Posts

,

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama

JIKA ISLAM SEMAKIN TERASING

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

إذا ﺍﺷﺘﺪﺕ ﻏﺮﺑﺔ ﺍﻹ‌ﺳﻼ‌ﻡ، ﻗﻞَّ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﻏﻠﺐَ ﺍﻟﺴﻔﻬﺎﺀ.

“Jika keterasingan Islam semakin besar, maka para ulama semakin sedikit, dan orang-orang dungu yang akan mendominasi.” [Zaadul Ma’ad, jilid 3 hlm. 443]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

, ,

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

Pertanyaan:

Mumpung Ramadan, rasanya sayang untuk tidak puasa, meski sedang sakit. Bolehkah perbuatan semacam ini?

Jawaban:

Apabila puasa akan semakin memberatkan diri dan kesehatannya, maka yang paling bagus dia tidak berpuasa. Tidak puasa saat sakit merupakan salah satu keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala suka jika keringanan yang Dia berikan, digunakan oleh si hamba. Dalam hadis yang shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika keringanan-keringanan yang Dia berikan dijalankan, sebagaimana halnya Dia benci jika larangan-Nya dilanggar.” [HR. Ahmad (5866) dan Ibnu Hibban (2742). Dinilai shahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir demikian pula Muhaqqiq Musnad].

Kesimpulan masalah diterangkan oleh Pakar Fikih abad ini, asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

إذا كان يشق عليه الصوم ولا يضره، فهذا يكره له أن يصوم، ويسن له أن يفطر . . . وإذا كان يشق عليه الصوم ويضره، كرجل مصاب بمرض الكلى أو مرض السكر، وما أشبه ذلك، فالصوم عليه حرام

“Jika dia merasa berat puasa lantaran sakit, namun tidak sampai membahayakan, maka makruh jika dia puasa dan sunnah hukumnya dia berbuka. Sedang jika dia berat untuk puasa dan bahkan bisa membahayakan dirinya andaikata puasa, seperti halnya orang yang terkena penyakit liver atau diabetes, maka hukum puasanya haram.” [Asy-Syarh al-Mumti’: VI/341]

Sehingga BUKAN perkara terpuji, bilamana dia sakit berat, namun tetap memaksa berpuasa. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah juga mengatakan:

وبهذا نعرف خطأ بعض المجتهدين من المرضى الذين يشق عليهم الصوم وربما يضرهم، ولكنهم يأبون أن يفطروا فنقول: إن هؤلاء قد أخطأوا حيث لم يقبلوا كرم الله ـ عزّ وجل ـ، ولم يقبلوا رخصته، وأضروا بأنفسهم، والله ـ عزّ وجل ـ يقول: {وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ} [النساء: ٢٩

“Dengan penjelasan ini kita mengetahui kekeliruan sebagian orang sakit yang semangat untuk puasa, padahal puasa itu memberatkan, dan bahkan bisa menimbulkan bahaya atas dirinya, yaitu mereka enggan untuk tidak puasa. Kami katakan: ‘Sesungguhnya orang-orang semacam itu telah keliru, saat mereka tidak menerima kebaikan dan keringanan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan itu juga berarti mereka telah menimpakan mudarat pada diri mereka sendiri! Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisaa’: 29) (Idem, VI/342]

 

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/310/tetap-berusaha-puasa-meski-sakit#sthash.X3q3juGy.dpuf

 

,

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

POSISI SHAF LAKI-LAKI SEJAJAR DENGAN SHAF WANITA, BATAL SHALAT?

Pertanyaan:

Musholla di tempat saya berukuran kecil, sehingga shaf makmum laki-laki dan wanita dibuat sejajar dan hanya dipisahkan oleh hijab. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf (barisan di dalam shalat) bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang paling depan (HR. Muslim 132, Tirmidzi, no. 224, dan Ibnu Majah, no. 1000)

Hadis ini merupakan aturan ideal untuk posisi shaf lelaki dan wanita, bahwa yang lebih sesuai sunah, shaf wanita berada di belakang lelaki. Semakin jauh dari lelaki, semakin baik.

Jika shaf wanita sejajar dengan lelaki, apakah membatalkan shalat?

Berikut keterangan Syaikhul Islam:

وقوف المرأة خلف صف الرجال سنة مأمور بها، ولو وقفت في صف الرجال لكان ذلك مكروهاً، وهل تبطل صلاة من يحاذيها؟ فيه قولان للعلماء في مذهب أحمد وغيره:

”Posisi shaf wanita di belakang laki-laki adalah aturan yang diperintahkan. Sehingga ketika wanita ini berdiri di shaf lelaki (sesejar dengan lelaki) maka statusnya dibenci. Apakah shalat lelaki yang berada di sampingnya itu menjadi batal? Ada dua pendapat dalam Madzhab Hambali dan madzhab yang lainnya.”

Selanjutnya Syaikhul Islam menyebutkan perselisihan mereka:

أحدهما: تبطل، كقول أبي حنيفة وهو اختيار أبي بكر وأبي حفص من أصحاب أحمد. والثاني: لا تبطل، كقول مالك والشافعي، وهو قول ابن حامد والقاضي وغيرهما

Pendapat pertama, shalat lelaki yang di sampingnya batal. Ini pendapat Abu Hanifah , dan pendapat yang dipilih oleh Abu Bakr dan Abu Hafsh di kalangan ulama Hambali.

Pendapat kedua, shalatnya tidak batal. Ini pendapat Malik, as-Syafii, pendapat yang dipilih Abu Hamid, al-Qadhi dan yang lainnya. (al-Fatawa al-Kubro, 2/325).

Di antara ulama yang menilai bahwa ini batal, karena posisi semacam ini bisa memancing syahwat lelaki. As-Sarkhasi – ulama Hanafi – (w. 483 H) mengatakan:

بأن حال الصلاة حال المناجاة، فلا ينبغي أن يخطر بباله شيء من معاني الشهوة، ومحاذاة المرأة إياه لا تنفك عن ذلك عادة، فصار الأمر بتأخيرها من فرائض صلاته، فإذا ترك تفسد صلاته

Ketika shalat, manusia sedang bermunajat dengan Allah. Karena itu tidak selayaknya terlintas dalam batinnya pemicu syahwat. Sementara sejajar dengan wanita, umumnya tidak bisa lepas dari syahwat. Sehingga perintah untuk memosisikan wanita di belakang, termasuk kewajiban shalat. Dan jika ditinggalkan maka shalatnya batal. (al-Mabsuth, 2/30).

Hanya saja, semata alasan memicu syahwat, belum cukup untuk bisa membatalkan shalat. Karena semata muncul lintasan dalam diri orang yang shalat, tidaklah membatalkan shalat. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari di: Hukum Pikiran Kotor dalam Shalat: https://konsultasisyariah.com/20816-hukum-pikiran-kotor-ketika-shalat.html

Namun semacam ini semaksimal mungkin untuk dihindari, karena mengancam kekhusyuan shalat seseorang.Imam Ibnu Utsaimin mengatakan:

كون النساء يقمن صفاً أمام الرجال فإن هذا بلا شك خلاف السنة، لأن السنة أن يكون النساء متأخرات عن الرجال، لكن الضرورة أحياناً تحكم على الإنسان بما لا يريد، فإذا كان أمام المصلي صف من النساء، أو طائفة من النساء فإن الصلاة خلفهن إذا أمن الإنسان على نفسه الفتنة جائزة، ولهذا من عبارات الفقهاء قولهم: “صف تام من النساء لا يمنع اقتداء من خلفهن من الرجال”

Posisi wanita yang berada di depan lelaki, semacam ini kita yakini bertentangan dengan sunah. Karena yang sesuai sunah, wanita di belakang lelaki. Namun kondisi darurat memaksa seseornag untuk melakukan di luar keinginannya. Karena itu, jika di depan lelaki ada shaf wanita, atau beberapa wanita, maka status shalat orang yang berada di belakang mereka hukumnya boleh, jika aman dari munculnya fitnah dalam dirinya. Di antara ungkapan ulama fikih dalam masalah ini:

صف تام من النساء لا يمنع اقتداء من خلفهن من الرجال

Shaf wanita di depan lelaki, tidaklah menghalangi lelaki di belakangnya untuk menjadi makmum (dalam shalat jamaah).

Mengingat alasan munculnya syahwat ini, beliau melarang seseorang lelaki untuk berdiri tepat di samping wanita.

وأما مصافة الرجال للنساء فهذه فتنة عظيمة، ولا يجوز للرجل أن يصف إلى جنب المرأة، فإذا وجد الإنسان امرأة ليس له مكان إلا بجانبها فينصرف ولا يقف جنبها، لأن هذا فيه فتنة عظيمة

Untuk lelaki yang satu shaf dengan wanita, ini bisa menimbulkan fitnah besar. Dan tidak boleh seorang lelaki mengambil posisi di samping wanita. Jika seorang lelaki tidak mendapatkan tempat, kecuali harus di samping wanita persis, hendaknya dia pindah dan tidak berdiri di sampingnya persis. Karena semacam ini menjadi sumber firnah besar.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, volume 15, Bab. Shalat Berjamaah)

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa kita simpulkan:

  • Posisi shaf lelaki yang berada di samping atau bahkan di belakang lelaki, tidaklah membatalkan shalat, menurut pendapat yang kuat.
  • Jika posisi shaf lelaki di dekat wanita bisa menimbulkan syahwat, maka dia dia harus menghindar dan mencari tempat yang lain. Karena bisa menjadi sumber fitnah.
  • Jika posisi lelaki di samping atau belakang wanita tidak sampai menimbulkan syahwat karena alasan darurat, hukumnya boleh dan tidak memengaruhi keabsahan shalat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Sumber:  https://konsultasisyariah.com/21355-shaf-laki-laki-sejajar-dengan-shaf-wanita-batal-shalat.html

, ,

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ManhajAkidah
#StopBidah

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

>> Perbedaan dan Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

Penulis: Muhammad bin Husain Al-Jizani

A. Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[A1]. Keduanya sama-sama dilarang, tercela dalam syariat, dan pelakunya mendapat dosa. Maka sesungguhnya bid’ah masuk di dalam kemaksiatan [lihat Al-Itisham 2/60]. Dengan tinjauan ini, setiap bid’ah adalah maksiat, tapi tidak setiap maksiat adalah bid’ah.

[A2]. Keduanya bertingkat-tingkart, bukan satu tingkatan saja, karena, menurut kesepakatan ulama, maksiat itu terbagi dalam kemaksiatan yang bisa membuat pelakunya kafir, dan kemaksiatan yang sifatnya Kaba’ir (dosa-dosa besar) dan shagha’ir (dosa-dosa kecil) [lihat Al-Jawaabul Kaafi 145-150]. Begitu juga bid’ah terbagi menjadi:

  • -Bid’ah yang membuat pelakunya kafir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Kaba’ir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Shaga’ir

Pembagian dan penglasifikasian ini bisa benar, jika sebagian bid’ah dinisbatkan pada sebagian yang lain. Maka jika seperti ini, dimungkinkan keadaannya beritngkat-tingkat, karena kecil dan besar berada dalam penyandaran dan penisbatan. Terkadang sesuatu dianggap besar dengan sendirinya, tapi bisa dianggap kecil jika dibandingkan dengan yang lebih besar darinya. Oleh sebab itu, sesungguhnya Shigharul Bida (Bid’ah-bid’ah kecil) pada hakikatnya dianggap sebagai bagian dari al-Kaba’ir dan bukan ash-Shaga’ir (dosa-dosa kecil), ini jika dibandingkan dengan dosa-dosa lain selain syirik. Lihat Al-I’tisham 2/57-62. Lebh jelasnya akan ada dalam point berikutnya.

[A3]. Keduanya memberikan indikasi akan lenyapnya syariat dan hilangnya sunnah. Semakin banyak maksiat dan bid’ah, maka semakin lemahlah sunnah. Semakin kuat dan tersebarnya sunnah, maka semakin lemahlah maksiat dan bid’ah. Maksiat dan bid’ah, ditinjau dari ini, sama-sama menghempaskan Al-Hudaa (Ajaran yang benar) dan memadamkan cahaya kebenaran. Keduanya berjalan beriringan. Hal itu akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

[A4]. Keduanya bertentangan dan bersebarangan dengan Maqaashidusysyarii’ah (Tujuan-tujuan syariat) yang berakibat fatal yaitu, menghancurkan syariat.

B. Perbedaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[B1]. Dasar larangan maksiat biasanya dalil-dalil yang khusus, baik teks wahyu (Alquran , As-Sunnah) atau ijma’ atau qiyas. Berbeda dengan bid’ah, bahwa dasar larangannya, biasanya dalil-dalil yang umum dan Maqaashidusysyarii’ah serta cakupan sabda Rasulullah ﷺ: ‘Kullu bid’atin dhalaalah’ (Setiap bida’ah itu sesat).

[B2]. Bid’ah itu menyamai hal-hal yang disyariatkan, karena bid’ah itu disandarkan dan dinisbatkan kepada agama. Berbeda dengan maksiat, ia bertentangan dengan hal yang disyariatkan, karena maksiat itu berada di luar agama, serta tidak dinisbatkan padanya. Kecuali jika maksiat ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, maka terkumpullah dalam maksiat semacam ini, maksiat dan bid’ah dalam waktu yang sama.

[B3]. Bid’ah merupakan pelanggaran yang sangat besar dari sisi melampaui batasan-batasan hukum Allah dalam membuat syariat. Karena sangatlah jelas, bahwa hal ini MENYALAHI DALAM MEYAKINI KESEMPURNAAN SYARIAT. Menuduh bahwa syariat ini masih kurang, dan membutuhkan tambahan, serta belum sempurna. Sedangkan maksiat, padanya tidak ada keyakinan bahwa syariat itu belum sempurna. Bahkan pelaku maksiat meyakini dan mengakui, bahwa ia melanggar dan menyalahi syariat.

[B4]. Maksiat merupakan pelanggaran yang sangat besar ditinjau dai sisi melanggar batas-batas hukum Allah, karena pada dasarnya dalam jiwa pelaku maksiat tidak ada penghormatan terhadap Allah, terbukti dengan tidak tunduknya dia pada syariat agamanya. Sebagaimana dikatakan: “Janganlah engkau melihat kecilnya kesalahan, tapi lihatlah siapa yang engkau bangkang” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62].

Berbeda dengan bid’ah, sesungguhnya pelaku bid’ah memandang bahwa dia memuliakan Allah, mengagungkan syariat dan agamanya. Ia meyakini bahwa ia dekat dengan Tuhannya dan melaksanakan perintah-Nya. Oleh sebab itu, ulama Salaf masih menerima riwayat Ahli Bid’ah, dengan syarat ia TIDAK mengajak orang lain untuk melakukan bid’ah tersebut, dan tidak menghalalkan berbohong. Sedangkan pelaku maksiat adalah fasiq, gugur keadilannya, ditolak riwayatnya dengan kesepakatan ulama.

[B5]. Maka sesungguhnya, pelaku maksiat terkadang ingin taubat dan kembali. Berbeda dengan ahli bid’ah, sesungguhnya dia meyakini bahwa amalanya itu adalah qurbah (ibadah yang mendekatkan kepada Allah, -pent), terutama Ahli Bid’ah Kubra (Pelaku bid’ah besar), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Artinya: Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaan yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik…” [Faathir: 8]

Sufyan At-Tsauri berkata: “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati, dan bid’ah tidak (idharapkan) taubat darinya.

Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) diceritakan, bahwa Iblis berkata: “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa, namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah.

Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca: bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa, namun tidak mau bertaubat, karena mereka merasa sedang berbuat baik.” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62]

[B6]. Jenis bid’ah lebih besar dari maksiat, karena fitnah Ahli Bid’ah (Mubtadi) terdapat dalam dasar agama, sedangkan fitnah pelaku dosa terdapat dalam syahwat. [Lihat Al-Jawwabul Kaafi: 58, dan Majmu Fatawa 20/103]. Dan ini bisa dijadikan sebuah kaidah, bahwa jika salah satu dari bid’ah atau maksiat itu tidak dibarengi qarinah-qarinah (bukti atau tanda) dan keadaan yang bisa memindahkan hal itu dari kedudukan asalnya.

Di antara contoh bukti-bukti dan keadaan tersebut adalah:

  • Pelanggaran, baik maksiat atau bid’ah, bisa membesar jika diiringi praktik terus menerus, meremehkannya, terang-terangan, menghalkan atau mengajak orang lain untuk melakukannya. Ia juga bisa mengecil bahayanya, jika dibarengi dengan pelaksanaan yang sembunyi-sembunyi, terselubung tidak terus menerus, menyesal (setelahnya, -pen) dan berusaha untuk taubat.

Contoh lain:

  • Pelanggaran itu dengan sendirinya bisa membesar dengan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Jika bahayanya kembali kepada dasar-dasar pokok agama, maka hal ini lebih besar, daripada penyimpangan yang bahayanya hanya kembali kepada hal-hal parsial dalam agama. Begitu pula pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan agama, lebih besar daripada pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan jiwa.

Jadi sebenarnya untuk mengomparasikan antara bid’ah dengan maksiat, kita harus memerhatikan situasi dan kondisi, maslahat dan bahayanya, serta akibat yang dtimbulkan sesudahnya. Karena memeringatkan bahaya bid’ah atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya menimbulkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan maksiat itu sendiri. Sebagaimana ketika kita memeringatkan, bahwa maksiat atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya mengakibatkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan bid’ah itu sendiri.

 

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Penerjemah Aman Abd Rahman, Penerbit Pustaka Azzam, Cetakan Juni 2001]

Sumber:

 

, ,

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SayNoToRiba

RIBA DALAM KEGIATAN MAKAN BERSAMA

Langsung saja saya berikan ilustrasi

Ali: ”Assalamu ‘alaykum. Adi lagi di mana?
Adi: Wa ‘alaykumus salam warahmatullah. Lagi di pasar nih.
Ali: Oya kebetulan. Tolong belikan rambutan 1kg. Nanti sampai rumah diganti uangnya.
Adi: Ok deh
Ali: Ya udah itu aja saja. Assalamu ‘alaykum.
Adi: Wa ‘alaykumus salam warahmatullah ‎

(Sudah sampai rumah Ali)
Adi: Assalamu ‘alaykum
Ali: Wa’alaykumus salam
Adi: Ini pesanannya.
Ali: Syukron. Ayo kita makan sama-sama. Tenang saja nanti diganti uangnya.

Kemudian Adi dan Ali makan rambutan bersama-sama. Maka Adi telah makan riba.

Apakah ini benar, bahwa Adi telah memakan riba?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam Islam, sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat, statusnya riba” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk di antaranya adalah hadiah dan pemberian sebelum utang lunas. Meskipun bentuknya jasa.

Sahabat Abdullah bin Sallam pernah mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ ، فَلاَ تَأْخُذْهُ ، فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3814).

Dalam riwayat lain, nasihat Abdullah bin Sallam ini beliau sampaikan kepada Abu Burdah, yang ketika itu tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah yang riba di sana tersebar luas. Di antara pintu riba adalah, jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berutang membayarkan cicilan dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan, sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro).

Hanya saja, ada catatan yang perlu kita perhatikan, bahwa:

‘Utang tidak memutus silaturrahmi’

‘Utang tidak memutus hubungan baik seseorang dengan kawannya’

Dan seterusnya.

Karena itu, siapa yang punya kebiasaan baik dengan saudaranya, seperti saling memberi hadiah atau saling membantu dalam berbagai urusan, jangan sampai kebiasaan ini dihentikan gara-gara utang.

 

Nabi ﷺ bersabda:

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Lakukanlah saling menghadiahilah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 594 dan dihasankan al-Albani).

Karena itulah, kaitannya hadiah dengan akad utang piutang dibagi menjadi dua:

[1] Hadiah yang diberikan karena latar belakang akad utang piutang. Andai tidak berlangsung akad utang-piutang, tentu tidak akan akan ada hadiah.

[2] Hadiah yang tidak ada hubungannya dengan akad utang piutang, meskipun keduanya kadang melakukan akad utang piutang. Misalnya, kakak adik, mereka sudah terbiasa saling memberi hadiah ketika lebaran. Suatu ketika adik utang ke kakak. Dan ketika lebaran, mereka saling memberi hadiah, meskipun utang adik belum lunas.

Tapi kita bisa memahami, hadiah yang ada dalam hal ini sama sekali TIDAK ADA KAITANNYA dengan transaksi utang piutang. Hadiah yang sudah terjadi karena kebiasaan sebelumnya.

Hadiah ini diperbolehkan, meskipun utang belum lunas. Karena sudah menjadi kebiasaan sebelumnya, sehingga tidak ada hubungannya dengan utang piutang.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلاَ يَرْكَبْهَا وَلاَ يَقْبَلْهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya, kecuali jika sudah terbiasa mereka saling memberikan hadiah sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah 2432)

Karena sekali lagi, utang tidak memutus silaturrahmi. Jangan sampai gara-gara utang, justru mereka saling tegang, tidak bisa cair, tidak semakin akrab, dan kaku terhadap jamuan.

Bagaimana dengan Kasus Talangan Jajan?

Kasus di atas, seperti yang umum di masyarakat kita, TIDAK ADA KAITANNYA dengan utang piutang. Dalam arti, mereka sudah terbiasa melakukannya, meskipun mereka tidak terlibat dalam akad utang piutang. Sehingga makan bersama di sini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan utang.

Insya Allah dibolehkan, dan bukan riba.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https: //konsultasisyariah.com/29299-riba-dalam-kegiatan-makan-bersama.html

 

FIRASAT MENJELANG KEMATIAN (KUPAS TUNTAS)

FIRASAT MENJELANG KEMATIAN (KUPAS TUNTAS)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

FIRASAT MENJELANG KEMATIAN (KUPAS TUNTAS)

Pertanyaan:

  • Apakah ada tanda khusus yang muncul sebelum seorang manusia meninggal, baik dia Mukmin atau kafir?
  • Apakah ada tanda bahwa ajalnya semakin dekat?
  • Jika sudah jelas bahwa ajalnya sudah dekat, apa yang harus dia lakukan? Kalau dia belum merasakan tanda-tanda tersebut, kapan sebenarnya tanda-tanda itu akan muncul?
  • Apa ada cara untuk meringankan sakaratul maut?
  • Amal saleh apa yang paling bagus untuk dilakukan terus-menerus?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pertama:

Tidak ada seorang pun yang tahu, kapan ajalnya akan menjemput. Juga tidak ada yang tahu, di belahan bumi mana dia akan mati. Allah berfirman:

( إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) لقمان/ 34

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti), apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui, di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Kedua:

Tidak ada tanda khusus yang bisa menjadi petunjuk bagi manusia, bahwa ajalnya sudah dekat, dan jatah umurnya sudah habis. Ini bagian-bagian dari rahmat Allah kepada para hamba-Nya. Karena ketika manusia tahu kapan ajalnya datang, dan dia tahu, bahwa taubat akan menghapus kesalahan yang telah lampau, dia akan tenggelam dalam dosa dan kesalahan. Dia akan “menghibur” dirinya, satu jam sebelum ajal datang: “Sudah, bertaubatlah dan tinggalkan dosa ini.” Tipikal orang semacam ini tidak cocok disebut hamba Allah, tapi lebih cocok disebut budak nafsu.

Berbeda dengan kenyataan yang terjadi, manusia tidak tahu kapan maut menjemput. Sehingga orang yang berakal akan cepat-cepat memerbaiki masa lalunya, dan segera bertaubat serta beramal saleh, karena dia tak tahu kapan waktu ajalnya tiba. Dia terus berusaha dengan ikhtiar tersebut, hingga Allah mewafatkannya. Seperti ini yang layak disebut hamba yang saleh: Gemar berbuat taat dan berlari jauhi maksiat.

Hanya saja, ada beberapa tanda yang kadang menjadi petunjuk, bahwa ajal kian dekat, seperti: menderita sakit parah, yang umumnya tidak mungkin lagi disembuhkan, sudah berusia lanjut, tertimpa musibah yang mematikan, atau hal-hal lain yang umumnya bisa menjadi sebab kematian.

Ketiga:

Manakala seseorang merasa ajalnya semakin dekat, ketika sakitnya bertambah parah, atau kondisi semisal itu, dia wajib memerbaiki keadaan ukhrawinya, dengan taubat kepada Allah, dan mengembalikan hak setiap orang yang dia zalimi, serta memohon maaf dari mereka. Juga bersegera beramal saleh, penuh kesungguhan berharap kepada Allah, berlari menuju ketaatan, dan memohon kebaikan Allah, berupa pemaafan serta ampunan dari-Nya. Iringi itu semua dengan banyak prasangka baik kepada-Nya. Sertai pula dengan menaruh harapan besar terhadap kemurahan Allah, dan luasnya rahmat Allah. Dia tak akan mengkhianati persangkaan baik dari hamba-Nya.

Telah diriwayatkan oleh Muslim, no. 2877, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:

” سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ، يَقُولُ: ( لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ ) “

“Aku dengar Nabi ﷺ, tiga hari sebelum wafatnya, bersabda: ‘Jangan sampai kalian meninggal, kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.’

Gapai itu dengan memerbanyak amalan penghilang dosa dan penghapus kesalahan, yaitu istigfar, menjaga wudhu dan shalat, menunaikan haji dan umrah, dan sebagainya.

Keempat

Sakaratul maut adalah ujung kehidupan yang begitu dahsyat, sebelum perjumpaan dengan Allah. Sakaratul maut adalah kesempatan terakhir Allah menghapus kesalahan hamba-Nya.  Kita mohon kepada Allah, agar sakaratul maut diringankan, dan kita dimudahkan dalam menjalaninya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Rasulullah ﷺ tengah menderita sakit, yang akhirnya menjadi sebab wafatnya beliau. (Ketika masih sakit), beliau ﷺ masukkan kedua tangannya ke dalam air, lalu beliau ﷺ usap wajahnya. Beliau ﷺ katakan: ‘Laa ilaaha illallah (Tiada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah).’ Kemudian beliau ﷺ angkat tangannya seraya berucap: ‘Bersama Ar-Rafiiq Al-‘Ala,’ hingga akhirnya tangan beliau ﷺ melemas lalu meninggal.”

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Rasulullah ﷺ tengah menderita sakit, yang akhirnya menyebabkan beliau ﷺ wafat. (Ketika masih sakit), beliau ﷺ masukkan kedua tangannya ke dalam air, lalu beliau ﷺ usap wajahnya. Lantas beliau ﷺ berkata:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ

‘Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi perihnya kematian, atau masa menjelang kematian.’

Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 978, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dia berkata:

“Aku melihat Rasulullah ﷺ yang tengah menghadapi maut. Di sisi beliau ﷺ terletak bejana berisi air. Beliau ﷺ masukkan tangannya ke dalam bejana, lalu beliau ﷺ basuh wajahnya dengan air. Kemuadian beliau ﷺ berkata: ‘Ya Allah, mohon tolong aku menghadapi perihnya maut, atau masa menjelang maut.‘” (Hadis ini dinilai Hasan oleh Al-Hafiqzh dalam Fathul Bari, 11:362. Dalam kitab Dha’if At-Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menilai bahwa hadis ini Dhaif)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Apakah sakitnya sakaratul maut bisa meringankan beban dosa di Akhirat? Apakah penyakit yang diderita sebelum ajal bisa meringankan beban dosa di Akhirat?

Beliau rahimahullah menjawab: “Setiap (musibah) yang menimpa manusia, baik itu penyakit, penderitaan, kesedihan, rasa galau, hingga duri yang menusuknya, maka semua itu merupakan penghapus dosa. Kemudian jika dia sabar dan mengharap pahala, dosanya akan dihapuskan, dan dia akan mendapat pahala atas kesabarannya menghadapi musibah tersebut. Sama saja apakah musibah itu terjadi menjelang kematian, atau jauh waktu sebelum proses kematian.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2:24)

Seiring makin dekatnya kematian dan kuatnya sakaratul maut, seorang Mukmin akan menghadapinya dengan jiwa gembira dan teguh. Dia menghadapi (kematian dan sakaratul maut) dengan mudah. Dia diliputi rindu, untuk menyongsong sesuatu yang akan didapatinya setelah kematian, yaitu perjumpaan dengan Allah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimaullah berkata: “Seseorang yang telah mati tak mungkin lepas dari salah satu keadaan: Dia akan berisitirahat dengan tenang, atau dia tak akan bisa beristirahat di alam kuburnya. Dua golongan tersebut mungkin saja sakaratul mautnya semakin berat, dan mungkin pula malah semakin ringan.

Golongan yang pertama adalah orang yang menyongsong sakaratul maut dengan ketakwaan, bukan kemaksiatan. Bahkan, jika dia orang yang bertakwa, (semakin dekat kematiannya) maka semakin kuat pula taubatnya. Bila tidak demikian, dosanya tetap akan diampuni, sesuai dengan kadar (rasa sakit) yang dia hadapi (ketika sakaratul maut). Setelah itu, dia pun ‘beristirahat’ dari kepedihan dunia, yang telah ditutup dengan (kematian). Umar bin Abdul Aziz berkata: ‘Satu hal yang kusukai dari sakaratul maut adalah, bahwa sakaratul maut merupakan akhir (kepedihan dunia), yang menjadi penghapus dosa seorang Mukmin.’

Dengan demikian, selain kabar gembira, kesenangan malaikat berjumpa dengannya, kelembutan mereka terhadapnya, dan kebahagiaannya ketika berjumpa dengan Rabb-nya, akan lenyap pula segala sakit menjelang kematian, sampai-sampai tidak ada sedikit pun rasa sakit yang ia alami.” (Fathul Bari, 11:365)

Kita tidak tahu jalan lain yang bisa membuat sakaratul maut menjadi lebih ringan, selain meminta tolong kepada Allah, serta berdoa kepada-Nya, agar memudahkan sakaratul maut itu, dan tidak memersulitnya. Semoga kita bisa melakukan amalan yang dikerjakan Nabi ﷺ, yaitu memasukkan tangan ke dalam air, kemudian mengusapkan kedua tangan ke wajah, lalu berdoa kepada Allah, agar Dia berkenan menolong dalam melalui sakaratul maut. Hadisnya telah disebutkan di atas.

Di sisi lain, sebagian salaf menilai, bahwa perihnya sakaratul maut merupakan bentuk rahmat Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat Umar bin Abdul Aziz. Juga diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad, dalam Zawaiduz Zuhud, hlm. 388, dari Ibrahim An-Nakha’I, dia berkata: “Mereka menganjurkan orang yang sakit untuk berjuang (menahan kepedihan), ketika menghadapi kematian.”

Juga diriwayatkan dari Manshur: “Sesungguhnya Ibrahim an-Nakhai menyukai sakit yang dirasakan sewaktu nyawanya dicabut.”

Kita tidak tahu, bahwa ada orang yang pasti berhasil melalui kedahsyatan (sakaratul maut), melainkan orang yang mati syahid. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, no. 7953; At-Tirmidzi, no. 1668, dan beliau menilainya Shahih; An-Nasa’i, no. 3161, dan Ibnu Majah, no. 2802; dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ، إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مَسِّ الْقَرْصَةِ

“Seorang yang mati syahid tidak merasakan kematian, melainkan hanya seperti bila ia digigit.” (Dinilai Shahih oleh Al-Albani – dalam Shahih At-Tirmidzi – dan selain beliau)

Al-Munawi berkata: “Maksudnya, Allah ta’ala meringankan kematian untuknya, dan mencukupkan baginya sakatarul maut dan kepedihannya. Bahkan, kadang seseorang yang mati syahid menjadikan merasakan kelezatan dalam perjuangannya di jalan Allah. Sebagaimana ucapan Khabib Al-Anshari ketika ia terbunuh (di medan jihad):

Aku tidak peduli ketika aku terbunuh dalam keadaan Muslim

Di bagian mana aku terjatuh untuk Allah (Faidhul Qadir, 4:182)

Kelima

Amal saleh adalah setiap hal yang diperintahkan, yang dikhususkan, dan disunnahkan oleh pembuat syariat (yaitu Allah). Satu amal saleh lebih afdhal (utama) dibandingkan amal saleh yang lain. Salah satu amal saleh yang paling afdhal, yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya dan seorang Muslim disarankan untuk terus melakukannya, adalah:

  • Memerbanyak zikir kepada Allah,
  • Membaca Alquran,
  • Berbakti kepada orang tua,
  • Silaturahim (menyambung hubungan kekerabatan),
  • Haji,
  • Umrah,
  • Qiyamul lail (shalat tahajud),
  • Sedekah secara sembunyi-sembunyi,
  • Berakhlak mulia,
  • Menebarkan salam,
  • Memberi makan orang lain,
  • Berkata jujur,
  • Amar ma’ruf dan nahi mungkar,
  • Menyukai kebaikan bagi orang lain,
  • Menyingkirkan gangguan dari orang lain,
  • Tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa,
  • Mendamaikan dua orang yang berseteru,
  • Dan bentuk-bentuk amal kebaikan lainnya.

Kami nasihatkan kepada Saudari Penanya, ketika mengingat mati dan kepedihannya, agar menjadikannya sebagai pemacu untuk lebih bertakwa kepada Allah, dan memerbanyak amal saleh. Jika seorang hamba bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mudahkan kesulitan yang meliputinya, Allah akan sirnakan semua ganjalan yang ada, dan Dia akan hapuskan segala kepedihan.

Wallahu a’lam.

Situs Islam Tanya-Jawab (diasuh oleh Syaikh Muhammad Saleh Al-Munajjid)

Sumber: http://islamqa.info/ar/201751

**

Penerjemah: Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com

Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

[Artikel WanitaSalihah.Com]

ماذا يفعل الإنسان إذا أحس بقرب أجله ؟

السؤال :

– هل هناك علامات قبل وفاة الإنسان سواء كان مؤمنا أو كافرا ؟ وهل للعلامات أوقات محدده ؟

– وإذا تبين له أن أجله قريب ماذا يفعل ؟ ولما نتلقى هذه العلامات إذا كانت موجودة ؟

– وهل هناك طريقة لتخفيف سكرات الموت ؟

– وما أفضل الأعمال الصالحة التي ينصح التمسك بها ؟

الجواب :

الحمد لله

أولا :

لا يعلم أحد من الناس على وجه التحديد متى يموت ، ولا بأي أرض يموت ، قال تعالى : ( إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) لقمان/ 34 .

راجع إجابة السؤال رقم : ( 100451 ) ، ( 180876 ) .

ثانيا :

ليست هناك علامات معينة يتعرف بها الإنسان على قرب أجله وانقضاء عمره ، وهذا من رحمة الله بعباده ، فإن الإنسان إذا علم متى يكون أجله ، وعلم أن التوبة تكفر ما قبلها من الخطايا ، ربما انغمس في الذنوب ، وارتكس في الآثام ، ومنى نفسه أنه قبل موته بساعة من نهار : تاب وأقلع ، ومثل هذا لا يصلح أن يكون عبدا لله ؛ بل هو عابد لهواه .

بخلاف الواقع الذي لا يدري معه الإنسان متى يموت ، فالعاقل يتدارك ما فاته سريعا ويبادر بالتوبة والعمل الصالح ، فإنه لا يدري متى يكون انقضاء أجله ، ولا يزال على ذلك حتى يتوفاه الله ، ومثل هذا حري أن يكون عبدا صالحا محبا لطاعة الله نافرا من معصية الله .

إلا أن هناك بعض العلامات التي قد تدل على دنو أجل العبد ، كإصابته بمرض خطير لا يكاد يسلم منه الناس عادة ، وكذا بلوغه أرذل العمر ، وتعرضه لحادث مهلك ونحو ذلك من الأمور القدرية .

ثالثا :

تقدم في إجابة السؤال رقم : ( 184737 ) ذكر العلامات التي تدل على صلاح العبد عند موته ، والعلامات التي تدل على سوئه .

رابعا :

متى أحس العبد بدنو أجله لمرضه الشديد ونحو ذلك ؛ فالواجب عليه أن يتدارك أمره بالتوبة إلى الله ورد المظالم إلى أهلها والتحلل منهم ، والمسارعة في العمل الصالح والجد في الرغبة إلى الله والتفرغ لطاعته ، وطلب الإحسان منه بالعفو والمغفرة ، مع وافر حسن الظن به سبحانه ، والثقة في عظيم كرمه وواسع رحمته ، وأنه لا يخيب ظن عبد ظن به خيرا .

وقد روى مسلم ( 2877 ) عَنْ جَابِرٍ، قَالَ : ” سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ، يَقُولُ: ( لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ ) ” .

وكذلك الإكثار من مكفرات الذنوب وماحيات الآثام من الاستغفار والمحافظة على الوضوء والصلاة والحج والعمرة ونحو ذلك .

خامسا :

سكرات الموت آخر شدة يلقاها العبد قبل لقاء الله ، وسكرات الموت هي آخر ما يكفر الله به عن عبده ، نسأل الله أن يخفف عنا هذه السكرات وأن يعيننا عليها .

روى البخاري ( 4449 ) عن عَائِشَةَ : ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في مرضه الذي تُوُفِّيَ فِيه جَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي المَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ ، يَقُولُ : ( لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ) ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ ، فَجَعَلَ يَقُولُ : ( فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى ) حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ يَدُهُ ” .

وروى الترمذي ( 978 ) عَنْ عَائِشَةَ : ” أَنَّهَا قَالَتْ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ ، ثُمَّ يَقُولُ : (اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ) .

حسنه الحافظ في “الفتح” ( 11/362 ) وضعفه الألباني في ” ضعيف الترمذي “.

سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :

هل تخفف صعوبة سكرات الموت من الذنوب ، وكذلك المرض الذي يسبق الموت هل يخفف من الذنوب ؟/”

\’.’;

فأجاب :

” كل ما يصيب الإنسان من مرض أو شدة أو هم أو غم ، حتى الشوكة تصيبه فإنها كفارة لذنوبه ، ثم إن صبر واحتسب كان له مع التكفير أجر ذلك الصبر الذي قابل به هذه المصيبة التي لحقت به ، ولا فرق في ذلك بين ما يكون في الموت وما يكون قبله ” انتهى من ” فتاوى نور على الدرب ” ( 24 / 2 ) بترقيم الشاملة .

ومع شدة الموت وسكرته ، فإن ما يلقاه المؤمن من البشارة والتثبيت عند موته ؛ مما يهون عليه ما يلقى ، ويشوقه إلى ما بعده من لقاء الله .

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله :

” الْمَيِّت لَا يَعْدُو أَحَدَ الْقِسْمَيْنِ : إِمَّا مُسْتَرِيحٌ وَإِمَّا مُسْتَرَاحٌ مِنْهُ ، وَكُلٌّ مِنْهُمَا يَجُوزُ أَنْ يُشَدَّدَ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَوْتِ ، وَأَنْ يُخَفَّفَ ، وَالْأَوَّلُ هُوَ الَّذِي يَحْصُلُ لَهُ سَكَرَاتُ الْمَوْتِ وَلَا يَتَعَلَّقُ ذَلِكَ بِتَقْوَاهُ وَلَا بِفُجُورِهِ ، بَلْ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ التَّقْوَى ازْدَادَ ثَوَابًا ، وَإِلَّا فَيُكَفَّرُ عَنْهُ بِقَدْرِ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَسْتَرِيحُ مِنْ أَذَى الدُّنْيَا الَّذِي هَذَا خَاتِمَتُهُ ، وَقَدْ قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ : مَا أُحِبُّ أَنْ يُهَوَّنَ عَلَيَّ سَكَرَاتُ الْمَوْتِ ، إِنَّهُ لَآخِرُ مَا يُكَفَّرُ بِهِ عَنِ الْمُؤْمِنِ.

وَمَعَ ذَلِكَ فَالَّذِي يَحْصُلُ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْبُشْرَى ، وَمَسَرَّةِ الْمَلَائِكَةِ بِلِقَائِهِ ، وَرِفْقِهِمْ بِهِ ، وَفَرَحِهِ بِلِقَاءِ رَبِّهِ : يُهَوِّنُ عَلَيْهِ كُلَّ مَا يَحْصُلُ لَهُ مِنْ أَلَمِ الْمَوْتِ ، حَتَّى يَصِيرَ كَأَنَّهُ لَا يُحِسُّ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ ” انتهى من “فتح الباري” ( 11 / 365 ) .

راجع إجابة السؤال رقم : ( 135314 ) .

ولا نعلم طريقة تخفف من سكرات الموت ، إلا أن يفزع العبد إلى ربه في ذلك ، ويدعو به في العسر واليسر ، ولعلنا أن نفعل مثل ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعل ، حيث كان يدخل يديه في الماء ثم يمسح بهما وجهه ويسأل الله أن يعينه على سكرات الموت – كما تقدم – .

على أن بعض السلف كانوا يرون في هذه الشدة الرحمة كما تقدم عن عمر بن عبد العزيز ، وروى عبد الله بن أحمد في “زوائد الزهد” (ص 388 ) عن إبراهيم النخعي قال : ” كانوا يستحبون للمريض أن يجهد عند الموت ” وعن منصور : ” أن إبراهيم كان يحب شدة النزع “.

ولا نعلم أحدا ينجو من هذه الشدة إلا الشهيد ، فقد روى الإمام أحمد ( 7953 ) ، والترمذي ( 1668 ) وصححه ، والنسائي ( 3161 ) ، وابن ماجة ( 2802 ) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ، إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مَسِّ الْقَرْصَةِ ) وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي ” وغيره .

قال المناوي رحمه الله :

” يعني أنه تعالى يهون عليه الموت ويكفيه سكراته وكربه ، بل رب شهيد يتلذذ ببذل نفسه في سبيل الله طيبة بها نفسه ؛ كقول خبيب الأنصاري حين قتل:

ولست أبالي حين أقتل مسلما ** علي أي شق كان لله مصرعي ”

انتهى من ” فيض القدير” ( 4 / 182 ) .

سادسا :

الأعمال الصالحة هي كل ما أمر به الشارع وحض عليه وندب إليه ، وبعضها أفضل من بعض ، ومن أفضل الأعمال الصالحة التي يتقرب بها العبد من ربه ، وينصح المسلم بالمداومة عليها : كثرة ذكر الله وتلاوة القرآن وبر الوالدين وصلة الرحم والحج والعمرة وصلاة الليل وصدقة السر وحسن الخلق وإفشاء السلام وإطعام الطعام وصدق الحديث والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وحب الخير للناس وكف الأذى عنهم والتعاون على البر والتقوى والإصلاح بين الناس ونحو ذلك من أعمال البر .

وراجع للمزيد إجابة السؤال رقم : ( 26242 ) .

وننصح الأخت السائلة أن تجعل من ذكر الموت وشدته ما يحثها على تقوى الله والعمل الصالح ؛ فإن العبد إذا اتقى الله وأحسن العمل يسر الله عليه كل عسير ، وفرج عنه كل هم ، وكشف عنه كل شدة .

ينظر للفائدة إجابة السؤال رقم : ( 8829 ) .

والله أعلم .

موقع الإسلام سؤال وجواب

Sumber: http://wanitasalihah.com/kupas-tuntas-firasat-menjelang-kematian/

MAKAR ORANG KAFIR TERHADAP KAUM MUSLIMIN

MAKAR ORANG KAFIR TERHADAP KAUM MUSLIMIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

MAKAR ORANG KAFIR TERHADAP KAUM MUSLIMIN

Pada zaman kita ini, tipu daya orang-orang kafir semakin meningkat, sampai tipu daya ini memasuki rumah-rumah kaum Muslimin. Orang-orang kafir ini ingin mengikis agama kaum Muslimin, menggoncang keimanan mereka, menghancurkan perilaku mereka, menebarkan keburukan dan perbuatan hina di tengah kaum Muslimin, mengeluarkan mereka dari penjagaan Islam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mewujudkan keinginan busuk mereka.

Pada zaman dahulu, orang-orang kafir tidak leluasa menyusupkan racun (pemikiran-pemikiran) mereka ke pemikiran-pemikiran para pemuda Muslim. Mereka tidak mampu menampakkan kekufuran, penyelewengan, perbuatan tak senonoh mereka. Tapi sekarang, pemikiran mereka diterbangkan oleh angin, angin yang bisa membinasakan. Bahkan angin-angin berapi yang menghancurkan agama dan perilaku terpuji, mencabut akar akhlak terpuji, kebaikan serta sendi-sendi al-haq dan keyakinan.

Melalui berbagai cara, orang-orang kafir itu mampu memasuki akal-akal dan pikiran pemuda Muslim. Mereka juga mampu menyelinap ke rumah-rumah kaum Muslimin guna membawa keburukan dan racun-racun mereka, menebarkan kekufuran, penyelewengan dan perbuatan tak senonoh mereka. Mereka menyebarkan perilaku hina dan rendahan mereka melalui pentas-pentas, pendidikan-pendidikan buruk dan keji.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا {15} وَأَكِيدُ كَيْدًا {16}

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya (QS. At-Thariq: 15-16)

  • Inilah sebagian kegiatan yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai oleh orang-orang kafir. Lalu apa kewajiban kita?
  • Layakkah bagi seorang Muslim untuk mendengarkan makar, keburukan dan kedustaan mereka ?
  • Layakkah bagi seorang Muslim untuk membiarkan dirinya dan keluarganya duduk menyaksikan apa yang mereka sebarkan?
  • Layakkah bagi seorang Muslim memilih untuk diri dan keluarganya suatu kehinaan, perbuatan tercela ?

Sesungguhnya Allah telah memeringatkan kepada hamba-hamba-Nya UNTUK TIDAK CONDONG KEPADA ORANG-ORANG KAFIR, dan telah menjelaskan besarnya keburukan mereka, juga menjelaskan jalan keselamatan, yaitu berpegang kepada agama Allah, mengikuti Sunnah Rasul-Nya ﷺ, dan bersabar di atasnya, sampai menghadap kepada-Nya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Selamatkan Generasi Muda Dari Para Perusak”

Majalah as-Sunnah edisi 11/Thn XV/Rabi’ul Akhir 1433H/Maret 2013 M

 

Sumber: https://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2016/07/21/selamatkan-generasi-muda-dari-para-perusak/

 

 

,

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

Orang yang sakit juga selayaknya semakin bergembira mendengar berita ini, karena kesusahan, kesedihan, dan rasa sakit karena penyakit yang ia rasakan, akan menghapus dosa-dosanya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi ﷺ ketika sakit. Sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:

إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قُلْتُ إِنَّ ذَاكَ بِأَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sepertinya Anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat. Oleh karena itukah Anda mendapatkan pahala dua kali lipat?” Beliau ﷺ menjawab: “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan, melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.” [HR. Al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571]

Dan beliau ﷺ juga bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،

حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu, melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” [HR. Muslim no. 2572].

 

Bergembiralah saudaraku. Bagaimana tidak. Hanya karena sakit tertusuk duri saja, dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang.

Sekali lagi bergembiralah. Karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa, bahkan tidak memunyai dosa sama sekali. Kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci, sebagaimana anak yang baru lahir. Nabi ﷺ bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ

حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan Shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

Hadis ini sangat cocok bagi orang yang memunyai penyakit kronis, yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya Surga telah menunggunya.

Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada Hari Kiamat nanti banyak orang yang berandai-andai, jika mereka ditimpakan musibah di dunia, sehingga menghapus dosa-dosa mereka, dan diberikan pahala kesabaran. Nabi ﷺ bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ

مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.

”Manusia pada Hari Kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.” [HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.]

Bagaimana kita tidak gembira dengan berita ini? Orang-orang yang tahu kita sakit, orang-orang yang menjenguk kita ,orang-orang yang menjaga kita sakit, kelak di Hari Kiamat sangat ingin terbaring lemah seperti kita tertimpa penyakit.

Yang berikut ini adalah jawaban serta jalan keluar dari Allah, yang langsung tertulis dalam kitab-Nya mengenai beberapa keluhan yang muncul dalam hati manusia yang lemah [Sumber ini didapat di file komputer kami. Kami tidak tahu penulisnya. Jika tahu, kami akan meminta izin untuk menukilnya]

– Mengapa saya di uji (dengan penyakit ini)?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. 29:3)

– Mengapa saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan (berupa  kesehatan)?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

– Mengapa ujian (penyakit) seberat ini?

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

– Saya mulai frustasi dengan ujian (penyakit) ini.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3:139)

– Bagaimanakah saya menghadapinya?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. 3:200)

– Apa yang saya dapatkan dari semua ini?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka, dengan memberikan Surga untuk mereka.” (QS. 9:111)

-Kepada siapa saya berharap?

“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Sesembahan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang Agung”. (QS. 9:129)

– Saya sudah tidak dapat bertahan lagi dalam menanggung beban ini!

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

 

Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Orang Yang Sakit Selayaknya Bergembira” oleh: dr. Raehanul Bahraen

Muraja’ah: Al-Ustdaz Fakhruddin, Lc [Mudir Ma’had Abu Hurairah Mataram]

[https://Muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/orang-yang-sakit-selayaknya-bergembira.html

, ,

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#Dakwah_Tauhid
#Kajian_Sunnah

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

Untuk saudaraku mahasiswa Muslim dan kaum Muslimin secara umum rahimakumullaah -semoga Allah merahmatimu-. Sungguh aku mencintai kalian karena Allah subhanahu wa ta’ala, luangkanlah sejenak waktumu tuk membaca goresan singkat ini.

Ketahuilah wahai saudaraku, menuntut ilmu agama, mengamalkannya dan mendakwahkannya, terutama ilmu tauhid dan sunnah, adalah kunci keselamatan di dunia dan Akhirat.

➡ Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mendapat petunjuk.” [Al-An’am: 82]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/445573202258834:0

Karena hanya dengan itulah seorang hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaannya di muka bumi untuk beribadah kepada Allah ta’ala.

➡ Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [Adz-Dzariyyat: 56]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/446534128829408:0

Oleh karena itu, berdakwah kepada tauhid adalah perhatian utama para pejuang yang sejati, para teladan yang dipilih Allah ta’ala untuk menjadi contoh sepanjang umur dunia. Merekalah para pembela kebenaran yang hakiki. Tidak ada manusia yang lebih baik dari mereka, yaitu para nabi dan rasul ‘alaihimus sholaatu was salaam. Tugas utama mereka adalah berdakwah kepada tauhid, menyelamatkan manusia dari lembah kesyirikan dan kekafiran, demi meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan Akhirat.

➡ Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut (yang disembah selain Allah) itu.” [An-Nahl: 36]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/448489465300541:0

Dan tauhid yang melahirkan iman dan amal saleh adalah KUNCI KEMAKMURAN NEGERI.

➡ Allah ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu, dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada memersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nur: 55]

➡ Allah ta’ala juga berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

Para ulama ahli tafsir menyebutkan, bahwa makna kehidupan yang baik dalam ayat yang mulia ini mencakup:

  • Pertama: Rezeki yang baik lagi halal di dunia dan diberikan dari arah yang tidak ia sangka-sangka.
  • Kedua: Bersifat qona’ah (merasa cukup berapa pun rezeki yang Allah ta’ala anugerahkan).
  • Ketiga: Beriman kepada Allah ta’ala dan selalu taat kepada-Nya.
  • Keempat: Meraih manisnya ketaatan kepada Allah ta’ala.
  • Kelima: Keselamatan dan kecukupan.
  • Keenam: Kebahagiaan di dunia.
  • Ketujuh: Rida dengan takdir Allah ‘azza wa jalla.
  • Kedelapan: Kenikmatan di kubur.
  • Kesembilan: Kenikmatan di Surga.
  • Kesepuluh: Ketenangan jiwa.

[Lihat Tafsir Ath-Thabari, 17/289-291, Zadul Masir libnil Jauzi, 2/582 dan Tafsir As-Sa’di, hal. 448]

Simak pembahasan lebih detail: http://sofyanruray.info/jalan-kebahagiaan-setiap-hamba/

Wahai saudaraku mahasiswa Muslim dan kaum Muslimin seluruhnya rahimakumullaah –semoga Allah merahmatimu-. Inilah jalan untuk memerbaiki negeri, yaitu iman dan amal saleh, yang mencakup dua perkara penting:

  • Menauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun,
  • Meneladani Rasulullah ﷺ dan tidak mengada-ada (berbuat bid’ah) dalam agama atau menyelisihi syariat beliau.

Apa Langkah Awal Untuk Menempuh Jalan Perbaikan Ini…?

Pertama kali adalah memerbaiki diri kita sendiri dengan menuntut ilmu agama dan mengamalkannya dengan baik, kemudian memerbaiki orang lain.

Karena tidak mungkin kita dapat beriman dan beramal saleh dengan benar tanpa ilmu yang shahih, yaitu ilmu yang berdasarkan Alquran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf.

Adapun demo-demo yang kalian lakukan, sungguh hanyalah mendatangkan mudarat, jauh melebihi manfaatnya –jika ada manfaatnya-.

Di antara mudarat besar yang sudah sangat merugikan masyarakat adalah memacetkan jalan. Bayangkanlah jika ternyata ada orang sakit atau ibu yang mau melahirkan yang sangat butuh pertolongan darurat, kemudian terjebak macet akibat demo-demo kalian…?!

Tidak ingatkah kalian akan pertanggungjawabannya di hadapan Allah jalla wa ‘ala kelak di Hari Kiamat…?!

Dan inilah ringkasan beberapa MUDARAT DEMONSTRASI yang diingatkan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah:

  1. Memrovokasi masyarakat untuk memberontak kepada Penguasa. Terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh Penguasa, maka akibatnya akan semakin memrovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum Muslimin (lihat Fathul Bari, 13/51-52).
  1. Cara mengingkari kemungkaran Penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya (lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619).
  1. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada Penguasa, yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan Pemerintah Muslim (lihat Umdatul Qaari, 22/33).
  1. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati Penguasa dalam hal yang baik (lihat Haqqur Ro’i, hal. 27).
  1. Menyebabkan permusuhan antara Pemimpin dan rakyatnya (lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99).
  1. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh Penguasa (lihat Fathul Bari, 13/52).
  1. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang Muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang Mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum Khawarij (lihat Syarah Muslim, 18/118).
  1. Menghinakan Sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai Penguasa bagi kaum Muslimin (lihat As-Sailul Jarror, 4/556).
  1. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya (lihat Madarikun Nazhor, hal.211).
  1. Mengganggu ketertiban umum.
  1. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan.
  1. Mengganggu stabilitas ekonomi.
  1. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun.
  1. Menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ dan sahabat dalam menasihati Penguasa.
  1. Mengikuti jalan Ahlul Bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:  http://sofyanruray.info/nasihatku-untuk-mahasiswa-tinggalkan-jalanan-datangi-majelis-ilmu/

 

,

RAHASIA ‘KEKUATAN’

RAHASIA 'KEKUATAN'

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#NasihatUlama

RAHASIA ‘KEKUATAN’

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

يقال: إن كل من كان أتقى فشهوته أشد؛ لأن الذي لا يكون تقيا فإنما يتفرج بالنظر والمس، ألا ترى ما روي في الخبر: “العينان تزنيان واليدان تزنيان”. فإذا كان في النظر والمس نوع من قضاء الشهوة قل الجماع، والمتقي لا ينظر ولا يمس فتكون الشهوة مجتمعة في نفسه فيكون أكثر جماعا

“Dikatakan bahwa: Sungguh semakin bertakwa seseorang, maka syahwatnya semakin kuat; karena orang yang tidak bertakwa menyalurkan syahwatnya dengan memandang dan menyentuh lawan jenis yang haram. Tidakkah engkau lihat dalam hadis: “Dua mata itu berzina dan dua tangan itu berzina”.

Maka apabila seseorang memandang dan menyentuh lawan jenis yang haram, tersalurkanlah syahwatnya, sehingga berkurang kemampuan jima’nya. Adapun orang yang bertakwa, tidak memandang dan menyentuh lawan jenis yang haram, maka terkumpullah syahwatnya dalam dirinya, sehingga menjadi yang paling kuat berjima’.”

[Tafsir Al-Qurthubi, 5/253]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1899110073655128:0