Posts

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

TANDA KEBAIKAN DAN KEBURUKAN DALAM MUSIBAH
 
Jika Allah menguji hamba-Nya dengan sesuatu, maka Allah akan mengujinya dengan beberapa jenis ujian:
 
Jika dia diuji, dan mengembalikan permasalahannya kepada Rabbnya, maka itu adalah tanda kebahagiaan, dan tanda datangnya kebaikan baginya. Dan kau yakin, bahwa kesempitan itu tidak akan berlangsung selamanya, meskipun lama.
 
Adapun seseorang, yang jika dia diuji, dia tidaklah mengembalikan permasalahannya kepada Allah, bahkan hatinya lari dari-Nya menuju makhluk, lupa dengan mengingat Rabbnya, lupa untuk mendekat kepada Rabbnya, lupa untuk merendahkan diri kepada-Nya, lupa untuk bertaubat dan kembali pada-Nya, maka ini adalah tanda kecelakaan baginya, dan tanda datangnya keburukan bagi dirinya. [Ibnul Qoyyim rahimahullahu, Thoriqul Hijratain]
 
Sumber: @kemuslimahan_ypia

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

AGUNGNYA KALIMAT “HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL”

AGUNGNYA KALIMAT "HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKIIL"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir
#DakwahTauhid

AGUNGNYA KALIMAT “HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIIL”

“Hasbunallahu wani’mal wakiil” adalah doa permintaan, obat bagi segala yang menggelisahkan seorang Muslim, baik perkara dunia maupun Akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

من قال في كل يوم حين ي وحين يمسي: حسبي الله لا إله إلا هو ؛ عليه توكلت ، وهو رب العرش العظيم ؛ سبع مرات ؛ كفاه الله ما أهمه من أمر الدنيا والآخرة

“Barang siapa yang setiap hari tatkala pagi dan petang mengucapkan:

 حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Hasbiyallahu laa ilaaha illah huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa Robbul ‘Arsyil ‘Adhiim.

Artinya:

Cukuplah Allah bagiku. Tiada Sesembahan kecuali Dia. Kepada-Nyalah aku bertawakal, dan Dia adalah Penguasa ‘Arsy yang agung (sebanyak tujuh kali).

Maka Allah akan memenuhi apa yang menggelisahkannya, dari perkara dunia dan Akhirat. ”

“Hasbiyallahu wa ni’mal wakiil” diucapkan oleh Ibrahim ‘alaihis salaam tatkala dilemparkan ke dalam api. Maka jadilah api tersebut dingin dan membawa keselamatan. Diucapkan pula oleh Rasul kita yang mulia ﷺ tatkala mereka berkata kepadanya:

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang (yaitu kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu. Karena itu takutlah kepada mereka.” [QS Ali Imron: 173]

Justru hal itu semakin menambah keimanan mereka (Nabi ﷺ dan para sahabat):

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah. Mereka tidak mendapat bencana apa-apa. Mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah memunyai karunia yang besar” [QS Ali Imron: 174]

Tatkala mereka menyerahkan urusan mereka kepada Allah, dan menyandarkan hati mereka kepada-Nya, maka Allah memberikan kepada mereka balasan berupa empat perkara:

  • (1) Kenikmatan,
  • (2) Karunia,
  • (3) Dihindarkan dari keburukan, dan
  • (4) Mengikuti keridaan Allah,

Maka mereka rida kepada Allah dan Allah pun rida kepada mereka.

Yang dimaksud dengan menyerahkan urusan kepada Allah subhanahu, yaitu setelah berusaha dan berikhtiar, maka tidaklah mereka mencari kesembuhan, kecuali dari-Nya. Tidaklah mereka mencari kecukupan, kecuali dari-Nya. Tidaklah mereka mencari kemuliaan, kecuali dari-Nya. Maka seluruh perkara bergantung kepada Allah, mengharap dari-Nya.

Dan inilah doa, yang dengan doa tersebut Allah menjaga kehormatan Aisyah radhiyallahu ‘anha, tatkala ia naik tunggangannya ia berkata: “Hasbiyallahu wa ni’mal wakiil” (Cukuplah Allah bagiku dan sebaik-baik sandaran). Lalu turulah ayat-ayat yang menjelaskan sucinya Aisyah radhiyallahu ‘anha  dari tuduhan keji.

“Hasbunallahu wani’mal wakiil” adalah doanya orang-orang yang kuat, dan bukan doanya orang-orang yang lemah. Doanya orang-orang yang kuat hati mereka. Tidak terpengaruh oleh dugaan-dugaan. Tidak diganggu oleh kejadian-kejadian. Tidak terkontaminasi oleh kelemahan dan ketakutan. Karena mereka mengetahui, bahwasanya Allah telah menjamin orang yang bertawakal kepada-Nya dengan jaminan penjagaan yang sempurna. Maka ia yakin kepada Allah, tenang percaya dengan janji Allah. Maka sirnalah kesedihannya, hilanglah kegelisahannya. Kesulitan pun berganti menjadi kemudahan, kesedihan menjadi kegembiraan, dan ketakutan menjadi ketenteraman.

Maka sudah selayaknya seorang Muslim menghadapi semua peristiwa dan kondisi dengan “Hasbiyallahu Wa Ni’mal Wakiil” dengan menghadirkan akan agungnya makna kalimat ini, tingginya nilai yang ditunjukkannya, disertai dengan amal yang sungguh-sungguh, dan menempuh sebab-sebab dengan hikmah dan ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ واستعن بِاللَّه ولاتعجز

“Seorang Mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, daripada seorang Mukmin yang lemah, dan semuanya ada kebaikan. Semangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah, dan jangan lemah.”

 

Dinukil dari tulisan berjudul: Agungnya Kalimat “Hasbunallahu Wa Ni’mal Wakiil”, yang ditulis oleh: Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizahullah

 

Sumber:

https://firanda.com/index.php/artikel/khutbah-jum-at-masjid-nabawi-terjemahan/851-agungnya-kalimat-hasbunallahu-wa-ni-mal-wakiil

 

“Sufficient for me is Allah. There is nothing worthy of worship except for Him. I place my trust in Him, He is the Lord of the Mighty Throne.” (Recited seven times)

,

AKIBAT MENCARI RIDA MANUSIA

AKIBAT MENCARI RIDA MANUSIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

AKIBAT MENCARI RIDA MANUSIA

“Barang siapa yang mencari rida Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barang siapa yang mencari rida manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” [HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Sebagaimana keterangan dalam Tuhfatul Ahwadzi [7: 82], maksud hadis “Allah akan cukupkan dia dari beban manusia” adalah Allah akan menjadikan dia sebagai golongan Allah, dan Allah tidak mungkin menyengsarakan siapa pun yang bersandar pada-Nya. Dan golongan Allah (hizb Allah), itulah yang bahagia. Sedangkan maksud “Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia” adalah Allah akan menjadikan manusia menguasainya, hingga (mereka) menyakiti dan berbuat zalim padanya.

 

Sumber: https://rumaysho.com/3099-akibat-mencari-rida-manusia.html

,

KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan
KENAPA ALLAH MENYANDARKAN AMALAN PUASA UNTUK-NYA?

Sebuah hadis agung yang diriwayatkan langsung oleh Nabi ﷺ dari Rabb-nya:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

“Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” [HR. Bukhari no. 1904]

Ini merupakan hadis yang mengandung fadhilah puasa dan keistimewaannya, dibandingkan dengan ibadah lainnya. Dan bahwa Allah ta’ala telah mengkhususkan ibadah puasa ini untuk-Nya.

Riwayat ini menunjukkan, bahwa setiap amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.

Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?

Pertama, karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu terjadi dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi, dan boleh menunda shalat, ketika dalam kondisi seperti itu.

Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua, seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memerhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab: “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari, bahwa dia berada dalam pengawasan Allah, meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka menaati Rabb-nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan: “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya, karena mengharap janji Rabb-nya yang tidak nampak di hadapannya”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.

Kedua, puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya, yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan: “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya. Berbeda dengan amalan lainnya.

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kajian Ramadhan 4: Pahala Puasa untuk Allah” yang ditulis oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html

,

SECERCAH HIDAYAH

SECERCAH HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

#DakwahTauhid

SECERCAH HIDAYAH

Dari Abdul Wahid bin Zaid berkata:

“Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu, dan mendapati seorang laki-laki sedang  menyembah patung.

”Kami mendatanginya berkata kepadanya:

“Wahai seorang lelaki, siapa yang engkau sembah?

Maka ia menunjuk ke sebuah patung.

Maka kami berkata: ‘Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat. Patung ini bukanlah Ilaah yang berhak untuk diibadahi.

Dia bertanya: ‘(Kalau demikian, pent), apa yang kalian sembah?

’Kami menjawab: ‘Kami menyembah Allah.’

Dia bertanya: ‘Siapakah Allah?’

Kami menjawab: ‘Dzat yang memiliki ‘Arsy di langit dan kekuasaan di muka bumi.’

Dia bertanya: ‘Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?’

Kami jawab: “Telah mengutus kepada kami (Allah) Raja yang Maha Agung, Maha Pencipta Lagi Maha Mulia, seorang Rosul yang mulia. Maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami tentang hal itu.’

Dia bertanya: ‘Apa yang dilakukan rasul itu?’

Kami menjawab:  ‘Beliau telah  menyampaikan risalah-Nya, kemudian Allah mencabut ruhnya.‘

Dia bertanya: ‘Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?’

Kami menjawab: ‘Tentu’

Ia berkata: ‘Apa yang ia tinggalkan?’

Kami menjawab: ‘Dia meninggalkan Kitabullah untuk kami.

Dia berkata: ‘Coba kalian perlihatkan kitab Al Malik  (Kitabullah, pent) itu kepadaku! Maka seyogyanya kitab para raja itu adalah kitab yang sangat baik.

Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya.

Dia berkata: ‘Alangkah bagusnya (mushaf) ini.’ Lalu kami membacakan sebuah surat dari Alquran  untuknya. Dan kami senantiasa membaca. Tiba-tiba ia menangis,dan kami membaca lagi, dan ia terus menangis, hingga kami selesai membaca surat itu.

Dan ia berkata: ‘Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.’

Kemudian ia masuk Islam dan kami ajari dia syariat-syariat Islam dan beberapa surat dari Alquran. Selanjutnya kami mengajaknya ikut serta dalam perahu.

Ketika kami berlayar dan malam mulai gelap, sementara kami semua beranjak menuju tempat tidur kami, tiba-tiba dia bertanya: ’Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu  juga tidur apabila malam telah gelap?’

Kami menjawab: ‘Tidak wahai hamba Allah. Dia Hidup terus, Maha Agung tidak tidur’.

Dia berkata: ‘Seburuk buruk hamba adalah kalian. Kalian tidur, sementara Maula kalian tidak tidur,

Kemudian ia beranjak untuk mengerjakan ibadah dan meninggalkan kami.

Ketika kami sampai di negeri kami, aku berkata kepada teman-temanku: ‘Laki-laki ini baru saja memeluk Islam dan ia adalah orang asing di negeri ini ( sangat cepat jika kita membantunya -pent)

Lalu kami pun mengumpulkan beberapa Dirham dan kami berikan kepadanya.

Ia bertanya: ‘Apakah ini?’

Kami menjawab: ‘Belanjakanlah untuk kebutuhan kebutuhanmu’.

Dia berkata: ”Laa ilaaha illallah. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah patung selain-Nya. Sekalipun demikian, Dia tidak pernah menyia-nyiakan aku …. Maka bagaimana mungkin  Dia (Allah) akan menelantarkanku, sementara aku mengenal-Nya?! ‘ Setelah itu dia pergi meninggalkan kami dan berusaha sendiri untuk (mencukupi ) dirinya.

Dan jadilah ia setelahnya termasuk Kibarush Sholihin sampai meninggalnya.

 

Sumber: At Tawwaabiin, Milik Ibnu Qudamah, 179.

Alih bahasa : Abul Fida Abdulloh As Silasafy

 

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#UntukYangMengakuHabib

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

  • Apakah Habib Itu Keturunan Nabi?
  • Apakah Keturunan Nabi itu Terjaga dari Kesalahan?

Mengaku Keturunan Rasulullah

Bagusnya nasab, itu bukan jaminan dia selamat. Tetapi hal itu tergantung dari amalannya, apakah amalannya sesuai dengan petunjuk NABI ﷺ atau malah menyelisihi NABI ﷺ.

Di kalangan kaum Muslimin, khususnya di negeri kita ini, sering kita mendengar bahwa ada seorang tokoh yang merupakan keturunan Nabi ﷺ dan dipanggillah tokoh tersebut dengan sebutan Habib.

Bahkan gelar ini mereka buktikan dengan skema nasab yang mereka miliki, yang bertemu dengan nasab Nabi ﷺ, atau dibuktikan dengan semacam ijazah atau sertifikat.

Ironisnya, gelar nasab ini seolah-olah menjadi kartu truf, yang akhirnya menjadi dalil halalnya segala perbuatan yang mereka lakukan, baik perbuatan yang telah jelas merupakan kemaksiatan, perbuatan bid’ah dalam agama, bahkan sampai kesyirikan.

Tidak boleh mengaku-ngaku bernasab kepada NABI ﷺ jika ternyata memang tidak ada hubungan nasab. Resikonya sangat berat, yaitu akan disiapkan tempat duduknya di NERAKA.

Lalu bagaimanakah sebenarnya sikap Ahlussunnah terhadap tokoh keturunan Nabi ﷺ atau yang disebut dengan golongan Ahlul Bait ? Berikut ini pembahasannya oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr hafizhahullah [Diterjemahkan dan disarikan dari kitab Fadhl Ahli al-Bait wa ‘Uluww Makaanatihim ‘Inda Ahli as-Sunnah wa al-Jamaah oleh Abdurrahman bin Thayyib as-Salafi. Sumber: Majalah Adz-Dzakiroh Vol. 8 No. 1 Edisi 43 Ramadhan-Syawal 1429 H. Kami hanya mengambil dua poin pembahasan dari tiga yang dibahas di sumber tersebut]:

Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah Terhadap Ahlul Bait Secara Global

Akidah Ahlussunnah wal Jamaah adalah pertengahan antara ekstrim kanan dan ekstrim kiri, antara berlebihan dan meremehkan dalam segala perkara akidah.

Di antaranya adalah akidah mereka terhadap Ahlul Bait Nabi ﷺ. Mereka berloyalitas terhadap setiap Muslim dan Muslimah dari keturunan Abdul Muththalib, dan juga kepada para istri Rasul ﷺ semuanya.

Ahlus Sunnah mencintai mereka semua, memuji dan memosisikan mereka sesuai dengan kedudukan mereka secara adil dan objektif, bukan dengan hawa nafsu atau serampangan. Mereka mengakui keutamaan orang-orang yang telah Allah beri kemulian iman dan kemuliaan nasab.

 

Barang siapa yang termasuk dari Ahlul Bait dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ, maka mereka (Ahlussunnah) mencintainya karena keimanan, ketakwaan serta persahabatannya dengan Rasul ﷺ.

Adapun mereka (Ahlul Bait) selain dari kalangan sahabat, maka mereka mencintainya karena keimanan. ketakwaan, dan karena kekerabatannya dengan Rasul ﷺ.

Mereka berpendapat, bahwa kemuliaan nasab itu mengikut kepada kemuliaan iman. Barang siapa yang diberi oleh Allah kedua hal tersebut, maka Dia telah menggabungkan antara dua kebaikan.

Dan barang siapa yang tidak diberi taufik untuk beriman, maka tidak bermanfaat sedikit pun kemuliaan nasabnya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Nabi ﷺ bersabda dalam akhir hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, No. 2699 dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu:

و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barang siapa yang diperlambat oleh amal perbuatannya, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya”

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata seraya menjelaskan hadis di atas dalam kitab beliau Jami’ al ‘Ulum wa al-Hikam, hlm. 308: Maknanya, bahwa amal perbuatan itulah yang menjadikan seorang hamba sampai kepada derajat (yang tinggi) di Akhirat, sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَمَارَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memeroleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-An’am: 132)

Barang siapa yang lambat amal ibadahnya untuk sampai kepada kedudukan yang tinggi disisi Allah, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya, untuk menyampaikannya kepada derajat tersebut. Sesungguhnya Allah menyediakan pahala sesuai dengan amal perbuatan, BUKAN karena nasab, sebagaimana firman Allah:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab antara  mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya”. (QS. Al-Mukminun: 101)

Dan Allah ta’ala telah memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan dan rahmat-Nya dengan berbuat amal ibadah, sebagaimana firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ { 133} الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {134

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ {57} وَالَّذِينَ هُم بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ {58} وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لاَيُشْرِكُونَ {59} وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ {60} أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ {61

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak memersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memerolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 57-61)

Kemudian beliau (Imam Ibnu Rajab rahimahullah) menyebutkan dalil-dalil tentang anjuran untuk beramal saleh, dan bahwasanya hubungan dekat dengan Rasul ﷺ itu diperoleh dengan ketakwaan dan amal saleh. Lalu beliau menutup pembahasan tersebut dengan hadis ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’ahu yang tercantum dalam Shahih Bukhori, No. 5990 dan Shahih Muslim, No. 215, beliau berkata: Yang menguatkan hal ini semua adalah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhori dan Muslim dari ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukan termasuk wali-wali (orang terdekat) ku. Sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang yang saleh dari orang-orang yang beriman”.

Ini mengisyaratkan, bahwa kedekatan dengan Rasulullah ﷺ tidak bisa diraih dengan nasab, meskipun dia adalah kerabat beliau ﷺ. Akan tetapi, semuanya itu diraih dengan iman dan amal saleh [Jadi, mereka yang mengaku sebagai keturunan Rasul ﷺ tapi gemar berbuat kesyirikan, mengultuskan kuburan-kuburan wali yang tekah mati, mengadakan shalawat-shalawat bid’ah plus syirik (Burdah, Nariyah, Diba’, dll), rajin berbuat bid’ah (perayaan Maulid, haul, tahlilan), maka tidak bermanfaat pengakuan tersebut dan tidak perlu dihormati ataupun disegani, pen]. Barang siapa yang lebih sempurna keimanannya dan amal salehnya, maka dia lebih agung kedekatannya dengan beliau ﷺ, baik dia punya kekerabatan dengan beliau ﷺ atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang diucapkan oleh seorang penyair:

  • Sungguh, tidaklah manusia itu (dimuliakan) melainkan dengan agamanya
  • Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan, dan hanya bersandar kepada nasab
  • Sungguh, Islam telah mengangkat derajat Salman (al-Farisi) dari Persia
  • Dan kesyirikan menghinakan Abu Lahab, yang memiliki nasab (yang tinggi).

Hal ini berlainan dengan Ahli Bid’ah. Mereka berlebihan terhadap sebagian Ahlul Bait. Bersamaan itu pula mereka berbuat kasar/jahat terhadap mayoritas para sahabat radliyallahu’anhum.

Di antaranya contoh sikap berlebihan mereka terhadap 12 imam Ahlul Bait, yakni Ali, Hasan, Husain radliyallahu’anhum, dan 9 keturunan Husain, adalah apa yang tercantum dalam kitab al-Kafi oleh al-Kulaini [Tokoh ulama Syiah yang binasa pada tahun 329 H, yang dianggap seperti imam Bukhorinya Ahlussunnah, pen]… Bab: Bahwasanya Para Imam Tersebut Mengetahui Kapan Mereka Akan Mati dan Tidaklah Mereka Mati Melainkan Dengan Pilihan Mereka Sendiri, Bab: Bahwasanya Imam-Imam ‘alaihimussalam Mengetahui Apa Yang Telah Terjadi dan Apa yang Akan Terjadi, dan Tidak Ada Sesuatu pun yang Tersembunyi Bagi Mereka.

Dan sikap berlebihan ini pun dikatakan oleh tokoh kontemporer mereka, yaitu Khumaini dalam kitabnya al-Hukumah al-Islamiyah (hlm. 52 cetakan al-Maktabah al-Islamiyah al-Kubra, Teheran): Sesungguhnya di antara prinsip madzhab kita, bahwasanya imam-imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa digapai oleh malaikat yang dekat (dengan Allah), maupun Nabi yang diutus (oleh Allah).

Haramnya Mengaku-aku Sebagai Keturunan Ahlul Bait

Semulia-mulia nasab adalah nasab Nabi Muhammad ﷺ. Dan semulia-mulia penisbatan adalah kepada beliau ﷺ dan kepada Ahli Bait, jika penisbatan itu benar. Dan telah banyak di kalangan Arab maupun non Arab melakukan penisbatan kepada nasab ini.

Maka barang siapa yang termasuk Ahlul Bait dan dia adalah orang yang beriman, maka Allah telah menggabungkan antara kemuliaan iman dan nasab.

Barang siapa mengaku-ngaku termasuk dari nasab yang mulia ini, sedangkan ia bukan darinya, maka dia telah berbuat suatu yang diharamkan, dan dia telah mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Nabi ﷺ bersabda:

“Orang yang mengaku-ngaku dengan sesuatu yang tidak dia miliki, maka dia seperti pemakai dua pakaian kebohongan.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, no. 2129 dari Hadis Aisyah radliyallahu’anha)

 

Disebutkan dalam hadis-hadis shahih tentang keharaman seseorang menisbatkan dirinya kepada selain nasabnya. Di antaranya adalah hadis Abu Dzar radliyallahu’anhu, bahwasanya ia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang menisbatkan kepada selain ayahnya, sedang dia mengetahui, melainkan dia telah kufur kepada Allah. Dan barang siapa yang mengaku-ngaku sebagai suatu kaum dan dia tidak ada hubungan nasab dengan mereka, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di Neraka” [Maka berhati-hatilah mereka yang memakan harta kaum Muslimin dengan cara batil dengan mengaku-ngaku sebagai keturunan rasul ﷺ dan menjual akidah serta agama mereka. Na’udzubillahi mindzalik. pen] (HR. al-Bukhori, No. 3508 dan Muslim, No. 112)

Dan dalam Shahih al-Bukhori, No. 3509 dari hadis Watsilah bin al-Asqa’zia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seungguhnya sebesar-besar kedustaan adalah penisbatan diri seseorang kepada selain ayahnya, atau mengaku bermimpi sesuatu yang tidak dia lihat, atau dia berkata atas nama Rasulullah ﷺ, apa yang tidak beliau ﷺ katakan” [Diringkaskan dari halaman 84-95].

 

Sumber:

Mengaku Keturunan Rasul

 

 

, ,

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

بسم الله الرحمن الرحيم

 

#DakwahTauhid

#StopBid’ah

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

Ucapan praktisinya:

“Untuk mengalahkan para Jinchuriki ini manusia membutuhkan para peruqyah yang menjadi RIKUDO SENNIN yang dapat menjinakkan para Bijuu Siluman Jin dan mengeluarkannya dari tubuh para Jinchuriki. Peruqyah Rikudo Sennin kadang memang harus bersusah payah bertarung dengan para Jinchuriki yang dalam keadaan kerasukan dan dalam kontrol Bijuu Siluman Jin.”

Juga ucapannya:

“Di alam nyata manusia, seorang peruqyah bertugas menyegel semua Bijuu Siluman Jin jahat yang ada di tubuh Jinchuriki dengan kekuatan energi Ruqyah yang dimilikinya semua, agar dapat menghambat rencana Dajjal menguasai manusia, untuk tunduk dalam perintahnya, sembari menunggu kedatangan Nabi Isa yang akan mengalahkan Juubi Dajjal.”

Tanggapan:

  1. Ini adalah ucapan orang yang tidak memahami tauhid dengan benar. Bagaimana mau mendakwahkan tauhid…?!

Ini adalah kalimat yang seharusnya dijauhi dalam pendidikan tauhid. Karena pada hakikatnya manusia sama sekali tidak membutuhkan para peruqyah dan tidak pula kepada siapa pun. Mereka hanya butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan dalam Kitab At-Tauhid sebuah hadis:

أنه كان في زمن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- منافقٌ يؤذي المؤمنين. فقال بعضهم: قوموا بنا نستغيث برسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- من هذا المنافق. فقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: إنه لا يستغاث بي، وإنما يستغاث بالله

“Bahwa pada zaman Nabi ﷺ ada seorang munafik yang menyakiti kaum Mukminin. Maka sebagian mereka berkata: Ayolah kita beristighatsah kepada Rasulullah ﷺ dari orang munafik ini. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak boleh beristighatsah kepadaku. Hanyalah boleh beristighatsah kepada Allah.” [HR. Ath-Thobrani dari Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu’anhu, lihat Al-Mulakhkhos fi Syarhi Kitab At-Tauhid, hal. 121]

Istighatsah artinya meminta tolong dari kesusahan. Dan menolong kaum Muslimin dari kezaliman kaum munafikin masih dalam batas kemampuan Rasulullah ﷺ. Akan tetapi demi menanamkan tauhid kepada mereka dan memuliakan Allah ‘azza wa jalla, maka beliau ﷺ melarang untuk menggunakan kalimat istighatsah dalam meminta pertolongan, kecuali hanya kepada Allah. Padahal ini terkait pertolongan yang masih dalam batas kemampuan manusia. Apalagi menghadapi setan, makhluk yang tak terlihat oleh manusia, dan tidak ada yang dapat melindungi kita darinya selain Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata:

والظاهر أن مراده صلى الله عليه وسلم إرشادهم إلى التأدب مع الله في الألفاظ، لأن استغاثتهم به صلى الله عليه وسلم من المنافق من الأمور التي يقدر عليها، إما بزجره أو تعزيره ونحو ذلك، فظهر أن المراد بذلك الإرشاد إلى حسن اللفظ والحماية منه صلى الله عليه وسلم لجناب التوحيد، وتعظيم الله تبارك وتعالى. فإذا كان هذا كلامه صلى الله عليه وسلم في الاستغاثة به فيما يقدر عليه، فكيف بالاستغاثة به أو بغيره في الأمور المهمة التي لا يقدر عليها أحد إلا الله كما هو جار على ألسنة كثير من الشعراء وغيرهم؟!

“Yang nampak jelas, bahwa maksud beliau ﷺ adalah membimbing mereka untuk beradab kepada Allah dalam memilih lafaz-lafaz yang diucapkan, karena istighatsah kepada Nabi ﷺ dari orang munafik masih dalam batas kemampuan beliau ﷺ, yaitu beliau ﷺ mampu melarangnya atau menghukumnya dan yang semisalnya. Namun beliau ﷺ tetap melarang ucapan tersebut. Maka jelaslah yang dimaksud adalah bimbingan untuk menggunakan lafaz yang baik, dan beliau ﷺ juga bermaksud melindungi tauhid dan mengagungkan Allah tabaraka wa ta’ala. Maka apabila beliau ﷺ melarang beristighatsah kepada beliau ﷺ dalam perkara yang beliau ﷺ masih mampu melakukannya, bagaimana lagi dengan istighatsah kepada beliau ﷺ atau selain beliau ﷺ dalam perkara-perkara genting, yang tidak mampu ditolong kecuali hanya oleh Allah, sebagaimana kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh para penyair dan selain mereka…?!” [Taisirul Azizil Hamid, hal. 199]

Inilah pendidikan tauhid Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ senantiasa membimbing umat untuk tawakkal kepada Allah ta’ala dan menjauhi kalimat-kalimat yang mengandung ketergantungan kepada makhluk dan mengandung syirik atau mengantarkan kepada syirik.

Keterangan:

Ini adalah tambahan keterangan, agar kita tidak salah paham, bahwa hal ini sama sekali tidak menafikan usaha peruqyah untuk menjadi sebab kesembuhan atau keluarnya jin dengan ruqyahnya. Sama sekali tidak menafikan usaha. Melainkan peringatan untuk tidak menggambarkan kepada manusia, bahwa peruqyah itulah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dan mengeluarkan jin, sehingga hati mereka bergantung kepadanya.

Sungguh jauh kalau dipahami, bahwa maksud poin pertama ini adalah menafikan usaha. Kalau demikian konsekuensinya, maka tatkala Rasulullah ﷺ melarang para sahabat beristighatsah kepada beliau ﷺ dan memerintahkan mereka beristighatsah hanya kepada Allah, berarti beliau ﷺ menafikan usaha. Padahal tidak demikian.

  1. Para peruqyah tidak memiliki kemampuan apa pun selain meruqyah; tidak kemampuan ‘menyegel’, tidak pula menyalurkan ‘energi’ (?) ruqyah. Tidak ada dalil yang menunjukkannya, sependek yang kami ketahui. Dan ruqyah hanyalah sebab kesembuhan. Adapun yang mengalahkan jin dan menyembuhkan si sakit hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memerkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdoa kepada-Nya? Dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi! Apakah ada Sesembahan yang lain bersama Allah? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” [An-Naml: 62]

Allah ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku.” [Asy-Syu’ara: 80]

Oleh karena itu Rasulullah ﷺ membaca ketika meruqyah:

أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ أَنْتَ

Adzhibil ba’sa Robban Naasi, bi yadikasy syifaau, laa kaasyifa lahu illaa Anta.

Artinya:

Hilangkanlah penyakit ini wahai Rabb manusia. Di tangan-Mu kesembuhan. Tidak ada yang dapat menyembuhkannya kecuali Engkau.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]

Adapun menggambarkan kepada orang lain, bahwa peruqyah memiliki keistimewaan khusus untuk melawan jin, maka itu sama dengan modus para dukun dan tukang sihir, agar manusia terfitnah dengan mereka. Yaitu mengultuskan mereka dan menghormati mereka secara berlebihan, hingga menyekutukan mereka dengan Allah ta’ala tanpa sadar.

Maka sadarlah, ketika kita meruqyah dan jinnya bertaubat, dan keluar dari tubuh pasien, bukan karena kita sudah punya kemampuan untuk menjinakkan jin atau mengalahkannya. Melainkan semata-mata pertolongan Allah jalla wa ‘ala, yang hanya Allah berikan, kapan Dia kehendaki.

  1. Bahkan jika seorang peruqyah selalu menang, selalu bisa mengalahkan dan mengeluarkan jin, maka hendaklah ia mencurigai dirinya, karena itu adalah indikasi kuat, bahwa ia adalah dukun yang bersekutu dengan setan, atau setan-setan itu sedang memermainkannya…! Terlebih dalam keadaan ia bodoh dengan ilmu agama, maka semakin mudahlah setan menipunya. Kemudian menyebabkan munculnya ghurur (ketertipuan) dan ketakjubannya terhadap dirinya sendiri. Apalagi jika ia berpaling dari nasihat-nasihat orang yang berilmu, hanya karena menurutnya, mereka mengaku paling “nyalaf”.

Mengapa ‘Selalu menang’ merupakan indikasi kuat terjerumusnya peruqyah dalam sihir?

Karena Allah jalla wa ‘ala menolong hamba-Nya kapan Dia menghendaki. Jika seseorang meruqyah dan selalu berhasil, seakan-akan kehendak Allah selalu mengikuti kehendaknya, dan tentunya itu tidak mungkin.

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:

قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ، قَالَ: جَعَلْتَ لِلَّهِ نِدًّا، مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ

“Seseorang berkata kepada Nabi ﷺ: Sesuai kehendak Allah dan kehendakmu. Maka beliau ﷺ bersabda: Engkau telah menjadikan aku sekutu bagi Allah, (ucapkanlah) sesuai kehendak Allah yang satu saja.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod, Ash-Shahihah: 138]

  1. Indikasi bahwa ruqyah seseorang mengandung sihir itu semakin kuat, ketika metode ruqyahnya mengandung penyelisihan syariat dan bid’ah-bid’ah, bahkan mengantarkan kepada syirik. Karena setan semakin menyukainya, dan semakin jauh dari pertolongan Allah ta’ala.

Inilah beberapa penyimpangan metode ruqyah yang termasuk kategori mengada-ada dan bid’ah yang menjurus kepada syirik:

– Penentuan amalan atau bacaan teknik membuka penyamaran jin.

– Penentuan amalan atau bacaan teknik menarik jin secara paksa.

– Penentuan amalan atau bacaan mengunci pergerakan jin.

– Penentuan amalan atau bacaan membakar jin.

– Penentuan amalan atau bacaan menyerang balik para penyihir.

– Penentuan amalan atau bacaan memanggil jin.

– Penentuan amalan atau bacaan menyembelih jin, dan tidak jarang sang “peruqyah” bergaya sok tahu seakan-akan jinnya sedang terbakar, sedang disembelih, sedang terkunci dan seterusnya, yang sangat mirip dengan gaya dukun.

– Menjual air atau herbal ruqyah.

– Teknik membantu pasien melihat wujud asli jin yang sebenarnya. Ini jelas batil, bertentangan dengan firman Allah ta’ala:

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memerlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya, melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” [Al-A’raf: 27]

Tidak lain semua itu akibat tipuan setan terhadap orang yang sibuk meruqyah dan lupa mendalami ilmu yang shahih. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَبِأَنَّ الشَّيْطَانَ مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَكْذِبَ وَأَنَّهُ قَدْ يَتَصَوَّرُ بِبَعْضِ الصُّوَرِ فَتُمْكِنُ رُؤْيَتُهُ وَأَنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا ترونهم مَخْصُوصٌ بِمَا إِذَا كَانَ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا

“Dan bahwa setan adalah makhluk yang termasuk sifat utamanya adalah berdusta, dan bahwa ia mungkin menyamar dalam berbagai rupa, sehingga mungkin melihatnya ketika itu. Adapun maksud firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”, dikhususkan dalam bentuk aslinya.” [Fathul Baari, 4/489]

  1. Sependek yang kami ketahui, bahwa tidak ada satu dalil pun yang menjelaskan:

– Seorang peruqyah bertugas menyegel jin.

– Memiliki kekuatan ‘energi’ ruqyah.

– Bertugas menghambat rencana Dajjal menguasai manusia sembari menunggu kedatangan Nabi Isa ‘alaihissalam.

Ini semua mengada-ada dalam agama dan khayalan kosong belaka. Mungkin akibat menonton film Naruto. Tugas orang yang meruqyah hanyalah meruqyah dengan cara yang sesuai ketentuan syariat, dan hasil kesembuhannya serahkan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada padanya, maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Dalam riwayat Muslim:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَد

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (ﷺ) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Meruqyah adalah amal saleh, bukan acara hiburan, bukan bisnis atau profesi. Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma berkata:

لَدَغَتْ رَجُلاً مِنَّا عَقْرَبٌ وَنَحْنُ جُلُوسٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْقِى قَالَ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

“Seseorang dari kami pernah disengat oleh kalajengking, dan ketika itu kami sedang bermajelis bersama Rasulullah ﷺ. Maka berkatalah seseorang: Wahai Rasulullah, bolehkah aku meruqyah. Beliau ﷺ bersabda: Barang siapa diantara kalian yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia lakukan.” [HR. Muslim]

 

Tapi hendaklah dilakukan sesuai bimbingan para ulama. Jangan mengada-ada dan membuka pintu-pintu fitnah (bencana) kesyirikan. Menolak kemudaratan didahulukan daripada meraih kemanfaatan. Dan jangan sampai melalaikan dari menuntut ilmu, karena orang yang bodoh terhadap ilmu agama sangat mudah ditipu setan.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

 

 

Berikut beberapa link terkait ruqyah semoga dapat menjadi nasihat bagi kaum Muslimin:

 

 

 

 

 

 

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

 

,

JANGAN MINTA RUQYAH

JANGAN MINTA RUQYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

#DoaZikir

JANGAN MINTA RUQYAH

Hukum Meruqyah

Meruqyah orang yang sakit termasuk amal saleh, selama tidak mengandung perkara yang terlarang. Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma berkata:

“Seseorang dari kami pernah disengat oleh kalajengking, dan ketika itu kami sedang bermajelis bersama Rasulullah ﷺ. Maka berkatalah seseorang: Wahai Rasulullah, bolehkah aku meruqyah? Beliau ﷺ bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

Barang siapa di antara kalian yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia lakukan.” [HR. Muslim]

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

“Bahwa Rasulullah ﷺ meruqyah dengan bacaan ini:

أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ أَنْتَ

“Adzhibil ba’sa Robban naasi, bi yadikasy syifaau, laa kaasyifa lahu illaa Anta”

Artinya:

Hilangkanlah penyakit ini wahai Rabb, di tangan-Mu kesembuhan. Tidak ada yang dapat menyembuhkannya, kecuali Engkau.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Hukum Minta Ruqyah

Adapun meminta ruqyah maka terbagi dua:

1. Meminta ruqyah untuk diri sendiri, hukumnya terbagi tiga:

Pertama: Meminta ruqyah yang mengandung syirik, maka hukumnya juga syirik dari beberapa sisi:

  1. a) Karena meridhoi kesyirikan adalah kesyirikan.
  1. b) Menggunakan jasa dukun dan memercayai ucapannya tentang perkara gaib.
  1. c) Tidak jarang pasien diperintahkan untuk melakukan syirik, seperti berdoa kepada selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, mendekatkan diri kepada selain Allah, dengan sesajen dan lain-lain.

Kedua: Meminta ruqyah yang mengandung bid’ah dan maksiat, maka hukumnya haram.

Ketiga: Meminta ruqyah yang sesuai syariat, hukumnya makruh, karena Rasulullah ﷺ bersabda tentang 70.000 orang yang masuk Surga tanpa hisab dan azab:

هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَلاَ يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak merasa takut sial, tidak melakukan pengobatan al-kayy (besi panas), dan senantiasa bertawakkal kepada Rabb mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma]

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan rahimahullah berkata:

“Dan perbedaan antara orang yang meruqyah dan yang meminta ruqyah, bahwasannya orang yang meminta ruqyah adalah orang yang memohon, meminta suatu pemberian, seraya menoleh kepada selain Allah ta’ala dengan hatinya. Sedang orang yang meruqyah adalah orang yang berbuat baik (kepada yang diruqyah).” [Fathul Majid, hal. 67]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Mereka tidak meminta ruqyah kepada siapa pun, karena:

a) Kuatnya penyandaran diri mereka kepada Allah ta’ala.

b) Mulianya jiwa mereka dari merendahkan diri kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

c) Karena dalam perbuatan itu ada bentuk ketergantungan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.” [Al-Qoulul Mufid, 1/103]

2. Meminta ruqyah untuk orang lain, hukumnya terbagi dua:

Pertama: Meminta ruqyah yang terlarang untuk orang lain, yaitu ruqyah yang mengandung syirik, bid’ah atau maksiat, maka hukumnya juga terlarang sesuai perincian di atas.

Kedua: Meminta ruqyah yang sesuai syariat untuk orang lain adalah tolong menolong dalam kebaikan, selama orang yang meminta tersebut tidak bergantung kepada orang yang meruqyah, dan tetap bertawakkal kepada Allah ta’ala. Rasulullah ﷺ bersabda:

اسْتَرْقُوا لَهَا، فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ

“Mintakanlah ruqyah untuknya, karena sesungguhnya ia tertimpa penyakit ‘ain.” [HR. Al-Bukhari dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/711716028977882:0

 

, , , ,

HUKUM DAN ADAB SEPUTAR HUJAN

HUKUM DAN ADAB SEPUTAR HUJAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Adab_Akhlak

HUKUM DAN ADAB SEPUTAR HUJAN

Bismillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berikut ini adalah beberapa amalan sunnah ketika hujan turun:

Pertama: Merasa takut ketika melihat mendung gelap

Di antara kebiasaan Nabi ﷺ, beliau sangat takut ketika melihat mendung yang sangat gelap. Karena kehadiran mendung gelap merupakan mukadimah azab yang Allah berikan kepada umat-umat di masa silam. Sebagaimana yang terjadi pada kaum ‘Ad. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِى أُفُقِ السَّمَاءِ تَرَكَ الْعَمَلَ وَإِنْ كَانَ فِى صَلاَةٍ ثُمَّ يَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا ». فَإِنْ مُطِرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا »

“Nabi ﷺ apabila melihat awan gelap di ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya, meskipun dalam sholat. Lalu beliau ﷺ membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN SYARRIHA

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.”

Apabila turun hujan, beliau membaca:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا

ALLAHUMMA SHAYYIBAN HANI’A

Artinya:

Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat (HR. Abu Daud 5101 dan dishahihkan al-Albani)

Mengapa Nabi ﷺ meninggalkan semua aktivitasnya?

Karena beliau ﷺ takut. Beliau ﷺ keluar masuk rumah sambil berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan awan itu.

A’isyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ ، فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَا أَدْرِى لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ ( فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ .

Apabila Nabi ﷺ melihat mendung gelap di langit, beliau tidak tenang, keluar masuk, dan wajahnya berubah. Ketika hujan turun, baru beliau ﷺ merasa bahagia. A’isyahpun bertanya kepada beliau apa sebabnya. Jawab Nabi ﷺ:

“Saya tidak tahu ini mendung seperti apa. Bisa jadi ini seperti yang disampaikan kaum ‘Ad: “Tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta, supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih” (HR. Bukhari 3206).

Kedua: Membaca doa ketika ada angin kencang

Ketika ada angin kencang, dianjurkan membaca doa:

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ ماَ فِيْهَا، وَخَيْرَ ماَ أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ.

ALLAHUMMA INNI AS ‘ALUKA KHOYROHA WAKHOYRO MAA FII HAA, WA KHOYRO MAA URSILAT BIHI, WA-A’UDZUBIKA MIN SYARRIHA, WA SYARRI MAA FII HAA WA SYARRI MA URSILAT BIHI

Artinya:

Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan angin ini, kebaikan yang dibawa angin ini, dan kebaikan angin ini diutus. Dan aku berlindung kepada-Mu, dari keburukan angin ini, keburukan yang dibawa angin ini, dan keburukan angin ini diutus (HR. Muslim 2122)

A’isyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ »

Apabila ada angin bertiup, Nabi ﷺ membaca doa: [doa tersebut di atas]

Ketiga: Membaca doa ketika hujan turun

Ketika hujan turun, dianjurkan membaca:

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

ALLAHUMMA SHOYYIBAN NAAFI’AAN

Artinya:

Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaatPost

Dari Ummul Mukminin, A’isyah radhiyallahu ‘anha:

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ: اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

”Nabi ﷺ ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan: “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].” (HR. HR. Ahmad no. 24190, Bukhari no. 1032, dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, beliau ﷺ membaca:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا

ALLAHUMMA SHOYYIBAN HANI’AN

Artinya:

Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat

Keempat: Perbanyak doa ketika turun hujan

Dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua doa yang tidak akan ditolak: Doa ketika azan dan doa ketika ketika hujan turun.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; dan dihasankan al-Albani; lihat Shahihul Jami’, no. 3078)

Turunnya Hujan, Kesempatan Terbaik untuk Memanjatkan Doa

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan: “Dianjurkan untuk berdoa ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ: عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

’Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan: Bertemunya dua pasukan, Menjelang sholat dilaksanakan, dan Saat hujan turun.” (al-Mughni, 2/294)

Kelima: Ngalap berkah dari air hujan

Dalam Alquran, Allah menyebut hujan sebagai sesuatu yang diberkahi:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Kami turunkan dari langit air yang berkah (banyak manfaatnya), lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. (QS. Qaf: 9)

Di antara bentuk ngalap berkah (tabarruk) yang diperbolehkan dalam syariat adalah ngalap berkah dengan air hujan. Bentuknya dengan menghujankan sebagian anggota tubuh kita. Mengapa ini diizinkan? Jawabnya, karena Nabi ﷺ pernah melakukannya.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

“Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah ﷺ. Lalu Rasulullah ﷺ menyingkap bajunya, lalu beliau ﷺ guyurkan badannya dengan hujan. Kami pun bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan demikian?” Jawab Rasulullah ﷺ:

لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” (HR. Ahmad 12700, Muslim 2120, dan yang lainnya).

An Nawawi menjelaskan:

ومعناه أَنَّ الْمَطَرَ رَحْمَةٌ وَهِيَ قَرِيبَةُ الْعَهْدِ بِخَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى لَهَا فَيُتَبَرَّكُ بِهَا

“Makna hadis ini adalah hujan itu rahmat. Rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bertabaruk (mengambil berkah) darinya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/195).

Kapan Dianjurkan Ngalap Berkah?

Kita simak keterangan an Nawawi:

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ لِقَوْلِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ أَوَّلِ الْمَطَرِ أَنْ يَكْشِفَ غَيْرَ عَوْرَتِهِ لِيَنَالَهُ الْمَطَرُ

“Dalam hadis ini terdapat dalil yang mendukung pendapat ulama Syafi’iyah tentang anjuran menyingkap bagian badan selain aurat pada awal turunnya hujan, agar bisa terguyur air hujan.” (Syarh Shahih Muslim, 6/196).

Contoh Bentuk Ngalap Berkah dengan Hujan

Praktik ngalap berkah ketika turun hujan juga dilakukan oleh Ibnu Abbas. Ketika hujan turun, Ibnu Abbas menyuruh pembantunya (Jariyah) untuk mengeluarkan barang-barangnya, agar terkena hujan.

Dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas:

أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: “يَا جَارِيَّةُ ! أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً

“Apabila turun hujan, beliau mengatakan: ”Wahai jariyah keluarkanlah pelanaku, juga bajuku”.” Lalu beliau membaca (ayat):

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً

“Dan Kami menurunkan dari langit, air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).” (QS. Qaaf: 9).” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 1228 dan dinyatakan Shahih Mauquf, sampai Ibnu Abbas).

Keenam: Membaca doa ketika melihat atau mendengar suara petir

Doa ini menunjukkan pengagungan kita kepada Allah. Di saat kita terheran karena melihat fenomena alam yang mengerikan, kita memuji Allah yang telah menciptakannya.

Di antara doa yang dianjurkan untuk kita baca, doa ketika melihat atau mendengar petir:

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

SUBHAANALLADZI YUSABBIHUR RO’DU BIHAMDIHI WAL MALAAIKATU MIN KHIIFATIHI

Artinya:

Maha Suci Dzat, petir itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya

Dari Amir, dari ayahnya Abdullah bin Zubair:

أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ تَرَكَ الْحَدِيثَ وَقَالَ سُبْحَانَ الَّذِى يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ. ثُمَّ يَقُولُ إِنَّ هَذَا لَوَعِيدٌ لأَهْلِ الأَرْضِ شَدِيدٌ

Apabila beliau mendengar petir, beliau berhenti bicara. Lalu membaca doa di atas. Kemudian beliau mengatakan: ‘Sungguh ini adalah ancaman keras bagi penduduk bumi.’ (al-Muwatha’, Malik, no. 1839 dan dihahihkan al-Albani dalam Shahih al-Kalim at-Thayib).

Ketujuh: Ketika Terjadi Hujan Lebat

Ketika turun hujan, kita berharap agar hujan yang Allah turunkan menjadi hujan yang mendatangkan berkah dan bukan hujan pengantar musibah. Karena itu, ketika hujan datang semakin lebat, dan dikhawatirkan membahayakan lingkungan, kita berdoa memohon, agar hujan dialihkan ke daerah lain, agar lebih bermanfaat.

Di Madinah pernah terjadi hujan satu pekan berturut-turut, hingga banyak tanaman yang rusak dan binatang kebanjiran. Para sahabat meminta pada Nabi ﷺ supaya berdoa agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau ﷺ berdoa:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

ALLAHUMMA HAWAALAINA WA LAA ’ALAINA. ALLAHUMMA ’ALAL AAKAMI WAL JIBAALI, WAZH ZHIROOBI, WA BUTHUNIL AWDIYATI, WA MANAABITISY SYAJARI

Artinya:

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan membahayakan kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari 1013 & Muslim 2116).

Kedelapan: Jangan Mencela Hujan

Sebagian orang merasa dirugikan ketika musim hujan. Tertuama mereka yang aktivitasnya dilakukan pada cuaca cerah. Memang benar, tidak semua yang terjadi di sekitar kita sesuai dengan yang kita harapkan. Terkadang kita berharap langit cerah, namun Allah turunkan hujan. Dan sebaliknya. Namun apakah kehendak Allah harus bergantung kepada kehendak kita?

Hati bisa saja sedih dengan kondisi tidak nyaman yang kita alami karena hujan. Namun jangan sampai kesedihan ini menyebabkan kita menjadi murka dan marah dengan takdir Allah. Terlebih, jaga lisan baik-baik, jangan sampai mengeluarkan kata celaan terhadap hujan yang Allah turunkan.

Terkadang kita tidak sadar, ucapan kita bisa menjadi sebab diri kita tergelincir ke dalam Neraka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang mengundang ridha Allah, yang tidak sempat dia pikirkan, namun Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Sebaliknya, ada hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dia pikirkan bahayanya, lalu dia dilemparkan ke dalam Jahannam.” (HR. Ahmad 8635, Bukhari 6478, dan yang lainnya).

Mencela Hujan = Mencela Dzat Yang Memberi Hujan

Protes seorang hamba ketika Allah menetapkan takdir, sejatinya dia protes kepada Allah. Tak terkecuali protes terhadap turunnya hujan. Dalam Hadis Qudsi, Allah ta’ala melarang kita mencela keadaan yang Dia ciptakan. Rasulullah ﷺ bersabda: bahwa Allah Ta’ala berfirman:

يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Manusia menyakiti Aku. Dia mencaci maki masa (waktu), padahal Akulah adalah pemilik masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang.” (HR. Bukhari 4826, Muslim 6000, dan yang lainnya).

Dalil di atas berbicara tentang hukum mencela waktu. Kasus mencela hujan, tidak berbeda dengan mencela waktu.

Rincian Hukum Mencela Hujan

Para ulama memberikan rincian hukum untuk kasus mencela waktu, hujan atau semacamnya.

  • Pertama, hanya sebatas memberitakan. Misalnya seseorang mengatakan: ‘Sepatu saya rusak karena kehujanan.’ ‘Motor saya macet karena kehujanan.’
  • Kedua, mencela hujan dengan maksud mencela ketetapan dan takdir Allah. Misalnya seseorang mengatakan: ‘Ini hujan, ngapain turun. Bikin tambah macet aja.’ ‘Sebel, hujan terus. Pagi-pagi sudah hujan.’

Celaan semacam ini termasuk perbuatan dosa, karena hakikatnya, dia mencela Allah.

Kesembilan: Berwudhu dengan air hujan

Allah ta’ala menyebut hujan sebagai air untuk bersuci. Allah berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“Dialah yang menurunkan kepada kalian hujan dari langit yang menyucikan kalian.” (QS. al-Anfal: 11)

Allah juga berfirman:

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Dan Kami turunkan dari langit air yang bisa digunakan untuk bersuci. (QS. al-Furqan: 48).

Ibnu Katsir mengatakan:

أي: آلة يتطهر بها

(Makna Maa’an Thahura), alat untuk bersuci. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/114).

Karena itulah diriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ, apabila ada aliran air hujan, beliau ﷺ berwudhu dengannya.

كَانَ يَقُوْلُ إِذَا سَالَ الوَادِي ” أُخْرُجُوْا بِنَا إِلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ طَهُوْرًا فَنَتَطَهَّرُ بِهِ “

Apabila air mengalir di lembah, Nabi ﷺ mengatakan: “Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini, yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci”. Kemudian kami bersuci dengannya.” (HR. Baihaqi 3/359 dan dishahihkan dalam Irwa al-Ghalil no. 679).

Ibnu bi Hatim membawakan keterangan dari Tsabit al-Bunani:

دخلت مع أبي العالية في يوم مطير، وطرق البصرة قذرة، فصلى، فقلت له، فقال: { وَأَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا } قال: طهره ماء السماء

Saya masuk kota Bashrah bersama Abul Aliyah di waktu cuaca hujan. Ketika masuk Bashrah, kami terkena kotoran. Kemudian Abul Aliyah sholat. Saya pun menegurnya. Lalu beliau membaca firman Allah, (yang artinya): ‘Kami turunkan dari langit air yang bisa digunakan untuk bersuci’. Lalu beliau mengatakan: “Telah disucikan oleh air hujan.” (Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, 6/115).

Seperti itulah bagaimana respon para ulama terhadap ayat Alquran yang Allah turunkan. Mereka mempraktikkannya dalam kehiupan sehari-hari.

Ibnu Qudamah mengatakan:

ويستحب أن يتوضأ من ماء المطر إذا سال السيل

“Dianjurkan untuk berwudhu dengan air hujan apabila airnya mengalir.” (al-Mughni, 2/295)

Kesepuluh: Kalimat azan khusus ketika hujan

Bagi kaum pria, sholat jamaah di masjid merupakan syiar mereka. Hanya saja ketika turun hujan, mereka diizinkan untuk sholat di rumah. Karena hujan menjadi udzur baginya. Karena itu, bagi muadzin yang mengumandangkan azan di tengah derasnya hujan, dia dianjurkan untuk mengucapkan:

صَلّوْا فِي بُيُوتِكُـمْ

“Sholatlah di rumah kalian”.

Kalimat ini menggantikan ‘Hayya ‘alas Shalah’

Dari Abdullah bin Harits, bahwa Ibnu Abbas memerintahkan muadzin ketika suasana hujan:

إِذا قلتَ أشهد أنَّ محمداً رسول الله فلا تقُل: حيَّ على الصلاة، قل: صلّوا في بيوتكم

Jika kamu telah selesai mengumandangkan ‘Asyhadu anna Muhammadar rasulullah’, jangan ucapkan ‘Hayya ‘alas shalah’. Tapi ucapkanlah: SHALLU FII BUYUTIKUM.

Mendengar ini, banyak orang merasa aneh dan mengingkari nasihat Ibnu Abbas. Kemudian beliau mengatakan:

فعَله من هو خيرٌ منّي، إِنَّ الجُمعة عَزمةٌ، وإنِّي كرهتُ أن أحرجكم فتمشون في الطين والدَّحْض

Ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari pada aku (Rasullullah ﷺ). Sesungguhnya Jumatan itu kewajiban, dan saya tidak ingin memberatkan kalian, sehingga harus berjalan di tanah becek dan lumpur. (HR. Bukhari 901).

Atau bisa juga dengan mengumadangkan:

صلوا في رحالكم

“Sholatlah di tempat kalian”

Kalimat ini dibaca seusai Hayya ‘alal Falah.

Dari Nuaim bin an-Naham Radhiyallahu ‘anhu, mengatakan:

سمعت مؤذن النبي – صلى الله عليه وسلم – في ليلة باردة وأنا في لحاف فتمنيت أن يقول: صلوا في رحالكم، فلما بلغ حي على الفلاح، قال: صلوا في رحالكم، ثم سألت عنها فإذا النبي – صلى الله عليه وسلم – كان أمر بذلك

Saya mendengar muadzin Nabi ﷺ di malam yang sangat dingin, sementara aku sedang memakai selimut, maka saya berharap dia mengumandangkan: SHALLUU FII RIHALIKUM.’ Ketika sampai pada Hayya ‘alal Falah, muadzin mengumandangkan, ‘Shalluu fii rihalikum.’ Aku pun bertanya kepada Muadzin, dan ternyata Nabi ﷺ yang menyuruhnya. (HR. Ahmad 18098, dan Abdurrazaq dalam Mushannaf 1925)

Kesebelas: Doa Seusai Hujan

Doa ini menggambarkan rasa syukur kita kepada Allah, atas hujan yang telah Allah turunkan. Karena itu, doa ini menjadi lambang ketauhidan seseorang kepada Allah. Doa itu adalah

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

MUTHIRNA BI FADHLILLAHI WA ROHMATIH

Artinya:

Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah

Dari Zaid bin Kholid al-Juhani, Nabi ﷺ melakukan sholat Subuh bersama kami di Hudaibiyah, setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau ﷺ menghadap ke jamaah, lalu bersabda:

هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ

“Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?”

Jawab para sahabat: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”.

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dia beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepada-Ku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari 486, Muslim 240 dan yang lainnya)

Kita bisa perhatikan, Allah membanggakan orang yang membaca doa di atas ketika usai hujan, karena doa ini melambangkan rasa syukur kepada Allah, dan menyandarkan nikmat kepada Allah. Bukti bahwa dia adalah orang yang mengagungkan Allah.

Syirik ketika Hujan

Kebalikan dari sikap di atas, menyandarkan hujan kepada selain Allah. Nabi ﷺ menyebutnya sebagai sikap kekufuran. Lantas kapan terhitung sebagai kekufuran?

Ibnu Rajab menjelaskan:

فإضافة نزول الغيث إلى الأنواء، إن اعتقد أن الأنواء هي الفاعلة لذلك، المدبرة له دون الله عز وجل، فقد كفر بالله، وأشرك به كفرا ينقله عن ملة الإسلام، ويصير بذلك مرتدا، حكمه حكم المرتدين عن الإسلام، إن كان قبل ذلك مسلما. وإن لم يعتقد ذلك، فظاهر الحديث يدل على أنه كفر نعمة الله. وقد سبق عن ابن عباس، أنه جعله كفرا بنعمة الله عز وجل.

Menyandarkan turunnya hujan kepada rasi bintang, ada dua keadaan:

  • Jika dia meyakini bahwa rasi bintang itu yang menurunkan hujan, yang mengatur hujan, dan bukan Allah, maka dia telah kufur kepada Allah, menyekutukan Allah. Dia melakukan kekufuran yang menyebabkannya keluar dari Islam. Sehingga dia menjadi murtad. Statusnya sebagaimana orang yang murtad dari Islam, jika sebelumnya dia Muslim.
  • Namun jika dia tidak meyakini demikian, zahir hadis menunjukkan, bahwa dia kufur nikmat. Dan telah disebutkan keterangan dari Ibnu Abbas, bahwa beliau menilai perbuatan ini sebagai kufur kepada nikmat Allah ‘azza wa jalla.

(Fathul Bari, 9/260)

 

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber:

https://konsultasisyariah.com/23808-amalan-ketika-hujan-bagian-01.html

https://konsultasisyariah.com/23819-amalan-ketika-hujan-bagian-02.html

 

 

 

,

MENGADUKAN KESUSAHAN HANYA KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA

MENGADUKAN KESUSAHAN HANYA KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MENGADUKAN KESUSAHAN HANYA KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأنْزَلَهَا بالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أنْزَلَهَا باللهِ ، فَيُوشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barang siapa ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka TIDAK AKAN tertutupi kesusahannya. Dan barang siapa yang mengadukannya kepada Allah, maka pasti Allah akan memberi rezeki kepadanya, cepat atau lambat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dan ini adalah lafaz At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu’anhu, Shahihut Targhib: 838]

Dalam lafaz yang lebih shahih:

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍعَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barang siapa yang ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barang siapa mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1452, Ash-Shahihah: 2787]

Penjelasan Makna Hadis:

Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ أَيْ لَمْ تُقْضَ حَاجَتُهُ وَلَمْ تُزَلْ فَاقَتُهُ وَكُلَّمَا تُسَدُّ حَاجَتُهُ أَصَابَتْهُ أُخْرَى أَشَدُّ مِنْهَا

“Tidak akan tertutupi kesusahannya, maknanya adalah tidak akan terpenuhi kebutuhannya dan tidak akan berakhir kesusahannya. Dan setiap kali kebutuhannya terpenuhi maka ia akan tertimpa kesusahan yang lebih parah.” [Tuhfatul Ahwadzi, 6/111]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani rahimahullah berkata:

فما معنى قوله: “إما بموتعاجل، أو غنى عاجل”؟ فأقول: لم أقف على كلام شاف في ذلك لأحد من العلماء،و أجمع ما قيل فيه ما ذكره الشيخ محمود السبكي في “المنهل العذب” (9 / 283) قال: إما بموت قريب له غني، فيرثه، أو بموت الشخص نفسه، فيستغني عن المال، أو بغنى و يسار يسوقه الله إليه من أي باب شاء، فهو أعم مما قبله، ومصداقهقوله تعالى: و من يتق الله يجعل له مخرجا و يرزقه من حيث لا يحتسب

“Maka apakah makna ucapan beliau: “Apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat”? Aku katakan: Aku belum mendapati penjelasan yang memuaskan dari seorang ulama pun tentang itu. Dan yang paling mencakup dalam menjelaskannya adalah apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Mahmud As-Subki dalam Al-Minhal Al-‘Adzbu (9/283), beliau berkata: “Apakah dengan kematian kerabatnya yang dekat lagi kaya lalu ia mewarisi hartanya, atau ia sendiri yang mati (dalam kebaikan) sehingga ia tidak lagi membutuhkan harta, atau dengan suatu kekayaan atau kemudahan yang Allah berikan kepadanya dengan cara apa saja sesuai kehendak-Nya. Dan yang terakhir ini lebih umum dari yang sebelumnya. Hal ini didukung dengan firman Allah ta’ala:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

 “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Tholaq: 2-3).” [Ash-Shahihah, 6/676]

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah berkata:

أي: إذا اعتمد على الناس وعول عليهم، وغفل عن الله عز وجل فإنها لا تسد فاقته. والفاقة: هي الفقر وشدة الحاجة، فإذا عول الإنسان على الناس فإنه لا يحصل له ما يريد؛ لأنه إذا اعتمد على الناس تُرك على الناس، وأما إذا اعتمد على الله فإن الله تعالى يهيئ له الرزق من حيث لا يحتسب كما قال: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ [الطلاق:2-3]، أي: كافيه

“Maknanya adalah, apabila ia bergantung dan bersandar kepada manusia dan lupa kepada Allah ‘azza wa jalla, maka tidak akan tertutupi kesusahannya. Dan kesusahan yang dimaksud di sini adalah kefakiran (kemiskinan) dan sangat butuh. Maka apabila seseorang bersandar kepada manusia, tidak akan tercapai apa yang ia inginkan. Karena jika ia bersandar kepada manusia, maka ia akan dibiarkan (oleh Allah) kepada manusia (sebagai hukuman atasnya). Adapun jika ia bersandar kepada Allah, maka Allah akan menyediakan baginya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka, sebagaimana firman Allah ta’ala:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Ath-Tholaq: 2-3) Makudnya Allah yang mencukupinya.” [Syarhu Sunan Abi Daud, 9/74, Asy-Syamilah]

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata:

فمن تعلق بالله وأنزل حوائجه إليه والتجأ إليه وفوض أمره إليه وكفاه وقرب إليه كل بعيد ويسر له كل عسير ومن تعلق بغيره أو سكن إلى رأيه وعقله ودوائه وتمائمه ونحو ذلك وكله الله إلى ذلك وخذله وهذا معروف بالنصوص والتجارب قال تعالى ومن يتوكل على الله فهو حسبه

“Maka barang siapa yang bergantung kepada Allah ta’ala, memohon hajat-hajatnya kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, memasrahkan urusannya kepada-Nya, niscaya Allah ta’ala akan mencukupinya, mendekatkan baginya setiap yang jauh, memudahkan baginya semua yang sulit.

Dan barang siapa yang bergantung kepada selain-Nya atau lebih tenang (ketika bersandar) kepada pendapatnya, akalnya, obatnya, jimat-jimatnya dan yang semisalnya, maka Allah ta’ala jadikan dia bergantung kepada makhluk-makhluk tersebut, dan Allah ta’ala akan menghinakannya. Dan ini sudah dimaklumi berdasarkan dalil-dalil dan kenyataan. Allah ta’ala berfirman:

 وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.” (Ath-Tholaq: 3).” [Fathul Majid, hal. 124]

Beberapa Pelajaran:

1) Wajib untuk selalu bertakwa kepada Allah ta’ala dan bergantung (tawakkal) hanya kepada-Nya.

2) Mengadu dan memohon hendaklah hanya kepada Allah ta’ala.

3) Tercelanya meminta-minta dan tercelanya bergantung kepada manusia.

4) Allah Maha Mampu sedang makhluk itu lemah.

5) Allah akan sesantiasa menolong orang yang bertakwa dan mencukupi orang yang bersandar kepada-Nya.

6) Takwa dan tawakkal adalah solusi semua problematika hidup ini.

7) Memohon dan bergantung kepada selain Allah, dapat mengantarkan kepada syirik (insya Allah akan dibahas lebih detail dalam artikel lainnya).

8) Seorang Mukmin harus kuat dan optimis dalam menghadapi berbagai cobaan dan rintangan dalam hidup, yaitu dengan selalu berharap, bergantung dan bermohon hanya kepada Allah, serta bertakwa kepada-Nya. Inilah hakikat kekuatan.

9) Allah yang Maha Memberi rezeki. Meminta kepada selain-Nya termasuk syirik.

10) Kematian yang baik, yaitu dalam keadaan taat kepada Allah, adalah peristirahatan yang baik untuk seorang Mukmin dari segala kesusahan dunia. Namun kematian yang jelek bisa jadi awal bencana besar untuk seorang hamba, jika Allah tidak mengampuninya.

Wallaahu A’lam.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: http://sofyanruray.info/mengadukan-kesusahan-hanya-kepada-allah-azza-wa-jalla