Posts

, , ,

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
 
Bukanlah termasuk petunjuk Rasulullah ﷺ, seseorang berdoa setelah salam dari shalat, kecuali jika itu adalah untuk menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat. Di antara yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ adalah SETELAH salam, dengan mengucapkan istighfar sebanyak tiga kali yaitu: Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah (maknanya adalah ‘Aku memohon ampun pada Allah’). Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ jika berpaling (selesai) menunaikan shalatnya, beliau ﷺ mengucapkan ‘Astagfirullah’ sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengucapkan ‘Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta yaa dzal jalali wal ikrom’. [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih, termasuk periwayat kitab Shahih. Syaikh Al Albani dalam Al Kalamu Ath Thoyib mengatakan bahwa hadis ini Shahih].
 
Adapun jika tujuan doa tersebut selain daripada menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat, maka lebih utama doa tersebut dilakukan SEBELUM SALAM. Sebagaimana dapat dilihat dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma berikut ini, Rasulullah ﷺ pernah mengajarkannya Tasyahud padanya, lalu beliau ﷺ bersabda:
 
ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ
 
“Kemudian terserah dia memilih doa yang dia sukai untuk berdoa dengannya.” [HR. Abu Daud no. 825]
 
Dalam lafal lain:
ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
 
“Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah Tasyahud), doa yang dia kehendaki (dia sukai).” [HR. Muslim no. 402, An Nasa’i no. 1298, Abu Daud no. 968, Ad Darimi no. 1340]
 
Jadi apabila kita ingin berdoa kepada Allah, maka berdoalah kepada-Nya SEBELUM salam. Hal ini karena dua alasan:
 
Alasan pertama: Inilah yang diperintahkan oleh Rasul ﷺ. Beliau ﷺ membicarakan tentang Tasyahud, “Jika kalian selesai (dari Tasyahud), maka pilihlah doa yang kalian suka berdoa dengannya.”
 
Alasan kedua: Jika engkau berada dalam shalat, maka berarti engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu. Jika engkau telah selesai mengucapkan salam, berakhir pula munajatmu tersebut. Lalu manakah yang lebih afdhal (lebih utama), apakah meminta pada Allah ketika bermunajat kepada-Nya, ataukah setelah engkau berpaling (selesai) dari shalat? Jawabannya, tentu yang pertama, yaitu ketika engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu.
 
Adapun ucapan zikir setelah menunaikan shalat (setelah salam), yaitu ucapan Astagfirullah sebanyak tiga kali, ini memang doa, namun ini adalah DOA YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT. Ucapan istighfar seseorang sebanyak tiga kali setelah shalat bertujuan untuk menambal kekurangan yang ada dalam shalat. Maka pada hakikatnya, ucapan zikir ini adalah pengulangan dari shalat.
 
Adakah dalil yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ ketika selesai shalat Subuh berpaling ke makmum, lalu mengangkat kedua tangannya (untuk berdoa). Apakah hadis tersebut Shahih?
Syaikh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab: Hadis ini tidak diketahui periwayatannya. Jika pun ada, maka hadis ini adalah hadis yang lemah. [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, kaset no. 82]
 
Sumber:
,

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

Merupakan hal yang terlihat kurang lazim di masyarakat kita, apabila selesai shalat tidak berdoa. Bisa dimaklumi tentunya, mengingat inilah hal yang telah membudaya sejak lama di negeri kita. Tapi tak ada salahnya jika kita sedikit memelajari, bagaimana tinjauan agama dalam masalah ini, agar kita benar-benar berada di atas petunjuk yang nyata tentangnya.

Untuk itu, kami akan bawakan sebuah penjelasan dari asy-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah mengenai hal ini. Kita simak bersama, apa yang beliau utarakan, beserta dalil-dalil yang beliau bawakan, agar dengan itu kiranya kita bisa dengan lapang dada dalam menjalankannya.

Dalam salah satu pertanyaan yang diajukan pada beliau disebutkan:

السؤال: بعض الناس في صلاة الفرض يرفعون أيديهم بعد الدعاء فما رأيكم؟

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat Anda terkait amalan sebagian orang yang berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat wajib?

 

: الجواب

[الدعاء بعد الصلاة ليس بسنة, لأن الله تعالى قال: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

إلا في حالة واحدة وهي صلاة الاستخارة؛ لأن صلاة الاستخارة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم: « إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليدعو» فجعل الدعاء بعد صلاة الركعتين. أما ما سواها من الصلوات فليس من السنة أن يدعو سواءً رفع يديه أم لم يرفع، وسواءً في الفريضة أو في النافلة؛ لأن الله أمر بذكره بعد انتهاء الصلاة

[فقال سبحانه وتعالى: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

[وقال في سورة الجمعة: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ [الجمعة:10

:وإنما يقال للإنسان: إذا كنت تريد أن تسأل الله شيئاً فادعو الله قبل أن تسلم؛ لوجهين

الوجه الأول: أن هذا هو الذي أمر به الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال في التشهد: إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

ثانياً: أنك إذا كنت في الصلاة فإنك تناجي ربك، وإذا سلمت انتهت المناجاة. فهل الأفضل: أن تسأل الله في حال مناجاتك إياه، أو بعد انصرافك من المناجاة؟ الجواب: الأول. تدعو وأنت تناجي ربك

Jawaban:

“Berdoa setelah shalat bukan amalan sunnah. Karena Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Kecuali pada satu jenis shalat, yaitu shalat istikharah. Terkait shalat istikharah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila salah seorang kalian telah bertekad terhadap suatu perkara, maka hendaknya dia shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoa…”[HR. al-Bukhari, no. 1162]

Dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menetapkan, bahwa doa dilakukan setelah mengerjakan shalat dua rakaat. Adapun selain shalat istikharah, bukan termasuk sunnah, jika berdoa setelahnya, dengan mengangkat tangan ataupun tidak, shalat sunnah ataukah wajib. Karena Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya setelah selesai shalat (bukan berdoa, pent). Dia berfirman dalam ayat-Nya:

(فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ)

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Dan dalam surah al-Jumu’ah:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah pada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)

Maka yang benar, kita katakan: “Apabila Anda ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka berdoalah sebelum Anda salam, di waktu shalat. Ini berdasar pada dua alasan:

  • Alasan pertama, sesudah bacaan Tahiyyat sebelum salam merupakan waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Beliau ﷺ bersabda terkait Tasyahhud:

إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

“Apabila dia telah selesai dari bacaan Tahiyyat, silakan dia berdoa sesuai dengan permohonan yang dia inginkan.” [HR. al-Jama’ah]

  • Alasan kedua, di saat Anda shalat, sesungguhnya Anda tengah bermunajat pada Allah. Dan jika sudah salam, maka berakhirlah waktu munajat Anda. Maka mana yang lebih utama:

(1) Anda berdoa saat masih bermunajat pada-Nya atau

(2) Saat Anda sudah tidak lagi bermunajat?

Tentu yang pertama jawabannya. Berdoa saat masih bermunajat pada Allah.”

[Liqaa Baab al-Maftuuh ma’a asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin no. 82]

Suara asli beliau dengan berbahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut:

 

 

Demikian penjelasan dari beliau rahimahullah.

Jadi kesimpulannya, bahwa berdoa setelah shalat bukan hal yang disunnahkan. Meski kita pun juga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang haram. Silakan dia berdoa pada sebagian waktu saat, selesai shalat jika ingin. Namun apabila dilakukan terus menerus, maka ini pun bukan hal yang baik, karena itu berarti dia telah menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ. Sedang beliau ﷺ bersabda dalam hadisnya:

.وَ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad ﷺ.” [HR. al-Bukhari, no. 6098]

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalaamin. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/206/habis-shalat-berdoa#sthash.i9JNcgYg.dpuf

,

TIDAK ADA YANG MENGHALANGI MASUK SURGA KECUALI KEMATIAN

TIDAK ADA YANG MENGHALANGI MASUK SURGA KECUALI KEMATIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TIDAK ADA YANG MENGHALANGI MASUK SURGA KECUALI KEMATIAN

> Bacalah Ayat Kursi Setiap Selesai Shalat Fardhu (Wajib)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ

“Barang siapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai menunaikan shalat fardhu (wajib), maka tidak ada yang menghalanginya masuk Surga, kecuali kematian.” [Sahih; H.R. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 7532, Al-Jami’ush Shaghir wa Ziyadatuhu, no. 11410]

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/5549-zikir-dan-doa-sesudah-shalat-fardhu.html

 

 

,

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahSholatJumat

MENGANTUK SAAT KHOTBAH JUMAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya jika saya sering ngantuk saat khotbah Jumat. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila penanya sengaja tidak istirahat, maksimal di malam atau pagi sebelum pelaksanaan shalat Jumat, sehingga penanya mengantuk dan sampai mengantarkan penanya kepada tidur pulas, maka penanya telah melakukan kesalahan.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama’ yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:

“Sebagian orang, termasuk saya sendiri, tidur pada saat khotbah Jumat disampaikan. Apa hukum tindakan ini?”

Mereka menjawab: Seorang Muslim wajib diam menyimak khotbah Jumat yang disampaikan, dan menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi itu, seperti berbicara, tidur atau mengantuk. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dalam kitab Sahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«من اغتسل ثم أتى الجمعة فصلى ما قدر له ثم أنصت حتى يفرغ الإمام من خطبته ثم يصلي معه غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى وفضل ثلاثة أيام

“Barang siapa mandi, kemudian mendatangi shalat Jumat, lalu mengerjakan shalat (sunnah) sesuai kemampuannya, lalu tenang mendengarkan khotbah sampai imam selesai berkhotbah, kemudian mengerjakan shalat Jumat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya, antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, serta tambahan tiga hari.”

Dan juga sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من تكلم يوم الجمعة والإمام يخطب فهو كمثل الحمار يحمل أسفارا، والذي يقول له أنصت ليس له جمعة

“Barang siapa yang berbicara pada saat imam khotbah Jumat, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jumat baginya (artinya: ibadah Jumatnya tidak sempurna).”

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan status sanad yang bisa diterima. Dan semua ini karena eksistensi khotbah yang sangat agung yang terkandung di dalamnya, berikut dengan pelajaran, bimbingan, dakwah kepada kebaikan, dan mengingatkan seorang Muslim kepada Allah ta’ala.”

Oleh sebab itu, seorang Muslim wajib menyadari akan hal ini, tidak bermain-main dan lalai, karena mengingat ancaman yang sangat keras, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

  • Bakar Abu Zaid  selaku Anggota
  • Shalih al-Fawzan selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/135-136 Pertanyaan ketiga dari Fatwa nomor 18192 ]

Terkait hukumnya tidur dilihat dari sisi batalnya wudhu, mereka juga ditanya:

“Sebagian orang tidur di masjid sambil bertasbih dengan alat tasbih. Apakah dia wajib berwudu kembali sebelum menunaikan shalat?”

Mereka menjawab: “Segala puji hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau.

Tidur lelap memiliki risiko membatalkan wudhu. Oleh sebab itu, orang yang tidur lelap di dalam masjid atau di tempat lain, maka dia wajib berwudhu kembali, baik tidur dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, meskipun sambil memegang alat tasbih ataupun tidak. Namun, jika dia tidak tertidur lelap — seperti mengantuk yang tidak kehilangan kesadaran– maka tidak wajib berwudhu kembali. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis shahih dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal tersebut secara detail.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

  • Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
  • Abdullah bin Qu’ud selaku Anggota
  • Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
  • Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua
  • Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
  • [Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/283-284  Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 3030]

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/6295-ngantuk-saat-khotbah-jumat

,

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

KUPAS TUNTAS TANDA HAID TELAH BERHENTI

Haid wanita dimulai dengan keluarnya darah haid, baik berupa bercak, ataupun darah kental, dan diakhiri dengan tanda suci haid. Jika telah muncul tanda suci, wanita tersebut berkewajiban melaksanakan shalat, puasa dan perintah agama lainnya.

Apa Saja Tanda Suci Haid?

Para ulama menegaskan bahwa tanda suci haid ada dua:

  1. Jufuf (kering): Yaitu, jika diletakkan kain atau kapas di kemaluan wanita, tidak akan dijumpai darah. Kapas tetap kering dan bersih. (Shahih Fiqh Sunnah 1/207,  Syarh Mumti’ 1/433, Mukhtashar Khaliil, 2/502)

2. Qashshatul Baidha. Apa itu Qashshatul Baidha?

أن يخرج من فرج المرأة ماء كالجير فالقصة من القص وهو الجير لأنها ماء يشبهه وقيل يشبه العجين وقيل شيء كالخيط الأبيض

وروى ابن القاسم كالبول وعلي كالمني قال بعضهم : يحتمل اختلافها باعتبار النساء وأسنانهن والفصول والبلدان إلا أن الذي يذكره بعض النساء يشبه المني

Yaitu cairan putih seperti kapur, yang keluar dari kemaluan wanita. Ada yang berpendapat, qashshah itu mirip adonan (tepung). Pendapat lain mengatakan: qashshah adalah cairan seperti benang putih.

Diriwayatkan dari Ibnul Qasim, bahwa qashshah seperti halnya kencing. Dan diriwayatkan dari Ali, cairan itu seperti mani. Sebagian ulama Malikiyyah menjelaskan, bahwa bisa jadi cirinya berbeda, melihat kondisi tiap wanita dan usianya, iklim cuaca, dan lingkungan tempat tinggal. Hanya saja disebutkan sebagian wanita, bahwa qashshah itu cairan mirip mani. (Syarh Mukhtashar Khalil, 2/502)

Lalu Tanda Suci Mana yang Harus Dipakai?

Pada umumnya, tanda seorang wanita telah selesai dari haid, dengan keluarnya cairan putih (Qashshatul Baidha). Kecuali jika kebiasaaanya tidak keluar cairan putih, maka yang menjadi acuan adalah al-Jufuf (kering).

Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu Alqamah, beliau berkata:

Dahulu ada beberapa wanita menemui ibunda kaum Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu’anha, dengan membawa kapas yang terdapat cairan kekuningan (shufrah), yang berasal dari darah haid. Mereka bertanya tentang hukum shalat, tatkala keluar cairan tersebut. Beliau radhiyallahu’anha menjawab:

لا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنَ الْحَيْضَةِ.

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci), sampai kalian melihat Qashshatul Baidha’ (Cairan Putih) sebagai tanda suci dari haid.” (HR. Abu Dawud 307, An Nasai 1/186, Ibnu Majah 647)

Wanita yang tidak mengalami keluarnya cairan putih tatkala haid berhenti, maka tanda sucinya dengan jufuf. Keterangan ini dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, di mana beliau mengatakan:

“Suatu yang diketahui oleh para wanita, adalah keluarnya cairan putih ketika haid telah berhenti. Akan tetapi sebagian wanita tidak keluar cairan ini. Maka tatkala itu ia tetap dalam kondisi haid, karena tidak melihat cairan putih. Dan tanda suci wanita tersebut dengan cara meletakkan kapas putih di kemaluannya, sementara kapas tidak berubah (tetap kering dan bersih).” (Syarhul Mumti’ 1/433)

Tanda Suci Wanita Tergantung Kebiasaannya

Madzab Malikiyyah merinci kebiasaan suci dengan jufuf dan cairan putih pada diri seorang wanita dengan penjelasan yang gamblang, walhamdulillah.

Al Khurasyi berkata:

أن القصة أبلغ أي أقطع للشك وأحصل لليقين في الطهر من الجفوف لأنه لا يوجد بعدها دم ، والجفوف قد يوجد بعده وأبلغية القصة لا تتقيد عند ابن القاسم بمعتادتها فقط بل هي أبلغ من الجفوف لمعتادتها ولمعتادتهما ولمعتادة الجفوف فقط لكن إذا رأت معتادة القصة فقط أو مع الجفوف الجفوف فتنتظر القصة لآخر الوقت المختار

Tanda suci dengan cairan putih lebih menghilangkan keraguan, dan lebih meyakinkan, bahwa itu telah suci, dari pada tanda jufuf. Karena jika telah keluar cairan putih, tidak akan keluar darah lagi. Adapun tanda suci jufuf terkadang masih keluar darah, setelah tanda tersebut muncul. Ibnul Qasim berpendapat, kepastian tanda suci dengan cairan putih tidak perlu diragukan lagi bagi seorang wanita, yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih. Bahkan tanda ini lebih meyakinkan dari pada jufuf, bagi wanita yang memiliki kebiasaan tanda suci dengan cairan putih saja. Atau wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih sekaligus jufuf, atau wanita dengan kebiasaan suci dengan jufuf saja. Akan tetapi jika wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih saja, atau kedua-duanya (suci dengan cairan putih dan jufuf) melihat tanda jufuf, maka hendaknya dia menunggu cairan putih keluar, sampai akhir waktu terpilih (yang menjadi kebiasaannya). (Syarh Mukhtashar Khaliil 2/502)

Dari penjelasan ulama Malikiyyah di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:

  1. Jika wanita dengan kebiasaan suci dengan cairan putih lalu mendapati tanda jufuf, maka dia harus menunggu sampai keluar cairan putih, sampai waktu terpilih, yaitu sampai satu hari misalnya. Batas waktu satu hari ini merupakan pendapat Ibnu Utsaimin dan Ibnu Qudamah rahimahullah. Beliau rahimahullah menegaskan:

فعلى هذا لا يكون انقطاع الدم أقل من يوم طهرا

“Dengan demikian, terputusnya darah selama kurang dari sehari, tidaklah dianggap sebagai suci. (Al Mughni, 1/399)

2. Jika wanita dengan kebiasaan suci dengan jufuf, lalu mendapati cairan putih, maka tidak perlu menunggu jufuf. Namun jika pertama kali yang di lihat tanda jufuf, maka tidak perlu menunggu cairan putih.

3. Jika wanita yang memiliki kebiasaan suci dengan kedua tanda tersebut, lalu mendapati tanda jufuf keluar, maka dia harus menunggu cairan putih, sampai batas waktu terpilih seperti poin 1. Namun jika yang nampak pertama kali tanda cairan putih, maka tidak perlu menunggu jufuf.

Bagaimana Tanda Berhenti dari Nifas?

Saudariku, tanda suci wanita haid juga berlaku bagi wanita nifas. Tidak ada perbedaan.

Imam Syaukani berkata dalam Nailul Authar (1/286):

“Para ulama telah sepakat, bahwasanya hukum nifas sama dengan haid, dalam perkara yang dibolehkan, perkara yang dilarang, yang dibenci serta yang dianjurkan.” (Shahih Fiqh Sunnah, 1/216).

Wallahua’lam

وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين

Penyusun: Ummu Fatimah

Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

[Artikel WanitaSalihah.Com]

Maraji’:

Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal, Makatabah Taufiqiyyah.

Asyarhul Mumti’Ala Zaadil Mustaqni’, Muhammad Shalih Al Utsaimin, Muassasah Aasam Riyadh.

http://islamport.com/d/2/mlk/1/19/647.html

Sumber:

http://wanitasalihah.com/kupas-tuntas-tanda-haid-telah-berhenti/#comment-45086

Berikut ini adalah forum tanya jawab dalam website yang sama:

Pertanyaan:

Disebutkan dalam tulisan di atas: “Yaitu cairan putih seperti kapur, yang keluar dari kemaluan wanita. Ada yang berpendapat qashshah itu mirip adonan (tepung). Pendapat lain mengatakan qashshah adalah cairan seperti benang putih.”

Nah kalau dicek dengan kapas putih sudah keluar cairan putih, tapi masih ada sedikit sekali warna kuning mudanya, bagaimana hukumnya? Apakah sudah bisa mandi wajib?

Jawaban:

Insyaallah sudah suci. Yang kami tahu, adonan tepung itu juga tidak putih seperti cat tembok, tapi ya seperti tepung (agak buram sedikit). Allahua’lam

Pertanyaan:

Kalau pada cairan putih tersebut tetap ada warna kuningnya, tetapi tidak sedikit (kira-kira perbandingan warnanya 50:50), apakah sudah suci juga?

Jawaban:

Cairan putih yang menjadi tanda haid itu seperti adonan tepung atau mani atau kencing. Silakan Ukhti pilih yang mana.

Pertanyaan:

Saya memiliki kebiasaan keluar cairan putih seperti tepung. Namun pada haid kali ini, yang keluar cairan putih seperti biasa, tetapi ada cairan warna kuning tua (kira-kira setengah bagian berwarna putih, setengah bagian lain berwarna kuning tua, agak mendekati warna coklat). Makanya saya bingung, apakah sebenarnya saya sudah suci atau belum. Sebaiknya saya tetap menunggu cairan putih, atau mulai mandi wajib? Karena setelah keluar cairan tersebut, setelah saya cek lagi beberapa kali, yang keluar warnanya kuning keruh dan kapas bersih. Apakah sebenarnya saya sudah suci atau belum?

Jawaban:

Terkadang cairan putih sudah keluar lebih dahulu tanpa sepengetahuan wanita haid tersebut, lalu keluar lendir kekuningan. Karena telat mengecek, jadilah lendir putih tadi tertumpuk bersama lendir kuning. Jika kasus Ukhti seperti ini, insyaallah sudah suci. Karena lendir kuning yang keluar setelah cairan putih keluar, bukan lagi darah haid. Wallahuta’ala a’lam

Pertanyaan:

Kebiasaan haid saya 6-7 hari sudah keluar qashash dan saya memastikannya dengan jufuf. Namun kali ini berbeda. Pada hari ketujuh saya masih keluar darah tapi cuma sekali waktu saja. Hari kedelapan (kemarin) saya mandi wajib dan berpuasa, karena saya lakukan jufuf sudah bersih dan kering. Namun malam harinya saya keluar flek kecoklatan. Apa kah saya masih dihitung haid atau sudah suci? Bagaimana puasa saya di hari pertama? Sah atau batal? Dan jika saya ingin berpuasa di hari selanjutnya, apakah boleh?

Jawaban:

Itu masih masa haid. Wallahu a’lam.

Pertanyaan:

Saya haid mulai 29 Mei dan suci 7 Juni. Namun 11 Juni keluar lagi flek kecoklatan. Padahal pada 6 juni darah sudah tidak keluar lagi, dan saya mengecek dengan kapas sudah bersih. Apakah flek tersebut darah haid atau bukan? Dari 7 Juni saya mulai puasa, apakah puasa saya sah dalam kondisi suci?

Jawaban:

Flek 11 Juni bukan haid, karena Ukhti sudah yakin suci 6 Juni. Dan flek coklat yang keluar setelah keluar tanda suci TIDAK lagi dianggap sebagai haid, sebagaimana hadis Ummu Athiyah.

Pertanyaan:

Biasanya masa haid saya 4-5 hari, tapi suka tambah 2 hari untuk memastikan. Kali ini saya menghitung haid sampe hari keenam. Di hari hari keempat dan kelima, sudah tidak keluar darah. Pas hari keenam saya mandi wajib, tapi malamnya kluar flek cokelat sedikit sekali. Apa itu masih darah haid atau bagaimana?

Jawaban:

Maaf Ukhti, apa maksud dengan kalimat Anda: “Tapi suka menambahkan dua hari untuk memastikan?” Haid itu ada batasannya. Apa batasannya? Batasannya ada tidaknya darah. Dan flek yang bersambung dengan darah itu termasuk darah haid.

Jadi kita tidak boleh menambahkan masa haid, padahal sudah bersih. Dan kita juga tidak boleh memercepat masa haid, sementara masih keluar darah/flek.

Pertanyaan:

Saya punya kebiasaan haid hari 1-4 keluar darah merah, hari kelima dan keenam biasanya cuma flek dan cairan kuning. Kemudia hari ketujuh sampai hari kesembilan biasanya sudah kering sampai hari kesepuluh baru keluar cairan putih. Semisal saya mandi wajib pada hari keenam karena merasa sudah kering dan saya yakin tidak kluar darah merah lagi, kemudian pada hari ketujuh saya puasa tapi ternyata keluar cairan kuning sedikit, apakah puasa saya sah?

Jawaban:

Kami hanya menasihati sebagaimana nasihat Ibunda kaum Mukminin,’Aisyah radhiyallahu’anha:

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci), sehingga kalian melihat cairan putih.”

Pertanyaan:

Saya masih bingung dengan waktu pasti, kapan haid itu berhenti. Untuk flek coklat yang muncul di pembalut saya, biasanya tampak hingga hari kedelapan saya haid. Dan setelah itu, yang muncul noda kekuningan dan keruh. Untuk noda kuning/keruh itu, apa termasuk haid juga? Soalnya saya pernah baca artikel yang menyebutkan hadis tentang “Tidak mengganggap warna kekuningan itu sebagai haid”. Mohon penjelasannya. Berdasar kebiasaan, lendir putih saya muncul di hari ke sebelas atau selebihnya, sedangkan flek coklat saya sudah selesai di hari kedelapan. Di hari kesembilan dan kesepuluha dan seterusnya, yang sering muncul adalah warna kekuningan. Mohon dibantu. Katanya kan, yang pasti tanda berhentinya haid itu adalah adanya lendir atau sudah berlangsung lebih dari 15 hari. Makanya untuk cari aman, saya menunggu sampai lendir tersebut muncul (hari ke 11). Tapi saya dilanda keraguan karena melewatkan ibadah di hari ke 9 dan 10, hanya karena keberadaan noda kuning yang saya masih bingung hukumnya bagaimana. Mohon bantuannya. Terimakasih banyak.

Jawaban:

Masalah haid yang menimpa wanita memang menjadi lahan empuk bagi setan, untuk memberi rasa was-was kepada kaum hawa. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan was was yang tersembunyi.

Ukhti, noda coklat, kuning yang bersambung dengan darah haid termasuk haid. Bersabarlah hingga cairan putih keluar setelah itu mandi. Itulah pesan ibunda kita Aisyah radhiyallahu’anha.

Pertanyaan:

Saya punya kebiasaan haid hari pertama hingga hari keempat keluar darah merah. Hari kelima dan keenam cuma flek coklat dan cairan kuning, hari ketujuh sampai kesembilan biasanya sudah kering sampai hari kesepuluh keluar lendir putih. Semisal saya mandi wajib hari keenam karena saya merasa sudah kering, dan biasanya tidak keluar darah lagi, terus hari ketujuh saya puasa, tetapi ternyata keluar cairan kuning sedikit, apakah puasa saya sah? Terus bagaimana seharusnya saya menentukan masa suci, sementara saya mengalami jufuf sekaligus keluar cairan putih, dalam selang waktu yang agak lama (tiga hari)? Ini membingungkan saya. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Kami hanya menasihati, sebagaimana nasihat ibunda kaum Mukminin’Aisyah radhiyallahu’anha,

“Janganlah kalian tergesa-gesa (suci) sehingga kalian melihat cairan putih.”

Pertanyaan:

Saya telah mandi suci pada jam 11 pagi, tapi ketika Maghrib saya melihat noda berwarna coklat muda sekali. Apakah saya harus mandi suci lagi?

Jawaban:

Apakah sebelum mandi Ukhti sudah melihat cairan putih keluar?

Jika iya, Ukhti tak perlu pedulikan cairan coklat dan kuning setelah keluar cairan putih, karena itu bukan lagi darah haid.

Pertanyaan:

Saya hari ketujuh sudah keluar cairan putih sejenis lendir, tapi sesudah itu masih ada flek kuning. Itu bagaimana? Apakah saya masih haid?

Jawaban:

Jawaban pertanyaan Ukhti ada di artikel berikut insyaallah:

httapi://wanitasalihah.com/kupas-tuntas-hukum-flek-coklat-ketika-haid/

Pertanyaan:

Jika kita tidak tahu atau lupa, cairan yang dikeluarkan setelah haid kuning atau putih, lalu kita menganggapnya suci, maka kita mandi, namun beberapa jam kemudian kita tidak sholat karena keluar cairan kecoklatan. Apa kita harus mandi wajib lagi?

Jawaban:

Tidak tahu atau lupa?

Ukhti, tidak tahu, obatnya dengan mengetahui, belajar, memahami dan mengilmui. Jika kita sudah tahu tanda suci seperti apa, maka kita amalkan.

Dengan ilmu, seseorang bisa yakin atas pilihannya. Dengan ilmu, seorang wanita tidak gampang bingung. Dengan ilmu, seorang wanita tidak mudah dihantui rasa was-was. Dengan ilmu, seseorang beramal di atas keyakinan.

Nah, jika kita sudah yakin teentang tanda suci haid, jangan biarkan flek coklat membuat Ukhti menjadi ragu-ragu. Karena jika sudah yakin suci, flek coklat yang keluar setelah tanda suci BUKAN darah haid.

Pertanyaan:

Biasanya masa haid saya 4-6 hari. Tapi di minggu ini saya mengalami siklus haid cuma 4 hari (yang 1 harinya tanggal 11 sudah bersih). Tapi waktu pagi tgl 12 keluar flek coklat sedikit, tapi saya sudah mandi wajib pada pagi itu. Apakah itu tindakan yang benar apa tidak? Terus siangnya keluar darah warna merah segar, apakah itu merupakan darah haid apa bukan?

Jawaban:

Suci haid ada tandanya Ukhti. Jika sudah keluar salah satu dari kedua tanda tersebut, Ukhti telah suci.

Pertanyaan:

Saya ibu menjelang masa menopause. Sudah beberapa bulan ini haid saya hanya keluar seperti flek coklat, tetapi hanya sekali saja, misalnya waktu Ashar. Jadi saya tidak melakukan sholat Ashar karena saya angap itu adalah haid. Tetapi sampai masuk waktu Isya, flek itu sudah tidak ada lagi. Apakah itu termasuk haid atau bukan? Dan kalau bukan termasuk haid, apakah saya bisa melakukan sholat tanpa mandi bersih. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Flek coklat teranggap sebagai haid bila memenuhi syarat:

~Bersambung dengan darah haid

~Keluar di masa haid

Jika flek tsb keluar “sendirian”, tidak ada darah yang mengikutinya, dan keluar bukan di masa haid, maka flek tsb dianggap sebagai istihadhah. Ibu tidak perlu mandi wajib, tapi cukup dibersihkan layaknya kencing. Dan berwudhu setiap kali shalat.

Pertanyaan:

Hari kemarin sore saya sudah tidak keluar darah haid bersih hingga pagi. Kemudian saya bersuci. Ketika menjelang waktu Maghrib, saya melihat ternyata masih ada flek coklat. Saya jadi ragu-ragu, apakah itu darah haid atau bukan namanya. Saya teruskan untuk sholat Maghrib, meskipun saya ragu-ragu. Dan saya pun baru mengetahui dari artikel ini, bahwa untuk mengetahui darah haid sudah berhenti atau belum adalah dengan melihat keluarnya cairan putih. Bagaimana itu hukumnya ketika saya ragu-ragu bahwa saya telah suci atau belum namanya. Saya tetap menjalankan sholat? Mohon penjelasannya

Pertanyaan:

Afwan ukhty kapan waktu-waktu untuk mengecek masa suci. Misalnya, apakah setiap waktu Subuh dan Ashar? Atau tergantung waktu awal keluarnya darah haid? Misalnya saya keluar darah haid waktu Ashar, maka akan mengecek beres atau belum di waktu Ashar lagi di hari-hari menjelang berakhirnya haid. syukron

Jawaban:

Untuk memastikan tanda suci haid, bisa dilakukan setiap saat Ukhti. Lebih sering tentu lebih baik. Karena jika tidak rutin dilakukan pengecekan, dikhawatirkan tanda suci sudah keluar, sementara kita tak menyadarinya.

Pertanyaan:

Apakah lendir yang berwarna kekuningan (tidak terlalu keruh tapi cukup untuk membedakan warna kapas yang terkena lendir dan tidak) itu masih termasuk haid? Soalnya lendir saya biasanya berwarna bening, tapi ketika di kapas dia berwarna kekuningan, dan setelah itu keluar flek yang dibarengi dengan lendir kekuningan tadi. Apakah masih termasuk darah haid?

Jawaban:

Lendir kuning yang keluar di masa haid sebelum tanda suci, maka termasuk haid.

Lendir kuning yang keluar setelah tanda suci, maka bukan termasuk haid.

Tanda sucinya apa?

Lendir putih ada yang mengatakan seperti mani, atau adonan tepung, atau seperti kencing.

Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya biasanya haid sekitar 2-3 hari. Tapi setelah itu flek coklat sedikit- sedikit, kurang lebih sekitar dua hari, lalu tidak keluar darah sama sekali. Tapi waktu dicek dengan kapas masih ada noda-noda coklat. Lalu saya sudah harus bersuci atau belum?

Jawaban:

Saran kami, silakan Ukhti baca baik-baik artikel tentang haid di web ini.

Pertanyaan:

Hari-hari akhir haid, saya sering menemukan tanda putih, tetapi ada sedikit sekali warna kekuningan. Saya terkadang bingung. Jadi saya menunggu sampai warnanya putih/ bening. Nah yang ingin saya tanyakan, kapan tepatnya saya benar-benar suci dan bisa mandi wajib?

Apakah dimulai saya melihat tanda putih walau ada sedikit sekali kuning? Atau saya tunggu hingga saya menemukan tanda benar-benar putih/ bening. Terima kasih.

Jawaban:

Ada sedikit kuning tapi ada yang putih kan?

Jika sudah ada cairan putih, insyaallah sudah suci. Walaupun satu menit kemudian ada lendir kuning. Dan lendir kuning ini TIDAK dianggap sebagai haid, berdasarkan hadis Ummu Athiyah radhiyallahu’anha.

Allahua’lam

Pertanyaan:

  1. Ukhti, bagaimana jika saya mulai haid di awal atau pertengahan waktu shalat Ashar (misalkan), apakah saya harus mengqodho shalat asar tersebut atau tidak?
  2. Bagaimana jika saya selesai haid di akhir waktu shalat (sudah mepet habis waktu shalatnya). Contoh di waktu akhir Maghrib akan masuk waktu Isya, lalu saya mandi, apakah saya harus mengqodho shalat Maghrib tersebut?

Jawaban:

  1. Jika menunda shalat karena uzur yang syari, bukan karena menyepelekan shalat, maka tidak perlu mengqadha. Walaupun yang lebih baik mengqadhanya. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibnu Baz.
  2. Sebaiknya diqadha. Karena waktu shalat Maghrib itu sama dengan waktu shalat Isya, bagi orang yang memiliki uzuur seperti musafir, wanita haid.

Allahua’lam

Pertanyaan:

Perasan saya, keluar cairan putih yang bercampur warna kuning. Kemudian, saya lihat hari keesokannya keluar warna coklat (kering) dan dia berbau darah. Adakah saya masih haid setelah keluar warna coklat, atau sudah suci?

Pertanyaan:

Bagaimana jika darah sudah sedikit, dan mungkin sudah berhenti, tetapi sorenya muncul flek kecoklatan. Apakah itu termasuk suci atau tidak?

Jawaban:

Suci haid dengan keluarnya cairan putih.

Keluarnya darah haid, walaupun itu sedikit sekali, tetap dihukumi sebagai haid sampai keluar cairan putih. Wallahua’lam.

Pertanyaan:

Kemarin saat ana haid, setelah haid berhenti, paginya ana mandi wajib. Ana tunggu sampai sore tapi tidak keluar darah lagi. Pas Maghrib ana cek juga bersih. Akhirnya ana sholat Maghrib. Tapi ketika ana mau sholat Isya, ana cek keluar cairan kuning keruh agak putih, tapi tidak bau amis seperti darah haid. Esok harinya juga tidak keluar lagi. Bagaimana ini? Apakah cairan itu termasuk haid atau istihadah? Apakah ana harus mandi lagi? Apakah ana dosa karena usdah mulai sholat? Mohon penjelasannya

Jawaban:

Subhanallah.

Ukhti, jangan biarkan diri dihantui rasa was-was, karena itu bentuk gangguan setan. Banyak-banyaklah memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan setan.

Apakah kebiasaan Ukhti suci dari haid itu dengan jufuf (keringnya rahim)?

Jika Ukhti sudah yakin suci dengan jufuf, ya sudah…yakini itu sebagai suci.

Cairan kuning, coklat yang keluar setelah tanda suci bukan lagi disebut sebagai haid.

Wallahua’lam

,

SHAHIHKAH MENUTUP BACAAN ALQURAN DENGAN DOA KAFARATUL MAJELIS?

SHAHIHKAH MENUTUP BACAAN ALQURAN DENGAN DOA KAFARATUL MAJELIS?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

SHAHIHKAH MENUTUP BACAAN ALQURAN DENGAN DOA KAFARATUL MAJELIS?

Pertanyaan:

Tersebar di media sosial, bahwa zikir setelah membaca Alquran itu adalah doa Kafarat Majelis, yaitu Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika. Apakah benar demikian?

Jawaban Al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam hafizahullah:

Memang ada hadis yang menunjukkan demikian, yaitu hadis Aisyah radhiallahu’anha:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟ قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))

Dari Aisyah ia berkata:

“Tidaklah Nabi duduk di majelis, tidak pula membaca Alquran, dan tidak pula sholat, kecuali menutupnya dengan kalimat -alimat tersebut. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku melihatmu tidaklah duduk di suatu majelis, tidak juga membaca Alquran, dan tidak juga sholat, kecuali engkau tutup dengan kalimat tersebut?” Beliau ﷺ bersabda: “Iya, siapa yang berkata baik, akan ditutup dengan stempel kebaikan. Dan siapa yang berkata buruk, akan menjadi penghapus dosanya. Yaitu ucapan: Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika” (HR An Nasa’i).

Namun bila kita kumpulkan semua jalan dan matannya, tampak kepada kita, bahwa lafal: “..Tidak pula membaca Alquran” seorang perawi yang bernama Khollaad bin Sulaiman bersendirian dalam penyebutannya. Sementara perawi lainnya tidak menyebutkannya. Dan hadis ini diriwayatkan oleh 15 shahabat, namun tidak ada lafal: “..tidak pula membaca Alquran“.

Dan Khollaad ini, walaupun dianggap tsiqoh, namun ia bukan perawi yang masyhur dengan itqon. Sehingga bersendiriannya ini tidak bisa dianggap sebagai tambahan perawi yang tsiqoh.

Yang masyhur adalah, bahwa zikir tersebut sebagai doa Kafarat Majelis. Maka jika kita setelah membaca Alquran, langsung pergi meninggalkan majelis, disunnahkan membaca doa Kafarat Majelis tersebut. Adapun jika setelah membaca Alquran kita masih duduk di majelis, maka tidak disyariatkan. Yang menunjukkan kepada ini adalah hadis ibnu Mas’ud radliallahu anhu ia berkata:

Rasulullah ﷺ menyuruhku: “Bacakan Alquran untuk aku dengar”

“Ya Rasulullah, apakah aku boleh membaca Alquran di hadapan Anda, padahal Alquran itu diturunkan kepada Anda?” tanyaku.

“Ya, tidak masalah”

Aku pun membaca surat An-Nisa. Ketika sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

“Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat, dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad), sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. An-Nisa: 41)

Seketika sampai di ayat ini, Rasulullah ﷺ mengatakan: “Cukup… cukup.”

Saya melihat beliau ﷺ. Ternyata beliau ﷺ berlinangan air mata. (HR. Bukhari 5050 dan Muslim 800)

Di dalam hadis tersebut, setelah membaca Alquran, beliau ﷺ tidak beranjak dari majelis. Beliau ﷺ tidak membaca doa Kafarat Majelis tersebut. Beliau ﷺ hanya berkata: “Cukup.. cukup..“. Jadi zikir subhanakallahumma wabihamdika.. dst. adalah doa Kafarat Majelisnya. Bukan doa setelah membaca Alquran.

Wallahu a’lam.

 

***

 

Penulis: Al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafizahullah

[Artikel Muslim.or.id]

Sumber: https://muslim.or.id/28275-shahihkah-menutup-bacaan-al-quran-dengan-doa-kafaratul-majlis.html

, , ,

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#FatwaUlama

KELUAR DARAH HAID SAAT BERHUBUNGAN BADAN

Pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan suami saya, agar ia dapat bertaubat kepada Allah. Kami pernah bersetubuh. Kemudian usai berhubungan badan, nampak permulaan darah haid telah keluar.

Jawaban Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjaid hafidzahullah:

Alhamdulillah,

Bila seorang laki-laki berhubungan badan dengan istrinya, sementara ia tidak tahu, bahwa istrinya tersebut mengalami haid, maka tidak ada dosa baginya.

Terdapat hadis dari Abu dzar Al Ghifari berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku kesalahan (yang tidak disengaja), lupa, dan bila mereka dipaksa melakukan perbuatan dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 2033 dan dinilai Shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah n0. 1662)

Akan tetapi wajib bagi istri menjelaskan keadaan dirinya kepada suaminya. Hendaknya si istri memberitahu kepada suami, bahwa darah haid telah keluar. Karena terkadang seorang laki-laki tidak mengetahui hal ini, kemudian ia pun menggauli istrinya, sementara si istri dalam keadaan haid. Padahal perbuatan ini haram secara syariat. Jika kondisi demikian, maka si istri telah berdosa (karena tahu sedang haid, dan tidak memberitahu suaminya -pen). Darah haid sesuatu yang dikenal di kalangan wanita. Kapan pun darah tersebut keluar, maka ia disebut wanita haid.

Adapun jika kejadian di atas terjadi tanpa sepengetahuan kedua pihak, maka tidak ada dosa bagi kedunya. Karena ketidaktahuan dan ketidaksengajaan.

Sumber: islamqa.info

Di fatwa lain beliau menjelaskan:

Barang siapa yang menyetubuhi istrinya, sementara dia tidak tahu, bahwa istrinya tersebut sedang haid, demikian pula si istri juga tidak tahu, bahwa dirinya sedang haid, maka tidak ada dosa bagi kedunya. Dikarenakan keduanya tidak menyengaja melakukan jimak saat haid. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu bersalah padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab:5)

An Nawawi berkata:

فإن كان ناسيا أو جاهلا بوجود الحيض ، أو جاهلا بتحريمه ، أو مكرها : فلا إثم عليه ولا كفارة ، وإن وطئها عامدا ، عالما بالحيض والتحريم ، مختارا ، فقد ارتكب معصية كبيرة ، وتجب عليه التوبة

“Bila seorang suami lupa, atau tidak tahu keberadaan darah haid, atau tidak tahu hukum haram (jimak ketika haid), atau dipaksa (orang lain untuk berbuat haram), maka tidak ada dosa baginya, dan tidak ada kafarah. Adapun bila seorang suami menggauli istrinya dengan sengaja, dalam kondisi tahu bahwa istrinya haid, dan tahu hukumnya haram, tidak ada paksaan orang lain, maka sungguh dia telah telah melakukan kemaksiatan yang besar dosanya. Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah.” (Syarh Muslim)

Sumber: islamqa.info

Pertanyaaan:

Saya seorang pemuda 26 tahun dan alhamdulillah saya telah menikah sejak dua bulan yang lalu. Setelah menikmati malam pertama selama empat hari, istri saya mengalami haid. Oleh karena itu saya tidak menggaulinya, sampailah hari di mana istri saya berkata kepadaku, bahwa haid telah berhenti, dan ia tidak lagi melihat darah sejak dua hari sebelumnya. Akupun bertanya padanya, apakah emang sudah pasti haid telah berhenti? Istri saya menjawab: ‘Iya benar.’Berdasakan hal ini, saya pun menggaulinya. Akan tetapi saya mendapati sedikit darah di dzakar saya. Karena itu saya berhenti menyetubuhinya dan mandi. Dan saya pun menanyakan padanya, dia pun meyakinkanku, bahwa ia tidak tahu menahu soal darah itu, dan tidak melihat darah sejak kemarinnya.

Saya mengharap bantuan penjelasan. Jika saya telah melakukan perbuatan dosa, apa kafarah bagi saya? Apakah istri saya juga berdosa, dan wajib membayar kafarah atau tidak? Syukraan atas waktu yang diberikan.

Jawaban Syaikh Khalid bin Suud Al-Bulihud:

Alhamdulillah,

Haram bagi seorang suami menggauli kemaluan istrinya yang sedang haid. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)

Sunnah Ash Shahihah telah menjelaskan tafsir ayat di atas tentang larangan mendekat istri yang haid, maksudnya adalah khusus melakukan hubungan badan di kemaluan.

Para ulama telah sepakat keharaman perbuatan tersebut. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya yang sedang haid dengan sengaja, dalam keadaan tahu (istri sedang haid dan tahu hukumnya haram), maka dia telah berdosa. Wajib baginya bertaubat dan memohon ampun dari dosa besar ini.

Para ulama pakar Fikih berselisih pendapat tentang kewajiban kafarah bagi suami. Imam Ahmad berpendapat, wajib bagi suami bersedekah satu Dinar atau separuh Dinar. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ahlussunan dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ, bahwa beliau pernah menggauli istri beliau yang sedang haid, kemudian beliau bersedekah satu atau setengah Dinar dan dalam lafal Tirmidzi dinyatakan:

إذا كان دماً أحمر فدينار وإن كان دماً أصفر فنصف دينار

“Jika darah haidnya berwarna merah, bersedekah satu Dinar. Jika darah haidnya berwarna kuning, bersedekah setengah Dinar.”

Mayoritas ulama berpendapat tidak ada kewajiban membayar kafarah dan mencukupkan untuk bertaubat. Karena dalil (ayat di atas) hanya menyebutkan larangan jimak ketika haid, dan tidak menyebutkan kafarah.

Adapun hadis Ibnu Abbas di atas adalah hadis yang ma’lul menurut para imam Ahli Hadis (Hadis Ma’lul adalah salah satu jenis hadis lemah karena di dalamnya terdapat cacat baik dari sisi sanad ataupun matan hadis-pen). Maka hadis ini tidak boleh dinilai sebagai hadis marfu’, yang sampai kepada Nabi ﷺ. Inilah pendapat yang benar. Karena hukum asalnya seseorang terlepas dari tanggungan dan tidak menyibukkannya dengan sesuatu, kecuali dengan dalil yang selamat dari perbincangan ulama (dalil Shahih).

Dan yang nampak dari penjelasan Anda di atas, bahwa engkau termasuk orang yang diberi uzur (dimaafkan) atas perbuatanmu. Karena perbuatan tersebut Anda lakukan karena kesalahan (tanpa disengaja) dan ketidaktahuan akan kondisi istri Anda. Anda tidak berdosa dan tidak ada kewajiban apapun insyaallah. Karena Allah memaafkan orang yang bersalah (tanpa sengaja) dan tidak tahu.

Demikian pula istri Anda, telah melakukan kesalahan tanpa sengaja, yaitu tergesa-gesa suci, sebelum melihat tanda suci berupa keluarnya Qashshatul Baidha (Cairan putih) atau keringnya rahim. Istri Anda diberi uzur (dimaafkan) insyaallah, karena ia tidak sengaja melakukannya. Bahkan hal ini terjadi karena ketidaktahuan dan sedikitnya pengetahuannya.

Diperbolehkan bagi seorang suami menikmati seluruh tubuh istrinya yang sedang haid, selain pada kemaluan, menurut pendapat mayoritas ulama pakar Fikih. Berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ terhadap istri-istri beliau radhiyallahu’anhunna, sebagaimana yang ditetapkan dalam Sunnah Shahihah.

وأخزى الله من يذكرهن بسوء في الدنيا ويوم يقوم الأشهاد.والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.

“Semoga Allah menghinakan orang-orang yang menyebut istri-istri Nabi dengan keburukan di dunia dan di Hari Kiamat. Wallahua’lam. Dan semoga shalawat dan salam tercurah bagi Muhammad, keluarga beliau dan para sahabat“.

 

Sumber: saaid.net

 

****

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com

Artikel wanitasalihah.com

Sumber: http://wanitasalihah.com/keluar-darah-haid-saat-berhubungan-badan/

 

, , ,

BAJU YANG DIPAKAI SAAT HAID, BOLEHKAH DIPAKAI SAAT SUCI?

BAJU YANG DIPAKAI SAAT HAID, BOLEHKAH DIPAKAI SAAT SUCI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

#MuslimahSholihah

BAJU YANG DIPAKAI SAAT HAID, BOLEHKAH DIPAKAI SAAT SUCI?

Syaikh Muhammad Shalih Almunajjid hafidzahullah

Pertanyaan:

Setelah suci dari haid, bolehkah saya memakai baju yang saya pakai saat haid?  Ataukah harus dicuci terlebih dahulu?

Jawaban:

Tidak masalah. Seorang wanita yang suci dari haid diperbolehkan memakai baju yang ia kenakan saat haid, asalkan baju tersebut suci, tidak terkena darah haid.

Namun jika terkena darah haid, wajib dicuci pada bagian yang terkena darah, sebelum digunakan untuk shalat.

Pernah suatu ketika seorang wanita menghadap Nabi ﷺ lalu bertanya:

“Pakaian salah seorang di antara kami terkena darah. Apa yang harus kami lakukan?”

Nabi ﷺ menjawab:

تَحُتُّهُ ، ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ، ثُمَّ تَنْضَحُهُ ، ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ

“Hendaknya ia menggosok bagian yang terkena darah, menguceknya dengan air (menggunakan ujung jarinya untuk mengeluarkan najis yang melekat pada pakaian), kemudian membilasnya, lalu shalat dengan pakaian tersebut.” (HR. Bukhari 227 dan Muslim 291)

Rasulullah ﷺ memerintahkan agar pakaian tersebut dibersihkan sebelum digunakan untuk shalat.

Wallahua’lam.

 

Marja’: http://islamqa.info/ar/114374

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com

[Artikel wanitasalihah.com]

Sumber: http://wanitasalihah.com/baju-yang-dipakai-saat-haid-bolehkah-dipakai-saat-suci/

, ,

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

Pertanyaan:

Apakah yang harus dilakukan dengan pakaian yang terkena air rembesan (dari kemaluan) sebanyak seperempat dari satu tetes, saat kita sedang shalat? Apakah harus diganti dan cuci, atau adakah sikap lain yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Jika keluar atau tidaknya air kencing tersebut hanya merupakan was-was atau keragu-raguan, hanya perasaan, dan tidak ada buktinya, atau mungkin memang keluar tetapi hanya seperempat dari satu tetes (seperti yang ditanyakan), maka hal semacam ini tidaklah membatalkan wudhu, dan tidak pula membatalkan shalat atau thawaf. Ini hanyalah was-was setan untuk menggoda anak Adam agar ibadahnya rusak.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فًأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخْرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لاَ فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدُ رِيْحًا

“Apabila salah seorang di antara kamu menjumpai sesuatu di perutnya, sedangkan dia ragu-ragu apakah sesuatu itu keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari mesjid (shalat), sehingga dia mendengar suara atau mencium baunya.” (Hr. Muslim: 805)

Al-‘Allamah Ibnu Baz ditanya: “Seusai saya buang air kecil dan berhenti kencing, maka tidak lama setelah saya bercebok, kemaluan saya bergerak dan terasa ada sesuatu yang keluar. Peristiwa ini sudah lama dan tidak bisa sembuh, tetapi hanya keluar air beberapa tetes sesudah kencing.

Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya mencukupkan diri dengan wudhu yang pertama, lalu saya bersihkan kemaluan saya, kemudian saya sempurnakan wudhu, ataukah saya harus menunggu sampai selesai kencing? Mohon penjelasannya.”

Beliau menjawab: “Perkara ini bisa terjadi karena was-was atau ragu-ragu. Ini berasal dari setan, dan kadangkala memang terjadi betul.

Jika ternyata benar-benar terjadi, maka jangan terburu-buru sehingga selesai kencing, lalu membasuh kemaluan dengan air, dan ini sudah cukup.

Jika dikhawatirkan bahwa air kencing akan keluar lagi, setelah berwudhu hendaknya menyiram di sekeliling kemaluan. Selanjutnya, jika terasa ada sesuatu yang keluar setelah itu, hendaklah dipahami bahwa yang keluar itu adalah sisa air yang disiramkan tadi, karena ada dalil dari sunnah, bahwa hendaknya kita meninggalkan was-was setan. Orang Mukmin tidak perlu memerhatikan was-was setan ini, karena begitulah pekerjaan setan. Setan selalu berusaha merusak ibadah anak Adam, baik ketika shalat atau ibadah lainnya.” (Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Maqakah Mutanawwi’ah, Ibnu Baz: 10/123)

Jawaban beliau ini sudah jelas sekali. Anda tidak perlu memerhatikan perasaan was-was ini. Serta, bila Anda khawatir air menetes pada celana dalam Anda, maka alasilah di bawah kemaluan Anda dengan kain setelah Anda bercebok, sampai nantinya Anda akan kencing lagi. Anda tidak perlu bercebok setiap ada perasaan was-was bahwa air kencing merembes, dan Anda pun tak perlu mengganti celana.

 

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi 10, tahun ke-4, 1426 H.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/1988-pakaian-terkena-kencing.html

 

Catatan Tambahan:

Di Antara Adab Ketika Buang Hajat adalah:

Memerciki kemaluan dan celana dengan air setelah kencing untuk menghilangkan was-was. Ibnu ‘Abbas mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ

“Nabi ﷺ berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.”[HR. Ad Darimi no. 711. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
Jika tidak mendapati batu untuk istinja’, maka bisa digantikan dengan benda lainnya, asalkan memenuhi tiga syarat:

[1] Benda tersebut suci,

[2] Bisa menghilangkan najis, dan

[3] Bukan barang berharga seperti uang atau makanan [Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 34]. Sehingga dari syarat-syarat ini, batu boleh digantikan dengan tisu yang khusus untuk membersihkan kotoran setelah buang hajat.

Sumber: https://rumaysho.com/1034-10-adab-ketika-buang-hajat.html

,

KETIKA IMAM LUPA BELUM WUDHU

KETIKA IMAM LUPA BELUM WUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

KETIKA IMAM LUPA BELUM WUDHU

Alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

Jika imam lupa dirinya belum wudhu, atau belum mandi junub, dan baru teringat ketika sholat, maka imam wajib MEMBATALKAN sholatnya, TANPA membubarkan sholat jamaah. Selanjutnya ada tiga cara yang bisa dilakukan oleh imam ketika itu:

Pertama, dia membatalkan sholat, keluar dari jamaah, dan menunjuk salah seorang di belakangnya untuk menggantikan posisinya sebagai imam hingga sholat selesai. Sebagaimana terdapat riwayat dari Umar bin Khatab radliallahu ‘anhu, bahwa setelah beliau ditikam oleh Abu Lukluk Al-Majusi, Umar memegang tangan Abdurrahman bin Auf, dan menyuruhnya untuk menggantikan posisinya. Hadis ini diriwayatkan Bukhari (no. 3700). Tindakan Umar ini dilakukan di depan para sahabat, dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya, sehingga dihukumi sebagai kesepakatan mereka.

Kedua, imam membatalkan sholat dan tidak menunjuk pengganti. Kemudian masing-masing makmum sholat sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i.

Ketiga, imam menyuruh makmum untuk tetap diam di tempat (tidak membubarkan jamaah), kemudian imam bersuci, lalu kembali ke tempat semula, dan melanjutkan sholat jamaah.

Ini berdasarkan hadis dari Abu Bakrah radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، دخل في صلاة الفجر فأومأ بيده أن مكانكم ثم جاء ورأسه يقطر فصلى بهم

Bahwa Rasulullah ﷺ mengimami sahabat sholat Subuh. Tiba-tiba beliau berisyarat kepada para sahabat agar tetap berada di tempatnya (kemudian beliau pergi). Lalu beliau ﷺ kembali, sementara kepalanya meneteskan air, dan beliau ﷺ sholat jamaah bersama mereka. (HR. Abu Daud no. 233 dan dishahihkan Al-Albani).

Imam Abu Daud membuat judul bab untuk hadis ini:

باب فى الجنب يصلى بالقوم وهو ناس

Bab: “Orang Junub Mengimami Sholat Jamaah Karena Lupa”. (Sunan Abu Daud, 1/93)

Dalam Syarh Abu Daud, Imam al-Khatabi mengatakan:

Dalam hadis ini terdapat dalil, bahwa jika ada imam yang sholat dalam keadaan junub, sementara makmum tidak tahu bahwa imam junub, maka SHOLAT MAKMUM TETAP DILANJUTKAN DAN TIDAK WAJIB DIULANGI. Sedangkan imam wajib mengulangi sholatnya. (Ma’alimus Sunan, 1/78).

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/16047-ketika-imam-lupa-belum-wudhu-video.html