Posts

HUKUM MENIKAHI WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH

HUKUM MENIKAHI WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

HUKUM MENIKAHI WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH

Wanita yang hamil karena perbuatan zina TIDAK BOLEH DINIKAHKAN, baik dengan laki-laki yang menghamilinya, ataupun dengan laki-laki lain, kecuali bila memenuhi dua syarat:
• Mereka berdua bertobat dan
• Harus beristibra’ (menunggu kosongnya rahim/melahirkan). Atau dengan menunggu satu kali haidl bila si wanita tidak hamil.
 
“Apakah mereka mempunyai Sembahan-Sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” [QS : As-syuura : 21]
 
Di dalam ayat ini Allah ﷻ menyatakan orang-orang yang membuat syariat bagi hamba-hamba-Nya sebagai sekutu. Berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum bertobat adalah orang musyrik. Namun bila sudah bertobat, maka halal menikahinya, bila syarat yang kedua terpenuhi. [Syaikh Al-Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246]
 
Mungkin sebagian orang mengatakan, anak yang dirahim itu terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinahinya dan hendak menikahinya. Maka jawabnya ialah sebagaimana dikatakan Al-Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh rahimahullah:
“TIDAK BOLEH MENIKAHINYA, hingga dia bertobat dan selesai dari ‘iddahnya dengan melahirkan kandungannya. Karena perbedaan dua air (mani), najis dan suci, baik dan buruk, dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram.” [HR. Abu Dawud]
 
Bila ternyata si wanita dalam keadaan hamil, maka TIDAK BOLEH melangsungkan akad nikah dengannya, kecuali setelah melahirkan kandungannya. Sebagai pengamalan hadis Nabi ﷺ yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.” [Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah 9/72]. Nabi ﷺ bersabda
“Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain. [Abu Dawud, lihat, Artinya: ‘alimus Sunan 3/75-76]
 
Jika seseorang tetap menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra’ terlebih dahulu dengan satu kali haidl atau sedang hamil tanpa menunggu melahirkan terlebih dahulu, sedangkan dirinya mengetahui bahwa pernikahan seperti itu tidak diperboleh, dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa hal itu diharamkan sehingga pernikahannya tidak diperbolehkan, maka PERNIKAHANNYA ITU TIDAK SAH. Apabila keduanya melakukan hubungan badan, maka itu termasuk zina, dan harus bertobat, kemudian pernikahannya harus diulangi bila telah selesai istibra.
 
Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan:
“Dan bila dia (laki-laki yang menzinahinya setelah dia tobat) ingin menikahinya, maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra’ dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah. Dan bila ternyata dia hamil, maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya, kecuali setelah dia melahirkan kandungannya, berdasarkan hadis Nabi ﷺ yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.” [Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72]
 
Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra’ terlebih dahulu, sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh, dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram, maka pernikahannya itu TIDAK SAH. Bila keduanya melakukan hubungan badan, maka itu adalah zina. Dia harus tobat dan pernikahannya harus diulangi, bila telah selesai istibra’ dengan satu kali haid dari hubungan badan yang terakhir, atau setelah melahirkan.
 
Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi, Malikiy, Syafi’i dan Hambali) telah sepakat, bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki, dalam arti dia itu TIDAK MEMILIKI BAPAK, meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. Pengakuan ini TIDAK DIANGGAP, karena anak tersebut hasil hubungan DI LUAR NIKAH. Di dalam hal ini, sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami.[ Al Mabsuth 17/154, Asy Syarhul Kabir 3/412, Al Kharsyi 6/101, Al Qawanin hal : 338, dan Ar Raudlah 6/44. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828]. Jadi anak itu TIDAK BERBAPAK. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ, yang artinya: “Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan).” [Al-Bukhari dan Muslim]
 
Firasy adalah tempat tidur, dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. Keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya.
 
Oleh karena anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka:
• Anak itu tidak berbapak.
• Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu.
• Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah, maka walinya adalah wali hakim, karena dia itu tidak memiliki wali. Rasulullah ﷺ bersabda, yang artinya “Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” [Hadis hasan Riwayat Asy Syafi’iy, Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#istibra, #beristibra, #istibro, #farasy, #kasur, #tempat tidur, #anakzina, #hukum, #nisbatkan, #dinisbatkan #wanita, #perempuan, #muslimah. #hamildiluarnikah, #kawin, #nikah, #pernikahan, #perkawinan, #walinikah, #statushukum, #statushukumanakzina #tekdung #perzinahan
, ,

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
 
Kondisi paling aman bagi Muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup, sehingga ketika Muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya tidak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tidak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada di tempat umum yang terbuka?  Berdasarkan riwayat dari ‘Amru bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata:

 
رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه
 
“Aku pernah melihat Nabi ﷺ mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/308 no. 205) dan lainnya]
 
Juga dari Bilal radhiyallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، مسح على الخفين والخمار
 
“Bahwasanya Nabi ﷺ mengusap kedua khuf dan khimarnya.” [HR. Muslim (1/231) no. 275]
Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah (istri Nabi ﷺ), bahwa beliau berwudhu dan mengusap kerudungnya. [Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Ibnu Al-Mundzir]. Karena itu, wanita yang berwudhu di tempat umum TIDAK BOLEH melepas jilbabnya, namun cukup mengusap bagian atas jilbabnya.
 
Catatan:
Dijelaskan oleh ulama bahwa tutup kepala boleh diusap, jika memenuhi dua syarat:
1. Menutupi seluruh bagian kepala.
2. Terdapat kesulitan untuk melepaskannya.
Karena itu, sebatas (menggunakan) peci (menyebabkan peci) tidak boleh diusap, tetapi (bagian kepalalah yang) harus (tetap) diusap. [Shifat Wudhu Nabi ﷺ, hlm. 28]
Alternatif lain adalah dengan wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir dan ragu-ragu, bila wudhu di kamar mandi wudhunya tidak sah, karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan untuk buang hajat, sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh, asalkan tidak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi.
 
Kita ingat kaidah yang menyebutkan: “Sesuatu yang yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis TIDAK BISA dijadikan dasar tidak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin, bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis, dan kita yakin tidak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.
 
Sedangkan pelafalan “Bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah BOLEH melafalkannya di kamar mandi. Hal ini dikarenakan membaca Bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan, bahwa “Makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.”
 
Adapun membaca zikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tidak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).
 
Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?
 
> Dengan alasan terkena najis, maka sebaiknya tidak wudhu di kamar mandi atau disiram dulu sampai bersih.
 
> Alternatif lainnya adalah dengan cara mengusap khuf. jaurab, dan jilbab tanpa harus membukanya. Pembahasan tentang ini masuk dalam bab mengusap khuf. Tentu timbul pertanyaan lain, bagaimana dengan tangan? Jika jilbab kita sesuai dengan syariat, insya Allah hal ini bisa diatasi. Karena bagian tangan yang perlu dibasuh bisa dilakukan di balik jilbab kita yang terulur panjang. Sehingga tangan kita tidak akan terlihat oleh umum, insya Allah.
 
Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tempatumum, #mallmall,  #luar rumah #tatacara, #cara, #wudhuk, #wudluk, #muslimah, #wanita, #perempuan, #kerudung, #hijab, #jilbab, #khuff, #kaoskaki, #kauskaki, #sepatu, #sandal, #kaidah, #kaedah, #fikih, #fiqih, #fiqh
,

SALAFI ATAU SELFIE?

SALAFI ATAU SELFIE?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SALAFI ATAU SELFIE?
Ketika di lubuk terdalam hatimu ada cuitan:
“Wah, sungguh cantik jika memakai gamis ini.”
“Anggun rasanya setelah memakai jenis cadar ini.”
“wah, banyak yang muji bagus ketika makai jubah ini.”
 
Sunggu saat itu engkau telah terperdaya.
Karena biasamu dan tak tergerak rasa kagum dalam pandangan Adam, itulah keindahan dari kecantikan yang hakiki.

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#muslimah, #wanita, #perempuan, #Hijab, #Jilbab, #Niqah, #niqob, #kerudung, #tabarruj, #tabarruj, #,Salafi, #Salafi atau Selfie #dandan #berdandan #hias #berhias #menampakkanperhiasan

,

HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI

HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
HUKUM MEMAKAI CELAK BAGI LAKI-LAKI
 
Celak biasanya berupa bubuk untuk memalit bulu mata atau disapukan di sekeliling mata. Telah diketahui banyak orang, bahwa celak adalah perhiasan yang dipakai wanita untuk berhias. Walaupun terdapat perbedaan di antara para ulama tentang boleh-tidaknya wanita bercelak di depan lelaki non-mahram, namun yang menjadi bahasan dalam artikel singkat ini adalah tentang bagaimana hukum memakai celak bagi laki-laki. Dalam artikel singkat ini hanya akan dibawakan beberapa hadis tentang celak dan fatwa para ulama abad ini tentang masalah tersebut.
Hadis-Hadis Tentang Memakai Celak
 
Hadis 1:
اكْتَحِلُوا بِالْإِثْمِدِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ
 
“Bercelaklah kalian dengan itsmid, karena dia bisa mencerahkan mata dan menumbuhkan rambut.” [HR. At Tirmidzi no.1679 dalam Sunannya bab Maa Jaa-A Fil Iktihaal, Ahmad no.15341 dalam Musnad-nya]
 
Status Hadis: At Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan Gharib”. Al Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi: “Dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban”
 
Hadis 2:
عَلَيْكُمْ بِالْإِثْمِدِ عِنْدَ النَّوْمِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعَرَ
 
“Bercelaklah memakai itsmid ketika hendak tidur, karena ia dapat mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut.” [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya no.3846 bab Al Kahlu Bil Itsmid]
Status Hadis: Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah (2/263/2818).
 
Hadis 3:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
وَإِنَّ خَيْرَ أَكْحَالِكُمُ الْإِثْمِدُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ
 
“Celak yang paling baik bagi kalian adalah itsmid. Ia bisa mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut.” [HR. Abu Daud no.3380 dan 3539, Ibnu Majah no. 3488, Ahmad no. 2109]
 
Status Hadis:
Dalam Aunul Ma’bud dijelaskan bahwa Imam At Tirmidzi berkata: “Hadis ini Hasan Shahih”. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud (2/766/3426).
 
 
Hadis 4
عليكم بالإثمد ؛ فإنه منبتة للشعر ، مذهبة للقذى ، مصفاة للبصر
 
“Bercelaklah dengan itsmid, karena ia menumbuhkan rambut, mengilangkan kotoran yang masuk ke mata, dan mencerahkan pandangan” [HR. ‘Abu Ashim, Ath Thabrani. Lihat Aunul Ma’bud syarah hadis no. 1679]
 
Status Hadis: Dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahaadits Shohihah (2/270/665)
 
 
Fatwa Para Ulama Tentang Memakai Celak Bagi Laki-Laki
 
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah:
 
أما الاكتحال الذي لتجميل العين فهل هو مشروع للرجل أو للأنثى فقط؟
الظاهر أنه مشروع للأنثى فقط ،أما الرجل فليس بحاجة إلى تجميل عينيه. وقد يقال:إنه مشروع للرجل أيضاً،لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما سئل:إن إحدنا يحب أن يكون نعله حسناً،وثوبه حسناً فقال صلى الله عليه وسلم”:إن الله جميل يحب الجمال.” وقد يقال:إذا كان في عين الرجل عيب يحتاج إلى الاكتحال فهو مشروع له ،وإلا فلا
 
“Bercelak dengan tujuan menghiasi mata apakah disyaratkan untuk laki-laki, ataukah hanya untuk wanita saja? Yang nampak bagiku hal tersebut disyaratkan bagi wanita saja. Adapun lelaki, tidak ada keperluan untuk berhias dengannya. Namun ada pula ulama yang berpendapat hal ini pula disyariatkan bagi laki-laki, dengan berdalil dengan sabda Rasulullah ﷺ ketika ada sahabat yang bertanya: ”Bolehkah jika kami gemar memakai sandal dan pakaian yang bagus?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan”. Pendapatku, jika pada mata seorang lelaki terdapat penyakit yang membutuhkan celak untuk penyembuhannya, maka hal ini disyariatkan. Namun bila tidak ada kebutuhan, maka tidak disyariatkan.” [Syarhul Mumthi’, 1/129]
 
الاكتحال نوعان:
أحدهما: اكتحال لتقوية البصر وجلاء الغشاوة من العين وتنظيفها وتطهيرها بدون أن يكون له جمال ، فهذا لا بأس به ، بل إنه مما ينبغي فعله ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يكتحل في عينيه ، ولاسيما إذا كان بالإثمد .
النوع الثاني: ما يقصد به الجمال والزينة ، فهذا للنساء مطلوب ، لأن المرأة مطلوب منها أن تتجمل لزوجها .
وأما الرجال فمحل نظر ، وأنا أتوقف فيه ، وقد يفرق فيه بين الشاب الذي يخشى من اكتحاله فتنه فيمنع ، وبين الكبير الذي لا يخشى ذلك من اكتحاله فلا يمنع
 
 
“Bercelak ada dua macam:
 
– Yang pertama, bercelak untuk menguatkan pandangan, mengobati rabun, atau untuk membersihkan pandangan mata tanpa bermaksud untuk berhias, maka hal ini tidak mengapa, bahkan ini dianjurkan. Karena Rasulullah ﷺ menggunakan celak pada kedua mata beliau ﷺ. Lebih baik lagi jika memakai itsmid.
 
– Yang kedua, bercelak dengan tujuan untuk berhias. Jenis ini berlaku bagi wanita. Karena seorang wanita dianjurkan mempercantik diri untuk suaminya. Adapun bagi laki-laki, terdapat beberapa pertimbangan dan aku tawaqquf dalam hal ini. Namun perlu dibedakan antara lelaki yang masih muda dengan lelaki yang sudah tua. Bagi pemuda yang dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah jika bercelak, maka sebaiknya tidak dilakukan. Sedangkan orang yang sudah tua tidak dikhawatirkan lagi dapat menimbulkan fitnah, maka tidak dilarang.” [Fatwa Syaikh Al Utsaimin dalam As’ilah Al Usroh Al Muslimah]
 
 
Fatwa Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah:
 
س: هل هناك دليل يحرم وضع الكحل على العينين والحناء على اليدين والرجلين بالنسبة للرجل ؟ علما بأن وضعها ليس القصد منه التشبه بالنساء ، إنما هي عادة .
ج: ليس للمؤمن أن يتشبه بالنساء لا في الحناء ولا في غيره ، ولو كان عادة فليس له أن يفعل ما يكون فيه متشبها فيه بالنساء ؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم”: لعن المتشبهين من الرجال بالنساء ، ولعن المتشبهات من النساء بالرجال”
أما الكحل فلا بأس ؛ لأنه مشروع للرجال والنساء على حد سواء ، فكونه يكحل عينيه فلا بأس ، والكحل طيب نافع ، “ وكان النبي صلى الله عليه وسلم يكتحل “ ، فلا بأس بذلك
 
 
Pertanyaan:
Adakah dalil haramnya memakai celak pada mata dan pacar kuku bagi laki-laki, jika diketahui bahwa tujuan memakainya bukan untuk meniru wanita, namun karena sudah menjadi kebiasaan di masyarakat?
 
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab:
Seorang lelaki Mukmin tidak boleh meniru wanita dengan memakai pacar kuku atau yang lainnya, walaupun hal tersebut sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Ia tetap tidak boleh melakukan perbuatan yang terdapat unsur meniru wanita, karena terdapat hadis: “Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.”
Adapun memakai celak, maka tidak mengapa. Karena memakai celak itu disyariatkan bagi laki-laki dan wanita dengan kadar yang sama. Maka seorang laki-laki boleh memakai celak pada kedua matanya. Dan celak itu baik dan bermanfaat. Terdapat hadis: “Rasulullah ﷺ biasa memakai celak. ” Maka hukumnya boleh. [Majmu’ Fatawa Syaikh Ibn Baz, 29/48]
 
ما حكم الاكتحال، وهل علم عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يضع الكحل في عينيه؟
الاكتحال سنة، وقد ثبت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يكتحل -عليه الصلاة والسلام- في كل عين ثلاثة أميال -عليه الصلاة والسلام- الاكتحال سنة، بالإثمد، أفضل ما يكون بالإثمد،……
 
 
Pertanyaan:
Apa hukum memakai celak? Apakah benar bahwa Nabi ﷺ biasa memakai celak pada kedua matanya?
 
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz menjawab:
Memakai celak adalah sunnah Nabi ﷺ. Terdapat hadis Shahih: Rasulullah ﷺ biasa memakai celak tiga kali pada setiap matanya”. Maka memakai celak termasuk Sunnah Nabi ﷺ. Lebih baik lagi jika memakai itsmid. [Kaset Nuurun ‘Ala Ad Darb]
 
 
Fatwa Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan hafizhahullah
 
س: هل يجوز للرجل أن يكحل عينيه ؟
ج:الإكتحال سنة. فعله رسول الله صلى الله عليه وسلم يكتحل بالإثمد ليلة بعد ليلة . فيه منفعة للبصر. فهو سنة لا بئس بذالك.
 
 
Pertanyaan:
Apakah dibolehkan bagi laki-laki memakai celak pada kedua matanya?
 
Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan menjawab:
Memakai celak adalah Sunnah Nabi ﷺ. Beliau ﷺ biasa memakai celak dengan itsmid setiap malam. Celak memiliki manfaat bagi mata. Ia termasuk sunnah, diperbolehkan memakainya. [Kaset Majmu’ Fatawa Syaikh Shalih Fauzan, fatwa no. 3748]
 
Fatwa Lajnah Daimah
 
السؤال الثاني من الفتوى رقم 3598
س 2: هل يجوز للرجل أن يكتحل بالكحل أم لا؟
جـ 2: الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه . . وبعد:
نعم يجوز ذلك ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفعل ذلك عند النوم .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
 
 
Pertanyaan
Memakai celak bagi laki-laki dibolehkan atau tidak?
 
Lajnah Daimah menjawab:
Segala puji kita panjatkan kepada Allah semata, semoga shalawat serta salam terlimpah atas Rasulullah ﷺ beserta keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du.
Ya benar, memakai celak bagi laki-laki dibolehkan, karena Rasulullah ﷺ biasa melakukannya sebelum tidur.
Hidayah taufik hanya dari Allah ta’ala. Semoga shalawat serta salam terlimpah atas Nabi ﷺ beserta keluarga dan sahabatnya.
 
Tertanda:
• ‘Abdullah bin Qu’ud (Anggota)
• ‘Abdullah bin Ghadayan (Anggota)
• ‘Abdurrazzaq ‘Afifi (Wakil ketua)
• ‘Abdul Aziz bin Baz (Ketua)
(Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhuts ‘Ilmiyyah Wal Ifta, 5/205/3598)
 
Wallahu Ta’ala A’lam
 
Sumber:
Catatan Tambahan:
Bagaimana Cara Bercelak?
 
Dari Anas radhiallahu ‘anhu:
“Bahwasanya Rasulullah ﷺ bercelak di matanya yang sebelah kanan tiga kali, dan di matanya yang sebelah kiri dua kali.” [Dishahihkan oleh Syaikh Albani di dalam kitabnya, Silsilah Hadis Sohih ( 633 )]
 
Mengenai “Atsamidu”, Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan: ” Ia adalah batu celak berwarna hitam. Didatangkan dari Asbahan, itu kualitas terbaik. Didatangkan juga dari negeri Maghrib.
 
Ibnu Qoyim rahimahullah mengatakan mengenai faidahnya:
“Bermanfaat menguatkan mata, menguatkan syaraf mata, menjaga kesehatan mata, menghilangkan daging jadi dan sel kulit mati, menghilangkan kotoran mata, menjernihkan mata dan menghilangkan pusing.” [Lihat Zadul Ma’ad, Juz 4, Hal 284, Cetakan Ar Risalah]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#lakilaki, #pria, #akhi, #adab, #lelaki, #pakaicelak, #hukum, #hukummemakaicelak, #perempuan, #wanita, #muslimah, #sebelumtidur, #itsmid, #fatwaulama, #bagaimanacarapakaicelak, #sunnahnabiyangmulaidilupakan #istimid #bagaimanacaramemakaicelak #manfaat, #faidah, #faedah, #manfaatmemakaicelak, #manfaatpakaicelak
, ,

SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA

SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA
SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA
 
Pertanyaan:
Apakah pada semua shalat setiap awal rakaat (rakaat pertama, kedua, ketiga dan keempat) takbirnya selalu dengan mengangkat tangan dan ketika akan ruku’ juga takbirnya selalu dengan mengangkat tangan? Mohon dijelaskan dengan dalilnya.
 
Jawaban:
TIDAK setiap awal rakaat diharuskan mengangkat tangan dalam bertakbir. Namun para ulama menetapkan mengangkat tangan dalam takbir disunnahkan dalam empat tempat:
 
1. Pada Takbiratul Ihram dirakaat yang pertama
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika mengucapkan Samiallahu liman hamidah setelah ruku’
4. Ketika berdiri dari rakaat kedua menuju rakaat ketiga
 
Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Nafi’ maula Ibnu Umar rahimahullah, beliau mengatakan:
 
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَر إلى نبيِّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -.
 
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma biasanya jika hendak memulai shalatnya beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. Jika beliau mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah” juga mengangkat kedua tangannya. Jika bangkit berdiri dari rakaat kedua juga mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar Radhiyallahu anhu memarfu’kannya kepada Nabi ﷺ .” [HR. Al-Bukhari, no. 739 dan Muslim no. 390]
 
Sedangkan Salim bin Abdillah bin Umar rahimahullah menyampaikan dari bapaknya radhiyallahu anhu yang berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “
 
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dahulu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya apabila memulai shalat, dan ketika bertakbir untuk ruku’, dan ketika mengangkat kepala dari ruku’. Beliau juga mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan, “Sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu” dan beliau tidak melakukan hal itu dalam sujudnya.” [HR. Al-Bukhari]
 
Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata:
“Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau sejajar dengan cuping telinganya (bagian bawah daun telinga) dalam empat tempat:
 
1. Ketika Takbiratul Ihram di rakaat yang pertama.
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika bangun dari ruku’
4. Ketika berdiri dari Tasyahud Awal ” [Lihat Syarh Manhajus Salikin wa Taudhihil Fiqh Fid Din 1/87].
 
Sedangkan Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim mengatakan: “Inilah empat tempat, dimana sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan. Namun disunnahkan juga kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada setiap hendak bangkit dan akan turun. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu anhu:
 
أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ
 
Sesungguhnya beliau pernah melihat Nabi ﷺ shalat dengan mengangkat kedua tangannya setiap kali hendak bangkit dan akan turun, ketika bangkit dari ruku’, ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Beliau ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya “ [HR. An-Nasa’i, no. 672 dan Ahmad no. 493. Penulis Shahih Fiqh Sunnah menilai hadis ini Shahih). [Lihat Shahih Fiqh Sunnah oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, hlm. 1/343-344]
 
Kesimpulan:
 
Sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam shalat pada empat keadaan:
 
1. Ketika hendak memulai shalat,
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”
4. Ketika hendak berdiri dari rakaat kedua menuju ke rakaat ketiga
 
Semoga bermanfaat. Wallahu‘alam
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
 
 
 
 

 

#4keadaan #empatkeadaan #mengangkattangansebelumruku, #hukummengangkattanganketikabangundarisujud, #adakahkewajibanmengangankattangandalamshalat, #dlmsolat, #mengangkattanganketikashalat, #mengangkattanganketikahendaksujud, #takbiratulihram, #takbiratulihrom, #bangkitdarirakaatkedua, #rakaatke-2, #kerakaatke-3, #ke rakaat ketiga, #muslimah, #perempuan, #wanita, #sifatshalatnabi, #sifatsholatnabi, #tatacara, #cara, #mengangkattangansetelahtasyahudawal, #sunnamengangkattangandalamshalat, #berapakalimengkattangansaatshalat, #takbiratulihramsetelahsujud, #berapakalitakbirdalamshalat

, ,

BAGI WANITA DI BULAN RAMADAN, MANA LEBIH UTAMA, SHALAT DI MASJIDIL HARAM ATAU DI RUMAH?

BAGI WANITA DI BULAN RAMADAN, MANA LEBIH UTAMA, SHALAT DI MASJIDIL HARAM ATAU DI RUMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
BAGI WANITA DI BULAN RAMADAN, MANA LEBIH UTAMA, SHALAT DI MASJIDIL HARAM ATAU DI RUMAH?
 
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:
Bagi kaum wanita khususnya yang melakukan umrah di bulan Ramadan, dalam pelaksanaan shalat, baik itu shalat fardhu ataupun shalat Tarawih, manakah yang lebih utama bagi mereka, melaksanakannya di rumah atau di Masjidil Haram?
 
Jawaban:
Sunnah Rasul ﷺ menunjukkan, bahwa yang lebih utama bagi seorang wanita adalah melaksanakan shalat di dalam rumahnya, di mana saja ia berada, baik di rumahnya, di Mekkah ataupun selain di Mekkah. Karena itulah Nabi ﷺ bersabda:
 
لا تمنعوا إماء الله مساجد الله وبيوتهنّ خير لهنّ
 
“Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk mendatangi masjid-masjid Allah, walaupun sesungguhnya rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.”
 
Beliau ﷺ mengucapkan sabda ini saat beliau ﷺ berada di Madinah, sedangkan saat itu beliau ﷺ telah menyatakan, bahwa shalat di Masjid Nabawi (Masjid di Madinah) terdapat tambahan kebaikan. Mengapa beliau ﷺ melontarkan sabda yang seperti ini? Karena jika seorang wanita melakukan shalat di rumahnya, maka hal ini adalah lebih bisa menutupi dirinya dari pandangan kaum pria asing kepadanya, dan dengan demikian ia lebih terhindar dari fitnah. Maka shalatnya seorang wanita di dalam rumahnya adalah lebih baik dan lebih utama.
 
 
Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2010
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#manalebihutama, #manalebihafdhal, #manalebihafdhol, #wanita, #perempuan, #muslimah, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #rumah, #masjidNabawi, #masjidilHaram, #Mekkah, #Makkah, #Madinah, #umroh, #umrah, #haji, #penginapan, #hotel, #akomodasi #Mekah, #Medinah, #hukum, #wanitashalatdiMasjidNabawi, #wanitashalatdiMasjidilHaram #Ramadhan, #Ramadan, #Taraweh, #Tarawih #bulanramadhan #bulanramadan

#apakahsholatdirumahituharam, #dimanaperempuansholat, #hukumwanitasholatdimasjidilharam, #lebih utama shalatdirumahdandimasjid bagi wanita, #mesjid, #masjidilharamdibulanramadan, #masjidilharampadabulanpuasa, #ramadhandimasjidilharam, #shalattarawehdimasjidil haram, #shalattarawihwanita, #sholatdimesjidbulanpuasauntukwanita
#sholatdidalamrumah, #sholatyangutamabagiwanitadimana #tarawih, #tatacarashalattarawihdirumah, #tatacarasolattarawihdirumah, #wanitalebihbaiksholatdirumah, #wanitalebihutamashalatdirumah, #wanitalebihutamasholat dimana?
, ,

SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA

SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA
>> Benarkah Shalat Wanita Di Rumah Lebih Utama?
 
Manakah yang lebih baik, shalat wanita berjamaah di masjid, ataukah shalat sendirian di rumah?
 
Jawabannya, shalat bagi wanita yang terbaik adalah di rumahnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
 
صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا
 
“Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdhal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” [HR. Abu Daud, no. 570. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Dhaif. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat pengertian hadis ini dalam ‘Aun Al-Ma’bud, 2: 225).
 
Artinya, tempat shalat wanita di dalam rumah semakin tidak terlihat dan jauh dari ikhtilath (campur baur dengan lawan jenis), akan semakin utama. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
 
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” [HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Hasan dengan berbagai penguatnya]
 
Istri dari Abu Humaid As-Sa’idi, yaitu Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat ingin sekali shalat berjamaah bersamamu.” Beliau ﷺ lantas menjawab:
 
قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى
 
“Aku telah mengetahui hal itu, bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kaummu. Shalat di masjid kaummu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” Ummu Humaid lantas meminta dibangunkan tempat shalat di pojok kamar khusus miliknya. Beliau melakukan shalat di situ hingga berjumpa dengan Allah (meninggal dunia, pen.) [HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Hasan]
 
Namun jika wanita ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama memperhatikan aturan seperti menutupi aurat dan tidak memakai harum-haruman, maka janganlah dilarang. Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
 
“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” [HR. Muslim, no. 442]
 
Ada tiga syarat yang mesti dipenuhi ketika seorang wanita ingin shalat berjamaah di masjid:
(1) Menutup aurat,
(2) Tidak memakai minyak wangi,
(3) Harus mendapatkan izin suami. [Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 3457]
 
Dari Abu Musa Al-Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
 
“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai, maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” [HR. An-Nasa’i, no. 5126; Tirmidzi, no. 2786; Ahmad, 4: 413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]. Maksudnya wanita semacam itu akan membangkitkan syahwat pria yang mencium bau wanginya. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi, 8: 74]
 
Apakah jika wanita ikut shalat berjamaah di masjid akan mendapatkan pahala 27 derajat?
 
Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Fath Al-Bari (4: 34) menyatakan, bahwa hadis shalat laki-laki dengan berjamaah akan dilipatgandakan menunjukkan, bahwa SHALAT WANITA TIDAK DILIPATGANDAKAN ketika dilakukan secara berjamaah. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal.
 
Dalam Fath Al-Bari (2: 147), Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menjelaskan tentang hadis “Laki-laki yang terkait hatinya dengan masjid” menunjukkan, bahwa pahala shalat di masjid 27 derajat hanya ditujukan pada laki-laki, karena shalat wanita tetap lebih baik di rumahnya dibanding masjid.
 
Baca baHasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 122393:
 
 
هل تنال المرأة أجر صلاة الجماعة إذا ذهبت للمسجد؟
 
 
Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#muslimah sholihah, #muslimah, #wanita, #perempuan, #wanitalebihutamashalatdirumah, #sebaikbaikshalatwanit adalahdirumah, #hukumwanitashalatdimasjid, #wanitashalatdimasjid, #pahalawanitashalatdirumahdanmasjid #sifatsholatnabi, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #tatacara, #cara,

, ,

KEUTAMAAN ISTRI YANG SALEHAH

KEUTAMAAN ISTRI YANG SALEHAH
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KEUTAMAAN ISTRI YANG SALEHAH
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata:
ما استفاد رجل بعد إيمان بالله خيرًا من امرأة حسنة الخلق ودود ولود.
“Tidaklah seorang pria mendapatkan faidah setelah iman kepada Allah, yang lebih baik dibandingkan seorang istri yang baik akhlaknya, penyayang, dan subur kandungannya.” [Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 17427]
Sumber: @JakartaMengaji
kuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH

HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MEMBUKA HIJAB DI HADAPAN WANITA NON-MUSLIMAH
Bolehkah Menampakkan Rambut Di Hadapan Wanita Kafir?
Ahli Ilmu terbagi dua pendapat dalam masalah ini:
 
Pendapat Pertama:
Mereka memandang wajib bagi Muslimah untuk berhijab di hadapan wanita non-Muslimah, dan haram baginya untuk membuka sesuatu dari bagian tubuhnya di depan wanita Nasrani, Yahudi atau musyrikah, bila tidak ada keperluan yang darurat/ mendesak. Sehingga dalam hal memandang ini, wanita kafirah sama dengan laki-laki ajnabi (bukan mahram) bagi seorang Muslimah.
 
Demikian pendapat Madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan yang paling shahih dari madzhab Syafi’iyyah, serta satu riwayat dari Al-Imam Ahmad. Di antara ulama mutaakhirin yang berpegang dengan pendapat ini adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Beliau berkata: “Dzahir dari apa yang diinginkan dalam ayat ini adalah wanita-wanita dari kalangan Muslimin, karena wanita-wanita kafir bisa jadi ketika melihat seorang wanita Muslimah, ia akan menceritakan/menggambarkan si Muslimah kepada suaminya. Sementara Nabi ﷺ telah melarang seorang wanita ketika bergaul dengan wanita lain lalu ia menggambarkan wanita lain itu kepada suaminya…”. [Ijabatus Sail ‘ala Ahammil Masail, hal. 557]
 
Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 yang artinya:
 
“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali di depan suami-suami mereka…. sampai pada firman-Nya: … atau di hadapan wanita-wanita mereka….”.
 
Kata wanita di dalam ayat disandarkan (di-idhafah-kan) kepada mereka, wanita-wanita Mukminah. Hal ini menunjukkan pengkhususan. Ibnu Athiyyah berkata: “Seandainya wanita non-Muslimah boleh melihat ke tubuh Muslimah, niscaya tidak tersisa faidah bagi pengkhususan tersebut.”
 
Selain itu mereka juga berdalil dengan atsar-atsar dari para shahabat dan ulama salaf, namun kebanyakan dari atsar-atsar ini lemah, wallahu a’lam.
 
Pendapat Kedua:
Mereka yang berpandangan, bahwa dalam hal memandang, wanita non-Muslimah sama dengan wanita Muslimah ketika memandang sesama Muslimah. Sehingga wanita non-Muslimah ini boleh melihat seluruh tubuhnya kecuali antara pusar dan lututnya. Pendapat ini ada dalam Madzhab Syafi’iyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad yang merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab pengikut beliau.
 
Mereka yang memegang pendapat kedua ini berdalil dengan hadis Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma. Ia berkata “Ibuku datang menemuiku dalam keadaan ia musyrikah di masa Rasulullah ﷺ. Maka aku pun minta fatwa kepada Rasulullah ﷺ. “Ibuku datang dalam keadaan raghibah. [Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Maknanya, ibu Asma’ datang menemui putrinya, meminta agar putrinya berbuat baik padanya, dalam keadaan ia khawatir putrinya akan menolaknya, sehingga ia pulang dengan kecewa. Demikian penafsiran jumhur.” [Fathul Bari, 5/286)]. Apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya?”, tanyaku. “Iya, sambunglah hubungan dengan ibumu,” jawab beliau ﷺ.” [HR. Al-Bukhari no. 2620, 3183, 5978, 5979 dan Muslim no. 1003]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan Asma radhiallahu ‘anha untuk menyambung hubungan dengan ibunya yang musyrikah, dan tidak dinukilkan adanya perintah ataupun berita, bahwa Asma berhijab dari ibunya.
 
Hadis lain yang menjadi dalil pendapat kedua ini adalah hadis Aisyah radhiallahu ‘anha:
 
Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui Aisyah lalu ia menyebutkan tentang azab kubur. Ia berkata: “Semoga Allah melindungimu dari azab kubur”. Aisyah pun menanyakan tentang azab kubur kepada Rasulullah ﷺ. “Ya, memang ada azab kubur,” jawab beliau ﷺ. Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ selesai dari mengerjakan satu shalat pun, melainkan beliau mesti berlindung dari azab kubur.” [HR. Al-Bukhari no. 1372 dan Muslim no. 586]
 
Hadis di atas menunjukkan wanita-wanita kafir biasa masuk menemui Ummahatul Mukminin untuk suatu keperluan, bersamaan dengan itu Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan istri-istri beliau untuk berhijab dari mereka.
 
Dari perselisihan pendapat yang ada, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, yang rajih (kuat), dengan melihat dalil masing-masingnya, adalah pendapat kedua, sehingga TIDAK ADA LARANGAN bagi seorang Muslimah untuk melepas hijabnya di hadapan wanita non-Muslimah [Jika sekiranya aman dari fitnah, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam fatwanya]. Yang demikian ini kita beralasan sebagaimana ucapan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu:
 
1. Wanita berhijab dari lelaki disebabkan karena kekhawatiran munculnya syahwat dan fitnah. Sementara antara Muslimah dan wanita non-Muslimah tidak didapati kekhawatiran yang demikian, sehingga TIDAK ADA KEHARUSAN bagi Muslimah untuk mengenakan hijabnya di hadapan non-Muslimah.
 
2. Tidak ada dalil yang mewajibkan Muslimah berhijab dari non-Muslimah, dan juga dalam hal ini tidak dapat dikiaskan dengan perintah berhijab dari lelaki.
 
3. Muslimah dan non-Muslimah sama-sama berjenis wanita. Maka sebagaimana lelaki boleh melihat sesama lelaki tanpa dibedakan apakah lelaki itu Muslim atau kafir. Maka dibolehkan pula wanita memandang wanita tanpa dibedakan, apakah dia Muslimah atau non-Muslimah [Al-Mughni, 9/505]
 
Adapun ayat ( أَوْ نِساَئِهِنَّ ), di mana dhamirnya (kata ganti ‎هُنَّ yang artinya mereka para wanita) kembali pada wanita-wanita Mukminah yang menjadi sasaran pembicaraan di dalam ayat, TIDAKLAH menunjukkan pengkhususan, sehingga wanita selain Mukminah dikeluarkan darinya. Namun sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar ibnul Arabi rahimahullahu: “Yang shahih menurutku, firman Allah ini boleh diarahkan kepada seluruh wanita. Adapun dhamir (‎‏(هُنَّ dalam ayat ini didatangkan dalam rangka ittiba’ (pengikutan dengan lafal sebelumnya, bukan menunjukkan pengkhususan, pen.) karena ayat ini merupakan ayat dhamir, di mana disebutkan di dalamnya 25 dhamir. Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang menyamainya dalam hal ini.” [Ahkamul Qur’an, 3/1359]
 
Untuk lebih memantapkan hati, berikut ini kami nukilkan fatwa dua ‘Alim Kabir dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mendukung pendapat kedua ini:
 
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata:
“Ayat ‎أَوْ نِساَئِهِنَّ , mencakup seluruh wanita, Mukminah ataupun non-Mukminah. Inilah pendapat yang paling shahih, sehingga TIDAK ADA kewajiban bagi wanita Mukminah untuk berhijab dari wanita kafir, berdasarkan keterangan yang tsabit (kokoh) tentang masuknya wanita-wanita Yahudi di Madinah di masa Nabi ﷺ.
 
Demikian pula wanita-wanita penyembah berhala menemui istri-istri beliau ﷺ, sementara tidak disebutkan keterangan istri-istri Nabi ﷺ ini berhijab dari mereka.
 
Seandainya berhijab dari non-Muslimah ini terjadi dari istri-istri Nabi ﷺ atau dari selain mereka (dari kalangan shahabiyyah), niscaya akan dinukilkan. Karena para shahabat radhiallahu ‘anhum tidaklah meninggalkan sesuatu perkara, melainkan mereka mesti menukilkannya. Inilah pendapat yang terpilih dan paling kuat.” [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 6/361]
 
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang permasalahan ini beliau menjawab: “Perkara ini dibangun di atas perbedaan pendapat ulama dalam menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat An-Nur ayat 31 tentang dhamir dalam أَوْ نِساَئِهِنَّ .
 
Beliau menyebutkan perbedaan pendapat yang ada, kemudian beliau berkata:
“Kami sendiri condong kepada pendapat pertama (mencakup seluruh wanita, termasuk non-Muslimah) dan pendapat inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, karena wanita memandang sesama wanita tidaklah dibedakan antara Muslimah dengan non-Muslimah. Namun tentunya hal ini diperkenankan bila di sana tidak ada fitnah. Adapun bila dikhawatirkan terjadi fitnah seperti si wanita non-Muslimah itu akan menceritakan keberadaan si Muslimah kepada kerabat-kerabatnya dari kalangan lelaki, maka ketika itu wajib untuk berhati-hati menjaga diri dari fitnah, sehingga si wanita Muslimah tidak membuka sesuatu dari anggota tubuhnya seperti kedua kaki atau rambutnya di hadapan wanita lain. Sama saja dalam hal ini (bila ada fitnah, pen.) apakah di hadapan wanita Muslimah ataupun non-Muslimah.” [Fatawa Al-Mar’ah, kumpulan dan susunan Muhammad Al-Musnad hal. 177]
 
 
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
 
Sumber: [asysyariah.com]
#hukum, #membukahijab, #jilbab, #hijab, #kerudung, #khimar, #copot, #buka, #nonmuslimah, #wanita, #perempuan, #kafir, #nonmuslimah, #bukanIslam, #ulamaberbedapendapat, #menampakkanrambut, #tampakkanrambut, #aurat #batasanaurat
,

JILBABKU PENUTUP AURATKU

JILBABKU PENUTUP AURATKU
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JILBABKU PENUTUP AURATKU
 
Definisi Jilbab
 
Secara bahasa, dalam kamus al Mu’jam al Wasith 1/128, disebutkan, bahwa jilbab memiliki beberapa makna, yaitu:
 
1. Qomish (sejenis jubah).
2. Kain yang menutupi seluruh badan.
3. Khimar (kerudung).
4. Pakaian atasan seperti milhafah (selimut).
5. Semisal selimut (baca: kerudung) yang dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya.
 
Adapun secara istilah, berikut ini perkataan para ulama’ tentang hal ini:
 
Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan: “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan: “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar, yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” [Syaikh Al Bani dalam Jilbab Muslimah]
 
Syaikh bin Baz (dari Program Mausu’ah Fatawa Lajnah wal Imamain) berkata: “Jilbab adalah kain yang diletakkan di atas kepala dan badan di atas kain (dalaman). Jadi jilbab adalah kain yang dipakai perempuan untuk menutupi kepala, wajah dan seluruh badan. Sedangkan kain untuk menutupi kepala disebut khimar. Jadi perempuan menutupi dengan jilbab, kepala, wajah dan semua badan di atas kain (dalaman).” [bin Baz, 289]. Beliau juga mengatakan: “Jilbab adalah rida’ (selendang) yang dipakai di atas khimar (kerudung) seperti abaya (pakaian wanita Saudi).” [bin Baz, 214]. Di tempat yang lain beliau mengatakan: “Jilbab adalah kain yang diletakkan seorang perempuan di atas kepala dan badannnya untuk menutupi wajah dan badan, sebagai pakaian tambahan untuk pakaian yang biasa (dipakai di rumah).” [bin Baz, 746]. Beliau juga berkata: “Jilbab adalah semua kain yang dipakai seorang perempuan untuk menutupi badan. Kain ini dipakai setelah memakai dar’un (sejenis jubah) dan khimar (kerudung kepala) dengan tujuan menutupi tempat-tempat perhiasan, baik asli (baca: aurat) ataupun buatan (misal, kalung, anting-anting, dll).” [bin Baz, 313]
 
Apakah beda antara jilbab dengan hijab? Syaikh Al Bani rahimahullah mengatakan: “Setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yang tampak.” Sehingga memang terkadang kata hijab dimaksudkan untuk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi atau meghalangi dirinya, baik berupa tembok, sket ataupun yang lainnya. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah ﷻ dalam surat al-Ahzab ayat 53, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kamu diberi izin… dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepda mereka (para istri Nabi), maka mintalah dari balik hijab…”
 
Syarat-Syarat Pakaian Muslimah
 
1. Menutup Seluruh Badan Kecuali Yang Dikecualikan
 
Allah ﷻ berfirman:
 
 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
 
 
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab: 59]
 
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا…
 
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” [QS. An Nuur: 31]
 
Tentang ayat dalam surat An Nuur yang artinya “Kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, sehingga membawa konsekuensi yang berbeda tentang hukum penggunaan cadar bagi seorang Muslimah. Untuk penjelasan rinci, silakan melihat pada artikel yang sangat bagus tentang masalah ini pada artikel Hukum Cadar di https://Muslim.or.id/6207-hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html.
 
Dari syarat pertama ini, maka jelaslah bagi seorang Muslimah untuk menutup seluruh badan, kecuali yang dikecualikan oleh syariat. Maka sangat menyedihkan ketika seseorang memaksudkan dirinya memakai jilbab, tapi dapat kita lihat rambut yang keluar, baik dari bagian depan ataupun belakang, lengan tangan yang terlihat sampai sehasta, atau leher dan telinganya terlihat jelas, sehingga menampakkan perhiasan yang seharusnya ditutupi.
 
Catatan penting dalam poin ini adalah penggunaan khimar yang merupakan bagian dari syariat penggunaan jilbab, sebagaimana terdapat dalam ayat selanjutnya dalam surat An Nuur ayat 31:
 
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
 
“Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke dadanya.”
 
Khumur merupakan jamak dari kata khimar, yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menutupi bagian kepala. Sayangnya, pemakaian khimar ini sering dilalaikan oleh Muslimah, sehingga seseorang mencukupkan memakai jilbab saja, atau hanya khimar saja. Padahal masing-masing wajib dikenakan, sebagaimana terdapat dalam hadis dari Sa’id bin Jubair mengenai ayat dalam surat Al Ahzab di atas. Ia berkata: “Yakni agar mereka melabuhkan jilbabnya. Sedangkan yang namanya jilbab adalah qina’ (kudung) di atas khimar. Seorang Muslimah tidak halal untuk terlihat oleh laki-laki asing, kecuali dia harus mengenakan qina’ di atas khimarnya, yang dapat menutupi bagian kepala dan lehernya.” Hal ini juga terdapat dalam atsar dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:
 
لابد للمرأة من ثلاثة أثواب تصلي فيهن: درع و جلباب و خمار
 
“Seorang wanita dalam mengerjakan shalat harus mengenakan tiga pakaian: baju, jilbab dan khimar.” [HR. Ibnu Sa’ad, isnadnya Shahih berdasarkan syarat Muslim]
 
Namun terdapat keringanan bagi wanita yang telah menopause yang tidak ingin kawin, sehingga mereka diperbolehkan untuk melepaskan jilbabnya, sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 60:
 
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ
 
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.”
 
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan kata “pakaian” pada ayat di atas adalah “jilbab” dan hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi). Dapat pula diketahui di sini, bahwa pemakaian khimar yang dikenakan sebelum jilbab adalah menutupi dada. Lalu bagaimana bisa seseorang dikatakan memakai jilbab jika hanya sampai sebatas leher? Semoga ini menjadi renungan bagi saudariku sekalian.
 
Catatan penting lainnya dari poin ini adalah terdapat anggapan, bahwa pakaian wanita yang sesuai syariat adalah yang berupa jubah terusan (longdress), sehingga ada sebagian Muslimah yang memaksakan diri untuk menyambung-nyambung baju dan rok agar dikatakan memakai pakaian longdress. Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini, yaitu apakah jilbab harus “terusan” atau “potongan” (ada pakaian atasan dan rok bawahan). Maka jawaban Lajnah Daimah, “Hijab (baca: jilbab) baik terusan ataukah potongan, keduanya tidak mengapa (baca: boleh) asalkan bisa menutupi sebagaimana yang diperintahkan dan disyariatkan.” Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota (Fatawa Lajnah Daimah 17/293, no fatwa: 7791, Maktabah Syamilah). Dengan demikian jelaslah tentang tidak benarnya anggapan sebagian Muslimah yang mempersyaratkan jubah terusan (longdress) bagi pakaian Muslimah.
 
2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan
 
Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 31: “…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…” Ketika jilbab dan pakaian wanita dikenakan agar aurat dan perhiasan mereka tidak nampak, maka tidak tepat ketika menjadikan pakaian atau jilbab itu sebagai perhiasan, karena tujuan awal untuk menutupi perhiasan menjadi hilang. Banyak kesalahan yang timbul karena poin ini terlewatkan, sehingga seseorang merasa sah-sah saja menggunakan jilbab dan pakaian indah dengan warna-warni yang lembut dengan motif bunga yang cantik, dihiasi dengan benang-benang emas dan perak, atau meletakkan berbagai pernak-pernik perhiasan pada jilbab mereka.
 
Namun terdapat kesalahpahaman juga, bahwa jika seseorang tidak mengenakan jilbab berwarna hitam, maka berarti jilbabnya berfungsi sebagai perhiasan. Hal ini berdasarkan beberapa atsar tentang perbuatan para sahabat wanita di zaman Rasulullah ﷺ yang mengenakan pakaian yang berwarna selain hitam. Salah satunya adalah atsar dari Ibrahim An Nakhai:
 
أنه كان يدخل مع علقمة و الأسود على أزواج النبي صلى الله عليه و سلم و يرا هن في اللحف الحمر
 
“Bahwa ia bersama Alqomah dan Al Aswad pernah mengunjungi para istri Nabi ﷺ dan ia melihat mereka mengenakan mantel-mantel berwarna merah.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushannaf]
 
Catatan: Masalah warna ini berlaku bagi wanita. Adapun bagi pria, terdapat hadis yang menerangkan pelarangan penggunaan pakaian berwarna merah.
 
Dengan demikian, tolak ukur “Pakaian perhiasan ataukah bukan adalah berdasarkan ‘urf (kebiasaan).” (keterangan dari Syaikh Ali Al Halabi). Sehingga suatu warna atau motif menarik perhatian pada suatu masyarakat, maka itu terlarang dan hal ini boleh jadi tidak berlaku pada masyarakat lain.
 
3. Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis
 
Rasulullah ﷺ bersabda tentang dua kelompok yang termasuk Ahli Neraka dan beliau ﷺ belum pernah melihatnya:
 
وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
 
“Dua kelompok termasuk Ahli Neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.” [HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421 – lihat majalah Al Furqon Gresik]
 
Karena ancamannya demikian keras, para ulama memasukkannya dalam dosa-dosa besar. Betapa banyak wanita Muslimah yang seakan-akan menutupi badannya, namun pada hakikatnya telanjang. Maka dalam pemilihan bahan pakaian yang akan kita kenakan juga harus diperhatikan, karena sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr: “Bahan yang tipis dapat menggambarkan bentuk tubuh dan tidak dapat menyembunyikannya.” Syaikh Al Bani juga menegaskan: “Yang tipis (transparan) itu lebih parah dari yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal).” Bahkan kita ketahui, bahan yang tipis terkadang lebih mudah dalam mengikuti lekuk tubuh, sehingga sekalipun tidak transparan, bentuk tubuh seorang wanita menjadi mudah terlihat.
 
4. Harus Longgar, Tidak Ketat
 
Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita Muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah ﷺ, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahuinya, beliau ﷺ bersabda:
 
مرْها فلتجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظمها
 
 “Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” [HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan]
 
Maka tidak tepat jika seseorang mencukupkan dengan memakai rok, namun ternyata tetap memperlihatkan pinggul, kaki atau betisnya. Maka jika pakaian tersebut telah cukup tebal dan longgar, namun tetap memperlihatkan bentuk tubuh, maka dianjurkan bagi seorang Muslimah untuk memakai lapisan dalam. Namun janganlah mencukupkan dengan kaos kaki panjang, karena ini tidak cukup untuk menutupi bentuk tubuh (terutama untuk para saudariku yang sering tersingkap roknya ketika menaiki motor, sehingga terlihatlah bentuk betisnya). Poin ini juga menjadi jawaban bagi seseorang yang membolehkan penggunaan celana dengan alasan longgar dan pinggulnya ditutupi oleh baju yang panjang. Celana boleh digunakan untuk menjadi lapisan, namun bukan inti dari pakaian yang kita kenakan. Karena bentuk tubuh tetap terlihat dan hal itu menyerupai pakaian kaum laki-laki. (lihat poin 6). Jika ada yang beralasan celana supaya fleksibel, maka tidakkah ia ketahui, bahwa rok bahkan lebih fleksibel lagi jika memang sesuai persyaratan (jangan dibayangkan rok yang ketat/span). Kalaupun rok tidak fleksibel (walaupun pada asalnya fleksibel), apakah kita menganggap logika kita (yang mengatakan celana lebih fleksibel) lebih benar daripada syariat yang telah Allah dan Rasul-Nya ﷺ tetapkan?
 
5. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum
 
Perhatikanlah salah satu sabda Nabi ﷺ berkaitan tentang wanita-wanita yang memakai wewangian ketika keluar rumah:
 
ايّما امرأةٍ استعطرتْ فمَرّتْ على قوم ليَجِدُوا رِيْحِها، فهيا زانِيةٌٍ
 
“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” [HR. Tirmidzi]
 
أيما امرأة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء الاخرة
 
“Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya’.” [HR. Muslim]
 
Syaikh Al Bani berkata: “Wewangian itu selain ada yang digunakan pada badan, ada pula yang digunakan pada pakaian.” Syaikh juga mengingatkan tentang penggunaan bakhur (wewangian yang dihasilkan dari pengasapan). Yang ini lebih banyak digunakan untuk pakaian, bahkan lebih khusus untuk pakaian. Maka hendaknya kita lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan segala jenis bahan yang dapat menimbulkan wewangian pada pakaian yang kita kenakan keluar, semisal produk-produk pelicin pakaian yang disemprotkan untuk menghaluskan dan mewangikan pakaian (bahkan pada kenyataannya, bau wangi produk-produk tersebut sangat menyengat dan mudah tercium ketika terbawa angin). Lain halnya dengan produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi, semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci.
 
6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki
 
Terdapat hadis-hadis yang menunjukkan larangan seorang wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya (tidak terbatas pada pakaian saja). Salah satu hadis yang melarang penyerupaan dalam masalah pakaian adalah hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:
 
لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الرجل يلبس لبسة المرأة و المرأة تلبس لبسة الرجل
 
“Rasulullah ﷺ melaknat pria yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian pria.” [HR. Abu Dawud]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.” Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai laki-laki, di mana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyariatkan bagi wanita. Bahkan yang berdampak parah jika sampai membawa kepada maksiat lain, yaitu terbawa sifat kelaki-lakian, sehingga pada akhirnya menyukai sesama wanita. Wal’iyyadzubillah.
 
Terdapat dua landasan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi kita untuk menghindari penggunaan pakaian yang menyerupai laki-laki.
 
1. Pakaian tersebut membedakan antara pria dan wanita.
2. Tertutupnya kaum wanita.
 
Sehingga dalam penggunaan pakaian yang sesuai syariat, ketika menghadapi yang bukan mahromnya adalah tidak sekadar yang membedakan antara pria dan wanita, namun tidak tertutup atau sekadar tertutup, tapi tidak membedakan dengan pakaian pria. Keduanya saling berkaitan. Lebih jelas lagi adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Kawakib yang dikutip oleh syaikh Al Bani, yang penulis ringkas menjadi poin-poin sebagai berikut untuk memudahkan pemahaman:
 
1. Prinsipnya bukan semata-mata apa yang dipilih, disukai dan biasa dipakai kaum pria dan kaum wanita.
2. Juga bukan pakaian tertentu yang dinyatakan Nabi ﷺ atau yang dikenakan oleh kaum pria dan wanita di masa beliau ﷺ.
3. Jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup juga tidak ditentukan (sehingga jika seseorang memakai celana panjang dan kaos, kemudian menutup pakaian dan jilbab di atasnya yang sesuai perintah syariat sehingga bentuk tubuhnya tidak tampak, maka yang seperti ini tidak mengapa -pen)
 
Kesimpulannya, yang membedakan antara jenis pakaian pria dan wanita kembali kepada apa yang sesuai dengan apa yang diperintahkan bagi pria, dan apa yang diperintahkan bagi kaum wanita. Namun yang perlu diingat, pelarangan ini adalah dalam hal-hal yang tidak sesuai fitrahnya. Syaikh Muhammad bin Abu Jumrah rahimahullah sebagaimana dikutip oleh Syaikh Al Bani mengatakan: “Yang dilarang adalah masalah pakaian, gerak-gerik dan lainnya, bukan penyerupaan dalam perkara kebaikan.”
 
7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir
 
Banyak dari poin yang telah disebutkan sebelumnya menjadi terasa berat untuk dilaksanakan oleh seorang wanita karena telah terpengaruh dengan pakaian wanita-wanita kafir. Betapa kita ketahui, mereka (orang kafir) suka menampakkan bentuk dan lekuk tubuh, memakai pakaian yang transparan, tidak peduli dengan penyerupaan pakaian wanita dengan pria. Bahkan terkadang mereka mendesain pakaian untuk wanita maskulin! Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan meminta pertolongan untuk dijauhkan dari kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah ﷻ berfirman:
 
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Al Hadid (57): 16]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Firman Allah, ‘Janganlah mereka seperti…’ merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka….” (Al Iqtidha, dikutip oleh Syaikh Al Bani)
 
8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas
 
 
“Barang siapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada Hari Kiamat, kemudian membakarnya dengan api Naar.”
 
Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya. [Jilbab Muslimah]
 
Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan keinginan meraih popularitas. Jadi yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah ﷻ suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
 
 
“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.” [HR. Tirmidzi]
 
Penutup
 
Demikian sedikit penjelasan tentang pengertian jilbab dan penjelasan dari poin-poin tentang persyaratan jilbab Muslimah yang sesuai syariat. Janganlah kita terpedaya dengan segala aktivitas dan perkataan orang yang menjadikan seseorang cenderung merasa tidak mungkin untuk menggunakan jilbab yang sesuai syariat. Ingatlah, bahwa sesungguhnya tidak ada teman di Hari Akhir yang mau menanggung dosa yang kita lakukan. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan ketika menjalankan segala ibadah yang telah disyariatkan.
Wallahu a’lam.
 
Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
 
Maraji’:
Majalah Al Furqon, edisi 12 tahun III
Jilbab Muslimah. Syaikh Al Bani. Pustaka At Tibyan
Maktabah Syamilah
***
 
 
[Artikel www.Muslimah.or.id]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#jilbab, #hijab, #khimar, #muslimah, #wanita, #perempuan, #punukunta, #punukonta, #pakaiantapitelanjang, #berpakaiantapitelanjang #pakaian yuhrah, #mencaripopularitas #syuhrah, #populer, #popularitas, #ngetrend, #trending, #model #syaratsyarat, #persyaratan #pakaianmuslimah