Posts

, , ,

HUKUM MENYALATI MAYIT YANG DAHULU TIDAK SHALAT

HUKUM MENYALATI MAYIT YANG DAHULU TIDAK SHALAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

HUKUM MENYALATI MAYIT YANG DAHULU TIDAK SHALAT

Pertanyaan:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ditanya tentang hukum menyalati seorang mayit yang dahulunya (semasa hidupnya) tidak melakukan shalat. Apakah dengan itu seseorang mendapatkan pahala atau tidak? Apakah seseorang berdosa bila meninggalkannya, sementara dia tahu bahwa dahulu si mayit tidak shalat? Demikian pula mayit yang dahulunya meminum khamr dan tidak shalat, bolehkah bagi yang mengetahui keadaannya untuk menyalatinya?

Jawaban:

Seseorang yang menampakkan keislaman, maka berlaku padanya hukum-hukum Islam yang zhahir (tampak), semacam pernikahan, warisan, dimandikan dan dishalati, dan dikuburkan di pekuburan Muslimin, dan yang semacamnya.

Adapun yang mengetahui adanya kemunafikan dan kezindiqan [Yakni misalnya dia mencela Islam, atau menghina sebagian ajarannya semacam shalat, puasa, atau yang lain. (-red.)] pada dirinya (mayit), dia tidak boleh menyalatinya, walaupun si mayit (dahulunya) menampakkan keislaman. Karena Allah ﷻ melarang Nabi-Nya ﷺ untuk menyalati orang-orang munafik. Firman-Nya:

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At-Taubah: 84)

“Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka.” (Al-Munafiqun: 6)

Adapun yang menampakkan kefasikan bersamaan dengan adanya iman pada dirinya, seperti para pelaku dosa besar, maka sebagian Muslimin tetap diharuskan menyalati (jenazah) mereka. Tapi (bila) seseorang tidak menyalatinya dalam rangka memeringatkan orang-orang yang semacamnya dari perbuatan seperti itu, sebagaimana Nabi ﷺ tidak mau menyalati seseorang yang mati bunuh diri, orang yang mencuri harta rampasan perang sebelum dibagi, serta yang mati meninggalkan utang dan tidak memiliki (sesuatu) untuk membayarnya, juga sebagaimana dahulu banyak dari kalangan salaf (pendahulu) berhalangan untuk menyalati ahli bid’ah, maka pengamalannya terhadap sunnah ini bagus.

Dahulu putra Jundub bin Abdillah Al-Bajali berkata kepada ayahnya: “Aku semalam tidak dapat tidur karena kekenyangan.” Jundub radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Seandainya kamu mati, maka aku tidak mau menyalatimu.” Seolah Jundub mengatakan: “Kamu bunuh dirimu dengan kebanyakan makan.”

Yang semacam ini sejenis dengan pemboikotan terhadap orang-orang yang menampakkan dosa besar, agar mereka mau bertaubat. Bila perlakuan semacam ini membuahkan maslahat yang besar, maka sikap itu baik.

Barang siapa tetap menyalatinya dengan mengharapkan rahmat Allah ﷻ untuknya, sementara jika dia tidak menyalatinya juga tidak ada maslahat yang besar, maka sikap yang demikian juga baik.

Atau, seandainya dia menampakkan bahwa dia tidak mau menyalatinya, namun tetap mendoakannya, walaupun tidak menampakkan doanya, untuk menggabungkan dua maslahat, maka memadu dua maslahat lebih baik daripada meninggalkan salah satunya.

Orang yang tidak diketahui kemunafikannya, sedangkan dia adalah seorang Muslim, boleh memintakan ampunan untuknya. Bahkan itu disyariatkan dan diperintahkan. Sebagaimana firman Allah ﷻ:

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)

Semua orang yang menampakkan dosa besar, boleh dihukum dengan diboikot dan cara yang lain, sampai pada mereka yang bila di-hajr (boikot) akan mengakibatkan maslahat yang besar. Sehingga dihasilkanlah maslahat yang syari dalam sikap tersebut semampu mungkin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ditanya tentang seseorang yang terkadang shalat, tetapi banyak meninggalkan atau tidak shalat. Apakah (bila mati) dia dishalati?

Jawaban:

Terhadap orang yang seperti ini, kaum Muslimin tetap menyalatinya. Bahkan kaum munafik yang menyembunyikan kemunafikannya, kaum Muslimin tetap menyalati dan memandikannya, dan diterapkan atasnya hukum-hukum Islam, sebagaimana kaum munafik di zaman Nabi ﷺ.

Bila mengetahui kemunafikannya, maka ia tidak boleh menyalatinya. Sebagaimana Nabi ﷺ dilarang menyalati orang yang beliau ﷺ ketahui kemunafikannya. Adapun seseorang yang dia ragukan keadaannya, maka diperbolehkan menyalatinya, bila ia menampakkan keislamannya. Sebagaimana Nabi ﷺ menyalati orang yang beliau ﷺ belum dilarang untuk menyalatinya. Di antara mereka ada yang belum beliau ﷺ ketahui kemunafikannya, sebagaimana Allah ﷻ firmankan:

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka.” (At-Taubah: 101)

Terhadap orang yang semacam mereka, tidak boleh dilarang untuk menyalatinya. Namun shalat Nabi ﷺ dan kaum Mukminin terhadap orang munafik tidak bermanfaat untuknya. Sebagaimana Nabi ﷺ berkata ketika memakaikan gamisnya kepada Ibnu Ubai (seorang munafik): “Dan tidak akan bermanfaat gamisku untuk menolongnya dari hukuman Allah.” Allah ﷻ juga berfirman:

“Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka.” (Al-Munafiqun: 6)

Orang yang terkadang meninggalkan shalat dan yang sejenisnya, yang menampakkan kefasikan, bila para ulama meng-hajr (memboikot) nya dan tidak menyalatinya akan membuahkan manfaat bagi Muslimin, di mana hal itu akan menjadi pendorong mereka untuk menjaga shalat, maka hendaknya mereka memboikotnya dan tidak menyalatinya. Sebagaimana Nabi ﷺ tidak mau menyalati orang yang mati bunuh diri, orang yang mencuri harta rampasan perang, serta orang yang mati meninggalkan utang dan tidak ada yang untuk melunasinya. Orang ini (yang meninggalkan shalat) lebih jelek dari mereka.

(Majmu’ Fatawa, 24/285-288)

 

Asy Syariah Edisi 044

Sumber: http://asysyariah.com/menyalati-mayit-yang-dahulu-tidak-shalat/

HUKUM SHALATI JENAZAH ORANG KAFIR DAN MUNAFIK

HUKUM SHALATI JENAZAH ORANG KAFIR DAN MUNAFIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#ManhajSalaf

HUKUM SHALATI JENAZAH ORANG KAFIR DAN MUNAFIK

Al-Kulainiy berkata:

عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ حَمَّادِ بْنِ عُثْمَانَ عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ لَمَّا مَاتَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيِّ بْنِ سَلُولٍ حَضَرَ النَّبِيُّ ( صلى الله عليه وآله ) جَنَازَتَهُ فَقَالَ عُمَرُ لِرَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) يَا رَسُولَ اللَّهِ أَ لَمْ يَنْهَكَ اللَّهُ أَنْ تَقُومَ عَلَى قَبْرِهِ فَسَكَتَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَ لَمْ يَنْهَكَ اللَّهُ أَنْ تَقُومَ عَلَى قَبْرِهِ فَقَالَ لَهُ وَيْلَكَ وَ مَا يُدْرِيكَ مَا قُلْتُ إِنِّي قُلْتُ اللَّهُمَّ احْشُ جَوْفَهُ نَاراً وَ امْلَأْ قَبْرَهُ نَاراً وَ أَصْلِهِ نَاراً ……

‘Aliy bin Ibraahiim, dari ayahnya, dari Ibnu Abi ‘Umair, dari Hammaad bin ‘Utsmaan, dari Al-Halabiy, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata: “Ketika ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul meninggal, Nabi ﷺ menghadiri jenazahnya. Lalu ‘Umar berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, tidakkah Allah telah melarangmu untuk berdiri shalat di atas kuburnya? Lalu beliau ﷺ pun terdiam. Kemudian ‘Umar berkata lagi: “Wahai Rasulullah, tidakkah Allah telah melarangmu untuk berdiri shalat di atas kuburnya?” Akhirnya beliau ﷺ menjawabnya: “Celaka engkau! Tidakkah engkau mengetahui, apa yang aku ucapkan?” Sesungguhnya aku mengucapkan (dalam shalat): ‘Ya Allah, penuhilah kerongkongannya dengan api. Penuhilah kuburannya dengan api, dan campakkanlah ia ke dalam api (Neraka)….” [Al-Kaafiy, 3/188].

Kata Al-Majlisiy: “Hasan” [Mir’atul-‘Uquul, 14/74].

Riwayat di atas menunjukkan kepada kita beberapa hal sebagai berikut:

  1. ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul meninggal dengan berstatus sebagai munafik lagi kafir, sehingga didoakan kecelakaan oleh Nabi ﷺ.
  2. ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu tidak berada pada barisan kaum munafikin yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Saluul.
  3. Pandangan ‘Umar tentang larangan menyalatkan orang munafik (Ibnu Saluul) selaras dengan firman Allah ta’ala:

وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik” [QS. At-Taubah: 84].

  1. Nabi ﷺ menyalatkan jenazah seorang munafik. Dalam shalatnya tersebut, beliau ﷺ tidak mendoakan kebaikan, namun mendoakan keburukan.

Komentar:

Dalam perspektif Ahlus-Sunnah, tidaklah shalat jenazah dikerjakan kecuali untuk mendoakan kebaikan dan rahmat bagi seorang Muslim yang meninggal dunia. Surat At-Taubah ayat 84 di atas sebagai dalil yang jelas, terlarangnya berdiri menyalatkan jenazah seorang munafik yang meninggal di atas kekafiran. Mafhum mukhalafah-nya, Allah hanya memerintahkan menyalatkan jenazah seorang yang meninggal dalam status Muslim.

Namun ternyata, bacaan yang diucapkan beliau secara sirr (pelan)[1] dalam shalat jenazah versi riwayat Al-Kulainiy justru doa-doa kejelekan. Barangkali inilah salah satu sandaran praktik Taqiyyah ala Syiah dalam berinteraksi dengan Ahlus-Sunnah. Secara zahir menampakkan ketaatan, namun ternyata batinnya menyimpan cacian dan celaan[2].

Al-Kulainiy meletakkan riwayat tersebut dalam bab: Shalat terhadap (Jenazah) Seorang Naashibiy (baca: Ahlus-Sunnah).

Artinya, kalau nanti ada orang Syiah ikut-ikutan berdiri menyalatkan jenazah seorang Ahlus-Sunnah, besar kemungkinan doa yang diucapkannya secara sirr adalah doa-doa kejelekan seperti doa di atas dan juga doa di bawah:

عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ حَمَّادٍ عَنِ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِذَا صَلَّيْتَ عَلَى عَدُوِّ اللَّهِ فَقُلِ اللَّهُمَّ إِنَّ فُلَاناً لَا نَعْلَمُ مِنْهُ إِلَّا أَنَّهُ عَدُوٌّ لَكَ وَ لِرَسُولِكَ اللَّهُمَّ فَاحْشُ قَبْرَهُ نَاراً وَ احْشُ جَوْفَهُ نَاراً وَ عَجِّلْ بِهِ إِلَى النَّارِ فَإِنَّهُ كَانَ يَتَوَلَّى أَعْدَاءَكَ وَ يُعَادِي أَوْلِيَاءَكَ وَ يُبْغِضُ أَهْلَ بَيْتِ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ ضَيِّقْ عَلَيْهِ قَبْرَهُ فَإِذَا رُفِعَ فَقُلِ اللَّهُمَّ لَا تَرْفَعْهُ وَ لَا تُزَكِّهِ

‘Aliy bin Ibraahiim, dari ayahnya, dari Ibnu Abi ‘Umair, dari Hammaad, dari Al-Halabiy, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata: “Apabila engkau menshalati jenazah seorang musuh Allah, maka ucapkanlah (doa): ‘Ya Allah, sesungguhnya Fulaan tidaklah kami mengetahui tentangnya kecuali ia adalah musuh-Mu dan musuh Rasul-Mu. Ya Allah, penuhilah kerongkongannya dengan api, segerakanlah ia kepada api Neraka, karena ia telah berloyalitas kepada musuh-musuh-Mu, memusuhi wali-wali-Mu, dan membenci Ahli Bait Nabi-Mu. Ya Allah, sempitkanlah kuburnya’. Apabila jenazahnya diangkat, maka ucapkanlah: ‘Ya Allah, janganlah Engkau angkat dia dan janganlah Engkau bersihkan dia” [Al-Kaafiy, 3/189].

Kata Al-Majlisiy, riwayat di atas hasan [Mir’atul-‘Uquul, 14/77].

  1. Boleh Hukumnya Menyalati Orang Kafir

Artinya, ada kemungkinan orang Syiah nanti menyalati jenazah orang Kristen, Katolik, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, dan semisalnya.

Wallaahul-musta’aan.

 

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.ca/2014/05/menshalati-jenazah-orang-kafir.html

,

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim rohimahullah ta’ala:

Ada lima tingkatan manusia dalam mengerjakan sholat:

  1. Tingkatan orang yang zalim kepada dirinya dan teledor, yaitu, orang yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu sholatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.
  2. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya.
    Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.
  3. Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun-rukunnya. Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dalam dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya, agar jangan sampai berhasil mencuri sholatnya. Maka, dia sedang berada di dalam sholat, sekaligus jihad.
  4. Orang yang melaksanakan sholat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk melaksanakannya sebagaimana mestinya, dengan cara yang sesempurna dan selengkap mungkin. Jadi, hatinya dipenuhi oleh urusan sholat dan penyembahan kepada Robbnya tabaaroka wa ta’ala.
  5. Orang yang melaksanakan sholat dengan sempurna. Dia mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Robbnya Azza wa Jalla.
    Dia memandang dan memerhatikan-Nya dengan hatinya yang dipenuhi rasa cinta dan hormat kepada-Nya.
    Seolah-olah ia melihat-Nya dan menyaksikan-Nya secara langsung.
    Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Robbnya telah diangkat. Jarak antara sholat orang semacam ini dengan sholat orang yang lainnya, lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam sholatnya, dia sibuk dengan Robbnya. Dia merasa tenteram lewat sholat.
  • Kelompok pertama akan disiksa.
  • Kelompok kedua akan diperhitungkan amalnya.
  • Kelompok ketiga akan dihapus dosanya.
  • Kelompok keempat akan diberi balasan pahala.
  • Dan kelompok kelima akan mendapat tempat yang dekat dengan Robbnya, kerana dia menjadi bagian dari orang yang ketenteraman hatinya ada di dalam sholat.

Barang siapa yang tenteram hatinya dengan sholat di dunia, maka hatinya akan tenteram dengan kedekatannya kepada Robbnya di Akhirat, dan akan tenteram pula hatinya di dunia.

Barang siapa yang hatinya merasa tenteram dengan Allah ta’ala, maka semua orang akan merasa tenteram dengannya.

Dan barang siapa yang hatinya tidak bisa merasa tenteram dengan Allah ta’ala , maka jiwanya akan terpotong-potong karena penyesalan terhadap dunia.

[Al-Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hal 25-29]

Maka nilailah diri kita sekarang.
Di manakah posisi kita dari tingkatan orang yang sholat?
Barang siapa yang berada di posisi yang terbaik, hendaknya ia memuji Allah.
Namun bila tidak, segeralah perbaiki diri, karena amalan sholat adalah termasuk penentu posisi kita di Akhirat kelak.

 

Penulis: Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah

, , ,

SAHKAH SHALAT ORANG YANG BERTATO?

SAHKAH SHALAT ORANG YANG BERTATO?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

#FatwaUlama

SAHKAH SHALAT ORANG YANG BERTATO?

Pertanyaan:

Kalau orang yang bertato kemudian sudah betul-betul insaf, shalatnya diterima atau tidak?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, menggunakan tato hukumya haram, dan terdapat larangan khusus dari Nabi ﷺ. Dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ

“Nabi ﷺ melaknat orang yang menato dan yang minta diberi tato.” (HR. Bukhari no. 5347).

Karena itu, kewajiban orang yang memiliki tato di tubuhnya, dia harus bertaubat kepada Allah, memohon ampunan dan menyesali perbuatannya. Kemudian berusaha menghilangkan tato yang menempel di badannya, selama tidak memberatkan dirinya. Namun jika upaya menghilangkan tato ini membahayakan dirinya, atau terlalu memberatkan dirinya, maka cukup bertaubat dengan penuh penyesalan, dan insya Allah shalatnya sah.

An-Nawawi menukil keterangan Imam ar-Rafi’i:

فى تعليق الفرا أَنَّهُ يُزَالُ الْوَشْمُ بِالْعِلَاجِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ إلَّا بِالْجُرْحِ لَا يُجْرَحُ وَلَا إثْمَ عَلَيْهِ بعد التوبة

“Dalam Ta’liq al-Farra’ dinyatakan: Tato harus dihilangkan dengan diobati. Jika tidak mungkin dihilangkan kecuali harus dilukai, maka tidak perlu dilukai, dan tidak ada dosa setelah bertaubat.” (Al-Majmu’, 3:139).

Disadur dari Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 28110

Dalam Fatawa yang lain, dinyatakan:

فلا يخفى عليك أن وضع الوشم على الجسد ذنب عظيم، ومع ذلك لا تأثير له على صحة الصلاة

Tidak diragukan, bahwa menato badan adalah dosa besar. Meskipun demikian, hal itu tidak ada pengaruhnya dengan keabsahan shalat.

Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih, no. 18959

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/14207-shalatnya-orang-bertato-yang-insaf.html

 

, ,

KEUTAMAAN SHOLAT SUBUH BERJAMAAH DI HARI JUMAT (BAGI LAKI-LAKI)

KEUTAMAAN SHOLAT SUBUH BERJAMAAH DI HARI JUMAT (BAGI LAKI-LAKI)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

#SifatSholatNabi

KEUTAMAAN SHOLAT SUBUH BERJAMAAH DI HARI JUMAT (BAGI LAKI-LAKI)

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَوَاتِ عِنْدَ اللهِ صَلَاةُ الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي جَمَاعَةٍ

“Sesungguhnya sholat yang paling utama di sisi Allah adalah sholat Subuh berjamaah di hari Jumat.”

[HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 1566]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1819434754955994:0

,

BOLEHKAH ANAK KECIL JADI IMAM SHALAT JAMAAH?

BOLEHKAH ANAK KECIL JADI IMAM SHALAT JAMAAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

 

BOLEHKAH ANAK KECIL JADI IMAM SHALAT JAMAAH?

Pertanyaan:

Bolehkah anak kecil menjadi Imam ketika sholat jamaah, di mana makmumnya orang yang sudah dewasa? Anak kecil tersebut memunyai bacaan dan halafan Alquran bagus dibanding jamaah lainnya.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, batas jenjang usia anak dalam Islam ada dua:

  1. Batas Tamyiz

Anak yang telah mencapai usia Tamyiz disebut Mumayiz. Di antara ciri anak yang Mumayiz: dia bisa membedakan antara yang baik dan yang tidak baik, dia sudah merasa malu ketika tidak menutup aurat, dia mengerti shalat harus serius, dst. yang menunjukkan fungsi akalnya normal.

Umumnya, seorang anak menjadi Mumayiz ketika berusia 7 tahun.

  1. Batas Baligh

Batas di mana seorang anak telah dianggap dewasa oleh syariat, dan berkewajiban untuk melaksanakan beban syariat. Tidak ada batas usia baku untuk baligh, karena batas baligh kembali pada ciri fisik. Untuk laki-laki: telah mimpi basah, dan untuk wanita: telah mengalami haid. Untuk laki-laki, umumnya di usia 15 tahun (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 7/157 – 160).

Kedua, fokus pembahasan kita adalah hukum anak Mumayiz menjadi imam shalat jamaah, sementara makmumnya orang yang sudah baligh.

Para ulama membedakan antara shalat wajib dan shalat sunah. Berikut rincian yang disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah:

  • Mayoritas ulama (Hanafiyah, Malikiyah, dan Hambali) berpendapat, bahwa di antara syarat sah menjadi imam untuk shalat wajib, imam harus sudah baligh. Karena itu, anak Mumayiz tidak bisa menjadi imam bagi makmumyang sudah baligh.
  • Untuk shalat sunah, seperti shalat Taraweh, atau shalat gerhana, mayoritas ulama (Malikiyah, Syafiiyah, Hambali, dan sebagian Hanafiyah) membolehkan seorang anak Mumayiz untuk menjadi imam bagi orang yang sudah baligh.
  • Pendapat yang kuat dalam madzhab Hanafiyah, anak Mumayiz tidak boleh jadi imam bagi orang baligh secara mutlak, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunah.
  • Sementara Syafiiyah berpendapat, anak Mumayiz boleh menjadi imam bagi orang baligh, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunah. Terutama ketika anak Mumayiz ini lebih banyak hapalan Alqurannya, dan lebih bagus gerakan shalatnya dibandingkan jamaahnya yang sudah baligh.

Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan:

إِلَى صِحَّة إِمَامَة الصَّبِيّ ذَهَبَ الْحَسَن الْبَصْرِيّ وَالشَّافِعِيّ وَإِسْحَاق , وَكَرِهَهَا مَالِك وَالثَّوْرَيْ , وَعَنْ أَبِي حَنِيفَة وَأَحْمَد رِوَايَتَانِ ، وَالْمَشْهُور عَنْهُمَا الْإِجْزَاء فِي النَّوَافِل دُونَ الْفَرَائِض

Tentang keabsahan anak kecil (Mumayiz) yang menjadi imam merupakan pendapat Hasan Al-Bashri, As-Syafii, dan Ishaq bin Rahuyah. Sementara Imam Malik dan Ats-Tsauri melarangnya. Sementara ada dua riwayat keterangan dari Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Pendapat yang masyhur dari dua ulama ini (Abu Hanifah dan Imam Ahmad), anak kecil sah jadi imam untuk shalat sunah dan bukan shalat wajib (Fathul Bari, 2/186).

Pendapat Terpilih

Pendapat yang rajih (lebih kuat) dalam hal ini adalah pendapat Imam As-Syafii, bahwa tidak dipersyaratkan imam shalat harus sudah baligh. Anak kecil yang sudah Tamyiz, memahami cara shalat yang benar, bisa jadi imam bagi makmum yang sudah baligh.

Dalil mengenai hal ini adalah hadis dari Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

كُنَّا بِحَاضِرٍ يَمُرُّ بِنَا النَّاسُ إِذَا أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانُوا إِذَا رَجَعُوا مَرُّوا بِنَا، فَأَخْبَرُونَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كَذَا وَكَذَا وَكُنْتُ غُلَامًا حَافِظًا فَحَفِظْتُ مِنْ ذَلِكَ قُرْآنًا كَثِيرًا فَانْطَلَقَ أَبِي وَافِدًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِهِ فَعَلَّمَهُمُ الصَّلَاةَ، فَقَالَ: «يَؤُمُّكُمْ أَقْرَؤُكُمْ» وَكُنْتُ أَقْرَأَهُمْ لِمَا كُنْتُ أَحْفَظُ فَقَدَّمُونِي فَكُنْتُ أَؤُمُّهُمْ وَعَلَيَّ بُرْدَةٌ لِي صَغِيرَةٌ صَفْرَاءُ…، فَكُنْتُ أَؤُمُّهُمْ وَأَنَا ابْنُ سَبْعِ سِنِينَ أَوْ ثَمَانِ سِنِينَ

Kami tinggal di kampung yang dilewati para sahabat ketika mereka hendak bertemu Nabi ﷺ di Madinah. Sepulang mereka dari Madinah, mereka melewati kampung kami. Mereka mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda demikian dan demikian. Ketika itu, saya adalah seorang anak yang cepat menghapal, sehingga aku bisa menghapal banyak ayat Alquran dari para sahabat yang lewat. Sampai akhirnya, ayahku datang menghadap Rasulullah ﷺ bersama masyarakatnya, dan beliau ﷺ mengajari mereka tata cara shalat. Beliau ﷺ bersabda: “Yang menjadi imam adalah yang paling banyak hapalan Qurannya.”  Sementara Aku (Amr bin Salamah) adalah orang yang paling banyak hapalannya, karena aku sering menghapal. Sehingga mereka menyuruhku untuk menjadi imam. Aku pun mengimami mereka dengan memakai pakaian kecil milikku yang berwarna kuning… Aku mengimami mereka ketika aku berusia 7 tahun atau 8 tahun. (HR. Bukhari 4302 dan Abu Daud 585).

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

https://konsultasisyariah.com/18271-hukum-anak-kecil-menjadi-imam-shalat-jamaah.html

 

,

BOLEHKAH PERPANJANG SUJUD TERAKHIR?

BOLEHKAH PERPANJANG SUJUD TERAKHIR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BOLEHKAH PERPANJANG SUJUD TERAKHIR?

Pertanyaan:

Apa hukum memerpanjang sujud terakhir dalam shalat, melebihi panjangnya sujud-sujud yang lainnya?

Jawaban:

الإطالة في السجدة الأخيرة ليست من السنة؛ لأن السنة أن تكون أفعال الصلاة متقاربة، الركوع والرفع منه، والسجود والجلوس بين السجدتين، كما قال ذلك البراء بن عازب رضي الله عنه قال:

Memerpanjang sujud yang terakhir BUKAN termasuk sunnah. Karena yang disunahkan adalah tempo gerakan-gerakan dalam shalat hampir sama lamanya, ketika rukuk, bangkit darinya, sujud dan duduk di antara dua sujud. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu:

رمقت الصلاة مع النبي صلى الله عليه وسلم فوجدت قيامه فركوعه فسجوده فجلسته ما بين التسليم من الصلاة قريبة الاستواء

“Aku pernah memerhatikan shalatnya Nabi ﷺ. Aku dapati ternyata tempo lamanya berdiri, rukuk, sujud dan duduknya antara salam, hampir sama lamanya.”

هذا هو الأفضل

Inilah yang lebih utama.

__________________

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Silsilah Fatawa Nur ‘ala Darb. Kaset 367

Web | shahihfiqih.com/fatwa/sujud-terakhir-harus-panjang/

 

Sumber: Telegram: ShahihFiqih

 

, ,

BOLEHKAH SAYA MELAKUKAN SHALAT HAJAT?

BOLEHKAH SAYA MELAKUKAN SHALAT HAJAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

#DoaZikir

BOLEHKAH SAYA MELAKUKAN SHALAT HAJAT?

Pertanyaan:

Saya punya masalah ibadah. Saya khawatir bila ibadah saya ini terperosok (ke dalam) kebid’ahan. Di antaranya adalah tentang Shalat Hajat. Tentang status shalat tersebut, adakah dalil yang menguatkannya ataukah tidak?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Hukum mengerjakan Shalat Hajat adalah sunnah, berdasarkan hadis berikut:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً ضَرِيْرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اُدْعُ اللهَ أَنْ يُعَافِيْنِيْ، قَالَ: إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ وَإِنْ شِئْتَ صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ. قَالَ: فَادْعُهُ، قَالَ: فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوْئَهُ وَيَدْعُوْهُ بِهَذَا الدُّعَاءِ: اَلَّلهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّيْ فِيْ حَاجَتِيْ هَذِهِ لِتَقْضَى لِيْ اَللَّهُمَّ فَشَفَعْهُ فِيْ. قَالَ: فَفَعَلَ الرَّجُلُ فَبَرَأَ.

Dari Utsman bin Hunaif, bahwasanya ada seorang laki-laki buta yang pernah datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata: “Berdoalah kepada Allah, agar Dia menyembuhkanku!” Nabi ﷺ bersabda: “Jika engkau menginginkan demikian, saya akan doakan. Tetapi jika engkau mau bersabar, itu lebih baik bagimu.” Lelaki itu menjawab: “Berdoalah!” Maka Nabi ﷺ memerintahkannya supaya berwudhu dengan sempurna dan shalat dua rakaat, lalu berdoa dengan doa ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ. يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي قَدْ تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى. اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ

Allohumma innii as aluka wa atawajjahu ilayka bimuhammadin nabiyyirrohmati. Yaa Muhammad, innii qod tawajjahtu bika ilaa robbii fii haajatii hadzihi lituqdho. Allohumma fasyafa’hu fiyya.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan Nabi-Mu, Nabi rahmat. Sesungguhnya, aku menghadap kepada Rabbku denganmu, agar terpenuhi hajatku. Ya Allah, berilah syafaat kepadanya untukku.” Dia berkata: “Lelaki itu kemudian mengerjakan (saran Nabi) lantas dia menjadi sembuh.”

Takhrij hadis:

Shahih. Diriwayatkan Ahmad dalam Musnad-nya, 4:138, Tirmidzi:3578, Ibnu Majah:1384, Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya:1219, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, 3:2, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak:1221.

Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan Shahih Gharib.” Abu Ishaq berkata: “Hadis ini Shahih.” Al-Hakim berkata: “Sanadnya Shahih,” dan hal ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Syekh Al-Albani juga menilai bahwa hadis ini Shahih, dalam buku beliau At-Tawassul, hlm. 75–76.

Fikih Hadis:

  1. Disyariatkannya Shalat Hajat

Imam Ibnu Majah membuat bab hadis ini dengan perkataannya: “Bab Penjelasan tentang Shalat Hajat.” Demikian juga, Imam Nawawi dalam Al-Adzkar, hlm. 157, dan Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Zawaid, 2:565. Ini juga merupakan pendapat Syekh Salim Al-Hilali dan Syekh Masyhur Hasan Salman ketika (beliau berdua) ditanya oleh Al-Akh Abu Ubaidah.

  1. Shalat Hajat Sebanyak Dua Rakaat

Tidak boleh melakukan Shalat Hajat untuk kepentingan yang tidak syari, seperti: untuk belajar tenaga dalam, ilmu hitam, dan sejenisnya.

 

Dikutip dari: Majalah Al-Furqon, Edisi 11, Tahun II, 1424 H.

Dengan pengeditan oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/3861-bolehkah-saya-melakukan-shalat-hajat.html

 

 

 

,

JAGALAH SHOLAT WITIR

JAGALAH SHOLAT WITIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

JAGALAH SHOLAT WITIR

Pertanyaan:

Ada seseorang yang tidak mengerjakan Sholat Witir. Apakah boleh baginya meninggalkannya?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah. Sebagaimana kesepakatan para ulama kaum Muslimin, Sholat Witir adalah sholat yang sangat dianjurkan. Barang siapa yang terus menerus meninggalkan Sholat Witir, maka PERSAKSIANNYA TERTOLAK. Lalu para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya Sholat Witir. Imam Abu Hanifah dan sebagian ulama Hambali berpendapat, bahwa Sholat Witir itu wajib. Sedangkan mayoritas ulama (seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa Sholat Witir itu tidak wajib.

Alasan mereka adalah riwayat yang menyatakan: “Nabi ﷺ biasa mengerjakan Sholat Witir di atas tunggangannya.” Sedangkan untuk sholat wajib, beliau tidak mengerjakannya di atas tunggangannya (sehingga ini menunjukkan bahwa Sholat Witir itu tidak wajib, karena dikerjakan oleh beliau ﷺ di atas tungganggannya, -pen).

Namun intinya para ulama sepakat, bahwa Sholat Witir sangatlah dianjurkan untuk dikerjakan, sehingga JANGAN SAMPAI DITINGGALKAN. Sholat Witir itu lebih ditekankan daripada sholat rawatib Zuhur, Maghrib dan Isya. Sholat Witir pun lebih afdhol (lebih utama) dari seluruh sholat sunnah yang dikerjakan di siang hari, seperti sholat Dhuha. Bahkan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah Qiyamul Lail (sholat malam). Oleh karenanya, Sholat Witir dan sholat Qobliyah Subuh adalah dua sholat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

Wallahu a’lam.

 

Diterjemahkan oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah

Diarsipkan di: Majalah Fatawa

 

Sumber: Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 23/88

Dipublikasikan oleh: KonsultasiSyariah.com

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/2126-menjaga-sholat-witir.html

, , ,

HUKUM MEMEJAMKAN MATA SAAT SHALAT [FATWA ULAMA]

HUKUM MEMEJAMKAN MATA SAAT SHALAT [FATWA ULAMA]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

HUKUM MEMEJAMKAN MATA SAAT SHALAT [FATWA ULAMA]

Fatwa Syaikh ‘Abdul Karim Al Khudair hafzihohullah

Pertanyaan:

Apakah ketika sujud mata dalam keadaan dipejam atau mesti dibuka?

Jawaban:

Asalnya, mata dalam keadaan TERBUKA, baik ketika sujud dan keadaan lainnya dalam shalat. Sebagian ulama mengatakan, bahwa disunnahkan untuk memejamkan kedua mata, karena hal itu lebih mudah mendatangkan khusyu’. Namun hal itu cuma WAS-WAS saja dalam shalat, dan TIDAK ada dalil pendukung. Perlu diketahui, bahwa Yahudi biasa memejamkan mata dalam shalat mereka. Kita diajarkan TIDAK mengikuti jejak mereka (kita dilarang tasyabbuh) [Disebutkan dalam Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim 85 dan Zaadul Ma’ad 1: 283]

 

(Sumber Fatwa di website pribadi Syaikh ‘Abdul Karim Khudair: http://www.khudheir.com/text/4112)

 

* Syaikh ‘Abdul Karim Al Khudair adalah ulama senior di Saudi Arabia, berdomisi di kota Riyadh. Beliau adalah anggota Hai-ah Kibaril Ulama dan menjadi pengajar di kuliah hadis Jami’ah Malik Su’ud (King Saud University), Riyadh Saudi Arabia.

 

Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Muslim.Or.Id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/10855-fatwa-ulama-memejamkan-mata-saat-shalat.html