Posts

, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
 
Ingatlah, pendakwah hanya menyampaikan, sedangkan pemberi hidayah adalah Allah.
 
Mari kita ambil pelajaran dari bahasan surat Yasin berikut, yang rata-rata sudah dihafalkan oleh kaum muslimin di negeri kita.
 
Tafsir Surah Yasin Ayat 13-17
 
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)
 
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.”
Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”
Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui, bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.”
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” [QS. Yasin: 13-17]
 
Penjelasan Ayat
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan permisalan suatu negeri yang diutus dua orang utusan (rasul). Mereka berdakwah untuk mengajak manusia supaya bisa beribadah pada Allah semata, dan mengikhlaskan ibadah pada-Nya. Mereka pun berdakwah untuk melarang dari kesyirikan dan maksiat.
 
Ada dua orang yang telah diutus, lalu diutus lagi rasul yang ketiga, jadilah ada tiga utusan. Tetap saja dakwah ditolak. Malah kaum yang didakwahi berkata: “Kami juga manusia semisal kalian.” Maksud mereka, apa yang membuat para rasul lebih unggul daripada mereka, padahal sama-sama rasul juga manusia. Namun para Rasul mengatakan pada umatnya:
 
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
 
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” [QS. Ibrahim: 11]
 
Kaum tersebut intinya masih mengingkari wahyu yang diturunkan, dan mereka pun mendustakan para rasul yang diutus. Namun rasul ketiga mengatakan: “Rabb kami Maha Tahu, kalau kami adalah utusan untuk kalian.” Maksudnya, kalau para rasul itu berdusta, tentu mereka akan mendapatkan siksa.
 
Tugas setiap utusan (rasul) hanyalah memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya sesuai yang diperintahkan. Sedangkan untuk memberikan hukuman bukanlah tugas para rasul. Jika yang dijelaskan itu diterima, maka itu adalah taufik dari Allah. Jika tidak diterima dan yang didakwahi tetap dalam keadaan belum mendapat hidayah, maka rasul utusan tidak bisa bertindak apa-apa.” [Tafsir As-Sa’di, hlm. 734-735]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
يقولون إنما علينا أن نبلغكم ما أرسلنا به إليكم، فإذا أطعتم كانت لكم السعادة في الدنيا والآخرة، وإن لم تجيبوا فستعلمون غِبَّ ذلك ،والله أعلم.
 
“Utusan itu berkata: Sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan Akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” [Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 333]
 
Pelajaran lain yang bisa diambil dari ayat di atas:
 
1. Baiknya memberikan perumpamaan ketika memberikan penjelasan. Dalam ayat yang dibahas dijelaskan, bahwa kalau Nabi Muhammad ﷺ ditolak dakwahnya. Mmaka itu juga terjadi untuk rasul atau utusan yang lain.
 
2. Orang kafir sama miripnya dilihat dari zaman dan tempat, sama-sama sulit menerima kebenaran.
 
3. Orang kafir telah diberikan peringatan dan penjelasan. Jika menolak, mereka akan mendapatkan siksa. [Aysar At-Tafasir, 4:370]
Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.



 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kewajibankitahanyamengingatkan, #tugasmuhanyamenyampaikan, #kewajibanhanyamenyampaikan, #pendakwah, #bukanlahpekerjaan, #petunjukhanyaMilikAllah #hidayahhanyamilikAllah, #faidahsuratYasin, #pendakwahhanyamenyampaikan #hidayahmilikAllah #taufik #taufiq #milikAllahsaja #faedahsuratYasin #faidah #faedah #tukangdakwah #jurudakwah #ustadz #hidayahbukanmilikkita #Islam #sunnah #Islam #Alquran #SuratYasin #QSYasi
,

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEORANG DAI KE JALAN ALLAH TIDAK BERKEHENDAK SELAIN MEMERBAIKI SAUDARA-SAUDARANYA

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:

Apakah yang wajib bagi saya, jika telah menasihati keluarga dan saudara-saudara, akan tetapi mereka tidak memenuhi nasihat itu, dan memutuskan pembicaraan saya (sehingga) saya menemukan kesulitan dalam hal tersebut ?

Jawaban:

Hal ini sering terjadi, kondisi begini sangat banyak, keluhan begini juga sangat banyak, baik dari kalangan pria maupun wanita. Hal ini disebabkan karena sebagian orang, jika diseru ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyangka, bahwa sang da’i ingin mengusainya saja, ingin membalasnya, atau ingin mengunggulkan dirinya atas orang yang ia dakwahi. Yang jelas (pikiran) itu dari setan.

Maka seorang da’i ke jalan Allah hendaknya tidak berkeinginan selain memerbaiki saudara-saudaranya, serta menunjukkan mereka pada kebenaran. Namun bersama ini saya juga mengatakan kepada sang penanya: ‘Bersabarlah dan berihtisablah (mengharapkan pahala), dan ketahuilah, bahwa setiap gangguan yang menimpamu dalam berdakwah ke jalan Allah, maka Anda akan diberi pahala. Dan seorang da’i ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika dakwahnya diterima, ia telah melaksanakan kewajibannya, dan meraih ganjaran akibat hidayah yang diperoleh oleh orang lain (melalui tangannya), sebagaimana Nabi ﷺ mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib, artinya:

“Majulah dengan tenang. Maka demi Allah! Sungguh jika Allah memberikan hidayah seseorang melalui dirimu, maka itu lebih baik bagimu, daripada seekor unta merah”

Jika dakwahnya ditolak dan ai disakiti di jalan Allah, maka sesungguhnya hal itu juga pahala baginya. Bahkan dua pahala: Untuk dakwahnya ke jalan Allah, dan untuk cobaan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan para rasul ‘alaihimushalatu was salam telah disakiti, namun mereka bersabar, sebagaimana firman Allah Subahanhu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya ﷺ:

“Artinya: Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu” [Al-An’am: 34]

Wahai saudara! Dalam dakwah kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala, janganlah menjadikan gangguan manusia terhadapmu sebagai sebab yang menghalangimu dari Al-Haq, atau menyurutkan langkahmu ke belakang. Karena kondisi seperti ini hanya terjadi pada orang yang imannya belum terhunjam dan mengakar, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah’. Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh, jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah besertamu’. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia ?” [Al-Ankabut: 10]

Maka nasihat saya kepada saudaraku, dan juga nasihatku kepada keluarganya, agar ia meneruskan dakwahnya ke jalan Allah, dan tidak berputus asa. Adapun keluarganya, maka mereka berkewajiban menerima yang haq, baik yang datang dari orang yang lebih rendah dari mereka, ataupun dari orang yang setara umurnya dengan mereka, atau yang lebih tua.

[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/1366-seorang-dai-ke-jalan-allah-tidak-berkehendak-selain-memperbaiki-saudara-saudaranya.html

 

,

AWAS DA’I GADUNGAN PECANDU ROKOK

AWAS DA'I GADUNGAN PECANDU ROKOK

سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

AWAS DA’I GADUNGAN PECANDU ROKOK

Pengemban risalah dakwah Islam adalah da’i yang memikul tugas agung dan mulia, sehingga Allah tidak membebankan kepada sembarangan orang untuk menjalankannya.

Orang-orang yang pertama kali Allah percayakan untuk mengemban amanat ini adalah para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalaam, kemudian para ulama Rabbani (orang berilmu yang sejati) sebagai pewaris ilmu para Nabi.

Mereka menjadi panutan dan teladan bagi manusia. Pandangan manusia tertuju kepada mereka, gerak-gerik, sifat, dan kebiasaanya menjadi sorotan di masyarakat.

Namun karena jauhnya masyarakat dari ilmu syari, maka banyak di antara mereka yang salah kaprah dalam mencari panutan, sehingga menyebarlah para da’i gadungan yang jauh dari akhlak Islami, seperti para da’i perokok.

Berikut ini akan dipaparkan beberapa hukum syari menyangkut da’i yang suka merokok:

Pertama: Seorang da’i atau kiyai perokok tidak pantas untuk dijadikan guru atau pengajar agama. Karena di antara syarat sebagai seorang guru agama adalah memiliki standar keislaman dan keimanan yang baik. Rasulullah ﷺ bersabda:

من حسن إسلام المرء تركة ما لا يعنيه

“Di antara indikasi baiknya keislaman seseorang adalah meningggalkan sesuatu hal yang tidak bermanfaaat baginya.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

 

Pelajaran dari Hadis ini adalah bahwa:

قال العلماء: أهم ما يعنيك فعل الواجبات، وأهم ما لا يعنيك فعل المحرمات، فمن حسن إسلام المسلم تركه ما لا يجوز له فعله؛ لأنه لا يعنيه، فترك المحرمات والمكروهات، وترك الكبائر والصغائر مما يعني الإنسان تركه

  1. Para ulama mengatakan: ”Perbuatan bermanfaat yang paling utama untuk kamu lakukan adalah melaksanakan yang wajib. Dan perbuatan sia-sia yang paling utama untuk ditinggalkan adalah perbuatan haram. Maka, di antara indikasi dan standar baiknya keislaman seseorang, yaitu meninggalkan sesuatu yang terlarang dalam agama. Dengan demikian, meninggalkan hal-hal yang haram dan yang makruh (dibenci), dan meninggalkan dosa besar dan dosa kecil termasuk sesuatu yang bermanfaat, jika seseorang meninggalkannya.

أن من لم يترك ما لا يعنيه فإنه ضعيف إيمانه وإن من كمال إيمان العبد تركه ما لا يهمه من الأقوال والأفعال

  1. Orang yang tidak meninggalkan sesuatu yang tidak bermafaat baginya adalah orang yang lemah imannya. Sebaliknya, di antara indikasi kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, baik dari segi perkataan maupun perbuatan.

Seseorang yang lemah imannya, bagaimana mungkin bisa menjadi seorang da’i yang seharusnya menjadi dokter hati bagi mad’unya (jamaahnya), yang butuh siraman keimanan dengan ilmu dan akhlak mulia?

Jika seorang da’i yang masih sibuk dengan aktivitas dan permainan yang tidak berguna sudah diragukan kesholihannya, dan bisa mengurangi kewibawaannya, sehingga orang lain tidak mau belajar darinya, lantas bagaimana dengan seorang da’i yang jelas-jelas melakukan perbuatan haram seperti merokok?

Tentu keimanannya bisa dikatakan rusak (sangat kurang). Lalu bagaimana dia bisa memerbaiki keimanan orang lain sementara imannya sendiri rusak.

Allah ta’ala berfirman:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195)

Tidak diragukan lagi, bahwa merokok hukumnya haram secara syari dan terlarang secara medis, serta termasuk bagian tindakan asusila dalam masyarakat Islami. Hal itu dikarenakan kerusakan dan kebinasaan yang ditimbulkannya, baik terhadap pelakunya maupun orang lain dan lingkungan.

Kedua: Da’i dan kiyai perokok menjadi contoh teladan yang jelek bagi generasi muda

Banyak generasi muda, terutama para remaja, bahkan dari kalangan wanitanya, tidak merasa berdosa ketika merokok, lantaran para kiyai saja yang dianggap “Alim dan mengerti agama“ banyak yang merokok.

Maka tidaklah mengherankan jika banyak pemuda yang sulit untuk bertaubat dari rokok, bahkan kebrutalan mereka semakin menjadi-jadi. Benarlah apa yang diungkapkan dalam pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing ke sana ke mari”.

Jadi, eksisnya para da’i perokok merupakan salah satu penyebab rusaknya umat dan mereka akan menuai dosa sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ:

مَنْ سَنَّ في الإِسْلام سُنةً حَسنةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وأَجْرُ منْ عَملَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ ينْقُصَ مِنْ أُجُورهِمْ شَيءٌ، ومَنْ سَنَّ في الإِسْلامِ سُنَّةً سيَّئةً كَانَ عَليه وِزْرها وَوِزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بعْده مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزارهمْ شَيْءٌ

“Barang siapa yang mencontohkan akhlak yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa yang mencontohkan akhlak yang jelek, maka maka ia akan mendapatkan dosa, dan dosa orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa mereka.” (HR. Muslim)

Ketiga: Merokok merupakan syiar (identitas) orang fasik (premanis)

Sudah dimaklumi, bahwa rokok merupakan “Aksesoris” yang tidak bisa terlepas dari lingkungan maksiat, seperti diskotik, bar, karaoke, klab malam, rumah mesum dan sebagainya.

Seorang preman yang belum bisa merokok masih dikatakan banci oleh konco-konconya. Wanita yang belum berani merokok belum dikatakan “Jablay sejati” oleh krunya.

Lalu bagaimana dengan seorang da’i yang seharusnya memberantas syiar-syi’ar kemaksiatan tersebut, malah yang paling “record” dalam mengampanyekannya ,seraya berkilah “Rokok hukumnya hanya makruh”. Padahal dalil-dalil sudah jelas menunjukkan keharamannya.

Maka apabila ia terus dalam kefasikannya setelah dinasihati, umat harus diingatkan untuk menjauhi majelisnya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata ketika menjelaskan masalah ghibah yang diperbolehkan:

“Di antaranya, jika seseorang melihat penuntut ilmu sering menghadiri majlis taklim Ahli Bid’ah atau orang fasik, dan dia khawatir hal itu akan membahayakan penuntut ilmu tersebut, maka ia wajib menasihatinya, dengan menjelaskan keadaan gurunya tersebut, dengan syarat dia berniat menasihatinya.”

Keempat: Nasihat ulama tentang kehadiran di majelis Ahlul Bid’ah dan orang fasik

Asy-Syaikh Al-‘Utsaymin rahimahullah berkata:

”Jika kita mendapati seorang Ahli Bi’ah yang pakar dalam ilmu bahasa Arab, apakah kita boleh hadir di majelisnya? Maka hukumnya tidak boleh karena dampak negatif yang ditimbulkannya yaitu:

  1. Ahli Bid’ah tersebut akan terpedaya (ke-GR-an) dengan dirinya, sehingga dia menyangka bahwa dirinya berada di atas kebenaran (sehingga sulit untuk bertaubat, pent).
  1. Orang awam akan tertipu dengan Ahli Bid’ah tersebut, karena melihat penuntut ilmu mondar mandir mengambil ilmu darinya, sementara orang awam tidak bisa membedakan antara ilmu Bahasa dengan ilmu Aqidah.”

Kelima: Adapun mencarikan dana dan donatur untuk para da’i perokok maka termasuk perbuatan haram karena:

  1. Tolong menolong dalam dalam perbuatan dosa dan maksiat, dengan memberi peluang bagi mereka untuk menyia-nyiakan harta dengan cara “Membakar duit” yang diinfakkan oleh pihak donatur.

Allah ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al Maidah: 2)

  1. Mengkhianati amanah yang dipercayakan umat, khususnya para donatur yang berniat untuk kepentingan agama, agar manusia selamat dari penyimpangan. Bukan malah ikut andil dalam menyesatkan umat dan merusak akhlak.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad). Dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal: 27)

Wallahu A’lam.

Maraji’:

  1. Hadis Al-Arba’in An-Nawawiyah no. 12
  2. Syarh Hadis Arba’in, Syaikh ‘Athiyah Salim, Maktabah Syamilah.
  3. HR. Muslim, Riyadhus Sholihin no: 171
  4. Riyadhus Sholihin
  5. Syarh Hilyah Thalibil ilmi

 

Penulis: Al-Ustadz Hendra Abu Dihyah, Lc hafizhahullah

 

Sumber: http://sofyanruray.info/awas-dai-gadungan-pecandu-rokok/

,

KITA CUMA MENGINGATKAN, HIDAYAH DATANGNYA DARI ALLAH

KITA CUMA MENGINGATKAN, HIDAYAH DATANGNYA DARI ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KITA CUMA MENGINGATKAN, HIDAYAH DATANGNYA DARI ALLAH

Ingatlah, sebagai pendakwah hanya menyampaikan, sedangkan yang beri hidayah adalah Allah. Allah Ta’ala berfirman:


وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)

“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
(Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya.

Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.”
Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”
Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui, bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.”

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah MENYAMPAIKAN (perintah Allah) dengan jelas.” (QS. Yasin: 13-17)

Sumber: RumayshoCom
Telegram Channel IslamDiaries

PERISTIWA INDAH DI AKHIR HAYATNYA

PERISTIWA INDAH DI AKHIR HAYATNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PERISTIWA INDAH DI AKHIR HAYATNYA

Mereka wafat sambil menorehkan sejarah. Wafat diiringi peristiwa yang dikenang manusia, dari generasi ke generasi. Kita akan simak cuplikannya berikut ini:

[1] Wafatnya Imam Ahmad

Iblis mengaku kalah.

Diceritakan oleh Abdullah putra Imam Ahmad:

Aku menghadiri proses meninggalnya bapakku, Ahmad. Aku membawa selembar kain untuk mengikat jenggot beliau. Beliau kadang pingsan dan sadar lagi. Lalu beliau berisyarat dengan tangannya, sambil berkata: “Tidak, menjauh…. Tidak, menjauh…” beliau lakukan hal itu berulang kali. Maka aku tanyakan ke beliau: “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? Beliau menjawab:

إن الشيطان قائم بحذائي عاض على أنامله يقول: يا أحمد فتني وأنا أقول لا بعد لا بعد

“Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggingit jarinya, dia mengatakan: ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu (tidak sanggup menyesatkanmu).  Aku katakan: “Tidak, menjauhlah…. Tidak, menjauhlah….” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 186)

Pengaruh dakwah luar biasa, membuat banyak orang masuk Islam

Abu Hatim meriwayatkan pernnyataan al-Warkani, tetangganya Imam Ahmad:

أسلم يوم مات أحمد عشرون ألفا من اليهود والنصارى والمجوس

Pada hari wafatnya Imam Ahmad, ada 20 ribu Yahudi, Nasrani, dan Majusi yang masuk Islam (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 10/342).

[2]  Wafatnya Abu Zur’ah

Abu Zur’ah ar-Razi, ahli hadis, salah satu gurunya imam Muslim. Beliau wafat dengan mentalqin dirinya sendiri.

Membaca hadis beserta sanadnya (nama perawinya) yang isinya:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang kalimat terakhirnya, Laa ilaaha illallaah, maka dia masuk Surga.” (HR. Abu Daud 3118)

Dikisahkan oleh Al-Hafidz Abu Ja’far al-Tusturi:

Kami hadir ketika proses wafatnya Abu Zur’ah, bersama para ulama murid beliau lainnya, seperti Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, al-Mundzir bin Syadzan, dan beberapa ulama lainnya. Mereka ingin memraktikkan hadis Nabi ﷺ:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Talqin orang yang hendak mati di antara kalian, untuk mengucapkan “Laa ilaaha illallaah…”

Namun mereka semua malu untuk menalqin gurunya Abu Zur’ah. Tiba-tiba Abu Zur’ah yang dalam kondisi mau meninggal menyampaikan hadis dengan sanadnya:

حدثنا بندار ، حدثنا أبو عاصم ، حدثنا عبد الحميد بن جعفر ، عن صالح بن أبي عريب ، عن كثير بن مرة الحضرمي ، عن معاذ بن جبل، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Imam Bundar menceritakan kepada kami, bahwa Imam Abu Ashim menyampaikan kepada kami, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan kepada kami, dari Sholeh bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

 “Siapa yang kalimat terakhirnya, Laa ilaaha illallaah, maka dia masuk Surga.”

Seketika setelah itu, beliau wafat (Ma’rifah Ulum al-Hadits, Imam Hakim, hlm. 76).

Subhanallah, wafatnya ahli hadis, diakhiri dengan menyampaikan hadis. Hadis yang berisi talqin kematian. Karena umumnya manusia akan mati sesuai kondisi kebiasaannya.

[3] Wafatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam, beliau wafat di penjara Qal’ah. Beliau mengakhiri hidupnya setelah membaca ayat yang maknanya sangat indah:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ . فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. al-Qamar: 54)

Salah satu muridnya, Ibnu Abdil Hadi bercerita:

أقبل الشيخ بعد إخراجها على العبادة والتلاوة والتذكر والتهجد حتى أتاه اليقين، وختم القرآن مدة إقامته بالقلعة ثمانين أو إحدى وثمانين ختمة انتهى في آخر ختمة إلى آخر اقتربت الساعة

Setelah Syaikhul Islam banyak menulis buku, beliau habiskan waktunya untuk beribadah, membaca Alquran, dzikir, tahajud, hingga wafat. Selama di penjara, beliau mengkhatamkan Alquran sebanyak 80 atau 81 kali. Dan di akhir bacaan beliau, beliau membaca:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ. فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. al-Qamar: 54)

[4] Wafatnya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani

Beliau termasuk ahli hadis dunia. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani wafat saat mendengar firman Allah yang dibacakan di sampingnya:

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS. Yasin: 58)

Dikisahkan oleh muridnya, as-Sakhawi, dalam kitab al-Jawahir wa ad-Durar fi Tarjamati Syaikhul Islam Ibnu Hajr:

Sebelum wafat, beliau sakit selama sebulan. Di saat detik kematiannya, ada muridnya yang membaca surat Yasin. Saat muridnya membaca firman Allah:

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Kemudian beliau wafat. Rahimahullah…

[5] Wafatnya al-Hafidz Ibnu Rajab

Beliau termasuk ahli hadis, menulis kitab syarah Shahih Bukhari, namun tidak sampai selesai. Beliau hanya bisa menyelesaikan sampai bab janaiz.

Dan beliau wafat setelah mensyarah kitab shahih Bukhari di bab al-Janaiz.

[6] Wafatnya Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi

Beliau menulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan – Tafsir al-Quran bil Qur’an, namun tidak sampai selesai. Lalu dilanjutkan oleh muridnya, Syaikh Athiyah Muhammad Salim.

Beliau wafat setelah membahas firman Allah:

أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah hizbullah… ketahuilah bahwa hizbullah adalah orang-orang yang muflih (beruntung). (QS. al-Mujadilah: 22)

[7] Wafatnya Muhammad Rasyid Ridha

Beliau penulis kitab Tafsir al-Manar, namun tidak sampai selesai. Hanya sampai surat Yusuf.

Dan beliau wafat setelah selesai menulis tafsir firman Allah:

رَبِّ قَدْ آَتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugrahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takbir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di Akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam ,dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf: 101)

Kejujuran dalam mengajarkan kebenaran kepada masyarakat, itulah faktor terbesar mereka mendapat kebahagiaan. Allah tunjukkan dalam karya mereka.  Yang kami sebutkan hanya sekelumit dari sejarah mereka para ulama.

Al-Hafidz Ibnu Katsiir pernah menasihatkan:

حافظوا على الإسلام في حال صحتكم وسلامتكم لتموتوا عليه ، فإن الكريم قد أجرى عادته بكرمه أنه من عاش على شيء مات عليه ، ومن مات على شيء بعث عليه ، فعياذا بالله من خلاف ذلك

“Peliharalah Islam ketika kamu sehat wal afiat, agar engkau mati di atas Islam. Sesungguhnya Dzat yang Maha mulia dengan kemurahan-Nya akan memberlakukan seseorang sesuai kebiasaannya. Bahwa orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. Sungguh kita berlindung kepada Allah, jangan sampai menyimpang dari kebenaran. (Tafsiir Ibnu Katsir, 2/87)

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28533-kematian-ulama-itu-istimewa.html