Posts

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?
>> Bagaimana pula cara memakan sembelihan kaum Paganis atau Komunis?

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“TIDAK HARUS BERTANYA, siapa yang menyembelih, (apakah) orang Islam atau Ahli Kitab. Bagaimana cara menyembelihnya? Apakah membaca Bismillah atau tidak? Bahkan tidak layak, karena hal itu termasuk BERLEBIHAN dalam beragama. Sementara Nabi ﷺ makan dari apa yang disembelih Yahudi tanpa menanyakan kepada mereka.

Dalam shahih Bukhari dan lainnya dari Aisyah radhiallahu anha, bahwa orang-orang bertanya kepada Nabi ﷺ: “Sesungguhnya kaum non-Muslim mengantarkan daging kepada kami. Kami tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau tidak.” Maka beliau ﷺ bersabda: “Hendaknya kalian baca Bismillah dan makanlah.” (Aisyah) mengatakan: “Mereka baru masuk Islam. Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada mereka memakannya tanpa menanyakannya, padahal orang-orang yang datang itu boleh jadi tidak mengerti hukum-hukum Islam, karena mereka baru masuk Islam.” [Risalah Fi Ahkami Udhiyah Wazakat karangan Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah]

Berdasarkan penjelasan tadi, maka siapa yang bepergian ke negara non-Islam yang mayoritas penyembelihnya adalah orang Nasrani dan Yahudi, maka DIHALALKAN makan dari sembelihan mereka, kecuali kalau diketahui mereka menyembelih dengan memakai listrik atau menyebutkan selain nama Allah seperti tadi. Adapun kalau orang yang menyembelih itu Paganis atau Komunis, maka sembelihannya TIDAK HALAL. Kalau sembelihannya diharamkan, maka tidak diperbolehkan makan darinya, walau dengan alasan terpaksa, selama untuk menjaga kehidupannya dia dapat memakan ikan atau sayuran dan semisalnya.

Syekh Abdurrahman Barrak hafizahullah mengatakan: “Daging yang didatangkan dari negara kafir itu bermacam-macam. Sementara kalau ikan itu halal semuany,a karena kehalalannya tidak tergantung dari penyembelihan, dan juga tidak diharuskan menyebutkan nama Allah.

 

 

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

 

#sembelihan, #hukum, #ahlikitab, #ahlulkitab, #Yahudi, #Nasrani, #Nashrani, #Paganis, #Komunis, #Kafir, #cara, #makan,#memakan, #dagingpotong, #negerikafir, #negarakafir #tidakharusbertanya, #tidakharustanya #Bismillah, #cukupmembacaBismillah, #cukupbacaBismillah #potong #memotong #menyembelih

,

CIRI CIRI NABI MUHAMMAD TERTERA DALAM INJIL (VIDEO)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah
#KajianSunnah

CIRI CIRI NABI MUHAMMAD TERTERA DALAM INJIL (VIDEO)

Oleh: Ustadz DR Khalid Basalamah, MA

Tautan: https://youtu.be/DnU2LZSrbaw

BAHAYA MAKSIAT DAN DOSA

BAHAYA MAKSIAT DAN DOSA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

BAHAYA MAKSIAT DAN DOSA

 

نسأل الله الثبات على الإسلام والسنة

كان يؤذن إلى الصلاة 40 سنة وكان رجلاً صالحاً ثم..

– قال الإمام ابن الجوزي رحمه الله تعالى:

“بلغني عن رجل كان ببغداد يُقال له: صالح المؤذن، أذّن أربعين سنة، وكان يُعرف بالصلاح، أنه صعد يوماً إلى المنارة ليؤذن، فرأى بنت رجل نصراني كان بيته إلى جانب المسجد، فافتتن بها، فجاء فطرق الباب،

فقالت: من؟

فقال: أنا صالح المؤذن، ففتحت له، فلمّا دخل ضمّها إليه،

فقالت: أنتم أصحاب الأمانات فما هذه الخيانة؟

فقال: إن وافقتني على ما أريد وإلاّ قتلتك.

فقالت: لا؛ إلا أن تترك دينك،

فقال: أنا بريء من الإسلام ومما جاء به محمد صلى الله عليه وسلم ثم دنا إليها،

فقالت: إنما قلت هذا لتقضي غرضك ثم تعود إلى دينك، فكُلْ من لحم الخنزير، فأكل،

قالت: فاشرب الخمر، فشرب، فلما دبّ الشراب فيه دنا إليها، فدخلت بيتاً وأغلقت الباب،

وقالت: اصعد إلى السطح حتى إذا جاء أبي زوّجني منك، فصعد فسقط فمات، فخرجت فلفّته في ثوب، فجاء أبوها، فقصّت عليه القصة، فأخرجه في الليل فرماه في السكة، فظهر حديثه، فرُمي في مزبلة”

 

Al Imam Ibnul Jauzy rahimahullah menceritakan, bahwa telah sampai berita kepadaku, tentang seorang yang tinggal di Bagdad, namanya Sholih sang muadzin, karena telah mengumandangkan azan selama 40 tahun, dan dikenal dengan kesalehannya.

Suatu hari, ia naik ke menara untuk mengumandangkan azan. Tiba-tiba ia melihat anak gadis Nasrani, yang rumahnya berdampingan dengan masjid. Ia pun terfitnah, hingga kemudian ia mendatangi rumahnya, mengetuk pintu rumah si gadis Nasrani.

Si Gadis: “Siapa?”

Sholih: “Saya Sholih sang muadzin”

Si gadis kemudian membukakan pintu untuknya. Ketika Si Sholih masuk, ia langsung memeluk si gadis.

 

Si Gadis berkata:” Anda adalah orang yang diberi amanah, kenapa Anda berkhianat seperti ini?

Si Sholih menjawab: “Turuti saja keinginanku. Jika tidak, maka aku akan membunuhmu”.

Si Gadis: “Tidak, kecuali engkau meninggalkann agamamu”.

Si Sholih: “Aku berlepas diri dari Islam dan semua yang dibawa oleh Rasulullah sallalahu alaihi wasallam”.

Lalu ia pun mendekati si gadis.

Si Gadis berkata: “Sesungguhnya  engkau mengucapkan itu, semata-mata agar tercapai tujuanmu. Coba makanlah daging babi!”

Si Sholih pun memakan daging babi.

Si Gadis: “Minumlah khamr!”

Si Sholih meminum khamr, sehingga mabuk. Setelah itu ia mendekati si gadis, namun si gadis malah masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintunya.

Ia berkata kepada Si Sholih: “Naiklah ke atap rumah. Tunggulah sampai ayahku pulang, agar menikahkanku denganmu”

Si Sholih pun naik ke atap. Namun ia terjatuh dan akhirnya meninggal..!!!

Si gadis keluar dari rumahnya, lalu menutupi tubuh Si Sholih dengan selembar kain.

Datanglah ayah si gadis. Ia pun menceritakan apa yang telah terjadi. Di malam hari, ayah si gadis kemudian mengeluarkan mayat Si Sholih dan melemparnya ke jalan.

Peristiwa yang menimpa Si Sholih menjadi terkenal, namun dibuang ke tempat sampah.

[Diterjemahkan dari kitab “Dzammul Hawa'”, hal.409, Karya Imam Ibnul Jauzy rahimahullah]

 

Beberapa pelajaran dari kisah tersebut:

■ Besarnya fitnah syahwat dan wanita.

■ Dosa akan mengantarkan kepada dosa yang lain, sebagaimana kebaikan akan mengantarkan kepada kebaikan yang lain.

■ Setiap amalan bergantung pada akhirnya.

■ Bahaya dan tercelanya menuruti hawa nafsu.

■ Dosa dan maksiat adalah salah satu sebab su’ul khotimah.

Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah:

“Apabila maksiat dan godaan setan terkumpul, apalagi ditambah dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam su’ul khotimah.”

[Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir: 9/184]

 

Allahu A’lam

 

Penulis: Ustadz Hilal Abu Naufal al Makassary hafizhahullah

 

, ,

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

HARAMNYA PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah mensyariatkan dua hari raya bagi kaum Mslimin, yang pada kedua hari tersebut mereka berkumpul untuk berzikir dan sholat, yaitu hari raya ledul Fitri dan ledul Adha, sebagai pengganti hari raya-hari raya jahiliyah. Di samping itu Allah pun mensyariatkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai zikir dan ibadah, seperti Jumat, hari Arafah dan hari-hari Tasyriq. Namun Allah tidak mensyariatkan perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi ﷺ dan tidak pula untuk yang lainnya. Bahkan dalil-dalil syari dari Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan, bahwa, perayaan-perayaan hari kelahiran merupakan BID’AH dalam agama, dan termasuk TASYABBUH (menyerupai) musuh-musuh Allah, dari kalangan Yahudi, Nasrani dan lainnya. Maka yang wajib atas para pemeluk Islam untuk MENINGGALKANNYA, MEWASPADAINYA, MENGINGKARINYA, terhadap yang melakukannya dan tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa yang dapat mendorong pelaksanaannya, atau mengesankan pembolehannya, baik di radio, media cetak maupun televisi, berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam sebuah hadis Shahih:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.” [Muttafaq ‘Alaih: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Mslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).]

Dan sabda beliau ﷺ:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” [Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham. Imam Mslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718)]

Dikeluarkan oleh Mslim dalam kitab Shahihnya dan dianggap mu’allaq oleh Al-Bukhari, namun ia menguatkannya.

Kemudian disebutkan dalam Shahih Mslim dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa dalam salah satu khutbah Jumat beliau ﷺ mengatakan:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرُ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّه وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [HR. Mslim dalam Al-Jumu’ah (867)].

Dan masih banyak lagi hadis lainnya yang semakna. Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad dengan isnad jayyid dari Ibnu Umar , bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” [HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634]

Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

لَتَتَّبِعَنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم شِبْرًا شِبْرًاوَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْدَخَلُوْا جُحْرَضُبٍّ تَبَعْتُمُوْهُم، قُلنَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biawak pun kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau ﷺ berkata, “Siapa lagi.” [HR. AI-Bukhari dalam Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah (7320). Mslim dalam Al-Ilm (2669)]

Masih banyak lagi hadis lainnya yang semakna dengan ini. Semuanya menunjukkan kewajiban untuk waspada, agar tidak menyerupai musuh-musuh Allah dalam perayaan-perayaan mereka dan lainnya. Makhluk paling mulia dan paling utama, NABI KITA MUHAMMAD ﷺ, TIDAK PERNAH MERAYAKAN HARI KELAHIRANNYA SEMASA HIDUPNYA, tidak pula para sahabat beliau pun, dan tidak juga para tabi’in yang mengikuti jejak langkah mereka dengan kebaikan pada tiga generasi pertama yang diutamakan. Seandainya perayaan hari kelahiran Nabi ﷺ atau lainnya merupakan perbuatan baik, tentulah para sahabat dan tabi’in sudah lebih dulu melaksanakannya daripada kita. Dan sudah barang tentu Nabi ﷺ mengajarkan kepada umatnya dan menganjurkan mereka merayakannya, atau beliau ﷺ sendiri melaksanakannya. Namun ternyata tidak demikian. Maka kita pun tahu, bahwa perayaan hari kelahiran termasuk bid’ah, termasuk hal baru yang diada-adakan dalam agama, yang harus ditinggalkan dan diwaspadai, sebagai pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah Rasulullah ﷺ.

Sebagian ahli ilmu menyebutkan, bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan hari kelahiran ini adalah golongan Syi’ah Fathimiyah pada abad keempat, kemudian diikuti oleh sebagian orang yang berafiliasi kepada As-Sunnah, karena tidak tahu dan karena meniru mereka, atau meniru kaum Yahudi dan Nasrani. Kemudian bid’ah ini menyebar ke masyarakat lainnya. Seharusnya para ulama kaum Mslimin menjelaskan hukum Allah dalam bid’ah-bid’ah ini, mengingkarinya dan memeringatkan bahayanya, karena keberadaannya melahirkan kerusakan besar, tersebarnya bid’ah-bid’ah dan tertutupnya sunnah-sunnah. Di samping itu, terkandung tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh Allah dari golongan Yahudi, Nasrani dan golongan-golongan kafir lainnya yang terbiasa menyelenggarakan perayaan-perayaan semacam itu. Para ahli dahulu dan kini telah menulis dan menjelaskan hukum Allah mengenai bid’ah-bid’ah ini. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Pada kesempatan yang singkat ini, kami bermaksud mengingatkan kepada para pembaca tentang bid’ah ini, agar mereka benar-benar mengetahui. Dan mengenai masalah ini telah diterbitkan tulisan yang panjang dan diedarkan melalui media cetak-media cetak lokal dan lainnya. Tidak diragukan lagi, bahwa wajib atas para pejabat pemerintahan kita dan kementrian penerangan secara khusus serta para penguasa di negara-negara Islam, untuk mencegah penyebaran bid’ah-bid’ah ini dan propagandanya, atau penyebaran sesuatu yang mengesankan pembolehannya. Semua ini sebagai pelaksanaan perintah loyal terhadap Allah dan para hamba-Nya, dan sebagai pelaksanaan perintah yang diwajibkan Allah, yaitu mengingkari kemungkaran, serta turut dalam memerbaiki kondisi kaum Mslimin, dan membersihkannya dari hal-hal yang menyelisihi syariat yang suci. Hanya Allah-lah tempat meminta dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang luhur. Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum Muslimin dan menunjuki mereka agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ, serta waspada dari segala sesuatu yang menyelisihi keduanya. Dan semoga Allah memerbaiki para pemimpin mereka, dan menunjuki mereka agar menerapkan syariat Allah pada hamba hamba-Nya, serta memerangi segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu.

Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya

[Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 4.hal.81]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

 

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/498/slash/0/perayaan-hari-kelahiran-ulang-tahun/

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

Pertanyaan:

Apakah umat Islam bisa disebut Ahli Kitab?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala menyebut Alquran dengan nama al-Kitab. Terdapat banyak ayat Alquran yang menunjukkan hal itu. Di antaranya firman Allah:

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif lam mim, inilah al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. (al-Baqarah: 1 – 2).

Atau firman Allah:

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ . ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Alquran). Itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian al-Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami (QS. Fathir: 31 – 32).

Berdasarkan ayat ini, kita adalah yang mendapat kitab dari Allah. Bahkan kitab yang paling mulia di antara kitab-kitab yang Allah turunkan.

Akan tetapi, istilah ’Ahli Kitab’ adalah istilah syari, yang harus kita pahami sesuai kriteria syariat (al-Isti’mal as-Syari). Bukan semata tinjauan bahasa. Dan seperti yang kita tahu, Allah menggunakan istilah ini khusus untuk menyebut orang Yahudi dan Nasrani.

Allah berfirman:

وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

Tentu tidak boleh kita menafsirkan, bahwa Ahli Kitab di situ mencakup seluruh umat yang diberi kitab. Karena ayat itu turun di zaman sahabat, dan tidak mungkin mereka termasuk dalam ’Ahli Kitab’ yang disebutkan di ayat. Semua sahabat beriman dan bertakwa, sementara ayat di atas menyatakan: “Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Allah juga berfirman:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir di kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan, bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya), sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata (QS. Al-Bayyinah: 1)

Tentu saja, kaum Muslimin tidak termasuk dalam istilah ‘Ahli Kitab’ di atas. Karena Allah dengan jelas menyatakan mereka kafir.

Bahkan, ketika ada orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam, mereka tidak lagi disebut Ahli Kitab.

Di zaman Nabi ﷺ ada seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam, bernama Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu. Ada juga orang Nasrani yang masuk Islam, seperti Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu ‘anhu. Allah menyinggung mereka dalam Alquran:

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang memunyai ilmu Al Kitab.” (QS. Ar-Ra’du: 43)

Berdasarkan keterangan al-Hasan al-Bashri, Mujahid, Ikrimah, Ibnu Zaid, Ibnu Saib dan Muqatil, yang dimaksud ’Orang yang memunyai ilmu al-Kitab’ adalah Abdullah bin Salam.

Sementara menurut Qatadah, mereka adalah para Ahli Kitab yang telah masuk Islam, dan menjadi saksi kebenaran dakwah Muhammad ﷺ, seperti Abdullah bin Salam, Tamim ad-Dari, atau Abdullah bin Salam (Zadul Masir, 2/502).

Yang menjadi catatan, ketika para Ahli Kitab itu masuk Islam, baik sebelumnya beragama Yahudi atau Nasrani, Allah tidak lagi menyebut mereka Ahli Kitab. Tapi Allah menyebut mereka dengan ’Orang yang memunyai ilmu al-Kitab.’.

Ibnu Asyura mengatakan:

اسم ( أهل الكتاب ) لقب في القرآن لليهود والنصارى الذين لم يتديّنوا بالإِسلام ؛ لأن المراد بالكتاب : التوراة والإِنجيل إذا أضيف إليه ( أهل ) ، فلا يطلق على المسلمين ” أهل الكتاب ” وإن كان لهم كتاب، فمن صار مسلماً من اليهود والنصارى : لا يوصف بأنه من أهل الكتاب في اصطلاح القرآن

Istilah ’Ahli Kitab’ adalah istilah dalam Alquran untuk menyebut orang Yahudi dan Nasrani yang tidak masuk Islam. Karena yang dimaksud dengan al-Kitab di sini adalah Taurat dan Injil, apabila di depannya di tambahkan kata ’ahlu’. Sehingga TIDAK BOLEH menyebut kaum Muslimin dengan Ahli Kitab, meskipun mereka memiliki kitab. Untuk itu, orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi Muslim, tidak disebut Ahli Kitab dalam istilah Alquran. (Tafsir Ibnu Asyura – at-Tahrir wa at-Tanwir, 27/249)

Nama yang Allah Berikan kepada Umat Islam

Dalam Alquran, Allah menyebut umat yang beriman dengan kebenaran dakwah Nabi Muhammad ﷺ dengan kaum Muslimin.

Allah berfirman:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian dengan kaum Muslimin dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu, dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (QS. Al-Hajj: 78)

Inilah nama yang syari bagi umat Islam, kaum Muslimin. Nama ini telah Allah sebutkan dalam Alquran dan kitab-kitab sebelumnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23265-kaum-Muslimin-termasuk-ahli-kitab.html

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

Di zaman ini banyak orang Kristen menyebarkan agama mereka ke berbagai pelosok dunia. Mereka menisbatkan agama mereka kepada Nabi Isa bin Maryam , yang mereka menyebutnya dengan Yesus. Padahal Nabi Isa bin Maryam HANYA DIUTUS kepada Bani Israel saja. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَاءِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. [QS. Ash-Shoff (61): 6]

Kesaksian Ayat Bibel

Dan ternyata kita masih mendapatkan di antara ayat-ayat Bibel (Kitab yang dianggap suci oleh orang-orang Nasrani) menjelaskan dengan tegas, bahwa Nabi Isa (yang mereka sebut Yesus) hanya diutus kepada Bani Israel saja. Marilah kita perhatikan ayat-ayat di dalam kitab mereka:

1- Disebutkan di dalam Bibel: “Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Matius 15: 24)

2- Disebutkan di dalam Bibel: “Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain, atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Matius 10: 6)

Walaupun ayat-ayat Bibel di atas begitu jelas menyatakan, bahwa ajaran Kristen hanya untuk Bani Israel, namun pengikut-pengikut Kristen begitu giat menyebarkan agamanya kepada semua bangsa, termasuk di Indonesia. Bahkan sampai ke berbagai pelosok yang tidak ada orang Bani Israel di sana! Maka apakah manfaat bangsa selain Bani Israel yang mengikuti agama Kristen, yang pembawa agama itu telah menegaskan, bahwa agamanya hanya untuk umat Israel?!

Atau mungkin mereka berpegang ayat lain pada kitab mereka yang memerintahkan untuk menyebarkan agama Kristen kepada seluruh bangsa. Ayat itu berbunyi: “Karena itu pergilah. Jadikanlah semua bangsa muridku, dan baptiskan mereka dalam nama Bapa dan anak dan Roh Kudus”. (Matius 28:19)

Ini berarti ayat ini bertentangan dengan ayat-ayat di atasnya! Maka manakah yang benar? Yang pasti, bahwa tidak ada jaminan kebenaran terhadap semua isi kitab Bibel. Bahkan bukti-bukti menunjukkan banyak ayat yang dipalsukan. Maha Benar Allah ta’ala yang telah berfirman di dalam Kitab Suci Alquran:

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka (Ahli Kitab) mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya, setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? [QS. Al-Baqoroh (2): 75]

Dan Allah mengancam dengan keras terhadap orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, dengan firman-Nya:

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلُُلَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memeroleh keuntungan yang sedikit (yakni kesenangan duniawi-pen) dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang telah mereka tulis dengan tangan-tangan mereka, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqoroh (2): 79]

 

– Semoga Allah selalu menetapkan kita di atas jalan yang lurus. –

 

Penulis: Ustadz Muslim Atsari

[Muslim.or.id]

,

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

#DakwahTauhid
#ManhajSalaf

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

Pertanyaan:
“Peminum Minuman Keras” dan “Memilih Pemimpin Kafir”, keduanya sama-sama melanggar syariat Islam dan keduanya sama-sama melakukan dosa besar. Tetapi kenapa pelaku “Memilih Pemimpin Kafir” diancam masuk Neraka dan kekal di dalamnya? Sedangkan “Peminum Minuman Keras” tidak diancam dengan kekekalan di Neraka? Apakah bisa, seorang peminum minuman keras menjadi kafir dan kekal di Neraka?

Jawaban:
Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Sangatlah jelas dalam Alquran ada larangan, agar tidak menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin. Para ulama sudah ijma (konsesus) dalam hal ini. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51),

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin. Kita bisa perhatikan di bagian akhir surat ini:

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…” Golongan mereka artinya golongan Yahudi dan Nasrani.

Karena itulah, sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

ليتق أحدكم أن يكون يهوديا أو نصرانيا وهو لا يشعر

“Hendaknya kalian khawatir, jangan sampai menjadi Yahudi atau Nasrani, sementara dia tidak merasa.”

Kemudian Hudzaifah membaca ayat di atas, al-Maidah: 51.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya ketika beliau menjelaskan al-Maidah: 51 mengatakan:

أي من يعاضدهم ويناصرهم على المسلمين فحكمه حكمهم ، في الكفر والجزاء وهذا الحكم باق إلى يوم القيامة

Arti dari ayat ini, bahwa orang yang mendukung orang kafir, dan menolong mereka untuk mengalahkan kaum Muslimin, maka HUKUM PENDUKUNG INI SAMA DENGAN MEREKA (ORANG KAFIR). SAMA DALAM KEKUFURAN DAN BALASAN. Dan hukum ini berlaku sampai Hari Kiamat. (Tafsir al-Qurthubi, 6/217)

Ayat lain yang memberikan ancaman keras bagi pendukung orang kafir adalah firman Allah:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali, dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

Imam mufassir, at-Thabari menjelaskan ayat ini:

يعني فقد بريء من الله ، وبريء الله منه ، بارتداده عن دينه ودخوله في الكفر

Artinya, dia telah berlepas diri dari Allah, dan Allah berlepas diri darinya, karena dia MURTAD dari agamanya dan MASUK KE AGAMA KEKUFURAN.

Sebagai contoh yang jelas adalah “Teman A-Hog”. “Teman A-Hog” bukanlah sebatas teman saja. Sebagian besar di antara mereka menghasung A-Hog untuk menjadi pemimpin, mendukungnya, mengampanyekannya, bahkan memuliakannya, karena anggapan, dia lebih mulia dibandingkan Muslim yang lain. Kita tidak menilai status “Teman A-Hog”, tetapi kita bisa menilai dengan menyimpulkan beberapa dalil dan penjelasan ulama terhadap dalil.

Setidaknya di antara mereka melakukan kemunafikan. Munafik, karena khianat terhadap ajaran agamanya. Sikap dan perilaku jahat kaum munafik – yang secara lahir mengaku beriman, tetapi batinnya mencintai kekufuran – bahkan diabadikan dalam satu surat khusus, yaitu Surat al-Munafiqun (surat ke-63). Mereka dikenal sebagai pendusta. Mengaku-aku iman, padahal selalu memusuhi kaum Muslimin dan membela orang kafir.

Dalam peristiwa semacam ini, kita sudah bisa menebak arah gerakan mereka. Mereka akan selalu menjadi garda terdepan pembela si calon gubernur kafir itu. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah si calon gubernur kafir. Mari kita baca ayat ini:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (QS An-Nisa 138)

(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS An-Nisa 139)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS An-Nisa :145)

Sedangkan dalam hal “Peminum Minuman Keras”, tidak ditemukan satu dalil pun, baik dari Alquran maupun hadis, yang menyatakan, bahwa pelakunya diancam dengan kekafiran. Memang, sesungguhnya meminum minuman keras (khamr) adalah perbuatan yang diharamkan oleh Alquran, hadis dan ijma’ para ulama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kami, lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” [Al-Maidah : 90-92]

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, artinya:

“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram”.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, seluruh umat Islam sepakat, bahwa khamr adalah minuman yang diharamkan secara baku, dan tidak ada perbedaan di antara para ulama. Sehingga sebagian ulama mengatakan, bahwa haramnya khamr termasuk masalah agama yang diketahui tanpa menggunakan dalil. Sehingga mereka mengatakan, bahwa barang siapa yang mengingkari haramnya khamr, sedang dia hidup di tengah masyarakat, maka dia dianggap kafir dan wajib disuruh bertaubat. Bila tidak mau bertaubat, maka harus dibunuh. [Fatawa Nurun Ala Darb Syaikh Utsaimin, hal. 86]

Misalnya seseorang yang meminum khamr dengan keyakinan, bahwa khamr itu halal, padahal ia sudah mengetahui, bahwa Islam melarangnya, para ulama menyebut hal ini sebagai kafir juhud (kafir karena menentang Al-quran). Yaitu orang yang meyakini kebenaran ajaran Rasulullah ﷺ, namun lisannya mendustakan, bahkan memerangi dengan anggota badannya, menentang karena kesombongan. Ini seperti kufurnya iblis terhadap Allah, ketika diperintahkan sujud kepada Adam ‘alaihissalam, padahal iblis mengakui Allah sebagai Rabb:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka, kecuali iblis. Ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al Baqarah: 34)

Juga kufurnya Fir’aun terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam dan kufurnya orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Seorang hamba, jika ia melakukan dosa dengan keyakinan, bahwa sebenarnya Allah mengharamkan perbuatan dosa tersebut, dan ia juga berkeyakinan, bahwa wajib taat kepada Allah atas segala larangan dan perintah-Nya, maka ia tidak kafir”. Lalu beliau melanjutkan, “..barang siapa yang melakukan perbuatan haram dengan keyakinan bahwa itu halal baginya, maka ia kafir dengan kesepatakan para ulama” (Ash Sharimul Maslul, 1/521).

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber:

https://konsultasisyariah.com/28521-apakah-teman-a-Hok-kafir.html

Isteri Meminta Talak Karena Suami Pemabuk

INGATLAH! ORANG KAFIR SENANTIASA MEMERANGI KAUM MUSLIMIN, AGAR KITA MURTAD

INGATLAH! ORANG KAFIR SENANTIASA MEMERANGI KAUM MUSLIMIN, AGAR KITA MURTAD

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

INGATLAH! ORANG KAFIR SENANTIASA MEMERANGI KAUM MUSLIMIN, AGAR KITA MURTAD

Kaum kafirin dari golongan Ahlul Kitab dan musyrikin tidaklah pernah rela kepada kaum Muslimin. Allah berfirman:

مَّا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ الْمُشْرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْكُم مِّنْ خَيْرٍ مِّن رَّبِّكُمْ

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab (yaitu Yahudi dan Nasrani – pent) dan orang-orang musyrik, tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu, dari Rabb-mu. (QS. Al-Baqarah/2: 105)

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan, agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran, setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al-Baqarah/2: 105).

Semoga kaum Muslimin menyatukan barisan di atas Sunnah Rasulullah ﷺ. Dengan Sunnah Rasulullah ﷺ, akan HILANGLAH pandangan mulia dan kepercayaan kepada kaum kafirin.

 

Sumber: https://ibnumajjah.wordpress.com/2017/01/20/khutbah-tidak-percaya-kaum-kafir/

ORANG KAFIR: MUSUH ISLAM PALING KERAS DALAM UPAYA MENGHANCURKAN UMAT ISLAM

ORANG KAFIR: MUSUH ISLAM PALING KERAS DALAM UPAYA MENGHANCURKAN UMAT ISLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

ORANG KAFIR: MUSUH ISLAM PALING KERAS DALAM UPAYA MENGHANCURKAN UMAT ISLAM

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang memersekutukan Allah (musyrik).” (QS. al-Maa’idah [5]: 82).

Yahudi dan orang-orang musyrik. Dua kelompok inilah MUSUH ISLAM YANG PALING KERAS dalam berupaya untuk menghancurkan umat Islam.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan:

“Secara umum, kedua kelompok inilah golongan manusia yang PALING BESAR DALAM MEMUSUHI ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN, dan paling banyak berusaha mendatangkan bahaya kepada mereka. Hal itu karena sedemikian keras kebencian orang-orang itu kepada kita (umat Islam), yang dilatar belakangi oleh sikap melampaui batas, kedengkian, penentangan, dan pengingkaran (mereka kepada kebenaran).” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 220).

Demikian pula orang-orang Nasrani. Mereka juga menginginkan agar umat Islam mengikuti jejak kesesatan mereka. Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya):

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/rida kepada kalian, sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka.” (QS. al-Baqarah [2]: 120).

Seperti itulah tekad jahat musuh-musuh Islam yang sangat bernafsu untuk mencabut akidah Islam yang suci nan mulia dari dada-dada kaum Muslimin. Tak henti-hentinya mereka menyerang kaum Muslimin dengan pemikiran dan kekuatan mereka, serta bekerja keras siang dan malam, agar umat yang terbaik ini menjadi teman setia mereka, untuk bersama-sama masuk ke jurang Neraka.

Allah ta’ala menggambarkan tentang permusuhan yang dikobarkan oleh orang-orang musyrik kepada umat ini dalam firman-Nya (yang artinya):

“Dan mereka senantiasa memerangi kalian, agar kalian mau murtad dari agama kalian, kalau saja mereka mampu melakukannya. Barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, kemudian mati dalam keadaan kafir, maka mereka itulah orang yang terhapus amal-amal mereka di dunia, dan di Akhirat. Dan mereka itulah para penghuni Neraka, mereka kekal berada di dalamnya.” (QS. al-Baqarah [2]: 217).

Itulah upaya mereka! Bukanlah tujuan mereka semata-mata untuk membunuh kaum Muslimin atau merampas harta-harta mereka. Akan tetapi maksud mereka sesungguhnya adalah, agar umat Islam ini murtad dari agamanya, sehingga mereka akan ikut-ikutan menjadi kafir sesudah, sebelumnya, mereka beriman. Dan pada akhirnya mereka akan ikut terseret ke dalam Neraka. Inilah karakter orang-orang kafir secara umum. Tidak henti-hentinya mereka memerangi umat Islam. Dan yang paling menonjol dalam hal itu adalah Ahli Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani. Mereka kerahkan kekuatan mereka untuk memurtadkan kaum Muslimin. Akan tetapi, ketahuilah bahwasanya Allah enggan memenuhi hasrat mereka untuk memadamkan cahaya-Nya. Maka Allah akan tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir itu tidak suka (disadur dari Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 81-82).

 

Dinukil dari artikel yang berjudul: “Ada Apa Antara Yahudi Dengan Kita?” yang ditulis oleh: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber: http://muslim.or.id/486-ada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html

[www.muslim.or.id]