Kebiasaannya

Madzab Malikiyyah merinci kebiasaan suci dengan jufuf dan cairan putih pada diri seorang wanita dengan penjelasan yang gamblang, walhamdulillah.

Al Khurasyi berkata:

أن القصة أبلغ أي أقطع للشك وأحصل لليقين في الطهر من الجفوف لأنه لا يوجد بعدها دم ، والجفوف قد يوجد بعده وأبلغية القصة لا تتقيد عند ابن القاسم بمعتادتها فقط بل هي أبلغ من الجفوف لمعتادتها ولمعتادتهما ولمعتادة الجفوف فقط لكن إذا رأت معتادة القصة فقط أو مع الجفوف الجفوف فتنتظر القصة لآخر الوقت المختار

Tanda suci dengan cairan putih lebih menghilangkan keraguan, dan lebih meyakinkan, bahwa itu telah suci, dari pada tanda jufuf. Karena jika telah keluar cairan putih, tidak akan keluar darah lagi. Adapun tanda suci jufuf terkadang masih keluar darah, setelah tanda tersebut muncul. Ibnul Qasim berpendapat, kepastian tanda suci dengan cairan putih tidak perlu diragukan lagi bagi seorang wanita, yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih. Bahkan tanda ini lebih meyakinkan dari pada jufuf, bagi wanita yang memiliki kebiasaan tanda suci dengan cairan putih saja. Atau wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih sekaligus jufuf, atau wanita dengan kebiasaan suci dengan jufuf saja. Akan tetapi jika wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih saja, atau kedua-duanya (suci dengan cairan putih dan jufuf) melihat tanda jufuf, maka hendaknya dia menunggu cairan putih keluar, sampai akhir waktu terpilih (yang menjadi kebiasaannya). (Syarh Mukhtashar Khaliil 2/502)

Dari penjelasan ulama Malikiyyah di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:

  1. Jika wanita dengan kebiasaan suci dengan cairan putih lalu mendapati tanda jufuf, maka dia harus menunggu sampai keluar cairan putih, sampai waktu terpilih, yaitu sampai satu hari misalnya. Batas waktu satu hari ini merupakan pendapat Ibnu Utsaimin dan Ibnu Qudamah rahimahullah. Beliau rahimahullah menegaskan:

فعلى هذا لا يكون انقطاع الدم أقل من يوم طهرا

“Dengan demikian, terputusnya darah selama kurang dari sehari, tidaklah dianggap sebagai suci. (Al Mughni, 1/399)

2. Jika wanita dengan kebiasaan suci dengan jufuf, lalu mendapati cairan putih, maka tidak perlu menunggu jufuf. Namun jika pertama kali yang di lihat tanda jufuf, maka tidak perlu menunggu cairan putih.

3. Jika wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan kedua tanda tersebut, lalu mendapati tanda jufuf keluar, maka dia harus menunggu cairan putih, sampai batas waktu terpilih seperti poin 1. Namun jika yang nampak pertama kali tanda cairan putih, maka tidak perlu menunggu jufuf.

Bagaimana Tanda Berhenti dari Nifas?

Saudariku, tanda suci wanita haid juga berlaku bagi wanita nifas. Tidak ada perbedaan.

Imam Syaukani berkata dalam Nailul Authar (1/286):

“Para ulama telah sepakat, bahwasanya hukum nifas sama dengan haid, dalam perkara yang dibolehkan, perkara yang dilarang, yang dibenci serta yang dianjurkan.” (Shahih Fiqh Sunnah, 1/216).

Wallahua’lam

وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين

Penyusun: Ummu Fatimah

Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

[Artikel WanitaSalihah.Com]

Maraji’:

Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal, Makatabah Taufiqiyyah.

Asyarhul Mumti’Ala Zaadil Mustaqni’, Muhammad Shalih Al Utsaimin, Muassasah Aasam Riyadh.

http://islamport.com/d/2/mlk/1/19/647.html

Sumber:

http://wanitasalihah.com/kupas-tuntas-tanda-haid-telah-berhenti/#comment-45086

Berikut ini adalah forum tanya jawab dalam website yang sama:

Pertanyaan:

Disebutkan dalam tulisan di atas: “Yaitu cairan putih seperti kapur, yang keluar dari kemaluan wanita. Ada yang berpendapat qashshah itu mirip adonan (tepung). Pendapat lain mengatakan qashshah adalah cairan seperti benang putih.”

Nah kalau dicek dengan kapas putih sudah keluar cairan putih, tapi masih ada sedikit sekali warna kuning mudanya, bagaimana hukumnya? Apakah sudah bisa mandi wajib?

Jawaban:

Insyaallah sudah suci. Yang kami tahu, adonan tepung itu juga tidak putih seperti cat tembok, tapi ya seperti tepung (agak buram sedikit). Allahua’lam

Pertanyaan:

Kalau pada cairan putih tersebut tetap ada warna kuningnya, tetapi tidak sedikit (kira-kira perbandingan warnanya 50:50), apakah sudah suci juga?

Jawaban:

Cairan putih yang menjadi tanda haid itu seperti adonan tepung atau mani atau kencing. Silakan Ukhti pilih yang mana.

Pertanyaan:

Saya memiliki kebiasaan keluar cairan putih seperti tepung. Namun pada haid kali ini, yang keluar cairan putih seperti biasa, tetapi ada cairan warna kuning tua (kira-kira setengah bagian berwarna putih, setengah bagian lain berwarna kuning tua, agak mendekati warna coklat). Makanya saya bingung, apakah sebenarnya saya sudah suci atau belum. Sebaiknya saya tetap menunggu cairan putih, atau mulai mandi wajib? Karena setelah keluar cairan tersebut, setelah saya cek lagi beberapa kali, yang keluar warnanya kuning keruh dan kapas bersih. Apakah sebenarnya saya sudah suci atau belum?

Jawaban:

Terkadang cairan putih sudah keluar lebih dahulu tanpa sepengetahuan wanita haid tersebut, lalu keluar lendir kekuningan. Karena telat mengecek, jadilah lendir putih tadi tertumpuk bersama lendir kuning. Jika kasus Ukhti seperti ini, insyaallah sudah suci. Karena lendir kuning yang keluar setelah cairan putih keluar, bukan lagi darah haid. Wallahuta’ala a’lam

Pertanyaan:

Kebiasaan haid saya 6-7 hari sudah keluar qashash dan saya memastikannya dengan jufuf. Namun kali ini berbeda. Pada hari ketujuh saya masih keluar darah tapi cuma sekali waktu saja. Hari kedelapan (kemarin) saya mandi wajib dan berpuasa, karena saya lakukan jufuf sudah bersih dan kering. Namun malam harinya saya keluar flek kecoklatan. Apa kah saya masih dihitung haid atau sudah suci? Bagaimana puasa saya di hari pertama? Sah atau batal? Dan jika saya ingin berpuasa di hari selanjutnya, apakah boleh?

Jawaban:

Itu masih masa haid. Wallahu a’lam.

Pertanyaan:

Saya haid mulai 29 Mei dan suci 7 Juni. Namun 11 Juni keluar lagi flek kecoklatan. Padahal pada 6 juni darah sudah tidak keluar lagi, dan saya mengecek dengan kapas sudah bersih. Apakah flek tersebut darah haid atau bukan? Dari 7 Juni saya mulai puasa, apakah puasa saya sah dalam kondisi suci?

Jawaban:

Flek 11 Juni bukan haid, karena Ukhti sudah yakin suci 6 Juni. Dan flek coklat yang keluar setelah keluar tanda suci TIDAK lagi dianggap sebagai haid, sebagaimana hadis Ummu Athiyah.

Pertanyaan:

Biasanya masa haid saya 4-5 hari, tapi suka tambah 2 hari untuk memastikan. Kali ini saya menghitung haid sampe hari keenam. Di hari hari keempat dan kelima, sudah tidak keluar darah. Pas hari keenam saya mandi wajib, tapi malamnya kluar flek cokelat sedikit sekali. Apa itu masih darah haid atau bagaimana?

Jawaban:

Maaf Ukhti, apa maksud dengan kalimat Anda: “Tapi suka menambahkan dua hari untuk memastikan?” Haid itu ada batasannya. Apa batasannya? Batasannya ada tidaknya darah. Dan flek yang bersambung dengan darah itu termasuk darah haid.

Jadi kita tidak boleh menambahkan masa haid, padahal sudah bersih. Dan kita juga tidak boleh memercepat masa haid, sementara masih keluar darah/flek.

Pertanyaan:

Saya punya kebiasaan haid hari 1-4 keluar darah merah, hari kelima dan keenam biasanya cuma flek dan cairan kuning. Kemudia hari ketujuh sampai hari kesembilan biasanya sudah kering sampai hari kesepuluh baru keluar cairan putih. Semisal saya mandi wajib pada hari keenam karena merasa sudah kering dan saya yakin tidak kluar darah merah lagi, kemudian pada hari ketujuh saya puasa tapi ternyata keluar cairan kuning sedikit, apakah puasa saya sah?

Jawaban:

Kami hanya menasihati sebagaimana nasihat Ibunda kaum Mukminin,’Aisyah radhiyallahu’anha:

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci), sehingga kalian melihat cairan putih.”

Pertanyaan:

Saya masih bingung dengan waktu pasti, kapan haid itu berhenti. Untuk flek coklat yang muncul di pembalut saya, biasanya tampak hingga hari kedelapan saya haid. Dan setelah itu, yang muncul noda kekuningan dan keruh. Untuk noda kuning/keruh itu, apa termasuk haid juga? Soalnya saya pernah baca artikel yang menyebutkan hadis tentang “Tidak mengganggap warna kekuningan itu sebagai haid”. Mohon penjelasannya. Berdasar kebiasaan, lendir putih saya muncul di hari ke sebelas atau selebihnya, sedangkan flek coklat saya sudah selesai di hari kedelapan. Di hari kesembilan dan kesepuluha dan seterusnya, yang sering muncul adalah warna kekuningan. Mohon dibantu. Katanya kan, yang pasti tanda berhentinya haid itu adalah adanya lendir atau sudah berlangsung lebih dari 15 hari. Makanya untuk cari aman, saya menunggu sampai lendir tersebut muncul (hari ke 11). Tapi saya dilanda keraguan karena melewatkan ibadah di hari ke 9 dan 10, hanya karena keberadaan noda kuning yang saya masih bingung hukumnya bagaimana. Mohon bantuannya. Terimakasih banyak.

Jawaban:

Masalah haid yang menimpa wanita memang menjadi lahan empuk bagi setan, untuk memberi rasa was-was kepada kaum hawa. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan was was yang tersembunyi.

Ukhti, noda coklat, kuning yang bersambung dengan darah haid termasuk haid. Bersabarlah hingga cairan putih keluar setelah itu mandi. Itulah pesan ibunda kita Aisyah radhiyallahu’anha.

Pertanyaan:

Saya punya kebiasaan haid hari pertama hingga hari keempat keluar darah merah. Hari kelima dan keenam cuma flek coklat dan cairan kuning, hari ketujuh sampai kesembilan biasanya sudah kering sampai hari kesepuluh keluar lendir putih. Semisal saya mandi wajib hari keenam karena saya merasa sudah kering, dan biasanya tidak keluar darah lagi, terus hari ketujuh saya puasa, tetapi ternyata keluar cairan kuning sedikit, apakah puasa saya sah? Terus bagaimana seharusnya saya menentukan masa suci, sementara saya mengalami jufuf sekaligus keluar cairan putih, dalam selang waktu yang agak lama (tiga hari)? Ini membingungkan saya. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Kami hanya menasihati, sebagaimana nasihat ibunda kaum Mukminin’Aisyah radhiyallahu’anha,

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci) sehingga kalian melihat cairan putih.”

Pertanyaan:

Saya telah mandi suci pada jam 11 pagi, tapi ketika Maghrib saya melihat noda berwarna coklat muda sekali. Apakah saya harus mandi suci lagi?

Jawaban:

Apakah sebelum mandi Ukhti sudah melihat cairan putih keluar?

Jika iya, Ukhti tak perlu pedulikan cairan coklat dan kuning setelah keluar cairan putih, karena itu bukan lagi darah haid.

Pertanyaan:

Saya hari ketujuh sudah keluar cairan putih sejenis lendir, tapi sesudah itu masih ada flek kuning. Itu bagaimana? Apakah saya masih haid?

Jawaban:

Jawaban pertanyaan Ukhti ada di artikel berikut insyaallah:

httapi://wanitasalihah.com/kupas-tuntas-hukum-flek-coklat-ketika-haid/

Pertanyaan:

Jika kita tidak tahu atau lupa, cairan yang dikeluarkan setelah haid kuning atau putih, lalu kita menganggapnya suci, maka kita mandi, namun beberapa jam kemudian kita tidak sholat karena keluar cairan kecoklatan. Apa kita harus mandi wajib lagi?

Jawaban:

Tidak tahu atau lupa?

Ukhti, tidak tahu, obatnya dengan mengetahui, belajar, memahami dan mengilmui. Jika kita sudah tahu tanda suci seperti apa, maka kita amalkan.

Dengan ilmu, seseorang bisa yakin atas pilihannya. Dengan ilmu, seorang wanita tidak gampang bingung. Dengan ilmu, seorang wanita tidak mudah dihantui rasa was-was. Dengan ilmu, seseorang beramal di atas keyakinan.

Nah, jika kita sudah yakin teentang tanda suci haid, jangan biarkan flek coklat membuat Ukhti menjadi ragu-ragu. Karena jika sudah yakin suci, flek coklat yang keluar setelah tanda suci BUKAN darah haid.

Pertanyaan:

Biasanya masa haid saya 4-6 hari. Tapi di minggu ini saya mengalami siklus haid cuma 4 hari (yang 1 harinya tanggal 11 sudah bersih). Tapi waktu pagi tgl 12 keluar flek coklat sedikit, tapi saya sudah mandi wajib pada pagi itu. Apakah itu tindakan yang benar apa tidak? Terus siangnya keluar darah warna merah segar, apakah itu merupakan darah haid apa bukan?

Jawaban:

Suci haid ada tandanya Ukhti. Jika sudah keluar salah satu dari kedua tanda tersebut, Ukhti telah suci.

Pertanyaan:

Saya ibu menjelang masa menopause. Sudah beberapa bulan ini haid saya hanya keluar seperti flek coklat, tetapi hanya sekali saja, misalnya waktu Ashar. Jadi saya tidak melakukan sholat Ashar karena saya angap itu adalah haid. Tetapi sampai masuk waktu Isya, flek itu sudah tidak ada lagi. Apakah itu termasuk haid atau bukan? Dan kalau bukan termasuk haid, apakah saya bisa melakukan sholat tanpa mandi bersih. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Flek coklat teranggap sebagai haid bila memenuhi syarat:

~Bersambung dengan darah haid

~Keluar di masa haid

Jika flek tsb keluar “sendirian”, tidak ada darah yang mengikutinya, dan keluar bukan di masa haid, maka flek tsb dianggap sebagai istihadhah. Ibu tidak perlu mandi wajib, tapi cukup dibersihkan layaknya kencing. Dan berwudhu setiap kali shalat.

Pertanyaan:

Hari kemarin sore saya sudah tidak keluar darah haid bersih hingga pagi. Kemudian saya bersuci. Ketika menjelang waktu Maghrib, saya melihat ternyata masih ada flek coklat. Saya jadi ragu-ragu, apakah itu darah haid atau bukan namanya. Saya teruskan untuk sholat Maghrib, meskipun saya ragu-ragu. Dan saya pun baru mengetahui dari artikel ini, bahwa untuk mengetahui darah haid sudah berhenti atau belum adalah dengan melihat keluarnya cairan putih. Bagaimana itu hukumnya ketika saya ragu-ragu bahwa saya telah suci atau belum namanya. Saya tetap menjalankan sholat? Mohon penjelasannya

Pertanyaan:

Afwan ukhty kapan waktu-waktu untuk mengecek masa suci. Misalnya, apakah setiap waktu Subuh dan Ashar? Atau tergantung waktu awal keluarnya darah haid? Misalnya saya keluar darah haid waktu Ashar, maka akan mengecek beres atau belum di waktu Ashar lagi di hari-hari menjelang berakhirnya haid. syukron

Jawaban:

Untuk memastikan tanda suci haid, bisa dilakukan setiap saat Ukhti. Lebih sering tentu lebih baik. Karena jika tidak rutin dilakukan pengecekan, dikhawatirkan tanda suci sudah keluar, sementara kita tak menyadarinya.

Pertanyaan:

Apakah lendir yang berwarna kekuningan (tidak terlalu keruh tapi cukup untuk membedakan warna kapas yang terkena lendir dan tidak) itu masih termasuk haid? Soalnya lendir saya biasanya berwarna bening, tapi ketika di kapas dia berwarna kekuningan, dan setelah itu keluar flek yang dibarengi dengan lendir kekuningan tadi. Apakah masih termasuk darah haid?

Jawaban:

Lendir kuning yang keluar di masa haid sebelum tanda suci, maka termasuk haid.

Lendir kuning yang keluar setelah tanda suci, maka bukan termasuk haid.

Tanda sucinya apa?

Lendir putih ada yang mengatakan seperti mani, atau adonan tepung, atau seperti kencing.

Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya biasanya haid sekitar 2-3 hari. Tapi setelah itu flek coklat sedikit- sedikit, kurang lebih sekitar dua hari, lalu tidak keluar darah sama sekali. Tapi waktu dicek dengan kapas masih ada noda-noda coklat. Lalu saya sudah harus bersuci atau belum?

Jawaban:

Saran kami, silakan Ukhti baca baik-baik artikel tentang haid di web ini.

Pertanyaan:

Hari-hari akhir haid, saya sering menemukan tanda putih, tetapi ada sedikit sekali warna kekuningan. Saya terkadang bingung. Jadi saya menunggu sampai warnanya putih/ bening. Nah yang ingin saya tanyakan, kapan tepatnya saya benar-benar suci dan bisa mandi wajib?

Apakah dimulai saya melihat tanda putih walau ada sedikit sekali kuning? Atau saya tunggu hingga saya menemukan tanda benar-benar putih/ bening. Terima kasih.

Jawaban:

Ada sedikit kuning tapi ada yang putih kan?

Jika sudah ada cairan putih, insyaallah sudah suci. Walaupun satu menit kemudian ada lendir kuning. Dan lendir kuning ini TIDAK dianggap sebagai haid, berdasarkan hadis Ummu Athiyah radhiyallahu’anha.

Allahua’lam

Pertanyaan:

  1. Ukhti, bagaimana jika saya mulai haid di awal atau pertengahan waktu shalat Ashar (misalkan), apakah saya harus mengqodho shalat asar tersebut atau tidak?
  2. Bagaimana jika saya selesai haid di akhir waktu shalat (sudah mepet habis waktu shalatnya). Contoh di waktu akhir Maghrib akan masuk waktu Isya, lalu saya mandi, apakah saya harus mengqodho shalat Maghrib tersebut?

Jawaban:

  1. Jika menunda shalat karena uzur yang syari, bukan karena menyepelekan shalat, maka tidak perlu mengqadha. Walaupun yang lebih baik mengqadhanya. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibnu Baz.
  2. Sebaiknya diqadha. Karena waktu shalat Maghrib itu sama dengan waktu shalat Isya, bagi orang yang memiliki uzuur seperti musafir, wanita haid.

Allahua’lam

Pertanyaan:

Perasan saya, keluar cairan putih yang bercampur warna kuning. Kemudian, saya lihat hari keesokannya keluar warna coklat (kering) dan dia berbau darah. Adakah saya masih haid setelah keluar warna coklat, atau sudah suci?

Pertanyaan:

Bagaimana jika darah sudah sedikit, dan mungkin sudah berhenti, tetapi sorenya muncul flek kecoklatan. Apakah itu termasuk suci atau tidak?

Jawaban:

Suci haid dengan keluarnya cairan putih.

Keluarnya darah haid, walaupun itu sedikit sekali, tetap dihukumi sebagai haid sampai keluar cairan putih. Wallahua’lam.

Pertanyaan:

Kemarin saat ana haid, setelah haid berhenti, paginya ana mandi wajib. Ana tunggu sampai sore tapi tidak keluar darah lagi. Pas Maghrib ana cek juga bersih. Akhirnya ana sholat Maghrib. Tapi ketika ana mau sholat Isya, ana cek keluar cairan kuning keruh agak putih, tapi tidak bau amis seperti darah haid. Esok harinya juga tidak keluar lagi. Bagaimana ini? Apakah cairan itu termasuk haid atau istihadah? Apakah ana harus mandi lagi? Apakah ana dosa karena usdah mulai sholat? Mohon penjelasannya

Jawaban:

Subhanallah.

Ukhti, jangan biarkan diri dihantui rasa was-was, karena itu bentuk gangguan setan. Banyak-banyaklah memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan setan.

Apakah kebiasaan Ukhti suci dari haid itu dengan jufuf (keringnya rahim)?

Jika Ukhti sudah yakin suci dengan jufuf, ya sudah…yakini itu sebagai suci.

Cairan kuning, coklat yang keluar setelah tanda suci bukan lagi disebut sebagai haid.

Wallahua’lam

, , ,

APA ARTI JUNUB YANG MENGHARUSKAN MANDI?

APA ARTI JUNUB YANG MENGHARUSKAN MANDI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#MandiJunub

APA ARTI JUNUB YANG MENGHARUSKAN MANDI?

Junub secara bahasa berarti jauh. Sementara menurut para ulama fikih, adalah orang yang berkewajiban mandi, karena melakukan jimak (hubungan badan) atau karena keluar mani.

Az-Zuhri berkata:

إنما قيل له جنب لأنه نهي أن يقرب مواضع الصلاة ما لم يتطهر فتجنبها وأجنب عنها أي تنحى

Seseorang disebut junub, karena dia dilarang mendekat tempat-tempat shalat selama ia belum bersuci. Dia menghindar dan menjauhkan diri dari shalat, yaitu dengan menyingkir. (Lisanul Arab, 3:209)

Junub bisa disebabkan karena jimak tanpa keluar mani, atau keluar mani tanpa jimak.

  1. Jimak Tanpa Keluar Mani

Jimak adalah masuknya dzakar (kemaluan laki-laki) ke dalam farji (kemaluan wanita), walaupun tidak sampai mengeluarkan mani. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا جَلَس بَيْن شُعَبِها الْأَربَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ

“Tatkala seorang suami duduk di antara empat cabang istrinya (menindihnya -penj), kemudian dia bersungguh-sungguh terhadapnya (menggaulinya -penj), maka sungguh dia wajib mandi.” (HR. Bukhari No. 291, Muslim no. 348)

Imam Muslim menambahkan lafal:

وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

“Walaupun tidak sampai keluar mani.”

An-Nawawi menjelaskan:

أن إيجاب الغسل لا يتوقف على نزول المني ، بل متى غابت الحشفة في الفرج : وجب الغسل على الرجل والمرأة ، وهذا لا خلاف فيه اليوم ، وقد كان فيه خلاف لبعض الصحابة ومن بعدهم ، ثم انعقد الإجماع على ما ذكرناه ، وقد تقدم بيان هذا .

Makna hadis ini, kewajiban mandi tidak hanya terpaku pada keluarnya mani. Bahkan kapan pun kepala dzakar itu tenggelam di kemaluan wanita, maka suami istri tersebut wajib mandi. Saat ini tidak ada perselisihan tentang masalah ini. Dulu pernah terjadi perselisihan pendapat di kalangan sebagian sahabat Nabi, dan generasi setelah mereka. Kemudian terjadi kesepakatan, sebagaimana yang telah kami jelaskan. Telah berlalu penjelasan ini. (Syarh Muslim, 4:40)

  1. Keluarnya Mani

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallau’anhu, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا المَاءُ مِنَ المَاءِ

“Sesungguhnya air (manid) itu dari air (mani).” (HR. Muslim no. 343)

Syaikh Athiyah Muhammad Salim berkata:

هذا من حسن الجناس في اللغة؛ لأن الماء الأول غير الماء الثاني، فالماء الأول هو: الماء المعهود للشرب والغسل، وأما الماء الثاني فالمقصود به المني.

والمعنى: أن استعمال الماء -للغسل- يكون من الماء الذي يخرج من الرجل،

Hadis ini menunjukkan kebagusan bahasa. Karena air yang pertama berbeda dengan air yang kedua. Air pertama maksudnya air biasa, yang dapat diminum dan dipakai untuk mandi. Adapun air yang kedua, maksudnya air mani. Artinya (kewajiban) menggunakan air untuk mandi, berasal dari air yang keluar dari laki-laki (air mani) (Syarh Bulughul Maram, Syaikh Athiyah Salim)

Air mani laki-laki keluar dengan kuat (memancar), sementara mani perempuan keluar tanpa memancar, dan keduanya terasa nikmat saat keluar, mengakibatkan lemas di badan, dan keduanya memiliki bau yang sama. Silakan baca: Ciri-ciri Mani Wanita: http://wanitasalihah.com/ciri-ciri-mani-wanita/

Patut diperhatikan bagi Muslimah yang sudah menikah, bahwa cairan yang keluar ketika jimak itu ada dua jenis:

  1. Cairan basah yang keluar ketika ‘pemanasan’. Cairan ini juga berguna untuk melancarkan proses jimak. Maka jika keluar cairan ini, tidak mewajibkan mandi. Hanya saja wajib berwudhu, jika akan shalat. Inilah yang disebut dengan madzi.
  1. Cairan yang keluar setelah adanya ‘getaran’, disertai kenikmatan yang memuncak, dan mengakibatan badan menjadi lemas. Inilah yang disebut mani. Jika keluar, maka wajib mandi.

Silakan baca: Mengenal Empat Jenis Cairan pada Wanita: http://wanitasalihah.com/mengenal-4-jenis-cairan-putih-pada-wanita/

 

***

Sumber: https://islamqa.info/ar/170796

Lisanul ‘Arob

Fatwa Islamweb.net

Diterjemahkan secara ringkas oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com

Artikel wanitasalihah.com

Sumber: http://wanitasalihah.com/apa-arti-junub-yang-mengharuskan-mandi/