Posts

,

ORANG YANG BERNIAT TIDAK MAU MELUNASI UTANG AKAN DIHUKUMI SEBAGAI PENCURI

ORANG YANG BERNIAT TIDAK MAU MELUNASI UTANG AKAN DIHUKUMI SEBAGAI PENCURI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah
 
ORANG YANG BERNIAT TIDAK MAU MELUNASI UTANG AKAN DIHUKUMI SEBAGAI PENCURI
 
Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا
 
“Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada Hari Kiamat) dalam status sebagai pencuri.” [HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan Shahih]
Al Munawi mengatakan: “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri, dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” [Faidul Qodir, 3/181]
 
Ibnu Majah membawakan hadis di atas pada Bab “Barang Siapa Berutang dan Berniat Tidak Ingin Melunasinya.”
 
Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
 
“Barang siapa yang mengambil harta manusia dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” [HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411]
 
Di antara maksud hadis ini adalah barang siapa yang mengambil harta manusia melalui jalan utang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan utang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya.
 
Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berutang dan enggan untuk melunasinya.

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

HUKUM MERUSAK BARANG TEMAN SECARA TIDAK DISENGAJA

HUKUM MERUSAK BARANG TEMAN SECARA TIDAK DISENGAJA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HUKUM MERUSAK BARANG TEMAN SECARA TIDAK DISENGAJA

Pertanyaan:

Jika ada orang meminjam motor, lalu terjadi kecelakaan yang tidak disengaja, ada kerusakan tidak berat di motor itu. Ketika dikembalikan, pemilik diam saja, tidak minta diperbaiki atau ganti rugi. Apakah yang meminjam harus ganti rugi?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pernah bercerita:

Suatu ketika, Nabi ﷺ sedang berada di rumah salah satu istrinya (Aisyah). Tiba-tiba ada istri beliau yang lain (Zainab bintu Jahsy) menyuruh pembantunya untuk mengirim sepiring makanan untuk Nabi ﷺ. Melihat itu Aisyah marah dan langsung memukul piring yang masih di tangan si pembantu, hingga pecah dan berserakan. Lalu Nabi ﷺ mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berserakan, sambil mengatakan:

غَارَتْ أُمُّكُمْ

“Ibumu sedang cemburu.”

Kemudian Nabi ﷺ mengganti dengan piring yang ada di rumah Aisyah, sementara piring yang pecah ditinggal. (HR. Ahmad 12027 dan Bukhari 5225)

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha memecahkan piring milik Zainab, Nabi ﷺ menggantinya dengan piring di rumah Aisyah, meskipun ketika itu Zainab, pemilik piring, tidak di tempat. Karena pada asalnya, merusakkan barang orang lain, harus diganti.

Bagaimana jika pemiliknya diam?

Pemilik diam, bukan berarti dia rida. Karena hukum asalnya, siapa yang merusakkan barang orang, dia harus mengganti. Kecuali jika pemilik menyatakan tidak perlu diganti.

Dalam hal ini, terdapat kaidah yang menyatakan:

لا ينسب إلى ساكت قول

“Satu pernyataan tidak dinisbahkan kepada orang yang diam”

Ketika pemilik barang diam, bukan berarti dia mengizinkan barangnya dirusak. Karena dia sama sekali tidak menyampaikan seperti itu.

Dr. Muhammad Sidqi al-Burnu menyebutkan contoh penerapan kaidah di atas:

ولو أتلف شخص مال آخر وصاحب المال يشاهد وهو ساكت، لا يكون سكوته إذناً بالإتلاف، بل له أن يضمنه

Ketika ada orang yang merusak harta orang lain, sementara pemiliknya menyaksikan dan diam saja, maka diamnya tidak menunjukkan, bahwa dia mengizinkan agar barangnya dirusak. Namun dia harus ganti rugi. ([Al-Wajiz fii Idhah Qawaid al-Fiqh al-Kulliyah, hlm. 205]

Karena itu, ketika pemilik barang diam, orang yang merusak barang tetap harus menggantinya, meskipun itu terjadi tanpa disengaja. Kecuali jika pemilik barang menyatakan, tidak perlu diganti.

Demikian, Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29776-merusak-barang-teman-tidak-wajib-diganti.html

, , ,

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA MENEMUI KONDISI BERIKUT?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA MENEMUI KONDISI BERIKUT?

>> Jawaban dari Banyak Masalah Penting Yang Munking Pernah Kita Alami dalam Kehidupan Sehari-hari

Tulisan ini disadur dari risalah “Maadza Taf’alu Fil Haalaati At-Taliyah” karya Syaikh Muhammad Sholeh al-Munajid. Temukan jawaban untuk kasus-kasus penting, yang mungkin pernah kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Menghilangkan Penghalang Air Wudhu

>> Ketika seseorang berwudhu, ternyata di salah satu anggota wudhu ada bagian yang tertutupi benda tertentu, (misalnya cat untuk kuku), sehingga menghalangi air terkena bagian kulit. Apakah berusaha membersihkan benda semacam ini bisa menyebabkan wudhu seseorang terputus?

Jawaban:

Usaha membersihkan benda penghalang wudhu semacam ini, tidaklah menyebabkan wudhu terputus, menurut pendapat yang lebih kuat. Sehingga tidak perlu mengulangi wudhu dari awal. Meskipun anggota wudhu sebelumnya sudah kering. Sebagai contoh: seseorang berwudhu dengan sempurna. Giliran mencuci kaki, ternyata ada cat di kuku yang belum dibersihkan. Kemudian dia berusaha membersihkannya. Dalam kondisi semacam ini, dia tidak perlu mengulangi wudhu dari awal, tapi cukup mencuci kaki, setelah membersihkan bekas cat, meskipun wajah dan tangan sudah kering.

Penjelasannya:

Melakukan kegiatan di tengah-tengah wudhu hukumnya dibagi menjadi dua:

  1. Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan berwudhunya, seperti mengambil air, menyalakan pompa air, pindah dari satu kran ke kran yang lain, membersihkan benda najis di bagian anggota wudhu, atau membersihkan sesuatu yang menghalangi air dari anggota wudhu. Semua kegiatan ini TIDAK memutus wudhu, sehingga tidak perlu mengulangi wudhu dari awal, meskipun anggota wudhu sebelumnya telah kering.
  2. Melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan wudhu, seperti membersihkan najis di pakaian, makan, minum, menolong orang, mengobrol, baik langsung maupun lewat telepon, atau yang lainnya. Kegiatan semacam ini, jika dilakukan di tengah-tengah wudhu, dan mengakibatkan anggota wudhu sebelumnya kering, maka wudhunya harus diulangi dari awal.

Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin [Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 11/146]

Darah Ketika Keguguran

>> Apabila seorang wanita mengalami keguguran, kemudian keluar darah, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Kondisi semacam ini dikembalikan kepada jenis darah yang keluar, apakah darah nifas ataukah darah istihadhah. Para ulama memberikan batasan: “Darah yang keluar setelah wanita melahirkan karena keguguran, dan janin sudah berbentuk manusia, maka dihukumi darah nifas. Namun jika darah ini keluar, sementara janin yang keguguran baru sebatas segumpal darah atau daging, maka tidak dihukumi nifas.” [Al-Mughni, 1/392).

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengatakan:

Ketika janin yang keguguran belum berbentuk manusia, maka dalam keadaan ini darah yang keluar adalah darah istihadhah. Wanita ini disyariatkan untuk berwudhu setiap hendak melaksanakan shalat, setelah masuk waktu shalat, dan boleh langsung melaksanakannya. Adapun jika janin yang keguguran sudah berbentuk makhluk (manusia), atau sudah berada pada tahap pembentukan salah satu anggota badan, seperti tangan, kaki, atau kepala, maka darah yang keluar ketika persalinan dihukumi darah nifas.

Jika ada yang mengatakan: Proses persalinan ini dilakukan di rumah sakit, sementara para tim medis langsung mengambilnya dan mengamankannya, sehingga orang tuanya tidak tahu. Lalu apa yang harus dilakukan? Syaikh Utsaimin menjawab: Para pakar telah menyebutkan, bahwa batas waktu minimal, di mana bisa kelihatan pembentukan salah satu anggota badan adalah 81 hari usia kehamilan. [Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 4/292]

Komentar Syaikh Muhammad Munajid:

Namun selayaknya, masalah semacam ini dikonsultasikan kepada para dokter. Kemudian disesuai dengan prediksi dokter, sehingga dia bisa mendapatkan informasi yang lebih valid tentang janinnya.

Darah Yang Keluar Sebelum Melahirkan

>> Apa hukum darah yang keluar sebelum melahirkan?

Jawaban:

Tentang darah yang keluar beberapa saat sebelum melahirkan dirinci menjadi dua:

  1. Jika keluarnya darah tersebut disertai dengan sakitnya kontraksi karena proses pembukaan, maka darah adalah darah nifas.
  2. Jika keluarnya darah tersebut TIDAK disertai dengan kontraksi, maka darah itu bukan nifas, tetapi istihadhah.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menerangkan bahwa Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan:

Darah yang dilihat wanita ketika mulai berkontraksi, maka statusnya adalah darah nifas. Yang dimaksud kontraksi adalah proses pembukaan yang meruapakan tahapan proses melahirkan. Jika tidak disertai semacam ini, maka bukan nifas. [Majmu’ Fatawa Syaikh Ibn Utsaimin, 4/328]

Ketika Tidak Bisa Khusyu Dalam Shalat

>> Apa yang harus dilakukan, ketika kita merasa mendapat gangguan dari setan, terlintas pikiran yang mengganggu konsentrasi shalat, sehingga menyebabkan kita tidak bisa khusyu dalam shalat?

Jawaban:

Kasus semacam ini pernah dialami oleh salah seorang sahabat, yaitu Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu ‘anhu. Beliau datang kepada Nabi ﷺ mengadukan gangguan yang dia alami ketika shalat. Kemudian beliau ﷺ bersabda:

ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه واتفل على يسارك ثلاثاً

“Itu adalah setan, namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlilndungan kepada Allah dari gangguannya, dan meludahlah ke kiri tiga kali.”

Kata Utsman: Akupun melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku. [HR. Muslim no. 2203]

Pelajaran Hadis:

  1. Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita dua cara untuk menghilangkan gangguan setan dalam shalat:
  2. Memohon perlindungan kepada Allah, dengan membaca Ta’awudz (a-‘udzu billahi minas syaithanir rajiim). Bacaan ini dilafalkan, BUKAN dibatin. Dan ini hukumnya dibolehkan dan TIDAK membatalkan shalat.
  3. Meludah ringan ke kiri. Bentuknya dengan meniupkan udara yang mengandung sedikit air ludah. Ini dibolehkan, dengan syarat tidak mengganggu orang yang berada di sebelah kirinya, dan tidak mengotori masjid.

Allahu a’lam

Azan Subuh Terdengar Ketika Shalat Witir

>> Ketika sedang melaksanakan shalat Witir, tiba-tiba di tengah shalat terdengar azan Subuh. Bolehkah kita melanjutkan shalat Witir?

 

Jawaban:

Ketika seseorang mendengar azan Subuh, sementara dia sedang shalat Witir, maka dia sempurnakan shalat Witirnya, dan semacam ini dibolehkan. [Fatawa Islamiyah Syaikh Ibn Utsaimin, 1:346]

Permasalahan semacam ini sebenarnya termasuk dalam pembahasan waktu shalat Witir. Ulama berselisih pendapat, apakah berakhirnya waktu shalat Witir itu sampai terbit fajar ataukah sampai selesainya shalat Subuh. Mayoritas Ulama berpendapat, waktu berakhirnya shalat Witir adalah sampai terbit fajar. Meskipun banyak ulama lainnya yang membolehkan shalat Witir setelah azan Subuh, bagi yang berhalangan, sehingga tidak bisa melaksanakannya sebelum Subuh. [Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah]

Belum Ashar Tetapi Shalat Maghrib Sudah Dimulai

>> Ketika seseorang belum sempat melaksanakan shalat Ashar karena alasan yang dibenarkan, kemudian di datang ke masjid, dan ternyata shalat Maghrib telah dimulai, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah mengatakan:

Dia disyariatkan untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama imam, kemudian shalat Ashar. Ini berdasarkan kesepakatan ulama. Apakah orang ini harus mengulangi shalat Maghribnya, setelah mengerjakan shalat Ashar? Dalam hal ini ada dua pendapat:

  1. Dia harus mengulangi Maghribnya. Ini adalah pendapat Ibn Umar, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.
  2. Tidak perlu mengulangi Maghribnya. Ini adalah pendapat Ibn Abbas, Imam Syafi’i, dan pendapat kedua Imam Ahmad.

Pendapat kedua lebih kuat. Karena Allah tidaklah mewajibkan seorang hamba untuk melaksanakan shalat wajib dua kali, jika sikapnya ini disebabkan adanya uzur, diperbolehkan. [Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, 22:106]

Makmum TidakMengetahui Apakah Imam Musafir atau Mukim

>> Ketika seorang musafir hendak mengikuti shalat jamaah, sementara dia tidak tahu apakah imamnya itu musafir ataukah penduduk asli, kemudian si musafir ini mengikuti shalat jamaah menjadi makmum, apakah dia niatkan untuk qashar ataukah niat sebagaimana shalatnya orang mukim, empat rakaat?

Jawaban:

Yang lebih kuat, hendaknya dia melihat ciri imamnya, sehingga bisa memerkirakan, apakah dia musafir ataukah mukim. Kemudian dia mengambil sikap sebagaimana dugaan kuat yang dia ketahui. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibn Abbas, bahwa beliau ditanya: Mengapa musafir shalatnya diqashar ketika sendirian dan empat rakaat ketika menjadi makmum orang yang mukim? Beliau menjawab: “Itu adalah sunnah Abul Qasim (Nabi Muhammad ﷺ).” Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liq beliau untuk musnad Imam Ahmad.

Catatan:

Seorang musafir menjadi makmum masbuk, ketinggalan dua rakaat, dan dia berniat qashar, karena beranggapan imamnya seorang musafir, padahal imamnya bukan musafir. Setelah salam bersama imam, dia mendapat info, bahwa imam bukan musafir. Maka dia harus menambahi dua rakaat lagi untuk menyempurnakan shalatnya dan Sujud Sahwi setelah salam. Demikian keterangan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’, 4:356. Syaikh Muhammad al-Munajid menambahkan: Pembicaraan yang dilakukan orang ini di sela-sela shalatnya (setelah salam di rakaat kedua), tidaklah menyebabkan shalatnya putus. Namun dia dibolehkan melanjutkan dan menyempurnakan shalatnya, tanpa harus memulai dari awal. Selama pembicaraan itu bertujuan untuk kepentingan shalatnya.

Bolehnya Melakukan Gerakan Ringan di Luar Shalat, Bila Ada Kebutuhan Mendesak

>> Ketika di tengah shalat, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Atau ada seorang ibu yang shalat, sementara bayinya melakukan tindakan yang berbahaya, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Dibolehkan bagi orang yang shalat untuk melakukan gerakan ringan, karena suatu kebutuhan yang mendesak, dengan syarat, tidak mengubah arah Kiblatnya. Seperti membukakan pintu yang berada di arah Kiblat.

Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan Abu Daud, dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:

Rasulullah ﷺ pernah shalat, sementara pintu rumah terkunci. Kemudian saya datang, dan saya minta agar dibukakan. Beliau ﷺ pun berjalan dan membukakan pintu, lalu beliau kembali lagi ke tempat shalatnya. Disebutkan bahwa pintu rumah beliau berada di arah Kiblat. [HR. Abu Daud no. 922 dan dishahihkan al-Albani]

Demikian pula seorang ibu yang sedang shalat, dan dia melihat anaknya melakukan hal yang membahayakan, maka dia dibolehkan untuk melakukan gerakan ringan ke kanan, ke kiri, ke depan, atau belakang. Dan ini tidak merusak shalatnya. Termasuk dalam hal ini adalah orang yang shalat, tiba-tiba sarungnya mau lepas, maka dia dibolehkan untuk melakukan gerakan dalam rangka mengencangkan sarungnya. Bahkan dalam kondisi tertentu yang sangat mendesak, syariat membolehkan melakukan gerakan yang banyak, meskipun menyebabkan Kiblatnya berubah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bunuhlah dua hewan yang hitam (meskipun) ketika sedang shalat, yaitu ular dan kalajegking.” [HR. Abu Daud no. 921 dan dishahihkan al-Albani]

Cara Menjawab Salam Ketika Shalat

>> Bagaimana cara menjawab salam ketika shalat?

Jawaban:

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan: “Saya melewati Nabi ﷺ ketika beliau sedang shalat. Kemudian saya mengucapkan salam kepada beliau dan beliau menjawabnya dengan isyarat.” [HR. Abu Daud no. 925 dan dishahihkan al-Albani)

Bagaimana Cara Isyaratnya?

Disebutkan dalam beberapa riwayat, di antaranya dari Ibn Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah berangkat menuju masjid Quba untuk melaksanakan shalat. Kemudian datanglah sekelompok masyarakat Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau ﷺ, ketika beliau sedang shalat. Ibn Umar bertanya kepada Bilal: “Bagaimana yang kamu lihat ketika Nabi ﷺ menjawab orang Anshar yang mengucapkan salam kepada beliau, sementara beliau ﷺ sedang shalat?” Bilal menjawab: “Beliau ﷺ berisyarat seperti ini.” Bilal membuka telapak tangannya. Salah seorang perawi yang bernama Ja’far bin ‘Aun membuka telapak tangannya, di mana bagian telapak tangan mengarah ke bawah dan bagaian punggung mengarah ke atas. [HR. Abu Daud no. 927 dan dishahihkan al-Albani]

>> Supaya Tidak Malu, Bagaimana Cara Meninggalkan Tempat Shalat Ketika Berhadats?

Jika ada orang yang berhadats ketika shalat jamaah, apa yang harus dia lakukan untuk bisa meninggalkan tempat, tanpa menimbulkan rasa malu?

Jawaban:

Hendaknya dia pegang hidungnya, kemudian keluar. Dalil tentang hal ini adalah hadis dari A’isyah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَحْدَثَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَأْخُذْ بِأَنْفِهِ ثُمَّ لِيَنْصَرِفْ

“Apabila kalian berhadats ketika shalat jamaah, maka hendaknya dia pegang hidungnya kemudian dia meninggalkan tempat.” [HR. Abu Daud no. 1114 dan dishahihkan al-Albani)

Imam at-Thibi mengatakan: Adanya perintah memegang hidung ketika batal shalatnya, agar dikira dia mimisan. Dan ini tidak termasuk berbohong, namun sebatas menutupi keadaan dengan perbuatan. Tindakan semacam ini mendapatkan keringanan, agar setan tidak menggodanya untuk tidak melaksanakan jamaah karena malu dengan jamaah lainya. [Lihat Mirqatul Mafatih, 3: 18]

Syaikh Muhammad Munajid memberika komentar:

Semacam ini termasuk tauriyah yang dibolehkan, dan tindakan menutupi diri dengan bentuk yang terpuji, dalam rangka menghilangkan rasa malu. Sehingga orang yang melihatnya menyangka, kalau dia keluar disebabkan mimisan di hidungnya. Disamping itu, manfaat lain dari petunjuk Nabi ﷺ ini adalah untuk menghilangkan godaan setan, dengan tetap berada di shaf atau melanjutkan jamaah, sementara dia berhadats. Ini merupakan tindakan yang tidak Allah ridhai. Betapa tidak, padahal Nabi ﷺ mensyariatkan untuk pergi.

Meski Sudah Shalat, Tetap Diperintahkan Shalat Lagi. Kenapa?

>> Seseorang telah melaksanakan shalat di suatu masjid, kemudian dia berangkat menuju masjid yang lain untuk acara kegiatan tertentu, seperti kajian atau yang lainnya. Sesampainya di masjid kedua, ternyata shalat belum selesai. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Hendaknya dia masuk masjid dan langsung ikut shalat berjamaah, dan dia niatkan sebagai shalat sunnah. Shalat ini boleh dilakukan, meskipun dilakukan di waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Dalilnya adalah hadis dari Yazid bin Aswad radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Aku ikut haji bersama Nabi ﷺ. Kemudian aku shalat Subuh bersama beliau ﷺ di Masjid Khaif. Setelah selesai shalat, beliau ﷺ berbalik. Tiba-tiba ada dua orang duduk di belakang yang tidak ikut shalat bersama beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Suruh dua orang itu ke sini.” Keduanya pun disuruh menghadap Nabi ﷺ, sementara badannya gemetaran (karena takut). Beliau ﷺ bertanya: “Apa yang menghalangimu, sehingga tidak shalat jamaah bersama kami?” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, kami tadi sudah shalat di jalan. Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Jangan kamu lakukan itu. Jika kalian telah shalat di jalan, kemudian kalian singgah di masjid yang sedang dilaksanakan jamaah, ikutlah shalat bersama mereka. Sesungguhnya shalat yang kedua ini menjadi shalat sunnah bagi kalian.” [HR. Turmudzi no. 219 dan dishahihkan al-Albani]

Syaikh Muhammad Munajid mengatakan:

Dalam hadis di atas disebutkan, bahwa kedua orang tersebut datang ke masjid setelah melaksanakan shalat Subuh. Dan ini termasuk waktu terlarang. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha’, dari Mihjan radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berada di majelis Nabi ﷺ. Tiba-tiba azan dikumandangkan. Rasulullah ﷺ pun melaksanakan shalat bersama jamaah, sementara Mihjan tetap berada di tempat duduknya dan tidak ikut shalat berjamaah. Rasulullah ﷺ bertanya: “Apa yang menghalangimu untuk ikut shalat jamaah? Bukankah kamu seorang Muslim?” Mihjan menjawab: “Betul, wahai Rasulullah, akan tetapi saya sudah shalat di rumahku.” Nabi ﷺ bersabda: “Jika kamu datang (di masjid), shalatlah berjamaah bersama masyarakat. Meskipun kamu sudah shalat.” [Al-Muwatha’, 1:130 dan dishahihkan al-Albani]

Ketika Hendak Shalat, Tapi Tidak Tahu Arah Kiblat

>> Jika dalam suatu tempat kita tidak tahu arah Kiblat, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Yang harus dilakukan ketika orang hendak shalat, sementara dia tidak tahu Kiblat adalah:

Ibn Qudamah [Al-Mughni dengan as-Syarhul Kabir, 1: 490] mengatakan:

Orang yang tidak tahu arah Kiblat, maka dia wajib bertanya jika memungkinkan. Jika tidak, maka dia boleh berijtihad (berusaha mencari berdasarkan indikator tertentu), jika dia mampu melakukannya. Jika dia tidak mampu (sementara dia rombongan), maka dia mengikuti orang yang layak untuk diikuti dalam masalah ini. Jika tidak ada yang bisa diikuti (karena sama-sama tidak tahu), maka bertaqwalah kepada Allah semampunya, dan dia boleh shalat (ke arah yang dia yakini sebagai Kiblat) dan shalatnya sah (meskipun bisa jadi Kiblatnya salah). Akan tetapi bagi orang yang memungkinkan untuk mencari arah Kiblat, namun dia santai dan tidak berusaha mencarinya, kemudian langsung shalat, maka shalatnya batal dan wajib diulangi, karena orang ini dianggap meremehkan (arah Kiblat).

Jika Masing-Masing Anggota Rombongan Anggota Berbeda Pendapat dalam Menentukan Arah Kiblat

>> Jika dalam rombongan masing-masing anggota berbeda pendapat dalam menentukan arah Kiblat, bagaimana solusinya?

Jawaban:

Ulama berselisih pendapat tentang bolehnya mengikuti anggota rombongan yang lain. Apakah sah shalat salah satu anggota rombongan yang bermakmum di belakang anggota rombongan yang lain, sementara keduanya berbeda pendapat dalam menentukan arah Kiblat? Namun jika ada di antara mereka yang sama sekali tidak memahami Kiblat, maka dia harus memilih salah satu anggota rombongan yang paling bisa dipercaya dalam menentukan arah Kiblat, kemudian dia ikuti. [Al-Mughni dengan as-Syarhul Kabir, 1:473]

Jika ada orang yang shalat berjamaah, kemudian di tengah-tengah shalat mereka sadar bahwa arah Kiblatnya keliru, maka mereka harus bersama-sama mengubah arah Kiblat TANPA membatalkan shalat. Demikian pula, untuk orang yang shalat sendirian. Jika di tengah shalat, dia diberi tahu bahwa arah Kiblatnya salah, maka wajib untuk langsung mengubah arah, tanpa membatalkan shalat, kemudian langsung melanjutkannya.

Dalilnya adalah hadis Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Dulu Rasulullah ﷺ shalat menghadap ke Baitul Maqdis (Palestina). Kemudian turun firman Allah:

قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنولينك قبلة ترضاها فولِّ وجهك شطر المسجد الحرام

“Kami telah mengetahui bolak-balik wajahmu yang menengadahkan ke langit. Sungguh Kami akan mengubah arah Kiblat ke arah yang kamu inginkan. Karena itu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” [QS. Al-Baqarah: 144]

Setelah itu ada seseorang yang mendatangi Bani Salamah. Ketika itu mereka sedang shalat Subuh pada posisi sedang rukuk di rakaat kedua, kemudian orang ini berteriak: “Ketahuilah, arah Kiblat telah dipindah (ke Baitullah).” Kemudian jamaah ini memutar diri mereka ke arah Kiblat dalam posisi sebagaimana sebelumnya (rukuk). [HR. Muslim, no. 527]

Jika Makmum Ketinggalan Beberapa Gerakan Imam

>> Seorang wanita yang shalat berjamaah di balik tabir, sehingga tidak bisa melihat gerakan makmum lelaki, sementara suara imam tidak terdengar karena sebab tertentu, atau makmum ngantuk, sehingga ketinggalan beberapa gerakan imam, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Dalam kondisi semacam ini, yang harus dilakukan makmum adalah melakukan rukun yang ketinggalan, hingga bisa mengejar imam. Ada beberapa keadaan, yang bisa dibawa dalam permasalahan ini:

Pertama: Imam membaca Ayat Sajdah, kemudian takbir. Makmum yang tidak melihat mengira imam Sujud Tilawah. Padahal aslinya imam rukuk. Setelah itu imam membaca: “sami’allahu liman hamidah”, sehingga makmum tadi tidak sempat melaksanakan rukuk bersama imam. Untuk kasus semacam ini, makmum tersebut harus langsung melaksanakan rukuk, i’tidal, hingga bisa menyusul imam. Karena mereka menyelisihi imam di luar kesengajaan.

Kedua, orang yang memerlama sujud agar bisa lebih banyak berdoa, sehingga dia ketinggalan rukun setelahnya bersama imam, Mayoritas Ulama berpendapat: Orang yang ketinggalan dua rukun berturut-turut bersama imam dengan sengaja dan tanpa uzur yang dibenarkan, maka shalatnya batal. [Kasyaful Qana’, 1: 467]

Dalil yang menunjukkan wajibnya mengikuti imam adalah sabda Nabi ﷺ:

إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه، فإن ركع فاركعوا، وإذا قال سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربنا لك الحمد، وإذا سجد فاسجدوا، وإذا صلّى جالساً فصلوا جلوساً أجمعون

“Sesungguhnya imam ditunjuk untuk diikuti. Karena itu janganlah kalian menyelisihinya. Jika dia rukuk, maka rukuklah kalian. Jika dia mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Robbanaa lakal hamdu. Jika dia sujud, maka sujudlah. Jika dia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian semua sambil duduk.” [HR. Bukhari, no. 689]

Tiba-Tiba Imam Teringat Dia Belum Bersuci

>> Ketika shalat jamaah sedang berlangsung, tiba-tiba imam teringat, bahwa dia belum bersuci, apa yang dilakukan?

Jawaban:

Ada tiga cara yang bisa dilakukan imam:

  • Pertama, dia membatalkan shalat, keluar dari jamaah, dan menunjuk salah seorang di belakangnya untuk menggantikan posisinya sebagai imam hingga shalat selesai. Sebagaimana terdapat riwayat dari Umar, Ali, Alqamah, dan Atha’. Di antaranya adalah riwayat dari Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu, bahwa setelah beliau ditikam Abdullah bin Saba’, umar memegang tangan Abdurrahman bin Auf, dan menyuruhnya untuk menggantikan posisinya. Hadis ini diriwayatkan Bukhari (7/60). Tindakan Umar ini dilakukan di depan para sahabat, dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya, sehingga dihukumi sebagai kesepakatan mereka.
  • Kedua, imam membatalkan shalat dan tidak menunjuk pengganti. Kemudian masing-masing makmum shalat sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i.
  • Ketiga, imam menyuruh makmum untuk tetap diam di tempat (tidak membatalkan shalat). Kemudian imam bersuci, lalu kembali ke tempat semula dan melanjutkan shalat jamaah. Ini berdasarkan hadis dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، دخل في صلاة الفجر فأومأ بيده أن مكانكم ثم جاء ورأسه يقطر فصلى بهم

Bahwa Rasulullah ﷺ mengimami sahabat shalat Subuh. Tiba-tiba beliau ﷺ berisyarat kepada para sahabat agar tetap berada di tempatnya. (Kemudian beliau pergi), lalu beliau kembali, sementara kepalanya meneteskan air, dan beliau shalat jamaah bersama mereka. [HR. Abu Daud no. 233 dan dishahihkan al-Albani]

Imam Abu Daud membuat judul bab untuk hadis ini:

باب فى الجنب يصلى بالقوم وهو ناس

Bab, Orang Junub Mengimami Shalat Jamaah Karena Lupa. [Sunan Abu Daud, 1/93]

Dalam Syarh Abu Daud, Imam al-Khatabi mengatakan:

Dalam hadis ini terdapat dalil, bahwa jika ada imam yang shalat dalam keadaan junub, sementara makmum tidak tahu bahwa imam junub, maka shalatnya tetap dilanjutkan dan tidak wajib diulangi. Sedangkan imam wajib mengulangi shalatnya. [Ma’alimus Sunan, 1/78]

Jikat Makmum Melihat Aurat Imam Terbuka Ketika Shalat

>> Makmum melihat aurat imam terbuka dari belakang ketika shalat, baik karena bajunya robek atau terlalu ketat sehingga tertarik. Apa yang harus dilakukan makmum?

Ada dua cara yang bisa dilakukan makmum:

  • Pertama, dia maju kemudian membenahi pakaian imam atau menutupinya dengan kain yang lain. Cara pertama ini jika memungkinkan untuk dilakukan.
  • Kedua, membatalkan shalatnya dan keluar dari jamaah, kemudian mengingatkan imam. Misalnya dengan mengatakan: tutup aurat kita atau semacamnya.

Makmum yang mengetahui aurat imam terbuka tidak boleh diam saja dan tetap melanjutkan shalat. Karena dia mengetahui, bahwa shalatnya imam tidak sah (dengan terbukanya aurat, pen), sehingga bermakmum di belakangnya juga tidak sah. [Demikian keterangan dari Fatwa Syaikh Ibn Baz secara lisan]

Jika Imam Lupa Salah Satu Ayat yang Dia Baca

>> Jika imam lupa salah satu ayat yang dia baca, sementara tidak ada satu pun makmum yang mengingatkannya, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Jika ayat yang kelupaan itu selain al-Fatihah, maka imam bisa melakukan beberapa pilihan:

  1. Berhenti membaca dan langsung rukuk
  2. Membaca ayat atau surat yang lain

Akan tetapi jika yang kelupaan adalah bacaan al-Fatihah, maka wajib dibaca semuanya, dan tidak boleh ada yang salah atau lupa. Karena membaca al-Fatihah merupakan rukun shalat. [Fatwa Ibnu Baz dalam Fatawa Islamiyah no. 396]

Bagaimana Jika Makmum Lupa Membaca Al-Fatihah?

>> Bagaimana jika makmum lupa membaca al-Fatihah, atau salah dalam membaca al-Fatihah? Padahal tidak mungkin ada yang mengingatkan.

Shalatnya makmum tetap sah, selama dia berjamaah bersama imam yang shalatnya sah. Dalilnya adalah hadis Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, yang ikut bergabung ke dalam jamaah ketika Nabi ﷺ sedang rukuk, dan dia (Abu Bakrah – pent) tidak membaca al-Fatihah. Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepadanya:

زادك الله حرصاً ولا تعد

“Semoga Allah menambahkan semangatmu, dan jangan diulangi” [HR. Bukhari, no. 750]

Maksud beliau ﷺ adalah, jangan diulangi sikap buru-buru, karena Abu Bakrah datang sambil berlari untuk mengejar rukuknya imam.

Berdasarkan hadis ini, jika makmum lupa membaca al-Fatihah, atau tidak bisa membacanya, atau dia mulai ikut shalat jamaah ketika imam sedang rukuk, maka dalam kondisi ini shalatnya sah, dan tidak perlu diulangi. Karena dia tidak tahu, atau lupa. Ini merupakan pendapat Mayoritas Ulama. [Fatwa Syaikh Ibn Baz dalam Fatawa Islamiyah, 1/263]

Lupa Membaca: Subhana Rabbiyal Adziim Ketika Rukuk

>> Jika ada orang yang shalat melakukan I’tidal, setelah berdiri dia ingat, bahwa dia belum membaca: Subhana rabbiyal adziim ketika rukuk. Apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Orang ini tidak boleh kembali rukuk, karena kesempatan membaca doa rukuk telah berlalu dengan dia mulai i’tidal. Jika dia tetap kembali rukuk dengan sengaja, maka shalatnya batal, karena dia dianggap menambahi rukun shalat, yaitu rukuk dua kali dalam satu rakaat. Jika dia kembali rukuk karena lupa, maka salatnya tidak batal.

Selanjutnya, dalam kondisi lupa membaca doa rukuk, hendaknya dia melakukan Sujud Sahwi, jika dia salat sendirian atau menjadi Imam. Karena membaca doa rukuk hukumnya wajib, dan bisa ditutupi dengan Sujud Sahwi jika kelupaan.

Adapun jika dia sebagai makmum, maka kewajiban itu gugur, ketika dia lupa membacanya. Sehingga tidak perlu Sujud Sahwi. [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/679]

Ketika Makmum yang Masbuk Berdiri untuk Menyempurnakan Rakaat yang Ketinggalan, Tiba-Tiba Imam Sujud Sahwi Setelah Salam

>> Jika imam salam, kemudian makmum yang masbuk berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang ketinggalan, tiba-tiba imam Sujud Sahwi setelah salam. Apa yang harus dilakukan makmum tersebut?

Jawaban:

Ada dua pilihan yang bisa dia lakukan, sesuai kondisinya:

  1. Jika makmum belum berdiri sempurna, maka dia kembali dan ikut Sujud Sahwi bersama imam.
  2. Jika dia sudah berdiri sempurna, maka dia tidak perlu kembali dan dilanjutkan menyelesaikan shalatnya. Kemudian setelah selesai salam, dia Sujud Sahwi. [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/697]

Bagaimana Cara Mengingatkan Imam Ketika Dia Lupa dan Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat?

>> Jika imam lupa dalam bentuk meninggalkan sujud kedua, kemudian para makmum mengingatkan dengan membaca tasbih, Subhanallah, namun imam tidak paham di mana letak kesalahannya, lalu imam malah berdiri ke rakaat berikutnya, karena mengira itu yang benar, apa yang harus dilakukan makmum?

Jawaban:

Para ulama memberikan keterangan terkait dengan cara memahamkan imam. Di antaranya adalah dengan mengeraskan bacaan untuk rukun yang ditinggalkan. Misalnya makmum mengeraskan bacaan: ‘subhana rabbiyal a’la‘ jika yang ditinggalkan adalah sujud, atau ‘rabbighfirlii….‘ jika yang ditinggalkan adalah duduk di antara dua sujud, dst.  [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/707]

 

***

Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits

[Muslimah.or.id]

Sumber:

https://Muslimah.or.id/2019-apa-yang-harus-anda-lakukan-ketika-kondisi-berikut-bagian-1.html

https://Muslimah.or.id/2161-apa-yang-harus-anda-lakukan-ketika-kondisi-berikut-bagian-2.html

https://Muslimah.or.id/2420-apa-yang-harus-anda-lakukan-dalam-kondisi-berikut-bagian-3.html

https://Muslimah.or.id/2631-apa-yang-harus-anda-lakukan-dalam-kondisi-berikut-bagian-4.html

,

GUSI BERDARAH BISA BATALKAN PUASA?

GUSI BERDARAH BISA BATALKAN PUASA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

GUSI BERDARAH BISA BATALKAN PUASA?

Pertanyaan:

Apakah darah yang keluar dari gusi orang yang berpuasa dapat membatalkan puasa?

Jawaban:

Darah yang keluar dari gigi (gusi) seseorang tidak membatalkan puasa, tetapi dia harus berhati-hati sedapat mungkin agar tidak menelannya. Begitu juga jika keluar darah dari hidungnya (mimisan). Asal tidak berusaha menelannya, hukumnya tidak membatalkan puasa dan tidak wajib meng-qadha’.  [Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007]

Catatan: Menelan Ludah Tercampur Darah

Syaikh Ibn Baz juga ditanya tentang orang puasa yang menelan ludah, yang ada rasa darahnya. Beliau menjelaskan:
Untuk ludah, maka dibolehkan menelannya. Seseorang menelan ludahnya, hukumnya tidak mengapa….Akan tetapi jika dalam ludah tersebut kecampuran sesuatu, seperti sisa makanan di sela-sela gigi, baik daging, roti, buah, atau darah ketika gosok gigi, maka dalam hal ini bisa dirinci:

Pertama, jika dia mengetahui hal itu, maka tidak boleh dengan sengaja menelannya, namun wajib meludahkannya.

Kedua, jika dia tidak tahu, tetapi dia anggap seperti ludah biasa, kemudian setelah ditelan dia merasakan ada darahnya, maka tidak membatalkan puasanya. Karena dia tidak sengaja. Hal ini sebagaimana orang yang berkumur atau menghirup air ke dalam hidung, tiba-tiba tidak sengaja ada yang masuk ke kerongkongannya. [Fatwa Syaikh Abdul Aziz : http://www.binbaz.org.sa/mat/13437]

[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/6417-gusi-berdarah-saat-puasa.html

#SeriPuasaRamadan
#SifatPuasaNabi
,

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#HajiUmrah

ANCAMAN ORANG YANG TIDAK MAU HAJI PADAHAL DIA MAMPU
>> Disuruh Pilih, Mau Mati Sebagai Yahudi atau Nasrani

Pertanyaan:

Apa hukum bagi orang yang tidak daftar haji, padahal dia mampu?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Orang yang mampu berangkat haji dan dia sengaja tidak berangkat haji, atau memiliki keinginan untuk tidak berhaji. maka dia melakukan dosa besar. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. ([QS. Ali Imran: 97]

Ketika menjelaskan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir membawakan keterangan dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ أَطَاقَ الْحَجَّ فَلَمْ يَحُجَّ، فَسَوَاءٌ عَلَيْهِ يَهُودِيًّا مَاتَ أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati Yahudi atau mati Nasrani.”

Komentar Ibnu Katsir, ‘Riwayat ini sanadnya Shahih sampai ke Umar radhiyallahu ‘anhu.’

Kemudian diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam sunannya, dari Hasan al-Bashri, bahwa Umar bin Khatab mengatakan:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنَّ أَبْعَثَ رِجَالًا إِلَى هَذِهِ الْأَمْصَارِ فَيَنْظُرُوا كُلَّ مَنْ كَانَ لَهُ جَدَّةٌ فَلَمْ يَحُجَّ، فَيَضْرِبُوا عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ مَا هُمْ بمسلمين، ما هم بمسلمين

“Saya bertekad untuk mengutus beberapa orang ke berbagai penjuru negeri ini, untuk memeriksa siapa di antara mereka yang memiliki harta, namun dia tidak berhaji, kemudian mereka diwajibkan membayar fidyah. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin. Mereka bukan bagian dari kaum Muslimin.” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/85]

Belum Berhaji Hingga Mati

Orang yang mampu secara finansial, sementara tidak berhaji hingga mati, maka dia dihajikan orang lain, dengan biaya yang diambilkan dari warisannya. Meskipun selama hidup, dia tidak pernah berwasiat.

Al-Buhuti mengatakan:

وإن مات من لزماه أي الحج والعمرة أخرج من تركته من رأس المال ـ أوصى به أو لا ـ ويحج النائب من حيث وجبا على الميت، لأن القضاء يكون بصفة الأداء

Apabila ada orang yang wajib haji atau umrah meninggal dunia, maka diambil harta warisannya (untuk badal haji), baik dia berwasiat maupun tidak berwasiat. Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal. Karena pelaksanaan qadha itu sama dengan pelaksanaan ibadah pada waktunya (al-Ada’). (ar-Raudh al-Murbi’, 1/249)

Keterangan:

Yang dimaksud ’Sang badal melakukan haji dan umrah sesuai keadaan orang yang meninggal’ adalah bahwa sang badal melaksanakan haji atau umrah sesuai miqat si mayit. Jika mayit miqatnya dari Yalamlam, maka badal juga harus mengambil miqat Yalamlam.

Miqat Boleh Beda

Al-Buhuti memersyaratkan, miqat orang yang menjadi badal haji harus sama dengan miqat mayit. Namun beberapa ulama lainnya berpendapat, bahwa miqat tidak harus sama. Dalam Hasyiyah ar-Raudh dinyatakan:

وقيل: يجزئ من ميقاته، وهو مذهب مالك، والشافعي، ويقع الحج عن المحجوج عنه

Ada yang mengatakan, badal haji boleh dari miqatnya sendiri. Ini pendapat Malik dan as-Syafii. Dan hajinya sah sebagai pengganti bagi orang yang dihajikan. (Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’, 3/519).

Dalam al-Mughni Ibnu Qudamah menyebutkan pendapat kedua ini:

ويستناب من يحج عنه حيث وجب عليه، إما من بلده أو من الموضع الذي أيسر فيه، وبهذا قال الحسن وإسحاق

Dia dibadalkan oleh orang berhaji atas namanya sesuai kondisinya, baik berangkat dari negerinya (mayit), atau dari tempat manapun yang mudah baginya. Ini adalah pendapat Hasan al-bashri dan Ishaq. (al-Mughni, 3/234).

Dan insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran, karena inti yang diinginkan adalah hajinya, bukan usaha keberangkatan hajinya. Demikian keterangan Imam Ibnu Utsaimin.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23443-ancaman-orang-yang-tidak-mau-haji.html

,

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahSholatJumat

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya jika saya sering ngantuk saat khotbah Jumat. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila penanya sengaja tidak istirahat, maksimal di malam atau pagi sebelum pelaksanaan shalat Jumat, sehingga penanya mengantuk dan sampai mengantarkan penanya kepada tidur pulas, maka penanya telah melakukan kesalahan.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama’ yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:

“Sebagian orang, termasuk saya sendiri, tidur pada saat khotbah Jumat disampaikan. Apa hukum tindakan ini?”

Mereka menjawab: Seorang Muslim wajib diam menyimak khotbah Jumat yang disampaikan, dan menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi itu, seperti berbicara, tidur atau mengantuk. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dalam kitab Sahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«من اغتسل ثم أتى الجمعة فصلى ما قدر له ثم أنصت حتى يفرغ الإمام من خطبته ثم يصلي معه غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى وفضل ثلاثة أيام

“Barang siapa mandi, kemudian mendatangi shalat Jumat, lalu mengerjakan shalat (sunnah) sesuai kemampuannya, lalu tenang mendengarkan khotbah sampai imam selesai berkhotbah, kemudian mengerjakan shalat Jumat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya, antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, serta tambahan tiga hari.”

Dan juga sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من تكلم يوم الجمعة والإمام يخطب فهو كمثل الحمار يحمل أسفارا، والذي يقول له أنصت ليس له جمعة

“Barang siapa yang berbicara pada saat imam khotbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna).”

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan status sanad yang bisa diterima. Dan semua ini karena eksistensi khotbah yang sangat agung yang terkandung di dalamnya, berikut dengan pelajaran, bimbingan, dakwah kepada kebaikan, dan mengingatkan seorang Muslim kepada Allah ta’ala.”

Oleh sebab itu, seorang Muslim wajib menyadari akan hal ini, tidak bermain-main dan lalai, karena mengingat ancaman yang sangat keras, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

  • Bakar Abu Zaid  selaku Anggota
  • Shalih al-Fawzan selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/135-136 Pertanyaan ketiga dari Fatwa nomor 18192 ]

Terkait hukumnya tidur dilihat dari sisi batalnya wudhu, mereka juga ditanya:

“Sebagian orang tidur di masjid sambil bertasbih dengan alat tasbih. Apakah dia wajib berwudu kembali sebelum menunaikan shalat?”

Mereka menjawab: “Segala puji hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau.

Tidur lelap memiliki risiko membatalkan wudhu. Oleh sebab itu, orang yang tidur lelap di dalam masjid atau di tempat lain, maka dia wajib berwudhu kembali, baik tidur dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, meskipun sambil memegang alat tasbih ataupun tidak. Namun, jika dia tidak tertidur lelap — seperti mengantuk yang tidak kehilangan kesadaran– maka tidak wajib berwudhu kembali. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis shahih dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal tersebut secara detail.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

  • Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
  • Abdullah bin Qu’ud selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/283-284  Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 3030]

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/6295-ngantuk-saat-khotbah-jumat

, , ,

MATI DALAM KEADAAN TIDAK PERNAH SHALAT

MATI DALAM KEADAAN TIDAK PERNAH SHALAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

MATI DALAM KEADAAN TIDAK PERNAH SHALAT

Pertanyaan:

Apa hukumnya orang yang mati dalam keadaan tidak pernah melaksanakan shalat (lima waktu), padahal diketahui, bahwa kedua orang tua dari si mayit tersebut adalah Muslim? Bagaimana muamalah dengan mereka dalam hal memandikan, mengafani, menyolati, menguburkan, mendoakan dan memohon rahmat padanya?

Jawaban Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz:

Barang siapa yang mati dari seorang mukallaf (yang telah dikenai berbagai kewajiban syariat), lalu ia tidak pernah mengerjakan shalat, maka ia kafir. Ia tidak perlu dimandikan, tidak perlu dishalati, tidak perlu dikuburkan di pekuburan kaum Muslimin, dia pun tidak saling mewarisi dengan kerabatnya (hartanya nanti diserahkan kepada Baitul Maal kaum Muslimin). Inilah pendapat terkuat dari berbagai pendapat ulama. Nabi ﷺ pernah bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Di antara pembatas antara kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim)

Nabi ﷺ juga bersabda:

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kaum Muslimin dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barang siapa meninggalkan shalat, maka ia kafir.” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad yang Shahih dari hadis Buraidah radhiyallahu ‘anhu)

‘Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqili, seorang tabi’in yang terkemuka, pernah mengatakan: “Dulu para shahabat Muhammad  ﷺ tidaklah pernah menganggap suatu amal, yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat”. Hadis dan atsar yang menjelaskan seperti ini sangatlah banyak.

Penjelasan di atas adalah untuk orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan dan ia tetap tidak mengingkari wajibnya shalat. Sedangkan jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari wajibnya, maka ia kafir dan murtad (keluar dari Islam), menurut mayoritas ulama.

Kami memohon kepada Allah, semoga Allah memerbaiki keadaan kaum Muslimin, dan ditunjuki pada jalan yang lurus. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengijabahi doa.

[Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10/250]

Baca pembahasan lebih lengkap mengenai hukum meninggalkan shalat di sini: https://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2721-dosa-meninggalkan-shalat-lima-waktu-lebih-besar-dari-dosa-berzina-.html

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/1273-mati-dalam-keadaan-tidak-pernah-shalat.html

 

AWAS ISTIDRAJ DARI ALLAH

AWAS ISTIDRAJ DARI ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

AWAS ISTIDRAJ DARI ALLAH

Istidraj adalah suatu jebakan berupa kelapangan rezeki, padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Jadi, ketika Allah membiarkan kita:

  1. Sengaja meninggalkan shalat.
  2. Sengaja meninggalkan puasa.
  3. Tidak ada perasaan berdosa ketika bermaksiat dan membuka aurat.
  4. Berat untuk bersedekah.
  5. Merasa bangga dengan apa yang dimiliki.
  6. Mengabaikan semua atau mungkin sebagian perintah Allah.
  7. Menganggap enteng perintah- perintah Allah.
  8. Merasa umurnya panjang dan menunda-nunda taubat.
  9. Tidak mau menuntut ilmu syari.
  10. Lupa akan kematian.

Tetapi Allah tetap memberikan kita:

  1. Harta yang berlimpah.
  2. Kesenangan terus menerus.
  3. Dikagumi dan dipuja puji banyak orang.
  4. Tidak pernah diberikan sakit.
  5. Tidak pernah diberikan musibah.
  6. Hidupnya aman-aman saja.

Hati-hati, karena semuanya itu adalah ISTIDRAJ. Ini merupakan bentuk kesengajaan dan pembiaran yang dilakukan Allah pada hamba-Nya yang sengaja berpaling dari perintah-perintah Allah. Allah menunda segala bentuk azab-Nya.

Allah membiarkan hamba tersebut semakin lalai dan semakin diperbudak dunia. Allah membuatnya lupa pada kematian.

Jangan dulu merasa aman, nyaman, tentram dengan hidup kita saat ini, seolah hidup kita penuh berkah dari Allah. Lihatlah diri kita.

Bila semua kesenangan yang Allah titipkan, tapi justru membuat kita semakin jauh dari Allah, dan melupakan segala perintah-perintah-Nya, bersiaplah untuk menantikan konsekuensinya, karena janji Allah itu Maha Benar.

Dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah Istidraj dari Allah.”

Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

(HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).

Semoga bermanfaat dan semoga Allah ta’ala memberi hidayah kepada kita. Aamiin.

Sumber: http://www.ghuroba.org/2016/01/istidraj-dalam-islam.html

JANGAN BERBUAT SYIRIK APA PUN YANG TERJADI…!

JANGAN BERBUAT SYIRIK APA PUN YANG TERJADI...!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#MenuntutIlmuSyari

JANGAN BERBUAT SYIRIK, APA PUN YANG TERJADI…!

Tauhid adalah kewajiban hamba yang terbesar, karena itulah hak Allah yang paling agung, dan tujuan penciptaan makhluk, serta misi diutusnya para nabi dan rasul ‘alaihimussalaam. Dan itu pula jaminan masuk Surga dan selamat dari azab Neraka.

Sebaliknya, dosa syirik, dosa yang dapat membatalkan tauhid, adalah dosa yang terbesar, yang TIDAK AKAN diampuni pelakunya jika dia mati sebelum bertaubat. Dan yang paling mengerikan adalah, pelakunya pasti masuk Neraka dan kekal di dalamnya untuk selama-lamanya, menjadi makhluk yang paling hina. Maka apa pun yang terjadi, jangan berbuat syirik…!

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ شَيْئًا، وَإِنْ قُطِّعْتَ وَحُرِّقْتَ ، وَلَا تَتْرُكْ صَلَاةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّدًا ، فَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدًا ، فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ ، وَلَا تَشْرَبِ الْخَمْرَ ، فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ

“Janganlah kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, walau engkau dibunuh dengan cara dicincang dan dibakar. Dan janganlah kamu meninggalkan sholat dengan sengaja. Karena siapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja, maka terlepas darinya perjanjian. Dan janganlah kamu minum khamar, karena khamar adalah kunci segala kejelekan.” [HR. Ibnu Majah dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 7339]

Namun sangat disayangkan, masih banyak orang yang mengaku Muslim, tapi melakukan berbagai dosa syirik. Dan kebanyakan sebabnya adalah karena kebodohan terhadap ilmu agama, dan tidak mengenal tauhid dan syirik. Oleh karena itu wajib menuntut ilmu agama, terutama ilmu tauhid.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/737895206359964:0

, , ,

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#FatwaUlama

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

Pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan suami saya, agar ia dapat bertaubat kepada Allah. Kami pernah bersetubuh. Kemudian usai berhubungan badan, nampak permulaan darah haid telah keluar.

Jawaban Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjaid hafidzahullah:

Alhamdulillah,

Bila seorang laki-laki berhubungan badan dengan istrinya, sementara ia tidak tahu, bahwa istrinya tersebut mengalami haid, maka tidak ada dosa baginya.

Terdapat hadis dari Abu dzar Al Ghifari berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku kesalahan (yang tidak disengaja), lupa, dan bila mereka dipaksa melakukan perbuatan dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 2033 dan dinilai Shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah n0. 1662)

Akan tetapi wajib bagi istri menjelaskan keadaan dirinya kepada suaminya. Hendaknya si istri memberitahu kepada suami, bahwa darah haid telah keluar. Karena terkadang seorang laki-laki tidak mengetahui hal ini, kemudian ia pun menggauli istrinya, sementara si istri dalam keadaan haid. Padahal perbuatan ini haram secara syariat. Jika kondisi demikian, maka si istri telah berdosa (karena tahu sedang haid, dan tidak memberitahu suaminya -pen). Darah haid sesuatu yang dikenal di kalangan wanita. Kapan pun darah tersebut keluar, maka ia disebut wanita haid.

Adapun jika kejadian di atas terjadi tanpa sepengetahuan kedua pihak, maka tidak ada dosa bagi kedunya. Karena ketidaktahuan dan ketidaksengajaan.

Sumber: islamqa.info

Di fatwa lain beliau menjelaskan:

Barang siapa yang menyetubuhi istrinya, sementara dia tidak tahu, bahwa istrinya tersebut sedang haid, demikian pula si istri juga tidak tahu, bahwa dirinya sedang haid, maka tidak ada dosa bagi kedunya. Dikarenakan keduanya tidak menyengaja melakukan jimak saat haid. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu bersalah padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab:5)

An Nawawi berkata:

فإن كان ناسيا أو جاهلا بوجود الحيض ، أو جاهلا بتحريمه ، أو مكرها : فلا إثم عليه ولا كفارة ، وإن وطئها عامدا ، عالما بالحيض والتحريم ، مختارا ، فقد ارتكب معصية كبيرة ، وتجب عليه التوبة

“Bila seorang suami lupa, atau tidak tahu keberadaan darah haid, atau tidak tahu hukum haram (jimak ketika haid), atau dipaksa (orang lain untuk berbuat haram), maka tidak ada dosa baginya, dan tidak ada kafarah. Adapun bila seorang suami menggauli istrinya dengan sengaja, dalam kondisi tahu bahwa istrinya haid, dan tahu hukumnya haram, tidak ada paksaan orang lain, maka sungguh dia telah telah melakukan kemaksiatan yang besar dosanya. Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah.” (Syarh Muslim)

Sumber: islamqa.info

Pertanyaaan:

Saya seorang pemuda 26 tahun dan alhamdulillah saya telah menikah sejak dua bulan yang lalu. Setelah menikmati malam pertama selama empat hari, istri saya mengalami haid. Oleh karena itu saya tidak menggaulinya, sampailah hari di mana istri saya berkata kepadaku, bahwa haid telah berhenti, dan ia tidak lagi melihat darah sejak dua hari sebelumnya. Akupun bertanya padanya, apakah emang sudah pasti haid telah berhenti? Istri saya menjawab: ‘Iya benar.’Berdasakan hal ini, saya pun menggaulinya. Akan tetapi saya mendapati sedikit darah di dzakar saya. Karena itu saya berhenti menyetubuhinya dan mandi. Dan saya pun menanyakan padanya, dia pun meyakinkanku, bahwa ia tidak tahu menahu soal darah itu, dan tidak melihat darah sejak kemarinnya.

Saya mengharap bantuan penjelasan. Jika saya telah melakukan perbuatan dosa, apa kafarah bagi saya? Apakah istri saya juga berdosa, dan wajib membayar kafarah atau tidak? Syukraan atas waktu yang diberikan.

Jawaban Syaikh Khalid bin Suud Al-Bulihud:

Alhamdulillah,

Haram bagi seorang suami menggauli kemaluan istrinya yang sedang haid. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

Sunnah Ash Shahihah telah menjelaskan tafsir ayat di atas tentang larangan mendekat istri yang haid, maksudnya adalah khusus melakukan hubungan badan di kemaluan.

Para ulama telah sepakat keharaman perbuatan tersebut. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya yang sedang haid dengan sengaja, dalam keadaan tahu (istri sedang haid dan tahu hukumnya haram), maka dia telah berdosa. Wajib baginya bertaubat dan memohon ampun dari dosa besar ini.

Para ulama pakar Fikih berselisih pendapat tentang kewajiban kafarah bagi suami. Imam Ahmad berpendapat, wajib bagi suami bersedekah satu Dinar atau separuh Dinar. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ahlussunan dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ, bahwa beliau pernah menggauli istri beliau yang sedang haid, kemudian beliau bersedekah satu atau setengah Dinar dan dalam lafal Tirmidzi dinyatakan:

إذا كان دماً أحمر فدينار وإن كان دماً أصفر فنصف دينار

“Jika darah haidnya berwarna merah, bersedekah satu Dinar. Jika darah haidnya berwarna kuning, bersedekah setengah Dinar.”

Mayoritas ulama berpendapat tidak ada kewajiban membayar kafarah dan mencukupkan untuk bertaubat. Karena dalil (ayat di atas) hanya menyebutkan larangan jimak ketika haid, dan tidak menyebutkan kafarah.

Adapun hadis Ibnu Abbas di atas adalah hadis yang ma’lul menurut para imam Ahli Hadis (Hadis Ma’lul adalah salah satu jenis hadis lemah karena di dalamnya terdapat cacat baik dari sisi sanad ataupun matan hadis-pen). Maka hadis ini tidak boleh dinilai sebagai hadis marfu’, yang sampai kepada Nabi ﷺ. Inilah pendapat yang benar. Karena hukum asalnya seseorang terlepas dari tanggungan dan tidak menyibukkannya dengan sesuatu, kecuali dengan dalil yang selamat dari perbincangan ulama (dalil Shahih).

Dan yang nampak dari penjelasan Anda di atas, bahwa engkau termasuk orang yang diberi uzur (dimaafkan) atas perbuatanmu. Karena perbuatan tersebut Anda lakukan karena kesalahan (tanpa disengaja) dan ketidaktahuan akan kondisi istri Anda. Anda tidak berdosa dan tidak ada kewajiban apapun insyaallah. Karena Allah memaafkan orang yang bersalah (tanpa sengaja) dan tidak tahu.

Demikian pula istri Anda, telah melakukan kesalahan tanpa sengaja, yaitu tergesa-gesa suci, sebelum melihat tanda suci berupa keluarnya Qashshatul Baidha (Cairan putih) atau keringnya rahim. Istri Anda diberi uzur (dimaafkan) insyaallah, karena ia tidak sengaja melakukannya. Bahkan hal ini terjadi karena ketidaktahuan dan sedikitnya pengetahuannya.

Diperbolehkan bagi seorang suami menikmati seluruh tubuh istrinya yang sedang haid, selain pada kemaluan, menurut pendapat mayoritas ulama pakar Fikih. Berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ terhadap istri-istri beliau radhiyallahu’anhunna, sebagaimana yang ditetapkan dalam Sunnah Shahihah.

وأخزى الله من يذكرهن بسوء في الدنيا ويوم يقوم الأشهاد.والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.

“Semoga Allah menghinakan orang-orang yang menyebut istri-istri Nabi dengan keburukan di dunia dan di Hari Kiamat. Wallahua’lam. Dan semoga shalawat dan salam tercurah bagi Muhammad, keluarga beliau dan para sahabat“.

 

Sumber: saaid.net

 

****

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com

Artikel wanitasalihah.com

Sumber: http://wanitasalihah.com/keluar-darah-haid-saat-berhubungan-badan/