Posts

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

Berikut ini adalah beberapa amalan sederhana yang bila diamalkan, akan dibangunkan rumah atau istana di Surga. Amalan-amalan tersebut adalah:

Pertama: Membangun Masjid dengan Ikhlas karena Allah

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di Surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih)

Mafhash qathaah dalam hadis artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung.

Hadis tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadis ‘Utsman bin ‘Affan. Di masa Utsman, yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul ﷺ. Utsman katakan pada mereka yang membangun, sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di Surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).

Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di Surga ada dua tafsiran:

1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di Surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya.

2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di Surga dibanding dengan rumah di Surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5: 14)

Kedua: Membaca Surat Al-Ikhlas Sepuluh Kali

Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْراً فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membaca Qul huwallahu ahad sampai ia merampungkannya (Surat Al-Ikhlas, pen.) sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Ahmad, 3: 437. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah mengatakan bahwa hadis ini Hasan dengan berbagai penguat)

Ketiga: Mengerjakan Sholat Dhuha Empat Rakaat dan Sholat Sebelum Zuhur Empat Rakaat

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الأُولَى أَرْبَعًا بنيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang sholat Dhuha empat rakaat dan sholat sebelum Zuhur empat rakaat, maka dibangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Dalam Ash-Shahihah no. 2349 disebutkan oleh Syaikh Al-Albani bahwa hadis ini Hasan)

Keempat: Mengerjakan 12 Rakaat Sholat Rawatib dalam Sehari

Dari Ummu Habibah –istri Nabi ﷺ-, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

“Barang siapa mengerjakan sholat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di Surga.” (HR. Muslim, no. 728)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa merutinkan sholat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di Surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum  Dzuhur, dua rakaat sesudah Dzuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414; Ibnu Majah, no. 1140; An-Nasa’i, no. 1795. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini Hasan)

Kelima: Meninggalkan Perdebatan

Keenam: Meninggalkan Dusta

Ketujuh: Berakhlak Mulia

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran Surga, bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah Surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan, walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di Surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan)

Kedelapan: Mengucapkan Alhamdulillah dan Istirja’ (Inna ilaihi wa innaa ilaihi raaji’’un) ketika anak kita wafat

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِى. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِى بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya: “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata: “Benar.” Allah berfirman: “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab: “Benar.” Allah berfirman: “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata: “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman: “Bangunkan untuk hamba-Ku di Surga, dan namai ia dengan nama Baitul Hamdi (Rumah Pujian).” (HR. Tirmidzi, no. 1021; Ahmad, 4: 415. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan).

Kesembilan: Membaca Doa Masuk Pasar

Dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari bapaknya Ibnu ‘Umar, dari kakeknya (‘Umar bin Al-Khattab), ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكُ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

“Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan: “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiit wa huwa hayyun laa yamuut biyadihil khoir wahuwa ‘alaa kulli syain qodiir

Artinya:

Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah yang memiliki kekuasaan dan segala pujian untuk-Nya.” Allah akan menuliskan untuknya sejuta kebaikan, menghapus darinya sejuta kejelekan, mengangkat untuknya sejuta derajat, dan membangunkan untuknya sebuah rumah di Surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3428. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Dha’if).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوْقَ فَبَاعَ فِيْهَا وَاشْتَرَى ، فَقَالَ : لاَ إِلَه َإِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الملْكُ ، وَلَهُ الحَمْدُ ، يُحْيِي وَيُمِيْتُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ ، وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ

“Siapa yang memasuki pasar lalu ia melakukan jual beli di dalamnya, lantas mengucapkan: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir; maka Allah akan mencatat baginya sejuta kebaikan, akan menghapus darinya sejuta kejelekan dan akan membangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak, 1: 722)

Meskipun riwayatnya Dha’if atau Lemah, namun karena kita diperintahkan berzikir ketika orang itu lalai seperti kala di pasar, maka zikir di atas masih boleh diamalkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“إذا تضمنت أحاديث الفضائل الضعيفة تقديراً وتحديداً ؛ مثل صلاة في وقت معين ، بقراءة معينة ، أو على صفة معينة ؛ لم يجز ذلك – أي العمل بها – لأن استحباب هذا الوصف المعين لم يثبت بدليل شرعي ، بخلاف ما لو روي فيه : (مَن دخل السوق فقال : لا إله إلا الله كان له كذا وكذا) فإن ذكر الله في السوق مستحب ، لما فيه من ذكر الله بين الغافلين ، فأما تقدير الثواب المروي فيه فلا يضر ثبوته ولا عدم ثبوته

“Jika suatu hadis yang menerangkan fadhilah atau keutamaan suatu amalan dari sisi jumlah atau pembatasan tertentu seperti sholat di waktu tertentu, membaca bacaan tertentu, atau ada tata cara tertentu, tidak boleh diamalkan jika hadisnya berasal dari hadis Dha’if. Karena menetapkan tata cara yang khusus dalam ibadah haruslah ditetapkan dengan dalil.

Adapun mengenai doa masuk pasar yaitu hadisnya berbunyi, siapa yang masuk pasar lantas membaca laa ilaha illallah dan seterusnya, maka perlu dipahami bahwa secara umum, berzikir ketika masuk pasar itu disunnahkan. Karena kita diperintahkan berzikir saat orang-orang itu lalai. Besarnya pahala yang disebutkan dalam hadis tersebut (hingga disebutkan sejuta, pen.) tidaklah menimbulkan problema ketika bacaan tersebut diamalkan, baik nantinya hadis tersebut dihukumi Shahih ataukah tidak. ” (Majmu’ Al-Fatawa, 18: 67)

Dalil umum yang memerintahkan kita banyak zikir termasuk di pasar adalah hadis berikut. Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata:

جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ada dua orang Arab (Badui) mendatangi Rasulullah ﷺ. Lantas salah satu dari mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau ﷺ. Salah satunya lagi bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berzikir pada Allah,” jawab beliau ﷺ. (HR. Ahmad 4: 188, sanad Shahih kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Hadis ini menunjukkan, bahwa zikir itu dilakukan setiap saat, bukan hanya di masjid, sampai di sekitar orang-orang yang lalai dari zikir, kita pun diperintahkan untuk tetap berzikir.

Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Ketika hati seseorang terus berzikir pada Allah, maka ia seperti berada dalam sholat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524)

Kesepuluh: Menutup Celah dalam Shaf Sholat

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam Shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut, dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam Surga.” (HR. Al-Muhamili dalam Al-Amali, 2: 36. Disebutkan dalam Ash-Shahihah, no. 1892)

Kesebelas: Beriman pada Nabi ﷺ

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ

“Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berhijrah, dengan sebuah rumah di pinggir Surga, di tengah Surga, dan Surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berjihad, dengan rumah di pinggir Surga, di tengah Surga dan di Surga yang paling tinggi. Barang siapa yang melakukan itu, maka ia tidak membiarkan satu pun kebaikan, dan ia lari dari setiap keburukan. Ia pun akan meninggal, di mana saja Allah kehendaki untuk meninggal.” (HR. An-Nasa’i, no. 3135. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan)

Semoga kita dimudahkan mendapatkan kaveling rumah atau istana di Surga. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

https://saaid.net/rasael/441.htm

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/13072-11-amalan-dapat-jaminan-rumah-di-Surga.html

DELAPAN AMALAN RINGAN BERPAHALA BESAR

DELAPAN AMALAN RINGAN BERPAHALA BESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihMuamallah

DELAPAN AMALAN RINGAN BERPAHALA BESAR

Pelajari delapan amalan berikut ini:

  1. Shalat Subuh dan Ashar
  2. Mengamalkan doa setelah azan
  3. Mengerjakan dua belas rakaat shalat Rawatib dalam sehari
  4. Mengerjakan shalat Rawatib Zuhur, empat rakaat Qabliyah dan empat rakaat Badiyah
  5. Membaca Ayat Kursi sesudah shalat
  6. Menjaga shalat sunnah wudhu
  7. Puasa tiga hari setiap bulan
  8. Mengerjakan shalat Isyraq (shalat Dhuha di awal waktu)

Keterangan:

  1. Shalat Subuh dan Shalat Ashar

“Siapa yang shalat Subuh dan Ashar, maka ia akan masuk Surga.” [HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635]

  1. Mengamalkan Doa Setelah Adzan

“Siapa yang mengucapkan setelah mendengar azan: “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh, rodhitu billahi robbaa wa bi Muhammadin rosulaa wa bil Islami diinaa.” (Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada Sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku rida Allah sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” [HR. Muslim, no. 386]

3. Shalat Rawatib Dua Belas Rakaat Dalam Sehari

“Barang siapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di Surga.” [HR. Muslim, no. 728]

  1. Shalat Rawatib Zuhur

“Barang siapa menjaga shalat empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan Neraka baginya.” [HR. Tirmidzi, no. 428; Ibnu Majah, no. 1160. Syaikh Al-Albani menyatakan hadis ini Shahih]

  1. Membaca Ayat Kursi Ba’da Shalat

“Siapa membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk Surga selain kematian.” [HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram].

  1. Shalat Sunnah Wudhu

“Tidaklah seseorang berwudhu dan memerbagus wudhunya, lantas mengerjakan shalat dua rakaat, ia menghadirkan hati dan wajahnya dalam shalat tersebut, melainkan ia dijamin masuk Surga.” [HR. Muslim, no. 234]

  1. Puasa Tiga Hari (Ayyamul Bidh) Setiap Bulan

“Puasa tiga hari setiap bulan, nilainya sama dengan puasa selama sepanjang tahun.” [HR. Bukhari, no. 1979 dan Muslim, no. 1159]

  1. Shalat Isyraq (Shalat Dhuha di awal waktu)

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah, lalu ia duduk sambil berzikir padaAllah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memeroleh pahala haji dan umroh.” Beliau ﷺ pun bersabda: “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” [HR. Tirmidzi no. 586. SyaikhAl Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan].

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/14051-8-amalan-ringan-berpahala-besar-presentasi.html

, ,

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#DoaZikir

APAKAH SETIAP BERDOA KITA HARUS SELALU MENGANGKAT TANGAN?

Inilah yang masih belum dipahami sebagian orang. Mereka menganggap, bahwa setiap berdoa harus mengangkat tangan, semacam ketika berdoa sesudah shalat. Untuk lebih jelas marilah kita melihat beberapa penjelasan berikut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanyakan, “Bagaimanakah kaidah (dhobith) mengangkat tangan ketika berdoa?” [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 51/13, Asy Syabkah Al Islamiyah]. Beliau rahimahullah menjawab dengan rincian yang amat bagus: Mengangkat tangan ketika berdoa ada tiga keadaan:

Pertama: Ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan
Kondisi ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan ketika berdoa. Contohnya adalah ketika berdoa meminta diturunkannya hujan. Jika seseorang meminta hujan pada khutbah Jumat atau khutbah shalat istisqo’, maka dia hendaknya mengangkat tangan. Contoh lainnya adalah mengangkat tangan ketika berdoa di Bukit Shofa dan Marwah, berdoa di Arofah, berdoa ketika melempar Jumroh Al Ula pada hari-hari Tasyriq dan juga Jumroh Al Wustho.

Oleh karena itu, ketika menunaikan haji ada enam tempat (yang dianjurkan) untuk mengangkat tangan (ketika berdoa) yaitu:

[1] Ketika berada di Shofa,
[2] Ketika berada di Marwah,
[3] Ketika berada di Arofah,
[4] Ketika berada di Muzdalifah setelah shalat Subuh,
[5] Di Jumroh Al Ula di hari-hari Tasyriq,
[6] Di Jumroh Al Wustho di hari-hari Tasyriq.

Kondisi semacam ini tidak diragukan lagi dianjurkan untuk mengangkat tangan ketika itu, karena adanya petunjuk dari Nabi ﷺ mengenai hal ini.

Kedua: Tidak ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan
Contohnya adalah doa di dalam shalat. Nabi ﷺ biasa membaca doa Istiftah: Allahumma ba’id baini wa baina khothoyaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghribi …; juga membaca doa duduk di antara dua sujud: Robbighfirli; juga berdoa ketika tasyahud akhir; namun beliau ﷺ tidak mengangkat tangan pada semua kondisi ini. Begitu pula dalam khutbah Jumat, beliau ﷺ berdoa, namun beliau ﷺ tidak mengangkat kedua tangannya, kecuali jika meminta hujan (ketika khutbah tersebut). Barang siapa mengangkat tangan dalam kondisi-kondisi ini dan semacamnya, maka dia telah terjatuh dalam perkara yang diada-adakan dalam agama (alias bid’ah) dan melakukan semacam ini terlarang.
Ketiga: Tidak ada dalil yang menunjukkan mengangkat tangan ataupun tidak
Maka hukum asalnya adalah mengangkat tangan, karena ini termasuk adab dalam berdoa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Sesunguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa..” [HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan, bahwa hadis ini Shohih].

Nabi ﷺ juga pernah menceritakan seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan penuh debu, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya mengatakan: “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Padahal makanannya itu haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya bisa dikabulkan? [HR. Muslim no. 1015]. Dalam hadis tadi, Nabi ﷺ menjadikan mengangkat kedua tangan sebagai sebab terkabulnya doa. Inilah pembagian keadaan dalam mengangkat tangan ketika berdoa.

Namun ketika keadaan kita mengangkat tangan, apakah setelah memanjatkan doa diperbolehkan mengusap wajah dengan kedua tangan? Yang lebih tepat adalah tidak mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sehabis berdoa, karena hadis yang menjelaskan hal ini adalah hadis yang lemah (Dho’if), yang tidak dapat dijadikan hujjah (dalil). Apabila kita melihat seseorang membasuh wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai berdoa, maka hendaknya kita jelaskan padanya, bahwa yang termasuk petunjuk Nabi ﷺ adalah tidak mengusap wajah setelah selesai berdoa, karena hadis yang menjelaskan hal ini adalah hadis yang lemah (Dho’if).

Hukum Mengangkat Tangan untuk Berdoa Sesudah Shalat Fardhu

Pembahasan berikut adalah mengenai hukum mengangkat tangan untuk berdoa, sesudah shalat fardhu. Berdasarkan penjelasan di atas, kita telah mendapat pencerahan, bahwa memang mengangkat tangan ketika berdoa adalah salah satu sebab terkabulnya doa. Namun apakah ini berlaku dalam setiap kondisi? Sebagaimana penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin di atas, bahwa hal ini tidak berlaku pada setiap kondisi. Ada beberapa contoh dari Nabi ﷺ yang menunjukkan, bahwa beliau tidak mengangkat tangan ketika berdoa. Agar lebih jelas, mari kita perhatikan penjelasan Syaikh Ibnu Baz mengenai hukum mengangkat tangan ketika berdoa sesudah shalat. Beliau rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan:

Tidak disyariatkan untuk mengangkat kedua tangan (ketika berdoa) pada kondisi yang kita tidak temukan di masa Nabi ﷺ mengangkat tangan pada saat itu. Contohnya adalah berdoa ketika selesai shalat lima waktu, ketika duduk di antara dua sujud (membaca doa robbighfirli, pen) dan ketika berdoa sebelum salam, juga ketika khutbah Jumat atau shalat ‘Ied. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya kita tidak mengangkat tangan (ketika berdoa), karena memang Nabi ﷺ tidak melakukan demikian. Padahal beliau ﷺ adalah suri tauladan kita dalam hal ini. Namun ketika meminta hujan pada saat khutbah Jumat atau khutbah ‘Ied, maka disyariatkan untuk mengangkat tangan, sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Maka ingatlah kaidah yang disampaikan oleh beliau rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) berikut:

“Kondisi yang menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ tidak mengangkat tangan, maka tidak boleh bagi kita untuk mengangkat tangan. Karena perbuatan Nabi ﷺ termasuk sunnah. Begitu pula apa yang beliau tinggalkan juga termasuk sunnah.”

Bagaimana Jika Tetap Ingin Berdoa Sesudah Shalat Fardhu?

Ini dibolehkan, namun setelah berzikir, dan dengan catatan TIDAK dengan mengangkat tangan. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/178) mengatakan:

“Begitu pula berdoa sesudah shalat lima waktu setelah selesai berzikir, maka tidak terlarang untuk berdoa ketika itu, karena terdapat hadis yang menunjukkan hal ini. Namun perlu diperhatikan, bahwa TIDAK perlu mengangkat tangan ketika itu. Alasannya, karena Nabi ﷺ tidak melakukan demikian. Wajib bagi setiap Muslim senantiasa untuk berpedoman pada Al-Kitab dan As-Sunnah dalam setiap keadaan, dan berhati-hati dalam menyelisihi keduanya. Wallahu waliyyut taufik.”

Mengangkat Tangan Untuk Berdoa Sesudah Shalat Sunnah

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (11/181) mengatakan:

Adapun shalat sunnah, maka aku tidak mengetahui adanya larangan mengangkat tangan ketika berdoa setelah selesai shalat. Hal ini berdasarkan keumuman dalil. Namun lebih baik berdoa sesudah selesai shalat sunnah tidak dirutinkan. Alasannya, karena tidak terdapat dalil yang menjelaskan, bahwa Nabi ﷺ melakukan hal ini. Seandainya beliau ﷺ melakukannya, maka hal tersebut akan dinukil kepada kita, karena kita ketahui, bahwa para sahabat –radhiyallahu ‘anhum jami’an- rajin untuk menukil setiap perkataan atau perbuatan beliau ﷺ, baik ketika bepergian atau tidak, atau kondisi lainnya.

Adapun hadis yang masyhur (sudah tersohor di tengah-tengah umat), bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Di dalam shalat, seharusnya engkau merendahkan diri dan khusyu’. Lalu hendaknya engkau mengangkat kedua tanganmu (sesudah shalat), lalu katakanlah: Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Hadis ini adalah hadis yang Dho’if (lemah), sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Ibnu Rajab dan ulama lainnya. Wallahu waliyyut taufiq.

Semoga Allah senantiasa memberikan pada kita ilmu yang bermanfaat, rezeki yang thoyib dan amalan yang diterima.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullahu ta’ala

Sumber: https://rumaysho.com/39-apakah-setiap-berdoa-harus-mengangkat-tangan.html

, ,

APA SAJAKAH DOA SHALAT TAHAJUD DAN KAPAN DIBACANYA?

APA SAJAKAH DOA SHALAT TAHAJUD DAN KAPAN DIBACANYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#DoaZikir

APA SAJAKAH DOA SHALAT TAHAJUD DAN KAPAN DIBACANYA?

Pertanyaan:

Bismillah

Apakah ada doa setelah shalat Tahajjud yang warid dari Rasulullah ﷺ, seperti yang terdapat di buku kumpulan doa yang dijual di toko buku?

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Pertama, sesungguhnya sepertiga malam terakhir termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah. Karena Allah menjanjikan akan mengabulkan doa di waktu ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Allah subhanahu wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Kemudian Allah berfirman:

“Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku ijabahi doanya. Siapa yang meminta-Ku, akan Aku beri dia, dan siapa yang minta ampunan kepada-Ku, akan Aku ampuni dia.” [HR. Bukhari 1145, Muslim 758, Abu Daud 1315, dan yang lainnya]

Kedua, berdasarkan hadis di atas, di sepertiga malam terakhir, kita bisa memohon kepada Allah apapun yang kita inginkan, selama tidak melanggar larangan dalam berdoa. Kita bisa berdoa dengan bahasa Arab, bahasa Indonesia atau bahasa apapun yang kita pahami. Manfaatkan kesempatan sepertiga malam terakhir untuk banyak memohon kepada Allah. Memohon ampunan, memohon hidayah, memohon kebaikan dunia Akhirat, dan memohon kepada Allah untuk menyelesaikan masalah kita. Tidak ada doa khusus yang harus kita baca untuk permohonan ini.

Kapan Waktunya?

Bisa kita lakukan setiap selesai shalat dua rakaat, atau seusai Tahajud sebelum Witir, atau ketika sujud, atau menjelang salam sebelum tasyahud.

Ketiga, doa khusus untuk dibaca ketika Tahajud berdasarkan hadis yang shahih, terdapat pada doa Iftitah dan doa setelah Witir. Berikut rinciannya:

Doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika Iftitah:

  1. Dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, beliau bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Apa doa yang dibaca oleh Nabi ﷺ ketika mengawali shalat malam beliau?”

Aisyah menjawab: “Beliau memulai shalat malam beliau dengan membaca doa:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

ALLOHUMMA ROBBA JABRO IILA, WA MIIKAAIILA WA ISROOFIILA, FAATHIROSSAMAA WAATI WAL ARDH. ‘AALIMALGHOYBI WASY-SYAHAAH, WA ANTA KADZAALIK TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAAKHTULIFA FIIHI MINAL-HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDII MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTHIM-MUSTAQIIM

Artinya:

“Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan  Yang mengetahui yang gaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) (pada Hari Kiamat—red.) apa yang mereka pertentangkan (dari perkara agama di waktu di dunia—red.). Tunjukkanlah aku (teguhkanlah aku—red.) pada kebenaran (atasnya—red.) apa yang diperdebatkan, dengan seizin dari-Mu (dengan taufik dan kemudahan dari-Mu—red.). Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus (jalan kebenaran dan keadilan—red.) bagi orang yang Engkau kehendaki.” [HR. Muslim 770, Abu daud 767, Turmudzi 3420 dan yang lainnya]

  1. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ apabila melakukan shalat di tengah malam, beliau membaca doa Iftitah:

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

ALLOHUMMA LAKALHAMDU ANTA QOYYIMUSSAMAWAATI WAL ARDHI WAMAN FIIHINNA,  WALAKAL HAMDU LAKA MULKUSSAMAWAATI WAL ARDHI WAMAN FIIHINNA, WALAKAL HAMDU ANTA NUURUSSAMAWAATI WAL ARDHI WAMAN FIIHINNA, WALAKAL HAMDU ANTA MALIKUSSAMAWAATI WAL ARDH. WALAKA HAMDU ANTA HAQQU WAWA’DUKA HAQQU, WA LIQOO UKA HAQQU, WAQOWLAKA HAQQU, WAJANNATU HAAQU, WANNAARU HAQQU, WANNABIYYUKA HAQQU, WA MUHAMMADUN SHOLALLOOHU ‘ALAIHI WASSALAM HAQQU,  WASSAA ‘ATU HAQQU.  ALLOHUMMA LAKA ASLAMTU WABIKA AAMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHOOSAMTU WA ILAIKA HAAKAMTU, FAGH FIRLII QODDAMTU WAMAA  AKH KHORTU WAMAA ASRORTU WAMAA A’LANTU  ANTA MUQODDIMU WA WA ANTA MUAKH KHIRU, LAA ILAHA ILLA ANTA

Artinya:

“Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim (yang paling awal – red) dan dan Al Muakhir(yang paling akhir –red). Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau” [HR. Bukhari 2/3, 2/4, 11/99, 13/366 – 367, 13/399, Muslim 2/184]

  1. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ ketika bangun malam, beliau bertakbir, kemudian membaca:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

SUBHAANAKA LLAHUMMA WA BIHAMDIK, WA TABAAROKAS-MUKA, WA TA’ALAA JADDUK, WA LAA ILAHA GHOIYRUK.

Artinya:

Maha Suci Engkau Ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Mulia nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, tiada Tuhan  yang berhak disembah selain Engkau. Kemudian membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

LAA ILAHA ILLALLAH

Artinya:

Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah (tiga kali)

Dilanjutkan dengan membaca:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

ALLAHU AKBAR

Artinya:

Allah Maha Besar (tiga kali)

[HR. Abu Daud 775, Ad-Darimi 1275, dan dishahihkan al-Albani]

Doa yang Dibaca Setelah Witir

Doa pertama

سُبْحَانَ الـمَلِكِ القُدُّوْسِ

SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS

“Maha Suci Dzat yang Merajai lagi Maha Suci.”

Hadis Selengkapnya:

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ فِي الْوِتْرِ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Rasulullah ﷺ setelah salam shalat Witir, beliau membaca: SUBHAANAL MALIKIL QUDDUUS. [HR. Abu Daud 1430; dishahihkan al-Albani]

Dalam riwayat Nasa’i dari Abdurrahman bin Abza radhiyallahu ‘anhu, terdapat tambahan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: «سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ» ثَلَاثًا، وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ

Rasulullah ﷺ melakukan Witir dengan membaca surat Al-A’la (rakaat pertama), surat Al-Kafirun (rakaat kedua), dan surat Al-ikhlas (rakaat ketiga). Setelah salam, beliau membaca: Subhaanal malikil qudduus, tiga kali. Beliau keraskan yang ketiga. [HR. Nasa’i 1732 dan dishahihkan al-Albani]

Dalam riwayat yang lain, terdapat tambahan:

… طَوَّلَ فِي الثَّالِثَةِ

“Beliau baca panjang yang ketiga.” [HR. Nasa’i 1734 dan dishahihkan al-Albani]

Tambahan “Robbil Malaaikati war Ruuh”

Disebutkan dalam riwayat Thabrani adanya tambahan:

رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

ROBBIL MALAAIKATI WAR-RUUH

Artinya:

Tuhan  para malaikat dan ar-Ruh

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

فِي الْأَخِيرَةِ يَقُولُ: رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

Di bagian akhir beliau membaca: ROBBIL MALAAIKATI WAR-RUUH. [HR. Ad-Daruquthni 1660. Dalam Fatwa islam (no. 14093) dinyatakan: sanadnya shahih, dan disebutkan Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad (1/323)].

Keterangan:

Dari beberapa riwayat di atas, dapat kita simpulkan terkait bacaan doa ini:

  1. Doa ini dibaca tepat setelah salam shalat Witir
  2. Doa ini dibaca tiga kali
  3. Pada bacaan kali ketiga, dikeraskan dan dipanjangkan “Subhaaanal malikil qudduuuuu … ss”.
  4. Disambung dengan membaca “Robbil malaaikati war ruuh…”

Kalimat: “Subbuuhun qudduusun robbul malaaikati war ruuh”

Kalimat termasuk salah satu doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika rukuk atau sujud.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول في ركوعه وسجوده: سبوح قدوس، رب الملائكة والروح

Bahwa Rasulullah ﷺ membaca doa ketika rukuk dan sujud beliau: Subbuuhun qudduusun…dst. (HR. Muslim 487).

Mengingat lafal Subbuuhun qudduusun adalah doa sujud atau rukuk ketika shalat, sehingga tambahan ini tidak ada hubungannya dengan shalat Witir. Karenanya tidak perlu dibaca seusai Witir.

Allahu a’lam

Doa Kedua

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِـمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَـتِكَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ ، كَمَا أَثْــــنَــــيْتَ عَلَى نَــــفْسِكَ

ALLAHUMMA INNII A-‘UUDZU BI RIDHAA-KA MIN SAKHATIK, WA BI MU’AAFATIKA MIN ‘UQUUBATIK, WA A-‘UUDZU BIKA MIN-KA, LAA UH-SHII TSA-NAA-AN ‘ALAIKA ANTA, KAMAA ATS-NAITA ‘ALAA NAFSIK

Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung dengan rida-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak bisa menyebut semua pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”

Hadis selengkapnya:

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي وِتْرِهِ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ،…

Bahwa Nabi ﷺ di penghujung shalat Witirnya, beliau membaca: ALLAHUMMA INNII A-‘UUDZU BI RIDHAA-KA MIN SAKHATIK… [HR. An-Nasa’i 1747, Abu Daud 1427, dan Turmudzi 3566; dinilai shahih oleh al-Albani]

Kapankah doa ini dibaca?

Pada hadis di atas tidak dijelaskan, kapan Nabi ﷺ membaca doa tersebut ketika shalat Witir. Dalam catatan untuk Sunan An-Nasa’i, As-Sindi mengatakan:

قوله: ” كان يقول في آخر وتره”: يحتمل أنه كان يقول في آخر القيام ، فصار هو من القنوت ؛ كما هو مقتضى كلام المصنف، ويحتمل أنه كان يقول في قعود التشهد ، وهو ظاهر اللفظ

Keterangan beliau “Di penghujung shalat Witirnya, beliau membaca…” mungkin maknanya adalah beliau baca di akhir Tahajud, sehingga itu termasuk doa qunut, sebagaimana isyarat keterangan An-Nasa’i. Mungkin juga dimaknai bahwa doa ini dibaca ketika duduk Tasyahud Akhir, dan ini makna yang tersirat dari hadis tersebut. (Dinukil dari Bughyatul Mutathawi’, hlm. 30).

Akan tetapi disebutkan dalam kitab Amalul Yaum wa Lailah karya an-Nasai, demikian pula ibnu Sunni, bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

بت عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات ليلة ، فكنت أسمعه إذا فرغ من صلاته وتبوأ مضجعه يقول : اللهم إني أعوذ بمعافاتك من عقوبتك …

Saya menginap di rumah Rasulullah ﷺ di suatu malam. Ketika beliau ﷺ usai shalat dan bersiap di tempat tidurnya, beliau ﷺ membaca: ALLAHUMMA INNII A-‘UUDZU BI MU’AAFATIKA MIN ‘UQUUBATIK, … dst. (Muntaqa Amalul Yaum wa Lailah An-Nasai, Hal. 25).

Di antara kebiasaan Nabi ﷺ, beliau kembali ke tempat tidur seusai melaksanakan shalat Tahajud. Sambil mempersiapkan tempat tidurnya, beliau ﷺ membaca doa tersebut.

Sementara itu, disebutkan dalam riwayat yang lain, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

فَقَدْتُ رَسُولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ سَاجِدٌ وَقَدَمَاهُ مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ،

 

Saya kehilangan Rasulullah ﷺ di suatu malam, ternyata aku dapati beliau dalam keadaan sedang sujud, dan dua kaki beliau dipancangkan, sementara beliau membaca: ALLAHUMMA INNII A-‘UUDZU BI RIDHAA-KA MIN SAKHATIK… [HR. Ahmad 25655, An-Nasa’i 1100, Ibn Majah 3841, Ibnu Hibban dalam shahihnya 1932, Ibn Khuzaimah dalam shahihnya 655, dan dishahihkan al-Albani]

Kesimpulan:

Berdasarkan dua riwayat ini dapat kita simpulkan, bahwa ada dua tempat untuk membaca doa ini ketika Witir atau Tahajud:

  1. Setelah shalat Witir
  2. Ketika sujud dalam shalat

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/14894-doa-shalat-Tahajud.html

,

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

 

>> Doa Sebelum Masuk Ramadan

Pertanyaan:

Adakah doa khusus sebelum memasuki Ramadan?

Jawaban:

Tidak diketahui ada doa khusus yang dibaca saat masuk Ramadan. Yang ada hanyalah doa umum ketika melihat hilal (masuknya bulan Hijriyah). Dan doa itu dibaca saat melihat hilal Ramadan maupun bulan lainnya. Lafal doanya ialah sebagai berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allaahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal Islaami. Robbii wa Robbukallah.”

Artinya:

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” [HR. Ahmad III/17, at-Tirmidzi 3451, dan yang lainnya]

Jika dia ingin berdoa agar bisa menjalankan puasa secara sempurna dan agar pahala dari ibadah yang dikerjakannya diterima oleh Allah, maka ini juga tidak masalah.

Demikian kesimpulan dari keterangan asy-Syaikh Shaalih al-Fauzaan hafizhahullah dalam: http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/7445

 

>> Hukum Ucapan ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puasa’

Asy-Syaikh Shaalih bin Fauzaan bin Abdillah al-Fauzaan hafizhahullah pernah ditanya:

Pertanyaan:

Apa hukum mengucapkan selamat atas masuknya Ramadan?

جـ: التهنئة بدخول شهر رمضان لا بأس بها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبشر أصحابه بقدوم شهر رمضان، ويحثهم على الاجتهاد فيه بالأعمال الصالحة، وقد قال الله تعالى‏:‏

‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ‏ ‏[‏ يونس ‏:‏ 58‏]‏

فالتهنئة بهذا الشهر والفرح بقدومه يدلان على الرغبة في الخير، وقد كان السلف يبشر بعضهم بعضًا بقدوم شهر رمضان؛ اقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم

Jawaban:

“Mengucapkan ucapan selamat atas masuknya Ramadan hukumnya boleh, karena Nabi Muhammad ﷺ juga biasa memberi kabar gembira pada para sahabat atas masuknya Ramadan, serta mendorong mereka untuk sungguh-sungguh dalam melakukan amal saleh di dalamnya. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” [QS. Yunus: 58]

Sehingga memberi ucapan selamat lantaran berjumpa Ramadan dan bergembira dengan kedatangannya menunjukkan antusiasmenya pada kebaikan. Sebagaimana Salaf (orang-orang saleh terdahulu) juga saling mengabarkan pada sebagian mereka akan tibanya Ramadan, yang itu mereka lakukan dalam rangka meneladani Nabi Muhammad ﷺ yang juga melakukannya [Lihat: HR. an-Nasaa’i 2106, Ahmad, dll –pent].”

Sumber:  http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7452

 

>> Dosa Juga Akan Berlipat Saat Ramadan?

Pertanyaan:

Apakah dosa pada bulan Ramadan juga dilipatgandakan?

Jawaban:

Dosa ketika Ramadan tidak akan berlipat ganda dalam hal hitungan. Dalam artian, jika dia melakukan satu kejahatan ketika Ramadan, maka dosa yang dia dapatkan ya tetap satu. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Allah ﷻ:

{مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ}

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan, melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. al-An’aam: 160)

Namun dalam hal ukuran, satu dosa yang dilakukan ketika Ramadan akan lebih berat dalam hal timbangan dan balasannya. Benar dosanya tetap satu dosa, tapi satu dosa itu lebih berat dari satu dosa, pada hari-hari biasa, dengan kemaksiatan yang sama. Allah ﷻ berfirman:

{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Siapa yang bermaksud di dalam Masjidil Haram melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [QS. al-Haj: 25]

Dalam ayat ini Allah ﷻ memersiapkan siksa yang tidak sebatas siksa, namun disifati dengan siksa yang pedih, bagi orang-orang yang melakukan tindak kezaliman di tempat yang Allah muliakan. Dari ayat ini ulama mengambil petikan hokum, bahwa dosa yang dilakukan pada tempat yang Allah muliakan, atau waktu yang Allah muliakan, akan menjadi berat dalam hal siksa yang didapatnya. Oleh karena Ramadan ialah bulan paling mulia di sisi Allah, maka demikian pula kondisi maksiat yang dilakulan di bulan tersebut.”

Lihat:

  • – Fataawaa Ibn Baaz,  XV/446-448
  • – Asy-Syarh al-Mumti’, V/262

 

Sumber:  Telah Tersebut di Atas

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam situs Nasehat Etam ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/282/serba-serbi-sebelum-Ramadan#sthash.CcwuaR6k.dpuf

,

RAGAM IBADAH PUASA

RAGAM IBADAH PUASA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

RAGAM IBADAH PUASA

Apa Sajakah Jenis-Jenis Puasa?

Pertanyaan:

Apakah puasa berjenis-jenis, sebagaimana halnya shalat?

Jawaban:

“Ya. Puasa berjenis-jenis, ada puasa wajib, puasa sunnah, puasa makruh, dan bahkan ada yang haram.”

Ragam Puasa

Pertanyaan:

Apa saja jenis puasa yang wajib, sunnah, makruh, dan haram?

Jawaban:

  1. Puasa wajib ada tiga, yaitu:
  • – Puasa Ramadan (tunai maupun qadha),
  • – Puasa membayar kafarah (karena melanggar sumpah, mendatangi istri di siang bulan Ramadan, melakukan zhihar, atau membunuh tanpa sengaja),
  • – Dan puasa nadzar.
  1. Puasa sunnah ada sembilan, yaitu:
  • – Puasa Arafah,
  • – Puasa sepuluh al-Muharram,
  • – Puasa enam hari di bulan Syawal,
  • – Puasa Daud,
  • – Puasa tiga hari setiap bulan,
  • – Puasa Senin Kamis,
  • – Puasa tanggal satu hingga sembilan Dzulhijjah,
  • – Puasa pada bulan al-Muharram,
  • – Puasa pada bulan Syaban.
  1. Puasa yang makruh ada lima:
  • – Puasa pada hari Jumat secara bersendiri,
  • – Puasa pada hari Sabtu atau Minggu (kecuali hari itu bertepatan dengan jadwal biasa dia berpuasa),
  • – Puasa Wishal (bersambung hingga Maghrib esok harinya),
  • – Puasa setiap hari,
  • – Puasanya seorang wanita tanpa izin suaminya.
  1. Puasa yang hukumnya haram ada tiga:
  • – Puasa pada hari yang meragukan untuk jaga-jaga, barangkali telah masuk bulan Ramadan atau belum (tanggal tiga puluh Syaban),
  • – Puasa di hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha),
  • – Puasa tanggal sebelas, dua belas, dan tiga belas Dzulhijjah

 

Sumber:  Berbagai Kitab Fikih

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam situs Nasehat Etam ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/281/ragam-ibadah-puasa#sthash.uP8xsG6h.dpuf

DI ANTARA KEUTAMAAN PUASA

DI ANTARA KEUTAMAAN PUASA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

DI ANTARA KEUTAMAAN PUASA

Pertanyaan:

Saya mendengar, bahwa keutamaan puasa sangat banyak. Bisakah beritahukan pada saya sebagian dari padanya?

Jawaban:

Benar. Puasa memiliki sangat banyak fadhilah, yang seorang Mukmin sejati tentu akan sangat antusias untuk meraih beragam keutamaannya. Di antara sekian banyak keutamaan puasa Ramadan ialah:

a. Allah menjanjikan ampunan dosa dan sekaligus Surga, bagi orang-orang yang berpuasa. Sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Ahzaab: 35)

b. Puasa merupakan salah satu sebab ketakwaan seseorang. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Dan alangkah bahagianya jika seseorang Allah ﷻ sampaikan pada kedudukan takwa. Karena takwa itulah yang menjadi ukuran kemuliaan seorang hamba di sisi Allah.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. al-Hujuraat: 13)

c. Bisa melindungi seseorang dari siksa Neraka. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Rabb kita berfirman: ‘Puasa adalah perisai yang digunakan oleh seorang hamba untuk berlindung dari siksa Neraka. Dan puasa itu khusus untuk-Ku, maka Aku pulalah yang akan membalasnya’.” [HR. Ahmad. Dinilai shahih li ghairih oleh Muhaqqiq Musnad (XXIII/411)]

d. Berpuasa fii sabilillah sehari saja, bisa menjauhkan seseorang dari Neraka dengan jarak yang sangat jauh. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ؛ بَاعَدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barang siapa yang berpuasa sehari fii sabilillah, niscaya Allah ﷻ akan jauhkan wajahnya dari Neraka sejauh jarak tujuh puluh tahun perjalanan.” [HR. al-Bukhari (2840) dan Muslim (1153)]

Ulama menerangkan, bahwa ada dua makna (al-Mufhim, III/217) fii sabilillah yang tercakup dalam hadis ini:

  1. Dia berpuasa ikhlas hanya untuk mendapatkan rida Allah.
  2. Dia berpuasa saat sedang berjihad fii sabilillah.

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/311/keutamaan-puasa-bag-1#sthash.ompS8qPP.dpuf

,

APAKAH BOLEH BAGI ORANG SAKIT UNTUK TIDAK PUASA?

APAKAH BOLEH BAGI ORANG SAKIT UNTUK TIDAK PUASA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

#SeriPuasaRamadan

 

APAKAH BOLEH BAGI ORANG SAKIT  UNTUK TIDAK PUASA?

Pertanyaan:

Pada salah satu hari di bulan Ramadan dia sakit. Apakah boleh baginya untuk tidak puasa?

Jawaban:

Boleh. Namun mesti dilihat terlebih dulu, sakit macam apa yang dia alami. Apabila sakitnya ringan, maka dia tetap harus puasa. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:

قَالَ أَصْحَابُنَا: وَأَمَّا الْمَرَضُ الْيَسِيرُ الَّذِي لا يَلْحَقُ بِهِ مَشَقَّةٌ ظَاهِرَةٌ لَمْ يَجُزْ لَهُ الْفِطْرُ بِلا خِلَافٍ عِنْدَنَا

“Berkata Ulama madzhab kami: ‘Sakit ringan pada seseorang yang tidak menyebabkan kesulitan berarti, tidak membuat seseorang boleh berbuka. Tidak ada perselisihan di kalangan Ulama Syafi’iyah terkait masalah ini’.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, VI/262)

Serupa dengan keterangan di atas, asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-Utsaimiin rahimahullah berkata:

ألا يتأثر بالصوم، مثل الزكام اليسير، أو الصداع اليسير، أو وجع الضرس، وما أشبه ذلك، فهذا لا يحل له أن يفطر، وإن كان بعض العلماء يقول: يحل له لعموم الآية {وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا} [البقرة: ١٨٥] ولكننا نقول: إن هذا الحكم معلل بعلة، وهي أن يكون الفطر أرفق به فحينئذ نقول له الفطر، أما إذا كان لا يتأثر فإنه لا يجوز له الفطر ويجب عليه الصوم.

“Orang sakit yang kondisinya tidak terpengaruh lantaran berpuasa, tidak halal baginya untuk berbuka. Seperti flu ringan, sakit kepala ringan, atau sakit gigi. Meski sebagian ulama memandang, bahwa sakit ringan pun tetap boleh tidak puasa, berdasarkan pada cakupan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. al-Baqarah: 185)

Namun kami katakan: ‘Sesungguhnya hukum ini dilandasi dengan suatu sebab’, yaitu, apabila tidak puasa itu lebih sesuai dengan keadaannya, pada kondisi demikian silakan dia berbuka. Adapun jika sakitnya tidak memberikan pengaruh baginya (puasa atau tidak sama saja -pent), maka dia tidak boleh buka dan wajib atasnya untuk berpuasa.” (asy-Syarh al-Mumti’: VI/341)

Sedang jika sakitnya memang berat, dalam kondisi demikian boleh baginya untuk tidak puasa, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang telah dibawakan di atas (al-Baqarah: 185). Imam Nawawi rahimahullah berkata:

الْمَرِيضُ الْعَاجِزُ عَنْ الصَّوْمِ لِمَرَضٍ يُرْجَى زَوَالُهُ لا يَلْزَمُهُ الصَّوْمُ وَيَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ ، وَهَذَا إذَا لَحِقَهُ مَشَقَّةٌ ظَاهِرَةٌ بِالصَّوْمِ وَلا يُشْتَرَطُ أَنْ يَنْتَهِيَ إلَى حَالَةٍ لا يُمْكِنُهُ فِيهَا الصَّوْم

“Orang sakit yang tidak mampu berpuasa, dengan jenis sakit yang memungkinkan untuk sembuh, tidak wajib berpuasa dan kewajibannya ialah qadha. Ini jika sakitnya memang membuat dia merasakan kesusahan yang nampak. Dan tidak harus sampai tidak bisa berpuasa sama sekali (baru boleh tidak puasa -pent).” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, VI/261)

Sumber:  Berbagai kitab hadis dan fikih yang tersebut di atas.

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/309/asal-sakit-boleh-nggak-puasa#sthash.szlxp1eD.dpuf

 

 

,

BOLEHKAH LIBUR PUASA RAMADAN, JIKA PEKERJAAN SANGAT MELELAHKAN?

BOLEHKAH LIBUR PUASA RAMADAN, JIKA PEKERJAAN SANGAT MELELAHKAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

BOLEHKAH LIBUR PUASA RAMADAN, JIKA PEKERJAAN SANGAT MELELAHKAN?

Ditanyakan kepada asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

Pertanyaan:

Apakah para buruh/pekerja, boleh tidak puasa, jika sangat berat untuk puasa?

جـ: عليهم أن يصوموا وأن يستعينوا بالله عز وجل، فمن استعان بالله أعانه الله، فإذا رأوا أثناء النهار عطشاً يضرهم، أو يكون سبباً في هلاكهم فلا حرج عليهم أن يفطروا للضرورة، ولكن خير من هذا أن يتفقوا مع الكفيل، أو صاحب العمل على أن يكون عملهم في رمضان ليلاً، أو بعضه في الليل وبعضه في أول النهار، أو أن يخفف من ساعات العمل حتى يقوموا بالعمل والصيام على وجه مريح

Jawaban:

“Mereka mesti tetap berpuasa. Dan pula, hendaknya mereka memohon pertolongan pada Allah subhanahu wa ta’ala (agar kuat puasa). Siapa yang minta tolong pada Allah, maka Allah pasti bantu.

Namun andaikata di siang hari dia sangat kehausan yang bisa membahayakan kesehatannya, atau bisa membuat dia sampai binasa, maka boleh berbuka lantaran kondisi darurat.

Dan solusi yang lebih baik lagi, hendaknya dia membuat kesepakatan dengan bos kerjanya atau mandornya, apakah agar:

  • – Pada bulan Ramadan pekerjaan dilakukan malam hari saja.
  • – Atau dengan dibagi, setengah hari siang dan setengahnya lagi malam.
  • – Atau agar bisa mengurangi jam kerjanya saat Ramadan.

Sehingga dengan itu dia bisa menjalankan pekerjaan sekaligus puasa, dengan tenang.”

 

Sumber:  [Majmu’ Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/89]

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/308/libur-puasa-Ramadan-jika-pekerjaan-sangat-melelahkan#sthash.DQ3jK9P0.dpuf