Posts

ANTARA SETAN BISU DAN SETAN BERBICARA

ANTARA SETAN BISU DAN SETAN BERBICARA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ANTARA SETAN BISU DAN SETAN BERBICARA
 
Berhati-hatilah dalam menyampaikan sesuatu, karena orang yang menyampaikan kebatilan adalah setan yang berbicara.
 
Tatkala ada orang yang menyampaikan perkara batil, maka kita tidak boleh diam, kita harus membantahnya, terlebih lagi kebatilan itu telah tersebar di mana-mana. Kalau kita diam, maka kita termasuk setan bisu.
 
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyampaikan:
 
الساكت عن الحق شيطان اخرس
 
“Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu.
 
 
المتكلم بالباطل شيطان ناطق
Orang yang mengucapkan kebatilan adalah setan yang berbicara.
[Ad-Daa’ wa ad-Dawa, karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 231]
 
 
Penulis: Ustadz Amir As-Soronji
https://www.facebook.com/UstadzAmirAsSoronji/
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#setanbisu, #setanbicara, #syaithan, #syaithon, #bisu #bicara #diamdarikebenaran, #bicarakebatilan #setanberbicara #mungkar, #munkar, #kemunkaran, #kemungkaran, #alhaq, #kebenaran
,

DILARANG MENGERASKAN SENDAWA

DILARANG-MENGERASKAN-SENDAWA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
DILARANG MENGERASKAN SENDAWA
>> Hukum Bersendawa
Pertanyaan:
Kalau makan setelah kenyang bersendawa, apa boleh bersendawanya dengan bunyi atau suara yang kencang?
 
Jawaban
Bismillah, Alhamdulillah wash-shalatu was-salam ‘ala Nabiyyina Muhammad, amma ba’du.
 
Terdapat hadis dari Abdullah bin Umar, Abu Juhaifah, Abdullah bin ‘Amru, Abdullah bin ‘Abbas dan dari hadis Salman tentang tidak disenanginya bersendawa. Hadis tersebut dengan lafal:
 
كف عنا جشاءك ، فإن أكثرهم شبعا في الدنيا ، أطولهم جوعا يوم القيامة
 
“Tahanlah dari kami sendawamu, karena sesungguhnya seseorang yang paling sering kenyang di dunia makan, dia akan paling panjang rasa laparnya di Hari Kiamat.”
 
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di dalam as-Sunan,Ibnu Majah di dalam as-Sunan, al-Hakim di dalam al-Mustadrak dan selain mereka, Asy-Syaikh al-Albani menghukumi hadis ini dengan hukum Hasan Lighairihi dengan berbagai macam jalur periwayatannya.
 
Namun jalan-jalan periwayatan hadis ini TIDAK satu pun yang luput dari cela. Bahkan sanadnya sangat lemah. Ibnu Abi Hatim di dalam al-‘Ilal no. 1910 mengutip dari bapak beliau, “Hadis ini adalah hadis yang mungkar.” Dan di bagian lainnya, beliau mengatakan, “Hadis ini adalah hadis yang batil, …”
 
Dengan demikian, bersendawa BUKANLAH hal terlarang secara syari. Namun walau bersendawa dengan suara yang kencang/keras di hadapan kaum manusia bukanlah suatu yang haram, akan tetapi merupakan prilaku yang tidak sejalan dengan adab dan akhlak yang mulia. Dan sepatutnya bilamana seseorang hendak bersendawa, dia menahannya semampunya, ataulah menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
Wallahul ta’ala A’lam bish-shawab.
Penulis: Ustadz Rishky AR
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#dilarang, #larangan, #mengeraskan, #keraskan, #sendawa, #hukumnya, #bersendeawa, #sendawa, #glegean, #masukangin #mungkar, #batil, #bathil, #hadist, #hadits #palingseringkenyangdidunia, #palingpanjangrasalaparnyadiHariKiamat
, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
, ,

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBid’ah
#SifatSholatNabi

HUKUM SHOLAT ROGHAIB DI MALAM JUMAT PERTAMA RAJAB

Sebagian orang mengamalkan sholat Roghaib pada malam Jumat pertama di bulan Rajab sebanyak 12 rakaat, di antara Maghrib dan Isya. Padahal TIDAK ADA satu pun dalil Shahih yang menunjukkan amalan tersebut.

Imam Besar Mazhab Syafi’i, An-Nawawi rahimahullah berkata:

الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلي بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب واحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فان كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الائمة فصنف ورقات في استحبابهما فانه غالط في ذلك

“Sholat yang dikenal dengan nama sholat Roghaib, yaitu sholat 12 rakaat antara Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama bulan Rajab, demikian pula sholat malam Nishfu Syaban sebanyak 100 rakaat, maka dua sholat ini adalah BID’AH yang MUNGKAR lagi JELEK.  Dan janganlah tertipu dengan penyebutan dua sholat ini dalam kitab Quthul Qulub dan Ihya ‘Ulumid Diin. Dan jangan tertipu dengan hadis (palsu) yang disebutkan pada dua kitab tersebut, karena semua itu BATIL. Jangan pula tergelincir dengan mengikuti sebagian ulama yang masih tersamar bagi mereka, tentang hukum dua sholat ini, sehingga mereka menulis berlembar-lembar kertas tentang sunnahnya dua sholat ini, karena mereka telah SALAH BESAR dalam hal tersebut.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/56]

Peringatan dari Beberapa Amalan Bid’ah

Dalam kitab Asy-Syafi’iyah yang lain, berkata Ad-Dimyathi rahimahullah:

قال المؤلف في إرشاد العباد: ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الامر منع فاعلها: صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب، وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة، وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة، بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها، وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر، وصلاة الاسبوع، أما أحاديثها فموضوعة باطلة، ولا تغتر بمن ذكرها. اه

“Berkata penulis dalam kitab Irsyadul Ibad: Dan termasuk bid’ah yang tercela, yang pelakunya berdosa, serta wajib bagi pemerintah untuk mencegah pelakunya adalah:

(1) Sholat Roghaib 12 rakaat yang dikerjakan di antara Maghrib dan Isya pada malam Jumat pertama di bulan Rajab,
(2) Sholat Nishfu Syaban 100 rakaat,
(3) Sholat di Jumat terakhir Ramadan sebanyak 17 rakaat dengan niat qodho sholat lima waktu yang belum ia kerjakan,
(4) Sholat hari Asyuro 4 rakaat atau lebih,
(5) Sholat sunnah pekanan.

Adapun hadis-hadisnya, maka palsu lagi batil. Dan janganlah tertipu dengan orang yang menyebutkannya. -Selesai-.” [Haasyiah I’anatit Thalibin, 1/312]

 

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/770727679743383:0

http://sofyanruray.info/adakah-amalan-khusus-di-bulan-rajab/

 

 

PEMIMPINMU ZALIM…? BERCERMINLAH…!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Faidah_Tafsir

PEMIMPINMU ZALIM…? BERCERMINLAH…!

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu, menjadi pemimpin bagi sebagian mereka, disebabkan dosa yang mereka lakukan.” [Al-An’am: 129]

Al-Imam Abu Bakr Ath-Thurthusyi Al-Maliki rahimahullah berkata:

لم أزل أسمع الناس يقولون: ” أعمالكُم عُمَّالكُم كما تكونوا يُوَلَّى عليكُم “، إلى أن ظفرت بهذا المعنى في القرآن، قال الله تعالى: { وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا }. وكان يقال: ما أنكرت من زمانك فإنما أفسده عليك عملك. وقال عبد الملك بن مروان: ما أنصفتمونا يا معشر الرعية، تريدون منا سيرة أبي بكر وعمر ولا تسيرون فينا ولا في أنفسكم بسيرتهما،

“Aku sering mendengar orang-orang berkata: ‘Amalan kalian adalah pekerja kalian. Bagaimana dirimu, seperti itulah yang akan berkuasa atasmu’. Akhirnya aku temukan makna ungkapan ini dalam Alquran: “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu, menjadi pemimpin bagi sebagian mereka.” (Al-An’am: 129).

Dan dahulu juga dikatakan: ‘Kemungkaran di zamanmu hanyalah akibat perbuatanmu’.

Abdul Malik bin Marwan (seorang penguasa) berkata: ‘Kalian tidak adil kepada kami wahai rakyat. Kalian menginginkan kami seperti Abu Bakr dan Umar, namun kalian sendiri tidak seperti rakyatnya Abu Bakr dan Umar’.” [Sirajul Muluk, hal. 116]

Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata:

 أن العباد إذا كثر ظلمهم وفسادهم، ومنْعهم الحقوق الواجبة، ولَّى عليهم ظلمة، يسومونهم سوء العذاب، ويأخذون منهم بالظلم والجور أضعاف ما منعوا من حقوق الله، وحقوق عباده، على وجه غير مأجورين فيه ولا محتسبين. كما أن العباد إذا صلحوا واستقاموا، أصلح الله رعاتهم، وجعلهم أئمة عدل وإنصاف، لا ولاة ظلم واعتساف.

“Bahwasannya para hamba, jika telah banyak kezaliman dan kerusakan mereka, serta tidak menunaikan hak-hak yang wajib ditunaikan, maka Allah akan menjadikan para pemimpin yang zalim berkuasa atas mereka. Yang menimpakan kepada mereka penderitaan seburuk-buruknya, dan merampas hak-hak mereka dengan zalim dan sewenang-wenang, melebihi apa yang mereka lakukan, yaitu mereka tidak menunaikan hak Allah dan hak hamba, serta mereka tidak mendapatkan pahala dan tidak pula mengharapkannya. Sebagaimana jika para hamba beramal saleh dan istiqamah, maka Allah akan memerbaiki pemimpin mereka, dan menjadikan mereka para pemimpin yang berlaku adil dan lurus, bukan pemerintah yang zalim dan jahat.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 273-274]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/745565848926233:0

,

BAGAIMANA MENGHADAPI PENGUASA YANG ZALIM?

BAGAIMANA MENGHADAPI PENGUASA YANG ZALIM?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#ManhajSalaf

BAGAIMANA MENGHADAPI PENGUASA YANG ZALIM?

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Demi Allah. Andaikan manusia bersabar dengan musibah berupa kezaliman penguasa, maka tidak akan lama Allah ta’ala mengangkat kezaliman tersebut dari mereka. Namun apabila mereka mengangkat senjata melawan penguasa yang zalim, maka mereka akan dibiarkan oleh Allah. Dan demi Allah, hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan kapan pun. Kemudian beliau membaca firman Allah:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Maka sempurnalah kalimat Allah (janji-Nya) kepada Bani Israel, disebabkan kesabaran mereka dan Kami musnahkan apa yang diperbuat oleh Fir’aun dan kaumnya, dan apa yang mereka bina.” (Al-A’rof: 137).” [Lihat Madarikun Nazhor, (hal. 6)]

Penjelasan para ulama di atas dipahami dari banyak hadis Rasulullah ﷺ, di antaranya sabda beliau ﷺ:

من رأى من أميره شيئاً يكرهه فليصبر عليه ، فإنه من فارق الجماعة شبراً فمات إلا مات ميتة جاهلية

“Barang siapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia BERSABAR. Karena sesungguhnya, barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma)

Juga sabda Nabi ﷺ:

إنكم سترون بعدي أثرة وأموراً تنكرونها قالوا: ما تأمرنا يا رسول الله قال: أدوا إليهم حقهم وسلوا الله حقكم

“Sesungguhnya kelak kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian (berdoa).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu)

Dan sabda Nabi ﷺ:

قلنا يا رسول الله : أرأيت إن كان علينا أمراء يمنعونا حقنا ويسألونا حقهم ؟ فقال : اسمعوا وأطيعوا . فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم

“Kami bertanya, wahai Rasulullah: “Apa pendapatmu jika para pemimpin kami tidak memenuhi hak kami (sebagai rakyat), namun tetap meminta hak mereka (sebagai pemimpin)?” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Dengar dan taati (pemimpin negara kalian), karena sesungguhnya dosa mereka adalah tanggungan mereka dan dosa kalian adalah tanggungan kalian.” (HR. Muslim dari Wail bin Hujr radhiyallahu’anhu)

Maka jelaslah, ketika sudah tidak ada lagi solusi lain untuk mengubah kemungkaran penguasa, TIDAK DIBENARKAN SAMA SEKALI melakukan demonstrasi, meskipun berupa aksi damai dan tidak pula dengan menyebar artikel dan berbicara tentang kejelekan penguasa di khalayak ramai, karena semua itu BERTENTANGAN dengan tuntunan Allah ta’ala, yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, TIDAK ADA dalam Islam, istilah demonstrasi Islami. Adapun yang dituntunkan oleh teladan kita, Nabi ﷺ dan para sahabat radhiyallahu’anhum adalah sabar dan doa.

Inilah sebaik-baiknya solusi bagi orang-orang yang beriman kepada ayat Allah ta’ala dan sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Wallahu A’la wa A’lam wa Huwal Muwaffiq.

 

Sumber: http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/manhaj/754-tuntunan-islam-dalam-menasihati-penguasa

,

ALLAH AKAN MENGHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

ALLAH AKAN MENHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

ALLAH AKAN MENGHINAKAN SIAPA SAJA YANG MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA

  • Belum ada sejarahnya, ALLAH memuliakan orang yang MELAWAN KEPADA PEMERINTAHNYA.
  • Yang ada dan sudah terjadi, yang melawan Allah hinakan.
  • Bahkan banyak di antara mereka DIBUNUH oleh pemerintah.
  • Bahkan akibat ulah mereka, RAKYAT yang tidak berdosa pun ikut menjadi KORBANNYA.
  • Betul perkataan Rasulullah ﷺ, Allah akan MENHINAKAN siapa yang melawan kepada pemerintahnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الأَرْضِ؛ أَهَانَهُ اللهُ

“Barang siapa yang menghinakan Sulthan (yang dijadikan pemimpin oleh) Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.”

Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan [dalam “As-Sunnah” (II/488), dari Anas bin Malik, dia berkata: Para pembesar kami dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dengan berkata:

لاَ تَسُبُّوْا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تُبْغِضُوْهُمْ، وَاتَّقُوْا اللهَ، وَاصْبِرُوْا؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

“JANGANLAH kalian mencela para pemimpin kalian! JANGANLAH menipu mereka! Dan JANGANLAH membenci mereka! Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah; karena perkaranya dekat.”

Sanadnya Jayyid, semua perawinya terpercaya…Dan ada mutaaba’ah (penguat dari jalur sahabat yang sama):

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam “Ats-Tsiqaat” [V/314-315] dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam “At-Tamhiid” [XXI/287], dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu- berkata:

كَانَ الأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ الأُمَرَاءِ

“Dahulu para pembesar sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dari mencela para pemimpin.”

Dan atsar ini telah diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abul Qashim Al-Ashbahani -yang dijuluki Qiwamus Sunnah- dalam kitabnya “At-Targhiib Wat Tarhiib” [III/68] dan dalam kitabnya “Al-Hujjah Fii Bayaanil Mahajjah Wa Syarhi ‘Aqiidati Ahlis Sunnah (II/406), dari Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata:

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَنْ لاَ تَسُبُّوْا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغُشُّوْهُمْ، وَلاَ تَعْصُوْهُمْ، وَاتَّقُوْا اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ-، وَاصْبِرُوْا؛ فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ

“Para pembesar kami dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ melarang kami dengan berkata: “JANGANLAH kalian mencela para pemimpin kalian! JANGANLAH menipu mereka! Dan JANGANLAH durhaka kepada mereka! Bertakwalah kepada Allah -‘Azza Wa Jalla-, dan bersabarlah; karena perkaranya dekat.”…

Sebagaimana Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan atsar ini dalam kitabnya “Al-Jami’ Lisyu’abil Iimaan” [XIII/186-202]…dengan lafal:

أَمَرَنَا أَكَابِرَنَا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَنْ لاَ نَسُبَّ أُمَرَاءَنَا…

“Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad ﷺ memerintahkan kami agar kami tidak mencela para pemimpin kami…”

Maka dalam atsar ini terdapat kesepakatan para pembesar sahabat Rasulullah ﷺ atas HARAMNYA mencela dan mencaci para umara’ (pemimpin/penguasa).

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/17299-tahukah-anda-allah-akan-menghinakan-orang-yang-menghinakan-pemimpin-negaranya.html

,

TINGKATAN NAHI MUNKAR

TINGKATAN NAHI MUNKAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

TINGKATAN NAHI MUNKAR

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

فإنكار المنكر أربع درجات: الأولى أن يزول ويخلفه ضده. الثانية أن يقل وإن لم يزل بجملته. الثالثة أن يخلفه ما هو مثله. الرابعة أن يخلفه ما هو شر منه. فالدرجتان الأوليان مشروعتان والثالثة موضع اجتهاد والرابعة محرمة

“Melarang kemungkaran ada empat tingkatan:

1) Kemungkaran hilang dan berganti kebaikan.

2) Berkurang, walau tidak hilang seluruhnya.

3) Berganti dengan yang semisal.

4) Berganti dengan yang lebih jelek.

Tingkatan yang pertama dan kedua disyariatkan, ketiga boleh berijtihad dan keempat diharamkan.”

[I’laamul Muwaqqi’in, 3/4]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1910006795898789:0

,

STATUS NON-MUSLIM MENURUT ALQURAN, AL-HADIS DAN KESEPAKATAN ULAMA

STATUS NON-MUSLIM MENURUT ALQURAN, AL-HADIS DAN KESEPAKATAN ULAMA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

COBA PERIKSA, APAKAH ANDA MASIH MUSLIM ATAU SUDAH MURTAD?

  • Masih tidak percaya juga, kalau Nasrani dan Yahudi itu ORANG KAFIR?
  • Masih tetap tidak mau terima, kalau Nasrani dan Yahudi itu KEKAL DI NERAKA?
  • Mau tahu tidak, kenapa mereka digolongkan orang kafir?
  • Siapa saja yang tidak mengafirkan dan membenci orang kafir, maka ia BUKAN MUSLIM.
  • Siapa saja yang tidak meyakini kekafiran mereka, maka dia KAFIR dan MURTAD dari Islam.
  • Maha Baiknya Allah, senantiasa memberi nikmat dan rezeki kepada orang kafir, walau DIA telah dihina, dikhianati, dipersekutukan dan dianggap memiliki anak.

#Dakwah_Tauhid

#Kajian_Sunnah

STATUS NON-MUSLIM MENURUT ALQURAN, AL-HADIS DAN KESEPAKATAN ULAMA

Status Non-Muslim dalam Alquran

➡ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) Neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.” [Al-Bayyinah: 6]

➡ Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِين قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ

“Sungguh telah kafir orang orang (Nasrani) yang mengatakan, bahwa Allah adalah satu dari yang tiga (Trinitas). Dan tidaklah Sesembahan itu kecuali Sesembahan yang satu (Allah subhaanahu wa ta’ala).” [Al-Maidah: 73]

➡ Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Wahai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan atasnya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

➡ Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا

“Dan mereka (orang-orang Nasrani) berkata: “(Allah) Yang Maha Penyayang memunyai anak.” Sesungguhnya (dengan perkataan itu), kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, serta gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Penyayang memunyai anak.” [Maryam: 88-91]

➡ Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [At-Taubah: 30]

Status Non-Muslim dalam Al-Hadis

➡ Rasulullah ﷺ menegaskan:

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَد مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya. Tidaklah ada seorang pun dari umat ini yang pernah mendengarkan tentang aku, apakah ia seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian ia mati sebelum beriman dengan ajaran yang aku bawa, kecuali ia termasuk penghuni Neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu]

➡ Rasulullah ﷺ juga bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لاَ أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ، فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

“Allah ta’ala berfirman: Anak Adam mendustakan Aku, padahal itu tidak patut baginya. Ia juga mencaci-Ku, padahal itu tidak patut baginya. Adapun pendustaannya kepada-Ku adalah ia menyangka, bahwa Aku tidak mampu menghidupkannya kembali seperti sebelumnya, sedangkan caciannya kepada-Ku adalah ia berkata bahwa Aku memiliki anak. Maha Suci Aku dari memiliki istri dan anak.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallaahu’anhuma]

➡ Rasulullah ﷺ juga bersabda:

لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ، وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ، ثُمَّ هُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tidak ada satu pun yang lebih sabar dari Allah ‘azza wa jalla atas ucapan jelek yang Ia dengarkan. Sungguh Dia dipersekutukan dan dianggap memiliki anak, kemudian Dia senantiasa memberi nikmat dan rezeki kepada mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Muslim, dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Kesepakatan Ulama Islam atas Kafirnya Yahudi dan Nasrani, dan Murtadnya Orang yang Tidak Mengafirkan Mereka

➡ Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

فَأَخْبَرَ تَعَالَى أََنَّهُمْ يَعْرِفُونَ صِدْقَهُ وَلا يُكَذِّبُونَهُ، وَهُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، وَهُمْ كُفَّارٌ بِلا خِلاف مِنْ أَحَدٍ مِنَ الأُمَّةِ، وَمَنْ أَنْكَرْ كُفْرَهُمْ فَلا خِلافَ مِنْ أَحَدٍ مِنَ الأُمَّةِ فِي كُفْرِهِ وَخُرُوجِهِ عَنِ الإِسْلامِ

“Maka Allah ta’ala telah mengabarkan, bahwa mereka sebenarnya mengetahui kebenarannya, dan tidak mendustakannya. Mereka adalah Yahudi dan Nasrani, dan ulama tidak berbeda pendapat bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Barang siapa yang tidak meyakini kekafiran mereka, maka ulama juga tidak berbeda pendapat, bahwa dia KAFIR dan MURTAD dari Islam.” [Al-Fishol, 3/237]

➡ Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah juga berkata:

وَاتَّفَقُوا عَلَى تَسْمِيَةِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كُفَّارًا

“Ulama sepakat atas penamaan Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang kafir.” [Maratibul Ijma’, hal. 202]

➡ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَمَنْ لَمْ يُحَرِّمْ التَّدَيُّنَ – بَعْدَ مَبْعَثِهِ – بِدِينِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، بَلْ مَنْ لَمْ يُكَفِّرْهُمْ وَيُبْغِضْهُمْ فَلَيْسَ بِمُسْلِمِ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ

“Setelah diutusnya Nabi ﷺ, maka siapa yang TIDAK MENGHARAMKAN agama Yahudi dan Nasrani, bahkan siapa yang tidak mengafirkan dan membenci mereka, maka ia BUKAN MUSLIM berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin.” [Majmu’ Al-Fatawa, 27/464]

➡ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata:

فَإِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى كُفَّارٌ كُفْرًا مَعْلُومًا بِالاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الإِسْلامِ

“Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir yang diketahui secara pasti dari ajaran agama Islam.” [Majmu’ Al-Fatawa, 35/201]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/photos/a.675509019265250.1073741855.286395654843257/723110967838388/?type=3&theater