Posts

BAHAYA ORANG MUNAFIK

BAHAYA ORANG MUNAFIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

BAHAYA ORANG MUNAFIK

Allah lebih banyak mengkhususkan penyebutan orang-orang munafik ketimbang orang Yahudi, karena orang-orang Yahudi tidak pernah menyembunyikan permusuhan, dan selalu menampakkannya. Adapun orang munafik, mereka menyembunyikan permusuhan dan menampakkan perkawanan.

|Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi, Da’i di Saudi yang juga pernah menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. Courtesy @Twit Ulama|

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

, ,

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

NasihatUlama
#TazkiyatunNufus #DakwahTauhid

TAUHID: DI ANTARA SEBAB AMPUNAN ALLAH

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

قال بعض العارفين : من لم يكن ثمرة استغفاره تصحيح توبته فهو كاذب فى استغفاره

“Sebagian orang-orang yang berpengetahuan berkata: ‘Barang siapa yang istighfarnya tidak membuahkan perbaikan terhadap taubatnya, maka dia dusta dalam istighfarnya.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 4]

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

من أسباب المغفرة : التوحيد وهو السبب الأعظم فمن فقده فقد المغفرة .

“Di antara sebab maghfirah (ampunan) adalah Tauhid. Tauhid merupakan sebab terbesar. Barang siapa yang tauhid hilang darinya, maka dia telah kehilangan maghfirah.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 6]

Qatadah rahimahullah berkata:

إن هذا القرآن يدلكم على دائكم ودوائكم فأما داؤكم فالذنوب،وأما دواؤكم فالإستغفار.

“Sesungguhnya Alquran ini menunjukkan kepada kalian, penyakit kalian dan obatnya. Adapun penyakit kalian adalah dosa. Adapun obatnya adalah istighfar.” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

JANGAN BIASAKAN MEMINTA OLEH-OLEH DARI TEMAN YANG BEPERGIAN

JANGAN BIASAKAN MEMINTA OLEH-OLEH DARI TEMAN YANG BEPERGIAN

JANGAN BIASAKAN MEMINTA OLEH-OLEH DARI TEMAN YANG BEPERGIAN

Rasulullah ﷺ melarang seorang Muslim untuk meminta-minta dari orang lain, tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Karena perbuatan meminta-minta merupakan perbuatan menghinakan diri kepada makhluk, dan menunjukkan adanya kecendrungan kepada dunia dan keinginan untuk memerbanyak harta. Dan beliau ﷺ mengabarkan, bahwa barang siapa yang melakukan perbuatan meminta-minta yang hina ini, maka dia akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun yang melekat di wajahnya. Ini sebagai balasan yang setimpal baginya, kareka kurangnya rasa malu dia untuk meminta-minta kepada sesama makhluk.

Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.

“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain, sehingga ia akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya” [Muttafaqun ‘alaihi. HR al-Bukhari (no. 1474) dan Muslim (no. 1040 (103)]

Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ.

“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api” [Shahih. HR Ahmad (IV/165), Ibnu Khuzaimah (no. 2446), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabir (IV/15, no. 3506-3508). Lihat Shahih al-Jami’ish-Shaghir, no. 6281].

Nabi ﷺ pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam:

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barang siapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barang siapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” (HR. Bukhari no. 1472).

Yang dimaksud dengan kedermawanan dirinya, jika dilihat dari sisi orang yang mengambil harta, berarti ia tidak mengambilnya dengan tamak dan tidak meminta-minta (mengemis-ngemis). Sedangkan jika dilihat dari orang yang memberikan harta, maksudnya adalah ia mengeluarkan harta tersebut dengan hati yang lapang. [Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani, 3: 336]

Ringankanlah Orang yang Menjalani Safar, Karena Safar Adalah Potongan dari Azab

Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar adalah bagian dari azab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” [HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927]

“Dikatakan bagian dari azab, karena safar akan meninggalkan segala yang dicintai.” [Fathul Bari, Ibnu Hajar]. Bisa jadi yang dimaksud dicintai ini adalah keluarga yang ia cintai, rumah yang nyaman, ibadah yang teratur, dan lain-lain. Sedang setiap perjalanan tidak ada jaminan akan bisa kembali, lalu mengapa kita bebani dengan titipan dan amanah yang membebani?

Sekadar tips buat yang bersafar, untuk menjaga saudara kita dari meminta, jika ada  berkelebihan rezeki, akan lebih indah jika kita memberi sedikit oleh-oleh, karena tangan di atas lebih mulia. Dan tips untuk yang menerima oleh-oleh, bersyukurlah atas setiap bentuk rezeki yang didapat, karena dengan bersyukur kita akan semakin mendapat nikmat yang banyak.

Wallahu a’lam bish showab.

Oleh: Ernydar Irfan

,

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR SECARA BERJAMAAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

#StopBid‘ah

APAKAH INI SHAHIH, DOA DAN ZIKIR  SECARA BERJAMAAH?

  • Apakah ada tuntunannya dari Nabi ﷺ?
  • Bila tidak ada, apakah kita boleh melakukannya?
  • Cukupkan dengan apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi ﷺ, tidak dikurangi atapun ditambah.

Pertanyaan:

Sekarang banyak sekali kaum Muslimin berdoa dan zikir bersama, baik itu untuk keluarganya, kaum Muslimin, bahkan untuk pemimpin. Adakah secara sunnah yang benar, amalan-amalan tersebut?

Jawaban:

Berdoa bersama, kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa, sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada dua keadaan:

Pertama:

Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan, seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua:

Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Alquran dll, maka ini boleh, jika dilakukan kadang-kadang, dan tanpa kesengajaan. Namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”

Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya, jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “Jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

Adapun zikir bersama, dipimpin oleh seseorang, kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama, maka ini termasuk bid’ah, TIDAK ADA DALILNYA dan TIDAK DIAMALKAN PARA SALAF. Bahkan mereka mengingkari zikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas’ud, ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ … وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟

“Apa yang kalian lakukan?! Celaka kalian wahai ummat Muhammad. Betapa cepatnya kebinasaan kalian. Para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad? Atau kalian sedang membuka pintu kesesatan? (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)

Berkata Asy-Syathiby rahimahullah:

فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد

“Jika syariat telah menganjurkan untuk zikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (zikrullah) dengan satu lisan dan satu suara, atau pada waktu tertentu yang khusus, maka tidak ada di dalam anjuran syariat, yang menunjukkan pengkhususan ini. Justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya. Karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat, akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid.” (Al-I’tisham 2/190)

Wallahu a’lam.

Penulis: Al-Ustadz Abdullah Roy, Lc hafizhahullah

Sumber:

tanyajawabagamaislam.blogspot.com

https://konsultasisyariah.com/805-apa-hukum-doa-dan-zikir-secara-berjamaah.html

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahTafsir

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

Allah ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu, beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

يرفع الله المؤمن العالم على المؤمن غير العالم ورفعة الدرجات تدل على الفضل إذ المراد به كثرة الثواب وبها ترتفع الدرجات ورفعتها تشمل المعنوية في الدنيا بعلو المنزلة وحسن الصيت والحسية في الآخرة بعلو المنزلة في الجنة

1) Allah mengangkat derajat seorang Mukmin yang berilmu, melebihi mukmin yang tidak berilmu.

2) Terangkatnya derajat menunjukkan keutamaan, yaitu banyaknya pahala, yang dengan itu terangkatlah derajat.

3) Ketinggian derajat mencakup ‘Maknawiyah’ di dunia, seperti kedudukan yang tinggi dan disebut dengan kebaikan, dan juga mencakup ‘Hissiyah’ di Akhirat, yaitu kedudukan yang tinggi di Surga [Fathul Baari, 1/141].

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1912613408971461

JAUHI BURUK SANGKA

JAUHI BURUK SANGKA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

JAUHI BURUK SANGKA

Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya.

Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut Su`u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain. Padahal Su`u zhan kepada sesama kaum Muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang. Demikian jelas ayatnya dalam Alquranil Karim, Allah ﷻ berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan), karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Dalam ayat di atas, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka, dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang dibangun di atas suatu qarinah (tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut) tidaklah terlarang. Hal itu merupakan tabiat manusia. Bila ia mendapatkan qarinah yang kuat, maka timbullah zhannya, apakah zhan yang baik ataupun yang tidak baik. Yang namanya manusia memang mau tidak mau akan tunduk menuruti qarinah yang ada. Yang seperti ini tidak apa-apa. Yang terlarang adalah berprasangka semata-mata tanpa ada qarinah. Inilah zhan yang diperingatkan oleh Nabi ﷺ dan dinyatakan oleh beliau ﷺ sebagai pembicaraan yang paling dusta (Syarhu Riyadhis Shalihin, 3/191).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah ﷻ berfirman melarang hamba-hamba-Nya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa yang murni. Maka jauhilah kebanyakan dari persangkaan tersebut dalam rangka kehati-hatian. Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Janganlah sekali-kali engkau berprasangka, kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang Mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadis Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan), karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.”

Beliau ﷺ mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan, bila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian. Akan tetapi Dia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

Zhan yang disebutkan dalam hadis di atas dan juga di dalam ayat, kata ulama kita, adalah tuhmah (tuduhan). Zhan yang diperingatkan dan dilarang adalah tuhmah tanpa ada sebabnya. Seperti seseorang yang dituduh berbuat fahisyah (zina) atau dituduh minum khamr, padahal tidak tampak darinya tanda-tanda yang mengharuskan dilemparkannya tuduhan tersebut kepada dirinya. Dengan demikian, bila tidak ada tanda-tanda yang benar dan sebab yang zahir (tampak), maka haram berzhan yang jelek. Terlebih lagi kepada orang yang keadaannya tertutup dan yang tampak darinya hanyalah kebaikan/kesalehan. Beda halnya dengan seseorang yang terkenal di kalangan manusia sebagai orang yang tidak baik, suka terang-terangan berbuat maksiat, atau melakukan hal-hal yang mendatangkan kecurigaan, seperti keluar masuk ke tempat penjualan khamr, berteman dengan para wanita penghibur yang fajir, suka melihat perkara yang haram dan sebagainya. Orang yang keadaannya seperti ini tidaklah terlarang untuk berburuk sangka kepadanya (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 16/217, Ruhul Ma’ani 13/219).

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dari mayoritas ulama, dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa zhan yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhan yang jelek kepada orang yang zahirnya jelek (Al Jami’ li Ahkamil Qur`an, 16/218).

Karenanya, Ibnu Hubairah Al-Wazir Al-Hanbali berkata: “Demi Allah, tidak halal berbaik sangka kepada orang yang menolak kebenaran, tidak pula kepada orang yang menyelisihi syariat.” (Al-Adabus Syar’iyyah, 1/70)

Dari hadis:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata menjelaskan ucapan Al-Khaththabi tentang zhan yang dilarang dalam hadis ini: “Zhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadis, bahwa Allah ﷻ memaafkan umat ini, dari apa yang terlintas di hatinya, selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja.” (Al-Minhaj, 16/335). Lafal hadis yang dimaksud adalah:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِإُمَّتِي مَا حَدَثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَـمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْمَلُوْا بِهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka, selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.”  (HR. Bukhari no. 2528 dan Muslim no. 327)

Sufyan rahimahullahu berkata: “Zhan yang mendatangkan dosa adalah bila seseorang berzhan dan ia membicarakannya. Bila ia diam/menyimpannya dan tidak membicarakannya, maka ia tidak berdosa.”

Dimungkinkan pula kata Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu, bahwa zhan yang dilarang adalah zhan yang murni /tidak beralasan, tidak dibangun di atas asas dan tidak didukung dengan bukti. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa`id Muslim, 8/28)

Kepada seorang Muslim yang secara zahir baik agamanya, serta menjaga kehormatannya, tidaklah pantas kita berzhan buruk. Bila sampai pada kita berita yang “miring” tentangnya, maka tidak ada yang sepantasnya kita lakukan, kecuali tetap berbaik sangka kepadanya. Karena itu, tatkala terjadi peristiwa Ifk di masa Nubuwwah, di mana orang-orang munafik menyebarkan fitnah berupa berita dusta, bahwa istri Rasulullah ﷺ yang mulia, shalihah, dan thahirah (suci dari perbuatan nista) Aisyah radhiyallahu ‘anha berzina, wal’iyadzubillah, dengan sahabat yang mulia Shafwan ibnu Mu’aththal radhiyallahu ‘anhu, Allah ﷻ mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar tetap berprasangka baik, dan tidak ikut-ikutan dengan munafikin menyebarkan kedustaan tersebut. Dalam Tanzil-Nya, Dia ﷻ berfirman:

لَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang Mukmin dan Mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan mengapa mereka tidak berkata: ‘Ini adalah sebuah berita bohong yang nyata’.” (An-Nur: 12)

Dalam Alquranul Karim, Allah ﷻ mencela orang-orang Badui yang takut berperang ketika mereka diajak untuk keluar bersama pasukan mujahidin yang dipimpin oleh Rasulullah ﷺ. Orang-orang Badui ini dihinggapi dengan zhan yang jelek.

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ اْلأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا

“Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: ‘Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.’ Mereka mengucapkan dengan lidah mereka, apa yang tidak ada di dalam hati mereka. Katakanlah: “Maka siapakah gerangan yang dapat menghalangi-halangi kehendak Allah, jika Dia menghendaki kemudaratan bagi kalian, atau jika Dia menghendaki manfaat bagi kalian. Bahkan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Tetapi kalian menyangka, bahwa Rasul dan orang-orang yang beriman sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya, dan setan telah menjadikan kalian memandang baik dalam hati kalian persangkaan tersebut. Dan kalian telah menyangka dengan sangkaan yang buruk, kalian pun menjadi kaum yang binasa.” (Al-Fath: 11-12)

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Sumber:

http://asysyariah.com/print.php?id_online=695

http://www.darussalaf.or.id/Muslimah/jauhi-buruk-sangka/?fdx_switcher=true

 

 

KEUTAMAAN BERAMAL SALEH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Sholat yang lima waktu, sholat Jumat sampai Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan sampai Ramadan berikutnya, adalah penghapus-penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa besar tidak dilakukan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hadis yang mulia ini menunjukkan keutamaan beramal saleh dan menjauhi dosa-dosa besar, yaitu mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kecil.

Dan sungguh seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah ‘azza wa jalla dari dosa-dosa besar maupun kecil. Karena dosa-dosa kecil sekali pun, jika terus dilakukan, maka akan menjadi besar dan membinasakan pelakunya.

Namun untuk mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besar harus dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

قال جمهور أهل العلم: إن أداء الفرائض وترك الكبائر يكفر السيئات الصغائر، أما الكبائر فلا يكفرها إلا التوبة إلى الله سبحانه وتعالى

“Jumhur ulama berkata: Sesungguhnya mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]

Dan taubat yang benar adalah dengan memenuhi enam syarat taubat:
1. Ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla.
2. Menyesali dosanya.
3. Meninggalkannya.
4. Bertekad tidak akan melakukannya lagi di masa yang akan datang.
5. Sebelum habis waktunya, yaitu sebelum datangnya kematian atau sebelum terbitnya matahari dari arah Barat.
6. Jika dosa itu adalah kesalahan kepada orang lain, maka harus meminta maaf atau mengembalikan haknya.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1919002844999184:0

,

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

#KaidahFikih

KAIDAH: PERINTAH LEBIH BESAR DARIPADA LARANGAN

الْمَأْمُوْرُ بِهِ أَعْظَمُ مِنَ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ

Kaidah: Perintah lebih besar daripada larangan

Makna Kaidah

Kaidah ini termasuk kaidah yang besar di sisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan termasuk patokan pokok dalam metode fikihnya. Hal ini nampak dari banyaknya tarjih dan ikhtiyar beliau yang dikaitkan dengan kaidah ini dan kaidah-kaidah lain yang menjadi cabangnya.

Kaidah ini menjelaskan, bahwa perhatian syariat terhadap perkara yang diperintahkan, lebih besar dan lebih kuat, daripada perhatiannya terhadap perkara yang dilarang. Sebagaimana dikatakan oleh Syaihul Islam Ibnu Taimiyah:

“Sesungguhnya jenis mengerjakan perintah itu lebih besar daripada jenis meninggalkan larangan. Dan jenis meninggalkan perintah lebih besar daripada jenis mengerjakan larangan. Dan sesungguhnya pahala bani Adam karena mengerjakan kewajiban lebih besar daripada pahala yang diraihnya karena meninggalkan perkara yang haram. Dan dosa meninggalkan perintah lebih besar daripada dosa mengerjakan larangan.” [Majmu’ al-Fatawa, 20/85].

Karena perintah lebih besar daripada larangan, baik ditinjau dari jenisnya, pahalanya, maupun dosanya. Maka ini menunjukkan, bahwa perhatian syariat terhadap perkara yang diperintahkan lebih besar daripada perhatiannya terhadap perkara yang dilarang.

Ada beberapa kaidah lain yang menjadi cabang dan turunan dari kaidah ini. Semuanya semakin memerjelas dan menguatkan, bahwa tingkat keutamaan dalam perintah lebih besar daripada yang ada dalam larangan [Lihat pula pembahasan tentang kaidah ini dalam al-Qawa’id wa al-Fawa’id al-Ushuliyyah, Ibnu al-Lahham, hlm. 191; Fath al-Bari, Ibnu Hajar, 13/262. Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab, hlm. 83-84. Fath al-Mubin li Syarh al-Arba’in, Ibnu Hajar al-Haitsami, hlm. 132-133. Al-Bahr al-Muhith, az-Zarkasyi, 1/274].

Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah:

Kaidah Pertama:

اْلأُمُوْرُ الْمَنْهِيُّ عَنْهَا يُعْفَى فِيْهَا عَنِ النَّاسِي وَالْمُخْطِئِ

Perkara-perkara yang terlarang, pelakunya dimaafkan jika dilakukan oleh orang yang lupa atau tersalah

Misalnya seseorang yang makan atau minum ketika berpuasa karena lupa, maka ia dimaafkan dan puasanya tidak batal. Demikian pula seseorang yang memakai minyak wangi, atau memakai penutup kepala, atau memotong kukunya ketika dalam keadaan ihram karena lupa atau tersalah, maka ia tidak berdosa, dan tidak ada kewajiban membayar fidyah, karena seseorang yang mengerjakan larangan karena lupa atau tersalah maka dimaafkan.

Ini berkaitan dengan larangan. Adapun perkara yang diperintahkan, maka kewajiban pelaksanaannya tidak gugur dari orang yang lupa atau tersalah, bahkan tetap wajib untuk dikerjakan.

Kaidah Kedua:

مَا كَانَ مَنْهِيًّا عَنْهُ لِلذَّرِيْعَةِ فَإِنَّهُ يُفْعَلُ لِلْمَصْلَحَةِ الرَّاجِحَةِ

Perkara yang dilarang dalam rangka preventif boleh dikerjakan saat ada maslahat yang lebih kuat

Seperti haramnya seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahramnya. Larangan tersebut ada, karena hal itu bisa menjadi sarana yang mengantarkan kepada fitnah atau sarana perzinaan. Namun jika ada maslahat yang lebih kuat, maka adakalanya hal tersebut diperbolehkan. Seperti seorang laki-laki yang ingin menikahi wanita, maka diperbolehkan baginya untuik melihat wajah si wanita. Atau seorang dokter yang perlu melihat anggota badan pasien wanita dalam rangka pengobatan.

Demikian pula haramnya shalat di waktu-waktu larangan. Pengharaman tersebut ada, karena bisa menjadi sarana yang mengantarkan pada tasyabbuh (menyerupai) ibadah orang-orang kafir yang sujud kepada matahari. Namun jika ada maslahat yang lebih kuat, maka shalat di waktu tersebut diperbolehkan, seperti mengqadha’ shalat wajib yang terlewat, shalat jenazah, dan shalat-shalat lainnya yang memiliki sebab menurut pendapat yang kuat [Lihat pula pembahasan tentang kaidah cabang ini dalam Syarh Manzhumah Ushul al-Fiqh wa Qawi’idihi, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Cet. I, Tahun 1426 H, Dar Ibni al-Jauzi, Damam, hlm. 64-67].

Dalil Yang Mendasarinya

Berkaitan dengan kaidah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan beberapa bentuk pendalilan yang sangat bagus. Beliau rahimahullah menyebutkan, tidak kurang dari dua puluh dua pendalilan. Adapun yang paling kuat di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Sesungguhnya perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pertama kali adalah dilakukan oleh nenek moyang jin (iblis) dan nenek moyang manusia (Adam). Dalam hal ini, kemaksiatan yang dilakukan oleh iblis lebih awal dan lebih besar. Kemaksiatan tersebut berupa PENOLAKAN iblis dari melaksanakan PERINTAH Allah Azza wa Jalla berupa sujud kepada Adam. Ini termasuk kategori meninggalkan perintah. Adapun yang dilakukan oleh Adam, yaitu memakan dari pohon di Surga. Ini termasuk kategori MENGERJAKAN LARANGAN. Dari dua jenis tersebut, ternyata kadar dosa Adam lebih ringan. Dari sini dapat diketahui, bahwa jenis meninggalkan perintah itu lebih besar daripada jenis mengerjakan larangan.

Demikian pula, bentuk pelanggaran yang dilakukan iblis tersebut ternyata berupa dosa besar, sekaligus kekufuran yang tidak diampuni. Sedangkan pelanggaran yang dilakukan oleh Adam berupa kesalahan yang lebih ringan, dan diberikan ampunan darinya. Sebagaimana firman-Nya:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al –Baqarah/2:37]

Lima rukun Islam merupakan amalan-amalan yang masuk kategori perkara yang diperintahkan. Apabila seseorang meninggalkannya, maka banyak dari kalangan Ulama yang mewajibkan hukuman bunuh bagi pelakunya. Bahkan adakalanya dihukumi sebagai seorang yang kafir, keluar dari agama Islam. Di antaranya, apabila seseorang tidak mau mengucapkan Dua Kalimat Syahadat padahal ia mampu mengucapkannya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:, “Adapun Dua Kalimat Syahadat, apabila seseorang tidak mengucapkannya padahal ia mampu, maka ia adalah orang kafir berdasarkan kesepakatan kaum  Muslimin.” (Majmu’ al-Fatawa, 7/609). (Lihat  at-Takfir wa Dhawabithuhu, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhailiy, Dar al-Imam Ahmad, hlm. 229)

Adapun mengerjakan larangan yang madharatnya tidak menyebar kepada orang lain, maka para ulama tidak mewajibkan hukuman bunuh atas pelakunya, dan tidak pula dihukumi kufur, asalkan perkara tersebut tidak membatalkan keimanan. Dari sini dapat diketahui, bahwa meninggalkan perintah perkaranya lebih besar daripada mengerjakan larangan.

Sesungguhnya maksud dari adanya larangan, adalah supaya perkara yang dilarang itu tidak ada, yaitu tidak dikerjakan. Sedangkan Al ‘Adam (Ketidakadaan) itu secara asal tidak ada unsur kebaikan di dalamnya. Adapun perkara yang diperintahkan itu adalah sesuatu yang maujud (dituntut keberadaannya). Dan perkara yang maujud asalnya merupakan perkara yang baik, bermanfaat, dan dicari. Bahkan merupakan suatu kepastian, bahwa setiap yang ada  pasti ada manfaatnya. Karena setiap yang ada itu telah diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla , dan Dia tidak menciptakan sesuatu pun kecuali dengan hikmah. Berbeda dengan sesuatu yang ma’dum (tidak ada) yang tidak ada sesuatu pun di dalamnya. Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya. [as-Sajdah/32:7]

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ

(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. [an-Naml/27:88]

Dengan demikian dapat kita ketahui, bahwa apa yang terkandung di dalam perintah itu lebih sempurna dan lebih mulia, daripada apa yang ada dalam larangan.

Contoh Penerapan Kaidah

Di antara contoh implementasi kaidah ini adalah sebagai berikut:

Perkara-perkara yang diperintahkan tidaklah gugur karena nisyan (lupa) atau jahl (tidak tahu). Adapun perkara-perkara yang dilarang, maka gugur (dimaafkan) jika seseorang lupa atau tidak tahu [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 21/477].

Jika seseorang meninggalkan perkara yang diperintahkan maka ada kewajiban mengqadha’ (menggantinya), meskipun ia meninggalkannya karena uzur. Seperti seseorang yang meninggalkan puasa karena sakit atau safar, dan orang yang meninggalkan shalat karena tertidur, maka wajib untuk mengqadha’nya. Demikian pula orang yang meninggalkan salah satu kewajiban dalam manasik haji maka tetap wajib mengerjakannya jika masih memungkinkan atau dengan membayar dam. Maka tidaklah gugur tuntutan dalam perintah tersebut sampai ia mengerjakannya.

Adapun orang yang mengerjakan perkara yang dilarang karena lupa, tersalah, tertidur, atau tidak tahu, maka ia dimaafkan. Dan tidak ada kewajiban baginya untuk membayar ganti rugi, kecuali jika hal itu mengakibatkan kerusakan atau kerugian bagi orang lain [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 20/95].

Dipersyaratkan adanya niat untuk mengerjakan perkara-perkara yang diperintahkan, seperti shalat, puasa, haji, dan semisalnya [Lihat Majmu’ al-Fatawa, 21/477]. Adapun perkara-perkara yang dilarang maka tidak dipersyaratkan adanya niat untuk meninggalkannya, seperti menghilangkan najis, meninggalkan zina, meninggalkan pencurian, dan semisalnya [Diangkat dari kitab al-Qawa’id wa adh-Dhawabith al-Fiqhiyyah ‘inda Ibni Taimiyyah fi Kitabai at-Thaharah wa as-Shalah, Nashir bin ‘Abdillah al-Miman, Cet. II, Tahun 1426 H/2005 M, Jami’ah Ummul Qura, Makkah al-Mukarramah, hlm. 199-202].

Wallahu a’lam.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4385-kaidah-ke-55-perintah-lebih-besar-daripada-larangan.html

DALIL-DALIL HARAMNYA HUKUM TASHWIR (MENGGAMBAR)

DALIL-DALIL HARAMNYA HUKUM TASHWIR (MENGGAMBAR)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

DALIL-DALIL HARAMNYA HUKUM TASHWIR (MENGGAMBAR)

Berikut ini adalah di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang haramnya tashwir (menggambar):

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,  ia berkata: Saya mendengar Nabi  ﷺ bersabda:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا بَعُوضَةً أَوْ لِيَخْلُقُوا ذَرَّةً

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berkehendak mencipta seperti ciptaan-Ku? Coba mereka menciptakan lalat atau semut kecil (jika mereka memang mampu)!” (HR. Bukhari no. 5953 dan Muslim no. 2111, juga Ahmad 2: 259, dan ini adalah lafalnya)

Juga dari Abu Hurairah dalam riwayat lain disebutkan:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِى ، فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً ، أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ شَعِيرَةً

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku. Coba mereka menciptakan semut kecil, biji atau gandum (jika mereka memang mampu)! ” (HR. Bukhari no. 7559)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada Hari Kiamat adalah tukang gambar.” (HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada Hari Kiamat. Akan dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَوَّرَ صُورَةً عُذِّبَ حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا

“Barang siapa yang membuat gambar, ia akan disiksa hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Namun kenyataannya ia tidak bisa meniupnya.” (HR. An Nasai no. 5359 dan Ahmad 1: 216. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dalam hadis ini dibedakan antara gambar hewan (yang memiliki ruh, pen) dan bukan hewan. Hal ini mengandung pelajaran, bahwa boleh saja menggambar pohon dan benda logam di baju atau kain, dan menggambar yang lain (yang tidak memiliki ruh, pen).” (Majmu’ Al Fatawa, 29: 370)

Dalam hadis berikut juga menunjukkan, bahwa jika kepala dihapus dari gambar, maka gambarnya tidak jadi bermasalah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

اسْتَأْذَنَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلام عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : « ادْخُلْ » . فَقَالَ : « كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ فَإِمَّا أَنْ تُقْطَعَ رُؤوسُهَا أَوْ تُجْعَلَ بِسَاطًا يُوطَأُ فَإِنَّا مَعْشَرَ الْمَلائِكَةِ لا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ

“Jibril ‘alaihis salam meminta izin kepada Nabi, maka Nabi ﷺ bersabda: “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab: “Bagaimana saya mau masuk, sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya, atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah, yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. An-Nasai no. 5365. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ bersabda:

اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ

“Gambar itu adalah kepala. Jika kepalanya dihilangkan, maka tidak lagi disebut gambar.” (HR. Al-Baihaqi 7/270. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini shahih dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 1921)

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/2140-hukum-mengambil-foto-dengan-kamera.html

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

Di zaman ini banyak orang Kristen menyebarkan agama mereka ke berbagai pelosok dunia. Mereka menisbatkan agama mereka kepada Nabi Isa bin Maryam , yang mereka menyebutnya dengan Yesus. Padahal Nabi Isa bin Maryam HANYA DIUTUS kepada Bani Israel saja. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَاءِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. [QS. Ash-Shoff (61): 6]

Kesaksian Ayat Bibel

Dan ternyata kita masih mendapatkan di antara ayat-ayat Bibel (Kitab yang dianggap suci oleh orang-orang Nasrani) menjelaskan dengan tegas, bahwa Nabi Isa (yang mereka sebut Yesus) hanya diutus kepada Bani Israel saja. Marilah kita perhatikan ayat-ayat di dalam kitab mereka:

1- Disebutkan di dalam Bibel: “Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Matius 15: 24)

2- Disebutkan di dalam Bibel: “Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain, atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Matius 10: 6)

Walaupun ayat-ayat Bibel di atas begitu jelas menyatakan, bahwa ajaran Kristen hanya untuk Bani Israel, namun pengikut-pengikut Kristen begitu giat menyebarkan agamanya kepada semua bangsa, termasuk di Indonesia. Bahkan sampai ke berbagai pelosok yang tidak ada orang Bani Israel di sana! Maka apakah manfaat bangsa selain Bani Israel yang mengikuti agama Kristen, yang pembawa agama itu telah menegaskan, bahwa agamanya hanya untuk umat Israel?!

Atau mungkin mereka berpegang ayat lain pada kitab mereka yang memerintahkan untuk menyebarkan agama Kristen kepada seluruh bangsa. Ayat itu berbunyi: “Karena itu pergilah. Jadikanlah semua bangsa muridku, dan baptiskan mereka dalam nama Bapa dan anak dan Roh Kudus”. (Matius 28:19)

Ini berarti ayat ini bertentangan dengan ayat-ayat di atasnya! Maka manakah yang benar? Yang pasti, bahwa tidak ada jaminan kebenaran terhadap semua isi kitab Bibel. Bahkan bukti-bukti menunjukkan banyak ayat yang dipalsukan. Maha Benar Allah ta’ala yang telah berfirman di dalam Kitab Suci Alquran:

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka (Ahli Kitab) mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya, setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? [QS. Al-Baqoroh (2): 75]

Dan Allah mengancam dengan keras terhadap orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, dengan firman-Nya:

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلُُلَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memeroleh keuntungan yang sedikit (yakni kesenangan duniawi-pen) dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang telah mereka tulis dengan tangan-tangan mereka, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqoroh (2): 79]

 

– Semoga Allah selalu menetapkan kita di atas jalan yang lurus. –

 

Penulis: Ustadz Muslim Atsari

[Muslim.or.id]