Posts

,

KEADAAN PEMAKAN RIBA SAAT BANGKIT DARI KUBUR

KEADAAN PEMAKAN RIBA SAAT BANGKIT DARI KUBUR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
KEADAAN PEMAKAN RIBA SAAT BANGKIT DARI KUBUR
>> Mau tahu akibat yang diderita pemakan riba ketika bangkit dari kubur?
>> Renungan bahaya riba dari Surat Al-Baqarah ayat 275
 
 
Allah taala berfirman:
 
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
 
Alladziina ya/kuluuna alrribaa laa yaquumuuna illaa kamaa yaquumu alladzii yatakhabbathuhualsysyaythaanu mina almassi dzaalika bi-annahum qaaluu innamaa albay’u mitslu alrribaa
wa-ahalla allaahu albay’a waharrama alrribaa faman jaa-ahu maw’izhatun min rabbihi faintahaa falahu maa salafa wa-amruhu ilaa allaahi waman ‘aada faulaa-ika ash–haabu alnnaari hum fiihaa khaaliduuna
 
Artinya:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni Neraka. Mereka kekal di dalamnya. [Surat Al-Baqarah (2:275)]
 
Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas. Tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah).
 
Imam Asy Syaukani juga berpendapat, bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila), yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. [Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499]
 
Semoga bermanfaat
 
 
Sumber: Malang Batu Mengaji

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#riba #bungabank #fikihmuamalah #fiqihmuamalah, #keadaanpemakanribasaatbangkitdarikubur #oranggilakerasukansetan #hukumribadalamIslam #bangkitdarikubur

,

HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA

HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA
 
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
 
Mengenal Dropshipping
 
Pada dasarnya, menjadi seorang pengusaha sukses adalah cita-cata banyak orang. Walau demikian sering kali mereka beranggapan, bahwa cita-cita ini tak ubahnya impian di siang bolong alias serasa mustahil tewujud. Masyarakat berpikiran demikian karena mereka beranggapan, bahwa dunia usaha hanyalah milik orang-orang yang berkantong tebal, atau paling kurang dilahirkan di tengah keluarga kaya raya.
 
Hadirnya sistem Dropshipping di tengah masyarakat bak hembusan angin surga bagi banyak orang untuk dapat mewujudkan impian besar mereka.
 
Betapa tidak, dengan sistem “Dropshipping” kita dapat menjual produk, bahkan berbagai produk, ke konsumen. Semua itu tanpa butuh modal atau berbagai piranti keras lainnya. Yang dibutuhkan hanyalah foto-foto produk yang berasalkan dari supplier/toko. Kita dapat menjalankan usaha dengan sistem ini walau tanpa membeli barang terlebih dahulu. Namun demikian kita dapat menjual produk dimaksud ke konsumen dengan harga yang ditentukan oleh Dropshipper (orang yang melakulan Dropshipping).
 
Dalam sistem Dropshipping konsumen terlebih dahulu melakukan pembayaran, baik tunai atau via transfer ke rekening Dropshipper. Selanjutnya Dropshipper melakukan pembayaran kepada supplier sesuai dengan harga beli Dropshipper disertai dengan ongkos kirim barang ke alamat konsumen. Sebagaimana Dropshipper berkewajiban menyerahkan data konsumen; berupa nama, alamat, dan nomor telpon kepada supplier. Bila semua prosedur di atas telah selesai, maka supplier bertugas mengirimkan barang yang dibeli kepada konsumen.
 
Namun perlu dicatat, walau supplier yang mengirimkan barang, akan tetapi nama Dropshipperlah yang dicantumkan sebagai pengirim barang. Dengan demikian konsumen tidak mengetahui, bahwa sejatinya ia membeli barang dari supplier (pihak ke dua), dan bukan dari Dropshipper (pihak pertama).
 
Keuntungan Sistem Dropshipping
 
Semua orang pasti menyadari, bahwa salah satu tujuan utama setiap kegiataan wirausaha ialah mendapatkan keuntungan. Karena itu sudah sepantasnya bila kita menanyakan, apa saja kuntungan mengikuti sistem ini.
Secara umum, menjalankan Dropshipping memiliki banyak sisi positifnya, di antaranya sebagai berikut:
1. Dropshipper, mendapatkan keuntungan atau fee atas jasanya memasarkan barang milik supplier.
2. Tidak butuh modal besar untuk dapat mengikuti sistem ini.
3. Sebagai Dropshipper, kita tidak perlu menyediakan kantor dan gudang barang.
4. Walau tanpa berbekalkan pendidikan tinggi, asalkan kita cakap dalam berselancar di dunia maya (berinternet), maka kita dapat menjalankan sistem ini.
5. Kita terbebas dari beban pengemasan dan pengantaran produk.
6. Sistem ini tidak kenal batas waktu atau ruang, alias kita dapat menjalankan usaha ini kapan pun dan di mana pun kita berada.
 
Hukum Dropshipping
Sebagai pengusaha Muslim tentu kita bukan hanya memilikirkan kemudahan atau besarnya keuntungan suatu jenis kewirausahaan. Status halal dan haram setiap jenis usaha yang hendak dijalankan pastilah menempati urutan pertama dari sekian banyak pertimbangan kita . Sikap ini selaras dengan doa yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla:
 
للَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
 
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal, sehingga aku tidak membutuhkan kepada hal-hal yang Engkau haramkan. Dan jadikanlah aku merasa puas dengan kemurahan-Mu, sehingga aku tidak mengharapkan kemurahan selain kemurahan-Mu.
 
Dan untuk mengetahui status hukum halal haram suatu perniagaan, maka kita harus melihat tingkat keselarasan sistem tersebut dengan prinsip-prinsip dasar perniagaan dalam syariat. Bila perniagaan tersebut selaras dengan prinsip syariat, maka halal untuk kita jalankan. Namun bila terbukti menyeleweng dari salah satu prinsip, atau bahkan lebih, maka sudah sepantasnya kita mewaspadainya.
Berikut beberapa prinsip syariat dalam perniagaan yang perlu dicermati, karena berkaitan erat dengan sistem Dropshipping:
 
Prinsip Pertama: Kejujuran
Berharap mendapat keuntungan dari suatu perniagaan bukan berarti menghalalkan dusta. Karena itu Rasulullah ﷺ dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya arti kejujuran dalam perniagaan, di antaranya melalui sabda beliau ﷺ:
(البيعان بالخيار ما لم يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما) متفق عليه
“Kedua orang yang terlibat transaksi jual-beli, selama belum berpisah, memiliki hak pilih untuk membatalkan atau meneruskan akadnya. Bila keduanya berlaku jujur dan transparan, maka akad jual-beli mereka diberkahi. Namun bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya keberkahan penjualannya dihapuskan.” Muttafaqun ‘alaih.
 
Prinsip Kedua: Jangan Menjual Barang Yang Tidak Kita Miliki
 
Islam begitu menekankan kehormatan harta kekayaan umatnya. Karena itu, Islam mengharamkan atas umat Islam berbagai bentuk tindakan merampas atau pemanfaatan harta orang lain tanpa izin atau kerelaan darinya. Allah taala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [QS. An Nisa’ 29]
 
(لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه)
 
“Tidak halal harta orang Muslim, kecuali atas dasar kerelaan jiwa darinya”. Riwayat Ahmad, dan lainnya.
Begitu besar penekanan Islam tentang hal ini, sehingga Islam menutup segala celah yang dapat menjerumuskan umat Islam kepada praktik memakan harta saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan.
 
Prinsip Ketiga: Hindari Riba dan Berbagai Celahnya
Sejarah umat manusia telah membuktikan, bahwa praktik riba senantiasa mendatangkan menghancurkan tatanan ekonomi masyarakat. Wajar bila Islam mengharamkan praktik riba dan berbagai praktik niaga yang dapat menjadi celah terjadinya praktik riba.
 
Di antara celah riba yang telah ditutup dalam Islam adalah: “Menjual kembali barang yang telah kita beli, namun secara fisik belum sepenuhnya kita terima dari penjual”. Belum sepenuhnya kita terima bisa jadi:
 
a. Kita masih satu majlis dengan penjualnya.
b. Atau fisik barang belum kita terima, walaupun kita telah berpisah tempat dengan penjual. Pada kedua kondisi ini kita BELUM DIBENARKAN menjual kembali barang yang telah kita beli, mengingat kedua kondisi ini menyisakan celah terjadinya praktik riba. Sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan:
 
فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى أن تباع السلع حيث تبتاع حتى يحوزها التجار إلى رحالهم. رواه أبو داود والحاكم
 
Rasulullah ﷺ melarang dari menjual kembali setiap barang di tempat barang itu dibeli, hingga barang itu dipindahkan oleh para pembeli ke tempat mereka masing-masing.” [Riwayat Abu dawud dan Al Hakim]
 
Dan pada hadis lain beliau ﷺ bersabda:
 
(مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ(. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ. متفق عليه
 
“Barang siapa membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali, hingga ia benar-benar telah menerimanya” Ibnu ‘Abbas berkata: Dan saya berpendapat, bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan. [Muttafaqun ‘alaih]
 
Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ditanya lebih lanjut tentang alasan larangan ini menyatakan:
 
ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ.
 
”Yang demikian itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual Dirham dengan Dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda (sekadar kedok belaka).” [Muttafaqun ‘alaih]
 
Sistem Dropshipping pada tahapan praktiknya bisa saja melanggar ketiga prinsip di atas, atau salah satunya, sehingga keluar dari aturan syariat alias HARAM. Seorang Dropshipper bisa saja mengaku sebagai pemiliki barang, atau paling kurang sebagai agen, padahal pada kenyataannya tidak demikian. Karena dusta ini bisa jadi konsumen menduga, bahwa ia mendapatkan barang dengan harga murah dan terbebas dari praktik percaloan, padahal kenyataannya tidak demikian. Andai ia menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang agen atau pihak kedua, bisa saja ia mengurungkan pembeliannya.
 
Pelanggaran bisa juga berupa Dropshipper menawarkan lalu menjual barang yang belum ia terima, walaupun ia telah membelinya dari supplier. Dengan demikian Dropshipper melanggar larangan Nabi ﷺ di atas.
 
Atau bisa jadi Dropshipper menentukan keuntungan melebihi yang diizinkan oleh supplier. Jelaslah ulah Dropshipper ini merugikan supplier, karena barang dagangan miliknya telat laku, atau bahkan kehilangan pasarnya.
 
Solusi:
Agar terhindar dari berbagai pelanggaran di atas, maka kita dapat saja melakukan salah dari beberapa alternatif berikut:
 
Alternatif Pertama: Sebelum menjalankan sistem Dropshipping, terlebih dahulu kita menjalin kesepakatan kerjasama dengan supplier. Atas kerjasama ini kita mendapatkan wewenang untuk turut memasarkan barang dagangannya. Dan atas partisipasi kita dalam pemasaran ini, kita berhak mendapatkan fee alias upah yang nominalnya telah disepakati bersama pula.
 
Penentuan fee atas jasa pemasaran ini bisa saja dihitung berdasarkan waktu kerjasama, atau berdasarkan jumlah barang yang berhasil kita jual. Bila alternatif ini yang menjadi pilihan kita , berarti kita bersama supplier menjalin akad “JU’ALAH” (jual jasa). Yaitu salah satu model dari akad jual-beli jasa yang upahnya ditentukan sesuai dengan hasil kerja, bukan waktu kerja.
 
Alternatif Kedua: Kita juga dapat mengadakan kesepakatan dengan para calon konsumen yang membutuhkan berbagai macam barang. Dan atas jasa kita mengadakan barang, kita mensyaratkan imbalan dalam nominal tertentu. Dengan demikian kita menjalankan model usaha jual beli jasa, atau semacam biro jasa pengadaan barang.
 
Alternatif Ketiga: Kita juga dapat menggunakan skema akad salam dalam aktivitas kita . Dengan demikian kita berkewajiban menyebutkan berbagai kriteria barang kepada calon konsumen, baik dilengkapi dengan gambar barang atau tidak. Dan setelah ada calon konsumen yang berminat terhadap barang yang kita tawarkan dengan harga yang disepakati pula, maka kita baru mengadakan barang. Skema salam samacam ini barang kali yang paling mendekati sistem Dropshipping, walau demikian perlu dicatatkan dua hal penting yang mungkin membedakan antara keduanya:
 
1. Dalam skema akad salam calon konsumen harus melakukan pembayaran secara tunai dan lunas pada awal akad.
2. Semua resiko selama pengiriman barang hingga barang tiba di tangan konsumen menjadi tanggung jawab Dropshipper dan bukan supplier.
 
Alternatif Keempat: Kita menggunakan skema akad MURABAHAH LIL ‘AMIRI BISSYIRA’ (Pemesanan Tidak Mengikat). Yaitu ketika ada calon konsumen yang tertarik dengan barang yang kita pasarkan, segera kita mengadakan barang tersebut sebelum ada kesepakatan harga dengan calon pembeli. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan, segera kita mengirimkannya ke calon pembeli. Setiba barang di tempat calon pembeli, kita baru mengadakan negoisasi penjualan dengannya. Dan sudah dapat diduga bahwa calon pembeli memiliki wewenang oenuh untuk membeli atau mengurungkan rencana pembeliannya.
 
Mungkin kita berkata; bila alternatif ini yang saya pilih, betapa besar resiko yang harus saya pikul, dan betapa susahnya kerja saya, terlebih bila calon pembeli berdomisi jauh dari tempat tinggal saya?
 
Apa yang kita utarakan benar adanya. Karena itu mungkin alternatif ini paling sulit untuk diterapkan, terutama bila kita menjalankan bisnis secara online.
 
Walau demikian, bukan berarti besarnya resiko tidak dapat ditanggulangi. Untuk menanggulangi besarnya resiko yang harus kita tanggung, kita sebagai penjual dapat mensyaratkan hak khiyar (hak pilih membatalkan pembelian) kepada supplier dalam batas waktu tertentu. Dengan demikian, bila calon pembeli kita batal membeli, kita dapat mengembalikan barang tersebut kepada supplier . Sebagaimana kita juga dapat mensyaratkan kepada calon pembeli, bahwa batal membeli ia menanggung seluruh biaya mendatangkan barang, dan mengembalikannya kepada supplier.
 
Penutup:
Semoga paparan singkat tentang skema Dropshipping di atas dapat menambah khazanah ilmu agama kita . Dan besar harapan saya semoga Allah taala memudahkan dan memberkahi perniagaan kita . Wallahu taala a’alam bisshawab.
 
 
 
Penulis: Ustadz M. Arifin Badri hafizahullah
#jualbelionline #fikihjualbeli #fiqihjualbeli #hukum #dropshipping #doorshipping #doorshiping #dropshiping #akadjualbeli #agen #calo #sistem #solusidropshipping #jalankeluar #riba #menjualbarangyangtidakadaditangankita #riba #menjualbarangyangtidakadadikita #bisnis #perniagaan #perdagangan #dagang #niaga #dalamIslam #penjualdanpembeli
,

UNTUKMU YANG MASIH BEKERJA DI BANK KONVENSIONAL

UNTUKMU YANG MASIH BEKERJA DI BANK KONVENSIONAL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
UNTUKMU YANG MASIH BEKERJA DI BANK KONVENSIONAL
 
Ada seorang pegawai Bank konvensional yang sudah ngaji dan dapat hidayah. Ketika dia ditanya: Apakah Anda tidak takut miskin, keluar dari Bank? Maka dengan penuh keyakinan ia menjawab: “BAGAIMANA AKU TAKUT MENJADI MISKIN, SEMENTARA AKU MEMPUNYAI RABB YANG MAHA KAYA, PEMILIK LANGIT DAN BUMI, APA-APA YANG ADA DI ANTARA KEDUANYA, DAN DI BAWAH TANAH?”.
 
 
Dari website al-Ustadz Amir As-Soronji حفظه الله تعالىٰ
 
_______________________
 
 
Inilah peran dari keimanan yang kuat terhadap Rabbnya. Ia percaya, bahwasanya Allah ﷻ akan memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, hatta kepada makhluk melata yang ada di dalam tanah sekalipun.
 
Allah ﷻ berfirman:
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi, melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfuuzh).” [QS. Huud (11): 6]
 
Maka sudah sepantasnya seorang hamba mencari rezeki yang baik dan halal untuk diri dan keluarganya.
 
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah, sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati hingga sempurna rezekinya, meskipun (rezeki itu) bergerak lamban. Maka bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah. Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.” [Shahiih, HR. Ibnu Majah, no. 2144, Ibnu Hibbaan, no. 1084, 1085, al-Hakim, II/4, dan al-Baihaqi, V/264]
 
Yakin dan percayalah, bahwasanya Allah ﷻ akan menggantikan dengan hal yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu (yang diharamkan) karena Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan menggantikan dengan yang lebih baik.” [Shahiih, HR. Ahmad, V/78, 363, dan al-Baihaqi dalam Al-Kubra, V/335]
 
Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi kalian rezeki, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” [Shahiih, HR. Ahmad, I/30, 50, at-Tirmidzi, no. 2344, Ibnu Majah, no. 4164, Ibnu Hibbaan, no. 402, 728, Ibnul Mubarak di dalam kitab az-Zuhd, no. 514, al-Hakim, IV/318, dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 4108, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 310]
 
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak, akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur diukur dengan keberkahannya.” [Al-Jawabul Kafi, hal. 56]
 
Semoga Allah ﷻ memberikan hidayah dan taufik.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bekaspegawaibank, #pengakuanbekaspegawaibank, #bahayariba, #riba, #kerjadibankkonvensional, #untukmuyangmasihbekerjadibankkonvensional #rezekiAllahyangatur
,

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

Berdasarkan fatwa [Majmu’ Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 14/277-286, Fatwa no. 18047 – lihat di sini: https://pengusahamuslim.com/1104-bagaimanakah-hukum-asuransi-dalam-islam-23.html],  jelaslah bagi kita alasan DIHARAMKANNYA asuransi dengan berbagai macamnya:

  1. ASURANSI BUKANLAH TERMASUK BENTUK PERNIAGAAN YANG DIHALALKAN DALAM ISLAM, sebab perusahaan asuransi tidaklah pernah melakukan praktik perniagaan sedikit pun dengan nasabahnya.
  2. Asuransi diharamkan karena mengandung unsur riba, yaitu bila nasabah menerima uang klaim, dan ternyata jumlah uang klaim yang ia terima melebihi jumlah total setoran yang telah ia bayarkan.
  3. Asuransi mengandung tindak kezhaliman, yaitu perusahaan asuransi memakan harta nasabah dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam syariat. Hal ini dapat terjadi pada dua kejadian:

Kejadian Pertama:

Apabila nasabah selama hidupnya tidak pernah mengajukan klaim, sehingga seluruh uang setorannya tidak akan pernah kembali, alias hangus.

Banyak perusahaan asuransi mengklaim bahwa produk-produk mereka telah selaras dengan prinsip syariah. Secara global, mereka menawarkan dua jenis pilihan:

  1. Asuransi Umum Syariah

Pada pilihan ini, mereka mengklaim bahwa mereka menerapkan metode bagi hasil/ Mudharabah. Yaitu bila telah habis masa kontrak, dan tidak ada klaim, maka perusahaan asuransi akan mengembalikan sebagian dana/ premi yang telah disetorkan oleh nasabah, dengan ketentuan 60:40 atau 70:30. Adapun berkaitan dana yang tidak dapat ditarik kembali, mereka mengklaimnya sebagai dana Tabarru’ atau Hibah.

2. Asuransi Jiwa Syariah

Pada pilihan ini, bila nasabah hingga jatuh tempo tidak pernah mengajukan klaim, maka premi yang telah disetorkan, akan hangus. Perilaku ini diklaim oleh perusahaan asuransi sebagai hibah dari nasabah kepada perusahaan (Majalah MODAL edisi 36, 2006, hal. 16).

Subhanallah. Bila kita pikirkan dengan seksama, dari kedua jenis produk asuransi syariat di atas, niscaya kita akan dapatkan bahwa yang terjadi hanyalah manipulasi istilah. Adapun prinsip-prinsip perekonomian syariat, di antaranya yang berkaitan dengan Mudharabah dan hibah, sama sekali tidak terwujud. Yang demikian itu dikarenakan:

– Pada transaksi Mudharabah, yang di bagi adalah hasil/ keuntungan, sedangkan pada asuransi umum syariah di atas, yang dibagi adalah modal atau jumlah premi yang telah disetorkan.

– Pada akad Mudharabah, pelaku usaha (perusahaan asuransi) mengembangkan usaha riil dengan dana nasabah guna mendapatkan keuntungan. Sedangkan pada asuransi umum syariat, perusahaan asuransi, sama sekali tidak mengembangkan usaha guna mengelola dana nasabah.

– Pada kedua jenis asuransi syariat di atas, perusahaan asuransi telah memaksa nasabah untuk menghibahkan seluruh atau sebagian preminya. Disebut pemaksaan, karena perusahaan asuransi sama sekali tidak akan pernah siap bila ada nasabah yang ingin menarik seluruh dananya, tanpa menyisakan sedikitpun. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

(لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه (رواه أحمد والدارقطني والبيهقي، وصححه الحافظ والألباني

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan dasar kerelaan jiwa darinya.” (HR. Ahmad, ad-Daraquthny, al-Baihaqy dam dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Albany).

– Pengunaan istilah Mudharabah dan Tabarru’ untuk mengambil dana/ premi nasabah ini tidak dapat mengubah hakikat yang sebenarnya, yaitu dana nasabah hangus. Dengan demikian, perusahaan asuransi telah mengambil dana nasabah dengan cara-cara yang tidak dihalalkan. Ini sama halnya dengan minum khamr yang sebelumnya telah diberi nama lain, misalnya minuman penyegar, atau suplemen.

عن عُبَادَةَ بن الصَّامِتِ رضي الله عنه قال: قال رسول اللَّهِ صلّى الله عليه وصلّم (لَيَسْتَحِلَّنَّ طَائِفَةٌ من أمتي الْخَمْرَ بِاسْمٍ يُسَمُّونَهَا إِيَّاهُ). رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني

Dari sahabat Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sunggung-sungguh akan ada sebagian orang dari umatku yang akan menghalalkan khamr, hanya karena sebutan/ nama (baru) yang mereka berikan kepada khamr.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sungguh perbuatan semacam inilah yang jauh-jauh hari dilarang oleh Rasulullah ﷺ  melalui sabdanya:

(لا ترتكبوا ما ارتكبت اليهود فتستحلوا محارم الله بأدنى الحيل (رواه ابن بطة، وحسنه ابن تيمية وتبعه ابن القيم وابن كثير

“Janganlah kalian melakukan apa yang pernah dilakukan oleh bangsa Yahudi, sehingga kalian menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah hanya dengan sedikit rekayasa.” (HR. Ibnu Baththah, dan dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah dan diikuti oleh dua muridnya yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir).

Kejadian Kedua:

Apabila nasabah menerima uang klaim, dan ternyata uang klaim yang ia terima lebih sedikit dari jumlah total setoran yang telah ia bayarkan. Kedua kejadian ini diharamkan, karena termasuk dalam keumuman firman Allah ta’ala:

يَأَيُّها الَّذين آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan cara-cara yang bathil, kecuali dengan cara perniagan dengan asas suka sama suka di antara kamu.”

 

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A.

https://pengusahamuslim.com/1895-bagaimanakah-hukum-asuransi-dalam-islam-33.html

, ,

BERENANG DI ​SUNGAI DARAH UNTUK PEMAKAN RIBA

BERENANG DI ​SUNGAI DARAH UNTUK PEMAKAN RIBA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 #SayNoToRiba

​BERENANG DI ​SUNGAI DARAH UNTUK PEMAKAN RIBA

Seluruh bentuk transaksi riba akan membawa akibat buruk, dosa besar, malapetaka dan menjerumuskan para pelakunya kepada jurang kenistaan, serta mendatangkan bahaya bagi pribadi dan masyarakat, baik di dunia maupun di Akhirat.

Semua orang Muslim memahami riba adalah kotor, haram, hasil usaha tercela, tidak berkah, dan seabreg hal buruk lainnya.

Karena itulah riba mendatangkan malapetaka dan bahaya bagi siapa saja yang ikut serta dan membantu mensukseskan transaksi riba, baik dia pemodal, peminjam, penulis dan bahkan saksi transaksi (baca: teller). Atau hanya orang yang memberi bantuan harta dan tenaga untuk melancarkan transaksi riba, atau menyewakan gedung, peralatan kantor dan transportasi untuk proses kelancaran transaksi riba. Atau sekadar memberi motivasi dan rekomendasi bagi para pelaku riba, atau membela para pelaku riba dalam kasus hukum. Atau melindungi dan mengamankan para pelaku riba, yang intinya membantu transaksi riba terkutuk.

Disadari maupun tidak, secara langsung maupun tidak langsung, mereka telah menyatakan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Seluruh bentuk transaksi riba akan berakibat buruk, dosa besar, malapetaka dan menjerumuskan para pelakunya ke jurang kenistaan, serta mendatangkan bahaya bagi pribadi dan masyarakat, baik di dunia dan Akhirat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Keharaman riba lebih berat dibanding perjudian. Karena pengembang riba mendapat imbalan jelas dari orang yang kesusahan. Sementara pemain judi terkadang mendapat keuntungan, dan terkadang kerugian. Riba merupakan lambang kezaliman senyatanya, karena riba merupakan bentuk eksploitasi dan penindasan orang kaya kepada orang miskin.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Takutlah kalian kepada kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat. Dan takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena kikir menyebabkan umat sebelum kalian saling menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan kepada mereka. (HR. Muslim)

Dosa Makan Satu Dirham Riba

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Satu Dirham dari riba yang dimakan oleh seseorang, dan ia tahu itu riba, maka dosanya lebih besar di sisi Allah daripada berzina tiga puluh enam kali.” (HR. Imam Ahmad dan At Thabrani, lihat dalam Shahihul jami’ juz 1 No. hadis 3375)

Satu kali berzina saja hukumannya sangat mengerikan, apalagi berzina 36 kali. Sungguh dahsyat dan mengerikan. Padahal makan satu Dirham riba dosanya setara atau bahkan lebih parah daripada 36 kali berzina. Bisa kita bayangkan seberapa besar dosa bagi pemakan harta riba yang ribuan bahkan jutaan.

Pelaku Riba Diceburkan ke Sungai Darah

Terlebih bagi para pelaku bisnis, berhati-hatilah dengan segala bentuk riba. Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada kita, bagaimana keadaan para pemakan riba. Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya sebuah hadis, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Bahwa beliau bermipi didatangi dua malaikat, lalu mereka berkata:’Mari ikut bersama kami.’ Hingga akhirnya dua malaikat itu membawa beliau ke sebuah sungai darah. Di dalam sungai tersebut ada seorang yang sedang berenang. Sementara itu di pinggir sungai ada satu orang lagi. Ketika orang yang di tengah sungai itu ingin menepi, maka laki-laki yang di pinggir kali melempari mulutnya dengan batu, hingga ia kembali lagi ke tempatnya semula (tengah sungai darah). Lalu Nabi ﷺ berkata: ‘Aku bertanya kepada dua malaikat, tentang orang yang berada di sungai itu.’ Mereka menjawab: ‘Orang yang engkau datangi tadi, yang berenang di sungai lalu mulutnya disumpal batu, dia adalah pemakan riba.’”

Mari kira renungkan firman Allah ketika mengupas tentang riba. Allah mengakhiri ayat-ayat yang melarang riba dan perintah untuk meninggalkan riba dengan firman-Nya:

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari, yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing pribadi diberi balasan yang setimpal dengan apa yang telah dia kerjakan, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (Al-Baqarah:281).***

Pull Quote:

  1. Keharaman riba lebih berat dibanding perjudian, karena pengembang riba mendapat imbalan jelas dari orang yang kesusahan. Sementara pemain judi, terkadang mendapat keuntungan dan terkadang kerugian.
  2. “Kikir menyebabkan umat sebelum kita saling menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.”
  3. “Satu Dirham dari riba yang dimakan oleh seseorang, dan ia tahu itu riba, maka dosanya lebih besar di sisi Allah, daripada berzina tiga puluh enam kali.”
  4. “Orang yang engkau datangi tadi, yang berenang di sungai darah, lalu mulutnya disumpal batu, dia adalah pemakan riba.”

Daftar Bahaya Riba

  1. Semua orang yang terlibat atau mendukung transaksi riba, walaupun hanya saksi, mendapat laknat.
  2. Riba merupakan sumber petaka.
  3. Tetap nekad makan riba, berarti mengajak perang terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
  4. Dosa makan riba satu Dirham pun lebih berat daripada 36 kali berzina.
  5. Pemakan riba disiksa di sungai darah, sebelum disiksa di Neraka.
  6. Diberi peringatan bahwa mereka akan dikembalikan kepada Allah.
  7. Dosa riba lebih berat daripada dosa judi, dengan alasan:

7a. Pengembang riba pasti dapat keuntungan, sedangkan pemain judi kadang untung, kadang buntung.

7b. Pengembang riba mendapat keuntungan di atas penderitaan orang. Pemain judi mendapat keuntungan dari lawan judinya.

7c. Keuntungan riba dari orang yang membutuhkan (terlilit utang). Hadiah judi dari orang yang kelebihan harta.

7d. Riba merupakan lambang kezaliman orang kaya terhadap orang miskin.

7e. Riba merupakan bentuk eksploitasi dan penindasan orang kaya terhadap orang miskin.

 

Penulis: Ustad Zainal Abidin, Lc.

Sumber: http://pengusahamuslim.com/5625-sungai-darah-untuk-pemakan-riba.html

,

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NgeRIBAnget, #SayNoToRiba

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

Apa yang dimaksud cicilan 0%?

Contohnya adalah beli HP dengan harga Rp 2,4 juta dan jika dengan kartu kredit cicilan 0% diubah menjadi cicilan menjadi Rp 400 ribu dibayar enam kali. Apa memang masih termasuk riba?

Ternyata kalau ditelusuri, tetap ada denda untuk transaksi krediti cicilan 0%. Jika melewati jatuh tempo lalu telat membayar, tetap dikenai denda. Namun kalau membayar tepat waktu, cicilan 0% akan tetap jadi 0%.

Hal seperti ini BERMASALAH karena adanya akad menyetujui transaksi riba.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, bahwa tetap TIDAK DIBOlehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya:

  • Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram.
  • Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya uzur, yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384)

Dan perlu dipahami, bahwa denda ketika ada keterlembatan pembayaran termasuk riba jahiliyah dan disepakati haramnya.

Ibnu Katsir menyatakan, bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo: “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287)

Karena sikap yang tepat untuk menyikapi orang yang telat dalam melunasi utang sebagai disebutkan dalam ayat:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280)

Berarti kalau transaksi cicilan 0% tidak dikenakan denda ketika telat membayar, bisa selamat dari riba. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sumber: https://rumaysho.com/16124-cicilan-0-masih-bermasalah.html

,

TINGGALKANLAH RIBA

TINGGALKANLAH RIBA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#ngeRIBAnget

TINGGALKANLAH RIBA

Apa menurut Anda, bila ada seorang anak menzinahi ibu kandungnya sendiri?

Tinggalkanlah RIBA karena riba lebih keji lagi daripada perbuatan seorang anak yang menzinai ibu kandungnya sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” [HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih dilihat dari jalur lainnya]

 

Sumber: https://rumaysho.com/358-memakan-satu-dirham-dari-hasil-riba.html

 

, ,

MEMAKAN RIBA LEBIH BURUK DOSANYA DARI PERBUATAN ZINA

MEMAKAN RIBA LEBIH BURUK DOSANYA DARI PERBUATAN ZINA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

MEMAKAN RIBA LEBIH BURUK DOSANYA DARI PERBUATAN ZINA
Rasulullah ﷺ bersabda:

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu Dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba, sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” [HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

 

Sumber: https://rumaysho.com/358-memakan-satu-dirham-dari-hasil-riba.html

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

SEBAB KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN DAN SOLUSINYA

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘inah (riba), dan kalian memegang ekor-ekor sapi, rida dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan mengangkat kehinaan tersebut dari kalian, sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Daud Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 11]

Hadis yang mulia ini menjelaskan, bahwa sebab keterpurukan umat adalah karena dosa-dosa dan pelanggaran terhadap syariat. Tidak ada solusi untuk bangkit, kecuali kembali kepada agama. Dan tidak ada jalan untuk kembali kepada agama, kecuali dimulai dengan menuntut ilmu agama.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/827148344101316:0

 

 

,

DOA AGAR TIDAK TERJERUMUS DALAM ZINA

DOA AGAR TIDAK TERJERUMUS DALAM ZINA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA AGAR TIDAK TERJERUMUS DALAM ZINA

Semua mengetahui, bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman dari zina pun, sebenarnya bisa terjerumus ke dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina.

Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut hadisnya:

Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi ﷺ lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi ﷺ mengajarkan doa, dengan beliau memegang tanganku, lalu beliau ajarkan, ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى

Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi.

Artinya:

Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku. [HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]

Yang dimaksud dengan lafal terakhir, berlindung pada kejelekan mani, maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib.

Yang disebutkan dalam doa di atas adalah dengan mani. Yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina, atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina, seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu.

Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina.

 

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12795-doa-agar-tidak-terjerumus-dalam-zina.html