Posts

,

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
>> Hukum Berobat Alternatif dalam Islam
 
Kesehatan adalah sebagian di antara nikmat Allah yang banyak dilupakan oleh manusia. Benarlah ketika Rasulullah ﷺ bersabda:
”Ada dua nikmat yang sering kali memperdaya kebanyakan manusia, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kelapangan waktu” (HR. Bukhari).
 
Dan tidaklah seseorang merasakan arti penting nikmat sehat, kecuali setelah jatuh sakit. Kesehatan adalah nikmat yang sangat agung dari Allah ta’ala, di antara sekian banyak nikmat lainnya. Dan kewajiban kita sebagai seorang hamba adalah bersyukur kepada-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya:
”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS Al Baqarah: 152).
 
Ada beberapa kondisi ketika sebagian orang sedang diuji oleh Allah ta’ala dengan dicabutnya nikmat kesehatan ini (baca: jatuh sakit). Di antara mereka ada yang bersabar dan rida dengan ketetapan dari Allah. Mereka tetap bertawakal dengan menempuh pengobatan yang diizinkan oleh syariat, sehingga mereka pun mendulang pahala yang berlimpah dari Allah ta’ala, karena sabar dan tawakalnya kepada Allah ta’ala. Namun di antara mereka ada pula yang berputus asa dari rahmat-Nya, berburuk sangka kepada-Nya, dan menempuh jalan-jalan yang dilarang oleh syariat, demi mencari sebuah kesembuhan. Bahkan sampai menjerumuskan dirinya ke dalam kesyirikan. Yang mereka dapatkan tidak lain hanyalah penderitaan di atas penderitaan, penderitaan di dunia, setelah itu penderitaan abadi di Neraka jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Karena Allah ta’ala berfirman yang artinya:
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48).
 
Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya
 
Satu hal yang dapat memotivasi kita untuk terus berusaha mencari kesembuhan adalah jaminan dari Allah ta’ala, bahwa seluruh jenis penyakit yang menimpa seorang hamba pasti ada obatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut” (HR. Bukhari).
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa seluruh jenis penyakit memiliki obat yang dapat digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, atau untuk meringankan penyakit tersebut. Hadis ini juga mengandung dorongan untuk mempelajari pengobatan penyakit-penyakit badan, sebagaimana kita juga mempelajari obat untuk penyakit-penyakit hati. Karena Allah telah menjelaskan kepada kita, bahwa seluruh penyakit memiliki obat, maka hendaknya kita berusaha mempelajarinya dan kemudian mempraktikkannya. (Lihat Bahjatul Quluubil Abraar hal. 174-175, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di)
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan seizin Allah ta’ala” (HR. Muslim).
 
Maksud hadis tersebut adalah, apabila seseorang diberi obat yang sesuai dengan penyakit yang dideritanya, dan waktunya sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah, maka dengan seizin-Nya, orang sakit tersebut akan sembuh. Dan Allah ta’ala akan mengajarkan pengobatan tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: ”Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya. Ada yang tahu, ada juga yang tidak tahu” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).
 
Berobat = Mengambil Sebab
 
Berobat sangat erat kaitannya dengan hukum mengambil sebab. Maksud mengambil sebab adalah seseorang melakukan suatu usaha/sarana (“sebab”) untuk dapat meraih apa yang dia inginkan. Misalnya seseorang mengambil sebab berupa belajar, agar dapat meraih prestasi akademik. Demikian pula seseorang “mengambil sebab” berupa berobat, agar dapat meraih kesembuhan dari penyakitnya.
 
Di antara ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama berkaitan dengan hukum-hukum dalam mengambil sebab adalah, bahwa sebab (sarana) yang ditempuh TIDAK BOLEH menggunakan sarana yang haram, apalagi sampai menjerumuskan ke dalam kesyirikan, meskipun metode pengobatan tersebut terbukti menyembuhkan, berdasarkan pengalaman atau penelitian ilmiah. Selain itu, ketika mengambil sebab tersebut, hatinya harus senantiasa bertawakal kepada Allah ta’ala, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, demi berpengaruhnya sebab tersebut. Hatinya TIDAK bersandar kepada sebab, sehingga dirinya pun merasa aman setelah mengambil sebab tersebut. Seseorang yang berobat, setelah dia berusaha maksimal mencari pengobatan yang diizinkan oleh syariat, maka dia bersandar/bertawakal kepada Allah ta’ala, BUKAN kepada dokter yang merawatnya –betapa pun hebatnya dokter tersebut. Dan bukan pula kepada obat yang diminumnya –betapa pun berkhasiatnya obat tersebut. Hal ini karena seseorang harus memiliki keyakinan, bahwa betapa pun hebatnya sebuah sebab (obat atau semacamnya), namun hal itu tetap berada di bawah TAKDIR ALLAH TA’ALA.
 
Bentuk-Bentuk Pengobatan Alternatif yang Diharamkan
 
Di antara pengobatan alternatif yang diharamkan adalah pengobatan yang mengandung unsur kesyirikan, seperti berobat dengan menggunakan metode sihir. Sihir merupakan ungkapan tentang jimat-jimat, mantra-mantra, dan sejenisnya, yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Di antaranya ada yang membuat sakit, membunuh, dan memisahkan antara suami dan istri. Namun pengaruh sihir tersebut tetap tergantung pada izin Allah ta’ala. Sihir ini merupakan bentuk kekufuran dan kesesatan. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah! Apa saja itu?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ”Yaitu syirik kepada Allah, sihir, …” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Pelaku sihir memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali. Apabila dijumpai salah satu di antara tanda-tanda tersebut pada seorang ahli pengobatan, maka dapat diduga, bahwa ia melakukan praktik sihir, atau melakukan praktik yang amat dekat dengan sihir. Di antara tanda-tanda tersebut adalah:
 
1) Mengambil bekas pakaian yang dipakai oleh pasien semisal baju, tutup kepala, kaos dalam, celana dalam, dan lain-lainnya;
 
2) Meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, dan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya, dan kadang-kadang melumurkan darah binatang tersebut pada bagian anggota badan yang sakit;
 
3) Menuliskan jimat atau jampi-jampi yang tidak dapat difahami maksudnya;
 
4) Memerintahkan pasien untuk menyepi beberapa waktu di kamar yang tidak tembus cahaya matahari;
 
5) Memerintahkan pasien untuk tidak menyentuh air selama jangka waktu tertentu, dan kebanyakan selama 40 hari;
 
6) Membaca mantra-mantra yang tidak dapat difahami maknanya;
7) Kadang ia memberitahukan nama, tempat tinggal, dan semua identitas pasien serta masalah yang dihadapi pasien, tanpa pemberitahuan pasien kepadanya.
 
Demikian pula diharamkan bagi seseorang untuk berobat kepada dukun. Pada hakikatnya, dukun tidak berbeda dengan tukang sihir dari sisi, bahwa keduanya meminta BANTUAN KEPADA JIN, dan mematuhinya demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Sedangkan perbuatan meminta bantuan kepada jin sendiri termasuk SYIRIK BESAR. Karena meminta bantuan kepada jin dalam hal-hal seperti ini tidaklah mungkin, kecuali dengan mendekatkan diri kepada jin dengan suatu ibadah atau “ritual” tertentu. Seorang dukun harus mendekatkan diri kepada jin dengan melaksanakan ibadah tertentu, seperti menyembelih, istighatsah, kufur kepada Allah dengan menghina mushaf Alquran, mencela Allah ta’ala, atau amalan kesyirikan dan kekufuran yang semisal, agar mereka dibantu untuk diberitahu tentang perkara yang gaib. (Lihat Fathul Majiid hal. 332, Syaikh Abdurrahman bin Hasan; At-Tamhiid hal. 317, Syaikh Shalih Alu Syaikh)
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa mendatangi seorang dukun dan memercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Al-Irwa’ no. 2006).
Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata:
”Di dalam hadis tersebut terdapat dalil kafirnya dukun dan tukang sihir, karena keduanya mengaku mengetahui hal yang gaib. Padahal hal itu adalah kekafiran. Demikian pula orang-orang yang membenarkannya, meyakininya, dan rida terhadapnya” (Fathul Majiid, hal. 334).
 
Satu hal yang cukup memrihatinkan bagi kita adalah menyebarnya dukun dan tukang sihir yang berkedok sebagai tabib, yang mampu mengobati berbagai penyakit. Di antara mereka banyak juga yang berani memasang iklan di surat kabar dan mengklaim dirinya mampu mengetahui hal yang gaib. Wal ‘iyadhu billah! Di antara contoh praktik-praktik pengobatan yang mereka lakukan misalnya:
 
1. Pengobatan melalui jarak jauh, di mana keluarga pasien cukup membawa selembar foto pasien. Setelah itu, si tabib akan mengetahui bahwa ia menderita (misalnya) sakit jantung dan gagal ginjal. Oleh si tabib, penyakit itu kemudian ditransfer jarak jauh ke binatang tertentu, misalnya kambing. Hal ini jelas-jelas termasuk berobat kepada dukun, karena apakah hanya melihat foto seseorang kemudian diketahui bahwa jantungnya bengkak, ginjalnya tidak berfungsi, dan lain-lain?
 
2. Pengobatan metode lainnya, pasien hanya diminta menyebutkan nama, tanggal lahir, dan kalau perlu wetonnya. Bisa hanya dengan telepon saja. Setelah itu, si tabib akan mengatakan, bahwa pasien tersebut memiliki masalah dengan paru-paru atau jantungnya, atau masalah-masalah kesehatan lainnya.
 
3. Dukun lainnya hanya meminta pasiennya untuk mengirimkan sehelai rambutnya lewat pos. Setelah itu dia akan “menerawang gaib” untuk mendeteksi, merituali, dan memberikan sarana gaib kepada pasiennya.
 
4. Pengobatan dengan “ajian-ajian” yang dapat ditransfer jarak jauh atau dengan menggunakan “benda-benda gaib” tertentu seperti “batu gaib”, “gentong keramat” (cukup dimasukkan air ke dalam gentong, kemudian airnya diminum), dan lain sebagainya.
 
Praktik perdukunan dan sihir seolah-olah memang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula pelakunya. Orang yang mengaku sebagai dukun, paranormal, atau orang pintar juga melakukan sihir. Dan demikian pula sebaliknya. Demikianlah salah satu kerusakan yang sudah tersebar luas di Indonesia ini. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari kesyirikan.
 
Bentuk pengobatan syirik lainnya adalah berobat dengan menggunakan jimat. Termasuk kerusakan pada masa sekarang ini adalah penggunaan jimat untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu. Tidak sungkan-sungkan pula pemilik jimat tersebut akan menawarkan jimatnya tersebut di koran-koran agar menghasilkan uang. Di antaranya jimat dalam bentuk batu “mustika” atau cincin yang dapat mengeluarkan sinar tertentu, yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun bentuknya. Hal ini termasuk kesyirikan karena Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa menggantungkan jimat (tamimah), maka dia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 492).
 
Pengobatan dengan Sesuatu yang Haram
 
Tidak boleh pula seseorang berobat dengan menggunakan sesuatu yang haram, meskipun tidak sampai derajat syirik. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram” (HR. Thabrani. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1633).
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dalam sesuatu yang diharamkan-Nya” (HR. Bukhari). Hadis-hadis ini beserta dalil yang lain, semuanya tegas melarang berobat dengan sesuatu yang haram.
 
Misalnya bentuk pengobatan dengan menggunakan air kencingnya sendiri. Air seni yang diminum, terutama air seni pertama kali yang dikeluarkan pada waktu pagi hari setelah bangun tidur. Pengobatan seperti ini tidak boleh dilakukan. Karena air seni adalah najis, dan setiap barang najis pasti haram. Maka air seni termasuk ke dalam larangan ini. Begitu pula berobat dengan memakan binatang-binatang yang haram dimakan.
 
Semoga pembahasan yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah ta’ala senantiasa mengaruniakan nikmat berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh kepada kita semua. Dan semoga Allah ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menjadi hamba-Nya yang bersih tauhidnya dan jauh dari kesyirikan.
 
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim
[Artikel www.muslim.or.id]
 
 

SEBAB TIDAK DITOLONGNYA KAUM MUSLIMIN

SEBAB TIDAK DITOLONGNYA KAUM MUSLIMIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEBAB TIDAK DITOLONGNYA KAUM MUSLIMIN

Berkata Syaikh Utsaimin رحمه الله tentang Perang Uhud:

“Sungguh telah terjadi kekalahan menimpa kaum Muslimin disebabkan karena satu kemaksiatan (saja). Dan sekarang kita menginginkan pertolongan, sedangkan kemaksiatan di sisi kita amatlah banyak. [Al-Qoulul Mufid (1/289]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘inah (riba), dan kalian memegang ekor-ekor sapi, rida dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan mengangkat kehinaan tersebut dari kalian, sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Daud Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 11]

Hadis yang mulia ini menjelaskan, bahwa sebab keterpurukan umat adalah karena dosa-dosa dan pelanggaran terhadap syariat. Tidak ada solusi untuk bangkit, kecuali kembali kepada agama. Dan tidak ada jalan untuk kembali kepada agama, kecuali dimulai dengan menuntut ilmu agama.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/827148344101316:0

 

 

,

BENARKAH MUSIBAH ITU DATANG KARENA DOSA KITA?

BENARKAH MUSIBAH ITU DATANG KARENA DOSA KITA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus
#MutiaraAyat

BENARKAH MUSIBAH ITU DATANG KARENA DOSA KITA?

Allah ta’ala berfirman:

‎مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah. Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” [QS. An-Nisaa’: 79]

Jika ada yang mendapatkan kebaikan, maka ketahuilah, itulah karunia dari Allah. Kita harus meyakini demikian. Namun jika kita mendapatkan musibah, maka ketahuilah, itu karena dosa kita.

Sedangkan Rasul diutus untuk menyampaikan risalah pada manusia. Allah menjadi saksi akan benarnya risalah tersebut.

Demikian keterangan singkat dari Tafsir Al-Jalalain dan Tafsir Al-Muyassar.

Semoga jadi renungan berharga di Ramadan kali ini.

 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/15916-renungan-11-benarkah-musibah-itu-karena-dosa-kita.html

,

38 WAKTU, KEADAAN, DAN TEMPAT-TEMPAT MUSTAJAB DIKABULKANNYA DOA

38 WAKTU, KEADAAN, DAN TEMPAT-TEMPAT MUSTAJAB DIKABULKANNYA DOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

38 WAKTU, KEADAAN, DAN TEMPAT-TEMPAT MUSTAJAB DIKABULKANNYA DOA

Dalam buku yang ditulis oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas berjudul “Doa & Wirid” (diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta, 2005), salah satu pembahasan yang sangat baik adalah tentang waktu, keadaan, dan tempat-tempat dikabulkannya doa seorang hamba, oleh Allah subhanahu wata’ala.

Sudah barang tentu, semua penetapan waktu, keadaan, dan tempat dikabulkannya doa tersebut, seluruhnya bersandar dan disumberkan pada dalil yang shahih yang datang dari Rasulullah ﷺ. Beberapa kitab rujukan untuk penjelasan dan dalil-dalil bagi tulisan ini adalah:

(a) Adz-Dzikru wad Du’aa’ wal ‘Ilaaj bir Ruqaa minal Kitaab was Sunnah, hal. 101-112.
(b) Ad-Du’aa’-Syaikh Husain ‘Awayisyah, hal. 33-48.
(c) Ad-Du’aa’-Muhammad Ibrahim al-Hamd, hal. 53-68.
(d) An-Nubadz al- Mustathaabah fid Da’awaatil Mustajaabah-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, hal. 48-73, dan
(e) Tash-hiihud Du’aa’-Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid.

Berikut tulisan “Waktu, Keadaan, dan Tempat Dikabulkannya Doa,” berdasarkan hadis-hadis yang shahih dari Rasulullah ﷺ, yang dikutip secara lengkap, yaitu:

  1. Doa pada malam Lailatul Qadar.
  2. Pertengahan malam terkahir, ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir.

Keterangan: Berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari, Muslim dan lain lain. Sepertiga malam terakhir kira-kira antara jam 24:00 sampai dengan menjelang Subuh (fajar). Wallahu a’lam.

  1. Duburush shalawaatil maktuubah (akhir sholat-sholat wajib).

Keterangan: Syaikh bin Baaz rahimahullah berkata: “Kata ‘Duburush Shalah’ bisa berarti akhir shalat sebelum salam, juga bisa berarti sesudah salam (langsung). Banyak sekali hadis yang menunjukkan kepada dua pengertian tersebut. Namun kebanyakan hadis-hadis itu menunjukkan, bahwa yang dimaksud adalah akhir shalat, tetapi sebelum salam, karena hal itu ada kaitannya dengan doa-doa (dan seterusnya).” (Petikan dari fatwa Syaikh bin Baaz rahimahullah, dalam Fataawa Muhimmaat Tata’alalaqu bish-Shalaah).

  1. Waktu antara azan dan iqamah.
  2. Pada saat setiap kali setelah dikumandangkan azan.
  3. Suatu “waktu” pada setiap malam hari.

Keterangan: Berdasarkan hadis riwayat Muslim no. 757 “Bab Fil Laili Saa’atun Mustajabaabu fiihad Du’aa’.”

  1. Pada saat turun hujan.
  2. Pada saat jihad fii sabilillaah (berperang di jalan Allah ta’ala).
  3. Suatu waktu pada waktu Jumat. (Pendapat yang paling kuat berkenaan dengan masalah ini, bahwa suatu waktu yang dimaksudkan adalah ba’da Ashar pada waktu Jumat. Tetapi dimungkinkan juga, bahwa yang dimaksudkan adalah waktu antara khutbah dan shalat).
  4. Ketika bersujud (dalam shalat).
  5. Jika tidur dalam keadaan suci, lalu bangun pada malam hari, kemudian membaca doa yang ma’tsur, yakni doa yang datang atau berasal dari Nabi ﷺ.

Keterangan: Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa bangun diwaktu malam lalu membaca: Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syaai iin Qadiir, Alhamduliillahi wasubhanallah, walaa ilaaha illallahu wallahu akbaru walaa haula walaa quwwata illaa billahi Allahummaghfirlii (Artinya: Tidak ada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, Tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah dan Maha suci bagi Allah,tidak ada illah yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah, Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertologan Allah. Ya Allah, ampunnilah aku), atau ia berdoa, (maka) akan dikabulkan doanya. Apabila ia berwudhu kemudian melakukan sholat, maka shalatnya akan diterima oleh Allah.” [HR. Al-Bukhari no.1154, Ibnu Majah no. 3878, Abu Dawud no.5060. An-Nubadz al-Mustathaabah hal.73]

  1. Pada saat memanjatkan doa (berikut):

لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Laa ilaaha illaa anta subhanaka inni kuntu minadz dzoolimin [QS.Al-Anbiyaa’: 87]

Keterangan: [HR. At-Tirmidzi no. 3505 dan al-Hakim I/505].

  1. Doa kaum Muslimin setelah meninggalnya seorang Muslim.

Keterangan: Yakni ketika memejamkan mata si mayit yang baru saja meninggal dunia. [HR. Muslim no.920, an-Nubadz hal. 59].

  1. Doa ketika ditimpa musibah, yaitu dengan membaca:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku ini dan berikanlah ganti dengan yang lebih baik darinya]” [HR. Muslim no.918]

  1. Doa seorang Muslim untuk saudaranya sesama Muslim, tanpa sepengetahuannya.
  2. Doa orang yang sedang berpuasa, sampai ia berbuka.
  3. Doa setelah berwudhu, apabila berdoa dengan doa-doa ma’tsur.
  4. Doa pada bulan Ramadan.
  5. Di tempat berkumpulnya kaum Muslimin di majelis-majelis ilmu.
  6. Doa yang dipanjatkan setelah memanjatkan pujian dan sanjungan kepada Allah, serta shalawat atas Nabi ﷺ ketika Tasyahhud Akhir.
  7. Ketika berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang agung, yang mana jika kepada-Nya dipanjatkan doa dengan menyebut Nama itu, niscaya Dia akan mengabulkannya, dan jika Dia diminta dengan menyebut Nama itu pula, niscaya Dia akan memberinya.
  8. Doa keburukan dari orang yang dizalimi (dianiaya) atas orang yang menzalimi.
  9. Doa kebaikan dari orang tua untuk anaknya, dan doa keburukan dari orang tua atas anaknya.
  10. Doa musafir, yaitu orang yang sedang melakukan perjalanan (safar).
  11. Doa orang yang benar-benar dalam keadaan terjepit. [QS. Al-Anfaal: 9, QS. An-Naml: 62].
  12. Doa pemimpin yang adil.
  13. Doa anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya untuk kedua orang tuanya.
  14. Ketika minum air Zamzam disertai dengan niat yang tulus.
  15. Doa pada hari Arafah di Padang Arafah.
  16. Doa di Shafa.
  17. Doa di Marwah.
  18. Doa ketika berada di Masy’arilharam (Muzdalifah).
  19. Doa setelah pelemparan jumrah ash-Shugra (kecil).
  20. Doa setelah pelemparan jumrah al-Wustha (pertengahan).
  21. Doa di dalam Kakbah dan orang yang mengerjakan shalat di dalam Hijr (Hijr isma’il) karena ia bagian dari Baitullah.
  22. Berdoa di Multazam, yaitu tempat di antara pintu Kakbah dengan dan Hajar Aswad.

Keterangan: Lihat, Manaasikul Hajji wal ‘Umrah -Syaikh al-Albani hal.23.

  1. Doa orang yang sedang menunaikan ibadah haji.
  2. Doa orang yang sedang menunaikan ibadah umrah.

Keterangan: HR. Ibnu Majah no. 2893 – lihat Silsilah al Ahaadiits ash-Shahiihah no.1820.

Seorang Muslim akan senantiasa berdoa kepada Rabb-nya kapan dan di mana saja berada, dan doanya insya Allah akan dikabulkan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَإذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنّي قَرِيْبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila dia memohon kepada-Ku” [QS.Al-Baqarah:186]

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabb-mu berfirman: ‘Dan berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS.Al-Mukmin: 60]

Ketahuilah, bahwa waktu-waktu, keadaan dan tempat-tempat di atas perlu mendapat perhatian khusus.

Kemudian yang harus diperhatikan, bahwa doa adalah ibadah, dan ibadah adalah hak murni milik Allah semata. Sebagaimana Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan dan mengatur alam semesta ini. Demikian juga tidak ada sekutu bagi Allah dalam segala macam ibadah, termasuk doa. Barang siapa berdoa meminta sesuatu, meminta rezeki, meminta kesembuhan penyakit dan selainnya kepada sesuatu selain Allah, maka ia telah terjatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang paling besar), berbuat dosa besar yang paling besar, dan doanya tidak dikabulkan Allah.

Kita diperintahkan untuk mengikhlaskan ibadah dan doa semata-mata karena Allah, dan hanya kepada Allah saja, tidak kepada yang lainnya.

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dia-lah Yang Maha Hidup, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia. Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” [QS.Al-Mu’min: 65]

Doa kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala, apabila kita ikhlas dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.

 

Sumber: http://www.belajarislamsunnah.com/2014/02/waktu-keadaan-dan-tempat-tempat.html

, ,

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

NasihatUlama
#TazkiyatunNufus #DakwahTauhid

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

قال بعض العارفين : من لم يكن ثمرة استغفاره تصحيح توبته فهو كاذب فى استغفاره

“Sebagian orang-orang yang berpengetahuan berkata: ‘Barang siapa yang istighfarnya tidak membuahkan perbaikan terhadap taubatnya, maka dia dusta dalam istighfarnya.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 4]

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

من أسباب المغفرة : التوحيد وهو السبب الأعظم فمن فقده فقد المغفرة .

“Di antara sebab maghfirah (ampunan) adalah Tauhid. Tauhid merupakan sebab terbesar. Barang siapa yang tauhid hilang darinya, maka dia telah kehilangan maghfirah.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 6]

Qatadah rahimahullah berkata:

إن هذا القرآن يدلكم على دائكم ودوائكم فأما داؤكم فالذنوب،وأما دواؤكم فالإستغفار.

“Sesungguhnya Alquran ini menunjukkan kepada kalian, penyakit kalian dan obatnya. Adapun penyakit kalian adalah dosa. Adapun obatnya adalah istighfar.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#DakwahTauhid

#MuslimahSholihah

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

Pertanyaan:

Bagaimana tuntunan Nabi ﷺ tentang tata cara penguburan plasenta bayi yang baru lahir (ari-ari: bahasa Jawa)? Karena di daerah saya, plasenta dikubur, kemudian di atasnya dinyalakan lampu. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis-hadis dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa beliau mengatakan:

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia: Rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.” [Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan:

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi), bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya, sebagaimana kebiasaan Ahli Hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi beliau hanya mengatakan: “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagaimana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silakan dirujuk. [Faidhul Qadir, 5:198]

Karena itu para ulama menilai, hadis ini sebagai hadis DHAIF, sehingga TIDAK bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan:

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” [Syu’abul Iman, no. 6488].

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar:

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini DHAIF. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan SEMUANYA DHAIF.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan: “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat tidak mengapa.” [Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19]

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan, agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Di samping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan: “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan, sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali BUKANLAH menganjurkan kita untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali TIDAK menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat DILARANG syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, dikubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab, agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan SYIRIK KECIL.

Selanjutnya, berikut ini adalah hal penting yang perlu kita perhatikan, terkait masalah semacam ini:

Pertama: Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan: “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan (pada hakikatnya) itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.”

Kedua: “Sebab” itu ada dua macam:

Sebab syari, yaitu ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh: Ruqyah (pengobatan dengan membaca Alquran), bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Sebab kauni (Sunnatullah), adalah ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab yang diterima berdasarkan hasil penelitian ilmiah, yang memiliki hubungan sebab-akibat. Dan bukan semata klaim ilmiaah, dalam arti mengilmiahkan yang bukan ilmiah. Misalnya: Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam.

Ketiga: Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syari maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk SYIRIK KECIL.

Jika kita menimbang keterangan di atas, kita sangat yakin, TIDAK ADA hubungan sama sekali, antara lampu yang dinyalakan di atas ‘makam’ ari-ari, dengan jalan terang yang akan diperoleh si anak ketika hidupnya. Demikian pula kita sangat yakin, tidak ada hubungan antara mengubur pensil dengan kondisi, bahwa bayi ini akan menjadi anak yang pintar menulis, dst. Semua itu hanyalah karangan, tahayul, dan khurafat yang TIDAK berdasar dan TIDAK selayaknya dilakukan oleh seorang Mukmin yang berakal.

Allahu a’lam’

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/11727-ritual-mengubur-ari-ari-bayi.html

,

TIDAK ADA YANG MENGHALANGI MASUK SURGA KECUALI KEMATIAN

TIDAK ADA YANG MENGHALANGI MASUK SURGA KECUALI KEMATIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TIDAK ADA YANG MENGHALANGI MASUK SURGA KECUALI KEMATIAN

> Bacalah Ayat Kursi Setiap Selesai Shalat Fardhu (Wajib)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ

“Barang siapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai menunaikan shalat fardhu (wajib), maka tidak ada yang menghalanginya masuk Surga, kecuali kematian.” [Sahih; H.R. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 7532, Al-Jami’ush Shaghir wa Ziyadatuhu, no. 11410]

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/5549-zikir-dan-doa-sesudah-shalat-fardhu.html

 

 

, ,

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#TazkiyatunNufus

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إن لله تسعة وتسعين اسما، مائة إلا واحدًا، من أحصاها دخل الجنة

“Sesungguhnya Allah memunyai 99 (sembilan puluh sembilan) nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang ‘MENGHITUNGNYA’, niscaya ia masuk Surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677, dari hadis Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ومعنى (أحصاها) أي: عرفها لفظاً، وعرفها معنى، وتعبد لله بمقتضاها، وليس المراد أن تحفظها فقط، بل لابد من حفظ اللفظ وفهم المعنى، والتعبد لله بها بمقتضاها،

“Makna ‘MENGHITUNGNYA’ (Al-Asmaul-Husnaa) adalah: Mengetahui lafalnya dan maknanya, serta beribadah kepada Allah sesuai dengan penunjukan nama-nama tersebut. Bukanlah yang dimaksud dari hadis tersebut hanyalah menghapalnya saja, akan tetapi mencakup menghapalkan lafalnya, memahami maknanya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan penunjukannya.” [Tafsiir Al-‘Allamah Ibni ‘Utsaimin, juz 4 – www.islamspirit.com].

Asy-Syaikh Asyraf bin ‘Abdil-Maqshud hafidhahullah berkata:

إحصاؤها: حفظها لفظا، وفهمها معنىً، وتمامه: أن يتعبد لله تعالى بمقتضاها.

“MENGHITUNGNYA (Al-Asmaul-Husnaa) maknanya adalah: Menghapal lafalnya dan memahami maknanya. Dan untuk kesempurnaannya: Beribadah kepada Allah ta’ala sesuai dengan penunjukan nama-nama tersebut” [Al-Qawaaidul-Mutslaa, hal 14; Universitas Islam Madinah, Cet. 3/1421 H – www.islamspirit.com].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قال الأصيلي: الإحصاء للاسماء العمل بها لا عدها وحفظها لأن ذلك قد يقع للكافر المنافق كما في حديث الخوارج يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم. وقال بن بطال: الإحصاء يقع بالقول ويقع بالعمل فالذي بالعمل أن لله أسماء يختص بها كالأحد والمتعال والقدير ونحوها فيجب الإقرار بها والخضوع عندها وله أسماء يستحب الاقتداء بها في معانيه كالرحيم والكريم والعفو ونحوها فيستحب للعبد ان يتحلى بمعانيها ليؤدي حق العمل بها فبهذا يحصل الإحصاء العملي وأما الإحصاء القولي فيحصل بجمعها وحفظها والسؤال بها ولو شارك المؤمن غيره في العد والحفظ فان المؤمن يمتاز عنه بالإيمان والعمل بها

“Telah berkata Al-Ashiliy: MENGHITUNG nama-nama Allah maknanya adalah beramal dengannya, bukan sekadar menghitung dan menghapalkannya. Sebab, menghitung dan menghapal bisa dilakukan oleh orang kafir dan munafik, sebagaimana hadis tentang Kahwarij: ‘Mereka membaca Alquran, namun tidak sampai melampaui tenggorokan mereka’. Ibnu Baththaal berkata: ‘Menghitung nama-nama Allah bisa dilakukan dengan perkataan dan perbuatan. Adapun dengan perbuatan, bahwasannya Allah memunyai nama-nama khusus seperti Al-Ahad, Al-Muta’aal, Al-Qadiir, dan yang semisalnya. Maka wajib untuk menetapkan nama-nama ini dan tunduk kepadanya. Allah juga memunyai nama-nama, yang terhadap makna nama-nama tersebut, orang dianjurkan untuk mencontohnya, seperti: Ar-Rahim, Al-‘Afwu, dan yang semisalnya. Maka wajib bagi seorang hamba berhias diri dengannya, sehingga dapat menunaikan hak beramal dengan nama-nama itu. Dengan ini, dapat tercapai makna ‘Menghitung’ secara ‘amaliy. Adapun menghitung dengan perkataan, dapat dihasilkan dari menghimpun, menghapal, dan memohon dengan nama-nama Allah tersebut. Meskipun hal itu dapat dilakukan oleh selain Mukmin, namun seorang Mukmin memunyai kelebihan, yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan beramal dengannya” [Fathul-Baariy, 13/378].

Wallaahu a’lam.

 

Penulis: Abu Al-Jauzaa’

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/apakah-yang-dimaksud-menghitung-Asmaul.html

 

 

, ,

PENYAKIT ‘AIN, SEBAB, PENCEGAHAN DAN TERAPI

PENYAKIT ‘AIN, SEBAB, PENCEGAHAN DAN TERAPI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#DoaZikir

PENYAKIT ‘AIN, SEBAB, PENCEGAHAN DAN TERAPI

Pertanyaan:
Mohon penjelasan tentang penyakit ‘ain. Apakah dengan memajang foto di FB atau BB bisa menimbulkan penyakit ‘ain?

Jawaban:
Penyakit ‘ain, yaitu penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

والعين نظر باستحسان مشوب بحسد من خبيث الطبع يحصل للمنظور منه ضرر

“Dan ‘ain itu adalah pandangan suka disertai hasad yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang itu tertimpa suatu bahaya.” [Fathul Bari, 10/200]

Penyakit ‘ain adalah sesuatu yang benar-benar ada secara hakiki. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعَيْنُ حَق وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

“’Ain itu benar adanya. Andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, maka ‘ain akan mendahuluinya. Dan apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.” [HR. Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma]

Beberapa Faidah:

1) Apabila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan pada diri saudaranya, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya (seperti mengucapkan, BaarokaLlaahu fiyk: Semoga Allah memberkahimu). Inilah cara untuk mencegah penyakit ‘ain. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيه ، أَوْ مِنْ نَفْسِهِ ، أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ ، فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

“Apabila seorang dari kalian melihat sesuatu dari saudaranya, atau melihat diri saudaranya, atau melihat hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuk saudaranya tersebut, karena sesungguhnya penyakit ‘ain benar-benar ada.” [HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amir, Ash-Shahihah, no. 2572]

2) Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma di atas menjelaskan kepada kita salah satu cara untuk mengobati penyakit ‘ain adalah dengan meminta kepada orang yang memandang untuk mandi, kemudian bekas air mandinya disiramkan kepada orang yang dipandangnya. Adapun bagaimana tata caranya, dijelaskan dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ ، قَالَ : مَرَّ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ بِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ ، وَهُوَ يَغْتَسِلُ فَقَالَ : لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ ، وَلاَ جِلْدَ مُخَبَّأَةٍ فَمَا لَبِثَ أَنْ لُبِطَ بِهِ ، فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ فَقِيلَ لَهُ : أَدْرِكْ سَهْلاً صَرِيعًا ، قَالَ مَنْ تَتَّهِمُونَ بِهِ قَالُوا عَامِرَ بْنَ رَبِيعَةَ ، قَالَ : عَلاَمَ يَقْتُلُ أَحَدُكُم أَخَاهُ ، إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ مَا يُعْجِبُهُ ، فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ ، فَأَمَرَ عَامِرًا أَنْ يَتَوَضَّأَ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ، وَرُكْبَتَيْهِ وَدَاخِلَةَ إِزَارِهِ ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَصُبَّ عَلَيْهِ.

قَالَ سُفْيَانُ : قَالَ مَعْمَرٌ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ : وَأَمَرَهُ أَنْ يَكْفَأَ الإِنَاءَ مِنْ خَلْفِهِ.

“Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata: Amir bin Rabi’ah melewati Sahl bin Hunaif ketika ia sedang mandi, lalu Amir berkata: Aku tidak melihat seperti hari ini, kulit yang lebih mirip (keindahannya) dengan kulit wanita yang dipingit. Maka tidak berapa lama kemudian Sahl terjatuh, lalu beliau dibawa kepada Nabi ﷺ, seraya dikatakan: “Selamatkanlah Sahl yang sedang terbaring sakit.” Beliau ﷺ bersabda: “Siapa yang kalian curigai telah menyebabkan ini?” Mereka berkata: “Amir bin Rabi’ah.” Beliau ﷺ bersabda: “Kenapakah seorang dari kalian membunuh saudaranya? Seharusnya apabila seorang dari kalian melihat sesuatu pada diri saudaranya yang menakjubkan, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya.” Kemudian beliau ﷺ meminta air, lalu menyuruh Amir untuk berwudhu. Amir mencuci wajahnya, kedua tangannya sampai ke siku, dua lututnya dan bagian dalam sarungnya. Dan Nabi ﷺ memerintahkannya untuk menyiramkan (bekas air wudhunya) kepada Sahl.” Berkata Sufyan, berkata Ma’mar dari Az-Zuhri: Beliau ﷺ memerintahkannya untuk menyiramkan air dari arah belakangnya.”  [HR. Ibnu Majah dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, Shahih Ibni Majah, no. 2828]

3) Cara penyembuhan lainnya adalah dengan diruqyah. Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَة

“Tidak ada ruqyah (yang lebih bermanfaat), kecuali untuk penyakit ‘ain, atau penyakit yang diakibatkan sengatan binatang berbisa.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu’anhu]

4) Rasulullah ﷺ memerlindungkan anak-anak kepada Allah ta’ala dari penyakit ‘ain, sebagaimana dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ الله التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Nabi ﷺ pernah memerlindungkan Al-Hasan dan Al-Husain (kepada Allah ta’ala):

أَعُيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“U’idzukuma bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaithonin wa haamatin wa min kulli ‘ainin laamatin.”

Artinya:

“Aku memerlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari setan, binatang berbisa dan mata yang dengki (makna yang lain: segala macam bahaya).”

Dan beliau ﷺ bersabda (kepada Al-Hasan dan Al-Husain), sesungguhnya bapak kalian berdua (yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam) memerlindungkan Ismail dan Ishaq dengan doa ini.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma]

5) Hadis Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif di atas menunjukkan, bahwa orang yang terkena penyakit ‘ain karena dipandang secara langsung. Adapun apakah mungkin terkena penyakit ‘ain jika dipandang melalui fotonya atau gambarnya, maka kami belum mengetahui penjelasan ulama akan hal tersebut. Silakan ditanyakan kepada para Ustadz lainnya. Akan tetapi membuat gambar-gambar bernyawa, apakah yang dibuat oleh tangan maupun mesin, adalah terlarang, berdasarkan keumuman dalil diharamkannya gambar bernyawa, tanpa memberikan pengecualiaan untuk gambar yang dibuat oleh mesin. Berdasarkan banyak hadis, di antaranya:

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَتُوبُ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتِ اشْتَرَيْتُهَا لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ – وَقَالَ – إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ

“Dari Aisyah radhiyallahu’anha, seorang istri Nabi ﷺ, bahwasanya beliau mengabarkan kepada Nabi ﷺ, bahwa beliau telah membeli bantal yang padanya terdapat gambar-gambar bernyawa. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, maka beliau ﷺ hanya berdiri di pintu, tidak mau memasuki rumah. Aisyah pun mengetahui ketidaksukaan Rasulullah ﷺ yang tergambar pada wajah beliau. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, aku kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Apakah dosaku?” Beliau bersabda: “Untuk apa bantal ini?” Aisyah menjawab: “Aku belikan untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar padanya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya para pemilik gambar-gambar ini akan diazab pada Hari Kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkan yang telah kalian ciptakan.”

Dan Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya rumah yang terdapat padanya gambar-gambar bernyawa tidak akan dimasuki oleh malaikat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Terlebih lagi jika gambar seorang wanita disebarkan di internet, maka sisi keharamannya bertambah, di antaranya:

  • Pertama: Menimbulkan fitnah (godaan) bagi laki-laki, dan bisa berdampak pada maraknya perzinahan.
  • Kedua: Dosa menampakkan aurat, dan mungkin disalahgunakan oleh pihak-pihak yang menginginkan kejelekan.
  • Ketiga: Menjadikan suami dan mahramnya sebagai orang-orang yang kehilangan sifat cemburu (dayuts), satu sifat yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai penghalang masuk Surga.

Maka janganlah membuat gambar bernyawa, baik dengan tangan maupun mesin, jangan pula memajangnya di internet, dalam rangka taat kepada Allah ta’ala dan kehati-hatian dalam menaati-Nya.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

https://nasihatonline.wordpress.com/2013/03/05/penyakit-ain-sebab-pencegahan-dan-terapi/