Posts

LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH

LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
 
“Demi Allah, jikalau Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab dirimu, hal itu benar-benar lebih baik bagimu daripada (kamu memiliki) unta-unta merah”[ HR. Bukhari no. 2942 dan Muslim no. 2406, dari Sahl bin Sa’ad]
 
Imam Al Bukhari rahimahullah membuat judul Bab dari hadis di atas: “Bab: Keutamaan Seseorang Memberi Petunjuk Pada Orang Lain Untuk Masuk Islam”.
 
Abu Daud membawakan hadis di atas pada “Bab: Keutamaan Menyebarkan Ilmu”.
 
Penulis ‘Aunul Ma’bud, mengatakan:
“Unta merah adalah semulia-mulianya harta menurut mereka (para sahabat).” [‘Aunul Ma’bud, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut, cetakan kedua, 1415 H, 4/206]
 
Di lain tempat, beliau rahimahullah mengatakan: “Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabi ﷺ).” [‘Aunul Ma’bud, 10/69]
 
Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup apik. Beliau rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah unta merah.Unta tersebut adalah harta teristimewa di kalangan orang Arab kala itu.
 
Di sini Nabi ﷺ menjadikan unta merah sebagai permisalan untuk mengungkapkan berharganya (mulianya) suatu perbuatan. Dan memang tidak ada harta yang lebih istimewa dari unta merah kala itu. Sebagaimana pernah dijelaskan, bahwa permisalan suatu perkara Akhirat dengan keuntungan dunia, ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman (agar mudah paham). Namun tentu saja balasan di Akhirat itu lebih besar dari kenikmatan dunia yang ada. Demikianlah maksud dari setiap gambaran yang biasa disebutkan dalam hadis. Dalam hadis ini terdapat pelajaran tentang keutamaan ilmu. Juga dalam hadis tersebut dijelaskan keutamaan seseorang yang mengajak pada kebaikan. Begitu pula hadis itu menjelaskan keutamaan menyebarkan sunnah (ajaran Islam) yang baik.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 15/178]
 
[Artikel www.rumaysho.com]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#untaunta, #ontaonta, #untamerah , #ontamerah, #lebihdarisekedar, #lebihdarisekadar, #sekadar, #sekedar #Allahmemberihidayah #sebabdirimu #hartaterbaik #hidayahmilikAllah #hartapalingistimewa

LEBIH DARI SEKADAR UNTA MERAH

LEBIH DARI SEKADAR UNTA MERAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

LEBIH DARI SEKADAR UNTA MERAH

 
Penulis ‘Aunul Ma’bud, mengatakan:
“Unta merah adalah semulia-mulianya harta menurut mereka (para sahabat).” [‘Aunul Ma’bud, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut, cetakan kedua, 1415 H, 4/206]
 
Di lain tempat, beliau rahimahullah mengatakan:
“Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabi ﷺ).” [‘Aunul Ma’bud, 10/69]
 
Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup apik. Beliau rahimahullah mengatakan:
“Yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah unta merah.
Unta tersebut adalah harta teristimewa di kalangan orang Arab kala itu. Di sini Nabiﷺ menjadikan unta merah sebagai permisalan untuk mengungkapkan berharganya (mulianya) suatu perbuatan. Dan memang tidak ada harta yang lebih istimewa dari unta merah kala itu. Sebagaimana pernah dijelaskan, bahwa permisalan suatu perkara Akhirat dengan keuntungan dunia, ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman (agar mudah paham). Namun tentu saja balasan di Akhirat itu lebih besar dari kenikmatan dunia yang ada.
 
Demikianlah maksud dari setiap gambaran yang biasa disebutkan dalam hadis. Dalam hadis ini terdapat pelajaran tentang keutamaan ilmu. Juga dalam hadis tersebut dijelaskan keutamaan seseorang yang mengajak pada kebaikan. Begitu pula hadis itu menjelaskan keutamaan menyebarkan sunnah (ajaran Islam) yang baik.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 15/178]
 
Sumber: Rumaysho.Com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#mutiarasunnah, #untamerah, #ontamerah, #sekedar, #sekadar, #lebihbaik, #mengajakpadakebaikan, #Allahmemberikanhidayah, #Allahmemberikanpetunjuk, #perantaraan, #melalui
,

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

>> Katakanlah “Insyaallah”! Mudah-Mudahan Allah Membantumu Melaksanakannya

Kasus Pertama

Di antara sebab turunnya Surat al Kahfi adalah ketika orang-orang Quraisy bertanya tiga pertanyaan titipan orang-orang Yahudi kepada Rasulullah ﷺ:

Pertama: Tanyakan tentang para pemuda yang pergi di masa lalu, apa yang mereka lakukan. Sesungguhnya mereka mengalami peristiwa yang menakjubkan.

Kedua: Tanyakan padanya tentang lelaki yang sering berkelana. Ia telah mengunjungi seluruh penjuru bumi.

Ketiga: Tanyakan padanya tentang apa itu ruh.

Rasulullah ﷺ pun menjawab: “Akan kujawab apa yang kamu tanyakan besok”. Namun apa yang terjadi? sampai 15 hari, jawaban tersebut tidaklah turun. Dan akhirnya turunlah Surat al Kahfi untuk mennjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang di antara ayatnya ada sebuah teguran kepada Rasulullah ﷺ untuk TIDAK memastikan sesuatu kecuali dengan kata insyaallah.

وَلاَتَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًاإِلآ أَن يَشَآءَ اللهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut), ‘Insyaallah’”. (QS. Al Kahfi: 24)

Ternyata kuncinya adalah ucapan “Insyaallah”.

Kasus Kedua

Kalau kita membuka-buka kembali Alquran, kita juga akan dapati sebuah kisah orang-orang Yahudi di zaman Nabi Musa, yang diperintahkan untuk menyembelih sapi betina, namun mereka ngeyel. Mereka terus bertanya-tanya model sapinya:

Kali pertama disuruh mereka bertanya:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ

“Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?” (QS. Al Baqarah: 68)

Setelah dijelaskan masih bertanya lagi:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَالَوْنُهَا

”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. (QS. Al Baqarah: 69)

Setelah dijelaskan, masih bertanya lagi, namun kali ini Bani Israil itu menambahkan kalimat, “insyaallah”

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَآءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, bagaimana hakikat sapi betina itu. Karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami, dan sesungguhnya kami insyaallah akan mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah: 70)

Barulah, mereka menyembelihnya

فَذَبَحُوهَا وَمَاكَادُوا يَفْعَلُونَ

”Kemudian mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (QS. Al Baqarah: 71)

Ternyata, kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Kasus Ketiga

Dalam hadis diriwayatkan kisah Ya’juj dan Ma’juj. Disebutkan kisah Ya’juj dan Ma’juj yang mencoba membongkar tembok yang telah dibuat oleh Dzulqarnain.

“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj membongkarnya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari. Pemimpin mereka berkata: ‘Kita pulang, kita teruskan besok’. Lalu Allah mengembalikannya lebih kuat dari sebelumnya. Ketika masa mereka telah tiba dan Allah ingin mengeluarkan mereka kepada manusia, mereka menggali. Ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, pemimpin mereka berkata: ‘Kita pulang, kita teruskan besok insyaallah’. Mereka mengucapkan insyaallah. Mereka kembali ke tempat mereka menggali, mereka mendapatkan galian seperti kemarin. Akhirnya mereka berhasil menggali dan keluar kepada manusia”. (HR Ibnu Majah dan at Tirmidzi dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah ash Shahihah)

Maka sekali lagi kita dapati bahwa kuncinya adalah kalimat ”Insyaallah”.

Kasus Keempat

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan juga oleh Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Sulaiman bin Dawud berkata: ‘Sungguh aku akan menggilir sembilan puluh istriku pada malam ini. Masing-masing akan melahirkan satu pejuang yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu sahabatnya berkata: ‘Ucapkan insyaallah!’, tetapi beliau tidak mengucapkannya. Akhirnya dia menggauli semua istrinya itu, dan tidak satu orang pun dari mereka hamil, kecuali satu istri saja yang melahirkan anak dengan wujud setengah manusia. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia mengucapkan ‘insyaallah’, niscaya mereka semua akan (melahirkan) para pejuang yang berjuang di jalan Allah.”

Lagi, ternyata kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Kasus Kelima

Dalam Alquran yang mulia disebutkan tentang pemilik kebun yang bersumpah pasti akan memetik hasil kebun mereka pada pagi hari:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ .وَلَا يَسْتَثْنُونَ .فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ.فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah), sebagaimana Kami telah mennguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah, bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, insyaallah). Lalu kebun itu ditimpa bencana yang datang dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita” (QS. Al Qalam: 68)

Pada ayat “وَلَا يَسْتَثْنُونَ ” dalam Tafsir Al-Qurtubi: {اي ولم يقولوا إن شاء الله } yaitu mereka belum mengatakan insyaallah. Begitu juga di Tafsir Al Muyassar.

Sekali lagi, ternyata kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Maka, insyaallah bukanlah sekadar kalimat pemanis bibir. Dengan mengucapkan insyaallah, kita berharap kepada Allah, agar Dia menetapkan janji dan rencana amal saleh yang kita buat.

 

***

Penyusun: Irilaslogo

Sumber:

  • http://muslimah.or.id, dari status ustadz Amrullah Akadhinta
  • Anakku Sudah Tepatkah Pendidikannya? Karya Musthafa Al-Adawi
, ,

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#TazkiyatunNufus

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إن لله تسعة وتسعين اسما، مائة إلا واحدًا، من أحصاها دخل الجنة

“Sesungguhnya Allah memunyai 99 (sembilan puluh sembilan) nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang ‘MENGHITUNGNYA’, niscaya ia masuk Surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677, dari hadis Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ومعنى (أحصاها) أي: عرفها لفظاً، وعرفها معنى، وتعبد لله بمقتضاها، وليس المراد أن تحفظها فقط، بل لابد من حفظ اللفظ وفهم المعنى، والتعبد لله بها بمقتضاها،

“Makna ‘MENGHITUNGNYA’ (Al-Asmaul-Husnaa) adalah: Mengetahui lafalnya dan maknanya, serta beribadah kepada Allah sesuai dengan penunjukan nama-nama tersebut. Bukanlah yang dimaksud dari hadis tersebut hanyalah menghapalnya saja, akan tetapi mencakup menghapalkan lafalnya, memahami maknanya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan penunjukannya.” [Tafsiir Al-‘Allamah Ibni ‘Utsaimin, juz 4 – www.islamspirit.com].

Asy-Syaikh Asyraf bin ‘Abdil-Maqshud hafidhahullah berkata:

إحصاؤها: حفظها لفظا، وفهمها معنىً، وتمامه: أن يتعبد لله تعالى بمقتضاها.

“MENGHITUNGNYA (Al-Asmaul-Husnaa) maknanya adalah: Menghapal lafalnya dan memahami maknanya. Dan untuk kesempurnaannya: Beribadah kepada Allah ta’ala sesuai dengan penunjukan nama-nama tersebut” [Al-Qawaaidul-Mutslaa, hal 14; Universitas Islam Madinah, Cet. 3/1421 H – www.islamspirit.com].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قال الأصيلي: الإحصاء للاسماء العمل بها لا عدها وحفظها لأن ذلك قد يقع للكافر المنافق كما في حديث الخوارج يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم. وقال بن بطال: الإحصاء يقع بالقول ويقع بالعمل فالذي بالعمل أن لله أسماء يختص بها كالأحد والمتعال والقدير ونحوها فيجب الإقرار بها والخضوع عندها وله أسماء يستحب الاقتداء بها في معانيه كالرحيم والكريم والعفو ونحوها فيستحب للعبد ان يتحلى بمعانيها ليؤدي حق العمل بها فبهذا يحصل الإحصاء العملي وأما الإحصاء القولي فيحصل بجمعها وحفظها والسؤال بها ولو شارك المؤمن غيره في العد والحفظ فان المؤمن يمتاز عنه بالإيمان والعمل بها

“Telah berkata Al-Ashiliy: MENGHITUNG nama-nama Allah maknanya adalah beramal dengannya, bukan sekadar menghitung dan menghapalkannya. Sebab, menghitung dan menghapal bisa dilakukan oleh orang kafir dan munafik, sebagaimana hadis tentang Kahwarij: ‘Mereka membaca Alquran, namun tidak sampai melampaui tenggorokan mereka’. Ibnu Baththaal berkata: ‘Menghitung nama-nama Allah bisa dilakukan dengan perkataan dan perbuatan. Adapun dengan perbuatan, bahwasannya Allah memunyai nama-nama khusus seperti Al-Ahad, Al-Muta’aal, Al-Qadiir, dan yang semisalnya. Maka wajib untuk menetapkan nama-nama ini dan tunduk kepadanya. Allah juga memunyai nama-nama, yang terhadap makna nama-nama tersebut, orang dianjurkan untuk mencontohnya, seperti: Ar-Rahim, Al-‘Afwu, dan yang semisalnya. Maka wajib bagi seorang hamba berhias diri dengannya, sehingga dapat menunaikan hak beramal dengan nama-nama itu. Dengan ini, dapat tercapai makna ‘Menghitung’ secara ‘amaliy. Adapun menghitung dengan perkataan, dapat dihasilkan dari menghimpun, menghapal, dan memohon dengan nama-nama Allah tersebut. Meskipun hal itu dapat dilakukan oleh selain Mukmin, namun seorang Mukmin memunyai kelebihan, yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan beramal dengannya” [Fathul-Baariy, 13/378].

Wallaahu a’lam.

 

Penulis: Abu Al-Jauzaa’

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/apakah-yang-dimaksud-menghitung-Asmaul.html

 

 

,

BERSYUKUR BUKAN SEKADAR BERUCAP ALHAMDULILLAH

BERSYUKUR BUKAN SEKADAR BERUCAP ALHAMDULILLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Petuah_Ulama

BERSYUKUR BUKAN SEKADAR BERUCAP ALHAMDULILLAH

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

الشكر يكون: بالقلب: خضوعا واستكانة، وباللسان: ثناء واعترافا، وبالجوارح: طاعة وانقيادا

Syukur itu terlaksana dengan (tiga perkara):

1) Hati: Tunduk dan merendah karena takut kepada Allah,

2) Lisan: Memuji Allah dan mengakui nikmat-Nya,

3) Anggota tubuh: Taat dan patuh kepada-Nya.

[Madaarijus Saalikin, 6/246]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/744910892325062:0

, ,

SATU AYAT ALQURAN SANGAT BERMANFAAT JIKA DIPAHAMI DENGAN BAIK

SATU AYAT ALQURAN SANGAT BERMANFAAT JIKA DIPAHAMI DENGAN BAIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah
#NasihatUlama

SATU AYAT ALQURAN SANGAT BERMANFAAT JIKA DIPAHAMI DENGAN BAIK

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه

“Sebaik-baik kalian adalah yang memelajari Alquran dan mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhari dari Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu]

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

فقراءة آية بتفكر وتفهم خير من قراءة ختمة بغير تدبر وتفهم وأنفع للقلب وأدعى إلى حصول الإيمان وحلاوة القرآن

“Membaca satu ayat disertai perenungan dan usaha memahami adalah:

  • Lebih baik,
  • Lebih bermanfaat bagi hati,
  • Lebih mendorong dalam meraih keimanan,
  • Lebih menghasilkan manisnya Alquran;

Daripada sekadar membaca sampai khatam, tanpa perenungan dan tanpa usaha memahami.” [Miftah Daris Sa’aadah, 1/187]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1914703818762420:0

,

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KENAPA ENGKAU TIDAK IKHLAS SAJA DALAM BERAMAL?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini … !!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh, kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini…!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka, ke jalan yang lurus.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memperlancar-

 

,

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAGAIMANA HUKUM BISNIS MLM?

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya tentang usaha atau bisnis yang akhir-akhir ini sedang marak di masyarakat, yaitu MLM (Multi Level Marketing). Bagaimanakah hukumnya?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Banyak sekali pertanyaan yang datang kepada Al-Lajnah ad-Da’imah Lil Buhut al-Ilmiyah wal Ifta’ tentang aktivitas perusahaan-perusahaan pemarasan berpiramida (Multi Level Marketing), seperti Biznas. Yang inti dari aktivitas mereka adalah mengajak seseorang untuk membeli sebuah produk, agar dia juga bisa mengajak orang lain untuk membeli produk tersebut, demikian seterusnya.

Setiap kali bertambah tingkatan anggota di bawahnya, maka orang yang pertama akan mendapatkan keuntungan besar, yang bisa mencapai ribuan Real. Dan setiap anggota yang dapat mengajak orang-orang setelah bergabung, maka ia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar pula, selagi ia berhasil merekrut anggota-anggota baru ke dalam daftar para anggota. Inilah yang dinamakan dengan pemasaran berpiramida atau Multi Level Marketing (MLM).

Maka, Lajnah Da’imah menjawab:

“Sesungguhnya transaksi jenis ini adalah HARAM, karena tujuannya adalah komisi, bukan produk. Terkadang komisi itu bisa mencapai puluh ribu, padahal harga produk tidaklah sampai seratus. Orang yang berakal ketika dihadapkan di antara dua pilihan, niscaya ia akan memilih komisi. Karena itu, sandaran perusahaan-perusaan ini dalam memromosikan produk-produk mereka, adalah menampakkan jumlah komisi yang besar, yang mungkin didapatkan oleh anggota, dan menjanjikan buat mereka keuntungan yang melampaui batas, sebagai imbalan dari modal yang kecil, yaitu harga produk. Maka produk yang dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan ini sekadar label dan pengantar untuk mendapatkan keuntungan besar.

Melihat hakikat dari transaksi di atas, maka secara syari, usaha seperti ini adalah HARAM karena beberapa alasan:

Transaksi tersebut mengandung riba, baik Riba Fadhl atau Riba Nasi-Ah (Riba Fadhl adalah penambahan pada salah satu dari dua barang ribawi [barang yang bisa diterapkan hukum riba padanya] yang sejenis dengan transaksi yang kontan. Adapun Riba Nasi’ah adalah transaksi antara dua jenis barang ribawi yang sama sebab ribanya, tapi tidak secara kontan). Orang yang ikut dalam bisnis itu membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar darinya. Maka, ia menukar uang dengan uang dalam bentuk tafadhul (ada selisih nilai) dan ta’khir (tidak kontan). Ini adalah bentuk riba yang diharamkan menurut nash Alquran dan as-Sunnah dan kesepakatan para ulama. Produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen hanya sebagai kedok untuk barter uang tersebut, dan bukan menjadi tujuan anggota untuk mendapatkan keuntungan dari pemasarannya, sehingga keberadaan produk tidak berpengaruh dalam hukum transaksi jual beli.

Transaksi seperti ini termasuk gharar (yaitu hakikat atau kadar barang yang tidak diketahui oleh salah satu dari kedua belah pihak) yang diharamkan menurut syariat, karena anggota tidak mengetahui, apakah dia akan berhasil mendapatkan jumlah anggota yang cukup atau tidak? Dan bagaimanapun pemasaran berpiramida itu berlanjut, pasti akan mencapai batas akhir yang akan berhenti padanya. Sedangkan anggota tidak tahu ketika bergabung di dalam piramida, apakah dia berada di tingkatan teratas sehingga ia beruntung, atau berada di tingkatan bawah sehingga ia merugi. Dan kenyataannya, kebanyakan anggota piramida merugi, kecuali sangat sedikit di tingkatan atas. Dengan demikian, yang mendominasi adalah kerugian. Maka, ini adalah hakikat gharar (tidak ada kejelasan di antara dua belah pihak). Padahal, Rasulullah ﷺ telah melarang dari perbuatan gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.

Apa yang terdapat dalam transaksi ini merupakan praktik memakan harta manusia dengan cara yang batil, karena tidak ada yang mengambil keuntungan dari transaksi ini, selain perusahaan dan para anggota yang ditentukan oleh perusahaan, dengan tujuan menipu anggota lainnya. Hal ini telah disebutkan dalam Alquran tentang keharamannya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…” (QS. An-Nisa: 29).

Dalam transaksi ini terdapat penipuan, pengaburan dan penyamaran terhadap manusia. Dari sisi penampakan produk, seakan-akan itulah tujuan dalam transaksi, padahal kenyataannya tidak demikian. Dan dari sisi yang lain, mereka menjanjikan komisi yang besar, tapi seringnya tidak terwujud. Dan ini semua terhitung penipuan yang diharamkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Siapa saja yang menipu, maka ia bukan golonganku.” (HR. Muslim 295).

Dan dalam hadis yang lain, beliau ﷺ bersabda:

الْبَيْعَانِ بِلْخِيَارِ مَا لِمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بِوْرِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Dua orang yang melakukan transaksi jual beli berhak menentukan pilihannya (khiyar) selama belum berpisah, niscaya akan mendapatkan berkah dari transaksinya. Dan jika keduanya saling dusta dan tertutup, niscaya akan dicabut keberkahan transaksinya.” (HR. al-Bukhari, 2079 dan Muslim 1532).

Adapun pendapat bahwa transaksi ini tergolong samsarah (jasa sebagai perantara atau makelar), maka itu TIDAK BENAR. Karena samsarah adalah transaksi di mana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usaha menjual produknya. Adapun pemasaran MLM, anggotalah yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan produk tersebut.

Hakikat atau maksud dari samsarah adalah memasarkan barang, berbeda dengan pemasaran berbasis MLM, yang maksud sebenarnya adalah pemasaran komisi dan bukan (pemasaran) produk. Karena itu, orang yang bergabung dalam MLM akan memasarkan kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya. Berbeda dengan samsarah, (di mana) pihak perantara benar-benar memasarkan kepada calon pembeli barang. Perbedaan di antara dua transaksi sangatlah jelas.

Adapun pendapat bahwa komisi-komisi tersebut masuk dalam kategori hibah (pemberian), maka ini tidak benar. Andaikata (pendapat itu) diterima, maka tidak semua bentuk hibah itu boleh menurut syariat. (Sebagaimana) hibah yang terkait dengan suatu pinjaman adalah riba.

Oleh karena itu, Abdullah bin Salam berkata kepada Abu Burdah:

إِنَّكَ بِأَزْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ إَذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيْرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٌ فَإِنَّهُ رِبًا

“Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang riba tersebar padanya. Maka, jika engkau memiliki hak pada seseorang kemudian dia menghadiahkan kepadanya sepikul jerami, sepikul gandum atau sepikul tumbuhan, maka itu adalah riba.” (HR. al-Bukhari, 3814).

Dan (hukum) hibah tergantung dari SEBAB ADANYA hibah tersebut. Karena itu, ketika ada seorang pekerja yang datang lalu berkata: “Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepada saya.” Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukankah seandainya engkau duduk di rumah ayahmu atau ibumu, lalu engkau menunggu (saja), apakah dihadiahkan kepadamu atau tidak?” (HR. Muslim 1832).

Dan komisi-komisi ini hanyalah diperoleh karena bergabung dalam sistem pemasaran berjejaring. Maka apapun namanya, baik itu hadiah, hibah, atau selainnya, maka hal tersebut sama sekali TIDAK mengubah hakikat dan hukumnya.

Dan (juga) hal yang patut disebut juga, ada beberapa perusahaan yang muncul di pasar bursa dengan sistem pemasaran berpiramida (MLM) dalam transaksi mereka. Dan hukumnya sama dengan perusahaan-perusahaan yang telah berlalu penyebutannya. Walaupun sebagiannya berbeda dengan yang lainnya pada produk-produk yang mereka perdagangkan. Wabillahi taufiq wa shallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi. (Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah Lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ tanggal 14/3/1425 no. 22935)

Sumber: Majalah Al Mawaddah, Vol. 34/Ramadhan-Syawwal 1431 H

Dipublikasikan oleh www.PengusahaMuslim.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya oleh tim redaksi.

Sumber : http://pengusahamuslim.com/tanya-jawab-bagaimana-hukum-bisnis-mlm

 

 

,

BERBOHONG DALAM CANDAAN

BERBOHONG DALAM CANDAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BERBOHONG DALAM CANDAAN

Berbohong dalam lawakan atau candaan tetap tidak boleh, termasuk juga ketika usilin atau candain orang. Dan ini juga jadi alasan tidak bolehnya membohongi orang di April Mop. Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah (34: 208) disebutkan:

“Berdusta saat bercanda tetap haram, sebagaimana berdusta dalam keadaan lainnya.”

Ada sebuah hadis menyebutkan:

لاَ يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِى الْمُزَاحَةِ وَيَتْرُكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقاً

“Seseorang tidak dikatakan beriman seluruhnya, sampai ia meninggalkan dusta saat bercanda, dan ia meninggalkan debat walau itu benar.” (HR. Ahmad 2: 352. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Dhaif)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنِّي لأَمْزَحُ , وَلا أَقُولُ إِلا حَقًّا

“Aku juga bercanda, namun aku tetap berkata yang benar.” (HR. Thobroni dalam Al Kabir 12: 391. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis tersebut Shahih dalam Shahih Al Jaami’ no. 2494).”

Berdusta yang tujuannya hanya ingin membuat orang tertawa termasuk kena ancama Wail.

Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim, telah menceritakan, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta, hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)

Boleh saja membuat candaan, namun sekadar garam yang dibutuhkan pada makanan. Terlalu berlebih dalam bercanda jadi tidak enak, malah keasinan.

لاَ تُكْثِرُ الضَّحَكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحَكِ تُمِيْتُ القَلْبَ

“Janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (Shahih Al Jami’ no. 7435, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait.

http://islamqa.info/ar/22170

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10672-berbohong-dalam-candaan.html

, ,

JANGAN SEKADAR KHATAM ALQURAN

JANGAN SEKADAR KHATAM ALQURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

JANGAN SEKADAR KHATAM ALQURAN

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

فقراءة آية بتفكر وتفهم خير من قراءة ختمة بغير تدبر وتفهم وأنفع للقلب وأدعى إلى حصول الإيمان وحلاوة القرآن

“Membaca satu ayat disertai perenungan dan usaha memahami adalah:

  • Lebih baik,
  • Lebih bermanfaat bagi hati,
  • Lebih mendorong dalam meraih keimanan,
  • Lebih menghasilkan manisnya Alquran;

Daripada sekadar membaca sampai khatam, tanpa perenungan dan tanpa usaha memahami.” [Miftah Daris Sa’aadah, 1/187]