Posts

,

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA KEPADA ORANG KAFIR BISA MURTAD TANPA SADAR
 
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
 
ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺎﻷﻋﻴﺎﺩ ﻓﻬﺬﻩ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﻼ ﺷﻚ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ؛ ﻷﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺭﺿﺎ ﺑﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮ ﻛﻔﺮ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﻜﺮﺳﻤﺲ، ﺃﻭ ﻋﻴﺪ ﺍﻟﻔَﺼْﺢ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻃﻼﻗﺎً
 
“Adapun mengucapkan selamat hari raya (agama lain), maka ini HARAM tanpa diragukan lagi. Dan bisa jadi seseorang tidak selamat dari kekafiran, karena mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang kafir merupakan bentuk keridaan terhadap hari raya mereka. Padahal RIDA TERHADAP KEKAFIRAN MERUPAKAN KEKAFIRAN, termasuk mengucapkan “Selamat hari Natal” atau”Hari Paskah” atau yang semisalnya. Jadi semacam ini TIDAK BOLEH SAMA SEKALI.
 
ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻬﻨﺌﻮﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻻ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ،
 
Walaupun mereka juga mengucapkan selamat terhadap hari raya kita, maka kita tetap tidak boleh untuk mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka.
 
ﻭﺍﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥّ ﺗﻬﻨﺌﺘﻬﻢ ﺇﻳﺎﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺤﻖ، ﻭﺃﻥ ﺗﻬﻨﺌﺘﻨﺎ ﺇﻳﺎﻫﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺑﺒﺎﻃﻞ
 
Perbedaannya, karena ucapan selamat mereka terhadap hari raya kita adalah ucapan selamat terhadap kebenaran, sedangkan ucapan selamat kita terhadap hari raya mereka adalah ucapan selamat terhadap kebatilan.
 
ﻓﻼ ﻧﻘﻮﻝ: ﺇﻧﻨﺎ ﻧﻌﺎﻣﻠﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﺜﻞ ﺇﺫﺍ ﻫﻨﺆﻭﻧﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻟﻠﻔﺮﻕ ﺍﻟﺬﻱ سمعتم
 
Jadi kita tidak mengatakan, bahwa kita membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama, yaitu jika mereka mengucapkan selamat terhadap hari raya kita, maka kita membalas dengan mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka, karena adanya perbedaan yang telah kalian dengar.”
 
 https://youtu.be/_FENNzaK15Q
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ucapan, #selamatnatal, #selamathariraya, #orangkafir, #bisamurtadtanpasadar, #murtadtanpasadar, #murtad, #larangan, #dilarang, #mengucapkan#Natalan #MerryChristmas,#ChristmaskeluardariIslam
,

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT ATAS SUJUDNYA KEPADA SALIB

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT ATAS SUJUDNYA KEPADA SALIB
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT ATAS SUJUDNYA KEPADA SALIB
>> Patutkah seorang Muslim mengucapkannya?
 
Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
 
وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.وَكَثِيرٌ مِمَّنْ لَا قَدْرَ لِلدِّينِ عِنْدَهُ يَقَعُ فِي ذَلِكَ، وَلَا يَدْرِي قُبْحَ مَا فَعَلَ، فَمَنْ هَنَّأَ عَبْدًا بِمَعْصِيَةٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ كُفْرٍ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ
 
“Mengucapkan Selamat Natal kepada orang Nasrani sama saja dengan mengucapkan “Selamat atas sujudnya kepada Salib.”. Maka itu lebih besar dosanya dan kemurkaannya di sisi Allah, daripada mengucapkan:
• Selamat minum khamar,
• Selamat membunuh jiwa,
• Selamat berzina dan yang semisalnya.
Dan banyak orang yang tidak memiliki pemuliaan terhadap agama (Islam) melakukan hal tersebut, sedang ia tidak mengetahui kejelekan perbuatannya itu. Padahal siapa yang mengucapkan Selamat terhadap seseorang karena satu kemaksiatan, kebid’ahan atau kekafiran, maka sungguh ia telah mengantarkan dirinya kepada kemurkaan dan kemarahan Allah.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 3/441]
 
Di Antara Dalil Kufurnya dan Haramnya Mengucapkan Selamat Natal Adalah Kesepakatan (Ijma’) Ulama
 
Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah juga berkata:
 
وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ
 
“Adapun mengucapkan Selamat terhadap simbol-simbol kekafiran yang merupakan ciri khususnya, maka hukumnya HARAM berdasarkan kesepakatan ulama, seperti seseorang mengucapkan Selamat terhadap hari raya orang-orang kafir dan puasa mereka. Contohnya ia mengatakan: Semoga Hari Raya ini menjadi berkah bagimu. Atau mengatakan: “Semoga engkau bahagia dengan Hari Raya ini,” dan yang semisalnya. Maka dengan sebab ucapannya ini, andai ia selamat dari kekafiran, maka ia tidak akan lepas dari perbuatan yang haram.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 1/441]
 
 
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahulla

#selamatnatal #selamatatassujudnyakepadasalib #hukum #ucapan #mengucapkan #selamatnatal #Natalan #Christmas #MerryChristmas #25Desember #Trinitas #syirik #haram #selamatberibadahkepadasalib #Yesus #Jesus #fatwaulama #simbol #atribut #Kristen #Kristiani

HUKUM MENERIMA ORDERAN NATAL

HUKUM MENERIMA ORDERAN NATAL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENERIMA ORDERAN NATAL
 
Apa hukum menerima orderan atau pesanan Natal ? Seringkali kita dapati pertanyaan hangat seperti ini menjelang Natal, terutama dari para pelaku bisnis, karena banyak orderan menjelang Natal 25 Desember.
Tentu saja kita selaku Muslim tidak mendukung ritual keagamaan non-Muslim. Menerima orderan berkaitan dengan acara Natal berarti mendukung. Mendukung seperti ini TIDAKLAH DIBOLEHKAN dalam agama kita. Allah taala berfirman:
 
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
 
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” [QS. Al-Maidah: 2].
 
Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat.
 
Kami cuma ingatkan hadis Nabi ﷺ berikut bagi yang begitu khawatir rugi karena meninggalkan order yang tidak boleh diterima seorang Muslim:
 
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
 
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” [HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]
 
Padahal rezeki kita tidak pernah tertukar. Kenapa khawatir?
Semoga siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, usaha dan bisnisnya lebih berkah.
 
Sumber: Rumaysho.Com
 #tolongmenolongdalammaksiat #tolongmenolongdalamketakwaan #hukummenerimaorderannatal, #hukummenerimapesanannatal #MerryChristmas #Natalan #merayakan #perayaan #meninggalkansesuatukarenaAllah
,

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL
>> Bolehkah kita sekadar Mengucapkan Selamat Natal saja?
 
Pertanyaan:
Apa hukumnya mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang Nasrani dengan ungkapan “Sepanjang tahun mudah-mudahan kalian dalam keadaan baik.” Atau menyiratkan harapan agar mereka dalam keadaan baik, dan tidak menggangu umat Islam dalam urusan agama. Tujuan ucapan simpatik tersebut bukanlah dimaksudkan untuk mengapresiasi (menghargai) kesyirikan mereka sebagaimana yang disangkakan sebagian ulama.
 
Jawaban:
Alhamdulillah, larangan memberikan apresiasi atau ucapan selamat kepada Nasrani pada hari raya mereka adalah dengan cara turut berbahagia, menampakkan sikap menerima, dan meridai atas apa yang mereka lakukan di hari itu, walaupun dari hati sanubari tidak menyukai perbutan-perbuatan itu.
 
Pengharaman ini tertuju bagi siapa saja yang menampakkan sikap-sikap yang berupa partisipasi dan meridai perayaan hari besar tersebut. Seperti memberi hadiah, melisankan ucapan selamat, membantu kegiatan tersebut dengan tenaga, membuatkan makanan, dan turut serta memeriahkan dengan ikut merayakannya di lokasi-lokasi yang biasa digunakan untuk merayakan hari besar mereka itu. Walaupun niat di dalam hati menyelisihi aktivitas lahiriah, hal ini TIDAK mengubah status hukum perbuatan tersebut dari haram menjadi halal. Amalan lahiriyah ini sudah cukup sebagai parameter haramnya aktivitas partisipasi tersebut.
 
Banyak orang menganggap remeh permaslahan ini. Mereka menyatakan tidak turut serta dalam aktivitas kesyirikan yang dilakukan kaum Nasrani. Hanya saja ini mereka ingin menghargai hari besar agama lain. Menghargai dan memberi apresiasi terhadap ritual yang KELIRU tidaklah diperkenankan. Bahkan semestinya seseorang MENGINGKARI perbutan kemunkaran tersebut dan berusaha mengadakan perbaikan.
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk menyerupai mereka (orang-orang kafir) dalam segala hal yang menjadi yang ciri khas perayaan hari-hari besar mereka, tidak membantu mereka dengan makanan, pakaian, menyediakan penerangan, dll. Kita juga tidak diperkenankan mengadakan perayaan, dukungan finansial, atau kegiatan perdagangan yang bertujuan memudahkan terselenggaranya acara tersebut. Demikian juga tidak mengizinkan anak-anak berpartisipasi di tempat-tempat bermain dalam rangka memeriahkan hari raya mereka, serta tidak berpenampilan perlente demi menyambut acara tersebut.
 
Secara umum, kita tidak diperkenankan mengkhususkan hari raya mereka dengan sesuatu yang terkait dengan syiar agama mereka. Umat Islam hendaknya menganggap hari raya tersebut sebagaimana hari-hari biasa saja, tidak ada kekhususan dan tidak ada sesuatu yang istimewa. Para ulama tidak berselisih terkait dengan menyikapi hari-hari tersebut sebagaimana penjelasan di atas. Sebagian di antara mereka bahkan mengatakan kufurnya seseorang yang menyokong dan berpartisipasi dalam perayaan hari raya mereka. Alasannya karena orang-orang tersebut turut mengagungkan syiar-syiar kekufuran.
 
Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan:
 
من تأسى ببلاد الأعاجم , وصنع نيروزهم ومهرجانهم , وتشبه بهم حتى يموت , وهو كذلك , حشر معهم يوم القيامة
 
“Barang siapa yang tinggal di negeri ‘Ajam (non-Arab), berperilaku seperti orang-orang di negeri tersebut sampai ia meninggal, maka ia akan dibangkitkan bersama orang-orang negeri tersebut pada Hari Kiamat.”
 
Amirul Mukminin Umar bin Khathab, para sahabat nabi, dan para ulama menyaratkan bagi orang-orang Nasrani (non-Islam) untuk TIDAK menampakkan perayaan hari raya mereka di negeri-negeri Islam, dan mereka diharuskan merayakannya secara sembunyi-sembunyi.
 
Dalam kitab musnad dan sunan diriwayatkan, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
 
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum (komunitas), maka dia termasuk bagian dari kaum (komunitas) tersebut.” [HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani]
 
Dalam hadis lain “Bukanlah bagian dari kami, bagi mereka yang menyerupai orang-orang selain kami.” Status hadis ini Jayyid. Apabila menyerupai mereka dalam permasalahan kebiasaan saja terlarang, bagaimana pula hukumnya menyerupai mereka dengan sesuatu yang lebih esensial, yakni menyerupai mereka dengan cara turut memeriahkan hari raya mereka.
 
Sebagian ulama ada yang mengharamkan atau memakruhkan memakan sembelihan mereka yang diperuntukkan untuk perayaan hari raya mereka. Mereka mengategorikan sembelihan tersebut adalah sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah. Mereka para ulama tersebut juga melarang berperan serta dalam hari raya tersebut, baik dalam bentuk memberi hadiah atau menyediakan komoditi dagang untuk memeriahkan hari raya mereka.
 
Mereka mengatakan: “Tidaklah halal bagi seorang Muslim mengadakan transaksi dagang dengan orang Nasrani berkaitan dengan maslahat perayaan hari raya mereka, tidak menjual daging, pakaian, tidak menolong mereka dalam suatu perkara yang menjadi bagian dari agama mereka. Karena yang demikian termasuk mengagungkan kesyirikan mereka, memberi motivasi, dan dorongan moral dan material terhadap kekufuran mereka. Hendaknya pemerintah melarang umat Islam dari perbuatan demikian, karena Allah taala berfirman:
 
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
 
“Tolong-menolonglah kalian dalam perkara kebaikan dan takwa, janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” [QS. Al-Maidah: 2]
 
Coba perhatikan saudaraku, seorang Muslim DILARANG tolong-menolong atau menjadi fasilitator agar seseorang bisa meminum khamr dan perbuatan terlarang lainnya. Tentunya larangan yang lebih lebih tegas layak ditekankan untuk mereka yangberpartisipasi dalam syiar-syiar kekufuran.
 
[Disadur dari: Fatwa Islam no. 106668]
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
hukum,hukum mengucapkan selamat Natal,Natalan,merayakan Natal,perayaan Natal,Merry Christmas,ucapan,ucapkan,mengucapkan,selamat hari Natal,akidah,aqidah
 
,

JAUHI HARI-HARI BESAR MUSUH ALLAH

JAUHI HARI-HARI BESAR MUSUH ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

JAUHI HARI-HARI BESAR MUSUH ALLAH

Berkata ‘Umar bin Khothtob radiyallahu ‘anhu:

 اجتنبوا أعداءالله في عيدهم

Jauhilah oleh kalian musuh-musuh Allah, pada hari-hari besar mereka! [Tarikh Al-Bukhary No. 1804]

 

Sumber: http://alfawzan.net/untaian-hikmah1/jauhi-hari-hari-besar-musuh-allah

,

I LOVE JESUS BECAUSE I AM MUSLIM

I LOVE JESUS BECAUSE I AM MUSLIM

بسم الله الرحمن الرحيم

#DakwahTauhid

#TidakMengucapkanSelamatNatal

I LOVE JESUS BECAUSE I AM MUSLIM

Muslims believe Jesus was the slave of Allah and a Messenger sent to the Israelites of his time. He performed miracles by the will and permission of Allah. The following words of Prophet Muhammad clearly summarise the importance of Jesus in Islam:

“Whoever bears witness that there is no god but Allah Alone, with no partner or associate, and that Muhammad is His slave and Messenger, and that Jesus is His slave and Messenger, a word which Allah bestowed upon Mary and a spirit created by Him, and that Heaven is real, and Hell is real, Allah will admit him through whichever of the eight gates of Heaven he wishes.” (Saheeh Bukhari and Saheeh Muslim)

 

DR Bilal Philips

 

Terjemahan:

SAYA MENCINTAI YESUS (NABI ISA) KARENA SAYA MUSLIM

Orang Muslim percaya bahwa Yesus adalah hamba Allah dan Rasul yang dikirim untuk kaum Bani Israel pada zamannya. Dia memiliki mukjizat atas kehendak dan izin Allah. Sabda berikut dari Nabi Muhammad ﷺ jelas menyimpulkan, betapa pentingnya Yesus dalam Islam:

“Siapa pun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah saja, tanpa pasangan atau sekutu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Yesus adalah hamba dan Rasul-Nya, kata yang Allah berikan kepada Maryam dan ruh yang diciptakan oleh-Nya, dan bahwa Surga adalah nyata, dan Neraka adalah nyata, Allah akan memasukkannya ke dalam Surga, melalui pintu mana saja yang ia kehendaki dari delapan pintu Surga “. [Shahih Bukhari and Shahih Muslim].

 

 

ALASAN YANG MEMBOLEHKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

ALASAN YANG MEMBOLEHKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

بسم الله الرحمن الرحيم

#DakwahTauhid

ALASAN YANG MEMBOLEHKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Jika ada orang yang mengirim surat ke Trump agar masuk Islam, tentu akan dianggap pelecehan dan sikap intoleransi. Bukan semata karena Trump tidak akan sudi, tapi teori Teologi global melarang keras hal tersebut. Karena doktrin Pluralisme agama melarang menganggap agama orang lain salah, dan agama sendiri paling benar. Dan itu dianggap benih terorisme dan fundamentalisme.

Ada dua hal yang seharusnya perlu kita bedakan, Pluralitas dan Pluralisme:

Pluralitas, yaitu adanya perbedaan  agama, kultur dan budaya di alam ini, merupakan realita dan sunnatullah. Sedangkan Pluralisme yang mengajarkan, bahwa semua perbedaan harus disikapi sama dan diberi nilai yang sama, merupakan doktrin peradaban Barat. Sementara Truth Claim (meng-klaim kebenaran agamanya sendiri) dalam ideologi Pluralisme, adalah tindakan yang sangat diharamkan.

Baca: Toleransi Salah Kaprah: Fenomena Topi Natal: https://konsultasisyariah.com/24018-toleransi-salah-kaprah-fenomena-topi-natal.html

Semua harus mengakui kebenaran semua agama. Tidak ada agama yang lebih benar dari agama lain. Sebab kebenaran itu adalah relatif, yang absolut hanya Tuhan.

Inilah yang menjadi dasar, mengapa ada sebagian tokoh masyarakat yang membolehkan kaum Muslimin untuk mengucapkan selamat Natal, sebagaimana orang Nasrani dibolehkan untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri.

Tapi kita bisa menilai, doktrin ini jelas SANGAT BERBAHAYA dan TIDAK DIBENARKAN. Tidak hanya dalam Islam, termasuk doktrin menurut agama lainnya. Dari situlah negara memboleh masing-masing penganut agama untuk mengajarkan ajaran agamanya kepada orang lain. Artinya, menurut pengikut masing-masing agama, orang yang tidak memeluk agamanya berada dalam kesesatan.

Muslim dibolehkan medakwahkan Islamnya kepada non-Muslim

Nasrani dibolehkan mengajarkan agamanya kepada non-Nasrani…dst…

Dan kita mengakui, bahwa ini bukan sikap fundamentalisme.

Dalam Islam, kita diajarkan untuk yakin. Yakin bahwa Islam-lah agama yang paling benar. Meragukan hal ini, berarti imannya diragukan.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. al-Hujurat: 49).

Nabi ﷺ juga memberi contoh kepada kita. Beliau ﷺ berkali-kali mengirim surat ke berbagai raja kafir, menngajak mereka untuk masuk Islam. Jika ini dianggap intoleran, berarti sama dengan menuduh beliau ﷺ melanggar aturan.

Adanya Idul Fitri, Natal, Waisak, dst, itu kenyataan. Tapi jika itu semua kita SAMAKAN, ini DOKTRIN PLURALISME YANG SANGAT TIDAK MASUK AKAL.

MUI memfatwakan, TIDAK BOLEH menggunakan atribut agama lain. Iu bagian dari keyakinan, bahwa agama kita yang paling benar. Dan menggunakan atribut agama lain, bagian dari upaya menyamakan perbedaan itu. Karenanya, SALAH BESAR jika dianggap menebarkan bibit fundamentalisme, apalagi terorisme, sebagaimana tuduhan media…

Baca: Fatwa MUI dan Sikap Ulama Terhadap Natal: https://konsultasisyariah.com/21391-fatwa-mui-dan-sikap-ulama-terhadap-natal.html

Allahu a’lam

 

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28793-alasan-yang-memboleh-ucapkan-selamat-natal.html

 

, ,

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT BERIBADAH KEPADA SALIB. PATUTKAH SEORANG MUSLIM MENGUCAPKANNYA?

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT BERIBADAH KEPADA SALIB. PATUTKAH SEORANG MUSLIM MENGUCAPKANNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT BERIBADAH KEPADA SALIB. PATUTKAH SEORANG MUSLIM MENGUCAPKANNYA?

Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.وَكَثِيرٌ مِمَّنْ لَا قَدْرَ لِلدِّينِ عِنْدَهُ يَقَعُ فِي ذَلِكَ، وَلَا يَدْرِي قُبْحَ مَا فَعَلَ، فَمَنْ هَنَّأَ عَبْدًا بِمَعْصِيَةٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ كُفْرٍ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ

“MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL kepada orang Nasrani sama saja dengan mengucapkan SELAMAT ATAS SUJUDNYA KEPADA SALIB. Maka itu lebih besar dosanya dan kemurkaannya di sisi Allah, daripada mengucapkan Selamat Minum Khamar, Membunuh Jiwa, Berzina dan yang semisalnya.

Dan banyak orang yang tidak memiliki pemuliaan terhadap agama (Islam) melakukan hal tersebut, sedang ia tidak mengetahui kejelekan perbuatannya itu. Padahal siapa yang mengucapkan Selamat terhadap seseorang karena satu kemaksiatan, kebid’ahan atau kekafiran, maka sungguh ia telah MENGANTARKAN DIRINYA KEPADA KEMURKAAN DAN KEMARAHAN ALLAH.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 3/441]

Di Antara Dalil Kufurnya dan Haramnya Mengucapkan Selamat Natal adalah Kesepakatan (Ijma’) Ulama

Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah juga berkata:

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ

“Adapun mengucapkan Selamat terhadap simbol-simbol kekafiran yang merupakan ciri khususnya, maka hukumnya HARAM berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti seseorang mengucapkan Selamat terhadap hari raya orang-orang kafir dan puasa mereka. Contohnya ia mengatakan: “Semoga Hari Raya ini menjadi berkah bagimu”, atau “Semoga engkau bahagia dengan Hari Raya ini”, dan yang semisalnya. Maka dengan sebab ucapannya ini, andai ia selamat dari kekafiran, maka ia tidak akan lepas dari perbuatan yang haram.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 1/441]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/721419398007545

Baca Selengkapnya:

 

 

 

 

#Dakwah_Tauhid
#Fatwa_Ulama

,

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah
#Dakwah_Tauhid

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ، وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ، ثُمَّ هُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tidak ada satu pun yang lebih sabar dari Allah ‘azza wa jalla atas ucapan jelek yang ia dengarkan. Sungguh Dia dipersekutukan dan dianggap memiliki anak, kemudian Dia senantiasa memberi nikmat dan rezeki kepada mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Muslim, dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

#Beberapa_Pelajaran:

1) Sangat besar murka Allah jalla wa ‘ala atas orang-orang yang menyekutukan-Nya dan mengatakan Dia memiliki anak, karena mereka telah merendahkan-Nya. Padahal Dia senantiasa menganugerahkan nikmat dan rezeki kepada mereka.

2) Menyekutukan Allah adalah PERENDAHAN terhadap-Nya, karena hakikat kesyirikan adalah menyamakan Allah yang Maha Besar lagi Maha Mulia, dengan mahkluk yang lemah lagi hina, serta PENENTANGAN terhadap-Nya, yang telah memerintahkan untuk menauhidkan-Nya dan TIDAK menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

3) Mengatakan Allah memiliki anak juga PERENDAHAN terhadap-Nya, karena itu berarti MENYAMAKAN Allah dengan makhluk yang butuh kepada istri dan anak. Maka TIDAKLAH patut bagi umat Islam untuk mengucapkan Selamat Natal, apalagi turut serta merayakan dan membantu perayaan kekafiran dan perendahan terhadap Allah ta’ala tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah ta’ala berfirman: Anak Adam mendustakan Aku, padahal itu tidak patut baginya. Ia juga mencaciku, padahal itu tidak patut baginya. Adapun pendustaannya kepada-Ku adalah ia menyangka, bahwa Aku tidak mampu menghidupkannya kembali seperti sebelumnya. Sedangkan caciannya kepada-Ku adalah ia berkata, bahwa Aku memiliki anak. Maha Suci Aku dari memiliki istri dan anak.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallaahu’anhuma]

4) Renungan bagi umat Nasrani untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dengan masuk Islam dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata serta TIDAK mengatakan Allah memiliki anak, karena Allah ta’ala, Dia-lah satu-satunya Sesembahan yang benar. Dia tidak seperti makhluk yang beranak dan diperanakan. Bahkan Nabi Isa ‘alaihissalaam yang kalian sebut Yesus pun telah memerintahkan kalian untuk beribadah kepada Allah semata. Perhatikanlah ayat berikut ini:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

5) Secara akal sehat, seorang manusia seperti Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam yang kalian sebut Yesus TIDAKLAH patut disembah, karena beliau hanya manusia biasa seperti kita juga, yang lahir dari rahim seorang ibu dan kelak akan wafat. Bahkan kalian menyadari ia adalah manusia yang DILAHIRKAN, sehingga kalian merayakan hari kelahirannya, walau ia sendiri TIDAK pernah memerintahkan kalian untuk merayakannya. Andai beliau pantas disembah karena lahir tanpa ayah, maka sungguh Nabi Adam ‘alaihissalaam yang lebih patut disembah, karena beliau lahir tanpa ayah dan ibu sekaligus. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” [Ali Imron: 59]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/720950231387795:0