Posts

,

BERWAJAH CERIALAH

BERWAJAH CERIALAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#AdabAkhlak

BERWAJAH CERIALAH

Di antara bentuk akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam adalah bermuka manis di hadapan orang lain. Bahkan hal ini dikatakan oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menunjukkan sifat tawadhu’ seseorang. Namun sedikit di antara kita yang mau memerhatikan akhlak mulia ini. Padahal di antara cara untuk menarik hati orang lain pada dakwah adalah dengan akhlak mulia.

Lihatlah bagaimana akhlak mulia ini diwasiatkan oleh Lukman pada anaknya:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Lukman: 18]

Ibnu Katsir menjelaskan mengenai ayat tersebut:

“Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya, atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu, dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah, dan  berwajah cerialah di hadapan orang lain” [Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 11: 56]

Dari Abu Dzar, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga, walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” [HR. Muslim no. 2626]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/rumaysho/posts/10154487130761213:0

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

AL HAMMAADUUN – SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

AL HAMMAADUUN - SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah, #TazkiyatunNufus

AL HAMMAADUUN – SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

Inginkah Anda mendapat julukan AL HAMMAADUUN? Perbanyaklah ucapan ALHAMDULILLAH, baik dalam keadaan senang maupun sedih. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya, hamba Allah yang paling mulia pada Hari Kiamat adalah ‘Al-Hammaaduun’ (Orang yang paling banyak mengucapkan Hamdalah).” [Hadis Shahih riwayat Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir]

Di dalam hadis ini dinyatakan salah satu kriteria bagi seorang hamba untuk meraih kemuliaan di Hari Kiamat, yaitu banyak mengucapkan “Alhamdulillah”, banyak memuji Allah atas segala nikmat dan keagungan-Nya. Karena barang siapa yang banyak memuji-Nya, berarti ia telah mengenal sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, serta mengakui segala karunia dan nikmat-nikmat-Nya.

Hamdalah mencakup memuji Allah dalam segala keadaan, baik pada hal-hal yang menyenangkan, maupun pada musibah atau perkara-perkara yang kurang disukai. Seperti dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam hadis A’isyah, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, apabila melihat apa yang ia sukai menyatakan, ‘Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat.’ Dan bila melihat (mendapati) sesuatu yang tidak beliau sukai mengucapkan, ‘Alhamdulillah ‘ala kulli haal.” [HR Ibnu Majah dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no. 4727]

Ketika diberi kenikmatan kemudian mengucapkan Hamdalah, maka itulah bentuk syukur dengan lisan. Adapun ketika ia diberi cobaan, maka hendaklah pula mengucapkan Hamdalah, karena pada hakikatnya, ada banyak pahala yang bisa diraih dengan banyaknya ujian, yaitu dengan bersabar, sebagaimana juga musibah bisa menghapus dosa.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berzikir dan banyak mengucapkan Hamdalah, sehingga kita bisa memeroleh kemuliaan di Hari Kiamat dengan predikat sebagai ‘Hammaaduun’ (Orang-orang yang banyak mengucapkan Hamdalah).

Sumber:

http://bbg-alilmu.com/archives/29218

http://www.programjodoh.com

JUMAT – HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

JUMAT - HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

JUMAT – HARI PALING MULIA DAN MERUPAKAN PENGHULU DARI HARI-HARI

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ berkata:

“Hari paling baik di mana matahari terbit pada hari itu adalah Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam Surga, serta dikeluarkan dari Surga. Pada hari itu juga Kiamat akan terjadi. Pada hari tersebut terdapat suatu waktu, di mana tidaklah seorang Mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan, kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Jumat adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah. Jumat ini lebih mulia dari Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah. Pada waktu Jumat terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada waktu Jumat juga Adam dimatikan. Pada Jumat terdapat waktu, yang mana jika seseorang meminta kepada Allah, maka akan dikabulkan, selama tidak memohon yang haram. Dan pada waktu Jumat pula akan terjadi Kiamat. Tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit, kecuali dia dikasihi pada waktu Jumat.” (HR. Ahmad)

Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada waktu Jumat ini, antara lain:

  • Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam Surga.
  • Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari Surga menuju bumi.
  • Hari akan terjadinya Kiamat.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/74-ternyata-hari-Jumat-itu-istimewa.html

, ,

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#DoaZikir
#MutiaraSunnah

ZIKIR YANG PALING RINGAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN AMALAN

Adakah zikir yang ringan di lisan, namun berat di timbangan amalan?

Ada. Zikir tersebut adalah bacaan SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Keutamaannya disebutkan dalam hadis berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi ﷺ bersabda:

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman. Ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan), yaitu SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” [HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694]

Penjelasan:

Hadis ini termasuk hadis mulia yang membicarakan fadhilah amalan, keutamaan suatu amalan.

Beberapa faidah dari hadis di atas:

1- Kalimat yang sempurna disebut dengan ‘Al Kalimah’. Istilah berbeda dengan istilah dalam ilmu nahwu.

2- Zikir di lisan adalah ibadah yang paling ringan. Oleh karenanya Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan zikir pada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3375 dan Ibnu Majah no. 3793. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadis ini Hasan).

Namun zikir yang lebih sempurna adalah zikir dengan hati dan lisan.

3- Allah mencintai kalimat yang Thoyyib (yang baik).

4- Penetapan sifat cinta (Mahabbah) bagi Allah.

5- Penetapan nama Allah: Ar Rahman (Maha Pengasih), Al ‘Azhim (Maha Mulia).

6- Adanya mizan (timbangan), dan amalan manusia akan ditimbang pada Hari Kiamat.

7- Amalan itu punya berat dalam timbangan. Bisa jadi yang ditimbang adalah amalan itu sendiri yang dibentuk lalu ditimbang, bisa jadi pula catatan amalan, atau bisa pula kedua-duanya.

8- Allah itu suci dari segala ‘aib, segala kekurangan dan cacat. Itulah maksud kalimat ‘Subhana’ (Maha Suci).

9- Penggabungan antara bacaan tasbih dan tahmid pada bacaan ‘Subhanallah wa bihamdih’. Kalimat tersebut maknanya sama dengan ‘Subhanallah wal hamdu lillah’, yaitu Maha Suci Allah dan segala pujian untuk-Nya.

10- Allah memiliki sifat yang sempurna. Itulah kandungan dari kata ‘Al Hamdu’.

11- Lafal zikir itu beraneka ragam. Dalam hadis ini disebut dua macam zikir sekaligus. Pertama, SUBHANALLAH WA BIHAMDIH. Di antara keutamaannya, siapa yang menyebutnya dalam sehari 100 kali, dosa-dosanya akan terampuni, walau sebanyak buih di lautan. Sedangkan zikir kedua, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Kalimat ini ada, jika bersambung dengan kalimat lainnya, sebagaimana yang ada dalam hadis ini.

12- Keutamaan dua kalimat: SUBHANALLAH WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM. Hadis ini menunjukkan kita diperintah memerbanyak bacaan ini. Ini di antara alasan pula disebutkan dalam hadis nama Allah Ar Rahman dari nama-nama Allah lainnya.

13- Zikir SUBHANALLAH WA BIHAMDIH, SUBHANALLAHIL ‘AZHIM sudah mengandung bacaan zikir yang tiga: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Ini semua menunjukkan konsekuensinya, yaitu menauhidkan Allah, yang terdapat dalam kandungan kalimat ‘Laa ilaha illallah’.

14- Meraih keutamaan suatu amalan, tak mesti dengan bersusah payah. Keutamaan tersebut kembali pada jenis amalan itu sendiri. Bahkan ada amalan yang tidak ada kesulitan untuk melakukannya, dan itu lebih utama dari amalan yang butuh usaha keras untuk melakukannya.

15- Boleh menggunakan kalimat bersajak, selama tidak menyusah-nyusahkan diri.

16- Di antara bentuk penjelasan yang baik adalah mengawali dengan penyebutan keutamaan amalan, sebelum menyebutkan bentuk amalan tersebut.

17- Ada suatu kalimat yang berisi berita, namun berisi ajakan atau perintah, seperti yang ada dalam hadis ini, yang berisi ajakan untuk berzikir.

18- Bukhari sangatlah cerdas. Kitab shahihnya ia awali dengan hadis niat, yang menuntut kita untuk ikhlas dalam beramal. Sedangkan penutup kitab shahihnya, beliau tutup dengan hadis ini untuk menunjukkan, bahwa penutup kehidupan adalah dengan zikir pada Allah. Ini menunjukkan akan baiknya akhir amalan. Kita juga memohon pada Allah husnul khotimah, akhir hidup yang baik.

Wallahu a’lam.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berzikir pada-Nya.

Catatan:

Faidah tauhid di sini adalah kumpulan dari faidah pelajaran tauhid bersama guru kami, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrok hafizhahullah. Beliau seorang ulama senior yang begitu pakar dalam masalah akidah. Beliau menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi (1 Sya’ban 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10273-faedah-tauhid-9-zikir-ringan-namun-berat-di-timbangan-amalan.html

,

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

Tahdzir Adalah Tanda Cinta Yang Hakiki

Di antara tugas penting seorang da’i Ahlus Sunnah adalah men-tahdzir kesesatan dan para da’i sesat, demi menyelamatkan umat dari kesesatan tersebut.

Inilah tanda cinta yang hakiki. Karena kita sayang kepada saudara kita, maka jangan biarkan dia terjerumus dalam kesesatan. Oleh karena itu, ulama dahulu sangat menghargai dan mencintai orang yang menasihati mereka.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻳﺤﺒﻮﻥ ﻣﻦ ﻳﻨﺒﻬﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻮﺑﻬﻢ ﻭﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺃﺑﻐﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻓﻨﺎ ﻋﻴﻮﺑﻨﺎ

“Sungguh generasi Salaf dahulu mencintai orang yang mengingatkan kesalahan mereka. Namun kita sekarang umumnya, yang paling kita benci adalah yang memberitahukan kesalahan kita.” [Minhaajul Qooshidin, hal. 196]

Tahdzir Adalah Kasih Sayang Yang Sejati

Men-tahdzir seorang da’i sesat juga merupakan kasih sayang kepadanya dari dua sisi:

  1. Agar dia kembali kepada kebenaran dan selamat dari kesesatan di dunia dan azab Allah ‘azza wa jalla di Akhirat.
  2. Agar dosanya tidak semakin banyak dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti kesesatannya.

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata:

حَكَيتُ لِيُوْسُفَ بنِ أَسْبَاطٍ عَنْ وَكِيْعٍ شَيْئاً مِنْ أَمرِ الفِتَن، فَقَالَ: ذَاكَ يُشْبِهُ أُسْتَاذَهُ. يَعْنِي: الحَسَنَ بنَ حَيٍّ. فَقُلْتُ لِيُوْسُفَ: أَمَا تَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ غِيبَةً? فَقَالَ: لِمَ يَا أَحْمَقُ، أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاَءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِم، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم

“Aku menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbath sesuatu tentang Waki’ terkait perkara ‘fitnah’. Maka beliau berkata: Dia menyerupai gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hayy. Aku pun berkata kepada Yusuf: Apakah kamu tidak takut ini menjadi ghibah? Maka beliau berkata: Kenapa wahai dungu, justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri. Aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bid’ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat. Orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]

Mengapa Al-Hasan Bin Shalih Bin Hay Di-Tahdzir?

Para ulama dahulu men-tahdzir Al-Hasan bin Shalih bin Hay, padahal beliau adalah penghapal Alquran, penghapal hadis dengan sanad-sanadnya, bukan sekedar nomor-nomornya. Beliau juga ahli fikih dan ahli ibadah. Mungkin tidak ada manusia zaman sekarang yang memyamainya dalam hal tersebut.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya:

الإِمَامُ الكَبِيْرُ، أَحَدُ الأَعْلاَمِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الهَمْدَانِيُّ، الثَّوْرِيُّ، الكُوْفِيُّ، الفَقِيْهُ، العَابِدُ

“Dia adalah imam besar. Salah seorang tokoh. Dialah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/52]

Beliau ditahdzir hanya karena satu bid’ah, namun tergolong bid’ah yang berat, yaitu bid’ah Khawarij, yang di masa ini mirip dengan aksi demo atau mendukung aksi tersebut. Sebuah aksi yang secara teori dan fakta dapat memrovokasi masa untuk memberontak, menumpahkan darah, merusak stabilitas keamanan, dan mengganggu kenyamanan orang banyak, dengan adanya kemacetan jalan atau kericuhan dan lain-lain.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

كَانَ يَرَى الحَسَنُ الخُرُوْجَ عَلَى أُمَرَاءِ زَمَانِهِ لِظُلْمِهِم وَجَوْرِهِم، وَلَكِنْ مَا قَاتَلَ أَبَداً، وَكَانَ لاَ يَرَى الجُمُعَةَ خَلْفَ الفَاسِقِ

“Al-Hasan berpendapat bolehnya memberontak terhadap Pemerintah di masanya, karena kezaliman dan ketidakadilan mereka. Akan tetapi dia tidak pernah berperang selamanya. Dan dia juga berpendapat, tidak boleh sholat Jumat di belakang imam yang fasik.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/58]

Oleh karena itu, dahulu ada sekte Khawarij yang kerjanya hanya berbicara tentang kejelekan pemerintah, tidak ikut mengangkat senjata untuk memberontak.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

والقعدية قوم من الخوارج كانوا يقولون بقولهم ولا يرون الخروج بل يزينونه

“Al-Qo’adiyah adalah satu kaum dari golongan Khawarij, yang dahulu berpendapat dengan ucapan mereka, dan mereka tidak memandang untuk memberontak, akan tetapi mereka memrovokasi untuk melakukannya (dengan kata-kata).” [Fathul Bari, 1/432]

Jawaban Syubhat: Jika Pemerintah Membolehkan Demo, Maka Menjadi Boleh

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلا يُبْدِهِ عَلانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya, lalu sampaikan nasihatnya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm radhiyallahu’anhu, dishahihkan Al-Muhaddits Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096]

Petuah Rasulullah ﷺ di dalam hadis yang mulia ini benar-benar diamalkan oleh sebaik-baik generasi, yaitu para sahabat radhiyallahu’anhum. Tatkala seseorang berkata kepada sahabat yang mulia Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhuma:

أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فَقَالَ أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ

“Tidakkah engkau masuk menemui ‘Utsman untuk berbicara dengannya (menasihatinya)? Maka ia berkata: “Apakah kalian menyangka bahwa aku tidak berbicara kepadanya, kecuali aku harus memerdengarkan kepada kalian?! Sesungguhnya aku telah berbicara kepadanya, ketika hanya antara aku dan dia saja, tanpa aku membuka satu perkara yang aku tidak suka untuk membukanya pertama kali.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (no. 3267) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2989), dan lafal ini milik Muslim]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

قوله قد كلمته ما دون أن افتح بابا أي كلمته فيما أشرتم إليه لكن على سبيل المصلحة والأدب في السر بغير ان يكون في كلامي ما يثير فتنة أو نحوها

“Ucapan beliau (Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu): “Sungguh aku telah berbicara dengannya tanpa aku membuka sebuah pintu” maknanya adalah, aku telah berbicara kepadanya dalam perkara yang kalian maksudkan tersebut, akan tetapi dengan jalan maslahat dan adab secara rahasia, TANPA ada dalam ucapanku sesuatu yang dapat mengobarkan fitnah (kekacauan) atau semisalnya.” [Fathul Bari, 13/51]

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

فالنصح يكون بالأسلوب الحسن والكتابة المفيدة والمشافهة المفيدة , وليس من النصح التشهير بعيوب الناس , ولا بانتقاد الدولة على المنابر ونحوها , لكن النصح أن تسعى بكل ما يزيل الشر ويثبت الخير بالطرق الحكيمة وبالوسائل التي يرضاها الله عز وجل

“Nasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengeritik negara di mimbar-mimbar dan yang semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan, dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang diridai Allah ‘azza wa jalla.” [Majmu’ Al-Fatawa, 7/306]

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga berkata:

ليس من منهج السلف التشهير بعيوب الولاة , وذكر ذلك على المنابر; لأن ذلك يفضي إلى الفوضى وعدم السمع والطاعة في المعروف , ويفضي إلى الخوض الذي يضر ولا ينفع , ولكن الطريقة المتبعة عند السلف : النصيحة فيما بينهم وبين السلطان , والكتابة إليه , أو الاتصال بالعلماء الذين يتصلون به حتى يوجه إلى الخير

“Bukan termasuk Manhaj Salaf, menasihati dengan cara menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar. Sebab yang demikian itu mengantarkan kepada kekacauan dan tidak mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf, dan mengantarkan kepada provokasi yang berbahaya dan tidak bermanfaat. Akan tetapi tempuhlah jalan yang telah dilalui oleh Salaf, yaitu nasihat antara mereka dan pemerintah (secara rahasia), dan menulis surat kepada penguasa, atau menghubungi ulama yang memiliki akses kepadanya, sehingga ia bisa diarahkan kepada kebaikan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 8/210]

Maka menasihati pemerintah secara terang-terangan melalui demo atau yang lainnya MENYELISIHI petunjuk Rasulullah ﷺ, sedang ketaatan kepada pemerintah hanyalah dalam perkara yang ma’ruf, bukan yang menyelisihi syariat.

  1. Berdemo juga termasuk tasyabbuh, menyerupai orang-orang kafir. Apakah jika pemerintah membolehkannya lalu menjadi halal?!

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:

صحيح ان الوسائل إذا لم تكن مخالفة للشريعة فهي الأصل فيها الإباحة، هذا لا إشكال فيه، لكن الوسائل إذا كانت عبارة عن تقليد لمناهج غير إسلامية فمن هنا تصبح هذه الوسائل غير شرعية، فالخروج للتظاهرات او المظاهرات وإعلان عدم الرضا او الرضا وإعلان التاييد أو الرفض لبعض القرارات أو بعض القوانين، هذا نظام يلتقي مع الحكم الذي يقول الحكم للشعب، من الشعب وإلى الشعب، أما حينما يكون المجتمع إسلاميا فلا يحتاج الأمر إلى مظاهرات وإنما يحتاج إلى إقامة الحجة على الحاكم الذي يخالف شريعة الله.

“Benar, bahwa sarana-sarana, jika tidak menyelisihi syariat, maka hukum asalnya mubah, ini bukan masalah. Tetapi sarana-sarana, jika merupakan taklid terhadap manhaj yang bukan Islam, maka menjadi tidak sesuai syariat, maka keluar untuk aksi terbuka atau demonstrasi, dan menampakkan penentangan atau persetujuan, atau menunjukkan dukungan atau penolakan atas sebagian aturan atau undang-undang; metode ini sama dengan aturan (demokrasi) yang mengatakan, bahwa hukum milik rakyat; dari rakyat dan untuk rakyat. Adapun masyarakat Islam, tidaklah membutuhkan demonstrasi, melainkan iqomatul hujjah (penyampaian ilmu) kepada Penguasa yang menyelisihi syariat Allah ta’ala.” [Mauqi’ Al-Albani]

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah juga berkata:

هذه التظاهرات الأوربية ثم التقليدية من المسلمين، ليست وسيلة شرعية لإصلاح الحكم وبالتالي إصلاح المجتمع، ومن هنا يخطئ كل الجماعات وكل الأحزاب الاسلامية الذين لا يسلكون مسلك النبي صلى الله عليه وسلم في تغيير المجتمع، لا يكون تغيير المجتمع في النظام الاسلامي بالهتافات وبالصيحات وبالتظاهرات، وإنما يكون ذلك على الصمت وعلى بث العلم بين المسلمين وتربيتهم على هذا الاسلام حتى تؤتي هذه التربية أكلها ولو بعد زمن بعيد.

“Demonstrasi ini yang asalnya dari orang-orang kafir Eropa, kemudian diikuti oleh kaum Muslimin, bukanlah sarana yang sesuai syariat untuk memerbaiki hukum (pemerintah), ataupun memerbaiki masyarakat. Maka dari sini jelas, kesalahan semua kelompok-kelompok dan golongan-golongan Islam yang tidak menempuh jalan Nabi ﷺ dalam mengubah masyarakat, karena tidaklah mungkin mengubah masyarakat dalam aturan Islam dengan cara menyuarakan yel-yel, berteriak-teriak dan berdemonstrasi. Hanyalah melakukan perubahan itu dengan cara tidak menyuarakan kebatilan dan menyebarkan ilmu di tengah-tengah kaum Muslimin, dan mendidik mereka di atas agama Islam yang benar ini, sampai usaha pendidikan ini membuahkan hasil, walau menempuh waktu yang lama.” [Mauqi’ Al-Albani]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المظاهرات ليست من دين الإسلام لما يترتب عليها من الشرور من ضياع كلمة المسلمين من تفريق بين المسلمين لما يصاحبها من التخريب وسفك الدماء لما يصاحبها من الشرور، وليست المظاهرات بحل صحيح للمشكلات، ولكن الحل يكون بإتباع الكتاب والسنة

“Demonstrasi bukan berasal dari agama Islam, karena kejelekan-kejelekan yang timbul darinya seperti terpecahnya kesatuan kaum Muslimin, disertai dengan pengrusakan dan pertumpahan darah serta berbagai kejelekan lainnya. Demonstrasi bukan solusi yang benar, akan tetapi solusi itu adalah dengan mengikuti Alquran dan As-Sunnah.” [Mauqi’ Al-Fauzan]

  1. Fakta dan realita di negeri-negeri yang membolehkan demo telah memunculkan berbagai macam kemudaratan. Sebagian orang menuduh ulama Ahlus Sunnah di Saudi atau di negeri lain sebagai orang-orang yang tidak tahu realita di lapangan, padahal merekalah yang menutup mata terhadap fakta dan realita berbagai macam kemudaratan akibat demo.

Beberapa Dampak Buruk Demonstrasi

  1. Memrovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa. Terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh penguasa, maka akibatnya akan semakin memrovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum Muslimin [lihat Fathul Bari, 13/51-52]
  2. Cara mengingkari kemungkaran penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya [lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619]
  3. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah Muslim [lihat Umdatul Qaari, 22/33]
  4. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal yang baik [lihat Haqqur Ro’i, hal. 27]
  5. Menyebabkan permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya [lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99]
  6. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa [lihat Fathul Bari, 13/52]
  7. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang Muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum Khawarij [lihat Syarah Muslim, 18/118]
  8. Menghinakan sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai penguasa Muslim [lihat As-Sailul Jarror, 4/556]
  9. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya [lihat Madarikun Nazhor, hal.211]
  10. Mengganggu ketertiban umum
  11. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan
  12. Merusak stabilitas ekonomi
  13. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun
  14. Menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ dan sahabat
  15. Mengikuti jalan ahlul bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir. Wallahu A’lam.

Untuk Saudaraku Yang Di-Bully Karena Men-Tahdzir Pelaku dan Pendukung Demo

Inilah fenomena saat ini. Karena sudah terlanjur cinta, maka tidak rela kalau tokohnya di-tahdzir. Walau salah harus tetap dibela, tak peduli lagi walau harus mem-bully orang yang dianggap sebagai lawannya. Maka bagi seorang da’i Ahlus Sunnah, janganlah takut kepada manusia yang akan menjatuhkan kehormatannya. Tetap suarakan kebenaran. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang sifat orang-orang yang Dia cintai di antaranya adalah:

وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ

“Dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” [Al-Maidah: 54]

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ

“Perhatikanlah. Janganlah rasa segan kepada manusia yang menghalangi seseorang untuk mengucapkan yang benar ketika ia telah mengetahuinya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 168]

Al-Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata:

لو أن العلماء تركوا الذب عن الحق خوفاً من كلام الخلق لكانوا قد : أضاعوا كثيراً ، وخافوا حقيراً

“Andaikan ulama tidak membela kebenaran karena takut kepada celaan makhluk, maka sesungguhnya mereka telah menyia-nyiakan sesuatu yang mulia, dan takut kepada sesuatu yang remeh.” [Al-‘Awaashim wal Qowaashim, 1/223]

Al-Imam Abu Ismail Al-Harowi rahimahullah berkata:

عرضت على السيف خمس مرات ، لا يقال لي: ارجع عن مذهبك؛ ولكن يقال لي:اسكت عمن خالفك فأقول: “لا أسكت

“Aku pernah terancam dibunuh dengan pedang sebanyak lima kali. Bukan untuk dikatakan kepadaku: Tinggalkan pendapatmu. Akan tetapi dikatakan kepadaku: Diamlah, jangan membantah orang yang menyelisihimu. Maka aku tegaskan: Aku tidak akan diam.” [Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah libnil Muflih, 1/207]

Peringatan

Tahdzir yang dimaksud di sini adalah men-tahdzir da’i sesat dan kesesatannya, berdasarkan ilmu dan hikmah, dengan memerhatikan kaidah-kaidahnya, di antaranya kaidah maslahat dan mudarat. Bukan tahdzir yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang tanpa ilmu, bukan pula tahdzir antara sesama Ahlus Sunnah secara serampangan.

 

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/771429409673210:0

 

, ,

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#MuslimahSholihah

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

Pertanyaan:

Benarkah puasanya wanita yang tidak berhijab tidak diterima?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita meyakini amal saleh di bulan Ramadan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar, bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan Ramadan, dosanya juga dilipat gandakan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menyatakan:

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah:

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/430).

Orang yang melakukan maksiat di bulan Ramadan, dia melakukan dua kesalahan:

  • Pertama, melanggar larangan Allah
  • Kedua, menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.

Karena itulah, Rasulullah ﷺ memberi ancaman keras orang yang masih rajin bermaksiat ketika puasa. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” [HR. Bukhari 1903, Turmudzi 711 dan yang lainnya].

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan keterangan dari Ibnul Munayir:

هو كناية عن عدم القبول ، كما يقول المغضب لمن رد عليه شيئا طلبه منه فلم يقم به : لا حاجة لي بكذا . فالمراد رد الصوم المتلبس بالزور وقبول السالم منه

Ini merupakan ungkapan TIDAK DITERIMANYA PUASANYA. Seperti orang yang sedang marah, ketika dia menyuruh orang lain, tapi tidak dilakukannya, kemudian dia mengatakan, “Aku nggak butuh itu.” Sehingga maksud hadis, menolak puasa orang yang masih aktif berbuat dosa, dan tidak menerima dengan baik darinya. [Fathul Bari, 4/117]

Buka Aurat, Menebar Dosa

Ketika wanita memamerkan auratnya, yang terjadi, dia sedang menjadi sumber dosa. Dosa bagi setiap lelaki yang melihat dirinya. Itulah para wanita yang menjadi sebab banyak lelaki melakukan zina mata. Para wanita yang mengobral harga diri dan auratnya di depan umum, tanpa rasa malu.

Karena itu, cara memahaminya bukan sekali memamerkan aurat, sekali berbuat dosa, bukan demikian. Tapi juga perlu diperhatikan berapa jumlah lelaki yang terkena dampak dari dosa yang dia lakukan.

Karena itu, wajar jika Nabi ﷺ memberikan ancaman sangat keras untuk model manusia semacam ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan harumnya Surga, padahal bau harum Surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).

Puasanya Tidak Diterima

Jika puasa seseorang menjadi tidak bernilai gara-gara dosa yang dia kerjakan, apa yang bisa Anda bayangkan, ketika ada orang yang menjadi sumber dosa?? Layakkah dia berharap puasanya diterima? Bahkan karena sebab dia, banyak lelaki yang pahala puasanya berkurang.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25088-puasa-wanita-yang-tidak-berjilbab-tidak-diterima.html

, ,

APAKAH RAJAB ITU BULAN ISTIMEWA?

APAKAH RAJAB ITU BULAN ISTIMEWA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama
#StopBid’ah

APAKAH RAJAB ITU BULAN ISTIMEWA?

Fadhilatus syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah:

Pertanyaan:

Apakah hukum mengkhususkan bulan Rajab dengan umroh, puasa, atau amal saleh?

Apakah Rajab memunyai keistimewaan dari bulan lainya, dari bulan-bulan haram?

Jawaban:

Tidaklah ada pada bulan Rajab itu keistimewaan daripada bulan lainnya dari bulan-bulan haram (mulia – pen). Maka JANGANLAH mengkhususkannya, tidak dengan umroh, puasa, sholat, dan tidak pula dengan membaca Alquran.

Bahkan Rajab seperti bulan lainnya dari bulan-bulan haram. Dan tiap hadis -hadis yang ada yang menyebutkan tentang keutamaan sholat pada bulan ini, atau puasa, KESEMUANYA adalah hadis yang lemah, tidak dibangun atasnya hukum syariat.

[Silsilah Al-Liqa As-Syahri (32)]

 

 

السؤال:

ما حكم تخصيص شهر رجب بعمرة أو صيام أو أي عمل صالح؟ وهل له ميزة عن سواه من الأشهر الحرم؟

الجواب:

ليس لشهر رجب ميزة عن سواه من الأشهر الحرم، ولا يخص، لا بعمرة، ولا بصيام، ولا بصلاة، ولا بقراءة قرآن، بل هو كغيره من الأشهر الحرم، وكل الأحاديث الواردة في فضل الصلاة فيه، أو الصوم فيه، فإنها ضعيفة، لا يبنى عليها حكم شرعي.

سلسلة اللقاء الشهري >> اللقاء الشهري: [32]

 

 

 

, ,

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahdanManhaj

DEFINISI DAN KEUTAMAAN RAJAB

Memang benar, keutamaan bulan dalam kalender hijriyah itu bertingkat-tingkat, begitu juga hari-harinya. Misalnya, Ramadan lebih utama dari semua bulan, Jumat lebih utama dari semua hari, malam Lailatul Qadar lebih utama dari semua malam, dan sebagainya. Namun harus kita pahami bersama, bahwa timbangan keutamaan tersebut hanyalah syariat, yakni Alquran dan hadis yang shahih, bukan hadis-hadis dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu).

Di antara bulan Islam yang ditetapkan kemuliaannya dalam Alquran dan as-Sunnah adalah Rajab. Namun sungguh sangat disesalkan beredarnya riwayat-riwayat yang dha’if dan palsu seputar Rajab, serta amalan-amalan khusus Rajab, di tengah masyarakat kita. Hal ini dijadikan senjata oleh para pecandu bid’ah untuk memromosikan kebid’ahan-kebid’ahan ala jahiliyah di muka bumi ini.

Rajab, Definisi dan Keutamaannya

“Rajab” secara bahasa diambil dari kata:

« رَجَبَ الرَّجُلُ رَجَبًا »

Artinya: mengagungkan dan memuliakan. Rajab adalah sebuah bulan. Dinamakan dengan “Rajab” dikarenakan mereka dahulu sangat mengagungkannya pada masa jahiliyah, yaitu dengan tidak menghalalkan perang di bulan tersebut [Al-Qamus al-Muhith 1/74 dan Lisanul Arab 1/411, 422].

Tentang keutamaannya, Allah telah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلاَتَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. at-Taubah: 36)

Imam Thabari berkata: “Bulan itu ada dua belas, empat di antaranya merupakan bulan haram (mulia), di mana orang-orang jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada bulan tersebut. Hingga seandainya ada seseorang bertemu dengan pembunuh bapaknya, dia tidak akan menyerangnya. Bulan empat itu adalah Rajab Mudhar, dan tiga bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Demikianlah dinyatakan dalam hadis-hadis Rasulullah.” [Jami’ul Bayan 10/124-125].

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya 4662 dari Abu Bakrah bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Sesungguhnya zaman itu berputar, sebagaimana keadaannya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram. Tiga bulan berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada (akhir) dan Syaban.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Rajab sangat diagungkan oleh manusia pada masa jahiliyah adalah riwayat Ibnu Abi Syaibah [al-Mushannaf 2/345. Atsar shahih, dishahihkan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 25/291 dan al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 957)] dari Kharasyah bin Hurr, ia berkata: “Saya melihat Umar memukul tangan-tangan manusia pada bulan Rajab, agar mereka meletakkan tangan mereka di piring, kemudian beliau (Umar) mengatakan: ‘Makanlah oleh kalian, karena sesungguhnya Rajab adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyah.’”

Wallahu a’lam

 

Sumber: http://abiubaidah.com/ensiklopedi-amalan-bulan-rojab.html/

TIGA PINTU KE NERAKA, JAUHILAH DAN JANGAN DIBUKA

TIGA PINTU KE NERAKA, JAUHILAH DAN JANGAN DIBUKA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama

TIGA PINTU KE NERAKA, JAUHILAH DAN JANGAN DIBUKA…!

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

دخل الناسُ النارَ من ثلاثة أبواب: باب شبهة أورثت شكاً في دين الله، وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته، وباب غضب أورث العداون على خلقه

“Manusia masuk Neraka dari tiga pintu:

1) Pintu syubhat (kerusakan akidah) yang memunculkan keraguan terhadap agama Allah.

2) Pintu syahwat, yang menyebabkan ia lebih mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya.

3) Pintu kemarahan yang melahirkan permusuhan terhadap makhluk.” [Al-Fawaaid: 58]

Keterangan Ringkas:

Untuk dapat menjauh dari tiga pintu yang dapat menjerumuskan ke Neraka ini, maka hamba membutuhkan tiga hal:

1) Ilmu agama, yaitu ilmu yang berdasarkan Alquran danAs-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf. Dan MENJAUHI majelis-majelis, buku-buku dan teman-teman yang suka menebarkan syubhat.

2) Kesabaran, yaitu sabar dalam mengamalkan perintah dan menjauhi larangan. Dan menjauhi sebab-sebab yang menjerumuskan ke dalam syahwat yang terlarang.

3) Menahan marah dan sabar dalam menghadapi orang yang berbuat zalim kepada kita. Lebih mulia lagi apabila disertai dengan pemaafan. Dan lebih mulia lagi jika ditambah dengan balasan berbuat baik, kepada orang yang berbuat zalim kepada kita.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/746657872150364:0