Posts

,

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
>> Begitu pula murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua
 
Sesuai hadis Rasulullah ﷺ, disebutkan:
 
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
 
Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rida Allah bergantung kepada keridaan orang tua, dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban (no. 2026 al-Mawaarid), at-Tirmidzi (no. 1899), al-Hakim (IV/151-152), ia menshahihkan atas syarat Muslim dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah mengatakan hadis ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan adz-Dzahabi). Lihat Shahiih Adabul Mufrad (no. 2)]
 
 
 
 
 
#rida, #ridha, #ridho, #redho, #Allah, #bergantung, #tergantung, #orangtua, #ortu, #murka, #kemurkaan #birrulwalidain #birulwalidain #baktikepadaorangtua #murkaAllah, #tergantung, #bergantung, #kemurkaanorangtua
 
, ,

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
>> Begitu pula murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua
 
Sesuai hadis Rasulullah ﷺ, disebutkan:
 
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
 
Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rida Allah bergantung kepada keridaan orang tua, dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban (no. 2026 al-Mawaarid), at-Tirmidzi (no. 1899), al-Hakim (IV/151-152), ia menshahihkan atas syarat Muslim dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah mengatakan hadis ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan adz-Dzahabi). Lihat Shahiih Adabul Mufrad (no. 2)]
 
 
 
#rida, #ridha, #ridho, #redho, #Allah, #bergantung, #tergantung, #orang tua, #ortu, #murka, #kemurkaan #birrulwalidain #birulwalidain #baktikepadaorangtua

PAHALA YANG SETIMPAL

PAHALA-YANG-SETIMPAL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PAHALA YANG SETIMPAL
 
Di banyak kesempatan (hadis dan ayat) terdapat keterangan, bahwa musibah dan ujian yang menimpa manusia yang ada iman dalam dadanya adalah untuk menghapuskan dosa, mengangkat derajat, dan peringatan bagi yang imannya masih tercampur maksiat (fasik).
 
Itu adalah bagian dari kasih sayang Allah ta’ala untuk mereka. Layak sekali jika Allah ta’ala murka kepada orang-orang yang menolak untuk disayangi oleh-Nya.
Semoga Allah ta’ala mengangkat derajat kita, kaum Mukminin. Aamiin!
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#pahalayangsetimpal, #pahalabesar, #balasanujianberat, #Allahcintasuatukaum, #Allahmencintaisuatukaum, #Allahmenimpakanujian, #ridho, #ridha, #rida, #ujianAllah, #Allahmurka, #Allahtidakmurka, #meraihridaAllah, #meraihridhaAllah #ridhaAllah #ridhoAllah #ridaAllah #mutiarasunnah
,

TIDAK BERHARAP SEDIKIT PUN KEPADA MAKHLUK MERUPAKAN KUNCI PERTOLONGAN DARI ALLAH

TIDAK-BERHARAP-SEDIKIT-PUN-KEPADA-MAKHLUK-MERUPAKAN-KUNCI-PERTOLONGAN-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TIDAK BERHARAP SEDIKIT PUN KEPADA MAKHLUK MERUPAKAN KUNCI PERTOLONGAN DARI ALLAH
 
Al-Fudhail bin Iyyadh rahimahullah berkata:
 
والله، لو يئست من الخلق حتى لا تريد منهم شيئا، لأعطاك الله مولاك كل ما تريد.
“Demi Allah, seandainya engkau benar-benar putus asa dari makhluk hingga engkau tidak berharap sedikit pun dari mereka, niscaya Allah akan memberimu semua yang engkau inginkan.” ]Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 264]
 
Sumber: @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tidakberharapsedikitpun, #mahluq, #mahluk, #berharapkepadaAllahsaja, #menyandarkandirikepadaAllah,#mencariridaAllah, #ridha, #ridho, #rida, #Allahsemata, #bukanmencariridamanusia, #ridhamanusia
, ,

BILA ALLAH MENGINKAN KEBAIKAN, DIA JADIKAN HAMBA-NYA BERAMAL SALEH SEBELUM MENINGGALNYA

BILA ALLAH MENGINKAN KEBAIKAN, DIA JADIKAN HAMBA-NYA BERAMAL SALEH SEBELUM MENINGGALNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BILA ALLAH MENGINKAN KEBAIKAN, DIA JADIKAN HAMBA-NYA BERAMAL SALEH SEBELUM MENINGGALNYA
 
Disebutkan dalam hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan lainnya [Dishahihkan oleh Syaikh Al-AlBani dalam shahih Jami’ no 304], bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله
 
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah jadikan ia beramal.” Lalu para sahabat bertanya: “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Dibukakan untuknya amalan saleh sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya rida kepadanya.”
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bilaAllahmenginginkankebaikan, #bilaAllahinginkankebaikan, #baik, #kebaikan, #Allahjadikaniaberamal #amalansaleh, #amalansholih, #amalanshaleh, #orangorangridhakepadanya #amalanshaleh, #orangorangridakepadanya, #ridha, #rida, #ridho #dibukakanuntuknyaamalansaleh, #sebelummeninggalnya, #sebelummatinya, #sebelumwafatnya

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH
 
Jika Allah menguji hamba-Nya dengan sesuatu, maka Allah akan mengujinya dengan beberapa jenis ujian:
 
Jika dia diuji, dan mengembalikan permasalahannya kepada Rabbnya, maka itu adalah tanda kebahagiaan, dan tanda datangnya kebaikan baginya. Dan kau yakin, bahwa kesempitan itu tidak akan berlangsung selamanya, meskipun lama.
 
Adapun seseorang, yang jika dia diuji, dia tidaklah mengembalikan permasalahannya kepada Allah, bahkan hatinya lari dari-Nya menuju makhluk, lupa dengan mengingat Rabbnya, lupa untuk mendekat kepada Rabbnya, lupa untuk merendahkan diri kepada-Nya, lupa untuk bertaubat dan kembali pada-Nya, maka ini adalah tanda kecelakaan baginya, dan tanda datangnya keburukan bagi dirinya. [Ibnul Qoyyim rahimahullahu, Thoriqul Hijratain]
 
Sumber: @kemuslimahan_ypia

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Siapakah yang mau menerima kalimat-kalimat ini agar diamalkan dan diajarkan kepada siapa saja yang akan mengamalkannya?’ Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjawab:
‘Saya, wahai Rasulullah.’ Kemudian beliau ﷺ memegang kedua tanganku seraya bertutur:

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

‘Takutlah engkau kepada segala sesuatu yang diharamkan, niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah. Ridailah segala sesuatu yang Allah bagi kepadamu, engkau pasti menjadi manusia yang paling cukup. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang Mukmin. Cintailah untuk manusia, segala sesuatu yang engkau cintai untuk dirimu, engkau pasti menjadi seorang Muslim. Dan janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, dan selainnya. Baca Ash-Shahihah no. 930]

 

Penulis: Dzulqarnain M. Sunusi [Dzulqarnain.net]
Sumber: https://www.facebook.com/dzulqarnainms/photos/a.688559331220387.1073741826.390364267706563/1492703457472633/?type=3&theater

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

TIDAK BERHARAP KEPADA MANUSIA

TIDAK BERHARAP KEPADA MANUSIA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#TauhidManhaj. #NasihatUlama

TIDAK BERHARAP KEPADA MANUSIA

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad hafidzahumallah:

مَن كان يائسًا ممَّا في أيدي النَّاس عاش حياتَه مهيبًا عزيزًا،

“Barang siapa yang berputus asa dari apa yang ada ditangan manusia, maka hidupnya tenang dan mulia.

ومَن كان قلبه معلَّقًا بما في أيديهم عاش حياته مهينًا ذليلًا

Dan barang siapa yang hatinya tergantung kepada manusia, maka hidupnya dalam keadaan hina dan rendah.

 

Sumber:[ Indonesia Bertauhid]

# Tidak Berharap Dari Manusia #Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad hafidzahumallah :مَن كان يائسًا ممَّا في …

Posted by Indonesia Bertauhid on Saturday, August 26, 2017

,

KENANGAN INDAH ISTRI BERSAMA MENDIANG SUAMINYA

KENANGAN INDAH ISTRI BERSAMA MENDIANG SUAMINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

KENANGAN INDAH ISTRI BERSAMA MENDIANG SUAMINYA

“Kehilangan itu jika ada rasa memiliki. Takkan kehilangan orang yang tidak memiliki”

Wanita sebagai istri memiliki sifat dasar (baik banyak maupun sedikit sifat dasar ini), yaitu mengingkari kebaikan suami. Dalam hadis dijelaskan, jika suaminya telah berbuat baik sepanjang tahun, kemudian ada sedikit saja “sesuatu” yang tidak disukai sang istri, maka istri tersebut akam berkata pada suaminya:

“Aku tidak melihat kebaikan sedikit pun padamu”.[1]

Ada salah satu tips agar para istri bisa mengurangi sifat dasar ini (namanya sifat dasar, sulit untuk dihilangkan total), yaitu jika bertemu dengan (maaf) seorang janda yang suaminya sudah meninggal, tanyalah bagaimana tentang suaminya dulu.

IA AKAN MENYEBUT BERIBU-RIBU KEBAIKAN MENDIANG SUAMINYA, BAHKAN TAK TERHINGGA

Ia akan mengambil kesimpulan, bahwa mendiang suaminya adalah salah satu manusia terbaik yang pernah mendampingi dan menyanyanginya.

Ketika teringat mendiang suaminya, bisa jadi mulai timbul penyesalan, mengapa ia menyia-nyiakan kebaikan suaminya. Mengapa ia sering mengomel tidak jelas, atau marah-marah pada suaminya.

Sebuah nasihat dari istri seorang ustadz (beliau guru kami yang telah berpulang):
“Bagi para istri yang masih memiliki suami, banyaklah bersyukur, masih merasakan kebaikan dan kehangatan suami. Masih ada partner dan teman untuk berbuat kebaikan dan mengayuh sampan bersama, berbahagia menuju Surga.”

Tanggung jawab suami sangat besar dan sudah selayaknya istri banyak meningat kebaikan suaminya dan bersyukur. Karena besarnya hak suami, seandainya makhluk boleh sujud pada sesama makhluk, Nabi ﷺ akan perintahkan istri sujud kepada suaminya.[2]

Akan tetapi istri jangan protes dulu dengan hadis tersebut. Beratnya tugas suami bukan hanya menghadapi kerasnya hidup mencari nafkah (istri juga bisa kalau hanya ini). Akan tetapi tugas terberat suami adalah menjaga istri dan keluarganya terbebas dari api Neraka.

Jika istri berbuat maksiat dan kesalahan, maka suami juga akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban di Akhirat. Suami juga akan ikut dihukum akibat perbuatan istrinya, jika membiarkan dan tidak menasihati (tidak bertanggung jawab).[3]

Wahai para istri. Tugas inilah yang sangat berat bagi suami, yaitu tanggung jawab di Akhirat. Kalau sekadar mencari nafkah dan uang di dunia, para istri juga bisa. Tugas berat ini tidak sebanding dengan perintah agama, agar istri berkhidmad pada suaminya, yang berujung rasa sayang suami.

Dalam suatu hadis dijelaskan, bahwa sebaik-baik istri jika suaminya marah, maka ia akan mendatangi suaminya meminta maaf dan rida suaminya, dan tidak akan bisa tidur sebelum suaminya memaafkan.[4]

Tahukah Anda, mengapa sifat ini jadi sebaik-baik sifat istri? Karena umumnya istri gengsi meminta maaf duluan pada suaminya. Cenderung harus suamilah yang salah, meminta maaf dan merayu-rayu. Bagaimanapun suami harus yang paham dan istri yang ingin dimengerti (ini umumnya). Jika ada istri yang minta maaf duluan, inilah yang sangat terpuji.

Semoga suami-istri dan keluarga kaum Muslimin diberikan anugrah kebahagiaan, keromantisan dan SAMARA (sakinah mawaddah wa rahmah). Aamiin

Kami tutup dengan hadis, Nabi ﷺ bersabda:

ﻻَ ﻳَﻨْﻈُﺮُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻻَ ﺗَﺸْﻜُﺮُ ﻟِﺰَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻭَﻫِﻲَ ﻻَ ﺗَﺴْﺘَﻐْﻨِﻲْ ﻋَﻨْﻪُ

“Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya, padahal ia selalu butuh kepada suaminya”[5]

Penyusun: Raehanul Bahraen
[Artikel www.muslimafiyah.com]

 

 

Catatan kaki:

[1] Hadisnya adalah:

ﻟَﻮْ ﺃَﺣْﺴَﻨْﺖَ ﺇَﻟَﻰ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻦَّ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮَ , ﺛُﻢَّ ﺭَﺃَﺕْ ﻣِﻨْﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ, ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣِﻨْﻚَ ﺧَﻴْﺮﺍً ﻗَﻂُّ

“Sekiranya kalian (suami) senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka SEPANJANG HIDUPNYA, lalu ia (istri) melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata:
“Saya sama sekali TIDAK PERNAH melihat kebaikan pada dirimu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

[2] Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَلأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَلِزَوْجِهَا

“Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya” . (HR. At-Tirmidziy , shahih Al-Irwa’ 1998)

[3] Rasulullah ﷺ bersabda:

كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير راع، وهو مسئول عن رعيته، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin, dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829)

[4] Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam Surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi ﷺ menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau rida.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

[5] HR. An-Nasa’i, Ash-Shahihah 289

 

 

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahTauhid

AMAT DISAYANGKAN, BANYAK SEDEKAH HANYA UNTUK MEMERLANCAR REZEKI

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan, sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memerlancar rezeki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

Dengan amalan saleh hanya mengharap keuntungan dunia, sungguh akan sangat merugi. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka, dan lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Yang dimaksud dengan “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu, barang siapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan Akhirat.

Yang dimaksud “Perhiasan dunia” adalah harta dan anak.

Mereka yang beramal seperti ini: “Niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan karena mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan karena rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah yubkhosuun, yaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi. Ini berarti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari seutuhnya (sempurna).

Dunia mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan saleh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rezeki semakin lancar dan karir terus meningkat.  Dan itu senyatanya yang mereka peroleh dan Allah pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan. Namun apa yang mereka peroleh di Akhirat?

Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang artinya): “Itulah orang-orang yang tidak memeroleh di Akhirat, kecuali Neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja. Mereka memang di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di Akhirat, mereka tidak akan memeroleh pahala, karena mereka dalam beramal tidak menginginkan Akhirat. Ingatlah, balasan Akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)

Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “Lenyaplah di Akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah, sehingga ketika di Akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93)

Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memerlancar rezeki, umur panjang, dan lain sebagainya.

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan: “Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memeroleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan: “Barang siapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di Akhirat nanti, karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di Akhirat mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.” Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.

Qotadah mengatakan: “Barang siapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan salehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di Akhirat, dia tidak akan memeroleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang Mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia, juga dia akan mendapatkan balasan di Akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

Hanya Beramal untuk Menggapai Dunia, Tidak Akan Dapat Satu Bagian Pun di Akhirat

Kenapa seseorang beribadah dan beramal hanya ingin menggapai dunia? Jika seseorang beramal untuk mencari dunia, maka dia memang akan diberi. Jika shalat tahajud, puasa Senin-Kamis yang dia lakukan hanya ingin meraih dunia, maka dunia memang akan dia peroleh dan tidak akan dikurangi. Namun apa akibatnya di Akhirat? Sungguh di Akhirat dia akan sangat merugi. Dia tidak akan memeroleh balasan di Akhirat disebabkan amalannya, yang hanya ingin mencari-cari dunia.

Namun bagaimana dengan orang yang beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah? Di Akhirat dia akan memeroleh pahala yang berlipat ganda.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di Akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di Akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas: “Barang siapa yang mencari keuntungan di Akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, yaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya, karena tujuan Akhirat yang dia harapkan. Kami pun akan menambahkan nikmat padanya, dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat, hingga kelipatan yang begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menggapai Akhirat sama sekali, maka balasan Akhirat tidak akan Allah beri, dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dan jika Allah kehendaki, dunia dan Akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali Akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan:

بشر هذه الأمة بالسناء والرفعة والدين والتمكين في الأرض فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barang siapa dari umat ini yang melakukan amalan Akhirat untuk meraih dunia, maka di Akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya Shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadis ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah ﷺ bersabda:

بشر هذه الأمة بالتيسير والسناء والرفعة بالدين والتمكين في البلاد والنصر فمن عمل منهم بعمل الآخرة للدنيا فليس له في الآخرة من نصيب

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barang siapa yang melakukan amalan Akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memeroleh satu bagian pun di Akhirat.”

Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia

Al Bukhari membawakan hadis dalam Bab “Siapa Yang Menjaga Diri dari Fitnah Harta”.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

“Celakalah hamba Dinar, Dirham, Qothifah dan Khomishoh. Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia tidak rida. Dia akan celaka, dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari).  Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khomishoh adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid, 2/93)

Kenapa dinamakan hamba Dinar, Dirham dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadis tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba Dinar, Dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Di antara tanda bahwa mereka beramal untuk menggapai harta-harta tadi, atau ingin menggapai dunia disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ selanjutnya: “Jika diberi, dia pun rida. Namun jika tidak diberi, dia pun tidak rida (murka). Dia akan celaka dan kembali binasa”. Hal ini juga yang dikatakan kepada orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman Allah:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At Taubah: 58)

Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia rida. Namun, jika kenikmatan dunia tersebut tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar: “Sudah sebulan saya merutinkan shalat malam, namun rezeki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan salehnya.

Adapun seorang Mukmin, jika diberi nikmat, dia akan bersyukur. Sebaliknya, jika tidak diberi, dia pun akan selalu sabar. Karena orang Mukmin, dia akan beramal bukan untuk mencapai tujuan dunia. Sebagian mereka bahkan tidak menginginkan mendapatkan dunia sama sekali. Diceritakan bahwa sebagian sahabat tidak rida jika mendapatkan dunia sedikit pun. Mereka pun tidak mencari-cari dunia, karena yang selalu mereka harapkan adalah negeri Akhirat. Semua ini mereka lakukan untuk senantiasa komitmen dalam amalan mereka, agar selalu timbul rasa harap pada kehidupan Akhirat. Mereka sama sekali tidak menyukai untuk disegerakan balasan terhadap kebaikan yang mereka lakukan di dunia.

Akan tetapi, barang siapa diberi dunia tanpa ada rasa keinginan sebelumnya, dan tanpa ada rasa tamak terhadap dunia, maka dia boleh mengambilnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis dari ‘Umar bin Khottob:

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. حَتَّى أَعْطَانِى مَرَّةً مَالاً فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ ».

“Rasulullah ﷺ memberikan suatu pemberian padaku.” Umar lantas mengatakan: “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan: “Berikan saja pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku.” Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini, di mana engkau tidak merasa mulia dengannya, dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah, dan janganlah hatimu bergantung padanya.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, begitulah orang beriman. Jika dia diberi nikmat atau pun tidak, amalan salehnya tidak akan pernah berkurang. Karena orang Mukmin sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Adapun orang yang selalu mengharap dunia dengan amalan salehnya, dia akan bersikap berbeda. Jika dia diberi nikmat, baru dia rida. Namun, jika dia tidak diberi, dia akan murka dan marah. Dia rida karena mendapat kenikmatan dunia. Sebaliknya, dia murka karena kenikmatan dunia yang tidak kunjung menghampirinya, padahal dia sudah gemar melakukan amalan saleh. Itulah sebabnya orang-orang seperti ini disebut hamba dunia, hamba Dinar, hamba Dirham dan hamba pakaian.

Beragamnya Niat dan Amalan Untuk Menggapai Dunia

Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam:

[Pertama] Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal, dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan Akhirat. Maka orang semacam ini di Akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula, bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang Mukmin. Orang Mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri Akhirat.

[Kedua] Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.

[Ketiga] Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlas, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal saleh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua, yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid, 132-133)

Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:

[Pertama] Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.

Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan, karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan, bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.

[Kedua] Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan Akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan Akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlas, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya, karena syariat telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini.

Perbedaan dan Kesamaan Beramal untuk Meraih Dunia dengan Riya’

Syaikh Muhammad At Tamimi –rahimahullah- membawakan pembahasan ini dalam Kitab Tauhid pada Bab “Termasuk Kesyirikan, Seseorang Beribadah Untuk Mencari Dunia”. Beliau –rahimahullah- membawakannya setelah membahas riya’. Kenapa demikian?

Riya’ dan beribadah untuk mencari dunia. Keduanya sama-sama adalah amalan hati dan terlihat begitu samar, karena tidak nampak di hadapan orang banyak. Namun keduanya termasuk amalan kepada selain Allah ta’ala. Ini berarti keduanya termasuk kesyirikan yaitu syirik khofi (syirik yang samar).  Keduanya memiliki perbedaan. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh orang lain, dan ingin tenar dengan amalannya. Sedangkan beramal untuk tujuan dunia adalah banyak melakukan amalan seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan saleh lainnya, dengan tujuan untuk mendapatkan balasan segera di dunia, semacam mendapat rezeki yang lancar dan lainnya.

Tetapi perlu diketahui, para ulama mengatakan, bahwa amalan seseorang untuk mencari dunia lebih nampak hasilnya daripada riya’. Alasannya, kalau seseorang melakukan amalan dengan riya’, maka jelas dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun, untuk amalan yang kedua, dia akan peroleh kemanfaatan di dunia. Akan tetapi keduanya tetap saja termasuk amalan yang membuat seseorang merugi di hadapan Allah ta’ala. Keduanya sama-sama bernilai syirik dalam niat maupun tujuan. Jadi kedua amalan ini memiliki kesamaan dari satu sisi dan memiliki perbedaan dari sisi yang lain.

Kenapa Engkau Tidak Ikhlas Saja dalam Beramal?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya dunia pun akan menghampirinya, tanpa mesti dia cari-cari. Namun jika seseorang mencari-cari dunia, dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia, tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini!!

Semoga sabda Nabi ﷺ bisa menjadi renungan bagi kita semua:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai. Dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barang siapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah kita ikhlaskan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai rida Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini …!!

Semoga Allah selalu memerbaiki akidah dan setiap amalan kaum Muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Rujukan:

  • Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
  • I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
  • At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Saleh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.
  • Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

 

 

****

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/641-amat-disayangkan-banyak-sedekah-hanya-untuk-memerlancar-rezeki.html