Posts

, , ,

TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID

TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID
Tanggapan untuk saudaraku Ustadz Adi Hidayat, semoga Allah senantiasa menjaganya.
Dalam video ini Ustadz Adi Hidayat mengatakan, bahwa Nabi ﷺ selama hidupnya tidak pernah melakukan Tahiyatul Masjid…”
 
Tanggapan Ustadz Amir As-Soronji hafizahullah:
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya:
“Yang benar adalah Isra Nabi ﷺ terjadi dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan mimpi, dari Mekkah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq. Tatakala beliau ﷺ sampai di pintu masjid, beliau ﷺ menambatkan kendaraan tersebut di pintu, kemudian beliau ﷺ masuk masjid, lalu shalat di Kiblatnya DUA RAKAAT TAHIYATUL MASJID… [Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/23]
Hal yang sama diriwayatkan juga oleh Ahmad [III/148) dan Muslim (no.259]
Silakan lihat Risalah al-Isra wa al-Miraj karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal, 21, dicetak oleh Makabah al-Ma’arif, Riyadh.
Kesimpulan:
1) Nabi ﷺ pernah melakukan Shalat Tahiyyatil Masjid.
2) Jagan terburu-buru menyimpulkan sesuatu tanpa meruju kepada penjelasan para ulama.
3) Perbanyak baca kitab-kitab Tafsir dan Syarah hadis.
 
Lihat tautan videonya: https://www.instagram.com/p/BbtqpSHnUgP/?r=wa1
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tanggapansyubhat, #syubhat, #Adi Hidayat, #ustadzAdiHidayat, #AH, #NabitidakpernahshalatTahiyatulMasjid, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #Tahiyatul, #Tahiyyatul, #Masjid, #Mesjid, #bantahan
,

JAMINAN RUMAH DI SURGA BAGI MEREKA YANG IKHLAS MEMBANGUN MASJID

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JAMINAN RUMAH DI SURGA BAGI MEREKA YANG IKHLAS MEMBANGUN MASJID
 
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
 
“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di Surga.” [HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
 
Mafhash qathaah dalam hadis artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung.
 
Hadis tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadis ‘Utsman bin ‘Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul ﷺ. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran, bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi ﷺ, “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di Surga.” [HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533]
 
Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di Surga ada dua tafsiran:
1. Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di Surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya.
2. Keutamaan bangunan yang diperoleh di Surga dibanding dengan rumah di Surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. [Syarh Shahih Muslim, 5: 14]
 
Semoga bisa menjadi motivasi untuk terus berbuat kebaikan.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#jaminanrumahdiSurga, #bangun, #bikin, #membangun, #masjid, #mesjid, #rumahdiSurga #keutamaan, #fadhilah
,

MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK? INI CARANYA!

MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK INI CARANYA!
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK? INI CARANYA!
 
Dalam riwayat Tirmidzi, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.” [HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini Hasan Shahih. HR. Tirmidzi, no. 221]
 
Faidah Hadis:
 
1. Dianjurkan menjaga shalat Subuh dan Isya secara berjamaah. Karena kalau dua shalat ini dijaga, tentu shalat lainnya dijaga pula.
2. Menjaga shalat Subuh dan Isya merupakan tanda iman. Karena ketika itu keadaan gelap dan sedang menikmati makan malam.
3. Yang meninggalkan shalat Subuh dan Isya hanyalah munafik dan orang yang punya uzur.
4. Keutamaan shalat Subuh berjamaah seperti melaksanakan shalat semalam penuh (semalam suntuk).
5. Keutamaan shalat Isya berjamaah seperti melaksanakan shalat separuh malam.
 
Semoga semakin manambah semangat kita untuk terus beramal saleh
 
Sumber: Rumaysho.Com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

MAKNA LAKI-LAKI YANG HATINYA TERKAIT MASJID

MAKNA LAKI-LAKI YANG HATINYA TERKAIT MASJID
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAKNA LAKI-LAKI YANG HATINYA TERKAIT MASJID
 
Inilah mereka yang mendapatkan naungan pada Hari Kiamat. Yang dimaksudkan naungan di sini adalah naungan ‘Arsy Allah, sebagaimana dikuatkan riwayatnya oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (2: 144).
 
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi ﷺ bersabda:
 
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَا
 
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
 
1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.
3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah.
5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantic, lalu dia berkata: ‘Aku takut kepada Allah’.
6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” [HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712]
 
Laki-laki Yang Hatinya Terpaut dengan Masjid
 
Sungguh Allah ta’ala telah memuji semua orang yang memakmurkan masjid secara umum di dalam firman-Nya:
 
في بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه يسبح له فيها بالغدو والآصال رجال لا تلهيهم تجارة ولا بيع عن ذكر الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة يخافون يوماً تتقلب فيه القلوب والأبصار ليجزيهم الله أحسن ما عملوا ويزيدهم من فضله والله يرزق من يشاء بغير حساب
 
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari, yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” [QS. An-Nur: 36-38]
 
Terkaitnya hati dengan masjid hanya akan didapatkan oleh siapa saja yang menuntun jiwanya menuju ketaatan kepada Allah. Hal itu karena jiwa pada dasarnya cenderung memerintahkan sesuatu yang jelek. Sehingga jika dia meninggalkan semua ajakan dan seruan jiwa yang jelek itu dan lebih mendahulukan kecintaan kepada Allah, maka pantaslah dia mendapatkan pahala yang sangat besar.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#MutiaraSunnah, #mutiarasunnah, #lakilaki, #lelaki, #akhi, #pria, #hatinyaterkaitmasjid, #mesjid, #masjid, #artinya, #maknanya, #definisinya #tujuhgolonganmanusia, #naungan Allah #7golonganmanusia #hatinyaterpautdenganmasjid
,

BOLEHKAH KAS MASJID UNTUK OPERASIONAL KURBAN?

BOLEHKAH KAS MASJID UNTUK OPERASIONAL KURBAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#FikihKurban
 
BOLEHKAH KAS MASJID UNTUK OPERASIONAL KURBAN?
 
Pertanyaan:
Bolehkah menggunakan kas masjid untuk menutupi kekurangan biaya operasional kurban?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
 
Uang yang diinfakkan untuk masjid, statusnya adalah uang wakaf untuk masjid. Sementara takmir sebagai penerima wakaf, merupakan nadzir wakaf (pengelola wakaf).
 
Mengingat itu ditujukan untuk masjid, maka TIDAK BOLEH digunakan untuk selain kepentingan masjid. Termasuk dipinjamkan ke orang lain, karena ini bagian dari sikap tidak amanah.
 
Ketika jamaah menginfakkan hartanya ke masjid, dia menginginkan agar uang dimanfaatkan untuk masjid. Ketika takmir menggunakannya untuk selain tujuan jamaah, berarti takmir telah menyalahi amanah.
 
Dalam Fatwa Islam dinyatakan:
 
الأموال التي تُجمع للقيام على المساجد بما تحتاجه هي أموالٌ وقفية لا يحل للقائم عليها أن يقترض منها لنفسه ، ولا أن يُقرض منها أحداً ، فهو مؤتمن على هذا المال لإنفاقه في المصرف الذي حدده المتبرع
 
Harta yang diserahkan untuk mengurusi kebutuhan masjid adalah harta wakaf. TIDAK BOLEH bagi pengelola untuk meminjam harta itu, baik untuk kepentingan pribadi, maupun diutangkan ke orang lain. Pengelola harta masjid mendapat amanah untuk menjaga harta ini, agar dialokasikan untuk kepentingan yang diinginkan orang yang infaq. [Fatwa Islam, no. 158131]
 
Karena itulah, dana infaq masjid hanya boleh digunakan untuk kepentingan masjid, baik untuk biaya operasional atau yang mendukung aktivitas masjid. Sementara kegiatan kurban, bukan termasuk aktivitas masjid. Bahkan banyak ulama yang melarang menyembelih kurban di masjid, karena ini mengotori masjid.
 
Syaikhul Islam mengatakan:
 
لا يجوز أن يذبح في المسجد: لا ضحايا ولا غيرها، كيف والمجزرة المعدة للذبح قد كره الصلاة فيها، إما كراهية تحريم، وإما كراهية تنزيه ؛ فكيف يجعل المسجد مشابها للمجزرة، وفي ذلك من تلويث الدم للمسجد ما يجب تنزيهه
 
Tidak boleh menyembelih apapun di masjid, baik kurban maupun yang lainnya. Bagaimana mungkin menyembelih dilakukan di masjid, sementara tempat jagal termasuk tempat yang tidak boleh digunakan untuk shalat, bisa larangan haram atau larangan makruh. Sehingga bagaimana mungkin masjid dijadikan seperti tempat jagal binatang, padahal ini bisa mengotori masjid dengan darah, yang seharusnya dibersihkan. [Al-Fatawa al-Kubro, 2/85]
 
Dan dana masjid tidak boleh digunakan untuk selain kegiatan masjid, meskipun manfaatnya untuk kemaslahatan masyarakat, meskipun tujuannya untuk kebaikan. Seperti disalurkan untuk kesejahteraan kaum Muslimin yang membutuhkan di sekitar masjid. Termasuk digunakan untuk operasional kurban.
 
Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Lajnah Daimah:
 
هل يجوز أخذ الوقف ‏(‏إكمال المسجد مثلا‏)‏ وصرفه على المساكين، مع العلم أن هذا الوقف مخصص لبناء المسجد‏؟‏
 
Bolehkah mengambil uang wakaf masjid dan diberikan kepada fakir miskin. Sementara perlu diketahui, bahwa uang wakaf ini khusus untuk pembangunan masjid.
 
Jawaban Lajnah Daimah:
 
الوقف إذا كان على معين- كالمسجد مثلا- لا يجوز صرفه إلى غيره إلا إذا انقطعت منافع المسجد الموقوف عليه، فصار لا يصلى فيه لعدم السكان حوله، فإنه ينقل إلى مسجد آخر بواسطة المرجع الرسمي المختص في ذلك‏.‏ وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
 
Uang wakaf, jika ditujukan untuk program tertentu, misalnya masjid, tidak boleh digunakan untuk selain masjid. Kecuali jika masjid yang menerima infak ini sudah tidak berfungsi. Tidak ada yang shalat di sana, karena penghuni di sekitarnya tidak ada. Sehingga infak bisa dipindahkan ke masjid yang lain, melalui rekomendasi resmi yang menangani masalah terkait.
 
Segala taufik hanya milik Allah. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
 
Fatwa Lajnah no. 15920. Ditandatangani oleh:
Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Baz
 
Solusi Bagi Panitia Kurban yang Kekurangan Dana
 
Masyarakat kita sudah sangat terbiasa dengan gotong royong. Dan itu potensi yang luar biasa, sangat mendukung kegiatan ibadah sosial seperti berkurban. Karena itulah, kegiatan kurban di masyarakat kita bukan hanya milik Sohibul Qurban, tetapi kegiatan itu milik semua masyarakat. Di sana ada pesta rakyat, satu kampung semua Muslim turut ambil bagian, meskipun yang berkurban hanya 10% dari mereka.
 
Biasaya konsumsi dan operasional menjadi cukup besar. Sebagian informasi yang pernah saya terima, ada kegiatan kurban yang melibatkan panitia 300an orang, dengan biaya operasional mencapai Rp. 30 juta. Jika hanya diambilkan dari iuran Sohibul Qurban, tidak cukup dan terlalu memberatkan mereka.Jika menggunakan kas masjid tidak diperbolehkan. Lantas apa solusinya??
 
Kembali pada potensi suka gotong royong:
 
[1] Berikan edukasi ke semua panitia, bahwa kerja mereka adalah kerja sosial, murni untuk bantu-membantu dalam kebaikan, insyaaAllah berpahala. Karena itu, mohon agar tidak datang untuk mencari upah daging atau yang lainnya. Sebagaimana ketika mereka kerja bakti bersih-bersih kampung atau kerja bakti lainnya.
 
[2] Jika ada sebagian yang menuntut diupah karena kerjanya paling berat, silakan diupah dengan mengambil dana dari iuran Sohibul Qurban. Namun tidak boleh mengambil hasil kurban, seperti kulit atau mendapat jatah khusus. Dan biasanya, yang diupah khusus hanya sedikit.
 
[3] Jika dana kurang, bisa dibuka donasi dari warga. Seperti donasi 17-an atau donasi untuk kerja bakti kampung. Mereka bisa donasi untuk kegiatan duniawi, seharusnya mereka bisa donasi untuk kegiatan berpahala, seperti menangani hewan kurban.
 
Dengan cara ini, insyaaAllah tidak terlalu memberatkan Sohibul Qurban, dan tidak mengganggu kas masjid.
 
Demikian, semoga bermanfaat…
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
, ,

DOA MALAIKAT BAGI YANG MELAKSANAKAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

DOA MALAIKAT BAGI YANG MELAKSANAKAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA MALAIKAT BAGI YANG MELAKSANAKAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

Berikut ini adalah doa malaikat bagi yang melaksanakan shalat berjamaah di masjid:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat seseorang dengan berjamaah dilipatgandakan daripada shalatnya di rumah dan di pasarnya, dua puluh lima kali lipat. Dan hal itu apabila ia berwudhu, lalu memerbagus wudhunya, kemudian keluar ke masjid dengan tujuan hanya untuk shalat. Tiap ia melangkah satu langkah, maka diangkatkan baginya satu derajat, dan dihapuskan satu dosanya. Lalu apabila ia shalat, para malaikat akan terus mendoakannya selama ia berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats.  Malaikat akan mendoakan:

“Ya Allah, sejahterakanlah ia. Ya Allah, rahmatilah dia.” Dan ia dianggap terus menerus shalat selama ia menunggu shalat.” [HR. Bukhari, no. 647 dan Muslim, no. 649].

Beberapa faidah dari hadis di atas, di antaranya:
1. Niat yang membuat seseorang pergi keluar hingga menunggu shalat dinilai berpahala. Jika seseorang keluar rumah tidak berniat untuk shalat, tentu tidak mendapat pahala seperti itu.
2. Shalat lebih utama dari amalan lainnya, karena terdapat doa malaikat di sana.
3. Di antara tugas para malaikat adalah mendoakan kebaikan pada orang-orang beriman. Doa ini ada selama seorang yang shalat tidak berbuat kejelekan di masjid, dan selama ia terus berada dalam keadaan suci (berwudhu).
4. Hadis ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika seseorang menunggu shalat dalam waktu yang lama, setelah sebelumnya melakukan shalat Tahiyatul Masjid dan berdiam setelah itu, maka akan dihitung pahala shalat.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 74).

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

MASJIDIL AQSHO YANG SESUNGGUHNYA 

MASJIDIL AQSHO YANG SESUNGGUHNYA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 
MASJIDIL AQSHO YANG SESUNGGUHNYA

Kebanyakan kaum Muslimin mengira Masjidil Aqsho adalah yang berkubah kuning di sebelah kiri. Ini adalah kesahan fatal. Masjid yang di sebelah kiri namanya Masjid Qubba Sakhra’ yang dibangun di masa Umar bin Khatab.

Sedangakan Masjidil Aqsho adalah bangunan yang di sebelah kanan, yang persegi panjang, memiliki kubah berwarna coklat tua.

Kesalahan ini sering terulang di media massa, ketika menyebutkan Masjidil Aqsho.

Oleh: Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A
Sumber: Muslim. Or.Id

,

KEWAJIBAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

KEWAJIBAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatSholatNabi

KEWAJIBAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

 لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى مَنَازِلِ قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ

“Sungguh aku sangat berkeinginan untuk memerintah supaya shalat ditegakkan, lalu aku mendatangi rumah-rumah kaum yang tidak menghadiri shalat, kemudian aku bakar (rumah-rumah) mereka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim. Lafal hadis milik Al-Bukhary]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah

Sumber: @dzulqarnainms

,

SEPULUH ALASAN KENAPA LAKI-LAKI HARUS SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

SEPULUH ALASAN KENAPA LAKI-LAKI HARUS SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

SEPULUH ALASAN KENAPA LAKI-LAKI HARUS SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

Memang ada ikhtilaf ulama apakah Wajib Ain bagi laki-laki hukumnya shalat  berjamaah di masjid, atau hukumnya sunnah saja. Akan tetapi pendapat terkuat hukumnya WAJIB. Dengan beberapa alasan berikut:

  1. Allah yang langsung memerintahkan dalam Alquran agar shalat berjamaah. Allah ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku.” [Al-Baqarah: 43]

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

، فلا بد لقوله { مع الراكعين } من فائدة أخرى وليست إلا فعلها مع جماعة المصلين والمعية تفيد ذلك

“Makna firman Allah “rukulah beserta orang-orang yang ruku, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama.” [Ash-Shalatu wa hukmu tarikiha hal. 139-141]

  1. Saat-saat perang berkecamuk, tetap diperintahkan shalat berjamaah. Maka apalagi suasana aman dan tentram. Dan ini perintah langsung dari Allah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka [sahabatmu] lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri [shalat] besertamu dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka [yang shalat bersamamu] sujud [telah menyempurnakan  satu rakaat], maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu [untuk menghadapi musuh], dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.” [An-Nisa’ 102]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata:

ففي أمر الله بإقامة الجماعة في حال الخوف : دليل على أن ذلك في حال الأمن أوجب .

 “Pada perintah Allah untuk tetap menegakkan shalat jamaah ketika takut [perang] adalah dalil, bahwa shalat berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi.” [Al- Ausath 4/135]

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan:

وفي هذا دليل على أن الجماعة فرض على الأعيان إذ لم يسقطها سبحانه عن الطائفة الثانية بفعل الأولى، ولو كانت الجماعة سنة لكان أولى الأعذار بسقوطها عذر الخوف، ولو كانت فرض كفاية لسقطت بفعل الطائفة الأولى …وأنه لم يرخص لهم في تركها حال الخوف

“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas, bahwa shalat berjamaah hukumnya Fardhu Ain, dan bukan hanya Sunnah atau Fardhu Kifayah.  Seandainya hukumnya sunnah, tentu keadaan takut dari musuh adalah uzur yang utama. Juga bukan Fardhu Kifayah, karena Allah menggugurkan kewajiban berjamaah atas rombongan kedua, dengan telah berjamaahnya rombongan pertama. Dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan [perang].“ [Kitab Sholah hal. 138, Ibnu Qoyyim]

  1. Orang buta yang tidak ada penuntun ke masjid tetap di perintahkan shalat berjamaah ke masjid jika mendengar azan. Maka bagaimana yang matanya sehat?

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

“Seorang buta pernah menemui Nabi ﷺ dan berujar: “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah ﷺ untuk shalat di rumah. Maka beliau ﷺ pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya: “Apakah engkau mendengar panggilan shalat [azan]?” Laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau ﷺ bersabda: “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” [HR. Muslim no. 653]

Dalam hadis yang lain yaitu, Ibnu Ummi Maktum [ia buta matanya]. Dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi ﷺ bersabda: “Apakah kamu mendengar seruan azan “Hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah?” Jika iya, penuhilah seruan azan tersebut”.” [HR. Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

  1. Wajib shalat berjamaah di masjid jika mendengar azan

Sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barang siapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551]

  1. Rasulullah ﷺ memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak shalat berjamaah di masjid dengan membakar rumah mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” [HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata:

وفي اهتمامه بأن يحرق على قوم تخلفوا عن الصلاة بيوتهم أبين البيان على وجوب فرض الجماعة

“Keinginan beliau [membakar rumah] orang yang tidak ikut shalat berjamaah di masjid merupakan dalil yang sangat jelas akan wajib ainnya shalat berjamaah di masjid” [Al-Ausath 4/134]

  1. Tidak shalat berjamaah di masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Menurut pendapat kami [para sahabat], tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang, hingga diberdirikan di shaff [barisan] shalat yang ada.” [HR. Muslim no. 654]

  1. Shalat berjamaah mendapat pahala lebih banyak

Dalam satu riwayat 27 kali lebih banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian, dengan 27 derajat.” [HR. Bukhari]

Diriwayat yang lain 25 kali lebih banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian, dengan 25 derajat.” [HR. Muslim]

Banyak kompromi hadis mengenai perbedaan jumlah bilangan ini. Salah satunya adalah “Mafhum Adad” yaitu penyebutan bilangan tidak membatasi.

  1. Keutamaan shalat berjamaah yang banyak

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

“Barang siapa shalat Isya dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat setengah malam. Barang siapa shalat Isya dan Subuh dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat semalam penuh.” [Fathul Bari 2/154—157]

9. Tidak shalat berjamaah akan dikuasai oleh setan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena itu tetaplah kalian [shalat] berjamaah. Karena sesungguhnya serigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian [jauh dari kawan-kawannya].” [HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi]

  1. Amal yang pertama kali dihisab adalah shalat. Jika baik, maka seluruh amal baik, dan sebaliknya. Apakah kita pilih shalat yang sekedarnya saja, atau meraih pahala tinggi dengan shalat berjamaah?

Nabi  ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya, padahal Dia lebih mengetahui: “Periksalah shalat hamba-Ku. Sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman: “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman: “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” [HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413 dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571]

Khusus bagi yang mengaku Mazhab Syafi’i [mayoritas di Indonesia], maka Imam Syafi’i mewajibkan shalat berjamaah dan tidak memberi keringanan [rukshah]. Imam Asy Syafi’i  rahimahullah berkata:

وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر

“Adapun shalat jamaah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya, kecuali bila ada uzur.” [Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha hal. 107]

Berikut ini beberapa keutamaan shalat berjamaah di masjid:

  1. Memenuhi panggilan azan dengan niat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
  2. Bersegera untuk shalat di awal waktu.
  3. Berjalan menuju ke masjid dengan tenang [tidak tergesa-gesa].
  4. Masuk ke masjid sambil berdoa.
  5. Shalat Tahiyyatul Masjid ketika masuk masjid. Semua ini dilakukan dengan niat untuk melakukan shalat berjamaah.
  6. Menunggu jamaah [yang lain].
  7. Doa malaikat dan permohonan ampun untuknya.
  8. Persaksian malaikat untuknya.
  9. Memenuhi panggilan iqamat.
  10. Terjaga dari gangguan setan, karena setan lari ketika iqamat dikumandangkan.
  11. Berdiri menunggu takbirnya imam.
  12. Mendapati Takbiratul Ihram.
  13. Merapikan shaf dan menutup celah [bagi setan].
  14. Menjawab imam saat mengucapkan sami’allah.
  15. Secara umum terjaga dari kelupaan.
  16. Akan memeroleh kekhusyukan dan selamat dari kelalaian.
  17. Memosisikan keadaan yang bagus.
  18. Mendapatkan naungan malaikat.
  19. Melatih untuk memerbaiki bacaan Alquran.
  20. Menampakkan syiar Islam.
  21. Membuat marah [merendahkan] setan dengan berjamaah di atas ibadah, saling ta’awun di atas ketaatan, dan menumbuhkan rasa giat bagi orang-orang yang malas.
  22. Terjaga dari sifat munafik.
  23. Menjawab salam imam.
  24. Mengambil manfaat dengan berjamaah atas doa dan zikir, serta kembalinya berkah orang yang mulia kepada orang yang lebih rendah.
  25. Terwujudnya persatuan dan persahabatan antar tetangga dan terwujudnya pertemuan setiap waktu shalat.
  26. Diam dan mendengarkan dengan saksama bacaan imam serta mengucapkan “amiin” saat imam membaca “amiin”, agar bertepatan dengan ucapan amin para malaikat. [Syarh al-Bukhari, al-‘Utsaimin, 3/62, Fathul Bari, 2/154—157, dinukil dari situs]

Masih banyak dalil lainnya mengenai wajib dan keutamaan shalat berjamaah di masjid.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslimafiyah.com/10-alasan-kenapa-laki-laki-harus-shalat-berjamaah-di-masjid.html

DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PUSAT DAKWAH SUNNAH PERTAMA DI KOTA JEPARA

DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PUSAT DAKWAH SUNNAH PERTAMA DI KOTA JEPARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoDonasi
#DakwahSunnah

DONASI PEMBANGUNAN MASJID DAN PUSAT DAKWAH SUNNAH PERTAMA DI KOTA JEPARA

Yuk, mumpung masih Ramadan

Dengan semakin berkembangnya dakwah sunnah di “kota ukir” Jepara, kebutuhan masjid dan pusat dakwah di kota ini menjadi sangat penting dan mendesak sekali. Karena ternyata di kota yang berpenduduk lebih dari satu juta ini, belum ada satu pun masjid yang dimiliki oleh dakwah sunnah.

Oleh karena itu, dengan ini kami ingin membuka lahan amal jariyah bagi kaum Muslimin berupa program wakaf pembangunan masjid sunnah di kota ini.

Rasulullah ﷺ telah bersabda: “Barang siapa membangun masjid untuk Allah, niscaya Allah bangunkan untuknya rumah yang semisal dengannya di Surga”. [HR. Bukhori:450 dan Muslim: 533].

Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- mengatakan: “Dahulu Nabi ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan ketika Ramadan”. [HR. Bukhari: 6, dan Muslim: 2308].

Sebagai gambaran sederhana, bahwa masjid yang akan dibangun ini berkapasitas 1000 jamaah. berlantai dua, dengan total luas 882 meter: Lantai satu untuk jamaah putra, dan lantai dua untuk jamaah putri. Diperkirakan akan memakan biaya hingga 2 M. Semoga Allah memudahkan pembangunan masjid ini dan memberkahinya untuk Islam dan kaum Muslimin. Aamiin.

Silakan mengirimkan donasinya ke rekening-rekening berikut:

  1. Bank BNI Syariah, cabang Kudus

No rek: 04 858 47 919

a/n. Sasmono

  1. Bank CIMB Niaga Syariah, cabang Jepara

No rek: 7608 6904 7200

a/n. Sasmono

  1. Bank BCA, cabang Jepara

No rek: 24 717 044 09

a/n. Sasmono

Konfirmasi ke:

+6281 325 711 311 (SMS dan WA, Sasmono)

+6282 266 055 066 (SMS dan WA, Musyaffa’ Addariny)

Contoh konfirmasi:

DonasiMasjidAbdullahJakartaBCA5mei1juta

Ttd: Yayasan Dakwah Ahlussunnah “Madinatul Islam” Jepara.

———-

Jika tidak mampu membantu dana, Anda bisa membantu menyebarkan pesan ini. Semoga dengannya ‘Dakwah Sunnah’ akan semakin menyebar, dan pahala Anda akan terus mengalir.

Masjid yang sekaligus pusat kajian sunnah ini, akan menjadi masjid pertama milik dakwah sunnah di Jepara, dan insyaAllah pengaruh kebaikannya sangat besar. Semoga dengannya pahala para donaturnya menjadi berlipat-lipat. Aamiin.

Masjid wakaf ini akan dikelola oleh Yayasan Dakwah Ahlussunnah Waljamaah “Madinatul Islam” Jepara, dan saya Musyaffa’ Addariny sebagai salah satu pendiri dan dewan pembinanya.

——-

Rincian donasi yang telah diterima:

Sisa donasi dari pembelian tanah: 16.340.867

Syeikh Muhammad Arruhaily (untuk ayah beliau, Syeikh Hamud Arruhaily) = Madinah = 14.643.200 = BNI

Hamba Allah Madinah = 66.800 = BNI