Posts

,

ANDA MUSLIM MASIH MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL?

ANDA MUSLIM MASIH MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL?

بسم الله الرحمن الرحيم

#DakwahTauhid

#TidakMengucapkanSelamatNatal

ANDA MUSLIM MASIH MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL?

Kami dulunya tinggal di Papua yang mayoritas Nasrani

Kami bertetangga dengan mereka

Bahkan rumah kami berdampingan dengan rumah-rumah mereka

Kami tahu perayaan mereka

Bahkan dahulu kami bertamu

Bahkan kami bantu dan gotong royong

Bahkan acara kebaktian mereka pun kami tahu

Sampai mengucapkan selamat pun kami anggap hal umrah

Namun kala kami hijrah ke Jawa …

 

Kami tahu mengucapkan selamat untuk perayaan mereka itu tidak boleh

Kami tahu bertamu ke tempat mereka untuk mengucapkan selamat pun tidak boleh

Padahal teman dan rekan kami banyak yang berbeda akidah

Kami tahu tak perlu merayakan bersama, walau secara prinsip muamalah tetap baik

Karena prinsip kami “Lakum diinukum wa liyadiin”

Bagi kalian ajaran kalian, bagiku ajaranku

Kalian silakan rayakan, tanpa kami turut serta dan dukung, kalian pun tidak kami ganggu

 

Bagi yang rela dan ridha ucapkan,

Tak takutkah murka Allah?

Bukankah mereka meyakini, bahwa Isa itu bagian dari yang tiga?

Teori Trinitas yang mereka yakini, Isa adalah Bapak, Putera dan Roh Kudus

Padahal prinsip Islam adalah Lam Yalid Wa Lam Yuulad

Yaitu Allah itu Esa, tidak ada putera atau istilah anak Tuhan

Jika Anda ucapkan, sama saja Anda mengucapkan Selamat Atas Kelahiran Anak Tuhan

 

Kami yang dahulu dari Papua, berusaha tidak ucapkan lagi …

Sedangkan Anda?

Akidah dan keyakinan rela dikorbankan, cuma karena ingin dibilang tolerir dan baik

Padahal baik dengan mereka itu boleh, selama BUKAN ranah agama

 

Anda Muslim masih ucapkan selamat Natal?

Masih mendukung?

Masih membantu?

Masih merayakan bersama?

 

Terserahlah …

Anda harus siap menjawab jika ditanya di hadapan Allah kelak.

Hisab di sisi Allah itu SUNGGUH BERAT.

Tugas kami hanyalah memberi penjelasan,

Sedangkan hidayah milik Allah.

 

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/12584-anda-muslim-masih-mengucapkan-selamat-natal.html

 

ALASAN YANG MEMBOLEHKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

ALASAN YANG MEMBOLEHKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

بسم الله الرحمن الرحيم

#DakwahTauhid

ALASAN YANG MEMBOLEHKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Jika ada orang yang mengirim surat ke Trump agar masuk Islam, tentu akan dianggap pelecehan dan sikap intoleransi. Bukan semata karena Trump tidak akan sudi, tapi teori Teologi global melarang keras hal tersebut. Karena doktrin Pluralisme agama melarang menganggap agama orang lain salah, dan agama sendiri paling benar. Dan itu dianggap benih terorisme dan fundamentalisme.

Ada dua hal yang seharusnya perlu kita bedakan, Pluralitas dan Pluralisme:

Pluralitas, yaitu adanya perbedaan  agama, kultur dan budaya di alam ini, merupakan realita dan sunnatullah. Sedangkan Pluralisme yang mengajarkan, bahwa semua perbedaan harus disikapi sama dan diberi nilai yang sama, merupakan doktrin peradaban Barat. Sementara Truth Claim (meng-klaim kebenaran agamanya sendiri) dalam ideologi Pluralisme, adalah tindakan yang sangat diharamkan.

Baca: Toleransi Salah Kaprah: Fenomena Topi Natal: https://konsultasisyariah.com/24018-toleransi-salah-kaprah-fenomena-topi-natal.html

Semua harus mengakui kebenaran semua agama. Tidak ada agama yang lebih benar dari agama lain. Sebab kebenaran itu adalah relatif, yang absolut hanya Tuhan.

Inilah yang menjadi dasar, mengapa ada sebagian tokoh masyarakat yang membolehkan kaum Muslimin untuk mengucapkan selamat Natal, sebagaimana orang Nasrani dibolehkan untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri.

Tapi kita bisa menilai, doktrin ini jelas SANGAT BERBAHAYA dan TIDAK DIBENARKAN. Tidak hanya dalam Islam, termasuk doktrin menurut agama lainnya. Dari situlah, negara memboleh masing-masing penganut agama untuk mengajarkan ajaran agamanya kepada orang lain. Artinya, menurut pengikut masing-masing agama, orang yang tidak memeluk agamanya berada dalam kesesatan.

Muslim dibolehkan medakwahkan Islamnya kepada non-Muslim

Nasrani dibolehkan mengajarkan agamanya kepada non-Nasrani…dst…

Dan kita mengakui, bahwa ini bukan sikap fundamentalisme.

Dalam Islam, kita diajarkan untuk yakin. Yakin bahwa Islam-lah agama yang paling benar. Meragukan hal ini, berarti imannya diragukan.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. al-Hujurat: 49).

Nabi ﷺ juga memberi contoh kepada kita. Beliau ﷺ berkali-kali mengirim surat ke berbagai raja kafir, menngajak mereka untuk masuk Islam. Jika ini dianggap intoleran, berarti sama dengan menuduh beliau ﷺ melanggar aturan.

Adanya Idul Fitri, Natal, Waisak, dst, itu kenyataan. Tapi jika itu semua kita SAMAKAN, ini DOKTRIN PLURALISME YANG SANGAT TIDAK MASUK AKAL.

MUI memfatwakan, TIDAK BOLEH menggunakan atribut agama lain. Iu bagian dari keyakinan, bahwa agama kita yang paling benar. Dan menggunakan atribut agama lain, bagian dari upaya menyamakan perbedaan itu. Karenanya, SALAH BESAR jika dianggap menebarkan bibit fundamentalisme, apalagi terorisme, sebagaimana tuduhan media…

Baca: Fatwa MUI dan Sikap Ulama Terhadap Natal: https://konsultasisyariah.com/21391-fatwa-mui-dan-sikap-ulama-terhadap-natal.html

Allahu a’lam

 

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28793-alasan-yang-memboleh-ucapkan-selamat-natal.html

 

, ,

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT BERIBADAH KEPADA SALIB. PATUTKAH SEORANG MUSLIM MENGUCAPKANNYA?

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT BERIBADAH KEPADA SALIB. PATUTKAH SEORANG MUSLIM MENGUCAPKANNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid
#Fatwa_Ulama

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT BERIBADAH KEPADA SALIB. PATUTKAH SEORANG MUSLIM MENGUCAPKANNYA?

Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.وَكَثِيرٌ مِمَّنْ لَا قَدْرَ لِلدِّينِ عِنْدَهُ يَقَعُ فِي ذَلِكَ، وَلَا يَدْرِي قُبْحَ مَا فَعَلَ، فَمَنْ هَنَّأَ عَبْدًا بِمَعْصِيَةٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ كُفْرٍ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ

“MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL kepada orang Nasrani sama saja dengan mengucapkan SELAMAT ATAS SUJUDNYA KEPADA SALIB. Maka itu lebih besar dosanya dan kemurkaannya di sisi Allah, daripada mengucapkan Selamat Minum Khamar, Membunuh Jiwa, Berzina dan yang semisalnya.

Dan banyak orang yang tidak memiliki pemuliaan terhadap agama (Islam) melakukan hal tersebut, sedang ia tidak mengetahui kejelekan perbuatannya itu. Padahal siapa yang mengucapkan Selamat terhadap seseorang karena satu kemaksiatan, kebid’ahan atau kekafiran, maka sungguh ia telah MENGANTARKAN DIRINYA KEPADA KEMURKAAN DAN KEMARAHAN ALLAH.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 3/441]

Di Antara Dalil Kufurnya dan Haramnya Mengucapkan Selamat Natal adalah Kesepakatan (Ijma’) Ulama

Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah juga berkata:

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ

“Adapun mengucapkan Selamat terhadap simbol-simbol kekafiran yang merupakan ciri khususnya, maka hukumnya HARAM berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti seseorang mengucapkan Selamat terhadap hari raya orang-orang kafir dan puasa mereka. Contohnya ia mengatakan: “Semoga Hari Raya ini menjadi berkah bagimu”, atau “Semoga engkau bahagia dengan Hari Raya ini”, dan yang semisalnya. Maka dengan sebab ucapannya ini, andai ia selamat dari kekafiran, maka ia tidak akan lepas dari perbuatan yang haram.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 1/441]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahulla

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/721419398007545

Baca Selengkapnya:

 

 

 

,

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah
#Dakwah_Tauhid

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ، وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ، ثُمَّ هُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tidak ada satu pun yang lebih sabar dari Allah ‘azza wa jalla atas ucapan jelek yang ia dengarkan. Sungguh Dia dipersekutukan dan dianggap memiliki anak, kemudian Dia senantiasa memberi nikmat dan rezeki kepada mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Muslim, dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

#Beberapa_Pelajaran:

1) Sangat besar murka Allah jalla wa ‘ala atas orang-orang yang menyekutukan-Nya dan mengatakan Dia memiliki anak, karena mereka telah merendahkan-Nya. Padahal Dia senantiasa menganugerahkan nikmat dan rezeki kepada mereka.

2) Menyekutukan Allah adalah PERENDAHAN terhadap-Nya, karena hakikat kesyirikan adalah menyamakan Allah yang Maha Besar lagi Maha Mulia, dengan mahkluk yang lemah lagi hina, serta PENENTANGAN terhadap-Nya, yang telah memerintahkan untuk menauhidkan-Nya dan TIDAK menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

3) Mengatakan Allah memiliki anak juga PERENDAHAN terhadap-Nya, karena itu berarti MENYAMAKAN Allah dengan makhluk yang butuh kepada istri dan anak. Maka TIDAKLAH patut bagi umat Islam untuk mengucapkan Selamat Natal, apalagi turut serta merayakan dan membantu perayaan kekafiran dan perendahan terhadap Allah ta’ala tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah ta’ala berfirman: Anak Adam mendustakan Aku, padahal itu tidak patut baginya. Ia juga mencaciku, padahal itu tidak patut baginya. Adapun pendustaannya kepada-Ku adalah ia menyangka, bahwa Aku tidak mampu menghidupkannya kembali seperti sebelumnya. Sedangkan caciannya kepada-Ku adalah ia berkata, bahwa Aku memiliki anak. Maha Suci Aku dari memiliki istri dan anak.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallaahu’anhuma]

4) Renungan bagi umat Nasrani untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dengan masuk Islam dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata serta TIDAK mengatakan Allah memiliki anak, karena Allah ta’ala, Dia-lah satu-satunya Sesembahan yang benar. Dia tidak seperti makhluk yang beranak dan diperanakan. Bahkan Nabi Isa ‘alaihissalaam yang kalian sebut Yesus pun telah memerintahkan kalian untuk beribadah kepada Allah semata. Perhatikanlah ayat berikut ini:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

5) Secara akal sehat, seorang manusia seperti Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam yang kalian sebut Yesus TIDAKLAH patut disembah, karena beliau hanya manusia biasa seperti kita juga, yang lahir dari rahim seorang ibu dan kelak akan wafat. Bahkan kalian menyadari ia adalah manusia yang DILAHIRKAN, sehingga kalian merayakan hari kelahirannya, walau ia sendiri TIDAK pernah memerintahkan kalian untuk merayakannya. Andai beliau pantas disembah karena lahir tanpa ayah, maka sungguh Nabi Adam ‘alaihissalaam yang lebih patut disembah, karena beliau lahir tanpa ayah dan ibu sekaligus. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” [Ali Imron: 59]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/720950231387795:0

 

 

PETUAH BERMAKNA AGAR TIDAK IKUT-IKUTAN NATALAN

PETUAH BERMAKNA AGAR TIDAK IKUT-IKUTAN NATALAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

PETUAH BERMAKNA AGAR TIDAK IKUT-IKUTAN NATALAN

Penulis: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah

 

  • Simak tulisan berikut ini agar kita sadar tentang kebatilan agama Yahudi dan Kristen, sehingga kita pun tidak kebablasan dalam bertoleransi dan mencintai mereka.
  • Nabi Ibrahim, Ya’qub serta anak cucunya semua berada di atas Islam, bukan berada di atas agama Yahudi dan Nasrani-Kristen. Nabi Isa termasuk di antara anak cucu Ibrahim dan Ya’qub, yang diajak dan diingatkan agar ber-Islam dan mati di atasnya.
  • Para pemuka agama Kristen seperti Paulus tahu, bahwa Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Musa, Isa dan asbath (anak cucu Ya’qub) adalah manusia-manusia yang beragama Islam!! Tapi kebencian terhadap agama Nabi Isa (yaitu Islam), membuat Paulus beserta pengikutnya dan kerajaan Konstantinopel berusaha keras untuk mengubur Islam.
  • Nabi Isa TIDAK PERNAH mengangkat dirinya sebagai Tuhan!

 

Mari kita “sambut” Natal tahun ini dengan kritikan dan petuah serta nasihat bagi kaum Muslimin, agar TIDAK terpengaruh merayakannya bersama dengan kaum Nashara alias Kristen.

Sebab ada fenomena bergampangan yang muncul ke permukaan, dengan adanya sebagian manusia lemah iman, hadir dalam Natal, bahkan kadang ikut jadi panitia hari raya mereka.

Fenomena seperti ini timbul dengan berbagai macam faktor dan sebab, mulai dari sebab kejahilan, duniawi, politik, bisnis, dan sebagainya. Padahal kebiasaan seperti ini AMATLAH BURUK di sisi Allah Azza wa Jalla.

Merayakan Natal adalah kebiasaan kaum Nasrani alias Kristen. Mereka merayakannya pada hari yang mereka klaim sebagai hari kelahiran Isa bin Maryam, yaitu 25 Desember pada setiap tahunnya.

Walaupun penanggalan Natal itu sendiri sebuah polemik di kalangan para sejarawan, bahkan banyak di antara mereka menyatakan bahwa kelahiran Isa bukanlah pada 25 Desember.

Dalam menghadapi Natal, mereka banyak menyalakan lilin di mana-mana dan menghiasi gereja-gereja, rumah, jalanan, toko dan lainnya.

Mereka menggunakan berbagai macam warna lilin dan perhiasan yang tak pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka: Nabi Isa alaihis salam dan pengikutnya yang setia.

Itu hanyalah buatan dan inovasi mereka, BUKAN ajaran Nabi Isa!!!

Mereka merayakan Natal ini secara bersama dan resmi, serta menganggapnya hari libur resmi di semua negara-negara yang beragama Kristen. Bahkan lebih aneh lagi, di sebagian negeri-negeri Islam dianggap hari itu adalah hari libur nasional!!

Perayaan hari lahir (dies Natalis) Al-Masih Isa bin Maryam merupakan perkara yang diada-ada lagi bid’ah dalam agama mereka sendiri. Sebab, perayaan ini nanti muncul setelah kaum Hawariyyin (pengikut dan penolong setia Nabi Isa) meninggal dunia. Jadi, perayaan Natal TIDAK DIKENAL di zaman Nabi Isa dan para Hawariyyin. [Lihat Al-Jawab Ash-Shohih (2/230) dan Al-Majmu’ (28/611) karya Ibnu Taimiyyah]

Namun aneh sungguh aneh, masih ada saja di antara kaum Muslimin yang ikut memeringati Natal. Padahal sudah menjadi prinsip kokoh dalam Islam, bahwa seorang Muslim dilarang keras ikut bergembira dengan hari raya kaum kafir!!!! Karena, kegembiraan saat terjadinya kekafiran, merupakan perkara yang TIDAK DI RIDHAI oleh Azza wa Jalla.

Satu di antara syiar kekafiran adalah merayakan Natal Isa alaihis salam. Di dalamnya dihidupkan syiar kekafiran, pengultusan Nabi Isa dan menghidupkan segala paham kafir yang diyakini oleh kaum Nasrani alias Kristen. Walapun Nabi mereka sebenarnya TIDAK PERNAH mencontohkan semua itu!!!

Allah Ta’ala berfirman:

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ [الزمر/7]

“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu, kesyukuranmu itu”. (QS. Az-Zumar: 07)

Di dalam acara Natal, banyak dihiasi kemungkaran dan hawa nafsu berupa campur baurnya kaum lelaki dan wanita. Dan hal itu memang biasa bagi mereka. Meminum khomer, makan babi atau anjing, joget (disko) dan berbagai macam perkara yang mungkin malu kita sebutkan!!!

Di zaman ini ada sebuah virus yang menjangkiti sebagian kaum Muslimin yang lemah iman. Virus ini disebut dengan “taklid buta”. Virus taklid ini menyeret mereka untuk mengikuti langkah setan dan pengikutnya dari kalangan kaum kafir. Akhirnya, Muslim yang terjangkiti dengan virus berbahaya ini ikut-ikutan merayakan Natal dengan sangkaan batil, bahwa itu, katanya, gaya hidup modern dan gaya hidup maju.

Ikut Natalan dianggapnya kemajuan dan perkembangan. Subhanallah, aneh betul!!! Anggaplah kemajuan dan perkembangan!!!! Akan tetapi kemajuan dan perkembangan dalam kekafiran!!!!!

Di sana ada virus lain yang tak kalah bahayanya dari virus taklid, yaitu virus kedua yang kita kenal dengan “toleransi”. Virus Toleransi ini banyak menyeret bani Adam ke dalam kubang kekafiran dengan beralasan, “Itu kan toleransi”. Ketika ikut Natalan, maka ia berdalih dengan “toleransi”.

Padahal seorang Muslim TIDAK BOLEH bertoleransi dalam hal agama, termasuk di antaranya ikut Natalan. Allah -Tabaroka wa Ta’ala- menegaskan dalam firman-Nya:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)  [الكافرون/1-6]

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.  Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.  Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah.  Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Ahli Tafsir Negeri Yaman, Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy rahimahullah berkata:

وَسَبَبُ نُزُولِ هَذِهِ السُّورَةِ أَنَّ الْكُفَّارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَعْبُدَ آلِهَتَهُمْ سَنَةً وَيَعْبُدُوا إِلَهَهُ سَنَةً، فَأَمَرَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ أَيْ: لَا أَفْعَلُ مَا تَطْلُبُونَ مِنِّي مِنْ عِبَادَةِ مَا تَعْبُدُونَ مِنَ الأصنام، اهـ من فتح القدير للشوكاني – (5 / 619)

“Sebab turunnya ayat ini, bahwa orang-orang kafir meminta kepada Rasulullah ﷺ agar beliau ﷺ menyembah sesembahan mereka selama setahun dan sebaliknya mereka akan menyembah sembahan beliau (yakni, Allah) selama setahun. Lantaran itu, Allah memerintahkan beliau ﷺ untuk menyatakan kepada mereka: “Aku tak akan menyembah apa yang kalian sembah”. Maksudnya, aku tak akan melakukan sesuatu yang kalian tuntut dariku berupa penyembahan kepada sesuatu yang kalian sembah berupa arca-arca”. [Lihat Faidhul Qodir (5/619)]

Dari sini kita mengetahui kesalahan sikap para pejuang toleransi yang amat keterlaluan dalam bertoleransi, sampai dalam urusan prinsip agama pun mereka tetap menyuarakan toleransi!! SUNGGUH KEJI TOLERANSI SEPERTI INI!!!

Orang-orang dangkal agama seperti ini amat terpukau dengan kaum kafir, sehingga ia pun taklid buta kepada mereka, dan menganggapnya sebagai bentuk kemajuan dan modernisasi. Mereka memandang, bahwa keikutsertaan bersama orang-orang Kristen dalam Natal merupakan sikap maju dan moderen. Lantaran itu, kita akan melihatnya bergegas mendatangi acara Natal, seraya memberikan ucapan selamat kepada kaum Nasrani-Kristen.

Ini semua timbul karena lemahnya benteng agama. Mereka Muslim dalam KTP, tapi perbuatan dan sikapnya bukan Islam!! Karena di dalam perbuatan mereka tersebut terdapat penyelisihan, secara khusus, terhadap larangan Nabi ﷺ dari menyerupai orang-orang kafir, dan menyalahi larangan beliau ﷺ secara umum, dari maksiat-maksiat yang dilakukan pada acara Natal!! [Lihat Al-Bida’ Al-Hawliyyah (hal. 384)]

Adanya Natal, seorang Muslim harusnya marah, karena di dalamnya Allah dipersekutukan dengan Isa bin Maryam alaihis salam, dan agama Islam yang dibawa oleh Nabiﷺ diingkari oleh mereka, serta berbagai maksiat yang mereka lakukan di sana, berupa kekafiran, bid’ah, dosa (besar, maupun kecil).

Dengarkanlah ayat di bawah ini!! Ayat yang menggambarkan betapa besarnya kemarahan Allah terhadap orang-orang Kristen yang menyatakan, bahwa Allah menjadikan Isa (Yesus) sebagai anak-Nya!!

Allah -Ta’ala- berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93) [مريم: 88 – 93]

“Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (memunyai) anak”. Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar.  Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh.  Karena mereka mendakwakan Allah yang Maha Pemurah memunyai anak.  Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (memunyai) anak.  Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah, selaku seorang hamba”. (QS. Maryam: 88-93)

Ulama Negeri Syam, Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“لما قرر تعالى في هذه السورة الشريفة عبودية عيسى، عليه السلام، وذكر خلقه من مريم بلا أب، شرع في مقام الإنكار على من زعم أن له ولدا -تعالى وتقدّس وتنزه عن ذلك علوًّا كبيرًا-” اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة – (5 / 265)

“Tatkala Allah sudah menetapkan status Isa alaihis salam sebagai HAMBA, dan menyebutkan penciptaan Isa dari Maryam tanpa bapak, maka Allah mulai pengingkaran-Nya atas orang-orang yang meng-klaim, bahwa Allah memiliki anak. Maha Tinggi Allah lagi Maha Suci dari semua itu, dengan ketinggian yang besar”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (5/265), cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (3) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (5) [الكهف:1-5]

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Alquran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya sebagai bimbingan yang lurus, untuk memeringatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah, dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memeringatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak.” Mereka sekali-kali tidak memunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu), kecuali dusta”. (QS. Al-Kahfi: 1-5)

Allah Azza wa Jalla menjelaskan, bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah milik dan ciptaan-Nya (termasuk di antaranya, Nabi Isa yang dipertuhankan kaum Nasrani-Kristen).

Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ (116) بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُون [البقرة: 116 ، 117]

“Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah memunyai anak”. Maha Suci Allah. Bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi. Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!”, lalu jadilah ia”. (QS. Al-Baqoroh: 116-117)

Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ (26) لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ (27) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ (28) وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ (29) [الأنبياء: 26 – 29]

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (memunyai) anak”. Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan.  Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridhai Allah. Dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barang siapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam. Demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim”. (QS. Al-Anbiyaa’: 26-29)

Perhatikanlah betapa besar kemurkaan Allah terhadap kaum Kristen dan semisalnya yang menyatakan bahwa Allah memiliki seorang anak!! Lantas kenapa kita berani mendekati orang-orang seperti ini dan selalu berlemah lembut dengan mereka dalam perkara agama.

Kenapa kita tak pernah tegas dan gamblang menyatakan agama kita, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammadﷺ. Agama yang membenci dan memberantas semua bentuk kesyirikan, termasuk di antaranya mengangkat makhluk sebagai anak Allah. SEMUA INI HARUS DIBERANTAS.

Kenapakah kita terlalu menampakkan kemesraan dan kecintaan kepada kaum Nasrani-Kristen yang menentang Allah dan Nabi Muhammad ﷺ!!

Padahal Allah secara tegas mengajari kita agar JANGAN mencintai mereka, apalagi menjadikan mereka orang-orang kepercayaan kita. Allah -Ta’ala- berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ [المجادلة: 22]

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka”. (QS. Al-Mujadilah: 22)

Tak diragukan lagi, bahwa kehadiran seseorang dalam acara Natal dan memberikan hadiah kepada mereka di hari itu termasuk BENTUK KECINTAAN KEPADA MUSUH-MUSUH Allah dan Rasul-Nya Muhammadﷺ.

Pertanyaan besar akan muncul ke permukaan: “Mungkinkah Nabi Isa alaihis salam menyatakan, bahwa dirinya adalah anak Allah atau Tuhan itu sendiri?”

Jawabnya, TIDAK MUNGKIN. Sebab, tak mungkin beliau menyalahi ayat di atas yang berisi ancaman bagi orang yang mengaku dirinya sebagai “Tuhan” dan sekutu dari selain Allah. Oleh karena itu, Nabi Isa alaihis salam di Hari Kiamat nanti akan MENYATAKAN PENGINGKARANNYA atas orang-orang Kristen yang telah memertuhankannya.

Allah Ta’ala berfirman dalam mengabadikannya dalam Al-Kitab Al-Aziz:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) [المائدة: 116 ، 117]

“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku sebagai dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.  Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu”. (QS. Al-Maa’idah: 116-117)

Al-Imam Al-Hafizh Abul Fidaa’ Isma’il bin Umar bin Katsir Al-Qurosyiy Ad-Dimasyqiy rahimahullah berkata:

“هذا أيضًا مما يخاطب الله تعالى به عبده ورسوله عيسى ابن مريم، عليه السلام، قائلا له يوم القيامة بحضرة من اتخذه وأمه إلهين من دون الله: { وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ } ؟ وهذا تهديد للنصارى وتوبيخ وتقريع على رؤوس الأشهاد.” اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة – (3 / 232)

“Ini juga merupakan perkara yang Allah bicarakan bersama hamba dan Rasul-Nya, Isa bin Maryam alaihis salam, seraya berkata kepadanya pada Hari Kiamat di depan orang-orang yang menjadikan beliau dan ibunya sebagai dua Tuhan dari selain Allah: “Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku sebagai dua orang Tuhan dari selain Allah?”. Ini merupakan ancaman, kecaman dan teguran bagi kaum Nasrani (Kristen) di depan makhluk-makhluk” [Lihat Tafsir Ibni Katsir (3/232)].

Para pemimpin agama kaum Nasrani telah mengutak-atik Injil. Dahulu Injil mengajak kepada tauhid dan memberantas syirik, dan kini berubah total. Akhirnya, mereka mengajak kepada kesyirikan (menduakan Allah) bersama Nabi Isa alaihis salam.

Para pemuka agama Kristen, khususnya Paulus, telah mengubah Injil dengan segala macam silat lidahnya. Tidak mungkin Nabi Isa akan mengajak kepada kesyirikan yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam (yakni, tauhid: mengesakan Allah). Islamlah yang Nabi Isa bawa dan dakwahkan di tengah manusia.

Ketahuilah bahwa para nabi dan rasul itu satu di atas sebuah agama, yaitu Islam. Yang membedakan mereka adalah syariat dan metode mereka dalam beribadah.

Adapun kaum Yahudi dan Nasrani-Kristen, maka mereka telah MURTAD dari Islam yang dibawa oleh Nabi Isa alaihis salam, dengan sebab mereka mengangkat Tuhan selain Allah, yaitu Uzair dan Isa bin Maryam atau yang lainnya.

Agama yang mereka anut sepeninggal Nabi Isa adalah agama kekafiran yang mengajak manusia menduakan Allah Azza wa Jalla; BUKAN agama Nabi Isa!! Agama yang dibawa dan diserukan oleh Isa alaihis salam adalah Islam. Allah Azza wa Jalla menjelaskan hal itu dalam firman-Nya:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132) أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133) [البقرة: 132 ، 133]

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub (berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian. Maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-Baqoroh: 132-133)

Perhatikan ucapan Ibrahim dan Ya’qub (Israel): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Sebuah pertanyaan: “Siapakah di antara anak cucu Ibrahim dan Ya’qub yang diwasiati agar jangan mati, kecuali dalam keadaan beragama Islam?”

Jawabnya, Nabi Isa termasuk di antara anak cucu Ibrahim dan Ya’qub, yang diajak dan diingatkan agar ber-Islam dan mati di atasnya.

Nabi Ibrahim, Ya’qub serta anak cucunya semua berada di atas Islam!! Bukan berada di atas agama Yahudi dan Nasrani-Kristen.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67) إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68) [آل عمران: 67 – 68]

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah), dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad). Dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imraan: 67-68)

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ  [البقرة: 140]

“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan, bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan asbath (anak cucunya), adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kalian lebih mengetahui ataukah Allah. Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al-Baqoroh: 140)

“Syahadah dari Allah” ialah persaksian Allah yang tersebut dalam Taurat dan Injil, bahwa Nabi Ibrahim dan anak cucunya BUKAN penganut agama Yahudi atau Nasrani. Dan bahwa Allah akan mengutus Muhammad ﷺ sebagai rasul yang akan MEMBENARKAN risalah sebelumnya, dan MENGHAPUS semua syariat yang ada!!

Seorang ulama tabi’in, Al-Imam Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata saat menafsirkan ayat ini:

كَانَتْ شَهَادَةُ اللَّهِ الَّذِي كَتَمُوا أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْرَءُونَ فِي كِتَابِ اللَّهِ الَّذِي أَتَاهُمْ إنَّ الدِّينَ الإِسْلامُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَأَنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطَ كَانُوا بُرَّاءً مِنَ الْيَهُودِيَّةِ وَالنَّصْرَانِيَّةِ. فَشَهِدُوا لِلَّهِ بِذَلِكَ، وَأَقَرُّوا بِهِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ لِلَّهِ فَكَتَمُوا شَهَادَةَ اللَّهِ: عِنْدَهُمْ مِنْ ذَلِكَ. فَذَلِكَ مَا كَتَمُوا مِنْ شَهَادَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ.” اهـ من تفسير ابن أبي حاتم – محققا – (1 / 246)

 “Syahadah (persaksian) Allah yang mereka sembunyikan adalah bahwasanya mereka dulu telah membaca dalam Kitab-kitab Allah yang datang (turun) kepada mereka: “Sesungguhnya agama (yang ada di sisi Allah) adalah Islam, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, serta bahwasanya Nabi Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan asbath (anak keturunan Ya’qub) berlepas diri dari agama Yahudi dan Nasrani (Kristen)”.

Mereka (Ahlul Kitab) pun memersaksikan hal itu dan mengakui hal itu kepada Allah atas diri mereka. Tapi mereka menyembunyikan persaksian Allah tersebut atas hal tadi di sisi mereka!! Itulah yang mereka sembunyikan di antara persaksian Allah. Namun Allah tidak akan lalai dari apa yang kalian kerjakan”. [Lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim (1/246), Tafsir Ath-Thobariy (2134) dan Tafsir Ibnu Katsir (1/451)]

Para pemuka agama Kristen seperti Paulus tahu, bahwa Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Musa, Isa dan asbath (anak cucu Ya’qub) adalah manusia-manusia yang beragama Islam!!

Tapi kebencian terhadap agama Nabi Isa (yaitu Islam) membuat Paulus beserta pengikutnya dan kerajaan Konstantinopel berusaha keras untuk mengubur Islam.

Pasalnya, Paulus itu beragama Yahudi yang jelas-jelas mengajak kepada kesyirikan (menduakan Allah). Apalagi kerajaan Konstantinopel waktu itu juga berlatar belakang agama penyembah berhala (Paganis).

Walaupun keduanya sudah masuk dalam agama Nabi Isa, menurut mereka, hanya saja kebiasaan syirik Paulus dan Raja Konstantinopel belum bisa ia tinggalkan.

Akhirnya, mereka berdua membuat format agama baru yang mempertuhankan Nabi Isa!! Na’udzu billahi min dzalika!!!

Padahal mereka tahu dengan jelas dan pasti, bahwa Nabi Isa TIDAK PERNAH mengangkat dirinya sebagai Tuhan!!!

Mereka telah memutarbalikkan fakta dan realita dengan silat lidah mereka yang lihai, sampai banyak di antara manusia menjadi domba-domba yang disesatkan oleh Paulus dan para pengekornya.

Mereka inilah yang disinggung oleh Allah Tabaroka wa Ta’ala dalam firman-Nya:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (78) مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79) وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (80) [آل عمران: 78 – 80]

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab. Padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah”. Akan tetapi hendaknya (ia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani (sempurna ilmu dan takwanya), karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap memelajarinya.  Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran, di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”.

Kita katakan kepada Paulus dan pengekornya: “Apakah mungkin Nabi Isa mengajarkan manusia untuk mempertuhankan diri beliau??!”

Jawabnya, TIDAK MUNGKIN beliau melakukan hal itu, sebab itu adalah kekafiran yang menyalahi ajaran Islam yang beliau bawa.

Semoga penjelasan ini menyadarkan kita tentang KEBATILAN AGAMA YAHUDI DAN KRISTEN sehingga kita pun tidak kebablasan dalam bertoleransi dan mencintai mereka.

Semoga kaum Muslimin tidak lagi turut dan larut dalam acara batil mereka!! Amiin ya Robbal alamin…

 

Sumber https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/12/petuah-bermakna-agar-tidak-ikut-ikutan.html?m=1

,

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS ZUHKRUF AYAT 89

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS ZUHKRUF AYAT 89

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS ZUHKRUF AYAT 89

Ada sekelompok orang yang menggunakan ayat berikut ini sebagai dalil bolehnya mengucapkan selamat Natal atau bahkan dalil bolehnya Natalan. Allah ta’ala berfirman:

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).

Yang berikut ini adalah beberapa poin SANGGAHANNYA:

Apakah orang yang menggunakan lafaz سَلَام  Salamun dalam ayat ini untuk konteks ayat surat Maryam ayat 33 bermaksud agar dapat menghasilkan kesimpulan bolehnya mengucapkan selamat Natal? Jika demikian, inilah yang namanya othak-athik-gathuk. Bongkar-pasang sana sini, demi mencapai tujuan yang diinginkan.

  • Pertama, para ulama berbeda pendapat mengenai memulai ucapan salam kepada non-Muslim. Yang dimaksud ucapan salam di sini adalah mendoakan keselamatan semacam “Assalamu’alaikum“. Jika ini pembahasannya, maka Zuhkruf ayat 89 ini salah satu dalil yang dibahas. Namun kalau untuk membahas selamat Natal, maka TIDAK nyambung.
  • Kedua, jika kita membaca keseluruhan ayat, dan juga berdasarkan keterangan para ulama ahli tafsir, makna ayat ini jelas. Yaitu, Nabi ﷺ mengajak orang kafir Quraisy untuk beriman menyembah Allah semata, dengan menyampaikan segala argumen, namun mereka menolak. Maka ya sudah, tinggalkan, tidak perlu ngotot jika memang mereka ngeyelan. Kira-kira demikian ringkasnya.
  • Ketiga, sebagian ulama mengatakan ayat ini Makiyyah, sehingga terjadi ketika kaum Muslimin masih lemah, belum diperintahkan jihad. Adapun setelah diperintahkan jihad, maka jika mereka ngeyel, perangi sampai mereka bersyahadat. Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan:

{فَاصْفَحْ} أَعْرِضْ {عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَام} مِنْكُمْ وَهَذَا قَبْل أَنْ يُؤْمَر بِقِتَالِهِمْ

“فَاصْفَحْ” maksudnya berpalinglah عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَا  dari mereka, dan ini sebelum diperintahkan untuk memerangi mereka.

  • Keempat, jadi andai mau mencoba berdalil dengan ayat ini untuk membolehkan selamat Natal (walaupun pendalilannya TIDAK BENAR), maka seharusnya, sebelum mengatakan selamat Natal, ajak dahulu orang yang kita beri selamat, untuk masuk Islam dengan berbagai argumen.
  • Kelima, سَلَام Salamun dalam Zukhruf 89 ini maknanya bara’ah (tidak suka dan berlepas diri) sambil mendoakan keselamatan. Beda dengan ucapan selamat Natal yang maknanya mengapresiasi, mendoakan semoga Natalannya baik, lancar, bahagia. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak suka dan keberlepas-dirian.
  • Keenam, andai kita maknai As Salaam dalam Maryam 33 itu dengan ucapan selamat, pun tetap TIDAK nyambung dengan selamat Natal, dan tetap menjadi pendalilan yang nyeleneh dan terlalu dipaksakan.
  • Ketujuh, mohon renungkan kembali apa yang ada di artikel ini: http://kangaswad.wordpress.com/2012/12/01/menafsirkan-quran-tanpa-ilmu/

Demikian, semoga menjadi pelajaran bagi yang belum mengetahui dan menjadi pengingat bagi yang lupa.

Wallahu waliyyut taufiq.

 

https://abangdani.wordpress.com/2012/12/27/mengucapkan-selamat-Natal-diabadikan-dalam-al-quran/

,

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS MARYAM AYAT 33

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS MARYAM AYAT 33

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS MARYAM AYAT 33

Ada sekelompok orang yang menggunakan ayat berikut ini sebagai dalil bolehnya mengucapkan selamat Natal atau bahkan dalil bolehnya Natalan. Allah ta’ala berfirman:

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 33)

Yang berikut ini adalah beberapa poin SANGGAHANNYA:

  • Rasulullah ﷺ yang menerima ayat ini dari Allah TIDAK PERNAH memahami bahwa ayat ini membolehkan ucapkan selamat kepada hari raya orang Nasrani, atau bolehnya merayakan hari lahir Nabi Isa ‘alahissalam. Dan beliau ﷺ juga tidak pernah melakukannya.
  • Para sahabat Nabi ﷺ yang ada ketika Nabi ﷺ menerima ayat ini dari Allah pun tidak memahami demikian.
  • Ayat ini bukti penetapan ubudiyah Isa ‘alaihis salam kepada Allah. Karena beliau hidup sebagaimana MANUSIA BIASA, BISA MATI, dan akan DIBANGKITKAN pula di Hari Kiamat, sebagaimana makhluk yang lain. Dan beliau mengharap serta mendapat keselamatan semata-mata hanya dari Allah Ta’ala. Ini semua bukti bahwa beliau adalah HAMBA ALLAH, TIDAK BERHAK DISEMBAH. Sehingga ayat ini justru BERTENTANGAN dengan esensi ucapan selamat Natal dan ritual Natalan itu sendiri, yang merupakan ritual penghambaan dan penyembahan terhadap Isa ‘alaihissalam. Jadi TIDAK MUNGKIN ayat ini menjadi dalil bolehnya ucapan selamat Natal atau Natalan.
  • Para ulama menafsirkan السَّلامُ (As Salaam) di sini maknanya adalah ‘Keselamatan dari Allah‘, bukan ucapan selamat.
  • Baik, katakanlah kita tafsirkan ayat ini dengan akal-akalan cetek kita. Kita terima bahwa السَّلامُ (As Salaam) di sini maknanya ucapan selamat. Lalu kepada siapa ucapan selamatnya? السَّلامُ عَلَيَّ ‘As Salaam alayya (kepadaku)’, berarti ucapan selamat seharusnya kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, BUKAN kepada orang Nasrani.
  • Baik, andai kita pakai cara otak-atik-gathuk dan tidak peduli tafsiran ulama, kita terima bahwa السَّلامُ (As Salaam) di sini maknanya ucapan selamat. Lalu kapan diucapkannya? يَوْمَ وُلِدْتُ ‘hari ketika aku dilahirkan‘, yaitu di hari ketika Nabi Isa dilahirkan. Nah masalahnya, mana bukti otentik bahwa Nabi Isa lahir pada 25 Desember??
  • Katakanlah ada bukti otentik tentang tanggal lahir Nabi Isa, lalu masalah lain, ingin pakai penanggalan Masehi atau Hijriah? Pasti akan berbeda tanggalnya. Berdalil dengan ayat Alquran, tapi kok dalam kasus yang sama pakai sistem penanggalan Masehi? Ini namanya TIDAK konsisten dalam berdalil.
  • Pada kitab orang Nasrani sendiri TIDAK ADA bukti otentik dan dalil landasan perayaan hari lahir Isa ‘alaihissalam. Beliau tidak pernah memerintahkan umatnya untuk mengadakan ritual demikian. Mengapa sebagian kaum Muslimin malah membela, bahwa ritual Natalan itu ada dalilnya dari Alquran, dengan pendalilan yang terlalu memaksakan diri?

Pembahasan ini semata-mata dalam rangka nasihat kepada saudara sesama Muslim. Kita yakin, sebagai Muslim kita harus berakhlak mulia, bahkan kepada non-Muslim. Dan untuk berakhlak yang baik itu TIDAK HARUS dengan ikut-ikut mengucapkan selamat Natal, atau selamat pada hari raya mereka yang lain. Akhlak yang baik dengan berkata yang baik, lemah lembut, tidak menzalimi mereka, tidak mengganggu mereka, menunaikan hak-hak tetangga jika mereka jadi tetangga kita, bermuamalah dengan profesional dalam pekerjaan, dll. Karena harapan kita, mereka mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam. Dengan ikut mengucapkan selamat Natal, justru membuat mereka bangga dan nyaman akan agama mereka, karena kita pun jadi dianggap ridha dan fine-fine saja terhadap agama dan keyakinan kufur mereka.

Wabillahi at taufiq was sadaad.

 

https://abangdani.wordpress.com/2012/12/27/mengucapkan-selamat-Natal-diabadikan-dalam-al-quran/

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA MEMBANTU, MENGHADIRI DAN MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA MEMBANTU, MENGHADIRI DAN MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

KESEPAKATAN ULAMA ISLAM ATAS HARAMNYA MEMBANTU, MENGHADIRI DAN MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Al-Imam Al-‘Allaamah Ibnul Qoyyim rahimahullah telah menukil kesepakatan (Ijma’) ulama Islam:

وَكَمَا أَنَّهُمْ لَا يَجُوزُ لَهُمْ إِظْهَارُهُ فَلَا يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِينَ مُمَالَاتُهُمْ عَلَيْهِ وَلَا مُسَاعَدَتُهُمْ وَلَا الْحُضُورُ مَعَهُمْ بِاتِّفَاقِ أَهْلِ الْعِلْمِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهُ

“Sebagaimana tidak boleh bagi kaum Musyrikin untuk menampakkan perayaan mereka, demikian pula tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk membantu, menolong dan ikut hadir dalam perayaan mereka, berdasarkan kesepakatan Ahlul ‘Ilmi (ulama) yang benar-benar ahli.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 3/1245]

Tidak diragukan lagi, bahwa mengucapkan selamat, apalagi ikut hadir, termasuk dalam ketegori ta’awun, yaitu membantu mereka dalam kebatilan. Maka ulama sepakat  melarangnya.

Al-Imam Al-‘Allaamah Ibnul Qoyyim rahimahullah juga menukil Ijma’ ulama Islam:

“Adapun mengucapkan selamat terhadap simbol-simbol kekafiran yang merupakan ciri khususnya, maka hukumnya HARAM berdasarkan kesepakatan (ulama), seperti seseorang mengucapkan selamat terhadap hari raya orang-orang kafir dan puasa mereka. Contohnya ia mengatakan: “Semoga Hari Raya ini menjadi berkah bagimu”, atau “Semoga engkau bahagia dengan Hari Raya ini”, dan yang semisalnya. Maka dengan sebab ucapannya ini, andai ia selamat dari kekafiran, maka ia tidak akan lepas dari perbuatan yang haram.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 1/441]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Memberi selamat kepada orang-orang kafir dalam Perayaan Natal atau perayaan agama mereka yang lainnya adalah HARAM menurut kesepakatan (ulama).” [Majmu’ Al-Fatawa war Rosaail, 3/45]

Maka apabila ada ulama setelahnya kemudian menyelisihi ijma’ tersebut, TIDAK BOLEH bagi kita mengikuti penyelisihan itu, karena ijma’ adalah hujjah dalam agama, telah pasti kebenarannya. Adapun yang menyelisihinya pasti keliru.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisa: 115]

Asy-Syaikh Al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Dalam ayat yang mulia ini terdapat pendalilan, bahwa Ijma’ umat ini adalah hujjah, dan bahwa ia maksum (terjaga) dari kesalahan.

Sisi pendalilannya: Bahwa Allah telah mengancam siapa yang menyelisihi jalan kaum Mukminin, dengan ancaman kehinaan dan Neraka.

Dan jalan kaum Mukminin dalam ayat ini dalam bentuk Mufrod Mudhof (satu kata yang disandarkan), sehingga maknanya mencakup seluruh keyakinan dan amalan kaum Mukminin. Apabila mereka telah sepakat untuk mewajibkan sesuatu, atau menyunnahkannya, atau mengharamkannya, atau memakruhkannya, atau membolehkannya, maka itulah jalan mereka. Barang siapa menyelisihi satu perkara saja setelah terjadinya Ijma’, maka ia telah mengikuti selain jalannya kaum Mukminin.” [Taisirul Kaarimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal. 202]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/719295141553304

Baca selengkapnya:

http://sofyanruray.info/membantu-salim-a-fillah-mentarjih-dan-menjawab-ulil-abshar-abdalla-tentang-natal-bag-1/

http://sofyanruray.info/membantu-salim-a-fillah-mentarjih-dan-menjawab-ulil-abshar-abdalla-tentang-natal-bag-2/

JANGAN LATAH TERHADAP ORANG KAFIR…!

JANGAN LATAH TERHADAP ORANG KAFIR...!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

JANGAN LATAH TERHADAP ORANG KAFIR…!

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.”

[HR. Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 6149]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/717854921697326:0

,

SYURUT UMAR BIN KHATAB

SYURUT UMAR BIN KHATAB

#DakwahTauhid

#SelamatkanAkidahmu

SYURUT UMAR BIN KHATAB

  • Salah Satu Contoh Bentuk Toleransi dalam Islam

Untuk yang pernah menyimak sejarah Khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, tentu pernah mendengar tentang Syurut Umar, aturan dan tata tertib yang dibuat Umar untuk orang Nasrani yang tinggal di dataran Syam (Palestina, Yordania, Suriah, dan Lebanon). Orang Nasrani di daerah Syam TIDAK DIPAKSA untuk pindah ke agama Islam dan tetap bertahan di agama Nasraninya, dan status mereka sebagai Ahlu Dzimmah.

Di bagian akhir tata tertib itu Umar menyatakan:

فإن خالفوا شيئاً مما اشترطوا عليهم فلا ذمة لهم وقد حل للمسلمين منهم ما يحل من أهل المعاندة والشقاق‏

“Apabila mereka melanggar salah satu dari aturan untuk mereka, maka tidak ada jaminan perlindungan untuk mereka dan kaum Muslimin berhak untuk menyikapi mereka sebagaimana mana layaknya orang kafir yang melawan dan menentang.”

Umar radhiyallahu ‘anhu, menetapkan tata tertib ini menjadi aturan baku bagi kaum Muslimin daerah Syam, karena ketika itu daerah Syam telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kaum Muslimin. Saking pentingnya perjanjian ini, hingga kasus melanggar perjanjian ini akan mendapat ANCAMAN BERAT, diperlakukan layaknya orang non-Muslim yang menentang. Bisa dihukum bunuh, penjaga, atau pengusiran.

Seberat apa Syurut Umar bagi orang Nasrani itu? Berikut di antara poin-poin aturan yang ditetapkan Umar untuk orang Nasrani:

ولا نضرب نواقيسنا إلا ضربا خفيا في جوف كنائسنا

”Kami tidak boleh membunyikan lonceng, kecuali pelan dan dibunyikan di dalam gereja.”

ولا نظهر عليها صليبا

”Kami tidak boleh menampakkan salib di atas gereja.”

ولا نخرج صليبا ولا كتابا في أسواق المسلمين

”Kami tidak boleh menampakkan salib dan Injil di pasar kaum Muslimin.”

وألا نخرج باعوثا ولا شعانين ولا نرفع أصواتنا مع موتانا ولا نظهر النيران معهم في أسواق المسلمين

”Kami tidak keluar dalam rangka merayakan hari raya, kami tidak membunyikan suara ketika mengiring mayat kami, dan tidak membawa api (ibadah), ketika bersama kaum Muslimin di pasar.”

Syurut ini menjadi kesepakatan bersama antara kaum Muslimin dan orang Nasrani yang tinggal di negeri Muslim. Syurut Umar menjadi salah satu acuan bagi para ulama setelah generasi sahabat, untuk menjawab setiap kasus yang berkaitan perayaan agama di luar Islam.

Dalam kitab Ahkam Ahli Dzimmah dinyatakan:

وكما أنهم لا يجوز لهم إظهاره فلا يجوز للمسلمين ممالأتهم عليه ولا مساعدتهم ولا الحضور معهم باتفاق أهل العلم الذين هم أهله

”Sebagaimana mereka (orang Nasrani) tidak diizikan untuk menampakkan hari rayanya, maka tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk turut serta bersama mereka dalam perayaan itu, atau membantu mereka, atau menghadiri Natalan bersama mereka, dengan sepakat ulama, yang mereka memahami kasus ini.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 3/87).

Abul Qosim, Hibatullah bin Hasan as-Syafii mengatakan:

ولا يجوز للمسلمين أن يحضروا أعيادهم لأنهم على منكر وزور وإذا خالط أهل المعروف أهل المنكر بغير الإنكار عليهم كانوا كالراضين به المؤثرين له فنخشى من نزول سخط الله على جماعتهم فيعم الجميع نعوذ بالله من سخطه

Kaum Muslimin tidak boleh menghadiri hari raya mereka, karena mereka berada di atas kemungkaran. Jika orang baik berada di tempat yang sama dengan orang yang melakukan kemungkaran, tanpa ada pengingkaran kepada mereka, statusnya sebagaimana orang yang ridha terhadap kemungkaran itu, dan akan memberikan dampak kepadanya. Kami khawatir akan turut murka Allah kepada jamaah itu, sehingga mengenai semuanya. Kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya.

Umar bin Khatab mengatakan:

ولا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم، فإنَّ السَّخطة تنزل عليهم

”Janganlah kalian bergabung bersama orang musyrik dalam gereja mereka ketika hari raya mereka. Karena murka Allah sedang turun kepada mereka.” (HR. Abdurazaq dalam Mushanaf 9061, al-Baihaqi dalam al-Kubro, 9/432).

Umar bin Khatab juga mengatakan:

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

”Hindari para musuh Allah di hari raya mereka.”

Diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Habib, bahwa Ibnul Qosim , murid Imam Malik, pernah ditanya tentang hukum naik perahu, yang saat itu ditumpangi banyak orang Nasrani untuk menghadiri perayaan Natal mereka. Ibnul Qosim melarangnya, karena takkut akan turun murka Allah kepada mereka, disebabkan perbuatan kesyirikan yang mereka lakukan.

Ibnu Habib juga mengatakan:

وكره ابن القاسم للمسلم أن يهدي إلى النصراني في عيده مكافأة له ورآه من تعظيم عيده وعونا له على كفره

Ibnul Qosim juga membenci ketika kaum Muslimin memberikan hadiah kepada orang Nasrani di hari raya mereka, sebagai balas budi baginya. Beliau menganggap itu termasuk memuliakan perayaan mereka dan membantu mereka melakukan kekufuran [Ahkam Ahli Dzimmah, 3/87].

Kita merenung sejenak, andaikan umat Muslim saat ini hidup di zaman Umar, kemudian ada salah satu ’Generasi Liberal’ yang memfatwakan, boleh mengucapkan selamat Natal, kira-kira, apa yang akan dilakukan Umar kepada ’Generasi Liberal’ ini? Bukankah ini pengkhianatan?

Suami Muslim Berhak Melarang Istrinya yang Nasrani untuk Merayakan Natal

Pernyataan di atas ditegaskan oleh Al-Imam As-Syafii dalam bukunya al-Umm:

وله منعها من الكنيسة والخروج إلى الاعياد وغير ذلك مما تريد الخروج إليه ، إذا كان له منع المسلمة إتيان المسجد وهو حق ، كان له في النصرانية منع إتيان الكنيسة لانه باطل

”Suami BOLEH melarang istrinya yang Nasrani untuk mendatangi gereja dan mendatangi perayaan mereka atau acara lainnya yang mengundang pengikut Nasrani. Jika seorang suami boleh melarang istrinya yang Muslimah untuk menghadiri jamaah di masjid, dan itu dibenarkan, maka suami Muslim berhak melarang istrinya yang Nasrani untuk mendatangi gereja, karena itu tindakan kebatilan.” (al-Umm, 5/8 – 9).

Apakah sikap Imam as-Syafii bertentangan dengan asas toleransi beragama?  Jawabannya TIDAK.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Sikap Ulama Terhadap Natal’ yang ditulis oleh:  Al-Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah  (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21391-fatwa-mui-dan-sikap-ulama-terhadap-Natal.html