Posts

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

Bolehkah melagukan bacaan Alquran? Bagaimana keutamaannya?

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan judul bab “Sunnahnya Memerindah Suara Ketika Membaca Alquran Dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya Yang Indah Dan Mendengarkannya.”

Beberapa dalil yang disebutkan oleh beliau berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِىِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu, seperti mendengarkan Nabi yang indah suaranya, melantunkan Alquran dan mengeraskannya.” [HR. Bukhari no. 5024 dan Muslim no. 792]

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (HR. Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Abu Musa:

لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Seandainya engkau melihatku, ketika aku mendengarkan bacaan Alquranmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud” (HR. Muslim no. 793).

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib, ia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ( وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ) فِى الْعِشَاءِ ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً

“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca dalam surat Isya surat Ath Thiin (Wath thiini waz zaituun), maka aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau, atau yang paling bagus bacaannya dibanding beliau.” [HR. Bukhari no. 7546 dan Muslim no. 464]

Beberapa faidah yang diambil dari beberapa hadis di atas:

1- Dibolehkan memerindah suara bacaan Alquran, dan perbuatan seperti itu tidaklah makruh. Bahkan memerindah suara bacaan Alquran itu disunnahkan.

2- Memerbagus bacaan Alquran memiliki pengaruh, yaitu hati semakin lembut, air mata mudah untuk menetes, anggota badan menjadi khusyu’, hati menyatu untuk menyimak. Beda bila yang dibacakan yang lain.

Itulah keadaan hati sangat suka dengan suara-suara yang indah. Hati pun jadi lari ketika mendengar suara yang tidak mengenakkan.

3- Diharamkan Alquran itu dilagukan, sehingga keluar dari kaidah dan aturan Tajwid, atau huruf yang dibaca tidak seperti yang diperintahkan. Pembacaan Alquran pun tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Bentuk seperti itu diharamkan.

4- Termasuk bid’ah kala membaca Alquran, adalah membacanya dengan nada musik.

5- Disunnahkan mendengarkan bacaan Alquran yang sedang dibaca dan diam kala itu.

6- Disunnahkan membaca pada shalat ‘Isya’ dengan surat Qishorul mufashol seperti surat At Tiin.

Apa yang Dimaksud “Yataghonna bil Quran”?

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, juga kebanyakan ulama memaknakan dengan:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Namun bisa pula makna ‘Yataghonna bil Quran’ adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Makna lain pula adalah menjaherkan Alquran. Demikian keterangan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 6: 71.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 472.
  • Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho dkk, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 209.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10681-melagukan-Alquran-bolehkah.html

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud melagukan bacaan Alquran? Katanya ada hadis yang menganjurkan melagukan Alquran.

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang dimaksud melagukan bacaan Alquran adalah tahsin al-qiraah, memerindah bacaan Alquran. Bukan membaca dengan meniru lagu. (Baca: Membaca Alquran dengan Langgam Jawa: https://konsultasisyariah.com/24837-membaca-Alquran-dengan-langgam-jawa.html)

Ada beberapa hadis yang menganjurkan untuk memerindah bacaan Alquran. Di antaranya:

Hadis dari al-Barra bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berpesan:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah Alquran dengan suara kalian. [HR. Ahmad 18994, Nasai 1024, dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth]

 

Kemudian hadis dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth].

Ada beberapa keterangan yang disampaikan para ulama tentang makna ‘Yataghanna bil Qur’an’. Di antaranya adalah memerindah bacaan Alquran. Karena itu, hadis di atas dijadikan dalil anjuran memerbagus suara ketika membaca Alquran.

Imam an-Nawawi mengatakan:

أجمع العلماء رضي الله عنهم من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن

“Para ulama Salaf maupun generasi setelahnya di kalangan para sahabat maupun tabiin, dan para ulama dari berbagai negeri mereka sepakat, dianjurkannya memerindah bacaan Alquran.” [Aat-Tibyan, hlm. 109]

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan makna hadis kedua:

قال جمهور العلماء معنى لم يتغن لم يحسن صوته،… قال العلماء رحمهم الله فيستحب تحسين الصوت بالقراءة ترتيبها ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفاه فهو حرام

Mayoritas ulama mengatakan: Makna ‘Siapa yang tidak Yataghanna bil Quran’ adalah siapa yang tidak memerindah suaranya dalam membaca Alquran. Para ulama juga mengatakan: Dianjurkan memerindah bacaan Alquran dan membacanya dengan urut, selama tidak sampai keluar dari batasan cara baca yang benar. Jika berlebihan sampai menambahi huruf atau menyembunyikan sebagian huruf, hukumnya haram. [At-Tibyan, hlm. 110]

Konsekuensi melagukan Alquran dengan dalam arti mengikuti irama lagu, bisa dipastikan dia akan memanjangkan bacaan atau menambahkan huruf, atau membuat samar sebagian huruf, karena tempo nada yang mengharuskan demikian. Dan ini semua termasuk perbuatan haram, sebagaimana keterangan an-Nawawi.

Makna yang benar untuk melagukan Alquran adalah melantunkannya dengan suara indah, membuat orang bisa lebih khusyu. Diistilahkan Imam as-Syafii dengan at-Tahazun (membuat sedih hati). [Sebagaimana dinyatakan al-Hafidz dalam Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari (9/70)].

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24847-adakah-anjuran-melagukan-bacaan-Alquran.html

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Yang Tidak Melagukan Alquran, Tercelakah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Kalau tidak membaguskan bacaan Alquran atau tidak melagukannya, apakah tercela? Apa syaratnya jika boleh melagukan Alquran?

Hadis berikut barangkali bisa jadi renungan. Dari Abu Lubababh Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud no. 1469 dan Ahmad 1: 175. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah juga kebanyakan ulama memaknakan ‘Yataghonna bil Qur’an’ adalah:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Sedangkan menurut Sufyan bin ‘Uyainah, yang dimaksud adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Ada yang katakan pula, yang dimaksud adalah mencukupkan Alquran dari manusia. Ada pendapat lain pula yang menyatakan, mencukupkan diri dengan Alquran dari hadis dan berbagai kitab lainnya.

Al Qadhi ‘Iyadh menyatakan, bahwa sebenarnya ada dua pendapat yang dinukil dari Ibnu ‘Uyainah.

Adapun ulama Syafi’i dan yang sependapat dengannya menyatakan, bahwa yang dimaksud adalah memerindah dan memerbagus bacaan Alquran. Ulama Syafi’iyah berdalil dengan hadis lainnya:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Baguskanlah suara bacaan Alquran kalian.” [HR. Abu Daud no. 1468 dan An Nasai no. 1016. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih].

Al Harawi menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “Yataghonna bil Quran” adalah menjaherkan (mengeraskan) bacaannya.

Abu Ja’far Ath Thobari sendiri mengingkari pendapat yang menyatakan, bahwa yang dimaksud Yataghonna bil Quran adalah mencukupkan diri. Ath Thobari tidak menyetujuinya, karena bertentangan dengan makna bahasa dan maknanya itu sendiri.

Ada perbedaan pula dalam pemaknaan hadis lainnya: “Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” Pendapat yang lebih kuat, yang dimaksud “Yataghonna bil Qur’an” adalah membaguskan suara bacaan Alquran. Riwayat lain menguatkan maksud tersebut, “Yataghonna bil qur’an adalah mengeraskannya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 71).

Adapun yang dimaksud dengan tidak termasuk golongan kami ,orang yang tidak memerindah bacaan Alquran adalah ditafsirkan dengan dua makna:

  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran
  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak mencukupkan dengan Alquran dari selainnya. [‘Aunul Ma’bud, 4: 271].

Kalau kita lihat dari pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi sebelumnya, yang dimaksud adalah tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran.

Namun aturan dalam melagukan Alquran harus memenuhi syarat berikut:

  • Tidak dilagukan dengan keluar dari kaidah dan aturan Tajwid.
  • Huruf yang dibaca tetap harus jelas sesuai yang diperintahkan.
  • Tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. [Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 472]

Wallahu a’lam. Wabillahit taufiq was sadaad.

 

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Abu ‘Abdirrahman Saroful Haqq Muhammad Asyrof Ash Shidiqi Al ‘Azhim Abadi, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/10711-yang-tidak-melagukan-Alquran-tercelakah.html

,

UMAT ISLAM AKAN MENJADI 73 GOLONGAN DAN HANYA ADA SATU GOLONGAN YANG AKAN MASUK SURGA

UMAT ISLAM AKAN MENJADI 73 GOLONGAN DAN HANYA ADA SATU GOLONGAN YANG AKAN MASUK SURGA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#ManhajAkidah
 
UMAT ISLAM AKAN MENJADI 73 GOLONGAN DAN HANYA ADA SATU GOLONGAN YANG AKAN MASUK SURGA
 
Bukankah Rasulullah ﷺ sudah mengabarkan, umat Islam akan menjadi 73 kelompok, dan hanya ada satu kelompok yang akan masuk SURGA, dan yang 72 kelompok diancam Neraka?
 
Nah ikutlah yang SATU golongan itu.
Siapa yang satu golongan tersebut?
Rasulullah ﷺ sudah memberitahukannya:
Yaitu orang yang mengikuti Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya (Manhaj Salaf). Pengikut Manhaj Salaf disebut Salafi. Yang perlu ditekankan di sini adalah mengikuti cara pemahaman sahabat.
 
Dari sahabat ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “asulullah ﷺ bersabda:
“Umat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan. Maka hanya satu golongan yang masuk Surga, dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk Neraka.
Umat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk Neraka dan hanya satu golongan yang masuk Surga.
Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah umatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan. Hanya satu (golongan) masuk Surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka.’
 
Rasulullah ﷺ ditanya:
“Wahai Rasulullah, siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ?”
 
Rasulullah ﷺ menjawab:
“al-Jama’ah.”
 
Takhrij Hadis 
Hadis ini diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Majah dan lafal ini miliknya, dalam Kitabul Fitan, Bab Iftiraqul Umam (no. 3992).
2. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitabus Sunnah (no. 63).
3. al-Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 149).
Hadis ini Hasan. Lihat Silsilatul Ahadits ash-Shahihah (no. 1492).
 
Dalam riwayat lain disebutkan tentang golongan yang selamat, yaitu orang yang mengikuti Rasulullah ﷺ dan para shahabatnya Radhiyallahu anhum. Beliau ﷺ bersabda:
 
…كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.
 
“… Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu, (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.”
 
Nah, orang yang mengikuti Nabi ﷺ dan para sahabatnya, itu disebut mengikuti Manhaj Salaf. Agar simpel disebutnya SALAFI.
Dan SALAFI itu bukan cuma mengaku-ngaku saja …
Tapi butuh BUKTI….
 
Apa buktinya?
Buktinya adalah Ittiba kepada Nabi ﷺ dan sesuai pengamalannya dengan pemahaman para sahabat.
Misalnya, sahabat tidak pernah DEMO. Maka jika ada orang yang ikutan DEMO, atau malah menyatakan DEMO itu sebagai SYIAR Islam, maka dia telah BERDUSTA terhadap kesalafiannya….
Walaupun dia seorang USTADZ yang katanya SALAFI.
 
,

AKIDAH QODARIYAH AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT TENTANG MASALAH TAKDIR

AKIDAH QODARIYAH AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT TENTANG MASALAH TAKDIR

#ManhajAkidah

AKIDAH QODARIYAH AL-USTADZ AL-FADHIL ADI HIDAYAT TENTANG MASALAH TAKDIR

Antara Ustadz Abdullah Taslim (AT) & Ustadz Adi Hidayat (AH) (Masukan Untuk Al-Ustadz Al-Fadhil Adi Hidayat Ma Hafidzohullah) – Bagian Pertama

Beberapa waktu yang lalu sempat muncul kritikan dari seorang ustadz AT terhadap ustadz AH. Lalu muncul komentar-komentar yang buruk, dan menganggap ustadz AT hasad dan dengki kepada ustadz AT. Tentu seseorang berusaha untuk berprasangka baik terhadap saudaranya yang mengritik. Jika kritikannya baik, hendaknya diterima dengan baik, dan segera berusaha memerbaiki diri. Namun jika kritikannya keliru, maka silakan kritikan tersebut dikritiki kembali. Toh para ulama sejak dahulu hingga sekarang saling mengritiki, saling memerbaiki satu dengan yang lainnya, saling mengingatkan satu dengan yang lainnya.

Alhamdulillah masing-masing baik AT maupun AH sudah memunculkan klarifikasi atau komentar atas apa yang telah bergulir. Dan AH pun telah menyatakan siap untuk diberi masukan.

Untuk menanggapi sedikit kegaduhan ini, maka penulis bertekad untuk turut berpartisipasi memberi masukan kepada al-Ustadz AH hafizohullah, semoga bermanfaat. Dan penulis juga menyadari, bahwa tidak ada yang luput dari kesalahan, termasuk penulis yang juga tidak luput dari kesalahan. Akan tetapi hal ini tidak menghalangi punulis untuk memberi masukan, dan juga diberi masukan, demi kemasalahatan umat, dan menjauhkan umat dari segala kesalahan sejauh-jauhnya, baik kesalahan dalam akidah atau yang lainnya.

Dalam ceramah ustadz AH yang mulia dengan judul: PERBEDAAN ANTARA TAKDIR DAN QODARULLAH https://www.youtube.com/watch?v=p5g7e_o7dJM

Al-Ustadz AH berkata (di menit 0:27):

“Yang seperti ini aliran Qodariyah. Semua terserah Allah, semuanya terserah Allah. Bahkan tidak mungkin saya bersin kecuali Allah berkehendak. Tidak mungkin saya minum kecuali Allah berkendak. Tapi kesimpulannya ini SALAH. Anda harus membendakan antara qodar dengan takdir. Kehendak Allah yang TIDAK ada intervensi kita di dalam, itu disebut qodar. Contohnya tentang ajal seseorang….”

(Komentar: AH keliru, kelompok yang seperti itu namanya bukan Qodariyah tapi Jabariyah)

Al-Ustadz AH berkata (di menit 1:29):

”Takdir itu adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan, ditetapkan berdasarkan ikhtiar makhluk. Jadi kita ikhtiar dulu, baru Allah menetapkan. Jadi bukan seketika Allah menetapkan…”

Al-Ustadz AH berkata (di menit 2:37):

“Jadi ada sesuatu yang kehendak Allah tidak mutlak di situ. Kehendak Allah bergantung ikhtiar yang kita kerjakan…”

Dalam ceramah AH yang lain dengan judul: APAKAH JODOH TERMASUK TAKDIR? https://www.youtube.com/watch?v=anabATdqrWQ)

Al-Ustadz AH berkata (di menit: 0.50):

“Sedangkan takdir adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan atas ikhtar makhluk. Jadi ada usaha kita dulu, usaha baru Allah tetapkan…. dan jodoh termasuk takdir”

Kritikan:

Apa yang diutarakan oleh al-Ustadz AH adalah akidah al-Qodariyah. Sesungguhnya semua yang terjadi di alam semesta ini, baik makan dan minum maupun bersin, iman dan kufur, jodoh, rezeki dan ajal semuanya dikehendaki dan telah ditetapkan oleh Allah.

Allah berfirman:

‎إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir [QS al-Qomar: 49]

‎وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan takdir (segala sesuatu)nya  [QS Al-Furqon: 2]

Rasulullah ﷺ bersabda:

‎كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir para makhluk, 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, [HR Muslim No. 2653]

Nabi ﷺ juga menjelaskan, bahwa amal saleh maupun amal buruk, masuk Surga maupun masuk Neraka, semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Tidak ada bedanya hal ini dengan masalah rezeki dan ajal yang juga telah ditakdirkan. Beliau ﷺ bersabda:

‎إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري ومسلم)

Sesungguhnya (fase) penciptaan kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari (dalam bentuk) nutfah (sperma). Kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal darah, kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal daging. Kemudian diutuslah Malaikat, ditiupkan ruh dan dicatat empat hal: rezekinya, ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung atau celaka. Demi Allah Yang Tidak Ada Sesembahan yang Haq kecuali Dia, sungguh di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk Jannah (Surga), hingga antara dia dengan Jannah sejarak satu hasta, kemudian ia didahului dengan catatan (takdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk an-Naar (Neraka), sehingga masuk ke dalamnya (an-Naar). Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan penduduk an-Naar, hingga antara dia dengan an-Naar sejarak satu hasta, kemudian ia didahului dengan catatan (takdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk Jannah (Surga), sehingga masuk ke dalamnya (Jannah) [HR al-Bukhari dan Muslim]

Pernyataan AH:

“Yang seperti ini aliran Qodariyah. Semua terserah Allah, semuanya terserah Allah. Bahkan tidak mungkin saya bersin kecuali Allah berkehendak. Tidak mungkin saya minum kecuali Allah berkendak. Tapi kesimpulannya ini SALAH. Anda harus membendakan antara qodar dengan takdir. Kehendak Allah yang tidak ada intervensi kita di dalam itu disebut qodar. Contohnya tentang ajal seseorang….”

Demikian juga pernyataan AH:

“Jadi ada sesuatu yang kehendak Allah tidak mutlak di situ. Kehendak Allah bergantung ikhtiar yang kita kerjakan…”

Adalah pengingkaran terhadap takdir. Di antaranya:

– Menganggap ada kehendak Allah yang tidak mutlak.

– Menganggap manusia bisa ikut intervensi dalam keputusan Allah, bahkan keputusan Allah tergantung kehendak manusia. Padahal Allah berfirman:

‎وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya:

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [QS Al-Insan: 30]

‎وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Artinya:

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam [At-Takwir: 29]

‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا

Artinya:

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. [QS Yunus: 99]

‎فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

Artinya:

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. [QS Al-An’aam: 125]

Nabi Nuuh berkata kepada kaumnya:

‎وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ

Artinya:

Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku, jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” [QS Huud: 34]

‎مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya:

Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus [QS Al-An’aam: 39]

Di akhir zaman para sahabat, mulailah muncul kelompok Qodariyah yang sulit menerima dengan akal mereka, bahwa semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Dan kelompok ini telah diingkari oleh Ibnu Umar.

Tatkala seseorang berkata kepada Ibnu Umar:

‎أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ… وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ

“Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Umar). Sesungguhnya telah muncul dari sisi kami (di Iraq), sekelompok orang yang membaca Alquran dan mendalami ilmu… dan bahwasanya mereka menyangka, bahwa tidak ada qodar, dan bahwasanya perkara adalah baru”

Imam An-Nawawi menjelaskan pernyataan mereka ini:

‎أَيْ مُسْتَأْنَفٌ لَمْ يَسْبِقْ بِهِ قَدَرٌ وَلَا عِلْمٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَإِنَّمَا يَعْلَمُهُ بَعْدَ وُقُوعِهِ

“Yaitu perkara baru tidak didahului oleh takdir dan tidak ada diketahui oleh Allah, akan tetapi Allah mengetahuinya setelah terjadi” (Syarah Shahih Muslim jilid 1 halaman 138, letaknya di bagian kanan atas kalau di cetakan milik penulis).

Mereka menganggap, bahwa perkara belum ditakdirkan, Allah baru menakdirkan (mengkukuhkan/menetapkan) kecuali setelah hamba berbuat. Dan ini sama persis dengan pernyataan ustadz AH “Keputusan Allah baru dikukuhkan setelah ikhtiar/perbuatan manusia”.

Karenanya Qodariyah dijuluki dengan Majusi umat ini, karena menganggap ada penentu keputusan di alam semesta selain Allah. Apalagi menyatakan, bahwa kehendak manusia yang menentukan keputusan Allah?!

Apa komentar Ibnu Umar terahadap pernyataan Qodariyah di atas? Beliau berkata:

‎فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ «لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»

“Jika engkau bertemu dengan mereka, maka kabarkanlah kepada mereka, bahwasanya aku berlepas diri dari mereka, dan bahwasanya mereka berlepas diri dariku. Dan demi Dzat Yang Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu ia infaqkan, maka tidak akan diterima oleh Allah, hingga ia beriman dengan takdir” (Shahih Muslim halaman 24 hadis no 1, letaknya si bagian buku sebelah kanan agak kiri atas).

Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menjaga akidah kita. Aaamiin  Yang benar dari Allah, yang salah dari kesilapan penulis. Semoga Allah menunjukkan kita semua kepada jalan yang lurus. (bersambung)

 

Penulis: Abu Abdil Muhsin Firanda

[www.firanda.com]

https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/1133-antara-at-ah-masukan-untuk-al-ustadz-al-fadhil-adi-hidayat-ma-hafidzohullah

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

APAKAH KAUM MUSLIMIN TERMASUK AHLI KITAB?

Pertanyaan:

Apakah umat Islam bisa disebut Ahli Kitab?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala menyebut Alquran dengan nama al-Kitab. Terdapat banyak ayat Alquran yang menunjukkan hal itu. Di antaranya firman Allah:

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif lam mim, inilah al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. (al-Baqarah: 1 – 2).

Atau firman Allah:

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ . ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Alquran). Itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian al-Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami (QS. Fathir: 31 – 32).

Berdasarkan ayat ini, kita adalah yang mendapat kitab dari Allah. Bahkan kitab yang paling mulia di antara kitab-kitab yang Allah turunkan.

Akan tetapi, istilah ’Ahli Kitab’ adalah istilah syari, yang harus kita pahami sesuai kriteria syariat (al-Isti’mal as-Syari). Bukan semata tinjauan bahasa. Dan seperti yang kita tahu, Allah menggunakan istilah ini khusus untuk menyebut orang Yahudi dan Nasrani.

Allah berfirman:

وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

Tentu tidak boleh kita menafsirkan, bahwa Ahli Kitab di situ mencakup seluruh umat yang diberi kitab. Karena ayat itu turun di zaman sahabat, dan tidak mungkin mereka termasuk dalam ’Ahli Kitab’ yang disebutkan di ayat. Semua sahabat beriman dan bertakwa, sementara ayat di atas menyatakan: “Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Allah juga berfirman:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir di kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan, bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya), sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata (QS. Al-Bayyinah: 1)

Tentu saja, kaum Muslimin tidak termasuk dalam istilah ‘Ahli Kitab’ di atas. Karena Allah dengan jelas menyatakan mereka kafir.

Bahkan, ketika ada orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam, mereka tidak lagi disebut Ahli Kitab.

Di zaman Nabi ﷺ ada seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam, bernama Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu. Ada juga orang Nasrani yang masuk Islam, seperti Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu ‘anhu. Allah menyinggung mereka dalam Alquran:

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang memunyai ilmu Al Kitab.” (QS. Ar-Ra’du: 43)

Berdasarkan keterangan al-Hasan al-Bashri, Mujahid, Ikrimah, Ibnu Zaid, Ibnu Saib dan Muqatil, yang dimaksud ’Orang yang memunyai ilmu al-Kitab’ adalah Abdullah bin Salam.

Sementara menurut Qatadah, mereka adalah para Ahli Kitab yang telah masuk Islam, dan menjadi saksi kebenaran dakwah Muhammad ﷺ, seperti Abdullah bin Salam, Tamim ad-Dari, atau Abdullah bin Salam (Zadul Masir, 2/502).

Yang menjadi catatan, ketika para Ahli Kitab itu masuk Islam, baik sebelumnya beragama Yahudi atau Nasrani, Allah tidak lagi menyebut mereka Ahli Kitab. Tapi Allah menyebut mereka dengan ’Orang yang memunyai ilmu al-Kitab.’.

Ibnu Asyura mengatakan:

اسم ( أهل الكتاب ) لقب في القرآن لليهود والنصارى الذين لم يتديّنوا بالإِسلام ؛ لأن المراد بالكتاب : التوراة والإِنجيل إذا أضيف إليه ( أهل ) ، فلا يطلق على المسلمين ” أهل الكتاب ” وإن كان لهم كتاب، فمن صار مسلماً من اليهود والنصارى : لا يوصف بأنه من أهل الكتاب في اصطلاح القرآن

Istilah ’Ahli Kitab’ adalah istilah dalam Alquran untuk menyebut orang Yahudi dan Nasrani yang tidak masuk Islam. Karena yang dimaksud dengan al-Kitab di sini adalah Taurat dan Injil, apabila di depannya di tambahkan kata ’ahlu’. Sehingga TIDAK BOLEH menyebut kaum Muslimin dengan Ahli Kitab, meskipun mereka memiliki kitab. Untuk itu, orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi Muslim, tidak disebut Ahli Kitab dalam istilah Alquran. (Tafsir Ibnu Asyura – at-Tahrir wa at-Tanwir, 27/249)

Nama yang Allah Berikan kepada Umat Islam

Dalam Alquran, Allah menyebut umat yang beriman dengan kebenaran dakwah Nabi Muhammad ﷺ dengan kaum Muslimin.

Allah berfirman:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian dengan kaum Muslimin dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu, dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (QS. Al-Hajj: 78)

Inilah nama yang syari bagi umat Islam, kaum Muslimin. Nama ini telah Allah sebutkan dalam Alquran dan kitab-kitab sebelumnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23265-kaum-Muslimin-termasuk-ahli-kitab.html

,

KAIDAH FIKIH: HUKUM ASAL SEGALA SESUATU ADALAH SUCI

KAIDAH FIKIH: HUKUM ASAL SEGALA SESUATU ADALAH SUCI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KaidahFikih

KAIDAH FIKIH: HUKUM ASAL SEGALA SESUATU ADALAH SUCI

  • Mencium Bau tidak Jelas

Pertanyaan:

Terkadang ketika praktikum di lab, orang menemukan cairan yang sangat bau. Nah, kalau kita menyentuhnya, apakah itu termasuk terkena najis? Karena baunya sangat menyengat dan tidak sedap.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat kaidah dalam ilmu fikih yang disebutkan ulama:

الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ

“Hukum asal segala sesuatu adalah suci”

Kaidah ini berdasarkan firman Allah:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Dzat yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kalian” (QS. al-Baqarah: 29)

Syaikh Abdurrahman as-Sa`di ketika menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan:

Dia menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi, sebagai karena berbuat baik dan memberi rahmat, untuk dimanfaatkan, dinikmati, dan diambil pelajaran. Pada kandungan ayat yang mulia ini terdapat dalil, bahwa hukum asal segala sesuatu adalah suci. Karena ayat ini disampaikan dalam konteks memaparkan kenikmatan…

[Abdurrahman as-Sa`di, Taisir al-Karim ar-Rahman: al-Baqarah: 29]

Oleh karena itu, semua benda yang dihukumi najis harus berdasarkan dalil. Menyatakan satu benda tertentu statusnya najis, namun tanpa didasari dalil, maka pernyataannya tidak bisa diterima, karena pernyataannya bertolak belakang dengan hukum asal.

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21195-hukum-asal-segala-sesuatu-adalah-suci.html

,

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

#DakwahTauhid
#ManhajSalaf

KENAPA “MEMILIH PEMIMPIN KAFIR” DIANCAM KEKAL DI NERAKA, SEDANGKAN “PEMINUM MINUMAN KERAS” TIDAK?

Pertanyaan:
“Peminum Minuman Keras” dan “Memilih Pemimpin Kafir”, keduanya sama-sama melanggar syariat Islam dan keduanya sama-sama melakukan dosa besar. Tetapi kenapa pelaku “Memilih Pemimpin Kafir” diancam masuk Neraka dan kekal di dalamnya? Sedangkan “Peminum Minuman Keras” tidak diancam dengan kekekalan di Neraka? Apakah bisa, seorang peminum minuman keras menjadi kafir dan kekal di Neraka?

Jawaban:
Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Sangatlah jelas dalam Alquran ada larangan, agar tidak menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin. Para ulama sudah ijma (konsesus) dalam hal ini. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51),

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin. Kita bisa perhatikan di bagian akhir surat ini:

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…” Golongan mereka artinya golongan Yahudi dan Nasrani.

Karena itulah, sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

ليتق أحدكم أن يكون يهوديا أو نصرانيا وهو لا يشعر

“Hendaknya kalian khawatir, jangan sampai menjadi Yahudi atau Nasrani, sementara dia tidak merasa.”

Kemudian Hudzaifah membaca ayat di atas, al-Maidah: 51.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya ketika beliau menjelaskan al-Maidah: 51 mengatakan:

أي من يعاضدهم ويناصرهم على المسلمين فحكمه حكمهم ، في الكفر والجزاء وهذا الحكم باق إلى يوم القيامة

Arti dari ayat ini, bahwa orang yang mendukung orang kafir, dan menolong mereka untuk mengalahkan kaum Muslimin, maka HUKUM PENDUKUNG INI SAMA DENGAN MEREKA (ORANG KAFIR). SAMA DALAM KEKUFURAN DAN BALASAN. Dan hukum ini berlaku sampai Hari Kiamat. (Tafsir al-Qurthubi, 6/217)

Ayat lain yang memberikan ancaman keras bagi pendukung orang kafir adalah firman Allah:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali, dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

Imam mufassir, at-Thabari menjelaskan ayat ini:

يعني فقد بريء من الله ، وبريء الله منه ، بارتداده عن دينه ودخوله في الكفر

Artinya, dia telah berlepas diri dari Allah, dan Allah berlepas diri darinya, karena dia MURTAD dari agamanya dan MASUK KE AGAMA KEKUFURAN.

Sebagai contoh yang jelas adalah “Teman A-Hog”. “Teman A-Hog” bukanlah sebatas teman saja. Sebagian besar di antara mereka menghasung A-Hog untuk menjadi pemimpin, mendukungnya, mengampanyekannya, bahkan memuliakannya, karena anggapan, dia lebih mulia dibandingkan Muslim yang lain. Kita tidak menilai status “Teman A-Hog”, tetapi kita bisa menilai dengan menyimpulkan beberapa dalil dan penjelasan ulama terhadap dalil.

Setidaknya di antara mereka melakukan kemunafikan. Munafik, karena khianat terhadap ajaran agamanya. Sikap dan perilaku jahat kaum munafik – yang secara lahir mengaku beriman, tetapi batinnya mencintai kekufuran – bahkan diabadikan dalam satu surat khusus, yaitu Surat al-Munafiqun (surat ke-63). Mereka dikenal sebagai pendusta. Mengaku-aku iman, padahal selalu memusuhi kaum Muslimin dan membela orang kafir.

Dalam peristiwa semacam ini, kita sudah bisa menebak arah gerakan mereka. Mereka akan selalu menjadi garda terdepan pembela si calon gubernur kafir itu. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah si calon gubernur kafir. Mari kita baca ayat ini:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (QS An-Nisa 138)

(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan MENINGGALKAN orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS An-Nisa 139)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS An-Nisa :145)

Sedangkan dalam hal “Peminum Minuman Keras”, tidak ditemukan satu dalil pun, baik dari Alquran maupun hadis, yang menyatakan, bahwa pelakunya diancam dengan kekafiran. Memang, sesungguhnya meminum minuman keras (khamr) adalah perbuatan yang diharamkan oleh Alquran, hadis dan ijma’ para ulama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr (arak), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kami, lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” [Al-Maidah : 90-92]

Dan Rasulullah ﷺ bersabda, artinya:

“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram”.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, seluruh umat Islam sepakat, bahwa khamr adalah minuman yang diharamkan secara baku, dan tidak ada perbedaan di antara para ulama. Sehingga sebagian ulama mengatakan, bahwa haramnya khamr termasuk masalah agama yang diketahui tanpa menggunakan dalil. Sehingga mereka mengatakan, bahwa barang siapa yang mengingkari haramnya khamr, sedang dia hidup di tengah masyarakat, maka dia dianggap kafir dan wajib disuruh bertaubat. Bila tidak mau bertaubat, maka harus dibunuh. [Fatawa Nurun Ala Darb Syaikh Utsaimin, hal. 86]

Misalnya seseorang yang meminum khamr dengan keyakinan, bahwa khamr itu halal, padahal ia sudah mengetahui, bahwa Islam melarangnya, para ulama menyebut hal ini sebagai kafir juhud (kafir karena menentang Al-quran). Yaitu orang yang meyakini kebenaran ajaran Rasulullah ﷺ, namun lisannya mendustakan, bahkan memerangi dengan anggota badannya, menentang karena kesombongan. Ini seperti kufurnya iblis terhadap Allah, ketika diperintahkan sujud kepada Adam ‘alaihissalam, padahal iblis mengakui Allah sebagai Rabb:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka, kecuali iblis. Ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al Baqarah: 34)

Juga kufurnya Fir’aun terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam dan kufurnya orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: “Seorang hamba, jika ia melakukan dosa dengan keyakinan, bahwa sebenarnya Allah mengharamkan perbuatan dosa tersebut, dan ia juga berkeyakinan, bahwa wajib taat kepada Allah atas segala larangan dan perintah-Nya, maka ia tidak kafir”. Lalu beliau melanjutkan, “..barang siapa yang melakukan perbuatan haram dengan keyakinan bahwa itu halal baginya, maka ia kafir dengan kesepatakan para ulama” (Ash Sharimul Maslul, 1/521).

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber:

https://konsultasisyariah.com/28521-apakah-teman-a-Hok-kafir.html

Isteri Meminta Talak Karena Suami Pemabuk

,

HUKUM MENGAFIRKAN KAUM YAHUDI DAN NASRANI

HUKUM MENGAFIRKAN KAUM YAHUDI DAN NASRANI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#FatwaUlama

HUKUM MENGAFIRKAN KAUM YAHUDI DAN NASRANI

Pertanyaan:

Seorang penceramah agama di salah satu mesjid di Eropa beranggapan, bahwa tidak boleh menyatakan kaum Yahudi dan Nasrani itu kafir. Bagaimana pendapat Syekh yang mulia tentang hal ini?

Jawaban:

Pernyataan penceramah ini SESAT dan boleh jadi suatu PERNYATAAN KEKAFIRAN, karena kaum Yahudi dan Nasrani telah ALLAH NYATAKAN SEBAGAI GOLONGAN KAFIR. Allah berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللّهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ. اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Kaum Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah.’ Itulah pernyataan mereka dengan lisan mereka, yang menyerupai perkataan orang-orang kafir sebelumnya. Allah melaknat mereka. Oleh karena itu, ke mana mereka itu dipalingkan? Mereka telah menjadikan pendeta dan ulama mereka sebagai Sesembahan selain Allah, begitu pula terhadap Isa bin Maryam. Padahal mereka tidaklah diperintah kecuali suapaya hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan kecuali Dia, Tuhan Yang Maha Suci dari perbuatan syirik mereka.” (QS. At-Taubah: 30-31)

Dengan demikian, ayat tersebut menyatakan, bahwa mereka itu adalah golongan musyrik. Pada beberapa ayat lain Allah menyatakan dengan tegas, bahwa mereka itu kafir, sebagaimana ayat-ayat berikut:

َّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَآلُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Isa bin Maryam itu adalah Allah.” (QS. Al-Maidah: 17)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ

“Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga Tuhan.” (Al-Ma’idah: 73)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Orang-orang kafir dari golongan Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Daud dan Isa bin Maryam.” (QS. Al-Ma’idah: 78)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Sungguh orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan musyrik berada dalam Neraka Jahanam.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Ayat-ayat tentang hal ini banyak sekali, begitu juga hadis-hadis. Orang yang mengingkari kekafiran kaum Yahudi dan Nasrani, berarti tidak beriman dan mendustakan Nabi Muhammad ﷺ. Ia juga mendustakan Allah, sedang mendustakan Allah itu kafir. Seseorang yang meragukan kekafiran kaum Yahudi dan Nasrani, tidak diragukan lagi bahwa ia telah kafir.

Demi Allah, bagaimana penceramah agama seperti itu rela berkata, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak boleh dinyatakan sebagai golongan kafir, padahal mereka sendiri mengatakan Allah itu adalah salah satu dari tiga Tuhan? ALLAH SENDIRI TELAH MENYATAKAN MEREKA ITU KAFIR. Mengapa ia tidak ridha menyatakan golongan Yahudi dan Nasrani itu kafir, padahal mereka telah mengatakan: “Isa bin Maryam adalah putra Allah. Tangan Allah terbelenggu, Allah itu miskin dan kami adalah orang-orang kaya”?

Bagaimana penceramah itu tidak rela menyatakan golongan Yahudi dan Nasrani adalah kafir, padahal mereka telah menyebutkan Tuhan mereka dengan sifat-sifat yang buruk, yang semua sifat tersebut merupakan aib, cacat, dan kalimat celaan?

Saya menyeru penceramah ini supaya bertobat kepada Allah dan membaca firman Allah:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Mereka berkeinginan agar engkau bersikap lunak, sehingga mereka bersikap lunak pula.” (QS. Al-Qalam: 9)

Hendaklah penceramah ini tidak bersikap lunak terhadap kekafiran mereka. Ia harus menerangkan kepada semua orang, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah golongan kafir, dan termasuk penghuni Neraka. Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Tuhan yang menggenggam diri Muhammad, tiada seorang pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni Neraka.”

Kaum Yahudi dan Nasrani akan mendapatkan dua pahala bila mereka masuk Islam, seperti disabdakan Rasulullah ﷺ:

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ  الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ, فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

“Tiga orang yang mereka diberi pahala dua kali:

(1) Seorang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi (Muhammad) ﷺ lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, dan memercayainya, maka dia mendapatkan dua pahala;

(2) Budak sahaya yang menunaikan kewajiban terhadap Allah ta’ala dan kewajiban terhadap tuannya, ia mendapatkan dua pahala; dan

(3) Seseorang yang memiliki budak perempuan lalu memberinya makan dan bagus dalam hal memberi makannya, kemudian mendidiknya dan bagus dalam mendidiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari no. 3011 dan Muslim dalam “Kitabul Iman”, dan hadis ini lafal Muslim)

Selanjutnya, saya membaca pernyataan pengarang Kitabul Iqna’ dalam bab “Hukum Orang Murtad”. Dalam kitab ini beliau berkata: “Orang yang tidak mengafirkan seseorang yang beragama selain Islam seperti Nasrani, atau meragukan kekafiran mereka, atau menganggap madzhab mereka benar, maka ia adalah orang KAFIR.”

Sebuah pernyataan dikutip dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Barang siapa beranggapan, bahwa gereja adalah rumah Allah dan di tempat itu Allah disembah, dan beranggapan, bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani adalah suatu ibadah kepada Allah, ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya. Atau ia membantu kaum Yahudi dan Nasrani untuk memenangkan dan menegakkan agama mereka, serta beranggapan bahwa perbuatan mereka itu adalah ibadah dan ketaatan kepada Allah, maka orang ini telah KAFIR.”

Di tempat lain, beliau berkata: “Barang siapa beranggapan, bahwa kunjungan golongan dzimmi (penganut agama non-Islam) ke gereja-gerejanya adalah sebagai ibadah kepada Allah, maka ia telah MURTAD.”

Kepada penceramah ini, aku serukan agar dia bertobat kepada Tuhannya dari perkataannya yang sangat menyimpang itu. Hendaklah ia mengumumkan dengan terbuka, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah kafir, mereka termasuk golongan penghuni Neraka. Mereka harus mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena nama beliau ﷺ telah termaktub di dalam kitab Taurat mereka. Allah berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi, yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157)

Hal itu merupakan kabar gembira Isa bin Maryam. Isa bin Maryam berkata sebagaimana Allah kisahkan pada firman-Nya:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

“‘Wahai Bani Israil, sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian yang membenarkan kitab Taurat yang ada pada kalian, dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang rasul sesudahku yang namanya Ahmad.’ Tatkala Rasul ini datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti kebenaran, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (QS. Ash-Shaf: 6)

Siapakah gerangan yang dimaksud dengan ‘Tatkala ia telah datang kepada mereka’? Ia tidak lain adalah orang yang kabarnya telah disampaikan oleh Isa, yaitu Ahmad. Tatkala ia datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti kebenaran kerasulan, maka mereka menyambutnya dengan perkataan: “Ini adalah sihir yang nyata.” Kami katakan tentang firman Allah: “Tatkala ia datang kepada mereka dengan membawa bukti kebenaran”, bahwa sesungguhnya tidak ada seorang rasul yang datang sesudah Isa selain dari Ahmad, yang merupakan lafal tafdhil dari kata “Muhammad”. Akan tetapi Allah telah memberikan ilham kepada Isa untuk menyebut Muhammad dengan Ahmad, sebab kata “Ahmad” adalah isim tafdhil dari kata-kata “alhamdu“, artinya orang yang paling banyak memuji Allah dan makhluk yang paling terpuji, karena sifat-sifatnya yang sempurna.

Jadi beliau adalah orang yang paling banyak memuji Allah, sehingga digunakanlah lafal tafdhil untuk menyebut sifat orang yang paling banyak memuji dan memiliki sifat terpuji. Beliau adalah seorang manusia yang paling berhak diberi pujian karena kata “Ahmad” merupakan isim tafdhil dari kata “Hamid” ataupun “Mahmud“, artinya orang yang banyak memuji Alah dan banyak dipuji manusia.

Saya katakan, bahwa setiap orang yang beranggapan, bahwa di dunia ini ada agama yang diterima oleh Allah di luar dari agama Islam, maka ia telah kafir dan tidak perlu diragukan kekafirannya itu, karena Allah telah menyatakan dalam firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di Akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Firman-Nya pula:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Oleh karena itu, di sini saya ulangi untuk ketiga kalinya, bahwa penceramah seperti itu wajib bertobat kepada Allah, dan menerangkan kepada semua manusia, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah kaum kafir. Hal ini karena penjelasan telah sampai kepada mereka, dan risalah kenabian Muhammad ﷺ telah sampai kepada mereka pula, namun mereka kafir dan menolaknya.

Kaum Yahudi telah dinyatakan sifatnya sebagai kaum yang dimurkai Allah, karena mereka telah mengetahui kebenaran kerasulan Muhammad ﷺ dan Alquran, tetapi mereka menentangnya. Kaum Nasrani disebutkan sifatnya sebagai kaum yang sesat, karena mereka menginginkan kebenaran, tetapi ternyata menyimpang dari kebenaran itu. Adapun sekarang, kedua kaum ini telah mengetahui kebenaran Muhammad ﷺ sebagai rasul dan mengenalnya, tetapi mereka tetap menentangnya.

Oleh sebab itu, kedua kaum ini berhak menjadi kaum yang dimurkai Allah. Saya berseru kepada kaum Yahudi dan Nasrani untuk beriman kepada Allah, semua rasul-Nya, dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena hal inilah yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana firman Allah:

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَـذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَـا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاء وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di Akhirat. Sungguh kami kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman: ‘Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ Katakanlah, ‘Wahai manusia, sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan. Oleh karena itu, berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 156–158)

Inilah yang menguatkan keterangan kami pada awal jawaban di atas. Masalah ini sedikit pun tidak sulit dipahami. Wallahu al-Musta’an (hanya Allah Tuhan tempat kita meminta pertolongan). (Majmu’ Fatawa wa Rasail, juz 3, hlm. 18–23, Syekh Ibnu Utsaimin)

 

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, cetakan 1, Tahun 2003.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber:

KENAPA ALLAH MURKA KEPADA YAHUDI DAN NASRANI?

KENAPA ALLAH MURKA KEPADA YAHUDI DAN NASRANI?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#DakwahTauhid
 
KENAPA ALLAH MURKA KEPADA YAHUDI DAN NASRANI?
 
Kaum Yahudi telah dinyatakan sifatnya sebagai kaum yang dimurkai Allah, karena mereka telah mengetahui kebenaran kerasulan Muhammad ﷺ dan Alquran, tetapi mereka menentangnya. Kaum Nasrani disebutkan sifatnya sebagai kaum yang sesat, karena mereka menginginkan kebenaran, tetapi ternyata menyimpang dari kebenaran itu. Adapun sekarang, kedua kaum ini telah mengetahui kebenaran Muhammad ﷺ sebagai rasul dan mengenalnya, tetapi mereka tetap menentangnya.
 
Oleh sebab itu, kedua kaum ini berhak menjadi kaum yang dimurkai Allah. Wahai kaum Yahudi dan Nasrani, berimanlah kepada Allah ta’ala, semua rasul-Nya, dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena hal inilah yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana firman Allah:
 
وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَـذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَـا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاء وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
 
“Tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di Akhirat. Sungguh kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: ‘Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ Katakanlah, ‘Wahai manusia, sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian, yaitu Allah Yang memunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan. Oleh karena itu, berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kepada Kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 156–158)
 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/3528-hukum-mengafirkan-kaum-yahudi-dan-nasrani-murtad.html