Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

KEPADA SIAPA SEHARUSNYA AKU BERBAKTI: SUAMI ATAU ORANG TUA?

KEPADA SIAPA SEHARUSNYA AKU BERBAKTI: SUAMI ATAU ORANGTUA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 #BirrulWalidain, #MuslimahSholihah
 
KEPADA SIAPA SEHARUSNYA AKU BERBAKTI: SUAMI ATAU ORANG TUA?
Pertanyaan:
Ana (saya) sudah 6 bulan menikah dan harus tinggal di rumah mertua sebagai bentuk bakti ke suami. Namun selama ini ana merasa resah, karena orang tuanya terlalu sering intervensi, sehingga ana tidak bisa bersikap dewasa. Ana hanya mengikuti suami karena bakti istri adalah ke suami, dan bakti suami kepada orang tuanya. Apakah Fathimah putri Rasulullah ﷺ juga demikian? Bagaimana bakti ana ke orang tua sendiri? Sekarang apa yang harus ana lakukan?
 
Jawaban:
Kami akan menjawabnya melalui poin-poin berikut ini:
 
1. Tinggal di rumah orang tua suami (mertua), terlebih jika suami belum mampu untuk memberi tempat tinggal untuk istri, dalam pandangan Islam boleh-boleh saja dan tidak ada larangan. Istri sepatutnya taat dan patuh kepada suami dalam kebaikan, selama sang suami belum memerintahkan kemaksiatan.Maka apabila ada perintah untuk berbuat maksiat, sang istri wajib menolaknya. Nabi ﷺ bersabda:
لاَطَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِى مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ (رواه الترمذي )
 
Tidak ada ketaatan bagi seorang hamba ketika diperintah untuk bermaksiat kepada Allah [HR. at-Tirmidzi]
 
2. Adapun sikap intervensi mertua, selagi bentuk campur tangan pihak mertua adalah berbentuk nasihat dan masukan positif untuk kebaikan bersama, mengapa harus ditolak? Bukankah berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran adalah perkara yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla?.Saling berwasiat dalam hal di atas adalah sarana yang bisa mengeluarkan sekaligus menyelamatkan kita dari kerugian di dunia dan Akhirat, sebagaimana telah tertuang dalam surat al-‘Ashr 1-3. Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
 
  • Demi masa.
  • Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
  • Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati, supaya metaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
 
3. Sejatinya seorang menantu jangan terburu-buru untuk berburuk sangka terhadap sikap mertua. Sebab orang tua suami juga merupakan orang tua Anda. Maka berusahalah untuk dapat berbuat baik kepada orang tua suami. Selagi bentuk intervensi mertua adalah sebagai nasihat, mengapa kita harus merasa resah atau malah menolaknya? Setiap orang tua ingin melihat anaknya bahagia dan dapat membina keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Bahkan terkadang dalam pandangan syariat, jika orang tua menyuruh anak laki-lakinya untuk menceraikan istrinya dengan berbagai alasan yang syari (jika memang ada indikasi bahwa sikap istri bisa mempengaruhi agama dan akhlak suami), maka suami harus menceraikan istrinya. Terdapat riwayat dalam Shahih al-Bukhari yang mengisahkan, bahwa Nabi Ibrahim Alaihissallam menyuruh putranya Ismail Alaihissallam untuk menceraikan istrinya tatkala melihat adanya keburukan yang mempengaruhi hubungan rumah tangga anaknya. Maka Ismail pun menceraikan istrinya.
 
Demikian pula dalam riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata:
 
Dahulu aku punya istri yang sangat aku cintai. Namun (ayahku) ‘Umar bin Khatthab tidak menyukainya dan berkata padaku: “Ceraikan dia (istriku)”. Namun, aku enggan menceraikannya. Akhirnya, ‘Umar datang menghadap Nabi ﷺ seraya menceritakan kejadian tadi. Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Ceraikan dia (istrimu)”.
 
Itu semua dapat terlaksana, jika orang tua suami merupakan orang yang saleh dan baik, serta tahu akan munculnya indikasi yang bisa merugikan kelangsungan hubungan rumah tangga, jika suami tetap mempertahankan istrinya, sementara si istri memiliki perangai atau akhlak yang buruk. Apabila dibiarkan malah merugikan dan merusak masa depan rumah tangga anaknya.
 
4. Berusahalah untuk bisa bermuamalah dengan baik, tanpa kecuali kepada siapapun, terlebih orng tua suami. Hal ini tertuang dalam wasiat Nabi ﷺ kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu:
 
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ (رواه الترمذي)
 
Pergaulilah orang dengan akhlak yang baik. [HR. Tirmidzi]
 
5. Kalaupun seandainya muncul sikap buruk dari mertua yang kita kurang suka dan tidak bisa menerimanya, maka bersabarlah atas segala kekurangan dan kelemahan yang dimiliki orang tua suami (mertua). Tetap berusaha membalas dengan sikap baik dan hormat kepadanya. Pada dasarnya, sikap baik kita kepada orang lain, akibatnya akan kembali kepada kita juga. Berbuat baiknya kita kepada orang lain itu berarti kita berbuat baik untuk diri sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
 
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, [QS Al-Isra`/17:7]
 
6. Adapun keinginan istri untuk dapat berbakti kepada orang tuanya sendiri, itu boleh-boleh saja. Dan seorang istri berhak meminta izin dari suami untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tuanya. Maka jika seorang istri meminta izin dari suami untuk bersilaturrahmi kepada orang tuanya, sang suami harus memberikan izin kepada istrinya untuk yang urusan demikian ini. Selagi kunjungan istri kepada orang tuanya tidak menimbulkan madharat, baik untuk agama maupun akhlaknya. Demikian pula sebaliknya, jika kepergian seorang istri ke rumah orang tuanya justru menimbulkan madharat untuk agama dan akhlaknya, maka suami berhak melarang istri untuk tidak pergi. Sebagaimana yang dialami ‘Aisyah radhiyallahu anhuma, beliau meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk pergi ke rumah orang tuanya pada peristiwa Hadis Ifki (tuduhan keji yang dilontarkan kepada ‘Aisyah radhiyallahu anhuma). [HR. al-Bukhari dan Muslim]
 
Adapun jika suami melarang istri untuk ziarah ke rumah orang tuanya, dan suami malah ingin memutuskan hubungan silaturrahmi, maka istri boleh pergi, walau tanpa sepengetahuan suami. Sebab memutuskan hubungan silaturrahmi adalah dosa besar yang sangat besar yang diharamkan oleh Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ
 
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka Itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikannya telinga mereka dan dibutakannya penglihatan mereka. [Muhammad/47:22-23].
 
7. Jika memungkinkan mengajak musyawarah suami tentang keinginan untuk miliki rumah sendiri, cobalah untuk mengajaknya bicara tentang hal ini. Tentunya tetap dalam kondisi tidak memaksa dan menekan suami, jika memang penghasilan suami pas-pasan. Allah subhanahu wa ta’ala tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya:
 
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
 
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [QS Ath-Thalaq/65:7].
 
8. Perbanyak doa kepada Allah Azza wa Jalla untuk diberi kemudahan dalam segala urusan, dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Wallahu a’lam. (Ustadz Muhammad Qosim)
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
 
 
,

APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?

APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihJenazah
 
APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?
 
Pertanyaan:
Ketika kita shalat terhadap banyak jenazah dalam satu waktu, apakah pahalanya bertambah sesuai dengan banyaknya jenazah?
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Ya, pahala berlipat sesuatu dengan banyaknya jenazah. Telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, 945, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ
 
“Barang siapa shalat jenazah dan tidak turut mengantarkannya, maka dia dapat (pahala) satu Qirath. Kalau dia ikut mengiringinya, maka dia dapatkan dua Qirath. Dikatakan, “Apa itu dua qirth?” Beliau ﷺ menjawab: “Yang paling kecil di antara kedunya seperti (gunung) Uhud.”
 
Yang tampak dalam hadis tersebut, bahwa bagi orang yang shalat, pada setiap jenazah mendapatkan satu Qirath, dan pahalanya dilipatgandakan dengan bertambahnya jumlah jenazah, keutamaan Allah itu luas sekali. Nafrawi rahimahullah mengatakan: “Jika mayat berjumlah banyak, maka akan bertambah Qirath dalam shalat dan menguburkannya berkali-kali.” Al-Faqih Abu Imron dan Sayyid Yusuf bin Umar: “Dia akan mendapatkan pada setiap jenazah satu Qirath. Karena setiap mayat mendapatkan manfaat dari doa dan kehadiranya.” [Al-Fawakih Ad-Dawani ‘Ala Risalah Abi Zaid Al-Qirwani, 1/295]
 
Al-Khatib As-Syirbini rahimahullah mengatakan: “Kalau jenazahnya banyak dan dilakukan sekali shalat saja, apakah akan mendapatkan Qirath sesuai dengan banyaknya (jenazah) atau tidak, karena hanya satu shalat? Al-Adzro’i mengatakan: “Yang tampak (dia mendapatkan Qirath) sebanyak (jenazah). Dan ini termasuk jawaban Qodhi Humah Al-Barizi. Ini yang kuat.” [Mughni Al-Muhtaj, 2/54]
 
Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya: “Seseorang menyolati lima jenazah dengan sekali shalat. Apakah dia mendapatkan pada setiap jenazah satu Qirath, ataukah (untuk mendapatkan) Qirath sesuai dengan bilangan shalat?”
 
Beliau menjawab: “Kami harap dia mendapatkan banyak Qirath sebanyak bilangan jenazah. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
 
من صلى على جنازة فيه قيراط ، ومن تبعها حتى تدفن فله قيراطان (رواه مسلم)
 
“Barang siapa menyalati jenazah, maka dia mendapatkan satu Qirath. Dan barang siapa yang mengiringi sampai dikuburkan, maka dia mendapatkan dua Qirath.” [HR. Muslim]
 
Dan hadis-hadis yang semakna dengan itu, semuanya menunjukkan, bahwa Qirath bertambah sesuai dengan bilangan jenazah. Barang siapa yang shalat terhadap satu jenazah, maka dia mendapatkan satu Qirath. Barang siapa yang mengikuti sampai dikuburkannya, maka dia mendapatkan dua Qirath. Barang siapa yang shalat terhadapnya dan mengikuti sampai selesai penguburan, maka dia mendapatkan dua Qirath. Ini termasuk keutamaan, kemurahan dan kedermawanan Allah subahanhu wa ta’ala terhadap hamba-Nya. Hanya kepada-Nya segala pujian dan rasa syukur, tiada Tuhan melainkan Dia. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.” [Majmu Al-Fatawa, 13/137]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Di dalam Masjidil Haram banyak jenazah. Apakah pahala juga bertambah sebagaimana yang diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ?”
 
Beliau menjawab: “Kalau jenazah banyak dan dilakukan sekali shalat, apakah seseorang mendapatkan pahala sebanyak bilangan jenazah ini? Yang kuat, ya. Karena dia benar telah melakukan shalat terhadap dua, tiga atau empat (jenazah), sehingga dia mendapatkan pahala. Akan tetapi bagaimana dia cara berniatnya? Apakah berniat shalat sekali atau untuk semuanya? Hendaknya dia berniat shalat untuk semuanya.” [Liqa Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 149]
 
Wallahu a’lam.
, ,

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BirrulWalidain

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

Pertanyaan:

Ketika saya kecil mereka mengatakan kepadaku: “Kalau kamu memulai shalat, kemudian mendengar salah seorang dari orang tua memanggilmu, maka putuskan shalat secara langsung, dan pergi untuk memenuhi panggilan. Kemudian kembali mengulangi shalat. Apakah perkataan ini ada sisi benarnya?

Jawaban:

Alhamdulillah

Kalau seorang Muslim menunaikan shalat wajib, maka dia TIDAK BOLEH memutuskan shalat untuk memenuhi panggilan bapak atau ibunya. Akan tetapi memberi isyarat peringatan kepada orang yang memanggilnya, bahwa dia sedang sibuk shalat, baik dengan bertasbih, atau mengeraskan suara dengan bacaan, atau semisal itu.

Dianjurkan juga memercepat shalatnya. Ketika selesai, maka penuhi panggilannya. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, (707) dari Abu Qatadah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

“Sungguh saya menunaikan shalat, saya ingin memanjangkannya. Kemudian saya mendengar tangisan bayi. Maka saya persingkat shalatku, khawatir memberatkan ibunya.”

Hal ini menunjukkan dianjurkannya memersingkat dan memercepat dalam shalat, karena ada sesuatu yang tiba-tiba ada mengganggu konsentrasi orang shalat.

Kalau shalat sunah, kalau dia mengetahui bahwa ayah atau ibunya tidak mengapa baginya untuk menyempurnakan shalatnya, maka sempurnakan. Kemudian menjawabnya setelah selesai. Kalau dia mengetahui bahwa keduanya tidak menyukai baginya untuk menyempurnakan (shalat)nya dan memerlambatnya, maka harus diputus,dan menjawab untuk keduanya. Hal itu tidak mengapa, kemudian MENGULANGI shalat dari awal.

Diriwayatkan Bukhori, (3436) dan Muslim, (2550) redaksi darinya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi ﷺ, sesungguhnya beliau bersabda:

كَانَ جُرَيْجٌ يَتَعَبَّدُ فِي صَوْمَعَةٍ فَجَاءَتْ أُمُّهُ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ كَلِّمْنِي . فَصَادَفَتْهُ يُصَلِّي فَقَالَ : اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ ، فَرَجَعَتْ ثُمَّ عَادَتْ فِي الثَّانِيَةِ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ فَكَلِّمْنِي . قَالَ اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ . فَقَالَتْ : اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا جُرَيْجٌ وَهُوَ ابْنِي وَإِنِّي كَلَّمْتُهُ فَأَبَى أَنْ يُكَلِّمَنِي ، اللَّهُمَّ فَلَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ الْمُومِسَاتِ . قَالَ : وَلَوْ دَعَتْ عَلَيْهِ أَنْ يُفْتَنَ لَفُتِنَ … (الحديث)

“Dahulu Juraij berdibadah di tempat ibadahnya. Kemudian ibunya datang dan memanggilnya seraya mengatakan: “Wahai Juraij, saya ibumu, tolong bicara denganku. Bertepatan saat itu, dia dalam kondisi shalat. Maka dia berkata dalam hati: “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Maka dia memilih shalatnya. Kemudian (ibunya) kembali, dan balik lagi pada yang kedua seraya mengatakan: “Wahai Juraij, saya ibumu tolong bicara denganku.” Dia mengatakan: “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Dan dia memilih shalatnya. Kemudian ibunya mengatakan: “Ya Allah, sesunggunya adalah anaku, sungguh saya memanggilnya dan dia enggan berbicara denganku. Ya Allah, jangan engkau wafatkan sebelum diperlihatkan wanita pelacur.” Beliau (Nabi) berkata: “Kalau dia berdoa agar terkena fitnah, maka dia akan terfitnah. Alhadits.

An-Nawawwi rahimahullah membuat bab ‘Bab Taqdim Birrul Walidaini ‘Ala Tatowwu’ Bis Shalat Wa Goiruha (Bab Mendahulukan Bakti Kedua Orang Tua Dibandingkan dengan Shalat Sunah dan Lainnya).

An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘Yang benar baginya adalah menjawabnya, karena ia dalam shalat sunah. Melanjutkan shalat sunah itu tidak diwajibkan, sementara menjawab ibu dan berbakti kepadanya itu wajib. Dan durhaka kepadanya itu haram. Atau memungkinkan baginya memersingkat shalat dan menjawabnya, kemudian kembali menunaikan shalatnya.” [Silakan lihat ‘Fathul Bari’ karangan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah. (Al-Mausu’ah Fiqhiyan, 20/342)].

Terdapat dalam ‘Dur Mukhtar, dari kitab Hanafiyah (2/54), “Kalau salah satu dari kedua orang tua memanggilanya dalam shalat wajib, maka tidak menjawabnya, kecuali kalau meminta pertolongan.” maksudnya meminta pertolongan dan bantuan.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Kedua orang tua, kalau memanggil Anda, maka seharusnya menjawabnya. Akan tetapi dengan syarat, bukan shalat wajib. Kalau dalam shalat wajib, TIDAK BOLEH menjawabnya. Akan tetapi kalau sunah, boleh menjawabnya. Kecuali kalau keduanya dapat memerkirakan urusannya, bahwa keduanya mengetahui Anda dalam shalat dan memberi uzur kepada Anda, maka di sini Anda memberi isyarat kepadanya, bahwa Anda dalam shalat, baik dengan berdehem, atau mengucapkan Subhanallah, atau meninggikan suara Anda dari ayat yang dibacanya, atau doa yang dibacanya, agar orang yang memanggil merasakan, bahwa Anda dalam kondisi shalat. Sementara kalau selain itu yang tidak memberikan uzur dan menginginkan ucapannya itu yang didahulukan, maka putuskan shalat dan berbicaralah dengannya. Adapun kalau shalat wajib, maka tidak boleh seorang pun memutuskannya, kecuali dalam kondisi terpaksa. Seperti Anda melihat seseorang khawatir binasa terjatuh di dalam sumur atau di sungai atau api. Disini Anda memutus shalat Anda karena terpaksa. Sementara selain itu, tidak dibolehkan memutus shalat wajib.” [Syarh Riyadus Sholihin, hal. 302 dengan diringkas] Wallahu a’lam

Silakan merujuk jawaban soal no. 65682.

 

Sumber:  https://islamqa.info/id/151653

, ,

HUKUM MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA KETIKA KITA SHALAT

HUKUM MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA KETIKA KITA SHALAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BirrulWalidain

HUKUM MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA KETIKA KITA SHALAT

P e r t a n y a a n:
Apakah seseorang harus menjawab (panggilan) ibunya ketika shalat?

J a w a b a n:
Apabila seseorang telah mulai mengerjakan shalat, maka jika shalatnya wajib, TIDAK BOLEH memutus shalat tersebut untuk menjawab panggilan ibu atau bapaknya.
Adapun jika shalat sunnah, maka BOLEH membatalkan shalatnya untuk menjawab panggilan kedua orang tuanya, jika memang hal itu diperlukan.

[Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta’ no. 20072]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

LARANGAN MENYEBUT NON-MUSLIM YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA DENGAN ALMARHUM

LARANGAN MENYEBUT NON-MUSLIM YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA DENGAN ALMARHUM

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah

LARANGAN MENYEBUT NON-MUSLIM YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA DENGAN ALMARHUM

Kata almarhum (المرحوم) adalah bentuk objek (maf’ul) dari kata kerja rahima-yarhamu (رحم – يرحم) yang artinya merahmati atau memberikan rahmat. Jadi almarhum (المرحوم) secara bahasa, maknanya adalah orang yang dirahmati, yakni dirahmati oleh Allah ta’ala.

Penggunaan dalam Bahasa Indonesia

Di Indonesia atau masyarakat rumpun Melayu pada umumnya, kata almarhum itu sudah menjadi semacam ‘gelar khusus’ bagi orang yang sudah meninggal dunia. Jadi kata almarhum atau almarhumah yang mengiringi sebuah nama, bisa dipastikan bahwa itu adalah orang yang sudah meninggal dunia. Nah, karena kata ini begitu akrab dengan bau-bau kematian, orang Indonesia yang masih hidup tidak akan mau disebut almarhum.

Penggunaan yang Salah Kaprah

Penggunaan kata almarhum sebagai kata pengganti orang yang telah mati tentu saja tidak tepat. Karena esensi kata almarhum itu sendiri BUKANLAH gelar, melainkan sebagai doa dari yang hidup kepada yang sudah meninggal dunia.Sebagaimana kata almarhum itu sendiri artinya orang yang dirahmati. Jadi penyebutan almarhum bermakna: Semoga Allah merahmatinya.

Demikianlah yang lazim ada dalam kitab-kitab para ulama kita temui. Biasanya bila disebutkan nama mereka, diberikan embel-embel gelar. Allahu yarham, al Marhum, atau rahimahullah.  Yang terakhir ini lebih lazim dan popular: Rahimahullah. Misalnya kita dapati dalam kitab-kitab kata: al Imam al Ghazali rahimahullah, al Imam Nawawi rahimahullah artinya: al Imam al Ghazali yang semoga Allah merahmatinya, al Imam Nawawi yang semoga Allah merahmatinya. Tapi almarhum juga digunakan, hanya biasanya ini diperuntukkan untuk ulama-ulama kontemporer semisal yang kita temui dalam al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah  (1/38) dan kitab al Fiqh al Islami waadillatuhu ( 1/37) ketika menyebut almarhum Fadhilatussyaikh Muhammad Abu Zuhrah.

Hukum Pengunaannya

Kata almarhum jika diniatkan sebagai bentuk doa kepada orang yang sudah meninggal, maka hukumnya boleh, asalkan yang disebut itu adalah orang Islam, terlebih bila semasa hidupnya dia dikenal sebagai orang yang saleh, apalagi ulama.[1].  Adapun bila kata almarhum itu digunakan kepada orang kafir, maka hukumnya HARAM, sebagaimana hukum haramnya mendoakan orang kafir yang telah meninggal dunia.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Dan tidaklah layak bagi Nabi dan dan orang-orang beriman memohon ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu orang-orang itu kerabatnya, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka Jahanam” (QS. At-Taubah 113)

Wallahu a’lam.

 

Catatan Kaki:

[1] Demikian sebenarnya juga fatwa dari ulama-ulama yang dinukil oleh kalangan yang mengharamkan penggunaan kata almarhum, lihat Kutub wa Rasail Syaikh Ibnu Utsaimin 82/15-16, Liqa’ Al Bab Al Maftuh 11/28, Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 3/85).

POTRET AMBIGUITAS KITA

POTRET AMBIGUITAS KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

POTRET AMBIGUITAS KITA
 
Bismillaah
 
Ambiguitas memang begitu abstrak, sulit untuk ditebak.
Sebagai gambaran, terkadang di satu sisi kita sering tidak siap dengan takdir Allah yang mengejutkan.
Namun di saat yang sama kita juga malah merasa aman dari makar-Nya.
Dengan kata lain, kita takut tentang kesudahan hidup nanti, namun kita tidak mau menabung kebajikan sebagai bekal diri.
 
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dan berbuat untuk (kepentingan) masa setelah kematiannya. Sementara orang yang lemah adalah yang selalu mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan pada (kemurahan) Allah” (HR Tirmidzi, dia berkata: Hadis ini Hasan)
 
Di sisa waktu yang ada…
Tinggalkan ambiguitas itu…
Tentukan pilihanmu kawan…
Hanya ada dua pilihan, menjadi orang cerdas atau orang lemah…
Jangan lengah…
Karena di ujung pilihan bijakmu ada janji yang tak teringkari…
 
”Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah 2 : 82)

 

Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib

,

ANAKKU, JADILAH ENGKAU PEJUANG AHLUSSUNAH

ANAKKU, JADILAH ENGKAU PEJUANG AHLUSSUNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DoaOrangTuaUntukAnaknya, #TazkiyatunNufus

ANAKKU, JADILAH ENGKAU PEJUANG AHLUSSUNAH

Duhai Anakku….
Pejuang kecilku….
Berpegang teguhlah engkau kepada Alquran dan As Sunnah.
Dan bersabarlah dalam mendakwahkannya.
Tetaplah tegar, meskipun semua orang mencercamu.
Jadilah engkau pejuang Ahlus Sunnah yang membela agama Allah.
Senantiasalah engkau berada di barisan terdepan Salafiyyin dalam menghancurkan musuh-musuh Islam.
Semoga Allah azza sa jalla menjagamu dan mengkokohkanmu di dalam Al-Haq.

Sumber: Galeri Poster Dakwah

 

Duhai Anakku….Pejuang kecilku….Berpegang teguhlah engkau kepada Al Quran dan As Sunnah.Dan bersabarlah dalam…

Posted by We Are Moslem on Sunday, May 14, 2017

,

DOA UNTUK PENGANTIN

DOA UNTUK PENGANTIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DoaZikir

DOA UNTUK PENGANTIN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Adalah Nabi ﷺ bila memberi ucapan kegembiraan terhadap seorang yang menikah, beliau ﷺ mendoakan:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

 Barokallahu laka, wa baroka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khoyr.

Artinya:

“Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu dan keberkahan atas pernikahanmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

@dzulqarnainms

,

JANGAN MERUSAK RUMAH TANGGA ORANG, JANGAN MENGGODA DAN MENGAJAK NIKAH ISTRI ORANG

JANGAN MERUSAK RUMAH TANGGA ORANG, JANGAN MENGGODA DAN MENGAJAK NIKAH ISTRI ORANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MuslimahSholihah

JANGAN MERUSAK RUMAH TANGGA ORANG, JANGAN MENGGODA DAN MENGAJAK NIKAH ISTRI ORANG

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ خَبَّبَ خَادِمًا عَلَى أَهْلِهَا فَلَيْسَ مِنَّا وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang merusak seorang pekerja terhadap majikannya, maka dia bukan bagian dari kami. Dan barang siapa yang merusak seorang istri terhadap suaminya, maka dia bukan bagian dari kami.” [HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 324]

Al-Imam Abu Ath-Thayyib rahimahullah berkata:

أَيْ خَدَعَهَا وَأَفْسَدَهَا أَوْ حَسَّنَ إِلَيْهَا الطَّلَاق لِيَتَزَوَّجهَا أَوْ يُزَوِّجهَا لِغَيْرِهِ أَوْ غَيْر ذَلِك

“Maknanya, ia menipu (menggoda) istri orang dan merusaknya, atau merayunya sampai meminta cerai dari suaminya agar dapat ia nikahi, atau ia nikahkan dengan orang lain, atau kepentingan selain itu.” [‘Aunul Ma’bud, 9/2448]

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizhahullah berkata:

لأن من أسباب الطلاق تخبيب المرأة على زوجها حتى تتمرد عليه وتسعى إلى التخلص منه بسبب هذا الإفساد

“Karena di antara sebab perceraian adalah ulah pihak ketiga yang merusak istri orang, agar sang istri tidak lagi menyukai suaminya, hingga sang istri membangkang dan berusaha untuk berpisah dari suaminya, karena ulah orang ketiga tersebut.” [Syarhu Sunan Abi Daud, 12/189, Asy-Syaamilah]

#Beberapa_Pelajaran:

1) Waspadai pergaulan dan komunikasi dengan lawan jenis tanpa batasan-batasan syariat. Terlebih di masa ini, berkomunikasi dengan lawan jenis sudah sangat mudah, tidak sedikit kerusakan rumah tangga disebabkan hubungan-hubungan yang berawal dari kontak BB, WA, FB, Twitter, hingga saling curhat, acara reuni, dan lain-lain. Maka berhati-hatilah…!

2) Merusak rumah tangga orang bukan hanya bisa dilakukan oleh lawan jenis. Bisa saja seorang istri dirusak oleh teman wanitanya, bahkan keluarganya sendiri, hingga sang istri membenci suaminya.

3) Hendaklah seorang suami mendidik dan mengawasi istri.

4) Sebagaimana istri berkewajiban menasihati suami dengan ilmu dan lemah lembut.

5) Pentingnya menjaga kelangsungan dan keharmonisan rumah tangga, dan menjauhi sebab-sebab yang dapat merusaknya.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber:

⛔ JANGAN MERUSAK RUMAH TANGGA ORANG, JANGAN MENGGODA DAN MENGAJAK NIKAH ISTRI ORANG➡ Rasulullah shallallahu’alaihi wa…

Posted by Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info on Thursday, July 13, 2017