Posts

,

BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?
 
Hadis Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk Tasyahud ini, di antaranya:
 
وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا
 
“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau – yaitu jari tengah dan ibu jari – pen). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.” Bisyr ibnul Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadis ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. [HR . Abu Daud no. 726, 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud]
 
 
 
Sumber: [Dakwahsunnah.com]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#sifatsholatNabi #sifatshalatNabi #tatacara #carasalatNabi #posisitangandanjariketikatasyahud #bagaimanatangandanjariwaktuTasyahud #dudukTasyahud #shalat #sholat #salat #solat #salat #tasyahud #tasyahhud

,

PERIKSA PERIHAL SHALAT SUBUHNYA

PERIKSA PERIHAL SHALAT SUBUHNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PERIKSA PERIHAL SHALAT SUBUHNYA
 
Dari Abu Musa, Nabi kita ﷺ bersabda:
 
مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang mengerjakan shalat Bardain (yaitu shalat Subuh dan Ashar), maka dia akan masuk Surga.” [HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635).
 
Ibnu Baththol rahimahullah berkata:
“Shalat Subuh akan membuat seseorang mendapatkan perhatian Allah pada Hari Kiamat. Kenapa dikhususkan dua shalat ini? Karena berkumpulnya para malaikat malam dan siang di dua waktu tersebut. Inilah makna firman Allah taala:
 
وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [QS. Al Isro’: 78] [Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/250, Asy Syamilah]
 
Azhim Abadi rahimahullah, penulis ‘Aunul Ma’bud menjelaskan hadis tersebut:
“Yaitu maksudnya adalah melaksanakan shalat Subuh dan ‘Ashar secara rutin. Dikhususkan dua shalat ini, karena waktu Subuh adalah waktu tidur dan waktu ‘Ashar adalah waktu sibuk beraktivitas dengan berdagang. Barang siapa yang menjaga dua shalat tersebut di saat-saat kesibukannya, tentu ia akan lebih menjaga shalat fardhu lainnya, karena shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kedua waktu tersebut juga adalah waktu yang dipersaksikan para malaikat malam dan siang. Pada waktu tersebut amalan hamba diangkat dan sangat mungkin saat-saat itu dosa diampuni, karena dua shalat yang dilakukan. Akhirnya ia pun bisa masuk jannah (Surga).” [‘Aunul Ma’bud, 2/68]
 
Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk selalu menjaga shalat yang utama, shalat Subuh. Semoga Allah mudahkan untuk terus berjamaah di masjid, khusus bagi para pria.
 
Wallahu waliyyut taufiq.
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#shalat #sholat #salat #solat #sifatshalatNabi #shifatshalatnabi #Bardain #Subuh #Ashar #Asar #malaikatmalamsiangikutmenyaksikan #shalatSubuhitudisaksikanolehmalaikat #QSAlIsroayat78
, ,

SIAPA YANG BERHAK MENJADI IMAM DAN BEBERAPA ADAB BERKAITAN DENGANNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
SIAPA YANG BERHAK MENJADI IMAM DAN BEBERAPA ADAB BERKAITAN DENGANNYA
 
Pertama: Menimbang Diri, Apakah Dirinya Layak Menjadi Imam untuk Jamaah, atau Ada yang Lebih Afdhal Darinya?
 
Penilaian ini tentu berdasarkan sudut pandang syariat. Di antara yang harus menjadi penilaiannya ialah: [Kitab Akhtha-ul Mushallin, Syaikh Masyhur Hasan Al Salman, halaman 1/151]
 
a). Jika seseorang sebagai tamu, maka yang berhak menjadi imam ialah tuan rumah, jika tuan rumah layak menjadi imam.
 
b). Penguasa lebih berhak menjadi imam, atau yang mewakilinya. Maka tidaklah boleh maju menjadi imam, kecuali atas izinnya. Begitu juga orang yang ditunjuk oleh penguasa sebagai imam, yang disebut dengan Imam Rawatib.
 
c). Kefasihan dan kealiman dirinya. Maksudnya, jika ada yang lebih fasih dalam membawakan bacaan Alquran dan lebih alim, sebaiknya dia mendahulukan orang tersebut. Hal ini ditegaskan oleh hadis yang diriwayatkan Abi Mas`ud Al Badri radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ bersabda:
 
يَؤُمُّ اْلقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ ، فَإِنْ كَانُوْا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءٌ فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ ، فَإِنْ كَانُوْا فِى السُّنَّةِ سَوَاءٌ فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَإِنْ كَانُوْا فِى اْلهِجْرَةِ سَوِاءٌ فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا (وَفِى رِوَايَةٍ: سِنًّا)، وَ لاََ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِه (وفى رواية: فِي بَيْتِهِ) وَ لاَ يَقْعُدْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ
 
“Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum, ialah yang paling pandai membaca Kitabullah. Jika mereka dalam bacaan sama, maka yang lebih mengetahui tentang sunnah. Jika mereka dalam sunnah sama, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat lain: umur). Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya). Dan janganlah duduk di tempat duduknya, kecuali seizinnya” [HR Muslim 2/133. Lihat Irwa` Ghalil 2/256-257]
 
d). Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam apabila jamaah tidak menyukainya. Dalam sebuah hadis disebutkan:
 
ثََلاثَةٌ لاَ تَرْتَفِعُ صَلاَتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْرًا: رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهمْ لََهُ كَارِهُوْنَ…
 
“Tiga golongan yang tidak terangkat shalat mereka lebih satu jengkal dari kepala mereka: (Yaitu) seseorang menjadi imam suatu kaum yang membencinya.” [HR Ibnu Majah no. 971. Berkata Syaikh Khalil Makmun Syikha: “Sanad ini Shahih, dan rijalnya tsiqat.” Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalan Thalhah, Abdullah bin Amr dan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Berkata Shiddiq Hasan Khan: “Dalam bab ini, banyak hadis dari kelompok sahabat saling menguatkan satu sama lain.” (Lihat Ta`liqatur Radhiyah, halaman 1/336]
 
Berkata Shiddiq Hasan Khan rahimahullah:
“Zahir hadis yang menerangkan hal ini, bahwa tidak ada perbedaan antara orang-orang yang membenci dari orang-orang yang mulia (ahli ilmu, pent), atau yang lainnya. Maka dengan adanya unsur kebencian, dapat menjadi uzur bagi yang layak menjadi imam untuk meninggalkannya”.
 
Kebanyakan kebencian yang timbul, terkhusus pada zaman sekarang ini, berasal dari permasalahan dunia. Jika ada di sana dalil yang mengkhususkan kebencian, karena kebencian (didasarkan, red.) karena Allah, seperti seseorang membenci orang yang bergelimang maksiat, atau melalaikan kewajiban yang telah dibebankan kepadanya, maka kebencian ini bagaikan kibrit ahmar (ungkapan untuk menunjukkan sesuatu yang sangat langka, pen.). Tidak ada hakikatnya kecuali pada bilangan tertentu dari hamba Allah. (Jika) tidak ada dalil yang mengkhususkan kebencian tersebut, maka yang lebih utama, bagi siapa yang mengetahui, bahwa sekelompok orang membencinya -tanpa sebab atau karena sebab agama- agar tidak menjadi imam untuk mereka, pahala meninggalkannya lebih besar dari pahala melakukannya. [Ta`liqatur Radhiyah, halaman 1/337-338]
 
Berkata Ahmad dan Ishaq:
“Jika yang membencinya satu, dua atau tiga, maka tidak mengapa ia shalat bersama mereka, hingga dibenci oleh kebanyakan kaum.” [Lihat Dha`if Sunan Tirmizi, halaman 39]
 
Kedua: Seseorang Yang Menjadi Imam Harus Mengetahui Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Shalat, Dari Bacaan-Bacaan Shalat yang Shahih, Hukum-Hukum Sujud Sahwi dan Seterusnya
 
Karena seringkali kita mendapatkan seorang imam memiliki bacaan yang salah, sehingga mengubah makna ayat, sebagaimana yang pernah penulis dengar dari sebagian imam sedang membawakan surat Al Lumazah, dia mengucapkan ”Allazi jaama`a maalaw wa `addadah”, dengan memanjangkan “Ja”, sehingga artinya berubah dari arti ‘mengumpulkan’ harta, menjadi ‘menyetubuhi’nya. Na`uzubillah.
 
Sebagaimana yang dikisahkan kepada penulis, bahwa seorang imam berdiri setelah rakaat keempat pada shalat Rubaiah (empat rakaat). Ketika dia berdiri, maka bertasbihlah para makmun yang berada di belakangnya, sehingga membuat masjid menjadi riuh. Tasbih makmum malah membuat imam bertambah bingung. Apakah berdiri atau bagaimana!? Setelah lama berdiri, hingga membuat salah seorang makmun menyeletuk: ”Rakaatnya bertambaaah, Pak!!” Lihat, bagaimana imam dan makmum tersebut tidak mengetahui tata cara shalat yang benar.
 
Ketiga: Mentakhfif Shalat
Yaitu mempersingkat shalat demi menjaga keadaan jamaah dan untuk memudahkannya. Batasan dalam hal ini ialah mencukupkan shalat dengan hal-hal yang wajib dan yang sunat-sunat saja, atau hanya mencukupkan hal-hal yang penting dan tidak mengejar semua hal-hal yang dianjurkan[10]. Di antara nash yang menerangkan hal ini, ialah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
 
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيْهِمُ السَّقِيْمَ وَ الضَّعِيْفَ وَ اْلكَبِيْرَ، وَ إِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطِلْ مَا شَاءَ
 
“Jika salah seorang kalian shalat bersama manusia, maka hendaklah (dia) mentakhfif, karena pada mereka ada yang sakit, lemah dan orang tua. (Akan tetapi), jika dia shalat sendiri, maka berlamalah sekehandaknya.” [HR Bukhari, Fathul Bari, 2/199, no. 703]
 
Akan tetapi perlu diingat, bahwa takhfif merupakan suatu perkara yang relatif. Tidak ada batasannya menurut syariat atau adat. Bisa saja menurut sebagian orang pelaksanaan shalatnya terasa panjang, sedangkan menurut yang lain terasa pendek, begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya, hendaklah bagi imam -dalam hal ini- mencontoh yang dilakukan Nabi ﷺ, bahwa penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan beliau ﷺ dalam shalat kembali kepada mashlahat. Semua itu hendaklah dikembalikan kepada sunnah, bukan pada keinginan imam, dan tidak juga kepada keinginan makmum. [Shalatul Jamaah, halaman 166-167]
 
Keempat: Kewajiban Imam untuk Meluruskan dan Merapatkan Shaf
Ketika shaf dilihatnya telah lurus dan rapat, barulah seorang imam bertakbir, sebagaimana Nabi ﷺ mengerjakannya.
 
Dari Nu`man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu berkata:
”Adalah Rasulullah ﷺ meluruskan shaf kami. Seakan-akan beliau meluruskan anak panah. Sampai beliau melihat, bahwa kami telah memenuhi panggilan beliau. Kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat). Beliau berdiri, dan ketika hendak bertakbir, nampak seseorang kelihatan dadanya maju dari shaf. Beliau pun berkata:
 
لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُْم أَوْ لَيُخَالِفُنَّ الله ُبَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
 
“Hendaklah kalian luruskan shaf kalian, atau Allah akan memecah-belah persatuan kalian” [HR Muslim no. 436]
 
Adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mewakilkan seseorang untuk meluruskan shaf. Beliau tidak akan bertakbir hingga dikabarkan, bahwa shaf telah lurus. Begitu juga Ali dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma melakukannya juga. Ali sering berkata, ”Maju, wahai Fulan! Ke belakang, wahai Fulan!” [Lihat Jami` Tirmidzi, 1/439; Muwaththa`, 1/173 dan Al Umm, 1/233]
 
Salah satu kesalahan yang sering terjadi, seorang imam menghadap Kiblat dan dia mengucapkan dengan suara lantang,”Rapat dan luruskan shaf,” kemudian dia langsung bertakbir. Kita tidak tahu, apakah imam tersebut tidak tahu arti rapat dan lurus. Atau rapat dan lurus yang dia maksud berbeda dengan rapat dan lurus yang dipahami oleh semua orang?!
 
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Adalah salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki kawannya.” Dalam satu riwayat disebutkan, “Aku telah melihat salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya. Jika engkau lakukan pada zaman sekarang, niscaya mereka bagaikan keledai liar (tidak suka dengan hal itu, pen).” [HR Abu Ya`la dalam Musnad, no. 3720 dan lain-lain, sebagimana dalam Silsilah Shahihah, no. 31]
 
Oleh karenanya, Busyair bin Yasar Al Anshari berkata, dari Anas radhiyallahu ‘anhu:
“Bahwa ketika beliau datang ke Madinah, dikatakan kepadanya, ’Apa yang engkau ingkari pada mereka semenjak engkau mengenal Rasulullah ﷺ ?’ Beliau menjawab,’Tidak ada yang aku ingkari dari mereka, kecuali mereka tidak merapatkan shaf’.” [HR Bukhari no. 724, sebagaimana dalam kitab Akhtha-ul Mushallin, Syaikh Masyhur Hasan, halaman 207]
 
Berkata Syaikh Masyhur bin Hasan hafizhahullah:
“Jika para jamaah tidak mengerjakan apa yang dikatakan oleh Anas dan Nu`man radhiyallahu ‘anhu, maka celah-celah tetap ada di shaf. Kenyataanya, jika shaf dirapatkan, tentu shaf dapat diisi oleh dua atau tiga orang lagi. Akan tetapi jika mereka tidak melakukannya, niscaya mereka akan jatuh ke dalam larangan syariat. Di antaranya;
 
a). Membiarkan celah untuk setan dan Allah Azza wa Jalla putuskan perkaranya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:“Luruskanlah shaf kalian, dan luruskanlah pundak-pundak kalian, dan tutuplah celah-celah. Jangan biarkan celah-celah tersebut untuk setan. Barang siapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambung (urusan)nya. Barang siapa yang memutuskan shaf, niscaya Allah akan memutus (urusan)nya.” [HR Abu Daud dalam Sunan, no. 666, dan lihat Shahih Targhib Wa Tarhib, no. 495]
 
b). Perpecahan hati dan banyaknya perselisihan di antara jamaah
 
c). Hilangnya pahala yang besar, sebagaimana diterangkan dalam hadis Shahih, di antaranya sabda Rasulullah ﷺ:
 
إِنَّ الله َوَ مَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلوُْنَ الصُّفُوْفَ
 
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya mendoakan kepada orang yang menyambung shaf” [HR Ahmad dalam Musnad, 4/269, 285,304 dan yang lainnya. Hadisnya Shahih [Lihat Akhtha-ul Mushallin, halaman 210-211]
 
Kelima: Meletakkan Orang-Orang yang Telah Baligh dan Berilmu
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:
 
لِيَلِيَنِيْ مِنْكُمْ أُوْلُوْا اْلأَحْلاَمَ وَ النُّهَى ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ وَإِيَّاكُمْ وَ هَيْشَاتُ اْلأَسْوَاقِ
 
“Hendaklah yang mengiringiku orang-orang yang telah baligh dan berakal, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. Dan janganlah kalian berselisih, niscaya berselisih juga hati kalian. Dan jauhilah oleh kalian suara riuh seperti di pasar.” [HR Muslim no. 432 dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih, no. 1572].
 
Keenam: Menjadikan Sutrah (Pembatas) Ketika Hendak Shalat
Hadis yang menerangkan hal ini sangat mashur. Di antaranya hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu:
 
لاَ تُصَلِّ إِلاََّ إِلَى سُتْرَةٍ ، وَ لاََ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ القَرِيْنَ
 
“Janganlah shalat, kecuali dengan menggunakan sutrah (pembatas). Dan jangan biarkan seseorang lewat di hadapanmu. Jika dia tidak mau, maka laranglah dia, sesungguhnya dia bersamanya jin.” [HR Muslim no. 260 dan yang lain]
 
Sedangkan dalam shalat berjamaah, maka kewajiban mengambil sutrah ditanggung oleh imam. Hal ini tidak perselisihan di kalangan para ulama. [Fathul Bari, 1/572]
 
Nabi ﷺ telah menerangkan, bahwa lewat di hadapan orang yang shalat merupakan perbuatan dosa. Beliau ﷺ bersabda:
“Jika orang yang lewat di hadapan orang shalat mengetahui apa yang dia peroleh (dari dosa, pen), niscaya (dia) berdiri selama empat puluh, (itu) lebih baik daripada melewati orang yang sedang shalat tersebut.”
 
Salah seorang rawi hadis bernama Abu Nadhar berkata: “Aku tidak tahu, apakah (yang dimaksud itu, red.) empat puluh hari atau bulan atau tahun. [HR Bukhari 1/584 no. 510 dan Muslim 1/363 no. 507]
 
Pembatas yang sah untuk dijadikan sutrah adalah setinggi beban unta, yaitu kira-kira satu hasta. [Lihat Akhtha-ul Mushallin, halaman 83]
 
Ketujuh: Menasihati Jamaah, Agar Tidak Mendahului Imam dalam Ruku’ Atau Sujudnya, Karena (Seorang) Imam Dijadikan untuk Diikuti
 
Imam Ahmad berkata:
“Imam (adalah) orang yang paling layak dalam menasihati orang-orang yang shalat di belakangnya, dan melarang mereka dari mendahuluinya dalam ruku’ atau sujud. Janganlah mereka ruku’ dan sujud serentak (bersamaan) dengan imam. Akan tetapi, hendaklah memerintahkan mereka agar rukuk dan sujud mereka, bangkit dan turun mereka (dilakukannya) setelah imam. Dan hendaklah dia berbaik dalam mengajar mereka, karena dia bertanggung jawab kepada mereka dan akan diminta pertanggungjawaban besok. Dan seharusnyalah imam meperbaiki shalatnya, menyempurnakan serta memperkokohnya. Dan hendaklah hal itu menjadi perhatiannya, karena jika dia mendirikan shalat dengan baik, maka dia pun memperoleh ganjaran yang serupa dengan orang yang shalat di belakangnya. Sebaliknya, dia berdosa seperti dosa mereka, jika dia tidak menyempurnakan shalatnya.” [Kitab Shalat, halaman 47-48, nukilan dari kitab Akhtha-ul Mushallin, halaman 254]
 
Kedelapan: Dianjurkan bagi imam, ketika dia ruku’ agar memanjangkan sedikit rukunya, manakala merasa ada yang masuk, sehingga (yang masuk itu) dapat memperoleh satu rakaat, selagi tidak memberatkan makmum, karena kehormatan orang-orang yang makmum lebih mulia dari kehormatan orang yang masuk tersebut.
 
Wallahu `a`lam.
 
 
Penulis: Ustadz Armen Halim Naro rahimahullah
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VII/1424H/2003M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#syaratmenjadiimamshalat #sholat #shalat #salat #solat #syaratsahnyaimam #shalatberjamaah #adabimam #imamshalat #sifatshalatNabi #shifatshalatNabi #SyaratSahnyaJadiImamShalatJamaah
,

PERGI DAN PULANG DARI MASJID AKAN MENDAPATKAN GANJARAN PAHALA

PERGI DAN PULANG DARI MASJID AKAN MENDAPATKAN GANJARAN PAHALA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PERGI DAN PULANG DARI MASJID AKAN MENDAPATKAN GANJARAN PAHALA
>> Keutamaan Berjalan Kaki ke Masjid  untuk Menunaikan Shalat
 
Setiap Langkah Kaki Ke Masjid Akan Dihitung Sedekah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ
 
“Setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.” [HR. Muslim, no. 1009]
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah mengatakan:
“Setiap langkah kaki menuju shalat adalah sedekah, baik jarak yang jauh maupun dekat”.
 
Setiap Langkah Kaki Ke Tempat Shalat Dicatat Sebagai Kebaikan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
كُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ يُكْتَبُ لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ وَيُمْحَى عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةٌ
 
“Setiap langkah menuju tempat shalat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” [HR. Ahmad, 2:283. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]
 
Berjalan ke Masjid akan Mendapat Dua Keutamaan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
 
“Barang siapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa, dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” [HR. Muslim, no. 666]
 
Orang yang melakukan semacam ini akan mendapatkan dua kebaikan:
(1) Ditinggikan derajatnya,
(2) Akan dihapuskan dosa-dosa.
 
Apakah Perlu Memperpendek Langkah Kaki?
Ada sebagian ulama yang menganjurkan, bahwa setiap orang yang hendak ke masjid hendaknya memperpendek langkah kakinya. Akan tetapi ini adalah anjuran yang bukan pada tempatnya dan tidak ada dalilnya sama sekali. Karena Nabi ﷺ dalam hadis hanya mengatakan ‘Setiap langkah kaki menuju shalat’ dan beliau ﷺ tidak mengatakan ‘Hendaklah setiap orang memperpendek langkahnya.’ Seandainya perbuatan ini adalah perkara yang disyariatkan, tentu Nabi ﷺ akan menganjurkannya kepada kita. Yang dimaksudkan dalam hadis ini adalah bukan memanjangkan atau memendekkan langkah, namun yang dimaksudkan adalah berjalan seperti kebiasaannya. [Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pada penjelasan hadis no. 26]
 
Berjalan Pulang dari Masjid Akan Dicatat Sebagaimana Perginya
Hal ini berdasarkan hadis berikut:
 
عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ لاَ أَعْلَمُ رَجُلاً أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ وَكَانَ لاَ تُخْطِئُهُ صَلاَةٌ – قَالَ – فَقِيلَ لَهُ أَوْ قُلْتُ لَهُ لَوِ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِى الظَّلْمَاءِ وَفِى الرَّمْضَاءِ . قَالَ مَا يَسُرُّنِى أَنَّ مَنْزِلِى إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِى مَمْشَاىَ إِلَى الْمَسْجِدِ وَرُجُوعِى إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ »
 
“Dulu ada seseorang yang tidak aku ketahui seorang pun yang jauh rumahnya dari masjid selain dia. Namun dia tidak pernah luput dari shalat. Kemudian ada yang berkata padanya, atau aku sendiri yang berkata padanya: “Bagaimana kalau engkau membeli keledai untuk dikendarai ketika gelap dan ketika tanah dalam keadaan panas?” Orang tadi lantas menjawab: “Aku tidaklah senang jika rumahku di samping masjid. Aku ingin dicatat bagiku langkah kakiku menuju masjid, dan langkahku ketika pulang kembali ke keluargaku.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh Allah telah mencatat bagimu seluruhnya.” [HR. Muslim, no. 663]
 
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5:149) mengatakan:
 
فِيهِ : إِثْبَات الثَّوَاب فِي الْخُطَا فِي الرُّجُوع مِنْ الصَّلَاة كَمَا يَثْبُت فِي الذَّهَابِ .
 
“Dalam hadis ini terdapat dalil, bahwa langkah kaki ketika pulang dari shalat akan diberi ganjaran sebagaimana perginya.”
 
Masya Allah, inilah keutamaan pergi dan pulang dari menunaikan shalat di masjid. Akankah kita masih melewatkannya?
 
Orang yang tahu di tempat lain kalau berdagang di tempat lain akan mendapat keuntungan berlipat-lipat daripada berdagang di rumah, tentu akan melangkahkan kakinya ke tempat jauh sekalipun.
 
Semoga Allah memberi taufik kepada kita, khususnya kaum pria, agar dapat merutinkan shalat jamaah di masjid.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]

 

#BerjalanKeMasjid #HadisTentangPergiKeMasjid #KeutamaanBerjalanKakiKeMasjid #KeutamaanKeMasjid #LangkahOrangMenujuMesjid #sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #keutamaanjalan kakikemasjid, #berjalankakikemasjid, #pulangpergimasjid, #lelaki, #pria, #lakilaki, #jamaah, , #berjamaah #langkahkaki,#dihitungsedekah

,

KEUTAMAAN SHALAT TAHAJUD

KEUTAMAAN SHALAT TAHAJUD
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
KEUTAMAAN SHALAT TAHAJUD
 
Shalat malam atau shalat Tahajud adalah amalan yang mulia. Inilah kebiasaan orang saleh. Mereka biasa menjaga shalat malam mereka. Waktu malam mereka banyak digunakan untuk bermunajat pada Allah. Apalagi ketika mendapati sepertiga malam terakhir, mereka memperbanyak doa kepada Allah karena mengingat keutamaan doa mustajab kala itu. Semoga dengan mengetahui keutamaan shalat Tahajud berikut ini kita semakin giat menjaganya.
 
Allah Ta’ala berfirman:
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) Akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [QS. Az Zumar: 9]
 
Yang dimaksud Qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan khusyu’ [Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 115]. Salah satu maksud ayat ini: “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!” [Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 7/166]. Jawabannya, tentu saja tidak sama.
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Nabi ﷺ bersabda:
“Hendaklah kalian melaksanakan Qiyamul Lail (Shalat malam), karena shalat amalan adalah kebiasaan orang saleh sebelum kalian, dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ” [Lihat Al Irwa’ no. 452. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan]
 
 
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sholat #shalat, #tahajud, #tahajjud, #qiyamullail, #shalatmalam #nasihatsahabat #sholattahajjud
, ,

SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA

SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA
SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA
 
Pertanyaan:
Apakah pada semua shalat setiap awal rakaat (rakaat pertama, kedua, ketiga dan keempat) takbirnya selalu dengan mengangkat tangan dan ketika akan ruku’ juga takbirnya selalu dengan mengangkat tangan? Mohon dijelaskan dengan dalilnya.
 
Jawaban:
TIDAK setiap awal rakaat diharuskan mengangkat tangan dalam bertakbir. Namun para ulama menetapkan mengangkat tangan dalam takbir disunnahkan dalam empat tempat:
 
1. Pada Takbiratul Ihram dirakaat yang pertama
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika mengucapkan Samiallahu liman hamidah setelah ruku’
4. Ketika berdiri dari rakaat kedua menuju rakaat ketiga
 
Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Nafi’ maula Ibnu Umar rahimahullah, beliau mengatakan:
 
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَر إلى نبيِّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -.
 
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma biasanya jika hendak memulai shalatnya beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. Jika beliau mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah” juga mengangkat kedua tangannya. Jika bangkit berdiri dari rakaat kedua juga mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar Radhiyallahu anhu memarfu’kannya kepada Nabi ﷺ .” [HR. Al-Bukhari, no. 739 dan Muslim no. 390]
 
Sedangkan Salim bin Abdillah bin Umar rahimahullah menyampaikan dari bapaknya radhiyallahu anhu yang berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “
 
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dahulu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya apabila memulai shalat, dan ketika bertakbir untuk ruku’, dan ketika mengangkat kepala dari ruku’. Beliau juga mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan, “Sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu” dan beliau tidak melakukan hal itu dalam sujudnya.” [HR. Al-Bukhari]
 
Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata:
“Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau sejajar dengan cuping telinganya (bagian bawah daun telinga) dalam empat tempat:
 
1. Ketika Takbiratul Ihram di rakaat yang pertama.
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika bangun dari ruku’
4. Ketika berdiri dari Tasyahud Awal ” [Lihat Syarh Manhajus Salikin wa Taudhihil Fiqh Fid Din 1/87].
 
Sedangkan Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim mengatakan: “Inilah empat tempat, dimana sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan. Namun disunnahkan juga kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada setiap hendak bangkit dan akan turun. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu anhu:
 
أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ
 
Sesungguhnya beliau pernah melihat Nabi ﷺ shalat dengan mengangkat kedua tangannya setiap kali hendak bangkit dan akan turun, ketika bangkit dari ruku’, ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Beliau ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya “ [HR. An-Nasa’i, no. 672 dan Ahmad no. 493. Penulis Shahih Fiqh Sunnah menilai hadis ini Shahih). [Lihat Shahih Fiqh Sunnah oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, hlm. 1/343-344]
 
Kesimpulan:
 
Sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam shalat pada empat keadaan:
 
1. Ketika hendak memulai shalat,
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”
4. Ketika hendak berdiri dari rakaat kedua menuju ke rakaat ketiga
 
Semoga bermanfaat. Wallahu‘alam
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
 
 
 
 

 

#4keadaan #empatkeadaan #mengangkattangansebelumruku, #hukummengangkattanganketikabangundarisujud, #adakahkewajibanmengangankattangandalamshalat, #dlmsolat, #mengangkattanganketikashalat, #mengangkattanganketikahendaksujud, #takbiratulihram, #takbiratulihrom, #bangkitdarirakaatkedua, #rakaatke-2, #kerakaatke-3, #ke rakaat ketiga, #muslimah, #perempuan, #wanita, #sifatshalatnabi, #sifatsholatnabi, #tatacara, #cara, #mengangkattangansetelahtasyahudawal, #sunnamengangkattangandalamshalat, #berapakalimengkattangansaatshalat, #takbiratulihramsetelahsujud, #berapakalitakbirdalamshalat

,

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

 

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

Pertanyaan:
Apakah Nabi ﷺ pada setiap perpindahan dari satu rakaat ke rakaat berikutnya selalu takbir dengan mengangkat tangan? Ataukah hanya pada saat perpindahan dari rakaat kedua menuju ke rakaat ketiga saja? Dan bagaimana pula bila makmum masbuk untuk menyempurnakan shalat, apakah juga harus mengangkat tangan?

Jawaban:
Yang biasa dilakukan Nabi ﷺ dalam masalah mengangkat tangan saat shalat, yaitu pada waktu Takbiratul Ihram, pada waktu akan ruku` dan bangkit dari ruku`, dan pada waktu berdiri dari rakaat kedua. ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah itu bertakbir untuk ruku`, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya …. [HR al-Bukhari, no. 735. Muslim, no. 390]

Adapun riwayat yang menjelaskan mengangkat tangan setelah bangkit dari Tasyahhud Awal ialah sebagai berikut:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu ‘Umar jika memulai shalat biasa bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika ruku’, dia mengangkat kedua tangannya, dan jika mengatakan sami’allahu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari rakaat kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar menyatakan itu dari Nabi ﷺ. [HR al-Bukhari, no. 739]

 

 

Untuk lebih lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: https://almanhaj.or.id/4713-tempattempat-mengangkat-tangan-dalam-shalat.html
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #tatacaratempattempatmengangkattangan #tempattempatangkattangan, #dalamshalat, #dalamsholat, #sholat, #shalat, #salat, #solat #takbiratulihram, #takbiratulihrom, #angkattangan, #mengangkattangan

,

BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR

BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR
 
 
Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan gugur.” [HR Bukhari no. 553, dari Buraiah bin Hushaib Al-Aslamy radhiallahu anhu]
 
Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, no. 26946, dari Abu Darda radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ (وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح الترغيب والترهيب)
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga habis waktunya, maka amalnya akan gugur.” [Dinyatakan shahih oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Targhib dan Tarhib]
 
 
Terdapat ancaman keras terhadap orang yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu. Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya, padahal mampu untuk menunaikannya. [Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
“Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan, melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu juga meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat Wustha yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita, di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.” [Majmu’atul Fatawa, 22: 54]
 
Silakan di-share, semoga semakin banyak saudara kita yang tersadar lewat pesan singkat ini.
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #tatacara #cara, #alwustho, #alwustha, #Ashar, #Asar, #keutamaanshalatAshar #meninggalkanshalatAshar,#tinggalkanshalatAshar, #amalannyagugur, #menggugurkanamalannya, #menghapuskanamalannya, #amalanyaterhapus #apamaksudnya, #maknanya, #artinya, #definisinya #hapuskan, #gugurkan #larangantinggalkanshalatAshar

 

,

ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?

ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?
>> Bahaya Meninggalkan Shalat Ashar
 
Pertanyaan:
Saya mendengar, bahwa apabila shalat Ashar tidak dilakukan, akan menggugurkan amal saya seluruhnya. Kemudian saya mendengar, bahwa hal itu akan menggugurkan amal pada hari itu saja. Mana yang benar?
 
Jawaban:
Alhamdulillah.
 
Pertama:
Terdapat ancaman keras terhadap orang yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu. Imam Bukhari telah meriwayatkan, no. 553, dari Buraiah bin Hushaib Al-Aslamy radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan gugur.”
 
Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, no. 26946, dari Abu Darda radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ (وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح الترغيب والترهيب)
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga habis waktunya, maka amalnya akan gugur.” [Dinyatakan shahih oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Targhib dan Tarhib]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata:
“Berakhirnya waktu Ashar (tanpa kita melakukan shalat Ashar pada waktu itu) lebih besar dari ketinggalan perkara lainnya. Sesungguhnya dia adalah Ash-Shalat Al-Wustha yang mendapatkan peringatan khusus untuk kita pelihara. Inilah yang diwajibkan kepada orang sebelum kita, namun mereka menyia-nyiakannya.” [Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, 22/54]
 
Kedua:
 
Para ulama berbeda pendapat tentang ancaman yang terdapat dalam hadis tentang orang yang meninggalkan shalat Ashar, apakah dipahami berdasarkan zahirnya atau tidak? Dalam hal ini ada dua pendapat:
 
Perndapat Pertama: Dipahami secara zahir. Maka orang yang meninggalkan sekali shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu, dianggap kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rahawaih, dan menjadi pendapat yang dipilih oleh ulama yang datang belakangan, seperti Syekh Ibnu Baz rahimahumallah.
 
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata:
“Shalat Ashar kedudukannya sangat agung. Dia adalah Ashalat-Al-Wustha. Dia merupakan shalat yang paling utama. Allah ta’ala berfirman:
 
حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى (سورة البقرة : 238)
 
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [SQ. Al-Baqarah: 238]
 
Dia dikhususkan penyebutannya dalam ayat ini. Maka wajib bagi setiap Muslim laki dan perempuan untuk memperhatikannya lebih besar dan menjaganya, dan wajib baginya untuk menjaga seluruh shalat yang lima waktu dengan bersucinya serta thuma’ninah di dalamnya, serta kewajiban lainnya. Bagi laki-laki hendaknya melakukannya dalam keadaan berjamaah. Rasulullah ﷺ mengkhususkan penyebutannya berdasarkan sabdanya:
 
من ترك صلاة العصر حبط عمله
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, gugurlah amalanya.”
 
Beliau ﷺ juga bersabda:
 
من فاتته صلاة العصر ، فكأنما وُتر أهله وماله
 
“Siapa yang ketinggalan shalat Ashar, seakan dia dirampas keluarga dan hartanya.”
 
Hal ini menunjukkan besarnya kedudukan shalat Ashar. Yang benar adalah, bahwa siapa yang meninggalkan shalat-shalat lainnya, gugur pula amalnya. Karena dia telah kafir berdasarkan pendapat yang shahih. Akan tetapi dalam hadis dikhususkan penyebutannya oleh Nabi ﷺ untuk menunjukkan keistimewaannya yang agung, sementara kedudukan hukumnya sama. Siapa yang meninggalkan shalat Zuhur, Maghrib, Isya atau Fajar dengan sengaja, maka gugurlah amalnya, karena dengan demikian, dia telah kufur. Seseorang harus menjaga seluruh shalat wajib, siapa yang meninggalkan satu saja, maka seakan-akan dia meninggalkan seluruhnya. Shalat lima waktu harus dijaga seluruhnya, baik oleh laki-laki maupun wanita. Akan tetapi shalat Ashar memiliki keistimewaan yang tinggi dengan hukuman yang berat bagi yang meninggalkannya, dan besarnya pahala bagi yang menjaganya dan istiqamah di atasnya bersama shalat-shalat lainnya.” [Fatawa Nurun Aladdarb]
 
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadis berikut:
 
من ترك صلاة العصر فقد حَبِط عملُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Asar, maka amalannya gugur.”
 
Di antara keutamaan shalat Ashar secara khusus adalah, bahwa siapa yang meninggalkannya maka gugurlah amalnya, karena dia sangat agung. Berdasarkan hadis ini sebagian ulama ada yang berdalil, bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka dia kafir. Karena tidak ada sesuatu yang dapat menggugurkan amal, kecuali dia murtad. Sebagaimana firman Allah ta’ala:
 
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ (سورة الأنعام: 88)
 
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-An’am: 88]
 
 
Dan firman Allah ta’ala:
 
وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (سورة البقرة: 217)
 
“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di Akhirat. Dan mereka Itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Baqarah: 217]
 
Sebagian ulama berkata: Shalat Ashar memiliki kekhususan. Siapa yang meninggalkannya, sungguh telah kafir. Demikian pula siapa yang meninggalkan shalat secara umum, dia telah kafir. Pendapat ini tidak terlalu jauh dari kebenaran.” [Syarh Riyadhus-Shalihin]
 
Pendapat kedua: Ancaman yang terdapat dalam masalah shalat Ashar, tidak dipahami secara zahir. Mereka yang berpendapat demikian, berbeda pendapat tentang penafsiran dari kalimat ini. Di antaranya bahwa hadis ini diperuntukkan bagi mereka yang meninggalkan shalat tersebut dengan menganggapnya boleh (meninggalkan shalat).
 
Di antara mereka yang ada berpendapat, bahwa yang gugur adalah shalat itu sendiri. Siapa yang tidak shalat Ashar hingga habis waktunya, maka dia tidak mendapatkan pahala orang yang shalat pada waktunya. Maka yang dimaksud dengan amal yang gugur dalam hadis ini adalah shalat.
 
Ibnu Bathal rahimahullah berkata: “Bab orang yang meninggalkan shalat Ashar.” Di dalamnya terdapat perawi bernama Buraidah, dia berkata pada hari yang mendung, “Segeralah shalat Ashar, karena Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka gugurlah amalnya.” Al-Mihlab berkata: “Maknanya adalah, bahwa siapa yang menyia-nyiakannya, dan menganggap remeh keutamaan waktunya, padahal dia mampu melaksanakannya, maka gugurlah amalnya dalam shalat tersebut secara khusus. Maksudnya bahwa dia tidak mendapatkan pahala orang yang shalat pada waktunya, dan dia tidak memiliki amal yang diangkat malaikat.” [Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Bathal, 2/176)]
 
Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan pendapat yang banyak tentang penafsiran makna hadis ini saat menjelaskan hadis tersebut. Beliau rahimahullah berkata: “Ulama kalangan Mazhab Hambali berpedoman dengan zahir hadis, serta mereka yang berpendapat seperti pendapat mereka, yaitu bahwa orang yang meninggalkan shalat, maka hukumnya kafir. Adapun Jumhur Ulama mencari penafsiran hadis tersebut, dan mereka berbeda pendapat dalam menafsirkannya kepada beberapa pendapat.
 
Di antara mereka ada yang menafsirkan sebab meninggalkannya, di antara mereka ada yang menafsirkan maksud kata-kata ‘gugur’, di antara mereka ada yang menafsirkan amalnya. Maka ada yang berpendapat; Yang dimaksud adalah siapa yang meninggalkannya dalam keadaan menentang kewajibannya. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah siapa yang meninggalkannya karena malas, akan tetapi ancaman ini sebagai peringatan keras, tapi yang dimaksud tidak demikian. Seperti orang yang berkata: “Tidaklah berzina orang yang berzina sedangkan dia beriman.” Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud gugurnya amal adalah berkurangnya amal dalam waktu itu.
 
Ada juga yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan amal dalam hadis tersebut adalah amal dunia, yang kesibukannya terhadapnya menyebabkan seseorang meninggalkan shalat. Maksudnya adalah, bahwa kesibukannya tidak dapat dia manfaatkan dan tidak dapat dia nikmati. Penafsiran yang paling dekat adalah pendapat yang berkata, bahwa hadis tersebut untuk menggambarkan ancaman berat, akan tetapi yang dimaksud bukan zahirnya. Wallahua’lam. [Syarh Al-Bukhari, 2/31]
 
Yang kuat wallahua’lam adalah bahwa orang yang meninggalkan shalat, tidak sunyi:
 
1- Dia meninggalkan shalat sama sekali, maka dia kafir, amalnya akan gugur karena kekufurannya.
 
2- Dia meninggalkan shalatnya kadang-kadang, kadang shalat, kadang meninggalkan shalat. Maka dia tidak kafir, meskipun amal hari itu dianggap gugur karena dia meninggalkan shalat Ashar.
 
Ibnu Qayim rahimahullah berkata: “Sejumlah orang telah berbicara tentang makna hadis, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar…” Mereka melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya.
 
Al-Milhab mengatakan, maknanya adalah: Siapa yang meninggalkannya karena menyia-nyiakannya atau meremehkan keutaman waktunya, sementara dia mampu melakukannya, maka amalnya dalam shalat tersebut gugur. Maksudnya, dia tidak mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya pada waktunya, dan amalnya tidak diangkat malaikat. Kesimpulan dari pendapat ini, bahwa siapa yang meninggalkannya, maka dia kehilangan pahalanya. Redaksi dan makna hadis tidak menerima hal itu, dan tidak bermanfaat dikatakan amalnya gugur, karena telah ada dan terjadi. Inilah hakikat gugur dari segi bahasa dan syariat. Tidak dikatakan bagi orang yang kehilangan pahala sebuah amal bahwa amalnya telah gugur. Akan tetapi dikatakan bahwa dia telah kehilangan pahala amal itu.
 
Sebagian kelompok berpendapat, bahwa yang dimaksud gugur amalnya, adalah amal hari itu, bukan seluruh amal. Seakan-akan sulit bagi mereka menerima seluruh amal yang lalu dikatakan gugur dengan sebab meninggalkan satu shalat saja. Maka meninggalkannya menurut mereka tidak menyebabkan murtad yang menggugurkan amal.
 
Yang tampak dalam hadis tersebut, Allah yang lebih mengetahui maksud Rasul-Nya, bahwa meninggalkan itu ada dua macam:
• Meninggalkannya keseluruhan, yaitu tidak shalat sama sekali. Hal ini menggugurkan seluruh amal.
• Dan meninggalkan shalat tertentu dan pada hari tertentu. Maka ini menggugurkan amal hari itu saja. Gugurnya secara umum, sebanding apabila dia meninggalkan secara umum. Sedangkan gugurnya amal tertentu, berbanding jika dia meninggalkan secara tertentu.” [Ash-Shalat Wa Ahkamu Taarikiha, hal. 65]
 
Telah dijelaskan dalam situs ini penjelasan tentang batasan orang yang dikatakan meninggalkan shalat, sebagaimana terdapat dalam jawaban soal: https://islamqa.info/id/83165 dan https://islamqa.info/id/114426
 
Wallahua’lam..
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #tatacara #cara, #alwustho, #alwustha, #Ashar, #Asar, #keutamaanshalatAshar #meninggalkanshalatAshar,#tinggalkanshalatAshar, #amalannya gugur, #menggugurkanamalannya, #menghapuskanamalannya, #amalanyaterhapus #apamaksudnya, #maknanya, #artinya, #definisinya #hapuskan, #gugurkan #larangantinggalkanshalatAshar
, ,

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

 

Bagi para jamaah haji/umrah wanita, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi. Mari kita perhatikan hadis berikut ini:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid as-Sa’idi, bahwa ia telah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.”
Nabi ﷺ berkata: “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjidku.”
Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah. [HR. Ahmad no. 27.090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar]

Kita sudah mengetahui besarnya keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Namun bagi para wanita, shalat di rumah mereka TETAP LEBIH BAIK bagi mereka dibanding shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi mereka. Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid yang begitu menaati sunnah Nabi ﷺ dengan selalu shalat di rumah. Tidak seperti sebagian jamaah haji wanita yang kadang sampai shalat di jalan-jalan kota Makkah karena masjid-masjid penuh. Mereka bersemangat tinggi, tapi tidak didasari ilmu agama yang memadai.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://muslim.or.id/10435-menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#SifatShalatNabi,#SifatSholatNabi, #sifatsholatNabi, #sifatshalatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #caranya, #perempuan, #wanita, #muslimah, #lebihbaik, #dirumahnya, #masjidNabawi, #mesjidNabawi, #umrah, #umroh, #haji, #fadhilah