Posts

,

SATU KAMPUNG TIDAK SHALAT BERJAMAAH, BERARTI SUDAH DIKUASAI SETAN

SATU KAMPUNG TIDAK SHALAT BERJAMAAH, BERARTI SUDAH DIKUASAI SETAN
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SATU KAMPUNG TIDAK SHALAT BERJAMAAH, BERARTI SUDAH DIKUASAI SETAN
>> Hati-hati jika ada satu kampung tidak shalat berjamaah, berarti sudah dikuasai setan.
 
Bab Keutamaan Shalat Berjamaah, Hadis no. 1070
 
وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاء – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : ( مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ ، وَلاَ بَدْوٍ ، لا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ . فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ القَاصِيَة) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ
 
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Tidaklah terdapat tiga orang di satu desa atau kampung yang tidak ditegakkan shalat di sana, kecuali mereka telah dikalahkan oleh setan. Maka haruslah bagi kalian untuk berjamaah, sebab serigala hanya akan memakan domba yang jauh dari kawannya.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan) [HR. Abu Daud, no. 547 dan An-Nasa’i, no. 848. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
 
Kesimpulan Mutiara Hadis
1. Wajibnya azan dan iqamah untuk shalat berjamaah.
2. Setan akan menguasai orang-orang yang lalai dari ketaatan dan ibadah.
3. Dorongan untuk shalat berjamaah karena berjamaah menolong untuk melakukan ketaatan.
4. Perintah untuk berjamaah (bersatu), karena berjamaah akan menyelamatkan iman dan agama.
5. Setan tidak mampu mengganggu mereka yang berjamaah. Setan mengganggu mereka yang sendirian dan terpisah dari saudara mereka.
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Referensi:
  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:245-246.
  • Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Prof. Ahmad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Kunuz Isybiliyyah. 13:400.
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#satukampung, #satudesa, #satukota, #1kampung, #1desa, #1kota, #dikuasaisetan, #tidakshalatberjamaah, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #sifatsholatnabi, #keutamaan, #fadhilah, #jamaah #shalatberjamaah,
,

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?
 
“Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat. Namun bersikap tenang dan khusyu’lah. Gerakan imam yang kalian dapati, ikutilah. Sedangkan yang luput dari kalian, sempurnakanlah.” [HR. Bukhari no. 636 dan Muslim no. 602]
 
Di antara faidah dari hadis ini:
  1. Terlarangnya terburu-buru menuju shalat ketika mendengar iqamah atau takut akan luput rakaat.
  2. Ketika seorang makmum masuk shaf, maka hendaklah ia mengikuti imam dalam apa pun kondisi imam, baik ia berdiri, ruku’ atau sujud. Ketika imam sujud, maka makmum hendaklah bertakbiratul ihram dan langsung sujud dalam rangka mengikuti imam.
  3. Gerakan yang luput dari imam, hendaklah disempurnakan sendirian setelah imam salam.
  4. Alasan tidak boleh bercepat-cepat ketika itu adalah karena seseorang yang berjalan menuju shalat sudah terhitung layaknya ia berada dalam shalat. Sehingga sudah sepatutnya ia khusyu’ dan tenang sebagaimana orang yang shalat.
  5. Asy Syaukani berkata, bahwa tidak dikatakan makruh bagi seseorang yang bercepat-cepat SEBELUM iqamah. (Nailul Author)
 
Jadi yang dikatakan makruh tergesa-gesa adalah KETIKA TELAH dikumandangkan iqamah atau takut akan luput rakaat.
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #sifatsholatnabi, #tata cara, #cara, #tatacara, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #iqamah, #iqomah, #lari, #berlari, #menujumasjid, #menujumesjid, #hukumnya, #mutiarasunnah, #faidahhadist, #faedahhadits, #faedahhadist, #faidahhadits #berjalandengantenang, #khusyu, #berlarilarian, #larilari, #terburuburu, #tergesagesa #buruburu #cepatcepat #makruh #ikutiimam
, ,

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

 

Bagi para jamaah haji/umrah wanita, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi. Mari kita perhatikan hadis berikut ini:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid as-Sa’idi, bahwa ia telah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.”
Nabi ﷺ berkata: “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjidku.”
Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah. [HR. Ahmad no. 27.090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar]

Kita sudah mengetahui besarnya keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Namun bagi para wanita, shalat di rumah mereka TETAP LEBIH BAIK bagi mereka dibanding shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi mereka. Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid yang begitu menaati sunnah Nabi ﷺ dengan selalu shalat di rumah. Tidak seperti sebagian jamaah haji wanita yang kadang sampai shalat di jalan-jalan kota Makkah karena masjid-masjid penuh. Mereka bersemangat tinggi, tapi tidak didasari ilmu agama yang memadai.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://muslim.or.id/10435-menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#SifatShalatNabi,#SifatSholatNabi, #sifatsholatNabi, #sifatshalatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #caranya, #perempuan, #wanita, #muslimah, #lebihbaik, #dirumahnya, #masjidNabawi, #mesjidNabawi, #umrah, #umroh, #haji, #fadhilah

,

KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI

KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI
 
Ada keutamaan tersendiri bagi orang yang tidak ketinggalan Takbiratul Ihram bersama imam selama 40 hari lamanya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari Takbiratul Ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari siksa Neraka dan terbebas dari kemunafikan.” [HR. Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini Hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652]
 
Ada kisah disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama Syafi’i), bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili, juga 40 hamba sahayanya. Ia pun sedih. Lantas ia menemui Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ menyatakan:
“Ini barangkali karena engkau sering luput dari Takbiratul Ihram bersama imam.”
Abu Umamah pun berkata:
“Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari Takbiratul Ihram bersama imam?”
Nabi ﷺ bersabda:
“Bahkan itu lebih parah dari hilangnya unta sepenuh bumi.” [Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43]
 
Hadis di atas punya penguat diriwayatkan dari Ibnu Syahin dalam At-Targhib (1: 157), dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takbiratul pertama yang didapati bersama imam lebih baik dari memiliki seribu unta.” [Disebutkan pula oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Al-Kabir, no. 10720]
 
Bisa tidak ya dilakukan? Pasti bisa, jika berusaha sembari meminta tolong pada Allah. Ingatlah, tidak ada yang memudahkan kita dalam ibadah, kecuali dengan pertolongan Allah.
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#SifatSholatNabi #SifatShalatNabi, #janganketinggalan, #jangantertinggal, #takbiratulihram #,takbiratulihrom, #bersamaimam, #bertakbiratulihram, #bertakbiratulihrom, #takbiratulpertama, #seribuunta, #seribuonta, #keutamaan, #utama, #fadhilah, #fadilah #1000unta, #1000onta #terbebasdarisiksaNeraka, #terbebasdarikemunafikan, #terbebasdarimunafik, #siksaNeraka, #munafik, #munafiqun, #kemunafikan, #bebas, #terbebas  #tidak ketinggalan, #arbain, #40 harilamanya, #selama40hari, #berturutturut #SifatSholatNabi,#SifatShalatNabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat #terlambat, #masbuk, #masbuq, #ketinggalan, #tertinggal

HANYA TIDAK SHALAT SUBUH

HANYA TIDAK SHALAT SUBUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
#SifatSholatNabi
 
HANYA TIDAK SHALAT SUBUH
 
Meninggalkan shalat bukanlah perkara sepele. Dosanya bukan dosa yang biasa-biasa saja. Perlu diketahui, bahwa dosa meninggalkan shalat adalah termasuk dosa besar yang paling besar, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama berikut ini:
 
Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan:
“Kaum Muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat), bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar, dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah, serta mendapatkan kehinaan di dunia dan Akhirat.”
 
Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir (Pembahasan Dosa-Dosa Besar), hal. 25, Ibnu Hazm berkata: “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar, daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, dan membunuh seorang Mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”
 
Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, hal. 26-27, juga mengatakan:
“Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan, yaitu satu shalat saja, dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertobat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang Mujrim (yang berbuat dosa).”
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

TETAP ISTIQAMAH SHALAT LIMA WAKTU SELEPAS RAMADAN

TETAP ISTIQAMAH SHALAT LIMA WAKTU SELEPAS RAMADAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
TETAP ISTIQAMAH SHALAT LIMA WAKTU SELEPAS RAMADAN
 
Ramadan sungguh sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Orang yang tadinya malas ke masjid atau sering bolong mengerjakan shalat lima waktu, pada waktu Ramadan terlihat begitu bersemangat melaksanakan amalan shalat ini. Itulah di antara tanda dibukanya pintu Surga dan ditutupnya pintu Neraka ketika itu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila Ramadan tiba, pintu Surga dibuka, pintu Neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” [HR. Muslim no. 1079]
 
Namun, amalan shalat ini hendaklah tidak ditinggalkan begitu saja. Kalau memang pada waktu Ramadan kita rutin menjaga shalat lima waktu, maka hendaklah amalan tersebut tetap dijaga di luar Ramadan. Begitu pula dengan shalat jamaah di masjid khusus untuk kaum pria.
 
Namun yang sangat kami sayangkan, amalan shalat ini sering dilalaikan oleh sebagian kaum Muslimin. Bahkan mulai pada Hari Raya ‘Ied (1 Syawal) saja, sebagian orang sudah mulai meninggalkan shalat karena sibuk silaturahmi atau berekreasi. Begitu juga seringkali kita lihat sebagian saudara kita karena kebiasaan bangun kesiangan, dia meninggalkan shalat Subuh begitu saja.
 
Padahal shalat Subuh inilah yang paling berat dikerjakan oleh orang munafik, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada shalat yang paling berat dilakukan oleh orang munafik, kecuali shalat Subuh dan shalat Isya’. Seandainya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun sambil merangkak.” [HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651]
 
Ingatlah ancaman keras dari Nabi ﷺ bagi orang yang meninggalkan shalat. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bekas budak Nabi ﷺ, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ
 
“Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia telah melakukan kesyirikan.” [HR. Ath Thobariy dengan sanad Shahih. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini Shahih. Lihat Shahih At Targib wa At Tarhib no. 566]
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD

PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD
 
Pertanyaan:
Bagaimana tatacara pembacaan shalawat Nabi ﷺ saat kita mau berdoa di waktu sujud, agar doa ana tidak menggantung Keterangan ini ana dapatkan saat menghadiri suatu kajian.
 
Jawaban Redaksi salamdakwah.com
Membaca shalawat kepada Nabi ﷺ adalah termasuk sebab diterimanya doa. Sebagaimana itu disyariatkan diluar sujud, hal itu juga disyariatkan di kala sujud.
Teknisnya adalah kita membaca zikir sujud terlebih dahulu, kemudian membaca shalawat, dan selanjutnya membaca doa.
 
Membaca shalawat boleh dengan shalawat yang panjang yang diajarkan oleh Nabi ﷺ:
اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala ali Ibrohim, innaKa Hamiidum Majid.
Artinya
Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 165-166, karya Al Albani, Maktabah Al Ma’arif].
 
Boleh juga membaca shalawat dalm bentuk yang pendek seperti:
 
اللهم صل وسلم على رسول الله
 
[Disarikan dari Fatwa Syaikh Ibnu Baz di Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb 8/312-313]
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, , ,

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
 
Bukanlah termasuk petunjuk Rasulullah ﷺ, seseorang berdoa setelah salam dari shalat, kecuali jika itu adalah untuk menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat. Di antara yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ adalah SETELAH salam, dengan mengucapkan istighfar sebanyak tiga kali yaitu: Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah (maknanya adalah ‘Aku memohon ampun pada Allah’). Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ jika berpaling (selesai) menunaikan shalatnya, beliau ﷺ mengucapkan ‘Astagfirullah’ sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengucapkan ‘Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta yaa dzal jalali wal ikrom’. [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih, termasuk periwayat kitab Shahih. Syaikh Al Albani dalam Al Kalamu Ath Thoyib mengatakan bahwa hadis ini Shahih].
 
Adapun jika tujuan doa tersebut selain daripada menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat, maka lebih utama doa tersebut dilakukan SEBELUM SALAM. Sebagaimana dapat dilihat dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma berikut ini, Rasulullah ﷺ pernah mengajarkannya Tasyahud padanya, lalu beliau ﷺ bersabda:
 
ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ
 
“Kemudian terserah dia memilih doa yang dia sukai untuk berdoa dengannya.” [HR. Abu Daud no. 825]
 
Dalam lafal lain:
ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
 
“Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah Tasyahud), doa yang dia kehendaki (dia sukai).” [HR. Muslim no. 402, An Nasa’i no. 1298, Abu Daud no. 968, Ad Darimi no. 1340]
 
Jadi apabila kita ingin berdoa kepada Allah, maka berdoalah kepada-Nya SEBELUM salam. Hal ini karena dua alasan:
 
Alasan pertama: Inilah yang diperintahkan oleh Rasul ﷺ. Beliau ﷺ membicarakan tentang Tasyahud, “Jika kalian selesai (dari Tasyahud), maka pilihlah doa yang kalian suka berdoa dengannya.”
 
Alasan kedua: Jika engkau berada dalam shalat, maka berarti engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu. Jika engkau telah selesai mengucapkan salam, berakhir pula munajatmu tersebut. Lalu manakah yang lebih afdhal (lebih utama), apakah meminta pada Allah ketika bermunajat kepada-Nya, ataukah setelah engkau berpaling (selesai) dari shalat? Jawabannya, tentu yang pertama, yaitu ketika engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu.
 
Adapun ucapan zikir setelah menunaikan shalat (setelah salam), yaitu ucapan Astagfirullah sebanyak tiga kali, ini memang doa, namun ini adalah DOA YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT. Ucapan istighfar seseorang sebanyak tiga kali setelah shalat bertujuan untuk menambal kekurangan yang ada dalam shalat. Maka pada hakikatnya, ucapan zikir ini adalah pengulangan dari shalat.
 
Adakah dalil yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ ketika selesai shalat Subuh berpaling ke makmum, lalu mengangkat kedua tangannya (untuk berdoa). Apakah hadis tersebut Shahih?
Syaikh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab: Hadis ini tidak diketahui periwayatannya. Jika pun ada, maka hadis ini adalah hadis yang lemah. [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, kaset no. 82]
 
Sumber:
,

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Mengenai masalah lupa melakukan Sujud Sahwi, kita dapat bagi menjadi dua keadaan:

Keadaan Pertama: Jika Sujud Sahwi yang ditinggalkan sudah lama waktunya, namun wudhunya belum batal.

Dalam keadaan seperti ini, menurut pendapat yang lebih kuat, selama wudhunya masih ada, maka shalatnya tadi masih tetap teranggap dan ia melakukan Sujud Sahwi ketika ia ingat, meskipun waktunya sudah lama. Inilah pendapat Imam Malik, pendapat yang terdahulu dari Imam Asy Syafi’i, Yahya bin Sa’id Al Anshori, Al Laits, Al Auza’i, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengkhususkan jika memang Sujud Sahwinya terletak sesudah salam, inilah yang beliau bolehkan. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/32]. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466]

Di antara alasan pendapat di atas adalah:

Pertama: Karena jika kita mengatakan, bahwa kalau sudah lama ia meninggalkan Sujud Sahwi, maka ini sebenarnya sulit dijadikan standar. Nabi ﷺ sendiri pernah dalam lupa, sehingga hanya mengerjakan dua atau tiga rakaat. Setelah itu malah beliau ﷺ ngobrol-ngobrol, lalu keluar dari masjid, terus masuk ke dalam rumah. Lalu setelah itu ada yang mengingatkan. Lantas beliau ﷺ pun mengerjakan rakaat yang kurang tadi. Setelah itu beliau ﷺ melakukan Sujud Sahwi. Ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ melakukan Sujud Sahwi dalam waktu yang lama. Artinya waktu yang lama tidak bisa dijadikan.

Kedua: Orang yang lupa, selama wudhunya masih ada, diperintahkan untuk menyempurnakan shalatnya dan diperintahkan untuk Sujud Sahwi. Meskipun lama waktunya, Sujud Sahwi tetap diwajibkan. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi ﷺ:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran, maka kafarahnya (penebusnya) adalah hendaklah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684)

Keadaan Kedua: Jika Sujud Sahwinya ditinggalkan dan wudhunya batal

Untuk keadaan kedua ini, berarti shalatnya batal. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Orang seperti berarti harus mengulangi shalatnya. Kecuali jika Sujud Sahwi yang ditinggalkan adalah Sujud Sahwi sesudah salam dikarenakan kelebihan mengerjakan rakaat, maka ia boleh melaksanakan Sujud Sahwi setelah ia berwudhu kembali. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466]

Jika Lupa Berulang Kali dalam Shalat

Jika seseorang lupa berulang kali dalam shalat, apakah ia harus berulang kali melakukan Sujud Sahwi? Jawabannya, hal ini tidak diperlukan.

Ulama Syafi’iyah, ‘Abdul Karim Ar Rofi’i rahimahullah mengatakan: “Jika lupa berulang kali dalam shalat, maka cukup dengan Sujud Sahwi (dua kali sujud) di akhir shalat.” [Fathul ‘Aziz Syarh Al Wajiz, Abul Qosim Abdul Karim bin Muhammad Ar Rofi’i, 4/172, Darul Fikr]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: [Rumaysho.com]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
,

TATA CARA SUJUD SAHWI

TATA CARA SUJUD SAHWI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

TATA CARA SUJUD SAHWI

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sebelum dan Sesudah Salam

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadis, bahwa Sujud Sahwi dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat, sebelum atau sesudah salam. Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir “Allahu akbar”, begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sebelum Salam

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Abdullah bin Buhainah:

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan Sujud Sahwi ini sebelum salam.” [HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570]

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sesudah Salam

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” [HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573]

Sujud Sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam, sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Imron bin Hushain;

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

“Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah rakaat yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan Sujud Sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” [HR. Muslim no. 574]

Apakah Ada Takbiratul Ihram Sebelum Sujud Sahwi?

Sujud Sahwi sesudah salam TIDAK PERLU diawali dengan Takbiratul Ihram. Cukup dengan takbir untuk sujud saja. Pendapat ini adalah pendapat Mayoritas Ulama. Landasan mengenai hal ini adalah hadis-hadis mengenai Sujud Sahwi yang telah lewat.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata: “Para ulama berselisih pendapat mengenai Sujud Sahwi sesudah salam, apakah disyaratkan Takbiratul Ihram, ataukah cukup dengan takbir untuk sujud? Mayoritas ulama mengatakan cukup dengan takbir untuk sujud. Inilah pendapat yang nampak kuat dari berbagai dalil.” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 3/99, Darul Ma’rifah, 1379]

Apakah Perlu Tasyahud Setelah Sujud Kedua dari Sujud Sahwi?

Pendapat yang terkuat di antara pendapat ulama yang ada, TIDAK PERLU untuk Tasyahud lagi setelah sujud kedua dari Sujud Sahwi, karena tidak ada dalil dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal ini. Adapun dalil yang biasa jadi pegangan bagi yang berpendapat adanya, dalilnya adalah dalil-dalil yang lemah.

Jadi cukup ketika melakukan Sujud Sahwi, bertakbir untuk sujud pertama, lalu sujud. Kemudian bertakbir lagi untuk bangkit dari sujud pertama dan duduk sebagaimana duduk antara dua sujud (duduk Iftirosy). Setelah itu bertakbir dan sujud kembali. Lalu bertakbir kembali, kemudian duduk Tawaruk. Setelah itu salam, tanpa Tasyahud lagi sebelumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “TIDAK ADA dalil sama sekali yang mendukung pendapat ulama yang memerintahkan untuk Tasyahud setelah sujud kedua dari Sujud Sahwi. Tidak ada satu pun hadis Shahih yang membicarakan hal ini. Jika memang hal ini disyariatkan, maka tentu saja hal ini akan dihafal dan dikuasai oleh para sahabat yang membicarakan tentang Sujud Sahwi. Karena kadar lamanya Tasyahud itu hampir sama lamanya dua sujud, bahkan bisa lebih. Jika memang Nabi ﷺ melakukan Tasyahud ketika itu, maka tentu para sahabat akan lebih mengetahuinya daripada mengetahui perkara salam, takbir ketika akan sujud dan ketika akan bangkit dalam Sujud Sahwi. Semua-semua ini perkara ringan dibanding Tasyahud.” [Dialihbahasakan secara bebas dari Majmu’ Al Fatawa, 23/49]

Doa Ketika Sujud Sahwi

Sebagian ulama menganjurkan doa ini ketika Sujud Sahwi:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa). [Bacaan Sujud Sahwi semacam ini di antaranya disebutkan oleh An Nawawi rahimahullah dalam Roudhotuth Tholibiin, 1/116, Mawqi’ Al Waroq]

Namun zikir Sujud Sahwi di atas cuma anjuran saja dari sebagian ulama dan tanpa didukung oleh dalil. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .

“Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika Sujud Sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.” (At Talkhis Al Habiir, 2/6)

Sehingga yang tepat mengenai bacaan ketika Sujud Sahwi adalah seperti bacaan sujud biasa ketika shalat. Bacaannya yang bisa dipraktikkan seperti:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] [HR. Muslim no. 772]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku ] [HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484]

Dalam Mughnil Muhtaj –salah satu kitab fikih Syafi’iyah- disebutkan, “Tata cara Sujud Sahwi sama seperti sujud ketika shalat dalam perbuatann wajib dan sunnahnya, seperti meletakkan dahi, thuma’ninah (bersikap tenang), menahan sujud, menundukkan kepala, melakukan duduk iftirosy [Duduk iftirosy adalah keadaan duduk seperti ketika Tasyahud awwal, yaitu kaki kanan ditegakkan, sedangkan kaki kiri diduduki pantat] ketika duduk antara dua Sujud Sahwi, duduk tawarruk [Duduk Tawaruk adalah duduk seperti Tasyahud akhir, yaitu kaki kanan ditegakkan sedangkan kaki kiri berada di bawah kaki kanan] ketika selesai dari melakukan Sujud Sahwi, dan zikir yang dibaca pada kedua sujud tersebut adalah seperti zikir sujud dalam shalat.”

Sebagaimana pula diterangkan dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) ketika ditanya, “Bagaimanakah kami melakukan Sujud Sahwi?”

Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah menjawab:

“Sujud Sahwi dilakukan dengan dua kali sujud setelah Tasyahud akhir sebelum salam, dilakukan sebagaimana sujud dalam shalat. Zikir dan doa yang dibaca ketika itu adalah seperti ketika dalam shalat. Kecuali jika Sujud Sahwinya terdapat kekurangan satu rakaat atau lebih, maka ketika itu, Sujud Sahwinya sesudah salam. Demikian pula jika orang yang shalat memilih keraguan yang ia yakin lebih kuat, maka yang afdhol baginya adalah Sujud Sahwi sesudah salam. Hal ini berlandaskan berbagai hadis Shahih yang membicarakan Sujud Sahwi. Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.” [Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua; Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai wakil ketua; dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud sebagai anggota. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ soal ketujuh, Fatwa no. 8540, 7/129]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber: