Posts

WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
 
Rasulullah ﷺ kembali dari Haji Wada setelah Allah ﷻ menurunkan firman-Nya:
 
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.
 
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” [QS:An-Nashr Ayat: 1-3]
 
Setelah itu Rasulullah ﷺ mulai mengucapkan kalimat dan melakukan sesuatu yang menyiratkan perpisahan. Beliau ﷺ bersabda pada Haji Wada:
 
لتأخذوا عني مناسككم لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا
 
“Pelajarilah dariku tata cara haji kalian. Bisa jadi aku tidak berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini.” [HR. al-Bukhari, 4430]
 
Kemudian di Madinah, beliau ﷺ berziarah ke makam Baqi’, mendoakan keluarganya. Juga menziarahi dan mendoakan syuhada Perang Uhud. Beliau juga berkhotbah di hadapan para sahabatnya, berucap pesan seorang yang hendak wafat kepada yang hidup.
 
Pada akhir bulan Shafar tahun 11 H, Nabi ﷺ mulai mengeluhkan sakit kepala. Beliau ﷺ merasakan sakit yang berat. Sepanjang hari-hari sakitnya beliau ﷺ banyak berwasiat, di antaranya:
 
Pertama: Beliau ﷺ mewasiatkan agar orang-orang musyrik dikeluarkan dari Jazirah Arab [HR. al-Bukhari, Fathul Bari, 8/132 No. 4431]
 
Kedua: Berpesan untuk berpegang teguh dengan Alquran.
 
Ketiga: Pasukan Usamah bin Zaid hendaknya tetap diberangkatkan memerangi Romawi.
 
Keempat: Berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar.
 
Kelima: Berwasiat agar menjaga shalat dan berbuat baik kepada para budak.
 
Beliau ﷺ mengecam dan melaknat orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid. Lalu beliau ﷺ melarang kubur beliau ﷺ dijadikan berhala yang disembah.
 
Di antara pesan beliau ﷺ adalah agar orang-orang Yahudi dikeluarkan dari Jazirah Arab. Sebagaimana termaktub dalam Musnad Imam Ahmad, 1/195.
 
Beliau ﷺ berpesan kepada umatnya tentang dunia. Janganlah berlomba-lomba mengejar dunia, agar dunia tidak membuat umatnya binasa, sebagaiman umat-umat sebelumnya binasa karena dunia.
 
Dalam keadaan sakit berat, beliau ﷺ tetap menjaga adab terhadap istri-istrinya, dan adil terhadap mereka. Nabi ﷺ meminta izin pada istri-istrinya untuk dirawat di rumah Aisyah. Mereka pun mengizinkannya.
 
Karena sakit yang kian terasa berat, Nabi ﷺ memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami masyarakat. Abu Bakar pun menjadi imam shalat selama beberapa hari di masa hidup Rasulullah ﷺ.
 
Sehari sebelum wafat, beliau ﷺ bersedekah beberapa Dinar, lalu bersabda:
 
لا نورث، ما تركناه صدقة
 
“Kami (para nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah.” [HR. al-Bukhari dalam Fathul Bari, 12/8 No. 6730]
 
Pada Senin, Rabiul Awal tahun 11 H, Nabi ﷺ wafat. Hari itu adalah waktu Dhuha yang penuh kesedihan. Wafatnya manusia Sayyid anaknya Adam. Bumi kehilangan orang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya.
 
Aisyah bercerita: “Ketika kepala beliau ﷺ terbaring tidur di atas pahaku, beliau ﷺ pingsan. Kemudian (saat tersadar) mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berucap, ‘Allahumma ar-rafiq al-a’la’.” [HR. al-Bukhari dalam Fathul Bari, 8/150 No. 4463]
 
Beliau ﷺ memilih perjumpaan dengan Allah ﷻ di Akhirat. Beliau ﷺ wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyampaikan amanah.
 
Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat. Dunia terasa gelap bagi mereka. Mereka bersedih karena berpisah dengan al-Kholil al-Musthafa. Hati-hati mereka bergoncang, tak percaya bahwa kekasih mereka telah tiada, hingga di antara mereka menyanggahnya. Umar angkat bicara, “Rasulullah ﷺ tidak wafat. Beliau ﷺ tidak akan pergi hingga Allah memerangi orang-orang munafik.” [Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 8/146]
 
Abu Bakar hadir, “Duduklah Umar”, perintah Abu Bakar pada Umar. Namun Umar menolak duduk. Orang-orang mulai mengalihkan diri dari Umar menuju Abu Bakar. Kata Abu Bakar:
“Amma ba’du… Siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad ﷺ, maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat. Kemudian ia membacakan firman Allah:
 
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
 
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [QS:Ali Imran | Ayat: 144]
 
Mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar, orang-orang seakan merasakan ayat itu baru turun hari itu. Mereka begitu larut dalam kesedihan. Mereka merasakan kosong. Bagaimana tidak, mereka ditinggal orang yang paling mereka cintai. Orang yang mereka rindu untuk berjumpa setiap hari. Orang yang lebih mereka cintai dari ayah, ibu, anak, dan semua manusia. Mereka lupa akan ayat itu. Dan mereka diingatkan oleh Abu Bakar, seorang yang paling kuat hatinya di antara mereka.
 
Penutup
 
Para ulama sepakat bahwa Nabi ﷺ wafat pada hari Senin 11 H. Namun berbeda pendapat tentang tanggal wafatnya Nabi ﷺ. Mayoritasnya berpendapat 12 Rabiul Awal. Sebagian menyatakan, 12 Rabiul Awal tidak tepat, karena Haji Wada terjadi pada Jumat. Melihat urut hari sejak itu, maka 12 Rabiul Awal tidak tepat jika dikatakan Senin.
 
Perbedaan pendapat ulama juga terjadi pada tanggal kelahiran beliau ﷺ. Bahkan perbedaannya lebih banyak: antara 2 Rabiul Awal, atau 8, 10, 12, 17 Rabiul Awal, dan 8 hari sebelum habisnya Rabiul Awal. Berdasarkan penelitian ulama Ahli Sejarah Muhammad, Sulaiman Al Mansurfury dan Ahli Astronomi Mahmud Basya disimpulkan, bahwa Senin pagi yang bertepatan dengan permulaan tahun dari peristiwa Penyerangan Pasukan Gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan 20 atau 22 april tahun 571, Senin tersebut bertepatan dengan 9 Rabiul Awal.
Allahu a’lam.
 
Sumber: Az-Zaid, Zaid bin Abdulkarim. 1424. Fiqh as-Sirah. Riyadh: Dar at-Tadmuriyah.
 
Oleh: Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Sumber: http://kisahmuslim.com/5347-wafatnya-rasulullah-%EF%B7%BA.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#wafatnya, #detikdetikmenjelang, #Nabi, #Rasulullah, #meninggalnya #tatacarahaji
,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

>> Hukum Melafalkan Niat (Usholli, Nawaitu …)

 

 

Sahabat –Al Faruq- Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata: ”Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia, atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah hadis yang menunjukkan, bahwa amal seseorang akan dibalas atau diterima tergantung dari niatnya.

Setiap Orang Pasti Berniat Tatkala Melakukan Amal

Niat adalah amalan hati dan hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. NIAT itu TEMPATNYA DI DALAM HATI dan BUKANLAH DI LISAN. Hal ini berdasarkan Ijma’ (kesepakatan) para ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Abdul Harim Abul Abbas Al Haroni dalam Majmu’ Fatawanya.

Setiap orang yang melakukan suatu amalan pasti telah memiliki niat terlebih dahulu. Karena tidak mungkin orang yang berakal yang punya ikhtiar (pilihan) melakukan suatu amalan tanpa niat. Seandainya seseorang disodorkan air, kemudian dia membasuh kedua tangan, berkumur-kumur hingga membasuh kaki, maka tidak masuk akal jika dia melakukan pekerjaan tersebut, yaitu berwudhu, tanpa niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan: ”Seandainya Allah membebani kita suatu amalan tanpa niat, niscaya ini adalah pembebanan yang sulit dilakukan.”

Apabila setan membisikkan kepada seseorang yang selalu merasa was-was dalam shalatnya, sehingga dia mengulangi shalatnya beberapa kali, setan mengatakan kepadanya:

”Hai manusia, kamu belum berniat”. Maka ingatlah: ”Tidak mungkin seseorang mengerjakan suatu amalan tanpa niat. Tenangkanlah hatimu, dan tinggalkanlah was-was seperti itu.”(Lihat Syarhul Mumthi, I/128 dan Al Fawa’id Dzahabiyyah, hal.12)

Melafalkan Niat

Masyarakat kita sudah sangat akrab dengan melafalkan niat (maksudnya mengucapkan niat sambil bersuara keras atau lirih) untuk ibadah-ibadah tertentu. Karena demikianlah yang banyak diajarkan oleh ustadz-ustadz kita, bahkan telah diajarkan di sekolah-sekolah sejak Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Contohnya adalah tatkala hendak shalat berniat ’Usholli fardhol Maghribi …’ atau pun tatkala hendak berwudhu berniat ’Nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsi …’. Kalau kita melihat dari hadis di atas, memang sangat tepat kalau setiap amalan harus diawali niat terlebih dahulu. Namun apakah niat itu harus dilafalkan dengan suara keras atau lirih?!

Secara logika mungkin dapat kita jawab. Bayangkan, berapa banyak niat yang harus kita hafal untuk mengerjakan shalat, mulai dari shalat sunah sebelum Subuh, shalat fardhu Subuh, shalat sunnah Dhuha, shalat sunnah sebelum Zuhur, dst. Sangat banyak niat yang harus kita hapal, karena harus dilafalkan. Karena ini pula banyak orang yang meninggalkan amalan, karena tidak mengetahui niatnya, atau karena lupa. Ini sungguh sangat menyusahkan kita. Padahal Nabi kita ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari)

Ingatlah, setiap ibadah itu bersifat Tauqifiyyah, sudah paketan dan baku. Artinya, setiap ibadah yang dilakukan harus ada dalil dari Alquran dan Hadis. Termasuk juga dalam masalah niat.

Setelah kita lihat dalam buku tuntunan shalat yang tersebar di masyarakat atau pun di sekolahan yang mencantumkan lafal-lafal niat shalat, wudhu, dan berbagai ibadah lainnya, tidaklah kita dapati mereka mencantumkan ayat atau riwayat hadis tentang niat tersebut. Tidak terdapat dalam buku-buku tersebut yang menyatakan, bahwa lafal niat ini adalah hadis riwayat Imam Bukhari dan sebagainya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad, I/201:

”Jika seseorang menunjukkan pada kami satu hadis saja dari Rasul dan para sahabat tentang perkara ini (mengucapkan niat), tentu kami akan menerimanya. Kami akan menerimanya dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi dan sahabatnya. Dan tidak ada petunjuk yang patut diikuti, kecuali petunjuk yang disampaikan oleh pemilik syariat yaitu Nabi ﷺ.”  Dan sebelumnya beliau mengatakan mengenai petunjuk Nabi dalam shalat: ”Rasulullah ﷺ, apabila hendak mendirikan shalat, maka beliau mengucapkan: ‘Allahu Akbar’. Dan beliau tidak mengatakan satu lafal pun sebelum takbir, dan tidak pula melafalkan niat sama sekali.”

Maka setiap orang yang menganjurkan mengucapkan niat wudhu, shalat, puasa, haji, dsb, maka silakan tunjukkan dalilnya. Jika memang ada dalil tentang niat tersebut, maka kami akan ikuti. Dan janganlah berbuat suatu perkara baru dalam agama ini yang tidak ada dasarnya dari Nabi ﷺ. Karena Nabi kita ﷺ bersabda:

”Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim). Dan janganlah selalu beralasan dengan mengatakan: ’Niat kami  kan baik’, karena sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhuma mengatakan:”Betapa banyak orang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi, sanadnya shahih, lihat Ilmu Ushul Bida’, hal. 92)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat wa shallallahu ’ala Muhammad wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/934-hukum-melafalkan-niat-usholli-nawaitu-2.html

,

PANDUAN SHALAT TAHAJUD

PANDUAN SHALAT TAHAJUD

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN SHALAT TAHAJUD

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumid diin.

Suatu kenikmatan yang sangat indah adalah bila seorang hamba bisa merasakan bagaimana bermunajat dengan Allah di tengah malam terutama ketika sepertiga malam terakhir. Berikut sedikit panduan dari kami mengenai shalat tahajud.

Maksud Shalat Tahajud

Shalat malam (Qiyamul Lail) biasa disebut juga dengan shalat tahajud. Mayoritas pakar fikih mengatakan, bahwa shalat tahajud adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari secara umum setelah bangun tidur. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/397, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Keutamaan Shalat Tahajud

Pertama: Shalat tahajud adalah sifat orang bertakwa dan calon penghuni Surga.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (Surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).

Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini: “Mereka bersengaja melaksanakan Qiyamul Lail (shalat tahajud). Di malam hari mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang Subuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.” [Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 13/212, Maktabah Al Qurthubah]

Kedua: Tidak sama antara orang yang shalat malam dan yang tidak.

Allah Ta’ala berfirman:

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung), ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) Akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9). Yang dimaksud Qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan khusu’. [Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/115]

Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!” [Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 7/166, Al Maktab Al Islami]. Jawabannya, tentu saja tidak sama.

Ketiga: Shalat tahajud adalah sebaik-baik shalat sunnah.

Nabi ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah]

An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama, bahwa shalat sunnah di malam hari lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Ini juga adalah dalil bagi ulama Syafi’iyah (yang satu madzhab dengan kami), di antaranya Abu Ishaq Al Maruzi dan yang sepaham dengannya, bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah Rawatib. Sebagian ulama Syafi’iyah yang lain berpendapat, bahwa shalat sunnah Rawatib lebih afdhol (lebih utama) dari shalat malam, karena kemiripannya dengan shalat wajib. Namun pendapat pertama tetap lebih kuat dan sesuai dengan hadis. Wallahu a’lam. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 8/55, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, 1392]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan: “Waktu tahajud di malam hari adalah sebaik-baik waktu pelaksanaan shalat sunnah. Ketika itu hamba semakin dekat dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu langit dan terijabahinya (terkabulnya) doa. Saat itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah.” [Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 77, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H]

‘Amr bin Al ‘Ash mengatakan: “Satu rakaat shalat sunnah di malam hari lebih baik dari 10 rakaat shalat sunnah di siang hari.” Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya. [Lathoif Al Ma’arif, hal. 76]

Ibnu Rajab mengatakan: “Di sini ‘Amr bin Al ‘Ash membedakan antara shalat malam dan shalat di siang hari. Shalat malam lebih mudah dilakukan sembunyi-sembunyi, dan lebih mudah mengantarkan pada keikhlasan.”[ Lathoif Al Ma’arif, hal. 76]. Inilah sebabnya para ulama lebih menyukai shalat malam karena amalannya yang jarang diketahui orang lain.

Keempat: Shalat tahajud adalah kebiasaan orang saleh.

Nabi ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ

“Hendaklah kalian melaksanakan Qiyamul Lail (shalat malam) karena shalat malam adalah kebiasaan orang saleh sebelum kalian, dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ” [Lihat Al Irwa’ no. 452. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan]

Kelima: Sebaik-baik orang adalah yang melaksanakan shalat tahajud.

Nabi ﷺ pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar:

« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .

“Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar), seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” Salim mengatakan: “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.” [HR. Bukhari no. 3739, dari Hafshoh]

Waktu Shalat Tahajud

Shalat tahajud boleh dikerjakan di awal, pertengahan atau akhir malam. Ini semua pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Sebagaimana Anas bin Malik, pembantu Nabi ,ﷺ mengatakan:

مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ وَلَا نَشَاءُ أَنْ نَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ

“Tidaklah kami bangun agar ingin melihat Rasulullah ﷺ di malam hari mengerjakan shalat, kecuali pasti kami melihatnya. Dan tidaklah kami bangun melihat beliau dalam keadaan tidur, kecuali pasti kami melihatnya pula.” [Shahih. HR. Bukhari no. 1141, An Nasai no. 1627 (ini lafazh An Nasai), At Tirmidzi no. 769. Lihat Shahih wa Dho’if Sunan An Nasai, Syaikh Al Albani, 4/271, Asy Syamilah]

Ibnu Hajar menjelaskan:

إِنَّ صَلَاته وَنَوْمه كَانَ يَخْتَلِف بِاللَّيْلِ وَلَا يُرَتِّب وَقْتًا مُعَيَّنًا بَلْ بِحَسَبِ مَا تَيَسَّرَ لَهُ الْقِيَام

“Sesungguhnya waktu shalat malam dan tidur yang dilakukan Nabi ﷺ berbeda-beda setiap malamnya. Beliau tidak menetapkan waktu tertentu untuk shalat. Namun beliau mengerjakannya sesuai keadaan yang mudah bagi beliau.” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i, 3/23, Darul Ma’rifah Beirut, 1379]

Waktu Utama untuk Shalat Tahajud

Waktu utama untuk shalat malam adalah di akhir malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kami tabaroka wa ta’ala akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman: “Siapa yang memanjatkan doa pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya”.” [HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758, dari Abu Hurairah]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai di sisi Allah adalah puasa Daud [Sebagaimana dijelaskan oleh penulis Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, bahwa puasa Daud ini boleh dilakukan dengan syarat tidak sampai melalaikan yang wajib-wajib, dan tidak sampai melalaikan memberi nafkah kepada keluarga yang menjadi tanggungannya. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 2/138, Al Maktabah At Taufiqiyah]. Dan shalat yang dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam dan bangun tidur pada sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur kembali pada seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya tidak berpuasa.” [HR. Bukhari no. 1131 dan Muslim no. 1159, dari ‘Abdullah bin ‘Amr]

‘Aisyah pernah ditanyakan mengenai shalat malam yang dilakukan oleh Nabi ﷺ. ‘Aisyah menjawab:

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

“Nabi ﷺ biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).” [HR. Bukhari no. 1146, dari ‘Aisyah]

Shalat Tahajud Ketika Kondisi Sulit

Bermunajatlah pada Allah di akhir malam ketika kondisi begitu sulit.

‘Ali bin Abi Tholib pernah menceritakan:

رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا كَانَ مِنَّا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ

“Kami pernah memerhatikan pada malam Badar, dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah ﷺ. Beliau melaksanakan shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan doa pada Allah hingga waktu Subuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.” [HR. Bukhari no. 1146, dari ‘Aisyah]. Dalam riwayat lain disebutkan:

يُصَلِّى وَيَبْكِى حَتَّى أَصْبَحَ

“Beliau melaksanakan shalat sambil menangis hingga waktu Subuh.” [HR. Ahmad 1/125. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud yang Dianjurkan (Disunnahkan)

 

Jumlah rakaat shalat tahajud yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 rakaat. Dan inilah yang menjadi pilihan Nabi ﷺ.

‘Aisyah mengatakan:

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا

“Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah shalat malam pada waktu Ramadan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau melakukan shalat empat rakaat. Maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat rakaat lagi, dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat tiga rakaat.” [HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738]

Ibnu ‘Abbas mengatakan:

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat malam 13 rakaat.” [HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764]

Zaid bin Kholid Al Juhani mengatakan:

لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Aku pernah memerhatikan shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau pun melaksanakan dua rakaat ringan. Kemudian setelah itu beliau laksanakan dua rakaat yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat dua rakaat yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat dua rakaat lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat dua rakaat yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat dua rakaat lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam ketika itu 13 rakaat.” [HR. Muslim no. 765]. Ini berarti Nabi ﷺ melaksanakan Witir dengan 1 rakaat. [Lihat Al Muntaqo Syarh Al Muwatho‘, 1/280, Mawqi’ Al Islam]

Dari sini menunjukkan, bahwa disunnahkan sebelum shalat malam, dibuka dengan dua rakaat ringan terlebih dahulu. ‘Aisyah mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

“Rasulullah ﷺ jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rakaat yang ringan.” [HR. Muslim no. 767]

Bolehkah Menambahkan Rakaat Shalat Malam Lebih Dari 11 Rakaat?

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan:

وَلَا خِلَاف أَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ حَدّ لَا يُزَاد عَلَيْهِ وَلَا يَنْقُص مِنْهُ ، وَأَنَّ صَلَاة اللَّيْل مِنْ الطَّاعَات الَّتِي كُلَّمَا زَادَ فِيهَا زَادَ الْأَجْر ، وَإِنَّمَا الْخِلَاف فِي فِعْل النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا اِخْتَارَهُ لِنَفْسِهِ

“Tidak ada khilaf, bahwa tidak ada batasan jumlah rakaat dalam shalat malam. Tidak mengapa ditambah atau dikurang. Alasannya, shalat malam adalah bagian dari ketaatan, yang apabila seseorang menambah jumlah rakaatnya, maka bertambah pula pahalanya. Jika dilakukan seperti ini, maka itu hanya menyelisihi perbuatan Nabi ﷺ dan menyelisihi pilihan yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.” [25 Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, An Nawawi, 6/19, Dar Ihya’ At Turots Al Arobi Beirut, cetakan kedua, 1392]

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan:

فلا خلاف بين المسلمين أن صلاة الليل ليس فيها حد محدود وأنها نافلة وفعل خير وعمل بر فمن شاء استقل ومن شاء استكثر

“Tidak ada khilaf di antara kaum Muslimin, bahwa shalat malam tidak ada batasan rakaatnya. Shalat malam adalah shalat Nafilah (shalat sunnah) dan termasuk amalan kebaikan. Seseorang boleh semaunya mengerjakan dengan jumlah rakaat yang sedikit atau pun banyak.” [At Tamhid, Ibnu ‘Abdil Barr, 21/69-70, Wizaroh Umum Al Awqof, 1387 dan Al Istidzkar, Ibnu ‘Abdil Barr, 2/98, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1421 H]

Adapun dalil yang menunjukkan bolehnya menambah lebih dari 11 rakaat, di antaranya:

Nabi ﷺ ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu Subuh, maka kerjakanlah satu rakaat. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan Witir.” [HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar]. Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi ﷺ akan menjelaskannya.

Lalu bagaimana dengan hadis ‘Aisyah:

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah shalat malam pada waktu Ramadan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. ” [HR. Bukhari dan Muslim. Sudah lewat takhrijnya]

Jawabannya adalah sebagai berikut:

Jika ingin mengikuti sunnah (ajaran) Nabi ﷺ, maka mestinya mencocoki beliau dalam jumlah rakaat shalat juga dengan tata cara shalatnya.

Sedangkan shalat yang paling bagus, kata Nabi ﷺ adalah:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوت

“Shalat yang paling baik adalah yang paling lama berdirinya.” [HR. Muslim no. 756, dari Jabir]

Namun sekarang yang melakukan 11 rakaat demi mencontoh Nabi ﷺ tidak melakukan lama seperti beliau. Padahal jika kita ingin mencontoh jumlah rakaat yang dilakukan Nabi ﷺ, seharusnya juga lama shalatnya pun sama.

Sekarang pertanyaannya, manakah yang lebih utama, melakukan shalat malam 11 rakaat dalam waktu 1 jam ataukah shalat malam 23 rakaat yang dilakukan dalam waktu dua jam atau tiga jam?

Yang satu mendekati perbuatan Nabi ﷺ dari segi jumlah rakaat. Namun yang satu mendekati ajaran Nabi ﷺ dari segi lamanya. Manakah di antara kedua cara ini yang lebih baik?

Jawabannya, tentu yang kedua, yaitu yang shalatnya lebih lama dengan rakaat yang lebih banyak. Alasannya, karena pujian Allah terhadap orang yang waktu malamnya digunakan untuk shalat malam dan sedikit tidurnya. Allah ta’ala berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (QS. Adz Dzariyat: 17)

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al Insan: 26)

Oleh karena itu, para ulama ada yang melakukan shalat malam hanya dengan 11 rakaat namun dengan rakaat yang panjang. Ada pula yang melakukannya dengan 20 rakaat atau 36 rakaat. Ada pula yang kurang atau lebih dari itu. Mereka di sini bukan bermaksud menyelisihi ajaran Nabi ﷺ. Namun yang mereka inginkan adalah mengikuti maksud Nabi ﷺ yaitu dengan mengerjakan shalat malam dengan Thulul Qunut (berdiri yang lama).

Sampai-sampai sebagian ulama memiliki perkataan yang bagus: “Barang siapa yang ingin memerlama berdiri dan membaca surat dalam shalat malam, maka ia boleh mengerjakannya dengan rakaat yang sedikit. Namun jika ia ingin tidak terlalu berdiri dan membaca surat, hendaklah ia menambah rakaatnya.”

Mengapa ulama ini bisa mengatakan demikian? Karena yang jadi patokan adalah lama berdiri di hadapan Allah ketika shalat malam. -Demikianlah faidah yang kami dapatkan dari penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam At Tarsyid– [Lihat At Tarsyid, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 146-149, Dar Ad Diya’]

Qodho’ bagi yang Luput dari Shalat Tahajud karena Uzur

Bagi yang luput dari shalat tahajud karena uzur seperti ketiduran atau sakit, maka ia boleh mengqodho’nya di siang hari sebelum Zuhur.

‘Aisyah mengatakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ, jika beliau luput dari shalat malam karena tidur atau uzur lainnya, beliau mengqodho’nya di siang hari dengan mengerjakan 12 rakaat.” [HR. Muslim no. 746]

‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَىْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ

“Barang siapa yang tertidur dari penjagaannya atau dari yang lainnya, lalu ia membaca apa yang biasa ia baca di shalat malam antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka ia dicatat seperti membacanya di malam hari.” [HR. Muslim no. 747]

 

Demikian pembahasan ringkas kami mengenai shalat tahajud.

Semoga kita semakin terbimbing dengan sajian ringkas ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan sekaligus merutinkannya.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/762-panduan-shalat-tahajud.html

,

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, pikun, dan sifat kikir (bakhil). Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Nabi ﷺ berlindung dari tujuh perkara, yaitu:

  1. Kelemahan
  2. Kemalasan

Perbedaan antara lemah dan malas adalah, bahwa lemah itu tidak adanya kemampuan, sedangkan malas adalah enggannya jiwa melakukan kebaikan, dan kurang terdorong kepadanya, padahal mampu melakukannya. Kedua hal ini adalah penyakit yang membuat seseorang duduk dan meninggalkan kewajiban, sehingga terbuka baginya pintu-pintu keburukan.

  1. Sifat pengecut
  2. Kebakhilan (kekikiran)

Sifat pengecut terkait dengan jiwa, sedangkan sifat bakhil (pelit) terkait dengan harta. Siapa saja yang kehilangan keberanian untuk melawan hawa nafsu, was-was setan, melawan musuh, menghadapi lawan yang membela yang batil, maka dia adalah pengecut. Dan siapa saja yang tidak mau memberi kaum fakir dengan hartanya, mengeluarkan hartanya untuk para mujahid fii sabilillah, dan mengeluarkan pada jalur-jalur kebaikan, maka dia adalah orang yang bakhil. Dalam banyak ayat, Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan berjihad dengan jiwa dan hartanya. Dan penyakit yang dapat menghalangi seseorang dari berjihad mengorbankan jiwa dan hartanya adalah penyakit pengecut dan bakhil.

Nabi ﷺ berlindung dari sifat pengecut dan bakhil, karena keduanya dapat menghalangi kewajiban, menghalangi dari memenuhi hak-hak Allah ta’ala, menghalangi dari mencegah kemungkaran, bersikap tegas kepada para pelaku maksiat. Di samping itu, dengan seseorang memiliki keberanian dan kekuatan, maka ibadah dapat sempurna, orang yang terzalimi dapat tertolong, jihad dapat dilakukan. Sedangkan dengan selamat dari kebakhilan, maka ia dapat memenuhi hak-hak harta, adanya keinginan untuk berinfak, bersikap dermawan, dan berakhlak mulia serta terhalang dari sifat tamak kepada apa yang tidak dimilikinya.

  1. Pikun

Yang dimaksud pikun adalah dikembalikan kepada usia yang paling buruk. Sebab mengapa beliau ﷺ berlindung darinya adalah, karena ketika sudah pikun terkadang ucapan menjadi ngelantur, akal dan ingatan menjadi kurang, panca indera menjadi lemah, dan lemah dari melakukan ketaatan, serta meremehkan sebagiannya. Cukuplah seseorang berlindung darinya, karena Allah menamai usia tersebut sebagai Ardzalul ‘Umur (Usia paling buruk).

  1. Siksa Kubur

Hadis di atas menunjukkan adanya siksa kubur, di samping adanya nikmat kubur dan fitnah(ujian)nya. Hadis lain yang menunjukkan adanya siksa kubur adalah hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ المَدِينَةِ، أَوْ مَكَّةَ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» . ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ، فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ، فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا» أَوْ: «إِلَى أَنْ يَيْبَسَا»

“Nabi ﷺ pernah melewati salah satu di antara kebun-kebun Madinah atau Mekkah, lalu beliau ﷺ mendengar suara dua orang yang diazab dalam kuburnya, kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Keduanya sedang diazab, dan keduanya tidaklah diazab, menurut keduanya terhadap dosa besar.” Selanjutnya beliau ﷺ bersabda: “Bahkan sesungguhnya itu dosa besar. Adapun salah satunya, maka ia tidak menjaga diri dari kencingnya, sedangkan yang satu lagi berjalan kesana-kemari mengadu domba.” Kemudian beliau ﷺ meminta dibawakan pelepah kurma, lalu beliau ﷺ mematahkan menjadi dua bagian, dan meletakkan belahannya di masing-masing kubur itu, lalu beliau ﷺ ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Mudah-mudahan azab keduanya diberi keringanan selama belahan itu belum kering,” atau bersabda: “Sampai kedua belahan kering.” [HR. Bukhari]

 

  1. Fitnah Hidup dan Mati (Bencana Kehidupan dan Kematian)

Fitnah hidup artinya cobaan dan hujian hidup, baik berupa fitnah syahwat dan fitnah syubhat, d imana kedua cobaan ini banyak yang membuat manusia tergelincir, lalai dari kewajibannya dan terbawa oleh arus fitnah yang menggiringnya kepada kebinasaan. Maka dalam doa ini kita berlindung, agar kita mampu menghadapi cobaan-cobaan itu dengan tetap bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya. Ini adalah cara untuk menghadapi fitnah syahwat. Adapun cara untuk menghadapi fitnah syubhat adalah dengan yakin di atas kebenaran dan teguh, tidak mudah berubah oleh situasi dan kondisi; berbekal ilmu syari.

Sedangkan fitnah mati, maka maksudnya ujian ketika di kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyakan kepada seseorang tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Wallahu a’lam.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Dinukil dari tulisan berjudul: “RASULULLAH BERDOA MOHON PERLINDUNGAN DARI HAL-HAL BERIKUT” yang ditulis oleh: Marwan Hadidi, S.Pd.I

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: https://muslim.or.id/22107-rasulullah-berdoa-mohon-perlindungan-dari-hal-hal-berikut.html

 

 

 

,

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ShirahNabawiyah
#KisahMuslim

BENARKAH RASULULLAH MELARANG ALI BIN ABI THALIB POLIGAMI?

Kisah Rasulullah ﷺ melarang Ali berpoligami adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Namun bagaimana penjelasan yang benar mengenai hal ini?

Poligami itu dibolehkan dalam Islam. Seseorang yang tidak mau berpoligami, atau wanita yang tidak mau dipoligami, itu tidak mengapa. Namun jangan sampai ia menolak syariat poligami, atau menganggap poligami itu tidak disyariatkan. Sebagian orang yang menolak syariat poligami seringkali berdalih dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu yang tidak melakukan poligami. Bahkan mereka mengatakan, bahwa dari Nabi ﷺ sebenarnya melarang poligami, sebagaimana beliau ﷺ melarang Ali bin Abi Thalib berpoligami.

Poligami Disyariatkan dalam Islam

Dalam suatu kesempatan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman ditanya:

“Apakah benar Nabi ﷺ melarang Ali untuk menikah lagi setelah memiliki istri yaitu Fathimah (putri Rasulullah ﷺ). Dan apakah itu berarti Nabi ﷺ melarang poligami?”

Beliau menjawab:

Kisah yang dimaksud oleh penanya tersebut adalah kisah yang Shahih diriwayatkan dalam Shahihain. Dari Miswar bin Makhramah, bahwa Nabi ﷺ berkhutbah di atas mimbar:

إن بني هشام بن المغيرة استأذنوني أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن لهم، ثم لا آذن لهم ثم لا آذن لهم، إلا أن يحب ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم. فإنما ابنتي بضعة مني، يريبني ما أرابها، ويؤذيني ما آذاها

“Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“

Dalam riwayat lain:

وإني لست أحرم حلالاُ، ولكن والله لا تجتمع بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبنت عدو الله مكاناُ واحد أبداً

“Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“

Maka poligami itu dibolehkan, bahkan dianjurkan. Bagaimana tidak? Sedangkan Rabb kita berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” (QS. An Nisa: 3).

Dan firman Allah ta’ala: “Nikahilah yang baik bagi kalian dari para wanita, dua atau tiga atau empat” ini mengisyaratkan bahwa poligami itu wajib. Namun lafal “Nikahilah yang baik bagi kalian” menunjukkan, bahwa menikahi istri kedua itu terkadang baik dan terkadang tidak.

Dan hukum asal dari pernikahan adalah poligami, karena Allah ta’ala memulainya dengan al matsna (dua). Dan terdapat hadis Shahih dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, bahwa beliau ﷺ bersabda:

خير الناس أكثرهم أزواجاً

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak istrinya.“

Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas di sini adalah Nabi ﷺ. Karena beliau ﷺ menikahi 13 wanita, namun yang pernah berjimak dengannya hanya 11 orang. Dan beliau ﷺ ketika wafat meninggalkan 9 orang istri. Maka poligami itu disyariatkan dalam agama kita. Adapun klaim bahwa hadis ini menghilangkan syariat poligami, maka ini adalah kedustaan kepalsuan dan kebatilan. Dan hadis ini perlu dipahami dengan benar.

Syaikh Masyhur juga mengatakan:

Sungguh disesalkan, di sebagian negeri kaum Muslimin saat ini, mereka melarang poligami. Ini adalah kejahatan yang dibuat oleh undang-undang (buatan manusia)! Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa poligami ini perkara mubah dan waliyul amr boleh membuat undang-undang yang mengatur perkara mubah! Ini adalah sebuah KEDUSTAAN! Dan tidak boleh bagi waliyul amr untuk berbuat melebihi batas, terhadap perkara yang Allah halalkan dalam syariat. Padahal berselingkuh mereka anggap boleh dalam undang-undang! Sedangkan “selingkuhan” yang berupa istri (selain istri pertama), justru dilarang dan beri hukuman dalam undang-undang! Laa haula walaa quwwata illa billaah! Dan ini merupakan bentuk pemerkosaan dan perlawanan terhadap moral, kemanusiaan dan agama.

Penjelasan Kisah Ali Bin Abi Thalib

Syaikh Masyhur Hasan menjelaskan kerancuan pendalilan dengan kisah Ali bin Abi Thalib tersebut. Beliau mengatakan:

Adapun kisah Ali dan Fathimah radhiallahu’anhuma, Nabi ﷺ tidak melarangnya untuk berpoligami. Keputusan Nabi ﷺ melarang poligami bagi Ali tersebut adalah karena beliau ﷺ sebagai wali bagi Ali, bukan karena hal tersebut disyariatkan. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal. Tapi demi Allah, tidak akan bersatu putri Rasulullah ﷺ dengan putri dari musuh Allah dalam satu tempat, selama-lamanya“”.

Beliau juga melanjutkan: “Dan dalam kisah ini juga Nabi ﷺ menjelaskan, bahwa yang halal adalah apa yang Allah halalkan, dan yang haram adalah apa yang Allah haramkan. Dan bahwasanya poligami itu halal. Namun beliau ﷺ melarang Ali memilih putrinya Abu Jahal (sebagai istri keduanya).

Sebagaimana diketahui, Abu Jahal Amr bin Hisyam adalah tokoh Quraisy yang sangat keras dan keji perlawanannya terhadap Rasulullah ﷺ.

Syaikh Masyhur menambahkan:

Jawaban lainnya, sebagian ulama mengatakan, bahwa hal tersebut khusus bagi putri Nabi ﷺ. Namun pendapat ini kurang tepat, pendapat pertama lebih kuat. Para ulama yang berpendapat demikian berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu“. Dan kata mereka, ini dijadikan oleh Nabi ﷺ untuk melarang Ali berpoligami. Selain itu dikuatkan lagi dengan fakta, bahwa Ali tidak pernah menikah lagi semasa hidupnya, setelah menikah dengan Fathimah. Namun sekali lagi, pendapat yang pertama lebih rajih, karena syariat itu berlaku umum.

Wallahu a’lam.

Sehingga jelaslah bahwa kisah di atas tidak bisa menjadi dalil untuk menolak syariat poligami.

Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

 

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/30974

Penyusun: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/27264-benarkah-rasulullah-melarang-ali-bin-abi-thalib-poligami.html

 

, ,

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MasailJenazah
#BimbinganPengurusanJenazah

HUKUM MELAKUKAN SAFAR DALAM RANGKA TAKZIYAH

>> Tanya-Jawab Ringkas Bersama asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

Masaa’il Jenazah

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya safar dalam rangka takziyah?

جـ: لا بأس بذلك ؛ والنهي عن السفر وشد الرحال للمساجد ، إلا المساجد الثلاثة

Jawaban:

“Tidak mengapa hal demikian. Larangan untuk safar dan menempuh perjalanan melelahkan, hanyalah jika dimaksudkan untuk mendatangi masjid tertentu, kecuali tiga masjid.”

Keterangan Penerjemah:

Artinya, kita dilarang untuk pergi menempuh jarak yang jauh untuk datang ke masjid tertentu, selain pada tiga masjid. Ini berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad ﷺ:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidak boleh melakukan perjalanan sulit kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah ﷺ, dan Masjidil Aqsha.” [Muttafaqun ‘alaihi]

 

[Masaa’il Imam Ibnu Baaz, II/108]

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/301/hukum-melakukan-safar-dalam-rangka-takziyah#sthash.Z2lYDrMR.dpuf

,

TELADAN NABI MUHAMMAD SAAT RAMADAN

TELADAN NABI MUHAMMAD SAAT RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

TELADAN NABI MUHAMMAD SAAT RAMADAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah pernah ditanya:

Pertanyaan:

Bagaimana petunjuk Rasulullah ﷺ dan para sahabat saat bulan Ramadan?

Jawaban:

“Petunjuk Nabi Muhammad ﷺ saat Ramadan, demikian pula petunjuk para pendahulu kita yang saleh dari kalangan sahabat dan kaum yang mengikuti mereka dengan baik ialah, memanfaatkan dengan sebaik mungkin bulan tersebut, yaitu dengan memerbanyak perbuatan kebajikan dan kian menjauh dari perbuatan maksiat. Dan Nabi Muhammad ﷺ ialah orang yang paling dermawan dalam mengerjakan kebaikan. Dan kondisi paling dermawannya beliau dalam berbuat baik ialah ketika Ramadan, di kala Jibril ‘alaihis salaam menjumpai beliau ﷺ.”

Dari Penerjemah:

Maka sudah sangat mesti, kita selaku umat Nabi Muhammad ﷺ untuk berusaha secara nyata dan maksimal, meneladani apa yang menjadi kebiasaan beliau ﷺ saat Ramadan. Yaitu memanfaatkan sebaik mungkin bulan tersebut dengan mengisinya dengan beragam macam ibadah. Bukan menjadikan waktu siangnya untuk tidur, malamnya untuk begadang.

Semoga Allah ﷻ memberikan taufiik dan pertolongan-Nya pada kita dalam menghadapi Ramadan ini, maupun Ramadan-Ramadan selanjutnya, dengan ibadah dan amal saleh.

[Fataawaa Nuur ‘alad Darb, VII/175]

 

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-.

Sumber: http://nasehatetam.com/read/283/teladan-nabi-muhammad-saat-Ramadan#sthash.iz3Cg4og.dpuf

MENGAPA NABI MUHAMMAD DIGELARI PUTRA DUA MANUSIA YANG DISEMBELIH?

MENGAPA NABI MUHAMMAD DIGELARI PUTRA DUA MANUSIA YANG DISEMBELIH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ShirahNabawiyah

MENGAPA NABI MUHAMMAD DIGELARI PUTRA DUA MANUSIA YANG DISEMBELIH?

>> Benarkah Ayah Nabi ﷺ Calon Disembelih?

Pertanyaan:

Benarkah Nabi Muhammad ﷺ digelari putra dua manusia yang disembelih? Mengapa demikian?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita akan melihat nadzarnya Abdul Muthalib untuk menyembelih anaknya. Terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas, mengenai nadzarnya Abdul Muthalib, kakek Nabi ﷺ:

وقد كان عبدالمطلب بن هاشم نذر إن توافى له عشرة رهط أن ينحر أحدهم فلما توافى له عشرة أقرع بينهم أيهم ينحر فطارت القرعة على عبدالله بن عبدالمطلب وكان أحب الناس إلى عبدالمطلب فقال عبدالمطلب اللهم هو أو مائة من الإبل ثم أقرع بينه وبين الإبل فطارت القرعة على المائة من الإبل

Dulu Abdul Muthalib pernah bernadzar, jika dia memiliki sepuluh anak lelaki, maka dia akan menyembelih salah satunya. Ketika Abdul Muthalib memiliki sepuluh anak lelaki, dia mengundi, siapa di antara anaknya yang akan disembelih. Ternyata yang keluar adalah namanya Abdullah. Sementara Abdullah adalah anaknya yang paling dia cintai. Kemudian Abdul Muthalib mengatakan: “Ya Allah, Abdullah atau seratus ekor unta.” Kemudian dia mengundi antara Abdullah dan seratus unta. Lalu keluar seratus ekor unta. [Tarikh at-Thabari, 1/497].

Mengenai latar belakang nadzarnya, disebutkan dalam riwayat Mursal dari az-Zuhri dan Abu Mijlaz, bahwa Nadzar Abdul Muthalib ini terkait rebutan Zam-zam. [as-Sirah an-Nabawiyah as-Sahihah, Dr. Akram al-Umari,  hlm. 93].

Ketika Abdul Muthalib menggali Zam-zam, banyak suku Quraisy yang berusaha merebutnya, atau meminta agar dimiliki bersama. Namun Abdul Muthalib tidak bersedia. Sementara Abdul Muthalib tidak memiliki banyak keturunan lelaki. Akkhirnya dia bernadzar, jika memiliki sepuluh anak lelaki, maka akan disembelih satu. Dengan harapan, ketika anak lelakinya banyak, dia bisa lebih leluasa dalam menguasai Zam-zam.

Dalam kitab ar-Rahiq al-Makhtum diceritakan lebih lengkap…

Ketika Abdul Muthalib memiliki sepuluh anak, dia pun melaksanakan nadzarnya. Abdul Muthalib menyampaikan maksudnya ini kepada semua anaknya, dan mereka pun manaati ayahnya. Lalu sepuluh nama anaknya ditulis dan dimasukkan dalam undian. Ketika diundi, keluarlah nama Abdullah.

Abdul Muthalib menggelendeng Abdullah menuju Kakbah dengan membawa sebilah pisau untuk penyembelihan. Banyak orang Quraisy melarangnya, terutama paman-pamannya dari Bani Makhzum, dan saudaranya Abu Thalib.

“Apa yang harus aku lakukan dengan nadzarku?” tanya Abdul Muthali kebingungan.

Ada yang menyarankan untuk mendatangi dukun perempuan, dan minta saran darinya.

Dukun itu menyarankan, tulis nama Abdullan dan tulis sepuluh ekor unta, lalu diundi. Jika keluar nama Abdullan, gantikan dengan sepuluh ekor unta, sampai Allah menentukan pilihan dengan keluar sepuluh unta.

Lalu dia pun kembali dan mengundi antara nama Abdullah dengan sepuluh ekor unta.

Undian pertama keluar nama Abdullah, digantikan dengan sepuluh ekor unta.

Diundi lagi, keluar nama Abdullah, digantikan sepuluh ekor unta… hingga sepuluh kali, baru keluar nama sepuluh ekor unta, hingga berjumlah seratus ekor unta. Sejak saat itu, diyat pembunuhan di tengah suku Quraisy ditetapkan seratus ekor unta. [ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 43 – 44]

Kejadian ini menunjukkan, bagaimana perlindungan yang Allah berikan untuk terlahirnya Nabi terakhir, Nabi Muhammad  ﷺ. Ada peluang ayahnya meninggal sebelum menikah, namun Allah jaga kehidupan Abdullah dari keinginan Abdul Muthalib untuk menyembelihnya.

Mengapa disebut putra dua manusia yang disembelih?

Nabi Muhammad ﷺ adalah keturunan Nabi Ismail. Dalam hadis dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ

Sesungguhnya Allah memilih Bani Kinanah di kalangan keturunan Ismail. Lalu Allah memilih Quraisy di kalangan Bani Kinanah. Lalu Allah memilih Bani Hasyim dari kalangan Quraisy. Dan Allah memilihku dari kalangan Bani Hasyim. [HR. Muslim 6077, Turmudzi 3964 dan yang lainnya].

Sehingga Nabi Muhammad ﷺ adalah keturunan dua manusia yang berencana akan disembelih, Ismail dan ayah beliau, Abdullah. Karena itulah beliau merupakan keturunan dua manusia yang akan disembelih [Ibnu Dzabihain].

Disebutkan dalam riwayat, beliau ﷺ bersabda:

أنا ابن الذبيحين

“Saya putra dua manusia yang akan disembelih.” [Sirah Ibnu Hisyam, 1/151 – 155]

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Dewan Pembina Konsultasisyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29370-ayah-nabi-calon-disembelih.html

,

KONSEP CINTA

KONSEP CINTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

KONSEP CINTA

Akhi, tahukah engkau tentang konsep cinta hakiki?

Mungkin selama ini, realita saat ini, konsep cinta yang sering kita saksikan identik dengan uang, intrik, putus-nyambung yang tak jelas, romantis dan air mata yang dipaksakan, perceraian, perselingkuhan, retak, ruwet, menyakitkan, buta, dan gelap. Konsep-konsep cinta yang indah dan penuh dinamika perjuangan hanya ada dalam film, sinetron, novel, cerita fiksi, bayangan kawula muda, khayalan pujangga, dan dendangan para penyair. Konsep cinta pun seolah menyakitkan, pahit, atau indah dalam khayalan.

Maka jika engkau bertanya, adakah konsep cinta hakiki dalam dunia nyata? Inilah jawabannya! Inilah kisah yang memuat konsep cinta hakiki, terlahir dari relung hati, tanpa paksaan, dan terikat benang Ilahi.

Kisah ini bermula saat Rasulullah ﷺ iba melihat salah seorang sahabatnya. Julaibib namanya. Ia adalah manusia yang tak pernah dirasakan keberadaannya, meskipun di zaman sahabat sekalipun. Perawakannya kerdil. Warnanya bagaikan arang. Wajahnya diungkapkan dalam bahasa Arab dengan lafal “Damim”. Artinya bukan sekedar buruk rupa, tapi buruk rupa yang mengerikan. Karenanya orang-orang tak berminat berdekat-dekat dengannya. Bahkan sekadar untuk mengingatnya, apalagi menanyakan kabarnya. Atau merasakan segala gejolaknya. Keberadaannya bagaikan tiada. Ia itu miskin, kusut, dan tak memiliki nasab yang jelas. Ia terasing, walau di negeri sendiri. Meskipun di zaman terbaik, zaman sahabat.

Rasa iba Rasulullah ﷺ menjadi berkuadrat, karena Julaibib tak pernah memerdulikan keterasingannya. Ia acuh atas sikap manusia kepadanya. Yang ia pikirkan hanyalah, bagaimana cara memenuhi panggilan Allah untuk shalat. Bagaimana cara memenuhi panggilan Rasulullah ﷺ untuk berjihad. Itu saja!

Hingga akhirnya rasa iba menggerakkan kaki Rasulullah ﷺ yang mulia, untuk berkunjung ke rumah salah seorang sahabat Anshari.

“Sahabat, maukah engkau nikahkan putrimu?” tanya Rasulullah ﷺ.
“Sungguh!? Betapa mulianya tawaran darimu, duhai Rasulullah,” jawab Anshari.
“Namun bukan untukku.”
“Lantas?”
“Sahabatku, Julaibib.”

Mendengar nama Julaibib, Anshari bagaikan terserang demam tingkat tinggi. Lesu bukan main. Semangat nan riang yang tadi terpancar indah dari wajahnya seolah menjadi mendung dan gelap. Saking gelapnya, ia sampai tak sadar, bahwa yang meminang untuk Julaibib adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Padahal, apakah pantas rekomendasi Rasulullah ﷺ ditolak? Begitulah. Bukan salah Anshari, juga istrinya nanti. Namun karena jeleknya imej Julaibib, sampai membuat Anshari lupa, bahwa yang datang meminang adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Dan kemungkinan besarnya, Allah mengampuni sahabat tadi. Sebab kesalahan seseorang saat batinnya tidak karuan, seperti terlalu gembira, terlampau sedih, begitu tertekan, dan semisalnya, akan diampuni oleh Allah. Terlebih ia, juga istrinya, adalah sahabat Rasulullah ﷺ. Bukankah orang yang saking gembiranya berkata: “Ya Allah, Engkau hambaku, sedang aku adalah Rabb-Mu” diampuni oleh Allah!?

Rasulullah ﷺ pun manusia bijak bestari. Beliau ﷺ paham sahabatnya. Memang butuh ketegaran sebesar-besarnya untuk menerima Julaibib masuk ke dalam anggota keluarganya. Makanya, saat Anshari berkata: “Bolehkah aku musyawarahkan kepada ibunya terlebih dahulu, wahai Rasulullah,” — Tentu ekspresi pesimis–. Rasulullah ﷺ mengiyakan dan pamit pulang.

“Hah! Julaibib!? Aneh!” teriak sang istri Anshari, mendengar berita yang dibawa sang suami. Ia tidak bisa membayangkan putrinya yang cantik jelita, ayu menawan bersanding dengan si “Damim”. “Aneh! Pokoknya aneh!” Bahkan sang istri mengucapkan kata ‘aneh’ sampai tiga kali.

Dari balik kamar, ternyata sang putri mendengar percakapan kedua orang tuanya. Sang putri terlihat cemas, gusar, galau.

“Ayahanda..Ibunda..,” kata sang putri sesaat sebelum ayahnya beranjak menemui Rasulullah ﷺ hendak menyampaikan permohonan maaf, tidak bisa menerima lamaran beliau ﷺ. Ternyata sang putri mendengarkan percakapan kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan keduanya. Dari tadi ia terlihat cemas, gusar, galau.

“Pantaskah kita menolak pinangan Rasulullah ﷺ?”

Ayah ibunya terdiam. Dramatis!

Kata-kata itu tepat membasahi kalbu mereka berdua. Menyadarkan, bahwa apa yang hendak mereka berdua lakukan kurang tepat. Kurang diberkahi.

“Jika beliau ﷺ rida dengan pilihan tersebut, bukankah sebaiknya engkau berdua nikahkan aku saja dengan lelaki itu?” lanjut sang putri meyakinkan.

“Rasulullah ﷺ tidak akan pernah menyia-nyiakanku.” Luar biasa! Rangkaian kata yang tidak keluar, kecuali dari kalbu Mukmin, shadiq, hazim. Seketika kedua orang tuanya pun tersadar.

“Engkau benar, putriku.”

Maka diberlangsungkanlah pernikahan antara Julaibib dengan Sang Putri.

Jika kita merasa hidup kita sengsara, seharusnya kita malu dengan Julaibib. Sesengsara-sesengsaranya kita, coba bandingkan dengan…ah, janganlah! Memang tabiat kita suka mengeluh. Tidak mau disalahkan! Selalu bersembunyi di balik kalimat: ‘tapi kan–tapi kan’.

Selepas peristiwa menggegerkan Julaibib dengan sang putri Anshari itu,  setidaknya menggegerkan menurut kita, tetap saja Julaibib tak dikenal. Mungkin berbeda dengan kita, kalau dapat anak juragan herbal kaya raya yang cantiknya bukan buatan. Atau, kalau dapat anak ustadz kondang yang sering safari dakwah hampir ke seluruh pelosok nusantara. Kadang-kadang kita terkena sindrom sok terkenal, menumpang figur mertua kita. Astaghfirullah! Julaibib? Tetap dalam keterasingan.

Waktu itu, kaum Muslimin baru saja mendapatkan kemenangan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tiba-tiba saja Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabatnya: “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

Serta merta para sahabat berebutan menjawab, seolah yang mereka sebutkan namanya akan mendapat kabar gembira dari beliau. “Iya, iya, ya Rasulullah. Aku kehilangan si Fulan dan si Fulan.”

Rasulullah ﷺ bergeming dari jawaban mereka: “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

“Saya, saya, ya Rasulullah. Saya kehilangan si Fulan dan si Fulan,” para sahabat dengan sangat antusias menjawab dengan seribu satu harapan dari Rasulullah ﷺ.

Namun beliau ﷺ tetap bergeming. Tetap menyiratkan wajah terpukul kehilangan. Dengan nada parau, beliau ﷺ ulangi pertanyaan beliau, “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

Suasana menjadi hening. Para sahabat yang tadinya sangat antusias sekarang terdiam seribu bahasa, merasa bersalah. Mereka merasa, semakin mereka menjawab, akan semakin membuat Rasulullah ﷺ sedih dan terpukul.

Maka Rasulullah ﷺ tidak sanggup lagi menahan kesedihannya: “Aku kehilangan Julaibib.”

Deg.!! Mereka baru sadar, bahwa di tengah-tengah mereka ada yang bernama Julaibib. Seketika nama itu benar-benar menohok hati para sahabat. Seakan mereka ingin mengutuk diri sendiri, akibat lancang terhadap seseorang yang sangat dimuliakan Rasulullah ﷺ. Mereka benar-benar ingin menangis. Menangisi diri sendiri.

“Tolong carikan sahabatku Julaibib,” pinta Rasulullah ﷺ sendu.

Segera para sahabat mencari Julaibib demi menebus kesalahan mereka. Akhirnya para sahabat menemukan jasad beliau berada di tengah bangkai tujuh orang musyrik.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Dengan hebat dia membunuh tujuh musyrik ini. Mereka pun membunuhnya.”

Setelah bersabda demikian, Rasullah ﷺ semakin terisak-isak. Menambah suasana semakin sedih, mengharu biru, dan menyayat hati para sahabat yang semakin merasa bersalah.

Dengan tangannya yang mulia, Rasulullah ﷺ mengangkat kepala Julaibib dan menyandarkannya ke dada Rasulullah ﷺ. “Sungguh Julaibib dariku dan aku dari Julaibib.”

Rasulullah ﷺ terus mendekap Julaibib, yang membuat para sahabat semakin menangis tersedu-sedu, sembari menunggu sahabat selesai menggali liang kubur untuk beliau.

Julaibib, semoga Allah meridhainya. Sangat indah perjalanan beliau. Hidup tak disebut, meninggal semerbak wangi namanya.

Bagaimana istri beliau? Disebutkan beliau adalah janda paling dermawan sekota Madinah.

Janda? Iya, kawan. Pergaulan Julaibib kepada istri beliau sangatlah menyenangkan. Membuat istri beliau tidak ingin menikah lagi setelah wafatnya. Berharap tetap menjadi istri Julaibib, di Surga kelak.

 

Sumber Referensi:

  • – Shahih Muslim.
  • – Mustard Ahmad

Buah Goresan: Abu Uzair Khairul Huda (kelas 10)