Posts

,

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahSholatJumat

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya jika saya sering ngantuk saat khotbah Jumat. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila penanya sengaja tidak istirahat, maksimal di malam atau pagi sebelum pelaksanaan shalat Jumat, sehingga penanya mengantuk dan sampai mengantarkan penanya kepada tidur pulas, maka penanya telah melakukan kesalahan.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama’ yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:

“Sebagian orang, termasuk saya sendiri, tidur pada saat khotbah Jumat disampaikan. Apa hukum tindakan ini?”

Mereka menjawab: Seorang Muslim wajib diam menyimak khotbah Jumat yang disampaikan, dan menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi itu, seperti berbicara, tidur atau mengantuk. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dalam kitab Sahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«من اغتسل ثم أتى الجمعة فصلى ما قدر له ثم أنصت حتى يفرغ الإمام من خطبته ثم يصلي معه غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى وفضل ثلاثة أيام

“Barang siapa mandi, kemudian mendatangi shalat Jumat, lalu mengerjakan shalat (sunnah) sesuai kemampuannya, lalu tenang mendengarkan khotbah sampai imam selesai berkhotbah, kemudian mengerjakan shalat Jumat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya, antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, serta tambahan tiga hari.”

Dan juga sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من تكلم يوم الجمعة والإمام يخطب فهو كمثل الحمار يحمل أسفارا، والذي يقول له أنصت ليس له جمعة

“Barang siapa yang berbicara pada saat imam khotbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna).”

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan status sanad yang bisa diterima. Dan semua ini karena eksistensi khotbah yang sangat agung yang terkandung di dalamnya, berikut dengan pelajaran, bimbingan, dakwah kepada kebaikan, dan mengingatkan seorang Muslim kepada Allah ta’ala.”

Oleh sebab itu, seorang Muslim wajib menyadari akan hal ini, tidak bermain-main dan lalai, karena mengingat ancaman yang sangat keras, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

  • Bakar Abu Zaid  selaku Anggota
  • Shalih al-Fawzan selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/135-136 Pertanyaan ketiga dari Fatwa nomor 18192 ]

Terkait hukumnya tidur dilihat dari sisi batalnya wudhu, mereka juga ditanya:

“Sebagian orang tidur di masjid sambil bertasbih dengan alat tasbih. Apakah dia wajib berwudu kembali sebelum menunaikan shalat?”

Mereka menjawab: “Segala puji hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau.

Tidur lelap memiliki risiko membatalkan wudhu. Oleh sebab itu, orang yang tidur lelap di dalam masjid atau di tempat lain, maka dia wajib berwudhu kembali, baik tidur dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, meskipun sambil memegang alat tasbih ataupun tidak. Namun, jika dia tidak tertidur lelap — seperti mengantuk yang tidak kehilangan kesadaran– maka tidak wajib berwudhu kembali. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis shahih dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal tersebut secara detail.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

  • Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
  • Abdullah bin Qu’ud selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/283-284  Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 3030]

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/6295-ngantuk-saat-khotbah-jumat

,

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwy azh-Zhafiry hafizhahullah berkata:

‏الإسراف في الماء مذموم في الوضوء وهو طاعة؛ فكيف إذا كان في غير ذلك (ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﺮِﻓِﻴﻦَ) (ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺒَﺬِّﺭِﻳﻦَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺇِﺧْﻮَﺍﻥَ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ)

“Berlebihan dalam menggunakan air ketika berwudhu adalah perkara yang tercela. Padahal itu merupakan ketaatan. Lalu bagaimana jika hal terjadi pada selain ketaatan?!”

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﺮِﻓِﻴﻦَ.

“Dan janganlah kalian melakukan segala sesuatu secara berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺒَﺬِّﺭِﻳﻦَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺇِﺧْﻮَﺍﻥَ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang suka menghambur-hamburkan sesuatu dengan sia-sia adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27)

 

HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI KETIKA SAKIT

HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI KETIKA SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI KETIKA SAKIT

Sakit adalah ujian. Semoga ketika sakit kita tidak menambah ujian itu dengan ujian-ujian yang lain lagi, karena perbuatan kita sendiri. Sakit merupakan keadaan, di mana seseorang lemah fisik dan psikologis, bahkan bisa membuat lemah iman. Oleh karena itu kita mesti berhati-hati, agar kondisi ini tidak di manfaatkan oleh setan.

Ada beberapa hal yang harus kita hindari ketika sakit:

  1. Berburuk sangka kepada Allah, atau merasa kecewa bahkan marah kepada takdir Allah. Karena prasangka Allah sebagaimana prasangka hamba-Nya, jika kita marah maka Allah marah kepada kita.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka Aku akan berbuat demikian terhadapnya. Jika ia berprasangka buruk, maka Aku akan berbuat demikian terhadapnya.” [HR. Ahmad dan Ibnu Hibban]

  1. Menyebarluaskan kabar sakit dan untuk mengeluhkannya

Merupakan salah satu tanda tauhid dan keimanan seseorang, bahwa ia berusaha hanya mengeluhkan keadaannya kepada Allah saja, karena hanya Allah yang bisa mengubah semuanya. Sebaliknya orang yang banyak mengeluh merupakan tanda, bahwa imannya sangat tipis. Kita boleh mengabarkan bahwa kita sakit, tetapi tidak untuk disebarluaskan dan kita keluhkan kepada orang banyak.

  1. Membuang waktu dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia selama sakit

Misalnya banyak menonton acara-acara TV, mendengarkan musik, membaca novel khayalan dan mistik. Hendaknya waktu tersebut di isi dengan muhasabah, merenungi, berzikir, membaca Alquran dan lain-lain. Atau membaca kisah-kisah mencengangkan dan kepahlawanan para sabahat dan orang saleh, dengarkan murattal dengan berbagai gaya bacaan dari qari-qari bersuara bagus, dengarkan rekaman ceramah yang menggugah imam dan menambah tauhid kita dsb.

  1. Tidak memerhatikan kewajiban menutup aurat

Hal ini yang paling sering dilalaikan ketika sakit. Walaupun sakit, tetap saja kita berusaha menutup aurat kita selama sakit sebisa mungkin. Lebih-lebih bagi wanita, ia wajib menjaga auratnya, misalnya  kaki dan rambutnya, dan berusaha semaksimal mungkin agar tidak dilihat oleh laki-laki lain, misalnya perawat atau dokter laki-laki.

  1. Berobat dengan yang haram

Semisal berobat dengan air kencing yang najis atau berobat ke dukun dan paranormal yang mengajarkan praktik kesyirikan.

InsyaAllah pengobatan yang halal sangat banyak. Kita tidak boleh berobat dengan hal-hal yang haram, misalnya dengan obat atau vaksin yang mengandung babi, berobat dengan air kencing sendiri, karena Allah telah menciptakan obatnya yang halal.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit bersama obatnya, dan menciptakan obat untuk segala penyakit. Maka berobatlah, tetapi jangan menggunakan yang haram.” [HR. Abu Dawud].

Perbuatan haram yang paling berbahaya adalah berobat dengan mendatangi dukun mantra, dukun berkedok ustadz dan ahli sihir, karena ini merupakan bentuk kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam serta kekal di Neraka.

Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang mendatangi dukun, lalu memercayai apa yang ia ucapkan, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan kepada nabi Muhammad ﷺ” [HR. Ahmad di dalam Al-Musnad (II/429). Al-Hakim (I/8) dari Abu Hurairah secara marfu’].

 Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

[artikel https://muslimafiyah.com]

 

FENOMENA OM TELOLET OM

FENOMENA OM TELOLET OM

FENOMENA OM TELOLET OM

Anak-anak memberi kode kepada supir bis agar membunyikan klakson telolet.

Pertanyaan:

Bagaimana menanggapi fenomena Om Telolet Om dari sisi Islam? Nampaknya masyarakat mulai gila telolet…

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Beberapa hari yang lalu ada salah satu pembaca konsultasisyariah.com juga menanyakan hal yang sama. Meminta agar dibahas fenomena om telolet. Saya pikir, tidak terlalu penting untuk dibahas, karena ini hanya trend sekilas yang menjadi hiburan masyarakat di pinggir jalan. Namun ternyata masalahnya tidak seremeh yang saya bayangkan. Dari mulai anak-anak, para remaja, hingga yang tua, banyak yang berjejer di pinggir jalan, hanya untuk menantikan bis yang lewat, sambil membawa tulisan pesan “Om Telolet Om..”

Trend yang telah banyak menyita waktu kaum Muslimin. Bahkan ada di antara mereka yang menghadang bis lewat sampai jam 9.30 malam. Subhanallah…

Kami tidak sedang membahas sisi hukum musiknya. Mengenai hukum musik, kita bisa baca beberapa kumpulan artikel berikut: Yufid.com: https://yufid.com/result/?search=hukum%20musik#gsc.tab=0&gsc.q=hukum%20musik&gsc.page=1

Di sini izinkan kami sedikit membandingkan antara jalanan di Indonesia dengan kondisi jalan antara Mekah – Madinah.

Bagi kita yang pernah haji atau umrah, suasana jalan antara Mekah – Madinah barangkali tidak hilang dari ingatan. Jalannya lebar, tidak padat, kanan-kiri pemandangan pegunungan dan bebatuan. Tapi ada satu yang sangat menginspirasi. Di sepanjang jalan, kita bisa lihat banyak rambu jalan bertuliskan kalimat-kalimat Thayibah… atau ajakan untuk bertawakkal, berlindung dari godaan setan, atau meminta pertolongan kepada Allah.

 

Ada yang bertuliskan Shalawat… ada yang bertuliskan Alhamdulillahi rabbil alamin… ada juga yang bertuliskan Astaghfirullah… Sehingga setiap pengguna jalan yang melintasi rambu itu, merasa diingatkan untuk mengucapkan kalimat thayibah di atas.

Kita bisa bayangkan pengaruhnya?

Orang yang mengajak berzikir dapat pahala. Dan para pengguna jalan yang berzikir juga dapat pahala. Terlebih yang mengajak, mereka mendapat pahala lebih besar. Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

Sesungguhnya orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, seperti pelakunya. (HR. Ahmad 23027, Turmudzi 2883, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

 

Itulah arti sebuah ajakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Pemerintah Saudi menyadari, mengingatkan orang untuk berzikir termasuk amal soleh yang menghasilkan pahala. Karena bagian dari ciri  Muslim yang baik, hanya akan perhatian terhadap sesuatu yang bermanfaat baginya.

Dari Abu Hurairah dan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhum, Nabi ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Bagian dari tanda sempurnanya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak berarti baginya. (HR. Ahmad 1737,  Turmudzi 2487 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Para pengguna jalan bisa menggunakan waktu kosongnya untuk banyak berzikir. Mengucapkan kalimat thayibah, sebisa yang dia lakukan. Dia bisa membaca Tasbih, Tahlil, Tahmid, atau memerbanyak Istighfar, atau memerbanyak membaca Shalawat. Buat lisan kita selalu basah dengan zikir, dengan istighfar, atau dengan shalawat, sehingga waktu kita di atas kendaraan akan semakin berarti.

Abdullah bin Busr bercerita:

Ada orang Badui datang menghadap Nabi ﷺ. ‘Ya Rasulullah, syariat Islam sangat banyak. Tolong ajarkan kepadaku perkara yang bisa aku pegangi selalu’ kemudian Nabi ﷺ menyarankan:

لاَ يَزَالُ لِسَانُك رَطْبًا بِذِكْرِ اللهِ

Jaga lisanmu agar selalu basah dalam mengucapkan zikir kepada Allah. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf no. 30066).

Ajakan telolet mungkin bisa ganti dengan semarak,

  • Om, istighfar Om.
  • Om, shalawat om…
  • Om, baca tasbih om.. baca tahlil om, dst.

Kedua, masalah nongkrong di pinggir jalan.

Nabi ﷺ menyebut tindakan ini kurang baik, kecuali bagi mereka yang bisa menunaikan hak jalan.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِى الطُّرُقَاتِ

“Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.”

Para sahabat mengatakan:

“Ya Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan duduk di pinggir jalan, untuk mengobrol.”

Kemudian beliau ﷺ mengatakan:

فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ ». قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ »

Jika kalian enggan untuk tidak duduk-duduk di pinggir jalan, maka kalian harus tunaikan hak jalan, yaitu, tundukkan pandangan, jangan mengganggu, jawab salam, dan tegakkan amar makruf nahi munkar. (HR. Ahmad 11309, Muslim 5685 dan yang lainnya).

Mereka yang sudah dewasa, hanya menunggu bis lewat sambil membawa tulisan berisi pesan, om telolet, jelas ini bukan hak jalan.

Allahu a’lam…

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28806-fenomena-om-telolet-om.html

 

,

KEUTAMAAN SHOLAT JUMAT

KEUTAMAAN SHOLAT JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

#FatwaUlama

KEUTAMAAN SHOLAT JUMAT

Allah telah memberikan karunia yang besar pada kita dengan adanya sholat Jumat. Di antara keutamaan sholat tersebut bisa menghapuskan dosa dan kesalahan, juga bisa meninggikan derajat seorang Mukmin, bi idznillah.

Di antara keutamaan atau fadhilah sholat Jumat adalah sebagai berikut:

1- Menghapuskan Dosa

Dikeluarkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Di antara sholat lima waktu, di antara Jumat yang satu dan Jumat yang berikutnya, itu dapat menghapuskan dosa di antara keduanya, selama tidak dilakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233).

2- Saat Allah Menyempurnakan Islam dan Mencukupkan Nikmat

Pada hari itu, Allah menyempurnakan bagi orang beriman agama mereka, Dia pun mencukupkan nikmat-Nya, dan itu terjadi pada Jumat. Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3).

Ketika Ibnu ‘Abbas membaca ayat di atas, beliau berkata: “Orang Yahudi mengatakan:

لو نزلت هذه الآية علينا، لاتخذنا يومها عيدًا!

Seandainya ayat ini turun di tengah-tengah kami, niscaya kami akan merayakan hari turunnya ayat tersebut sebagai ‘Ied (hari besar atau hari raya). Ibnu ‘Abbas berkata, bahwa ayat ini turun saat bertemunya dua hari raya, yaitu hari raya ‘Ied (Haji akbar) dan Jumat. (Disebutkan pula oleh Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tafsirnya)

3- Hari yang Disebut Asy Syahid

Para ulama menafsirkan mengenai ayat:

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

“Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al Buruj: 3), dengan Jumat. Sebagaimana kata Ibnu ‘Umar, yang dimaksud Asy Syahid dalam ayat tersebut adalah Jumat, sedangkan Al Masyhud adalah Hari Nahr (Idul Adha). (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 9: 70-71)

4- Jika Bersegera Menghadiri Sholat Jumat, Akan Memeroleh Pahala yang Besar

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Barang siapa mandi pada hari Jumat, sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju masjid, maka dia seolah berkurban dengan seekor unta. Barang siapa yang datang pada kesempatan (waktu) kedua, maka dia seolah berkurban dengan seekor sapi. Barang siapa yang datang pada kesempatan (waktu) ketiga, maka dia seolah berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk. Barang siapa yang datang pada kesempatan (waktu) keempat, maka dia seolah berkurban dengan seekor ayam. Dan barang siapa yang datang pada kesempatan (waktu) kelima, maka dia seolah berkurban dengan sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khuthbah), maka para malaikat hadir mendengarkan zikir (khuthbah tersebut).” (HR. Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850)

5- Setiap Langkah Menuju Sholat Jumat Mendapat Ganjaran Puasa dan Sholat Setahun

Dari Aus bin Aus, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ ، وَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

“Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dengan mencuci kepala dan anggota badan lainnya, lalu ia pergi di awal waktu, atau ia pergi dan mendapati khutbah pertama, lalu ia mendekat pada imam, mendengar khutbah serta diam, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan sholat setahun.” (HR. Tirmidzi no. 496. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadits dalam Tuhfatul Ahwadzi, 3: 3).

Penting!

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menyebutkan:

وَتَبَيَّنَ بِمَجْمُوعِ مَا ذَكَرْنَا أَنَّ تَكْفِير الذُّنُوب مِنْ الْجُمُعَة إِلَى الْجُمُعَة مَشْرُوط بِوُجُودِ جَمِيع مَا تَقَدَّمَ مِنْ غُسْل وَتَنْظِيف وَتَطَيُّب أَوْ دَهْن وَلُبْس أَحْسَن الثِّيَاب وَالْمَشْي بِالسَّكِينَةِ وَتَرْك التَّخَطِّي وَالتَّفْرِقَة بَيْن الِاثْنَيْنِ وَتَرْك الْأَذَى وَالتَّنَفُّل وَالْإِنْصَات وَتَرْك اللَّغْو

“Jika dilihat dari berbagai hadis yang telah disebutkan, penghapusan dosa yang dimaksud karena bertemunya Jumat yang satu dan Jumat yang berikutnya bisa didapat, dengan terpenuhinya syarat, sebagaimana yang telah disebutkan yaitu:

  • Mandi,
  • Bersih-bersih diri,
  • Memakai harum-haruman,
  • Memakai minyak,
  • Memakai pakaian terbaik,
  • Berjalan ke masjid dengan tenang,
  • Tidak melangkahi jamaah lain,
  • Tidak memisahkan di antara dua orang, tidak mengganggu orang lain, melaksanakan amalan sunnah dan meninggalkan perkataan laghwu (sia-sia).” (Fathul Bari, 2: 372).

Semoga Allah memudahkan kita dalam melakukan amalan-amalan mulia di hari Jumat.

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

Khutobul ‘Aam, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, terbitan Maktabah Makkah, cetakan pertama, 1427 H, 2: 48-49

Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no. 13692

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3103-keutamaan-sholat-Jumat.html

 

 

 

, ,

BERILMU SEBELUM BERAMAL, AGAR AMALMU TIDAK SIA-SIA

BERILMU SEBELUM BERAMAL, AGAR AMALMU TIDAK SIA-SIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

BERILMU SEBELUM BERAMAL, AGAR AMALMU TIDAK SIA-SIA

Ali bin Ali Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Orang yang berilmu lebih besar ganjaran pahalanya daripada orang yang puasa, sholat, dan berjihad di jalan Allah.” [Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu hlm.133].

Lihat Juga Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga hlm.38 (Karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas).

Instagram, Twitter & Telegram Channel : @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/668268303353931/?type=3&theater

,

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHOLAT JUMAT

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHOLAT JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHOLAT JUMAT

Rasulullah ﷺ bersabda:

 احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنَ الإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا

 “Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam, karena sesungguhnya ada orang yang senantiasa menjauh sampai ia diakhirkan di Surga, meski ia memasukinya.” [HR. Abu Daud dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 365]

 Beberapa Pelajaran:

1) Celaan terhadap orang-orang yang tidak bersegera untuk menghadiri khutbah dan sholat Jumat. Abu Ath-Thayyib rahimahullah berkata:

 وَفِيهِ تَوْهِين أَمْر الْمُتَأَخِّرِينَ وَتَسْفِيه رَأْيهمْ حَيْثُ وَضَعُوا أَنْفُسهمْ مِنْ أَعَالِي الْأُمُور إِلَى أَسَافِلهَا

 “Dalam hadis ini terdapat perendahan terhadap perbuatan orang-orang yang suka TERLAMBAT dan celaan terhadap kebodohan mereka karena telah menurunkan diri-diri mereka sendiri dari ketinggian amalan kepada yang rendah.” [‘Aunul Ma’bud, 3/457]

2) Melambatkan diri dalam menghadiri khutbah dan sholat Jumat adalah sebab diakhirkannya seseorang untuk masuk Surga. Bisa juga bermakna derajatnya di Surga diturunkan.

3) Perintah bersegera menghadiri khutbah sebelum khatib naik mimbar.

4) Pentingnya mendengarkan khutbah, menyimak dan memahaminya dengan baik (apabila khutbahnya berdasarkan dalil Alquran dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf). Jangan tidur dan jangan berbuat sia-sia. Inilah maksud perintah mendekati imam.

5) Keutamaan sholat Jumat di shaf pertama. Ini juga maksud perintah mendekati imam.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

, ,

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA
Oleh: Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله

Dunia olah raga adalah dunia yang penuh dengan sensasi dan menjadi hobi kebanyakan anak manusia. Islam pun tidak melarangnya, karena memang hukum asal olahraga adalah halal/dibolehkan, selama tidak disertai perkara-perkara yang terlarang. Hanya saja Islam telah meletakkan rambu-rambu dan kaidah-kaidah olahraga secara umum, agar TIDAK KELUAR dari garis syariat.

Oleh karenanya sangat penting untuk kita kaji masalah ini, agar kita bisa mengetahui olahraga/ lomba-lomba apakah yang dibolehkan dalam Islam, dan dilarang oleh Islam. Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah [Kami sarikan pembahasan ini dari Majallah al-Hikmah edisi No.3, Tanggal 1 Muharram 1415 H, bertepatan dengan 9 juni 1994M, hlm.155-168, ditulis oleh DR.Sa’id Abdul Adhim]:

Pertama: Untuk Mencari Ridho Allah
Setiap Muslim harus selalu mencari ridho Allah dalam setiap aktivitasnya. Dalam berolahraga pun ridho Allah harus dijadikan tujuan, dan itulah tujuan diciptakannya manusia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
Termasuk kesalahpahaman sebagian orang yang mengatakan, bahwa ibadah hanya sholat, zakat, dan semisalnya, sedang olahraga tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah (agama). Padahal Islam menjadikan perkara-perkara mubah sebagai ibadah yang berpahala, seperti tersenyum kepada sesama Muslim [HR. at-Tirmidzi: 1956, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 572], seorang suami mengumpuli istrinya [HR. Muslim: 1674], seorang suami memberi makan istri [HR. al-Bukhori: 1213 dan Muslim: 3076], seorang yang menanam benih [HR. Ahmad: 184, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 9], dan semisalnya.

Olahraga yang dilakukan seorang Muslim tidak akan sia-sia, bahkan berbuah pahala, jika diniatkan untuk mencari pahala dari Allah, dan untuk kemaslahatan dirinya, agamanya, dan kaum Muslimin secara umum. Akan tetapi jika tidak diniatkan demikian, maka akan menjadi bumerang baginya, dan dia akan sulit melepaskannya.

Kedua: Untuk Membela Agama dan Kebenaran
Berkata Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri حفظه الله[Dinukil secara bebas dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H (9 juni 1994 M), hlm. 118]: “Sesungguhnya tujuan semua jenis olahraga yang dikenal dalam Islam adalah dimaksudkan menjadi sebuah alat menegakkan dan membela kebenaran. Bukanlah tujuan olahraga itu hanya mendapat harta melimpah, ketenaran, atau hal yang serupa, seperti berbangga diri dan (akhirnya) menjadi manusia yang rusak di muka bumi, sebagaimana kondisi kebanyakan mereka saat ini.”

Barang siapa tidak memahami hal ini, maka dia akan terjatuh kepada salah satu tujuan yang tidak dibenarkan dalam berolahraga.

Ketiga: Melatih Kekuatan, Kemahiran, dan Keberanian
Kebenaran akan terwujud sempurna dengan ilmu dan kekuatan. Ilmu bermanfaat bagi para pencari kebenaran, tetapi kekuatan dapat bermanfaat bagi orang-orang yang menentang. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada umatnya, dan menyiapkan kekuatan yang bermanfaat pula bagi tegaknya agama. Dan di antara bentuk persiapan kekuatan tersebut, beliau ﷺ memerintahkan kaum Muslimin berlatih jenis-jenis olahraga yang bermanfaat untuk menguatkan badan dan melatih keberanian. Demikianlah Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk memersiapkan kekuatan yang bermanfaat bagi diri-diri mereka, agama dan kaum Muslimin secara umum, dalam firman-Nya:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS. al-Anfal [8]: 60)
Oleh karena maksud ini, Rasulullah ﷺ mengizinkan para lelaki Habasyah bermain tombak dalam masjid beliau, bahkan mengizinkan Aisyah radhiyallahu’anha melihat mereka [Lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H (9 Juni 1994 M) hlm. 119].

Keempat: Tidak Menghabiskan Semua Waktunya Untuk Olahraga
Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Tuhanmu memunyai hak atasmu, dirimu memunyai hak atasmu, dan keluargamu memunyai hak atasmu. Maka berikan hak masing-masing kepada pemiliknya.” (HR. al-Bukhori: 1832)
Seorang Muslim boleh bersantai, berolahraga, dan menghibur dirinya dengan perkara-perkara yang halal, walaupun kurang bermanfaat. Hanya yang menjadi masalah, jika seorang Muslim menjadikan kebanyakan atau semua waktunya untuk olahraga atau perkara-perkara yang tidak bermanfaat, sehingga hidupnya menjadi sia-sia, penuh dengan permainan, dan pada akhirnya menghalangi dirinya untuk melaksanakan kewajiban syariat dan melanggar larangan-larangan-Nya.

Sungguh menyesal manusia yang lalai akan Kampung Akhirat, padahal dunia dan seisinya jika dibandingkan dengan Akhirat yang kekal, tidak ada artinya. Nabi ﷺ bersabda:

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Dunia ini dibandingkan dengan Akhirat, gambarannya hanya seperti seseorang yang mencelupkan satu jarinya ke lautan. Maka hendaknya ia melihat, apa yang ia akan bawa kembali.” (HR. Muslim: 5101)
Dan termasuk perangkap bagi manusia, setan selalu menghiasi dunia dengan berbagai cara supaya mereka tenggelam dalam kenikmatan dunia yang sekejap, dan lalai dengan Kampung Akhirat. Setan membisikkan kepada mereka, bahwa olahraga adalah perkara paling penting bagi manusia. Lalu manusia menjadi sibuk memikirkan olahraga, ingin mengetahui kabar terbarunya, membicarakan bintang-bintangnya secara detil, tanpa memerhatikan agama dan akhlak mereka [Betapa banyak anak muda sekarang jika ditanya siapa yang diidolakan, maka jawabnya adalah para pemain bola yang kafir, atau semisalnya].

Kelima: Tidak Fanatik Golongan dan Membabi Buta
Fanatik kepada kebenaran adalah baik dan bermanfaat, bahkan itulah istiqomah di atas agama. Akan tetapi fanatik kepada suatu kelompok tertentu, seperti kepada suatu perkumpulan olahraga, baik sepakbola atau lainnya, berarti berpegang teguh dengannya, saling menolong, dan rela mati demi membela serta memerjuangkannya, baik dalam kebenaran atau kebatilan. Inilah yang dilarang dalam Islam. Allah berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. al-Ma’idah [5]: 2)
Jika yang terjadi adalah fanatik golongan, seperti yang banyak terjadi baik, dari sesama pemain atau sesama supporter, berupa saling mencela, menghina, memukul, bermusuhan, bahkan saling membunuh, karena bukan dari kelompoknya. Kematian seperti ini adalah kematian jahiliah [Lihat HR. Muslim: 3440], dan olahraga yang disertai perkara semacam ini menjadi haram.

Keenam: Tidak Bercampur dengan Lawan Jenis Tanpa Batas [Lihat pembahasan lebih lengkap masalah ini dalam Majalah Al Furqon edisi 06 Tahun VI /Muharrom 1428 H, dengan judul “Ikhtilath Penyakit Kronis Umat” oleh Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf]

Wanita adalah aurat yang harus dijaga. Tidak boleh ditampakkan kepada selain mahromnya [Lihat HR. at-Tirmidzi: 1173, dan beliau mengatakan bahwa hadis ini hasan shohih ghorib]. Pada dasarnya wanita harus tinggal di rumahnya, dan tidak keluar kecuali jika ada suatu hajat atau kebutuhan [Sebagaimana perintah Alloh kepada kaum wanita dalam QS. al-Ahzab: 33]. Oleh karenanya, dalam urusan ibadah pun wanita lebih baik beribadah di rumahnya daripada masjid-masjid kaum Muslimin, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

لَا تَـمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kamu mencegah kaum wanitamu dari masjid-masjid Allah, tetapi rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud: 576, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 1396)

Jika wanita lebih baik di rumah dalam urusan ibadah, bagaimana kiranya urusan selain ibadah? Dan bagaimana kiranya lagi urusan olahraga? Maka jawabnya tentu di rumah jauh lebih baik lagi.
Jika wanita terbiasa keluar rumah, maka terjadilah campur baur wanita dengan laki-laki tanpa batas. Dan terjadilah banyak kerusakan/ fitnah, disebabkan sebagian kaum wanita telah menyelisihi fitrahnya. Oleh karena itu, rusaknya kaum Bani Israil sebab pertama kalinya adalah fitnah wanita [HR. Ahmad: 1112, dengan sanad yang shohih]. Jika wanita keluar rumah dan bercampur dengan kaum laki-laki tanpa batas, maka terjadilah saling memandang (zina mata), saling berbicara tanpa batas (zina mulut), saling bersentuhan (zina tangan) dan akhirnya saling berzina dengan zina yang sesungguhnya [Lihat HR. Bukhori: 6243 dan Muslim: 2657].

Islam telah memberi perunjuk agar umatnya tidak jatuh kepada perkara keji ini. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruk shof laki-laki adalah yang paling belakang. Sedangkan sebaik-baik shof kaum wanita adalah yang paling belakang, dan seburuk-buruk shof kaum wanita adalah yang paling depan.” [HR. Muslim: 440]

Bahkan Rasulullah ﷺ sangat menjaga batas antara kaum laki-laki dengan wanita, walaupun saat keluar dari tempat sholat. Beliau ﷺ dan para sahabatnya tetap tidak beranjak dari tempat sholatnya, sampai kaum wanita keluar terlebih dahulu, supaya tidak bercampur antara laki-laki dan wanita, walaupun setelah melaksanakan sholat, sebagaimana dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu’anha, beliau berkata:

كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ صَلَّى مِنْ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللَّهُ فَإِذَا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ الرِّجَالُ

“Bahwasanya kaum wanita pada zaman Rasulullah ﷺ, mereka segera bangkit jika setelah selesai sholat, lalu Rasulullah ﷺ dan para sahabat laki-laki tetap tidak beranjak (dari tempat sholatnya), lalu jika Rasulullah ﷺ mulai bangkit, kaum laki-laki pun juga bangkit.” (HR. al-Bukhori: 866)

Ketujuh: Menutup Aurat
Menutup aurat adalah kewajiban setiap Muslim laki-laki dan perempuan. Seseorang dilarang melihat aurat sesama jenisnya, sebagaimana ia dilarang melihat aurat lawan jenisnya [Lihat QS. an-Nur: 30-31].
Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Seorang laki-laki dilarang melihat aurat laki-laki lain dan seorang wanita dilarang melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim: 512)

Sungguh kita mendapati pada zaman sekarang, banyak kaum Muslimin, baik laki-laki [Seperti menyingkap paha, padahal paha adalah aurat sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Paha adalah aurat (kaum laki-laki).” (HR. al-Bukhori: 2/112). Dan Rasulullah ﷺ melarang sahabatnya menyingkap pahanya serta melarang melihat paha laki-laki lainnya (HR. Abu Dawud: 3140, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih wa Dho’if al-Jami’ ash-Shoghir. 13397)] atau perempuan [Yang paling sering dijumpai dari wanita adalah menyingkap rambut dan kepalanya, padahal keduanya termasuk aurat sebagaimana disepakati para ulama (lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 126).

Memang kita patut bersyukur dengan semakin banyaknya jumlah wanita yang berjilbab, tetapi yang kita sesalkan adalah sebagian wanita yang enggan berjilbab atau berjilbab, tetapi hakikatnya tidak mengenakannya, seperti berjilbab tetapi dadanya tersingkap, betisnya ditampakkan, berjilbab pendek sehingga rambutnya tetap terburai, berjilbab tetapi memakai bawahan yang sangat ketat, atau yang semisalnya. Ini semua adalah kesalahan yang sebab utamanya adalah kesalahpahaman mereka tentang jilbab, yang mana mereka menganggap jilbab hanya mode, bukan untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan] bermudah-mudahan terhadap auratnya. Mereka menyingkap auratnya baik sengaja atau tidak. Di sisi lain, sebagian besar kaum Muslimin tidak menggubrisnya, apalagi mencegahnya. Dan yang paling mengherankan, ketika ada sebagian Muslimah berusaha menutup auratnya lebih sempurna, justru mendapat ejekan, cacian, dianggap kuno, dituduh aliran sesat, teroris, dan sebagainya. Dari sini kita ketahui, bahwa olahraga yang mengharuskan pesertanya menampilkan aurat, seperti binaraga dan semisalnya, hukumnya haram.

Kedelapan: Meninggalkan Aturan Olahraga yang Bertentangan dengan Islam
Dalam setiap cabang olahraga, kalau kita perhatikan, masing-masing ada aturan mainnya. Pada dasarnya aturan yang dibuat dan disepakati tidak bermasalah. Tetapi ada sebagian aturan yang bertentangan dengan aturan Allah. Kalau demikian adanya, maka seorang Muslim dilarang menaati aturan yang dibuat, jika bertentangan dengan aturan Allah.

Sebagai contoh, pertandingan-pertandingan yang membolehkan pukulan ke arah wajah atau anggota tubuh yang membahayakan, lomba renang dengan membuka sebagian aurat, binaraga dengan menampakkan auratnya, pertandingan campuran antara laki-laki dengan wanita, atau yang semisalnya, semuanya diharamkan, sebab aturannya bertentangan dengan aturan Allah.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata [Dinukil dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 129-130]: “Para sahabat dan generasi setelah mereka sepakat, bahwa jika (seorang Muslim) mengetahui sunnah Rasulullah ﷺ, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, lalu mengikuti pendapat seseorang, tidak pandang siapa pun dia. Syariat Islam ini menghukumi semua kaidah-kaidah, aturan-aturan, undang-undang, atau adat-istiadat yang dibuat manusia baik, yang bersifat lokal atau internasional. Maka wajib setiap Muslim untuk merealisasikan firman Allah:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar, jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (QS. az-Zumar [39]: 13)

Kesembilan: Tetap Menunaikan Kewajiban Agamanya
Olahraga bukanlah tugas manusia, tetapi manusia ditugasi untuk beribadah (QS. adz-Dzariyat: 56). Olahraga menjadi haram jika sampai melalaikan kewajibannya. Oleh karenanya, haram mengadakan pertandingan olahraga (perlombaan) pada waktu azan dikumandangkan, lebih-lebih jika dikumandangkan azan sholat Jumat. Karena orang yang mendengar azan berkewajiban untuk mendatangi masjid dan sholat berjamaah. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengancam hendak membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjamaah [Lihat HR. Muslim: 1041]. Lalu apakah kiranya jika ada seorang mendengar azan, lalu dia tidak menghiraukannya, bahkan justru asyik berolahraga atau menontonnya? Sungguh ini merupakan kelalaian yang sangat nyata.

Demikian pula seandainya saat hendak bertanding, para pemain harus makan dan minum menjelang bertanding, padahal saat itu waktu puasa Romadhon, maka olahraga semacam ini hukumnya menjadi haram.

Kesepuluh: Tidak Ada Pelanggaran Syariat Seperti Rukuk dan Sujud Kepada Makhluk
Sebagian cabang olahraga seperti beladiri, jika sebelum bertanding, atau saat bertanding, diharuskan adanya penghormatan dengan cara membungkuk kepada lawannya, seperti rukuk atau bahkan sampai sujud. Maka haram bagi seorang Muslim melakukannya [Lihat keharaman hukum sujud dan rukuk kepada manusia dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibad kar. Ibnul Qoyyim رحمه الله (dinukil dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 132)].

Cukuplah sunnah Rasul ﷺ bagi seorang Muslim, jika bertemu saudaranya untuk saling bersalaman [Sebagaimana dalam HR. ath-Thobroni 1/8/1/99, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 2647]. Adapun saling membungkukkan badan, maka telah dilarang dalam agama Islam. Dalam sebuah hadis dijelaskan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ

Dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada seseorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jika ada di antara kami berjumpa dengan saudaranya atau kawannya, bolehkah dia membungkukkan badan untuknya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak boleh.’ Orang itu bertanya ‘lagi: ‘Bolehkah memeluk dan menciumnya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak .’ [Akan tetapi, bukan berarti memeluk dan mencium saudaranya hukumnya haram, karena ada keterangan dalam hadis yang lain bahwa kebiasaan sahabat jika salah satu mereka datang dari bepergian jauh mereka saling berpelukan (HR. al-Baihaqi: 7/100, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 160)]. Orang itu bertanya lagi: ‘Bolehkah menyalami dengan tangannya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Ya.'” (HR. at-Tirmidzi: 2728, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Misykat al-Mashobih: 4680)

Kesebelas: Tidak Kagum dan Berloyalitas Kepada Non-Muslim
Termasuk perangkap setan, manusia dibuat takjub oleh kepiawaian para bintang olahraga saat berlaga. Tidak cukup merasa takjub, sebagian mereka hatinya condong kepadanya, tanpa melihat sisi agama dan akhlaknya. Ditambah sebab kebodohannya tentang al-wala wal baro’, maka sebagian mereka membela bintang yang difavoritkan.

Secara tidak langsung mereka melebihkan orang kafir daripada orang Muslim, sebab mereka lebih menonjolkan pemain kafir daripada tokoh-tokoh Islam — utamanya Rasulullah ﷺ. Bahkan tidak jarang para pemuda Muslim dengan bangga memakai kostum milik bintang kafir, lengkap dengan nomor punggung dan nama pemain kafir tersebut. Bahkan terkadang ada yang tidak segan memakai baju bergambar bintang idolanya yang kafir. Na’udzu billah min dzalik.

Jika kondisinya seperti ini, maka hilanglah permusuhan antara kaum Muslimin dengan kaum kafir. Mereka justru duduk bersama-sama. Bahkan sebagian kaum Muslimin mengidolakan musuh-musuh Allah yang seharusnya diperangi, karena mereka memerangi agama Islam (baca QS. al-Mujadilah: 22), dan kaum Muslimin harus menampakkan permusuhan dengan mereka [Namun bukan berarti kaum muslimin tidak boleh sama sekali berbuat baik kepada orang kafir. Kaum muslimin harus selalu adil, bahkan tidak boleh mengkhianati mereka, jika mereka tidak berkhianat dan tidak memerangi agama Islam (QS. al-Mumtahanah [60]: 8). Sebagai bukti hal ini, Rasulullah ﷺ berjual beli dengan mereka. Beliau ﷺ pernah menjenguk orang kafir yang sakit, dan beliau ﷺ pernah mengirim hadiah kepada raja kafir. Ini semua dilakukan jika terdapat maslahat di dalamnya, seperti harapan supaya masuk Islam. Dan bukan berarti Rasulullah ﷺ cinta kepada orang-orang kafir. Maka harus dibedakan antara berbuat adil dan cinta kepada mereka. (Lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 133)]. Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia. Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu, dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu. Dan telah nyata antara kami dan kamu, permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4)

Kedua Belas: Tidak Membahayakan
Jika suatu pertandingan olahraga yang digelar terdapat sesuatu yang membahayakan keselamatan pesertanya, maka olahraga tersebut menjadi haram, seperti tinju, dan gulat bebas, yang dibolehkan di dalamnya menyakiti lawan, serta membahayakan keselamatan pesertanya [Sebagaimana Majlis Fatwa al-Majma’ al-Fiqhi al-lslami li Robithoh al-Alam al-Islamiy pada Muktamarnya yang ke-10 digelar di Makkah al-Mukarromah, pada tanggal 24 Shofar 1408 H, telah memutuskan, bahwa kedua cabang olahraga ini hukumnya haram]. Allah berfirman:

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. an-Nisa’ [4]: 29)

Demikian pula semua cabang olahraga yang yang hukum asalnya mubah (halal). Jika menurut dugaan yang kuat akan terjadi bahaya terhadap keselamatan pesertanya, maka diharamkan sebagaimana ayat di atas [Adapun hukum olahraga seperti balap motor, balap mobil, lomba lari, panjat tebing, gulat, karate, taekwondo, kungfu, dan lainnya, maka hukum asalnya adalah termasuk yang dianjurkan, sebagaimana Alloh perintahkan hamba-Nya untuk melatih dan menyiapkan kekuatan (QS. al-Anfal [8]: 60), dan Nabiﷺ memerintah para sahabatnya berlatih memanah (HR. al-Bukhori: 3122). Hanya saja para ulama mensyaratkan kehalalannya, jika diduga kuat tidak akan membahayakan peserta. Dan menjadi haram jika diduga kuat akan membahayakan pesertanya. (Lihat al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 153-162)].

Ketiga Belas: Tidak Menimbulkan Sifat Bangga Diri, Sombong, Dengki, dan Lainnya
Bangga diri (ujub), sombong dan dengki adalah penyakit hati yang dapat terjadi dalam perkara apa saja, bisa sebab ilmu, harta, rupa, pangkat, nasab, dan syuhroh (ketenaran). Jika seseorang yang berolahraga salah niatnya, dia akan selalu mencari jalan supaya menjadi yang paling nomor satu. Ketenaran dan kebanggaanlah yang menjadi tujuannya, lalu menganggap dirinya lebih besar dan hebat, sedangkan yang lainnya lebih lemah daripadanya dan akhirnya diremehkan. Inilah penyakit hati yang telah disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dan pelakunya dibenci oleh Allah. Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk Surga, siapa saja yang memiliki kesombongan, walaupun sebiji sawi dalam hatinya.” Lalu ada orang bertanya: “(Wahai Rasulullah !) Ada orang yang selalu ingin baju dan sandalnya bagus.” Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabagus dan mencintai yang bagus-bagus. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim: 131)

Penutup
Marilah kita merenungi kembali tujuan Allah menciptakan kita. Ilmu agama dan aktivitas dunia yang bermanfaat sudah cukup menyita waktu kita, sehingga kita harus berpikir seribu kali untuk menyia-nyiakannya. Generasi yang mendapatkan kejayaan adalah sebaik-baik contoh buat kita, untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka menggunakan waktunya untuk duduk di majelis ilmu, belajar agama atau mengajarkannya. Jika mendengar seruan azan, mereka segera sholat. Jika mendengar seruan jihad, mereka berebut supaya tidak ketinggalan. Mereka mencari dunia sebagai jalan menuju Kampung Akhirat. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka, dan mereka mendapatkan janji Allah berupa Surga. Bandingkan keadaan kita dengan mereka. Kembalilah kepada Allah Sang Pencipta. Ikhlaskan niat hanya untuk-Nya. Jangan jadikan perkara-perkara yang asalnya mubah menggeser niat utama kita sebagai kaum Muslimin, yang akibatnya akan perkara mubah itu menggantikan niat utama kita, yaitu mencari ridho Allah.

Semoga kita dimudahkan untuk mengikuti jejak para salaf sholih. Amin.

Publication: 1438 H/2016 M
Disalin dari Majalah Al-Furqon No. 112 Ed. 09 Th Ke-10_1432 H/2011 M
Sumber: https://ibnumajjah.wordpress.com/2016/11/14/rambu-rambu-agama-dalam-olahraga/

EMPAT HAL YANG MENYENANGKAN, ASYIK DAN BERPAHALA

EMPAT HAL YANG MENYENANGKAN, ASYIK DAN BERPAHALA
EMPAT HAL YANG MENYENANGKAN, ASYIK DAN BERPAHALA
 
Jabir bin Abdillah radhiallahi anhuma berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:
 
“كل شيء ليس فيه ذكر الله فهو لهو ولعب إلا أربع: ملاعبة الرجل امرأته، وتأديب الرجل فرسه، ومشيه بين الغرضين، وتعليم الرجل السباحة. “
 
“Semua perkara yang tidak mengandung dzikir kepada Allah itu adalah kesia-siaan dan permainan belaka, kecuali empat perkara:
 
1. Senda-gurauan suami kepada istrinya
2. Seseorang yang melatih kudanya
3. Seorang yang berjalan di antara dua anak panah (berpacu dengan musuh di medan perang)[*]
4. Dan, seorang yang mengajarkan renang”.
[HR. An-Nasaiy, dan dishahihkan Al-Albaniy dalam Shahihul Jamì]
 
[*] Lihat: Al-Faidhul Qadhir Fi Syarhil Jami Ash-Shaghir, Al-Munawiy. Dan ada yang menjelaskan maknanya: memanah dan melempar
 
,

HUKUM BERSIWAK KETIKA KHATIB SEDANG KHUTBAH JUMAT

HUKUM BERSIWAK KETIKA KHATIB SEDANG KHUTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fatwa_Ulama

HUKUM BERSIWAK KETIKA KHATIB SEDANG KHUTBAH JUMAT

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Tanya:

بعض الناس من المسلمين يستعملون المسواك والخطيب يخطب يوم الجمعة، فما حكم عملهم؟

Sebagian kaum Muslimin menggunakan siwak ketika khatib sedang berkhutbah Jumat. Apa hukum amalan mereka?

Jawab:

السنة وقت الخطبة الإنصات وترك العبث، ولهذا قال صلى الله عليه وسلم : (من مس الحصى فقد لغى). والسنة أن يترك السواك ويترك العبث بالحركة ويقبل على الخطبة مستمعاً منصتاً خاشعاً ، هذا هو الأولى بالمؤمن ولو أن السواك مشروع لكن في غير هذا المحل ، مشروع عند الدخول في الصلاة، عند الوضوء ، لكن أن يتسوك في هذه الحالة الأولى ترك ذلك؛ لأنه قد يشغله عن الاستماع المطلوب مثل أن مس الحصى أو شبه ذلك قد يشغلهم عن ذلك

Dalam As-Sunnah ketika khutbah adalah diam mendengarkan dan tidak melakukan hal yang sia-sia. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَى

“Barang siapa yang memegang-megang batu (saat khatib berkhutbah), maka ia telah berbuat sia-sia.” [HR. Muslim]

Maka dalam As-Sunnah hendaklah tidak bersiwak ketika khatib sedang khutbah, dan tidak melakukan hal yang sia-sia dengan gerakan. Dan hendaklah fokus mendengarkan khutbah, diam dan khusyu’. Inilah yang lebih utama bagi seorang Mukmin. Meskipun bersiwak itu disyariatkan, namun ini bukan tempatnya.

Bersiwak disyariatkan ketika mau masuk sholat dan ketika wudhu. Adapun ketika sedang mendengarkan khutbah, maka lebih baik ditinggalkan, karena hal itu bisa menyibukkan dari mendengarkan khutbah. Sama seperti memegang-megang batu dan yang semisalnya, dapat menyibukkan dari mendengarkan khutbah.”

[Nuurun ‘alad Darb, 13/318-319]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: http://sofyanruray.info/hukum-bersiwak-ketika-khutbah-jumat/