Posts

, ,

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA
Oleh: Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله

Dunia olah raga adalah dunia yang penuh dengan sensasi dan menjadi hobi kebanyakan anak manusia. Islam pun tidak melarangnya, karena memang hukum asal olahraga adalah halal/dibolehkan, selama tidak disertai perkara-perkara yang terlarang. Hanya saja Islam telah meletakkan rambu-rambu dan kaidah-kaidah olahraga secara umum, agar TIDAK KELUAR dari garis syariat.

Oleh karenanya sangat penting untuk kita kaji masalah ini, agar kita bisa mengetahui olahraga/ lomba-lomba apakah yang dibolehkan dalam Islam, dan dilarang oleh Islam. Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah [Kami sarikan pembahasan ini dari Majallah al-Hikmah edisi No.3, Tanggal 1 Muharram 1415 H, bertepatan dengan 9 juni 1994M, hlm.155-168, ditulis oleh DR.Sa’id Abdul Adhim]:

Pertama: Untuk Mencari Ridho Allah
Setiap Muslim harus selalu mencari ridho Allah dalam setiap aktivitasnya. Dalam berolahraga pun ridho Allah harus dijadikan tujuan, dan itulah tujuan diciptakannya manusia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
Termasuk kesalahpahaman sebagian orang yang mengatakan, bahwa ibadah hanya sholat, zakat, dan semisalnya, sedang olahraga tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah (agama). Padahal Islam menjadikan perkara-perkara mubah sebagai ibadah yang berpahala, seperti tersenyum kepada sesama Muslim [HR. at-Tirmidzi: 1956, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 572], seorang suami mengumpuli istrinya [HR. Muslim: 1674], seorang suami memberi makan istri [HR. al-Bukhori: 1213 dan Muslim: 3076], seorang yang menanam benih [HR. Ahmad: 184, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 9], dan semisalnya.

Olahraga yang dilakukan seorang Muslim tidak akan sia-sia, bahkan berbuah pahala, jika diniatkan untuk mencari pahala dari Allah, dan untuk kemaslahatan dirinya, agamanya, dan kaum Muslimin secara umum. Akan tetapi jika tidak diniatkan demikian, maka akan menjadi bumerang baginya, dan dia akan sulit melepaskannya.

Kedua: Untuk Membela Agama dan Kebenaran
Berkata Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri حفظه الله[Dinukil secara bebas dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H (9 juni 1994 M), hlm. 118]: “Sesungguhnya tujuan semua jenis olahraga yang dikenal dalam Islam adalah dimaksudkan menjadi sebuah alat menegakkan dan membela kebenaran. Bukanlah tujuan olahraga itu hanya mendapat harta melimpah, ketenaran, atau hal yang serupa, seperti berbangga diri dan (akhirnya) menjadi manusia yang rusak di muka bumi, sebagaimana kondisi kebanyakan mereka saat ini.”

Barang siapa tidak memahami hal ini, maka dia akan terjatuh kepada salah satu tujuan yang tidak dibenarkan dalam berolahraga.

Ketiga: Melatih Kekuatan, Kemahiran, dan Keberanian
Kebenaran akan terwujud sempurna dengan ilmu dan kekuatan. Ilmu bermanfaat bagi para pencari kebenaran, tetapi kekuatan dapat bermanfaat bagi orang-orang yang menentang. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada umatnya, dan menyiapkan kekuatan yang bermanfaat pula bagi tegaknya agama. Dan di antara bentuk persiapan kekuatan tersebut, beliau ﷺ memerintahkan kaum Muslimin berlatih jenis-jenis olahraga yang bermanfaat untuk menguatkan badan dan melatih keberanian. Demikianlah Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk memersiapkan kekuatan yang bermanfaat bagi diri-diri mereka, agama dan kaum Muslimin secara umum, dalam firman-Nya:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS. al-Anfal [8]: 60)
Oleh karena maksud ini, Rasulullah ﷺ mengizinkan para lelaki Habasyah bermain tombak dalam masjid beliau, bahkan mengizinkan Aisyah radhiyallahu’anha melihat mereka [Lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H (9 Juni 1994 M) hlm. 119].

Keempat: Tidak Menghabiskan Semua Waktunya Untuk Olahraga
Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Tuhanmu memunyai hak atasmu, dirimu memunyai hak atasmu, dan keluargamu memunyai hak atasmu. Maka berikan hak masing-masing kepada pemiliknya.” (HR. al-Bukhori: 1832)
Seorang Muslim boleh bersantai, berolahraga, dan menghibur dirinya dengan perkara-perkara yang halal, walaupun kurang bermanfaat. Hanya yang menjadi masalah, jika seorang Muslim menjadikan kebanyakan atau semua waktunya untuk olahraga atau perkara-perkara yang tidak bermanfaat, sehingga hidupnya menjadi sia-sia, penuh dengan permainan, dan pada akhirnya menghalangi dirinya untuk melaksanakan kewajiban syariat dan melanggar larangan-larangan-Nya.

Sungguh menyesal manusia yang lalai akan Kampung Akhirat, padahal dunia dan seisinya jika dibandingkan dengan Akhirat yang kekal, tidak ada artinya. Nabi ﷺ bersabda:

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Dunia ini dibandingkan dengan Akhirat, gambarannya hanya seperti seseorang yang mencelupkan satu jarinya ke lautan. Maka hendaknya ia melihat, apa yang ia akan bawa kembali.” (HR. Muslim: 5101)
Dan termasuk perangkap bagi manusia, setan selalu menghiasi dunia dengan berbagai cara supaya mereka tenggelam dalam kenikmatan dunia yang sekejap, dan lalai dengan Kampung Akhirat. Setan membisikkan kepada mereka, bahwa olahraga adalah perkara paling penting bagi manusia. Lalu manusia menjadi sibuk memikirkan olahraga, ingin mengetahui kabar terbarunya, membicarakan bintang-bintangnya secara detil, tanpa memerhatikan agama dan akhlak mereka [Betapa banyak anak muda sekarang jika ditanya siapa yang diidolakan, maka jawabnya adalah para pemain bola yang kafir, atau semisalnya].

Kelima: Tidak Fanatik Golongan dan Membabi Buta
Fanatik kepada kebenaran adalah baik dan bermanfaat, bahkan itulah istiqomah di atas agama. Akan tetapi fanatik kepada suatu kelompok tertentu, seperti kepada suatu perkumpulan olahraga, baik sepakbola atau lainnya, berarti berpegang teguh dengannya, saling menolong, dan rela mati demi membela serta memerjuangkannya, baik dalam kebenaran atau kebatilan. Inilah yang dilarang dalam Islam. Allah berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. al-Ma’idah [5]: 2)
Jika yang terjadi adalah fanatik golongan, seperti yang banyak terjadi baik, dari sesama pemain atau sesama supporter, berupa saling mencela, menghina, memukul, bermusuhan, bahkan saling membunuh, karena bukan dari kelompoknya. Kematian seperti ini adalah kematian jahiliah [Lihat HR. Muslim: 3440], dan olahraga yang disertai perkara semacam ini menjadi haram.

Keenam: Tidak Bercampur dengan Lawan Jenis Tanpa Batas [Lihat pembahasan lebih lengkap masalah ini dalam Majalah Al Furqon edisi 06 Tahun VI /Muharrom 1428 H, dengan judul “Ikhtilath Penyakit Kronis Umat” oleh Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf]

Wanita adalah aurat yang harus dijaga. Tidak boleh ditampakkan kepada selain mahromnya [Lihat HR. at-Tirmidzi: 1173, dan beliau mengatakan bahwa hadis ini hasan shohih ghorib]. Pada dasarnya wanita harus tinggal di rumahnya, dan tidak keluar kecuali jika ada suatu hajat atau kebutuhan [Sebagaimana perintah Alloh kepada kaum wanita dalam QS. al-Ahzab: 33]. Oleh karenanya, dalam urusan ibadah pun wanita lebih baik beribadah di rumahnya daripada masjid-masjid kaum Muslimin, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

لَا تَـمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kamu mencegah kaum wanitamu dari masjid-masjid Allah, tetapi rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud: 576, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 1396)

Jika wanita lebih baik di rumah dalam urusan ibadah, bagaimana kiranya urusan selain ibadah? Dan bagaimana kiranya lagi urusan olahraga? Maka jawabnya tentu di rumah jauh lebih baik lagi.
Jika wanita terbiasa keluar rumah, maka terjadilah campur baur wanita dengan laki-laki tanpa batas. Dan terjadilah banyak kerusakan/ fitnah, disebabkan sebagian kaum wanita telah menyelisihi fitrahnya. Oleh karena itu, rusaknya kaum Bani Israil sebab pertama kalinya adalah fitnah wanita [HR. Ahmad: 1112, dengan sanad yang shohih]. Jika wanita keluar rumah dan bercampur dengan kaum laki-laki tanpa batas, maka terjadilah saling memandang (zina mata), saling berbicara tanpa batas (zina mulut), saling bersentuhan (zina tangan) dan akhirnya saling berzina dengan zina yang sesungguhnya [Lihat HR. Bukhori: 6243 dan Muslim: 2657].

Islam telah memberi perunjuk agar umatnya tidak jatuh kepada perkara keji ini. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruk shof laki-laki adalah yang paling belakang. Sedangkan sebaik-baik shof kaum wanita adalah yang paling belakang, dan seburuk-buruk shof kaum wanita adalah yang paling depan.” [HR. Muslim: 440]

Bahkan Rasulullah ﷺ sangat menjaga batas antara kaum laki-laki dengan wanita, walaupun saat keluar dari tempat sholat. Beliau ﷺ dan para sahabatnya tetap tidak beranjak dari tempat sholatnya, sampai kaum wanita keluar terlebih dahulu, supaya tidak bercampur antara laki-laki dan wanita, walaupun setelah melaksanakan sholat, sebagaimana dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu’anha, beliau berkata:

كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ صَلَّى مِنْ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللَّهُ فَإِذَا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ الرِّجَالُ

“Bahwasanya kaum wanita pada zaman Rasulullah ﷺ, mereka segera bangkit jika setelah selesai sholat, lalu Rasulullah ﷺ dan para sahabat laki-laki tetap tidak beranjak (dari tempat sholatnya), lalu jika Rasulullah ﷺ mulai bangkit, kaum laki-laki pun juga bangkit.” (HR. al-Bukhori: 866)

Ketujuh: Menutup Aurat
Menutup aurat adalah kewajiban setiap Muslim laki-laki dan perempuan. Seseorang dilarang melihat aurat sesama jenisnya, sebagaimana ia dilarang melihat aurat lawan jenisnya [Lihat QS. an-Nur: 30-31].
Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Seorang laki-laki dilarang melihat aurat laki-laki lain dan seorang wanita dilarang melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim: 512)

Sungguh kita mendapati pada zaman sekarang, banyak kaum Muslimin, baik laki-laki [Seperti menyingkap paha, padahal paha adalah aurat sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Paha adalah aurat (kaum laki-laki).” (HR. al-Bukhori: 2/112). Dan Rasulullah ﷺ melarang sahabatnya menyingkap pahanya serta melarang melihat paha laki-laki lainnya (HR. Abu Dawud: 3140, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih wa Dho’if al-Jami’ ash-Shoghir. 13397)] atau perempuan [Yang paling sering dijumpai dari wanita adalah menyingkap rambut dan kepalanya, padahal keduanya termasuk aurat sebagaimana disepakati para ulama (lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 126).

Memang kita patut bersyukur dengan semakin banyaknya jumlah wanita yang berjilbab, tetapi yang kita sesalkan adalah sebagian wanita yang enggan berjilbab atau berjilbab, tetapi hakikatnya tidak mengenakannya, seperti berjilbab tetapi dadanya tersingkap, betisnya ditampakkan, berjilbab pendek sehingga rambutnya tetap terburai, berjilbab tetapi memakai bawahan yang sangat ketat, atau yang semisalnya. Ini semua adalah kesalahan yang sebab utamanya adalah kesalahpahaman mereka tentang jilbab, yang mana mereka menganggap jilbab hanya mode, bukan untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan] bermudah-mudahan terhadap auratnya. Mereka menyingkap auratnya baik sengaja atau tidak. Di sisi lain, sebagian besar kaum Muslimin tidak menggubrisnya, apalagi mencegahnya. Dan yang paling mengherankan, ketika ada sebagian Muslimah berusaha menutup auratnya lebih sempurna, justru mendapat ejekan, cacian, dianggap kuno, dituduh aliran sesat, teroris, dan sebagainya. Dari sini kita ketahui, bahwa olahraga yang mengharuskan pesertanya menampilkan aurat, seperti binaraga dan semisalnya, hukumnya haram.

Kedelapan: Meninggalkan Aturan Olahraga yang Bertentangan dengan Islam
Dalam setiap cabang olahraga, kalau kita perhatikan, masing-masing ada aturan mainnya. Pada dasarnya aturan yang dibuat dan disepakati tidak bermasalah. Tetapi ada sebagian aturan yang bertentangan dengan aturan Allah. Kalau demikian adanya, maka seorang Muslim dilarang menaati aturan yang dibuat, jika bertentangan dengan aturan Allah.

Sebagai contoh, pertandingan-pertandingan yang membolehkan pukulan ke arah wajah atau anggota tubuh yang membahayakan, lomba renang dengan membuka sebagian aurat, binaraga dengan menampakkan auratnya, pertandingan campuran antara laki-laki dengan wanita, atau yang semisalnya, semuanya diharamkan, sebab aturannya bertentangan dengan aturan Allah.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata [Dinukil dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 129-130]: “Para sahabat dan generasi setelah mereka sepakat, bahwa jika (seorang Muslim) mengetahui sunnah Rasulullah ﷺ, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, lalu mengikuti pendapat seseorang, tidak pandang siapa pun dia. Syariat Islam ini menghukumi semua kaidah-kaidah, aturan-aturan, undang-undang, atau adat-istiadat yang dibuat manusia baik, yang bersifat lokal atau internasional. Maka wajib setiap Muslim untuk merealisasikan firman Allah:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar, jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (QS. az-Zumar [39]: 13)

Kesembilan: Tetap Menunaikan Kewajiban Agamanya
Olahraga bukanlah tugas manusia, tetapi manusia ditugasi untuk beribadah (QS. adz-Dzariyat: 56). Olahraga menjadi haram jika sampai melalaikan kewajibannya. Oleh karenanya, haram mengadakan pertandingan olahraga (perlombaan) pada waktu azan dikumandangkan, lebih-lebih jika dikumandangkan azan sholat Jumat. Karena orang yang mendengar azan berkewajiban untuk mendatangi masjid dan sholat berjamaah. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengancam hendak membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjamaah [Lihat HR. Muslim: 1041]. Lalu apakah kiranya jika ada seorang mendengar azan, lalu dia tidak menghiraukannya, bahkan justru asyik berolahraga atau menontonnya? Sungguh ini merupakan kelalaian yang sangat nyata.

Demikian pula seandainya saat hendak bertanding, para pemain harus makan dan minum menjelang bertanding, padahal saat itu waktu puasa Romadhon, maka olahraga semacam ini hukumnya menjadi haram.

Kesepuluh: Tidak Ada Pelanggaran Syariat Seperti Rukuk dan Sujud Kepada Makhluk
Sebagian cabang olahraga seperti beladiri, jika sebelum bertanding, atau saat bertanding, diharuskan adanya penghormatan dengan cara membungkuk kepada lawannya, seperti rukuk atau bahkan sampai sujud. Maka haram bagi seorang Muslim melakukannya [Lihat keharaman hukum sujud dan rukuk kepada manusia dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibad kar. Ibnul Qoyyim رحمه الله (dinukil dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 132)].

Cukuplah sunnah Rasul ﷺ bagi seorang Muslim, jika bertemu saudaranya untuk saling bersalaman [Sebagaimana dalam HR. ath-Thobroni 1/8/1/99, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 2647]. Adapun saling membungkukkan badan, maka telah dilarang dalam agama Islam. Dalam sebuah hadis dijelaskan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ

Dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada seseorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jika ada di antara kami berjumpa dengan saudaranya atau kawannya, bolehkah dia membungkukkan badan untuknya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak boleh.’ Orang itu bertanya ‘lagi: ‘Bolehkah memeluk dan menciumnya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak .’ [Akan tetapi, bukan berarti memeluk dan mencium saudaranya hukumnya haram, karena ada keterangan dalam hadis yang lain bahwa kebiasaan sahabat jika salah satu mereka datang dari bepergian jauh mereka saling berpelukan (HR. al-Baihaqi: 7/100, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 160)]. Orang itu bertanya lagi: ‘Bolehkah menyalami dengan tangannya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Ya.'” (HR. at-Tirmidzi: 2728, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Misykat al-Mashobih: 4680)

Kesebelas: Tidak Kagum dan Berloyalitas Kepada Non-Muslim
Termasuk perangkap setan, manusia dibuat takjub oleh kepiawaian para bintang olahraga saat berlaga. Tidak cukup merasa takjub, sebagian mereka hatinya condong kepadanya, tanpa melihat sisi agama dan akhlaknya. Ditambah sebab kebodohannya tentang al-wala wal baro’, maka sebagian mereka membela bintang yang difavoritkan.

Secara tidak langsung mereka melebihkan orang kafir daripada orang Muslim, sebab mereka lebih menonjolkan pemain kafir daripada tokoh-tokoh Islam — utamanya Rasulullah ﷺ. Bahkan tidak jarang para pemuda Muslim dengan bangga memakai kostum milik bintang kafir, lengkap dengan nomor punggung dan nama pemain kafir tersebut. Bahkan terkadang ada yang tidak segan memakai baju bergambar bintang idolanya yang kafir. Na’udzu billah min dzalik.

Jika kondisinya seperti ini, maka hilanglah permusuhan antara kaum Muslimin dengan kaum kafir. Mereka justru duduk bersama-sama. Bahkan sebagian kaum Muslimin mengidolakan musuh-musuh Allah yang seharusnya diperangi, karena mereka memerangi agama Islam (baca QS. al-Mujadilah: 22), dan kaum Muslimin harus menampakkan permusuhan dengan mereka [Namun bukan berarti kaum muslimin tidak boleh sama sekali berbuat baik kepada orang kafir. Kaum muslimin harus selalu adil, bahkan tidak boleh mengkhianati mereka, jika mereka tidak berkhianat dan tidak memerangi agama Islam (QS. al-Mumtahanah [60]: 8). Sebagai bukti hal ini, Rasulullah ﷺ berjual beli dengan mereka. Beliau ﷺ pernah menjenguk orang kafir yang sakit, dan beliau ﷺ pernah mengirim hadiah kepada raja kafir. Ini semua dilakukan jika terdapat maslahat di dalamnya, seperti harapan supaya masuk Islam. Dan bukan berarti Rasulullah ﷺ cinta kepada orang-orang kafir. Maka harus dibedakan antara berbuat adil dan cinta kepada mereka. (Lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 133)]. Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia. Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu, dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu. Dan telah nyata antara kami dan kamu, permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4)

Kedua Belas: Tidak Membahayakan
Jika suatu pertandingan olahraga yang digelar terdapat sesuatu yang membahayakan keselamatan pesertanya, maka olahraga tersebut menjadi haram, seperti tinju, dan gulat bebas, yang dibolehkan di dalamnya menyakiti lawan, serta membahayakan keselamatan pesertanya [Sebagaimana Majlis Fatwa al-Majma’ al-Fiqhi al-lslami li Robithoh al-Alam al-Islamiy pada Muktamarnya yang ke-10 digelar di Makkah al-Mukarromah, pada tanggal 24 Shofar 1408 H, telah memutuskan, bahwa kedua cabang olahraga ini hukumnya haram]. Allah berfirman:

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. an-Nisa’ [4]: 29)

Demikian pula semua cabang olahraga yang yang hukum asalnya mubah (halal). Jika menurut dugaan yang kuat akan terjadi bahaya terhadap keselamatan pesertanya, maka diharamkan sebagaimana ayat di atas [Adapun hukum olahraga seperti balap motor, balap mobil, lomba lari, panjat tebing, gulat, karate, taekwondo, kungfu, dan lainnya, maka hukum asalnya adalah termasuk yang dianjurkan, sebagaimana Alloh perintahkan hamba-Nya untuk melatih dan menyiapkan kekuatan (QS. al-Anfal [8]: 60), dan Nabiﷺ memerintah para sahabatnya berlatih memanah (HR. al-Bukhori: 3122). Hanya saja para ulama mensyaratkan kehalalannya, jika diduga kuat tidak akan membahayakan peserta. Dan menjadi haram jika diduga kuat akan membahayakan pesertanya. (Lihat al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 153-162)].

Ketiga Belas: Tidak Menimbulkan Sifat Bangga Diri, Sombong, Dengki, dan Lainnya
Bangga diri (ujub), sombong dan dengki adalah penyakit hati yang dapat terjadi dalam perkara apa saja, bisa sebab ilmu, harta, rupa, pangkat, nasab, dan syuhroh (ketenaran). Jika seseorang yang berolahraga salah niatnya, dia akan selalu mencari jalan supaya menjadi yang paling nomor satu. Ketenaran dan kebanggaanlah yang menjadi tujuannya, lalu menganggap dirinya lebih besar dan hebat, sedangkan yang lainnya lebih lemah daripadanya dan akhirnya diremehkan. Inilah penyakit hati yang telah disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dan pelakunya dibenci oleh Allah. Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk Surga, siapa saja yang memiliki kesombongan, walaupun sebiji sawi dalam hatinya.” Lalu ada orang bertanya: “(Wahai Rasulullah !) Ada orang yang selalu ingin baju dan sandalnya bagus.” Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabagus dan mencintai yang bagus-bagus. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim: 131)

Penutup
Marilah kita merenungi kembali tujuan Allah menciptakan kita. Ilmu agama dan aktivitas dunia yang bermanfaat sudah cukup menyita waktu kita, sehingga kita harus berpikir seribu kali untuk menyia-nyiakannya. Generasi yang mendapatkan kejayaan adalah sebaik-baik contoh buat kita, untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka menggunakan waktunya untuk duduk di majelis ilmu, belajar agama atau mengajarkannya. Jika mendengar seruan azan, mereka segera sholat. Jika mendengar seruan jihad, mereka berebut supaya tidak ketinggalan. Mereka mencari dunia sebagai jalan menuju Kampung Akhirat. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka, dan mereka mendapatkan janji Allah berupa Surga. Bandingkan keadaan kita dengan mereka. Kembalilah kepada Allah Sang Pencipta. Ikhlaskan niat hanya untuk-Nya. Jangan jadikan perkara-perkara yang asalnya mubah menggeser niat utama kita sebagai kaum Muslimin, yang akibatnya akan perkara mubah itu menggantikan niat utama kita, yaitu mencari ridho Allah.

Semoga kita dimudahkan untuk mengikuti jejak para salaf sholih. Amin.

Publication: 1438 H/2016 M
Disalin dari Majalah Al-Furqon No. 112 Ed. 09 Th Ke-10_1432 H/2011 M
Sumber: https://ibnumajjah.wordpress.com/2016/11/14/rambu-rambu-agama-dalam-olahraga/

, , ,

DEMONSTRASI & PEMBERONTAKAN: MEMBANTAH SYUBHAT KAUM KHAWARIJ

DEMONSTRASI & PEMBERONTAKAN: MEMBANTAH SYUBHAT KAUM KHAWARIJ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

DEMONSTRASI & PEMBERONTAKAN: MEMBANTAH SYUBHAT KAUM KHAWARIJ

Ada beberapa syubhat yang sering dilontarkan oleh hizbiyun dan ingin kami jelaskan bantahannya –insya Allah- demi untuk menghilangkan kekaburan dalam masalah ini:

Syubhat Pertama dan Bantahannya:

Ahlus Sunnah mendiamkan kemungkaran penguasa, karena para ulama Ahlus Sunnah adalah budak penguasa, yang kerjanya hanya mencari muka kepada penguasa.

Ahlus Sunnah tidak menasihati penguasa secara terang-terangan di depan khalayak, bukan berarti diam dengan kemungkaran penguasa. Bukan pula karena mencari muka kepada penguasa, tetapi karena mengikuti tuntunan Islam dalam menasihati penguasa.

Syubhat Kedua dan Bantahannya:

Mengapa Ahlus Sunnah mengharamkan demokrasi, namun tetap menaati pemimpin yang dihasilkan dari pesta demokrasi!?

Ahlus Sunnah tidak mengafirkan secara serampangan terhadap pemerintah Muslim yang terlibat dalam sistem kufur demokrasi, atau yang tidak berhukum dengan syariat Islam, karena ada syarat-syarat pengafiran yang harus terpenuhi dan terangkatnya penghalang-penghalang. Oleh karenanya, Ahlus Sunnah tetap menaati seorang pemimpin yang dihasilkan dari pesta demokrasi, karena menganggapnya masih Muslim.

Syubhat Ketiga dan Bantahannya:

Menasihati penguasa secara terang-terangan bukan termasuk pemberontakan dan bukan pula karakter Khawarij.

Dari penjelasan di atas, jelaslah kesalahan sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah, namun menganggap bahwa menasihati penguasa dengan membicarakan aib-aib penguasa secara terang-terangan bukan termasuk pemberontakan dan karakter Khawarij, sebagaimana yang dikatakan penulis buku: “Siapa Teroris? Siapa Khawarij?”

“Lebih dari itu, sekedar melakukan demonstrasi saja sudah dianggap sebagai tindak pemberontakan dan dikatakan sebagai Khawarij dan teroris. Hal ini tercermin dalam perkataan beliau (Al-Ustadz Luqman Ba’abduh -pen), “Perlu ditekankan di sini, bahwa bentuk pemberontakan terhadap penguasa itu tidak hanya dalam bentuk gerakan fisik atau gerakan bersenjata saja”. Kemudian beliau (Al-Ustadz Luqman Ba’abduh -pen) mengutip pendapat Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairi di buku Madarik An-Nazhar (tanpa penyebutan halaman) yang mengatakan: “Wal hasil, hanya sekedar memrovokasi massa untuk menentang penguasa Muslim (walaupun penguasa tersebut seorang fasik), sudah layak dicap sebagai cara-cara Khawarij.” [Lihat Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, (hal. 224)]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullah- menjawab syubhat ini, dalam menjelaskan hadis tentang tuduhan kaum Khawarij kepada Rasulullah ﷺ, bahwa beliau belum berlaku adil dalam pembagian ghanimah. Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Ini merupakan dalil terbesar, bahwa pemberontakan terhadap pemerintah bisa dengan senjata, ucapan dan komentar. Yakni, orang ini (Dzul Khuwaisirah) tidak mengangkat pedang melawan Rasulullah ﷺ, tetapi hanya sekedar mengingkari beliau ﷺ (dengan ucapan).

Kami sangat memahami, bahwa biasanya tidak akan terjadi pemberontakan dengan senjata, kecuali telah didahului oleh pemberontakan dengan kata-kata. Manusia tidaklah mungkin menyandang senjata mereka untuk memerangi penguasa, tanpa ada sesuatu yang dapat memrovokasi mereka. Pasti ada sesuatu yang bisa memrovokasi mereka, itulah ucapan (provokator). Maka pemberontakan kepada penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan sunnah dan kenyataan.” [Lihat Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, (hal. 96)]

Penjelasan di atas mengingatkan kita kepada salah satu sekte Khawarij yang bernama Al-Qo’adiyah. Mereka ini tidak ikut mengangkat senjata melawan penguasa dalam pemberontakan berdarah, tetapi kerjaan mereka hanyalah memrovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa dengan bait-bait syair maupun orasi-orasi di mimbar bebas.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Al-Qa’adiyah memrovokasi pemberontakan kepada para penguasa, meskipun mereka tidak terlibat langsung.” [Lihat Hadyus Sari, oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah-, hal. 459, sebagaimana dalam Syarru Qatla tahta Adimis Sama’, hal. 20]

Bahkan sebenarnya merekalah yang paling berbahaya dan paling dahsyat fitnahnya, karena biasanya orang-orang yang bisa melakukan provokasi adalah yang memiliki sedikit ilmu, yang dengannya dia menipu manusia. Seakan ia juga “Termasuk dalam jajaran ulama terpandang”, sehingga disebutkan dalam satu atsar dari Abdullah bin Muhammad Adh-Dha’if –rahimahullah-, ia berkata: “Kelompok al-Qa’adiyah ini merupakan pecahan Khawarij yang paling jelek!” [Riwayat Abu Dawud dalam Masaa’il Al-Imam Ahmad, (hal. 271), sebagaimana dalam Syarru Qatla tahta Adimis Sama’, (hal. 21)]

Syubhat Keempat dan Bantahannya:

Boleh menasihati penguasa secara terang-terangan, jika kemungkaran tersebut dilakukan secara terang-terangan, dengan dalil perbuatan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu’anhu- dalam menasihati Marwan, Walikota Madinah dan fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud –rahimahullah-

Adapun pembolehan menasihati penguasa secara terang-terangan, jika penyimpangan penguasa dilakukan terang-terangan, sebagaimana dalam kisah sahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- dan Fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud –rahimahullah-, beliau berkata dalam salah satu fatwa beliau: “Karenanya saya memandang, jika perkara yang hendak disampaikan sebagai nasihat merupakan perkara zahir, jelas dan nampak dalam artian kemungkaran itu nampak dan jelas, maka tidak mengapa memberi nasihat kepada penguasa dengan cara berhadapan dengannya, atau melalui kolom opini di koran-koran (termasuk artikel), melalui mimbar-mimbar, atau dengan metode-metode lainnya, jika kemungkaran tersebut jelas dan nampak di tengah-tengah manusia.”

Syubhat ini kami jawab dari beberapa sisi:

Pertama:

Kalau fatwa ini benar dari beliau, maka beliau sendiri (dalam fatwa yang sama) telah memberikan batasan-batasan dan siapa yang berhak melakukannya, di antaranya:

1). Dengan memerhatikan maslahat dan mafsadat. Jika kita lihat mafsadat-mafsadat besar yang sangat mungkin ditimbulkan dari cara menasihati pemerintah dengan terang-terangan, tentunya hal tersebut tidak boleh untuk dilakukan.

2). Bukan semua orang yang boleh melakukannya, tetapi para ulama yang benar-benar memiliki ilmu dalam masalah tersebut, dan memiliki kedudukan dalam pandangan pemerintah dan masyarakat. Hal ini jelas dari perkataan beliau dan pendalilan beliau dengan kisah Abu Sa’id al-Khudri -radhiyallahu’anhu-. Siapa Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu-, seorang ulama besar di kalangan sahabat, dibandingkan dengan Marwan seorang Tabi’in [1]? Kedudukannya adalah guru (Sahabat) dan murid (Tabi’in). Demikian pula, tidak semua Sahabat dan Tabi’in yang hadir pada saat itu melakukan pengingkaran secara terang-terangan.

Kedua:

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh sahabat Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu-, maka itu adalah perkara yang sangat mendesak dan sangat terkait dengan waktu yang singkat (yakni pelaksanaan shalat ‘Ied) dan terjadi di depan matanya, dan di depan khalayak ramai, sehingga tidak mungkin untuk ditunda. Karena kaidah yang disepakati, “Menunda penjelasan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh”.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “…. Terdapat adab bersama penguasa, lemah lembut terhadap mereka, menasihati mereka secara rahasia, dan menyampaikan perkataan manusia tentang mereka agar mereka berhenti dari kemungkaran tersebut. Ini semua dilakukan jika memungkinkan. Namun jika tidak memungkinkan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya terang-terangan, agar pokok kebenaran itu tidak ditelantarkan.” [Lihat Syarah Muslim, (18/118)]. Inilah maksud perkataan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah.

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah- menjelaskan perkataan Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- tersebut: “Perkataan beliau, “Ini semua dilakukan jika memungkinkan”, yakni, jika memungkinkan seseorang menasihati penguasa secara rahasia,  maka inilah yang wajib atasnya, tidak yang lainnya (yakni tidak boleh terang-terangan).”

“Adapun perkataan beliau (An-Nawawi): “Namun jika tidak memungkinkan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya terang-terangan, agar pokok kebenaran itu tidak ditelantarkan.” Maknanya adalah: “Janganlah seseorang mengingkari kemungkaran penguasa secara terang-terangan, kecuali dalam keadaan sangat genting (Daruroh Syadidah).”

Kemudian beliau (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah-) berkata dalam catatan kakinya: “Atas dasar inilah (yakni dalam keadaan darurat), dibawa perbuatan Salaf (dalam mengingkari kemungkaran penguasa terang-terangan), seperti kisah Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu- bersama Marwan, walikota Madinah, ketika ia mendahulukan khutbah atas shalat ‘Ied.” [Lihat Shahih Al-Bukhari (2/449 no. 956 bersama Fathul Bari kitab Al-’Idain, bab Al-Khuruj ilal Musholla bi ghayri Minbar]

Nabi ﷺ bersabda:

من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه

“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadits ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]

“Oleh karenanya, ketika ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu- mengingkari perbuatan Hisyam -radhiyallahu’anhu- (yaitu, dengan menyampaikan hadis di atas), karena pengingkaran Hisyam terhadap kemungkaran penguasa secara terang-terangan, tanpa ada kebutuhan mendesak (darurat), tidaklah yang dilakukan Hisyam -radhiyallahu’anhu-, kecuali tunduk (kepada hadis tersebut), wallahu A’lam.” (Lihat As-Sunnah fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul, softcopy dari www.sahab.net)

Ketiga:

Pengingkaran Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu benar-benar di depan penguasa tersebut, sehingga memungkinkan bagi sang penguasa untuk mengambil faidah “secara langsung” dari nasihat beliau, atau sebaliknya sang penguasa bisa memberikan bantahan, jika ia memiliki dalil atau pertimbangan khusus sebagai seorang pemimpin.

Adapun jika dengan menyebarkan artikel-artikel di media massa dan berorasi di mimbar-mimbar bebas yang tidak dihadiri oleh penguasa, maka belum tentu bisa dibaca atau didengarkan oleh penguasa (sebagai orang yang dinasihati). Malah yang terjadi adalah ghibah atau buhtan, pencemaran nama baik dan provokasi untuk memberontak kepada penguasa. Bagaimana bisa seseorang mengharamkan ghibah dan pencemaran nama baik dirinya dan para tokoh idolanya, sementara untuk penguasa dia bolehkan…Ma lakum kayfa tahkumun?!

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin –rahimahullah– menjelaskan: “Sesungguhnya mengingkari kemungkaran yang tersebar adalah hal yang dituntut dan tidak ada masalah dalam hal ini. Tapi yang menjadi masalah dalam pembahasan kita adalah pengingkaran terhadap seorang penguasa, seperti jika seseorang berpidato di masjid, kemudian ia berkata misalnya, “Negara (pemerintahnya) ini telah berbuat zalim”, “Pemerintah telah melakukan (kesalahan)”. Ia terus berbicara tentang kemungkaran penguasa dengan cara terang-terangan, padahal para penguasa tersebut tidak hadir dalam majelis itu. Jelas berbeda jika pemimpin atau penguasa yang ingin engkau nasihati itu ada di hadapan Anda dan ketika dia tidak ada. Karena semua pengingkaran secara terang-terangan yang dilakukan oleh generasi Salaf terjadi langsung di hadapan pemimpin atau penguasa. Bedanya, jika ia hadir, memungkinkan baginya untuk membela diri dan menjelaskan sisi pandangnya. Dan bisa jadi ia yang benar dan kita yang salah. Akan tetapi jika ia tidak hadir, tentunya ia tidak bisa membela diri dan ini termasuk kezaliman. Maka wajib bagi setiap kita untuk TIDAK berbicara tentang kejelekan seorang penguasa, tatkala ia tidak hadir. Olehnya, jika engkau sangat menginginkan kebaikan (bagi seorang penguasa), pergilah kepadanya, temuilah ia, lalu nasihati secara empat mata.” [Lihat Liqo’ Al-Babil Maftuh, pertemuan ke-62, hal. 46)

Keempat

Jika fatwa Asy-Syaikh Ibnu Qu’ud –rahimahullah- diterima secara mutlak tanpa ada batasan-batasan, sebagaimana yang beliau jelaskan sendiri, dan batasan-batasan lain yang dijelaskan oleh para ulama lainnya, maka hal tersebut sangat jelas bertentangan dengan dalil dan fatwa-fatwa para ulama lainnya, sebagaimana yang kami nukil di atas. Oleh karena itu kami mengingatkan kepada saudara-saudara kami yang menasihati penguasa secara terang-terangan karena mengikuti fatwa Asy-Syaikh Ibnu Qu’ud –rahimahullah-. Ketahuilah –kami mencintai kebaikan untuk kalian, sebagaimana kami cintai kebaikan itu untuk diri kami-:

Pertama: Kalaupun benar sebagaimana yang kalian katakan (bahwa ada khilaf dalam masalah ini), bukankah yang terbaik bagi kita untuk berhati-hati dengan memilih jalan yang lebih selamat?!

Kedua: Jika kita mencari setiap keringanan para ulama, niscaya kita akan binasa, sebagaimana diriwayatkan dari sebagian Salaf: “Barang siapa yang mencari-cari keringanan para ulama, maka dia telah mengarah kepada kemunafikan”.

Ketiga: Tidakkah kalian memikirkan mafsadat yang besar –terutama bagi orang-orang awam- jika pintu ini dibuka?!

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah- menerangkan, sedikitnya tiga kemungkaran besar yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, ketika seseorang menasihati penguasa secara terang-terangan, padahal masih memungkinkan untuk dinasihati secara rahasia:

Pertama: Menyelisihi hadis ‘Iyadh bin Ganm –radhiyallahu’anhu- yang memerintahkan untuk diam-diam dalam menasihati penguasa.

Kedua: Menyelisihi atsar-atsar dan Manhaj Salaf, seperti atsar Usamah bin Zaid dan Abdullah bin Abi Aufa dan selainnya radhiyallahu’anhum.

Ketiga: Menyelisihi hadis Nabi ﷺ: “Barang siapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Al-Bukhari)

(Lihat As-Sunnah fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul, softcopy dari www.sahab.net)

Syubhat Kelima dan Bantahannya:

Tidak mungkin menasihati penguasa seperti hadis ‘Iyadh bin Ganm maupun atsar Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhum- di zaman ini, dikarenakan aturan protokoler pemerintahan modern terlalu berbelit-belit, sehingga tidak memungkinkan setiap orang bisa bertemu empat mata dengan seorang pejabat. Maka terpaksa diambil jalan terakhir, yaitu dengan melakukan demonstrasi, tapi demo yang Islami atau aksi damai.

Menjawab syubhat ini kami katakan:

Pertama:

Hadis ‘Iyadh bin Ganm dan atsar Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhum itu tidak bermakna harus persis seperti teksnya, yaitu setiap orang yang ingin menasihati harus memegang tangan penguasa, menyepi dengannya atau bertemu empat mata dengannya. Masih ada cara lain yang dibolehkan, asalkan tidak terang-terangan, seperti penjelasan Asy-Syaikh Bin Baz –rahimahullah-: “Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah: menasihati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para ulama yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan.” (Haqqur Ro’iy war-Ro’iyyah, hal. 27)

Kedua:

Jika ternyata memang semua jalan yang disebutkan Asy-Syaikh Bin Baz –rahimahullah- tidak bisa sama sekali, atau penguasa tidak mau menuruti nasihat dan mengubah kebijakannya yang zalim, apakah kemudian boleh melakukan demonstrasi atau menyebar artikel nasihat dan teguran kepada pemerintah di media massa?

Jawabnya: TETAP TIDAK BOLEH, sebab hal tersebut bertentangan dengan dalil dan petunjuk Salaf dalam menghadapi keadaan semacam ini.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr –rahimahullah- berkata: “Jika tidak memungkinkan untuk menasihati penguasa (dengan cara yang syari), maka solusi akhirnya adalah sabar dan doa, karena dahulu mereka –yakni Sahabat- melarang dari mencaci penguasa”. Kemudian beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu-, beliau (Anas) berkata: “Dahulu para pembesar Sahabat Rasulullah ﷺ melarang dari mencaci para penguasa.” [Lihat At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)]

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri –rahimahullah- berkata: “Demi Allah, andaikan manusia bersabar dengan musibah berupa kezaliman penguasa, maka tidak akan lama Allah Ta’ala mengangkat kezaliman tersebut dari mereka. Namun apabila mereka mengangkat senjata melawan penguasa yang zalim, maka mereka akan dibiarkan oleh Allah. Dan demi Allah, hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan kapan pun. Kemudian beliau membaca firman Allah:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Maka sempurnalah kalimat Allah (janji-Nya) kepada Bani Israil, disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami musnahkan apa yang diperbuat oleh Fir’aun dan kaumnya dan apa yang mereka bina.” (Al-A’rof: 137).” [Lihat Madarikun Nazhor, (hal. 6)]

Penjelasan para ulama di atas dipahami dari banyak hadis Rasulullah ﷺ, di antaranya sabda beliau ﷺ:

من رأى من أميره شيئاً يكرهه فليصبر عليه ، فإنه من فارق الجماعة شبراً فمات إلا مات ميتة جاهلية

“Barang siapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya, barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas –radhiyallahu’anhuma-)

Juga sabda Nabi ﷺ:

إنكم سترون بعدي أثرة وأموراً تنكرونها قالوا: ما تأمرنا يا رسول الله قال: أدوا إليهم حقهم وسلوا الله حقكم

“Sesungguhnya kelak kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin), dan mintalah kepada Allah hak kalian (berdoa).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu’anhu-)

Dan sabda Nabi ﷺ:

قلنا يا رسول الله : أرأيت إن كان علينا أمراء يمنعونا حقنا ويسألونا حقهم ؟ فقال : اسمعوا وأطيعوا . فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم

“Kami bertanya: wahai Rasulullah, “Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Dengar dan taati (pemimpin negara kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR. Muslim dari Wail bin Hujr –radhiyallahu’anhu-)

Maka jelaslah, ketika sudah tidak ada lagi solusi lain untuk mengubah kemungkaran penguasa, TIDAK DIBENARKAN SAMA SEKALI MELAKUKAN DEMONSTRASI, meskipun berupa aksi damai. Dan tidak pula dengan menyebar artikel dan berbicara tentang kejelekan penguasa di khalayak ramai, karena semua itu bertentangan dengan tuntunan Allah Ta’ala, yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, TIDAK ADA DALAM ISLAM ISTILAH DEMONSTRASI ISLAMI. Adapun yang dituntunkan oleh teladan kita, Nabi ﷺ dan para sahabat –radhiyallahu’anhum– adalah sabar dan doa.

Inilah sebaik-baiknya solusi bagi orang-orang yang beriman kepada ayat Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Wallahu A’la wa A’lam wa Huwal Muwaffiq.

 

(Artikel ini dialihtuliskan untuk umum dari artikel khusus kami di www.almakassari.com)

Catatan Kaki

[1] Meskipun Marwan lahir dua atau empat tahun setelah hijrahnya Nabi ﷺ ke Madinah, namun ia tidak pernah melihat Nabi ﷺ. Demikian pendapat Al-Imam Al-Bukhari –rahimahullah- [Lihat At-Tahdzib, (10/82/no. 167) dan At-Taqrib, (no. 6567)]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

[SofyanRuray.Info]

http://sofyanruray.info/tuntunan-islam-dalam-menasihati-penguasa-sebuah-renungan-bagi-para-pencela-pemerintah/

, , ,

TUNTUNAN ISLAM DALAM MENASIHATI PENGUASA

TUNTUNAN ISLAM DALAM MENASIHATI PENGUASA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

TUNTUNAN ISLAM DALAM MENASIHATI PENGUASA

(Sebuah Renungan bagi Para Pencela Pemerintah)

Taat Pemerintah adalah Aqidah Ahlus Sunnah

Telah dimaklumi bersama, bahwa mengubah kemungkaran dan menasihati pelakunya adalah kewajiban setiap Muslim sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)

Akan tetapi masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami, bahwa untuk mengubah kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah Muslim, tidak sama dengan mengubah kemungkaran yang dilakukan oleh selainnya. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran yang dilakukan penguasa dijadikan sebagai komoditi untuk meraih keuntungan oleh sebagian media massa. Mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemonstrasi, tak ketinggalan pula para “aktivis Islam” atau “aktivis dakwah” melakukan “aksi damai”, yang menurut mereka itulah demo Islami, sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban.

Namun yang sangat mengherankan, ada sebagian orang yang mengaku Ahlus Sunnah, pengikut sunnah Rasulullah ﷺ pun turut serta melakukan demonstrasi (yang mereka namakan dengan aksi damai) dan mengritik pemerintah Muslim secara terang-terangan di media massa. Maka seperti apakah bimbingan Rasulullah ﷺ dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam masalah ini?

Rasulullah ﷺ yang ma’shum, yang tidak berkata kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya. Semua perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:

من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه

“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-. Hadis ini di-shahih-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)]

Demikianlah bimbingan Nabi yang mulia teladan kita ﷺ, dalam menasihati penguasa. Lalu seperti apakah pemahaman dan pengamalan terhadap hadis di atas oleh para pengikut sunnah yang sejati, yakni para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah?

Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim –rahimahumallah– dalam Shahih keduanya meriwayatkan:

قيل لأسامة لو أتيت فلانا (عند الامام مسلم: عثمان بن عفان –رضي الله عنه-) فكلمته . قال إنكم لترون أنى لا أكلمه إلا أسمعكم ، إنى أكلمه فى السر دون أن أفتح بابا لا أكون أول من فتحه

“Dikatakan kepada Usamah (bin Zaid) radhiyallahu’anhuma: “Kalau sekiranya engkau mendatangi si Fulan (dalam riwayat Al-Imam Muslim, si Fulan yang dimaksud adalah: Utsman bin Affan radhiyallahu‘anhu), lalu engkau menasihatinya?” Usamah menjawab: “Sesungguhnya kalian benar-benar mengira, bahwa aku tidak menasihatinya, kecuali jika aku memerdengarkannya kepada kalian?! Sungguh aku telah menasihatinya secara diam-diam, tanpa aku membuka sebuah pintu, yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.” [HR. Al-Bukhari, (no. 3267, 7098) dan Muslim, (no. 7408) dari Abu Wa’il radhiyallahu’anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- menjelaskan maksud perkataan Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma-: “Sungguh aku telah berbicara (menasihati) beliau tanpa aku membuka sebuah pintu“, maknanya adalah: “Aku telah menasihatinya dalam perkara yang kalian isyaratkan tersebut, tetapi dengan memerhatikan maslahat dan adab (dalam menasihati penguasa), yakni secara rahasia, sehingga tidak terjadi pada perkataan (nasihatku) ini, sesuatu yang bisa mengobarkan fitnah.” [Lihat Fathul Bari, (13/51)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- juga menukil penjelasan sebagian ulama tentang kemungkaran yang diisyaratkan kepada Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma-, ternyata bukanlah kemungkaran yang tersembunyi dari masyarakat, tetapi kemungkaran yang zahir, dan telah tersebar beritanya di tengah-tengah masyarakat, yaitu tentang salah seorang pejabat Utsman bin Affan -radhiyallahu’anhu– yang bernama Al-Walid bin ‘Uqbah yang tercium dari mulutnya bau nabidz (sejenis khamar), kemudian Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata dalam menjelaskan perkataan Usamah:

“Sungguh aku telah menasihatinya secara rahasia (tidak terang-terangan), tanpa aku membuka sebuah pintu”, makna (pintu) yang dimaksud adalah: “Pintu pengingkaran atas kemungkaran para penguasa secara terang-terangan, karena khawatir akan memecah belah kalimat (yakni persatuan kaum Muslimin di bawah seorang pemimpin)”. Kemudian beliau (Usamah) memberitahu, mereka bahwa ia tidak sedikit pun mencari muka pada seseorang, meskipun pada seorang pemimpin. Akan tetapi ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menasihati pemimpin secara rahasia (tidak terang-terangan)”. [Lihat Fathul Bari, (13/52)]

Al-Qodhi ‘Iyadh –rahimahullah– berkata: “Maksud Usamah, bahwa ia tidak ingin membuka pintu (memberi contoh) cara mengingkari penguasa dengan terang-terangan, karena ia khawatir dampak buruk dari cara tersebut. Akan tetapi yang beliau lakukan adalah dengan lemah lembut dan menasihati secara rahasia, karena cara tersebut lebih dapat diterima”. [Lihat Fathul Bari, (13/52)]

Al-‘Allamah Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi –rahimahullah- juga menjelaskan perkataan Usamah bin Zaid -radhiyallahu’anhuma-, “Sungguh aku telah menasihatinya secara rahasia“, maknanya, “Aku menasehati penguasa secara diam-diam, sehingga aku tidak membuka sebuah pintu dari pintu-pintu fitnah. Kesimpulannya, aku (Usamah) menasihatinya, demi meraih kemaslahatan, bukan untuk memprovokasi munculnya fitnah (masalah). Karena cara mengingkari para penguasa dengan terang-terangan terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya. Sebab pada cara tersebut terdapat pencemaran nama baik para pemimpin yang mengantarkan kepada terpecahnya kalimat (persatuan kaum Muslimin) dan tercerai-berainya jamaah”. [Lihat Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, (23/33)]

Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah– dalam menerangkan perkataan Usamah pada riwayat Muslim, beliau berkata: “Aku membuka perkara yang aku tidak suka, jika akulah yang pertama membukanya (yakni mencontohkan keburukan).” Maknanya adalah: “Terang-terangan dalam menasihati penguasa di depan khalayak, sebagaimana pernah terjadi pada para pembunuh ‘Utsman -radhiyallahu’anhu-. Dalam hadis ini terdapat adab bersama penguasa, lemah lembut terhadap mereka, menasihati mereka secara rahasia dan menyampaikan perkataan manusia tentang mereka, agar mereka berhenti dari kemungkaran tersebut. Ini semua dilakukan jika memungkinkan. Namun jika tidak memungkinkan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya terang-terangan, agar pokok kebenaran itu tidak ditelantarkan.” [Lihat Syarah Muslim, (18/118)]

Peringatan: Perkataan Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- pada bagian akhir yang kami garisbawahi di atas maksudnya adalah, jika keadaan memaksa untuk itu (bukan pada semua keadaan), karena hal tersebut bukanlah kebiasaan para sahabat, sebagaimana perbuatan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallahu’anhu– yang dijadikan dalil oleh hizbiyun untuk membolehkan menasihati pemerintah secara terang-terangan, yang insya Allah akan kami jawab dalam penjelasan syubhat dan bantahannya.

Al-Imam Al-Qurthubi -rahimahullah- menerangkan perkataan Usamah dalam riwayat Muslim: “Sungguh aku telah menasihatinya secara empat mata”, maksudnya adalah, “Ia (Usamah) telah menasihati Utsman -radhiyallahu’anhu- secara langsung dengan perkataan yang lembut. Karena yang demikian itu lebih hati-hati untuk menghindari cara terang-terangan dalam mengingkari penguasa dan menghindari sikap penentangan terhadap penguasa. Sebab cara menasihati penguasa dengan terang-terangan sangat berpotensi melahirkan berbagai macam fitnah dan kerusakan.” [Lihat Al-Mufhim Syarah Shohih Muslim, (6/619)]

Al-Imam Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata: “Sepatutnya bagi orang yang mengetahui kesalahan penguasa dalam sebagian masalah agar ia menasihati penguasa tersebut. Dan janganlah ia menampakan celaan kepada penguasa di depan publik. Akan tetapi sebagaimana terdapat dalam hadis (yakni hadis ‘Iyadh bin Ganm -radhiyallahu’anhu-), hendaklah ia meraih tangan sang penguasa dan menyepi dengannya, lalu menasihatinya. Dan janganlah ia menghinakan sultan (penguasa) Allah”.[Lihat As-Sail Al-Jarrar, (4/556)]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di –rahimahullah– berkata: “Bagi siapa yang melihat suatu kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa, hendaklah ia memeringatkan mereka secara rahasia, tidak terang-terangan di khalayak, dengan cara yang lembut dan perkataan yang sesuai dengan keadaan.” [Lihat Ar-Riyadh An-Nadhirah, (hal. 50)]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz –rahimahullah– berkata: “Bukan termasuk Manhaj Salaf, membeberkan aib-aib penguasa, dan menyebutkannya di atas mimbar-mimbar, karena hal itu akan mengantarkan kepada ketidakstabilan (negara). Sehingga masyarakat tidak mau dengar dan taat kepada pemerintah dalam perkara ma’ruf, dan mengantarkan kepada pemberontakan yang merusak dan tidak bermanfaat. Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah menasihati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para ulama yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan”. [Lihat Haqqur Ro’iy war-Ro’iyyah, (hal. 27)]

Faqihuz Zaman Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah– berkata: “Memublikasikan nasihat yang kita sampaikan kepada pemerintah terdapat dua mafsadat (kerusakan). Pertama: Hendaklah setiap orang khawatir, jangan sampai dirinya tertimpa riya’, sehingga terhapus amalannya.

Kedua: Jika pemerintah tidak menerima nasihat tersebut, maka jadilah itu sebagai alasan bagi masyarakat awam untuk menentang pemerintah. Pada akhirnya mereka melakukan revolusi (pemberontakan) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.” [Dari kaset Asilah haula Lajnah Al-Huquq As-Syariyah, sebagaimana dalam Madarikun Nazhor, (hal. 211)]

Dari penjelasan para ulama di atas, telah sangat jelas bahwa DALAM MENASIHATI PENGUASA TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA TERANG-TERANGAN, baik melalui DEMONSTRASI, berbicara di mimbar-mimbar terbuka, ataupun melalui kolom opini dan artikel yang disebarkan secara terbuka di media-media. Apabila hal tersebut dilakukan, maka akan melahirkan mafsadat-mafsadat yang besar di antaranya:

  1. Memprovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa, terlebih jika nasihat tersebut tidak diindahkan oleh penguasa. Maka akibatnya akan menceraiberaikan kesatuan kaum Muslimin (lihat penjelasan Ibnu Hajar, Al-‘Aini dan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin –rahimahumullah-)
  2. Cara mengingkari kemungkaran penguasa dengan terang-terangan terdapat semacam sikap penentangan terhadapnya (lihat penjelasan Al-Imam Al-‘Aini dan Al-Imam Al-Qurthubi –rahimahumallah-)
  3. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah Muslim (lihat penjelasan Al-Imam Al-‘Aini –rahimahullah-)
  4. Membuat masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal ma’ruf (lihat penjelasan Asy-Syaikh Bin Baz –rahimahullah-)
  5. Menyebabkan permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya (lihat penjelasan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah- dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99)
  6. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa (lihat penjelasan Al-Qodhi ‘Iyadh –rahimahullah-)
  7. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang Muslim, sebagaimana yang terjadi pada para pembunuh Utsman -radhiyallahu’anhu- (lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- dan juga penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dalam Mukhtashor Shahih Muslim, hal. 335)
  8. Menghinakan Sulthan Allah (lihat penjelasan Al-Imam Asy-Syaukani –rahimahullah-)
  9. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya (lihat penjelasan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullah-)
  10. Menyelisihi dalil dan jalan As-Salafus Shalih
  11. Mengikuti jalan Ahlul Bid’ah (Khawarij)

Renungan Bagi para Pencela Pemerintah

Menasihati penguasa secara terang-terangan termasuk dalam kategori pemberontakan yang merupakan karakter Khawarij, yakni satu sekte sesat yang dikenal dengan sikap pemberontakannya kepada pemerintah Muslim yang mereka anggap zalim dan tidak berhukum dengan hukum Allah. Maka janganlah sampai engkau tergolong dalam kelompok Khawarij -wahai pencela pemerintah- yang telah diperingatkan oleh Nabi ﷺ:

كلاب النار شر قتلى تحت أديم السماء خير قتلى من قتلوه

“Mereka adalah anjing-anjing neraka; seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit. Sedang sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” [HR. At-Tirmidzi, (no. 3000), dari Abu Umamah Al-Bahili -radhiyallahu’anhu-, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, (no. 3554)]

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah- berkata: “Nasihat kepada penguasa secara rahasia merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok Manhaj Salaf yang diselisihi oleh Ahlul Ahwa’ Wal Bida’, seperti Khawarij.”

Beliau (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah-) juga menjelaskan, bahwa menyebarkan aib-aib penguasa merupakan bentuk pertolongan kepada Khawarij dalam membunuh penguasa Muslim. Sehingga jelas, bahwa pemberontakan itu tidak hanya dengan senjata, tapi juga dengan lisan.

Beliau berkata: “Hal tersebut dilarang, karena bisa mengantarkan kepada perbuatan menumpahkan darah dan pembunuhan, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam At-Tabaqot, dari Abdullah bin Ukaim al-Juhani, bahwa beliau berkata:

“Aku tidak akan menolong pembunuhan seorang Khalifah selamanya setelah Utsman”. Maka dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Ma’bad, apakah engkau telah membantu (Khawarij) dalam membunuh Utsman?” Maka beliau berkata: “Sungguh aku menganggap perbuatan membicarakan keburukan-keburukan beliau sebagai bentuk pertolongan kepada (Khawarij) dalam membunuhnya”.

Maka camkanlah baik-baik atsar ini, tatkala beliau menganggap pembicaraan tentang kejelekan-kejelekan penguasa, termasuk perkara yang membantu pembunuhannya.”

Kemudian beliau (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul hafizhahullah) memberikan komentar pada catatan kaki: “Atsar ini memberikan faidah pelajaran, bahwa pemberontakan itu dapat terjadi dengan senjata (pedang), maupun dengan ucapan. Berbeda dengan pendapat (yang salah), bahwa pemberontakan itu tidak terjadi kecuali dengan senjata. Maka camkanlah ini baik-baik dan ingatlah selalu.”

Beliau juga menukil penegasan Asy-Syaikh Bin Baz –rahimahullah-: “Bukan termasuk Manhaj Salaf menelanjangi aib-aib penguasa dan membicarakannya di atas mimbar-mimbar, karena hal tersebut mengantarkan kepada kudeta dan ketidaktaatan masyarakat dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa. Lebih dari itu, mengantarkan kepada pemberontakan yang hanya membahayakan dan tidak bermanfaat.” [Lihat artikel As-Sunnah fii maa Yata’allaqu bi Waliyyil Ummah, oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah-, softcopy dari www.sahab.net]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

, , ,

RENUNGAN BAGI PARA PENDEMO DAN PENCELA PEMERINTAH

RENUNGAN BAGI PARA PENDEMO DAN PENCELA PEMERINTAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

RENUNGAN BAGI PARA PENDEMO DAN PENCELA PEMERINTAH

Menasihati penguasa secara terang-terangan termasuk dalam kategori pemberontakan yang merupakan karakter Khawarij, yakni satu sekte sesat yang dikenal dengan sikap pemberontakannya kepada pemerintah Muslim yang mereka anggap zalim dan tidak berhukum dengan hukum Allah. Maka janganlah sampai engkau tergolong dalam kelompok Khawarij -wahai pencela pemerintah- yang telah diperingatkan oleh Nabi ﷺ:

كلاب النار شر قتلى تحت أديم السماء خير قتلى من قتلوه

“Mereka adalah anjing-anjing Neraka; seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit. Sedang sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” [HR. At-Tirmidzi, (no. 3000), dari Abu Umamah Al-Bahili -radhiyallahu’anhu-, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, (no. 3554)]

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah- berkata: “Nasihat kepada penguasa secara rahasia merupakan salah satu POKOK dari pokok-pokok Manhaj Salaf yang diselisihi oleh Ahlul Ahwa’ Wal Bida’, seperti Khawarij.”

Beliau (Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul –hafizhahullah-) juga menjelaskan, bahwa menyebarkan aib-aib penguasa merupakan bentuk pertolongan kepada Khawarij dalam membunuh penguasa Muslim. Sehingga jelas bahwa pemberontakan itu tidak hanya dengan senjata, tapi juga dengan lisan.

Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk sabar dan doa, bersabar dan bertakwa ketika berhadapan dengan penguasa yang zalim. Beliau ﷺ bersabda:

من رأى من أميره شيئاً يكرهه فليصبر عليه ، فإنه من فارق الجماعة شبراً فمات إلا مات ميتة جاهلية

“Barang siapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya, barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas –radhiyallahu’anhuma-)

Juga sabda Nabi ﷺ:

إنكم سترون بعدي أثرة وأموراً تنكرونها قالوا: ما تأمرنا يا رسول الله قال: أدوا إليهم حقهم وسلوا الله حقكم

“Sesungguhnya kelak kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian (berdoa).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu’anhu)

Dan sabda Nabi ﷺ:

قلنا يا رسول الله : أرأيت إن كان علينا أمراء يمنعونا حقنا ويسألونا حقهم ؟ فقال : اسمعوا وأطيعوا . فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم

“Kami bertanya: wahai Rasulullah, “Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Dengar dan taati (pemimpin negara kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka, dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR. Muslim dari Wail bin Hujr –radhiyallahu’anhu-)

Maka jelaslah, ketika sudah tidak ada lagi solusi lain untuk mengubah kemungkaran penguasa, tidak dibenarkan sama sekali melakukan demonstrasi, meskipun berupa aksi damai dan tidak pula dengan menyebar artikel dan berbicara tentang kejelekan penguasa di khalayak ramai, karena semua itu bertentangan dengan tuntunan Allah Ta’ala, yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, TIDAK ADA DALAM ISLAM, ISTILAH DEMONSTRASI ISLAMI. Adapun yang dituntunkan oleh teladan kita, Nabi ﷺ dan para sahabat –radhiyallahu’anhum– adalah sabar dan doa.

Inilah sebaik-baiknya solusi bagi orang-orang yang beriman kepada ayat Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Demi Allah. Andaikan manusia bersabar dengan musibah berupa kezaliman penguasa, maka tidak lama Allah ta’ala akan menghilangkan kezaliman tersebut dari mereka. Namun apabila mereka mengangkat senjata melawan penguasa yang zalim, maka mereka akan dibiarkan oleh Allah. Dan demi Allah, hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan kapan pun. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Maka sempurnalah kalimat Rabb-mu yang Maha Baik kepada Bani Israil, disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami musnahkan apa yang diperbuat oleh Fir’aun dan kaumnya, dan apa yang mereka bina.” (Al-A’rof: 137).” [Lihat Madarikun Nazhor, hal. 6]

Al-Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah juga berkata:

إن الحجاج عذاب الله فلا تدفعوا عذاب الله بأيديكم ولكن عليكم بالاستكانة والتضرع فإن الله تعالى يقول ولقد أخذناهم بالعذاب فما استكانوا لربهم وما يتضرعون

“Sesungguhnya Al-Hajjaj (penguaza zalim) adalah azab Allah. Maka janganlah kalian menolak azab Allah dengan tangan-tangan kalian. Akan tetapi hendaklah kalian merendahkan diri karena takut kepada-Nya, dan tunduk berdoa, karena Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sungguh Kami telah timpakan kepada mereka azab, namun mereka tidak takut kepada Rabb mereka dan tidak pula berdoa.” (Al-Mu’minun: 76).” [Lihat Minhaajus Sunnah, 4/315]

 

Sumber:

Tulisan berjudul “Sepanjang Sejarah Kudeta Mudaratnya Lebih Besar, Ambillah Pelajaran…!” oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

http://sofyanruray.info/sepanjang-sejarah-kudeta-mudaratnya-lebih-besar-ambillah-pelajaran/

Tulisan berjudul: “Tuntunan Islam Dalam Menasihati Penguasa” oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

 

, ,

SOLUSI DALAM MENGHADAPI PEMERINTAH YANG ZALIM

SOLUSI DALAM MENGHADAPI PEMERINTAH YANG ZALIM

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

SOLUSI DALAM MENGHADAPI PEMERINTAH YANG ZALIM

Islam adalah agama yang sempurna. Jika melarang sesuatu, maka pasti ada solusinya yang lebih baik. Dan jika seseorang kembali kepada metode beragama yang benar (manhaj Salaf), insya Allah ta’ala ia akan temukan semua solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi umat manusia, yaitu dengan bimbingan ilmu dan merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sabar dan doa, bersabar dan bertakwa. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ ketika berhadapan dengan penguasa yang zalim. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa yang melihat suatu (kemungkaran) yang ia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya, barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah), kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian (berdoa).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu]

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Demi Allah. Andaikan manusia bersabar dengan musibah berupa kezaliman penguasa, maka tidak lama Allah ta’ala akan menghilangkan kezaliman tersebut dari mereka. Namun apabila mereka mengangkat senjata melawan penguasa yang zalim, maka mereka akan dibiarkan oleh Allah. Dan demi Allah, hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan kapan pun. Kemudian beliau membaca firman Allah ta’ala:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Maka sempurnalah kalimat Rabb-mu yang Maha Baik kepada Bani Israil, disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami musnahkan apa yang diperbuat oleh Fir’aun dan kaumnya, dan apa yang mereka bina.” (Al-A’rof: 137).” [Lihat Madarikun Nazhor, hal. 6]

Al-Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah juga berkata:

إن الحجاج عذاب الله فلا تدفعوا عذاب الله بأيديكم ولكن عليكم بالاستكانة والتضرع فإن الله تعالى يقول ولقد أخذناهم بالعذاب فما استكانوا لربهم وما يتضرعون

“Sesungguhnya Al-Hajjaj (penguaza zalim) adalah azab Allah. Maka janganlah kalian menolak azab Allah dengan tangan-tangan kalian. Akan tetapi hendaklah kalian merendahkan diri karena takut kepada-Nya, dan tunduk berdoa, karena Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sungguh Kami telah timpakan kepada mereka azab, namun mereka tidak takut kepada Rabb mereka dan tidak pula berdoa.” (Al-Mu’minun: 76).” [Lihat Minhaajus Sunnah, 4/315]

Al-Imam Thalq bin Habib rahimahullah berkata:

اتقوا الفتنة بالتقوى فقيل له أجمل لنا التقوى فقال أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو رحمة الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عذاب الله رواه أحمد وابن أبي الدنيا

“Hadapilah fitnah (kekacauan) dengan ketakwaan.” Maka dikatakan kepada beliau: “Jelaskan kepada kami secara global, apa itu takwa?” Beliau berkata: “Takwa adalah engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, dalam keadaan engkau mengharap rahmat Allah. Dan engkau tinggalkan kemaksiatan kepada Allah, berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, dalam keadaan engkau takut azab Allah.” (Diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Abid Dunya).” [Lihat Minhaajus Sunnah, 4/315]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وكان أفاضل المسلمين ينهون عن الخروج والقتال في الفتنة كما كان عبد الله بن عمر وسعيد بن المسيب وعلي بن الحسين وغيرهم ينهون عام الحرة عن الخروج على يزيد وكما كان الحسن البصري ومجاهد وغيرهما ينهون عن الخروج في فتنة ابن الأشعث ولهذا استقر أمر أهل السنة على ترك القتال في الفتنة للأحاديث الصحيحة الثابته عن النبي صلى الله عليه وسلم وصاروا يذكرون هذا في عقائدهم ويأمرون بالصبر على جور الأئمة وترك قتالهم وإن كان قد قاتل في الفتنة خلق كثير من أهل العلم والدين

“Para pembesar kaum Muslimin melarang dari pemberontakan dan peperangan dalam masa fitnah, sebagaimana Abdullah bin Umar, Sa’id bin Al-Musayyib, Ali bin Al-Hasan dan selainnya melarang kaum Muslimin dari pemberontakan terhadap Yazid di masa Al-Harah. Sebagaimana juga Al-Hasan Al-Basri, Mujahid dan selainnya melarang dari pemberontakan pada fitnah Ibnul Asy’ats. Oleh karena itu, telah tetap pendapat Ahlus Sunnah, bahwa TIDAK BOLEH BERPERANG di masa fitnah, berdasarkan hadis-hadis shahih yang berasal dari Nabi ﷺ. Dan para ulama terus menyebutkan hal ini dalam kitab-kitab akidah mereka. Dan para ulama memerintahkan umat untuk bersabar menghadapi kezaliman penguasa dan tidak memerangi mereka, meskipun pernah terlibat banyak ahli ilmu dan ibadah dalam peperangan di masa fitnah (tetap saja hal itu salah).” [Mihaajus Sunnah, 4/315-316]

 

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

http://sofyanruray.info/sepanjang-sejarah-kudeta-mudaratnya-lebih-besar-ambillah-pelajaran/

 

 

, ,

HARAMNYA PEMBERONTAKAN MESKI TERHADAP PEMERINTAH YANG MERAIH KEKUASAAN DENGAN CARA YANG SALAH

HARAMNYA PEMBERONTAKAN MESKI TERHADAP PEMERINTAH YANG MERAIH KEKUASAAN DENGAN CARA YANG SALAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

HARAMNYA PEMBERONTAKAN MESKI TERHADAP PEMERINTAH YANG MERAIH KEKUASAAN DENGAN CARA YANG SALAH

Al-Imam Ali bin Madini rahimahullah berkata:

ومن خرج علي امام من ائمة المسلمين وقد اجتمع عليه الناس فأقروا له بالخلافة بأي وجه كانت برضا كانت أو بغلبة فهو شاق هذا الخارج عليه العصا وخالف الآثار عن رسول الله صلى الله عليه و سلم فإن مات الخارج عليه مات ميتة جاهلية

“Barang siapa yang memberontak kepada salah seorang pemimpin kaum Muslimin, padahal manusia telah berkumpul di bawah kepemimpinannya, mereka pun mengakui kepemimpinannya, dengan cara apa saja ia mendapati kepemimpinan itu, apakah dengan kerelaan atau dengan paksa, maka orang yang memberontak itu telah merusak persatuan kaum Muslimin dan menyelisihi hadis-hadis Rasulullah ﷺ. Jika pemberontak ini mati, maka matinya jahiliyah.”[Syarhul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah lil Laalikaai, 1/168]

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:

“Aku memandang wajibnya mendengar dan menaati para pemimpin kaum Muslimin, apakah itu pemimpin yang baik maupun jahat, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan. Dan siapa yang memimpin khilafah dan manusia bersatu dalam kepemimpinannya, mereka ridho kepadanya, meski pun dia mengalahkan mereka dengan pedang hingga menjadi pemimpin, maka wajib taat kepadanya dan haram memisahkan diri (memberontak) kepadanya.” [Syarhu Risalah Ila Ahlil Qosim, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 157]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

http://sofyanruray.info/sepanjang-sejarah-kudeta-mudaratnya-lebih-besar-ambillah-pelajaran/

 

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA PEMBERONTAKAN

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA PEMBERONTAKAN

بسم الله الرحمن الرحيم

#Nasihat_Ulama

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA PEMBERONTAKAN

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah berkata:

 ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أُمورنا ، وإن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ، ولا ننزع يداً من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضةً ، ما لم يأمروا بمعصيةٍ ، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة

 “Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim. Kami tidak mendoakan kejelekan bagi mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka, dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.” [Matan Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah]

Ulama Besar Syafi’iyah Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

 وأجمع أهل السنة أنه لا ينعزل السلطان بالفسق وأما الوجه المذكور في كتب الفقه لبعض أصحابنا أنه ينعزل وحكى عن المعتزلة أيضا فغلط من قائله مخالف للإجماع قال العلماء وسبب عدم انعزاله وتحريم الخروج عليه ما يترتب على ذلك من الفتن واراقة الدماء وفساد ذات البين فتكون المفسدة في عزله أكثر منها في بقائه قال القاضي عياض أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل

 “Ahlus Sunnah telah sepakat, bahwa tidak boleh seorang penguasa dilengserkan karena kefasikan (dosa besar) yang ia lakukan. Adapun pendapat yang disebutkan pada kitab-kitab fikih yang ditulis oleh sebagian sahabat kami (Syafi’iyah), bahwa penguasa yang fasik harus dilengserkan dan pendapat ini juga dinukil dari kaum Mu’tazilah, maka TELAH SALAH BESAR. Orang yang berpendapat demikian menyelisihi Ijma’.

Para ulama telah berkata: “Sebab tidak bolehnya penguasa zalim dilengserkan dan haramnya memberontak kepadanya, karena akibat dari hal itu akan muncul berbagai macam fitnah (kekacauan), ditumpahkannya darah dan rusaknya hubungan, sehingga KERUSAKAN dalam pencopotan penguasa zalim LEBIH BANYAK dibanding tetapnya ia sebagai penguasa”. Al-Qodhi ‘Iyadh –rahimahullah- berkata: “Ulama sepakat, bahwa kepemimpinan tidak sah bagi orang kafir, dan jika seorang pemimpin menjadi kafir, harus dicopot.” [Syarhu Muslim, 12/229]

AI-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

 وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء

 “Dan telah sepakat fuqoha atas wajibnya taat kepada penguasa yang sedang berkuasa dan berjihad bersamanya. Dan (mereka juga sepakat), bahwa taat kepadanya lebih baik dibanding memberontak, sebab dengan itu darah terpelihara dan membuat nyaman kebanyakan orang.” [Lihat Fathul Bari, 13/7]

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

http://sofyanruray.info/sepanjang-sejarah-kudeta-mudaratnya-lebih-besar-ambillah-pelajaran/

 

, ,

HARAMNYA PEMBERONTAKAN KEPADA PENGUASA MUSLIM YANG ADIL MAUPUN YANG ZALIM

HARAMNYA PEMBERONTAKAN KEPADA PENGUASA MUSLIM YANG ADIL MAUPUN YANG ZALIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

HARAMNYA PEMBERONTAKAN KEPADA PENGUASA MUSLIM YANG ADIL MAUPUN YANG ZALIM

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِه شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa yang melihat suatu (kemungkaran) yang ia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Karena sesungguhnya, barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) sejengkal saja, kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَة وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah, hak kalian.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّة لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan ada sepeninggalku para penguasa yang tidak meneladani petunjukku dan tidak mengamalkan sunnahku. Dan akan muncul di antara mereka (para penguasa), orang-orang yang hati-hati mereka adalah hati-hati setan dalam jasad manusia.” Aku (Hudzaifah) berkata: “Bagaimana aku harus bersikap, jika aku mengalami hal seperti ini?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau tetap dengar dan taat kepada pemimpin itu, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, maka dengar dan taatlah.” [HR. Muslim dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu’anhu]

Sahabat yang Mulia Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu berkata:

دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَايَعْنَاه فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Rasulullah ﷺ menyeru kami, lalu kami pun membai’at beliau ﷺ. Di antara sesuatu yang beliau ambil bai’at atas kami adalah, kami membai’at beliau untuk senantiasa mendengar dan taat kepada pemimpin, baik pada saat kami senang maupun susah; sempit maupun lapang, dan dalam keadaan hak-hak kami tidak dipenuhi, serta agar kami tidak berusaha merebut kekuasaan dari pemiliknya. Beliau ﷺ bersabda: “Kecuali jika kalian telah melihat kekafiran yang nyata, sedang kalian memiliki dalil dari Allah tentang kekafirannya.” [HR. AAl-Bukhar dan Muslim]

Sahabat yang Mulia Wail bin Hujr radhiyallahu’anhu berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَرَجُلٌ سَأَلَهُ فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَمْنَعُونَا حَقَّنَا وَيَسْأَلُونَا حَقَّهُم فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ ketika seseorang bertanya kepada beliau ﷺ: “Apa pendapat Anda jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Dengar dan taati (pemimpin kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” [HR. Muslim dan AAt-Tirmidz, Ash-Shahihah: 3176]

BANTAHAN TERHADAP PENDAPAT BOLEHNYA MEMBERONTAK TERHADAP PEMIMPIN YANG ZALIM KARENA TELAH DILAKUKAN OLEH SEBAGIAN SALAF

Pertama: Pendapat yang membolehkan pemberontakan adalah pendapat yang SANGAT LEMAH, karena BERTENTANGAN dengan dalil-dalil syariat.

Kedua: Andai benar sekalipun, bahwa sebagian ulama Ahlus Sunnah dahulu ada yang berpendapat boleh memberontak kepada pemimpin yang zalim, maka ketahuilah, setelah itu ulama SEPAKAT atas KEHARAMANNYA.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

قال القاضي وقيل أن هذا الخلاف كان أولا ثم حصل الإجماع على منع الخروج عليهم والله اعلم

“Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: Dan dikatakan bahwa khilaf ini terjadi dahulu. Kemudian telah sepakat (ijma’ ulama) akan dilarangnya pemberontakan, wallaahu a’lam.” [Syarah Muslim, 12/229]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وقولهم كان يرى السيف يعني كان يرى الخروج بالسيف على ائمة الجور وهذا مذهب للسلف قديم لكن استقر الامر على ترك ذلك لما رأوه قد افضى إلى أشد منه ففي وقعة الحرة ووقعة ابن الاشعث وغيرهما عظة لمن تدبر

“Dan ucapan para Ulama: (كان يرى السيف), maknaknya adalah, dia (Al-Hasan bin Shalih) berpendapat boleh memberontak dengan pedang terhadap penguasa yang zalim. Pendapat ini dahulu merupakan mazhab sebagian Salaf. Akan tetapi setelah itu telah tetap pendapat Salaf akan TIDAK bolehnya melakukan pemberontakan, karena mereka telah melihat, bahwa pemberontakan hanya mengantarkan kepada kondisi yang lebih buruk. Pada peristiwa Al-Harah, pemberontakan Ibnul Asy’ats dan lainnya, terdapat pelajaran bagi orang yang merenunginya.” [Tahzibut Tahzib, 2/250]

Ketiga: Setelah kesepakatan ulama ini, tetapi masih ada saja penuntut ilmu yang menyebarkan pendapat, bahwa ulama berbeda pendapat, dan berdalil dengan perbuatan sebagian ulama yang menyelisihi dalil, maka sesungguhnya ia BUKAN penuntut ilmu melainkan pencari ‘fitnah’.

Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

الذي يقول هذا الكلام (الخروج على الحكام مسألة خلافية) طالب فتنة ليس طالب علم

“Orang yang mengatakan ada perbedaan pendapat ulama dalam masalah pemberontakan terhadap pemerintah adalah PENCARI ‘FITNAH’ bukan penuntut ilmu.” [Rekaman Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah]

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

http://sofyanruray.info/sepanjang-sejarah-kudeta-mudaratnya-lebih-besar-ambillah-pelajaran/