Posts

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com

PENJELASAN DAN BANTAHAN SALAH KAPRAH BID’AH HASANAH

PENJELASAN DAN BANTAHAN SALAH KAPRAH BID’AH HASANAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#StopBidah, #SayNoToBidah, #TidakAdaBidahHasanah

PENJELASAN DAN BANTAHAN SALAH KAPRAH BID’AH HASANAH

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang membuat sunnah dalam Islam ini, Sunnah Hasanah, maka baginya berhak atas pahala, dan pahala orang yang mengamalkannya (sunnah tersebut) setelahnya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang membuat Sunnah Sayyi’ah (sunnah yang buruk) dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” [HR Muslim dalam Kitab Zakat, Bab Motivasi Untuk Bershadaqah Walaupun dengan Sebutir Kurma no. 1017]

Penjelasan Hadis Sunnah Hasanah di Atas

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

“Yang dimaksud dengan “من سن في الإسلام سنة حسنة” ialah MEMELOPORI SUATU AMAL YANG TELAH ADA, BUKAN MEMBUAT AMALAN BARU.

Karena barang siapa yang mengada-adakan suatu amalan yang tidak ada asalnya dalam Islam, maka amalan tersebut tertolak, dan bukan sebuah amalan yang baik. Yang dimaksud ialah sebagaimana laki-laki dari kalangan Anshar tersebut, radhiyallahu ‘anhu, yang membawa kurma sebanyak satu shurrah. Hal ini menjadi dalil, bahwa barang siapa yang meniru perbuatan semisal dengan apa yang dilakukan pelopor sunnah ini, maka tercatat bagi si pelopor sunnah tersebut, pahala, baik ia masih hidup maupun telah meninggal” [Syarh Riyadh As Shalihin].

Bantahan Telak Bagi Pelaku Bid’ah Hasanah

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullahu menjelaskan:

“TIDAKLAH MUNGKIN maksud Nabi ﷺ dalam hadis tersebut (yaitu hadis tentang Sunnah Hasanah) merupakan pembolehan beliau atas praktik bid’ah dalam agama, atau menjadi pintu bagi apa yang disebut oleh sebagian orang dengan “Bid’ah Hasanah”, dilihat dari beberapa alasan berikut ini:

Pertama: Nabi ﷺ berulangkali bersabda:

كلّ محدثة بدعة وكلّ بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Tiap perbuatan yang mengada-ada itu bid’ah, tiap bid’ah itu sesat, dan tiap kesesatan tempatnya di Neraka’ [HR An Nasa’i, HR Ahmad dari jalur Jabir radhiallahu ‘anhu, HR Abu Daud dari jalur ‘Irbadh bin Sariyah, HR Ibnu Majah dari jalur Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu]

Begitu pula Nabi ﷺ dalam khutbahnya bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

‘Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara ialah perkara baru yang diada-adakan dalam agama, dan setiap bid’ah itu sesat” [HR Muslim no 867].

Maka jika tiap bid’ah itu sesat, bagaimana dapat dikatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah dalam Islam?! Ini adalah perkara yang teramat jelas yang telah disampaikan berulangkali oleh Nabi ﷺ dan diperingatkan akan bahayanya.

Kedua: Nabi ﷺ telah mengabarkan, bahwa barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama, amalnya tertolak dan tidak diterima oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dari Aisyah radhiallahu ‘anha:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

‘Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami (yaitu dalam Islam), yang tidak ada asalnya, maka amalannya tertolak’ [HR Bukhari no 2967]

Maka bagaimana bisa dikatakan, bahwa beliau ﷺ membolehkan seseorang untuk memraktikkan suatu bid’ah?!

Ketiga: Sesungguhnya setiap Mubtadi’, orang yang membuat-buat perkara bid’ah dalam agama, yang ia sandarkan amalan tersebut kepada agama ini, berkonsekuensi atas beberapa hal:

  • Dia telah menuduh agama ini kurang sempurna, padahal Allah ta’ala sendiri yang telah berfirman:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Ku-sempurnakan bagi kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam adalah agama bagi kalian” [QS. Al Maidah: 3]

  • Dia telah menuduh Nabi ﷺ dengan salah satu dari dua tuduhan:

>> Pertama, bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui (jahil, dan Nabi ﷺ yang mulia lepas dari tuduhan ini -pent) akan adanya Bid’ah Hasanah ini, atau kedua, Nabi ﷺ mengetahuinya, namun menyembunyikannya dari umat beliau ﷺ dan tidak menyampaikannya!

>> Bahwa Nabi ﷺ para shahabat, dan Salafusshalih telah luput dari pahala amalan Bid’ah Hasanah ini, namun kemudian muncullah para Mubtadi’ ini, dan merekalah yang pada akhirnya mendapat pahala atas praktik bid’ah ini. Hendaknya mereka ini mengatakan pada diri mereka sendiri sebuah perkataan:

” لو كان خيرا لسبقونا إليه”

Seandainya itu baik, tentulah mereka telah mendahului kami dalam mengerjakannya.“

  • Sesungguhnya membuka pintu bagi Bid’ah Hasanah, akan membuka pintu bagi adanya pengubahan terhadap agama, dan membuka pintu bagi hawa nafsu dan pendapat yang berdasarkan semata akal (ra’yu). Karena setiap Mubtadi’ berkata lewat perbuatan mereka, bahwa apa yang mereka kerjakan adalah perkara kebaikan. Namun mereka sendiri berlepas diri jika ditanya, dari mana mereka mengambil amalan tersebut?
  • Sesungguhnya amalan bid’ah akan menyebabkan peremehan terhadap sunnah-sunnah, sebagaimana apa yang dipersaksikan oleh Al Waqi’:

“Tidaklah suatu bid’ah dihidupkan, melainkan mati bersamanya suatu sunnah”.

Hal ini juga berlaku sebaliknya (Perkataan beliau “hal ini berlaku sebaliknya”, memberi kita faidah, bahwa salah satu jalan untuk mematikan bid’ah, ialah dengan menghidupkan sunnah. Wallahu a’lam -pent, penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dapat dilihat di website beliau http://islamqa.info/ar/ref/864]

 

Dinukil dari tulisan berjudul “Sunnah Hasanah atau Bid’ah Hasanah?” yang ditulis oleh: Yhouga Pratama dari: http://muslim.or.id/11416-sunnah-hasanah-atau-bidah-hasanah.html

 

 

,

ZALIM KARENA JAHIL DAN MENGIKUTI NAFSU

ZALIM KARENA JAHIL DAN MENGIKUTI NAFSU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

ZALIM KARENA JAHIL DAN MENGIKUTI NAFSU

Kebanyakan, kezaliman manusia kepada sesamanya bukan karena mencintai kezaliman, namun karena kejahilan dan mengikuti hawa nafsu.

“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ingin menyimpang dari kebenaran” [QS. An Nisa: 153]

 

Syaikh Sulaiman Al Majid

[Artikel Muslimah.Or.Id]

Sumber: https://Muslimah.or.id/6669-zalim-karena-jahil-dan-mengikuti-nafsu.html

 

,

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI TUJUH PERKARA

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, pikun, dan sifat kikir (bakhil). Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Nabi ﷺ berlindung dari tujuh perkara, yaitu:

  1. Kelemahan
  2. Kemalasan

Perbedaan antara lemah dan malas adalah, bahwa lemah itu tidak adanya kemampuan, sedangkan malas adalah enggannya jiwa melakukan kebaikan, dan kurang terdorong kepadanya, padahal mampu melakukannya. Kedua hal ini adalah penyakit yang membuat seseorang duduk dan meninggalkan kewajiban, sehingga terbuka baginya pintu-pintu keburukan.

  1. Sifat pengecut
  2. Kebakhilan (kekikiran)

Sifat pengecut terkait dengan jiwa, sedangkan sifat bakhil (pelit) terkait dengan harta. Siapa saja yang kehilangan keberanian untuk melawan hawa nafsu, was-was setan, melawan musuh, menghadapi lawan yang membela yang batil, maka dia adalah pengecut. Dan siapa saja yang tidak mau memberi kaum fakir dengan hartanya, mengeluarkan hartanya untuk para mujahid fii sabilillah, dan mengeluarkan pada jalur-jalur kebaikan, maka dia adalah orang yang bakhil. Dalam banyak ayat, Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan berjihad dengan jiwa dan hartanya. Dan penyakit yang dapat menghalangi seseorang dari berjihad mengorbankan jiwa dan hartanya adalah penyakit pengecut dan bakhil.

Nabi ﷺ berlindung dari sifat pengecut dan bakhil, karena keduanya dapat menghalangi kewajiban, menghalangi dari memenuhi hak-hak Allah ta’ala, menghalangi dari mencegah kemungkaran, bersikap tegas kepada para pelaku maksiat. Di samping itu, dengan seseorang memiliki keberanian dan kekuatan, maka ibadah dapat sempurna, orang yang terzalimi dapat tertolong, jihad dapat dilakukan. Sedangkan dengan selamat dari kebakhilan, maka ia dapat memenuhi hak-hak harta, adanya keinginan untuk berinfak, bersikap dermawan, dan berakhlak mulia serta terhalang dari sifat tamak kepada apa yang tidak dimilikinya.

  1. Pikun

Yang dimaksud pikun adalah dikembalikan kepada usia yang paling buruk. Sebab mengapa beliau ﷺ berlindung darinya adalah, karena ketika sudah pikun terkadang ucapan menjadi ngelantur, akal dan ingatan menjadi kurang, panca indera menjadi lemah, dan lemah dari melakukan ketaatan, serta meremehkan sebagiannya. Cukuplah seseorang berlindung darinya, karena Allah menamai usia tersebut sebagai Ardzalul ‘Umur (Usia paling buruk).

  1. Siksa Kubur

Hadis di atas menunjukkan adanya siksa kubur, di samping adanya nikmat kubur dan fitnah(ujian)nya. Hadis lain yang menunjukkan adanya siksa kubur adalah hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ المَدِينَةِ، أَوْ مَكَّةَ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ» ثُمَّ قَالَ: «بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» . ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ، فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ، فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا» أَوْ: «إِلَى أَنْ يَيْبَسَا»

“Nabi ﷺ pernah melewati salah satu di antara kebun-kebun Madinah atau Mekkah, lalu beliau ﷺ mendengar suara dua orang yang diazab dalam kuburnya, kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Keduanya sedang diazab, dan keduanya tidaklah diazab, menurut keduanya terhadap dosa besar.” Selanjutnya beliau ﷺ bersabda: “Bahkan sesungguhnya itu dosa besar. Adapun salah satunya, maka ia tidak menjaga diri dari kencingnya, sedangkan yang satu lagi berjalan kesana-kemari mengadu domba.” Kemudian beliau ﷺ meminta dibawakan pelepah kurma, lalu beliau ﷺ mematahkan menjadi dua bagian, dan meletakkan belahannya di masing-masing kubur itu, lalu beliau ﷺ ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Mudah-mudahan azab keduanya diberi keringanan selama belahan itu belum kering,” atau bersabda: “Sampai kedua belahan kering.” [HR. Bukhari]

 

  1. Fitnah Hidup dan Mati (Bencana Kehidupan dan Kematian)

Fitnah hidup artinya cobaan dan hujian hidup, baik berupa fitnah syahwat dan fitnah syubhat, d imana kedua cobaan ini banyak yang membuat manusia tergelincir, lalai dari kewajibannya dan terbawa oleh arus fitnah yang menggiringnya kepada kebinasaan. Maka dalam doa ini kita berlindung, agar kita mampu menghadapi cobaan-cobaan itu dengan tetap bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya. Ini adalah cara untuk menghadapi fitnah syahwat. Adapun cara untuk menghadapi fitnah syubhat adalah dengan yakin di atas kebenaran dan teguh, tidak mudah berubah oleh situasi dan kondisi; berbekal ilmu syari.

Sedangkan fitnah mati, maka maksudnya ujian ketika di kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir yang akan menanyakan kepada seseorang tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya.

Wallahu a’lam.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Dinukil dari tulisan berjudul: “RASULULLAH BERDOA MOHON PERLINDUNGAN DARI HAL-HAL BERIKUT” yang ditulis oleh: Marwan Hadidi, S.Pd.I

[Artikel Muslim.Or.Id]

Sumber: https://muslim.or.id/22107-rasulullah-berdoa-mohon-perlindungan-dari-hal-hal-berikut.html

 

 

 

,

HAKIKAT KEHIDUPAN HAMBA

HAKIKAT KEHIDUPAN HAMBA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HAKIKAT KEHIDUPAN HAMBA

Al-Marrudzy berkata:

“Suatu hari aku masuk menjumpai (Imam) Ahmad, lalu saya bertanya: ‘Bagaimana engkau di pagi ini?’ Beliau menjawab: “Aku masuk di waktu pagi dalam keadaan Rabb-ku menuntut (diriku) untuk menunaikan kewajiban, Nabi-Nya menuntut untuk menunaikan Sunnah, dua malaikat menuntut untuk memerbaiki amalan, jiwaku menuntut (mengikuti) hawa nafsu, Iblis menuntut untuk kekejian, Malakul Maut menuntut nyawa, dan keluarga menuntut nafkah.”

 
[Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’lâ 1/570, dengan perantara kitab Kasykûl karya guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Aqil]
, ,

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ManhajAkidah
#StopBidah

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

>> Perbedaan dan Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

Penulis: Muhammad bin Husain Al-Jizani

A. Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[A1]. Keduanya sama-sama dilarang, tercela dalam syariat, dan pelakunya mendapat dosa. Maka sesungguhnya bid’ah masuk di dalam kemaksiatan [lihat Al-Itisham 2/60]. Dengan tinjauan ini, setiap bid’ah adalah maksiat, tapi tidak setiap maksiat adalah bid’ah.

[A2]. Keduanya bertingkat-tingkart, bukan satu tingkatan saja, karena, menurut kesepakatan ulama, maksiat itu terbagi dalam kemaksiatan yang bisa membuat pelakunya kafir, dan kemaksiatan yang sifatnya Kaba’ir (dosa-dosa besar) dan shagha’ir (dosa-dosa kecil) [lihat Al-Jawaabul Kaafi 145-150]. Begitu juga bid’ah terbagi menjadi:

  • -Bid’ah yang membuat pelakunya kafir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Kaba’ir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Shaga’ir

Pembagian dan penglasifikasian ini bisa benar, jika sebagian bid’ah dinisbatkan pada sebagian yang lain. Maka jika seperti ini, dimungkinkan keadaannya beritngkat-tingkat, karena kecil dan besar berada dalam penyandaran dan penisbatan. Terkadang sesuatu dianggap besar dengan sendirinya, tapi bisa dianggap kecil jika dibandingkan dengan yang lebih besar darinya. Oleh sebab itu, sesungguhnya Shigharul Bida (Bid’ah-bid’ah kecil) pada hakikatnya dianggap sebagai bagian dari al-Kaba’ir dan bukan ash-Shaga’ir (dosa-dosa kecil), ini jika dibandingkan dengan dosa-dosa lain selain syirik. Lihat Al-I’tisham 2/57-62. Lebh jelasnya akan ada dalam point berikutnya.

[A3]. Keduanya memberikan indikasi akan lenyapnya syariat dan hilangnya sunnah. Semakin banyak maksiat dan bid’ah, maka semakin lemahlah sunnah. Semakin kuat dan tersebarnya sunnah, maka semakin lemahlah maksiat dan bid’ah. Maksiat dan bid’ah, ditinjau dari ini, sama-sama menghempaskan Al-Hudaa (Ajaran yang benar) dan memadamkan cahaya kebenaran. Keduanya berjalan beriringan. Hal itu akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

[A4]. Keduanya bertentangan dan bersebarangan dengan Maqaashidusysyarii’ah (Tujuan-tujuan syariat) yang berakibat fatal yaitu, menghancurkan syariat.

B. Perbedaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[B1]. Dasar larangan maksiat biasanya dalil-dalil yang khusus, baik teks wahyu (Alquran , As-Sunnah) atau ijma’ atau qiyas. Berbeda dengan bid’ah, bahwa dasar larangannya, biasanya dalil-dalil yang umum dan Maqaashidusysyarii’ah serta cakupan sabda Rasulullah ﷺ: ‘Kullu bid’atin dhalaalah’ (Setiap bida’ah itu sesat).

[B2]. Bid’ah itu menyamai hal-hal yang disyariatkan, karena bid’ah itu disandarkan dan dinisbatkan kepada agama. Berbeda dengan maksiat, ia bertentangan dengan hal yang disyariatkan, karena maksiat itu berada di luar agama, serta tidak dinisbatkan padanya. Kecuali jika maksiat ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, maka terkumpullah dalam maksiat semacam ini, maksiat dan bid’ah dalam waktu yang sama.

[B3]. Bid’ah merupakan pelanggaran yang sangat besar dari sisi melampaui batasan-batasan hukum Allah dalam membuat syariat. Karena sangatlah jelas, bahwa hal ini MENYALAHI DALAM MEYAKINI KESEMPURNAAN SYARIAT. Menuduh bahwa syariat ini masih kurang, dan membutuhkan tambahan, serta belum sempurna. Sedangkan maksiat, padanya tidak ada keyakinan bahwa syariat itu belum sempurna. Bahkan pelaku maksiat meyakini dan mengakui, bahwa ia melanggar dan menyalahi syariat.

[B4]. Maksiat merupakan pelanggaran yang sangat besar ditinjau dai sisi melanggar batas-batas hukum Allah, karena pada dasarnya dalam jiwa pelaku maksiat tidak ada penghormatan terhadap Allah, terbukti dengan tidak tunduknya dia pada syariat agamanya. Sebagaimana dikatakan: “Janganlah engkau melihat kecilnya kesalahan, tapi lihatlah siapa yang engkau bangkang” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62].

Berbeda dengan bid’ah, sesungguhnya pelaku bid’ah memandang bahwa dia memuliakan Allah, mengagungkan syariat dan agamanya. Ia meyakini bahwa ia dekat dengan Tuhannya dan melaksanakan perintah-Nya. Oleh sebab itu, ulama Salaf masih menerima riwayat Ahli Bid’ah, dengan syarat ia TIDAK mengajak orang lain untuk melakukan bid’ah tersebut, dan tidak menghalalkan berbohong. Sedangkan pelaku maksiat adalah fasiq, gugur keadilannya, ditolak riwayatnya dengan kesepakatan ulama.

[B5]. Maka sesungguhnya, pelaku maksiat terkadang ingin taubat dan kembali. Berbeda dengan ahli bid’ah, sesungguhnya dia meyakini bahwa amalanya itu adalah qurbah (ibadah yang mendekatkan kepada Allah, -pent), terutama Ahli Bid’ah Kubra (Pelaku bid’ah besar), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Artinya: Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaan yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik…” [Faathir: 8]

Sufyan At-Tsauri berkata: “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati, dan bid’ah tidak (idharapkan) taubat darinya.

Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) diceritakan, bahwa Iblis berkata: “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa, namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah.

Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca: bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa, namun tidak mau bertaubat, karena mereka merasa sedang berbuat baik.” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62]

[B6]. Jenis bid’ah lebih besar dari maksiat, karena fitnah Ahli Bid’ah (Mubtadi) terdapat dalam dasar agama, sedangkan fitnah pelaku dosa terdapat dalam syahwat. [Lihat Al-Jawwabul Kaafi: 58, dan Majmu Fatawa 20/103]. Dan ini bisa dijadikan sebuah kaidah, bahwa jika salah satu dari bid’ah atau maksiat itu tidak dibarengi qarinah-qarinah (bukti atau tanda) dan keadaan yang bisa memindahkan hal itu dari kedudukan asalnya.

Di antara contoh bukti-bukti dan keadaan tersebut adalah:

  • Pelanggaran, baik maksiat atau bid’ah, bisa membesar jika diiringi praktik terus menerus, meremehkannya, terang-terangan, menghalkan atau mengajak orang lain untuk melakukannya. Ia juga bisa mengecil bahayanya, jika dibarengi dengan pelaksanaan yang sembunyi-sembunyi, terselubung tidak terus menerus, menyesal (setelahnya, -pen) dan berusaha untuk taubat.

Contoh lain:

  • Pelanggaran itu dengan sendirinya bisa membesar dengan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Jika bahayanya kembali kepada dasar-dasar pokok agama, maka hal ini lebih besar, daripada penyimpangan yang bahayanya hanya kembali kepada hal-hal parsial dalam agama. Begitu pula pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan agama, lebih besar daripada pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan jiwa.

Jadi sebenarnya untuk mengomparasikan antara bid’ah dengan maksiat, kita harus memerhatikan situasi dan kondisi, maslahat dan bahayanya, serta akibat yang dtimbulkan sesudahnya. Karena memeringatkan bahaya bid’ah atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya menimbulkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan maksiat itu sendiri. Sebagaimana ketika kita memeringatkan, bahwa maksiat atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya mengakibatkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan bid’ah itu sendiri.

 

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Penerjemah Aman Abd Rahman, Penerbit Pustaka Azzam, Cetakan Juni 2001]

Sumber:

 

,

BAHAYANYA BID’AH

BAHAYANYA BID'AH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah
#StopBidah

BAHAYANYA BID’AH

Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) diceritakan, bahwa Iblis berkata: “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa, namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah.

Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca: bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa, namun tidak mau bertaubat, karena mereka merasa sedang berbuat baik.” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/1203-sisi-perbedaan-antara-bidah-dengan-maksiat.html

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?

Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita:

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita, begitu besar.” [Yusuf: 28]

Allah ta’ala berfirman tentang godaan setan:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah.” [An-Nisa: 76]

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata:

هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

“Ayat yang mulia ini (An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (Yusuf: 28), maka hasilnya adalah penjelasan, bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibanding tipu daya (godaan) setan.” [Adhwaul Bayan, 2/217]

As-Si’di rahimahullah berkata:

والكيد: سلوك الطرق الخفية في ضرر العدو، فالشيطان وإن بلغ مَكْرُهُ مهما بلغ فإنه في غاية الضعف

“Tipu daya yang dimaksudkan di sini adalah menempuh cara-cara yang samar dalam membahayakan musuh. Maka setan, meskipun tipu dayanya telah sedemikian rupa, akan tetapi ia sangat lemah.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 187]

Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Maka apabila seorang dari kalian melihat wanita, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena dengan begitu akan menentramkan gejolak syahwat di jiwanya.” [HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu’anhu]

An-Nawawi rahimahullah berkata:

“Ulama berkata: Makna hadis ini adalah peringatan bahaya hawa nafsu, dan bahaya ajakan kepada fitnah (godaan) wanita, karena Allah telah menjadikan di hati kaum lelaki adanya kecenderungan terhadap para wanita, dan merasa nikmat ketika memandang mereka, dan apa yang terkait keindahan dengan mereka. Maka wanita menyerupai setan dari sisi ajakannya kepada kejelekan, dengan bisikannya dan tipuannya.

Dan dapat diambil kesimpulan hukum dari hadis ini, bahwa tidak boleh bagi wanita untuk keluar di antara kaum lelaki, kecuali karena satu alasan darurat (sangat mendesak). Dan hendaklah kaum lelaki menundukkan pandangan, tidak boleh melihat pakaiannya, dan hendaklah berpaling darinya secara mutlak.” [Syarhu Muslim, 9/178]

Maka sungguh dahsyat godaan wanita, walaupun setan sudah mengerahkan segenap “potensi” yang ada pada dirinya untuk menyesatkan anak Adam. Namun ternyata godaannya tidak bisa sejajar, apalagi melebihi godaan wanita. Akan tetapi sayang seribu sayang, ternyata setan pun bisa memanfaatkan wanita sebagai kaki tangannya untuk menjerumuskan kaum lelaki dalam dosa, entah sang wanita sadar atau tidak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya. Dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafal ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

أَيْ زَيَّنَهَا فِي نَظَرِ الرِّجَالِ وَقِيلَ أَيْ نَظَرَ إِلَيْهَا لِيُغْوِيَهَا وَيُغْوِيَ بِهَا

“Maknanya adalah, setan menghiasi wanita di mata laki-laki. Juga dikatakan maknanya adalah setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya, dan menyesatkan laki-laki dengannya.” [Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]

 

Sumber:

👠 ANTARA GODAAN WANITA DAN GODAAN SETAN, MANA YANG LEBIH DAHSYAT?➡ Allah ta’ala berfirman tentang godaan wanita,إِنّ…

Dikirim oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info pada 25 Maret 2017

 

 

 

 

,

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

BAHAYANYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah. Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap Muslim. [HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]

Dan agama adalah apa yang telah difirmankan oleh Allah di dalam kitab-Nya, Alquranul Karim, dan disabdakan oleh Rasul-Nya ﷺ di dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah, termasuk kesalahan yang sangat berbahaya adalah berbicara masalah agama TANPA ilmu dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Sebagai nasihat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:

  1. Hal Itu Merupakan Perkara Tertinggi yang Diharamkan oleh Allah

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” [Al-A’raf:33]

 

Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rahimahullah berkata:

“Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah. Bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Allah mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Dan berbicara tentang Allah tanpa ilmu meliputi: Berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukum-Nya, syariat-Nya, dan agama-Nya. Termasuk berbicara tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syariat-Nya, dan agama-Nya.” [Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Termasuk Dusta Atas (Nama) Allah

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. [QS. An-Nahl [16): 116]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Kesesatan dan Menyesatkan Orang Lain

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya sekaligus. Tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. [HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya]

Hadis ini menunjukkan, bahwa “Barang siapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya, sehingga mengharamkan apa yang Allah halalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya, sehingga dia sesat dan menyesatkan. [Shahih Jami’il Ilmi Wa Fadhlihi, hal: 415, karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, diringkas oleh Syeikh Abul Asybal Az-Zuhairi]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Sikap Mengikuti Hawa-Nafsu

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Barang siapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun [Al-Qashshash:50]” [Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Merupakan Sikap Mendahului Allah dan Rasul-Nya ﷺ

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Hujuraat: 1]

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini memuat adab terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepadanya. Allah telah memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, dengan konsekwensi keimanan terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, yaitu: Menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Allah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ di dalam seluruh perkara mereka. Dan agar mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya ﷺ, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Allah berkata. Dan janganlah mereka memerintah, sampai Allah memerintah”. [Taisir Karimir Rahman, surat Al-Hujurat:1]

  1. Orang Yang Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Menanggung Dosa-Dosa Orang-Orang yang Dia Sesatkan

Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu adalah orang sesat dan mengajak kepada kesesatan. Oleh karena itu, dia menanggung dosa-dosa orang-orang yang telah dia sesatkan. Rasulullah ﷺ:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala, sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa, sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun. [HSR. Muslim no:2674, dari Abu Hurairah]

  1. Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Akan Dimintai Tanggung-Jawab

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. [QS. Al-Isra’:36]

Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: Bahwa Allah Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” [Tafsir Alquranul Azhim, surat Al-Isra’:36]

  1. Orang yang Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Termasuk Tidak Berhukum dengan Apa Yang Allah Turunkan

Syeikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami menyatakan: “Fashal: Tentang Haramnya Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu, Dan Haramnya Berfatwa Tentang Agama Allah Dengan Apa Yang Menyelisihi Nash-nash”. Kemudian beliau membawakan sejumlah ayat Alquran, di antaranya adalah firman Allah di bawah ini:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [QS. 5:44]

9. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Menyelisihi Jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menyatakan di dalam aqidah Thahawiyahnya yang masyhur: “Dan kami berkata: “Wallahu A’lam (Allah Yang Mengetahui)”, terhadap perkara-perkara yang ilmunya samar bagi kami”. [Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

  1. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Merupakan Perintah Setan

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui. [QS. 2:169]

Keterangan ini kami akhiri dengan nasihat: Barang siapa yang ingin bebicara masalah agama, hendaklah dia belajar lebih dahulu. Kemudian hendaklah dia hanya berbicara berdasarkan ilmu.

WAllahu a’lam bish showwab. Al-hamdulillah Rabbil ‘alamin.

 

Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

[Artikel www.Muslim.or.id]

Sumber: https://Muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html

 

, , ,

FITNAH WANITA DALAM PANDANGAN SALAF

FITNAH WANITA DALAM PANDANGAN SALAF

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#MuslimahSholihah

FITNAH WANITA DALAM PANDANGAN SALAF

Berkata Said bin Musayyib rahimahullah:

ما خِفْتُ على نفسي شيئاً مخافةَ النساء ،قالوا: يا أبا محمد! إن مثلك لا يُريدُ النساء ،ولا تُريدُهُ النساء ، فقال: هو ما أقول لكم. وكان شيخاً كبيراً أعمش.

المصدر السابق (4/241)

Tidaklah aku mengkhawatirkan diriku terhadap sesuatu, seperti kekhawatiranku terhadap wanita.

Mereka berkata:

“Wahai Abu Muhammad (Said bin Musayyib). Sesungguhnya orang seperti Anda tidak memiliki keinginan terhadap wanita, dan para wanita pun tidak akan menyukai Anda.”

Maka beliau menjawab: “Aku tetap pada apa yang aku ucapkan pada kalian”.

Perlu diketahui, saat itu usia beliau sudah sangat tua, dan pandangannya telah rabun.

[Siyar A’laamin Nubalaa’ 4/241]

 

Alih bahasa: Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah