Posts

HANYA TIDAK SHALAT SUBUH

HANYA TIDAK SHALAT SUBUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
#SifatSholatNabi
 
HANYA TIDAK SHALAT SUBUH
 
Meninggalkan shalat bukanlah perkara sepele. Dosanya bukan dosa yang biasa-biasa saja. Perlu diketahui, bahwa dosa meninggalkan shalat adalah termasuk dosa besar yang paling besar, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama berikut ini:
 
Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan:
“Kaum Muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat), bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar, dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah, serta mendapatkan kehinaan di dunia dan Akhirat.”
 
Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir (Pembahasan Dosa-Dosa Besar), hal. 25, Ibnu Hazm berkata: “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar, daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, dan membunuh seorang Mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”
 
Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, hal. 26-27, juga mengatakan:
“Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan, yaitu satu shalat saja, dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertobat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang Mujrim (yang berbuat dosa).”
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

Rasulullah ﷺ bersabda:

من تركَ اللباسَ تواضُعًا للهِ وهو يقدِرُ عليه ، دعاه اللهُ يومَ القيامةِ على رؤوسِ الخلائقِ حتى يُخَيِّرَهُ منَ أيِّ حُلَلِ الإيمانِ شاءَ يَلْبَسُهَا

“Barang siapa yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, padahal dia mampu (untuk membelinya / memakainya), maka pada Hari Kiamat nanti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, lalu dia dipersilakan untuk memilih perhiasan / pakaian (yang diberikan kepada) orang beriman, yang mana saja yang ingin dia pakai” [HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami’” 6145].

Fawaid Hadis

  • Hadis ini TIDAK menunjukkan tercelanya memakai pakaian mewah, namun hadis ini memberi motivasi untuk zuhud dan tawadhu‘ (rendah hati).
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan karena tak mampu, namun karena tawadhu‘.
  • Jika meninggalkan pakaian mewah yang mampu dia beli, namun bukan dalam rangka tawadhu‘, maka tidak ada keutamaannya.
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan berarti memakai pakaian compang-camping, namun maksudnya adalah “sederhana” (sedang-sedang saja) dalam berpakaian.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari:

http://islamqa.info/ar/228099

http://islamqa.info/ar/97019

***

Penyusun: Ustadzah Arfah Ummu Faynan, Lc.

[Artikel Muslimah.or.id]

Sumber: http://muslimah.or.id/7637-meninggalkan-pakaian-mewah-karena-tawadhu.html

,

MENINGGALKAN SHALAT ‘IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

MENINGGALKAN SHALAT IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

MENINGGALKAN SHALAT ‘IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

Pertanyaan:

Bolehkah seorang Muslim meninggalkan shalat ‘Ied, padahal tidak ada uzur [halangan]? Dan bolehkah melarang seorang wanita menunaikan shalat Ied bersama orang banyak?

Jawaban:

Shalat ‘Ied hukumnya Fardhu Kifayah, menurut sebagian besar para ulama. Seorang Muslim per-individu boleh meninggalkan shalat ‘Ied, tapi lebih baik baginya datang dan berkumpul bersama kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat ‘Ied yang hukumnya Sunnah Mu’akad [sunnah yang ditekankan].  Sehingga tidak pantas bagi seorang Muslim untuk meninggalkannya tanpa alasan yang syari.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa shalat ‘Ied itu hukumnya Fardhu ‘Ain, sama seperti shalat Jumat. Maka, bagi setiap Muslim laki-laki yang mukallaf [sudah dewasa dan tidak gila], dan dia bermukin [tidak bepergian], dia tidak boleh meninggalkan shalat ‘Ied. Pendapat ini lebih jelas bila dihubungkan dengan dalil-dalil yang ada, dan lebih dekat kepada kebenaran.

Dan disunnahkan pula bagi para wanita untuk menghadiri shalat ‘Ied dengan berhijab [menutup aurat] dan tidak memakai wangi-wangian. Hal ini berdasarkan sebuah hadis shahih dari Ummu Athiyyah Radhiyallahu ‘anha yang mengatakan:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَ فِيْ عِيْدَيْنِ العَوَاطِقَ وَالْحُيَّضَ لِيَشْهَدْناَ الخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَتَعْتَزِلَ الْحُيَّضُ الْمُصَلِّى

“Rasulullah ﷺ menyuruh kami keluar menghadiri shalat ‘Ied bersama budak-budak perempuan dan perempuan-perempuan yang sedang haid, untuk menyaksikan kebaikan-kebaikan dan mendengarkan khutbah. Dan bagi wanita yang sedang haid disuruh menjauhi tempat shalat.” [HR. Bukhari: 313, Muslim: 1475]

Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa ada di antara shahabat perempuan berkata kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُوْلَ اللهِ لاَ تَجِدُ إِحْدَنَا جِلْبَابًا تَخْرُجُ فِيْهِ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memunyai jilbab.” Beliau ﷺ  berkata: “Hendaklah saudaranya memberikan [meminjamkan] jilbab kepadanya.” [HR. Ahmad: 19863].

Jadi tidak diragukan lagi, bahwa hadis ini menunjukkan tentang ditekankannya para wanita untuk keluar menuju shalat ‘Ied, agar mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Penolong menuju kebenaran.

[Fatawa Syaikh Bin Baaz Jilid 2, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Pustaka at-Tibyan]

 

Sumber: https://konsultasIsyariah.com/29577-hukum-meninggalkan-shalat-ied.html

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL?

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL?

Bolehkah masuk ke areal makam atau pemakaman atau kuburan dengan menggunakan alas kaki atau sandal (sendal) atau sepatu? Bahasan ini pernah disinggung oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu’ yang merupakan kitab Syarh dari Al Muhaddzab karya Asy Syairozi. Masalah ini berkaitan erat dengan orang yang ingin ziarah kubur atau memasuki kubur atau areal pemakaman.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:

المشهور في مذهبنا أنه لا يكره المشى في المقابر بالنعلين والخفين ونحوهما ممن صرح بذلك من اصحابنا الخطابى والعبد رى وآخرون ونقله العبدرى عن مذهبنا ومذهب اكثر العلماء قال احمد بن حنبل رحمه الله يكره وقال صاحب الحاوى يخلع نعليه لحديث بشير بن معبد الصحابي المعروف بابن الخصاصية قال ” بينهما انا أماشى رسول الله صلي الله عليه وسلم نظر فإذا رجل يمشي في القبور عليه نعلان فقال يا صاحب السبتتين ويحك الق سبتتيك فنظر الرجل فلما عرف رسول الله صلي الله عليه وسلم خلعهما ” رواه أبو داود والنسائي باسناد حسن * واحتج أصحابنا بحديث أنس رضى الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال ” العبد إذا وضع في قبره وتولي وذهب أصحابه حتى إنه ليسمع قرع نعالهم اتاه ملكان فاقعداه إلي آخر الحديث ” رواه البخاري ومسلم (وأجابوا) عن الحديث الاول بجوابين (أحدهما) وبه أجاب الخطابي انه يشبه انه كرههما المعنى فيهما لان النعال السبتية – بكسر السين – هي المدبوغة بالقرظ وهى لباس أهل الترفه والتنعم فنهي عنهما لما فيهما من الخيلاء فاحب صلي الله عليه وسلم أن يكون دخوله المقابر علي زي التواضع ولباس أهل الخشوع (والثانى) لعله كان فيهما نجاسة قالوا وحملنا علي تأويله الجمع بين الحديثين

“Yang masyhur dalam madhzab kami (Madzhab Syafi’i), yaitu tidaklah makruh memakai sandal atau khuf (sepatu) ketika memasuki area pemakaman. Yang menegaskan seperti ini adalah Imam Al Khottobi dari ulama Syafi’iyah, juga disampaikan oleh Al ‘Abdari dan ulama Syafi’i lainnya. Hal ini dinukil oleh Al ‘Abdari dari pendapat Syafi’iyah dan mayoritas atau kebanyakan ulama. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, bahwa memakai sandal ketika itu dimakruhkan. Penulis kitab Al Hawi mengatakan, bahwa sandal mesti dilepas ketika masuk areal makam mengingat hadis dari Basyir bin Ma’bad – sahabat yang telah ma’ruf dengan nama Ibnul Khososiyah, ia berkata: “Pada suatu hari saya berjalan bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau ﷺ melihat orang yang berjalan di areal pemakaman dalam keadaan memakai sandal, maka beliau ﷺ menegurnya: “Wahai orang yang memakai sandal, celaka engkau, lepaskan sandalmu!” Orang tersebut lantas melongok dan ketika ia tahu bahwa yang menegur adalah Rasulullah ﷺ, ia mencopot sandalnya.” Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan An Nasai dengan sanad yang Hasan. [HR. Abu Daud no. 3230 dan An Nasai no. 2050. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]

Sedangkan dalil bolehnya dari Madzhab Syafi’i adalah hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ:

“Jika seseorang dimasukkan dalam liang kubur, lalu ia ditinggalkan dan keluarga yang menziarahinya pergi, maka ia akan mendengar hentakan sandalnya, lalu dua malaikat akan mendatanginya, dan akan duduk di sampingnya.” Kemudian disebutkan hingga akhir hadis, diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim. [HR. Bukhari no. 1338 dan Muslim no. 2870]

Ulama Syafi’iyah untuk menyikapi hadis yang melarang yaitu hadis yang pertama memberikan dua jawaban:

1- Al Khotobi mengatakan, bahwa itu cuma tidak disukai oleh Nabi ﷺ karena sandal tersebut disamak dan sandal seperti itu digunakan oleh orang yang biasa bergaya dengan nikmat yang diberi. Nabi ﷺ melarangnya karena dalamnya ada sifat sombong. Sedangkan Nabi ﷺ sangat suka jika seseorang memasuki areal kubur dengan sikap tawadhu’ dan khusyu’.

2- Boleh jadi di sandal tersebut terdapat najis. Dipahami demikian, karena kompromi antara dua hadis yang ada. (Al Majmu’, 5: 205).

Sehingga kesimpulan berdasarkan kompromi dua dalil dan inilah yang jadi pegangan Madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama, memasuki areal pemakaman dengan sandal (sendal) TIDAKLAH TERLARANG. Namun melepas sandal atau alas kaki ketika memasuki areal pemakaman lebih selamat dari perselisihan ulama.

Wallahu a’lam.

Semoga mencerahkan dan jadi ilmu yang bermanfaat bagi para peziarah kubur.

Referensi:

Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, tahqiq: Muhammad Najib Al Muthi’i, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/3553-memasuki-areal-pemakaman-dengan-sandal.html

 

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

PASTI DIGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc

Bekerja di tempat maksiat adalah haram hukumnya. Punya duit dari penghasilan haram adalah perbuatan tercela. Langkah berani yang harus kita lakukan bila masih berada di ruang lingkup pekerjaan haram adalah “Walk out”, keluar. Tidak ada kata lain.

Begitu pula anjuran kita pada orang lain, untuk keluar dari pekerjaan haram, mencari penghasilan yang halal.

Pernah kita mendengar, bahkan sering, ketika orang dinasihati untuk meninggalkan perbuatan haram atau pekerjaan yang haram, ia akan dijanjikan dengan hadis Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

إنك لن تدع شيئا لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه “.

“Sungguh, jika kamu meninggalkan suatu hal karena Allah semata, maka Allah akan menggantikan untukmu yang lebih baik daripada itu.” [HR. Al Ashbahani dalam kitabnya At Targhib, Hadis dishahihkan oleh Al Bani]

Bahkan terkadang nasihat itu tidak berhenti hanya di situ saja, namun ikut menceritakan kisah-kisah orang lain. Seperti kisah temannya yang dulunya bekarja di bank, setelah dapat hidayah kemudian sadar hukumnya haram, ia pun keluar. Ternyata, kemudian ia bisa mendapatkan pekerjaan yang halal dengan penghasilan yang lebih besar.

Dan ditambah lagi kisah-kisah lainnya semisal dengan itu, yang mungkin kita sendiri pernah mendengarkannya.

Tapi, pernahkah terbayangkan jika orang yang anda nasihati tersebut ternyata setelah keluar dari pekerjaan haramnya, tetap tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih profit dari sebelumnya?

Kira-kira, apa komentar kita?

Perlu diketahui, bahwa di balik kisah-kisah yang kita ceritakan untuk menyemangati orang agar meninggalkan pekerjaan haram, ada satu poin yang harus terpatri di setiap dada orang Muslim:

  • Yaitu, harta halal walaupun secuil, jauh lebih baik dari pada segudang harta haram.
  • Berjalan di atas syariat Allah yang lurus, jauh lebih baik daripada bergelimangan dalam maksiat.

Maksudnya, memeroleh kembali pekerjaan halal dengan penghasilan lebih besar bukanlah suatu jaminan/kepastian yang akan di dapatkan oleh orang yang meninggalkan pekerjaan haram.

Contoh riil-nya adalah kisah seorang sahabat, Mush’ab bin Umair.

Kehidupan beliau di masa Jahiliyah penuh dengan kemewahan. Pakaian yang indah; bertaburkan minyak wangi harum semerbak; digemari oleh remaja putri Mekkah; ayah dan ibunya yang kaya raya siap memenuhi segala keinginannya.

Namun kita semua tahu bagaimana perubahan drastis terjadi dalam kehidupan beliau, setelah beliau memeluk agama Islam serta siap menerima syariat Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Terjadilah titik balik dari kehidupan dunianya. Bajunya berubah jadi compang-camping; penampilannya menjadi kumal bak seorang gelandangan.

Bahkan di akhir hayat beliau, saat mati syahid di Perang Badar, Rasulullah ﷺ menguburkan beliau sseraya berkata: “Dulu di Mekkah, tidak ada pemuda yang punya pakaian seindah dirimu, dan tidak ada yang berambut necis sepertimu. Namun sekarang engkau hanya dikuburkan dengan kain yang tidak cukup untuk menutupi sekujur tubuhmu”

Semua kegemerlapan dunia telah ditinggalkan Mush’ab bin Umair, karena kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah ﷺ. Tidak ada yang indah menurut beliau, kecuali hanya kelezatan iman dalam dadanya.

Dari kisah ini, marilah kita bertanya:

Apakah Mush’ab bin Umair tidak memeroleh janji Rasulullah ﷺ, bahwa Allah akan mengganti yang lebih baik, jika meninggalkan sesuatu karena Allah semata??

Bukankah Mush’ab waktu ia masih kafir dalam kehidupan mewah dan kaya raya?? Kenapa ketika ia masuk Islam tidak bertambah kaya dan mewah??

Kira-kira apa jawaban kita terhadap pertanyaan tadi?

Saya akan membantu untuk menjawabnya dengan tegas:

  • “Mush’ab telah mendapatkan janji Rasulullah ﷺ.”
  • “Mush’ab telah memeroleh ganti yang lebih baik, yaitu Surga Allah.”
  • “Mush’ab telah meraih kemegahan yang lebih mewah, yaitu kemewahan lezatnya iman dalam dada.”
  • “Mush’ab telah memakai pakaian yang lebih baik, yaitu pakaian Surga.”
  • “Mush’ab telah disambut kerinduan yang lebih baik dari pada remaja Mekkah, yaitu kerinduan bidadari Surga.”

Kesimpulannya: “Mush’ab telah mendapatkan ganti yang lebih baik dari kehidupan dunianya, yaitu indahnya kehidupan abadi di Akhirat”

Apakah ada kehidupan yang lebih baik daripada Akhirat?? Tentu tidak ada sama sekali.

Maka, sudah semestinya, tujuan Akhiratlah yang menjadi sasaran utama setiap Muslim dan Mukmin. Balasan pertama yang diharapkan dari setiap amalannya adalah balasan di Akhirat, bukan balasan dunia semata. Walaupun tidak kita pungkiri, terkadang ada juga orang yang langsung mendapat balasan di dunia dengan segera.

Kalau keyakinan ini tertanam di setiap jiwa kaum Muslimin, maka tidak akan sulit mengubah pola hidup dari satu sudut ke sudut kehidupan lain, karena tujuan hidupnya bukan dunia tapi hidup Akhirat. Tidak akan banyak tuntutan balasan dan ganjaran dunia, karena pahala Akhirat harapan utamanya.

Bila ia disarankan untuk keluar dari pekerjaan haram, tidak akan ada selentingan pertanyaan: “Terus saya mau kerja apa?”

“Memang kalau saya keluar, saya bisa dapat penghasilan sebanyak ini lagi?”

Karena tujuan utama dia ketika meninggalkan pekerjaan haram adalah tidak mau bergelimangan dosa di dunia, agar tidak hidup sengsara di Akhirat kelak.

Katahuilah wahai saudaraku kaum Muslimin. Allah dan Rasul-Nya ﷺ telah memanggil kita ke negeri Akhirat. Sekarang tinggal sikap kita dalam menjawab panggilan ini. Kalau kita penuhi panggilan ini, kita gerakkan hati dan anggota tubuh kita untuk berangkat menuju negeri Akhirat, maka Allah akan menggantikan dunia kita dengan balasan kenikmatan seluas langit dan bumi, di Surga kelak.

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

ANAK-ANAK KITA SAAT RAMADAN

>> Usia Berapa Mulai Baligh?

Pertanyaan:

Pada usia berapa anak dikatakan telah baligh, sehingga dia sudah wajib berpuasa?

Jawaban:

Ukuran baligh tidak semata bersandar pada usia. Yang pasti, jika dia mengalami salah satu saja dari hal berikut ini, dia teranggap sebagai orang yang baligh:

  1. Tumbuh bulu kemaluan,
  2. Telah keluar mani (baik dalam kondisi sadar atau melalui mimpi basah),
  3. Mencapai usia lima belas tahun,
  4. Haid (untuk wanita). [Lihat: al-Jaami fii Fiqh Ibn Baaz, 497-498]

>> Kapan Anak Disuruh Berpuasa?

Pertanyaan:

Pada usia berapakah tepatnya, anak mesti diperintah untuk puasa?

Jawaban:

Sebagian ulama menganalogikan puasa dengan ibadah shalat. Yaitu pada usia tujuh tahun sudah mesti diperintah untuk puasa, jika saat berusia sepuluh tahun dia meninggalkan puasa, maka dipukul. [Lihat: al-Mughni, IV/412-413]

Nampaknya keterangan asy-Syaikh al-‘Utsaimiin rahimahullah berikut bisa menjadi acuan kita dalam masalah ini. Beliau berkata:

إذا كان صغيراً لم يبلغ فإنه لا يلزمه الصوم ، ولكن إذا كان يستطيعه دون مشقة فإنه يؤمر به ، وكان الصحابة رضي الله عنهم يُصوِّمون أولادهم ، حتى إن الصغير منهم ليبكي فيعطونه اللعب يتلهى بها ، ولكن إذا ثبت أن هذا يضره فإنه يمنع منه

“Anak kecil yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Namun jika dia sudah bisa puasa dengan tanpa kesulitan, maka saat itu dia mulai diperintah. Dan dahulu para sahabat, mereka biasa melatih anak-anaknya untuk berpuasa saat masih kecil. Bahkan sampai-sampai di antara anak-anak mereka ada yang menangis, lalu diberi mainan (agar pikirannya teralihkan). Tapi jika dilatih puasa itu bakal membahayakan kondisi si anak, maka jangan.” [Majmu Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/83]

Artinya, tidak ada batasan usia kapan mulai memerintah mereka puasa. Kapan kira-kira tidak membuat mereka terkena mudharat (bahaya karena tidak kuat berpuasa), maka saat itulah mulai dilatih. Namun mesti diingat, ada perbedaan antara susah menjalankan puasa dengan mudharat:

– Susah menjalankan puasa bagi anak kecil: Belum tentu akan membahayakan dirinya. Kondisi susah yang dialami si anak lantaran puasa, jangan sampai menjadikan orang tua enggan melatih mereka puasa.

– Namun jika memudharatkan: Sudah barang tentu mereka kesusahan. Pada kondisi inilah orang tua tidak boleh memaksa mereka untuk puasa.

>> Dapatkah Pahala Jika Anak Kecil Puasa?

Ditanyakan kepada asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

Pertanyaan:

Apa hukumnya anak kecil puasa?

جـ: صيام الصبي كما أسلفنا ليس بواجب عليه بل هو سنة، له أجره إن صام، وليس عليه إثم إن أفطر، ولكن على ولي أمره أن يأمره به ليعتاده

Jawaban:

“Puasanya anak kecil sebagaimana telah kami terangkan, hukumnya tidak wajib, namun sebatas sunnah. Sehingga jika dia berpuasa maka dapat pahala, jika tidak maka tidak berdosa. Tapi orang yang mengurusnya hendaklah memerintah dia agar puasa, hingga akhirnya terbiasa.” [Majmu’ Fataawaa wa Rasaa’il, XIX/84]

 

Dinukil dari berbagai kitab fikih yang tersebut di atas.

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

 

Sumber: http://nasehatetam.com/read/307/anak-kita-saat-Ramadan#sthash.cjHaOwQ3.dpuf

,

KETIKA SANTRI MEMBELA KAFIR

KETIKA SANTRI MEMBELA KAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#ManhajSalaf

KETIKA SANTRI MEMBELA KAFIR

Pertanyaan:

Saya bingung dengan kondisi Muslim di negara kita saat ini. Ada kelompok ngaku santri, tapi kok masih bela orang kafir penista Alquran ya. Mohon wejangannya ustadz

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada satu kalimat yang barangkali bisa menjadi pelipur kepenatan hati kita, ketika melihat hiruk-pikuk negara kita: “Di setiap perjuangan, selalu ada penghianat.” Kalaupun ada sebagian orang berpenampilan Muslim, lalu menyatakan dengan terang-terangan membela musuh Islam, itu hal yang lumrah. Bagian dari sunatullah. Dalam setiap perjuangan selalu ada pengkhianat.

Ketika Nabi ﷺ berdakwah, ada banyak musuh mengintai. Terutama dari kalangan Yahudi dan orang kafir sekitar Madinah. Anehnya, di saat yang sama, ada beberapa orang yang tinggal di Madinah, mereka juga ikut shalat jamaah bersama Nabi ﷺ di Masjid Nabawi, yang justru terang-terangan memberi ruang bagi para musuh Islam itu. Mereka itu adalah orang-orang munafik Madinah. Allah ceritakan tentang mereka dalam Alquran:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman dan penolong, dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kemenangan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemenangan kepunyaan Allah. [QS. an-Nisa’: 138 – 139]

Jadi, kalaupun ada yang mengaku santri, namun menjadi garda depan pembela gubernur kafir, itu BAGIAN DARI KELANJUTAN SEJARAH yang sudah ada sejak masa silam. Mereka melestarikan tradisi pegkhianatan yang dilakukan orang munafik di masa silam, terhadap perjuangan Nabi ﷺ. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah gubernur kafir.

Sebagaimana orang munafik di masa silam, mereka sangat merugikan kaum Muslimin. Wajar jika Allah memberikan ancaman berat bagi mereka.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29395-ketika-santri-membela-kafir.html

, ,

PUASA BISA JADI TIDAK BERNILAI GARA-GARA TIDAK BERJILBAB

PUASA-BISA-JADI-TIDAK-BERNILAI-GARA-GARA-TIDAK-BERJILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#SifatPuasaNabi

PUASA BISA JADI TIDAK BERNILAI GARA-GARA TIDAK BERJILBAB

>> Wahai Muslimah, Janganlah Engkau Sia-Siakan Puasamu dengan Tidak Berjilbab

Nabi ﷺ bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia TIDAK mendapatkan dari puasanya tersebut, melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” [HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya Jayyid].

Hal ini menunjukkan, bahwa puasa, termasuk puasa Ramadan, bukanlah dengan menahan lapar dan dahaga saja. Namun puasa juga hendaknya dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Yang termasuk maksiat adalah buka-bukaan aurat, dan meninggalkan shalat. Ini adalah maksiat.

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan wejangan:

“Seandainya engkau berpuasa, maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa. Yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram, serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

Itulah sejelek-jelek puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga saja ketika berpuasa. Sedangkan maksiat masih terus jalan, masih buka-buka aurat dan enggan berjilbab. Kesadaran untuk berhenti dari maksiat tak kunjung datang. Ucapan sebagian salaf berikut patut jadi renungan:

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

“Tingkatan puasa yang paling rendah adalah hanya meninggalkan minum dan makan saja.” [Lihat Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 277]

 

Sumber: https://rumaysho.com/1164-menutup-aurat-hanya-musiman.html

,

MEREKA YANG GILA KEKUASAAN

MEREKA YANG GILA KEKUASAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

MEREKA YANG GILA KEKUASAAN

Siapa saja yang tamak pada kekuasaan akan, menuai penyesalan pada Hari Kiamat. Di dunia orang yang gila kekuasaan seperti ini tidak akan menjalankan amanat dengan baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة

“Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di Hari Kiamat, engkau akan benar-benar menyesal” [HR. Bukhari no. 7148]

Imam Nawawi membawakan hadis di atas dalam kitab Riyadhus Sholihin pada Bab “Larangan Meminta Kepemimpinan Dan Memilih Meninggalkan Kekuasaan Apabila Ia Tidak Diberi Atau Karena Tidak Ada Hal Yang Mendesak Untuk Itu.”

Sedangkan Imam Bukhari rahimahullah membawakan hadis di atas dalam Bab “Terlarang Tamak Pada Kekuasaan.”

Kata Imam Ibnu Batthol, bahwa ketamakan manusia pada kepemimpinan begitu nyata. Itulah yang membuat adanya pertumpahan darah, menginjak kehormatan yang lain, terjadinya kerusakan sampai kekuasaan itu diraih. Gara-gara rakusnya pada kekuasaan inilah yang membuat keadaan menjadi jelek. Karena merebut kekuasaan terjadi pembunuhan, saling meninggalkan, saling merendahkan, atau mati karenanya. Itulah yang menjadi penyesalan pada Hari Kiamat. [Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol].

Badaruddin Al ‘Aini, penulis kitab ‘Umdatul Qori: “Siapa saja yang tamak pada kekuasaan, maka umumnya ia tidak bisa menjalankan amanah dengan baik.”

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Sumber: https://rumaysho.com/6910-mereka-yang-gila-kekuasaan.html

,

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi

DELAPAN MACAM PUASA SUNNAH

Sungguh, puasa adalah amalan yang sangat utama. Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam hadis berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal, hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah, daripada bau minyak kasturi” [HR. Muslim no. 1151].

Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula, puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (As Saabiqun Al Muqorrobun). [Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H]. Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” [HR. Bukhari no. 2506].

  1. Puasa Senin Kamis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan, sedangkan aku sedang berpuasa.” [HR. Tirmidzi no. 747. Shahih dilihat dari jalur lainnya].

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

“Rasulullah ﷺ biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” [HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih]

  1. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Hijriyah

Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rasulullah ﷺ) mewasiatkan padaku tiga nasihat, yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati:

[1] Berpuasa tiga hari setiap bulannya,
[2] Mengerjakan shalat Dhuha,
[3] Mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.” [HR. Bukhari no. 1178]

Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah:

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Apakah Rasulullah ﷺ berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab: “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya: “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” [HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih]

Namun, hari yang UTAMA untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah, yang dikenal dengan Ayyamul Biidh. [Hari ini disebut dengan Ayyamul Biidh (Biidh = Putih, Ayyamul = Hari) sebab pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih, dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu]. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada Ayyamul Biidh, ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” [HR. An Nasai no. 2345. Hasan].

Dari Abu Dzar, Rasulullah ﷺ bersabda padanya:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” [HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan]

  1. Puasa Daud

Cara melakukan puasa Daud adalah sehari berpuasa dan sehari tidak. Rasulullah ﷺ bersabda:

أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

“Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” [HR. Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّى أَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ الَّذِى تَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ » قُلْتُ قَدْ قُلْتُهُ . قَالَ « إِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ ، وَقُمْ وَنَمْ ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ » . فَقُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ » . قَالَ قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا ، وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَهْوَ عَدْلُ الصِّيَامِ » . قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « لاَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ » .

Disampaikan kabar kepada Rasulullah ﷺ, bahwa aku berkata: “Demi Allah, sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari, dan sungguh aku akan shalat malam sepanjang hidupku.” Maka Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya (‘Abdullah bin ‘Amru): “Benarkah kamu yang berkata: “Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari, dan sungguh aku pasti akan shalat malam sepanjang hidupku?“ Kujawab: “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, sungguh aku memang telah mengatakannya“. Maka beliau ﷺ berkata: “Sungguh, kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Akan tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah, dan berpuasalah selama tiga hari dalam setiap bulan. Karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa, dan itu seperti puasa sepanjang tahun.” Aku katakan: “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah“. Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah selama dua hari”. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu“. Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari. Yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihi salam, yang merupakan puasa yang PALING UTAMA“. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu“. Maka beliau ﷺ bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu“. [HR. Bukhari no. 3418 dan Muslim no. 1159]

Ibnu Hazm mengatakan: “Hadis di atas menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ MELARANG dari melakukan puasa lebih dari puasa Daud, yaitu sehari puasa sehari tidak.” [Al Muhalla, Ibnu Hazm, 7/13, Mawqi’ Ya’sub]

Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan: “Puasa seperti puasa Daud, sehari berpuasa sehari tidak, adalah lebih afdhol dari puasa yang dilakukan terus menerus (setiap harinya).” [‘Aunul Ma’bud, 5/303, Mawqi’ Al Islam]

Syaikh Muhammad bin Saleh Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu, dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyariatkan lainnya. Begitu pula, jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat, di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memerbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.” [Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, 3/470, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1424 H]

  1. Puasa Syaban

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi ﷺ tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Syaban. Nabi ﷺ biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya.” [HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156].

Dalam lafal Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

“Nabi ﷺ biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” [HR. Muslim no. 1156]

Yang dimaksud di sini adalah berpuasa pada mayoritas harinya, (bukan seluruh harinya) [Karena kadang kata seluruh (kullu) dalam bahasa Arab bermakna mayoritas], sebagaimana diterangkan oleh Az Zain ibnul Munir. [Lihat Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 4/621, Idarotuth Thob’ah Al Muniroh]. Para ulama berkata, bahwa Nabi ﷺ tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain  Ramadan, agar tidak disangka puasa selain Ramadan adalah wajib. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 8/37, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392]

  1. Puasa Enam Hari Syawal

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim no. 1164]

  1. Puasa di Awal Dzulhijjah

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda:

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini, (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi ﷺ menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, namun tidak ada yang kembali satu pun.” [HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih]. Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijjah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu. Sehingga amalan tersebut bisa dalam bentuk shalat, sedekah, membaca Alquran, dan amalan saleh lainnya. [Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad] Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijjah adalah amalan puasa.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi ﷺ mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi), …” [HR. Abu Daud no. 2437. Shahih].

  1. Puasa ‘Arofah

Puasa ‘Arofah ini dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah. Beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau ﷺ juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” [HR. Muslim no. 1162]. Sedangkan untuk orang yang berhaji, tidak dianjurkan melaksanakan puasa ‘Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ

“Nabi ﷺ tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” [HR. Tirmidzi no. 750. Hasan Shahih].

  1. Puasa ‘Asyura

Nabi ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [HR. Muslim no. 1163]. An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Hadis ini merupakan penegasan, bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/55]

Keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Qotadah di atas. Puasa ‘Asyura dilaksanakan pada 10 Muharram. Namun Nabi ﷺ bertekad  di akhir umurnya, untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya (9 Muharram). Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau ﷺ mengatakan: “Apabila tiba tahun depan, insya Allah (jika Allah menghendaki), kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan: “Belum sampai tahun depan, Nabi ﷺ sudah keburu meninggal dunia.” [HR. Muslim no. 1134].

Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah

Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib yang niatnya harus dilakukan sebelum fajar.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.

“Pada suatu hari Nabi ﷺ menemuiku dan bertanya: “Apakah kamu memunyai makanan?” Kami menjawab: “Tidak ada.” Beliau ﷺ berkata: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau ﷺ datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata: “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau ﷺ pun berkata: “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” [HR. Muslim no. 1154].

An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim: “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke Barat), dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa uzur.”

Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadis ‘Aisyah di atas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang, ketika ia ingin memulainya. Begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat, bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut. [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/35]

Ketiga: Seorang istri TIDAK BOLEH berpuasa sunnah, sedangkan suaminya bersamanya, kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Janganlah seorang wanita berpuasa, sedangkan suaminya ada, kecuali dengan seizinnya.” [HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah, puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadis di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut, karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi, gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib, yang sebenarnya bisa diakhirkan.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/115]

Beliau rahimahullah menjelaskan pula: “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/115]

Semoga Allah memberi kita taufik untuk beramal saleh.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1127-8-macam-puasa-sunnah.html