Posts

BENARKAH BIDAH ADALAH MASALAH KHILAFIYAH?

BENARKAH-BIDAH-ADALAH-MASALAH-KHILAFIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BENARKAH BIDAH ADALAH MASALAH KHILAFIYAH?
 
Pertanyaan:
Benarkah masalah bidah adalah masalah Khilafiyah? Seringkali mereka yang gemar mengada-ada mengatakan ini masalah khilafiyah. Bahkan mereka mencap orang yang berbicara masalah bidah di jaman sekarang norak.
 
Dan bagaimana tindakan kita terhadap orang awam, yang ketika kita ingin mendakwahkn tauhid maupun sunnah, akan tetapi mereka telah terkena syubhat masalah imam dan ulama yang tidak bisa lagi diambil perkataannya.
 
Jawaban Redaksi SalamDakwah
 
Jawaban terperinci untuk soal ini sebenarnya panjang karena membahas tiga perkara besar sekaligus:
1. Bidah
2. Khilaf atau perbedaan pendapat
3. Sikap menghadapinya
 
Tapi saya akan mencoba memberi jawaban pendek sesuai pertanyaan. Saya akan membagi jawaban menjadi beberapa poin:
 
Pertama:
– Ada perkara bidah yang bersumber dari masalah khilafiyah, seperti selalu melaksanakan Qunut Subuh,
– Ada yang mengatakan itu bidah karena dalil yang jadi sandaran amalan itu tidak bisa dijadikan hujjah,
– Ada yang mengatakan itu sunnah karena ada dalil yang menguatkan amalan itu
– Ada perkara bidah yang tidak bersumber dari masalah khilafiyah, bahkan perkara itu menyelisihi Ijma’ (Kesepakatan Ulama’), seperti sebagian orang Sufi berkeyakinan tidak boleh berdoa kepada Allah dalam masalah duniawi [Lihat: http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=4059]
 
Kedua:
Yang saya fahami dari pertanyaan Anda, bahwa orang yang Anda ajak bicara kelihatannya berdalih dengan ikhtilaf untuk pembolehan bidah (karena ini masalah ikhtilaf jadi tidak usah diingkari). Dan pemahaman seperti ini tidak benar.
 
Berkata Ibnu Abdil Bar:
“Sepengetahuanku, tidak ada seorang ahli fikih pun yang berpendapat, bahwa perbedaan pendapat adalah hujjah, kecuali bagi orang yang tidak punya ilmu pengetahuan, dan perkataan orang seperti ini bukanlah dalil. [Lihat Kitab Jami’ bayanil ilmi wa fadhlihi juz 2 hal. 922]
 
Perlu diketahui, bahwa ketika ada perbedaan pendapat ulama-ulama yang bertolakbelakang dan tidak bisa disatukan, maka kebenaran saat itu hanya satu dari beberapa pendapat tersebut. Dan seorang Muslim wajib menjalankan apa yang diyakininya sebagai pendapat yang benar.
 
Untuk mengetahui dalil-dalil dari Alquran, Sunnah, Ijma’ yang menyatakan, bahwa kebenaran itu hanya satu. [Lihat kitab Raudhatunnadhir oleh Ibnu Qudamah Juz 2 hal 357]
 
Jadi meskipun bidah itu bersumber dari masalah khilafiyah, maka kita tetap memilih pendapat yang benar, yang dalilnya kuat.
 
Ketiga:
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
” وإياكم والأمور المحدثات, فإن كل بدعة ضلالة.” رواه ابن ماجه رقم 42, صححه الألباني
 
Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru. Sesungguhnya setiap bidah itu sesat.
Karena bidah itu kesesatan, dan kesesatan adalah perkara yang mungkar, maka kita harus menghilangkan kemungkaran itu dengan cara yang bijak dan tidak mendiamkannya.
 
Keempat:
Adapun masalah orang awam yang tidak mau menerima pandangan Ulama Sunnah seperti syaikh Bin Baz dan Albani, maka Anda bisa cukup membawakan dalil dari Alquran atau Sunnah dalam masalah tersebut. Kalau misalnya tidak ada dalil dari kitab atau sunnah dalam masalah tersebut, maka Anda bisa menghadirkan ulama sunnah yang dianggap di hampir semua kalangan orang Islam, seperti Imam Empat Madzhab, Ibnu Abdil Bar, Shon’ani, Syaukani dll
 
Wallahu a’lam bis showab
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bedaantarakhilafiyahdanijtihadiyah #perbedaanantarakhilafiyahdanijtihadiyah #perbedaan #beda #khilafiyah #ijtihadiyah #khilafiyyah #ijtihadiyyah #ahlulbidah #ahlibidah, #bidah, #masalahkhilafiyah

BEDA‬ ANTARA KHILAFIYAH DAN IJTIHADIYAH

BEDA‬ ANTARA KHILAFIYAH DAN IJTIHADIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BEDA‬ ANTARA KHILAFIYAH DAN IJTIHADIYAH
 
Sebagian orang tidak bisa membedakan masalah khilafiyah dan ijtihadiyah.
 
Masalah khilafiyah adalah masalah yang diperselisihkan.
Sedangkan masalah ijtihadiyah adalah masalah yang tidak ada nash yang sharih tidak pula Ijma ulama.
 
Yang perlu diingat:
Tidak setiap masalah khilafiyah itu masuk dalam kategori ijtihadiyah.
Tidak setiap yang diperselisihkan diterima pendapatnya. Seperti perselisihan antara Ahlussunnah dengan Syiah. Atau perselisihan Ahlussunnah dengan Khawarij dan Murjiah.
 
Karena bila telah ada nash yang sharih atau Ijma ulama, pendapat yang menyelisihinya dianggap menyimpang dan sesat.
 
Sedangkan masalah ijtihadiyah, maka kita tidak boleh saling memaksakan pendapat. Apalagi memvonisnya pelakunya sebagai ahlul bidah.
 
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Sebagaimana kaum Muslimin berbeda pendapat, apakah lebih utama tarji’ dalam azan atau tidak. Apakah lebih utama mengganjilkan iqamah atau menduakan? Apakah Shalat Fajar lebih utama di waktu gelap atau di waktu agak terang? Apakah Qunut Subuh disunnahkan atau tidak? Apakah Bismillah dibaca dengan keras atau sirr, dan sebagainya.
 
Ini adalah masalah ijtihadiyah diperselisihkan oleh para ulama terdahulu. Setiap mereka mengakui ijtihad ulama lainnya. Siapa yang benar, ia mendapat dua pahala dan siapa yang telah berijtihad lalu salah, maka kesalahannya dimaafkan.
 
Ulama yang memandang lebih kuat pendapat Asy Syafii tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Malik.
Siapa yang menguatkan pendapat Ahmad, tidak mengingkari orang yang menguatkan pendapat Asy Syafii dan seterusnya. [Majmu fatawa 20/292]
 
Imam Asy Syathibi berkata:
Bukan kebiasaan para ulama memutlakkan lafal bidah untuk masalah furu’ (ijtihadi). [Al I’tisham 1/208]
 
Inilah sikap yang benar dalam masalah ijtihadiyah. Adapun masalah khilafiyah, maka wajib kita lihat apakah ia termasuk kategori ijtihadiyah atau bukan.
 
Wallahu a’lam.
 
 
Penulis: Badru Salam, حفظه الله تعالى
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bedaantarakhilafiyahdanijtihadiyah, #perbedaanantarakhilafiyahdanijtihadiyah, #perbedaan, #beda #khilafiyah #ijtihadiyah #khilafiyyah #ijtihadiyyah #perbedaanpendapatulama
,

BEDA REZEKI UNTUK ORANG KAFIR DAN ORANG BERIMAN

BEDA REZEKI UNTUK ORANG KAFIR DAN ORANG BERIMAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#TauhidAkidah
BEDA REZEKI UNTUK ORANG KAFIR DAN ORANG BERIMAN
>> Sikap Orang Beriman dan Orang Kafir pada Rezeki
 
Orang beriman diberikan REZEKI oleh Allah. Mereka diberi rezeki yang halal, yang digunakan untuk ketaatan dan bersyukur pada Allah. Allah ta’ala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
 
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” [QS. Al Baqarah: 172]
 
Sedangkan orang kafir mendapatkan KESENANGAN DUNIA, sebagaimana halnya hewan ternak yang bersenang-senang di muka bumi. Kelak mereka akan disiksa di Neraka. Allah ta’ala berfirman:
 
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
 
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa Neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. Al Baqarah: 126]
 
Dalam dua ayat di atas disebutkan, bahwa rezeki itu penyebutan untuk orang beriman, sedangkan bagi orang kafir disebut dengan mataa’ atau kesenangan duniawi. Jadi yang diperoleh oleh orang kafir BUKANLAH rezeki, namun mataa’ atau kesenangan dunia. Karena hakikat rezeki adalah sesuatu yang halal, yang digunakan untuk bersyukur dan untuk taat pada Allah Yang Memberi Rezeki.
 
Wallahu waliyyut taufiq.
 
Referensi:
Kitabut Tauhid fii Dhou-il Quran was Sunnah, Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdullah At Tuwaijiriy, terbitan Dar Ashdaul Mujtama’, cetakan pertama, tahun 1432 H.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
 
Sumber : https://rumaysho.com/10738-orang-kafir-tidak-diberi-rezeki-namun.html
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah, #ManhajSalaf

PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

Petuah berikut yang pernah disampaikan oleh Nabi ﷺ, Persatuan itu rahmat,perpecahan itu azab.

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ ».

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi ﷺ pernah menyampaikan petuah di mimbar:
“Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia akan sulit mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak mau berterima kasih pada manusia, berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur. Enggan menyebutnya adalah bentuk kufur. Bersatu dalam satu jamaah adalah rahmat. Sedangkan perpecahan adalah azab.” [HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadis ini Hasan. Perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667]

Beberapa catatan kaki dari hadis di atas dari Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Al-Imam Ahmad:
1. Siapa yang sulit mensyukuri yang sedikit, maka ia sulit memraktikan syukur yang hakiki secara keseluruhan.
2. Boleh menyebut-nyebut nikmat yang telah Allah beri, asal bukan dalam rangka menyombongkan diri.
3. Bersepakat dan bersatu ketika terlihat seperti satu jamaah itu lebih baik, daripada berpecah belah.
4. Perkataan yang masyhur di tengah-tengah kita “Ikhtilaf (perbedaan) umatku adalah rahmat”, tidak diketahui ada hadis yang lafalnya semacam itu.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber:

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

>> Apakah mereka orang yang sama atau berbeda?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dua nama ini adalah dua orang yang berbeda.

Abu Lahab nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Urutan nasabnya: Abdul Uzza bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Lebih dikenal dengan nama Kun-yah: Abu Lahab dibandingkan nama aslinya. Lahab artinya menyala-nyala. Ada yang mengatakan: bahwa yang menggelari Abu Lahab adalah ayahnya, Abdul Muthalib, karena Abu Lahab wajahnya sangat cerah.

Abu Lahab termasuk salah satu paman Nabi ﷺ, sekaligus penentang dakwah beliau ﷺ.

Sabab Nuzul Surat Al-Lahab

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika turun ayat:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu.”

Rasulullah ﷺ naik Bukit Shafa, beliau memanggil-manggil:

يا بني فهر!. يا بني عدي! لبطون قريش

“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi! Beliau ﷺ panggil beberapa suku Quraisy…”

Hingga mereka semua berkumpul. Jika ada yang tidak bisa datang, mereka mengirim utusan untuk menyaksikan apa yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan beberapa suku Quraisy. Lalu Nabi ﷺ memulai nasihatnya:

أرأيتكم لو أخبرتكم أن خيلا بالوادي تريد أن تغير عليكم، أكنتم مصدقي؟

Bagaimana menurut kalian, jika saya kabarkan kepada kalian, bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang akan menyerang kalian. Apakah kalian akan memercayaiku?

Mereka serentak mengatakan: “Ya, kami memercayainya. Kami tidak pernah menilai kamu, kecuali orang yang benar.”

Lalu Nabi ﷺ mengatakan:

فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan (utusan) sebelum adanya azab (Kiamat).”

Mendengar ceramah ini, Abu Lahab marah besar dan langsung mengatakan:

تبا لك سائر اليوم. ألهذا جمعتنا؟

“Celaka kamu sepanjang hidupmu… Apakah hanya untuk tujuan ini kau kumpulkan kami?”

Kemudian Allah turunkan surat al-Lahab yang berisi ancaman keras untuk Abu Lahab.

Para ulama memahami, bahwa turunnya surat al-Lahab merupakan salah satu mukjizat. Karena surat ini berisi ancaman untuk Abu Lahab dan istrinya dalam bentuk azab di Neraka, kekal selamanya. Dan Abu Lahab beserta istrinya keduanya mati kafir, selalu menentang Islam. Padahal surat ini turun sepuluh tahun sebelum meninggalnya Abu lahab.

Pada saat Perang Badar, Abu Lahab tidak ikut perang. Tapi dia meminta al-Ashi bin Hisyam bin Mughirah untuk menggantikannya dengan membayar 4000 Dirham.

Abu Lahab meninggal tujuh hari pasca Perang Badar karena sakit parah, seperti Tha’un, yang mereka sebut dengan al-Adasah. Setelah mati, jasadnya tidak diurusi selama tiga hari, hingga berbau. Ketika mereka merasa khawatir bisa membahayakan, mereka menggali tanah, lalu mayat Abu Lahab dimasukkan lubang dengan kayu. Setelah masuk, mereka mengubur dengan melempari kerikil dan tanah dari kejauhan ke dalam kuburan sampai semua terkubur, karena mereka tidak kuat dengan baunya.

Abu Jahal

Abu Jahal nama aslinya Amr bin Hisyam bin Mughirah dari Suku Makhzum.

Dia termasuk pemuka suku Quraisy dari Kabilah Kinanah. Sebelumnya dia digelari masyarakatnya dengan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan) karena dianggap cerdas. Dia diizinkan untuk mengikuti Darun Nadwah – forum orang Quraisy yang hanya dihadiri oleh para pembesar Quraisy. Namun oleh Nabi ﷺ digelari dengan Abu Jahal (Bapak Kebodohan), karena dia membunuh Sumaiyah bintu Khayyath dengan tombak yang dimasukkan ke kemaluannya sampai mati.

Dialah yang mengusulkan untuk membantai Nabi ﷺ bareng-bareng dari banyak suku. Ketika mereka berkumpul di Dar an-Nadwah membahas bagaimana cara paling tepat untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ, ada banyak usulan, tapi semuanya mentok, karena mereka khawatir Bani Abdi Manaf akan menggugat dan menunntut qishas.

Kemudian Abu Jahal usul:

Setiap kabilah harus mengutus satu pemuda yang paling kuat, paling gagah, paling bagus. Masing-masing kita beri pedang terhunus, kemudian bersama-sama menyerang Muhammad dengan satu komando, dan dibunuh bareng-bareng. Jika Bani Abdi Manaf menuntut, mereka tidak akan mampu melawan banyak suku. Sehingga Bani Abdu Manaf hanya akan meminta ganti Diyat 100 ekor unta.

Dan rencana inilah yang dijalankan… Permusuhannnya yang luar biasa kepada Nabi ﷺ dan kaum Muslimin, hingga dia digelari dengan Fir’aun umat ini.

Abu Jahal mati ketika Perang Badar. Pada saat barisan kaum Muslimin berhadapan dengan barisan musyrikin, tiba-tiba ada dua pemuda berusia 16an tahun berposisi tepat di samping kanan dan kiri Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah Muawidz dan Muadz bin Afra. Masing-masing bertanya kepada Abdurrahman bin Auf: ‘Wahai paman, mana Abu Jahal yang paling keras memusuhi Nabi ﷺ?’. Setelah ditunjukkan, kedua pemuda ini berlomba menyerang hingga Abu Jahal tersungkur…

Setelah perang usai, Ibnu Mas’ud menyisir lapangan perang, hingga bertemu Abu Jahal yang sudah tidak berdaya.

“Siapa hari ini yang menang?” tanya Abu Jahal.

“Allah dan Rasul-Nya yang menang, wahai musuh Allah.” jawab Ibnu Mas’ud.

“Sungguh kamu telah berhasil naik ke puncak yang sulit, wahai penggembala kambing.” Kata Abu Jahal.

Kemudian Ibnu Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal yang sudah terpotong telinganya. Dan dibawanya menghadap Nabi ﷺ. Beliau berkomentar:

“Telinga balas telinga dan ditambah kepala.” Karena Abu Jahal pernah memotong telinga Ibnu Mas’ud.

Allahu a’lam

 

Referensi:

  • Ar-Rahiq al-Makhtum
  • Sirah Ibnu Hisyam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29308-siapa-abu-lahab-dan-abu-jahal.html

,

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahTauhid, #FatwaUlama

TAHUKAH ANDA PERBEDAAN ANTARA KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN?

Asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah ada perbedaan antara KESYIRIKAN dan KEKUFURAN?

Jawaban:

TIDAK ADA PERBEDAAN antara keduanya.

  • Sehingga setiap kekufuran adalah kesyirikan.
  • Dan setiap kesyirikan adalah kekufuran.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh percakapan seorang Mukmin dengan dua pemilik kebun yang disebutkan dalam surat al-Kahfi.

Perhatikan penjelasan ini sehingga akan hilang darimu sekian banyak permasalahan.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, sempurnalah amal saleh.

[Fatawa asy-Syaikh al-Albani 54]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

, , ,

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#AdabMembacaAlquran

HUKUM MEMEGANG ALQURAN TERJEMAHAN KETIKA HAID

>> Perbedaan Antara Alquran Terjemahan dan Mushaf

Pertanyaan:

Apakah boleh memegang Alquran terjemahan ketika haid ?

Jawaban:

“Mushaf yang dilarang untuk disentuh secara langsung oleh orang yang sedang berhadats kecil atau besar (termasuk haid) adalah mushaf yang mengandung ayat-ayat Alquran saja, baik itu 30 juz atau sebagian. Akan tetapi jika dipegang menggunakan pelapis seperti kain yang suci, maka itu tidak mengapa. Adapun kitab tafsir, maka boleh menyentuh dan memegangnya, karena itu tidak dinamakan Mushaf, tapi kitab tafsir.” [Lihat Majmu’ Fatawa bin Baz juz.24 hal.348 no.118 dan lih.ibid juz 10 hal. 209]

Syaikh Utsaimin menjelaskan lebih detail: “Seandainya isi sebuah kitab banyak ayat Alqurannya dari pada tafsirnya, maka itu dinamakan Mushaf, dan hukumnya sama dengan Mushaf biasa (yang hanya berisi ayat-ayat Alquran -pen). Sebaliknya, apabila isi tentang tafsirnya lebih banyak dari pada ayat-ayat Alqurannya, maka boleh dipegang secara langsung oleh orang yang berhadats, karena itu kitab tafsir.

Apabila isinya berimbang antara tulisan ayat Alquran dan tafsir, maka tidak boleh disentuh oleh orang yang berhadats, berdasarkan kaidah: Jika berkumpul hal yang membolehkan dan melarang, dan tidak ada pembeda yang menguatkan salah satu sisi, maka dikuatkanlah sisi yang melarang [Lihat Majmu’ fatawa wa Rasail Al-Utsaimin juz.11 hal.215]

 

وبالله التوفيق

 

Sumber: http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/memegang-al-qur-an-terjemahan-ketika-haid.html

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

>> Ketika dia shalat sendirian di dalam kamar tidurnya dan lampu dipadamkan

Di masa jahiliah, kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita biasa thawaf di Kakbah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:

  • Pada hari ini tampak tubuhku, sebagiannya ataupun seluruhnya
  • Maka apa yang tampak darinya, tidaklah daku halalkan

Maka turunlah ayat:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah zinah (hiasan/pakaian) kalian setiap kali menuju masjid.” (al-A’raf: 31) [Shahih, HR. Muslim no. 3028]

Zinah (hiasan) adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memerindah diri. [Mukhtarush Shihah, hlm. 139], seperti pakaian.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dahulu orang-orang jahiliah thawaf di Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka, dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga kedatangan Islam, dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:

بَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah hiasan kalian setiap kali shalat di masjid.” (al-A’raf: 31)

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ

“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Kakbah.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 1622 dan Muslim no. 1347) [Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 18/162—163]

Hadis di atas selain disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah pada nomor di atas, pada Kitab al-Haj, Bab “Tidak Boleh Orang Yang Telanjang Thawaf Di Baitullah dan Tidak Boleh Orang Musyrik Melaksanakan Haji”, disinggung pula oleh beliau dalam Kitab ash-Shalah, Bab “Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam syarahnya (penjelasan) terhadap hadis di atas dalam Kitab ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadis ini terhadap judul bab yang diberikan al-Imam al-Bukhari rahimahullah adalah, apabila dalam thawaf dilarang telanjang, pelarangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Sebab apa yang disyaratkan di dalam shalat, sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” [Fathul Bari, 1/582]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah (hiasan) ketika datang ke masjid,untuk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat hukumnya wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis yang Shahih.” [Fathul Qadir, 2/200]

Ada perbedaan antara batasan aurat yang harus ditutup di dalam shalat, dan aurat yang harus ditutup di hadapan seseorang yang tidak halal untuk melihatnya, sebagaimana ada perbedaan yang jelas antara aurat laki-laki di dalam shalat, dan aurat wanita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, seseorang tidak boleh shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun sendirian di malam hari. Dengan demikian diketahuilah, bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukanlah karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia. Sebab, ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia, dan pakaian yang dikenakan ketika shalat.” [Majmu’ Fatawa, 22/113—114]

Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya. Yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu terkena najis, bau, dan kotor misalnya. Namun perlu diperhatikan pula sisi keindahan dan kebersihannya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana ayat di atas. Jadi, seorang hamba sepantasnya shalat mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan bermunajat dengan Rabb semesta alam, dan berdiri di hadapan-Nya.

Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Ikhtiyarat (hlm. 43), sebagaimana dinukil dalam asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (2/145).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa syarat pakaian yang dikenakan dalam shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

  • Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada di balik pakaian
  • Bersih dari najis
  • Bukan pakaian yang haram untuk dikenakan, seperti sutra bagi laki-laki, atau pakaian yang melampaui/melebihi mata kaki bagi laki-laki (isbal)
  • Pakaian tersebut tidak menimbulkan mudarat/bahaya bagi pemakainya. [Lihat pembahasan dan dalil-dalil masalah ini dalam asy-Syarhul Mumti’, 2/148—151]

Bagian Tubuh yang Harus Ditutup

Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang harus ditutup oleh wanita merdeka (bukan budak) dalam shalatnya.

Al-Imam asy-Syafi’i dan al-Auza’i rahimahumallah berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya.’ [Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Atha rahimahullah].

Lain lagi yang dikatakan oleh Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat, sampai pun kukunya.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah sejalan dengan pendapat ini, beliau berkata: ‘Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan shalat dalam keadaan tidak terlihat sesuatu pun dari anggota tubuhnya, tidak terkecuali kukunya’.” (Ma’alimus Sunan, 2/343)[ Sebagaimana dinukil dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ (1/321)]

Sebenarnya dalam permasalahan ini TIDAK ADA DALIL YANG JELAS yang bisa menjadi pegangan, kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (asy-Syarhul Mumti’, 2/156)

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya), kecuali bagian tubuh yang biasa tampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan, dan telapak kaki. [Majmu’ Fatawa, 22/109—120]

Dengan demikian, ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita, atau di hadapan mahramnya, dibolehkan baginya untuk membuka wajah, dua telapak tangan, dan dua telapak kakinya. [Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/333—334]

Walaupun yang lebih utama ialah ia menutup dua telapak kakinya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Apabila ada laki-laki yang bukan mahramnya, ia menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah. [Bagi yang berpendapat wajibnya menutup wajah. (-red)] (asy-Syarhul Mumti’, 2/157)

Pakaian Wanita Di Dalam Shalat

Di sekitar kita banyak dijumpai wanita shalat mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan, sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat, menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas TIDAK BISA dikatakan menutup aurat.

Bila ada yang berdalih: “Saya mengenakan pakaian shalat yang seperti itu hanya di dalam rumah, sendirian di dalam kamar, dan lampu saya padamkan!”, kita katakan, bahwa pakaian shalat seperti itu (mukena ditambah pakaian minim di baliknya) tidak boleh dikenakan, walaupun ketika shalat sendirian, tanpa ada seorang pun yang melihat. Sebab, pakaian itu tidak cukup untuk menutup aurat. Padahal ketika shalat, wanita tidak boleh terlihat bagian tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. [Lihat ucapan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa sebagaimana dinukilkan di atas]

Terlebih lagi pelarangan, bahkan pengharamannya, ketika pakaian seperti ini dipakai keluar rumah untuk shalat di masjid, atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Jika demikian, bagaimana sebenarnya pakaian yang boleh dikenakan oleh wanita di dalam shalatnya?

Masalah pakaian wanita di dalam shalat ini disebutkan dalam beberapa hadis yang marfu’. Namun, kedudukan hadis-hadis tersebut diperbincangkan oleh ulama.

Di antaranya, hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (baligh), kecuali apabila ia mengenakan kerudung (dalam shalatnya).” [HR. Abu Dawud no. 641 dan selainnya]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam at-Talkhisul Habir (2/460), hadis ini dianggap cacat oleh ad-Daraquthni karena Mauquf-nya (hadis yang berhenti hanya sampai sahabat).

Adapun al-Hakim menganggapnya mursal (hadis yang terputus antara tabi’in dan Rasulullah ﷺ).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung tanpa izar?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ

“(Boleh), apabila dira’nya itu luas/lapang, hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” [HR. Abu Dawud no. 640]

Dira’ adalah pakaian lebar/lapang yang menutupi sampai kedua telapak kaki, kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/164]

Sedangkan izar adalah milhafah (al-Qamushul Muhith, hlm. 309). Makna milhafah sendiri diterangkan dalam al-Qamush (hlm. 767) adalah pakaian yang dikenakan di atas seluruh pakaian (sehingga menutup/menyelubungi seluruh tubuh seperti abaya dan jilbab. [Lihat asy-Syarhul Mumti’, 2/164—165]

Hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini tidak Shahih sanadnya, baik secara marfu’ maupun mauquf, karena hadis ini berporos pada Ummu Muhammad bin Zaid. Padahal dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal). [Demikian diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 161)].

Meski demikian, ada riwayat-riwayat yang Shahih dari para sahabat dalam pemasalahan ini sebagaimana akan kita baca berikut ini:

Abdur Razzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata: “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi ﷺ, shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung.” (al-Mushannaf, 3/128) [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Ubaidullah al-Khaulani, anak asuh Maimunah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, bahwa Maimunah shalat dengan memakai dira’ dan kerudung tanpa izar. [Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf] [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Masih ada atsar lain dalam masalah ini, yang semuanya menunjukkan, bahwa shalat wanita dengan mengenakan dira’ dan kerudung adalah perkara yang biasa, serta dikenal di kalangan para sahabat. Dan ini merupakan pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk menutupi auratnya di dalam shalat.

Apabila wanita itu ingin lebih sempurna dalam berpakaian ketika shalat, ia bisa menambahkan izar atau jilbab pada dira’ dan kerudungnya. Ini yang lebih sempurna dan lebih utama, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Dalilnya ialah riwayat dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wanita shalat dengan mengenakan tiga pakaian yaitu dira‘, kerudung, dan izar.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang Shahih, lihat Tamamul Minnah, hlm. 162]

Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira’ dan kerudung. [Bidayatul Mujtahid, hlm. 100]

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira’ – pakaian yang sama dengan gamis, namun lebar dan panjang sampai menutupi kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira’. Demikian yang diriwayatkan dari ‘Umar, putra beliau (Ibnu ‘Umar), ‘Aisyah, Abidah as-Salmani, dan ‘Atha. Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata: ‘Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira’ dan kerudung, apabila ditambahkan pakaian lain, itu lebih baik dan lebih menutup’.” [Al-Mughni, 1/351]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian: dira’, kerudung, dan jilbab, yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, kain sarung di bawah dira’, atau sirwal (celana panjang yang lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan milhafah.’

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar, dan dira’. Ia memanjangkan izarnya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata: ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian, apabila ia mendapatkannya, yaitu kerudung, izar, dan dira’. [Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/322]

Bolehkah Shalat dengan Satu Pakaian?

Di dalam shalat, wanita dituntunkan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian yang boleh terlihat, walaupun ia hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kepala, dua telapak tangan, dua telapak kaki, dan seluruh tubuhnya kecuali wajah.

Seandainya ia berselimut dengan satu kain sehingga seluruh tubuhnya tertutupi kecuali muka, dua telapak tangan, dan telapak kakinya, maka ini mencukupi baginya, menurut pendapat yang mengatakan, dua telapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk bagian tubuh yang wajib ditutup. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/165]

Ikrimah rahimahullah berkata: “Seandainya seorang wanita shalat dengan menutupi tubuhnya dengan satu pakaian/kain, maka hal itu dibolehkan.” [Shahih al-Bukhari, “Kitab ash-Shalah bab Berapa Pakaian yang Boleh Dikenakan Wanita Ketika Shalat”]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Setelah menghikayatkan pendapat jumhur, bahwa wajib bagi wanita untuk shalat memakai dira’ dan kerudung, Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: ‘Yang diinginkan dengan pendapat tersebut adalah, ketika shalat seorang wanita harus menutupi tubuh dan kepalanya. Seandainya pakaian yang dikenakan itu lapang/lebar, lalu ia menutupi kepalanya dengan sisa/kelebihan pakaiannya, maka hal itu dibolehkan.’

Ibnul Mundzir juga berkata: ‘Apa yang kami riwayatkan dari Atha’ rahimahullah bahwasanya ia berkata: [Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan izar], demikian pula riwayat yang semisalnya dari Ibnu Sirin rahimahullah dengan tambahan milhafah, maka aku menyangka hal ini dibawa pemahamannya kepada istihbab.” [Fathul Bari, 1/602—603]. Yakni satu pakaian yang menutupi seluruh tubuh sebenarnya sudah mencukupi, namun disenangi apabila ditambah dengan pakaian-pakaian yang disebutkan.

Mujahid dan ‘Atha rahimahumallah pernah ditanya tentang wanita yang memasuki waktu shalat, sementara ia tidak memiliki kecuali satu baju, apa yang harus dilakukannya?

Mereka menjawab: “Ia berselimut dengannya.”

Demikian pula yang dikatakan Muhammad bin Sirin rahimahullah. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/226]

Demikian apa yang dapat kami nukilkan dalam permasalahan ini untuk pembaca. Semoga memberi manfaat!

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah

 

 

 

 

 

,

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, pikun, dan sifat kikir (bakhil). Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Nabi ﷺ berlindung dari tujuh perkara, yaitu:

  1. Kelemahan
  2. Kemalasan

Perbedaan antara lemah dan malas adalah, bahwa lemah itu tidak adanya kemampuan, sedangkan malas adalah enggannya jiwa melakukan kebaikan, dan kurang terdorong kepadanya, padahal mampu melakukannya. Kedua hal ini adalah penyakit yang membuat seseorang duduk dan meninggalkan kewajiban, sehingga terbuka baginya pintu-pintu keburukan.

  1. Sifat pengecut
  2. Kebakhilan (kekikiran)

Sifat pengecut terkait dengan jiwa, sedangkan sifat bakhil (pelit) terkait dengan harta. Siapa saja yang kehilangan keberanian untuk melawan hawa nafsu, was-was setan, melawan musuh, menghadapi lawan yang membela yang batil, maka dia adalah pengecut. Dan siapa saja yang tidak mau memberi kaum fakir dengan hartanya, mengeluarkan hartanya untuk para mujahid fii sabilillah, dan mengeluarkan pada jalur-jalur kebaikan, maka dia adalah orang yang bakhil. Dalam banyak ayat, Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan berjihad dengan jiwa dan hartanya. Dan penyakit yang dapat menghalangi seseorang dari berjihad mengorbankan jiwa dan hartanya adalah penyakit pengecut dan bakhil.

Nabi ﷺ berlindung dari sifat pengecut dan bakhil, karena keduanya dapat menghalangi kewajiban, menghalangi dari memenuhi hak-hak Allah ta’ala, menghalangi dari mencegah kemungkaran, bersikap tegas kepada para pelaku maksiat. Di samping itu, dengan seseorang memiliki keberanian dan kekuatan, maka ibadah dapat sempurna, orang yang terzalimi dapat tertolong, jihad dapat dilakukan. Sedangkan dengan selamat dari kebakhilan, maka ia dapat memenuhi hak-hak harta, adanya keinginan untuk berinfak, bersikap dermawan, dan berakhlak mulia serta terhalang dari sifat tamak kepada apa yang tidak dimilikinya.

  1. Pikun

Yang dimaksud pikun adalah dikembalikan kepada usia yang paling buruk. Sebab mengapa beliau ﷺ berlindung darinya adalah, karena ketika sudah pikun terkadang ucapan menjadi ngelantur, akal dan ingatan menjadi kurang, panca indera menjadi lemah, dan lemah dari melakukan ketaatan, serta meremehkan sebagiannya. Cukuplah seseorang berlindung darinya, karena Allah menamai usia tersebut sebagai Ardzalul ‘Umur (Usia paling buruk).

  1. Siksa Kubur

Hadis di atas menunjukkan adanya siksa kubur, di samping adanya nikmat kubur dan fitnah(ujian)nya. Hadis lain yang menunjukkan adanya siksa kubur adalah hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ المَدِينَةِ، أَوْ مَكَّةَ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» . ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ، فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ، فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا» أَوْ: «إِلَى أَنْ يَيْبَسَا»

“Nabi ﷺ pernah melewati salah satu di antara kebun-kebun Madinah atau Mekkah, lalu beliau ﷺ mendengar suara dua orang yang diazab dalam kuburnya, kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Keduanya sedang diazab, dan keduanya tidaklah diazab, menurut keduanya terhadap dosa besar.” Selanjutnya beliau ﷺ bersabda: “Bahkan sesungguhnya itu dosa besar. Adapun salah satunya, maka ia tidak menjaga diri dari kencingnya, sedangkan yang satu lagi berjalan kesana-kemari mengadu domba.” Kemudian beliau ﷺ meminta dibawakan pelepah kurma, lalu beliau ﷺ mematahkan menjadi dua bagian, dan meletakkan belahannya di masing-masing kubur itu, lalu beliau ﷺ ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Mudah-mudahan azab keduanya diberi keringanan selama belahan itu belum kering,” atau bersabda: “Sampai kedua belahan kering.” [HR. Bukhari]

 

  1. Fitnah Hidup dan Mati (Bencana Kehidupan dan Kematian)

Fitnah hidup artinya cobaan dan hujian hidup, baik berupa fitnah syahwat dan fitnah syubhat, d imana kedua cobaan ini banyak yang membuat manusia tergelincir, lalai dari kewajibannya dan terbawa oleh arus fitnah yang menggiringnya kepada kebinasaan. Maka dalam doa ini kita berlindung, agar kita mampu menghadapi cobaan-cobaan itu dengan tetap bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya. Ini adalah cara untuk menghadapi fitnah syahwat. Adapun cara untuk menghadapi fitnah syubhat adalah dengan yakin di atas kebenaran dan teguh, tidak mudah berubah oleh situasi dan kondisi; berbekal ilmu syari.

Sedangkan fitnah mati, maka maksudnya ujian ketika di kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyakan kepada seseorang tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Wallahu a’lam.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Dinukil dari tulisan berjudul: “RASULULLAH BERDOA MOHON PERLINDUNGAN DARI HAL-HAL BERIKUT” yang ditulis oleh: Marwan Hadidi, S.Pd.I

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: https://muslim.or.id/22107-rasulullah-berdoa-mohon-perlindungan-dari-hal-hal-berikut.html

 

 

 

PETUAH NABI: PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

PETUAH NABI: PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraHadis

PETUAH NABI: PERSATUAN ITU RAHMAT, PERPECAHAN ITU AZAB
>> “Perbedaan Umatku Adalah Rahmat”, TIDAK diketahui ada hadis yang lafalnya semacam itu

Petuah berikut yang pernah disampaikan oleh Nabi ﷺ, persatuan itu rahmat. Perpecahan itu azab:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ ».

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi ﷺ pernah menyampaikan petuah di mimbar:

“Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia akan sulit mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak mau berterima kasih pada manusia, berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur, enggan menyebutnya adalah bentuk kufur. Bersatu dalam satu jamaah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.” [HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan, perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667]

Beberapa catatan kaki dari hadis di atas dari Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Al-Imam Ahmad:

  • Siapa yang sulit mensyukuri yang sedikit, maka ia sulit memraktikkan syukur yang hakiki secara keseluruhan.
  • Boleh menyebut-nyebut nikmat yang telah Allah beri, asal bukan dalam rangka menyombongkan diri.
  • Bersepakat dan bersatu ketika terlihat seperti satu jamaah itu lebih baik, daripada berpecah belah.
  • Perkataan yang masyhur di tengah-tengah kita “ikhtilaf (perbedaan) umatku adalah rahmat”, tidak diketahui ada hadis yang lafalnya semacam itu.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth Penerbit Muassasah Ar-Risalah. 30: 390-391.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15341-petuah-nabi-persatuan-itu-rahmat-perpecahan-itu-azab.html