Posts

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

Kita layak terpukau dengan kisah-kisah orang-orang yang mendapatkan hidayah, lalu hidayah itu merubah drastis jalan hidupnya. Tapi kita juga pantas bertanya, mengapa tingkat kebaikan kita tidak setinggi mereka tersebut? Kita sudah lama memeluk agama Islam, tapi mengapa Islam kita masih biasa-biasa saja? Baik dalam hal ilmu, amal, maupun peran yang dapat kita lakukan untuk kemajuan Islam.

Kemampuan seseorang untuk melahirkan amal, bergantung seberapa  besar kadar hidayah yang bersemayam di hatinya. Baik Hidayah Irsyad atau petunjuk yang berupa pengetahuan terhadap kebenaran, juga Hidayah Taufik yang menjadikan kebutuhan manusia untuk mendapatkan hidayah.  Karenanya, manusia memerlukan hidayah untuk memeroleh setiap maslahat, baik Duniawi maupun Ukhrowi.

Inilah jawabannya, meskipun kita telah mendapatkan hidayah Islam, mengapa masih tetap diperintahkan memohon hidayah kepada Allah, paling minim, 17 kali dalam sehari semalam kita membaca di dalam sholat,

“Tunjukkilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah 6)

Selain hidayah Islam, kita juga membutuhkan hidayah yang bersifat tafshili. Untuk menjalani Islam dengan benar, kita perlu hidayah ilmu. Kita perlu petunjuk, apa yang harus kita imani, bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, apa saja rincian kebaikan, sehingga kita bisa menjalankan, mana jenis kemaksiatan yang harus kita hindari. Ini semua butuh hidayah irsyad, memerlukan petunjuk ilmu.

Setelah mengetahui ilmunya, kita juga membutuhkan hidayah taufik, agar kita mampu menerapkan ilmu ke dalam amal, juga untuk istiqomah. Karena tidak sedikit orang yang telah mengetahui berbagai jenis amal saleh, namun tidak diberi kekuatan untuk menjalaninya. Meskipun ia orang yang kuat dan berotot, tanpa hidayah, ia tak mampu berbuat apa-apa. Ada pula yang sudah mengerti sederetan kemaksiatan dan segudang perkara yang haram, namun ia tak kuasa untuk melepaskan diri dari belengu syahwatnya. Kita membutuhkan hidayah untuk mengenali kebenaran, butuh pula hidayah untuk mampu berpegang di atasnya.

Mungkin tersisa dibenak kita, mengapa kita masih saja “Biasa”. Tidak tampak efek luar biasa, padahal kita juga berdoa kepada Allah, paling tidak 17 kali dalam sehari semalam. Allah tidak mungkin bakhil, tidak pula menyalahi janji-Nya atas hamba-Nya. Efek yang belum terasa, atau tidak begitu kuat pengaruhnya, boleh jadi karena kurangnya penghayatan kita terhadap doa yang kita panjatkan. Kita memohon kepadanya, namun tidak tau apa yang kita minta, atau tidak menyadari, permohonan apa yang kita panjatkan kepada-Nya. Allah tidak mengabulkan doa yang berangkat dari hati yang lalai.

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR Tirmizi, Al-Albani menyatakan, “hadis Hasan”).

Atau bisa jadi pula, karena ikhtiar kita untuk mendapatkan hidayah belum optimal. Selain doa yang menuntut hadirnya hati, juga terhindarnya kita dari faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, mestinya kita iringi doa dengan ikhtiar. Hidayah irsyad  kita cari dengan banyak belajar, menelaah Alquran dan As-Sunnah, mengaji kitab-kitab yang ditulis para ulama, maupun menghadiri majelis-majelis ilmu. Adapun hidayah taufik hendaknya kita cari dengan bergaul bersama orang-orang saleh dan bermujahadah untuk menjalankan amal-amal penyubur iman.

Salah jika berpikir, bahwa mendapat hidayah berarti Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan malaikat yang akan menurunkan seseorang sesat, lalu masuk Islam, bertaubat, menuntunnya melakukan amal kebaikan setiap saat sepanjang hidupnya, tanpa ada usaha dari orang tersebut.

Hidayah adalah petunjuk yang secara halus menunjukkan dan mengantarkan kepada sesuatu yang dicari. Dan yang paling dicari manusia semestinya adalah keselamatan di dunia dan Akhirat. Untuk mendapatkannya, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi bekal bagi setiap manusia dengan berbagai arahan, yang akan membawa menuju keselamatan. Namun Allah subhanahu wa ta’ala juga memberinya pilihan, sehingga ada yang mengikuti petunjuk lalu selamat, dan ada yang tidak mengacuhkannya, lalu celaka.

Imam Ibnul Qayyim dan Imam al Fairusz Abadi menjelaskan, Allah telah memberikan petunjuk secara halus kepada setiap manusia agar selamat hingga Hari Kiamat, bahkan sejak hari kelahirannya. Beliau menyebutkan:

Tahapan pertama adalah memberikan Al Hidayah Al Amah, yaitu hidayah yang bersifat umum yang diberikan kepada setiap manusia, bahkan setiap mahluknya. Yaitu petunjuk berupa instink, akal, kecerdasan dan pengetahuan dasar, agar makhluknya bisa mencari dan mendapatkan berbagai hal, yang memberinya maslahat. Hidayah inilah yang dimaksud dalam ayat,

“Musa berkata; ‘Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS.Thaha: 50)

Dengan bekal ini, manusia bisa menyerap, memahami dan melaksanakan berbagai arahan dan bimbingan yang diberikan kepadanya.

Tahapan kedua adalah Hidayatul Dilalah Wal Bayan atau Hidayatul Irsayad, yaitu petunjuk berupa arahan dan penjelasan yang akan mengantarkan manusia kepada keselamatan dunia dan Akhirat. Semua itu terangkum dalam risalah yang disampaikan melalui Nabi dan Rasul-Nya.  Allah berfirman:

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami.” (QS.21:73)

Risalah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ adalah Hidayatul Bayan paripurna yang telah Allah berikan kepada manusia. Sifatnya hanya memberi penjelasan dan arahan, agar manusia bisa meraih keselamatan. Mengikuti atau tidak, Allah memberikan pilihan kepada setiap manusia berupa ikhtiar. Sehingga ada di antara mereka yang mengetahui, kemudian mengikuti dan terus melazimi hingga menjadi mukmin yang taat. Namun ada pula yang enggan bahkan menentang. Yang mengetahui, lalu mengikuti dan berusaha tetap berada di atas kebenaran, akan selamat. Sebaliknya, yang mengetahui lalu berpaling, akan binasa.

Kemudia, fase ketiga adalah Hidayatut Taufiq, yaitu petunjuk yang khusus diberikan kepada orang–orang yang dikehendaki Allah. Hidayah yang menuntun hati seseorang untuk beriman dan beramal sesuai dengan tuntunan-Nya. Cahaya yang menerangi hati dari gelapnya kesesatan dan membimbingnya menuju jalan kebaikan. Hidayah yang mutlak hanya dimiliki dan diberikan oleh Allah inilah yang melunakkan hati seseorang, hingga ia mau menjawab seruan dakwah. Dan hidayah ini pulalah yang menuntun mereka agar tetap berada di atas jalan yang lurus.

Hidayah ini adalah buah dari Hidayatul Irsyad. Seseorang tidak mungkin akan mendapat hidayah ini, jika belum mendapatkan Hidayatul Irsyad sebelumnya. Namun tidak semua orang yang sudah mendapat Hidayatul Irsyad pasti mendapatkan Hidayatut Taufiq.

Seperti sudah dipaparkan tadi, bahwa tugas dan kewenangan Nabi ﷺ, juga orang-orang yang menjadi pewaris para Nabi ﷺ hanyalah menjelaskan dan menyampaikan. Mereka tidak akan mampu membuat atau memaksa seseorang mengikuiti apa yang mereka dakwahkan, jika orang tersebut lebih memilih jalan kesesatan dan tidak diberi Hidayatut Taufiq oleh Allah. Allah berfirman:

”Sesungguhnya engkau takkan bisa memberikan hidayah (taufiq) kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. “ (QS. Al-Qashash:56).

Yang terakhir adalah hidayah di Akhirat. Petunjuk di Akhirat yang menuntun manusia menuju Jannah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, salah seorang dari mereka lebih tahu arah menuju rumah-Nya di Jannah, daripada arah menuju rumahnya di dunia.“

Keempat fase ini saling terkait secara berurutan. Tanpa adanya hidayah pertama, seseorang tidak akan bisa mendapatkan hidayah yang kedua berupa Irsyad, arahan dan bimbingan dari Rasulullah ﷺ. Sebab orang yang akalnya tidak sempurna (gila maupun idiot) tidak bisa menyerap dan menalar berbagai ilmu dan bimbingan dari siapapun. Kalaupun bisa, daya serapnya sangat minim, sehingga mereka justru di bebaskan dari semua taklif dan tanggung jawab.

Sedang hidayah yang ketiga, tidak mungkin bisa diraih sebelum seseorang mendapatkan hidayah yang pertama dan kedua. Taufiq dari Allah hanya akan turun kepada orang yang telah mendengar risalah dan kebenaran. Demikian pula hidayah yang keempat. Dan Allah Maha Mengetahui siapa yang benar-benar mencari dan berhak mendapatkan hidayah dari-Nya.

Hidayah Al amah kita semua sudah memilikinya. Adapun hidayah di Akhirat, bukan lain adalah buah dari yang kedua dan ketiga. Sehingga yang harus kita cari semasa hidup di dunia adalah Hidayatul Irsyad dan Hidayatut Taufiq. Ibnu Katsier menjelaskan hidayah kita pinta dalam surat Al Fatihah adalah dua hidayah tersebut.

Hidayatul Irsyad adalah ilmu syari yang sahih, di mana kita bisa mengetahui kebenaran (Ma’rifatul Haq). Sedang hidayatut Taufiq adalah kelapangan hati untuk mengamalkan dan selalu berada di atas kebenaran. Dua hal ini tidak akan kita dapatkan, jika Allah tidak menghendaki kita mendapatkannya. Sehingga yang harus kita lakukan adalah mencari dan memohon kepada Pemiliknya. Mencari berbagai hal yang bisa mendatangkan hidayah dan berusaha menghancurkan semua yang menghalangi kita dari hidayah.

Syaikh Abdurahman bin Abdullah as Sahim, dalam risalahnya menjelaskan, ada beberapa hal yang bisa mendatangkan hidayah:

  • Pertama: Bertauhid dan menjauhi syirik.
  • Kedua: Menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  • Ketiga: Inabah, bertaubat dan kembali kepada Allah.
  • Keempat: I’tisham, berpegang teguh kepada Kitabullah.
  • Kelima: Berdoa dan berusaha keras mencarinya.
  • Keenam: Memperbanyak zikir.

Selain sebab-sebab yang bisa mendatangkan hidayah, ada juga beberapa hal yang akan menghalangi masuknya cahaya hidayah ke dalam hati, di antaranya:

  • Pertama: Minimnya pengetahuan dan penghargaan atas nikmat hidayah

Ada sekian banyak manusia yang tergiur dengan dunia dan menjadikannya satu-satunya hal yang paling diharapkannya. Sukses di matanyanya adalah capaian harta dan kedudukan di mata manusia. Kesuksesan yang bersifat Ukhrowi dinomorduakan, dan berpkir, bahwa hal seperti itu bisa dicari lagi di lain kesempatan.

Meski sudah mendapatkan lingkungan yang baik, kesempatan belajar agama yang benar, rezeki yang halal meski sedikit, ia tidak segan meninggalkannya demi meraih dunianya. Itu karena rendahnya penghargaan atas hidayah Allah berupa teman yang saleh, dan ilmu dien yang telah diberikan kepadanya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) Akhirat mereka lalai. (QS. Ar Rum 7)

  • Kedua: Hasad dan kesombongan.
  • Ketiga: Jabatan
  • Keempat: Syahwat dan harta, dan
  • Kelima: Kebencian.

Seseorang yang membenci orang lain, si A misalnya, ketika si A mendapatkan hidayah berupa masuk Islam, taubat dari suatu maksiat, semangat belajar Islam atau yang lain, kebenciannya akan menghalanginya untuk mengikuti jejak orang yang dia benci itu. Kesombongan, gengsi dan kejengkelan tumbuh subur di atas lahan kebenciannya, dan menghalangi cahaya hidayah masuk menerangi hatinya. Allah berfirman, yang artinya:

”Sesungguhnya seorang hamba jika telah beriman kepada Alquran dan mendapat petunjuk darinya secara global, mau menerima perintah dan membenarkan berita dari Alquran, semua itu adalah awal mula dari hidayah-hidayah. Selanjutnya yang akan ia peroleh secara lebih detail. Karena hidayah itu tak memiliki titik akhir, seberapa pun seorang hamba mampu mencapainya. Allah berfirman:

”Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya. (QS.Maryam:76).”

Wallahua’lam.

 

(Abu Alfia,Tebar-Sunnah)

 

 

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahTauhid

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

Hidayah secara bahasa berarti ar-Rasyaad (Bimbingan) dan Ad-Dalaalah (Dalil/Petunjuk) [Lihat kitab “al-Qaamuushul muhiith” (hal. 1733)]

Adapun secara syari, maka Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah ta’ala menjadi empat macam:

  1. Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:

{قَال َرَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى}

“Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).

Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah ta’ala berikan kepada SEMUA MAKHLUK dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia.

  1. Hidayah (yang berupa) PENJELASAN dan KETERANGAN tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini TIDAK berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat. Tapi tidak mesti melahirkan (hidayah Allah ta’ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:

{وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى}

“Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS Fushshilat: 17).

Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran), tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.

Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memeringatkan jalan yang salah. Akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya ada di tangan Allah ta’ala, meskipun tentu saja hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia, agar mau mengikuti petunjuk Allah ta’ala dengan taufik-Nya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

  1. Hidayah taufik, ilham (dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah ta’ala. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:

{فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8). `

Dan firman-Nya:

{إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}

“Jika engkau (wahai Muhammad ﷺ) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak memunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).

Juga firman-Nya:

{إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad ﷺ) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS al-Qashash: 56).

Maka dalam ayat ini Allah menafikan hidayah ini (taufik) dari Rasulullah ﷺ, dan menetapkan bagi beliau ﷺ hidayah dakwah (bimbingan/ajakan kepada kebaikan) dan penjelasan dalam firman-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

  1. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka, ketika penghuninya digiring kepadanya.

 

Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:

{وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ}

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga), kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43).

Adapun tentang penghuni Neraka, Allah ta’ala berfirman:

{احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ. مِنْ دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}

“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah. Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka” (QS ash-Shaaffaat: 22-23)” [Lihat kitab “Bada-i’ul fawa-id” (2/271-273) dengan ringkasan dan tambahan].

Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi hidayah menjadi dua:

  • Hidayah yang bersifat Mujmal (garis besar/global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.
  • Hidayah yang bersifat rinci dan detail, yaitu hidayah untuk mengetahui perincian cabang-cabang imam dan Islam, serta pertolongan-Nya untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang dan malam” [Lihat kitab “Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam” (hal. 225)].

 

Dinukil dari artikel berjudul: “Makna Dan Hakikat Hidayah Allah” yang ditulis oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA.

[Artikel Muslim.Or.Id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/19131-makna-dan-hakikat-hidayah-allah.html

DUA MACAM HIDAYAH

DUA MACAM HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

DUA MACAM HIDAYAH

Hidayah itu ada dua macam:

  • Hidayah berupa keterangan (Hidayatul Irsyad Wal Bayan) dan
  • Hidayah berupa pertolongan (Hidayatut Taufiq Wal Ilham).

Kedua macam hidayah ini bisa dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa. Adapun selain mereka hanya mendapatkan Hidayatul Bayan saja. Artinya mereka tidak mendapatkan taufiq dari Allah untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. Padahal Hidayatul Bayan tanpa disertai Hidayatut Taufiq untuk beramal, bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna.

Maka wajarlah jika Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan:

“Seorang ‘alim (orang yang berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh), selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya, maka barulah dia menjadi seorang yang benar-benar ‘alim.”

Berjalan Menuju dan Di Atas Jalan yang Lurus

Setelah mengemukakan bahwa hidayah yang dimaksud oleh ayat ‘Ihdinash Shirathal Mustaqim’ ada dua:

  • Ila Shirath (Menuju jalan yang lurus) dan
  • Fi Shirath (Di atas jalan yang lurus), Syaikh As Sa’di mengatakan:

“Hidayah ‘Ila Shirath’ yaitu berpegang teguh dengan agama Islam dan meninggalkan semua agama yang lain. Sedangkan hidayah ‘Fi Shirath’ yaitu mencakup petunjuk untuk menggapai semua rincian ajaran agama dengan cara mengilmui sekaligus mengamalkannya. Maka doa ini termasuk doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi hamba. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk berdoa dengan doa ini di dalam setiap rakaat shalatnya, dikarenakan begitu mendesaknya kebutuhan dirinya terhadap hal itu.”

 

Sumber: https://muslim.or.id/95-menggapai-ketentraman-dan-hidayah.html

,

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#UtangPiutang
#FatwaUlama

APAKAH UTANG WAJIB DICATAT? [FATWA ULAMA]

>> Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Pertanyaan:

Apakah mengutangi orang itu mendapatkan pahala? Dan apakah wajib mencatat utang?

Jawaban:

Al Qardh (utang), atau yang dikenal banyak orang dengan At Taslif (memberi pinjaman) hukumnya sunnah, dan di dalamnya terdapat pahala, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” [QS. Al Baqarah: 195].

Dan tidak mengapa seseorang untuk berutang, karena Nabi ﷺ terkadang berutang. Maka utang hukumnya mubah, bagi orang yang hendak berutang, dan sunnah bagi orang yang mengutangi.

Namun orang yang mengutangi wajib untuk menjauhi sikap gemar menyebut-nyebut utang tersebut kepada orang yang ia utangi. Atau juga memberikan gangguan kepadanya dengan mengatakan misalnya: “Saya kan sudah berbuat baik kepadamu dengan memberikan utang kepadamu…” atau semisalnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” [QS. Al Baqarah: 264].

Adapun soal mencatat utang, jika harta yang diutangkan adalah milik sendiri, maka yang afdhal (sunnah) adalah mencatatnya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” [QS. Al Baqarah: 282].

 

Dan boleh saja jika tidak mencatatnya, apalagi jika utangnya dalam perkara-perkara yang kecil, yang biasanya secara adat orang-orang tidak terlalu serius di dalamnya.

Adapun jika harta yang diutangkan adalah miliki orang lain, misalnya jika ia mengelola harta anak yatim, dan karena suatu maslahah ia mengutangkannya kepada orang lain, maka ia wajib mencatatnya. Karena ini merupakan bentuk penjagaan terhadap harta anak yatim. Allah ta’ala berfirman:

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” [QS. Al An’am: 154]

[Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2/16, Asy Syamilah]

 

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/24150-fatwa-ulama-apakah-utang-wajib-dicatat.html

,

JUMAT INI, CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID

JUMAT INI, CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah #SifatSholatNabi

JUMAT INI, CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID
>> Jangan Lewatkan Kesempatan Mulia Ini

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.

“Apabila Jumat tiba, maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang, lalu berikutnya, dan berikutnya, sampai apabila imam telah duduk di mimbarnya, mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah.” [HR Bukhari 3211]

, ,

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli
#AdabAkhlak

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba. Sampai pun sekadar memberikan bantuan yang ringan bagi orang lain. Termasuk memberikan utang kepada orang lain, yang itu pasti dikembalikan. Padahal kita tahu, dalam memberikan utang untuk tempo pendek, tidak ada harta kita yang berkurang, selain karena pengaruh propaganda orang kafir, penurunan nilai mata uang (time value of money).

Namun umumnya orang yang memberi utang, merasa cemas ketika uangnya yang berada di tangan orang lain. Dan Allah yang Maha Pemurah tidak menyia-nyiakan kebaikan hamba, sekalipun yang dia koribuankan hanya perasaaan dan kecemasan, karena menyerahkan uang kepada orang lain. Allah gantikan ini dengan pahala.

Dalam hadis, dari Ibn Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:

كل قرض صدقة

“Setiap mengutangi orang lain adalah sedekah.” [HR. Thabrani dengan sanad Hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani]

Kemudian, dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada seseorang yang masuk Surga, kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya:

الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر

“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya, dan utang nilainya 18 kali.” [HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib]

Juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَقْرَضَ اللَّهَ مَرَّتَيْنِ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ أحدهما لو تصدق به

Siapa yang memberi utang dua kali karena Allah, maka dia mendapat pahala seperti sedekah dengannya sekali. [HR. Ibnu Hibban 5040 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth].

Terlebih lagi ketika orang yang berutang mengalami kesulitan, kemudian dia memberikan penundaan pembayaran. Rasulullah ﷺ janjikan pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ

Barang siapa yang memberi waktu tunda pelunasan bagi orang yang kesusahan membayar utang atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari Kiamat, yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya. [HR. Ahmad, 2/359, Muslim 3006,  dan Turmudzi 1306, dan dishahihkan al-Albani].

Beberapa Aturan dalam Menagih Utang

Islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, yang akan membuat amalnya sia-sia. Dosa itu adalah dosa riba dan kezaliman. Karena umumnya riba dan tindakan kezaliman, terjadi dalam masalah utang piutang.

Kaidah Pertama

Islam menyarankan agar dilakukan pencatatan dalam transaksi utang piutang. Terlebih ketika tingkat kepercayaanya kurang sempurna. Semua ini dalam rangka menghendari sengketa di belakang. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. [QS. al-Baqarah: 282]

Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan:

الأمر بكتابة جميع عقود المداينات إما وجوبا وإما استحبابا لشدة الحاجة إلى كتابتها، لأنها بدون الكتابة يدخلها من الغلط والنسيان والمنازعة والمشاجرة شر عظيم

Perintah untuk mencatat semua transaksi utang piutang, bisa hukumnya wajib, dan bisa hukumnya sunah. Mengingat beratnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan tercampur dengan bahaya besar, kesalahan, lupa, sengketa dan pertikaian. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 118].

Kaidah Kedua

Allah memerintahkan kepada orang yang memberikan utang, agar memberi penundaan waktu pembayaran, ketika orang yang berutang mengalami kesulitan pelunasan.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan  menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu  mengetahui. [QS. al-Baqarah: 280]

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

يأمر تعالى بالصبر على المعسر الذي لا يجد وفاء، فقال: { وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَة } لا كما كان أهل الجاهلية يقول أحدهم لمدينه إذا حل عليه الدين: إما أن تقضي وإما أن تربي ثم يندب إلى الوضع عنه، ويعد على ذلك الخير والثواب الجزيل

Allah perintahkan kepada orang yang memberi utang untuk bersabar terhadap orang yang kesulitan, yang tidak mampu melunasi utangnya. ”Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” Tidak seperti tradisi jahiliyah, mereka mengancam orang yang berutang kepadanya, ketika jatuh tempo pelunasan telah habis: ’Kamu lunasi utang, atau ada tambahan pembayaran (riba).’ Kemudian Allah menganjurkan untuk menggugurkan utangnya, dan Allah menjanjikan kebaikan dan pahala yang besar baginya [Tafsir Ibnu Katsir, 1/717].

Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pahala sedekah selama masa penundaan. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ، وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ، فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

Siapa yang memberi tunda orang yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo, maka dia mendapat pahala sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya. [HR. Ahmad 23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth].

Kaidah Ketiga

Memberikan utang termasuk transaksi sosial, amal saleh yang berpahala. Karena itu, orang yang memberi utang dilarang mengambil keuntungan karena utang yang diberikan, apapun bentuknya, selama utang belum dilunasi.

Sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu mengatakan:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas kepadamu dengan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” [HR. Bukhari 3814].

Kemudian, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi, atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” [HR. Ibnu Majah 2432]

Keempat

Terkait nilai penurunan mata uang

Orang yang memberi utang, hendaknya siap menerima risiko penurunan nilai mata uang. Karena ulama sepakat, orang yang memberi utang hanya berhak meminta pengembalian sebesar uang yang dia berikan, tanpa memerhatikan keadaan penurunan nilai mata uang.

Dalam Mursyid al-Hairan – kitab mumalah Madzhab Hanafi – dinyatakan:

وإن استقرض شيئا من المكيلات والموزونات والمسكوكات من الذهب والفضة فرخصت أسعارها أو غلت فعليه رد مثلها ولا عبرة برخصها أو غلائها

Apabila orang berutang sesuatu berupa barang yang ditakar, atau ditimbang atau emas perak yang dicetak, kemudian harganya mengalami penurunan atau kenaikan, maka dia wajib mengembalikan utangnya sama seperti yang dia pinjam. Tanpa memerhitungkan penurunan maupun kenaikan harga. [Mursyid al-Hairan ila Ma’rifah Ahwalil Insan fil Muamalat ’ala Madzhabi Abu hanifah an-Nu’man, keterangan no. 805].

Ibnu Abidin mengatakan semisal:

إنه لا يلزم لمن وجب له نوعٌ منها سواه بالإجماع

Tidak ada kewajiban bagi orang yang memiliki utang selain yang sama dengannya, dengan sepakat ulama. [Tanbih ar-Ruqud ’ala Masail an-Nuqud, hlm. 64]

Demikian keterangan dalam Madzhab Hanafi. Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Madzhab Syafiiyah.

As-Syairazi mengatakan:

ويجب على المستقرِض ردُّ المثل فيما له مثل؛ لأن مقتضى القرض: رد المثل

Wajib bagi orang yang berutang untuk mengembalikan yang semisal, untuk harta yang ada padanannya. Karena konsekuensi utang adalah mengembalikan dengan yang semisal. [al-Muhadzab, 2/81].

Kemudian, keterangan dalam Madzhab Hambali, kita simpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah:

 

الْمُسْتَقْرِضَ يَرُدُّ الْمِثْلَ فِي الْمِثْلِيَّاتِ، سَوَاءٌ رَخُصَ سِعْرُهُ أَوْ غَلَا، أَوْ كَانَ بِحَالِهِ

Orang yang berutang wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. [al-Mughni, 4/244].

Di tempat lain, beliau mengatakan, bahwa itu sepakat ulama:

ويجب رد المثل في المكيل والموزون. لا نعلم فيه خلافا. قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن من أسلف سلفا، مما يجوز أن يسلف، فرد عليه مثله، أن ذلك جائز وأن للمسلف أخذ ذلك

Wajib mengembalikan yang semisal untuk barang yang ditakar maupun ditimbang. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Ibnul Mundzir mengatakan:

”Semua ulama yang kami ketahui, mereka sepakat, bahwa orang yang berutang sesuatu yang halal, kemudian dia mengembalikan dengan semisal, maka hukumnya boleh dan bagi pemberi utang, bisa menerimanya.” [al-Mughni, 4/239].

Kelima

Apabila uang yang dulu tidak berlaku

Utang dengan uang masa silam, kemudian masyarakat tidak lagi memberlakukannya, dengan apapun sebabnya, maka yang wajib dilakukan adalah mengembalikan dengan mata uang yang senilai dengan mata uang yang tidak berlaku itu, atau dengan emas atau perak. Karena untuk mengembalikan yang semisal (al-Mitsl) tidak memungkinkan, sehingga dikembalikan dalam bentuk nilai (al-Qimah).

Ibnu Qudamah mengatakan:

وَإِنْ كَانَ الْقَرْضُ فُلُوسًا أو مكسرة فَحَرَّمَهَا السُّلْطَانُ، وَتُرِكَتْ الْمُعَامَلَةُ بِهَا، كَانَ لِلْمُقْرِضِ قِيمَتُهَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَائِمَةً فِي يَدِهِ أَوْ اسْتَهْلَكَهَا ؛ لِأَنَّهَا تَعَيَّبَتْ فِي مِلْكِهِ

Apabila utang dalam bentuk uang kertas atau uang logam, kemudian pemerintah menariknya dan tidak lagi menggunakan jenis uang ini, maka orang mengutangi berhak mendapat uang yang senilai. Dan dia tidak harus menerima uang kuno itu, baik uang yang diutangkan itu masih ada di tangan, maupun sudah rusak. Karena tidak memungkinkan untuk memilikinya. [al-Mughni, 4/244].

Kemudian beliau menegaskan:

يقومها كم تساوي يوم أخذها؟ ثم يعطيه، وسواء نقصت قيمتها قليلا أو كثيرا

Dia tentukan berapa nilai uang ketika dia mengambilnya. Kemudian dia berikan uang itu. Baik nilainya turun sedikit maupun banyak. [al-Mughni, 4/244].

Sebagai ilustrasi, pada 1991 si A memberi utang 50 ribu bergambar Presiden Oribua. Pada 2011 si B melunasi dengan uang 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai. Karena uang kuno, tidak berlaku. Meskipun nilai 50 ribu dari 1991 hingga 2011 mengalami penurunan yang sangat tajam.

Keenam

Pembayaran utang dalam bentuk yang lain

Dibolehkan menerima pembayaran utang dalam bentuk yang lain, misalnya utang uang dibayar emas, atau utang Rupiah dibayar Dollar, atau semacamnya dengan syarat:

 

  • Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
  • Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.

[Fatwa Dar al-Ifta’ Yordan: http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d]

Keterangan di atas, berdasarkan keputusan Majma’ al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7], yang menyatakan:

 يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد

 Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang beribueda dengan mata uang ketika utang. Jika standar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.

Dalil bolehnya hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual onta di Baqi’ dengan Dinar, dan mengambil pembayarannya dengan Dirham. Kemudian beliau mengatakan:

 أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»

 Aku mendatangi Nabi ﷺ dan kusampaikan: ”Saya menjual onta di Baqi’ dengan Dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan Dirham. Beliau ﷺ bersabda:

”Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” [HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya].

Sebagai ilustrasi:

Misal, pada 1991 harga emas 25 ribu/gr. Tahun 2014 harga emas 400 ribu/gr. Pada 1991, uang Rp 1 juta mendapat 40 gr emas, sedangkan pada 2014, hanya mendapat 2,5 gr.

Pada 1991 si A utang 1 juta ke si B. Selanjutnya mereka berpisah lama. Tahun 2014, mereka ketemu dan si B meminta utang si A dilunasi dengan emas. Ada beberapa kasus di sini:

  • Poin A: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 40 gr emas.
  • Poin B: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 40 gr emas, sekitar 16 juta.
  • Poin C: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 2,5 gr emas.
  • Poin D: Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 2,5 gr emas, sehingga nilainya tetap 1 juta.

Dari keempat kasus di atas, untuk kasus Poin A dan Poin B statusnya TERLARANG, karena termasuk riba dalam utang piutang. Dan ini tidak memenuhi syarat kedua seperti yang disebutkan dalam fatwa di atas, meskipun pada 1991, mereka tidak pernah melakukan kesepakatan ini.

Sementara kasus Poin C dan Poin D ini yang BENAR, memenuhi kedua syarat yang disebutkan dalam fatwa di atas.

Secara sederhana, si B mengalami kerugian, karena nilai 1 juta dulu dan sekarang jauh berbeda. Namun sekali lagi, inilah konsekuensi utang piutang. Pemberi utang mendapatkan pahala, karena membantu orang lain. Di sisi lain, dia harus siap dengan konsekuensi penurunan nilai mata uang.

Ketujuh

Kelebihan dalam pelunasan utang

Dibolehkan adanya kelebihan dalam pelunasan utang dengan syarat:

  1. Tidak ada kesepakatan di awal
  2. Dilakukan murni atas inisiatif orang yang berutang
  3. Bukan tradisi masyarakat setempat

Dalilnya hadis dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

 Pada suatu saat Rasulullah ﷺ berutang seekor anak unta dari seseorang. Lalu datanglah kepada Nabi ﷺ unta-unta zakat. Maka beliau ﷺ memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau ﷺ utang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau ﷺ dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur  enam tahun.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Akan tetapi, jika keberadaan tambahan ini diberikan karena ada kesepakatan di awal, atau permintaan pihak yang mengutangi (kreditor), atau karena masyarakat setempat memiliki kebiasaan bahwa setiap utang harus bayar lebih, maka tambahan semacam ini terhitung riba.

Demikian beberapa kaidah terkait penagihan utang. Semoga Allah menjadikan kita Muslim yang selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.

 

Sumber:

http://pengusahamuslim.com/4201-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-01.html

http://pengusahamuslim.com/4205-7-kaidah-dalam-menagih-utang-bagian-02-selesai.html

,

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraSunnah

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

Seorang Mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang Mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” [HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998]

Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “Yuldagu” ada dua cara:

Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang Mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat, bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (Akhirat).

Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. [Syarh Shahih Muslim, 12: 104]

Ibnu Hajar berkata: “Seorang Muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” [Fath Al-Bari, 10: 530]

Kesimpulannya, Muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  • Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12197-digigit-ular-di-lubang-yang-sama-dua-kali.html

, ,

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#UtangRiba
#FikihJualBeli

MOTOR KEMBALI, BENSIN ISI PENUH, APAKAH INI RIBA?

Ada ilustrasi berikut:

Contoh riba yang ‘kadang’ tidak kita sadari:
 
“Om, pinjem motornya ya…” tanya Pardi
“Ya, itu ambil aja sendiri di garasi, kuncinya ini. Tapi nanti bensinnya diisi penuh ya,” jawab Om Hadi.
Ribanya adalah tambahan pengembalian pinjaman berupa bensin.
Apa ini benar?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam Islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat, STATUSNYA RIBA” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk di antarannya tambahan yang dipersyaratkan ketika pelunasan utang.

Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan nasihat kepada Abu Burdah, yang ketika itu baru tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah, yang riba di sana tersebar luas. Di antara pintu riba adalah, jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berutang membayarkan cicilan, dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” [HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro]

Namun larangan hadiah ketika pelunasan ini berlaku, apabila transaksinya utang-piutang. Dan di antara konsekuensi dalam transaksi utang piutang (al-Qardh) adalah terjadinya perpindahan hak milik terhadap objek utang, dari pemberi utang ke penerima utang.

Berbeda dengan akad pinjam-meminjam (al-Ariyah), objek yang dipinjamkan tidak mengalami perpindahan kepemilikan. Sehingga peminjam tidak memiliki hak apapun terhadap barang itu, selain hak guna sementara, selama izin yang diberikan pihak yang meminjamkan.

Jika kita utang motor, maka kita berhak memiliki motor itu. Selanjutnya bisa kita jual, kita sewakan atau digadaikan untuk utang.

Lain halnya jika kita pinjam motor, lalu kita jual, atau kita sewakan atau digadaikan untuk utang, kita akan disebut orang yang tidak amanah. Karena motor ini bukan motor kita, tapi motor kawan kita. Kita hanya punya hak guna pakai selama masih diizinkan.

Karena itulah, benda habis pakai, hanya mungkin dilakukan akad utang. Meskipun ketika akad menyebutnya pinjam, namun hukumnya utang. Misalnya, makanan, uang, atau benda habis pakai lainnya.

As-Samarqandi dalam Tuhfatul Fuqaha’ mengatakan:

كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه، فهو قرض حقيقة، ولكن يسمى عارية مجازا، لانه لما رضي بالانتفاع به باستهلاكه ببدل، كان تمليكا له ببدل

Semua benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan menghabiskannya, maka hakikatnya hanya bisa diutangkan. Namun bisa disebut pinjam sebagai penggunaan majaz. Karena ketika pemilik merelakan untuk menggunakan barang itu melalui cara dihabiskan dengan mengganti, berarti terjadi perpindahan hak milik dengan mengganti. [Tuhfatul Fuqaha’, 3/178]

Al-Kasani menjelasakan dengan menyebutkan beberapa contoh:

وعلى هذا تخرج إعارة الدراهم والدنانير أنها تكون قرضا لا إعارة ; لأن الإعارة لما كانت تمليك المنفعة أو إباحة المنفعة على اختلاف الأصلين , ولا يمكن الانتفاع إلا باستهلاكها , ولا سبيل إلى ذلك إلا بالتصرف في العين لا في المنفعة

Berdasarkan penjelasan ini dipahami, bahwa meminjamkan Dinar atau Dirham, statusnya adalah utang dan bukan pinjam meminjam. Karena pinjam-meminjam hanya untuk benda yang bisa diberikan dalam bentuk perpindahan manfaat (hak pakai). Sementara Dinar Dirham tidak mungkin dimanfaatkan, kecuali dengan dihabiskan. Tidak ada cara lain untuk itu, selain menghabiskan bendanya, bukan mengambil hak gunanya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan:

لو استعار حليا ليتجمل به صح ; لأنه يمكن الانتفاع به من غير استهلاك بالتجمل… وكذا إعارة كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه كالمكيلات والموزونات , يكون قرضا لا إعارة لما ذكرنا أن محل حكم الإعارة المنفعة لا بالعين

Jika ada yang meminjam perhiasan untuk dandan, statusnya sah sebagai pinjaman. Karena perhiasan mungkin dimanfaatkan tanpa harus dihabiskan ketika dandan… sementara meminjamkan benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan dihabiskan, seperti bahan makanan yang ditakar atau ditimbang, statusnya utang, bukan pinjam meminjam, sesuai apa yang kami sebutkan sebelumnya, bahwa posisi pinjam meminjam hanya hak guna, bukan menghabiskan bendanya. (Bada’I as-Shana’I, 8/374)

Pinjam Motor, Bukan Utang Motor

Karena itulah, ketika akadnya pinjam motor, lalu dikembalikan dalam waktu yang ditentukan dengan kondisi barang yang sama, TIDAK bisa disebut utang motor.

Sehingga ketika pengembalian dipenuhi bensinnya, bukan termasuk tambahan atas utang, sehingga TIDAK ada kaitannya dengan riba.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29437-motor-kembali-bensin-isi-penuh-ini-riba.html

,

BOLEHKAH LIBUR PUASA RAMADAN, JIKA PEKERJAAN SANGAT MELELAHKAN?

BOLEHKAH LIBUR PUASA RAMADAN, JIKA PEKERJAAN SANGAT MELELAHKAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

BOLEHKAH LIBUR PUASA RAMADAN, JIKA PEKERJAAN SANGAT MELELAHKAN?

Ditanyakan kepada asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

Pertanyaan:

Apakah para buruh/pekerja, boleh tidak puasa, jika sangat berat untuk puasa?

جـ: عليهم أن يصوموا وأن يستعينوا بالله عز وجل، فمن استعان بالله أعانه الله، فإذا رأوا أثناء النهار عطشاً يضرهم، أو يكون سبباً في هلاكهم فلا حرج عليهم أن يفطروا للضرورة، ولكن خير من هذا أن يتفقوا مع الكفيل، أو صاحب العمل على أن يكون عملهم في رمضان ليلاً، أو بعضه في الليل وبعضه في أول النهار، أو أن يخفف من ساعات العمل حتى يقوموا بالعمل والصيام على وجه مريح

Jawaban:

“Mereka mesti tetap berpuasa. Dan pula, hendaknya mereka memohon pertolongan pada Allah subhanahu wa ta’ala (agar kuat puasa). Siapa yang minta tolong pada Allah, maka Allah pasti bantu.

Namun andaikata di siang hari dia sangat kehausan yang bisa membahayakan kesehatannya, atau bisa membuat dia sampai binasa, maka boleh berbuka lantaran kondisi darurat.

Dan solusi yang lebih baik lagi, hendaknya dia membuat kesepakatan dengan bos kerjanya atau mandornya, apakah agar:

  • – Pada bulan Ramadan pekerjaan dilakukan malam hari saja.
  • – Atau dengan dibagi, setengah hari siang dan setengahnya lagi malam.
  • – Atau agar bisa mengurangi jam kerjanya saat Ramadan.

Sehingga dengan itu dia bisa menjalankan pekerjaan sekaligus puasa, dengan tenang.”

 

Sumber:  [Majmu’ Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/89]

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/308/libur-puasa-Ramadan-jika-pekerjaan-sangat-melelahkan#sthash.DQ3jK9P0.dpuf

,

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#DakwahTauhid

#MuslimahSholihah

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

Pertanyaan:

Bagaimana tuntunan Nabi ﷺ tentang tata cara penguburan plasenta bayi yang baru lahir (ari-ari: bahasa Jawa)? Karena di daerah saya, plasenta dikubur, kemudian di atasnya dinyalakan lampu. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis-hadis dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa beliau mengatakan:

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia: Rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.” [Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan:

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi), bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya, sebagaimana kebiasaan Ahli Hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi beliau hanya mengatakan: “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagaimana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silakan dirujuk. [Faidhul Qadir, 5:198]

Karena itu para ulama menilai, hadis ini sebagai hadis DHAIF, sehingga TIDAK bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan:

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” [Syu’abul Iman, no. 6488].

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar:

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini DHAIF. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan SEMUANYA DHAIF.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan: “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat tidak mengapa.” [Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19]

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan, agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Di samping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan: “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan, sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali BUKANLAH menganjurkan kita untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali TIDAK menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat DILARANG syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, dikubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab, agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan SYIRIK KECIL.

Selanjutnya, berikut ini adalah hal penting yang perlu kita perhatikan, terkait masalah semacam ini:

Pertama: Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan: “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan (pada hakikatnya) itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.”

Kedua: “Sebab” itu ada dua macam:

Sebab syari, yaitu ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh: Ruqyah (pengobatan dengan membaca Alquran), bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Sebab kauni (Sunnatullah), adalah ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab yang diterima berdasarkan hasil penelitian ilmiah, yang memiliki hubungan sebab-akibat. Dan bukan semata klaim ilmiaah, dalam arti mengilmiahkan yang bukan ilmiah. Misalnya: Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam.

Ketiga: Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syari maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk SYIRIK KECIL.

Jika kita menimbang keterangan di atas, kita sangat yakin, TIDAK ADA hubungan sama sekali, antara lampu yang dinyalakan di atas ‘makam’ ari-ari, dengan jalan terang yang akan diperoleh si anak ketika hidupnya. Demikian pula kita sangat yakin, tidak ada hubungan antara mengubur pensil dengan kondisi, bahwa bayi ini akan menjadi anak yang pintar menulis, dst. Semua itu hanyalah karangan, tahayul, dan khurafat yang TIDAK berdasar dan TIDAK selayaknya dilakukan oleh seorang Mukmin yang berakal.

Allahu a’lam’

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/11727-ritual-mengubur-ari-ari-bayi.html