Posts

, ,

KENAPA WANITA YANG TERBANYAK MASUK NERAKA?

KENAPA WANITA YANG TERBANYAK MASUK NERAKA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
KENAPA WANITA YANG TERBANYAK MASUK NERAKA?
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
اطَّلَعْتُ فِى الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِى النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء
 
“Aku menoleh ke Surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Dan aku menoleh ke Neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.” [Al-Bukhari dari Imron bin Hushain radhiyallahu’anhu dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma]
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَط
 
“Aku diperlihatkan Neraka. Ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka kufur. Beliau ﷺ ditanya: Apakah mereka kufur kepada Allah? Beliau ﷺ menjawab: Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan suami. Yaitu andaikan engkau berbuat baik kepada seorang istri sepanjang waktu, kemudian sekali saja ia melihat kesalahanmu, maka ia berkata: Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma]
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِير
 
“Wahai para wanita bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (memohon ampun kepada Allah), karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan, bahwa kalian para wanita yang terbanyak menghuni Neraka. Maka berkatalah seorang wanita yang pandai: Mengapa kami para wanita yang terbanyak menghuni Neraka? Beliau ﷺ bersabda: Karena kalian banyak melaknat dan kufur terhadap suami.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, dan ini lafaz Muslim]
 
Dalam hadis yang lain:
 
لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ
 
“Karena kalian banyak mengeluh dan kufur terhadap suami.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]
 
 
Beberapa Pelajaran:
 
1) Durhaka kepada suami, tidak menaati perintahnya yang tidak menyelisihi syariat dan tidak berterima kasih kepadanya, termasuk sebab terbanyak yang memasukkan wanita ke dalam Neraka. Karena mengingkari kebaikan suami termasuk dosa besar [lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/66]
 
2) Sebab yang lainnya adalah karena banyak melaknat, dan makna melaknat ada dua:
• Pertama: Mencaci atau mencela [lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin libnil ‘Utsaimin, 3/67]
• Kedua: Mendoakan orang lain agar dijauhkan dari kebaikan dan rahmat Allah [lihat Syarhu Muslim, 2/67]
 
3) Sebab yang lainnya adalah banyak mengeluh, dan bisa kemungkinan dua makna:
• Pertama: Mengeluhkan keadaan suami dan tidak menunaikan haknya, padahal sang suami telah banyak berbuat baik kepadanya.
• Kedua: Mengeluhkan rezeki yang Allah berikan, tidak bersyukur kepada-Nya, dan tidak merasa tenang dengan ketetapan-Nya [lihat Ihkaamul Ahkaam, 1/346]
 
4) Dalam hadis ini terdapat beberapa pelajaran terkait memberi nasihat dan metodenya.
•Pertama: Peringatan dan nasihat khusus kepada kaum wanita untuk lebih meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh dan menjauhi dosa-dosa.
•Kedua: Perintah kepada kaum lelaki untuk mengajarkan hukum-hukum Islam terhadap kaum wanita, dan menetapkan majelis khusus untuk menasihati mereka dengan syarat aman dari ‘fitnah’.
•Ketiga: Memberi penekanan dalam nasihat, jika diharapkan dengan itu akan dapat menghilangkan sifat jelek orang yang dinasihati.
•Keempat: Hendaklah memperhatikan nasihat yang paling dibutuhkan.
•Kelima: Hendaklah senantiasa memberi nasihat, terutama kepada yang membutuhkan nasihat.
[Lihat Nailul Authar, 6/24 dan Ihkaamul Ahkaam, 1/345]
 
5) Motivasi untuk memperbanyak sedekah dan istighfar, dan bahwa keduanya termasuk sebab keselamatan seorang hamba dari azab Allah ‘azza wa jalla, karena kebaikan dapat menghapus kejelekan. [lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/66 dan Ihkaamul Ahkaam, 1/345]
 
6) Hadis ini juga menunjukkan, bahwa kekafiran ada dua bentuk, kufur akbar (besar) yang menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari Islam, dan kufur ashgar (kecil), yang termasuk dosa besar, namun tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam [lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67]
 
7) Sebagaimana dalam hadis ini juga terkandung pelajaran, bahwa iman dapat naik dan turun. Naik dengan ketaatan, dan turun karena kemaksiatan. [lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67]
 
8) Seorang pemimpin hendaklah memperhatikan kondisi masyarakatnya, terutama pengamalan mereka terhadap agama. Lebih khusus lagi memperhatikan kaum wanita sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. [lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67]
 
9) Bolehnya seorang penuntut ilmu bertanya kepada guru apabila belum jelas pengajarannya, sebagaimana yang dilakukan wanita sahabat radhiyallahu’anha tersebut [lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/67]
 
10) Hadis ini juga menunjukkan, bahwa wanita boleh bersedekah dengan hartanya tanpa izin suaminya. Ini pendapat Jumhur ulama [lihat Nailul Athar, 6/24]
 
 
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Sumber:
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#mengapawanitayangterbanyakmasukNeraka? #kenapaperempuanpalingbanyakmasukNeraka #muslimah #wanita #perempuan #palingbanyakmasukNeraka #kufurterhadapsuami #rumahtanggaIslami #suamiistri #suamiisteri #duajeniskafir #2jeniskafir #jeniskekafiran #macammacamkekafiran #melaknatdankufurterhadasuami #akhlakburuk

,

HIJAB ITU MENJAGAMU, WAHAI WANITA

HIJAB ITU MENJAGAMU, WAHAI WANITA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

 

HIJAB ITU MENJAGAMU, WAHAI WANITA

Wahai kaum muslimah, sesungguhnya hijab itu akan menjagamu dari pandangan beracun yang bersumber dari penyakit-penyakit hati. [Asy Syaikh Al Alamah Sholih Fauzan hafizahullah]

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#hijabsyari #jilbab #kerudung #wanita #perempuan #muslimah #hijabmelindungimuwahaimuslimah #pandanganain #ain #pandanganberacun #penyakithati

,

BOLEHKAH WANITA HAID PERGI ZIARAH KUBUR?

BOLEHKAH WANITA HAID PERGI ZIARAH KUBUR?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

 

BOLEHKAH WANITA HAID PERGI ZIARAH KUBUR?

 
Pertanyaan:
Bolehkah seorang wanita yang sedang haid melakukan ziarah kubur? Mohon jelaskan hukumnya.
 
Jawaban:
Ziarah kubur bagi kaum laki-laki disepakati kesunnahannya. Adapun ziarah kubur bagi wanita, maka para ulama berbeda pendapat tentangnya.
 
Pendapat pertama mengatakan, bahwa ziarah kubur disyariatkan bagi wanita sebagaimana kaum laki-laki, karena keumuman perintah Nabi ﷺ (ini adalah pendapat mayoritas pengikut Mazhab Hanafiyyah dan lainnya). Beliau ﷺ bersabda:
 
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا
 
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang lakukanlah ziarah kubur.” [HR. Muslim: 1406]
 
Pendapat kedua mengatakan, bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah makruh, karena dalil-dalil yang ada tampaknya kontradiktif (saling bertentangan –ed), sehingga untuk menggabungkannya, maka dikatakan makruh (ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad]
 
Pendapat ketiga mengatakan, bahwa ziarah kubur haram bagi wanita (ini adalah pendapat sebagaian pengikut Mazhab Malikiyyah dan lainnya). Pendapat ini didasari oleh laknat Rasulullah ﷺ bagi wanita yang berziarah kubur. Dalam sebuah hadis disebutkan:
 
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ
 
“Rasulullah ﷺ melaknat wanita yang berziarah kubur.” [HR. al-Hakim: 1/374]
 
Pendapat terkuat adalah pendapat pertama, yaitu wanita disyariatkan berziarah kubur sebagaimana keumuman perintah Nabi ﷺ dalam hadis riwayat Muslim di atas. Hal ini dikuatkan oleh:
 
– Di antara tujuan ziarah kubur adalah untuk melunakkan hati, dan ini dibutuhkan oleh kaum laki-laki dan perempuan.
 
– Rasulullah ﷺ pernah mengizinkan Aisyah menziarahi kuburan saudaranya, Abdurrahman bin Abi Bakar.
 
– Rasulullah ﷺ tidak mengingkari seorang wanita yang duduk di samping kubur dalam keadaan bersedih [HR. al-Bukhari dan Muslim]
 
Adapun hadis tentang laknat Rasulullah ﷺ, maka hadis tersebut berderajat lemah sehingga tidak dapat dijadikan sebagai hujjah (argumentasi) untuk melarang wanita melakukan ziarah kubur. Hadis tersebut lemah karena dalam sanadnya terdapat Badzam Abu Shalih, yang menurut kebanyakan pakar hadis adalah rawi lemah.
 
Perhatian:
Akan tetapi, wanita disyariatkan berziarah kubur dengan syarat TIDAK BOLEH SERING-SERING melakukannya, karena terdapat hadis shahih yang menunjukkan larangan wanita terlalu sering berziarah kubur. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
 
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ
 
“Rasulullah ﷺ melaknat wanita yang sering berziarah kubur.” [HR. at-Tirmidzi: 1056, Ibnu Majah: 1576, dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil: 762]
 
 
Kesimpulan:
 
Hukum wanita berziarah kubur diperselisihkan oleh para ulama. Dan yang lebih kuat adalah yang menyatakan, bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah disyariatkan, tetapi tidak boleh sering. Adapun wanita yang sedang haid, maka dia tidak terhalangi untuk berziarah kubur, karena dalam berziarah kubur, seseorang tidak disyariatkan berada dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar.
 
Wallahu a’lam.
 
 
Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, edisi 11, tahun ke-8, 1430 H/2009 M.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#ziarahkubur #wanita #perempuan, #muslimah, #hukum, #wanitaziarahkuburketikahaid, #haid, #datangbulan, #haidh, #mens #ziarahkuburan #melayat
, ,

INGIN PUASA AYYAMUL BIDH TAPI TERHALANG HAID, APAKAH TETAP DAPAT PAHALANYA?

INGIN PUASA AYYAMUL BIDH TAPI TERHALANG HAID, APAKAH TETAP DAPAT PAHALANYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
INGIN PUASA AYYAMUL BIDH TAPI TERHALANG HAID, APAKAH TETAP DAPAT PAHALANYA?
 
Pertanyaan:
Bolehkah jika berniat puasa Ayyamul Bidh, tapi hanya besok dan Kamis saja yang mampu ditunaikan? Karena hari ini qadarullah belum bersih dari haid.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Puasa tiga hari setiap bulan paling utama dikerjakan pada Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan Hijriyah. Dan JIKA TIDAK MEMUNGKINKAN, tidak apa-apa dikerjakan di awal bulan atau di akhir bulan, boleh berurutan atau berselang seling.
 
Dari Mu’adzah Al ‘Adawiyyah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi ﷺ:
 
أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ
 
“Apakah Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan puasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya”. Ia pun bertanya pada ‘Aisyah, “Pada hari apa beliau ﷺ berpuasa?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau ﷺ tidak memperhatikan pada hari apa beliau berpuasa dalam sebulan.” [HR. Muslim no. 1160]
 
Jadi puasa tiga hari setiap bulan bisa dikerjakan kapan saja dalam kurun waktu satu bulan Hijriyah tersebut. Dan kalau tadinya kita sudah berniat ingin puasa Ayyamul Bidh tapi terhalangi oleh haid, semoga kita sudah mendapatkan pahala puasa Ayyamul Bidh, karena haid termasuk uzur yang syari.
 
Allah Maha Kaya dan Allah Maha Pemurah. Hingga ketika kita menginginkan untuk melakukan amal saleh, namun itu tidak terwujud karena ada halangan di luar kesengajaan kita, maka Allah mencatat niat kita sebagai amal saleh. Allah berfirman:
 
وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
 
Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. [QS. an-Nisa: 100]
 
Penyebutan hijrah dalam ayat di atas bukan berarti membatasi hanya masalah hijrah. Karena aturan ini juga BERLAKU untuk amal saleh lainnya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dengan kaidah umum:
 
مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً
 
Siapa yang berniat melakukan kebaikan, kemudian dia tidak bisa mengamalkannya, Allah catat untuknya satu amal kebaikan yang sempurna. [HR. Bukhari 6491, Muslim 354 dan yang lainnya]
 
Mengapa Tetap Mendapat Pahala?
Karena andaikan tidak ada halangan, dia akan mengerjakan amalan tersebut. Allah tidak akan sia-siakan amalan hamba-Nya.
 
Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
 
Apabila seorang hamba itu sakit atau musafir, maka dicatat untuknya seperti melakukan amal saleh ketika dia mukim atau sehat. [HR. Bukhari 2996]
 
Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan:
 
: قَوْله : ( كُتِبَ لَهُ مِثْل مَا كَانَ يَعْمَل مُقِيمًا صَحِيحًا ) وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فمُنِع مِنْهَا ، وَكَانَتْ نِيَّته ـ لَوْلَا الْمَانِع ـ أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا
 
Sabda beliau ﷺ: ‘Dicatat untuknya seperti melakukan amal saleh ketika dia mukim atau sehat’ ini berlaku bagi orang yang terbiasa melakukan amal saleh, kemudian dia terhalangi. Sementara niatnya ingin terus istiqamah mengamalkannya – andai tidak ada penghalang. [Fathul Bari, 6/136]
 
 
Allahu a’lam.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatpuasanabi #shifatpuasanabi #puasa #shaum #AyamulBidh #AyyamulBidh #PuasaPutih #Shaum #131415Hijriah #kalenderIslam #Qomariyah #perempuan #wanita #muslimah #haidh #datangbulan #mens #tetapmendapatkanpahalanya #biasamelakukanamalsalehtapidiaterhalangi, #halangan #hijriyah
, ,

WANITA DIANJURKAN UNTUK IKUT SHALAT GERHANA DI MASJID

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
WANITA DIANJURKAN UNTUK IKUT SHALAT GERHANA DI MASJID
 
A’isyah mengatakan:
 
ما سجدْت سجوداً قطّ كان أطول منه
 
Saya belum pernah melakukan sujud yang lebih panjang dari pada sujud Shalat Gerhana. [HR. Bukhari]
 
Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan:
 
ما ركعتُ ركوعاً قطّ، ولا سجدت سجوداً قطّ؛ كان أطول منه
 
Saya belum rukuk maupun sujud sekalipun yang lebih panjang dari pada rukuk dan sujud ketika Shalat Gerhana. [HR. Muslim]
 
Di antara dalil yang menunjukkan anjuran wanita untuk ikut Shalat Gerhana di masjid adalah testimoni Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang Shalat Gerhana yang beliau lakukan tersebut di atas. Hadis tersebut menunjukkan, bahwa beliau mengikuti shalat gerhana ini bersama Nabi ﷺ.
 
Imam Bukhari membuat judul bab:
 
باب صلاة النساء مع الرجال في الكسوف
 
Bab: Wanita Ikut Shalat Kusuuf Bersama Laki-Laki Ketika Gerhana
Ibnu Hajar mengatakan:
 
أَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَة إِلَى رَدّ قَوْل مَنْ مَنَعَ ذَلِكَ وَقَالَ : يُصَلِّينَ فُرَادَى
 
“Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk orang-orang yang melarang wanita tidak boleh shalat gerhana bersama kaum pria. Mereka hanya diperbolehkan shalat sendiri.” [Fathul Bari, 4: 6]
 
Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta melakukan shalat gerhana bersama kaum pria di masjid. Namun jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat sendiri di rumah. [Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 345]
 Wallahu a’lam.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#muslimah #wanita #perempuan #shalatGerhanadimasjid #fikihshalat, #shalat #sholat #solat #salat #hukum #waktupelaksanaan #kapankahshalatgerhana #gerhanamatahari #gerhanabulan #khusuf #kusuf #khusuuf #kusufain
, ,

ANCAMAN TIDAK MEMAKAI HIJAB SYARI

ANCAMAN TIDAK MEMAKAI HIJAB SYARI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
ANCAMAN TIDAK MEMAKAI HIJAB SYARI
 
Kenapa sih sahabatmu sering sekali mengingatkan tentang jilbab yang sesuai syariat?
Apa hubungannya dengan Surga dan Neraka?
Tak lain karena rasa cintanya pada kalian sahabat.💖💖
Ancaman untuk yang memakai jilbab gaul / tidak memenuhi syarat hijab.
 
Rasulullah ﷺ bahkan telah memperingatkan kita dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu
(1) Suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina, yang mereka pakai untuk mencambuk manusia;
(2) Wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-lenggok menggoyang-goyangkan kepalanya lagi durhaka (tidak taat). Kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.” [Hadis Shahih. Riwayat Muslim (no. 2128) dan Ahmad (no. 8673)]
 
Semoga Muslimah yang belum berjilbab segera memakai jilbab, dan yang sudah memakai jilbab yang belum syari semoga segera memakai jilbab yang syari.
 
Semua membutuhkan proses. Kami doakan semoga bisa istiqamah dalam berhijrah.
 
Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin
 
 
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#hijabsyari #jilbab #kerudung #khimar #gamis #wanita #perempuan #muslimah #rumushijabsyarimuslimah #ayatAlqurantentanghijab #akhwatzamannow #perintahberhijabdalamAlquran #kaummembawacambuk #berpakaiantapitelanjang #punukpunukunta #punukonta #jilbabyangsesuaisyariat #hijabyangsesuaisyariat
, ,

RUMUS HIJAB SYARI MUSLIMAH

RUMUS HIJAB SYARI MUSLIMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
RUMUS HIJAB SYARI MUSLIMAH
 
Yang namanya hijab syari itu sangat sederhana.
Hanya kebanyakan kita lebih suka yang rumit.
Allah turunkan Islam dan syariat-Nya itu bukan untuk menyusahkan, tapi seringkali kita yang menyulitkan diri sendiri memakai hawa nafsu.
 
Hijab itu untuk menutupi perhiasan, sederhana,
Dibuat sulit dengan jadi perhiasan baru, pernak-pernik nan pelik.
Hijab yang asalnya pakaian taat, malah dijadikan penarik perhatian.
Apakah rida Allah yang kita cari, atau decak kagumnya manusia?
 
Kesana kemari mengikut tren, mencari-cari gaya terbaru.
Sementara hijab itu adalah kewajiban, identitas ketaatan Muslimah.
 
“Wanita kan juga ingin cantik!!!”
Iya betul, di mata manusia atau di mata Allah?
Sedang Allah menginginkan niat kita secara sempurna.
Ingin rapi tentu baik, ingin tampil cantik boleh saja, bagi suaminya saja, bagi yang sudah halal baginya.
 
Tetapi hijabmu dalam kesederhanaan, karena iman itu sangat sederhana,
ketaatan itu sederhana, dan hijab syari itu harusnya sederhana.
 
Rumus Hijab Syari Muslimah = Khimar (QS. 24:31) + Jilbab (QS. 33:59) – Tabarruj (QS. 33:33)
 
 
 
 
Sumber: Indonesiabertauhidofficial

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#hijabsyari #jilbab #kerudung #khimar #gamis #wanita #perempuan #muslimah #rumushijabsyarimuslimah #ayatAlqurantentanghijab #akhwatzamannow #perintahberhijabdalamAlquran

, ,

BOLEHKAH WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH?

BOLEHKAH WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
BOLEHKAH WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH?
 
Pertanyaan:
Saya ibu dengan satu bayi putri. Saya bekerja sebagai PNS di Depdiknas. Mohon nasihatnya, setelah saya belajar Islam dengan manhaj Salaful ummah ini, timbul dilema antara melanjutkan karir atau mempersiapkan diri untuk keluar dari pekerjaan, dan menjadi ibu yang full time di rumah. Masalahnya adalah saya kurang pandai bekerja di rumah. Sekarang ini walau tak ada pembantu, saya masih bisa mengurus rumah walaupun seadanya.
 
Khawatirnya jika saya tetap bekerja, akan bertentangan dengan surat Al Ahzab ayat 33, bahwa tempat wanita adalah rumahnya. Mohon nasihatnya ustadz, agar ana ikhlas bekerja tanpa pembantu, dan mendapatkan yang lebih baik dari sekadar khadimat dengan zikir sebelum tidur. Namun bolehkah saya punya khadimat ya ustadz, masalahnya jadi ada non-mahram di rumah kami. Jazaakumullah Khair wa Barakallahu fikum, Wassallam
 
 
Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc. menjawab:
 
Bismillah, walhamdulillah wash shalatu wassalamu ala Rasulillah, wa’ala alihi washahbihi wa man waalah, amma ba’du.
 
Semoga Allah mencurahkan rahmat, berkah dan taufik-Nya kepada Anda, karena semangat Anda menetapi manhaj yang lurus ini, Aamiin. Agar lebih fokus dan mudah dipahami, jawaban pertanyaan Anda kami jabarkan dalam poin-poin berikut ini:
 
Pertama: Islam adalah syariat yang diturunkan oleh Allah Sang Pencipta Manusia. Hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui seluk beluk ciptaan-Nya. Hanya Dia yang Maha Tahu mana yang baik dan memperbaiki hamba-Nya, serta mana yang buruk dan membahayakan mereka. Oleh karena itu, Islam menjadi aturan hidup manusia yang paling baik, paling lengkap dan paling mulia, Hanya Islam yang bisa mengantarkan manusia menuju kebaikan, kemajuan, dan kebahagiaan dunia Akhirat. Allah taala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
 
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu (ajaran) yang memberi kehidupan kepadamu.“ [QS. Al-Anfal: 24]
 
Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan terus mengurusi makhluk-Nya. Oleh karena itu Dia takkan membiarkan makhluknya sia-sia. Allah berfirman:
 
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
 
“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perintah, larangan dan pertanggung-jawaban)?!” [QS. Al-Qiyamah:36, lihat tafsir Ibnu Katsir 8/283]
 
Oleh karena itulah, Allah menurunkan syariat-Nya, dan mengharuskan manusia untuk menerapkannya dalam kehidupan, tidak lain agar kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih maju, lebih mulia, dan lebih bahagia di dunia dan di Akhirat.
 
Kedua: Islam menjadikan lelaki sebagai kepala keluarga, di pundaknyalah tanggung jawab utama lahir batin keluarga. Islam juga sangat proporsional dalam membagi tugas rumah tangga. Kepala keluarga diberikan tugas utama untuk menyelesaikan segala urusan di luar rumah, sedang sang ibu memiliki tugas utama yang mulia, yakni mengurusi segala urusan dalam rumah.
 
Norma-norma ini terkandung dalam firman-Nya:
 
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
 
“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” [QS. An-Nisa: 34]
 
Begitu pula firman-Nya:
 
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ
 
“Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” [QS. Al-Ahzab:33]
 
Ahli Tafsir ternama Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan perkataannya:
“Maksudnya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk di antara kebutuhan yang syari adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 6/409]
 
Inilah keluarga yang ideal dalam Islam. Kepala keluarga sebagai penanggung jawab utama urusan luar rumah, dan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan dalam rumah. Sungguh, jika aturan ini benar-benar kita terapkan, dan kita saling memahami tugas masing-masing, niscaya terbangun tatanan masyarakat yang maju dan berimbang dalam bidang moral dan materialnya, tercapai ketentraman lahir batinnya, dan juga teraih kebahagiaan dunia Akhiratnya.
 
Ketiga: Bolehkah wanita bekerja?
 
Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya, dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat.
 
Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Allah jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja dalam firman-Nya:
 
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
 
“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! Maka Allah, Rasul-Nya, dan para Mukminin akan melihat pekerjaanmu“ [QS. At-Taubah:105]
 
Perintah ini mencakup pria dan wanita. Allah juga mensyariatkan bisnis kepada semua hambanya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita. Allah berfirman (yang artinya):
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
 
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela di antara kalian” [QS. An-Nisa:29]
 
Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.
 
AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya terbebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria, dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya, harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syari, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.
 
Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita. Yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktik seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.
 
Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.
 
Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.
 
Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak, seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya. Begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). [Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109]
 
Keempat: Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, di antaranya:
 
1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah. Karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya. Dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.
 
2. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib menaati suaminya.
 
3. Menerapkan adab-adab Islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syari, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahram, dll.
 
4. Pekerjaannya sesuai dengan tabiat wanita seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.
 
5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.
 
6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat, atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.
 
Kelima: Jawaban pertanyaan Anda sangat bergantung dengan pekerjaan dan keadaan Anda.
 
Apa suami mengijinkan Anda untuk bekerja? Apa pekerjaan Anda tidak mengganggu tugas utama Anda dalam rumah? Apa tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan dalam rumah? Jika lingkungan kerja Anda sekarang keadaannya ikhtilat (campur antara pria dan wanita), apa tidak ada pekerjaan lain yang lingkungannya tidak ikhtilat? Jika tidak ada, apa Anda sudah dalam kondisi darurat, sehingga apabila Anda tidak bekerja itu, Anda akan terancam hidupnya, atau paling tidak hidup Anda akan terasa berat sekali bila Anda tidak bekerja? Jika memang demikian, sudahkah Anda menerapkan adab-adab Islami ketika Anda keluar rumah? InsyaAllah dengan uraian kami di atas, Anda bisa menjawab sendiri pertanyaan Anda.
 
Memang seringkali kita butuh waktu dan step by step dalam menerapkan syariat dalam kehidupan kita, tapi peganglah terus firman-Nya:
 
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
 
“Bertaqwalah kepada Allah semampumu!” [QS. At-Taghabun:16)
 
Dan firman-Nya (yang artinya):
 
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
 
“Jika tekadmu sudah bulat, maka tawakkal-lah kepada Allah!” [QS. Al Imran:159].
 
Juga sabda Rasul ﷺ: “Ingatlah kepada Allah ketika dalam kemudahan, niscaya Allah akan mengingatmu ketika dalam kesusahan!” [HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani]
 
Dan juga sabdanya ﷺ:
 
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ (رواه أحمد وقال الألباني: سنده صحيح على شرط مسلم)
 
“Sungguh kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwamu kepada Allah azza wajalla melainkan Allah pasti akan memberimu ganti yang lebih baik darinya” [HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani]
 
Terakhir: Kadang terbetik dalam benak kita, mengapa Islam terkesan mengekang wanita?!
 
Inilah doktrin yang selama ini sering dijejalkan para musuh Islam. Mereka menyuarakan pembebasan wanita, padahal di balik itu mereka ingin menjadikan para wanita sebagai obyek nafsunya. Mereka ingin bebas menikmati keindahan wanita, dengan lebih dahulu menurunkan martabatnya. Mereka ingin merusak wanita yang teguh dengan agamanya, agar mau memertontonkan auratnya, sebagaimana mereka telah merusak kaum wanita mereka.
 
Lihatlah kaum wanita di negara-negara Barat. Meski ada yang terlihat mencapai posisi yang tinggi dan dihormati, tapi kebanyakan mereka dijadikan sebagai obyek dagangan, hingga harus menjual kehormatan mereka, penghias motor dan mobil dalam lomba balap, penghias barang dagangan, pemoles iklan-iklan di berbagai media informasi, dll. Wanita mereka dituntut untuk berkarir, padahal itu bukan kewajiban mereka, sehingga menelantarkan kewajiban mereka untuk mengurus dan mendidik anaknya sebagai generasi penerus. Selanjutnya rusaklah tatanan kehidupan masyarakat mereka. Tidak berhenti di sini, mereka juga ingin kaum wanita kita rusak, sebagaimana kaum wanita mereka rusak lahir batinnya. Dan di antara langkah awal menuju itu adalah dengan mengajak kaum wanita kita, dengan berbagai cara, agar mau keluar dari rumah mereka.
 
Cobalah lihat secuil pengakuan orang Barat sendiri, tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat mereka berikut ini:
 
Lord Byron: “Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman Yunani kuno, tentu Anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya. Dan tentunya Anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain”.
 
Samuel Smills: “Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga. Karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan. Karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…”.
 
Dr. Iidaylin: “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga, hingga meningkatlah penghasilan. Tapi di sisi lain, tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan, bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. [Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid 1, hal: 425-426]
 
Lihatlah, bagaimana mereka yang obyektif mengakui imbas buruk dari keluarnya wanita dari rumah untuk berkarir…
Sungguh Islam merupakan aturan dan syariat yang paling tepat untuk manusia,
Aturan itu bukan untuk mengekang, tapi untuk mengatur jalan hidup manusia, menuju perbaikan dan kebahagiaan dunia dan Akhirat…
Islam dan pemeluknya ibarat terapi dan tubuh manusia. Islam akan memperbaiki keadaan pemeluknya, sebagaimana terapi akan memperbaiki tubuh manusia…
Islam dan pemeluknya, ibarat UU dan penduduk suatu negeri. Islam mengatur dan menertibkan kehidupan manusia, sebagaimana UU juga bertujuan demikian.
 
Jadi Islam tidak mengekang wanita, tapi mengatur wanita agar hidupnya menjadi baik, selamat, tentram, dan bahagia dunia Akhirat. Begitulah cara Islam menghormati wanita, menjauhkan mereka dari pekerjaan yang memberatkan mereka, menghidarkan mereka dari bahaya yang banyak mengancam mereka di luar rumah, dan menjaga kehormatan mereka dari niat jahat orang yang hidup di sekitarnya.
 
Sekian jawaban kami. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat dan bisa dimengerti. Wassalam.
 
NB: Tentang hukum mengambil pembantu, insyaAllah akan kami jawab di kesempatan lainnya.
 
 
 
Penulis: Ustadz Musyaffa’ Addariny
 
#wanitakarir #wanita #perempuan #muslimah #hukum #bekerjadiluarrumah #tempatwanitaadalahdidalamrumah #bekerjadiluarrumahtugashakikiwanita #mengurustugasrumahtangga #tugasutamawanita #iburumahtangga
, ,

HUKUM SEORANG WANITA MENAMBAHKAN NAMA SUAMINYA DI BELAKANG NAMANYA

HUKUM SEORANG WANITA MENAMBAHKAN NAMA SUAMINYA DI BELAKANG NAMANYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
HUKUM SEORANG WANITA MENAMBAHKAN NAMA SUAMINYA DI BELAKANG NAMANYA
 
Setelah menikah, terkadang seorang wanita mengganti namanya belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara Barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham. Lalu bagaimanakah pendapat para ulama tentang masalah ini?
 
Fatwa Lajnah Da’imah:
 
Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ juz 20 halaman 379.
 
Pertanyaan:
Telah umum di sebagian negara, seorang wanita Muslimah setelah menikah menisbatkan namanya dengan nama suaminya atau laqobnya. Misalnya: Zainab menikah dengan Zaid, Apakah boleh baginya menuliskan namanya: Zainab Zaid? Ataukah hal tersebut merupakan budaya Barat yang harus dijauhi dan berhati-hati dengannya?
 
Jawaban:
TIDAK BOLEH seseorang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya. Allah ﷻ berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [QS al-Ahzab: 5]
 
Sungguh telah datang ancaman yang keras bagi orang yang menisbatkan kepada SELAIN ayahnya. Maka dari itu TIDAK BOLEH seorang wanita menisbatkan dirinya kepada suaminya, sebagaimana adat yang berlaku pada kaum kuffar dan yang menyerupai mereka dari kaum Muslimin.
 
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
 
Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil: Abdul Aziz Alu Syaikh
Anggota:
Abdulloh bin ghudayyan
Sholih al-Fauzan
Bakr Abu Zaid
 
 
فتاوى اللجنة الدائمةالسؤال الثالث من الفتوى رقم ( 18147 )
س3: قد شاع في بعض البلدان نسبة المرأة المسلمة بعد الزواج إلى اسم زوجها أو لقبه، فمثلا تزوجت زينب زيدا، فهل يجوز لها أن تكتب: (زينب زيد)، أم هي من الحضارة الغربية التي يجب اجتنابها والحذر منها؟
ج3: لا يجوز نسبة الإنسان إلى غير أبيه، قال تعالى: { ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ } (1) وقد جاء الوعيد الشديد على من انتسب إلى غير أبيه. وعلى هذا فلا يجوز نسبة المرأة إلى زوجها كما جرت العادة عند الكفار، ومن تشبه بهم من المسلمين
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس
بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
***
 
Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan hafidzohullah
 
Pertanyaan:
Apakah boleh seorang wanita setelah menikah melepaskan nama keluarganya dan mengambil nama suaminya sebagaimana orang Barat?
 
Jawaban:
Hal itu TIDAK diperbolehkan. Bernasab kepada selain ayahnya tidak boleh, haram dalam Islam.
Haram dalam Islam seorang Muslim bernasab kepada selain ayahnya, baik laki-laki atau wanita. Dan baginya ancaman yang keras dan laknat bagi yang melakukannya, yaitu yang bernasab kepada selain ayahnya. Hal itu tidak boleh selamanya.
 
Dari kaset Syarh Mandhumatul Adab Syaikh al-Fauzan Hafidhahullah
 
السؤالهل يجوز للمرأة بعد الزواج ان تتنازل عن اسمها العائلي وتاخذ اسم زوجها كما هو الحال في الغرب؟الجواب
هذا لا يجوز الانتساب الى غير الاب لا يجوز حرام في الاسلام
حرام في الاسلام ان المسلم ينتسب الى غير ابيه سواءا كان رجلا ام امرأة وهذا عليه وعيد شديد وملعون من فعله الذي ينتسب الى غير مواليه او ينتسب الى غير ابيه هذا لا يجوز ابدا
من شريط شرح منظومة الآداب للشيخ الفوزان حفظه الله
 
***
 
Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus hafidzahulloh
 
Pertanyaan:
Apakah wajib secara syari bagi seorang wanita menyertakan nama suaminya, atau sebisa mungkin tetap menggunakan nama aslinya?
 
Jawaban:
 
:الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد
 
Tidak boleh dari segi nasab seseorang bernasab kepada selain nasabnya yang asli, atau mengaku keturunan dari yang bukan ayahnya sendiri. Sungguh Islam telah mengharamkan seorang ayah mengingkari nasab anaknya tanpa sebab yang benar secara ijma’.
 
Allah berfirman:
 
ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
 
Dan sabda Nabi ﷺ:
 
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً
 
“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya, atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan segenap manusia. Pada Hari Kiamat nanti Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah.”
 
[Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam Al-Wala’ Wal Habbah Bab Ma Ja’a Fiman Tawalla Ghoiro Mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib radhiyAllahu anhu].
 
Dan dalam riwayat yang lain:
 
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
 
“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka Surga haram baginya.”
 
[Dikeluarkan oleh Bukhari dalam al-Maghozi bab: Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab” (bab Bab Seseorang Mengaku Keturunan dari yang Bukan Bapaknya (5113) dan Ibnu Majah dalam (al-Hudud) bab: Bab Orang Yang Mengaku Keturunan dari yang Bukan Bapaknya atau Berwali Kepada Selain Walinya (2610) dan Ibnu Hibban (415) dan Darimi (2453) dan Ahmad (1500) dan hadis Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abu Bakroh radhiyAllahu anhuma].
 
Maka tidak boleh dikatakan: Fulanah bintu Fulan sedangkan ia bukan anaknya, tetapi boleh dikatakan: Fulanah zaujatu Fulan (Fulanah istrinya si Fulan) atau tanggungannya si Fulan atau wakilnya Fulan. Dan jika tidak disebutkan idhofah-idhofah ini, dan hal ini sudah diketahui dan biasa, maka sesungguhnya apa-apa yang berlaku dalam adat, itulah yang dipertimbangkan dalam syariat.
 
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا
 
Makkah, 4 Syawwal 1427 H
Bertepatan dengan 16 Oktober 2006 M
 
***
 
السؤال: هل الواجبُ على المرأةِ حملُ لقبِ زوجِها شرعًا أم بإمكانها البقاء على لقبها الأصليِّ ؟الجوابالحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:
فلا يجوزُ من حيث النسبُ أن يُنْسَبَ المرءُ إلى غير نسبه الأصلي أو يُدَّعَى إلى غير أبيه، فقد حَرَّم الإسلام على الأب أن يُنْكِرَ نَسَبَ ولدِه بغير حقٍّ إجماعًا، لقوله تعالى: ﴿ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [الأحزاب: 5]، ولقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً»(١- أخرجه مسلم في «الحج» (3327)، والترمذي في «الولاء والهبة» باب: باب ما جاء فيمن تولى غير مواليه (2127)، وأحمد (616)، من حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وفي رواية أخرى: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»(٢- أخرجه البخاري في «المغازي» باب: غزوة الطائف (3982)، ومسلم في «الإيمان» (220)، وأبو داود في «الأدب» باب: باب في الرجل ينتمي إلى غير مواليه (5113)، وابن ماجه في «الحدود» باب: باب من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه (2610)، وابن حبان (415)، والدارمي (2453)، وأحمد (1500)، من حديث سعد بن أبي وقاص وأبي بكرة رضي الله عنهما)
، فإذا كان لا يجوز أن يقال: فلانة بنت فلان وهي ليست ابنته، ولكن يجوز أن يقال: فلانة زوجة فلان أو مكفولة فلان أو وكيلة عن فلان، فإذا لم تذكر هذه الإضافات -وكانت معروفة معهودة- «فإنّ ما يجري بالعرف يجري بالشرع».
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.
مكة في: 4 شـوال 1427ﻫ
الموافق ﻟ: 26 أكتوبر 2006م
***
 
Lalu Bagaimana yang Disyariatkan?
 
Yang disunnahkan adalah menggunakan nama kunyah (baca: kun-yah), sebagaimana telah tsabit dalam banyak hadis, dan ini jelas lebih utama daripada menggunakan laqob/julukan-julukan yang berasal dari adat Barat ataupun ‘ajam. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh al-Albani rahimahulloh dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah no. 132:
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
اكْتَنِي [بابنك عبدالله – يعني: ابن الزبير] أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ
 
“Berkun-yahlah [dengan anakmu –yakni: Ibnu Zubair] kamu adalah Ummu Abdillah” [Lihat ash-Shohihah no. 132]
 
Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad: Haddatsana Abdurrozzaq (bin Hammam, pent), haddatsana Ma’mar (bin Rosyid, pent) dari Hisyam (bin ‘Urwah, pent), dari bapaknya (Urwah bin Zubair, pent): bahwa ‘Aisyah berkata kepada Nabi ﷺ:
 
يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فذكره بدون الزيادة
 
“Wahai Rasulullah, semua istrimu selain aku memiliki kun-yah”, lalu Rasulullah ﷺ sallam bersabda kepadanya: (lalu beliau ﷺ menyebutkan hadis ini tanpa tambahan).
 
Berkata (Urwah, pent): Ketika itu ‘Aisyah disebut sebagai Ummu Abdillah sampai ia meninggal, dan ia tidak pernah melahirkan sama sekali.
 
Berdasarkan hadis ini, disyariatkan berkun-yah walaupun seseorang tidak memiliki anak. Ini merupakan adab Islami yang tidak ada bandingannya pada umat lainnya sejauh yang aku ketahui. Maka sepatutnya bagi kaum Muslimin untuk berpegang teguh padanya, baik laki-laki maupun wanita, dan meninggalkan apa yang masuk sedkit demi sedikit kepada mereka dari adat-adat kaum ‘Ajam seperti al-Biik (البيك), al-Afnadi (الأفندي), al-Basya (الباشا), dan yang semisal itu seperti al-Misyu (المسيو), as-Sayyid (السيد), as-Sayyidah (السيدة), dan al-Anisah (الآنسة), ketika semua itu masuk ke dalam Islam. Dan para fuqoha’ al-Hanafiyyah telah menegaskan tentang dibencinya al-Afnadi (الأفندي) karena di dalamnya terdapat tazkiyah, sebagaimana dalam kitab ‘Hasyiyah Ibnu Abidin’. Dan Sayyid hanya saja dimutlaqkan atas orang yang memiliki kepemimpinan atau jabatan, dan pada masalah ini terdapat hadis (قوموا إلى سيدكم) “Berdirilah kepada (tolonglah, pent) sayyid kalian”, dan telah berlalu pada nomor 66 (dalam ash-Shohihah, pent) dan tidak dimutlakkan atas semua orang karena ini juga masuk pada bentuk tazkiyah.
 
Faidah: adapun hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyAllahu anha, bahwa bahwa ia mengalami keguguran dari Nabi ﷺ, lalu ia menamainya (janin yang gugur tersebut, pent) Abdullah, dan ia berkun-yah dengannya, maka hadis tersebut bathil secara sanad dan matan. Dan keterangannya ada pada adh-Dho’ifah jilid ke-9. –Selesai perkataan syaikh al-Albani rahimahullah.
 
Maroji‘:
alifta.net – Fatwa Lajnah Da’imah
Sahab.net – Fatwa Syaikh Sholeh Fauzan
Ferkous.com – Fatwa Syaikh Farkus
Tholib.wordpress.com – Perkataan Syaikh al-Albani
Disalin dari: ummushofi.wordpress.com Untuk dipublikasikan oleh: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#hukum #menambakannamasuamidibelakangnamaistri #hukummemakainamabelakangsuami #nisbatkannamasuami #menisbatkannamabelakangsuami #hukummenisbatkankeselainayahkandung #wanita #perempuan #muslimah #suami #istri #isteri #lelaki #lakilaki #pria #suami #istripakainamabelakangsuami #bernasabkepadaselainAllah
, ,

KARAKTER WANITA SALEHAH

KARAKTER WANITA SALEHAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KARAKTER WANITA SALEHAH
 
Proses menjadi salehah itu bukan hanya dengan menukar pakaian saja,
Tetapi juga hati perlu diisi dengan ilmu agama,
Baik itu dalam mengenal dan mempelajari kalam-Nya maupun Sunnah-sunnahnya.
 
Bila hati terisi dengan ilmu agama, in syaa Allah akan bertambah ketaatan serta iman dalam diri dan jiwa kita,
Bila iman bertambah, jiwa kita akan selalu tergerak untuk menjaga ketaatan, di mana pun dan dalam keadaan apapun
 
Fatimah radhiyallahu anha berkata:
“Wanita salehah itu tidak suka dikenali dan mengenali. Tidak suka memandang dan dipandang. Di bibirnya tidak meniti nama-nama lelaki, dan di bibir-bibir lelaki tidak meniti namanya.”
 
 
Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)
#karakteristik #ciriciri #tandatanda #wanita #perempuan #muslimah #salehah #shalihah #sholihah #malu #pemalu #tidaksukadikenali