Posts

,

SUNNAH NABI KETIKA ADA ORANG YANG SEDANG DALAM KEADAAN SAKRATUL MAUT (NAZA’)

SUNNAH NABI KETIKA ADA ORANG YANG SEDANG DALAM KEADAAN SAKRATUL MAUT (NAZA’)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SUNNAH NABI KETIKA ADA ORANG YANG SEDANG DALAM KEADAAN SAKRATUL MAUT (NAZA’)
 
Pertama: Di-talqin-kan (diajarkan) dengan ‘Laa Ilaaha Illallah’ agar ia (orang yang akan mati) mengucapkan “لاَإِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ (Laa Ilaaha Illallah).”
 
Dalilnya:
 
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ.
 
“Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah ﷺ:
Ajarkanlah ‘Laa Ilaaha Illallah’ kepada orang yang hampir mati di antara kalian.”
[Hadis SHAHIH, riwayat Muslim (no. 916), Abu Dawud (no. 3117), an-Nasa-i (IV/5), at-Tirmidzi (no. 976), Ibnu Majah (no. 1445), al-Baihaqi (III/383) dan Ahmad (III/3)]
 
Nabi ﷺ menganjurkan agar kalimat Tauhid ini yang TERAKHIR DIUCAPKAN, supaya dengan demikian dapat masuk Surga.
 
Beliau ﷺ bersabda:
 
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
 
“Barang siapa yang akhir perkataannya ‘Laa Ilaaha Illallah,’ maka ia akan masuk Surga.”
[Hadis riwayat Ahmad (V/233, 247), Abu Dawud (no. 3116) dan al-Hakim (I/351), dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu]
 
Kedua: Hendaklah mendoakan kebaikan untuk orang yang akan mati. Dan kepada mereka yang hadir pada saat itu, mendaknya mereka berkata yang baik.
 
Dalilnya:
 
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا حَضَرْتُمْ الْمَرِيْضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُوْلُوْا: خَيْرًا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَّمِّنُوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ.
 
“Dari Ummu Salamah, ia berkata: “Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Apabila kalian menjenguk orang sakit atau berada di sisi orang yang hampir mati, maka katakanlah yang baik! Karena sesungguhnya para malaikat mengaminkan (doa) yang kalian ucapkan.”
 
[Hadis SHAHIH riwayat Muslim (no. 919) dan al-Baihaqi (III/384) dan selain keduanya]
 

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#sunnahNabi, #sakratulmaut, #naza, #talkin, #talqin, #mentalqin, #menalqin, #ditalqin, #kalimattauhid, #akhirnya, #LaaIlaahaIllallah, #ucapanterakhir, #mati, #meninggaldunia, #wafat, #sakit

,

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
>> Hukum Berobat Alternatif dalam Islam
 
Kesehatan adalah sebagian di antara nikmat Allah yang banyak dilupakan oleh manusia. Benarlah ketika Rasulullah ﷺ bersabda:
”Ada dua nikmat yang sering kali memperdaya kebanyakan manusia, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kelapangan waktu” (HR. Bukhari).
 
Dan tidaklah seseorang merasakan arti penting nikmat sehat, kecuali setelah jatuh sakit. Kesehatan adalah nikmat yang sangat agung dari Allah ta’ala, di antara sekian banyak nikmat lainnya. Dan kewajiban kita sebagai seorang hamba adalah bersyukur kepada-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya:
”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS Al Baqarah: 152).
 
Ada beberapa kondisi ketika sebagian orang sedang diuji oleh Allah ta’ala dengan dicabutnya nikmat kesehatan ini (baca: jatuh sakit). Di antara mereka ada yang bersabar dan rida dengan ketetapan dari Allah. Mereka tetap bertawakal dengan menempuh pengobatan yang diizinkan oleh syariat, sehingga mereka pun mendulang pahala yang berlimpah dari Allah ta’ala, karena sabar dan tawakalnya kepada Allah ta’ala. Namun di antara mereka ada pula yang berputus asa dari rahmat-Nya, berburuk sangka kepada-Nya, dan menempuh jalan-jalan yang dilarang oleh syariat, demi mencari sebuah kesembuhan. Bahkan sampai menjerumuskan dirinya ke dalam kesyirikan. Yang mereka dapatkan tidak lain hanyalah penderitaan di atas penderitaan, penderitaan di dunia, setelah itu penderitaan abadi di Neraka jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Karena Allah ta’ala berfirman yang artinya:
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48).
 
Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya
 
Satu hal yang dapat memotivasi kita untuk terus berusaha mencari kesembuhan adalah jaminan dari Allah ta’ala, bahwa seluruh jenis penyakit yang menimpa seorang hamba pasti ada obatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut” (HR. Bukhari).
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa seluruh jenis penyakit memiliki obat yang dapat digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, atau untuk meringankan penyakit tersebut. Hadis ini juga mengandung dorongan untuk mempelajari pengobatan penyakit-penyakit badan, sebagaimana kita juga mempelajari obat untuk penyakit-penyakit hati. Karena Allah telah menjelaskan kepada kita, bahwa seluruh penyakit memiliki obat, maka hendaknya kita berusaha mempelajarinya dan kemudian mempraktikkannya. (Lihat Bahjatul Quluubil Abraar hal. 174-175, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di)
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan seizin Allah ta’ala” (HR. Muslim).
 
Maksud hadis tersebut adalah, apabila seseorang diberi obat yang sesuai dengan penyakit yang dideritanya, dan waktunya sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah, maka dengan seizin-Nya, orang sakit tersebut akan sembuh. Dan Allah ta’ala akan mengajarkan pengobatan tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: ”Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya. Ada yang tahu, ada juga yang tidak tahu” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).
 
Berobat = Mengambil Sebab
 
Berobat sangat erat kaitannya dengan hukum mengambil sebab. Maksud mengambil sebab adalah seseorang melakukan suatu usaha/sarana (“sebab”) untuk dapat meraih apa yang dia inginkan. Misalnya seseorang mengambil sebab berupa belajar, agar dapat meraih prestasi akademik. Demikian pula seseorang “mengambil sebab” berupa berobat, agar dapat meraih kesembuhan dari penyakitnya.
 
Di antara ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama berkaitan dengan hukum-hukum dalam mengambil sebab adalah, bahwa sebab (sarana) yang ditempuh TIDAK BOLEH menggunakan sarana yang haram, apalagi sampai menjerumuskan ke dalam kesyirikan, meskipun metode pengobatan tersebut terbukti menyembuhkan, berdasarkan pengalaman atau penelitian ilmiah. Selain itu, ketika mengambil sebab tersebut, hatinya harus senantiasa bertawakal kepada Allah ta’ala, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, demi berpengaruhnya sebab tersebut. Hatinya TIDAK bersandar kepada sebab, sehingga dirinya pun merasa aman setelah mengambil sebab tersebut. Seseorang yang berobat, setelah dia berusaha maksimal mencari pengobatan yang diizinkan oleh syariat, maka dia bersandar/bertawakal kepada Allah ta’ala, BUKAN kepada dokter yang merawatnya –betapa pun hebatnya dokter tersebut. Dan bukan pula kepada obat yang diminumnya –betapa pun berkhasiatnya obat tersebut. Hal ini karena seseorang harus memiliki keyakinan, bahwa betapa pun hebatnya sebuah sebab (obat atau semacamnya), namun hal itu tetap berada di bawah TAKDIR ALLAH TA’ALA.
 
Bentuk-Bentuk Pengobatan Alternatif yang Diharamkan
 
Di antara pengobatan alternatif yang diharamkan adalah pengobatan yang mengandung unsur kesyirikan, seperti berobat dengan menggunakan metode sihir. Sihir merupakan ungkapan tentang jimat-jimat, mantra-mantra, dan sejenisnya, yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Di antaranya ada yang membuat sakit, membunuh, dan memisahkan antara suami dan istri. Namun pengaruh sihir tersebut tetap tergantung pada izin Allah ta’ala. Sihir ini merupakan bentuk kekufuran dan kesesatan. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah! Apa saja itu?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ”Yaitu syirik kepada Allah, sihir, …” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Pelaku sihir memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali. Apabila dijumpai salah satu di antara tanda-tanda tersebut pada seorang ahli pengobatan, maka dapat diduga, bahwa ia melakukan praktik sihir, atau melakukan praktik yang amat dekat dengan sihir. Di antara tanda-tanda tersebut adalah:
 
1) Mengambil bekas pakaian yang dipakai oleh pasien semisal baju, tutup kepala, kaos dalam, celana dalam, dan lain-lainnya;
 
2) Meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, dan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya, dan kadang-kadang melumurkan darah binatang tersebut pada bagian anggota badan yang sakit;
 
3) Menuliskan jimat atau jampi-jampi yang tidak dapat difahami maksudnya;
 
4) Memerintahkan pasien untuk menyepi beberapa waktu di kamar yang tidak tembus cahaya matahari;
 
5) Memerintahkan pasien untuk tidak menyentuh air selama jangka waktu tertentu, dan kebanyakan selama 40 hari;
 
6) Membaca mantra-mantra yang tidak dapat difahami maknanya;
7) Kadang ia memberitahukan nama, tempat tinggal, dan semua identitas pasien serta masalah yang dihadapi pasien, tanpa pemberitahuan pasien kepadanya.
 
Demikian pula diharamkan bagi seseorang untuk berobat kepada dukun. Pada hakikatnya, dukun tidak berbeda dengan tukang sihir dari sisi, bahwa keduanya meminta BANTUAN KEPADA JIN, dan mematuhinya demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Sedangkan perbuatan meminta bantuan kepada jin sendiri termasuk SYIRIK BESAR. Karena meminta bantuan kepada jin dalam hal-hal seperti ini tidaklah mungkin, kecuali dengan mendekatkan diri kepada jin dengan suatu ibadah atau “ritual” tertentu. Seorang dukun harus mendekatkan diri kepada jin dengan melaksanakan ibadah tertentu, seperti menyembelih, istighatsah, kufur kepada Allah dengan menghina mushaf Alquran, mencela Allah ta’ala, atau amalan kesyirikan dan kekufuran yang semisal, agar mereka dibantu untuk diberitahu tentang perkara yang gaib. (Lihat Fathul Majiid hal. 332, Syaikh Abdurrahman bin Hasan; At-Tamhiid hal. 317, Syaikh Shalih Alu Syaikh)
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa mendatangi seorang dukun dan memercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Al-Irwa’ no. 2006).
Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata:
”Di dalam hadis tersebut terdapat dalil kafirnya dukun dan tukang sihir, karena keduanya mengaku mengetahui hal yang gaib. Padahal hal itu adalah kekafiran. Demikian pula orang-orang yang membenarkannya, meyakininya, dan rida terhadapnya” (Fathul Majiid, hal. 334).
 
Satu hal yang cukup memrihatinkan bagi kita adalah menyebarnya dukun dan tukang sihir yang berkedok sebagai tabib, yang mampu mengobati berbagai penyakit. Di antara mereka banyak juga yang berani memasang iklan di surat kabar dan mengklaim dirinya mampu mengetahui hal yang gaib. Wal ‘iyadhu billah! Di antara contoh praktik-praktik pengobatan yang mereka lakukan misalnya:
 
1. Pengobatan melalui jarak jauh, di mana keluarga pasien cukup membawa selembar foto pasien. Setelah itu, si tabib akan mengetahui bahwa ia menderita (misalnya) sakit jantung dan gagal ginjal. Oleh si tabib, penyakit itu kemudian ditransfer jarak jauh ke binatang tertentu, misalnya kambing. Hal ini jelas-jelas termasuk berobat kepada dukun, karena apakah hanya melihat foto seseorang kemudian diketahui bahwa jantungnya bengkak, ginjalnya tidak berfungsi, dan lain-lain?
 
2. Pengobatan metode lainnya, pasien hanya diminta menyebutkan nama, tanggal lahir, dan kalau perlu wetonnya. Bisa hanya dengan telepon saja. Setelah itu, si tabib akan mengatakan, bahwa pasien tersebut memiliki masalah dengan paru-paru atau jantungnya, atau masalah-masalah kesehatan lainnya.
 
3. Dukun lainnya hanya meminta pasiennya untuk mengirimkan sehelai rambutnya lewat pos. Setelah itu dia akan “menerawang gaib” untuk mendeteksi, merituali, dan memberikan sarana gaib kepada pasiennya.
 
4. Pengobatan dengan “ajian-ajian” yang dapat ditransfer jarak jauh atau dengan menggunakan “benda-benda gaib” tertentu seperti “batu gaib”, “gentong keramat” (cukup dimasukkan air ke dalam gentong, kemudian airnya diminum), dan lain sebagainya.
 
Praktik perdukunan dan sihir seolah-olah memang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula pelakunya. Orang yang mengaku sebagai dukun, paranormal, atau orang pintar juga melakukan sihir. Dan demikian pula sebaliknya. Demikianlah salah satu kerusakan yang sudah tersebar luas di Indonesia ini. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari kesyirikan.
 
Bentuk pengobatan syirik lainnya adalah berobat dengan menggunakan jimat. Termasuk kerusakan pada masa sekarang ini adalah penggunaan jimat untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu. Tidak sungkan-sungkan pula pemilik jimat tersebut akan menawarkan jimatnya tersebut di koran-koran agar menghasilkan uang. Di antaranya jimat dalam bentuk batu “mustika” atau cincin yang dapat mengeluarkan sinar tertentu, yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun bentuknya. Hal ini termasuk kesyirikan karena Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa menggantungkan jimat (tamimah), maka dia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 492).
 
Pengobatan dengan Sesuatu yang Haram
 
Tidak boleh pula seseorang berobat dengan menggunakan sesuatu yang haram, meskipun tidak sampai derajat syirik. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram” (HR. Thabrani. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1633).
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dalam sesuatu yang diharamkan-Nya” (HR. Bukhari). Hadis-hadis ini beserta dalil yang lain, semuanya tegas melarang berobat dengan sesuatu yang haram.
 
Misalnya bentuk pengobatan dengan menggunakan air kencingnya sendiri. Air seni yang diminum, terutama air seni pertama kali yang dikeluarkan pada waktu pagi hari setelah bangun tidur. Pengobatan seperti ini tidak boleh dilakukan. Karena air seni adalah najis, dan setiap barang najis pasti haram. Maka air seni termasuk ke dalam larangan ini. Begitu pula berobat dengan memakan binatang-binatang yang haram dimakan.
 
Semoga pembahasan yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah ta’ala senantiasa mengaruniakan nikmat berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh kepada kita semua. Dan semoga Allah ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menjadi hamba-Nya yang bersih tauhidnya dan jauh dari kesyirikan.
 
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim
[Artikel www.muslim.or.id]
 
 
, ,

BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA

BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#StopBidah, #DoaZikir
 
BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA
 
Pertanyaan:
Apakah artikel berikut ini shahih dan apakah boleh diamalkan doanya?
 
Obat Stroke
 
Pada satu ketika, di mana Nabi Allah Sulaiman ‘alaihi salaam duduk di singgasananya, datang satu angin yang cukup besar. Maka bertanya Nabi Allah, Sulaiman ‘alaihi salaam: “Siapakah engkau.?”
 
Maka dijawablah oleh angin tersebut, bahwa akulah Angin Rihul Ahmar…. Dan aku bila memasuki rongga anak Adam, maka lumpuh, keluar darah dari rongga. Dan apabila aku memasuki otak anak Adam, maka menjadi gilalah anak Adam.
 
Maka diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihi salaam supaya membakar angin tersebut. Berkatalah Rihul Ahmar kepada Nabi Sulaiman ‘alaihi salaam, bahwa “Aku kekal sampai Hari Kiamat tiba, tiada sesiapa yang dapat membinasakan aku melainkan Allah.
 
Lalu Rihul Ahmar pun menghilang.
 
Diriwayatkan cucu Nabi Muhammad ﷺ terkena Rihul Ahmar, sehingga keluar darah dari rongga hidungnya. Maka datang malaikat Jibril kepada Nabi ﷺ dan bertanya Nabi ﷺ kepada Jibril. Maka menghilang sebentar, lalu malaikat Jibril kembali mengajari akan doa Rihul Ahmar kepada Nabi ﷺ, kemudian dibaca doa tersebut kepada cucunya dan dengan sekejap cucu Rasulullah ﷺ sembuh serta merta. Lalu bersabda Nabi ﷺ. bahwa barang siapa membaca doa stroke/ doa Rihul Ahmar walau sekali dalam seumur hidupnya, maka akan dijauhkan dari penyakit ANGIN AHMAR atau STROKE.
 
Doa menjauhkan terhindar dari angin ahmar dan penyakit kronik:
 
اللهم إني أعوذبك من الريح الأحمر والدم الأسود والداء الأكبر
 
Allahumma inni a’uzubika minarrihil ahmar, waddamil aswad, waddail akbar.
 
Artinya;
Ya Allah Tuhanku, lindungi aku dari angin merah ,dan lindungi aku dari darah hitam (stroke) dan dan dari penyakit berat.
 
Syukron atas jawabannya ustadz, Jazakallahu khairan katsiran
 
(Fulanah, Sahabat BiAS T06 G-47)
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi ajma’in.
 
Keberadaan fenomena tersebut di atas adalah merupakan pembicaraan terhadap hal gaib. Dan kita TIDAK BOLEH memercayai kegaiban, melainkan harus berdasarkan wahyu, berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi ﷺ. Dan TIDAK ADA di dalam keduanya, keterangan tentang keberadaan fenomena Rihul Ahmar ini. Disebutkan dalam salah satu fatwa para ulama besar yang tergabung dalam Lajnah Daaimah:
 
بعد النظر في الأوراق المذكورة تبين أن فيها مخالفات شرعية كثيرة، لا يجوز إقرارها ولا توزيعها بين الناس؛ لأنها تشتمل على بدع وشركيات وألفاظ غريبة، فمن ذلك:
 
قوله: (ثم تقول بصوت دون صوتك بتلاوة القرآن، ثم تقول بصوت خفيض) وتحديد الصوت بهذه الكيفية لا دليل عليه.
 
yفي قوله في الاستعاذة من شر المخلوقات ومن الريح الأحمر، وتحديد هذا النوع من الريح لا دليل عليه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم استعاذ من شر الريح مطلقًا.
 
“Setelah diadakan penelitian terhadap selebaran ini, maka menjadi jelas adanya PENYIMPANGAN yang sangat banyak. Maka TIDAK BOLEH disetujui dan tidak boleh di-share di kalangan khalayak ramai, karena selebaran ini mengandung banyak kesyirikan, kebid’ahan dan lafal-lafal yang aneh. Di antaranya disebutkan di sana:
 
“Kemudian Engkau berkata dengan suara yang bukan suara-Mu dengan membaca Alquran. Kemudian engkau bersuara dengan suara rendah.”
 
Membatasi suara dengan pembatasan seperti ini tidak ada dalilnya sama sekali.
 
Di dalamnya juga ada permintaan perlindungan dari keburukan makhluk dan dari keburukan Rihul Ahmar (Angin Merah). Penyebutan angin dengan kriteria seperti ini TIDAK ADA dalilnya sama sekali, karena Nabi ﷺ berlindung dari keburukan angin secara mutlak.” [Fatawa Lajnah Daimah: 24/280].
 
Wallahu a’lam
 
 
Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Abul Aswad Al Bayaty حفظه الله
 
Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T06
 
,

DOAKAN KESEMBUHAN DAN KESEHATAN UNTUK ORANG YANG SAKIT

DOAKAN KESEMBUHAN DAN KESEHATAN UNTUK ORANG YANG SAKIT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOAKAN KESEMBUHAN DAN KESEHATAN UNTUK ORANG YANG SAKIT

Hendaknya orang yang menjenguk mendoakan orang yang sakit dengan kesembuhan dan kesehatan. Hal ini berdasarkan hadis berikut ini:

إِذَا دَخَلَ عَلَى مَنْ يَعُوْدُ قَالَ: لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.

“Apabila beliau mengunjungi orang yang sakit, beliau berkata:

‘Laa ba’-sa thahuurun insyaa Allaah.

Artinya:

Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih. Semoga Allah menghendaki.’” [HR. Al-Bukhari no. 5656]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4011-adab-adab-bagi-orang-sakit-dan-yang-menjenguknya.html

 

,

DOA MOHON DILINDUNGI DARI PENYAKIT BERBAHAYA

DOA MOHON DILINDUNGI DARI PENYAKIT BERBAHAYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA MOHON DILINDUNGI DARI PENYAKIT BERBAHAYA

ﺍﻠﻠﻬﻡ ﺍﻨﻲﺍﻋﻭﺬﺒﻚ ﻤﻦﺍﻠﺒﺮﺹ ﻭﺍﻠﺠﻨﻭﻦ ﻭﺍﻠﺠﺬﺍﻡ ﻭﺴﻴﻰﺀ ﺍﻻﺴﻗﺎﻡ

Allahuma inni a’udzubika minal baroshi wal junuuni wal judzaami wa min sayyi-il asqoom.

Artinya:

Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya (HR. Muslim)

 

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

DOA BERLINDUNG DARI HILANGNYA NIKMAT DAN KESEHATAN

DOA BERLINDUNG DARI HILANGNYA NIKMAT DAN KESEHATAN

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA BERLINDUNG DARI HILANGNYA NIKMAT DAN KESEHATAN

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata: “Di antara doa Rasulullah ﷺ adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK”

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. [HR. Muslim no. 2739]

Faidah dari hadis di atas:

Pertama:

Yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat Islam, iman, anugerah ihsan (berbuat baik) dan kebajikan. Jadi dalam doa ini kita berlindung dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut. Maksud hilangnya nikmat adalah nikmat tersebut hilang, dan tanpa ada penggantinya.

Kedua:

Yang dimaksud dengan berubahnya kesehatan (‘afiyah) adalah nikmat sehat tersebut berubah menjadi sakit. Yang dimaksud dengan ‘afiyah (sehat) di sini adalah berpindahnya nikmat ‘afiyah dari pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Jadi doa ini kita maksudkan meminta selalu kesehatan (tidak berubah menjadi penyakit) pada pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya.

Ketiga:

Yang dimaksud fuja’ah adalah datang tiba-tiba. Sedangkan “niqmah” adalah siksa dan murka. Dalam doa ini berarti kita berlindung pada Allah dari datangnya ‘azab, siksa dan murka Allah yang tiba-tiba.

Keempat:

Dalam doa ini, kita juga meminta pada Allah agar terlindung dari murka-Ny,a yaitu segala hal yang dapat mengantarkan pada murka Allah.

Semoga doa ini bisa kita amalkan dan mendapatkan berbagai anugerah.

 

Referensi:

‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi, 4/283, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, tahun 1415.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel www.rumaysho.com]

 

Sumber : https://rumaysho.com/1054-doa-berlindung-dari-hilangnya-nikmat-dan-kesehatan.html

,

KETIKA HATI ITU SUDAH TIDAK BISA MERASAKAN PEDIHNYA DOSA

KETIKA HATI ITU SUDAH TIDAK BISA MERASAKAN PEDIHNYA DOSA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama, #TazkiyatunNufus

KETIKA HATI ITU SUDAH TIDAK BISA MERASAKAN PEDIHNYA DOSA

>> Lihat Hatimu, Masih Hidupkah Dia?

Ibnul Qoyyim rahimahulloh mengatakan:

“Seorang Mukmin tidak mungkin menjadi sempurna kenikmatannya karena kemaksiatan, tidak mungkin menjadi lengkap kebahagiaannya karena kemaksiatan. Bahkan, tidaklah dia melakukan kemaksiatan, melainkan kegundahan akan mencampuri hatinya. Tapi karena syahwatnya yang mabuk menutupi hatinya, dia tidak merasakan kegundahan itu.

Ketika kegundahan ini hilang dari hatinya, bahkan rasa ingin dan senang terhadap kemaksiatan malah bertambah, maka harusnya dia berprasangka buruk pada imannya dan menangisi KEMATIAN hatinya. Karena seandainya hatinya masih hidup, harusnya perbuatan dosanya itu menjadikan hatinya gundah, berat, dan sulit menjalani…

Ketika hati itu sudah tidak bisa merasakan (pedihnya) dosa, maka tidaklah sebuah luka menjadikan tubuh yang sudah mati merasakan sakit”. [Kitab: Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 1/198-199]

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sumber: Twitter @IslamDiaries

,

SETIAP PENYAKIT PASTI ADA OBATNYA

SETIAP PENYAKIT PASTI ADA OBATNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

SETIAP PENYAKIT PASTI ADA OBATNYA

Rasulullah ﷺ:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” [HR Bukhari]

,

SEJELEK-JELEK MUSIBAH

SEJELEK-JELEK MUSIBAH

SEJELEK-JELEK MUSIBAH

Sejelek-jelek musibah yang menimpa seorang Mukmin adalah:
Penyakit Kesombongan dan Tertipu
(Tertipu dengan dunia atau tertipu dengan rahmat Allah Azza wa Jalla, sehingga terus bermaksiat).
Itu adalah penyakit yang sulit untuk diobati.

[Syaikh Azzam Muhammad al Muhaisini, Imam Masjid Jami’ Aisyah, Mekkah, Arab Saudi]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries