Posts

,

KEMULIAAN SIFAT QANAAH

KEMULIAAN SIFAT QANAAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KEMULIAAN SIFAT QANAAH
 
Nabi ﷺ menyebutkan, bahwa orang yang qanaah hidupnya akan bahagia. Beliau ﷺ bersabda:
 
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
 
Sungguh bahagia orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah jadikan orang yang qanaah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. [HR. Ahmad 6572 & Muslim 1054]
 
Suri tauladan kita Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita, bagaimana kita harus bersikap terhadap harta. Yaitu menyikapi harta dengan sikap qanaah (kepuasan dan kerelaan). Sikap qanaah ini seharusnya dimiliki oleh orang yang kaya maupuan orang yang miskin. Adapun wujud qanaah, yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat apa yang ada di tangan orang lain, dan tidak rakus mencari harta benda dengan menghalalkan semua cara. Sehingga dengan semua itu akan melahirkan rasa puas dengan apa yang sekadar dibutuhkan. Wallahu a’lam.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#qonaah, #qanaah, #kemuliaansifatqanaah, #mulianyasifatqanaah, #fadhilah, #keutamaan #merasacukupdenganpemberianAllah #adabakhlak #akhlakmulia

KEBAHAGIAAN HAKIKI ADALAH HATI YANG SELALU MERASA CUKUP

KEBAHAGIAAN HAKIKI ADALAH HATI YANG SELALU MERASA CUKUP

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah
 
KEBAHAGIAAN YANG HAKIKI ADALAH HATI YANG SELALU MERASA CUKUP
Letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki istana yang megah, mobil yang mewah, atau harta yang melimpah. Namun letak kebahagiaan adalah di dalam hati. Nabi ﷺ bersabda:
 
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
 
“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Siapakah yang mau menerima kalimat-kalimat ini agar diamalkan dan diajarkan kepada siapa saja yang akan mengamalkannya?’ Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjawab:
‘Saya, wahai Rasulullah.’ Kemudian beliau ﷺ memegang kedua tanganku seraya bertutur:

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

‘Takutlah engkau kepada segala sesuatu yang diharamkan, niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah. Ridailah segala sesuatu yang Allah bagi kepadamu, engkau pasti menjadi manusia yang paling cukup. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang Mukmin. Cintailah untuk manusia, segala sesuatu yang engkau cintai untuk dirimu, engkau pasti menjadi seorang Muslim. Dan janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, dan selainnya. Baca Ash-Shahihah no. 930]

 

Penulis: Dzulqarnain M. Sunusi [Dzulqarnain.net]
Sumber: https://www.facebook.com/dzulqarnainms/photos/a.688559331220387.1073741826.390364267706563/1492703457472633/?type=3&theater

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

TIGA SUMBER KEBERUNTUNGAN

TIGA SUMBER KEBERUNTUNGAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#MutiaraSunnah

TIGA SUMBER KEBERUNTUNGAN

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Telah beruntung siapa yang berislam, diberi rezeki sekedar mencukupinya, dan Allah memberinya sifat Qona’ah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya.” [HR. Muslim]

,

KAYA HATI ITULAH KAYA SENYATANYA

KAYA HATI ITULAH KAYA SENYATANYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama, #TazkiyatuNufus

KAYA HATI ITULAH KAYA SENYATANYA

Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya, namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rezeki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa, karena ada saja yang belum ia raih.

Coba kita perhatikan nasihat suri teladan kita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” [HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051]

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan:

“Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rezeki oleh Allah berupa harta, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli, dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir, karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik-baik, bahwa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh, dan selalu rida atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta, dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

An Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Kaya yang terpuji adalah kaya hati. Hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barang siapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 7/140, Dar Ihya’ At Turots]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/1023-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html

, ,

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#Dakwah_Tauhid
#Kajian_Sunnah

NASIHATKU UNTUK MAHASISWA: TINGGALKAN JALANAN, DATANGI MAJELIS ILMU

Untuk saudaraku mahasiswa Muslim dan kaum Muslimin secara umum rahimakumullaah -semoga Allah merahmatimu-. Sungguh aku mencintai kalian karena Allah subhanahu wa ta’ala, luangkanlah sejenak waktumu tuk membaca goresan singkat ini.

Ketahuilah wahai saudaraku, menuntut ilmu agama, mengamalkannya dan mendakwahkannya, terutama ilmu tauhid dan sunnah, adalah kunci keselamatan di dunia dan Akhirat.

➡ Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mendapat petunjuk.” [Al-An’am: 82]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/445573202258834:0

Karena hanya dengan itulah seorang hamba dapat merealisasikan tujuan penciptaannya di muka bumi untuk beribadah kepada Allah ta’ala.

➡ Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [Adz-Dzariyyat: 56]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/446534128829408:0

Oleh karena itu, berdakwah kepada tauhid adalah perhatian utama para pejuang yang sejati, para teladan yang dipilih Allah ta’ala untuk menjadi contoh sepanjang umur dunia. Merekalah para pembela kebenaran yang hakiki. Tidak ada manusia yang lebih baik dari mereka, yaitu para nabi dan rasul ‘alaihimus sholaatu was salaam. Tugas utama mereka adalah berdakwah kepada tauhid, menyelamatkan manusia dari lembah kesyirikan dan kekafiran, demi meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan Akhirat.

➡ Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut (yang disembah selain Allah) itu.” [An-Nahl: 36]

Simak pembahasan lebih detail: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/448489465300541:0

Dan tauhid yang melahirkan iman dan amal saleh adalah KUNCI KEMAKMURAN NEGERI.

➡ Allah ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu, dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada memersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nur: 55]

➡ Allah ta’ala juga berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

Para ulama ahli tafsir menyebutkan, bahwa makna kehidupan yang baik dalam ayat yang mulia ini mencakup:

  • Pertama: Rezeki yang baik lagi halal di dunia dan diberikan dari arah yang tidak ia sangka-sangka.
  • Kedua: Bersifat qona’ah (merasa cukup berapa pun rezeki yang Allah ta’ala anugerahkan).
  • Ketiga: Beriman kepada Allah ta’ala dan selalu taat kepada-Nya.
  • Keempat: Meraih manisnya ketaatan kepada Allah ta’ala.
  • Kelima: Keselamatan dan kecukupan.
  • Keenam: Kebahagiaan di dunia.
  • Ketujuh: Rida dengan takdir Allah ‘azza wa jalla.
  • Kedelapan: Kenikmatan di kubur.
  • Kesembilan: Kenikmatan di Surga.
  • Kesepuluh: Ketenangan jiwa.

[Lihat Tafsir Ath-Thabari, 17/289-291, Zadul Masir libnil Jauzi, 2/582 dan Tafsir As-Sa’di, hal. 448]

Simak pembahasan lebih detail: http://sofyanruray.info/jalan-kebahagiaan-setiap-hamba/

Wahai saudaraku mahasiswa Muslim dan kaum Muslimin seluruhnya rahimakumullaah –semoga Allah merahmatimu-. Inilah jalan untuk memerbaiki negeri, yaitu iman dan amal saleh, yang mencakup dua perkara penting:

  • Menauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun,
  • Meneladani Rasulullah ﷺ dan tidak mengada-ada (berbuat bid’ah) dalam agama atau menyelisihi syariat beliau.

Apa Langkah Awal Untuk Menempuh Jalan Perbaikan Ini…?

Pertama kali adalah memerbaiki diri kita sendiri dengan menuntut ilmu agama dan mengamalkannya dengan baik, kemudian memerbaiki orang lain.

Karena tidak mungkin kita dapat beriman dan beramal saleh dengan benar tanpa ilmu yang shahih, yaitu ilmu yang berdasarkan Alquran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf.

Adapun demo-demo yang kalian lakukan, sungguh hanyalah mendatangkan mudarat, jauh melebihi manfaatnya –jika ada manfaatnya-.

Di antara mudarat besar yang sudah sangat merugikan masyarakat adalah memacetkan jalan. Bayangkanlah jika ternyata ada orang sakit atau ibu yang mau melahirkan yang sangat butuh pertolongan darurat, kemudian terjebak macet akibat demo-demo kalian…?!

Tidak ingatkah kalian akan pertanggungjawabannya di hadapan Allah jalla wa ‘ala kelak di Hari Kiamat…?!

Dan inilah ringkasan beberapa MUDARAT DEMONSTRASI yang diingatkan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah:

  1. Memrovokasi masyarakat untuk memberontak kepada Penguasa. Terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh Penguasa, maka akibatnya akan semakin memrovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum Muslimin (lihat Fathul Bari, 13/51-52).
  1. Cara mengingkari kemungkaran Penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya (lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619).
  1. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada Penguasa, yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan Pemerintah Muslim (lihat Umdatul Qaari, 22/33).
  1. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati Penguasa dalam hal yang baik (lihat Haqqur Ro’i, hal. 27).
  1. Menyebabkan permusuhan antara Pemimpin dan rakyatnya (lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99).
  1. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh Penguasa (lihat Fathul Bari, 13/52).
  1. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang Muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang Mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum Khawarij (lihat Syarah Muslim, 18/118).
  1. Menghinakan Sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai Penguasa bagi kaum Muslimin (lihat As-Sailul Jarror, 4/556).
  1. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya (lihat Madarikun Nazhor, hal.211).
  1. Mengganggu ketertiban umum.
  1. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan.
  1. Mengganggu stabilitas ekonomi.
  1. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun.
  1. Menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ dan sahabat dalam menasihati Penguasa.
  1. Mengikuti jalan Ahlul Bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:  http://sofyanruray.info/nasihatku-untuk-mahasiswa-tinggalkan-jalanan-datangi-majelis-ilmu/

 

,

KETENANGAN HIDUP HANYA UNTUK ORANG-ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH

KETENANGAN HIDUP HANYA UNTUK ORANG-ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

KETENANGAN HIDUP HANYA UNTUK ORANG-ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

أهل الطاعة عندهم استقرار وعندهم طمأنينة، ولو كان الواحد منهم فقيرا، فإن الله يعطيه سعة بال وقناعة.

“Orang-orang yang banyak melakukan ketaatan merasakan ketenangan dan ketenteraman, walaupun salah seorang dari mereka fakir maka sesungguhnya Allah memberinya pikiran yang luas dan perasaan cukup.” [Tafsir Surat al-Maidah, jilid 2 hlm. 90].

Instagram, Twitter & Telegram Channel : @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/666410200206408/?type=3&theater

,

SI MUKMIN YANG FAQIR

SI MUKMIN YANG FAQIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

SI MUKMIN YANG FAQIR

Asy Syeikh Sholih Al Fauzan hafidzohullah:

أما المؤمن الصادق ولو لم يكن عنده مال فهو في سرور وفي نعيم وفي قناعة، يعيش في ذكر الله يعيش بطاعة الله بالعمل الصالح بقيام الليل بصيام النهار بالجهاد في سبيل الله يعيش عيشة طيبة ولو لم يكن عنده شيء من المال.

Adapun seorang Mukmin yang jujur imannya, walaupun dia tidak memiliki harta, dia senantiasa bahagia dan berada di atas kenikmatan, dan merasa cukup dengan pemberian Allah.

Dia menghidupkan hari harinya dengan dengan zikir kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah dengan amalan saleh seperti qiyamul lail, puasa, dan jihad fisabilillah.

Dia hidup dengan tenang, walaupun dia adalah seorang yang fakir.

  • •••••••••••••••••••••••••

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/12870

, , ,

HAKIKAT QANA’AH

HAKIKAT QANA’AH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Doa_Dzikir

HAKIKAT QANA’AH

Dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah ﷺ bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Inilah keberuntungan yang sempurna. Allah Ta’ala berikan kepadanya hidayah, sehingga sepenuh hati masuk agama ini, dan benar-benar menjadi seorang Muslim. Lalu Allah Ta’ala berikan rezeki yang cukup, dan ia menghadapi rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla limpahkan tersebut dengan qana’ah. Inilah kunci keberuntungan dan kebahagiaan. Harta berlimpah yang tidak disertai qana’ah akan menjadikan seseorang senantiasa merasa haus. Ia menggenggam dunia, tetapi tak puas dengan apa yang Allah Ta’ala berikan kepadanya. Ia sulit mensyukuri nikmat-Nya, sulit merasa bahagia dan mudah gelisah melihat kilau dunia yang ada pada orang lain.

Di antara pintu-pintu yang menggelincirkan manusia sehingga rusak imannya atau bahkan keluar dari agama ini, sepenuh sadar atau pun tidak, adalah hilangnya qana’ah (merasa cukup dengan karunia Allah Ta’ala). Tidak mungkin seseorang yang zuhud, jika tidak ada qana’ah pada dirinya. Sebaliknya, hilangnya sifat qana’ah yang dibiarkan menjalar membesar, dapat berubah menjadi sifat tamak. Boleh jadi ia tamak dengan apa yang ada dalam genggaman manusia. Boleh jadi ia tamak dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla. Ia merasa jauh dari puas dan meminta rezeki yang lebih berlimpah, atau menghabiskan umur untuk mengejar dunia.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah ditanya: “Apa rahasia di dalam zuhudmu di dalam dunia?” Beliau menjawab:

علمت بأن رزقي لن يأخذه غيري فاطمئن قلبي له , وعلمت بأن عملي لا يقوم به غيري فاشتغلت به , وعلمت أن الله مطلع علي فاستحيت أن أقابله على معصية , وعلمت أن الموت ينتظرني فأعددت الزاد للقاء الله

“Aku mengetahui bahwa rezekiku tidak akan pernah ada yang mengambilnya selainku, maka tenanglah hatiku untuknya. Dan aku mengetahui bahwa ilmuku tidak akan ada yang melaksanakannya selainku, maka aku menyibukkan diri dengannya. Aku mengetahui bahwa Allah mengawasiku, maka aku malu berhadapan dengan-Nya dalam keadaan maksiat. Aku mengetahui bahwa kematian menghadangku, maka aku telah siapkan untuk bekal bertemu dengan Allah.”

 

Maka, alangkah baiknya jika kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai hati yang qana’ah:

اَللَّهُمَّ قَنِّعْــنِيْ بِـمَا رَزَقْــــتَــنِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُـلِّ غَائِـبَةٍ لِيْ بِـخَيْرٍ

 ALLOHUMMA QONNI’NII BIMAA ROZAQTANII WABAARIKLII FIIHI WAKHLUF ‘ALAYYA KULLA GHOO IBATILLII BIKHOIR

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap rezeki yang Engkau beri, dan berkahilah, serta gantilah apa yang luput dariku dengan sesuatu yang lebih baik” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).

Sesungguhnya qana’ah itu salah satu kunci berkahnya rezeki. Qana’ah juga pintu kebahagiaan. Jika kita qana’ah, sedikitnya harta membuat kita bersyukur; tidak membuat risau. Lapang hati karena merasa puas-rela dengan apa yang Allah Ta’ala berikan. Qana’ah pada diri seseorang yang Allah subhanahu wa ta’ala limpahi rezeki yang sangat besar, menjadikannya ringan menggunakannya untuk kemaslahatan. Dunia itu di tangan, bukan di hati. Sebaliknya, jika qana’ah hilang, iman dapat tergadai demi merebut dunia yang sebenarnya sudah berlebih padanya. Tanpa qana’ah, orang kaya dipenuhi gelisah, sementara yang miskin bergelimang derita.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Sumber: [Muslimah.or.id] – Dengan penambahan seperlunya oleh Tim Redaksi Nasihat Sahabat

Catatan Tambahan:

Arti qanaa’ah adalah merasa ridha dan cukup dengan pembagian rezeki yang Allah ta’ala berikan [Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/508)].

 

SIFAT ZALIM DAN SIFAT QANA’AH

SIFAT ZALIM DAN SIFAT QANA'AH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

SIFAT ZALIM DAN SIFAT QANA’AH

Orang yang zalim akan menyesal, walaupun manusia memujinya. Orang yang dizalimi akan selamat, walau manusia mencelanya. Orang yang qana’ah dialah yang kaya, walaupun dia kelaparan. Orang yang rakus dialah yang miskin, walaupun dia serba berkecukupan.
(Syaikh Khalid al Musaithir, Imam dan Khotib di Masjid Walidah Khalid al Bulthan, Riyadh. Pengajar di bidang Teknik, Pimpinan Umum Rumah Tahfizh Quran Muslimah di Riyadh)

[Twitter @IslamDiaries]

https://www.facebook.com/IslamDiaries/photos/a.310660012423028.1073741828.283791461776550/706456522843373/?type=3&theater