Posts

, ,

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

>> Benarkah Syaikh Al-Bani Fatwakan Rakyat Palestina Harus Keluar (Hijrah) dari Negaranya?

Fatwa ini sangat bikin heboh. Perhatikan ucapan sebagian mereka: “Sebagian pakar menganggap Fatwa al-Albani ini membuktikan, bahwa logika yang dipakai al-Albani adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, karena Fatwa ini sangat menguntungkan orang-orang yang berambisi menguasai Palestina. Mereka menilai Fatwa al-Albani ini menyalahi Sunnah, dan sampai pada tingkatan pikun. Bahkan Dr. Ali al-Fuqayyir, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Yordania menilai, bahwa Fatwa ini keluar dari Setan“. [Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU.. hlm. 244].

Faidah: Para penulis buku “Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU…” dalam hujatan mereka terhadap al-Albani banyak berpedoman kepada buku “Fatawa Syaikh al-Albani wa Muqoronatuha bi Fatawa Ulama” karya Ukasyah Abdul Mannan. Padahal buku ini telah diingkari sendiri oleh Syaikh al-Albani secara keras, sebagaimana diceritakan oleh murid-murid beliau seperti Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dan Syaikh Salim al-Hilali. (Lihat Fatawa Ulama Akabir Abdul Malik al-Jazairi hlm. 106 dan Shofahat Baidho’ Min Hayati Imamil Al-Albani Syaikh Abu Asma’ hlm. 88).

Dengan demikian, jatuhlah nilai hujatan mereka terhadap al-Albani dari akarnya. Alhamdulillah.

Untuk menjawab masalah ini, maka kami akan menjelaskan duduk permasalahan Fatwa Syaikh al-Albani tentang masalah Palestina ini dalam beberapa poin berikut [Lihat As-Salafiyyun wa Qodhiyyatu Falestina hal. 14-37. Lihat pula Silsilah Ahadits ash-Shohihah no. 2857, Madha Yanqimuna Minas Syaikh, Muhammad Ibrahim Syaqroh hlm. 21-24, al-Fashlul Mubin fi Masalatil Hijrah wa Mufaroqotil Musyirikin, Husain al-Awaisyah, Majalah Al-Asholah edisi 7/Th. II, Rabiu Tsani 1414 H]:

  1. Hijrah dan jihad terus berlanjut hingga Hari Kiamat tiba.
  2. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu.
  3. Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, yaitu Mekkah.
  4. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang Muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu untuk menampakkan hukum-hukum syari yang dibebankan Allah kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya sehingga menjadikannya murtad dari agama.

>> Inilah inti Fatwa Syaikh al-Albani yang seringkali disembunyikan!!

Imam Nawawi berkata dalam Roudhatut Tholibin 10/282:

“Apabila seorang Muslim merasa lemah di Negara kafir, dia tidak mampu untuk menampakkan agama Allah, maka haram baginya untuk tinggal di tempat tersebut, dan wajib baginya untuk hijrah ke negeri Islam…”.

  1. Apabila seorang Muslim menjumpai tempat terdekat dari tempat tinggalnya untuk menjaga dirinya, agamanya dan keluarganya, maka hendaknya dia hijrah ke tempat tersebut, tanpa harus ke luar negerinya. Karena hal itu lebih mudah baginya untuk kembali ke kampung halaman bila fitnah telah selesai.
  2. Hijrah sebagaimana disyariatkan dari Negara ke Negara lainnya, demikian juga dari kota ke kota lainnya atau desa ke desa lainnya yang masih dalam negeri.

Poin ini juga banyak dilalaikan oleh para pendengki tersebut, sehingga mereka berkoar di atas mimbar dan menulis di koran-koran, bahwa Syaikh al-Albani memerintahkan penduduk Palestina untuk keluar darinya!!! Demikian, tanpa perincian dan penjelasan!!!

  1. Tujuan hijrah adalah untuk memersiapkan kekuatan untuk melawan musuh-musuh Islam, dan mengembalikan hukum Islam seperti sebelumnya.
  2. Semua ini apabila ada kemampuan. Apabila seorang Muslim tidak mendapati tanah untuk menjaga diri dan agamanya, kecuali tanah tempat tinggalnya tersebut, atau ada halangan-halangan yang menyebabkan dia tidak bisa hijrah, atau dia menimbang bahwa tempat yang akan dia hijrah ke sana sama saja, atau dia yakin bahwa keberadaannya di tempatnya lebih aman untuk agama, diri dan keluarganya, atau tidak ada tempat hijrah kecuali ke negeri kafir juga, atau keberadaannya untuk tetap di tempat tinggalnya lebih membawa maslahat yang lebih besar, baik maslahat untuk umat atau untuk mendakwahi musuh, dan dia tidak khawatir terhadap agama dan dirinya, maka dalam keadaan seperti ini hendaknya dia tetap tinggal di tempat tinggalnya. Semoga dia mendapatkan pahala hijrah. Imam Nawawi berkata dalam Roudhah 10/282: “Apabila dia tidak mampu untuk hijrah, maka dia diberi uzur sampai dia mampu“.

Demikian juga dalam kasus Palestina secara khusus, Syaikh al-Albani mengatakan: “Apakah di Palestina ada sebuah desa atau kota yang bisa dijadikan tempat untuk tinggal dan menjaga agama dan aman dari fitnah mereka?! Kalau memang ada, maka hendaknya mereka hijrah ke sana, dan tidak keluar dari Palestina. Karena hijrah dalam negeri adalah mampu dan memenuhi tujuan”.

Demikianlah perincian Syaikh al-Albani. Lantas apakah setelah itu kemudian dikatakan, bahwa beliau berfatwa untuk mengosongkan tanah Palestina atau untuk menguntungkan Yahudi?!! Diamlah wahai para pencela dan pendeki, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kejahilan dan kezaliman kalian!!

  1. Hendaknya seorang Muslim meyakini, bahwa menjaga agama dan akidah lebih utama daripada menjaga jiwa dan tanah.
  2. Anggaplah Syaikh al-Albani keliru dalam Fatwa ini. Apakah kemudian harus dicaci maki dan divonis dengan sembrangan kata?!! Bukankah beliau telah berijtihad dengan ilmu, hujjah dan kaidah?!! Bukankah seorang ulama apabila berijtihad, dia dapat dua pahala dan satu pahala bila dia salah?! Lantas, seperti inikah balasan yang beliau terima?!!
  3. Syaikh Zuhair Syawisy mengatakan dalam tulisannya yang dimuat dalam Majalah Al Furqon, edisi 115, hlm. 19, bahwa Syaikh al-Albani telah bersiap-siap untuk melawan Yahudi. Hampir saja beliau sampai ke Palestina, tetapi ada larangan pemerintah untuk para mujahidin”.

Syaikh al-Albani sampai ke Palestina pada 1948 dan beliau shalat di Masjidil Aqsho dan kembali sebagai pembimbing pasukan Saudi yang tersesat di jalan. Lihat kisah selengkapnya dalam bukunya berjudul “Rihlatii Ila Nejed”. (perjalananku ke Nejed).

 

Sumber: http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/

,

MENJAGA SUNNAH ITU DENGAN…

MENJAGA SUNNAH ITU DENGAN...

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

MENJAGA SUNNAH ITU DENGAN…

Berkata Al-Alamah Ibnu Utsaimin رحمه الله :
“Menjaga sunnah itu dengan membelanya, dan membantah syubhat-syubhat Ahli Bid’ah.” [Al-Fatawa (2/143)].

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

,

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#FaidahTafsir

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [An-Nur: 30]

“Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [An-Nur: 31]

#BEBERAPA_PELAJARAN:

1) Larangan bagi kaum yang memiliki iman, laki-laki maupun perempuan, untuk melihat yang diharamkan, yaitu:

  • Aurat sesama jenis,
  • Lawan jenis yang bukan mahram,
  • Anak laki-laki yang “cantik”, haram bagi laki-laki melihatnya,
  • Orang-orang yang dapat memunculkan fitnah (godaan),
  • Perhiasan dunia yang menggoda dan menjerumuskan dalam dosa.

2) Perintah bagi kaum Mukminin laki-laki dan perempuan untuk menjaga kemaluan, yaitu:

  • Tidak melakukan hubungan badan yang haram, baik melalui jalan depan maupun belakang, atau selain itu,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal berhubungan badan dengannya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal menyentuhnya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal melihatnya.

3) Menjaga pandangan dan kemaluan lebih menyucikan dan memerbaiki diri, karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan Allah gantikan dengan yang lebih baik darinya. Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Barang siapa menahan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan menyinari penglihatan hatinya. Dan karena seorang hamba, apabila ia menjaga kemaluan dan pandangannya dari yang haram dan pengantar-pengantarnya, padahal syahwatnya mendorong untuk melakukannya, maka ia lebih dapat menjaga anggota tubuhnya yang lain dari perbuatan yang haram.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 566]

4) Kata (من) dalam ayat di atas menunjukkan makna “Sebagian”, yaitu sebagian pandangan diharamkan. Berarti ada sebagian pandangan yang dibolehkan, contohnya:

  • Melihat sebagai saksi,
  • Pekerjaan yang mengharuskan untuk melihat lawan jenis (sesuai kadar yang diperlukan),
  • Melamar calon istri, dan lain-lain. Maka dilakukan sebatas kebutuhan tanpa disertai syahwat.

5) Larangan terkait perhiasan dan pakaian wanita:

Pertama: Tidak boleh menampakkan perhiasan wanita (sama saja apakah secara langsung atau melalui foto dan video), yaitu:

  • Pakaian yang indah,
  • Berbagai macam perhiasan yang dikenakan,
  • Seluruh tubuh wanita adalah perhiasan. Dan bukan berarti setelah ditutup lalu boleh diperlihatkan. Tetap saja tidak boleh, baik secara langsung maupun melalui foto dan video. Maka termasuk kesalahan besar sebagian orang yang menjadikan wanita sebagai model pakaian yang diperdagangkan, baik pakaian yang sesuai syariat, apalagi yang tidak sesuai syariat.

Kedua: Diperkecualikan adalah pakaian luar yang memang harus dikenakan wanita dengan syarat tidak menggoda, yaitu kerudung yang menutup dari kepala sampai ke dada, dan jilbab yang menutupi seluruh tubuh, sesuai dengan syarat-syarat pakaian wanita yang disyariatkan.

Ketiga: Kemudian diberikan pengecualian orang yang boleh melihat seluruh perhiasan wanita, yaitu suaminya.

Keempat: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan mahramnya:

  • Bapaknya, kakeknya dan seterusnya ke atas,
  • Anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah,
  • Anak suaminya (anak tiri), cucu suaminya dan seterusnya ke bawah,
  • Saudara kandung; sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja,
  • Keponakan (anak saudara laki sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja),
  • Keponakan (anak saudara perempuan sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja).

Kelima: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan selain mahramnya:

  • Sesama wanita atau maknanya sesama wanita beriman (ada perbedaan pendapat ulama. Yang benar insya Allah adalah sesama wanita, walau kafir, maka batasan auratnya sama).
  • Budak-budak yang dimiliki secara penuh.
  • Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai syahwat sama sekali terhadap wanita, tidak pada kemaluannya, tidak pula hatinya.
  • Anak-anak yang belum mumayyiz, yang belum mengerti tentang aurat wanita, yang tidak muncul syahwatnya tatkala melihat wanita.

Keenam: Ayat yang mulia ini juga menjelaskan batas aurat dan perhiasan wanita saat bersama mahramnya atau sesama wanita, adalah tempat-tempat perhiasannya. Disebutkan dalam fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia:

أما ما يجوز للمرأة أن تبديه من زينتها لمحارمها غير زوجها فهو وجهها وكفاها وخلخالها وقرطاها وأساورها وقلادتها ومواضعها ورأسها وقدماها

“Adapun perhiasan yang dibolehkan bagi wanita untuk menampakkannya kepada mahramnya selain suaminya adalah: Wajahnya, dua telapak tangannya, perhiasan di pergelangan kakinya, gelang tangannya, kalung lehernya, semua anggota tubuh tempat perhiasan tersebut, kepalanya dan dua kakinya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 17/296 no. 2923]

[Disarikan disertai tambahan dari Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiril Kalaamil Mannan karya Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, hal. 566-567]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

,

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL-MUHAJIRIN WAL ANSHAR DEPOK APRIL 2017

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL-MUHAJIRIN WAL ANSHAR DEPOK APRIL 2017

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoDonasi

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL-MUHAJIRIN WAL ANSHAR DEPOK APRIL 2017

Ramadan sebentar lagi tiba. Saatnya kita berbenah untuk menyambutnya,

Di antara ibadah yang sangat agung kepada Allah ta’ala adalah memakmurkan Rumah Allah, sebagaimana Firman Allah:

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir” (At Taubah : 18)

Bentuk memakmurkan masjid bisa pemakmuran secara lahir, maupun batin. Sedangkan pemakmuran masjid secara lahiriah, adalah menjaga fisik dan bangunan masjid, sehingga tetap terjaga kebersihan, kerapihan sehingga menciptakan rasa khusyuk bagi yang beribadah di dalamnya.

Sebagaimana diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan manusia untuk mendirikan bangunan masjid di perkampungan, kemudian memerintahkan untuk membersihkannya dan memberinya wangi-wangian.

(Shohih Ibnu Hibban, Syuaib Al Arnauth mengatakan sanad hadis tersebut Shahih sesuai syarat Bukhari)

Oleh karenanya, kami mengajak kepada seluruh kaum Muslimin untuk bertaawun dalam memakmurkan masjid Al Muhajirin Wal Anshor Depok, khususnya dalam hal pemeliharaan, kebersihan dan perbaikan fasilitas masjid.

Kebutuhan dana diperkirakan sekitar 75 juta Rupiah, yang akan digunakan untuk kebutuhan pengecatan ulang, renovasi kebocoran atap, perbaikan kerusakan toilet, dll

Bagi yang ingin bertaawun bisa melalui:

  • Rekening Bank Mandiri
  • Nama Rekening: DKM Al Muhajirin Wal Anshor
  • Nomer Rekening: 1570003425148

Dengan menambah digit 1 di belakangnya (contoh Rp 100.001)

Konfirmasi:

WhatsApp/SMS: 08989900101

Jazakumullahu Khoiron

, , ,

MEWASPADAI ‘FITNAH’ LAWAN JENIS WALAU SEDANG BERIBADAH

MEWASPADAI 'FITNAH' LAWAN JENIS WALAU SEDANG BERIBADAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#FatwaUlama

MEWASPADAI ‘FITNAH’ LAWAN JENIS WALAU SEDANG BERIBADAH

Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

وكان النساء في عهد النبي صلى الله عليه وسلم لا يختلطن بالرجال لا في المساجد ولا في الأسواق الاختلاط الذي ينهى عنه المصلحون اليوم ويرشد القرآن والسنة وعلماء الأمة إلى التحذير منه حذرا من فتنته، بل كان النساء في مسجده صلى الله عليه وسلم يصلين خلف الرجال في صفوف متأخرة عن الرجال وكان يقول صلى الله عليه وسلم: «خير صفوف الرجال أولها وشرها آخرها وخير صفوف النساء آخرها وشرها أولها» حذرا من افتتان آخر صفوف الرجال بأول صفوف النساء، وكان الرجال في عهده صلى الله عليه وسلم يؤمرون بالتريث في الانصراف حتى يمضي النساء ويخرجن من المسجد لئلا يختلط بهن الرجال في أبواب المساجد مع ما هم عليه جميعا رجالا ونساء من الإيمان والتقوى فكيف بحال من بعدهم، وكانت النساء ينهين أن يتحققن الطريق ويؤمرن بلزوم حافات الطريق حذرا من الاحتكاك بالرجال والفتنة بمماسة بعضهم بعضا عند السير في الطريق وأمر الله سبحانه نساء المؤمنين أن يدنين عليهن من جلابيبهن حتى يغطين بها زينتهن حذرا من الفتنة بهن، ونهاهن سبحانه عن إبداء زينتهن لغير من سمى الله سبحانه في كتابه العظيم حسما لأسباب الفتنة وترغيبا في أسباب العفة والبعد عن مظاهر الفساد والاختلاط

Dahulu, wanita di masa Nabi ﷺ tidak bercampur baur (ihktilat) dengan kaum lelaki. Tidak di masjid-masjid, tidak pula di pasar-pasar, seperti campur baur di hari ini yang telah dilarang oleh orang-orang yang melakukan perbaikan.

Alquran dan As-Sunnah serta para ulama umat membimbing untuk men-tahdzir dari perbuatan tersebut, demi menghindari ‘fitnah’ (godaan antara lawan jenis).

Bahkan dahulu ketika para wanita di masjid Nabi ﷺ, sholat di belakang kaum lelaki, di shaf-shaf paling belakang kaum lelaki. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depannya, dan yang paling jeleknya adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhirnya, dan yang paling jeleknya adalah yang paling depan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hal itu demi berhati-hati dari ‘fitnah’ antara kaum lelaki yang ada di shaf akhir dan kaum wanita yang ada di shaf pertama.

Dahulu juga kaum lelaki diperintahkan untuk tidak keluar masjid sampai kaum wanita pergi lebih dulu meninggalkan masjid, agar tidak bercampur baur di pintu-pintu masjid. Padahal para sahabat semuanya, baik laki-laki maupun wanita, memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat. Maka bagaimana lagi dengan generasi setelahnya yang lebih lemah iman dan takwanya…?!

Demikian pula kaum wanita dahulu dilarang berjalan dengan mendominasi jalanan. Mereka diperintahkan untuk selalu berjalan di pinggir-pinggir jalan, agar tidak berpapasan dengan kaum lelaki, dan tergoda, karena saling bersentuhan antara satu dengan yang lainnya ketika berada di jalan.

Juga Allah ta’ala memerintahkan wanita-wanita beriman untuk menutupkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka, sehingga mereka dapat menutup perhiasan-perhiasan mereka, agar tidak menggoda.

Dan Allah melarang kaum wanita untuk menampakkan perhiasan kepada selain mahram yang telah Allah sebutkan dalam Kitab-Nya yang agung, untuk memutus sebab-sebab godaan, dan motivasi untuk menempuh sebab-sebab penjagaan terhadap kesucian diri, dan menjauhi penampilan yang merusak dan menjauhi campur baur dengan kaum lelaki.

[Majmu’ Fatawa, 4/250-251]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/774046872744797:0

,

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

Shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat sunnah Fajar yaitu dua rakaat sebelum pelaksanaan shalat Subuh, adalah di antara shalat Rawatib. Yang dimaksud shalat Rawatib adalah shalat sunnah yang dirutinkan sebelum atau sesudah shalat wajib. Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi ﷺ terus menerus menjaganya. Bahkan ada keutamaan besar lainnya yang akan kita temukan.

Dalam Shahih Muslim telah disebutkan mengenai keutamaan shalat ini dalam beberapa hadis. Juga dijelaskan anjuran menjaganya. Begitu pula diterangkan mengenai ringkasnya Nabi ﷺ dalam melakukan shalat tersebut.

Shalat Sunnah Fajar dengan Dua Rakaat Ringan

Dalil yang menunjukkan, bahwa shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat Sunnah Fajar dilakukan dengan rakaat yang ringan, adalah hadis dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar yang berkata bahwa Ummul Mukminin Hafshoh pernah mengabarkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الأَذَانِ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلاَةُ

“Rasulullah ﷺ dahulu diam antara azannya muadzin hingga shalat Subuh. Sebelum shalat Subuh dimulai, beliau dahului dengan dua rakaat ringan.” (HR. Bukhari no. 618 dan Muslim no. 723).

Dalam lafal lain juga menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat Sunnah Fajar dengan rakaat yang ringan. Dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshoh, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Ketika terbit fajar Subuh, Rasulullah ﷺ tidaklah shalat, kecuali dengan dua rakaat yang ringan” (HR. Muslim no. 723).

‘Aisyah juga mengatakan hal yang sama:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

“Rasulullah ﷺ setelah mendengar azan, beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat ringan” (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lainnya disebutkan, bahwa ‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَيُخَفِّفُ حَتَّى إِنِّى أَقُولُ هَلْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Rasulullah ﷺ dahulu shalat sunnah Fajar (Qobliyah Subuh) dengan diperingan. Sampai aku mengatakan, apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Al Fatihah?” (HR. Muslim no. 724).

Imam Nawawi menerangkan, bahwa hadis di atas hanya kalimat hiperbolis, yaitu cuma menunjukkan ringannya shalat Nabi ﷺ, dibanding dengan kebiasaan beliau yang biasa memanjangkan shalat malam dan shalat sunnah lainnya. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 4].

Dan sekali lagi, namanya ringan, juga bukan berarti tidak membaca surat sama sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sebagian ulama Salaf mengatakan, tidak mengapa jika shalat sunnah Fajar tersebut dipanjangkan dan menunjukkan tidak haramnya, serta jika diperlama tidak menyelisihi anjuran memeringan shalat sunnah Fajar. Namun sebagian orang mengatakan, bahwa itu berarti Nabi ﷺ tidak membaca surat apa pun ketika itu, sebagaimana diceritakan dari Ath Thohawi dan Al Qodhi ‘Iyadh. Ini jelas keliru. Karena dalam hadis Shahih telah disebutkan, bahwa ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, Rasulullah ﷺ membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas, setelah membaca Al Fatihah. Begitu pula hadis Shahih menyebutkan, bahwa tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat atau tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Alquran, yaitu yang dimaksud adalah tidak sahnya.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Rajin Menjaga Shalat Sunnah Qobliyah Subuh

Dan shalat sunnah Fajar inilah yang paling Nabi ﷺ jaga, dikatakan pula oleh ‘Aisyah:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَكُنْ عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ

“Nabi ﷺ tidaklah menjaga shalat sunnah, yang lebih daripada menjaga shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”  (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lain disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat, dibanding dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724).

Dalil anjuran bacaan ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh dijelaskan dalam hadis berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ membaca ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” [HR. Muslim no. 726].

Keutamaannya: Lebih dari Dunia Seluruhnya

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah Qobliyah Subuh adalah hadis dari ‘Aisyah, di mana Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (shalat sunnah Qobliyah Subuh), lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [HR. Muslim no. 725]. Jika keutamaan shalat sunnah Fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Subuh itu sendiri.

Dalam lafal lain: ‘Aisyah berkata, bahwa Nabi ﷺ berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar Subuh:

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” [HR. Muslim no. 725].

Hadis terakhir di atas juga menunjukkan, bahwa shalat sunnah Fajar yang dimaksud adalah ketika telah terbit fajar Subuh. Karena sebagian orang keliru memahami shalat sunnah Fajar, dengan mereka maksudkan untuk dua rakaat ringan sebelum masuk fajar. Atau ada yang membedakan antara shalat sunnah Fajar dan shalat sunnah Qobliyah Subuh. Ini jelas KELIRU. Imam Nawawi mengatakan:

أَنَّ سُنَّة الصُّبْح لَا يَدْخُل وَقْتهَا إِلَّا بِطُلُوعِ الْفَجْر ، وَاسْتِحْبَاب تَقْدِيمهَا فِي أَوَّل طُلُوع الْفَجْر وَتَخْفِيفهَا ، وَهُوَ مَذْهَب مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور

“Shalat sunnah Subuh tidaklah dilakukan melainkan setelah terbit fajar Subuh. Dan dianjurkan shalat tersebut dilakukan di awal waktunya, dan dilakukan dengan diperingan. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i  dan jumhur (baca: mayoritas) ulama.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

 

Sumber: https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-Subuh.html

 

,

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL MUHAJIRIN WAL ANSHOR DEPOK

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL MUHAJIRIN WAL ANSHOR DEPOK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoDonasi

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL MUHAJIRIN WAL ANSHOR DEPOK

Ramadan sebentar lagi tiba, saatnya berbenah untuk menyambutnya,
Di antara ibadah yang sangat agung kepada Allah ta’ala adalah memakmurkan rumah Allah, sebagaimana Firman Allah:
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir” (At Taubah: 18)

Bentuk memakmurkan masjid bisa pemakmuran secara lahir maupun batin. Sedangkan pemakmuran masjid secara lahiriah, adalah menjaga fisik dan bangunan masjid, sehingga tetap terjaga kebersihan, kerapihan sehingga menciptakan rasa khusyuk bagi yang beribadah di dalamnya.
Sebagaimana diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan manusia untuk mendirikan bangunan masjid di perkampungan, kemudian memerintahkan untuk membersihkannya dan memberinya wangi-wangian.[Shohih Ibnu Hibban, Syuaib Al Arnauth mengatakan sanad hadis tersebut Shahih sesuai syarat Bukhari].

Oleh karenanya, kami mengajak kepada seluruh kaum Muslimin untuk bertaawun dalam memakmurkan masjid Al Muhajirin Wal Anshor Depok, khususnya dalam hal pemeliharaan, kebersihan dan perbaikan fasilitas masjid,
Kebutuhan dana diperkirakan sekitar 75 juta Rupiah, yang akan digunakan untuk kebutuhan pengecatan ulang, renovasi kebocoran atap, perbaikan kerusakan toilet, dll

Bagi yang ingin bertaawun, bisa melalui:

Rekening Bank Mandiri

Nama Rekening: DKM Al Muhajirin Wal Anshor

Nomer Rekening: 1570003425148
Dengan menambah digit 1 di belakangnya (contoh Rp 100.001)

Konfirmasi:
WhatsApp/SMS: 08989900101

Jazakumullahu khoiron

,

SAUDARIKU, KAPANKAH ENGKAU SADAR, BAHWA DIRIMU ADALAH FITNAH (COBAAN) TERBESAR BAGIKU?

SAUDARIKU, KAPANKAH ENGKAU SADAR, BAHWA DIRIMU ADALAH FITNAH (COBAAN) TERBESAR BAGIKU?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#MutiaraSunnah

SAUDARIKU, KAPANKAH ENGKAU SADAR, BAHWA DIRIMU ADALAH FITNAH (COBAAN) TERBESAR BAGIKU?

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki, melebihi cobaan wanita.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’ahuma]

#Beberapa_Pelajaran:

1) Hadis yang mulia ini menegaskan, bahwa wanita adalah cobaan yang paling berbahaya bagi kaum lelaki. Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَفِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْفِتْنَةَ بِالنِّسَاءِ أَشَدُّ مِنَ الْفِتْنَةِ بِغَيْرِهِنَّ وَيَشْهَدُ لَهُ قَوْلُهُ تَعَالَى زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ فَجَعَلَهُنَّ مِنْ حُبِّ الشَّهَوَاتِ وَبَدَأَ بِهِنَّ قَبْلَ بَقِيَّةِ الْأَنْوَاعِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّهُنَّ الْأَصْلُ فِي ذَلِك

“Dalam hadis ini ada pelajaran, bahwa fitnah wanita lebih dahsyat daripada fitnah yang lainnya, dan itu dipersaksikan oleh firman Allah ta’ala:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini (syahwat), yaitu: wanita-wanita…” (Ali Imron: 14)

Maka Allah menjadikan para wanita bagian dari kecintaan lelaki terhadap syahwat. Dan Allah memulai dengan penyebutan wanita sebelum berbagai bentuk syahwat yang lain, sebagai isyarat, bahwa para wanita adalah pokok dalam hal tersebut.” [Fathul Baari, 9/138]

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menguasakannya kepada kalian. Lalu Allah melihat bagaimana kalian beramal. Maka berhati-hatilah terhadap cobaan dunia, dan berhati-hatilah terhadap cobaan wanita, karena fitnah (cobaan) pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada wanita.” [HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]

2) Wajib berhati-hati dan menjauhi fitnah wanita, tidak boleh merasa aman. Al-‘Allamah Al-Faqih Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وإخبار النبي صلى الله عليه وسلم بذلك يريد به الحذر من فتنة النساء، وأن يكون الناس منها على حذر؛ لأن الإنسان بشر إذا عرضت عليه الفتن، فإنه يخشى عليه منها.

“Maksud pengabaran Nabi ﷺ dalam hadis ini adalah agar berhati-hati dari godaan wanita. Dan manusia hendaklah selalu waspada, karena manusia hanyalah orang biasa. Apabila diperhadapkan kepada cobaan maka dikhawatirkan ia akan terjerumus.” [Syarhu Riyadhus Shaalihin, 3/151]

3) Wajib menutup semua pintu fitnah dari kedua belah pihak, baik laki-laki maupun wanita, di antaranya:

  • Kaum lelaki diperintahkan menjaga pandangan,
  • Kaum wanita diperintahkan untuk berhijab; menutup aurat,
  • Dilarang bercampur baur antara lelaki dan wanita.

Baca Selengkapnya:

🌹 SAUDARIKU, KAPANKAH ENGKAU SADAR BAHWA DIRIMU ADALAH FITNAH (COBAAN) TERBESAR BAGIKU…?✅ Rasulullah shallallahu’…

Nai-post ni Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info noong Linggo, Marso 19, 2017

,

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHOLAT

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim rohimahullah ta’ala:

Ada lima tingkatan manusia dalam mengerjakan sholat:

  1. Tingkatan orang yang zalim kepada dirinya dan teledor, yaitu, orang yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu sholatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.
  2. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya.
    Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.
  3. Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun-rukunnya. Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dalam dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya, agar jangan sampai berhasil mencuri sholatnya. Maka, dia sedang berada di dalam sholat, sekaligus jihad.
  4. Orang yang melaksanakan sholat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk melaksanakannya sebagaimana mestinya, dengan cara yang sesempurna dan selengkap mungkin. Jadi, hatinya dipenuhi oleh urusan sholat dan penyembahan kepada Robbnya tabaaroka wa ta’ala.
  5. Orang yang melaksanakan sholat dengan sempurna. Dia mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Robbnya Azza wa Jalla.
    Dia memandang dan memerhatikan-Nya dengan hatinya yang dipenuhi rasa cinta dan hormat kepada-Nya.
    Seolah-olah ia melihat-Nya dan menyaksikan-Nya secara langsung.
    Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Robbnya telah diangkat. Jarak antara sholat orang semacam ini dengan sholat orang yang lainnya, lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam sholatnya, dia sibuk dengan Robbnya. Dia merasa tenteram lewat sholat.
  • Kelompok pertama akan disiksa.
  • Kelompok kedua akan diperhitungkan amalnya.
  • Kelompok ketiga akan dihapus dosanya.
  • Kelompok keempat akan diberi balasan pahala.
  • Dan kelompok kelima akan mendapat tempat yang dekat dengan Robbnya, kerana dia menjadi bagian dari orang yang ketenteraman hatinya ada di dalam sholat.

Barang siapa yang tenteram hatinya dengan sholat di dunia, maka hatinya akan tenteram dengan kedekatannya kepada Robbnya di Akhirat, dan akan tenteram pula hatinya di dunia.

Barang siapa yang hatinya merasa tenteram dengan Allah ta’ala, maka semua orang akan merasa tenteram dengannya.

Dan barang siapa yang hatinya tidak bisa merasa tenteram dengan Allah ta’ala , maka jiwanya akan terpotong-potong karena penyesalan terhadap dunia.

[Al-Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hal 25-29]

Maka nilailah diri kita sekarang.
Di manakah posisi kita dari tingkatan orang yang sholat?
Barang siapa yang berada di posisi yang terbaik, hendaknya ia memuji Allah.
Namun bila tidak, segeralah perbaiki diri, karena amalan sholat adalah termasuk penentu posisi kita di Akhirat kelak.

 

Penulis: Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari
#ManhajSalaf

ALASAN TIDAK SEMUANYA BERANGKAT BERJIHAD KE MEDAN PERANG, DAN TIDAK PULA SEMUANYA PERGI MENUNTUT ILMU

  • Mujahidin Penjaga Pertahanan Kaum Muslimin, Penuntut Ilmu Penjaga Syariat Islam

Allah ta’ala telah menjaga pertahanan kaum Muslimin dengan Mujahidin (orang-orang yang berjihad) dan menjaga syariat Islam dengan para penuntut ilmu, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memerdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Pada ayat tersebut Allah ta’ala membagi orang-orang beriman menjadi dua kelompok:

  • Mewajibkan kepada salah satunya berjihad fi sabilillah, dan
  • Kepada yang lainnya memelajari ilmu agama.

Sehingga tidak berangkat untuk berjihad semuanya, karena hal ini menyebabkan rusaknya syariat, dan hilangnya ilmu. Dan tidak pula menuntut ilmu semuanya, sehingga orang-orang kafir akan mengalahkan agama ini. Karena itulah Allah ta’ala mengangkat derajat kedua kelompok tersebut [Hilyah al-‘Alim al-Mu’allim, Salim al-Hilaliy hal: 5-6].

Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah ilmu syari, yaitu ilmu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya ﷺ berupa keterangan dan petunjuk. Jadi ilmu yang dipuji dan disanjung adalah ilmu wahyu, ilmu yang Allah ta’ala turunkan saja. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya mengerti masalah agama.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Beliau ﷺ bersabda pula:
“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham. Hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, berarti ia mengambil nasib (bagian) yang banyak.”(HR. Abu-Dawud dan At-Tirmidzi)

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwasanya yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu syariat Allah ta’ala, dan bukan yang lainnya [Kitab al-‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 11].

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Adab Penuntut Ilmu Mengikhlaskan Niat Hanya Karena Allah Ta’ala” yang ditulis oleh: Abdullah Hadrami hafizahullah

 

Sumber: http://www.kajianislam.net/2012/02/adab-penuntut-ilmu-1-dari-12-mengikhlaskan-niat-hanya-karena-allah-taala/