Posts

LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH

LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
 
“Demi Allah, jikalau Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab dirimu, hal itu benar-benar lebih baik bagimu daripada (kamu memiliki) unta-unta merah”[ HR. Bukhari no. 2942 dan Muslim no. 2406, dari Sahl bin Sa’ad]
 
Imam Al Bukhari rahimahullah membuat judul Bab dari hadis di atas: “Bab: Keutamaan Seseorang Memberi Petunjuk Pada Orang Lain Untuk Masuk Islam”.
 
Abu Daud membawakan hadis di atas pada “Bab: Keutamaan Menyebarkan Ilmu”.
 
Penulis ‘Aunul Ma’bud, mengatakan:
“Unta merah adalah semulia-mulianya harta menurut mereka (para sahabat).” [‘Aunul Ma’bud, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut, cetakan kedua, 1415 H, 4/206]
 
Di lain tempat, beliau rahimahullah mengatakan: “Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabi ﷺ).” [‘Aunul Ma’bud, 10/69]
 
Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup apik. Beliau rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah unta merah.Unta tersebut adalah harta teristimewa di kalangan orang Arab kala itu.
 
Di sini Nabi ﷺ menjadikan unta merah sebagai permisalan untuk mengungkapkan berharganya (mulianya) suatu perbuatan. Dan memang tidak ada harta yang lebih istimewa dari unta merah kala itu. Sebagaimana pernah dijelaskan, bahwa permisalan suatu perkara Akhirat dengan keuntungan dunia, ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman (agar mudah paham). Namun tentu saja balasan di Akhirat itu lebih besar dari kenikmatan dunia yang ada. Demikianlah maksud dari setiap gambaran yang biasa disebutkan dalam hadis. Dalam hadis ini terdapat pelajaran tentang keutamaan ilmu. Juga dalam hadis tersebut dijelaskan keutamaan seseorang yang mengajak pada kebaikan. Begitu pula hadis itu menjelaskan keutamaan menyebarkan sunnah (ajaran Islam) yang baik.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 15/178]
 
[Artikel www.rumaysho.com]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#untaunta, #ontaonta, #untamerah , #ontamerah, #lebihdarisekedar, #lebihdarisekadar, #sekadar, #sekedar #Allahmemberihidayah #sebabdirimu #hartaterbaik #hidayahmilikAllah #hartapalingistimewa

LEBIH DARI SEKADAR UNTA MERAH

LEBIH DARI SEKADAR UNTA MERAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

LEBIH DARI SEKADAR UNTA MERAH

 
Penulis ‘Aunul Ma’bud, mengatakan:
“Unta merah adalah semulia-mulianya harta menurut mereka (para sahabat).” [‘Aunul Ma’bud, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut, cetakan kedua, 1415 H, 4/206]
 
Di lain tempat, beliau rahimahullah mengatakan:
“Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabi ﷺ).” [‘Aunul Ma’bud, 10/69]
 
Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup apik. Beliau rahimahullah mengatakan:
“Yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah unta merah.
Unta tersebut adalah harta teristimewa di kalangan orang Arab kala itu. Di sini Nabiﷺ menjadikan unta merah sebagai permisalan untuk mengungkapkan berharganya (mulianya) suatu perbuatan. Dan memang tidak ada harta yang lebih istimewa dari unta merah kala itu. Sebagaimana pernah dijelaskan, bahwa permisalan suatu perkara Akhirat dengan keuntungan dunia, ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman (agar mudah paham). Namun tentu saja balasan di Akhirat itu lebih besar dari kenikmatan dunia yang ada.
 
Demikianlah maksud dari setiap gambaran yang biasa disebutkan dalam hadis. Dalam hadis ini terdapat pelajaran tentang keutamaan ilmu. Juga dalam hadis tersebut dijelaskan keutamaan seseorang yang mengajak pada kebaikan. Begitu pula hadis itu menjelaskan keutamaan menyebarkan sunnah (ajaran Islam) yang baik.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 15/178]
 
Sumber: Rumaysho.Com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#mutiarasunnah, #untamerah, #ontamerah, #sekedar, #sekadar, #lebihbaik, #mengajakpadakebaikan, #Allahmemberikanhidayah, #Allahmemberikanpetunjuk, #perantaraan, #melalui
,

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

>> Katakanlah “Insyaallah”! Mudah-Mudahan Allah Membantumu Melaksanakannya

Kasus Pertama

Di antara sebab turunnya Surat al Kahfi adalah ketika orang-orang Quraisy bertanya tiga pertanyaan titipan orang-orang Yahudi kepada Rasulullah ﷺ:

Pertama: Tanyakan tentang para pemuda yang pergi di masa lalu, apa yang mereka lakukan. Sesungguhnya mereka mengalami peristiwa yang menakjubkan.

Kedua: Tanyakan padanya tentang lelaki yang sering berkelana. Ia telah mengunjungi seluruh penjuru bumi.

Ketiga: Tanyakan padanya tentang apa itu ruh.

Rasulullah ﷺ pun menjawab: “Akan kujawab apa yang kamu tanyakan besok”. Namun apa yang terjadi? sampai 15 hari, jawaban tersebut tidaklah turun. Dan akhirnya turunlah Surat al Kahfi untuk mennjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang di antara ayatnya ada sebuah teguran kepada Rasulullah ﷺ untuk TIDAK memastikan sesuatu kecuali dengan kata insyaallah.

وَلاَتَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًاإِلآ أَن يَشَآءَ اللهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut), ‘Insyaallah’”. (QS. Al Kahfi: 24)

Ternyata kuncinya adalah ucapan “Insyaallah”.

Kasus Kedua

Kalau kita membuka-buka kembali Alquran, kita juga akan dapati sebuah kisah orang-orang Yahudi di zaman Nabi Musa, yang diperintahkan untuk menyembelih sapi betina, namun mereka ngeyel. Mereka terus bertanya-tanya model sapinya:

Kali pertama disuruh mereka bertanya:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ

“Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?” (QS. Al Baqarah: 68)

Setelah dijelaskan masih bertanya lagi:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَالَوْنُهَا

”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. (QS. Al Baqarah: 69)

Setelah dijelaskan, masih bertanya lagi, namun kali ini Bani Israil itu menambahkan kalimat, “insyaallah”

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَآءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, bagaimana hakikat sapi betina itu. Karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami, dan sesungguhnya kami insyaallah akan mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah: 70)

Barulah, mereka menyembelihnya

فَذَبَحُوهَا وَمَاكَادُوا يَفْعَلُونَ

”Kemudian mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (QS. Al Baqarah: 71)

Ternyata, kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Kasus Ketiga

Dalam hadis diriwayatkan kisah Ya’juj dan Ma’juj. Disebutkan kisah Ya’juj dan Ma’juj yang mencoba membongkar tembok yang telah dibuat oleh Dzulqarnain.

“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj membongkarnya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari. Pemimpin mereka berkata: ‘Kita pulang, kita teruskan besok’. Lalu Allah mengembalikannya lebih kuat dari sebelumnya. Ketika masa mereka telah tiba dan Allah ingin mengeluarkan mereka kepada manusia, mereka menggali. Ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, pemimpin mereka berkata: ‘Kita pulang, kita teruskan besok insyaallah’. Mereka mengucapkan insyaallah. Mereka kembali ke tempat mereka menggali, mereka mendapatkan galian seperti kemarin. Akhirnya mereka berhasil menggali dan keluar kepada manusia”. (HR Ibnu Majah dan at Tirmidzi dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah ash Shahihah)

Maka sekali lagi kita dapati bahwa kuncinya adalah kalimat ”Insyaallah”.

Kasus Keempat

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan juga oleh Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Sulaiman bin Dawud berkata: ‘Sungguh aku akan menggilir sembilan puluh istriku pada malam ini. Masing-masing akan melahirkan satu pejuang yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu sahabatnya berkata: ‘Ucapkan insyaallah!’, tetapi beliau tidak mengucapkannya. Akhirnya dia menggauli semua istrinya itu, dan tidak satu orang pun dari mereka hamil, kecuali satu istri saja yang melahirkan anak dengan wujud setengah manusia. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia mengucapkan ‘insyaallah’, niscaya mereka semua akan (melahirkan) para pejuang yang berjuang di jalan Allah.”

Lagi, ternyata kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Kasus Kelima

Dalam Alquran yang mulia disebutkan tentang pemilik kebun yang bersumpah pasti akan memetik hasil kebun mereka pada pagi hari:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ .وَلَا يَسْتَثْنُونَ .فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ.فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah), sebagaimana Kami telah mennguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah, bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, insyaallah). Lalu kebun itu ditimpa bencana yang datang dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita” (QS. Al Qalam: 68)

Pada ayat “وَلَا يَسْتَثْنُونَ ” dalam Tafsir Al-Qurtubi: {اي ولم يقولوا إن شاء الله } yaitu mereka belum mengatakan insyaallah. Begitu juga di Tafsir Al Muyassar.

Sekali lagi, ternyata kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Maka, insyaallah bukanlah sekadar kalimat pemanis bibir. Dengan mengucapkan insyaallah, kita berharap kepada Allah, agar Dia menetapkan janji dan rencana amal saleh yang kita buat.

 

***

Penyusun: Irilaslogo

Sumber:

  • http://muslimah.or.id, dari status ustadz Amrullah Akadhinta
  • Anakku Sudah Tepatkah Pendidikannya? Karya Musthafa Al-Adawi
,

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

#TazkiyatunNufus

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

Saudaraku, sebelum engkau melangkahkan kakimu, renungilah hadis ini:

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا أراد الله قبض عبد بأرض جعل له إليها حاجة

“Sesungguhnya, jika Allah menghendaki untuk mencabut nyawa seorang hamba di suatu tempat, maka Allah jadikan hamba itu memiliki keperluan di tempat tersebut.” [HR. Al-Hakim dan Bukhori dalam adab al mufrad, shahih oleh Al-Albani]

Subhanallah. Kita tidak tahu, bisa jadi Allah ta’ala berkehendak mencabut nyawa kita di tempat yang kita tuju. Bisa jadi perginya kita kesuatu tempat adalah tempat dicabutnya nyawa kita.

  • Apa jadinya jika tempat yang kita tuju adalah tempat yang sarat akan maksiat?
  • Maka perbaiki hatimu, perbaiki tujuan-tujuanmu dalam melangkah. Perbanyaklah menuju tempat-tempat yang Allah berkahi, yang Allah cintai: masjid, mushola, majelis ilmu, dan lain sebagainya.
  • Bagimu wahai saudaraku yang masih gemar plesiran, mengeluarkan uang hanya untuk sekedar senang-senang ke negeri-negeri non-Islam (kafir), maka perbaikilah tujuanmu. Carilah tempat-tempat tujuan yang Allah berkahi, seperti melakukan perjalanan umroh ke Tanah Suci, Mekkah dan Madinah.

Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan akhir penutup husnul khatimah di tempat-tempat yang Allah ta’ala cintai.

 

Penyusun: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#AdabAkhlak

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba. Sampai pun sekadar memberikan bantuan yang ringan bagi orang lain. Termasuk memberikan utang kepada orang lain, yang itu pasti dikembalikan. Padahal kita tahu, dalam memberikan utang untuk tempo pendek, tidak ada harta kita yang berkurang, selain karena pengaruh propaganda orang kafir, penurunan nilai mata uang (time value of money).

Namun umumnya orang yang memberi utang, merasa cemas ketika uangnya yang berada di tangan orang lain. Dan Allah yang Maha Pemurah tidak menyia-nyiakan kebaikan hamba, sekalipun yang dia koribuankan hanya perasaaan dan kecemasan, karena menyerahkan uang kepada orang lain. Allah gantikan ini dengan pahala.

Dalam hadis, dari Ibn Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:

كل قرض صدقة

“Setiap mengutangi orang lain adalah sedekah.” [HR. Thabrani dengan sanad Hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani]

Kemudian, dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada seseorang yang masuk Surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya:

الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر

“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya, dan utang nilainya 18 kali.” [HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib]

Juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَقْرَضَ اللَّهَ مَرَّتَيْنِ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ أحدهما لو تصدق به

Siapa yang memberi utang dua kali karena Allah, maka dia mendapat pahala seperti sedekah dengannya sekali. [HR. Ibnu Hibban 5040 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth].

Terlebih lagi ketika orang yang berutang mengalami kesulitan, kemudian dia memberikan penundaan pembayaran. Rasulullah ﷺ janjikan pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ

Barang siapa yang memberi waktu tunda pelunasan bagi orang yang kesusahan membayar utang atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari Kiamat, yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya. [HR. Ahmad, 2/359, Muslim 3006,  dan Turmudzi 1306, dan dishahihkan al-Albani].

Beberapa Aturan dalam Menagih Utang

Islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, yang akan membuat amalnya sia-sia. Dosa itu adalah dosa riba dan kezaliman. Karena umumnya riba dan tindakan kezaliman, terjadi dalam masalah utang piutang.

Kaidah Pertama

Islam menyarankan agar dilakukan pencatatan dalam transaksi utang piutang. Terlebih ketika tingkat kepercayaanya kurang sempurna. Semua ini dalam rangka menghendari sengketa di belakang. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. [QS. al-Baqarah: 282]

Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan:

الأمر بكتابة جميع عقود المداينات إما وجوبا وإما استحبابا لشدة الحاجة إلى كتابتها، لأنها بدون الكتابة يدخلها من الغلط والنسيان والمنازعة والمشاجرة شر عظيم

Perintah untuk mencatat semua transaksi utang piutang, bisa hukumnya wajib, dan bisa hukumnya sunah. Mengingat beratnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan tercampur dengan bahaya besar, kesalahan, lupa, sengketa dan pertikaian. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 118].

Kaidah Kedua

Allah memerintahkan kepada orang yang memberikan utang, agar memberi penundaan waktu pembayaran, ketika orang yang berutang mengalami kesulitan pelunasan.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan  menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu  mengetahui. [QS. al-Baqarah: 280]

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

يأمر تعالى بالصبر على المعسر الذي لا يجد وفاء، فقال: { وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَة } لا كما كان أهل الجاهلية يقول أحدهم لمدينه إذا حل عليه الدين: إما أن تقضي وإما أن تربي ثم يندب إلى الوضع عنه، ويعد على ذلك الخير والثواب الجزيل

Allah perintahkan kepada orang yang memberi utang untuk bersabar terhadap orang yang kesulitan, yang tidak mampu melunasi utangnya. ”Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” Tidak seperti tradisi jahiliyah, mereka mengancam orang yang berutang kepadanya, ketika jatuh tempo pelunasan telah habis: ’Kamu lunasi utang, atau ada tambahan pembayaran (riba).’ Kemudian Allah menganjurkan untuk menggugurkan utangnya, dan Allah menjanjikan kebaikan dan pahala yang besar baginya [Tafsir Ibnu Katsir, 1/717].

Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pahala sedekah selama masa penundaan. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ، وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ، فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

Siapa yang memberi tunda orang yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo, maka dia mendapat pahala sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya. [HR. Ahmad 23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].

Kaidah Ketiga

Memberikan utang termasuk transaksi sosial, amal saleh yang berpahala. Karena itu, orang yang memberi utang dilarang mengambil keuntungan karena utang yang diberikan, apapun bentuknya, selama utang belum dilunasi.

Sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu mengatakan:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas kepadamu dengan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” [HR. Bukhari 3814].

Kemudian, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” [HR. Ibnu Majah 2432]

Keempat

Terkait nilai penurunan mata uang

Orang yang memberi utang, hendaknya siap menerima risiko penurunan nilai mata uang. Karena ulama sepakat, orang yang memberi utang hanya berhak meminta pengembalian sebesar uang yang dia berikan, tanpa memerhatikan keadaan penurunan nilai mata uang.

Dalam Mursyid al-Hairan – kitab mumalah Madzhab Hanafi – dinyatakan:

وإن استقرض شيئا من المكيلات والموزونات والمسكوكات من الذهب والفضة فرخصت أسعارها أو غلت فعليه رد مثلها ولا عبرة برخصها أو غلائها

Apabila orang berutang sesuatu berupa barang yang ditakar, atau ditimbang atau emas perak yang dicetak, kemudian harganya mengalami penurunan atau kenaikan, maka dia wajib mengembalikan utangnya sama seperti yang dia pinjam. Tanpa memerhitungkan penurunan maupun kenaikan harga. [Mursyid al-Hairan ila Ma’rifah Ahwalil Insan fil Muamalat ’ala Madzhabi Abu hanifah an-Nu’man, keterangan no. 805].

Ibnu Abidin mengatakan semisal:

إنه لا يلزم لمن وجب له نوعٌ منها سواه بالإجماع

Tidak ada kewajiban bagi orang yang memiliki utang selain yang sama dengannya, dengan sepakat ulama. [Tanbih ar-Ruqud ’ala Masail an-Nuqud, hlm. 64]

Demikian keterangan dalam Madzhab Hanafi. Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Madzhab Syafiiyah.

As-Syairazi mengatakan:

ويجب على المستقرِض ردُّ المثل فيما له مثل؛ لأن مقتضى القرض: رد المثل

Wajib bagi orang yang berutang untuk mengembalikan yang semisal, untuk harta yang ada padanannya. Karena konsekuensi utang adalah mengembalikan dengan yang semisal. [al-Muhadzab, 2/81].

Kemudian, keterangan dalam Madzhab Hambali, kita simpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah:

 

الْمُسْتَقْرِضَ يَرُدُّ الْمِثْلَ فِي الْمِثْلِيَّاتِ، سَوَاءٌ رَخُصَ سِعْرُهُ أَوْ غَلَا، أَوْ كَانَ بِحَالِهِ

Orang yang berutang wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. [al-Mughni, 4/244].

Di tempat lain, beliau mengatakan, bahwa itu sepakat ulama:

ويجب رد المثل في المكيل والموزون. لا نعلم فيه خلافا. قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن من أسلف سلفا، مما يجوز أن يسلف، فرد عليه مثله، أن ذلك جائز وأن للمسلف أخذ ذلك

Wajib mengembalikan yang semisal untuk barang yang ditakar maupun ditimbang. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Ibnul Mundzir mengatakan:

”Semua ulama yang kami ketahui, mereka sepakat, bahwa orang yang berutang sesuatu yang halal, kemudian dia mengembalikan dengan semisal, maka hukumnya boleh dan bagi pemberi utang, bisa menerimanya.” [al-Mughni, 4/239].

Kelima

Apabila uang yang dulu tidak berlaku

Utang dengan uang masa silam, kemudian masyarakat tidak lagi memberlakukannya, dengan apapun sebabnya, maka yang wajib dilakukan adalah mengembalikan dengan mata uang yang senilai dengan mata uang yang tidak berlaku itu, atau dengan emas atau perak. Karena untuk mengembalikan yang semisal (al-Mitsl) tidak memungkinkan, sehingga dikembalikan dalam bentuk nilai (al-Qimah).

Ibnu Qudamah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الْقَرْضُ فُلُوسًا أو مكسرة فَحَرَّمَهَا السُّلْطَانُ، وَتُرِكَتْ الْمُعَامَلَةُ بِهَا، كَانَ لِلْمُقْرِضِ قِيمَتُهَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَائِمَةً فِي يَدِهِ أَوْ اسْتَهْلَكَهَا ؛ لِأَنَّهَا تَعَيَّبَتْ فِي مِلْكِهِ

Apabila utang dalam bentuk uang kertas atau uang logam, kemudian pemerintah menariknya dan tidak lagi menggunakan jenis uang ini, maka orang mengutangi berhak mendapat uang yang senilai. Dan dia tidak harus menerima uang kuno itu, baik uang yang diutangkan itu masih ada di tangan, maupun sudah rusak. Karena tidak memungkinkan untuk memilikinya. [al-Mughni, 4/244].

Kemudian beliau menegaskan:

يقومها كم تساوي يوم أخذها؟ ثم يعطيه، وسواء نقصت قيمتها قليلا أو كثيرا

Dia tentukan berapa nilai uang ketika dia mengambilnya. Kemudian dia berikan uang itu. Baik nilainya turun sedikit maupun banyak. [al-Mughni, 4/244].

Sebagai ilustrasi, pada 1991 si A memberi utang 50 ribu bergambar Presiden Oribua. Pada 2011 si B melunasi dengan uang 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai. Karena uang kuno, tidak berlaku. Meskipun nilai 50 ribu dari 1991 hingga 2011 mengalami penurunan yang sangat tajam.

Keenam

Pembayaran utang dalam bentuk yang lain

Dibolehkan menerima pembayaran utang dalam bentuk yang lain, misalnya utang uang dibayar emas, atau utang Rupiah dibayar Dollar, atau semacamnya dengan syarat:

 

  • Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
  • Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.

[Fatwa Dar al-Ifta’ Yordan: http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d]

Keterangan di atas, berdasarkan keputusan Majma’ al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7], yang menyatakan:

 يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد

 Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang beribueda dengan mata uang ketika utang. Jika standar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.

Dalil bolehnya hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual onta di Baqi’ dengan Dinar, dan mengambil pembayarannya dengan Dirham. Kemudian beliau mengatakan:

 أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»

 Aku mendatangi Nabi ﷺ dan kusampaikan: ”Saya menjual onta di Baqi’ dengan Dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan Dirham. Beliau ﷺ bersabda:

”Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” [HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya].

Sebagai ilustrasi:

Misal, pada 1991 harga emas 25 ribu/gr. Tahun 2014 harga emas 400 ribu/gr. Pada 1991, uang Rp 1 juta mendapat 40 gr emas, sedangkan pada 2014, hanya mendapat 2,5 gr.

Pada 1991 si A utang 1 juta ke si B. Selanjutnya mereka berpisah lama. Tahun 2014, mereka ketemu dan si B meminta utang si A dilunasi dengan emas. Ada beberapa kasus di sini:

  • Poin A: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 40 gr emas.
  • Poin B: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 40 gr emas, sekitar 16 juta.
  • Poin C: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 2,5 gr emas.
  • Poin D: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 2,5 gr emas, sehingga nilainya tetap 1 juta.

Dari keempat kasus di atas, untuk kasus Poin A dan Poin B statusnya TERLARANG, karena termasuk riba dalam utang piutang. Dan ini tidak memenuhi syarat kedua seperti yang disebutkan dalam fatwa di atas, meskipun pada 1991, mereka tidak pernah melakukan kesepakatan ini.

Sementara kasus Poin C dan Poin D ini yang BENAR, memenuhi kedua syarat yang disebutkan dalam fatwa di atas.

Secara sederhana, si B mengalami kerugian, karena nilai 1 juta dulu dan sekarang jauh berbeda. Namun sekali lagi, inilah konsekuensi utang piutang. Pemberi utang mendapatkan pahala, karena membantu orang lain. Di sisi lain, dia harus siap dengan konsekuensi penurunan nilai mata uang.

Ketujuh

Kelebihan dalam pelunasan utang

Dibolehkan adanya kelebihan dalam pelunasan utang dengan syarat:

  1. Tidak ada kesepakatan di awal
  2. Dilakukan murni atas inisiatif orang yang berutang
  3. Bukan tradisi masyarakat setempat

Dalilnya hadis dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

 Pada suatu saat Rasulullah ﷺ berutang seekor anak unta dari seseorang. Lalu datanglah kepada Nabi ﷺ unta-unta zakat. Maka beliau ﷺ memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau ﷺ utang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau ﷺ dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur  enam tahun.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Akan tetapi, jika keberadaan tambahan ini diberikan karena ada kesepakatan di awal, atau permintaan pihak yang mengutangi (kreditor), atau karena masyarakat setempat memiliki kebiasaan bahwa setiap utang harus bayar lebih, maka tambahan semacam ini terhitung riba.

Demikian beberapa kaidah terkait penagihan utang. Semoga Allah menjadikan kita Muslim yang selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

 

Sumber:

http://pengusahamuslim.com/4201-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-01.html

http://pengusahamuslim.com/4205-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-02-selesai.html

,

KONSEP CINTA

KONSEP CINTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

KONSEP CINTA

Akhi, tahukah engkau tentang konsep cinta hakiki?

Mungkin selama ini, realita saat ini, konsep cinta yang sering kita saksikan identik dengan uang, intrik, putus-nyambung yang tak jelas, romantis dan air mata yang dipaksakan, perceraian, perselingkuhan, retak, ruwet, menyakitkan, buta, dan gelap. Konsep-konsep cinta yang indah dan penuh dinamika perjuangan hanya ada dalam film, sinetron, novel, cerita fiksi, bayangan kawula muda, khayalan pujangga, dan dendangan para penyair. Konsep cinta pun seolah menyakitkan, pahit, atau indah dalam khayalan.

Maka jika engkau bertanya, adakah konsep cinta hakiki dalam dunia nyata? Inilah jawabannya! Inilah kisah yang memuat konsep cinta hakiki, terlahir dari relung hati, tanpa paksaan, dan terikat benang Ilahi.

Kisah ini bermula saat Rasulullah ﷺ iba melihat salah seorang sahabatnya. Julaibib namanya. Ia adalah manusia yang tak pernah dirasakan keberadaannya, meskipun di zaman sahabat sekalipun. Perawakannya kerdil. Warnanya bagaikan arang. Wajahnya diungkapkan dalam bahasa Arab dengan lafal “Damim”. Artinya bukan sekedar buruk rupa, tapi buruk rupa yang mengerikan. Karenanya orang-orang tak berminat berdekat-dekat dengannya. Bahkan sekadar untuk mengingatnya, apalagi menanyakan kabarnya. Atau merasakan segala gejolaknya. Keberadaannya bagaikan tiada. Ia itu miskin, kusut, dan tak memiliki nasab yang jelas. Ia terasing, walau di negeri sendiri. Meskipun di zaman terbaik, zaman sahabat.

Rasa iba Rasulullah ﷺ menjadi berkuadrat, karena Julaibib tak pernah memerdulikan keterasingannya. Ia acuh atas sikap manusia kepadanya. Yang ia pikirkan hanyalah, bagaimana cara memenuhi panggilan Allah untuk shalat. Bagaimana cara memenuhi panggilan Rasulullah ﷺ untuk berjihad. Itu saja!

Hingga akhirnya rasa iba menggerakkan kaki Rasulullah ﷺ yang mulia, untuk berkunjung ke rumah salah seorang sahabat Anshari.

“Sahabat, maukah engkau nikahkan putrimu?” tanya Rasulullah ﷺ.
“Sungguh!? Betapa mulianya tawaran darimu, duhai Rasulullah,” jawab Anshari.
“Namun bukan untukku.”
“Lantas?”
“Sahabatku, Julaibib.”

Mendengar nama Julaibib, Anshari bagaikan terserang demam tingkat tinggi. Lesu bukan main. Semangat nan riang yang tadi terpancar indah dari wajahnya seolah menjadi mendung dan gelap. Saking gelapnya, ia sampai tak sadar, bahwa yang meminang untuk Julaibib adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Padahal, apakah pantas rekomendasi Rasulullah ﷺ ditolak? Begitulah. Bukan salah Anshari, juga istrinya nanti. Namun karena jeleknya imej Julaibib, sampai membuat Anshari lupa, bahwa yang datang meminang adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Dan kemungkinan besarnya, Allah mengampuni sahabat tadi. Sebab kesalahan seseorang saat batinnya tidak karuan, seperti terlalu gembira, terlampau sedih, begitu tertekan, dan semisalnya, akan diampuni oleh Allah. Terlebih ia, juga istrinya, adalah sahabat Rasulullah ﷺ. Bukankah orang yang saking gembiranya berkata: “Ya Allah, Engkau hambaku, sedang aku adalah Rabb-Mu” diampuni oleh Allah!?

Rasulullah ﷺ pun manusia bijak bestari. Beliau ﷺ paham sahabatnya. Memang butuh ketegaran sebesar-besarnya untuk menerima Julaibib masuk ke dalam anggota keluarganya. Makanya, saat Anshari berkata: “Bolehkah aku musyawarahkan kepada ibunya terlebih dahulu, wahai Rasulullah,” — Tentu ekspresi pesimis–. Rasulullah ﷺ mengiyakan dan pamit pulang.

“Hah! Julaibib!? Aneh!” teriak sang istri Anshari, mendengar berita yang dibawa sang suami. Ia tidak bisa membayangkan putrinya yang cantik jelita, ayu menawan bersanding dengan si “Damim”. “Aneh! Pokoknya aneh!” Bahkan sang istri mengucapkan kata ‘aneh’ sampai tiga kali.

Dari balik kamar, ternyata sang putri mendengar percakapan kedua orang tuanya. Sang putri terlihat cemas, gusar, galau.

“Ayahanda..Ibunda..,” kata sang putri sesaat sebelum ayahnya beranjak menemui Rasulullah ﷺ hendak menyampaikan permohonan maaf, tidak bisa menerima lamaran beliau ﷺ. Ternyata sang putri mendengarkan percakapan kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan keduanya. Dari tadi ia terlihat cemas, gusar, galau.

“Pantaskah kita menolak pinangan Rasulullah ﷺ?”

Ayah ibunya terdiam. Dramatis!

Kata-kata itu tepat membasahi kalbu mereka berdua. Menyadarkan, bahwa apa yang hendak mereka berdua lakukan kurang tepat. Kurang diberkahi.

“Jika beliau ﷺ rida dengan pilihan tersebut, bukankah sebaiknya engkau berdua nikahkan aku saja dengan lelaki itu?” lanjut sang putri meyakinkan.

“Rasulullah ﷺ tidak akan pernah menyia-nyiakanku.” Luar biasa! Rangkaian kata yang tidak keluar, kecuali dari kalbu Mukmin, shadiq, hazim. Seketika kedua orang tuanya pun tersadar.

“Engkau benar, putriku.”

Maka diberlangsungkanlah pernikahan antara Julaibib dengan Sang Putri.

Jika kita merasa hidup kita sengsara, seharusnya kita malu dengan Julaibib. Sesengsara-sesengsaranya kita, coba bandingkan dengan…ah, janganlah! Memang tabiat kita suka mengeluh. Tidak mau disalahkan! Selalu bersembunyi di balik kalimat: ‘tapi kan–tapi kan’.

Selepas peristiwa menggegerkan Julaibib dengan sang putri Anshari itu,  setidaknya menggegerkan menurut kita, tetap saja Julaibib tak dikenal. Mungkin berbeda dengan kita, kalau dapat anak juragan herbal kaya raya yang cantiknya bukan buatan. Atau, kalau dapat anak ustadz kondang yang sering safari dakwah hampir ke seluruh pelosok nusantara. Kadang-kadang kita terkena sindrom sok terkenal, menumpang figur mertua kita. Astaghfirullah! Julaibib? Tetap dalam keterasingan.

Waktu itu, kaum Muslimin baru saja mendapatkan kemenangan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tiba-tiba saja Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabatnya: “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

Serta merta para sahabat berebutan menjawab, seolah yang mereka sebutkan namanya akan mendapat kabar gembira dari beliau. “Iya, iya, ya Rasulullah. Aku kehilangan si Fulan dan si Fulan.”

Rasulullah ﷺ bergeming dari jawaban mereka: “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

“Saya, saya, ya Rasulullah. Saya kehilangan si Fulan dan si Fulan,” para sahabat dengan sangat antusias menjawab dengan seribu satu harapan dari Rasulullah ﷺ.

Namun beliau ﷺ tetap bergeming. Tetap menyiratkan wajah terpukul kehilangan. Dengan nada parau, beliau ﷺ ulangi pertanyaan beliau, “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

Suasana menjadi hening. Para sahabat yang tadinya sangat antusias sekarang terdiam seribu bahasa, merasa bersalah. Mereka merasa, semakin mereka menjawab, akan semakin membuat Rasulullah ﷺ sedih dan terpukul.

Maka Rasulullah ﷺ tidak sanggup lagi menahan kesedihannya: “Aku kehilangan Julaibib.”

Deg.!! Mereka baru sadar, bahwa di tengah-tengah mereka ada yang bernama Julaibib. Seketika nama itu benar-benar menohok hati para sahabat. Seakan mereka ingin mengutuk diri sendiri, akibat lancang terhadap seseorang yang sangat dimuliakan Rasulullah ﷺ. Mereka benar-benar ingin menangis. Menangisi diri sendiri.

“Tolong carikan sahabatku Julaibib,” pinta Rasulullah ﷺ sendu.

Segera para sahabat mencari Julaibib demi menebus kesalahan mereka. Akhirnya para sahabat menemukan jasad beliau berada di tengah bangkai tujuh orang musyrik.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Dengan hebat dia membunuh tujuh musyrik ini. Mereka pun membunuhnya.”

Setelah bersabda demikian, Rasullah ﷺ semakin terisak-isak. Menambah suasana semakin sedih, mengharu biru, dan menyayat hati para sahabat yang semakin merasa bersalah.

Dengan tangannya yang mulia, Rasulullah ﷺ mengangkat kepala Julaibib dan menyandarkannya ke dada Rasulullah ﷺ. “Sungguh Julaibib dariku dan aku dari Julaibib.”

Rasulullah ﷺ terus mendekap Julaibib, yang membuat para sahabat semakin menangis tersedu-sedu, sembari menunggu sahabat selesai menggali liang kubur untuk beliau.

Julaibib, semoga Allah meridhainya. Sangat indah perjalanan beliau. Hidup tak disebut, meninggal semerbak wangi namanya.

Bagaimana istri beliau? Disebutkan beliau adalah janda paling dermawan sekota Madinah.

Janda? Iya, kawan. Pergaulan Julaibib kepada istri beliau sangatlah menyenangkan. Membuat istri beliau tidak ingin menikah lagi setelah wafatnya. Berharap tetap menjadi istri Julaibib, di Surga kelak.

 

Sumber Referensi:

  • – Shahih Muslim.
  • – Mustard Ahmad

Buah Goresan: Abu Uzair Khairul Huda (kelas 10)

,

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat. Shalawat dan Salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebagian orang agak sedikit rancu dengan jual beli Salam dan jual beli barang yang belum dimiliki. Ada yang masih bingung, sehingga ia anggap, bahwa jual beli Salam semacam di internet, yang hanya dengan memajang katalog barang yang akan dijual, itu tidak dibolehkan, karena dianggap termasuk larangan Nabi ﷺ menjual barang yang tidak dimiliki ketika akad. Inilah bahasan yang ingin kami angkat pada kesempatan kali ini. Semoga pembahasan singkat ini bisa menjawab kerancuan yang ada.

Pengertian Transaksi Salam

Jual beli Salam (biasa pula disebut “Salaf”) adalah jual beli dengan uang di muka secara kontan, sedangkan barang dijamin diserahkan tertunda. Istilahnya adalah, pembeli itu pesan dengan menyerahkan uang terlebih dahulu, sedangkan penjual mencarikan barangnya, walaupun saat itu barang tersebut belum ada di tangan penjual.

Jual beli Salam DIBOLEHKAN, berdasarkan dalil Alquran, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan ulama).

Bolehnya Transaksi Salam

Ayat yang menyebutkan bolehnya hal ini adalah firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

أَشْهَدُ أَنَّ السَّلَفَ الْمَضْمُونَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَحَلَّهُ وَأَذِنَ فِيهِ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى)

“Aku bersaksi bahwa Salaf (transaksi Salam) yang dijamin hingga waktu yang ditentukan, telah dihalalkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah telah mengizinkannya”. Setelah itu Ibnu ‘Abbas menyebutkan firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282) [HR. Al Baihaqi 6/18, Al Hakim 2/286 dan Asy Syafi’i dalam Musnadnya no. 597. Al Hakim mengatakan bahwa hadis ini Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya]

Ibnu’ Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga mengatakan:

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ ، فَقَالَ « مَنْ أَسْلَفَ فِى شَىْءٍ فَفِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ »

“Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) memraktikan jual beli buah-buahan dengan sistem Salaf (Salam), yaitu membayar di muka, dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun kemudian. Lantas Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang memraktikkan Salam dalam jual beli buah-buahan, hendaklah dilakukannya dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang diketahui.” (HR. Bukhari no. 2240 dan Muslim no. 1604)

Adapun dalil ijma’ (kesepakatan para ulama) sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundzir, beliau rahimahullah mengatakan:

أجمع كلّ من نحفظ عنه من أهل العلم على أنّ السّلم جائز.

“Setiap ulama yang kami mengetahui perkataannya telah bersepakat (berijma’) tentang bolehnya jual beli Salam.” [Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, 3/122, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, Lebanon]

Sayyid Sabiq rahimahullah menjelaskan:

“Jual beli Salam dibolehkan berdasarkan kaidah syariat yang telah disepakati. Jual beli semacam ini tidaklah menyelisihi qiyas. Sebagaimana dibolehkan bagi kita untuk melakukan pembayaran tertunda, begitu pula dibolehkan barangnya yang diserahkan tertunda seperti yang ditemukan dalam akad Salam, dengan syarat tanpa ada perselisihan antara penjual dan pembeli. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (QS. Al Baqarah: 282).

Utang termasuk pembayaran tertunda, dari harta yang dijaminkan. Maka selama barang yang dijual disebutkan ciri-cirinya yang jelas dan dijaminkan oleh penjual, begitu pula pembeli sudah percaya, sehingga ia pun rela menyerahkan uang sepenuhnya kepada penjual, namun barangnya tertunda, maka ketika itu barang tersebut boleh diserahkan tertunda. Inilah yang dimaksud dalam surat Al Baqarah ayat 282, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.” [Fiqh Sunnah, 3/123]

Apakah Akad Salam Sama Dengan Jual Beli Barang yang Bukan Milikmu?

Mengenai larangan menjual barang yang tidak dimiliki, telah disebutkan dalam hadis Hakim bin Hizam. Ia berkata pada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ « لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ ».

“Wahai Rasulullah, seseorang mendatangiku, lantas ia menginginkan dariku menjual barang yang bukan milikku. Apakah aku harus membelikan untuknya dari pasar?” Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, At Tirmidzi)

Perlu diketahui, bahwa maksud larangan hadis di atas adalah jual beli sesuatu yang sudah tertentu yang bukan miliknya, ketika akad itu berlangsung. Sebagaimana diterangkan dalam Syarhus Sunnah:

“Yang dimaksud dalam hadis di atas adalah jual beli barang yang sudah tertentu (namun belum dimiliki ketika akad berlangsung). Dan ini bukanlah dimaksudkan larangan jual beli dengan menyebutkan ciri-ciri barang (sebagaimana terdapat dalam akad Salam). Oleh karena itu, transaksi Salam itu dibolehkan dengan menyebutkan ciri-ciri barang yang akan dijual, asalkan terpenuhi syarat-syaratnya, walaupun belum dimiliki ketika akad berlangsung. Sedangkan contoh jual beli barang yang tidak dimiliki yang terlarang, seperti jual beli budak yang kabur, jual beli barang sebelum diserahterimakan, dan yang semakna dengannya, adalah jual beli barang orang lain tanpa seizinnya, karena pada saat ini tidak diketahui, bahwa yang memiliki barang tersebut mengizinkan ataukah tidak.” [‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi, 9/291, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah-Beirut, 1415]

Sayyid Sabiq, rahimahullah, menjelaskan: “Jual beli Salam tidaklah masuk dalam larangan Rasulullah ﷺ mengenai jual beli yang bukan miliknya. Larangan tersebut terdapat dalam hadis Hakim bin Hizam: “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.”

Yang dimaksud larangan yang disebutkan dalam hadis ini adalah larangan menjual harta yang mampu diserahterimakan ketika akad. Karena barang yang mampu diserahterimakan ketika akad, dan ia tidak memilikinya saat itu, maka jika ia jual, berarti hakikatnya barang tersebut tidak ada. Sehingga jual beli semacam ini menjadi jual beli ghoror (ada unsur ketidakjelasan).

Sedangkan jual beli barang yang disebutkan ciri-cirinya dan sudah dijaminkan oleh penjual, serta penjual mampu menyerahkan barang yang sudah dipesan sesuai waktu yang ditentukan, maka jual beli semacam ini tidaklah masalah.” [Fiqh Sunnah, 3/123-124]

Contoh riil jual beli Salam adalah seperti kita lihat pada jual beli di internet, baik dengan brosur, katalog atau toko online. Jual beli semacam ini menganut jual beli sistem Salam. Penjual hanya memajang kriteria atau ciri-ciri barang yang akan dijual, sedangkan pembeli diharuskan untuk menyerahkan uang pembayaran lebih dahulu, dan barangnya akan dikirim setelah itu. Jual beli semacam ini tidaklah masalah selama syarat-syarat transaksi Salam dipenuhi.

Sedangkan jual beli barang yang tidak dimiliki ketika akad berlangsung, seperti ketika seseorang meminjam HP milik si A, lalu ia katakan pada si B (tanpa izin si A): “Saya jual HP ini untukmu”. Ini tidak dibolehkan karena si pemilik HP (si A) belum tentu mengizinkan HP tersebut dijual kepada yang lain (si B). Ini sama saja orang tersebut menjual HP yang bukan miliknya, karena tidak adanya izin dari si pemilik barang. Namun jika dengan izin si pemilik, beda lagi statusnya. Semoga contoh yang sederhana ini dapat memberikan kepahaman.

Jadi jual beli Salam dimaksudkan, yang dijual adalah ciri-ciri atau sifat barang, sedangkan larangan jual beli barang yang belum dimiliki yang dimaksud adalah, barang tersebut sudah ditentukan, namun belum jadi milik si penjual. Semoga Allah beri kepahaman.

Syarat Transaksi Salam

Setelah kita mengetahui bolehnya transaksi Salam, transaksi dibolehkan tentu saja dengan memenuhi syarat-syarat. Syarat yang dipenuhi adalah berkenaan dengan upah yang diserahkan pembeli dan berkaitan dengan akad Salam.

Syarat yang berkaitan dengan upah yang diserahkan pembeli adalah:

[1] Jelas jenisnya;
[2] Jelas jumlahnya,
[3] Diserahkan secara tunai ketika akad berlangsung (tidak boleh dengan pembayaran tertunda) [Syarat ketiga ini wajib dipenuhi, karena inilah syarat yang disepakati oleh para ulama sebagaimana dikatakan oleh Asy Syaukani dan muridnya, Shidiq Hasan Khon. (Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 182, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1422)].

Syarat yang berkaitan dengan akad Salam adalah:

[1] Sudah dijamin oleh penjual;
[2] Barang yang dijual diketahui ciri-cirinya dan jumlahnya, sehingga bisa dibedakan dengan yang lain;
[3] Kapan barang tersebut sampai ke pembeli harus jelas waktunya. [Lihat Fiqh Sunnah, 3/124]

Demikian sedikit penjelasan kami mengenai akad Salam dan sedikit kerancuan mengenai jual beli barang yang tidak dimiliki. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1069-bolehkah-jual-beli-dengan-sekedar-memajang-katalog-di-internet.html

MENAHAN DIRI DARI BERBICARA TENTANG TAKDIR

MENAHAN DIRI DARI BERBICARA TENTANG TAKDIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

MENAHAN DIRI DARI BERBICARA TENTANG TAKDIR

Pembicaraan tentang takdir hanyalah sekedar penyebutan, atau pemahaman yang benar terhadap dalil-dalil dari Alquran dan Hadis yang Shahih. Tidak lebih dari itu.

Tidak boleh kita memerbincangkan takdir melewati batas itu. Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا

“Jika disebutkan tentang takdir, maka tahanlah.” (H.R Al-Harits bin Abi Usamah dalam Musnadnya, Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany).

Di antaranya adalah larangan menanyakan atau memerbincangkan alasan, mengapa suatu ditakdirkan demikian dan tidak demikian.

Mengapa Fulan ditakdirkan begini, tapi Fulan ditakdirkan begitu.

Itu semua adalah terlarang, karena termasuk menanyakan tentang perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sedangkan perbuatan Allah tidaklah boleh untuk ditanyakan, karena pasti berkisar antara kelebihan kebaikan (fadhl) dan keadilan.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan-Nya, sedangkan mereka (makhluk) akan ditanya (QS Al-Anbiyaa: 23).

 

Dikutip dari Buku “Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafii)”

Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

 

Sumber: http://telegram.me/alistiqomah

, ,

SATU AYAT ALQURAN SANGAT BERMANFAAT JIKA DIPAHAMI DENGAN BAIK

SATU AYAT ALQURAN SANGAT BERMANFAAT JIKA DIPAHAMI DENGAN BAIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah
#NasihatUlama

SATU AYAT ALQURAN SANGAT BERMANFAAT JIKA DIPAHAMI DENGAN BAIK

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه

“Sebaik-baik kalian adalah yang memelajari Alquran dan mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhari dari Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu]

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

فقراءة آية بتفكر وتفهم خير من قراءة ختمة بغير تدبر وتفهم وأنفع للقلب وأدعى إلى حصول الإيمان وحلاوة القرآن

“Membaca satu ayat disertai perenungan dan usaha memahami adalah:

  • Lebih baik,
  • Lebih bermanfaat bagi hati,
  • Lebih mendorong dalam meraih keimanan,
  • Lebih menghasilkan manisnya Alquran;

Daripada sekadar membaca sampai khatam, tanpa perenungan dan tanpa usaha memahami.” [Miftah Daris Sa’aadah, 1/187]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1914703818762420:0

,

BIMBINGAN ULAMA SEPUTAR PERAYAAN VALENTINE’S DAY

BIMBINGAN ULAMA SEPUTAR PERAYAAN VALENTINE'S DAY

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fatwa_Ulama

BIMBINGAN ULAMA SEPUTAR PERAYAAN VALENTINE’S DAY

Pertanyaan:

Sebagian orang, pada setiap 14 Februari merayakan Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day). Mereka saling memberikan hadiah mawar merah, menggunakan pakaian merah muda (pink) dan saling mengucapkan selamat antara satu dengan yang lainnya. Dan sebagian toko makanan ringan ikut merayakan dengan membuat berbagai macam makanan yang berwarna merah muda dalam bentuk hati (love), serta sebagian toko ini mengumumkan penjualan beberapa barang yang hanya dijual khusus pada hari tersebut. Maka bagaimakah pendapatmu:

➡ Pertama: Tentang hukum perayaan Valentine’s Day ini?

➡ Kedua: Hukum membeli pada toko-toko tersebut di hari ini?

➡ Ketiga: Hukum penjualan pernak-pernik hadiah Valentine’s Day oleh pemilik toko (yang tidak ikut merayakan) untuk yang merayakan?

Wajazaakumullaahu khairon.

Jawaban:

Dalil-dalil yang tegas dari Alquran dan As-Sunnah serta Ijma’ (kesepakatan) ulama Salaf (terdahulu) menunjukkan, bahwa hari-hari perayaan dalam Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Adapun hari-hari perayaan selain itu, apakah berkaitan dengan perayaan seseorang, kelompok, kejadian atau berkaitan dengan apa saja, maka itu termasuk kategori bid’ah. Tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk melakukannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan ataupun membantunya sedikit pun. Sebab hal itu termasuk pelanggaran terhadap ketentuan Allah ta’ala. Dan barang siapa yang melanggar ketentuan Allah maka sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri.

Dan apabila tenyata hari perayaan tersebut asalnya dari orang-orang kafir, maka bertambahlah dosanya. Sebab dalam hal itu terdapat tasyabbuh (penyerupaan), dan merupakan satu bentuk loyal kepada orang-orang kafir.

Dan sungguh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya yang mulia telah melarang kaum Mukminin untuk tasyabbuh dan loyal kepada orang-orang kafir. Dan juga Rasulullah ﷺ bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” [Sunan Abi Daud (4031) Musnad Ahmad (2/50)]

Dan perayaan Valentine’s Day termasuk bentuk tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, sebab ia berasal dari paganisme Kristen. Maka tidak halal bagi seorang Muslim yang beriman kepada Allah ta’ala dan Hari Akhir, untuk merayakannya, menyetujuinya, atupun sekedar mengucapkan selamat kepada yang merayakannya.

Bahkan wajib untuk meninggalkannya dan menjauhinya, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ, serta menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan kepada kemurkaan Allah ta’ala dan azab-Nya.

Juga diharamkan atas seorang Muslim untuk membantu perayaan ini, maupun perayaan-perayaan lainnya yang diharamkan. Apakah membantunya dalam bentuk makanan, minuman, penjualan, pembelian, pembuatan, hadiah, pengiriman, pengumuman, atau bantuan apapun juga diharamkan, sebab hal itu termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, serta maksiat kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ.

Allah jalla wa ‘ala telah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Maidah: 2]

Dan wajib atas seorang Muslim untuk berpegang teguh dengan Alquran dan As-Sunnah dalam semua keadaannya. Terlebih lagi di hari-hari yang penuh fitnah dan banyaknya kerusakan.

Maka hendaklah ia berusaha keras untuk berhati-hati dari berbagai macam kesesatan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan orang-orang yang sesat (Kristen), serta orang-orang fasik yang tidak takut kepada Allah ta’ala yang azab-Nya begitu keras, tidak pula mereka itu bisa meninggikan Islam.

Dan hendaklah seorang Muslim selalu kembali kepada Allah ta’ala dengan memohon hidayah kepada-Nya dan kekokohan di atas hidayah tersebut. Karena sesungguhnya tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Allah ta’ala, dan tidak ada yang bisa mengokohkan, kecuali Dia subhanahu wa ta’ala.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa:

Ketua: Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah Aalus Syaikh

Anggota:

Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1915773338655468:0

http://sofyanruray.info/bimbingan-ulama-seputar-perayaan-valentine-day/