Posts

,

KENALI SYAFAAT KHUSUS NABI MUHAMMAD

KENALI SYAFAAT KHUSUS NABI MUHAMMAD
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KENALI SYAFAAT KHUSUS NABI MUHAMMAD ﷺ
>> Ingin Mendapat Syafaat Khusus Nabi ﷺ, Tapi Tidak Mau Menjawab Azan?
 
Syafaat khusus, yaitu syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada Hari Kiamat. Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yan tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orang-orang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat. Hingga mereka datang kepada Nabi ﷺ, lalu beliau ﷺ berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah, agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari azab yang besar ini. Allah pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk kedudukan terpuji yang dijanjikan Allah di dalam firman-Nya:
 
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Dan pada sebagian malam hari, bersembahyang Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” [QS. Al-Israa’: 79]
 
Di antara syafaat khusus yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ adalah syafaatnya kepada penghuni Surga agar mereka segera masuk Surga, karena penghuni Surga ketika melewati jembatan, mereka diberhentikan di tengah jembatan yang ada di antara Surga dan Neraka. Hati sebagian mereka bertanya-tanya kepada sebagian lain, hingga akhirnya mereka bersih dari dosa. Kemudian mereka baru diizinkan masuk Surga. Pintu Surga itu bisa terbuka karena syafaat Nabi ﷺ.
 
[Dakwahsunnah.com]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

#jawabazan, #jawabadzan, #menjawabazan, #menjawabadzan, #doa, #do’a, #setelah, #sesudah, #azan, #adzan, #dzikir, #zikir, #wasilah, #syafaat, #syafaat, #syafaatkhususNabi #penghuniSurga, #ahlisurga, #segeramasuksurga #kedudukan, #maqam, #maqom

 

HUKUM PUJIAN/SHALAWATAN SETELAH AZAN SAMPAI IQAMAH

HUKUM PUJIAN/SHALAWATAN SETELAH AZAN SAMPAI IQAMAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

HUKUM PUJIAN/SHALAWATAN SETELAH AZAN SAMPAI IQAMAH
>> Tidak Boleh Mengganggu Orang Lain, Meskipun dengan Bacaan Alquran
 
Seringkali kita dengar di surau atau masjid setelah dikumandangkannya azan, muazin membaca shalawat dengan suara yang keras. Bahkan ada yang dengan nada yang mendayu-mendayu ketika membaca shalawat, seperti Shalawat Nariyah. Barangkali kita pernah mendengar pula bahwa ada anjuran membaca shalawat dan meminta wasilah bagi Nabi ﷺ.
 
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:
 
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
 
“Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin, lalu bershalawatlah kepadaku. Maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku, karena wasilah adalah sebuah kedudukan di Surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut, kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barang siapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafaatku.” (=[HR. Muslim no. 875]
 
Dari hadis di atas jelas, bahwa ada tuntunan bershalawat dan meminat wasilah bagi beliau setelah azan. Dari sinilah sebagian muazin berdalil akan agungnya amalan shalawat setelah azan, sampai-sampai dikeraskan dengan pengeras suara.
 
Perlu diketahui, bahwa amalan mengeraskan suara setelah kumandang azan telah dibahas oleh para ulama akan KELIRUNYA dan digolongkan sebagai BIDAH SAYYI’AH (BUKAN Bidah Hasanah). Kita dapat menemukan pernyataan tersebut, di antaranya dalam perkataan Syaikh Sayyid Sabiq –rahimahullah– yang mungkin saja di antara kita telah memiliki atau membaca buku fikih karya beliau, yakni Fikih Sunnah.
 
Syaikh Sayyid Sabiq –rahimahullah– berkata:
“Mengeraskan bacaan shalawat dan salam bagi Rasul ﷺ setelah azan adalah sesuatu yang TIDAK dianjurkan. Bahkan amalan tersebut termasuk dalam BID’AH yang TERLARANG. Ibnu Hajar berkata dalam Al Fatawa Al Kubro:
“Para guru kami dan selainnya telah menfatwakan, bahwa shalawat dan salam setelah kumandang azan dan bacaan tersebut dengan dikeraskan sebagaimana ucapan azan yang diucapkan muazin, maka mereka katakan bahwa shalawat memang ada sunnahnya, namun cara yang dilakukan tergolong dalam bid’ah.“
 
Syaikh Muhammad Mufti Ad Diyar Al Mishriyah ditanya mengenai shalawat dan salam setelah azan (dengan dikeraskan), beliau rahimahullah menjawab:
“Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Khoniyyah, bahwa azan tidak terdapat pada selain shalat wajib. Azan itu ada 15 kalimat dan ucapkan akhirnya adalah “Laa ilaha illallah”. Adapun ucapan yang disebutkan sebelum atau sesudah azan (dengan suara keras sebagaimana azan), maka itu tergolong dalam amalan yang tidak ada asal usulnya (baca: bid’ah). Kekeliruan tersebut dibuat-buat bukan untuk tujuan tertentu. Tidak ada satu pun di antara para ulama yang mengatakan bolehnya ucapan keliru semacam itu. Tidak perlu lagi seseorang menyatakan, bahwa amalan itu termasuk Bidah Hasanah, karena setiap bid’ah dalam ibadah seperti contoh ini, maka itu termasuk bid’ah yang jelek (BUKAN Bidah Hasanah, tetapi masuk Bid’ah Sayyi-Ah, bid’ah yang jelek). Siapa yang klaim bahwa seperti ini bukan amalan yang keliru, maka ia berdusta.” (Berakhir nukilan dari Syaikh Sayyid Sabiq)
 
Lihatlah Syaikh rahimahullah sendiri menganggap, bahwa bid’ah dalam masalah ibadah bukanlah masuk Bidah Hasanah. Beliau golongkan dalam Bidah Sayyi’ah. Renungkanlah saudaraku yang selalu beralasan dengan “Bidah Hasanah” atas perbuatan keliru yang jelas JAUH dari tuntunan Nabi ﷺ! Perhatikanlah ucapan seorang alim ini! Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasul ﷺ. Yang beliau ajarkan adalah doa sesudah azan tidak dikeraskan (dengan pengeras suara), sebagaimana azan.
 
Adapun doa sesudah azan yang Nabi ﷺ ajarkan sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut. Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
 
“Barang siapa mengucapkan setelah mendengar azan:
Allahumma robba hadzihid da’watit taammati wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah.
 
Artinya:
Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan mendapatkan syafaatku kelak.” [HR.Bukhari no. 614].
 
Namun sekali lagi bacaan doa azan ini TIDAK PERLU DIKERASKAN setelah azan dengan pengeras suara, agar tidak membuat rancu, dan tidak membuat orang salah menganggap itu masih lafal azan.
 
 
Wallahu waliyyut taufiq.
 
 
Referensi: Fiqih Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq, 1/ 91, Muassasah Ar Risalah
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
[www.rumaysho.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #shalawatan, #sholawatan, #salawatan, #solawatan, #sesudah, #setelah, #adzan, #azan, #pujian, #speker, #loud speaker, #pengerassuara #larangangangguoranglain #bacaanAlquran #Alquran
,

TETAP ISTIQAMAH SHALAT LIMA WAKTU SELEPAS RAMADAN

TETAP ISTIQAMAH SHALAT LIMA WAKTU SELEPAS RAMADAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
TETAP ISTIQAMAH SHALAT LIMA WAKTU SELEPAS RAMADAN
 
Ramadan sungguh sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Orang yang tadinya malas ke masjid atau sering bolong mengerjakan shalat lima waktu, pada waktu Ramadan terlihat begitu bersemangat melaksanakan amalan shalat ini. Itulah di antara tanda dibukanya pintu Surga dan ditutupnya pintu Neraka ketika itu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila Ramadan tiba, pintu Surga dibuka, pintu Neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” [HR. Muslim no. 1079]
 
Namun, amalan shalat ini hendaklah tidak ditinggalkan begitu saja. Kalau memang pada waktu Ramadan kita rutin menjaga shalat lima waktu, maka hendaklah amalan tersebut tetap dijaga di luar Ramadan. Begitu pula dengan shalat jamaah di masjid khusus untuk kaum pria.
 
Namun yang sangat kami sayangkan, amalan shalat ini sering dilalaikan oleh sebagian kaum Muslimin. Bahkan mulai pada Hari Raya ‘Ied (1 Syawal) saja, sebagian orang sudah mulai meninggalkan shalat karena sibuk silaturahmi atau berekreasi. Begitu juga seringkali kita lihat sebagian saudara kita karena kebiasaan bangun kesiangan, dia meninggalkan shalat Subuh begitu saja.
 
Padahal shalat Subuh inilah yang paling berat dikerjakan oleh orang munafik, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada shalat yang paling berat dilakukan oleh orang munafik, kecuali shalat Subuh dan shalat Isya’. Seandainya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun sambil merangkak.” [HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651]
 
Ingatlah ancaman keras dari Nabi ﷺ bagi orang yang meninggalkan shalat. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bekas budak Nabi ﷺ, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ
 
“Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia telah melakukan kesyirikan.” [HR. Ath Thobariy dengan sanad Shahih. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini Shahih. Lihat Shahih At Targib wa At Tarhib no. 566]
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

DOA SETELAH MENDENGAR AZAN

DOA SETELAH MENDENGAR AZAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
#DoaZikir
 
DOA SETELAH MENDENGAN AZAN
 
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang berdoa ketika mendengan azan:
 
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
 
Allahumma Robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah.
 
Artinya:
‘Ya Allah! Wahai Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan ini, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah (kedudukan yang tinggi di Surga) dan keutamaan (melebihi seluruh makhluk). Dan bangkitkanlah beliau pada kedudukan yang dipuji (Maqam Mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya’, niscaya ia pasti akan beroleh syafaatku pada Hari Kiamat.” [HR. Bukhari no. 614]

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM

BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#DoaZikir
 
BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM
 
Di antara doa yang hendaknya kita baca setelah membaca Tasyahud adalah doa yang di jelaskan dalam riwayat berikut:
 
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ دخلَ المسجدَ، إذا رجلٌ قد قَضى صلاتَهُ وَهوَ يتشَهَّدُ، فقالَ: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ، فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ: قَد غَفرَ اللَّهُ لَهُ، ثلاثًا
“Bahwasanya Rasulullaah ﷺ masuk masjid, dan ada seorang lak-laki yang sedang shalat. Dalam keadaan bertasyahud, ia berdoa (dalam Tasyahudnya):
 
اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ
 
Allaahumma inni as-aluka yaa Allaah, bi annakal waahidul ahadush shamad, alladziy lam yalid wa lam yuulad wa lam yakul-lahu kufuwan ahad, an taghfiraliy dzunuubiy innaka antal ghofuuur rohiim.
 
Artinya:
‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah, Yang Maha Esa, lagi tempat bergantungnya seluruh makhluk, Yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, agar engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’
 
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Sungguh Allah telah mengampuninya, sungguh Allah telah mengampuninya, sungguh Allah telah mengampuninya“. [HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani].
 
, , ,

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
 
Bukanlah termasuk petunjuk Rasulullah ﷺ, seseorang berdoa setelah salam dari shalat, kecuali jika itu adalah untuk menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat. Di antara yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ adalah SETELAH salam, dengan mengucapkan istighfar sebanyak tiga kali yaitu: Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah (maknanya adalah ‘Aku memohon ampun pada Allah’). Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ jika berpaling (selesai) menunaikan shalatnya, beliau ﷺ mengucapkan ‘Astagfirullah’ sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengucapkan ‘Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta yaa dzal jalali wal ikrom’. [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih, termasuk periwayat kitab Shahih. Syaikh Al Albani dalam Al Kalamu Ath Thoyib mengatakan bahwa hadis ini Shahih].
 
Adapun jika tujuan doa tersebut selain daripada menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat, maka lebih utama doa tersebut dilakukan SEBELUM SALAM. Sebagaimana dapat dilihat dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma berikut ini, Rasulullah ﷺ pernah mengajarkannya Tasyahud padanya, lalu beliau ﷺ bersabda:
 
ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ
 
“Kemudian terserah dia memilih doa yang dia sukai untuk berdoa dengannya.” [HR. Abu Daud no. 825]
 
Dalam lafal lain:
ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
 
“Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah Tasyahud), doa yang dia kehendaki (dia sukai).” [HR. Muslim no. 402, An Nasa’i no. 1298, Abu Daud no. 968, Ad Darimi no. 1340]
 
Jadi apabila kita ingin berdoa kepada Allah, maka berdoalah kepada-Nya SEBELUM salam. Hal ini karena dua alasan:
 
Alasan pertama: Inilah yang diperintahkan oleh Rasul ﷺ. Beliau ﷺ membicarakan tentang Tasyahud, “Jika kalian selesai (dari Tasyahud), maka pilihlah doa yang kalian suka berdoa dengannya.”
 
Alasan kedua: Jika engkau berada dalam shalat, maka berarti engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu. Jika engkau telah selesai mengucapkan salam, berakhir pula munajatmu tersebut. Lalu manakah yang lebih afdhal (lebih utama), apakah meminta pada Allah ketika bermunajat kepada-Nya, ataukah setelah engkau berpaling (selesai) dari shalat? Jawabannya, tentu yang pertama, yaitu ketika engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu.
 
Adapun ucapan zikir setelah menunaikan shalat (setelah salam), yaitu ucapan Astagfirullah sebanyak tiga kali, ini memang doa, namun ini adalah DOA YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT. Ucapan istighfar seseorang sebanyak tiga kali setelah shalat bertujuan untuk menambal kekurangan yang ada dalam shalat. Maka pada hakikatnya, ucapan zikir ini adalah pengulangan dari shalat.
 
Adakah dalil yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ ketika selesai shalat Subuh berpaling ke makmum, lalu mengangkat kedua tangannya (untuk berdoa). Apakah hadis tersebut Shahih?
Syaikh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab: Hadis ini tidak diketahui periwayatannya. Jika pun ada, maka hadis ini adalah hadis yang lemah. [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, kaset no. 82]
 
Sumber:
,

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai. [Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja. [Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sujud Sahwi ketika shalat sunnah sama halnya dengan shalat wajib, yaitu sama-sama disyariatkan. Karena dalam hadis yang membicarakan Sujud Sahwi menyebutkan umumnya shalat, tidak membatasi pada shalat wajib saja.

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan: “Sebagaimana dikatakan dalam hadis ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ

“Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya.” Hadis ini menunjukkan, bahwa Sujud Sahwi itu disyariatkan pula dalam shalat sunnah, sebagaimana disyariatkan dalam shalat wajib (karena lafal dalam hadis ini umum). Inilah yang dipilih oleh Jumhur (Mayoritas) Ulama yang dulu dan sekarang. Karena untuk menambal kekurangan dalam shalat, dan untuk menghinakan setan, juga terdapat dalam shalat sunnah, sebagaimana terdapat dalam shalat wajib.” [Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 3/144, Idarotuth Thoba’ah Al Muniirah]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
,

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Mengenai masalah lupa melakukan Sujud Sahwi, kita dapat bagi menjadi dua keadaan:

Keadaan Pertama: Jika Sujud Sahwi yang ditinggalkan sudah lama waktunya, namun wudhunya belum batal.

Dalam keadaan seperti ini, menurut pendapat yang lebih kuat, selama wudhunya masih ada, maka shalatnya tadi masih tetap teranggap dan ia melakukan Sujud Sahwi ketika ia ingat, meskipun waktunya sudah lama. Inilah pendapat Imam Malik, pendapat yang terdahulu dari Imam Asy Syafi’i, Yahya bin Sa’id Al Anshori, Al Laits, Al Auza’i, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengkhususkan jika memang Sujud Sahwinya terletak sesudah salam, inilah yang beliau bolehkan. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/32]. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466]

Di antara alasan pendapat di atas adalah:

Pertama: Karena jika kita mengatakan, bahwa kalau sudah lama ia meninggalkan Sujud Sahwi, maka ini sebenarnya sulit dijadikan standar. Nabi ﷺ sendiri pernah dalam lupa, sehingga hanya mengerjakan dua atau tiga rakaat. Setelah itu malah beliau ﷺ ngobrol-ngobrol, lalu keluar dari masjid, terus masuk ke dalam rumah. Lalu setelah itu ada yang mengingatkan. Lantas beliau ﷺ pun mengerjakan rakaat yang kurang tadi. Setelah itu beliau ﷺ melakukan Sujud Sahwi. Ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ melakukan Sujud Sahwi dalam waktu yang lama. Artinya waktu yang lama tidak bisa dijadikan.

Kedua: Orang yang lupa, selama wudhunya masih ada, diperintahkan untuk menyempurnakan shalatnya dan diperintahkan untuk Sujud Sahwi. Meskipun lama waktunya, Sujud Sahwi tetap diwajibkan. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi ﷺ:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran, maka kafarahnya (penebusnya) adalah hendaklah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684)

Keadaan Kedua: Jika Sujud Sahwinya ditinggalkan dan wudhunya batal

Untuk keadaan kedua ini, berarti shalatnya batal. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Orang seperti berarti harus mengulangi shalatnya. Kecuali jika Sujud Sahwi yang ditinggalkan adalah Sujud Sahwi sesudah salam dikarenakan kelebihan mengerjakan rakaat, maka ia boleh melaksanakan Sujud Sahwi setelah ia berwudhu kembali. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466]

Jika Lupa Berulang Kali dalam Shalat

Jika seseorang lupa berulang kali dalam shalat, apakah ia harus berulang kali melakukan Sujud Sahwi? Jawabannya, hal ini tidak diperlukan.

Ulama Syafi’iyah, ‘Abdul Karim Ar Rofi’i rahimahullah mengatakan: “Jika lupa berulang kali dalam shalat, maka cukup dengan Sujud Sahwi (dua kali sujud) di akhir shalat.” [Fathul ‘Aziz Syarh Al Wajiz, Abul Qosim Abdul Karim bin Muhammad Ar Rofi’i, 4/172, Darul Fikr]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: [Rumaysho.com]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
,

SUJUD SAHWI SEBELUM ATAUKAH SESUDAH SALAM?

SUJUD SAHWI SEBELUM ATAUKAH SESUDAH SALAM?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
SUJUD SAHWI SEBELUM ATAUKAH SESUDAH SALAM?
 
Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Shidiq Hasan Khon rahimahullah berkata: “Hadis-hadis tegas yang menjelaskan mengenai Sujud Sahwi kadang menyebutkan, bahwa Sujud Sahwi terletak sebelum salam dan kadang pula sesudah salam. Hal ini menunjukkan, bahwa boleh melakukan Sujud Sahwi sebelum ataukah sesudah salam. Akan tetapi lebih bagus jika Sujud Sahwi ini mengikuti cara yang telah dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Jika ada dalil yang menjelaskan, bahwa Sujud Sahwi ketika itu sebelum salam, maka hendaklah dilakukan sebelum salam. Begitu pula jika ada dalil yang menjelaskan, bahwa Sujud Sahwi ketika itu sesudah salam, maka hendaklah dilakukan sesudah salam. Selain hal ini, maka di situ ada pilihan. Akan tetapi, memilih Sujud Sahwi sebelum atau sesudah salam itu hanya sunnah (tidak sampai wajib, pen).” [Ar Roudhotun Nadiyyah Syarh Ad Durorul Bahiyah, Shidiq Hasan Khon, 1/182, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1422 H]
 
Intinya, jika shalatnya perlu ditambal karena ada KEKURANGAN, maka hendaklah Sujud Sahwi dilakukan SEBELUM salam. Sedangkan jika shalatnya sudah pas atau BERLEBIH, maka hendaklah Sujud Sahwi dilakukan SESUDAH salam dengan tujuan untuk MENGHINAKAN SETAN.
 
Adapun penjelasan mengenai letak Sujud Sahwi sebelum ataukah sesudah salam dapat dilihat pada rincian berikut:
 
1. Jika terdapat kekurangan pada shalat, seperti kekurangan Tasyahud Awal, ini berarti kekurangan tadi butuh ditambal. Maka menutupinya tentu saja dengan Sujud Sahwi sebelum salam, untuk menyempurnakan shalat. Karena jika seseorang sudah mengucapkan salam, berarti ia sudah selesai dari shalat.
 
2. Jika terdapat kelebihan dalam shalat, seperti terdapat penambahan satu rakaat, maka hendaklah Sujud Sahwi dilakukan sesudah salam. Karena Sujud Sahwi ketika itu untuk menghinakan setan.
 
3. Jika seseorang terlanjur salam, namun ternyata masih memiliki kekurangan rakaat, maka hendaklah ia menyempurnakan kekurangan rakaat tadi. Pada saat ini, Sujud Sahwinya adalah sesudah salam dengan tujuan untuk menghinakan setan.
 
4. Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu ia mengingatnya dan bisa memilih yang yakin, maka hendaklah ia Sujud Sahwi sesudah salam untuk menghinakan setan.
 
5. Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu tidak nampak baginya keadaan yang yakin. Semisal ia ragu apakah shalatnya empat atau lima rakaat. Jika ternyata shalatnya benar lima rakaat, maka tambahan sujud tadi untuk menggenapkan shalatnya tersebut. Jadi seakan-akan ia shalat enam rakaat, bukan lima rakaat. Pada saat ini Sujud Sahwinya adalah sebelum salam karena shalatnya ketika itu seakan-akan perlu ditambal disebabkan masih ada yang kurang yaitu yang belum ia yakini.
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
,

HUKUM TASYBIK (MENJALIN JARI JEMARI)

HUKUM TASYBIK (MENJALIN JARI JEMARI)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
HUKUM TASYBIK (MENJALIN JARI JEMARI)
Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi
 
Pertanyaan:
Manakah pendapat yang shahih mengenai hukum tasybik (menjalin jari-jemari) sebelum shalat dan setelahnya?
 
Jawaban:
Menjalin jari-jemari TERLARANG dilakukan sebelum shalat, yaitu ketika menunggu shalat. Sebagaimana hadis:
 
إذا كان أحدكم يصلي فلا يشبكن بين أصابعه
 
“Jika salah seorang dari kalian shalat, maka janganlah menjalin jari-jemarinya.”
 
Karena orang yang menunggu shalat itu sebagaimana orang yang shalat.
 
Adapun jika sudah selesai shalat, tidak mengapa melakukan tasybik di masjid ataupun di tempat lainnya. Sedangkan jika sebelum shalat, TIDAK BOLEH. Karena orang yang menunggu shalat itu sebagaimana orang yang shalat.
 
Nabi ﷺ pernah kurang rakaat shalatnya karena lupa. Beliau ﷺ hanya shalat dua rakaat, kemudian pergi ke tepi masjid dan bersandar di tiang kayu sambil ber-tasybik (HR. Ibnu Hibban). Beliau ﷺ mengira shalatnya tersebut sudah sempurna dikerjakan.
 
Hal ini menunjukkan, bahwa jika shalat sudah selesai, maka boleh ber-tasybik. Sedangkan jika belum, maka tidak boleh. Karena orang yang menunggu shalat itu sebagaimana orang yang shalat.
 
Adapun orang yang berjalan ke masjid, maka hukumnya juga sebagaimana hukum orang yang shalat (tidak boleh ber-tasybik, pent.). Dan hendaknya orang yang berjalan ke masjid menghadirkan keagungan Allah dalam hatinya. Demikian yang nampaknya lebih tepat.
 
[Fatawa Munawwa’ah Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi, 6/24, Asy Syamilah]
 
 
Penerjemah: Yulian Purnama
#FatwaUlama