Posts

,

WISUDA LIPIA INSYA ALLAH AKAN DIHADIRI MENTERI AGAMA RI DAN ANGGOTA BADAN ULAMA BESAR ARAB SAUDI

WISUDA LIPIA INSYA ALLAH AKAN DIHADIRI MENTERI AGAMA RI DAN ANGGOTA BADAN ULAMA BESAR ARAB SAUDI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoWisudaLIPIA

WISUDA LIPIA INSYA ALLAH AKAN DIHADIRI MENTERI AGAMA RI DAN ANGGOTA BADAN ULAMA BESAR ARAB SAUDI

#WisudaAngkatanPertama_KJJ_MarkazIndonesia

Di antara sumbangsih besar Arab Saudi untuk kaum Muslimin Indonesia adalah dibukanya cabang Universitas Islam Muhammad bin Su’ud rahimahullah, yang diberi nama Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), di beberapa kota di Indonesia.

Pemerintah Arab Saudi juga memberikan beasiswa kepada seluruh mahasiswa, plus uang saku bulanan dan berbagai santunan lainnya.

Dan alhamdulillaah, akan diadakan wisuda LIPIA dan Angkatan Pertama Ta’lim ‘an Bu’din Universitas Islam Muhammad bin Su’ud rahimahullah Markaz Indonesia.

Insya Allah ta’ala akan diadakan di Hotel Raffles Jakarta pada Kamis, 16 Rajab 1438 / 13 April 2017, dan akan dihadiri oleh Menteri Agama RI Bapak Lukman Hakim Saifudin hafizhahullah dan Asy-Syaikh Prof. DR. Sulaiman Abal Khail hafizhahullah (Rektor Universitas Islam Muhammad bin Su’ud rahimahullah, mantan Menteri Agama Arab Saudi dan Anggota Badan Ulama Besar Arab Saudi).

Selamat kepada para Ikhwan dan Akhwat yang akan diwisuda.

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi manfaat dari ilmu yang sudah dipelajari.

Baarokallaahu fiykum.

 

الحمد لله ثم الشكر والتقدير لفضيلة الشيخ الأستاذ د. أحمد بن صالح السديس حفظه الله وجميع القائمين لبرنامج تعليم عن بعد في السعودية ومركز أندونيسيا جزاهم الله خيرا.

أخوكم في الله

سفيان خالد بن إدهام روراي الأندونيسي

@ImamuElearn

#جامعة_الإمام_في_أندونيسيا

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/777942502355234:0

APAKAH ILMU HADIS BARU LAHIR SEJAK DUA RATUS TAHUN LALU?

APAKAH ILMU HADIS BARU LAHIR SEJAK DUA RATUS TAHUN LALU?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#IlmuHadis

APAKAH ILMU HADIS BARU LAHIR SEJAK DUA RATUS TAHUN LALU?

Ilmu hadis bukanlah baru lahir sejak dua ratus tahun yang lalu. Akan tetapi ilmu itu sudah dimulai sejak generasi pertama di zaman Nabi ﷺ, dan telah mencakup satu bagian besar dari hadis. Apa yang ditemukan oleh orang yang meneliti kitab-kitab yang disusun tentang para perawi hadis dan teks-teks sejarah yang memberitakan biografi mereka, maka kitab-kitab mereka itu akan menetapkan ilmu hadis itu dengan rupa yang sangat luas. Di mana hal ini menunjukkan akan menyebarnya pengodifikasian hadis, dan banyaknya dalam masa itu.

Di saat kita meneliti secara ilmiah lagi benar, kita akan menemukan, bahwa permulaan penulisan hadis telah dilakukan di awal abad kedua, yaitu antara tahun 120 – 130 H, dengan bukti nyata yang menjelaskan kepada kita. Terdapat sejumlah kitab yang penulisnya telah wafat di tengah abad kedua. Seperti Jami’ Ma’mar bin Rasyid (W. 145 H), Jami’ Sufyan ats-Tsauri (W. 161 H), Hisyam bin Hisan (W. 148 H), Ibnu Juraij (W. 150 H), dan banyak lagi selain mereka.

Para ulama hadis telah meletakkan syarat-syarat demi menerima hadis, yang syarat itu mampu menjamin penukilannya melalui berbagai generasi dengan amanah dan kepastian. Hingga menjadikan hadis tersebut tersampaikan seperti halnya didengar langsung dari Rasulullah ﷺ. Terdapat syarat-syarat yang mereka tetapkan dalam perawi (orang yang menyampaikan hadis), yang mencakup di dalamnya puncak kejujuran, keadilan, dan amanah, disertai dengan penguasaan sempurna bagi perilaku, dan pengembanan tanggung jawab.

Sebagaimana syarat itu mencakup kekuatan hapalan, mengikat dengan dadanya (hapalan), atau dengan tulisannya, atau dengan keduanya secara bersamaan, yang memungkinkan baginya untuk menghadirkan hadis tersebut, serta menunaikannya, sebagaimana dia mendengarnya. Syarat-syarat yang disyaratkan oleh Ahli Hadis untuk hadis yang Shahih dan Hasan itu pun menjadi jelas. Yaitu syarat-syarat yang mencakup terpercayanya perawi hadis, kemudian selamatnya penukilan hadis di antara mata rantai sanad, bersihnya hadis itu dari segala cacad yang tampak maupun yang tersembunyi, serta ketelitian para Ahli Hadis dalam memraktekkan syarat-syarat tersebut, serta kaidah dalam menghukumi hadis dengan Dhai’f, hanya karena tidak ada bukti akan keshahihannya, tanpa harus menunggu datangnya dalil yang berseberangan dengannya.

Para ulama Ahli Hadis tidak mencukupkan diri dengan ini. Bahkan mereka meletakkan syarat-syarat dalam periwayatan yang tertulis. Para ulama Ahli Hadis telah memberikan syarat periwayatan yang tertulis dengan syarat-syarat hadis Shahih. Oleh karena itulah kita menemukan di atas manuskrip, hadis rangkaian sanad (transmisi periwayatan) kitab, dari satu perawi ke perawi yang lain, hingga sampai kepada penulisnya. Kemudian, di atasnya kita menemukan penetapan pendengaran, serta tulisan penulis atau Syaikh yang didengar, yang meriwayatkan satu naskah dari naskah penulis atau dari cabangnya. Maka jadilah metode para Ahli Hadis lebih kuat, lebih hikmah, dan lebih agung, dari segala metode dalam menilai periwayatan, dan sanad yang tertulis.

Para sahabat Nabi ﷺ telah meneliti dan mencari-cari sanad sejak zaman pertama, saat terjadi fitnah pembunuhan terhadap Khalifah ar-Rasyid Utsman radhiallahu ‘anhu tahun 35 H, yang kemudian kaum Muslimin membuat satu contoh istimewa di dunia tentang sanad. Di mana mereka melakukan perjalanan ke berbagai negeri demi mencari hadis, menguji para perawi hadis, hingga perjalanan mencari hadis menjadi syarat pokok penentuan hadis.

Para ulama Ahli Hadis tidak lalai dari apa yang dibuat-buat oleh para pemalsu hadis dari golongan Ahlu Bid’ah, dan mazdhab-mazdhab politik. Bahkan mereka bersegera untuk memeranginya, dengan mengikuti sarana-sarana ilmiah demi membentengi Sunnah. Maka mereka pun meletakkan kaidah-kaidah, serta aturan-aturan bagi para perawi Ahli Bid’ah, serta penjelasan sebab-sebab pemalsuan hadis, dan tanda-tanda hadis-hadis palsu.

Ilmu hadis, dengan berbagai syarat yang ada di dalamnya, tidak pernah ditemukan pada umat mana pun selain umat Islam, satu-satunya umat yang menjaga agamanya. Maka bandingkanlah cara penuh hikmah yang ada pada kaum Muslimin dengan kitab-kitab Nasrani yang merupakan dongeng-dongeng, yang para peneliti menemukan berbagai kesalahan, kontradiksi dan berbagai pengubahan.

Kemudian lihatlah kepada ilmu sanad pada kaum Muslimin, yang dengannya mereka menyendiri dari segenap umat manusia, karena mereka telah menjamin keselamatan rangkaian periwayatan hadis hingga sampai kepada Nabi ﷺ dari segala cacat, dengan ilmu isnad yang tidak ada di umat mana pun. Ilmu ini tidak ada pada orang-orang Nasrani. Maka tidak heran jika kita menemukan dalam kitab-kitab mereka, ‘Yesus berkata’, ‘Paulus berkata’ tanpa ada sanad (jalur periwayatannya), dan tidak ada seorang pun yang tahu, bagaimana hal itu bisa sampai.

 

Penulis: Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi dari situs Majalah Qiblati

Sumber: https://alhilyahblog.wordpress.com/2012/01/23/jawaban-tuduhan-tuduhan-buruk-kaum-nasrani-dan-orang-orang-kafir-terhadap-islam-bag-1/

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

Dikatakan oleh mereka yang menuhankan Yesus:

  • Nabi Isa mengetahui kapan Hari Kiamat, bisa menciptakan burung, menghidupkan orang mati.
  • Dalam suatu hadis, Nabi Muhammad ﷺ berkata, bahwa nyawanya berada di tangan Yesus Kristus.
  • Apakah Allah pernah bicara dan memberikan wahyu langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ?

Syubhat:

Hanya pada Allah pengetahuan Hari Kiamat [Surat Luqman ayat 43]  > Isa mengetahui Hari Kiamat [Surat Az- Zukhruf  ayat 61] > Siapakah Isa?? Muhammad saja tidak tahu kapan Hari Kiamat.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda mengutip [Surat Az- Zukhruf ayat 61] untuk dijadikan dalil Isa alaihi salam sebagai Tuhan?? Tidakkah Anda baca secara utuh, sejak ayat sebelumnya yaitu [Surat Az- Zukhruf  ayat 59]:

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba, yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian), dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel.”

Begitu jelas pada ayat tersebut, Allah menyebut Isa alaihi salam sebagai hamba-Nya dan nabi-Nya.

Di antara akidah keyakinan Islam adalah DIANGKATNYA Isa alaihi salam ke langit, dan dia akan TURUN ke bumi pada akhir zaman, menjelang Hari Kiamat. Dia akan menjadi imam dan hakim yang adil, serta MEMBUNUH BABI dan MENGHANCURKAN SALIB.

Mujahid yang hidup di generasi sesudah sahabat Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan [Surat Az- Zukhruf  ayat 61]:

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang Hari Kiamat.” Bahwa TANDA Kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum terjadinya Kiamat,yakni turunnya Isa alaihi salam ke bumi, merupakan PERTANDA telah dekatnya Hari Kiamat.

Sebagai tambahan, bahwa seluruh nabi dan rasul sudah memeringatkan umatnya akan datangnya Hari Kiamat. Bahkan Rasulullah Muhammad ﷺ telah menyebutkan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat, dan apa saja yang akan terjadi pada saat itu. Namun tidak seorang nabi pun yang tahu, kapan hari terjadinya Kiamat, TIDAK JUGA Nabi Isa alaihi salam.

Syubhat:

> Isa bisa menciptakan burung [Surat Ali Imran ayat 49]

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Lagi-lagi Anda gegabah dalam membaca ayat. Baiklah saya tampilkan [Surat Ali Imran ayat 49] tersebut:

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung DENGAN SEIZIN ALLAH. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya, dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah…”

Perhatikan bahwa semua itu ATAS SEIZIN ALLAH.

Setiap Rasul diberi oleh Allah mukjizat, sebagai tanda dan bukti kebenaran bagi umatnya, atas apa yang mereka bawa dari Allah. Di antara mukjizat para Rasul adalah membelah laut dan tongkat menjadi ular seperti Nabi Musa, membelah bulan dan keluar air dari jari jemari seperti Nabi Muhammad ﷺ, tidak terbakar saat dibakar kaumnya, seperti Nabi Ibrahim, dan menghidupkan orang mati dengan seizin Allah seperti Nabi Isa alaihimus salam.

Tidakkah Anda tahu, bahwa Nabi Isa bukan satu-satunya yang Allah izinkan menghidupkan orang mati? Pada [Surat al-Baqarah ayat 267-273] diceritakan kisah menghidupkan orang mati pada kaumnya Nabi Musa, yaitu pada kisah sapi betina. Juga Dajjal bisa menghidupkan orang mati untuk menipu orang-orang yang lemah imannya, agar mengakui dia sebagai Tuhan. Mengapa Anda tidak menuhankan Dajjal??

Syubhat:

Hadis Mutiara III No. 425 berbunyi “Muhammad bersabda: Nyawaku di tangan Dia anak putra Maryam. > Muhammad yang di agung-agungkan saja menyerahkan nyawanya ke tangan ISA-Yesus Kristus.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda ini mengarang hadis palsu?? Bisa sebutkan teks aslinya dan terdapat di kitab hadis mana? Atau barangkali Anda membeo kata pendeta-pendeta Anda, tanpa recek kebenarannya? Hmm … Barangkali tidak mengherankan, semacam ini sudah disinyalir dalam Alquran: “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kalian menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia dari sisi Allah,” padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedangkan mereka mengetahui.” [Surat Ali Imran ayat 78].

Al-Kitab saja berani mereka ubah-ubah, apalagi hadis Nabi …

Syubhat:

> Boleh dibuka Alquran, dan cari, apakah ada pernah Allah berbicara dan memberikan wahyu langsung kepada Muhammad ﷺ??? Jawabannya tidak ada, boleh dicek. Yang ada semua itu dari malaikat Jjibril… Pertanyaannya, siapa itu malaikat Jibril????

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Apa yang musti dipermasalahkan dengan ini? Rasulullah Muhammad ﷺ memang Nabi dan Rasul-Nya. Berkaitan dengan berbicara langsung, pernahkah Anda mendengar peristiwa Isra Mi’raj? Yaitu ketika Rasulullah ﷺ diangkat ke langit untuk menghadap Allah dan Allah berbicara langsung mengenai perintah melaksanakan shalat lima waktu? Namun kami kaum Muslimin tidak lantas mengagungkan Rasulullah ﷺ secara berlebihan, melebihi kedudukan beliau sebagai hamba dan rasul-Ny,a seperti halnya kaum Nasrani sekarang yang menuhankan Isa alaihi salam. Allah juga berkata secara langsung kepada Nabi Musa. Apakah karena alasan ini Anda juga akan menuhankan Musa??

Siapakah malaikat Jibril?

Dia adalah Ruhul Qudus. “Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Alquran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [QS 16: 102]

Dia adalah Ruhul Amin (Yang terpercaya karena membawa tugas menyampaikan wahyu Allah kepada para rasul-Nya. Dia tidak akan khianat akan tugasnya). “ Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril)” [QS 26: 193]

Dia yang diutus kepada Maryam. “Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” [QS 19: 19] “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia, (yang semasa dengan kamu).” [QS 3: 42]

Dia yang diutus kepada Nabi Zakaria. “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di Mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” [QS 3: 39]

Apakah Anda benci kepada malaikat Jibril seperti kaum Yahudi dahulu? Ini diberitakan Alquran [Surat Al Baqarah ayat 97]:  “Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Syubhat:

> Isa berasal dari Kalimatulah Allah… Kalimatulah artinya Firman = mulut Allah… Adakah di Alquran Allah berkata Muhammad bersal dari Kalimatulah Allah??? Jawabannya NO.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda ini asal komen. Sudah Anda baca artikel di atas?

Syubhat-syubhat dari orang-orang seperti Anda banyak menggunakan ayat Alquran sepotong-sepotong atau menggunakan ayat-ayat mutasyabihat yang kurang tegas maknanya, lalu ditafsiri sesuka hati. Semacam ini sudah Allah peringatkan dalam Ali Imran ayat 7: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Alquran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang Muhkamaat itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang Mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya), melainkan orang-orang yang berakal.”

Mengapa Anda tidak mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang begitu jelas dan tegas seperti [QS 4: 171]: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari memunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.”

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS 5: 72]

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://alhilyahblog.wordpress.com/2012/04/20/ayat-al-quran-menjadi-dalil-bagi-ketuhanan-nabi-isa-alaihis-salam/

 

,

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah. Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap Muslim. [HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]

Dan agama adalah apa yang telah difirmankan oleh Allah di dalam kitab-Nya, Alquranul Karim, dan disabdakan oleh Rasul-Nya ﷺ di dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah, termasuk kesalahan yang sangat berbahaya adalah berbicara masalah agama TANPA ilmu dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Sebagai nasihat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:

  1. Hal Itu Merupakan Perkara Tertinggi yang Diharamkan oleh Allah

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” [Al-A’raf:33]

 

Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rahimahullah berkata:

“Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah. Bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Allah mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Dan berbicara tentang Allah tanpa ilmu meliputi: Berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukum-Nya, syariat-Nya, dan agama-Nya. Termasuk berbicara tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syariat-Nya, dan agama-Nya.” [Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Termasuk Dusta Atas (Nama) Allah

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. [QS. An-Nahl [16): 116]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Kesesatan dan Menyesatkan Orang Lain

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya sekaligus. Tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. [HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya]

Hadis ini menunjukkan, bahwa “Barang siapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya, sehingga mengharamkan apa yang Allah halalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya, sehingga dia sesat dan menyesatkan. [Shahih Jami’il Ilmi Wa Fadhlihi, hal: 415, karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, diringkas oleh Syeikh Abul Asybal Az-Zuhairi]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Sikap Mengikuti Hawa-Nafsu

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Barang siapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun [Al-Qashshash:50]” [Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Sikap Mendahului Allah dan Rasul-Nya ﷺ

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Hujuraat: 1]

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini memuat adab terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepadanya. Allah telah memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, dengan konsekwensi keimanan terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, yaitu: Menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Allah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ di dalam seluruh perkara mereka. Dan agar mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Allah berkata. Dan janganlah mereka memerintah, sampai Allah memerintah”. [Taisir Karimir Rahman, surat Al-Hujurat:1]

  1. Orang Yang Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Menanggung Dosa-Dosa Orang-Orang yang Dia Sesatkan

Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu adalah orang sesat dan mengajak kepada kesesatan. Oleh karena itu, dia menanggung dosa-dosa orang-orang yang telah dia sesatkan. Rasulullah ﷺ:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala, sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa, sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun. [HSR. Muslim no:2674, dari Abu Hurairah]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Akan Dimintai Tanggung-Jawab

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. [QS. Al-Isra’:36]

Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: Bahwa Allah Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” [Tafsir Alquranul Azhim, surat Al-Isra’:36]

  1. Orang yang Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Termasuk Tidak Berhukum dengan Apa Yang Allah Turunkan

Syeikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami menyatakan: “Fashal: Tentang Haramnya Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu, Dan Haramnya Berfatwa Tentang Agama Allah Dengan Apa Yang Menyelisihi Nash-nash”. Kemudian beliau membawakan sejumlah ayat Alquran, di antaranya adalah firman Allah di bawah ini:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [QS. 5:44]

9. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Menyelisihi Jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menyatakan di dalam aqidah Thahawiyahnya yang masyhur: “Dan kami berkata: “Wallahu A’lam (Allah Yang Mengetahui)”, terhadap perkara-perkara yang ilmunya samar bagi kami”. [Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

  1. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Merupakan Perintah Setan

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. [QS. 2:169]

Keterangan ini kami akhiri dengan nasihat: Barang siapa yang ingin bebicara masalah agama, hendaklah dia belajar lebih dahulu. Kemudian hendaklah dia hanya berbicara berdasarkan ilmu.

WAllahu a’lam bish showwab. Al-hamdulillah Rabbil ‘alamin.

 

Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

[Artikel www.Muslim.or.id]

Sumber: https://Muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html

 

, ,

SIAPAKAH ULAMA PEWARIS NABI?

SIAPAKAH ULAMA PEWARIS NABI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari
#DakwahSunnah

SIAPAKAH ULAMA PEWARIS NABI?

Sejatinya ulama adalah penerus estafet perjuangan nabi. Ia adalah pemangku tugas nabi. Semua tugas nabi, ia yang mewarisinya. “Para nabi tidak mewariskan Dinar maupun dirham. Yang mereka wariskan adalah ilmu. Siapa yang mengambil warisan itu, berarti ia mengambil bagian yang banyak.” Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَكِنْ وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya (warisan para nabi), berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Jika ulama adalah pewaris nabi, berarti dialah yang bertugas membimbing dan membina umat sepeninggal nabi. Jika ulama adalah penerus estafet perjuangan nabi, maka dialah yang berkewajiban menuntun umat menuju kehidupan yang bahagia sebagaimana dicontohkan nabi. Dan jika ulama adalah pemangku tugas nabi, maka dialah yang berhak mengentaskan dan menyelamatkan umat dari kegelapan, kehancuran, kebodohan, dan kenistaan, seperti yang dituntunkan nabi. Jika memang demikian, sungguh berat amanah yang ada di pundaknya, dan sungguh sangat mulia pekerjaan itu. “Ulama adalah pewaris nabi“. Sungguh, hanya orang pilihanlah yang mampu mengambil warisan nabi itu.

Jika kebahagiaan hidup umat manusia itu, baik dunia maupun Akhirat, tergantung pada petunjuk nabi, maka sepeninggal Nabi pun, kebahagian umat manusia juga tergantung pada petunjuk ulama yang menapaktilasi tuntunan nabi.

Lalu, Siapakah Ulama Itu?

Ibnu Jarir ath-Thabari mengungkapkan dalam kitab tafsirnya Jami’ul Bayan, bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah seorang yang Allah jadikan sebagai pemimpin atas umat manusia dalam perkara fikih, ilmu, agama, dan dunia.

Sementara itu, Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in-nya membatasi, bahwa ulama adalah orang yang pakar dalam hukum Islam, yang berhak berfatwa di tengah-tengah manusia, yang menyibukkan diri dengan memelajari hukum-hukum Islam kemudian menyimpulkannya, dan yang merumuskan kaidah-kaidah halal dan haram.

Ulama adalah seorang pemimpin agama yang dikenal masyarakat luas akan kesungguhan dan kesabarannya dalam menegakkan kebenaran, sebagaimana firman Allah:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 24).

Ia adalah seorang yang menekuni dan mendalami agama, kemudian mendakwahkannya kepada umat. Allah Azza wajalla menegaskan:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi Mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tiap-tiap golongan tidak mengutus beberapa orang untuk memerdalam agama, lalu memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali, supaya mereka itu dapat menjaga diri.” (Q.S. At-Taubah [9]: 122).

Ia seorang penunjuk jalan bagi umat manusia pada setiap zaman. Ia seperti yang disabdakan Nabi ﷺ:

“Akan selalu ada di umatku ini, sekelompok orang yang menegakkan perintah Allah. Tidaklah memberinya madharat, siapa saja yang melecehkannya atau menyelisihinya, sampai datang ketetapan dari Allah, sedangkan ia dalam keadaan dimenangkan atas yang lain” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Siapakah gerangan kelompok yang dimenangkan itu? Mereka, ungkap Nawawi dalam Syarh Shahih Muslimnya, sekelompok orang Mukmin yang terdiri dari para pejuang yang gagah berani, para ahli hadis, para ahli ibadah, para penegak amar makruf dan nahi munkar, dan yang lainnya. Bukanlah sebuah keharusan, tegasnya lebih lanjut, mereka ini berkumpul di bawah satu bendera. Sebab, bisa saja mereka ini menyebar di berbagai belahan bumi. Tetapi yang jelas, siapa pun kelompok itu, para ulamalah yang menjadi pemuka dan pemimpinnya, tanpa ada yang memerselisihkannya.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Mengenal Ulama Lebih Dekat” yang ditulis oleh: Abu Hasan Abdillah, BA., MA.

Sumber: http://muslim.or.id/24516-mengenal-ulama-lebih-dekat-1.html

, ,

PERINTAH MENIMBA ILMU DARI AHLI ILMU, BUKAN DARI PIHAK LAIN

PERINTAH MENIMBA ILMU DARI AHLI ILMU, BUKAN DARI PIHAK LAIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MenuntutIlmuSyari
#DakwahSunnah

PERINTAH MENIMBA ILMU DARI AHLI ILMU, BUKAN DARI PIHAK LAIN

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya dalam firman-Nya:

“Maka bertanyalah kepada Ahlul Dzikr, jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Rasulullah ﷺ bersabda (yang artinya):

“Terjadi pada generasi sebelum kalian, ada seorang yang telah membunuh 99 jiwa. Dia bertanya-tanya tentang seorang yang paling berilmu di penduduk bumi. Ditunjukkanlah dia kepada seorang ahli ibadah.

Dia lantas menemuinya dan berkata: ‘Sesungguhnya aku telah membunuh 99 jiwa. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertaubat?’

Ahli ibadah itu menjawab, ‘Tidak.’

Akhirnya, orang itu membunuhnya, sehingga genap 100 jiwa yang telah dibunuhnya. Kemudian dia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu. Ditunjukkanlah dia kepada seorang alim.

Dia berkata: ‘Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Dia (si alim) berkata: ‘Ya, siapa yang menghalangi antara dirimu dan tobat? Pergilah engkau ke sebuah negeri yang cirinya demikian dan demikian, karena masyarakat negeri itu beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Beribadahlah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Perhatikanlah kisah yang mulia ini. Kisah tentang akibat dari SALAH MENGAMBIL RUJUKAN ILMU. Ujungnya menjadikan dia sesat (putus asa dari rahmat-Nya) dan zalim (membunuh). Sebaliknya, orang yang menuntut ilmu dari ahlinya, maka dirinya akan selamat. Orang lain juga selamat dari kejelekan dan kejahatannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

“Hadis ini mengandung penjelasan, bahwa seorang Muslim hanya akan bertanya kepada seorang alim yang terpercaya di dalam agama dan keilmuannya, lantas mengambil ilmu darinya. Seorang Muslim TIDAK akan bertanya kepada sembarang orang.” (Fathul Bari, 6/517)

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Di dalamnya ada penjelasan, bahwa kembali kepada para ulama adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Seorang murid membutuhkan ustadz dari sisi ilmu dan dari sisi amal. Oleh karena itulah, wajib bagi dia untuk betul-betul bersemangat memilih ustadz-ustadz (yang akan dia ambil ilmunya). Hendaknya dia memilih ustadz yang sudah dikenal keilmuannya, dikenal amanah dan agamanya, serta dikenal keselamatan manhaj dan pengarahannya yang benar. Dengan demikian, dia bisa menimba ilmu dari mereka, sekaligus belajar dari manhajnya.” (Washaya wa Taujih li Thullabil Ilmi, hlm. 100)

 

Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Siapakah yang Berhak Diambil Ilmunya?” oleh:  Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan hafizahullah dari website: http://asysyariah.com/siapakah-yang-berhak-diambil-ilmunya/

,

TANDA-TANDA KEBAIKAN PADA SEORANG HAMBA

TANDA-TANDA KEBAIKAN PADA SEORANG HAMBA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#NasihatUlama
TANDA-TANDA KEBAIKAN PADA SEORANG HAMBA
 
Bismillaah… Alloohumma sholli wasalliim ‘alaa nabiyyinaa Muhaammadin
 
Berkata Muhammad Al Qurozhy – رحمه الله- :
 
“Jikalau ALLAH menginginkan kebaikan untuk hambanya, niscaya ALLAH akan memberikan kepadanya tiga perkara:
 
1⃣ Pemahaman terhadap agama.
 
2⃣ Sikap zuhud terhadap dunia.
 
3⃣ Pengetahuan terhadap aib-aibnya.
 
[HILYATUL AULIYA’:3/213]
 
« إذَا أرَادَ اللَّهُ تَعَالَى بِعَبدٍ خَيرًا جَعَلَ فيهِ ثَلاثَ خِلالٍ =
 
فِقهٌ فِي الدِّينِ ،
 
وزَهَادَةٌ فِي الدُّنيَا ،
 
وبَصَرٌ بِعُيُوبِهِ ».
 
مُحَمَّدُ القُرَظِيِّ – رَحِمَهُ اللَّهِ -.
 
[ حِليَةُ الأوليَـاءِ || ٣ / ٢١٣ ]
 
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈
 
Wal hamdulillaahi robbil ‘aalaamiin
, ,

BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG MENANGIS KETIKA BERDOA, NAMUN TIDAK MENANGIS KETIKA MENDENGAR ALQURAN?

BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG MENANGIS KETIKA BERDOA, NAMUN TIDAK MENANGIS KETIKA MENDENGAR ALQURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG MENANGIS KETIKA BERDOA, NAMUN TIDAK MENANGIS KETIKA MENDENGAR ALQURAN?

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah menjawab:

ينبغي له أن يعالج نفسه ويخشع في قراءته أعظم مما يخشع في دعائه

“Sepatutnya ia mengobati jiwanya (yang berarti sedang sakit), dan hendaklah ia lebih khusyu’ ketika membaca Alquran daripada ketika berdoa.” [Majmu’ Al-Fatawa, 11/346]

 

Maka bagaimana pendapatmu dengan orang yang tersentuh hatinya, bergetar jiwanya, bahkan menetes air matanya, ketika mendengarkan nyanyian dan lagu-lagu ‘Islami’, namun ketika mendengar dan membaca Alquran dan As-Sunnah biasa-biasa saja reaksinya…?!

Ketahuilah, dia adalah orang yang TERTIPU oleh setan. Dan tidak mungkin selamanya orang yang tidak bisa mengambil nasihat dari Alquran dan As-Sunnah, akan mendapatkan nasihat dari nyanyian dan musik.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِين

“Dan di antara manusia (ada) orang yang memergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memeroleh azab yang menghinakan.” [Luqman: 6]

Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu ketika menjelaskan makna, “Perkataan yang tidak berguna” beliau berkata:

الغناء، والله الذي لا إله إلا هو، يرددها ثلاث مرات

“Maksudnya adalah nyanyian. Demi Allah yang tidak ada yang berhak disembah selain Dia,” beliau mengulangi sumpahnya tiga kali.” [Tafsir Ath-Thobari, 21/39, sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir, 6/330]

Rasulullah ﷺ bersabda tentang alat-alat musik:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Akan ada nanti segolongan umatku yang menghalalkan zina, sutera (bagi laki-laki diharamkan, pen), khamar dan alat-alat musik.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Malik Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Maka tidak ada dalam Islam yang namanya nyanyian Islami atau lagu-lagu Islam, seperti yang mereka namakan dengan qasidah, nasyid dan lain-lain. Karena nyanyian, lagu dan musik DIHARAMKAN dalam Alquran dan As-Sunnah. Bahkan ulama empat mazhab sepakat atas keharamannya. Maka orang yang menikmatinya, memiliki penyakit hawa nafsu dalam hatinya, entah dia sadar atau tidak.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1897530477146421:0

,

BENARKAH UMUR UMAT ISLAM BISA DIPREDIKSI?

BENARKAH UMUR UMAT ISLAM BISA DIPREDIKSI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

BENARKAH UMUR UMAT ISLAM BISA DIPREDIKSI?

DUSTA itu. Besok masih hidup atau mati saja kita tidak tahu. Hari Kiamat itu perkara GAIB. Tidak ada makhluk-Nya yang tahu.

Pertanyaan:

Saya mendengarkan video kajian yang disampaikan oleh Al-Ustadz Z******* M A** yang berjudul “Umur Umat Islam Di Dunia”. Beliau menceritakan, bahwa umur umat Islam di dunia tidak sampai 1500 Hijriyah, berdasarkan hadis Mutawatir (tapi tidak menyebutkan atsarnya). Apakah memang benar hadis tersebut shohih?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama: Prinsip penting yang perlu kita kedepankan terkait Kiamat, bahwa Kiamat pasti terjadi, meskipun tidak ada satu pun yang tahu kapan itu terjadi, selain Allah Ta’ala.

Prinsip ini berulang kali Allah tegaskan dalam Alquran dalam bentuk jawaban kepada orang yang suka bertanya tentang kapan Kiamat. Di antaranya firman Allah:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat: “Kapankah itu terjadi?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu hanya di sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu, melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu, seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. al-A’raf: 187).

Di ayat lain, Allah juga berfirman:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّـهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi Hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. al-Ahzab: 63).

Kemudian, Allah juga berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا . فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا . إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Hari Kebangkitan, kapankah terjadinya? Siapakah kamu sehingga dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan ketentuan waktunya. (QS. an-Nazi’at: 42 – 44)

Dan kita bisa perhatikan, semua jawaban yang Allah berikan di atas, lebih dekat pada konteks celaan. Karena orang yang bertanya tentang itu, terkesan tidak percaya akan adanya Kiamat. Andai berusaha mencari tahu waktu Kiamat adalah tindakan yang mulia dan bermanfaat, tentu Allah Ta’ala akan memuji perbuatan mereka. Namun yang ada justru sebaliknya, Allah sebutkan ayat di atas, dalam konteks menjelaskan sifat orang kafir yang mencoba untuk membantah kebenaran Kiamat. Sehingga, tentu saja sikap semacam ini BUKAN sikap terpuji, karena termasuk ciri khas orang kafir.

Imam As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas:

“Semata menggali kapan Kiamat, sudah dekat atau masih jauh, tidak memiliki manfaat sama sekali. Yang lebih penting adalah kondisi manusia di Hari Kiamat, rugi, untung, celaka, ataukah bahagia. Bagaimana seorang hamba mendapatkan azab ataukah sebaliknya, mendapatkan pahala..” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, 672).

Kemudian dalam hadis dari Umar tentang kedatangan Jibril, dinyatakan, bahwa Jibril bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kapan Kiamat. Jawaban Nabi ﷺ:

مَا المَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya.” (HR. Bukhari 4777 dan Muslim 106).

Kita bisa perhatikan, dua makhluk terbaik, malaikat terbaik (Jibril) dan manusia terbaik (Nabi Muhammad ﷺ), tidak diberi tahu oleh Allah kapan terjadinya Kiamat. Mungkinkah ada manusia yang jauh lebih rendah kedudukannya mengetahui kapan Kiamat?

Ada Ulama Yang Menghitung Usia Kaum Muslimin

Meskipun kita akui, ada beberapa ulama yang berusaha memrediksi terjadinya Kiamat. Di antaranya adalah Imam Ibnu Jarir At-Thabari (wafat 310 H) rahimahullah. Beliau menggali berbagai dalil, sekalipun dhaif, dan menyimpulkan bahwa kehancuran dunia setelah 500 tahun setelah kenabian. (Mukadimah Ibnu Khaldun, hlm. 449).

Saat ini telah melewati 1400 pasca-kenabian, dan tidak benar apa yang beliau prediksikan.

Menyusul selanjutnya adalah Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) rahimahullah. Beliau menulis satu kumpulan riwayat yang berjudul “Al-Kasyaf”, yang menyimpulkan bahwa Kiamat akan terjadi di awal abad 15 H. (Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyah, 2/66. Dinukil dari Al-Qiyamah Al-Kubro, Dr. Umar Al-Asyqar, hlm. 122).

Mengingat ini hanya prediksi tanpa dasar yang jelas, dan murni ijtihad, terlebih itu BERTENTANGAN dengan prinsip yang diajarkan dalam syariat, maka tidak selayaknya kita jadikan sebagai acuan.

Persiapkan Bekal Untuk Akhirat, Itu Yang Penting!

Mencoba menggali waktu Kiamat, sama sekali tidak memiliki urgensi bagi kehidupan manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang berusaha menyiapkan amal baik, yang bisa menjadi bekal di Hari Kiamat.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa ada orang Arab Badui yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kapan Kiamat. Di situ, Nabi ﷺ justru balik bertanya:

وَيْلَكَ، وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا

Celaka kamu, apa yang kamu persiapkan untuk Kiamat? (HR. Bukhari, Muslim, At-Turmudzi dan yang lainnya).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24099-umur-umat-Islam.html

 

 

SEMUA PERKATAAN DAN PERBUATAN AKAN DICATAT DAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN

Semua perkataan dan perbuatan akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SEMUA PERKATAAN DAN PERBUATAN AKAN DICATAT DAN DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN

Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti akan dicatat dan tidak akan dilupakan! Allah Taala berfirman:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir [Qaf: 17-18]

Ingatlah bahwa seluruh perkataan dan perbuatan pasti dimintai pertanggungjawaban! Allah Taala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. [Al-Israa: 36]

Wallahu ta’ala a’lam.