Posts

,

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH DISYARIATKAN, SETELAH SELESAI SHALAT KITA LANTAS BERDOA?

Merupakan hal yang terlihat kurang lazim di masyarakat kita, apabila selesai shalat tidak berdoa. Bisa dimaklumi tentunya, mengingat inilah hal yang telah membudaya sejak lama di negeri kita. Tapi tak ada salahnya jika kita sedikit memelajari, bagaimana tinjauan agama dalam masalah ini, agar kita benar-benar berada di atas petunjuk yang nyata tentangnya.

Untuk itu, kami akan bawakan sebuah penjelasan dari asy-Syaikh al-‘Allaamah Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah mengenai hal ini. Kita simak bersama, apa yang beliau utarakan, beserta dalil-dalil yang beliau bawakan, agar dengan itu kiranya kita bisa dengan lapang dada dalam menjalankannya.

Dalam salah satu pertanyaan yang diajukan pada beliau disebutkan:

السؤال: بعض الناس في صلاة الفرض يرفعون أيديهم بعد الدعاء فما رأيكم؟

Pertanyaan:

Bagaimana pendapat Anda terkait amalan sebagian orang yang berdoa dengan mengangkat tangan setelah shalat wajib?

 

: الجواب

[الدعاء بعد الصلاة ليس بسنة, لأن الله تعالى قال: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

إلا في حالة واحدة وهي صلاة الاستخارة؛ لأن صلاة الاستخارة قال فيها النبي صلى الله عليه وسلم: « إذا هم أحدكم بأمر فليصل ركعتين ثم ليدعو» فجعل الدعاء بعد صلاة الركعتين. أما ما سواها من الصلوات فليس من السنة أن يدعو سواءً رفع يديه أم لم يرفع، وسواءً في الفريضة أو في النافلة؛ لأن الله أمر بذكره بعد انتهاء الصلاة

[فقال سبحانه وتعالى: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ﴾ [النساء:103

[وقال في سورة الجمعة: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ [الجمعة:10

:وإنما يقال للإنسان: إذا كنت تريد أن تسأل الله شيئاً فادعو الله قبل أن تسلم؛ لوجهين

الوجه الأول: أن هذا هو الذي أمر به الرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم، فقال في التشهد: إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

ثانياً: أنك إذا كنت في الصلاة فإنك تناجي ربك، وإذا سلمت انتهت المناجاة. فهل الأفضل: أن تسأل الله في حال مناجاتك إياه، أو بعد انصرافك من المناجاة؟ الجواب: الأول. تدعو وأنت تناجي ربك

Jawaban:

“Berdoa setelah shalat bukan amalan sunnah. Karena Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّه

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Kecuali pada satu jenis shalat, yaitu shalat istikharah. Terkait shalat istikharah Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

“Apabila salah seorang kalian telah bertekad terhadap suatu perkara, maka hendaknya dia shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoa…”[HR. al-Bukhari, no. 1162]

Dalam hadis ini Nabi Muhammad ﷺ menetapkan, bahwa doa dilakukan setelah mengerjakan shalat dua rakaat. Adapun selain shalat istikharah, bukan termasuk sunnah, jika berdoa setelahnya, dengan mengangkat tangan ataupun tidak, shalat sunnah ataukah wajib. Karena Allah ﷻ memerintahkan kita untuk berzikir kepada-Nya setelah selesai shalat (bukan berdoa, pent). Dia berfirman dalam ayat-Nya:

(فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ)

“Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), maka berzikirlah kepada Allah.” (QS. an-Nisaa’: 103)

Dan dalam surah al-Jumu’ah:

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah pada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah: 10)

Maka yang benar, kita katakan: “Apabila Anda ingin meminta sesuatu kepada Allah, maka berdoalah sebelum Anda salam, di waktu shalat. Ini berdasar pada dua alasan:

  • Alasan pertama, sesudah bacaan Tahiyyat sebelum salam merupakan waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ untuk berdoa. Beliau ﷺ bersabda terkait Tasyahhud:

إذا فرغ فليتخير من الدعاء ما شاء

“Apabila dia telah selesai dari bacaan Tahiyyat, silakan dia berdoa sesuai dengan permohonan yang dia inginkan.” [HR. al-Jama’ah]

  • Alasan kedua, di saat Anda shalat, sesungguhnya Anda tengah bermunajat pada Allah. Dan jika sudah salam, maka berakhirlah waktu munajat Anda. Maka mana yang lebih utama:

(1) Anda berdoa saat masih bermunajat pada-Nya atau

(2) Saat Anda sudah tidak lagi bermunajat?

Tentu yang pertama jawabannya. Berdoa saat masih bermunajat pada Allah.”

[Liqaa Baab al-Maftuuh ma’a asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin no. 82]

Suara asli beliau dengan berbahasa Arab bisa didengarkan melalui link berikut:

 

 

Demikian penjelasan dari beliau rahimahullah.

Jadi kesimpulannya, bahwa berdoa setelah shalat bukan hal yang disunnahkan. Meski kita pun juga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang haram. Silakan dia berdoa pada sebagian waktu saat, selesai shalat jika ingin. Namun apabila dilakukan terus menerus, maka ini pun bukan hal yang baik, karena itu berarti dia telah menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ. Sedang beliau ﷺ bersabda dalam hadisnya:

.وَ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad ﷺ.” [HR. al-Bukhari, no. 6098]

Walhamdulillaahi rabbil ‘aalaamin. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: Pupus

Sumber: http://nasehatetam.com/read/206/habis-shalat-berdoa#sthash.i9JNcgYg.dpuf

,

AHLI IBADAH YANG BODOH DAN AHLI ILMU YANG GEMAR MAKSIAT

AHLI IBADAH YANG BODOH DAN AHLI ILMU YANG GEMAR MAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

AHLI IBADAH YANG BODOH DAN AHLI ILMU YANG GEMAR MAKSIAT

Kita diperintahkan untuk berilmu sebelum beramal. Dan kalau punya ilmu seharusnya diamalkan. Namun di antara dua kelompok ini ada yang berilmu, namun sayangnya masih suka maksiat, sehingga menjadi contoh tidak baik bagi orang banyak. Ada pula yang ahli ibadah, namun tidak didasari ilmu, sehingga orang pun mengira ia pantas dicontoh, padahal ia membangun ibadahnya di atas kejahilan. Inilah dua golongan manusia yang amat berbahaya bagi orang awam.

Ibnu ‘Uyainah berkata:

احذروا فتنة العالم الفاجر والعابد الجاهل فإن فتنتهما فتنة لكل مفتون ومن تأمل الفساد الداخل على الأمة وجده من هذين المفتونين

“Waspadalah dengan bahaya ahli ilmu yang suka maksiat dan ahli ibadah yang jahil (alias: bodoh). Bahaya keduanya adalah bahaya bagi orang banyak. Siapa yang merenungkan bahaya yang menimpa umat ini, maka asalnya dari kedua golongan ini” (Ighotsatul Lahfan, 1: 229).
Semoga Allah menjauhkan kita dari kedua sifat ini: banyak ibadah namun tanpa ilmu dan berilmu namun enggan beramal.

Wallahu waliyyut taufiq.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/2434-ahli-ibadah-lagi-bodoh-dan-alim-lagi-gemar-maksiat.html

,

MENGAPA WANITA YANG TERBANYAK MASUK NERAKA?

MENGAPA WANITA YANG TERBANYAK MASUK NERAKA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#Muslimah_Salehah

#Mutiara_Sunnah

MENGAPA WANITA YANG TERBANYAK MASUK NERAKA?

Rasulullah ﷺ bersabda:

اطَّلَعْتُ فِى الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِى النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء

“Aku menoleh ke Surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Dan aku menoleh ke Neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.” [Al-Bukhari dari Imron bin Hushain radhiyallahu’anhu dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَط

“Aku diperlihatkan Neraka. Ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka kufur.” Beliau ﷺ ditanya: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau ﷺ menjawab: “Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan. Andaikan engkau berbuat baik kepada seorang istri sepanjang waktu, kemudian sekali saja ia melihat kesalahanmu, maka ia mengatakan: Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِير

“Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (memohon ampun kepada Allah), karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan, bahwa kalian para wanita yang terbanyak menghuni Neraka. Maka berkatalah seorang wanita yang pandai: Mengapa kami para wanita yang terbanyak menghuni Neraka? Beliau ﷺ bersabda: Karena kalian banyak melaknat dan kufur terhadap suami.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, dan ini lafaz Muslim]

Dalam hadis yang lain:

لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

“Karena kalian banyak mengeluh dan kufur terhadap suami.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Beberapa Pelajaran:

1) Durhaka kepada suami, tidak menaati perintahnya yang tidak menyelisihi syariat dan tidak berterima kasih kepadanya, termasuk sebab terbanyak yang memasukkan wanita ke dalam Neraka, karena mengingkari kebaikan suami termasuk dosa besar (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/66).

2) Sebab yang lainnya adalah karena banyak melaknat, dan makna melaknat ada dua:

  • Pertama: Mencaci atau mencela (lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin libnil ‘Utsaimin, 3/67)
  • Kedua: Mendoakan orang lain agar dijauhkan dari kebaikan dan rahmat Allah (lihat Syarhu Muslim, 2/67)

3) Sebab yang lainnya adalah banyak mengeluh, dan bisa kemungkinan dua makna:

  • Pertama: Mengeluhkan keadaan suami dan tidak menunaikan haknya, padahal sang suami telah banyak berbuat baik kepadanya.
  • Kedua: Mengeluhkan rezeki yang Allah berikan, tidak bersyukur kepada-Nya dan tidak merasa tenang dengan ketetapan-Nya (lihat Ihkaamul Ahkaam, 1/346).

4) Dalam hadis ini terdapat beberapa pelajaran terkait nasihat dan metodenya:

  • Pertama: Peringatan dan nasihat khusus kepada kaum wanita untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memerbanyak amal saleh dan menjauhi dosa-dosa.
  • Kedua: Perintah kepada kaum lelaki untuk mengajarkan hukum-hukum Islam terhadap kaum wanita dan menetapkan majelis khusus untuk menasihati mereka dengan syarat aman dari ‘fitnah’.
  • Ketiga: Memberi penekanan dalam nasihat jika diharapkan dengan itu akan dapat menghilangkan sifat jelek orang yang dinasihati.
  • Keempat: Hendaklah memerhatikan nasihat yang paling dibutuhkan.
  • Kelima: Hendaklah senantiasa memberi nasihat, terutama kepada yang membutuhkan nasihat (Lihat Nailul Authar, 6/24 dan Ihkaamul Ahkaam, 1/345).

5) Motivasi untuk memerbanyak sedekah dan istighfar, dan bahwa keduanya termasuk sebab keselamatan seorang hamba dari azab Allah ‘azza wa jalla, karena kebaikan dapat menghapus kejelekan (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/66 dan Ihkaamul Ahkaam, 1/345).

6) Hadis ini juga menunjukkan bahwa kekafiran ada dua bentuk, Kufur Akbar (Besar) yang menyebabkan pelakunya murtad; keluar dari Islam dan Kufur Ashgar (Kecil) yang termasuk dosa besar namun tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67).

7) Sebagaimana dalam hadis ini juga terkandung pelajaran bahwa iman dapat naik dan turun, naik dengan ketaatan dan turun karena kemaksiatan (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67).

8) Seorang pemimpin hendaklah memerhatikan kondisi masyarakatnya, terutama pengamalan mereka terhadap agama, lebih khusus lagi memerhatikan kaum wanita sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67).

9) Bolehnya seorang penuntut ilmu bertanya kepada guru apabila belum jelas pengajarannya, sebagaimana yang dilakukan wanita sahabat radhiyallahu’anha tersebut (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67).

10) Hadis ini juga menunjukkan, bahwa wanita boleh bersedekah dengan hartanya tanpa izin suaminya. Ini pendapat Jumhur ulama (lihat Nailul Athar, 6/24)

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

🔥 MENGAPA WANITA YANG TERBANYAK MASUK NERAKA?بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Rasulullah shallallahu'alaihi wa…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年1月7日

 

 

, ,

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

بسم الله الرحمن الرحيم

 

#DakwahTauhid

#StopBid’ah

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

Ucapan praktisinya:

“Untuk mengalahkan para Jinchuriki ini manusia membutuhkan para peruqyah yang menjadi RIKUDO SENNIN yang dapat menjinakkan para Bijuu Siluman Jin dan mengeluarkannya dari tubuh para Jinchuriki. Peruqyah Rikudo Sennin kadang memang harus bersusah payah bertarung dengan para Jinchuriki yang dalam keadaan kerasukan dan dalam kontrol Bijuu Siluman Jin.”

Juga ucapannya:

“Di alam nyata manusia, seorang peruqyah bertugas menyegel semua Bijuu Siluman Jin jahat yang ada di tubuh Jinchuriki dengan kekuatan energi Ruqyah yang dimilikinya semua, agar dapat menghambat rencana Dajjal menguasai manusia, untuk tunduk dalam perintahnya, sembari menunggu kedatangan Nabi Isa yang akan mengalahkan Juubi Dajjal.”

Tanggapan:

  1. Ini adalah ucapan orang yang tidak memahami tauhid dengan benar. Bagaimana mau mendakwahkan tauhid…?!

Ini adalah kalimat yang seharusnya dijauhi dalam pendidikan tauhid. Karena pada hakikatnya manusia sama sekali tidak membutuhkan para peruqyah dan tidak pula kepada siapa pun. Mereka hanya butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan dalam Kitab At-Tauhid sebuah hadis:

أنه كان في زمن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- منافقٌ يؤذي المؤمنين. فقال بعضهم: قوموا بنا نستغيث برسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- من هذا المنافق. فقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: إنه لا يستغاث بي، وإنما يستغاث بالله

“Bahwa pada zaman Nabi ﷺ ada seorang munafik yang menyakiti kaum Mukminin. Maka sebagian mereka berkata: Ayolah kita beristighatsah kepada Rasulullah ﷺ dari orang munafik ini. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak boleh beristighatsah kepadaku. Hanyalah boleh beristighatsah kepada Allah.” [HR. Ath-Thobrani dari Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu’anhu, lihat Al-Mulakhkhos fi Syarhi Kitab At-Tauhid, hal. 121]

Istighatsah artinya meminta tolong dari kesusahan. Dan menolong kaum Muslimin dari kezaliman kaum munafikin masih dalam batas kemampuan Rasulullah ﷺ. Akan tetapi demi menanamkan tauhid kepada mereka dan memuliakan Allah ‘azza wa jalla, maka beliau ﷺ melarang untuk menggunakan kalimat istighatsah dalam meminta pertolongan, kecuali hanya kepada Allah. Padahal ini terkait pertolongan yang masih dalam batas kemampuan manusia. Apalagi menghadapi setan, makhluk yang tak terlihat oleh manusia, dan tidak ada yang dapat melindungi kita darinya selain Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata:

والظاهر أن مراده صلى الله عليه وسلم إرشادهم إلى التأدب مع الله في الألفاظ، لأن استغاثتهم به صلى الله عليه وسلم من المنافق من الأمور التي يقدر عليها، إما بزجره أو تعزيره ونحو ذلك، فظهر أن المراد بذلك الإرشاد إلى حسن اللفظ والحماية منه صلى الله عليه وسلم لجناب التوحيد، وتعظيم الله تبارك وتعالى. فإذا كان هذا كلامه صلى الله عليه وسلم في الاستغاثة به فيما يقدر عليه، فكيف بالاستغاثة به أو بغيره في الأمور المهمة التي لا يقدر عليها أحد إلا الله كما هو جار على ألسنة كثير من الشعراء وغيرهم؟!

“Yang nampak jelas, bahwa maksud beliau ﷺ adalah membimbing mereka untuk beradab kepada Allah dalam memilih lafaz-lafaz yang diucapkan, karena istighatsah kepada Nabi ﷺ dari orang munafik masih dalam batas kemampuan beliau ﷺ, yaitu beliau ﷺ mampu melarangnya atau menghukumnya dan yang semisalnya. Namun beliau ﷺ tetap melarang ucapan tersebut. Maka jelaslah yang dimaksud adalah bimbingan untuk menggunakan lafaz yang baik, dan beliau ﷺ juga bermaksud melindungi tauhid dan mengagungkan Allah tabaraka wa ta’ala. Maka apabila beliau ﷺ melarang beristighatsah kepada beliau ﷺ dalam perkara yang beliau ﷺ masih mampu melakukannya, bagaimana lagi dengan istighatsah kepada beliau ﷺ atau selain beliau ﷺ dalam perkara-perkara genting, yang tidak mampu ditolong kecuali hanya oleh Allah, sebagaimana kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh para penyair dan selain mereka…?!” [Taisirul Azizil Hamid, hal. 199]

Inilah pendidikan tauhid Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ senantiasa membimbing umat untuk tawakkal kepada Allah ta’ala dan menjauhi kalimat-kalimat yang mengandung ketergantungan kepada makhluk dan mengandung syirik atau mengantarkan kepada syirik.

Keterangan:

Ini adalah tambahan keterangan, agar kita tidak salah paham, bahwa hal ini sama sekali tidak menafikan usaha peruqyah untuk menjadi sebab kesembuhan atau keluarnya jin dengan ruqyahnya. Sama sekali tidak menafikan usaha. Melainkan peringatan untuk tidak menggambarkan kepada manusia, bahwa peruqyah itulah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dan mengeluarkan jin, sehingga hati mereka bergantung kepadanya.

Sungguh jauh kalau dipahami, bahwa maksud poin pertama ini adalah menafikan usaha. Kalau demikian konsekuensinya, maka tatkala Rasulullah ﷺ melarang para sahabat beristighatsah kepada beliau ﷺ dan memerintahkan mereka beristighatsah hanya kepada Allah, berarti beliau ﷺ menafikan usaha. Padahal tidak demikian.

  1. Para peruqyah tidak memiliki kemampuan apa pun selain meruqyah; tidak kemampuan ‘menyegel’, tidak pula menyalurkan ‘energi’ (?) ruqyah. Tidak ada dalil yang menunjukkannya, sependek yang kami ketahui. Dan ruqyah hanyalah sebab kesembuhan. Adapun yang mengalahkan jin dan menyembuhkan si sakit hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memerkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdoa kepada-Nya? Dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi! Apakah ada Sesembahan yang lain bersama Allah? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” [An-Naml: 62]

Allah ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku.” [Asy-Syu’ara: 80]

Oleh karena itu Rasulullah ﷺ membaca ketika meruqyah:

أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ أَنْتَ

Adzhibil ba’sa Robban Naasi, bi yadikasy syifaau, laa kaasyifa lahu illaa Anta.

Artinya:

Hilangkanlah penyakit ini wahai Rabb manusia. Di tangan-Mu kesembuhan. Tidak ada yang dapat menyembuhkannya kecuali Engkau.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]

Adapun menggambarkan kepada orang lain, bahwa peruqyah memiliki keistimewaan khusus untuk melawan jin, maka itu sama dengan modus para dukun dan tukang sihir, agar manusia terfitnah dengan mereka. Yaitu mengultuskan mereka dan menghormati mereka secara berlebihan, hingga menyekutukan mereka dengan Allah ta’ala tanpa sadar.

Maka sadarlah, ketika kita meruqyah dan jinnya bertaubat, dan keluar dari tubuh pasien, bukan karena kita sudah punya kemampuan untuk menjinakkan jin atau mengalahkannya. Melainkan semata-mata pertolongan Allah jalla wa ‘ala, yang hanya Allah berikan, kapan Dia kehendaki.

  1. Bahkan jika seorang peruqyah selalu menang, selalu bisa mengalahkan dan mengeluarkan jin, maka hendaklah ia mencurigai dirinya, karena itu adalah indikasi kuat, bahwa ia adalah dukun yang bersekutu dengan setan, atau setan-setan itu sedang memermainkannya…! Terlebih dalam keadaan ia bodoh dengan ilmu agama, maka semakin mudahlah setan menipunya. Kemudian menyebabkan munculnya ghurur (ketertipuan) dan ketakjubannya terhadap dirinya sendiri. Apalagi jika ia berpaling dari nasihat-nasihat orang yang berilmu, hanya karena menurutnya, mereka mengaku paling “nyalaf”.

Mengapa ‘Selalu menang’ merupakan indikasi kuat terjerumusnya peruqyah dalam sihir?

Karena Allah jalla wa ‘ala menolong hamba-Nya kapan Dia menghendaki. Jika seseorang meruqyah dan selalu berhasil, seakan-akan kehendak Allah selalu mengikuti kehendaknya, dan tentunya itu tidak mungkin.

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:

قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ، قَالَ: جَعَلْتَ لِلَّهِ نِدًّا، مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ

“Seseorang berkata kepada Nabi ﷺ: Sesuai kehendak Allah dan kehendakmu. Maka beliau ﷺ bersabda: Engkau telah menjadikan aku sekutu bagi Allah, (ucapkanlah) sesuai kehendak Allah yang satu saja.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod, Ash-Shahihah: 138]

  1. Indikasi bahwa ruqyah seseorang mengandung sihir itu semakin kuat, ketika metode ruqyahnya mengandung penyelisihan syariat dan bid’ah-bid’ah, bahkan mengantarkan kepada syirik. Karena setan semakin menyukainya, dan semakin jauh dari pertolongan Allah ta’ala.

Inilah beberapa penyimpangan metode ruqyah yang termasuk kategori mengada-ada dan bid’ah yang menjurus kepada syirik:

– Penentuan amalan atau bacaan teknik membuka penyamaran jin.

– Penentuan amalan atau bacaan teknik menarik jin secara paksa.

– Penentuan amalan atau bacaan mengunci pergerakan jin.

– Penentuan amalan atau bacaan membakar jin.

– Penentuan amalan atau bacaan menyerang balik para penyihir.

– Penentuan amalan atau bacaan memanggil jin.

– Penentuan amalan atau bacaan menyembelih jin, dan tidak jarang sang “peruqyah” bergaya sok tahu seakan-akan jinnya sedang terbakar, sedang disembelih, sedang terkunci dan seterusnya, yang sangat mirip dengan gaya dukun.

– Menjual air atau herbal ruqyah.

– Teknik membantu pasien melihat wujud asli jin yang sebenarnya. Ini jelas batil, bertentangan dengan firman Allah ta’ala:

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memerlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya, melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” [Al-A’raf: 27]

Tidak lain semua itu akibat tipuan setan terhadap orang yang sibuk meruqyah dan lupa mendalami ilmu yang shahih. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَبِأَنَّ الشَّيْطَانَ مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَكْذِبَ وَأَنَّهُ قَدْ يَتَصَوَّرُ بِبَعْضِ الصُّوَرِ فَتُمْكِنُ رُؤْيَتُهُ وَأَنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا ترونهم مَخْصُوصٌ بِمَا إِذَا كَانَ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا

“Dan bahwa setan adalah makhluk yang termasuk sifat utamanya adalah berdusta, dan bahwa ia mungkin menyamar dalam berbagai rupa, sehingga mungkin melihatnya ketika itu. Adapun maksud firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”, dikhususkan dalam bentuk aslinya.” [Fathul Baari, 4/489]

  1. Sependek yang kami ketahui, bahwa tidak ada satu dalil pun yang menjelaskan:

– Seorang peruqyah bertugas menyegel jin.

– Memiliki kekuatan ‘energi’ ruqyah.

– Bertugas menghambat rencana Dajjal menguasai manusia sembari menunggu kedatangan Nabi Isa ‘alaihissalam.

Ini semua mengada-ada dalam agama dan khayalan kosong belaka. Mungkin akibat menonton film Naruto. Tugas orang yang meruqyah hanyalah meruqyah dengan cara yang sesuai ketentuan syariat, dan hasil kesembuhannya serahkan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada padanya, maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Dalam riwayat Muslim:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَد

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (ﷺ) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Meruqyah adalah amal saleh, bukan acara hiburan, bukan bisnis atau profesi. Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma berkata:

لَدَغَتْ رَجُلاً مِنَّا عَقْرَبٌ وَنَحْنُ جُلُوسٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْقِى قَالَ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

“Seseorang dari kami pernah disengat oleh kalajengking, dan ketika itu kami sedang bermajelis bersama Rasulullah ﷺ. Maka berkatalah seseorang: Wahai Rasulullah, bolehkah aku meruqyah. Beliau ﷺ bersabda: Barang siapa diantara kalian yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia lakukan.” [HR. Muslim]

 

Tapi hendaklah dilakukan sesuai bimbingan para ulama. Jangan mengada-ada dan membuka pintu-pintu fitnah (bencana) kesyirikan. Menolak kemudaratan didahulukan daripada meraih kemanfaatan. Dan jangan sampai melalaikan dari menuntut ilmu, karena orang yang bodoh terhadap ilmu agama sangat mudah ditipu setan.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

 

 

Berikut beberapa link terkait ruqyah semoga dapat menjadi nasihat bagi kaum Muslimin:

 

 

 

 

 

 

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

 

, , ,

AL ATSARAH DAN BAGAIMANA MENYIKAPI PENGUASA YANG ZALIM

AL ATSARAH DAN BAGAIMANA MENYIKAPI PENGUASA YANG ZALIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

AL ATSARAH DAN BAGAIMANA MENYIKAPI PENGUASA YANG ZALIM

Pertanyaan:

Saya setuju dengan pernyataan taat kepada pemimpin. Namun, menurut saya, semua itu terkait dengan pemimpin yang masih berhukum dengan Alquran dan As-Sunnah. Lantas, bagaimanakah dengan pemimpin yang tidak berhukum dengan kedua hal tersebut (sebagaimana sekarang)? Dan tolong hubungkan dengan QS. 5: 44,45,47 dan QS. 3: 118?

Jawaban:

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian nanti akan menemui Atsarah (yaitu: Pemerintah yang tidak memenuhi hak rakyat -pent). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di Haudl”  [HR. Al-Bukhari no. 7057 dan Muslim no. 1845].

 

Nabi ﷺ juga bersabda:

إنَّهَا سَتَكُوْنُ بَعْدِيْ أَثَرَة وأُمُوْر تُنْكِرُوْنَهَا قَالُوْا يَا رَسُْولَ الله كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada “Atsarah” dan banyak perkara yang kalian ingkari dari mereka”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami yang menemuinya?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak (mereka) yang dibebankan/diwajibkan atas kalian, dan mintalah hak kalian kepada Allah” [HR. Muslim no. 1843].

Imam An-Nawawi berkata:

والأثرة: الاستئثار والاختصاص بأمور الدنيا عليكم. أي: أسمعوا وأطيعوا وأن أختص الأمراء بالدنيا، ولم يوصلوكم حقكم مما عندهم

“Al-Atsarah adalah monopoli dan berbuat sewenang-wenang terhadap kalian dalam urusan dunia. Jadi arti hadis itu (yaitu hadis Atsarah) adalah: Dengar dan taatilah pemerintah/penguasa tersebut, walaupun mereka lebih mengutamakan dan mengutamakan urusan dunia mereka di atas kalian [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/225].[6]

Beliau kemudian melanjutkan:

فيه الحث على السمع والطاعة وإن كان المتولي ظالماً عسوفاً، فيعطي حقه من الطاعة، ولا يخرج عليه، ولا يخلع، بل يتضرع إلي الله – تعالي – في كشف أذاه، ودفع شره، وإصلاحه

“Di dalam (hadis Atsarah) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun ia seorang yang zalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin), yaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan darinya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan (perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim adalah) dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, supaya Dia menyingkirkan gangguan/siksaan darinya, menolak kejahatannya, dan agar Allah memerbaikinya (kembali taat kepada Allah dan meninggalkan kezalimannya)” [idem, 12/232].

Al-Atsarah sebagaimana yang terdapat dalam hadis itu merupakan gambaran penguasa zalim yang menyia-nyiakan amanah kepemimpinan yang diberikan Allah untuk ditunaikan kepada rakyatnya. Ia adalah tipe penguasa yang sewenang-wenang. Dalam realitas kehidupan kita, maka al-Atsarah tergambar pada diri seorang pemimpin yang melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, dan perbuatan maksiat lainnya. Pendek kata, ia merupakan tipe penguasa yang menjalankan kepemimpinannya dengan tidak sesuai dengan Alquran dan As-Sunnah (pada beberapa permasalahan). Lantas, apa yang mesti diperbuat oleh kaum Muslimin ketika menemui Atsarah ini? Keluar dari ketaatan? Atau bahkan memberontak (kudeta)? TERNYATA TIDAK. Rasulullah ﷺ – dan beliaulah orang yang paling tahu tentang syariat Islam – tetap memerintahkan untuk sabar, mendengar dan taat pada hal-hal yang ma’ruf, selama pemimpin tersebut masih berstatus sebagai seorang Muslim (tidak kafir) dan masih menegakkan sholat.

 

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2009/06/menyikapi-penguasa-yang-zalim-tanya.html

 

Catatan Tambahan:

Al Atsarah: Pemerintah yang Tidak Memenuhi Hak Rakyat

Imam An-Nawawi berkata:

والأثرة: الاستئثار والاختصاص بأمور الدنيا عليكم. أي: أسمعوا وأطيعوا وأن أختص الأمراء بالدنيا، ولم يوصلوكم حقكم مما عندهم

“Al-Atsarah adalah monopoli dan berbuat sewenang-wenang terhadap kalian dalam urusan dunia. Jadi arti hadis itu (yaitu hadis Atsarah) adalah: dengar dan taatilah pemerintah/penguasa tersebut, walaupun mereka lebih mengutamakan dan mengutamakan urusan dunia mereka di atas kalian [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/225]

Pengertian Atsarah yang diterangkan oleh An-Nawawi adalah sama dan semakna sebagaimana yang diterangkan oleh ulama yang lainnya, seperti Ibnul-Atsir (An-Nihayah fii Gharibil-Hadis), As-Suyuthi (Ad-Diibaaj ‘alaa Shahih Muslim), Abul-‘Abbas Al-Qurthubi (Al-Mufhim lima Asykala min-Talkhiisi Kitaabi Muslim), Al-Qadli ‘Iyadl (Ikmaalul-Mu’lim Syarh Shahih Muslim), Ibnu Barjas (Mu’ammalatul-Hukkam), dan yang lainnya.

Sebagai contoh Al-Hafidh As-Suyuthi rahimahullah menerangkan makna Atsarah: “Monopoli dan berbuat sewenang-wenang dalam urusan dunia, dan menghalang-halangi sampai kebenaran dari apa-apa yang berada di tangannya (tanggung jawabnya)” [Ad-Diibaaj, penjelasan hadis no. 1846].

 

http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2009/06/menyikapi-penguasa-yang-zalim-tanya.html