Posts

,

DOAKAN KESEMBUHAN DAN KESEHATAN UNTUK ORANG YANG SAKIT

DOAKAN KESEMBUHAN DAN KESEHATAN UNTUK ORANG YANG SAKIT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOAKAN KESEMBUHAN DAN KESEHATAN UNTUK ORANG YANG SAKIT

Hendaknya orang yang menjenguk mendoakan orang yang sakit dengan kesembuhan dan kesehatan. Hal ini berdasarkan hadis berikut ini:

إِذَا دَخَلَ عَلَى مَنْ يَعُوْدُ قَالَ: لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.

“Apabila beliau mengunjungi orang yang sakit, beliau berkata:

‘Laa ba’-sa thahuurun insyaa Allaah.

Artinya:

Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih. Semoga Allah menghendaki.’” [HR. Al-Bukhari no. 5656]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4011-adab-adab-bagi-orang-sakit-dan-yang-menjenguknya.html

 

,

DOA BERLINDUNG DARI HILANGNYA NIKMAT DAN KESEHATAN

DOA BERLINDUNG DARI HILANGNYA NIKMAT DAN KESEHATAN

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA BERLINDUNG DARI HILANGNYA NIKMAT DAN KESEHATAN

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata: “Di antara doa Rasulullah ﷺ adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK”

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. [HR. Muslim no. 2739]

Faidah dari hadis di atas:

Pertama:

Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat Islam, iman, anugerah ihsan (berbuat baik) dan kebajikan. Jadi dalam doa ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Maksud hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut hilang, dan tanpa ada penggantinya.

Kedua:

Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘afiyah) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit. Yang dimaksud dengan ‘afiyah (sehat) di sini adalah berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Jadi doa ini kita maksudkan meminta selalu kesehatan (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.

Ketiga:

Yang dimaksud fuja’ah adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “niqmah” adalah siksa dan murka. Dalam doa ini berarti kita berlindung pada Allah dari datangnya ‘azab, siksa dan murka Allah yang tiba-tiba.

Keempat:

Dalam doa ini, kita juga meminta pada Allah agar terlindung dari murka-Ny,a yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Allah.

Semoga doa ini bisa kita amalkan dan mendapatkan berbagai anugerah.

 

Referensi:

‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi, 4/283, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, tahun 1415.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel www.rumaysho.com]

 

Sumber : https://rumaysho.com/1054-doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat-dan-kesehatan.html

TAUHID SESUAI DENGAN FITRAH DAN AKAL SEHAT

TAUHID SESUAI DENGAN FITRAH DAN AKAL SEHAT

#Dakwah_Tauhid

TAUHID SESUAI DENGAN FITRAH DAN AKAL SEHAT

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu (satu-satunya yang pantas disembah)?’ Mereka menjawab: ‘Betul, kami bersaksi’.” [Al-A’rof: 172]

#Beberapa_Pelajaran:

Pertama: Tauhid adalah Tabiat Dasar Manusia

Ayat yang mulia ini menunjukkan, bahwa fitrah, tabiat dasar manusia diciptakan dalam keadaan beriman kepada Allah ta’ala sebagai satu-satunya Rabb yang pantas disembah. Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thobari rahimahullah berkata:

يقول تعالى ذكره لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم: واذكر يا محمد ربَّك إذ استخرج ولد آدم من أصلاب آبائهم، فقرَّرهم بتوحيده، وأشهد بعضهم على بعض شهادَتَهم بذلك، وإقرارَهم به

“Allah ta’ala dzikuruhu berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ: Wahai Muhammad, ingatlah ketika Rabb-mu mengeluarkan anak Adam (manusia) dari sulbi orang tua mereka, maka Allah menetapkan bagi mereka kewajiban menauhidkan-Nya, dan Allah memersaksikan antara mereka satu dengan yang lainnya, atas persaksian dan pengakuan mereka tersebut.” [Tafsir Ath-Thobari, 13/222]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّهُ اسْتَخْرَجَ ذُرِّيَّةَ بَنِي آدَمَ مِنْ أَصْلَابِهِمْ، شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّ اللَّهَ رَبُّهُمْ وَمَلِيكُهُمْ، وَأَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كَمَا أَنَّهُ تَعَالَى فَطَرَهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَجَبَلَهُمْ عَلَيْهِ

“Allah ta’ala mengabarkan, bahwa Dia telah mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi-sulbi mereka dalam keadaan bersaksi atas diri-diri mereka sendiri, bahwa Allah adalah Rabb dan Penguasa mereka, dan bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Dia, sebagaimana Allah telah menciptakan fitrah dan menetapkan tabiat dasar mereka dalam keadaan menauhidkan-Nya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/500]

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

أَخذ الله الْمِيثَاق من ظهر آدم بنعمان يَعْنِي عَرَفَة فَأخْرج من صلبه كل ذُرِّيَّة ذَرَاهَا فَنَثَرَهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ كَالذَّرِّ ثُمَّ كَلَّمَهُمْ قِبَلًا قَالَ: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غافلين أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ المبطلون

“Allah telah mengambil perjanjian dari punggung Adam di Na’man (Arafah). Maka Allah mengeluarkan dari sulbinya setiap keturunan yang Allah ciptakan (sampai Hari Kiamat), lalu Allah menebarkannya di hadapannya seperti semut-semut, kemudian Allah berbicara di hadapan mereka:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غافلين أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ المبطلون

“Bukankah Aku ini Rabb-mu (satu-satunya yang pantas disembah)?” Mereka menjawab: “Betul, kami bersaksi”. (Kami (Allah) lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah memersekutukan Rabb sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (Al-A’raf: 172-173).” [HR. Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 1623]

Al-‘Allamah Ali Al-Qori rahimahullah berkata:

الْإِقْرَارِ بِالرُّبُوبِيَّةِ، وَالِاعْتِرَافِ بِالْعُبُودِيَّةِ

“(Perjanjian mereka adalah) persaksian keimanan terhadap rububiyah Allah, dan pengakuan keimanan terhadap kewajiban beribadah hanya kepada-Nya.” [Al-Mirqoh, 1/196]

Kedua: Penegasan Bahwa Tauhid adalah Fitrah Manusia

Allah tabaraka wa ta’ala juga menegaskan pada ayat yang lain, bahwa tauhid adalah fitrah manusia:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Rum: 30]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يَقُولُ تَعَالَى: فَسَدِّدْ وَجْهَكَ وَاسْتَمَرَّ عَلَى الَّذِي شَرَعَهُ اللَّهُ لَكَ، مِنَ الْحَنِيفِيَّةِ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ، الَّذِي هَدَاكَ اللَّهُ لَهَا، وَكَمَّلَهَا لَكَ غَايَةَ الْكَمَالِ، وَأَنْتَ مَعَ ذَلِكَ لَازِمْ فِطْرَتَكَ السَّلِيمَةَ، الَّتِي فَطَرَ اللَّهُ الْخَلْقَ عَلَيْهَا، فَإِنَّهُ تَعَالَى فَطَرَ خَلْقَهُ عَلَى مَعْرِفَتِهِ وَتَوْحِيدِهِ، وَأَنَّهُ لَا إِلَهَ غَيْرَهُ، كَمَا تَقَدَّمَ عِنْدَ قَوْلِهِ تَعَالَى: وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى

“Allah ta’ala mengatakan: Maka luruskan wajahmu dan teruslah mengamalkan yang Allah syariatkan untukmu, yaitu Al-Hanifiyyah (beribadah hanya kepada Allah ta’ala) yang merupakan agama Ibrahim, agama yang Allah berikan hidayah kepadamu dan menyempurnakannya untukmu dengan setinggi-tingginya. Bersamaan dengan itu, tetaplah pada fitrahmu yang bersih, yang Allah ciptakan makhluk menurut fitrah itu, karena sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dalam keadaan mengenal-Nya dan menauhidkan-Nya, dan mengimani, bahwa tiada yang berhak disembah selain Dia, sebagaimana telah lewat penjelasan firman Allah ta’ala:

وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

“Dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu (satu-satunya yang pantas disembah)?” Mereka menjawab: “Betul, kami bersaksi”.” (Al-A’rof: 172).” [Tafsir Ibnu Katsir, 6/313]

Ketiga: Syirik adalah Pencemaran Terhadap Fitrah Yang Suci

Ayat yang mulia ini mengingatkan bahaya syirik, bahwa syirik adalah penyimpangan dari fitrah yang suci lagi bersih, serta akal yang sehat dan menuruti ajakan setan. Asy-Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallah berkata:

“Adapun syirik adalah perbuatan yang keluar dan menyimpang dari fitrah. Oleh karena itu terdapat sebuah Hadis Qudsi dalam Shahih Muslim, Allah ta’ala berfirman:

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Dan aku menciptakan hamba-hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hunafa’ (berpaling dari syirik dan menauhidkan Allah), dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka, lalu memalingkan mereka dari agama mereka.” (HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i radhiyallahu’anhu)

‘Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ maknanya di atas fitrah, yaitu tauhid. Namun setan mendatangi mereka, lalu memalingkan mereka. Artinya menyesatkan mereka dari agama (tauhid) mereka.” [Min Ma’alimit Tauhid, hal. 11-12]

Syirik Tidak Sesuai dengan Akal Sehat

Tauhid sesuai dengan akal yang sehat, dan syirik adalah penyimpangan dari akal yang sehat. Asy-Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallah berkata:

“Adapun kesesuaian tauhid dengan akal yang sehat adalah karena akal yang sehat, yang belum tersesat dan belum menyimpang, tidak akan pernah rida terhadap selain tauhid, dan tidak akan pernah menerima kecuali tauhid. Adakah orang yang memiliki akal yang sehat meridai berbilangnya Sesembahan?! Atau bergantung kepada kubah-kubah dan tanah kuburan yang disembah?!

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Manakah yang baik, Sesembahan-Sesembahan yang bermacam-macam itu, ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Tidaklah yang kamu sembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.” (Yusuf: 39-40).” [Min Ma’alimit Tauhid, hal. 13]

Keempat: Jagalah Tauhid dengan Ilmu, Agar Tetap di Atas Fitrah

Ayat yang mulia ini juga memeringatkan umat manusia untuk menjaga tauhid, dan hendaklah waspada dari tipu daya setan yang akan terus berusaha menjerumuskan manusia ke dalam syirik dan kufur. Oleh karena itu sangat penting bagi manusia untuk menuntut ilmu agama, terutama ilmu tauhid. Al-Hafiz Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

فَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَ بَنِي آدَمَ، وَفَطَرَهُمْ عَلَى قَبُولِ الْإِسْلَامِ، وَالْمَيْلِ إِلَيْهِ دُونَ غَيْرِهِ، وَالتَّهَيُّؤِ لِذَلِكَ، وَالِاسْتِعْدَادِ لَهُ بِالْقُوَّةِ، لَكِنْ لَا بُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ تَعْلِيمِ الْإِسْلَامِ بِالْفِعْلِ، فَإِنَّهُ قَبْلَ التَّعْلِيمِ جَاهِلٌ لَا يَعْلَمُ شَيْئًا كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا} وَقَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى}، وَالْمُرَادُ: وَجَدَكَ غَيْرَ عَالِمٍ بِمَا عَلَّمَكَ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ

“Sungguh Allah telah menciptakan anak Adam dan menetapkan fitrah mereka dalam keadaan siap menerima Islam, condong kepadanya, tidak kepada selainnya, cenderung kepadanya, dan siap menerimanya dengan kekuatan. Akan tetapi harus disertai dengan usaha menuntut ilmu Islam, karena sebelum belajar ia adalah orang bodoh yang tidak mengetahui apa pun, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun.” (An-Nahl: 78)

Dan firman Allah ta’ala kepada Nabi-Nya ﷺ:

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang tidak mendapat petunjuk, lalu Dia memberikan petunjuk (kepadamu).” (Adh-Dhuhaa: 7)

Maksudnya, Dia mendapatimu sebagai orang yang tidak berilmu tentang apa yang Dia ajarkan kepadamu, yaitu Alquran dan As-Sunnah, sebagaimana firman-Nya:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apa itu Al-Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apa itu iman.” (Asy-Syuro: 52).” [Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, 2/39]

Kelima: Peringatan Keras untuk Setiap Orang Tua fan Pendidik

Ayat yang mulia ini juga mengandung peringatan keras bagi setiap orang tua dan pendidik untuk menjaga tauhid anak keturunan mereka. Karena bisa jadi orang terdekat yang paling menyayangi seorang anak justru menjadi setan-setan yang menyesatkan, sadar atau tidak. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau Nasrani atau Majusi.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Asy-Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallah berkata:

“Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis tersebut:

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau Nasrani atau Majusi.”

Beliau tidak berkata:

أَوْ يُسَلمانِهِ

“Atau menjadikannya seorang Muslim (bertauhid)”.

Sebab ia telah tumbuh dan terlahir di atas fitrah (tauhid). Maka tauhid adalah agama fitrah. Adapun kesyirikan dan kebatilan serta kesesatan yang lainnya, semua itu bertentangan dan berseberangan dengan fitrah manusia.” [Min Ma’alimit Tauhid, hal. 13]

Renungan Untuk Orang Yang Berakal: Patutkah Kamu Menyembah Selain Allah?!

Dosa Syirik, menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu meyakini ada selain Allah yang patut disembah atau memersembahkan satu bentuk ibadah kepada selain Allah ta’ala, bukan saja dosa terbesar yang TIDAK terampuni, tetapi sekaligus pelecehan kepada Allah tabaraka wa ta’ala, dan kepada akal sehat pelakunya sendiri.

Mengapa Syirik Itu Pelecehan kepada Allah Ta’ala?

Karena hakikat syirik adalah menyamakan Allah ta’ala yang Maha Perkasa, Maha Suci, Maha Kuasa, Maha Baik dan Pemilik semua sifat kesempurnaan, dengan makhluk yang lemah lagi hina, serta tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan apa-apa untuk memberi manfaat atau menimpakan mudarat kepada para penyembahnya, tidak pula bisa menciptakan rezeki dan memberi kenikmatan kepada mereka.

Allah ta’ala telah membuat perumpamaan antara Dia sebagai Sesembahan yang benar dan makhluk-makhluk yang dianggap Sesembahan oleh manusia:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَّ يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah (dalam ibadahmu) sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal (keagungan) Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Hajj: 73-74]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

أَخْبَرَ تَعَالَى أَنَّهُ لَوِ اجْتَمَعَتْ آلِهَتُهُمْ كُلُّهَا، مَا اسْتَطَاعُوا خَلْقَ ذُبَابَةٍ، بَلْ لَوِ أستَلبتهم الذُّبَابَةُ شَيْئًا مِنْ حَقير الْمَطَاعِمِ وَطَارَتْ، لَمَا اسْتَطَاعُوا إِنْقَاذَ ذَلِكَ مِنْهَا، فَمَنْ هَذِهِ صِفَتُهُ وَحَالُهُ، كَيْفَ يُعْبَدُ لِيَرْزُقَ وَيُسْتَنْصَرُ؟ وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى: {لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ} أَيْ: بَلْ هُمْ مَخْلُوقُونَ مَصْنُوعُونَ كَمَا قَالَ الْخَلِيلُ: قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Allah ta’ala mengabarkan bahwa, andaikan seluruh Sesembahan selain Allah bersatu untuk menciptakan seekor lalat, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Bahkan jika seekor lalat merampas sedikit makanan dari mereka dan terbang kembali, niscaya mereka tidak akan sanggup menyelematkan makanan tersebut darinya. Maka makhluk yang sangat lemah pada sifat dan keadaannya ini, bagaimana mungkin disembah agar ia memberi rezeki dan dimintai pertolongan…?!

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

“(Dan patung-patung yang mereka sembah selain Allah) tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (An-Nahl: 19)

Maknanya: Bahkan mereka adalah makhluk yang dibuat-buat, sebagaimana ucapan Al-Khalil (Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam, kepada para penyembah patung):

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Beliau berkata: Apakah patut kamu menyembah patung yang kamu pahat sediri, padahal Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan…!?” (Ash-Shofat: 95-96) [Tafsir Ibnu Katsir, 3/529]

Mengapa Syirik Itu Pelecehan terhadap Akal Sehat?

Karena orang yang punya akal sehat tidak mungkin menuhankan makhluk-makhluk yang lemah lagi hina, serta tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan apa pun. Bahkan yang lebih bodoh lagi, sebagian orang menjadikan benda-benda mati dan makhluk-makhluk yang lebih lemah dari mereka sebagai Sesembahan, seperti kuburan-kuburan dan patung-patung, yang mereka buat sendiri atau dibuat orang lain.

Maka lihatlah dalam sejarah umat manusia, bagaimana Allah ta’ala menghancurkan patung-patung tersebut. Adakah mereka sanggup membela diri…!?

Lihatlah tatkala Allah ta’ala memusnahkan para penyembahnya, adakah ‘Tuhan-Tuhan’ mereka itu bisa melindungi dan memberi manfaat kepada mereka, walau sedikit saja…!?

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ

“Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?” [Al-Anbiya’: 66]

Allah ta’ala juga berfirman:

قُلِ ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً

“Katakanlah: Panggillah mereka yang kamu anggap Sesembahan selain Allah. Maka mereka tidak memunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu, dan tidak pula memindahkannya.” [Al-Isra’: 56]

Allah ta’ala juga berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Dan mereka menjadikan Sesembahan-Sesembahan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tidak mampu menciptakan apa pun, bahkan Sesembahan-Sesembahan itu sendiri adalah makhluk yang diciptakan, dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudaratan dari dirinya, dan tidak kuasa pula memberikan sesuatu kemanfaatan pun, dan (juga) tidak kuasa mematikan dan menghidupkan, dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Furqon: 3]

Allah ta’ala juga berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit jua pun).” [An-Nahl: 73]

Allah ta’ala juga berfirman:

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

“Apakah mereka memersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun. Berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” [Al-A’rof: 190-191]

Allah ta’ala juga berfirman:

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dia (Allah) yang memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian adalah Allah Rabb-mu, kepunyaan-Nya lah Kerajaan. Dan orang-orang yang kamu sembah selain Allah tiada memunyai apa-apa, walaupun setipis kulit ari. Jika kamu berdoa kepada mereka, maka mereka tiada mendengar doamu. Dan kalau mereka mendengar pun, mereka tidak dapat memerkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu, dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Allah yang Maha Mengetahui.” [Fathir: 13-14]

Allah ta’ala juga berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

“Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Sesembahan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak memunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” [Saba’: 22]

[Disadur dari buku TAUHID, PILAR UTAMA MEMBANGUN NEGERI, Cet. Ke 2 1437 H, karya Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/825294634286687:0

,

APAKAH BOLEH BAGI ORANG SAKIT UNTUK TIDAK PUASA?

APAKAH BOLEH BAGI ORANG SAKIT UNTUK TIDAK PUASA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

#SeriPuasaRamadan

 

APAKAH BOLEH BAGI ORANG SAKIT  UNTUK TIDAK PUASA?

Pertanyaan:

Pada salah satu hari di bulan Ramadan dia sakit. Apakah boleh baginya untuk tidak puasa?

Jawaban:

Boleh. Namun mesti dilihat terlebih dulu, sakit macam apa yang dia alami. Apabila sakitnya ringan, maka dia tetap harus puasa. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:

قَالَ أَصْحَابُنَا: وَأَمَّا الْمَرَضُ الْيَسِيرُ الَّذِي لا يَلْحَقُ بِهِ مَشَقَّةٌ ظَاهِرَةٌ لَمْ يَجُزْ لَهُ الْفِطْرُ بِلا خِلَافٍ عِنْدَنَا

“Berkata Ulama madzhab kami: ‘Sakit ringan pada seseorang yang tidak menyebabkan kesulitan berarti, tidak membuat seseorang boleh berbuka. Tidak ada perselisihan di kalangan Ulama Syafi’iyah terkait masalah ini’.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, VI/262)

Serupa dengan keterangan di atas, asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-Utsaimiin rahimahullah berkata:

ألا يتأثر بالصوم، مثل الزكام اليسير، أو الصداع اليسير، أو وجع الضرس، وما أشبه ذلك، فهذا لا يحل له أن يفطر، وإن كان بعض العلماء يقول: يحل له لعموم الآية {وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا} [البقرة: ١٨٥] ولكننا نقول: إن هذا الحكم معلل بعلة، وهي أن يكون الفطر أرفق به فحينئذ نقول له الفطر، أما إذا كان لا يتأثر فإنه لا يجوز له الفطر ويجب عليه الصوم.

“Orang sakit yang kondisinya tidak terpengaruh lantaran berpuasa, tidak halal baginya untuk berbuka. Seperti flu ringan, sakit kepala ringan, atau sakit gigi. Meski sebagian ulama memandang, bahwa sakit ringan pun tetap boleh tidak puasa, berdasarkan pada cakupan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. al-Baqarah: 185)

Namun kami katakan: ‘Sesungguhnya hukum ini dilandasi dengan suatu sebab’, yaitu, apabila tidak puasa itu lebih sesuai dengan keadaannya, pada kondisi demikian silakan dia berbuka. Adapun jika sakitnya tidak memberikan pengaruh baginya (puasa atau tidak sama saja -pent), maka dia tidak boleh buka dan wajib atasnya untuk berpuasa.” (asy-Syarh al-Mumti’: VI/341)

Sedang jika sakitnya memang berat, dalam kondisi demikian boleh baginya untuk tidak puasa, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang telah dibawakan di atas (al-Baqarah: 185). Imam Nawawi rahimahullah berkata:

الْمَرِيضُ الْعَاجِزُ عَنْ الصَّوْمِ لِمَرَضٍ يُرْجَى زَوَالُهُ لا يَلْزَمُهُ الصَّوْمُ وَيَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ ، وَهَذَا إذَا لَحِقَهُ مَشَقَّةٌ ظَاهِرَةٌ بِالصَّوْمِ وَلا يُشْتَرَطُ أَنْ يَنْتَهِيَ إلَى حَالَةٍ لا يُمْكِنُهُ فِيهَا الصَّوْم

“Orang sakit yang tidak mampu berpuasa, dengan jenis sakit yang memungkinkan untuk sembuh, tidak wajib berpuasa dan kewajibannya ialah qadha. Ini jika sakitnya memang membuat dia merasakan kesusahan yang nampak. Dan tidak harus sampai tidak bisa berpuasa sama sekali (baru boleh tidak puasa -pent).” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, VI/261)

Sumber:  Berbagai kitab hadis dan fikih yang tersebut di atas.

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/309/asal-sakit-boleh-nggak-puasa#sthash.szlxp1eD.dpuf

 

 

,

HUKUM MENGIRINGI JENAZAH

HUKUM MENGIRINGI JENAZAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AhkamulJanaiz
#PengurusanJenazah

HUKUM MENGIRINGI JENAZAH

Diperbolehkan berjalan di belakang jenazah atau di depannya. Keduanya diriwayatkan dari Nabi ﷺ. Akan tetapi, yang afdhal adalah berjalan di belakangnya, sebagaimana mafhum dari sabda Nabi ﷺ:

عُوْدُوْا الْمَرِيْضَ وَاتَّبِعُوْا الْجَنَائِزَ )أخرجه الهيثمي)

Jenguklah orang yang sakit dan ikutilah jenazah. [Dikeluarkan oleh Al Haitsami]

Dan hal ini dikuatkan oleh perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu:

الْمَشْيُ خَلْفَهَا أَفْضَلُ مِنْ الْمَشْيِ أَمَامَهَا كَفَضْلِ صَلاَةِ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ عَلَى صَلاَتِهِ فَذًّا

)أخرجه ابن أبي شيبة)

Berjalan di belakang jenazah lebih afdhal daripada berjalan di depannya, seperti keutamaan seorang lelaki shalat berjamaah, dibandingkan dengan shalat sendirian. [Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah]

Sedangkan orang yang naik kendaraan berjalan di belakang jenazah. Rasulullah ﷺ bersabda:

الرَّاكِبُ يَسِيرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ (رواه أبو داود)

Seorang yang naik kendaraan, berjalan di belakang jenazah. [HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]

Yang lebih utama adalah berjalan kaki, daripada naik kendaraan. Sebagaimana yang diriwayatkan Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah ﷺ mengiringi jenazah, beliau ﷺ diberi kendaraan, namun beliau ﷺ tidak mau mengendarainya. Ketika pulang, Rasulullah ﷺ ditawari kendaraan lagi, beliau ﷺ menerima dan mengendarainya. Kemudian beliau ﷺ ditanya tentang hal itu, maka beliau ﷺ menjawab:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ كَانَتْ تَمْشِي فَلَمْ أَكُنْ لِأَرْكَبَ وَهُمْ يَمْشُونَ فَلَمَّا ذَهَبُوا رَكِبْتُ (رواه أبو داود)

“Sesungguhnya malaikat berjalan. Maka aku tidak mau mengendarai, sedangkan malaikat berjalan. Kemudian ketika mereka pergi, aku mau mengendarainya.” [HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat pembahasan ini dalam Ahkamul Janaiz, hlm. 73-75]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3071-bimbingan-mengurus-jenazah-2.html

,

PERKARA YANG DAPAT MENGOBATI KERASNYA HATI

PERKARA YANG DAPAT MENGOBATI KERASNYA HATI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

PERKARA YANG DAPAT MENGOBATI KERASNYA HATI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يوم لا ينفع مال و لا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم

“Akan datang suatu hari, di mana tak bermanfaat lagi harta dan anak keturunan, kecuali mereka yang mendatangi Allah dengan hati yang selamat” [QS. Asy Syu’aro’: 88].

Rasulullah ﷺ bersabda:
Ingatlah! Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila ia sehat, maka sehatlah seluruh jasadnya. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah! Segumpal daging itu adalah hati” [HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599].

Hal-hal yang dapat mengobati kerasnya hati:

🔹Memerbanyak zikir kepada Allah, yang menjadikan hati dan lisan senantiasa terpaut kepada-Nya.
🔸Mengasihi anak yatim dan dhuafa.
🔹Senantiasa mengingat kematian dan memakan makanan yang halal.
🔸Berziarah kubur sembari ber-tafakkur akan tempat kembali kita kelak.
🔹Mengambil pelajaran dari negeri-negeri yang dihancurkan oleh Allah, karena kelalaian dan kezaliman penduduknya.

 

JAGALAH HATI JANGAN DINODAI

JAGALAH HATI JANGAN DINODAI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

JAGALAH HATI JANGAN DINODAI

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

“Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati, selain daripada memerlakukan manusia dengan lemah lembut, dan mencintai kebaikan untuk mereka (senang jika mereka mendapatkan kebaikan).

Dan barang siapa membawakan manusia kepada pembawaan yang baik (membawa ucapan atau tindakan mereka yang kelihatannya salah dan menyimpang kepada penafsiran yang baik, dan mencarikannya uzur), serta berbaik sangka kepada mereka, maka akan selamat niatnya, lapang dadanya, dijadikan sehat hatinya, dan Allah akan menjaganya dari kejelekan dan perkara-perkara yang dibenci.”

(Madarijus Salikin, Jilid 2 / hal.511)

Alih Bahasa: Al-Ustadz Thoriq (Pangkep)

 

《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》

 

يقول ابن القيم:

فليس للقلب أنفع من معاملة الناس باللطف وحب الخير لهم …)

ومن حمل الناس على المحامل الطيبة وأحسن الظنّ بهم سلمت نيته وانشرح صدره وعوفي قلبه وحفظه الله من السّوء والمكاره “

مدارج السالكين (2/511)

Sumber: Thullabul Ilmi Yaman

,

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

SAKIT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KITA

Orang yang sakit juga selayaknya semakin bergembira mendengar berita ini, karena kesusahan, kesedihan, dan rasa sakit karena penyakit yang ia rasakan, akan menghapus dosa-dosanya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi ﷺ ketika sakit. Sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:

إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قُلْتُ إِنَّ ذَاكَ بِأَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sepertinya Anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat. Oleh karena itukah Anda mendapatkan pahala dua kali lipat?” Beliau ﷺ menjawab: “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan, melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.” [HR. Al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571]

Dan beliau ﷺ juga bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،

حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang Muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu, melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” [HR. Muslim no. 2572].

 

Bergembiralah saudaraku. Bagaimana tidak. Hanya karena sakit tertusuk duri saja, dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang.

Sekali lagi bergembiralah. Karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa, bahkan tidak memunyai dosa sama sekali. Kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci, sebagaimana anak yang baru lahir. Nabi ﷺ bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ

حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan Shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

Hadis ini sangat cocok bagi orang yang memunyai penyakit kronis, yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya Surga telah menunggunya.

Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada Hari Kiamat nanti banyak orang yang berandai-andai, jika mereka ditimpakan musibah di dunia, sehingga menghapus dosa-dosa mereka, dan diberikan pahala kesabaran. Nabi ﷺ bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ

مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.

”Manusia pada Hari Kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.” [HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.]

Bagaimana kita tidak gembira dengan berita ini? Orang-orang yang tahu kita sakit, orang-orang yang menjenguk kita ,orang-orang yang menjaga kita sakit, kelak di Hari Kiamat sangat ingin terbaring lemah seperti kita tertimpa penyakit.

Yang berikut ini adalah jawaban serta jalan keluar dari Allah, yang langsung tertulis dalam kitab-Nya mengenai beberapa keluhan yang muncul dalam hati manusia yang lemah [Sumber ini didapat di file komputer kami. Kami tidak tahu penulisnya. Jika tahu, kami akan meminta izin untuk menukilnya]

– Mengapa saya di uji (dengan penyakit ini)?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. 29:3)

– Mengapa saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan (berupa  kesehatan)?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

– Mengapa ujian (penyakit) seberat ini?

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

– Saya mulai frustasi dengan ujian (penyakit) ini.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3:139)

– Bagaimanakah saya menghadapinya?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. 3:200)

– Apa yang saya dapatkan dari semua ini?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka, dengan memberikan Surga untuk mereka.” (QS. 9:111)

-Kepada siapa saya berharap?

“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Sesembahan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang Agung”. (QS. 9:129)

– Saya sudah tidak dapat bertahan lagi dalam menanggung beban ini!

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

 

Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Orang Yang Sakit Selayaknya Bergembira” oleh: dr. Raehanul Bahraen

Muraja’ah: Al-Ustdaz Fakhruddin, Lc [Mudir Ma’had Abu Hurairah Mataram]

[https://Muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/orang-yang-sakit-selayaknya-bergembira.html

KEBERKAHAN PADA DAGING KAMBING

KEBERKAHAN PADA DAGING KAMBING

بسم الله الرحمن الرحيم

KEBERKAHAN PADA DAGING KAMBING

 

Daging kambing memilik keberkahan, artinya banyak kebaikan pada daging kambing ini. Terdapat perintah agar kita memelihara dan memanfaatkan kambing, karena padanya ada keberkahan. Rasulullah ﷺ bersabda:

اتخذوا الغنم فإن فيها بركة

” Peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing, karena di dalamnya terdapat barakah” [HR. Ahmad, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah 2/417].

Selain daging kambing, keberkahan juga ada pada susu dan kulitnya. Susunya bisa diminum serta kulitnya bisa dijadikan bahan kain atau pakaian. Ahli tafsir Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan:

وجعل البركة في الغنم لما فيها من اللباس والطعام والشراب وكثرة الأولاد، فإنها تلد في العام ثلاث مرات إلى ما يتبعها من السكينة، وتحمل صاحبها عليه من خفض الجناح ولين الجانب

“Allah telah menjadikan berkah pada kambing, di mana kambing bisa dimanfaatkan untuk pakaian, makanan, minuman, banyaknya anak, karena kambing beranak tiga kali dalam setahun, sehingga memberikan ketenangan bagi pemiliknya. Kambing juga membuat pemiliknya rendah hati dan lembut terhadap orang lain” [Al-Jami’ li Ahkaamil-Qur’an, 10/80, Darul Kutub Al-Mishriyah, Koiro, 1384 H, Asy Syamilah].

Bahkan diriwayatkan, setiap Nabi pernah mengembalakan kambing. Ulama menjelaskan hikmahnya adalah karena menggembalakan kambing membutuhkan kesabaran dan ketekunan, yang akan membentuk karakter kebaikan pada seseorang. Nabi ﷺ bersabda:

ما بعث اللهُ نبيًّا إلا رعى الغنمَ . فقال أصحابُه : وأنت ؟ فقال : نعم ، كنتُ أرعاها على قراريطَ لأهلِ مكةَ

“Tidaklah seorang Nabi diutus, melainkan ia menggembala kambing“. Para sahabat bertanya: “Apakah engkau juga?”. Beliau ﷺ menjawab: “Iya, dahulu aku menggembala kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa Qirath” [HR. Al Bukhari, no. 2262].

Apakah daging kambing berbahaya bagi kesehatan?

Sesuatu yang berkah tentu tidak menimbulkan bahaya. Apa yang disyariatkan oleh Islam pasti bermanfaat dan tidak berbahaya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya:

الدين مبني على المصالح في جلبها و الدرء للقبائح

“Agama dibangun atas dasar  berbagai kemashlahatan, mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”

Kemudian beliau menjelaskan:

ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف

“Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu, kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh”[ Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf].

Hal ini sudah dibuktikan oleh orang di zaman dahulu, mereka suka memakan daging, termasuk daging kambing, bahkan mereka memakan lemaknya juga. Dikisahkan orang dahulu suka mengambil lemak hewan, kemudian dipotong dadu dan dikeringkan dengan cara dijemur. Disimpan atau dibawa bersafar. Kemudian jika ingin dimakan, tinggal “dipanaskan” atau dioles diatas roti kemudian dimakan.

Informasi yang tersebar di masyarakat, bahwa daging kambing berbahaya, misalnya bisa menaikan tekanan darah dan meningkatkan kolesterol, itu TIDAK BENAR. Daging kambing tidak berbahaya. Yang menyebabkan naiknya tekanan darah dan naiknya kolesterol, bisa jadi karena beberapa hal berikut:

  1. Cara pengolahan daging yang tidak sehat, misalnya memakai bumbu dan minyak yang berlebihan, terlalu lama diolah, sehingga vitamin dan kandungan mineralnya hilang.
  1. Terlalu berlebihan mengonsumsi daging saat “pesta daging”. Dan wajar saja, apa-apa yang berlebihan pasti akan menjadi racun. Dalam kedokteran dikenal ungkapan:

“All substances are poison. There is none that is not poison, the right dose and indication differentiate a poison and a remedy”

“Semua zat adalah (berpotensi menjadi) racun. Tidak ada yang tidak (berpotensi menjadi) racun. Dosis dan indikasi yang tepat membedakannya, apakah ia racun atau obat” [Toksikologi hal. 4, Bag Farmakologi dan Toksikologi UGM, 2006].

  1. Pola hidup di zaman sekarang yang tidak sehat, makanan tidak sehat dan gerakan yang kurang, sehingga ada akumulasi sedikit saja kolesterol atau zat lainnya, maka sudah berbahaya.

Sekali lagi kami tekankan, bahwa daging kambing tidak berbahaya, bahkan padanya terkandung keberkahan dan kebaikan yang banyak.

 

***

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

[Artikel Muslim.or.id]

 

 

 

,

SAKIT KEPALA TANDA ORANG YANG BERIMAN DAN PENGHUNI SURGA

SAKIT KEPALA TANDA ORANG YANG BERIMAN DAN PENGHUNI SURGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SAKIT KEPALA TANDA ORANG YANG BERIMAN DAN PENGHUNI SURGA

Dari Abu Hurairah, bahwa seorang Badui masuk menemui Rasulullah ﷺ (dan baginda kagum pada kesehatan dan kekuatannya). Maka Nabi ﷺ bertanya: “Pernahkah kamu terkena umu mildam?”

Dia menjawab: “Apa itu umu mildam?”

Nabi ﷺ menjawab: “Panas antara kulit dan daging (demam).”

Dia menjawab: “Tidak pernah.”

Nabi ﷺ bertanya: “Pernahkah kamu sakit kepala?”

Dia bertanya: “Apa itu sakit kepala?”

Nabi ﷺ menjawab: “Angin (gas) yang menyerang kepala dan menekan sistem saraf.”

Dia menjawab: “Tidak pernah.”

Maka setelah dia pergi, Nabi ﷺ katakan: “Barang siapa yang ingin melihat penghuni Neraka, maka lihatlah orang ini.” (HR Bukhari, Adabul Mufrod dan disahihkan al-Albani 381)

Ibnu Rajab berkata: “Maka sakit kepala adalah tanda orang yang beriman dan tanda penghuni Surga.” (Lathoif Maarif 105)

صـداع الرأس من علامات أهل الإيمان وأهل الجنـة !

دخَل أعرابـيٌّ على النَّبيِّ ﷺ :

فقال النَّبيُّ ﷺ :(( هل أخذَتْكَ أُمُّ مِلْدَمٍ ))

قـال : وما مِـلْدَمُ ؟

قال : (( حَرٌّ بين الجلدِ و اللحـمِ ))

قـال : لا ،

قال : (( فهل صدَعْتَ ؟ ))

قـال : و ما الصُّـداعُ ؟

قال : (( ريحٌ تعترِضُ في الرأسِ ، تضرب العروقَ ))

قـال : لا ،

قـال : فلما قـام ،

قـال ﷺ :

(من سرَّه أن ينظرَ إلى رجلٍ

من أهل النارِ أي فلْيَنْظُـرْه)

وفــي رواية  :

(( مَن أحَـبَّ أنْ ينظُرَ إلى رجلٍ مِن أهلِ النَّارِ فلينظُرْ إلى هذا ))

صححه الألباني في

صحيح الأدب المفرد – رقم: (381)

قال الحافظ ابن رجب رحمه الله :

وصداع الرأس من علامات أهل الإيمان وأهل الجنة .

لطـائف المـعارف (١٠٥)

 

(Faidah ilmiah dari al-Ustadz Usamah Mahri di WhatsApp طريق السلف)

 

WhatsApp طريق السلف ?