Posts

,

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, pikun, dan sifat kikir (bakhil). Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Nabi ﷺ berlindung dari tujuh perkara, yaitu:

  1. Kelemahan
  2. Kemalasan

Perbedaan antara lemah dan malas adalah, bahwa lemah itu tidak adanya kemampuan, sedangkan malas adalah enggannya jiwa melakukan kebaikan, dan kurang terdorong kepadanya, padahal mampu melakukannya. Kedua hal ini adalah penyakit yang membuat seseorang duduk dan meninggalkan kewajiban, sehingga terbuka baginya pintu-pintu keburukan.

  1. Sifat pengecut
  2. Kebakhilan (kekikiran)

Sifat pengecut terkait dengan jiwa, sedangkan sifat bakhil (pelit) terkait dengan harta. Siapa saja yang kehilangan keberanian untuk melawan hawa nafsu, was-was setan, melawan musuh, menghadapi lawan yang membela yang batil, maka dia adalah pengecut. Dan siapa saja yang tidak mau memberi kaum fakir dengan hartanya, mengeluarkan hartanya untuk para mujahid fii sabilillah, dan mengeluarkan pada jalur-jalur kebaikan, maka dia adalah orang yang bakhil. Dalam banyak ayat, Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan berjihad dengan jiwa dan hartanya. Dan penyakit yang dapat menghalangi seseorang dari berjihad mengorbankan jiwa dan hartanya adalah penyakit pengecut dan bakhil.

Nabi ﷺ berlindung dari sifat pengecut dan bakhil, karena keduanya dapat menghalangi kewajiban, menghalangi dari memenuhi hak-hak Allah ta’ala, menghalangi dari mencegah kemungkaran, bersikap tegas kepada para pelaku maksiat. Di samping itu, dengan seseorang memiliki keberanian dan kekuatan, maka ibadah dapat sempurna, orang yang terzalimi dapat tertolong, jihad dapat dilakukan. Sedangkan dengan selamat dari kebakhilan, maka ia dapat memenuhi hak-hak harta, adanya keinginan untuk berinfak, bersikap dermawan, dan berakhlak mulia serta terhalang dari sifat tamak kepada apa yang tidak dimilikinya.

  1. Pikun

Yang dimaksud pikun adalah dikembalikan kepada usia yang paling buruk. Sebab mengapa beliau ﷺ berlindung darinya adalah, karena ketika sudah pikun terkadang ucapan menjadi ngelantur, akal dan ingatan menjadi kurang, panca indera menjadi lemah, dan lemah dari melakukan ketaatan, serta meremehkan sebagiannya. Cukuplah seseorang berlindung darinya, karena Allah menamai usia tersebut sebagai Ardzalul ‘Umur (Usia paling buruk).

  1. Siksa Kubur

Hadis di atas menunjukkan adanya siksa kubur, di samping adanya nikmat kubur dan fitnah(ujian)nya. Hadis lain yang menunjukkan adanya siksa kubur adalah hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ المَدِينَةِ، أَوْ مَكَّةَ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» . ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ، فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ، فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا» أَوْ: «إِلَى أَنْ يَيْبَسَا»

“Nabi ﷺ pernah melewati salah satu di antara kebun-kebun Madinah atau Mekkah, lalu beliau ﷺ mendengar suara dua orang yang diazab dalam kuburnya, kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Keduanya sedang diazab, dan keduanya tidaklah diazab, menurut keduanya terhadap dosa besar.” Selanjutnya beliau ﷺ bersabda: “Bahkan sesungguhnya itu dosa besar. Adapun salah satunya, maka ia tidak menjaga diri dari kencingnya, sedangkan yang satu lagi berjalan kesana-kemari mengadu domba.” Kemudian beliau ﷺ meminta dibawakan pelepah kurma, lalu beliau ﷺ mematahkan menjadi dua bagian, dan meletakkan belahannya di masing-masing kubur itu, lalu beliau ﷺ ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Mudah-mudahan azab keduanya diberi keringanan selama belahan itu belum kering,” atau bersabda: “Sampai kedua belahan kering.” [HR. Bukhari]

 

  1. Fitnah Hidup dan Mati (Bencana Kehidupan dan Kematian)

Fitnah hidup artinya cobaan dan hujian hidup, baik berupa fitnah syahwat dan fitnah syubhat, d imana kedua cobaan ini banyak yang membuat manusia tergelincir, lalai dari kewajibannya dan terbawa oleh arus fitnah yang menggiringnya kepada kebinasaan. Maka dalam doa ini kita berlindung, agar kita mampu menghadapi cobaan-cobaan itu dengan tetap bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya. Ini adalah cara untuk menghadapi fitnah syahwat. Adapun cara untuk menghadapi fitnah syubhat adalah dengan yakin di atas kebenaran dan teguh, tidak mudah berubah oleh situasi dan kondisi; berbekal ilmu syari.

Sedangkan fitnah mati, maka maksudnya ujian ketika di kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyakan kepada seseorang tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Wallahu a’lam.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Dinukil dari tulisan berjudul: “RASULULLAH BERDOA MOHON PERLINDUNGAN DARI HAL-HAL BERIKUT” yang ditulis oleh: Marwan Hadidi, S.Pd.I

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: https://muslim.or.id/22107-rasulullah-berdoa-mohon-perlindungan-dari-hal-hal-berikut.html

 

 

 

, ,

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBidah
#ManhajSalaf

ADAKAH KEUTAMAAN MALAM NISFU SYABAN?
>> Belum ditemukan satu pun riwayat yang Shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat.
>> Hadis Shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu.
>> Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu, dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
>> Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban.

Pertanyaan:

Apakah sholat “Nisfu Syaban” itu ada dan sesuai dengan Sunah? Saya sering mendengar adanya pelaksanaan sholat tersebut secara berjamaah, biasanya dalam rangka menyambut Ramadan.

Jawaban:

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. Di malam itu diturunkan setiap takdir dari Yang Maha Bijaksana.” (QS. Ad-Dukkhan: 3 – 4).

Diriwayatkan dari Ikrimah – rahimahullah –, bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban. Ikrimah mengatakan:

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة

Sesungguhnya malam tersebut adalah malam Nisfu Syaban. Di malam ini Allah menetapkan takdir setahun. (Tafsir Al-Qurtubi, 16/126).

Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang disebutkan pada ayat di atas adalah Lailatul Qadar dan BUKAN Nisfu Syaban. Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau mengatakan:

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر} وكان ذلك في شهر رمضان، كما قال: تعالى: { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }

Allah berfirman menceritakan tentang Alquran bahwa Dia menurunkan kitab itu pada malam yang berkah, yaitu Lailatul Qadar. Sebagaimana yang Allah tegaskan di ayat yang lain, (yang artinya): “Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran di Lailatul Qadar.” Dan itu terjadi di bulan Ramadan, sebagaimana yang Allah tegaskan, (yang artinya); “Bulan Ramadan, yang mana di bulan ini diturunkan Alquran.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/245).

Selanjutnya Ibnu Katsir menegaskan lebih jauh:

ومن قال : إنها ليلة النصف من شعبان -كما روي عن عكرمة-فقد أبعد النَّجْعَة فإن نص القرآن أنها في رمضان

Karena itu, siapa yang mengatakan: yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nisfu Syaban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh, karena nash Alquran dengan tegas bahwa malam itu terjadi di bulan Ramadan. (Tafsir Ibn Katsir, 7/246).

Dengan demikian, pendapat yang kuat tentang malam yang berkah, yang disebutkan pada surat Ad-Dukhan di atas adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadan dan BUKAN malam Nisfu Syaban. Karena itu, ayat dalam surat Ad-Dukhan di atas, TIDAK bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan keutamaan malam Nisfu Syaban.

Hadis Seputar Nisfu Syaban

Terdapat beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan Nisfu Syaban. Ada yang shahih, ada yang dhaif, bahkan ada yang palsu. Berikut beberapa hadis tentang Nisfu Syaban yang tenar di masyarakat;

Pertama:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Syaban, maka lakukanlah Qiyamul Lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman: ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Keterangan:

Hadis di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi ﷺ).

Hadis dengan redaksi di atas adalah Hadis Maudhu’ (Palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya Muttaham Bil Kadzib (Tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah: “Dia adalah perawi yang memalsukan hadis.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

Kedua:

Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan:

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: ” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

Aku pernah kehilangan Nabi ﷺ. Kemudian aku keluar, ternyata beliau ﷺ di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi ﷺ bertanya: “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi ﷺ tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka Anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nisfu Syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba Bani Kalb.”

Keterangan:

Hadis ini diriwayatkan At-Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At-Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, Imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini:

“Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).

Akan tetapi hadis ini dishahihkan Al-Albani, karena kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi Shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadis Dhaifah, 3/138).

Ketiga:

Hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Keterangan:

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadis Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan Nisfu Syaban sebagai hadis dhaif.

Sikap Ulama Terkait Nisfu Syaban

Berangkat dari perselisihan mereka dalam menilai status keshahihan hadis, para ulama berselisish pendapat tentang keutamaan malam Nisfu Syaban. Setidaknya, ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut ini rinciannya:

  • Pendapat pertama: Tidak Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan: “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Syaban, mengatakan: ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan: ‘TIDAK TERDAPAT SATU PUN hadis Shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Syaban.”” (Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33)

Dalam nukilan yang lain, Ibnu Dihyah mengatakan:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“TIDAK ADA SATU PUN RIWAYAT YANG SHAHIH TENTANG MALAM NISFU SYABAN, dan para perowi yang jujur tidak menyampaikan adanya sholat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka memermainkan syariat Muhammad, dan yang masih mencintai kebiasaan orang Majusi (baca: Syiah). (Asna Al-Mathalib, 1/84)

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz. Beliau MENGINGKARI adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Beliau rahimahullahu ta’ala mengatakan: “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, yang TIDAK BOLEH dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan sholat di malam Nisfu Syaban, semuanya statusnya PALSU, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At-Tahdzir min Al-Bida’, hlm. 11)

  • Pendapat kedua: Ada Keutamaan Khusus Untuk Malam Nisfu Syaban

Para ulama yang menilai shahih beberapa dalil tentang keutamaan Nisfu Syaban, mereka mengimaninya dan menegaskan adanya keutamaan malam tersebut. Di antara hadis pokok yang mereka jadikan landasan adalah hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari;

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Syaban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (H.R. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Di antara jajaran ulama Ahlus Sunah yang memegang pendapat ini adalah Ahli Hadis abad ini, Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Bahkan beliau menganggap sikap sebagian orang yang menolak semua hadis tentang malam Nisfu Syaban termasuk tindakan yang gegabah. Setelah menyebutkan salah satu hadis tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, Syaikh Al-Albani mengatakan:

فما نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في ” إصلاح المساجد ” (ص 107) عن أهل التعديل والتجريح أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه، ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق

Keterangan yang dinukil oleh Syekh Al-Qosimi –rahimahullah– dalam buku beliau; ‘Ishlah Al-Masajid’ dari beberapa ulama Ahli Hadis, bahwa tidak ada satu pun hadis shahih tentang keutamaan malam Nisfu Syaban, termasuk keterangan yang tidak layak untuk dijadikan sandaran. Sementara, sikap sebagian ulama yang menegaskan tidak ada keutamaan malam Nisfu Syaban secara mutlak, sesungguhnya dilakukan karena terlalu terburu-buru dan tidak berusaha mencurahkan kemampuan untuk meneliti semua jalur untuk riwayat ini, sebagaimana yang ada di hadapan Anda. Dan hanyalah Allah yang memberi taufiq. (Silsilah Ahadis Shahihah, 3/139)

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan: “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Syaban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23/123)

Ibnu Rajab mengatakan: “Terkait malam Nisfu Syaban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247)

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  • Pertama: Malam Nisfu Syaban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadis, sebagaimana yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadis ini hadis yang dhaif, namun, insya Allah yang lebih kuat adalah penilaian Syekh Al-Albani, yaitu bahwa hadis tersebut berstatus sahih.
  • Kedua: Belum ditemukan satu pun riwayat yang shahih, yang menganjurkan amalan khusus maupun ibadah tertentu ketika Nisfu Syaban, baik berupa puasa atau sholat. Hadis shahih tentang malam Nisfu Syaban hanya menunjukkan, bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, tanpa dikaitkan dengan amal tertentu. Karena itu, praktik sebagian kaum Muslimin yang melakukan sholat khusus di malam itu dan dianggap sebagai sholat malam Nisfu Syaban, adalah anggapan yang TIDAK BENAR.
  • Ketiga: Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan banyak beribadah. Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam Nisfu Syaban untuk beribadah adalah bid’ah.
  • Keempat: Ulama yang membolehkan memerbanyak amal di malam Nisfu Syaban menegaskan, bahwa TIDAK BOLEH mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri, di malam Nisfu Syaban, karena tidak ada amalan sunah khusus di malam Nisfu Syaban. Untuk itu, menurut pendapat ini, seseorang diperbolehkan memerbanyak ibadah secara mutlak, apa pun bentuk ibadah tersebut.

Allahu a’lam

 

Artikel terkait:

https://konsultasisyariah.com/malam-nisfu-syaban-catatan-amal-ditutup/

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

https://konsultasisyariah.com/5541-sholat-nishfu-syaban.html

,

PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID “WAHABI”

PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID WAHABI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#ManhajSalaf
PRESIDEN SUKARNO SAJA BANGGA TERHADAP DAKWAH TAUHID “WAHABI”
>> Presiden Sukarno Mendukung Gerakan Pemurnian Agama “Wahabisme”
>> Pesan Presiden RI. Pertama Ir. Sukarno “Agar Umat Islam Kembali Ke Manhaj Salaf”

Di buku yang berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi” (yaitu kumpulan tulisan dan pidato-pidato beliau) jilid pertama, cetakan kedua,tahun 1963. pada halaman 390, beliau mengatakan sebagai berikut:

((” Tjobalah pembatja renungkan sebentar “Padang-pasir” dan “Wahabisme” itu. Kita mengetahui djasa Wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, – murni dan asli sebagai udara padang-pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam di zamanja Muhammad!”

Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah.

Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan! ….”))

Berikut scan dari buku tersebut:

 

sukarno-mengagumi-wahabi

 

Buku yang berjudul “Dibawah Bendera Revolusi” (jilid pertama, cetakan kedua, tahun 1963, pada halaman 390) berikut sampul buku tersebut:

 

sampul-buku-sukarno-kagumi-wahabi

 

————

Nampak jelas bahwa presiden pertama RI. Ir. Sukarno sendiri menganggap, gerakan Wahabi adalah suatu gerakan “PEMURNI ISLAM”, gerakan yang menentang seribu satu Tahayul dan Bid’ah yang ada dalam Islam, dengan semboyan “Kembali kepada Allah dan kepada Nabi”

Mari wahai saudaraku, kita kembali kepada Alquran dan As Sunnah, kedua warisan Nabi Muhammad shallahu ‘alayhi wassalam, agar kita selamat dunia dan Akhirat.

Aamiin

Mujiarto Karuk

 

Sumber: http://firanda.com/index.php/artikel/wejangan/815-presiden-sukarno-mendukung-gerakan-pemurnian-agama-Wahabisme

, ,

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MasailJenazah
#BimbinganPengurusanJenazah

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

>> Tanya-Jawab Ringkas Bersama asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

Masaa’il Jenazah

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya safar dalam rangka takziyah?

جـ: لا بأس بذلك ؛ والنهي عن السفر وشد الرحال للمساجد ، إلا المساجد الثلاثة

Jawaban:

“Tidak mengapa hal demikian. Larangan untuk safar dan menempuh perjalanan melelahkan, hanyalah jika dimaksudkan untuk mendatangi masjid tertentu, kecuali tiga masjid.”

Keterangan Penerjemah:

Artinya, kita dilarang untuk pergi menempuh jarak yang jauh untuk datang ke masjid tertentu, selain pada tiga masjid. Ini berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad ﷺ:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidak boleh melakukan perjalanan sulit kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah ﷺ, dan Masjidil Aqsha.” [Muttafaqun ‘alaihi]

 

[Masaa’il Imam Ibnu Baaz, II/108]

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/301/hukum-melakukan-safar-dalam-rangka-takziyah#sthash.Z2lYDrMR.dpuf

,

RAGAM IBADAH PUASA

RAGAM IBADAH PUASA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

RAGAM IBADAH PUASA

Apa Sajakah Jenis-Jenis Puasa?

Pertanyaan:

Apakah puasa berjenis-jenis, sebagaimana halnya shalat?

Jawaban:

“Ya. Puasa berjenis-jenis, ada puasa wajib, puasa sunnah, puasa makruh, dan bahkan ada yang haram.”

Ragam Puasa

Pertanyaan:

Apa saja jenis puasa yang wajib, sunnah, makruh, dan haram?

Jawaban:

  1. Puasa wajib ada tiga, yaitu:
  • – Puasa Ramadan (tunai maupun qadha),
  • – Puasa membayar kafarah (karena melanggar sumpah, mendatangi istri di siang bulan Ramadan, melakukan zhihar, atau membunuh tanpa sengaja),
  • – Dan puasa nadzar.
  1. Puasa sunnah ada sembilan, yaitu:
  • – Puasa Arafah,
  • – Puasa sepuluh al-Muharram,
  • – Puasa enam hari di bulan Syawal,
  • – Puasa Daud,
  • – Puasa tiga hari setiap bulan,
  • – Puasa Senin Kamis,
  • – Puasa tanggal satu hingga sembilan Dzulhijjah,
  • – Puasa pada bulan al-Muharram,
  • – Puasa pada bulan Syaban.
  1. Puasa yang makruh ada lima:
  • – Puasa pada hari Jumat secara bersendiri,
  • – Puasa pada hari Sabtu atau Minggu (kecuali hari itu bertepatan dengan jadwal biasa dia berpuasa),
  • – Puasa Wishal (bersambung hingga Maghrib esok harinya),
  • – Puasa setiap hari,
  • – Puasanya seorang wanita tanpa izin suaminya.
  1. Puasa yang hukumnya haram ada tiga:
  • – Puasa pada hari yang meragukan untuk jaga-jaga, barangkali telah masuk bulan Ramadan atau belum (tanggal tiga puluh Syaban),
  • – Puasa di hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha),
  • – Puasa tanggal sebelas, dua belas, dan tiga belas Dzulhijjah

 

Sumber:  Berbagai Kitab Fikih

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam situs Nasehat Etam ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/281/ragam-ibadah-puasa#sthash.uP8xsG6h.dpuf

JANGANLAH TOLAK KEBAIKAN DAN KERINGANAN YANG DIBERIKAN ALLAH

JANGANLAH TOLAK KEBAIKAN DAN KERINGANAN YANG DIBERIKAN ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

JANGANLAH TOLAK KEBAIKAN DAN KERINGANAN YANG DIBERIKAN ALLAH

Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan keringanan pada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala suka jika keringanan yang Dia berikan, digunakan oleh si hamba. Dalam hadis yang shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai, jika keringanan-keringanan yang Dia berikan dijalankan, sebagaimana halnya Dia benci jika larangan-Nya dilanggar.” [HR. Ahmad (5866) dan Ibnu Hibban (2742). Dinilai shahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir demikian pula Muhaqqiq Musnad].

Sesungguhnya, kebanyakan dari kita telah keliru, saat kita tidak menerima kebaikan dan keringanan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan itu juga berarti kita telah menimpakan mudarat pada diri kita sendiri. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisaa’: 29) (Idem, VI/342]

Wallahu a’lam.

Sumber: http://nasehatetam.com/read/310/tetap-berusaha-puasa-meski-sakit#sthash.X3q3juGy.dpuf

, ,

PUASA BISA JADI TIDAK BERNILAI GARA-GARA TIDAK BERJILBAB

PUASA-BISA-JADI-TIDAK-BERNILAI-GARA-GARA-TIDAK-BERJILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#SifatPuasaNabi

PUASA BISA JADI TIDAK BERNILAI GARA-GARA TIDAK BERJILBAB

>> Wahai Muslimah, Janganlah Engkau Sia-Siakan Puasamu dengan Tidak Berjilbab

Nabi ﷺ bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia TIDAK mendapatkan dari puasanya tersebut, melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” [HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya Jayyid].

Hal ini menunjukkan, bahwa puasa, termasuk puasa Ramadan, bukanlah dengan menahan lapar dan dahaga saja. Namun puasa juga hendaknya dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Yang termasuk maksiat adalah buka-bukaan aurat, dan meninggalkan shalat. Ini adalah maksiat.

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan wejangan:

“Seandainya engkau berpuasa, maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa. Yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram, serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

Itulah sejelek-jelek puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga saja ketika berpuasa. Sedangkan maksiat masih terus jalan, masih buka-buka aurat dan enggan berjilbab. Kesadaran untuk berhenti dari maksiat tak kunjung datang. Ucapan sebagian salaf berikut patut jadi renungan:

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

“Tingkatan puasa yang paling rendah adalah hanya meninggalkan minum dan makan saja.” [Lihat Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 277]

 

Sumber: https://rumaysho.com/1164-menutup-aurat-hanya-musiman.html

,

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

Shalat Jama’ maksudnya melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu. Seperti melakukan shalat Zuhur dan shalat Ashar di waktu Zuhur dan itu dinamakan Jama’ Taqdim, atau melakukannya di waktu Ashar dan dinamakan Jama’ Takhir. Dan melaksanakan shalat Magrib dan shalat Isya’ bersamaan di waktu Magrib atau melaksanakannya di waktu Isya’.

Jadi shalat yang boleh dijama’ adalah semua shalat fardhu, kecuali shalat Subuh. Shalat Subuh harus dilakukan pada waktunya, tidak boleh dijama’ dengan shalat Isya’ atau shalat Zuhur.

Sedangkan shalat Qashar maksudnya meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat Zuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Subuh tidak bisa diqashar.

Shalat Jama’ dan Qashar merupakan keringanan yang diberikan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu” (QS. Annisa: 101).

Dan itu merupakan sedekah (pemberian) dari Allah subhanahu wata’ala  yang disuruh oleh Rasulullah ﷺ untuk menerimanya. [HR.Muslim]

Shalat Jama’ lebih umum daripada shalat Qashar, karena mengqashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Sedangkan menjama’ shalat bukan saja hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir, yang menyulitkan seorang Muslim untuk bolak- balik ke masjid. Dalam keadaan demikian, kita dibolehkan menjama’ shalat.

Ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasulullah ﷺ menjama’ shalat Zuhur dengan Ashar, dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim menambahkan: “Bukan karena takut, hujan dan musafir”.

Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat Jama’ dan Qashar, apabila ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan: “Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir, kecuali setelah keluar dari Madinah”. Dan Anas menambahkan: “Saya shalat Zuhur bersama Rasulullah ﷺ di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah (sekarang Bir Ali berada di luar Madinah) dua rakaat. [HR. Bukhari Muslim]

Seorang yang menjama’ shalatnya karena musafir, tidak mesti harus mengqashar shalatnya; begitu juga sebaliknya. Karena boleh saja ia mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya. Seperti melakukan shalat Zuhur dua rakaat di waktunya dan shalat Ashar dua rakaat di waktu Ashar.

Dan seperti ini lebih afdhal bagi mereka yang musafir, namun bukan dalam perjalanan. Seperti seorang yang berasal dari Surabaya bepergian ke Sulawesi. Selama ia di sana ia boleh mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di Mina. Walaupun demikian, boleh-boleh saja dia menjama’ dan mengqashar shalatnya ketika ia musafir, seperti yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di Tabuk. Tetapi ketika dalam perjalanan, lebih afdhal menjama’ dan mengqashar shalat, karena yang demikian lebih ringan dan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama’, seorang musafir yang SUDAH MENENTUKAN LAMA MUSAFIRNYA LEBIH DARI EMPAT HARI, maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari atau kurang, maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah  ﷺ ketika haji Wada’. Beliau ﷺ tinggal selama 4 hari di Mekkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya.

Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas kapan dia bisa kembali ke rumahnya, maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Inilah yang dipegang oleh Mayoritas Ulama, berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Ketika penaklukkan kota Mekkah, beliau ﷺ tinggal sampai sembilan belas hari, atau ketika Perang Tabuk sampai dua puluh hari, beliau ﷺ mengqashar shalatnya [HR. Abu Daud. Ini disebabkan karena ketidaktahuan kapan musafirnya berakhir. Sehingga seorang yang mengalami ketidakpastian jumlah hari dia musafir, boleh saja menjama’ dan mengqashar shalatnya [Fiqhussunah I/241].

Bagi orang yang melaksanakan Jama’ Taqdim, diharuskan untuk melaksanakan langsung shalat kedua, setelah selesai dari shalat pertama. Berbeda dengan Jama’ Ta’khir, tidak mesti Muwalah ( langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Zuhur diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Zuhur, boleh saja dia istirahat dulu, kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian, melakukannya dengan cara berturut –turut lebih afdhal, karena itulah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang mukim (tidak musafir). Begitu juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang mukim. Kalau dia menjadi makmum pada imam yang mukim, maka ia harus mengikuti imam, dengan melakukan shalat Itmam (tidak mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam, maka boleh saja mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat shalatnya setelah imammya salam.

Dan sunah bagi musafir untuk TIDAK MELAKUKAN Shalat Sunah Rawatib (shalat sunah sesudah dan sebelum shalat wajib), kecuali Qobliyah Subuh, dan juga Shalat Witir dan Tahajjud, karena Rasulullah ﷺ  selalu melakukannya, baik dalam keadaan musafir atau mukim. Begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya, seperti shalat Tahiyatul Masjid, Shalat Gerhana, dan Shalat Janazah (maka boleh dilakukan – penj).

Wallahu a’lam bis Shawaab.

Referensi:
Fatawa As-Sholat, Syeikh Abd. Aziz bin Baz
Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wal kitab Al-Aziz, Abd. Adhim bin Badawi Al-Khalafi
http://abusalma.wordpress.com/2006/12/04/shalat-jama%E2%80%99-dan-qashar/

Untuk lengkapnya, silakan klik link berikut ini:

http://pepisusanti.blogspot.co.id/2013/02/panduan-shalat-jama-dan-qashar.html

, ,

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj
#TazkiyatunNufus

APA MAKNA “MENGHITUNG ASMAUL-HUSNA” SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM HADIS?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إن لله تسعة وتسعين اسما، مائة إلا واحدًا، من أحصاها دخل الجنة

“Sesungguhnya Allah memunyai 99 (sembilan puluh sembilan) nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang ‘MENGHITUNGNYA’, niscaya ia masuk Surga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677, dari hadis Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ومعنى (أحصاها) أي: عرفها لفظاً، وعرفها معنى، وتعبد لله بمقتضاها، وليس المراد أن تحفظها فقط، بل لابد من حفظ اللفظ وفهم المعنى، والتعبد لله بها بمقتضاها،

“Makna ‘MENGHITUNGNYA’ (Al-Asmaul-Husnaa) adalah: Mengetahui lafalnya dan maknanya, serta beribadah kepada Allah sesuai dengan penunjukan nama-nama tersebut. Bukanlah yang dimaksud dari hadis tersebut hanyalah menghapalnya saja, akan tetapi mencakup menghapalkan lafalnya, memahami maknanya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan penunjukannya.” [Tafsiir Al-‘Allamah Ibni ‘Utsaimin, juz 4 – www.islamspirit.com].

Asy-Syaikh Asyraf bin ‘Abdil-Maqshud hafidhahullah berkata:

إحصاؤها: حفظها لفظا، وفهمها معنىً، وتمامه: أن يتعبد لله تعالى بمقتضاها.

“MENGHITUNGNYA (Al-Asmaul-Husnaa) maknanya adalah: Menghapal lafalnya dan memahami maknanya. Dan untuk kesempurnaannya: Beribadah kepada Allah ta’ala sesuai dengan penunjukan nama-nama tersebut” [Al-Qawaaidul-Mutslaa, hal 14; Universitas Islam Madinah, Cet. 3/1421 H – www.islamspirit.com].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قال الأصيلي: الإحصاء للاسماء العمل بها لا عدها وحفظها لأن ذلك قد يقع للكافر المنافق كما في حديث الخوارج يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم. وقال بن بطال: الإحصاء يقع بالقول ويقع بالعمل فالذي بالعمل أن لله أسماء يختص بها كالأحد والمتعال والقدير ونحوها فيجب الإقرار بها والخضوع عندها وله أسماء يستحب الاقتداء بها في معانيه كالرحيم والكريم والعفو ونحوها فيستحب للعبد ان يتحلى بمعانيها ليؤدي حق العمل بها فبهذا يحصل الإحصاء العملي وأما الإحصاء القولي فيحصل بجمعها وحفظها والسؤال بها ولو شارك المؤمن غيره في العد والحفظ فان المؤمن يمتاز عنه بالإيمان والعمل بها

“Telah berkata Al-Ashiliy: MENGHITUNG nama-nama Allah maknanya adalah beramal dengannya, bukan sekadar menghitung dan menghapalkannya. Sebab, menghitung dan menghapal bisa dilakukan oleh orang kafir dan munafik, sebagaimana hadis tentang Kahwarij: ‘Mereka membaca Alquran, namun tidak sampai melampaui tenggorokan mereka’. Ibnu Baththaal berkata: ‘Menghitung nama-nama Allah bisa dilakukan dengan perkataan dan perbuatan. Adapun dengan perbuatan, bahwasannya Allah memunyai nama-nama khusus seperti Al-Ahad, Al-Muta’aal, Al-Qadiir, dan yang semisalnya. Maka wajib untuk menetapkan nama-nama ini dan tunduk kepadanya. Allah juga memunyai nama-nama, yang terhadap makna nama-nama tersebut, orang dianjurkan untuk mencontohnya, seperti: Ar-Rahim, Al-‘Afwu, dan yang semisalnya. Maka wajib bagi seorang hamba berhias diri dengannya, sehingga dapat menunaikan hak beramal dengan nama-nama itu. Dengan ini, dapat tercapai makna ‘Menghitung’ secara ‘amaliy. Adapun menghitung dengan perkataan, dapat dihasilkan dari menghimpun, menghapal, dan memohon dengan nama-nama Allah tersebut. Meskipun hal itu dapat dilakukan oleh selain Mukmin, namun seorang Mukmin memunyai kelebihan, yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan beramal dengannya” [Fathul-Baariy, 13/378].

Wallaahu a’lam.

 

Penulis: Abu Al-Jauzaa’

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/apakah-yang-dimaksud-menghitung-Asmaul.html

 

 

,

IKUT MENCIDUK TANAH DALAM PROSES PENGUBURAN

IKUT MENCIDUK TANAH DALAM PROSES PENGUBURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AhkamulJanaiz
#PengurusanJenazah

IKUT MENCIDUK TANAH DALAM PROSES PENGUBURAN

 

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ – رضي الله عنه – – أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – صَلَّى عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ, وَأَتَى الْقَبْرَ, فَحَثَى عَلَيْهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ, وَهُوَ قَائِمٌ – رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ

Dari Amir bin Rabiah radhiyallaahu ‘anhu: “Bahwasanya Rasulullah ﷺ sholat terhadap (jenazah) Utsman bin Madzh-‘un, dan mendatangi kuburan, dan beliau menciduk tanah tiga cidukan dalam keadaan berdiri.

  • Riwayat Ad-Daraquthny
  • Al-Baihaqy Menyatakan: Sanadnya Lemah, namun memiliki jalur penguat dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya secara Mursal dan dari Abu Hurairah secara Marfu’(Al-Badrul Munir (5/317) karya Ibnul Mulaqqin), juga Atsar perbuatan Ali bin Abi Thalib menciduk tanah pada kubur Ibnul Mukaffaf dan dinyatakan Shahih sanadnya oleh Syaikh al-Albany (Irwa’ul Ghalil (3/202).

Penjelasan:

  • Disunnahkan bagi kaum Muslimin yang hadir dalam pemakaman untuk ikut terlibat dalam proses penguburan terakhir, dengan cara menciduk tanah dan menaburkannya.
  • Dengan itu diharapkan seseorang bisa mendapat bagian pahala menguburkan.
  • Sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ terhadap kubur Utsman bin Mazh-‘un, beliau ﷺ menciduk dengan tiga kali cidukan pada tanah dan menaburkannya.
  • Hal itu jika memungkinkan. Namun jika posisi seseorang jauh dari kubur dan terhalang oleh banyak orang di depannya, maka tidak mengapa untuk tidak melakukan hal tersebut.
  • Sebagian ulama menyatakan, bahwa cidukan dan penaburan tanah tersebut dilakukan dari arah kepala mayit. Namun sebenarnya tidak ada batasan, boleh pada arah samping, pada arah kaki dan sebagainya.

[Asy-Syarh Al-Mukhtashar Ala Bulughil Maram libni Utsaimin 4/59]

~~~~~~~~~~~~~~~~

Dikutip dari buku ”Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai Sunnah Nabi ﷺ [Syarah Kitab Al Janaiz min Bulughil Maram]”

 

Penulis: Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah

=====================

Sumber: http://telegram.me/alistiqomah