Posts

, ,

BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUADZIN YANG BERHADATS?

BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUADZIN YANG BERHADATS?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUADZIN YANG BERHADATS?
 
Pertanyaan:
Apakah boleh azan bagi orang yang belum berwudhu? Dan apa hukum azan orang yang junub?
 
Jawaban:
Sah hukumnya azan orang yang berhadats, kecil maupun besar. TAPI, lebih utama baginya adalah azan dalam keadaan suci dari kedua hadats itu.
 
Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.
 
[Fatawa al- Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ no. 8966, diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah]
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukumseorangmuadzinyangberhadats #hukumseorangmuazinyanghadats #muadzin #muazin #hadats #hadas #berhadats #berhadas #hukum
,

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar, bahwa Rasul ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat  dua rakaat Qabliyah Subuh. Bagaimana menjalankan sunnah ini, bila saya telat datang ke masjid, sehingga muazin mengumandangkan Iqamat?!

Jawaban:

Alhamdulillah was sholatu was salamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah…

Pertama: Memang benar, beliau ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunat 2 rakaat sebelum Subuh, sebagaimana diceritakan oleh Ibunda kita Aisyah radhiallahu anha, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunnah dua rakaat sebelum (sholat) fajar (Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shahihah 7/527)

Kedua: Bila telat datang masjid dan Iqamat sedang dikumandangkan, maka kita harus langsung sholat Subuh bersama imam, dan TIDAK BOLEH menjalankan sholat Qabliyah, saat Iqamat sudah dikumandangkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila telah dikumandangkan Iqamat, maka tidak (boleh) ada sholat, kecuali sholat yang diwajibkan” (HR. Muslim: 1160).

عن ابن بحينة قال: أقيمت صلاة الصبح، فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن يقيم، فقال: أتصلي الصبح أربعا؟

Ibnu Buhainah mengatakan: (Suatu hari) dikumandangkan Iqamat untuk sholat Subuh, lalu Rasulullah ﷺ melihat seseorang sholat, padahal muadzin sedang mengumandangkan Iqamat, maka beliau ﷺ mengatakan: “Apakah kamu sholat Subuh empat rakaat?!” (HR. Muslim: 1163 )

وعنه أيضا قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يصلي وقد أقيمت صلاة الصبح، فكلمه بشيء لا ندري ما هو؟ فلما انصرفنا أحطناه نقول: ماذا قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: قال لي: يوشك أن يصلي أحدكم الصبح أربعا؟

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah juga, bahwa Rasulullah ﷺ melewati seseorang sedang sholat, padahal Iqamat sholat Subuh telah dikumandangkan, maka beliau ﷺ pun mengatakan kepadanya, sesuatu yang tidak ku ketahui. Lalu ketika kami selesai, kami berusaha mencari tahu, kami mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ kepadamu? Dia menjawab: “Hampir saja salah seorang dari kalian sholat Subuh empat rakaat” (HR. Muslim: 1162).

Kedua: Sebaiknya kita meng-qodho’ sholat Qabliyah Subuhnya setelah itu, sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah ﷺ:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ» رواه الترمذي وصححه الألباني

Qois mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah (suatu ketika) keluar, lalu dikumandangkanlah Iqamat sholat, maka aku pun sholat Subuh bersamanya. Kemudian beliau ﷺ beranjak pergi dan mendapatiku akan sholat, beliau ﷺ mengatakan: “Sebentar wahai Qois, apakah dua sholat bersamaan?!” Aku pun mengatakan: Ya Rasulullah, sebenarnya aku belum sholat dua rakaat Qabliyah Fajar, maka beliau ﷺ mengatakan: “Jika demikian, maka tidak apa-apa” (HR. Tirmidzi: 387, dan dishahihkan oleh Syeikh Albani).

Ketiga: Meng-qodho sholat sunnah yang waktunya tertentu, dibolehkan bila tertinggalnya sholat sunat tersebut tidak disengaja. Karena meng-qodho adalah keringanan bagi mereka yang punya uzur. Dan orang yang meninggalkan dengan sengaja, tidak memiliki uzur. Wallahu a’lam.

Dalil dari pembedaan ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

من نام عن الوتر أو نسيه فليصل إذا ذكر وإذا استيقظ

Barang siapa ketiduran atau lupa sehingga tidak sholat Witir, maka hendaklah ia sholat Witir, ketika ia ingat atau ketika ia bangun (HR. Tirmidzi: 427 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syeikh Albani)

ٌقال ابن رجب:وفي تقييد الأمر بالقضاء لمن نام أو نسيه يدل على أن العامد بخلاف ذلك، وهذا متوجه؛ فإن العامد قد رغب عن هذه السنة وفوتها في وقتها عمداً، فلا سبيل لهُ بعد ذَلِكَ إلى استدراكها، بخلاف النائم والناسي

Ibnu Rojab mengatakan: Adanya taqyid dalam perintah qodho’ itu (yakni); “Bagi orang yang tidur atau lupa” menunjukkan, bahwa orang yang sengaja (meninggalkan), hukumnya lain. Dan ini benar, karena orang yang sengaja (meninggalkan) itu tidak menyukai sholat sunnah ini, dan telah meninggalkannya pada waktunya dengan sengaja, sehingga tidak ada jalan lagi baginya untuk mendapatkannya. Berbeda dengan orang yang tidur atau lupa (Fathul Bari 9/160).

Sekian, semoga bermanfaat.

Wa shallallahu ala nabiyyillah ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah… Walhamdulillah.

 

Disarikan dari web resmi Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA dengan disertai pengeditan bahasa oleh Tim KonsultasiSyariah.com

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28877-Qabliyah-Subuh-saat-Iqamat-sholatnya-batal.html

 

,

BEGINILAH CARA PARA SAHABAT MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAFF SEBELUM MEMULAI SHOLAT JAMAAH

BEGINILAH CARA PARA SAHABAT MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAFF SEBELUM MEMULAI SHOLAT JAMAAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BEGINILAH CARA PARA SAHABAT MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAFF SEBELUM MEMULAI SHOLAT JAMAAH

Di banyak tempat, kita akan menemukan shaff kaum Muslimin yang tidak karuan, saat mereka berdiri melaksanakan sholat jamaah di masjid-masjid.

Mayoritas di antara mereka berdiri seadanya di belakang imam, tanpa memerhatikan tata cara merapatkan shaff yang benar menurut sunnah Nabi ﷺ.

Belum lagi imam itu sendiri cuek dan tidak memerhatikan perkara meluruskan dan merapatkan shaff ini. Entah karena ia tidak mengerti caranya, atau mengerti, tapi mereka malas mengingatkan dan mengajari jamaah cara meluruskan shaff dalam sholat.

Seringkali kita melihat orang-orang dewasa dengan anak kecil keliru dalam berbaris dan bershaff dalam sholat. Padahal cara meluruskan shaff dalam sholat amat mudah dan insya Allah akan dipaparkan beriktu ini melalui praktik para dan penjelasan para sahabat radhiyallahu anhum.

Meluruskan dan merapatkan shaff adalah perkara yang amat diperhatikan oleh Nabi ﷺ. Bahkan beliau ﷺ perintahkan hal itu, dan beliau ﷺ tidak ingin memulai sholatnya, sebelum shaff jamaah benar-benar telah lurus dan rapat. Nabi ﷺ bersabda:

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ فَإِنِّي أَرَاكُمْ خَلْفَ ظَهْرِي

“Luruskanlah shaff-shaff (barisan). Karena, sesungguhnya aku melihat kalian di balik punggungku”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (718) dan Muslim dalam Shohih-nya (434)]

Meluruskan shaff tak akan sempurna, kecuali jika setiap jamaah merapatkan shaff, sampai tak ada celah antara seseorang dengan saudaranya yang ada di sampingnya.

Anas -radhiyallahu anhu- berkata:

“Sholat telah diiqomati, lalu Rasulullah ﷺ pun menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda:

أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

“Luruskanlah shaff-shaff kalian dan saling merapatlah. Karena, sesungguhnya aku melihat kalian di balik punggungku”.[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (719) dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (no. 814 & 845)]

Sebagian orang tidak mengerti tentang tata cara merapatkan shaff (barisan) dalam sholat. Kali ini sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu akan menggambarkan kepada kita cara merapatkan dan meluruskan shaff yang benar. An-Nu’man bin Basyir -radhiyallahu anhu- berkata:

أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ». ثَلاَثًا، «وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ ».

قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ»

“Rasulullah ﷺ pernah menghadapkan wajahnya kepada manusia seraya bersabda: “Tegakkanlah shaff-shaff kalian (sebanyak tiga kali). Demi Allah, kalian sungguh akan meluruskan shaff ataukah benar-benar Allah akan memertentangkan di antara hati kalian”.

Dia (An-Nu’man) berkata: “Lalu aku pun melihat seseorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya secara mu’allaq dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 662)]

Perhatikanlah metode merapatkan shaff ini. Itulah yang BENAR dan ikutilah dengan cara menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki saat berdiri, atau menempelkan lutut dengan lutut saat duduk dalam sholat.

Jika metode ini kita tidak terapkan dalam merapatkan shaff, maka setan akan mengganggu sholat kita, sehingga kita pun tidak khusyuk dalam sholat. Bahkan mendapatkan ancaman dari Allah-Azza wa Jalla. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ لَمْ يَقُلْ عِيسَى بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ

“Luruskanlah shaff, sejajarkanlah bahu-bahu, tutuplah celah-celah, lembutilah tangan saudara-saudaramu, dan jangan membiarkan celah-celah bagi setan. Barang siapa yang menyambung shaff, maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya, -pen.). Dan barang siapa yang memutuskan shaff, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya, -pen.)”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (no. 666) dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/101/no. 5391). Hadis ini dinilai shohih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 5724)]

Jadi, merapatkan shaff dalam sholat bukanlah perkara remeh. Sebab, ia merupakan penutup bagi kekurangan yang terjadi dalam sholat kita. Orang yang tidak meluruskan dan merapatkan shaffnya diancam akan diputuskan dari rahmat Allah.Tentunya ancaman seperti ini tak akan muncul, kecuali karena memutuskan shaff adalah dosa dan maksiat.

Lantaran itu, berhati-hatilah jangan sampai kita bermaksiat dalam sholat, dengan sebab memutuskan shaff (barisan) dalam sholat!!!

Ibrah dan Renungan

Di dalam hadis-hadis ini terdapat beberapa faidah yang bisa kita petik, sehingga menjadi ibrah (pelajaran) dan bahan renungan bagi kita semua. Di antara faidah – faidah itu adalah:

  1. Wajibnya menegakkan, meluruskan dan saling merapatkan shaff dalam sholat, karena adanya perintah dalam hadis-hadis itu untuk hal tersebut. Sementara itu, hukum asal perintah adalah memberikan faidah hukum wajib hal itu.
  1. Meluruskan shaff adalah dengan cara menempelkan bahu dengan bahu, dan pinggir telapak kaki (tumit –penj) dengan pinggir telapak orang lain. Sebab inilah yang dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu anhu ketika mereka diperintahkan meluruskan shaff dan merapatkannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata: “Pernyataan An-Nu’man ini memberikan faidah, bahwa perbuatan tersebut terjadi di zaman Nabi ﷺ. Dengan ini, sempurnalah berhujjah dengan hadis itu, dalam menjelaskan maksud dari menegakkan shaff dan meluruskannya”. [Lihat Fath Al-Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (2/211)]

  1. Di dalam hadis pertama terdapat mukjizat yang terang bagi Nabi ﷺ, yaitu beliau ﷺ bisa melihat orang yang ada di belakangnya. Namun seyogyanya di ketahui ,bahwa penglihatan seperti itu khusus hanya dalam kondisi beliau ﷺ sholat. Sebab, tak ada di dalam sunnah (hadis), bahwa beliau ﷺ juga mampu melihat seperti itu di luar sholat. Wallahu A’lam.
  1. Di dalam hadis-hadis di atas terdapat dalil yang gamblang tentang suatu perkara yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang, walapun hal itu menjadi perkara yang dikenal dalam ilmu psikologi. Yaitu, bahwa rusaknya lahiriah memberikan pengaruh bagi rusaknya batin atau sebaliknya.
  1. Langsungnya imam bertakbiratul ihram ketika tukang azan selesai iqomat merupakan bid’ah!! Sebab hal itu menyelisihi sunnah yang shohihah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis-hadis di atas, utamanya hadis pertama!!!

Karena hadis-hadis itu memberikan faidah, bahwa bagi imam ada sebuah kewajiban usai iqomat, kewajiban yang harus ia laksanakan, yaitu memerintahkan manusia (jamaah) untuk meluruskan shaff (barisan), dengan mengingatkan mereka tentang hal itu. Sebab ia akan ditanyai tentang jamaahnya nanti pada Hari Kiamat. [Lihat Silsilah Al-Ahadis Ash-Shohihah (1/1/72-74) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy, cet. Maktabah Al-Ma’arif]

  1. Di dalam hadis ini terdapat keterangan kuatnya semangat para sahabat Rasulullah ﷺ dalam mengamalkan sunnah dan berpegang teguh dengannya.

Tidak heran bila Allah memuji mereka di dalam Alquran atas iman dan amal sholih yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  [التوبة : 100]

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah : 100)

Keutamaan ini tentunya tidaklah mereka raih, kecuali karena iman dan amal saleh mereka yang dibangun di atas ilmu!!

Inilah beberapa faidah yang penting kita petik. Semoga faidah-faidah ini dapat kita amalkan dan bermanfaat bagi dunia dan Akhirat kita.

 

Penulis: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah hafizhahullah

https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/12/beginilah-cara-para-sahabat-meluruskan.html#more