Posts

, ,

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MasailJenazah
#BimbinganPengurusanJenazah

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

>> Tanya-Jawab Ringkas Bersama asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

Masaa’il Jenazah

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya safar dalam rangka takziyah?

جـ: لا بأس بذلك ؛ والنهي عن السفر وشد الرحال للمساجد ، إلا المساجد الثلاثة

Jawaban:

“Tidak mengapa hal demikian. Larangan untuk safar dan menempuh perjalanan melelahkan, hanyalah jika dimaksudkan untuk mendatangi masjid tertentu, kecuali tiga masjid.”

Keterangan Penerjemah:

Artinya, kita dilarang untuk pergi menempuh jarak yang jauh untuk datang ke masjid tertentu, selain pada tiga masjid. Ini berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad ﷺ:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidak boleh melakukan perjalanan sulit kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah ﷺ, dan Masjidil Aqsha.” [Muttafaqun ‘alaihi]

 

[Masaa’il Imam Ibnu Baaz, II/108]

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/301/hukum-melakukan-safar-dalam-rangka-takziyah#sthash.Z2lYDrMR.dpuf

,

SYARAT SAKSI NIKAH

SYARAT SAKSI NIKAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NikahSyari

#MuslimahSholihah

SYARAT SAKSI NIKAH

 

Pertanyaan:

Apakah persyaratan bagi orang yang akan menjadi saksi dalam pernikahan? Apakah sah pernikahannya, apabila saksinya orang yang tidak/ jarang sholat dan non-Muslim?

 

Jawaban:

Alhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

 

Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah menjelaskan, Syarat untuk Saksi Nikah:

  • Berakal,
  • Baligh,
  • Bisa mendengar ucapan orang yang melakukan akad, dan
  • Memahami maksud dari ucapan akad nikah.

Karena itu, jika yang menjadi saksi nikah adalah anak kecil, orang gila, orang tuli, atau orang mabuk, maka nikahnya tidak sah. Karena keberadaan mereka di tempat akad nikah tidak teranggap.

 

Apakah disyaratkan harus Adil?

 

Yang dimaksud Muslim yang adil adalah Muslim yang menjalankan kewajiban, dan tidak melakukan dosa besar atau kebohongan.

 

Pertama, Hanafiyah berpendapat, bahwa sifat adil untuk saksi, bukan syarat. Pernikahan hukumnya sah, meskipun dengan saksi dua orang fasik. Setiap orang yang layak menjadi wali nikah, maka dia layak menjadi saksi. Karena maksud utama adanya saksi adalah pengumuman adanya pernikahan.

 

Kedua, Syafi’iyah dan mayoritas ulama berpendapat, bahwa saksi dalam urusan manusia harus adil. Berdasarkan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi bersabda:

 

لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل

 

“Tidak ada nikah, kecuali dengan wali (wanita) dan dua saksi yang adil.” (HR. At-Thabrani dalam al-Ausath, Ad-Daruquhni, dan dishahihkan al-Albani).

 

Selanjutnya Sayid Sabiq menyimpulkan:

 

Pendapat Hanafiyah lebih kuat. Karena pernikahan berlangsung di masyarakat, di desa, kampung, sementara tidak diketahui status keadilan mereka. Tidak ada jaminan mereka telah lepas dari dosa besar. Sehingga memersyaratkan saksi nikah harus orang yang adil, akan sangat memberatkan. Karena itu, cukup dengan melihat penilaian umum pada saksi, tanpa harus mengetahui detail, apakah dia pernah melakukan dosa besar atau tidak.

 

Kemudian, jika ternyata setelah akad diketahui, bahwa ternyata saksi adalah orang fasik, ini tidak memengaruhi keabsahan akad. Karena penilaian sifat adil dilihat pada keumuman sikapnya, bahwa dirinya bukan orang fasik. Meskipun setelah itu diketahui dia melakukan dosa besar (Fiqhus Sunnah, 2:58).

 

Penjelasan Syaikhul Islam

 

Lain dari penjelasan beliau, Syaikhul Islam menjelaskan, bahwa kriteria adil dalam masalah saksi, kembali pada standar yang ada di masyarakat. Artinya, jika seseorang itu masih dianggap sebagai orang baik-baik di mata masyarakatnya, maka dia layak untuk menjadi saksi, kerena telah memenuhi kriteria adil di masyarakat tersebut, meskipun bisa jadi dia pernah melakukan transaksi riba atau melakukan ghibah. Ini berdasarkan firman Allah:

 

وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ

 

“Ambillah saksi dua orang laki-laki. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka saksi dengan seorang laki-laki dan dua orang wanita, yang kalian relakan (untuk menjadi saksi).” (QS. Al-Baqarah: 282).

 

Setelah menyebutkan ayat ini, Syaikhul Islam mengatakan:

 

يَقْتَضِي أَنَّهُ يُقْبَلُ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ مَنْ رَضُوهُ شَهِيدًا بَيْنَهُمْ وَلَا يُنْظَرُ إلَى عَدَالَتِهِ كَمَا يَكُونُ مَقْبُولًا عَلَيْهِمْ فِيمَا ائْتَمَنُوهُ عَلَيْهِ

 

“Ayat ini menunjukkan, bahwa diterima persaksian dalam masalah hak anak Adam dari orang yang mereka ridai untuk menjadi saksi dalam interaksi di antara mereka, dan tidak harus melihat sifat adilnya. Mereka menerima urusan yang diamanahkan di antara sesama mereka.”

 

Selanjutnya beliau memberikan alasan:

 

وَالْعَدْلُ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ وَطَائِفَةٍ بِحَسَبِهَا فَيَكُونُ الشَّاهِدُ فِي كُلِّ قَوْمٍ مَنْ كَانَ ذَا عَدْلٍ فِيهِمْ وَإِنْ كَانَ لَوْ كَانَ فِي غَيْرِهِمْ لَكَانَ عَدْلُهُ عَلَى وَجْهٍ آخَرَ. وَبِهَذَا يُمْكِنُ الْحُكْمُ بَيْنَ النَّاسِ وَإِلَّا فَلَوْ اُعْتُبِرَ فِي شُهُودِ كُلِّ طَائِفَةٍ أَنْ لَا يَشْهَدَ عَلَيْهِمْ إلَّا مَنْ يَكُونُ قَائِمًا بِأَدَاءِ الْوَاجِبَاتِ وَتَرْكِ الْمُحَرَّمَاتِ كَمَا كَانَ الصَّحَابَةُ لَبَطَلَتْ الشَّهَادَاتُ كُلُّهَا أَوْ غَالِبُهَا.

 

“Kriteria adil dalam setiap waktu, tempat, dan masyarakat berbeda-beda sesuai dengan keadaan mereka. Karena itu, saksi dalam setiap masyarakat adalah orang yang dianggap baik di tengah mereka. Meskipun andaikan di tempat lain, kriteria adil berbeda lagi. Dengan keterangan ini, memungkinkan untuk ditegakkan hukum di tengah masyarakat. Karena jika yang boleh menjadi saksi dalam setiap masyarakat hanyalah orang yang melakukan semua kewajiban syariat dan menjauhi semua yang haram, sebagaimana yang dulu ada di zaman sahabat, tentu syariat persaksian dalam setiap kasus tidak akan berjalan, semuanya atau umumnya.” (al-Fatawa al-Kubro, 5:574)

 

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/14666-syarat-saksi-nikah.html

, ,

APAKAH SHALAT WANITA YANG TIDAK MENUTUP AURAT TIDAK SAH?

APAKAH SHALAT WANITA YANG TIDAK MENUTUP AURAT TIDAK SAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah

APAKAH SHALAT WANITA YANG TIDAK MENUTUP AURAT TIDAK SAH?

Pertanyaan:

Bagaimana hukum shalatnya seorang wanita yang tidak menutupi aurat (tidak memakai busana muslimah) dalam kesehariannya? Apakah shalatnya diterima, sementara dia tidak memenuhi kewajiban menutup aurat?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Tidak menutup aurat termasuk dosa besar, karena Nabi ﷺ mengancam wanita yang berpakaian tetapi telanjang dengan ancaman “Tidak bisa mencium bau Surga“, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Muslim dan yang lainnya.

Apakah shalat wanita yang tidak menutup aurat dihukumi sah dan diterima?

Hukumnya dirinci:

  • Jika wanita ini tidak menutup aurat dilakukan ketika shalat, maka shalatnya batal.
  • Jika dia tidak menutup aurat di luar shalat, namun saat shalat dia menutup aurat, maka shalatnya sah dan dia BERDOSA karena dia tidak menutup auratnya. Sebagaimana orang yang shalat kemudian berbohong, shalatnya sah, namun dia berdosa karena telah berbohong.

Kemudian, terdapat sebuah hadis yang menyatakan:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرَأَةٍ قَدْ حَاضَتْ إِلَّا بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah baligh, kecuali dengan memakai jilbab.” [HR. Ibnu Khuzaimah, 775 dan Al-A’dzami mengatakan sanadnya Shahih].

Makna hadis BUKANLAH ancaman, bahwa wanita yang tidak berjilbab, shalatnya tidak diterima. Namun maksud hadis, bahwa wanita yang sudah baligh, wajib menutup aurat, dengan memakai jilbab, dan semua pakaian yang bisa menutup aurat, KETIKA SHALAT. Karena menutup aurat termasuk syarat sah shalat, sehingga jika dia shalat, tapi kepalanya terbuka (tidak berjilbab), maka shalatnya tidak sah.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/4550-wanita-yang-tidak-menutup-aurat-di-luar-shalat.html

 

,

BEBERAPA ANGGAPAN KELIRU SEPUTAR WUDHU

BEBERAPA ANGGAPAN KELIRU SEPUTAR WUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

BEBERAPA ANGGAPAN KELIRU SEPUTAR WUDHU

  1. Wudhu Tidak Sah Bila Tak Menutup Aurat

ﻳﻈﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﺃﻧﺖ ﻛﺎﺷﻒ ﻋﻮﺭﺗﻚ!

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯ :

ﻟﻴﺲ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﺷﺮﻃًﺎ ﻓﻲ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ

Sebagian orang mengira, tidak diperbolehkan berwudhu dengan aurat yang terbuka.

Jawaban Al Allaamah Ibnu Baz rahimahullah:

“Menutup aurat bukan syarat sah wudhu.” (Fatawa Ibnu Baz,10/101)

  1. Wudhu Tidak Sah Bila Menggunakan Air Merah

ﻳﻈﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺼﺢ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺍﻷﺣﻤﺮ!

ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ : ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺗﻐﻴﺮﻩ ﺑﻐﻴﺮ ﻧﺠﺎﺳﺔ

Sebagian orang mengira, tidak sah wudhu dengan air yang berwarna merah.

Jawaban Al Lajnah Ad Daimah (Lembaga Fatwa Saudi):

“Tidak mengapa menggunakannya, jika perubahan warna tersebut bukan karena najis.” (Al Lajnah Ad Daimah No.6401)

  1. Wudhu Tidak Sah Bila Mendahulukan Bagian Anggota Tubuh yang Kiri

ﻳﻈﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻗﺪﻡ ﻏﺴﻞ ﺃﺣﺪ ﺃﻋﻀﺎﺋﻪ ﺍﻟﻴﺴﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ ﻻ ﻳﺼﺢ ﻭﺿﻮﺀﻩ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ رحمه الله :

ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﺴﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ

ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺳﻨﺔ ﻟﻮ ﺧﺎﻟﻔﻬﺎ ﻓﺎﺗﻪ ﺍﻟﻔﻀﻞ ﻭﺻﺢ ﻭﺿﻮﺀﻩ

Sebagian orang mengira, mendahulukan salah satu anggota wudhu yang kiri sebelum kanan, wudhu nya tidak sah.

Imam Nawawi rahimahullah menjawab:

“Para ulama sepakat, mendahulukan bagian kanan sebelum yang kiri seperti pada dua tangan,  dua kaki ketika wudhu hukumnya sunnah. Meskipun demikian, seseorang yang menyelisihinya akan terluput (pahala) keutamaan. Adapun wudhunya tetap sah.” (Syarh Muslim 3/160)

  1. Mengangkat Jari Ketika Berdoa Setelah Wudhu

ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻷﺻﺒﻊ ﺑﺎﻟﺘﺸﻬﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ :

ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻟﻪ ﺃﺻﻼ

Sebagian orang mengangkat jari-jarinya ketika membaca doa Tasyahud setelah wudhu.

Al Allaamah Ibnu Ustaimin rahimahullah  menjawab:

“Saya tidak mengetahui dasar perbuatan tersebut.” (Fatawa Nur Ala Darb, 8/117)

  1. Wudhunya Batal Jika Menyentuh Najis

ﻭﻳﻈﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻚ ﺍﺫﺍ ﻟﻤﺴﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﺗﺘﻮﺿﺄ ﻣﻦ ﺟﺪﻳﺪ!

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﺍﻟﻮﻁﺀ ﺑﺎﻟﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﻫﻲ ﻻ ﺗﺰﺍﻝ ﺭﻃﺒﺔ ﻻ ﻳﻨﻘﺾ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ، ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻄﻬﺮ ﻣﺎ ﻳﺠﺐ ﺗﻄﻬﻴﺮﻩ

ﺃﻱ : ﻳﻄﻬﺮ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻘﻂ

Sebagian orang mengira, jika engkau menyentuh najis wajib berwudhu lagi.

Al Allaamah Ibnu Utsaimin rahinahullah menjawab:

“Menginjak najis dengan kaki, sementara najis tersebut tetap basah (tidak kering), tidaklah membatalkan wudhu. Yang harus ia lakukan adalah membersihkan apa yang harus dibersihkan, yaitu membersihkan bagian yang terkena najis saja.” (Fatawa Ibn Ustaimin, 52/119)

  1. Mengusap Kaus Kaki Bergambar Makhluk Bernyawa

ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﻤﺴﺢ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺭﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﻣﻦ ﺫﻭﺍﺕ ﺍﻷﺭﻭﺍﺡ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻤﺴﺢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻮﺭﺏ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﺣﻴﻮﺍﻥ

ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺴﺢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻔﻴﻦ ﺭﺧﺼﺔ ﻓﻼ ﺗﺒﺎﺡ ﺑﺎﻟﻤﻌﺼﻴﺔ

Sebagian orang mengusap kaus kaki (saat wudhu), yang terdapat gambar makhluk bernyawa.

Al Allaamah Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Tidak diperbolehkan mengusap  kaus kaki yang termuat gambar hewan. Karena mengusap kaus kaki adalah keringanan, dan tidak diperbolehkan dengan jalan maksiat.”  (Fatawa Ibn Utsaimin,  11/116)

 

Sumber: https://telegram.me/Dawwa_khaier

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com

Sumber: http://wanitasalihah.com/beberapa-anggapan-keliru-seputar-wudhu/

,

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM: HARAM MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM: HARAM MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahTafsir

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM: HARAM MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” [An-Nisa’: 141]

Al-Imam Al-Mufassir Al-Qurthubi rahimahullah berkata:

إن الله سبحانه لا يجعل للكافرين على المؤمنين سبيلا شرعا ؛ فإن وجد فبخلاف الشرع

“Makna ayat ini adalah, sesungguhnya Allah tidak mengizinkan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukminin dalam hukum syariat. Jika terjadi, maka itu menyelisihi syariat.” [Tafsir Al-Qurthubi, 5/419]

Al-Imam Al-Faqih Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

وأن يكون مسلما لأن الله تعالى يقول ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا والخلافة أعظم السبيل

“Syarat pemimpin haruslah seorang Muslim, karena Allah ta’ala berfirman: ‘Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.’ (An-Nisa: 141). Dan kepemimpinan adalah sebesar-besarnya jalan untuk menguasai kaum Mukminin.” [Al-Fishol, 4/128]

Nukilan Kesepakatan Ulama

Imam Besar Mazhab Syafi’i Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah telah menukil ijma’ dari Al-Qodhi ‘Iyadh:

أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل

“Ulama telah sepakat (ijma’), bahwa kepemimpinan tidak sah bagi seorang kafir. Dan jika seorang pemimpin Muslim menjadi kafir, maka harus diselengserkan.” [Syarah Muslim, 12/229]

Disebutkan dalam Ensiklopedi Fikih:

يَشترط الفقهاء للإمام شروطاً ، منها ما هو متّفق عليه ، ومنها ما هو مختلف فيه .

فالمتّفق عليه من شروط الإمامة :

أ. الإسلام ؛ لأنّه شرط في جواز الشّهادة وصحّة الولاية على ما هو دون الإمامة في الأهمّيّة ، قال تعالى : ( ولن يجعل اللّه للكافرين على المؤمنين سبيلاً ) ، والإمامة – كما قال ابن حزمٍ : – أعظم ” السّبيل ” ، وليراعي مصلحة المسلمين” انتهى .

وعليه : فلا يجوز مبايعة الحاكم الكافر

“Para ulama ahli fikih telah menjelaskan syarat-syarat untuk menjadi pemimpin. Ada syarat yang disepakati semua ulama, ada pula yang masih diperselisihkan. Adapun syarat yang disepakati (di antaranya) adalah: Beragama Islam, karena ini adalah syarat bolehnya menjadi saksi dan syarat menjadi wali dalam urusan yang lebih rendah daripada kepemimpinan (maka menjadi pemimpin lebih wajib untuk memenuhi syarat ini). Allah ta’ala berfirman: ‘Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.’ (An-Nisa: 141). Dan kepemimpinan, sebagaimana kata Ibnu Hazm, adalah sebesar-besarnya jalan untuk menguasai kaum Mukminin. Dan juga agar seorang pemimpin memerhatikan kemaslahatan kaum Muslimin (selesai nukilan dari Ibnu Hazm). Maka jelaslah, bahwa tidak boleh mengangkat pemimpin kafir.” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 6/218]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/748702311945920:0

 

Artikel Terkait:

 

AL-MAIDAH: 51 MENURUT AHLI TAFSIR, AHLI BAHASA DAN TERJEMAHAN RESMI DEPAG RI

⛔ Larangan Memilih Pemimpin Kafir dalam Surat Al-Maidah Ayat 51 Sesuai Terjemahan Resmi Depag RI dan Penafsiran Ahli…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2016年10月7日

 

PEMIMPINMU ZALIM…? BERCERMINLAH…!

👉 PEMIMPINMU ZALIM…? BERCERMINLAH…!بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ➡ Allah 'azza wa jalla berfirman,وَكَذ…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年2月8日

,

APA ITU HIZBUT TAHRIR? DAN BAGAIMANA MEREKA?

APA ITU HIZBUT TAHRIR? DAN BAGAIMANA MEREKA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

APA ITU HIZBUT TAHRIR? DAN BAGAIMANA MEREKA?

Bismillah,

Hizbut Tahrir (untuk selanjutnya disebut HT, atau di Indonesia dengan sebutan HTI) telah memroklamirkan diri sebagai kelompok politik (parpol), bukan kelompok yang berdasarkan kerohanian semata, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan (akademis) dan bukan pula lembaga sosial (Mengenal HT, hal. 1). Atas dasar itulah, maka seluruh aktivitas yang dilakukan HT bersifat politik, baik dalam mendidik dan membina umat, dalam aspek pergolakan pemikiran dan dalam perjuangan politik. (Mengenal HT, hal. 16)

Adapun aktivitas dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia, sangatlah mereka ABAIKAN. Bahkan dengan terang-terangan mereka nyatakan: “Demikian pula, dakwah kepada akhlak mulia tidak dapat menghasilkan kebangkitan… Dakwah kepada akhlak mulia bukan dakwah (yang dapat) menyelesaikan problematika utama kaum Muslimin, yaitu menegakkan sistem Khilafah.”(Strategi Dakwah HT, hal. 40-41). Padahal dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia merupakan misi utama para nabi dan rasul.

Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah hanya kepada Allah, dan jauhilah segala Sesembahan selain-Nya’.” (QS. An-Nahl: 36)

Rasulullah ﷺ juga menegaskan:

بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكاَرِمَ اْلأَخْلاَقِ

“Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang bagus.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 45)

Tujuan dan Latar Belakang Hizbut Tahrir

Mewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi merupakan tujuan utama yang melatarbelakangi berdirinya HT dan segala aktivitasnya. Yang dimaksud Khilafah adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin tunggal (Khalifah) yang dibaiat oleh umat. (Lihat Mengenal HT, hal. 2, 54 )

Para pembaca, tahukah Anda apa yang melandasi HT untuk mewujudkan Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi? Landasannya adalah bahwa semua negeri kaum Muslimin dewasa ini, tanpa kecuali, termasuk kategori Darul Kufur (negeri kafir), sekalipun penduduknya kaum Muslimin. Karena dalam kamus HT, yang dimaksud Darul Islam adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam urusan pemerintahan, dan keamanannya berada di tangan kaum Muslimin, sekalipun mayoritas penduduknya bukan Muslim. Sedangkan Darul Kufur adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur dalam seluruh aspek kehidupan, atau keamanannya bukan di tangan kaum Muslimin, sekalipun seluruh penduduknya adalah Muslim. (Lihat Mengenal HT, hal. 79)

Padahal tolok ukur suatu negeri adalah keadaan penduduknya, bukan sistem hukum yang diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yang mendominasi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Keberadaan suatu bumi (negeri) sebagai Darul Kufur, Darul Iman, atau Darul Fasiqin, bukanlah sifat yang kontinu (terus-menerus/langgeng) bagi negeri tersebut, namun hal itu sesuai dengan keadaan penduduknya. Setiap negeri yang penduduknya adalah orang-orang Mukmin lagi bertakwa, maka ketika itu ia sebagai negeri wali-wali Allah. Setiap negeri yang penduduknya orang-orang kafir, maka ketika itu ia sebagai Darul Kufur. Dan setiap negeri yang penduduknya orang-orang fasiq, maka ketika itu ia sebagai Darul Fusuq. Jika penduduknya tidak seperti yang kami sebutkan dan berganti dengan selain mereka, maka ia disesuaikan dengan keadaan penduduknya tersebut.” (Majmu’ Fatawa, 18/282)

Para pembaca, mengapa menurut HT harus satu Khilafah? Jawabannya adalah, karena seluruh sistem pemerintahan yang ada dewasa ini tidak sah dan bukan sistem Islam. Baik itu sistem Kerajaan, Republik Presidentil (Dipimpin Presiden) ataupun Republik Parlementer (Dipimpin Perdana Menteri). Sehingga merupakan suatu kewajiban menjadikan Daulah Islam hanya satu negara (Khilafah), bukan negara serikat yang terdiri dari banyak negara bagian (Lihat Mengenal HT, hal. 49-55).

Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan, bahwa pada asalnya Daulah Islam hanya satu negara (Khilafah) dan satu Khalifah. Namun jika tidak memungkinkan, maka tidak mengapa berbilangnya kekuasaan dan pimpinan.

– Al-’Allamah Ibnul Azraq Al-Maliki, Qadhi Al-Quds (di masanya) berkata:

“Sesungguhnya persyaratan bahwa kaum Muslimin (di dunia ini) harus dipimpin oleh seorang pemimpin semata, bukanlah suatu keharusan, bila memang tidak memungkinkan.” (Mu’amalatul Hukkam, hal. 37)

– Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:

“Para imam dari setiap madzhab bersepakat, bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri, maka posisinya seperti imam (Khalifah) dalam segala hal. Kalaulah tidak demikian, maka (urusan) dunia ini tidak akan tegak, karena kaum Muslimin sejak kurun waktu yang lama sebelum Al-Imam Ahmad sampai hari ini, tidak berada di bawah kepemimpinan seorang pemimpin semata.” (Mu’amalatul Hukkam, hal. 34)

– Al-Imam Asy-Syaukani berkata:

“Adapun setelah tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan, maka dimaklumilah, bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang imam atau penguasa yang menguasainya, demikian pula halnya daerah yang lain. Perintah dan larangan sebagian penguasa pun tidak berlaku pada daerah kekuasaan penguasa yang lainnya. Oleh karenanya (dalam kondisi seperti itu -pen), tidak mengapa berbilangnya pimpinan dan penguasa bagi kaum Muslimin (di daerah kekuasaan masing-masing -pen). Dan wajib bagi penduduk negeri yang terlaksana padanya perintah dan larangan (aturan -pen) pimpinan tersebut untuk menaatinya.” (As-Sailul Jarrar, 4/512)

– Demikian pula yang dijelaskan Al-Imam Ash-Shan’ani, sebagaimana dalam Subulus Salam (3/347), cet. Darul Hadis.

Kapan Hizbut Tahrir Didirikan?

Kelompok sempalan ini didirikan di kota Al-Quds (Yerusalem) pada tahun 1372 H (1953 M) oleh seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo (Mesir) yang berakidah Maturidiyyah [Menolak sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala dengan ta`wil, kecuali beberapa sifat saja] dalam masalah Asma` dan Sifat Allah, dan berpandangan Mu’tazilah dalam sekian permasalahan agama. Dia adalah Taqiyuddin An-Nabhani, warga Palestina yang dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909. Markas tertua mereka berada di Yordania, Syiria dan Lebanon (Lihat Mengenal HT, hal. 22, Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 135, dan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 2, Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Dimasyqi). Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya, lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?! Wallahul musta’an.

Landasan Berpikir Hizbut Tahrir

Landasan berpikir HT adalah Alquran dan As Sunnah, namun dengan pemahaman kelompok sesat Mu’tazilah; BUKAN dengan pemahaman Rasulullah ﷺ dan para shahabatnya. Mengedepankan akal dalam memahami agama, dan menolak Hadis Ahad dalam masalah akidah, merupakan ciri khas keagamaan mereka. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila ahli hadis zaman ini, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menjuluki mereka dengan Al-Mu’tazilah Al-Judud (Mu’tazilah Gaya Baru).

Padahal jauh-jauh hari, shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu telah berkata:

“Kalaulah agama ini tolok ukurnya adalah akal, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku telah melihat Nabi ﷺ mengusap pungggung khufnya.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 162, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Demikian pula mereka menolak Hadis Ahad dalam masalah akidah, berarti telah menolak sekian banyak akidah Islam yang telah ditetapkan oleh ulama kaum Muslimin. Di antaranya adalah: Keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ atas para nabi, syafaat Rasulullah ﷺ untuk umat manusia dan untuk para pelaku dosa besar dari umatnya di Hari Kiamat, adanya siksa kubur, adanya Jembatan (Ash-Shirath), telaga dan timbangan amal di Hari Kiamat, munculnya Dajjal, munculnya Al-Imam Mahdi, turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam di akhir zaman, dan lain sebagainya.

Adapun dalam masalah fikih, akal dan rasiolah yang menjadi landasan. Maka dari itu HT memunyai sekian banyak fatwa nyeleneh. Di antaranya adalah:

– Boleh mencium wanita non Muslim,

– Boleh melihat gambar porno,

– Boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram,

– Boleh bagi wanita menjadi anggota dewan syura mereka,

– Boleh mengeluarkan jizyah (upeti) untuk negeri kafir,

– dan lain sebagainya. (Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 139-140)

Langkah Operasional untuk Meraih Khilafah menurut Hizbut Tahrir

Bagi HT, Khilafah adalah segala-galanya. Untuk meraih Khilafah tersebut, HT menetapkan tiga langkah operasional berikut ini:

  1. Mendirikan Partai Politik

Dengan merujuk Surat Ali ‘Imran ayat 104, HT berkeyakinan wajibnya mendirikan partai politik. Untuk mendirikannya maka harus ditempuh tahapan pembinaan dan pengaderan (Marhalah At-Tatsqif) (Lihat Mengenal HT hal. 3). Pada tahapan ini perhatian HT tidaklah dipusatkan kepada pembinaan tauhid dan akhlak mulia. Akan tetapi mereka memusatkannya kepada pembinaan kerangka Hizb (partai), memerbanyak pendukung dan pengikut, serta membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah dengan tsaqafah (materi pembinaan) Hizb secara intensif, hingga akhirnya berhasil membentuk partai. (Lihat Mengenal HT hal. 22, 23)

Adapun pendalilan mereka dengan Surat Ali ‘Imran ayat 104 tentang wajibnya mendirikan partai politik, maka merupakan pendalilan yang JAUH DARI KEBENARAN. Adakah di antara para shahabat Rasulullah ﷺ, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in dan para imam setelah mereka yang berpendapat demikian?! Kalaulah itu benar, pasti mereka telah mengatakannya dan saling berlomba untuk mendirikan parpol! Namun kenyataannya mereka tidak seperti itu. Apakah HT lebih mengerti tentang ayat tersebut daripada mereka?!

Cukup menunjukkan batilnya pendalilan ini adalah bahwa parpol terbangun di atas asas demokrasi, yang amat bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana ayat ini dipakai untuk melegitimasi sesuatu yang bertolak belakang dengan makna yang dikandung ayat? Wallahu a’lam.

  1. Berinteraksi dengan Umat (Masyarakat)

Berinteraksi dengan umat (Tafa’ul Ma’al Ummah) merupakan tahapan yang harus ditempuh setelah berdirinya partai politik dan berhasil dalam tahapan pembinaan dan pengaderan. Pada tahapan ini, sasaran interaksinya ada empat:

– Pertama: Pengikut Hizb, dengan mengadakan pembinaan intensif agar mampu mengemban dakwah, mengarungi medan kehidupan dengan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik (Lihat Mengenal HT, hal. 24). Pembinaan intensif di sini tidak lain adalah doktrin ‘ashabiyyah (fanatisme) dan loyalitas terhadap HT.

-Kedua: Masyarakat, dengan mengadakan pembinaan kolektif/umum yang disampaikan kepada umat Islam secara umum, berupa ide-ide dan hukum-hukum Islam yang diadopsi oleh Hizb. Dan menyerang sekuat-kuatnya seluruh bentuk interaksi antar anggota masyarakat, tak luput pula interaksi antara masyarakat dengan penguasanya. Taqiyuddin An-Nabhani berkata: “Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antar sesama anggota masyarakat dalam rangka memengaruhi masyarakat tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya, dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.” (Lihat Mengenal HT, hal. 24, Terjun ke Masyarakat, hal. 7)

Betapa ironisnya, Rasulullah ﷺ memerintahkan kita agar menjadi masyarakat yang bersaudara dan taat kepada penguasa, sementara HT justru sebaliknya. Mereka memecah belah umat dan memorakporandakan kekuatannya. Lebih parah lagi, bila hal itu dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu gerakan sebagaimana yang dinyatakan pendiri mereka: “Keberhasilan gerakan diukur dengan kemampuannya untuk membangkitkan rasa ketidakpuasan (kemarahan) rakyat, dan kemampuannya untuk mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu, setiap kali mereka melihat penguasa atau rezim yang ada menyinggung ideologi, atau memermainkan ideologi itu sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu penguasa.” (Pembentukan Partai Politik Islam, hal. 35-36)

– Ketiga: Negara-negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi negeri-negeri Islam, dengan berjuang menghadapi segala bentuk makar mereka (Lihat Mengenal HT, hal. 25).

Demikianlah yang mereka munculkan. Namun kenyataannya, di dalam upaya penggulingan para penguasa kaum Muslimin, tak segan-segan mereka meminta bantuan kepada orang-orang kafir dan meminta perlindungan dari negara-negara kafir. (Lihat Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 5)

– Keempat: Para penguasa di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam lainnya, dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian. Menentang mereka, mengungkapkan pengkhianatan, dan persekongkolan mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap mereka, serta berusaha menggantinya apabila hak-hak umat dilanggar, atau tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, yaitu bila melalaikan salah satu urusan umat, atau mereka menyalahi hukum-hukum islam. (Terjun Ke Masyarakat, hal. 7, Mengenal HT, hal. 16,17).

Para pembaca, inilah hakikat manhaj Khawarij yang diperingatkan Rasulullah ﷺ. Tidakkah diketahui, bahwa Rasulullah ﷺ menjuluki mereka dengan “SEJAHAT-JAHAT MAKHLUK” dan “ANJING-ANJING PENDUDUK NERAKA”! Semakin parah lagi di saat mereka tambah berkomentar: “Bahkan inilah bagian terpenting dalam aktivitas amar ma’ruf nahi munkar.” (Mengenal HT, hal. 3)

Tidakkah mereka merenungkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Akan ada sepeninggalku, para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku, dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut, orang-orang yang berhati setan dalam bentuk manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah ﷺ bersabda (artinya): “Hendaknya engkau MENDENGAR dan MENAATI PENGUASA tersebut! Walaupun dicambuk punggungmu dan dirampas hartamu, maka (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman a, 3/1476, no. 1847)?!

Demikian pula, tidakkah mereka renungkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa ingin menasihati penguasa tentang suatu perkara, maka janganlah secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi. Jika ia menerima nasihat tersebut, maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak menerimanya, maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya (dalam menasihatinya).” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim, dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin radhiallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, hadis no. 1096)?!

Namun sangat disayangkan, HT tetap menunjukkan sikap kepala batunya, sebagaimana yang mereka nyatakan: “Sikap HT dalam menentang para penguasa adalah menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan, menyerang dan menentang. Tidak dengan cara nifaq (berpura-pura), menjilat, bermanis muka dengan mereka, simpang siur ataupun berbelok-belok, dan tidak pula dengan cara mengutamakan jalan yang lebih selamat. Hizb juga berjuang secara politik tanpa melihat lagi hasil yang akan dicapai dan tidak terpengaruh oleh kondisi yang ada.” (Mengenal HT, hal. 26-27)

Mereka gembar-gemborkan slogan “Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kata-kata haq di hadapan penguasa yang zalim.” Namun sayang sekali mereka TIDAK BISA memahaminya dengan baik. Buktinya, mereka mencerca para penguasa di mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan. Padahal kandungan kata-kata tersebut adalah menyampaikan nasihat “di hadapan” sang penguasa, bukan di mimbar-mimbar dan lain sebagainya. Tidakkah mereka mengamalkan wasiat Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan shahabat ‘Iyadh bin Ghunmin di atas?! Dan JANGAN terkecoh dengan ucapan mereka: “Meskipun demikian, Hizb telah membatasi aktivitasnya dalam aspek politik tanpa menempuh cara-cara kekerasan (perjuangan bersenjata), dalam menentang para penguasa, maupun orang-orang yang menghalangi dakwahnya.” (Mengenal HT, hal. 28). Karena mereka pun akan menempuh cara tersebut pada tahapannya (tahapan akhir).

  1. Pengambilalihan Kekuasaan (Istilaamul Hukmi)

Tahapan ini merupakan puncak dan tujuan akhir dari segala aktivitas HT. Dengan tegasnya Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan: “Hanya saja setiap orang maupun syabab (pemuda) Hizb harus mengetahui, bahwasanya Hizb bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan secara praktis, dari tangan seluruh kelompok yang berkuasa, bukan dari tangan para penguasa yang ada sekarang saja. Hizb bertujuan untuk mengambil kekuasaan yang ada dalam negara dengan menyerang seluruh bentuk interaksi penguasa dengan umat, kemudian dijadikannya kekuasaan tadi sebagai Daulah Islamiyyah.” (Terjun ke Masyarakat, hal. 22-23)

Dalam tahapan ini, ada dua cara yang harus ditempuh:

1) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Islam, di mana sistem hukum Islam ditegakkan, tetapi penguasanya menerapkan hukum-hukum kufur, maka caranya adalah melawan penguasa tersebut dengan mengangkat senjata.

2) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Kufur, di mana sistem hukum Islam tidak diterapkan, maka caranya adalah dengan Thalabun Nushrah (meminta bantuan) kepada mereka yang memiliki kemampuan (kekuatan). (Lihat Strategi Dakwah HT, hal. 38, 39, 72)

Subhanallah! Lagi-lagi prinsip Khawarij si “SEJAHAT-JAHAT MAKHLUK” dan “ANJING-ANJING PENDUDUK NERAKA” yang mereka tempuh. Wahai HT, ambillah pelajaran dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini:

“Bahwasanya Nabi ﷺ mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujud melalui pengingkaran tersebut suatu kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ. Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar darinya, dan lebih dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ, maka TIDAK BOLEH dilakukan, walaupun Allah subhanahu wa ta’ala membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya. Hal ini seperti pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara MEMBERONTAK. Sungguh yang demikian itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir masa… Dan barang siapa merenungkan apa yang terjadi pada (umat) Islam dalam berbagai fitnah yang besar maupun yang kecil, niscaya akan melihat, bahwa penyebabnya adalah mengabaikan prinsip ini, dan tidak sabar atas kemungkaran, sehingga berusaha untuk menghilangkannya, namun akhirnya justru muncul kemungkaran yang lebih besar darinya.” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/6)

Mungkin HT berdalih, bahwa semua penguasa itu kafir, karena menerapkan hukum selain hukum Allah. Kita katakana, bahwa tidaklah semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah: “Barang siapa berhukum dengan selain hukum Allah, maka tidak keluar dari empat keadaan:

  1. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
  2. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama/sederajat dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
  3. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini dan berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,” maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.
  4. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini,” namun dia dalam keadaan yakin, bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan, bahwasanya berhukum dengan syariat Islam lebih utama, dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman, dan teranggap sebagai dosa besar. (At-Tahdzir Minattasarru’ Fittakfir, Muhammad Al-’Uraini hal. 21-22)

Demikian pula, kalaulah sang penguasa itu terbukti melakukan kekufuran, maka yang harus ditempuh terlebih dahulu adalah penegakan hujjah dan nasihat kepadanya, BUKAN PEMBERONTAKAN.

Adapun dalih mereka dengan hadis Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu:

قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لا، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ.

Lalu dikatakan kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah! Bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau ﷺ bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian!” (HR. Muslim, 3/1481, no. 1855)

Bahwa “Mendirikan shalat di tengah-tengah kalian” adalah kinayah dari menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, sehingga, menurut HT, walaupun seorang penguasa mendirikan shalat, namun dinilai belum menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, maka dianggap kafir dan boleh untuk digulingkan! Ini adalah pemahaman SESAT dan MENYESATKAN.

Para pembaca, tahukah Anda dari mana ta‘wil semacam itu? Masih ingatkah dengan landasan berpikir mereka? Ya, ta`wil itu tidak lain dari akal mereka semata… Bukan dari bimbingan para ulama.

Wallahul musta’an.

Akhir kata, demikianlah gambaran ringkas tentang HT dan selubung sesatnya tentang Khilafah. Semoga menjadi titian jalan untuk meraih petunjuk Ilahi. Aamiin.

 

Sumber:

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=287

http://abuayaz.blogspot.ca/2011/03/apa-itu-hizbut-tahrir-dan-bagaimana.html

,

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APAKAH MASJID HARUS DI TANAH WAKAF?

Pertanyaan:

Apakah masjid harus di tanah wakaf? Bolehkah shalat di masjid yang bukan wakaf? Kalau jual beli di masjid yang bukan wakaf bolehkah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada dua hal yang perlu kita bedakan:

Pertama, kapan sebuah gedung dan bangunan bisa dimanfaatkan untuk shalat jamaah?

Mayoritas ulama berpendapat bolehnya menyewakan ruangan untuk dijadikan masjid. Ini merupakan Madzhab Syafiiyah, Malikiyah, dan Hambali. Sementara Abu Hanifah berpendapat, bahwa itu tidak  sah.

Ibnu Qudamah mengatakan:

ويجوز استئجار دار يتخذها مسجداً يصلي فيه وبه قال مالك والشافعي وقال أبو حنيفة لا تصح لأن فعل الصلاة لا يجوز استحقاقه بعقد إجارة بحال فلا تجوز الإجارة لذلك، ولنا أن هذه منفعة مباحة يمكن استيفاؤها من العين مع بقائها فجاز استئجار العين لها

Boleh menyewakan ruang untuk dijadikan masjid sebagai tempat shalat. Ini merupakan pendapat Imam Malik, dan as-Syafii. Sementara Abu Hanifah mengatakan, shalatnya tidak sah. Karena amalan shalat tidak bisa dimiliki melalui akad sewa, sehingga tidak boleh ada akad sewa untuk hal ini. Dan menurut pendapat kami, bahwa gedung yang manfaatnya mubah ini memungkinkan untuk dikembalikan utuh, sehingga boleh saja disewakan untuk dijadikan tempat shalat. (al-Mughni, 6/143).

Apakah masjid dari gedung sewa, berlaku semua hukum masjid?

Dalam Fatwa Syabahakh dinyatakan:

أحكام المسجد لا تكون إلا إذا كان المسجد وقفا ، فقد نص الفقهاء على أن من بنى مسجدا وصلى فيه ولم يوقفه فإنه لا يأخذ حكم المسجد حتى يوقفه

Hukum masjid tidak berlaku, kecuali jika bangunan masjid itu telah diwakafkan. Para ulama telah menegaskan, bahwa orang yang membangun masjid dan shalat di sana, sementara belum diwakafkan, maka tidak berlaku hukum masjid, sampai diwakafkan. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 3752)

Dalam Asna al-Mathalib – kitab Fiqh Madzhab Syafii – dinyatakan:

أما كونه وقفا بذلك فصريح لا يحتاج إلى نية؛ لا إن بنى بناء ولو على هيئة المسجد وقال ( أذنت في الصلاة فيه ) فلا يصير بذلك مسجدا

Jika bentuknya wakaf dengan pernyataan itu, maka jelas, sehingga tidak perlu niat. Tidak termasuk, ketika ada orang yang membangun bangunan seperti bentuk masjid, lalu dia mengatakan: ‘Aku izikan untuk shalat di sini.’ Maka tidak menjadi masjid dengan pernyataan in (karena belum dinyatakan wakaf). (Asna al-Mathalib, 12/446).

Alasan bahwa masjid harus di tanah wakaf, karena ketika masjid sudah diwakafkan, maka tidak akan berubah menjadi tempat lainnya. Sehingga tidak ada istilah, saat ini masjid, besok berubah menjadi rumah atau toko.

Bisakah gedung yang disewa untuk masjid, diwakafkan sementara?

Ini kembali kepada pembahan hukum wakaf manfaat dan terkait penjelasan ulama mengenai ada tidaknya syarat takbid (permanen) untuk wakaf.

Jumhur ulama mengatakan, wakaf harus takbid (permanen), sehingga tidak ada istilah wakaf sementara.

Sementara Malikiyah mengatakan, boleh wakaf dalam bentuk manfaat sesuatu dan tidak disyaratkan harus permanen. Dan ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hukum wakaf sementara. Jawaban beliau:

يجوز أن يقف البناء الذي بناه في الأرض المستأجرة سواء وقفه مسجدا أو غير مسجد ولا يسقط ذلك حق أهل الأرض، فإنه متى انقضت مدة الإجارة، وانهدم البناء زال حكم الوقف، سواء كان مسجدا أو غير مسجد

Boleh wakaf bangunan yang dibangun di atas tanah sewa, baik wakaf untuk masjid maupun selain masjid. Dan hak kepemilikan tanah tidak menjadi gugur. Karena ketika masa sewa telah habis, dan bangunan sudah dirobohkan, status wakaf menjadi tidak berlaku, baik masjid maupun untuk selain masjid. (al-Fatawa al-Kubro, 4/236)

Pendapat ini juga yang menjadi pegangan mayoritas ulama kontemporer dan keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami.

Ketika masjid itu belum diwakafkan, bolehkah jual beli di dalamnya?

Latar belakang terbesar mengenai larangan jual beli di masjid adalah hal itu bisa melalaikan orang untuk berzikir, mengingat Allah, dan beribadah.

Allah berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. an-Nur: 37).

Karena itu, sekalipun bangunan itu tidak berstatus sebagai masjid, tidak selayaknya berjualan di sana.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai ruko yang dijadikan mushola.  Beliau menegaskan:

هذا ليس له حكم المسجد ، هذا مصلى بدليل أنه مملوك للغير وأن مالكه له أن يبيعه ، فهو مصلى وليس مسجدا فلا تثبت له أحكام المسجد

Tempat ini tidak berlaku hukum masjid. Ini mushola. Dengan bukti, bangunan ini milik orang tertentu, dan pemiliknya bisa menjualnya. Sehingga dia mushola dan bukan masjid, karena itu tidak berlaku hukum masjid.

Lalu ada yang bertanya:

Bolehkah ada jualan buku-buku kecil atau promosi dagangan di tempat semacam ini?

Jawab beliau:

أرى أنه لا يليق حتى بالمصلى ، لأن هذا يلهي عن ذكر الله ، ويوجب التشويش على من يصلي فيه

Menurutku, tidak selayaknya itu dilakukan, meskipun itu hanya mushola. Karena ini melalaikan orang dari berzikir kepada Allah, dan mengganggu orang yang shalat di dalamnya.  (Fatwa Islam, no. 4399)

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28950-apakah-masjid-harus-di-tanah-wakaf.html

, ,

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

Pertanyaan:

Apakah yang harus dilakukan dengan pakaian yang terkena air rembesan (dari kemaluan) sebanyak seperempat dari satu tetes, saat kita sedang shalat? Apakah harus diganti dan cuci, atau adakah sikap lain yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Jika keluar atau tidaknya air kencing tersebut hanya merupakan was-was atau keragu-raguan, hanya perasaan, dan tidak ada buktinya, atau mungkin memang keluar tetapi hanya seperempat dari satu tetes (seperti yang ditanyakan), maka hal semacam ini tidaklah membatalkan wudhu, dan tidak pula membatalkan shalat atau thawaf. Ini hanyalah was-was setan untuk menggoda anak Adam agar ibadahnya rusak.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فًأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخْرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لاَ فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدُ رِيْحًا

“Apabila salah seorang di antara kamu menjumpai sesuatu di perutnya, sedangkan dia ragu-ragu apakah sesuatu itu keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari mesjid (shalat), sehingga dia mendengar suara atau mencium baunya.” (Hr. Muslim: 805)

Al-‘Allamah Ibnu Baz ditanya: “Seusai saya buang air kecil dan berhenti kencing, maka tidak lama setelah saya bercebok, kemaluan saya bergerak dan terasa ada sesuatu yang keluar. Peristiwa ini sudah lama dan tidak bisa sembuh, tetapi hanya keluar air beberapa tetes sesudah kencing.

Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya mencukupkan diri dengan wudhu yang pertama, lalu saya bersihkan kemaluan saya, kemudian saya sempurnakan wudhu, ataukah saya harus menunggu sampai selesai kencing? Mohon penjelasannya.”

Beliau menjawab: “Perkara ini bisa terjadi karena was-was atau ragu-ragu. Ini berasal dari setan, dan kadangkala memang terjadi betul.

Jika ternyata benar-benar terjadi, maka jangan terburu-buru sehingga selesai kencing, lalu membasuh kemaluan dengan air, dan ini sudah cukup.

Jika dikhawatirkan bahwa air kencing akan keluar lagi, setelah berwudhu hendaknya menyiram di sekeliling kemaluan. Selanjutnya, jika terasa ada sesuatu yang keluar setelah itu, hendaklah dipahami bahwa yang keluar itu adalah sisa air yang disiramkan tadi, karena ada dalil dari sunnah, bahwa hendaknya kita meninggalkan was-was setan. Orang Mukmin tidak perlu memerhatikan was-was setan ini, karena begitulah pekerjaan setan. Setan selalu berusaha merusak ibadah anak Adam, baik ketika shalat atau ibadah lainnya.” (Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Maqakah Mutanawwi’ah, Ibnu Baz: 10/123)

Jawaban beliau ini sudah jelas sekali. Anda tidak perlu memerhatikan perasaan was-was ini. Serta, bila Anda khawatir air menetes pada celana dalam Anda, maka alasilah di bawah kemaluan Anda dengan kain setelah Anda bercebok, sampai nantinya Anda akan kencing lagi. Anda tidak perlu bercebok setiap ada perasaan was-was bahwa air kencing merembes, dan Anda pun tak perlu mengganti celana.

 

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi 10, tahun ke-4, 1426 H.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/1988-pakaian-terkena-kencing.html

 

Catatan Tambahan:

Di Antara Adab Ketika Buang Hajat adalah:

Memerciki kemaluan dan celana dengan air setelah kencing untuk menghilangkan was-was. Ibnu ‘Abbas mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ

“Nabi ﷺ berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.”[HR. Ad Darimi no. 711. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
Jika tidak mendapati batu untuk istinja’, maka bisa digantikan dengan benda lainnya, asalkan memenuhi tiga syarat:

[1] Benda tersebut suci,

[2] Bisa menghilangkan najis, dan

[3] Bukan barang berharga seperti uang atau makanan [Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 34]. Sehingga dari syarat-syarat ini, batu boleh digantikan dengan tisu yang khusus untuk membersihkan kotoran setelah buang hajat.

Sumber: https://rumaysho.com/1034-10-adab-ketika-buang-hajat.html

,

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

#SifatSholatNabi

JIKA IMAM BATAL KETIKA SUJUD

Pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan imam, jika dia batal dalam posisi sujud? Makmum kan tidak melihat dia pergi.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ketika imam batal wudhu dalam posisi sujud, ada beberapa proses yang bisa dilakukan:

  1. Imam yang batal langsung bangkit diam-diam, tanpa membaca takbir intiqal, karena dia sudah batal.
  2. Kemudian dia tepuk salah satu jamaah yang berada di belakangnya untuk menggantikan dirinya jadi imam.
  3. Selanjutnya, imam yang baru ini bertakbir bangkit dari sujud, tetap di shaf pertama (posisi semula).
  4. Setelah berdiri, dia bisa maju menggantikan posisi imam, kemudian menyelesaikan shalat.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya: ‘Apa yang harus dilakukan apabila imam batal wudhunya dalam posisi sujud?’

Jawab beliau:

العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة ، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة

Yang harus dia lakukan dalam kondisi ini, dia harus membatalkan shalat, lalu menyuruh salah satu makmum yang berada di belakangnya untuk melanjutkan shalat jamaah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/154).

Jika imam lupa atau tidak tahu, sehingga tidak langsung membatalkan, namun dia bangkit dengan membaca takbir, padahal dia sudah batal, kemudian diikuti makmum, maka SHALAT MAKMUM TETAP SAH. Dalam dalam kasus ini ada udzur untuk makmum.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan:

وإذا حصل للإمام سبب الاستخلاف في ركوع أو سجود فإنه يستخلف، كما يستخلف في القيام وغيره، ويرفع بهم من السجود الخليفة بالتكبير  ويرفع الإمام رأسه بلا تكبير؛ لئلا يقتدوا به، ولا تبطل صلاة المأمومين إن رفعوا رءوسهم برفعه

Jika ada sebab yang mengharuskan imam harus diganti dalam posisi rukuk atau sujud, maka imam bisa langsung menunjuk pengganti, sebagaimana yang biasa dilakukan dalam posisi berdiri. Kemudian imam pengganti mengangkat kepalanya dari sujud dengan mengeraskan takbir intiqal. Sementara imam yang batal, tidak boleh membaca takbir ketika bangkit, agar makmum tidak mengikutinya. Meskipun shalat makmum tetap sah jika dia bangkit, karena mengikuti takbir imam. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 3/253).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24332-jika-imam-batal-ketika-sujud.html

TERORISME DAN PAHAM KHAWARIJ

TERORISME DAN PAHAM KHAWARIJ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

TERORISME DAN PAHAM KHAWARIJ

Oleh: Asy Syaikh DR. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi Al-Harbi

(Diringkas dan ditranskrip oleh Abu Hamzah)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada yang tidak ada nabi setelahnya … Waba’du.

Allah tabaraka wa ta’ala telah memuliakan kita dengan kemuliaan yang agung, berupa pengutusan Nabi-Nya ﷺ, sehingga Allah keluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya. Allah muliakan kita setelah kehinaan, dan Allah satukan kita setelah perpecahan. Bahkan Allah jadikan kita bersaudara, berkasih sayang dan bersatu padu, tak ada kelebihan bagi seseorang atas yang lainnya, kecuali takwa. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujuraat: 13).

Allah juga berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103).

Kaum Muslimin hidup dalam kenikmatan yang agung, dan mereka pun berbahagia dengannya pada masa Nabi ﷺ, sampai munculnya benih-benih perselisihan, yaitu ketika Abdullah bin Saba dan para pengikutnya merongrong pemerintahan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu (inilah ciri khas kelompok Khawarij sepanjang sejarah, yakni menentang pemerintahan yang sah, -pent.).

Cikal bakal munculnya Khawarij pun telah ada sebelumnya, saat penentangan yang dilakukan Dzul Khuwaisiroh At-Tamimiy, atas pembagian ghanimah yang dilakukan oleh Nabi ﷺ pada hari perang Hunain, di mana Dzul Khuwaisiroh berkata: “Adil-lah hai Muhammad, karena engkau belum adil”. Dia juga mengatakan, bahwa pembagian itu tidak di atas keridaan Allah. Kemudian Nabi ﷺ menjawab: “Celaka! Siapa yang akan berbuat ‘adil, jika aku tidak ‘adil. Tidakkah kalian percaya kepadaku, sedang aku dipercaya oleh Yang Di Langit.”

Tatkala Umar hendak membunuhnya, Nabi ﷺ melarangnya seraya berkata: “Tahan! Sungguh akan keluar dari turunannya orang ini, suatu kaum yang kalian merasa shalat kalian itu rendah, bila dibanding shalatnya mereka, demikian pula shaum kalian, bila dibanding shaum mereka. Mereka kaum yang senantiasa membaca Alquran, namun tidak sampai tenggorokannya. Mereka keluar dari agama, seperti keluarnya anak panah dari bagian tubuh hewan buruan yang telah dibidik bagian tubuh lainnya.”

Arus perselisihan kian memanas dengan semaraknya hizb (kelompok) pembangkang yang menghembuskan gelombang fitnah. Perpecahan dan tikaman terhadap Islam pun semakin tajam. Khawarij itulah biang keladinya. Mereka memerangi sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, menghalalkan darah kaum Muslimin dan hartanya, dan menyamarkan jalan yang lurus, serta memerangi Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Maka Ali radhiyallahu ‘anhu segera membungkam fitnahnya, memerangi mereka, bahkan Dzul Khuwaisiroh pun terbunuh. Kemudian mereka merencanakan untuk membunuh sejumlah para sahabat, hingga Ali radhiyallahu ‘anhu pun berhasil mereka bunuh.

Fitnahnya (Khawarij) terus membara. Kadang terang-terangan, kadang juga sembunyi-sembunyi, sampai hari ini, dan sampai yang paling akhirnya akan keluar bersamaan dengan Dajjal, seperti yang diberitakan oleh Nabi ﷺ.

Akhir-akhir ini muncul kembali suara-suara, artikel-artikel dan seruan-seruan dari orang-orang yang picik akalnya, mengajak kepada perpecahan di dalam tubuh umat. Mengajak keluar dari kesatuan yang hakiki dan masuk ke dalam jamaah yang terkotak-kotak. Menyeru kepada sikap ekstrim dan berlebih-lebihan dengan slogan-slogan yang menyilaukan, hingga mencerai-beraikan barisan umat. Mmemrovokasi para pemuda dengan segala macam cara, melalui doktrin-doktrin pemikiran Khawarij.

Orang-orang yang berpemikiran Khawarij ini menyebarkan kebatilannya dengan menempuh beberapa cara, di antaranya:

  1. Meremehkan dakwah kepada tauhid, dengan alasan, urusan akidah telah diketahui banyak orang, dan mungkin dapat memahaminya dalam jangka sepuluh menit. Lebih dari itu, mereka pun enggan untuk mendakwahkan akidah yang benar, dengan sangkaan akan memecah belah umat.
  1. Mencela ulama umat, merendahkan ilmunya, dan memalingkan pendengarannya dari para ulama, dengan dalih mereka tidak paham kondisi, dan bukan ahlinya untuk menyelesaikan problema umat dan mengemban urusan-urusannya (sering sekali mereka mengatakan, ulama tidak paham trik-trik politik, atau ulama hanya sibuk dengan tumpukan-tumpukan kitab, -pent)
  1. Menjauhkan para pemuda dari ilmu yang syari yang berlandaskan Kitab dan Sunnah, serta menyibukkan mereka dengan nasyid-nasyid provokasi yang disebar di sana sini lewat media elektronik yang dibaca, dilihat ataupun didengar.
  1. Meremehkan keberadaan Wulatul Umur/Pemerintah dan menjelaskan ‘aib-aibnya di atas mimbar atau lewat tindakan-tindakan yang meresahkan, serta menakwil nash-nash yang ditujukan untuk taat terhadap Waliyyul Amri/Pemerintah, bahwa nash-nash tersebut untuk Imamul A’dhom yakni khalifah kaum Muslimin seluruhnya.

(Mereka lupa atau pura-pura lupa, dengan apa yang telah menjadi konsensus ulama, bahwa dalam keadaan berbilangnya wilayah-wilayah Islam, maka setiap wilayah itu punya hak dan kewajiban-kewajibannya terhadap penguasanya. Karena itu wajib untuk taat dalam hal yang ma’ruf, dan haram untuk memberontaknya, selama menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah umat).

  1. Menghadirkan para pemikir yang berpemahaman Khawarij, lalu mengumpulkan para pemuda dalam satu halaqoh, mencuci otak mereka dalam pertemuan tertutup, menjauhkan para pemuda dari ulamanya dan dari pemerintahnya, serta mengikatkan mereka dengan tokoh-tokoh, yang mana pemberontakan dan pengafiran menjadi jalan pikirannya.
  1. Mengajak untuk berjihad, yang dalam pandangan mereka adalah menghalalkan darah kaum Muslimin dan hartanya, memrovokasi untuk membuat pengrusakan dan pengeboman (di sejumlah tempat), dengan anggapan, bahwa negeri Muslimin adalah negeri kafir (alasan mereka meng-klaim demikian, karena hukum pemerintahan yang diberlakukannya bukan hukum Islam). (Ini jelas pemahaman yang keliru dan membahayakan, -pent). Karena itu menurut mereka, negeri Muslimin yang demikian keadaannya adalah negeri jihad, negeri perang.

Mereka tanamkan pemikirannya ini lewat sebagian nasyid-nasyid. Bahkan sampai pada tahap melatih para pemuda menggunakan segala macam jenis senjata di tempat-tempat yang jauh dari penglihatan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. (Benarlah sabda Nabi ﷺ yang menyebutkan, kalau mereka itu memerangi Ahlil Islam dan membiarkan Ahlil Autsaan/Musyrikin. HR. Muslim 4/389 no. 1064. Ibnu Umar berkata: “Mereka bertolak dari ayat-ayat yang diturunkan untuk orang-orang kafir lalu diterapkan pada orang-orang Mukmin.” HR. Bukhari 14/282, -pent)

  1. Menyebarkan buku-buku, selebaran-selebaran dan berkas-berkas serta kaset-kaset yang mengajak pada pemikiran Khawarij, pengafiran kaum Muslimin, lebih-lebih ulama dan pemerintah, di antara buku-buku tersebut adalah:a. Karya-karya Sayyid Qutb. Buku yang paling berbahayanya, yang di dalamnya terdapat pengafiran umat dan celaan terhadap sahabat, bahkan terhadap para nabi, ialah seperti Fi Zhilalil Qur`an, Kutub wa Syakhsiyat, Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah, Ma’alim fi Thariq.b. Buku-buku Abul A’la Al-Maududy, buku-buku Hasan Al-Banna, Said Hawa, ‘Isham Al-‘Atthar, Abu Al-Fathi Al-Bayanuni, Muhammad Ali As-Shabuniy, Muhammad Hasan Hanbakah Al-Maidani, Hasan At-Turaby, Al-Hadiby, At-Tilmisani, Ahmad Muhammad Rosyid, Isham Al-Basyir, (juga buku-buku DR. Abdullah Azzam Al-Mubarok, Fathi Yakan, dan buku “Aku Melawan Teroris” Imam Samudra, -pent.)c. Buku-buku dan kaset-kaset Muhammad Surur bin Nayif Zaenal Abidin pendiri/pimpinan Yayasan Al-Muntada -London- (dulu di Indonesia pun ada yayasan yang bernama Al-Muntada –Jakarta. Namun kini telah berubah nama menjadi Al-Shofwah -Jakarta-).

Buku-buku seperti ini bila dibaca oleh pemuda yang belum matang pemikirannya, dan tidak punya kemampuan ilmu, akan dapat merusak akalnya. Ia akan berjalan di belakang angan-angan, siap untuk menjalankan tuntutan-tuntutannya, walaupun harus membunuh dirinya, atau lainnya dari kaum Muslimin, atau membunuh orang-orang yang mendapat jaminan keamanan, demi untuk mencapai tujuan SYAHID DI JALAN ALLAH dan SURGA, seperti yang digambarkan oleh para tokoh-tokohnya, bahwa inilah jalan yang benar. Siapa yang menempuhnya, ia akan mendapatkan cita-citanya dan sukses meraih ridlo Allah.

Maka pengafiran, pengeboman, pengrusakan di negeri kaum Muslimin dan keluar dari Manhaj Salafusshalih adalah jalan petunjuk (walaupun banyak dari mereka saat ini mengaku pengikut manhaj Salaf, namun itu semua hanya kedustaan semata, dan usianya pun takkan lama, -pent).

Untuk menyelamatkan diri dari pemikiran takfir (Khawarij) ini, sudah sepatutnya bagi masing-masing pribadi atau keseluruhannya mengambil langkah-langkah berikut ini:

a. Menyeru para pemuda agar berpegang teguh kepada Kitab dan Sunnah, serta kembali pada keduanya dalam setiap urusan, karena keduanya adalah pagar, yang dengannya Allah akan menjaga dari kebinasaan.

b. Mengokohkan pemahaman terhadap Kitab dan Sunnah sesuai dengan Manhaj Salafusshaleh. Namun ini tidak akan dapat terwujud, kecuali bila kaum Muslimin bertafaqquh kepada para ulama robbani yang menjaga Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ dari penyelewengan dan kebatilan, serta takwilnya orang-orang jahil. Allah berfirman:

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al-Anbiya: 7). Allah juga berfirman: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulul Amri).” (An-Nisaa: 83).

Dan menutup jalan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, yang memunculkan fatwa-fatwa tanpa ilmu, dan memalingkan pendengarannya dari para ulama, serta menyifati para ulama dengan sesuatu, yang sebetulnya justru layak ada pada mereka sendiri.

Maka berkumpulnya para pemuda di sekitar para ahli waris nabi yang mendalam bidang keilmuannya, adalah proteksi dengan ijin Allah, dari para perampok yang menyebarkan kebatilan-kebatilan, di mana mereka mengira, bahwa tidak ada rujukan yang dapat mengikat para pemuda.

c. Menjauh dari sumber-sumber fitnah, menghindar dari kejelekan-kejelekan dan akibat negatifnya. Allah berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (Al-Anfaal: 25)

d. Berkomitmen dengan kesatuan kaum Muslimin dan penguasanya, serta menancapkan pemahaman yang benar dalam hal ketaatan terhadap pemeritah (yakni dalam hal yang ma’ruf). Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu.” (An-Nisaa`: 59).

Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa saja yang melihat sesuatu yang tidak disenangi dari penguasanya, maka hendaknya bersabar. Karena siapa yang memisahkan diri dari kesatuan walau sejengkal kemudian mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.”

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya hadis yang panjang dari sahabat Hudzaifah. (Dalam hadis itu ia berkata:) “Apa yang harus kulakukan bila menjumpai hal itu?” Rasul ﷺ menjawab: “Engkau tetap komitmen dengan jamaah Muslimin dan penguasanya/imamnya”. “Bila tidak ada jamaah dan imamnya,” lanjut Hudzaifah. Rasul ﷺ menjawab: “Engkau jauhi semua firqah-firqah, walau harus menggigit akar pohon. Sampai engkau mati, engkau tetap seperti itu.”

e. Bersungguh-sungguh untuk mencermati segala perkara dengan benar, memahaminya dan menelitinya, serta mengukur bahayanya. Seorang Mukmin tidak boleh tertipu dengan perkara-perkara yang transparan, tetapi ia harus mawas diri dan waspada, terhadap segala yang tengah berlangsung di sekitarnya, disertai dengan keteguhan, dan tidak goyah dari manhaj yang benar. Tidak boleh pula terburu-buru mengeluarkan vonis/hokum, atau berkecimpung dalam masalah-masalah syari tanpa ilmu.

f. Mengembalikan istilah-istilah iman, din, vonis kafir atau fasiq atau bid’ah kepada rambu-rambu syari yang didukung Kitab dan Sunnah, serta berhati-hati dalam menjatuhkan hukum terhadap Muslimin tanpa ketentuan yang valid, karena yang demikian itu sangat berbahaya. Seorang Muslim haram untuk mengafirkan saudaranya yang Muslim secara khusus, walaupun ia melakukan hal-hal yang menyebabkan kekufuran, kecuali bila terpenuhi syarat-syaratnya, dan hilang perkara-perkara yang mencegahnya dari vonis kafir.

Inilah sebagian perkara yang harus diperhatikan oleh seorang Muslim ketika timbul fitnah yang memilukan. Karena itu wajib bagi semua pihak, baik pemerintah ataupun rakyat, ulama ataupun pelajar, agar bersungguh-sungguh menghadang fitnah ini, dan mencabut dari akar-akarnya, terlebih apa yang terjadi di hari-hari ini berupa fitnah takfir (paham Khawarij).

Fitnah ini sudah menjalar sampai pada tahap menghalalkan darah kaum Muslimin dan hartanya, serta merusak fasilitas-fasilitasnya dengan menggunakan bom dan alat perusak lainnya.

Orang-orang yang picik akalnya lagi muda usianya diprovokasi oleh tandzim-tandzim (organisasi-organisasi –pent) yang menipu, tulisan-tulisan yang tidak bertanggung jawab, dan fatwa-fatwa yang menyesatkan, sehingga menyulap mereka menjadi para perusak, memerangi kaum Muslimin dan merampas hartanya, dan membunuh orang-orang yang mendapat jaminan keamanan, serta merampas hartanya. Mereka namakan yang demikian itu dengan nama JIHAD.

 

(Sumber: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=39)

 

https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/08/08/terorisme-dan-faham-Khawarij/