Posts

,

HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR

HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR
 
Tidak dibolehkan menjamak di antara dua shalat tanpa uzur. Siapa yang menjamaknya tanpa uzur dan alasan syari, maka dia berdosa, karena bertentangan dengan ketentuan syariat yang menetapkan hal tersebut. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala:
 
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (سورة النساء: 103)
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisa: 103]
 
Demikian pula halnya dengan sabda Nabi ﷺ:
 
أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ (رواه أبو داود، رقم 393 والترمذي، رقم 149 وقال الألباني : إسناده حسن صحيح في ” صحيح أبي داود – الأم ” برقم 417)
“Jibril alaihissalam mengimami saya di Baitullah sebanyak dua kali. Dia mengimami saya shalat Zuhur ketika matahari tergelincir seukuran tali sandal. Kemudian dia mengimami saya shalat Ashar, ketika bayangan seukuran benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Maghrib ketika orang-orang yang berpuasa berbuka. Lalu dia shalat Isya, ketika mega merah terbenam. Lalu dia mengimami saya shalat Fajar, ketika orang yang berpuasa diharamkan makan dan minum. Kemudian keesokan harinya, dia mengimami saya shalat Zuhur, ketika bayangan seukuran benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Ashar, ketika bayangan seukuran dua kali lipat benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Maghrib, ketika orang-orang berpuasa. Lalu dia mengimami saya shalat Isya, hingga sepertiga malam. Lalu dia mengimami saya shalat Fajar ketika hari mulai terang. Lalu dia menoleh kepada saya dan berkata: ‘Wahai Muhammad, inilah waktu para nabi sebelummu. Maka waktu shalat adalah di antara kedua waktu tersebut.” [HR. Abu Daud, no. 393, Tirmizi, no. 149. Al-Albany berkata, ‘Sanadnya hasan shahih, terdapat dalam ‘Shahih Abu Daud’, no. 417]
 
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
“Kaum Muslimin sepakat, bahwa shalat lima waktu memiliki waktu tertentu. Dalam masalah ini terdapat hadis shahih yang banyak.” [Al-Mughni, 1/224]
 
Jika telah disimpulkan demikian, maka tidak boleh menjamak dua shalat, kecuali jika didapatkan sebab untuk menjamak, seperti safar, hujan atau sakit. Jika tidak didapatkan sebab untuk menjamak shalat, maka harus dilakukan sesuai aslinya, yaitu shalat pada waktunya masing-masing. [Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/60]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:
“Jika Nabi ﷺ telah menetapkan waktu shalat secara terperinci, maka melaksanakan shalat di luar waktunya merupakan tindakan melampaui batas atas ketentuan Allah ta’ala:
 
وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (سورة البقرة: 229)
“Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka Itulah orang-orang yang zalim.” [QS. Al-Baqarah: 229]
Siapa yang shalat sebelum waktunya, dia mengetahui dan sengaja, maka dia berdosa dan wajib mengulanginya lagi. Jika dia tidak tahu dan tidak sengaja, maka dia tidak berdosa namun wajib mengulanginya lagi. Hal ini terjadi apabila melakukan jamak takdim (menggabungkan shalat dengan melakukannya pada waktu pertama) tanpa sebab syari, maka shalat yang didahulukan tidak sah dan dia harus mengulanginya. Siapa yang menunda shalat hingga keluar waktunya dan dia tahu dan sengaja tanpa uzur, maka dia berdosa dan tidak diterima shalatnya, berdasarkan pendapat yang kuat. Ini terjadi bagi orang yang melakukan jamak takhir (menggabungkan dua shalat pada waktu kedua) tanpa sebab syari. Maka shalat yang diakhirkan tidak sah berdasarkan pendapat yang shahih. Setiap Muslim hendaknya bertakwa kepada Allah dan tidak menganggap remeh perkara yang sangat agung ini.”
[Majmu Fatawa, 15/387]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#keluarwaktushalat, #sholat, #shalat, #solat, #salat,#sifatshalatNabi,#jamak, #takdim, #taqdim, #takhir, #menjama, #qashar, #qoshor, #shalatpadawaktunya #tatacara #cara #mengqashar #mengqoshor #takdim #taqdim #takhir #taqhir #alasansyari #udzursyari #uzursyarir
, ,

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

 

Bagi para jamaah haji/umrah wanita, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi. Mari kita perhatikan hadis berikut ini:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid as-Sa’idi, bahwa ia telah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.”
Nabi ﷺ berkata: “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjidku.”
Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah. [HR. Ahmad no. 27.090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar]

Kita sudah mengetahui besarnya keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Namun bagi para wanita, shalat di rumah mereka TETAP LEBIH BAIK bagi mereka dibanding shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi mereka. Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid yang begitu menaati sunnah Nabi ﷺ dengan selalu shalat di rumah. Tidak seperti sebagian jamaah haji wanita yang kadang sampai shalat di jalan-jalan kota Makkah karena masjid-masjid penuh. Mereka bersemangat tinggi, tapi tidak didasari ilmu agama yang memadai.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://muslim.or.id/10435-menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#SifatShalatNabi,#SifatSholatNabi, #sifatsholatNabi, #sifatshalatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #caranya, #perempuan, #wanita, #muslimah, #lebihbaik, #dirumahnya, #masjidNabawi, #mesjidNabawi, #umrah, #umroh, #haji, #fadhilah

,

KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI

KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI
 
Ada keutamaan tersendiri bagi orang yang tidak ketinggalan Takbiratul Ihram bersama imam selama 40 hari lamanya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari Takbiratul Ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari siksa Neraka dan terbebas dari kemunafikan.” [HR. Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini Hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652]
 
Ada kisah disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama Syafi’i), bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili, juga 40 hamba sahayanya. Ia pun sedih. Lantas ia menemui Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ menyatakan:
“Ini barangkali karena engkau sering luput dari Takbiratul Ihram bersama imam.”
Abu Umamah pun berkata:
“Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari Takbiratul Ihram bersama imam?”
Nabi ﷺ bersabda:
“Bahkan itu lebih parah dari hilangnya unta sepenuh bumi.” [Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43]
 
Hadis di atas punya penguat diriwayatkan dari Ibnu Syahin dalam At-Targhib (1: 157), dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takbiratul pertama yang didapati bersama imam lebih baik dari memiliki seribu unta.” [Disebutkan pula oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Al-Kabir, no. 10720]
 
Bisa tidak ya dilakukan? Pasti bisa, jika berusaha sembari meminta tolong pada Allah. Ingatlah, tidak ada yang memudahkan kita dalam ibadah, kecuali dengan pertolongan Allah.
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#SifatSholatNabi #SifatShalatNabi, #janganketinggalan, #jangantertinggal, #takbiratulihram #,takbiratulihrom, #bersamaimam, #bertakbiratulihram, #bertakbiratulihrom, #takbiratulpertama, #seribuunta, #seribuonta, #keutamaan, #utama, #fadhilah, #fadilah #1000unta, #1000onta #terbebasdarisiksaNeraka, #terbebasdarikemunafikan, #terbebasdarimunafik, #siksaNeraka, #munafik, #munafiqun, #kemunafikan, #bebas, #terbebas  #tidak ketinggalan, #arbain, #40 harilamanya, #selama40hari, #berturutturut #SifatSholatNabi,#SifatShalatNabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat #terlambat, #masbuk, #masbuq, #ketinggalan, #tertinggal
, ,

APAKAH SESEORANG BOLEH BERDOA KETIKA SHALAT FARDHU?

APAKAH SESEORANG BOLEH BERDOA KETIKA SHALAT FARDHU?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatShalatNabi, #FatwaUlama
 
APAKAH SESEORANG BOLEH BERDOA KETIKA SHALAT FARDHU?
Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya, bolehkah seseorang berdoa di tengah shalat wajib, misalnya setelah melakukan beberapa rukun, seperti ketika sujud seusai membaca Subhanallah, lalu berdoa, Allahummaghfirli warhamni (Ya Allah ampunilah aku dan rahmatillah aku) atau doa yang lain?
 
Jawaban:
Disyariatkan bagi seorang Mukmin untuk berdoa ketika shalatnya, di saat yang disunnahkan untuk berdoa, baik ketika shalat fardhu maupun shalat sunnah. Adapun saat berdoa katika shalat adalah tatkala:
• Sujud,
• Duduk di antara dua sujud dan
• Akhir salat setelah Tasyahud dan shalawat atas Nabi ﷺ sebelum salam.
 
Sebagaimana telah disebutkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau ﷺ berdoa ketika duduk di antara dua sujud untuk memohon ampunan. Telah diriwayatkan pula bahwa beliau ﷺ berdoa ketika duduk di antara dua sujud:
 
اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَاجْبُرنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي
“Allahummagfirlii, warhamnii, wahdinii, wajburnii, warjuqnii, wa’aafinii.”
 
Artinya:
Ya Allah ampunilah aku, rahmatillah aku, berilah hidayah kepadaku, cukupilah aku, berilah rezeki kepadaku, dan maafkanlah aku.”
 
Nabi ﷺ juga bersabda:
 
أَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظَّمُوا فِيْهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِفَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَلَكُمْ
 
“Artinya: Adapun Ruku, maka agungkanlah Rabb-mu. Sedangkan ketika sujud. bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, niscaya segera dikabulkan untuk kalian.” [Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya]
 
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُمِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ
 
“Artinya: Jarak paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud. Maka perbanyaklah doa (ketika itu).”
 
Di dalam Ash-Shahihian, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, bahwa Nabi ﷺ ketika mengajarkan Tasyahud kepadanya berkata:
“Kemudian hendaknya seseorang memilih permintaan yang dia kehendaki”
 
Dalam lafal yang lain:
“Kemudian pilihlah doa yang paling disukai, lalu berdoa.”
 
Hadis-hadis yang semakna dengan ini banyak. Hal ini menunjukkan disyariatkannya berdoa dalam kondisi-kondisi tersebut dengan doa yang disukai oleh seorang Muslim, baik yang berhubungan dengan Akhirat maupun yang berkaitan dengan kemaslahatan duniawi. Dengan syarat, dalam doanya tidak ada unsur dosa dan memutuskan silaturahim. Namun yang paling utama adalah memerbanyak doa dengan doa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ
 
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Abdillah Abdul Aziz, Penerbit At-Tibyan Solo]
 
,

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

Merupakan hal yang terlihat kurang lazim di masyarakat kita, apabila selesai shalat tidak berdoa. Bisa dimaklumi tentunya, mengingat inilah hal yang telah membudaya sejak lama di negeri kita. Tapi tak ada salahnya jika kita sedikit memelajari, bagaimana tinjauan agama dalam masalah ini, agar kita benar-benar berada di atas petunjuk yang nyata tentangnya.

Untuk itu, kami akan bawakan sebuah penjelasan dari asy-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah mengenai hal ini. Kita simak bersama, apa yang beliau utarakan, beserta dalil-dalil yang beliau bawakan, agar dengan itu kiranya kita bisa dengan lapang dada dalam menjalankannya.

Dalam salah satu pertanyaan yang diajukan pada beliau disebutkan:

السؤال: بعض الناس في صلاة الفرض يرفعون أيديهم بعد الدعاء فما رأيكم؟

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat Anda terkait amalan sebagian orang yang berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat wajib?

 

: الجواب

[الدعاء بعد الصلاة ليس بسنة, لأن الله تعالى قال: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

إلا في حالة واحدة وهي صلاة الاستخارة؛ لأن صلاة الاستخارة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم: « إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليدعو» فجعل الدعاء بعد صلاة الركعتين. أما ما سواها من الصلوات فليس من السنة أن يدعو سواءً رفع يديه أم لم يرفع، وسواءً في الفريضة أو في النافلة؛ لأن الله أمر بذكره بعد انتهاء الصلاة

[فقال سبحانه وتعالى: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

[وقال في سورة الجمعة: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ [الجمعة:10

:وإنما يقال للإنسان: إذا كنت تريد أن تسأل الله شيئاً فادعو الله قبل أن تسلم؛ لوجهين

الوجه الأول: أن هذا هو الذي أمر به الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال في التشهد: إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

ثانياً: أنك إذا كنت في الصلاة فإنك تناجي ربك، وإذا سلمت انتهت المناجاة. فهل الأفضل: أن تسأل الله في حال مناجاتك إياه، أو بعد انصرافك من المناجاة؟ الجواب: الأول. تدعو وأنت تناجي ربك

Jawaban:

“Berdoa setelah shalat bukan amalan sunnah. Karena Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Kecuali pada satu jenis shalat, yaitu shalat istikharah. Terkait shalat istikharah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila salah seorang kalian telah bertekad terhadap suatu perkara, maka hendaknya dia shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoa…”[HR. al-Bukhari, no. 1162]

Dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menetapkan, bahwa doa dilakukan setelah mengerjakan shalat dua rakaat. Adapun selain shalat istikharah, bukan termasuk sunnah, jika berdoa setelahnya, dengan mengangkat tangan ataupun tidak, shalat sunnah ataukah wajib. Karena Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya setelah selesai shalat (bukan berdoa, pent). Dia berfirman dalam ayat-Nya:

(فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ)

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Dan dalam surah al-Jumu’ah:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah pada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)

Maka yang benar, kita katakan: “Apabila Anda ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka berdoalah sebelum Anda salam, di waktu shalat. Ini berdasar pada dua alasan:

  • Alasan pertama, sesudah bacaan Tahiyyat sebelum salam merupakan waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Beliau ﷺ bersabda terkait Tasyahhud:

إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

“Apabila dia telah selesai dari bacaan Tahiyyat, silakan dia berdoa sesuai dengan permohonan yang dia inginkan.” [HR. al-Jama’ah]

  • Alasan kedua, di saat Anda shalat, sesungguhnya Anda tengah bermunajat pada Allah. Dan jika sudah salam, maka berakhirlah waktu munajat Anda. Maka mana yang lebih utama:

(1) Anda berdoa saat masih bermunajat pada-Nya atau

(2) Saat Anda sudah tidak lagi bermunajat?

Tentu yang pertama jawabannya. Berdoa saat masih bermunajat pada Allah.”

[Liqaa Baab al-Maftuuh ma’a asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin no. 82]

Suara asli beliau dengan berbahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut:

 

 

Demikian penjelasan dari beliau rahimahullah.

Jadi kesimpulannya, bahwa berdoa setelah shalat bukan hal yang disunnahkan. Meski kita pun juga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang haram. Silakan dia berdoa pada sebagian waktu saat, selesai shalat jika ingin. Namun apabila dilakukan terus menerus, maka ini pun bukan hal yang baik, karena itu berarti dia telah menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ. Sedang beliau ﷺ bersabda dalam hadisnya:

.وَ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad ﷺ.” [HR. al-Bukhari, no. 6098]

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalaamin. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/206/habis-shalat-berdoa#sthash.i9JNcgYg.dpuf

,

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

Pertanyaan:

Musholla di tempat saya berukuran kecil, sehingga shaf makmum laki-laki dan wanita dibuat sejajar dan hanya dipisahkan oleh hijab. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf (barisan di dalam shalat) bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang paling depan (HR. Muslim 132, Tirmidzi, no. 224, dan Ibnu Majah, no. 1000)

Hadis ini merupakan aturan ideal untuk posisi shaf lelaki dan wanita, bahwa yang lebih sesuai sunah, shaf wanita berada di belakang lelaki. Semakin jauh dari lelaki, semakin baik.

Jika shaf wanita sejajar dengan lelaki, apakah membatalkan shalat?

Berikut keterangan Syaikhul Islam:

وقوف المرأة خلف صف الرجال سنة مأمور بها، ولو وقفت في صف الرجال لكان ذلك مكروهاً، وهل تبطل صلاة من يحاذيها؟ فيه قولان للعلماء في مذهب أحمد وغيره:

”Posisi shaf wanita di belakang laki-laki adalah aturan yang diperintahkan. Sehingga ketika wanita ini berdiri di shaf lelaki (sesejar dengan lelaki) maka statusnya dibenci. Apakah shalat lelaki yang berada di sampingnya itu menjadi batal? Ada dua pendapat dalam Madzhab Hambali dan madzhab yang lainnya.”

Selanjutnya Syaikhul Islam menyebutkan perselisihan mereka:

أحدهما: تبطل، كقول أبي حنيفة وهو اختيار أبي بكر وأبي حفص من أصحاب أحمد. والثاني: لا تبطل، كقول مالك والشافعي، وهو قول ابن حامد والقاضي وغيرهما

Pendapat pertama, shalat lelaki yang di sampingnya batal. Ini pendapat Abu Hanifah , dan pendapat yang dipilih oleh Abu Bakr dan Abu Hafsh di kalangan ulama Hambali.

Pendapat kedua, shalatnya tidak batal. Ini pendapat Malik, as-Syafii, pendapat yang dipilih Abu Hamid, al-Qadhi dan yang lainnya. (al-Fatawa al-Kubro, 2/325).

Di antara ulama yang menilai bahwa ini batal, karena posisi semacam ini bisa memancing syahwat lelaki. As-Sarkhasi – ulama Hanafi – (w. 483 H) mengatakan:

بأن حال الصلاة حال المناجاة، فلا ينبغي أن يخطر بباله شيء من معاني الشهوة، ومحاذاة المرأة إياه لا تنفك عن ذلك عادة، فصار الأمر بتأخيرها من فرائض صلاته، فإذا ترك تفسد صلاته

Ketika shalat, manusia sedang bermunajat dengan Allah. Karena itu tidak selayaknya terlintas dalam batinnya pemicu syahwat. Sementara sejajar dengan wanita, umumnya tidak bisa lepas dari syahwat. Sehingga perintah untuk memosisikan wanita di belakang, termasuk kewajiban shalat. Dan jika ditinggalkan maka shalatnya batal. (al-Mabsuth, 2/30).

Hanya saja, semata alasan memicu syahwat, belum cukup untuk bisa membatalkan shalat. Karena semata muncul lintasan dalam diri orang yang shalat, tidaklah membatalkan shalat. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Hukum Pikiran Kotor dalam Shalat: https://konsultasisyariah.com/20816-hukum-pikiran-kotor-ketika-shalat.html

Namun semacam ini semaksimal mungkin untuk dihindari, karena mengancam kekhusyuan shalat seseorang.Imam Ibnu Utsaimin mengatakan:

كون النساء يقمن صفاً أمام الرجال فإن هذا بلا شك خلاف السنة، لأن السنة أن يكون النساء متأخرات عن الرجال، لكن الضرورة أحياناً تحكم على الإنسان بما لا يريد، فإذا كان أمام المصلي صف من النساء، أو طائفة من النساء فإن الصلاة خلفهن إذا أمن الإنسان على نفسه الفتنة جائزة، ولهذا من عبارات الفقهاء قولهم: “صف تام من النساء لا يمنع اقتداء من خلفهن من الرجال”

Posisi wanita yang berada di depan lelaki, semacam ini kita yakini bertentangan dengan sunah. Karena yang sesuai sunah, wanita di belakang lelaki. Namun kondisi darurat memaksa seseornag untuk melakukan di luar keinginannya. Karena itu, jika di depan lelaki ada shaf wanita, atau beberapa wanita, maka status shalat orang yang berada di belakang mereka hukumnya boleh, jika aman dari munculnya fitnah dalam dirinya. Di antara ungkapan ulama fikih dalam masalah ini:

صف تام من النساء لا يمنع اقتداء من خلفهن من الرجال

Shaf wanita di depan lelaki, tidaklah menghalangi lelaki di belakangnya untuk menjadi makmum (dalam shalat jamaah).

Mengingat alasan munculnya syahwat ini, beliau melarang seseorang lelaki untuk berdiri tepat di samping wanita.

وأما مصافة الرجال للنساء فهذه فتنة عظيمة، ولا يجوز للرجل أن يصف إلى جنب المرأة، فإذا وجد الإنسان امرأة ليس له مكان إلا بجانبها فينصرف ولا يقف جنبها، لأن هذا فيه فتنة عظيمة

Untuk lelaki yang satu shaf dengan wanita, ini bisa menimbulkan fitnah besar. Dan tidak boleh seorang lelaki mengambil posisi di samping wanita. Jika seorang lelaki tidak mendapatkan tempat, kecuali harus di samping wanita persis, hendaknya dia pindah dan tidak berdiri di sampingnya persis. Karena semacam ini menjadi sumber firnah besar.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, volume 15, Bab. Shalat Berjamaah)

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa kita simpulkan:

  • Posisi shaf lelaki yang berada di samping atau bahkan di belakang lelaki, tidaklah membatalkan shalat, menurut pendapat yang kuat.
  • Jika posisi shaf lelaki di dekat wanita bisa menimbulkan syahwat, maka dia dia harus menghindar dan mencari tempat yang lain. Karena bisa menjadi sumber fitnah.
  • Jika posisi lelaki di samping atau belakang wanita tidak sampai menimbulkan syahwat karena alasan darurat, hukumnya boleh dan tidak memengaruhi keabsahan shalat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Sumber:  https://konsultasisyariah.com/21355-shaf-laki-laki-sejajar-dengan-shaf-wanita-batal-shalat.html

,

SHALAT TASBIH, BID’AH ATAU SUNNAH?

SHALAT TASBIH, BID'AH ATAU SUNNAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#SifatShalatNabi

SHALAT TASBIH, BID’AH ATAU SUNNAH?

Pertama, Disyariatkan atau Tidak?

Terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang shalat Tasbih, apakah disyariatkan atau tidak? Letak silang pendapat dalam hal ini adalah berkaitan dengan perbedaan pendapat ulama tentang kedudukan hadis Shalat Tasbih.

Yang lebih kuat, bahwa hadis tentang Shalat Tasbih adalah hadis yang kuat. Walaupun pada banyak riwayatnya terdapat kelemahan, namun terdapat sebagian jalur riwayat yang kuat. Karena itu, hadis Shalat Tasbih telah dishahihkan oleh banyak ulama, dari dahulu hingga hari ini.

Kedua, Tata Cara Shalat

Shalat Tasbih bukanlah tergolong ke dalam shalat sunnah Mu’akkad (yang ditekankan pelaksanaannya), bahkan hanya dilakukan kadang-kadang saja.

Secara umum, Shalat Tasbih sama dengan tata cara shalat yang lain, hanya saja ada tambahan bacaan Tasbih yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar

Lafal ini diucapkan sebanyak 75 kali pada tiap rakaat, dengan perincian sebagai berikut:

–   Sesudah membaca Al-Fatihah dan surah sebelum ruku, sebanyak 15 kali,

–   Ketika ruku’ sesudah membaca doa ruku’, dibaca lagi sebanyak 10 kali,

–   Ketika bangun dari ruku’ sesudah bacaan i’tidal, dibaca 10 kali,

–   Ketika sujud pertama sesudah membaca doa sujud, dibaca 10 kali,

–   Ketika duduk di antara dua sujud sesudah membaca bacaan antara dua sujud, dibaca 10 kali,

–   Ketika sujud yang kedua sesudah membaca doa sujud, dibaca lagi sebanyak 10 kali,

–   Ketika bangun dari sujud yang kedua sebelum bangkit (duduk istirahat), dibaca lagi sebanyak 10 kali.

Demikianlah rinciannya, bahwa Shalat Tasbih dilakukan sebanyak empat rakaat dengan sekali Tasyahud, yaitu pada rakaat yang keempat, lalu salam. Bisa juga dilakukan dengan cara dua rakaat-dua rakaat, di mana setiap dua rakaat membaca tasyahud, kemudian salam. Wallahu A’lam.

Ketiga, Jumlah Rakaat

Semua riwayat menunjukkan empat rakaat, dengan Tasbih sebanyak 75 kali di setiap rakaat. Jadi keseluruhannya 300 kali Tasbih.

Keempat, Waktu Shalat

Waktu Shalat Tasbih yang paling utama adalah sesudah tenggelamnya matahari, sebagaimana dalam riwayat Abdullah bin Amr. Tetapi dalam riwayat Ikrimah yang mursal diterangkan, bahwa boleh malam hari dan boleh siang hari. Wallahu A’lam.

Terdapat pilihan dalam shalat ini. Jika mampu, bisa dikerjakan tiap hari. Jika tidak mampu, bisa tiap pekan. Jika masih tidak mampu, bisa tiap bulan. Jika tetap tidak mampu, bisa tiap tahun, atau hanya sekali seumur hidup. Karena itu, hendaklah kita memilih mana yang paling sesuai dengan kondisi kita masing-masing.

Hadis tentang shalat Tasbih adalah hadis yang tsabit/sah dari Rasulullah ﷺ. Maka boleh diamalkan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan di atas.

Demikian kesimpulan dari Shalat Tasbih dari makalah kami yang pernah dimuat di Risalah ‘Ilmiyyah An-Nashihah vol. 1.

Wallahu A’lam.

Untuk melengkapi pembahasan yang singkat ini, maka disertakan penyimpangan-penyimpangan (bid’ah–bid’ah) yang banyak terjadi sekitar pelaksanaan shalat Tasbih, di antaranya:

  1. Mengkhususkan pada malam Jumat saja.
  2. Dilakukan secara berjamaah terus menerus.
  3. Diiringi dengan bacaan-bacaan tertentu sebelum shalat ataupun sesudah shalat.
  4. Tidak mau shalat kecuali bersama imamnya atau jamaahnya atau tariqatnya.
  5. Tidak mau shalat kecuali di mesjid tertentu.
  6. Keyakinan sebagian yang melakukannya bahwa rezekinya akan bertambah dengan Shalat Tasbih.
  7. Membawa binatang-binatang tertentu untuk disembelih sebelum atau sesudah shalat Tasbih, disertai dengan keyakinan-keyakinan tertentu.

(Dengan tambahan Takhrij Hadis dari Ustadz Dzulqarnain)

 

[Jawaban di atas dinukil dari tulisan Ustadz Luqman Jamal -hafizhahullah- di majalah An-Nashihah]

Sumber: http://al-atsariyyah.com/shalat-tasbih.html