Posts

MENGAPA ADA YANG MATI KELAPARAN PADAHAL REZEKI SUDAH DIJAMIN?

MENGAPA ADA YANG MATI KELAPARAN PADAHAL REZEKI SUDAH DIJAMIN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

MENGAPA ADA YANG MATI KELAPARAN PADAHAL REZEKI SUDAH DIJAMIN?

Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut jatah rezekinya secara penuh dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memeroleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun

Apakah kalimat di atas sempat terlintas dalam hati Anda? Sebagai seorang Muslim yang baik, tentu tidaklah berani menjawab pertanyaan di atas, jika tidak berdasarkan ilmu. Karena ia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di Akhirat. Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa`: 36).

Nah, untuk bisa memahami jawaban dari pertanyaan di atas, simaklah ayat-ayat Alquran yang agung berikut ini. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Yang Banyak Memberi Rezeki Yang Memunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Surah Adz-Dzaariyaat:58).

وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama” (Al-Maa`idah:114).

وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki” (Al-Hajj: 58).

وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan Allah Sebaik-baik Pemberi Rezeki” (Al-Jumu’ah: 11).

(Fiqhul Asmaa`il Husnaa, hal. 103).

Setiap makhluk yang berjalan di muka bumi diberi rezeki, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada satu pun makhluk yang berjalan di muka bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (Huud: 6).

Allah memberitahukan di dalam ayat ini, bahwa Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini. Sangat jelas beberapa firman Allah di atas. Tidak ada satu pun di antara hamba-hamba-Nya yang beriman yang meragukan firman Allah Ta’ala di atas.

Hanya saja, Allah Ta’ala melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya, dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, untuk suatu hikmah yang hanya Allah ketahui.

Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya, tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

“Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain, dalam hal rezeki” (An-Nahl: 71).

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-‘Ankabuut: 62).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas:

الحمد لله، الذي خلق العالم العلوي والسفلي، وقام بتدبيرهم ورزقهم، وبسط الرزق على من يشاء، وضيقه على من يشاء، حكمة منه، ولعلمه بما يصلح عباده وما ينبغي لهم

“Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah, serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki. Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya, dan sesuai dengan ilmu-Nya, tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 ).

Terkadang memang sebagian orang ada yang mati kelaparan dan sebenarnya ini tidaklah bertentangan dengan nama Allah Ar-Razzaaq (Yang Banyak Memberi rezeki).

Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi Rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut, jatah rezekinya secara penuh, dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu, semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya. Sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memeroleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikit pun.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Ya, memang Allah telah menentukan rezeki orang yang mati kelaparan tersebut lebih sedikit dari sebagian orang yang lain, namun ada hikmah di baliknya yang Allah ketahui. Dan Allah Maha Mengetahui tentang apa saja yang cocok bagi setiap hamba-Nya. Dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki banyak, dan siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki sedikit.

Nasihat Bagi Yang Mendapatkan Rezeki Yang Sedikit

Segala kenikmatan dan kesempitan yang Allah berikan hanyalah sebagai cobaan semata, bukan sebagai penghormatan atau penghinaan. Dengan cobaan itu, akan tampak orang yang bersyukur dengan orang yang bersabar, atau kebalikannya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

(15) “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya, dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku”.

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

(16) “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’”.

كَلَّا

(17) “Sekali-kali tidak (demikian)” (Al-Fajr:15-17).

Maksudnya, bahwa hakikat persoalannya tidaklah sebagaimana yang diperkirakan oleh manusia.

Sesungguhnya, barang siapa yang bersabar dengan sedikitnya rezeki di dunia, dan bersabar atas keterluputan mendapatkan rezeki yang banyak di dunia, maka Allah akan menggantinya dengan kenikmatan yang sangat besar di Surga, dan ia akan melupakan musibah yang dirasakannya sewaktu di dunia. Bahkan satu kali celupan saja di Surga, akan menyebabkan sirnanya seluruh lelah-letih dan derita sewaktu di dunia, meski ia adalah orang yang paling menderita sewaktu di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطَُّلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

“Kemudian didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari penduduk  Surga, lalu ia dicelupkan satu kali celupan ke dalam Surga. Kemudian ditanya: ‘Wahai keturunan Adam, apakah engkau pernah melihat penderitaan sebelumnya sedikit saja? Apakah angkau pernah merasakan kesengsaraan sedikit saja?’ Orang itu berkata: ‘Tidak demi Allah, wahai Tuhanku, aku tidak pernah melihat penderitaan dan tidak merasakan kesengsaraan sama sekali sebelumnya’”. (HR. Muslim).

Semoga bermanfaat.

 

***

Referensi:

Tafsir As-Sa’di.

Fatwa Islamweb.net, no.  14649

http://ar.Islamway.net/fatwa/7042/

 

Penulis: Al- Ustadz Sa’id Abu Ukasyah hafizahullah

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: https://muslim.or.id/25097-mengapa-ada-yang-mati-kelaparan-padahal-rezeki-sudah-dijamin.html

 

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

Pertanyaan:

Apakah umat Islam bisa disebut Ahli Kitab?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala menyebut Alquran dengan nama al-Kitab. Terdapat banyak ayat Alquran yang menunjukkan hal itu. Di antaranya firman Allah:

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif lam mim, inilah al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. (al-Baqarah: 1 – 2).

Atau firman Allah:

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ . ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Alquran). Itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian al-Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami (QS. Fathir: 31 – 32).

Berdasarkan ayat ini, kita adalah yang mendapat kitab dari Allah. Bahkan kitab yang paling mulia di antara kitab-kitab yang Allah turunkan.

Akan tetapi, istilah ’Ahli Kitab’ adalah istilah syari, yang harus kita pahami sesuai kriteria syariat (al-Isti’mal as-Syari). Bukan semata tinjauan bahasa. Dan seperti yang kita tahu, Allah menggunakan istilah ini khusus untuk menyebut orang Yahudi dan Nasrani.

Allah berfirman:

وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

Tentu tidak boleh kita menafsirkan, bahwa Ahli Kitab di situ mencakup seluruh umat yang diberi kitab. Karena ayat itu turun di zaman sahabat, dan tidak mungkin mereka termasuk dalam ’Ahli Kitab’ yang disebutkan di ayat. Semua sahabat beriman dan bertakwa, sementara ayat di atas menyatakan: “Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Allah juga berfirman:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir di kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan, bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya), sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata (QS. Al-Bayyinah: 1)

Tentu saja, kaum Muslimin tidak termasuk dalam istilah ‘Ahli Kitab’ di atas. Karena Allah dengan jelas menyatakan mereka kafir.

Bahkan, ketika ada orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam, mereka tidak lagi disebut Ahli Kitab.

Di zaman Nabi ﷺ ada seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam, bernama Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu. Ada juga orang Nasrani yang masuk Islam, seperti Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu ‘anhu. Allah menyinggung mereka dalam Alquran:

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang memunyai ilmu Al Kitab.” (QS. Ar-Ra’du: 43)

Berdasarkan keterangan al-Hasan al-Bashri, Mujahid, Ikrimah, Ibnu Zaid, Ibnu Saib dan Muqatil, yang dimaksud ’Orang yang memunyai ilmu al-Kitab’ adalah Abdullah bin Salam.

Sementara menurut Qatadah, mereka adalah para Ahli Kitab yang telah masuk Islam, dan menjadi saksi kebenaran dakwah Muhammad ﷺ, seperti Abdullah bin Salam, Tamim ad-Dari, atau Abdullah bin Salam (Zadul Masir, 2/502).

Yang menjadi catatan, ketika para Ahli Kitab itu masuk Islam, baik sebelumnya beragama Yahudi atau Nasrani, Allah tidak lagi menyebut mereka Ahli Kitab. Tapi Allah menyebut mereka dengan ’Orang yang memunyai ilmu al-Kitab.’.

Ibnu Asyura mengatakan:

اسم ( أهل الكتاب ) لقب في القرآن لليهود والنصارى الذين لم يتديّنوا بالإِسلام ؛ لأن المراد بالكتاب : التوراة والإِنجيل إذا أضيف إليه ( أهل ) ، فلا يطلق على المسلمين ” أهل الكتاب ” وإن كان لهم كتاب، فمن صار مسلماً من اليهود والنصارى : لا يوصف بأنه من أهل الكتاب في اصطلاح القرآن

Istilah ’Ahli Kitab’ adalah istilah dalam Alquran untuk menyebut orang Yahudi dan Nasrani yang tidak masuk Islam. Karena yang dimaksud dengan al-Kitab di sini adalah Taurat dan Injil, apabila di depannya di tambahkan kata ’ahlu’. Sehingga TIDAK BOLEH menyebut kaum Muslimin dengan Ahli Kitab, meskipun mereka memiliki kitab. Untuk itu, orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi Muslim, tidak disebut Ahli Kitab dalam istilah Alquran. (Tafsir Ibnu Asyura – at-Tahrir wa at-Tanwir, 27/249)

Nama yang Allah Berikan kepada Umat Islam

Dalam Alquran, Allah menyebut umat yang beriman dengan kebenaran dakwah Nabi Muhammad ﷺ dengan kaum Muslimin.

Allah berfirman:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian dengan kaum Muslimin dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu, dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (QS. Al-Hajj: 78)

Inilah nama yang syari bagi umat Islam, kaum Muslimin. Nama ini telah Allah sebutkan dalam Alquran dan kitab-kitab sebelumnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23265-kaum-Muslimin-termasuk-ahli-kitab.html

AGAMA ALLAH TAK AKAN HANCUR

AGAMA ALLAH TAK AKAN HANCUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

AGAMA ALLAH TAK AKAN HANCUR

Bagaimana pun musuh Islam mengerahkan kekuatannya untuk menghancurkan agama Allah, mereka TIDAK AKAN PERNAH berhasil. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan hartanya untuk memalingkan manusia dari jalan Allah, dan mereka benar-benar menginfakkannya. Tapi kemudian harta tersebut kan menjadi penyesalan bagi mereka” (Al Anfaal: 36)

[Prof. Dr. Sa’ad Al Khathlan, dosen di King Saud University (KSU) Riyadh, Saudi Arabia. Courtesy: @twitulama]

Twitter @IslamDiaries

,

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini … !!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh, kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini…!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka, ke jalan yang lurus.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memperlancar-

 

,

SECERCAH HIDAYAH

SECERCAH HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

#DakwahTauhid

SECERCAH HIDAYAH

Dari Abdul Wahid bin Zaid berkata:

“Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu, dan mendapati seorang laki-laki sedang  menyembah patung.

”Kami mendatanginya berkata kepadanya:

“Wahai seorang lelaki, siapa yang engkau sembah?

Maka ia menunjuk ke sebuah patung.

Maka kami berkata: ‘Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat. Patung ini bukanlah Ilaah yang berhak untuk diibadahi.

Dia bertanya: ‘(Kalau demikian, pent), apa yang kalian sembah?

’Kami menjawab: ‘Kami menyembah Allah.’

Dia bertanya: ‘Siapakah Allah?’

Kami menjawab: ‘Dzat yang memiliki ‘Arsy di langit dan kekuasaan di muka bumi.’

Dia bertanya: ‘Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?’

Kami jawab: “Telah mengutus kepada kami (Allah) Raja yang Maha Agung, Maha Pencipta Lagi Maha Mulia, seorang Rosul yang mulia. Maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami tentang hal itu.’

Dia bertanya: ‘Apa yang dilakukan rasul itu?’

Kami menjawab:  ‘Beliau telah  menyampaikan risalah-Nya, kemudian Allah mencabut ruhnya.‘

Dia bertanya: ‘Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?’

Kami menjawab: ‘Tentu’

Ia berkata: ‘Apa yang ia tinggalkan?’

Kami menjawab: ‘Dia meninggalkan Kitabullah untuk kami.

Dia berkata: ‘Coba kalian perlihatkan kitab Al Malik  (Kitabullah, pent) itu kepadaku! Maka seyogyanya kitab para raja itu adalah kitab yang sangat baik.

Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya.

Dia berkata: ‘Alangkah bagusnya (mushaf) ini.’ Lalu kami membacakan sebuah surat dari Alquran  untuknya. Dan kami senantiasa membaca. Tiba-tiba ia menangis,dan kami membaca lagi, dan ia terus menangis, hingga kami selesai membaca surat itu.

Dan ia berkata: ‘Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.’

Kemudian ia masuk Islam dan kami ajari dia syariat-syariat Islam dan beberapa surat dari Alquran. Selanjutnya kami mengajaknya ikut serta dalam perahu.

Ketika kami berlayar dan malam mulai gelap, sementara kami semua beranjak menuju tempat tidur kami, tiba-tiba dia bertanya: ’Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu  juga tidur apabila malam telah gelap?’

Kami menjawab: ‘Tidak wahai hamba Allah. Dia Hidup terus, Maha Agung tidak tidur’.

Dia berkata: ‘Seburuk buruk hamba adalah kalian. Kalian tidur, sementara Maula kalian tidak tidur,

Kemudian ia beranjak untuk mengerjakan ibadah dan meninggalkan kami.

Ketika kami sampai di negeri kami, aku berkata kepada teman-temanku: ‘Laki-laki ini baru saja memeluk Islam dan ia adalah orang asing di negeri ini ( sangat cepat jika kita membantunya -pent)

Lalu kami pun mengumpulkan beberapa Dirham dan kami berikan kepadanya.

Ia bertanya: ‘Apakah ini?’

Kami menjawab: ‘Belanjakanlah untuk kebutuhan kebutuhanmu’.

Dia berkata: ”Laa ilaaha illallah. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah patung selain-Nya. Sekalipun demikian, Dia tidak pernah menyia-nyiakan aku …. Maka bagaimana mungkin  Dia (Allah) akan menelantarkanku, sementara aku mengenal-Nya?! ‘ Setelah itu dia pergi meninggalkan kami dan berusaha sendiri untuk (mencukupi ) dirinya.

Dan jadilah ia setelahnya termasuk Kibarush Sholihin sampai meninggalnya.

 

Sumber: At Tawwaabiin, Milik Ibnu Qudamah, 179.

Alih bahasa : Abul Fida Abdulloh As Silasafy

 

,

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah
#Dakwah_Tauhid

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ، وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ، ثُمَّ هُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tidak ada satu pun yang lebih sabar dari Allah ‘azza wa jalla atas ucapan jelek yang ia dengarkan. Sungguh Dia dipersekutukan dan dianggap memiliki anak, kemudian Dia senantiasa memberi nikmat dan rezeki kepada mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Muslim, dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

#Beberapa_Pelajaran:

1) Sangat besar murka Allah jalla wa ‘ala atas orang-orang yang menyekutukan-Nya dan mengatakan Dia memiliki anak, karena mereka telah merendahkan-Nya. Padahal Dia senantiasa menganugerahkan nikmat dan rezeki kepada mereka.

2) Menyekutukan Allah adalah PERENDAHAN terhadap-Nya, karena hakikat kesyirikan adalah menyamakan Allah yang Maha Besar lagi Maha Mulia, dengan mahkluk yang lemah lagi hina, serta PENENTANGAN terhadap-Nya, yang telah memerintahkan untuk menauhidkan-Nya dan TIDAK menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

3) Mengatakan Allah memiliki anak juga PERENDAHAN terhadap-Nya, karena itu berarti MENYAMAKAN Allah dengan makhluk yang butuh kepada istri dan anak. Maka TIDAKLAH patut bagi umat Islam untuk mengucapkan Selamat Natal, apalagi turut serta merayakan dan membantu perayaan kekafiran dan perendahan terhadap Allah ta’ala tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah ta’ala berfirman: Anak Adam mendustakan Aku, padahal itu tidak patut baginya. Ia juga mencaciku, padahal itu tidak patut baginya. Adapun pendustaannya kepada-Ku adalah ia menyangka, bahwa Aku tidak mampu menghidupkannya kembali seperti sebelumnya. Sedangkan caciannya kepada-Ku adalah ia berkata, bahwa Aku memiliki anak. Maha Suci Aku dari memiliki istri dan anak.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallaahu’anhuma]

4) Renungan bagi umat Nasrani untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dengan masuk Islam dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata serta TIDAK mengatakan Allah memiliki anak, karena Allah ta’ala, Dia-lah satu-satunya Sesembahan yang benar. Dia tidak seperti makhluk yang beranak dan diperanakan. Bahkan Nabi Isa ‘alaihissalaam yang kalian sebut Yesus pun telah memerintahkan kalian untuk beribadah kepada Allah semata. Perhatikanlah ayat berikut ini:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

5) Secara akal sehat, seorang manusia seperti Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam yang kalian sebut Yesus TIDAKLAH patut disembah, karena beliau hanya manusia biasa seperti kita juga, yang lahir dari rahim seorang ibu dan kelak akan wafat. Bahkan kalian menyadari ia adalah manusia yang DILAHIRKAN, sehingga kalian merayakan hari kelahirannya, walau ia sendiri TIDAK pernah memerintahkan kalian untuk merayakannya. Andai beliau pantas disembah karena lahir tanpa ayah, maka sungguh Nabi Adam ‘alaihissalaam yang lebih patut disembah, karena beliau lahir tanpa ayah dan ibu sekaligus. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” [Ali Imron: 59]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/720950231387795:0

 

 

,

BENARKAH UMUR UMAT ISLAM BISA DIPREDIKSI?

BENARKAH UMUR UMAT ISLAM BISA DIPREDIKSI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

BENARKAH UMUR UMAT ISLAM BISA DIPREDIKSI?

DUSTA itu. Besok masih hidup atau mati saja kita tidak tahu. Hari Kiamat itu perkara GAIB. Tidak ada makhluk-Nya yang tahu.

Pertanyaan:

Saya mendengarkan video kajian yang disampaikan oleh Al-Ustadz Z******* M A** yang berjudul “Umur Umat Islam Di Dunia”. Beliau menceritakan, bahwa umur umat Islam di dunia tidak sampai 1500 Hijriyah, berdasarkan hadis Mutawatir (tapi tidak menyebutkan atsarnya). Apakah memang benar hadis tersebut shohih?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama: Prinsip penting yang perlu kita kedepankan terkait Kiamat, bahwa Kiamat pasti terjadi, meskipun tidak ada satu pun yang tahu kapan itu terjadi, selain Allah Ta’ala.

Prinsip ini berulang kali Allah tegaskan dalam Alquran dalam bentuk jawaban kepada orang yang suka bertanya tentang kapan Kiamat. Di antaranya firman Allah:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat: “Kapankah itu terjadi?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu hanya di sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu, melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu, seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. al-A’raf: 187).

Di ayat lain, Allah juga berfirman:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّـهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi Hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. al-Ahzab: 63).

Kemudian, Allah juga berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا . فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا . إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Hari Kebangkitan, kapankah terjadinya? Siapakah kamu sehingga dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan ketentuan waktunya. (QS. an-Nazi’at: 42 – 44)

Dan kita bisa perhatikan, semua jawaban yang Allah berikan di atas, lebih dekat pada konteks celaan. Karena orang yang bertanya tentang itu, terkesan tidak percaya akan adanya Kiamat. Andai berusaha mencari tahu waktu Kiamat adalah tindakan yang mulia dan bermanfaat, tentu Allah Ta’ala akan memuji perbuatan mereka. Namun yang ada justru sebaliknya, Allah sebutkan ayat di atas, dalam konteks menjelaskan sifat orang kafir yang mencoba untuk membantah kebenaran Kiamat. Sehingga, tentu saja sikap semacam ini BUKAN sikap terpuji, karena termasuk ciri khas orang kafir.

Imam As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas:

“Semata menggali kapan Kiamat, sudah dekat atau masih jauh, tidak memiliki manfaat sama sekali. Yang lebih penting adalah kondisi manusia di Hari Kiamat, rugi, untung, celaka, ataukah bahagia. Bagaimana seorang hamba mendapatkan azab ataukah sebaliknya, mendapatkan pahala..” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, 672).

Kemudian dalam hadis dari Umar tentang kedatangan Jibril, dinyatakan, bahwa Jibril bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kapan Kiamat. Jawaban Nabi ﷺ:

مَا المَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya.” (HR. Bukhari 4777 dan Muslim 106).

Kita bisa perhatikan, dua makhluk terbaik, malaikat terbaik (Jibril) dan manusia terbaik (Nabi Muhammad ﷺ), tidak diberi tahu oleh Allah kapan terjadinya Kiamat. Mungkinkah ada manusia yang jauh lebih rendah kedudukannya mengetahui kapan Kiamat?

Ada Ulama Yang Menghitung Usia Kaum Muslimin

Meskipun kita akui, ada beberapa ulama yang berusaha memrediksi terjadinya Kiamat. Di antaranya adalah Imam Ibnu Jarir At-Thabari (wafat 310 H) rahimahullah. Beliau menggali berbagai dalil, sekalipun dhaif, dan menyimpulkan bahwa kehancuran dunia setelah 500 tahun setelah kenabian. (Mukadimah Ibnu Khaldun, hlm. 449).

Saat ini telah melewati 1400 pasca-kenabian, dan tidak benar apa yang beliau prediksikan.

Menyusul selanjutnya adalah Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) rahimahullah. Beliau menulis satu kumpulan riwayat yang berjudul “Al-Kasyaf”, yang menyimpulkan bahwa Kiamat akan terjadi di awal abad 15 H. (Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyah, 2/66. Dinukil dari Al-Qiyamah Al-Kubro, Dr. Umar Al-Asyqar, hlm. 122).

Mengingat ini hanya prediksi tanpa dasar yang jelas, dan murni ijtihad, terlebih itu BERTENTANGAN dengan prinsip yang diajarkan dalam syariat, maka tidak selayaknya kita jadikan sebagai acuan.

Persiapkan Bekal Untuk Akhirat, Itu Yang Penting!

Mencoba menggali waktu Kiamat, sama sekali tidak memiliki urgensi bagi kehidupan manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang berusaha menyiapkan amal baik, yang bisa menjadi bekal di Hari Kiamat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa ada orang Arab Badui yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kapan Kiamat. Di situ, Nabi ﷺ justru balik bertanya:

وَيْلَكَ، وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا

Celaka kamu, apa yang kamu persiapkan untuk Kiamat? (HR. Bukhari, Muslim, At-Turmudzi dan yang lainnya).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24099-umur-umat-Islam.html

 

 

RUQYAH YANG DIBOLEHKAN DAN YANG TERLARANG

RUQYAH YANG DIBOLEHKAN DAN YANG TERLARANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid
#Kajian_Sunnah

RUQYAH YANG DIBOLEHKAN DAN YANG TERLARANG

Ruqyah dibolehkan apabila terpenuhi tiga syarat. Apabila tidak terpenuhi maka terlarang. Ketiga syarat tersebut adalah:

  1. Meyakini bahwa ruqyah tersebut dapat bermanfaat dengan izin Allah ta’ala semata.
  1. Tidak mengandung penyelisihan terhadap syariat, yaitu syirik, bid’ah dan maksiat;
  • Contoh ruqyah yang mengandung syirik seperti memohon kepada selain Allah ta’ala, adanya penyembelihan untuk selain Allah, menggunakan jimat sebagai medianya, dan lain-lain.
  • Contoh ruqyah yang mengandung bid’ah seperti menciptakan bacaan-bacaan tertentu yang tidak berasal dari Alquran dan As-Sunnah, meruqyah secara berjamaah, dan lain-lain.
  • Contoh ruqyah yang mengandung maksiat seperti adanya campur baur antara laki-laki dan wanita tanpa suatu alasan darurat, peruqyah menyentuh wanita yang diruqyah, berdua-duaan dengannya, dan lain-lain.
  1. Menggunakan bahasa yang dipahami, yaitu ayat-ayat Alquran dan doa-doa yang berasal dari Alquran dan As-Sunnah, bukan mantra-mantra yang tidak dipahami maknanya [Lihat Al-Qoulul Mufid, 1/187)].

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Kumpulan Link Terkait Ruqyah

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/711716028977882:0

 

 

 

 

 

,

MASUK SURGA SEMATA KARENA RAHMAT ALLAH, LALU UNTUK APA BERAMAL?

MASUK SURGA SEMATA KARENA RAHMAT ALLAH, LALU UNTUK APA BERAMAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MASUK SURGA SEMATA KARENA RAHMAT ALLAH, LALU UNTUK APA BERAMAL?

Saat seorang menyadari, bahwa amalannya tidak mampu menggantikan Surga Allah, dis itulah ia mengerti, amat tidak pantas untuk merasa ‘ujub dengan amalannya

Dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi ﷺ:

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

“Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam Surga, dan menyelematkannya dari Neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Sementara dalam beberapa ayat diterangkan, bahwa amalan adalah sebab seorang masuk Surga. Seperti ayat berikut:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Itulah Surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal saleh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72).

وحور عِينٌ * كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ * جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Bidadari-bidadari Surga berkulit putih bersih dan bermata indah. Bidadari -bidadari itu putih bersih bagaikan mutiara-mutiara yang bejejer rapi. Semua itu sebagai balasan bagi orang-orang Mukmin atas amal saleh yang mereka kerjakan di dunia” (QS. Al-Waaqi’ah: 22-24).

Bagaimana Menggabungkan Dua Nash yang Tampak Bertentangan Ini?

Mari simak penjelasan berikut …

Maksud dari huruf “ba” pada ayat ini adalah Ba Sababiyah (sebab). Adapun penafian sebab masuk Surga karena amal pada  hadis, bermakna dalam perkara balasan yang setimpal (‘iwadhiyyah).

Maksudnya adalah, seorang tidak bisa membayar Surga Allah dengan amal perbuatannya. Karena amalannya penuh dengan cacat, sementara Surga Allah terlalu sempurna untuk menjadi balasannya. Hanya dengan rahmat Allah saja seorang bisa tinggal di Surga-Nya. (Semoga kita termasuk penghuni Surga-Nya).

Syaikh Ibnu ‘Utsamin menjelaskan:

فكيف يُجمَع بين الآية وبين هذا الحديث ؟ والجواب عن ذلك: أن يقال: يُجمع بينهما بأن المنفيَّ دخول الإنسان الجنة بالعمل في المقابلة، أما المثْبتُ: فهو أن العمل سبب وليس عوضا.

“Bagaimana menggabungkan antara ayat dan hadis ini (yakni hadis Jabir di atas, pent)? Jawabannya: kedua dalil di atas bisa dikompromikan, di mana peniadaan masuknya manusia ke dalam Surga karena amalnya dalam arti balasan, sedangkan isyarat, bahwa amal sebagai kunci masuk Surga dalam arti bahwa amal itu adalah SEBAB, bukan pengganti” (Syarah Riyadhus Sholihin, 1/575).

Ini isyarat, bahwa tidak benar bila kemudian seorang berpangku tangan merasa cukup bergantung dengan rahmat Allah, lalu meninggalkan  amal saleh karena menganggapnya tidak penting. Karena Allah menetapkan segala sesuatu dengan sebab dan akibat. Dalam hal ini, Allah ‘azzawajalla menjadikan sebab mendapatkan rahmat-Nya; yang menjadi sebab meraih Surga, dengan amal saleh.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah: 218).

Tidak Pantas ‘Ujub

Saat seorang menyadari,  bahwa amalannya tidak mampu menggantikan Surga Allah, di situlah ia mengerti, amat tidak pantas untuk merasa ‘ujub dengan amalannya.

Andai dari hari pertama dia dilahirkan ke dunia, sampai akhir hayatnya  beribadah kepada Allah dan tak pernah melakukan dosa sedikit pun, itu TAK AKAN MAMPU membayar Surga Allah yang penuh dengan limpahan kenikmatan. Lalu bagaimana lagi bila diri ini berlumuran dosa, ibadah masih cacat, entah sudah berhasilkah kita memerjuangkan keikhlasan, kemudian  merasa ‘ujub?! Wal’iyadzubillah..

Amal Shalih Sebab Meraih Tingkatan Tinggi di Surga

Suatu hari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami (Abu Firos) berkisah: “Aku bermalam bersama Rasulullah ﷺ. Kemudian aku mengambilkan air wudhu’ untuk beliau, serta hajat beliau (maksudnya pakaian dan lain-lain).

Kemudian beliau ﷺ bersabda kepadaku:

“Mintalah sesuatu kepadaku.”

“Aku meminta untuk bisa bersamamu di dalam Surga,” pintaku.

Nabi ﷺ bersabda lagi: “Apakah ada selain itu?”

“Hanya Itu permintaanku,” jawabku.

Beliau ﷺ lalu bersabda:

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرةِ السُّجُودِ

“Kalau begitu, tolonglah aku untuk memerkenankan permintaanmu itu dengan memerbanyak sujud” (HR. Muslim).

Dalam hadis lain diterangkan, dari Abu Said al Khudri radhiyallahu’anhu. Beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى لَيَرَاهُمْ مَنْ تَحْتَهُمْ كَمَا تَرَوْنَ النَّجْمَ الطَّالِعَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا

“Sesungguhnya penghuni Surga yang menempati derajat yang paling tinggi,  akan melihat orang-orang yang berada di bawah mereka, seperti kalian melihat bintang yang terbit di ufuk langit. Dan sungguh Abu Bakr dan ‘Umar, termasuk dari mereka  dan yang paling baik” (HR. Tirmidzi).

Hadis di atas menunjukkan, bahwa SURGA MEMILIKI TINGKATAN-TINGKATAN, YANG DAPAT DIRAIH DENGAN AMAL SALEH, SETELAH MASUKNYA DIDAPAT KARENA RAHMAT ALLAH.

Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan:

اعلم أن هذه الغرف مختلفة في العلو ، والصفة ، بحسب اختلاف أصحابها في الأعمال ، فبعضها أعلى من بعض ، وأرفع

“Ketahuilah, bahwa kamar di Surga berbeda-beda dalam hal derajat ketinggian dan sifatnya, sesuai  perbedaan penghuninya dalam  amal perbuatan. Maka satu dari mereka lebih tinggi derajatnya dari yang lain” (at Tadzkiroh fi Ahwal al Mauta wa Umur al Akhiroh, hal. 398).

Di antara tafsiran para ulama dalam mengkompromikan ayat dan hadis yang tampak bertentangan di atas, bahwa ayat yang menerangkan amalan sebagai kunci masuk Surga, diartikan  sebagai sebab untuk meraih derajat (tingkatan – pen) di dalam Surga. Adapun hadis tentang masuk Surga karena rahmat Allah,  dipahami bahwa rahmat Allah sebagai sebab masuk Surga-Nya.

Ibnu Hajar rahimahullah menuliskan dalam Fathul Bari:

قال بن بطال في الجمع بين هذا الحديث وقوله تعالى وتلك الجنة التي أورثتموها بما كنتم تعملون ما محصله أن تحمل الآية على أن الجنة تنال المنازل فيها بالأعمال فإن درجات الجنة متفاوتة بحسب تفاوت الأعمال وأن يحمل الحديث على دخول الجنة والخلود فيها

Ibnu Batthol menjelaskan saat menggabungkan hadis ini (yakni hadis Aisyah yang semakna dengan hadis Jabir di atas, pent), dengan firman Allah ta’ala:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Itulah Surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal saleh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72)

Ayat ini dimaknai, bahwa tingkatan di dalam Surga diraih dengan amalan, karena derajat di Surga berbeda-beda,  sesuai perbedaan tingkatan amal. Adapun hadis dimaknai, sebab masuk Surga atau sebab mendapatkan keabadian di dalamnya (hanya dengan rahmat Allah)” (Fathul Bari, 11/295).

Allah Maha Adil. Tentu tak akan menyamakan antara orang yang giat beramal, istiqomah, tinggi ketakwaan keikhlasan serta imannya, dengan mereka yang biasa-biasa saja kualitas iman dan takwanya. Seperti kata pepatah, Aljaza’ min jinsil ‘amal, balasan sesuai dengan amal perbuatan.

Wallahua’lam bis shawab.

***

 

Penulis: Ahmad Anshori

[Artikel Muslim.or.id]

 

,

MENGENAL ISLAM

MENGENAL ISLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MENGENAL ISLAM

Sebuah kenikmatan yang terbesar adalah ketika Allah menjadikan kita sebagai seorang yang beragama Islam. Yang tidak ada kebahagian di dunia dan di Akhirat, kecuali dengan memeluk agama Islam. Agama yang satu-satunya diridhai di sisi Allah hanyalah Islam, yang tidak diterima selain dari agama Islam.

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلامُ

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam”(Ali Imran: 19)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu”(Al Maidah: 3)

أَفَغَيْرَ دِينِ اللهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain, selain dari Agama Allah? Padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa. Dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan (Ali Imran: 83)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam,  dia tidak akan diterima, dan di Akhirat dia termasuk orang yang merugi ” (Ali Imran: 85)

وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Inilah nikmat yang terbesar dan teragung yang Allah berikan kepada kita, yang harus kita jaga. Yaitu kita dijadikan sebagai seorang Muslim. Yang tidak ada kebahagian di dunia dan di Akhirat, kecuali dengan memeluk agama Islam. Maka wajib bagi kita untuk mengenal dan memahami agama Islam dengan pemahaman yang benar. Bahkan hal itu sebuah kewajiban yang paling pokok dan mendasar bagi seorang Muslim dan Muslimah.

Lalu apa itu pengertian Islam ?

Islam adalah:”Berserah diri kepada Allah dengan menauhidkan-Nya, tunduk kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya”(Kitab Al Ushulus Tsalatsah)

Inilah pengertian Islam yang harus kita pahami:

Pertama: Berserah diri kepada Allah dengan menauhidkan-Nya

Yaitu berserah diri kepada Allah dengan menauhidkan-Nya di dalam Rububiyah-Nya (Penciptaan, Pemberi Rezeki dan Pengaturan), di dalam Uluhiyah-Nya (Menyerahkan seluruh ibadah hanya kepada Allah semata) dan di dalam Asma (Nama-nama) dan sifat-Nya.

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya semata dalam firman-Nya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: ”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (Al-Fatihah: 5)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya: ”Sembahlah Allah, dan janganlah kamu memersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (An-Nisaa: 36)

Dari pengertian di atas, didapatilah dua kelompok manusia:

Kelompok pertama adalah orang yang berserah diri kepada Allah dan juga berserah diri kepada selain Allah. Yaitu dia berserah diri kepada Allah di satu sisi dengan beribadah kepada-Nya, seperti sholat, puasa dan ibadah lainnya. Tapi di sisi lain dia juga beribadah kepada selain Allah, dengan menyembah kuburan misalnya. Atau berdoa kepada selain Allah, atau menyembelih hewan untuk bertaqarub (mendekatkan diri) kepada selain Allah. Maka orang seperti ini bukanlah orang Islam, akan tetapi orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

” Dan diadakanya sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ”Bersenang-senanglah kamu dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu. Sungguh kamu termasuk penghuni Neraka.” (Az-Zummar: 8)

ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

”Sesungguhnya barang siapa yang memersekutukkan ( sesuatu dengan ) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah  Neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (Al Maidah: 72)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sungguh orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk ) Neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”(Al Bayyinah: 6)

Kelompok kedua adalah orang yang tidak berserah diri kepada Allah dan juga kepada selain Allah. Mereka itu adalah orang-orang kafir, seperti Fir’aun pada masa lalu dan Atheis pada zaman sekarang. (silakan lihat muqadimah Duruus Nawaqid al-Islam, Syaikh Shalih al-Fauzan)

Adapun seorang Muslim adalah orang yang berserah diri hanya kepada Allah semata dengan beribadah hanya kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya.

Kedua: Tunduk Kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya

Tidak cukup seseorang hanya mengatakan dirinya berserah diri kepada Allah, tanpa ada ketaatan kepada-Nya. Bahkan wajib bagi dia untuk tunduk kepada Allah dengan ketundukkan hati, lisan dan anggota badannya, dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, seperti melaksanakan sholat lima waktu, shaum (puasa) Ramadan, menunaikan zakat dan ketaatan lainnya. Para Ulama membagi ketundukkan menjadi dua macam:

Berkata Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri hafidzahullah: ”Tunduk kepada Allah dan ketundukkan ini jika dengan Dzhiran (Lahiriah/anggota badan) dan ketundukkan batin (hati). Maka itu adalah amalan orang-orang yang beriman. Dan jika hanya tunduk dengan ketundukkan zahir saja, maka itu adalah perbuatan seorang munafik. Akan tetapi ketundukkan yang benar yaitu mencakup ketundukkan zahir dan bathin.”(Ithaful Uquul bi Syarh Ats – Tsalasatil Ushuul:95)

Ketiga: Berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya

Yaitu berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah dan para pelakunya. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim alaihi wasallam:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim, dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ”Sesunguhnya kami berlepas diri dari kalian, dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja.”  (Al Mumtahanah: 4)

Inilah penjelasan sederhana tentang kewajiban seorang hamba mengenal agamanya. Dengan  tujuan dari pengenalan tersebut akan membuahkan pengamalan syariat Islam. Karena Islam adalah agama yang haq (benar), yang Allah meridhainya untuk kita. Dan kita beribadah kepada Allah dengan menjalankan syariat Islam.

Wallahu a’lam bis shawwab

 

Penulis: Abdullah al Jakarty

Sumber: http://yukbelajarislam.com/mengenal-islam/