Posts

,

DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA

DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA
 
Berikanlah nasihat dan pesan kebaikan kepada orang lain, walaupun Anda masih banyak kekurangan. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:

فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده

“Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi . Karena sepeninggal Nabi  tidak ada lagi yang maksum.” [Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami]

Justru dengan langkah ‘memberi nasihat’ itu, kita akan berusaha menjadi lebih baik, dan menambah rasa ‘malu’ kita untuk bermaksiat.
 
Dan pahala untuk orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain TIDAK disyaratkan harus menjadi sempurna atau harus melakukannya lebih dulu. Wallahu a’lam.
 
“SIAPAPUN yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala orang yang melakukannya”, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
 
 
Penulis: Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Sumber: http://bbg-alilmu.com/archives/10635

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

#haruskahsempurna, #amarmarufnahimungkar, #tidakharussempurnadahulu, #memberikannasihat, #nasihat, #nasehat, #hilangpemberinasihat, #minimlahorangorangyangmaumengingatkan #orangsempurna #tunggusempurna #jangantunggusempurna #janganmenunggusempurnadahulu #memberinasihat #memberinasehat #menasehati #menasihati #bersihdaridosa, #maksum, #makshum #syaratmenasehati, #syaratmenasihati, #syarat

,

HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?

HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?
 
Sebagian orang enggan melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar karena merasa belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang hendak ia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang hendak ia larang. Dia khawatir termasuk ke dalam golongan orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan. Sebagaimana yang disinggung dalam firman Allah ta’ala:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” [QS. As-Shof: 2-3]
 
Pertanyaan yang harus kita temukan jawabannya adalah:
– Apakah seorang harus sempurna dulu amalannya untuk bisa menasihati orang lain? Kemudian,
– Apakah setiap orang yang tidak melakukan apa yang ia perintahkan, dan melanggar sendiri apa yang dia larang, masuk dalam ancaman ayat di atas?
 
Syaikh Anis Thahir Al-Indunisy, saat kajian membahas kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqiem , di masjid Nabawi malam Senin (20 Rabi’us Tsani 1436 H) menerangkan, bahwa ada dua hal yang perlu dibedakan dalam masalah ini. Beliau mengatakan:
 
فيه فرق بين أن تنصح غيرك وأنت عاجز عن العفل، وبين أن تنصح غيرك و أنت قادر على الفعل
 
“Bedakan antara:
– Anda menasihati seorang, sementara Anda belum ada daya untuk melakukan apa yang Anda nasihatkan, dengan
– Anda menasihati seorang, sementara Anda mampu melakukan apa yang Anda nasihatkan.”
 
Jadi ada dua jenis orang dalam masalah ini:
 
Yang pertama adalah orang yang menasihati orang lain, namun dia sendiri belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang ia sampaikan, atau meninggalkan kemungkaran yang ia larang.
Yang kedua adalah orang yang menasihati orang lain, sementara sejatinya dia mampu untuk melakukan pesan nasihat yang ia sampaikan, akan tetapi justru mengabaikan kemampuannya dan ia terjang sendiri nasihatnya, tanpa ada rasa bersalah dan menyesal. Ia merasa nyaman dan biasa-biasa saja dengan tindakan kurang terpuji tersebut.
Orang jenis pertama, dia belum bisa melakukan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, karena dia belum memiliki daya untuk melakukannya. Bisa jadi karena hawa nafsunya yang mendominasi, setelah pertarungan batin dalam jiwanya. Sehingga saat ia melanggar sendiri apa yang dia nasihatkan, dia merasa bersalah dan menyesal atas kekurangannya ini, serta senantiasa memperbaharui taubatnya.
 
Saat ia tergelincir pada larangan yang ia larang, ia katakan pada dirinya, “Sampai kapan… sampai kapan kamu seperti ini?! Kamu menasihati orang-orang untuk menjauhi perbuatan ini.. sementara kamu sendiri yang melakukannya?! Tidakkah kamu takut kepada Allah.”
 
Untuk orang yang seperti ini, hendaknya ia jangan merasa enggan untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Karena tidak menutup kemungkinan, nasihat yang ia sampaikan akan membuatnya terpacu untuk melaksanakan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang dia larang. Hal ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah dalam pengalaman seorang.
 
Adapun orang jenis kedua, dia menerjang sendiri pesan nasihatnya, setelah adanya daya dan kemampuan untuk melakukan nasihat tersebut. Namun justru dia abaikan. Saat menerjangnya pun dia tidak merasa menyesal dan bersalah atas tindakannya tersebut. Orang seperti inilah yang termasuk dalam ancaman ayat di atas.
 
Seperti seorang ayah merokok di samping anaknya yang dia juga merokok. Lalu Sang Ayah menasihatikan anaknya, “Nak…jangan ngrokok. Ndak baik ngrokok itu..” Sementara dia sendiri klepas-klepus ngrokok di samping anaknya, tanpa merasa menyesal dan bersalah.
 
Barangkali makna inilah yang disinggung dalam perkataan para Salafus Sholih dahulu.
 
Sa’id bin Jubair mengatakan:
“Jika tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali orang yang sempurna, niscaya tidak ada satu pun orang yang boleh melakukannya”. Ucapan Sa’id bin Jubair ini dinilai oleh Imam Malik sebagai ucapan yang sangat tepat. [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin Abdillah: “Wahai Mutharrif nasihatilah teman-temanmu”. Mutharrif mengatakan: “Aku khawatir mengatakan yang tidak kulakukan”. Mendengar hal tersebut, Hasan Al-Bashri mengatakan: “Semoga Allah merahmatimu. Siapakah di antara kita yang mengerjakan apa yang dia katakan? Sungguh setan berharap bisa menjebak kalian dengan hal ini, sehingga tidak ada seorang pun yang berani amar ma’ruf nahi mungkar.” [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
Al-Hasan Al-Bashri juga pernah mengatakan:
“Wahai sekalian manusia. Sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian, padahal aku bukanlah orang yang paling saleh dan yang paling baik di antara kalian. Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang diriku supaya selalu taat kepada Allah. Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah mampu mengontrol dirinya, niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.” [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
___
 
Referensi:
  • Faidah kajian pembahasan kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqiem li mukholafati ash-Haabi al-Jahiim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, bersama Syaikh Anis Thahir Al-Indunisy. Setiap malam senin di Masjid Nabawi.
  • Tulisan di Muslim.Or.Id, yang bertema “Antara Kata dan Perbuatan.” https://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasihat/antara-kata-dan-perbuatan.html
Penulis: Ahmad Anshori
[Artikel: Muslim.Or.Id]
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#haruskahsempurna, #amarmarufnahimungkar, #tidakharussempurnadahulu, #memberikannasihat, #nasihat, #nasehat, #hilangpemberinasihat, #minimlahorangorangyangmaumengingatkan #orangsempurna #tunggusempurna #jangantunggusempurna #janganmenunggusempurnadahulu #memberinasihat #memberinasehat #menasehati #menasihati

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

NASIHAT AGUNG RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Siapakah yang mau menerima kalimat-kalimat ini agar diamalkan dan diajarkan kepada siapa saja yang akan mengamalkannya?’ Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjawab:
‘Saya, wahai Rasulullah.’ Kemudian beliau ﷺ memegang kedua tanganku seraya bertutur:

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

‘Takutlah engkau kepada segala sesuatu yang diharamkan, niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah. Ridailah segala sesuatu yang Allah bagi kepadamu, engkau pasti menjadi manusia yang paling cukup. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang Mukmin. Cintailah untuk manusia, segala sesuatu yang engkau cintai untuk dirimu, engkau pasti menjadi seorang Muslim. Dan janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, dan selainnya. Baca Ash-Shahihah no. 930]

 

Penulis: Dzulqarnain M. Sunusi [Dzulqarnain.net]
Sumber: https://www.facebook.com/dzulqarnainms/photos/a.688559331220387.1073741826.390364267706563/1492703457472633/?type=3&theater

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

NASIHAT JIBRIL UNTUK NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DAN UMATNYA

NASIHAT JIBRIL UNTUK NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DAN UMATNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MutiaraSunnah,#TazkiyatunNufus

NASIHAT JIBRIL UNTUK NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DAN UMATNYA
 
Dari Sahl bin Sa’d berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
 
“Jibril mendatangiku lalu berkata: “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya . Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemuliaan seorang Mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.” [HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no 4278, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa, al-Hakim dalam al-Mustadrak 7921 Hadis ini dinyatakan Hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadis ash-Shahihah 2/483]
 
Penjelasan Hadis:
Jibril ‘alaihis salaam adalah salah satu dari malaikat yang agung. Beliau ‘alaihis salaam diberi tugas untuk menyampaikan wahyu. Dan dengan wahyu itulah keadaan manusia menjadi baik, baik dalam urusan dunia maupun agama mereka.
 
Jibril ‘alaihis salaam datang kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, lalu berbicara kepada beliau ﷺ dalam konteks beliau ﷺ sebagai salah seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Jibril ‘alaihis salaam tidak berbicara kepada beliau ﷺ dalam konteks sebagai Nabi ataupun Rasulullah. Sehingga perkataan Jibril ‘alaihis salaam dalam hadis ini adalah sebuah perkataan yang cocok dan baik untuk semua hamba Allah. Oleh sebab itu, marilah kita cermati perkataan Jibril ‘alaihis salaam ini dengan seksama, untuk seterusnya kita amalkan, karena ilmu menuntut kita untuk mengamalkannya. Dan kalimat yang disampaikan oleh Jibril ‘alaihis salaam di sini adalah kalimat yang ringkas, namun sarat akan makna.
 
Benar, kalimat tersebut adalah kalimat terbatas, yang dengannya Jibril ‘alaihis salaam memberi nasihat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dan sekaligus ia adalah pengingat dan peringatan bagi setiap individu dari umat beliau ﷺ sepeninggal beliau ﷺ. Jika Nabi ﷺ dinasihati dan diingatkan, maka bagaimana dengan manusia selain beliau ﷺ?! Maka pasti kita lebih membutuhkan terhadap nasihat dan peringatan, karena kita tidak bisa lepas dari keduanya.
 
>> Hiduplah Sesukamu, Karena Sesungguhnya Kamu Akan Mati
Jibril ‘alaihis salaam memulai nasihatnya dengan mengingatkan akan kematian, karena ia adalah hal paling buruk dan paling menyeramkan bagi manusia. [Faidhul Qadir, hal 102]
 
Dia (Jibril) berkata: “Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati,” maksudnya akan sampai (menuju) kepada kematian dalam waktu yang dekat.
 
Kematian ini akan mendatangimu, wahai hamba Allah, dan pasti menghampirimu, tidak mungkin meleset darimu. Dan sekalipun engkau melihatnya jauh, namun di sisi Allah ia adalah dekat, dan setiap yang akan datang pasti datang, dan setiap yang akan datang adalah sesuatu yang dekat.
 
Dan di antara buah dari mengingat kematian adalah menghilangkan ketergantungan hati terhadap dunia, ketamakan terhadap kesenangan-kesenangannya. Dan di antara buahnya yang lain adalah memperpendek angan-angan dalam dunia ini. Maka Ahli Akhirat, mereka tidak memiliki panjang angan-angan di dalamnya, akan tetapi mereka hanya mengharapkan kehidupan di negeri yang kekal (Akhirat).
 
وَمَا هَـٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ‌ الْآخِرَ‌ةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
 
Allah ta’ala berfirman, yang artinya:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya Akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” [QS. al-‘Ankabut: 64]
 
Maksudnya, (kehidupan Akhirat) adalah kehidupan yang sempurna dan tetap (kekal).
 
“Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan mati.” Maknanya adalah hendaklah mempersiapkan diri seseorang, yang tujuan akhirnya adalah kematian, dengan cara menyiapkan diri untuk sesuatu setelahnya (setelah kematian). [Faidhul Qadir, 4/500].
 
>> Dan Cintailah Siapa Yang Kamu Suka, Karena Sesungguhnya Engkau Akan Berpisah Dengannya
 
Kemudian Jibril ‘alaihis salaam berkata kepada Nabi ﷺ: “Dan cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya.” Maksudnya adalah, cintailah siapa saja yang kamu suka di antara makhluk, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya.
 
Maka jangan sampai, wahai hamba Allah, engkau menyibukkan hatimu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang fana berupa istri, anak, harta dan selainnya dari hal-hal yang kamu cintai. Karena itu semua bisa jadi akan pergi darimu, atau bisa jadi kamu yang pergi darinya!
 
Maka sibukkanlah hatimu dengan kecintaan terhadap Dzat yang tidak berpisah denganmu, dan kamu tidak berpisah dengannya, yaitu mengingat Allah dan amal saleh yang dicintai Allah. dengan mendekatkan pelakunya dengan-Nya. Karena hal itu akan menemanimu di alam kubur, sehingga tidak akan berpisah denganmu. [Faidhul Qadir]
 
Dan di antara tempat yang baik untuk mengingat kematian adalah ketika kita sedang shalat. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadis Anas radhiyallahu ‘anhu:
 
اذْكُرِ المَوْتَ فِي صَلاَتِكَ، فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَكَرَ المَوْتَ فِي صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أن يُحْسِنَ صَلاَتَهُ، وَصَلِّ صلاةَ رَجُلٍ لاَ يَظُنُّ أَنَّهُ يُصَلِّي صلاةً غيرَهَا
 
“Ingatlah kematian dalam shalatmu, karena seseorang jika mengingat kematian di dalam shalatnya, niscaya hal itu akan menjadikan dia memerbagus shalatnya. Dan shalatlah dengan shalatnya seseorang yang tidak mengira kalau ia akan melakukan shalat selainnya (selain shalat yang dia lakukan saat itu).” [Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, no 1421]
 
Maka seharusnya engkau, wahai hamba Allah, mengingat-ingat kematian dalam shalatmu, dalam rangka mengamalkan wasiat Nabi ﷺ tersebut.
 
>> Dan Berbuatlah Sesukamu, Karena Sesungguhnya Engkau Akan Diberi Balasan Karenanya
 
Kemudian Jibril ‘alaihis salaam berkata kepada Nabi ﷺ:
“Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.”
 
“Berbuatlah sesukamu,” maknanya adalah berbuatlah sesukamu, berupa perbuatan yang baik maupun yang buruk, karena sungguh akhir kehidupanmu adalah kematian. Lalu setelah kematian ada perhitungan dan pembalasan (di Hari Kiamat). “Karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya” maksudnya sebagai ganjaran atas perbuatan tersebut, dan engkau akan diberi keputusan sesuai dengan konsekuensi dari perbuatanmu.
 
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّ‌ةٍ خَيْرً‌ا يَرَ‌هُ # وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّ‌ةٍ شَرًّ‌ا يَرَ‌هُ
 
Allah ta’ala berfirman, yang artinya:
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” [QS. az-Zalzalah: 7-8]
 
Dan dalam hal ini ada ancaman dan peringatan yang serupa dengan firman-Nya:
 
إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا ۗ أَفَمَن يُلْقَىٰ فِي النَّارِ‌ خَيْرٌ‌ أَم مَّن يَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ‌
 
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam Neraka lebih baik? Ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada Hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS. Fushilat: 40]
 
Maksudnya membalasmu berdasarkan amalan tersebut. Sehingga jika amalan tersebut baik, maka balasannya akan menyenangkanmu. Dan jika buruk, maka perjumpaan dengan balasan tersebut akan menyedihkanmu. [Faidhul Qadir]
 
>> Wahai Muhammad, Sesungguhnya Kemuliaan Seorang Mukmin adalah Berdirinya Dia Pada Malam Hari (Untuk Shalat Malam)
 
Ketika umur manusia itu pendek jika dibandingkan dengan kehidupan Akhirat, dan ketika seorang hamba diciptakan untuk menegakkan kalimat Allah dan memakmurkan dunia ini dengan ketaatan kepada Rabbnya dan beribadah kepada Penciptanya, maka Jibril ‘alaihis salaam menjelaskan kepada Nabi kita ﷺ, hal terbesar yang bermanfaat baginya, dan yang bisa menyelamatkannya dari kengerian Hari Kiamat yang akan dilalui oleh semua hamba Allah, yaitu dengan perkataannya:
 
“Wahai Muhammad, sesungguhnya kemuliaan seorang Mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam)”. Maksudnya adalah ketinggian dan kehormatannya adalah usahanya menghidupkan malam dengan merutinkan Tahajjud di dalamnya, berzikir dan membaca Alquran. Dan ini adalah amalan yang paling agung dan paling mulia, yang dengannya seorang hamba menghadap Rabbnya, karena shalat adalah amalan terbaik, setelah Dua Kalimat Syahadat, yang dibawa seorang hamba menghadap Rabbnya. Beliau ﷺ bersabda:
 
الصّلاةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ
 
“Shalat adalah sebaik-baik amalan yang Allah tetapkan bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya.” [HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 3870]
 
Beliau ﷺ juga bersabda:
 
واعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاة
 
“Dan ketahuilah, bahwasanya sebaik-baik amalan kalian adalah shalat.” [HR. para imam, yaitu Malik dalam al-Muwatha’, Ahmad dalam Musnad, Ibnu Majah dan ad-Darimi. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil]
 
Hal itu karena shalat mengumpulkan/menggabungkan beberapa jenis ibadah, seperti membaca (Alquran), tasbih, takbir dan tahlil. Nabi ﷺ bersabda:
 
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ
 
“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib (fardhu) adalah shalat (sunnah) di tengah malam.” [Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami, no. 1116]
 
>> Dan Keperkasaannya adalah Ketidakbutuhannya terhadap Manusia
 
Kemudian Jibril ‘alaihis salaam berkata kepada beliau ﷺ:
“Dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.” Maksudnya adalah bahwa kekuatannya, keperkasaannya dan keunggulannya dari orang lain adalah ketercukupannya dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, dan ketidakbutuhannya terhadap apa yang ada di tangan manusia. [Faidhul Qadir, 134]
 
Dan karena mulianya hamba ini di tengah-tengah manusia, maka ia menjadi orang yang dicintai di tengah-tengah mereka. Beliau ﷺ bersabda:
 
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
 
“Zuhudlah dalam urusan dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa-apa yang pada manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.” [HR. Ibnu Majah, no. 4102]
 
Maka kesimpulannya, bahwasanya nasihat ini, yang disampaikan Jibril ‘alaihis salaam kepada Nabi kita ﷺ mencakup beberapa perkara, di antaranya:
 
– Peringatan agar tidak panjang angan-angan
– Mengingatkan kematian
– Tidak tertipu dengan berkumpulnya dia dengan keluarga, orang yang dicintai dan anak-anaknya
– Mengingatkan agar memanfaatkan umur untuk beribadah
– Anjuran agar menunaikan shalat Tahajjud
 
Dan nasihat ini sekalipun singkat, namun ia mencakup kebaikan dunia dan Akhirat, dan memberikan jaminan dengan kebahagiaan di dua negeri tersebut (dunia dan Akhirat).
 
Wallahu A’lam.
 
Disadur dan diterjemahkan dari khutbah berjudul, Mauidhah Jibril Li an-Nabi, dari http://www.ilmmasabih.com/index.php/khotob/item
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

AGAMA ADALAH NASIHAT

AGAMA ADALAH NASIHAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#MutiaraSunnah
 
AGAMA ADALAH NASIHAT
 
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Daary radhiallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: “الدين النصيحة”. قلنا: لمن يا رسول الله؟ قال: “لله, و لكتابه, و لرسوله, و لأئمة المسلمين, و عامتهم .”
 
“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum Muslim, dan bagi kaum Muslim secara umum.” [HR. Muslim]
 
Makna Hadis
 
Al Khaththabi mengatakan: Nasihat adalah sebuah kalimat yang luas cakupan maknanya. Maknanya adalah menghendaki kebaikan bagi orang yang diberi nasihat. Dikatakan pula, bahwa kata nasihat diambil dari kalimat
 
نصح الرجل ثوبه إذا خاطه
 
(Seorang laki-laki menjahit pakaiannya).
 
Seseorang yang memberi nasihat diserupakan dengan orang yang menjahit pakaian, karena orang yang memberi nasihat kepada orang lain, pada hakikatnya adalah memperbaiki orang yang dinasihati. Demikian orang yang menjahit baju yang berlubang (ia memperbaiki lubang yang terdapat pada baju tersebut). [Asy-Syarhul Kabiir ‘alal arba’in an nawawiyyah, 183]
 
Syaikh Shalih Alu Syaikh mengatakan, bahwa nasihat dengan makna “Menghendaki kebaikan bagi orang yang dinasihati” adalah makna nasihat berkaitan dengan nasihat untuk para pemimpin kaum Muslim dan kaum Muslim secara umum.
 
Adapun makna nasihat kepada tiga yang pertama (yaitu kepada Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya), maka maknanya jalinan hubungan antara dua hal, di mana yang satu memberikan hak kepada yang lainnya, sehingga tidak ada permusuhan di antara keduanya.
 
Telah diketahui pula, bahwa seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabb-nya dengan cara memenuhi seluruh hak-hak-Nya yang merupakan kewajiban seorang hamba. Demikian pula dalam memenuhi hak-hak Alquran maupun hak-hak Rasulullah ﷺ. [Asy-Syarhul Kabiir ‘alal arba’in An Nawawiyyah, 629-630]
 
Kandungan Hadis
 
Nasihat kepada Allah Subaanahu wa Ta’ala
 
Berkaitan dengan penjelasan di atas, bahwa makna nasihat kepada Allah adalah merapatnya hubungan antara seorang hamba dengan Allah, dengan cara seorang hamba melaksanakan hak-hak Allah, baik itu berupa hak yang wajib maupun mustahab.
 
Syaikh As Sa’diy menjelaskan, bahwa makna nasihat kepada Allah ta’ala adalah seorang hamba memahami akan keesaan Allah, meng-esakan Allah dalam sifat-sifat yang sempurna tanpa adanya satu pun yang menyerupai-Nya dari segala sisi, melakukan peribadahan kepada-Nya, baik secara zahir maupun batin, selalu merasa harap dan takut disertai dengan selalu bertobat dan istighfar. Hal ini karena sesungguhnya seorang hamba pasti pernah meremehkan sesuatu dari kewajiban-kewajiban yang Allah berikan, atau terkadang seorang hamba terjatuh pada perkara yang diharamkan. Dengan tobat yang sungguh-sungguh dan istighfar yang terus menerus, maka akan menutup kekurangan-kekurangannya, dan akan menyempurnakan perbuatan dan amalnya. [Asy-Syarhul Kabiir ‘alal Arba’in An Nawawiyyah, 187]
 
Nasihat kepada Kitabullah
 
Syaikh As Sa’diy menjelaskan, bahwa nasihat kepada Kitabullah adalah dengan menghafalnya dan menadabburinya, mempelajari lafal-lafal dan maknanya, dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan kandungannya. [Asy Syarhul Kabiir ‘alal arba’in An Nawawiyyah, 187]
 
Nasihat kepada Rasul ﷺ
 
Syaikh As Sa’diy menjelaskan, bahwa nasihat kepada Rasul ﷺ adalah dengan mengimani dan mencintainya, mendahulukannya dibanding dirinya, hartanya maupun anaknya. Ittiba’ (meneladani) para Rasul dalam perkara pokok-pokok agama maupun perkara cabangnya. Mengutamakan perkataan Rasul ﷺ dibanding perkataan manusia lain, dan bersungguh-sungguh dalam mengambil petunjuk dari petunjuk-petunjuknya dan dalam menolong agamanya. [Asy Syarhul Kabiir, 187]
 
Nasihat kepada Pemimpin Kaum Muslim
 
Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan, bahwa nasihat bagi pemimpin kaum Muslim adalah dengan memberikan hak-hak mereka yang telah Allah berikan kepada mereka, yang telah Allah jelaskan dalam kitab-kitab-Nya, maupun yang telah Rasulullah ﷺ jelaskan dalam sunnah beliau. Di antara hak tersebut adalah menaati mereka dalam perkara yang ma’ruf, meninggalkan ketaatan dalam perkara maksiat, berkumpul dengan mereka dalam perkara hak dan petunjuk, dan pada perkara yang kita ketahui tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Dan termasuk nasihat bagi mereka, yaitu memberikan nasihat dengan makna mengingatkan keasalahan-kesalahan mereka. Ibnu Daqiqil ‘id berkata, bahwa bentuk nasihat ini hukumnya adalah Fardhu Kifayah. Maka jika sudah ada sebagian orang yang melakukannya, maka gugurlah kewajiban yang lainnya. [Asy Syarhul Kabiir, 633].
 
Nasihat kepada Kaum Muslim Secara Umum
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan, bahwa bentuk nasihat kepada kaum Muslim secara umum adalah dengan menampakkan kecintaan kepada mereka, menampakkan wajah yang berseri-seri, menebarkan salam, menasihati, saling tolong-menolong dan hal-hal lain yang dapat mendatangkan maslahat dan menghilangkan mafsadat. [Asy-Syarhul Kabiir, 181]
 
Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: Ketahuilah, bahwa perkataanmu terhadap salah seorang kaum Muslim tidaklah boleh disamakan dengan perkataanmu terhadap seorang pemimpin. Perkataanmu terhadap seorang pembangkang tidaklah boleh disamakan dengan perkataanmu terhadap orang yang masih bodoh. Maka, setiap kondisi orang ada perkataan (yang sesuai). Maka, berilah nasihat kepada kaum Muslimin secara umum semampumu. [Asy Syarhul Kabiir, 181]
 
Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun orang-orang yang membacanya.
 
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in
 
***
Artikel Muslimah.or.id
Penulis: Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber: Indonesia Bertauhid
,

KITA LEBIH BUTUH PELITA ULAMA DARIPADA PELITA LILIN

KITA LEBIH BUTUH PELITA ULAMA DARIPADA PELITA LILIN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus
KITA LEBIH BUTUH PELITA ULAMA DARIPADA PELITA LILIN
 
Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan berkata:
“Ulama itu semisal bulan, yaitu menerangi dirinya dan orang sekitarnya, sehingga manfaatnya lebih luas.”
[# Sumber: At-Tasykik fi Al-‘Ulama’ wa Atsaruhu ‘ala Ats-Tsawab, dari channel Tg Syaikh Shalih Al-Fauzan]
 
Beda dengan lilin, hanya dibutuhkan saat darurat saja ketika listrik padam. Sedangkan pelita ulama lewat ilmu dibutuhkan setiap waktu, sepanjang hayat.
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
,

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

#TazkiyatunNufus

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

Saudaraku, sebelum engkau melangkahkan kakimu, renungilah hadis ini:

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا أراد الله قبض عبد بأرض جعل له إليها حاجة

“Sesungguhnya, jika Allah menghendaki untuk mencabut nyawa seorang hamba di suatu tempat, maka Allah jadikan hamba itu memiliki keperluan di tempat tersebut.” [HR. Al-Hakim dan Bukhori dalam adab al mufrad, shahih oleh Al-Albani]

Subhanallah. Kita tidak tahu, bisa jadi Allah ta’ala berkehendak mencabut nyawa kita di tempat yang kita tuju. Bisa jadi perginya kita kesuatu tempat adalah tempat dicabutnya nyawa kita.

  • Apa jadinya jika tempat yang kita tuju adalah tempat yang sarat akan maksiat?
  • Maka perbaiki hatimu, perbaiki tujuan-tujuanmu dalam melangkah. Perbanyaklah menuju tempat-tempat yang Allah berkahi, yang Allah cintai: masjid, mushola, majelis ilmu, dan lain sebagainya.
  • Bagimu wahai saudaraku yang masih gemar plesiran, mengeluarkan uang hanya untuk sekedar senang-senang ke negeri-negeri non-Islam (kafir), maka perbaikilah tujuanmu. Carilah tempat-tempat tujuan yang Allah berkahi, seperti melakukan perjalanan umroh ke Tanah Suci, Mekkah dan Madinah.

Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan akhir penutup husnul khatimah di tempat-tempat yang Allah ta’ala cintai.

 

Penyusun: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah
#TazkiyatunNufus

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا أحبَّ اللّه عبداً عسّلَه .قالوا : ما عسّلَه ؟ . قال : يفتح اللّه – عز وجل – له عملاً صالحاً قبل موته ثمّ يقبضه عليه

“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberinya madu”. Para sahabat bertanya: “Apa maksudnya memberinya madu?” Beliau ﷺ menjawab: “Allah akan membukakan baginya amal saleh sebelum kematiannya, kemudian Allah mewafatkannya di atas amal saleh tersebut (Husnul Khatimah).” [HR. Ahmad 17819. Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah 1114]

 

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]
Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

TIDAK AKAN BERUNTUNG JIKA ORANG KAFIR ATAU MUNAFIK YANG MEMIMPIN

TIDAK AKAN BERUNTUNG JIKA ORANG KAFIR ATAU MUNAFIK YANG MEMIMPIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama #DakwatTauhid #ManhajSalaf
#TazkiyatunNufus

TIDAK AKAN BERUNTUNG JIKA ORANG KAFIR ATAU MUNAFIK YANG MEMIMPIN

>> Coba Cek Imanmu!

  • Masihkah dia berada dalam hatimu..?!
  • Jangan-jangan iman itu telah pergi menjauh darimu, bahkan meninggalkanmu..!
  • Ya, Pergi tanpa engkau sadari, tanpa kau pahami, dan tanpa kau mengerti..!

Allah ta’ala berfirman:

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu TIDAK AKAN MENDAPATI sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.“ (QS. Al-Mujadilah 22)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Orang yang paling berakal adalah orang yang mengedepankan kelezatan dan kesenangan yang abadi, dibandingkan kesenangan yang singkat, fana dan terputus. SEBALIKNYA, orang yang paling bodoh adalah orang yang menjual kenikmatan yang abadi, kehidupan yang kekal dan kelezatan yang agung, yang sama sekali tidak ada suatu kekurangan pun di dalamnya, dengan suatu kelezatan yang terputus, singkat, fana dan tercemari oleh kepedihan dan kekhawatiran.” (Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal 431)

Allah ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu,, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran 118)

Sudah jelas bagi kita. Maka janganlah kita sampai salah dalam melangkah dan memilih. Ingatlah apa yang Allah ta’ala sampaikan:

أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah, itulah yang beruntung.” (QS. Mujadilah 22)

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Instagram: Instagram.com/ShahihFiqih