Posts

LURUSKAN NIAT DALAM MENDEBAT ORANG LAIN

LURUSKAN NIAT DALAM MENDEBAT ORANG LAIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

LURUSKAN NIAT DALAM MENDEBAT ORANG LAIN
 
Kita mendebat orang lain bukan untuk mengalahkan, melainkan karena kita menginginkan kebaikan dan kasih bagi orang lain itu. Kita tak rela melihat orang lain jatuh ke dalam kekeliruan dan kesesatan.
 
Sumber: Markaz Dakwah untuk Bimbingan, Taklim, dan Keamanan Berpikir

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#niat, #niyat, #luruskanniat, #debat, #perdebatan, #jidal, #jiddal, #inginkankebaikanoranglain, #laranganberdebat,#debatuntukkebaikan, #lempengkanniat, #luruskanniatdalammendebat, #luruskanniatdalamberdebat

,

CITA-CITA YANG BESAR MEMBUTUHKAN SEMANGAT YANG TINGGI DAN NIAT YANG BENAR

CITA-CITA YANG BESAR MEMBUTUHKAN SEMANGAT YANG TINGGI DAN NIAT YANG BENAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama

CITA-CITA YANG BESAR MEMBUTUHKAN SEMANGAT YANG TINGGI DAN NIAT YANG BENAR

Barang siapa yang kehilangan keduanya, maka ia mustahil untuk mendapatkannya.
Semangat yang tinggi, tergantung pada niatnya itu sendiri, bukan kepada selainnya.
Jika niatnya benar, maka seorang hamba telah menempuh jalan yang menjadi perantara kepada semangat yang tinggi.
Maka, pada niat terdapat jalan, dan pada semangat yang tinggi terdapat harapan.
[Ibnul Qoyyim – Al Fawaid]

Jika cita-cita mu setinggi Surga, maka semangat dan niatmu pun harus sejujur dan setinggi itu pula.
Sumber: @kemuslimahan_ypia

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

NADZAR, SEPELIT-PELIT NIAT

NADZAR, SEPELIT-PELIT NIAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

NADZAR, SEPELIT-PELIT NIAT
 
Dari Ibnu Umar, Nabi ﷺ melarang bernadzar. Beliau ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya nadzar itu tidak mendatangkan kebaikan. Nadzar hanyalah alat agar orang yang pelit mau beramal.” [HR Bukhari no 6234 dan Muslim no 1639]
 
Dalam an Nihayah, Ibnul Atsir mengatakan:
“Larangan bernadzar itu berulang-ulang terdapat dalam hadis. Larangan tersebut bertujuan menegaskan perintah untuk melaksanakan nadzar, dan larangan untuk meremehkan nadzar setelah nadzar tersebut diucapkan. Seandainya makna larangan nadzar adalah melarang orang untuk mengucapkan kalimat nadzar, maka ini berarti membatalkan hukum nadzar, dan menggugurkan kewajiban memenuhi nadzar. Karena dengan adanya larangan, berarti melakukannya adalah sebuah maksiat, sehingga tentunya tidak ada kewajiban untuk melaksanakannya.
 
Jadi makna hadis adalah pemberitahuan Nabi ﷺ terhadap umatnya, bahwa nadzar itu tidak akan membuahkan manfaat di dunia, tidak bisa mencegah bahaya, dan tidak bisa mengubah takdir. Sehingga makna hadis adalah:
Janganlah kalian bernadzar dengan berkeyakinan, bahwa dengan bernadzar kalian akan mendapatkan sesuatu, yang sebenarnya tidak Allah takdirkan kepada kalian, atau menghindarkan kalian dari takdir yang telah ditetapkan atas kalian. Namun jika kalian telah terlanjur bernadzar, maka laksanakanlah, karena itu telah menjadi kewajiban kalian.” [Fathul Bari 19/60, Syamilah]
Orang yang bernadzar disebut orang yang pelit atau bakhil. karena “orang yang pelit adalah orang yang tidak mau bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain. kecuali ada sesuatu yang mengharuskannya untuk melakukan hal itu. Nadzarlah di antara hal yang memaksanya untuk melakukan kebaikan.” [Taudhih al Ahkam min Bulugh al Maram 4/403, cetakan Jannatul Afkar, Mesir]
 
Macam-Macam Nadzar
 
Nadzar itu ada dua macam:
 
Pertama: Nadzar Mutlak, yaitu seseorang itu mewajibkan dirinya untuk melakukan sesuatu tanpa syarat apapun. Misalnya ucapan: “Kuwajibkan diriku pada saat ini untuk melakukan shalat sebanyak dua rakaat”. Nadzar jenis ini dinilai makruh oleh mayoritas ulama, namun mereka mengatakan, bahwa melaksanakan nadzar semacam ini adalah sebuah kewajiban dan amal yang berpahala. Sebagian ulama bahkan menganjurkan nadzar semacam ini.
 
Kedua: Nadzar Bersyarat, yaitu seseorang itu mewajibkan dirinya sendiri untuk melakukan suatu hal, dengan syarat mendapatkan nikmat tertentu, atau tercegah dari bahaya tertentu. Misalnya adalah ucapan: “Jika Allah sembuhkan anggota keluargaku yang sakit, maka aku akan memberi makan seorang miskin”. Mengucapkan nadzar bersyarat ini hukumnya makruh [Fiqh Sunnah lin Nisa’ hal 350]
 
Ringkasnya, bernadzar itu hukumnya makruh, karena Nabi ﷺ menyebut pelakunya sebagai orang yang pelit. Akan tetapi jika seseorang telah terlanjur bernadzar, maka bila isi nadzarnya adalah ibadah semisal shalat, puasa dan sedekah, maka wajib dilaksanakan.
 
Selengkapnya: http://ustadzaris.com/apakah-benar-nadzar-tidak-mendatangkan-kebaikan

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH

LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
LARANGAN MENGGANGGU MERPATI DAN SEKADAR BERNIAT MAKSIAT DI MAKKAH DAN MADINAH
 
Larangan berbuat kerusakan, secara jelas kita dapatkan pada hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
حَرَّمَ اللَّهُ مَكَّةَ فَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَلَا لِأَحَدٍ بَعْدِي أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ لَا يُخْتَلَى خَلَاهَا وَلَا يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا
 
Allah telah mengharamkan kota Makkah. Maka tidak dihalalkan buat seorang pun sebelum dan sesudahku melakukan pelanggaran di sana, yang sebelumnya pernah dihalalkan buatku beberapa saat dalam suatu hari. Di Makkah tidak boleh diambil rumputnya, dan tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh diburu hewan buruannya. [HR Bukhari]
 
Allah juga mengkisahkan doa Nabi Ibrahim dalam Al Baqarah ayat 126:
 
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
 
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian.
 
Juga dalam surat Ibrahim: 35:
 
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ} [ابراهيم: 35]
 
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
 
Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al Badr menjelaskan:
 
Allah menyeru dalam kitab-Nya hal penjagaan keamanan negeri tersebut ( Makkah ). Dan Allah memperingatkan dengan keras, bagi siapa saja yang berupaya untuk merusak keamanan dan mengganggu ketenangan di negeri tersebut, atau berupaya membuat ketakutan, kepanikan, kecemasan pada penduduk dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
 
Bahkan Allah azza wa jalla menjadikan keamanan di negeri tersebut termasuk kepada binatang-binatang ternak, hewan-hewan dan termasuk juga tanaman-tanaman. Tidak boleh berburu dan tidak boleh mengganggu (membuat lari), juga tidak boleh asal memotong pohon-pohon. Dan semua tindakan di atas adalah upaya menjaga keamanan negeri tersebut. Sebagaimana firman Allah:
 
و من دخله كان ءامنا
 
“Dan barang siapa memasukinya, amanlah dia” [QS Ali Imron 97]
 
Dan ayat-ayat mengenai perkara menjaga keamanan (Makkah) sangat banyak, di antaranya firman Allah:
 
{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} [الحج: 25]
 
Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. [QS Al Hajj: 25]
 
Bahkan ayat tersebut menjelaskan, Man yurid, siapa yang sekadar berniat, mempunyai keinginan di hati untuk berbuat penyimpangan, kejahatan, diancam oleh Allah dengan siksa yang pedih.
 
وقال الثوري ، عن السدي ، عن مرة ، عن عبد الله قال: ما من رجل يهم بسيئة فتكتب عليه
 
Sufyan Ats Tsauri telah meriwayatkan dari As Saddi, dari Murrah, dari Abdullah Ibnu Mas’ud yang mengatakan, bahwa tiada seorang yang berniat akan melakukan suatu perbuatan jahat (di Tanah Suci), melainkan dicatatkan baginya niat jahatnya itu [Lihat tafsir ibnu Katsir].
 
Kembali lagi, berhati-hatilah untuk sekadar menghalau atau mengusir burung-burung merpati di Tanah Haram, karena dalam Shahih Bukhari, disebutkan lebih detail lagi hadis di atas:
 
وَعَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ هَلْ تَدْرِي مَا لَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا هُوَ أَنْ يُنَحِّيَهُ مِنْ الظِّلِّ يَنْزِلُ مَكَانَهُ
 
Dan dari Khalid dari ‘Ikrimah: “Apakah kamu mengerti yang dimaksud dengan dilarang memburu binatang buruan? Yaitu menyingkirkannya dari tempat berlindung yang dijadikannya tempat bersinggah”.
 
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:
 
لو رأَيْتُ الظِّباءَ بالمدينةِ تَرتَعُ ما ذَعَرْتُها، قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ما بينَ لابَتَيْها حَرامٌ
 
Seandainya aku melihat seekor rusa berkeliaran di Madinah, aku tidak akan membuatnya terkejut (mengganggunya). Sebab Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Antara dua kawasan berbatu hitam (Madinah) adalah Tanah Haram” [HR Bukhari]
 
Semua hal ini berlaku untuk Makkah dan Madinah, sebagaimana sabda nabi ﷺ:
 
إنَّ إبراهيمَ حرَّم مكةَ ، و دعا لها ، و إنِّي حرَّمتُ المدينةَ ، كما حرَّم إبراهيمُ مكةَ ، و دعوتُ لها في مُدِّها و صاعِها مثلَ ما دعا إبراهيمُ لمكةَ .
 
Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah serta berdoa untuknya. Dan aku telah mengharamkan Madinah, sebagaimana Ibrahim mengharamkan Makkah. Dan berdoa untuknya, agar mud dan sho’nya diberkahi, sebagaimana Ibrahim berdoa untuk Makkah. [HR Bukhari].
 
Nah, berhati-hatilah. Bahkan hanya sekadar berniat untuk berbuat suatu maksiat, kezaliman atau kejahatan… Naudzubillahi min dzalik.
 
 
– Amnu Bilad, Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr, penjelasan dari ustadz Aris Munandar
– Tafsir Ibnu Katsir
– Fathul Bari, Ibnu Hajar Asqolaniy.
,

APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?

APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihHajiUmrah
APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?
 
Pertanyaan:
Apakah niat masuk ibadah haji itu dimulai ketika kita membaca bacaan Talbiyah?
 
Jawaban:
Talbiyah adalah dengan mengatakan “Labbaika umrotan” jika untuk umrah dan “Labbaika hajjan” jika untuk haji. Sedangkan NIAT TIDAK BOLEH DILAFALKAN. Sehingga kita TIDAK BOLEH -misalnya- mengatakan: “Ya Allah, saya berniat umrah atau berniat haji.” Cara semacam ini tidak diriwayatkan dari Nabi ﷺ.
 
[Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Falah, 2007].
(Dengan pengubahan tata bahasa oleh www.konsultasi syariah.com)
 
 
, ,

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
 
Pertanyaan:
Bolehkah menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Dilihat dari latar belakang disyariatkannya ibadah, para ulama membagi ibadah menjadi dua:
 
Pertama, ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut, sehingga ibadah ini harus ada secara khusus. Semua ibadah wajib, shalat wajib, puasa wajib, dst, masuk jenis pertama ini.
 
Termasuk juga ibadah yang disyariatkan secara khusus, seperti shalat Witir, shalat Dhuha, dst.
 
Termasuk jenis ibadah ini adalah ibadah yang menjadi Tabi’ (Pengiring) ibadah yang lain, seperti shalat Rawatib. Dan sebagian ulama memasukkan puasa Enam Hari Syawal termasuk dalam kategori ini.
 
Kedua, kebalikan dari yang pertama, ibadah yang Laisa Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah itu BUKAN merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut. Tujuan utamanya adalah yang penting amalan itu ada di kesempatan tersebut, apapun bentuknya.
 
Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui apakah ibadah ini termasuk Maqsudah Li Dzatiha ataukah Laisa Maqsudah Li Dzatiha, adalah dengan memahami latar belakang dari dalil masing-masing ibadah. [Liqa’ al-Bab al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, volume 19, no. 51]
 
Kita akan lihat contoh yang diberikan ulama, untuk lebih mudah memahaminya.
 
Contoh Pertama: Shalat Tahiyatul Masjid
 
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ، فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
 
Apabila kalian masuk masjid, jangan duduk sampai shalat dua rakaat. [HR. Bukhari 1163]
 
Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ menyarankan agar kita shalat dua rakaat setiap kali masuk masjid sebelum duduk. Artinya, yang penting jangan langsung duduk, tapi shalat dulu. Tidak harus shalat khusus Tahyatul Masjid. Bisa juga shalat Qabliyah atau shalat sunah lainnya. Meskipun boleh saja jika kita shalat khusus Tahiyatul Masjid.
 
Dari sini, shalat keberadaan ibadah shalat Tahiyatul Masjid itu bukan merupakan tujuan utama. Tapi yang penting ada amal, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid, apapun bentuk shalat itu.
 
Contoh Kedua: Puasa Senin-Kamis
 
Ketika Nabi ﷺ ditanya mengapa beliau rajin puasa Senin Kamis, beliau ﷺ mengatakan:
 
ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
 
Di dua hari ini (Senin Kamis), amalan dilaporkan kepada Allah, Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya dilaporkan, saya dalam kondisi puasa. [HR. Ahmad 21753, Nasai 2358, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]
 
Dalam hadis ini, siapapun yang melakukan puasa di hari Senin atau Kamis, apapun bentuk puasanya, dia mendapatkan keutamaan sebagaimana hadis di atas. Amalnya dilaporkan kepada Allah, dalam kondisi dia berpuasa, baik ketika itu dia sedang puasa wajib, atau puasa sunah lainnya. Meskipun boleh saja ketika dia melakukan puasa khusus pada waktu Senin atau Kamis.
 
Menggabungkan Niat Dua Ibadah
 
Para ulama menyebutnya ”at-Tasyrik fin Niyah” atau ”Tadakhul an-Niyah” (Menggabungkan niat).
 
Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat:
 
إذا اتحد جنس العبادتين وأحدهما مراد لذاته والآخر ليس مرادا لذاته؛ فإن العبادتين تتداخلان
 
Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu Maqsudah Li Dzatiha dan satunya Laisa Maqsudah Li Dzatiha, maka dua ibadah ini MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. [’Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais, hlm. 17]
 
Dari kaidah di atas, beberapa amal bisa digabungkan niatnya jika terpenuhi dua syarat:
  • Pertama: Amal itu jenisnya sama, misalnya shalat dengan shalat, atau puasa dengan puasa.
  • Kedua: Ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha TIDAK boleh lebih dari satu. Karena tidak boleh menggabungkan dua ibadah yang sama-sama Maqsudah Li Dzatiha.
Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Senin Kamis
 
Dari keterangan di atas, puasa Syawal termasuk ibadah Maqsudah Li Dzatiha, sementara Senin Kamis Laisa Maqsudah Li Dzatiha, sehingga niat keduanya MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. Dan insyaaAllah mendapatkan pahala puasa Syawal dan puasa Senin Kamis.
 
Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
 
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [Muttafaq ’alaih]
 
Karena dia menggabungkan kedua niat ibadah itu, mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
 
Artikel www.KonsultasiSyariahcom
 
,

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

>> Hukum Melafalkan Niat (Usholli, Nawaitu …)

 

 

Sahabat –Al Faruq- Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata: ”Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia, atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah hadis yang menunjukkan, bahwa amal seseorang akan dibalas atau diterima tergantung dari niatnya.

Setiap Orang Pasti Berniat Tatkala Melakukan Amal

Niat adalah amalan hati dan hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. NIAT itu TEMPATNYA DI DALAM HATI dan BUKANLAH DI LISAN. Hal ini berdasarkan Ijma’ (kesepakatan) para ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Abdul Harim Abul Abbas Al Haroni dalam Majmu’ Fatawanya.

Setiap orang yang melakukan suatu amalan pasti telah memiliki niat terlebih dahulu. Karena tidak mungkin orang yang berakal yang punya ikhtiar (pilihan) melakukan suatu amalan tanpa niat. Seandainya seseorang disodorkan air, kemudian dia membasuh kedua tangan, berkumur-kumur hingga membasuh kaki, maka tidak masuk akal jika dia melakukan pekerjaan tersebut, yaitu berwudhu, tanpa niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan: ”Seandainya Allah membebani kita suatu amalan tanpa niat, niscaya ini adalah pembebanan yang sulit dilakukan.”

Apabila setan membisikkan kepada seseorang yang selalu merasa was-was dalam shalatnya, sehingga dia mengulangi shalatnya beberapa kali, setan mengatakan kepadanya:

”Hai manusia, kamu belum berniat”. Maka ingatlah: ”Tidak mungkin seseorang mengerjakan suatu amalan tanpa niat. Tenangkanlah hatimu, dan tinggalkanlah was-was seperti itu.”(Lihat Syarhul Mumthi, I/128 dan Al Fawa’id Dzahabiyyah, hal.12)

Melafalkan Niat

Masyarakat kita sudah sangat akrab dengan melafalkan niat (maksudnya mengucapkan niat sambil bersuara keras atau lirih) untuk ibadah-ibadah tertentu. Karena demikianlah yang banyak diajarkan oleh ustadz-ustadz kita, bahkan telah diajarkan di sekolah-sekolah sejak Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Contohnya adalah tatkala hendak shalat berniat ’Usholli fardhol Maghribi …’ atau pun tatkala hendak berwudhu berniat ’Nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsi …’. Kalau kita melihat dari hadis di atas, memang sangat tepat kalau setiap amalan harus diawali niat terlebih dahulu. Namun apakah niat itu harus dilafalkan dengan suara keras atau lirih?!

Secara logika mungkin dapat kita jawab. Bayangkan, berapa banyak niat yang harus kita hafal untuk mengerjakan shalat, mulai dari shalat sunah sebelum Subuh, shalat fardhu Subuh, shalat sunnah Dhuha, shalat sunnah sebelum Zuhur, dst. Sangat banyak niat yang harus kita hapal, karena harus dilafalkan. Karena ini pula banyak orang yang meninggalkan amalan, karena tidak mengetahui niatnya, atau karena lupa. Ini sungguh sangat menyusahkan kita. Padahal Nabi kita ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari)

Ingatlah, setiap ibadah itu bersifat Tauqifiyyah, sudah paketan dan baku. Artinya, setiap ibadah yang dilakukan harus ada dalil dari Alquran dan Hadis. Termasuk juga dalam masalah niat.

Setelah kita lihat dalam buku tuntunan shalat yang tersebar di masyarakat atau pun di sekolahan yang mencantumkan lafal-lafal niat shalat, wudhu, dan berbagai ibadah lainnya, tidaklah kita dapati mereka mencantumkan ayat atau riwayat hadis tentang niat tersebut. Tidak terdapat dalam buku-buku tersebut yang menyatakan, bahwa lafal niat ini adalah hadis riwayat Imam Bukhari dan sebagainya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad, I/201:

”Jika seseorang menunjukkan pada kami satu hadis saja dari Rasul dan para sahabat tentang perkara ini (mengucapkan niat), tentu kami akan menerimanya. Kami akan menerimanya dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi dan sahabatnya. Dan tidak ada petunjuk yang patut diikuti, kecuali petunjuk yang disampaikan oleh pemilik syariat yaitu Nabi ﷺ.”  Dan sebelumnya beliau mengatakan mengenai petunjuk Nabi dalam shalat: ”Rasulullah ﷺ, apabila hendak mendirikan shalat, maka beliau mengucapkan: ‘Allahu Akbar’. Dan beliau tidak mengatakan satu lafal pun sebelum takbir, dan tidak pula melafalkan niat sama sekali.”

Maka setiap orang yang menganjurkan mengucapkan niat wudhu, shalat, puasa, haji, dsb, maka silakan tunjukkan dalilnya. Jika memang ada dalil tentang niat tersebut, maka kami akan ikuti. Dan janganlah berbuat suatu perkara baru dalam agama ini yang tidak ada dasarnya dari Nabi ﷺ. Karena Nabi kita ﷺ bersabda:

”Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim). Dan janganlah selalu beralasan dengan mengatakan: ’Niat kami  kan baik’, karena sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhuma mengatakan:”Betapa banyak orang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi, sanadnya shahih, lihat Ilmu Ushul Bida’, hal. 92)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat wa shallallahu ’ala Muhammad wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/934-hukum-melafalkan-niat-usholli-nawaitu-2.html

,

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

Ternyata orang yang membela diri dari tukang bekal atau perampok, lantas ia mati, maka ia bisa dicatat syahid. Adapun jika ia membela diri dan ia berhasil membunuh tukang begal tersebut, tukang begal itulah yang masuk Neraka. Karena orang yang masih hidup itu cuma membela diri, sedangkan yang mati punya niatan untuk membunuh.

Di antaranya ada tiga hadis tentang masalah ini yang membahas bolehnya membela diri ketika berhadapan dengan tukang rampas, tukang rampok atau tukang begal yang ingin merampas harta kita.

Hadis Pertama

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِى قَالَ « فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِى قَالَ « قَاتِلْهُ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِى قَالَ « فَأَنْتَ شَهِيدٌ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ « هُوَ فِى النَّارِ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah ﷺ. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?”

Beliau ﷺ bersabda: “Jangan kau beri padanya.”

Ia bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”

Beliau ﷺ bersabda: “Jangan kau beri padanya.”
Ia bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”
Beliau ﷺ bersabda: “Bunuhlah dia.”
“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.
“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi ﷺ.
“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.
“Ia yang di Neraka”, jawab Nabi ﷺ. (HR. Muslim no. 140).

Hadis Kedua

عَنْ قَابُوسَ بْنِ مُخَارِقٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَسَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ يُحَدِّثُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَأْتِينِي فَيُرِيدُ الِي قَالَ ذَكِّرْهُ بِاللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَذَّكَّرْ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ مَنْ حَوْلَكَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَوْلِي أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِالسُّلْطَانِ قَالَ فَإِنْ نَأَى السُّلْطَانُ عَنِّي قَالَ قَاتِلْ دُونَ مَالِكَ حَتَّى تَكُونَ مِنْ شُهَدَاءِ الْآخِرَةِ أَوْ تَمْنَعَ مَالَكَ

Dari Qabus bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ayahnya, ia berkata bahwa ia mendengar Sufyan Ats Tsauri mengatakan hadis berikut ini:

Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ada seseorang datang kepadaku dan ingin merampas hartaku.”

Beliau ﷺ bersabda: “Nasihatilah dia supaya mengingat Allah.”
Orang itu berkata: “Bagaimana kalau ia tak ingat?”
Beliau ﷺ bersabda: “Mintalah bantuan kepada orang-orang Muslim di sekitarmu.”
Orang itu menjawab: “Bagaimana kalau tak ada orang Muslim di sekitarku yang bisa menolong?”
Beliau ﷺ bersabda: “Mintalah bantuan penguasa (aparat berwajib).”
Orang itu berkata: “Kalau aparat berwajib tersebut jauh dariku?”
Beliau ﷺ bersabda: “Bertarunglah demi hartamu sampai kau tercatat syahid di Akhirat atau berhasil memertahankan hartamu.” (HR. An Nasa’i no. 4086 dan Ahmad 5: 294. Hadis ini Shahih menurut Al Hafizh Abu Thohir)

Hadis Ketiga

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ »

Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda: “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya, atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud no. 4772 dan An Nasa’i no. 4099. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih).

Maksud Syahid dan Macamnya

Di antara maksud syahid sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Ambari:

لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى وَمَلَائِكَته عَلَيْهِمْ السَّلَام يَشْهَدُونَ لَهُ بِالْجَنَّةِ . فَمَعْنَى شَهِيد مَشْهُود لَهُ

“Karena Allah ta’ala dan malaikatnya ‘alaihimus salam menyaksikan orang tersebut dengan Surga. Makna syahid di sini adalah disaksikan untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 142).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa syahid itu ada tiga macam:

  1. Syahid yang mati ketika berperang melawan Kafir Harbi (yang berhak untuk diperangi). Orang ini dihukumi syahid di dunia, dan mendapat pahala di Akhirat. Syahid seperti ini tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.
  2. Syahid dalam hal pahala namun tidak disikapi dengan hukum syahid di dunia. Contoh syahid jenis ini adalah mati karena melahirkan, mati karena wabah penyakit, mati karena reruntuhan, dan mati karena membela hartanya dari rampasan. Begitu pula penyebutan syahid lainnya yang disebutkan dalam hadis Shahih. Mereka tetap dimandikan, dishalatkan, namun di Akhirat mendapatkan pahala syahid. Namun pahalanya tidak harus seperti syahid jenis pertama.
  3. Orang yang khianat dalam harta ghanimah (harta rampasan perang), dalam dalil pun menafikan syahid pada dirinya ketika berperang melawan orang kafir. Namun hukumnya di dunia tetap dihukumi sebagai syahid, yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Sedangkan di Akhirat, ia tidak mendapatkan pahala syahid yang sempurna. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 2: 142-143).

Kesimpulan

Boleh membela diri ketika berhadapan dengan tukang begal atau tukang rampok, saat tidak ada di sekitar kita yang menolong, dan tidak ada aparat juga yang bisa menyelamatkan. Membela diri dari tukang begal atau tukang rampok saat itu hingga mati dicatat sebagai syahid di Akhirat. Sedangkan untuk hukum di dunia, ia tetap dimandikan dan dishalatkan.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1433 H.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10453-membela-diri-dari-tukang-begal-hingga-syahid.html

, ,

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

Di antara RUKUN PUASA adalah berniat. Niat itu harus ada, namun cukuplah di hati, karena itulah yang dipersyaratkan. Adapun niat puasa wajib Ramadan harus ada di malam hari sebelum masuk waktu fajar (Subuh).

Hadis no. 656 dari kitab Bulughul Maram, Ibnu Hajar membawakan hadis:

وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ } رَوَاهُ الْخَمْسَةُ ، وَمَالَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ إلَى تَرْجِيحِ وَقْفِهِ ، وَصَحَّحَهُ مَرْفُوعًا ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ – وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ { لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنْ اللَّيْلِ }

Dari Hafshoh Ummul Mukminin, bahwa Nabi ﷺ berkata: “Barang siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” Hadis ini dikeluarkan oleh yang lima, yaitu Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah. An Nasai dan Tirmidzi berpendapat, bahwa hadis ini Mauquf, hanya sampai pada sahabat (perkataan sahabat). Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbah menshahihkan hadisnya jika Marfu’, yaitu sampai pada Nabi ﷺ. Dalam riwayat Ad Daruquthni disebutkan: “Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat ketika malam hari.”

Beberapa faidah dari hadis di atas:

1- Hadis ini menunjukkan, bahwa puasa mesti dengan niat sebagaimana ibadah lainnya. Sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْعِبَادَةَ الْمَقْصُودَةَ لِنَفْسِهَا كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ لَا تَصِحُّ إلَّا بِنِيَّةِ

“Para ulama sepakat (Ijma’), bahwa ibadah yang dimaksudkan langsung pada zat ibadah itu sendiri seperti shalat, puasa, dan haji, maka HARUSLAH DENGAN NIAT.” (Majmu’ Al Fatawa, 18: 257).

2- Letak niat itu di dalam hati. Jadi, barang siapa yang terbetik dalam hatinya untuk berpuasa keesokan harinya, maka ia sudah dikatakan berniat.

3- Yang tidak melakukan niat di malam hari ketika melaksanakan puasa wajib, puasanya tidak sah. Adapun puasa sunnah akan dibahas pada hadis berikutnya.

4- Niat puasa wajib seperti Ramadan mesti dilakukan di malam hari, yaitu cukup mendapati niat pada sebagian malam, kata Ash Shon’ani dalam Subulus Salam dan Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan dalam Minhatul ‘Allam. Sedangkan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, bahwa seandainya akhir malam pun masih bisa digunakan untuk berniat, asalkan sebelum fajar (Subuh). Adapun waktu malam dimulai dari waktu Maghrib.

Sebagai tanda seseorang sudah dikatakan berniat adalah ia bangun makan sahur, karena sudah terbetik hatinya untuk puasa. Begitu pula jika seseorang sudah memersiapkan makan sahur, meski akhirnya tidak bangun makan sahur, maka sudah dikatakan pula berniat.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

  • Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, 7: 83-92.
  • Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, 1432 H, 5: 18-21.
  • Subulus Salam Al Muwshilah ila Bulughil Marom, Muhammad bin Isma’il Al Amir Ash Shon’ani, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1432 H, 4: 92-93.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3425-niat-di-malam-hari-bagi-puasa-wajib.html

 

Catatan Tambahan:

NIAT PUASA RAMADAN, SETIAP HARI ATAU SEKALI DALAM SEBULAN?

Pertanyaan:

Apakah pada waktu Ramadan kita perlu berniat setiap hari, ataukah cukup berniat sekali untuk satu bulan penuh?

Jawaban:

Cukup dalam seluruh bulan Ramadan kita berniat SEKALI DI AWAL BULAN, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika puasanya terputus di tengah bulan, baik karena bepergian, sakit dan sebagainya, maka dia harus berniat lagi, karena dia telah memutus bulan Ramadan itu dengan meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya.

 

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007

[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/5747-niat-puasa.html

, ,

BOLEHKAH MENGUBAH NIAT PUASA SUNNAH MENJADI PUASA QADHA?

BOLEHKAH MENGUBAH NIAT PUASA SUNNAH MENJADI PUASA QADHA?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

BOLEHKAH MENGUBAH NIAT PUASA SUNNAH MENJADI PUASA QADHA?

Hukum Mengubah Niat Puasa

Pertanyaan:

Ada orang yang terbiasa melakukan puasa Senin dan Kamis. Ketika sedang melakukan puasa pada waktu Senin, dia teringat belum melakukan qadha Ramadan. Bolehkah dia mengubah niat puasa Sunnah Senin tersebut menjadi puasa qadha?

Jawaban:

Pertanyaan serupa pernah disampaikan ke Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih. Dalam keterangannya dinyatakan

فالأيام التي صمتها لا تجزئك عن صيام قضاء رمضان؛ لأن صيام القضاء يشترط فيه تعيينه بالنية المبيتة قبل طلوع الفجر الصادق، ولا يجزئك تغيير النية

Puasa Sunnah yang Anda lakukan, TIDAK BISA dinilai sebagai puasa qadha Ramadan. Karena dalam puasa qadha, disyaratkan menentukan niat di malam hari sebelum terbit fajar (sebelum Subuh). Dan TIDAK SAH MENGUBAH NIAT. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 78865)

Orang yang melakukan puasa Senin, belum berniat puasa qadha sebelum Subuh, sehingga ketika dia mengubah niatnya, berarti dia melakukan niat puasa qadha setelah Subuh, sehingga puasa qadhanya TIDAK DINILAI.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/13438-mengubah-niat-puasa-Sunnah-menjadi-puasa-qadha.html